February 08, 2017

Ulumul Hadits - Ilmu Ma'anil Hadits


Judul: Ulumul Hadits - Ilmu Ma'anil Hadits
Penulis: K. Abdining Gusti


BAB I
PENDAHULUAN
Setelah pengkodifikasian Alquran, yang dilakukan para sahabat Nabi Shallallaahu 'alayhi wa Sallam adalah menghimpun hadis. Karena wilayah Islam yang tersebar sangat luas, hadis baru dikodifikasikan pada abad ke-2 H. atas usulan dari khalifah 'Umar ibn 'Abdul 'Aziz. Aktivitas pengumpulan hadis tersebut berlangsung selama kurang lebih 12 abad.
Hadis merupakan bagian dari kebijaksanaan Nabi, maka mungkin saja hadis tersebut suatu hadis dapat dimaknai secara tekstual (tersurat) atau kontekstual (tersirat). Segi-segi yang berkaitan erat dengan diri Nabi dan yang melatarbelakangi ataupun menyebabkan terjadinya hadis tersebut mempunyai kedudukan penting dalam pemahaman suatu hadis.
Ilmu ma'anil hadits inilah ilmu yang menelaah suatu hadis agar mudah dipahami, baik itu hadis yang bersifat tekstual maupun kontekstual. Dari tujuan dibentuknya ilmu tersebut, diharapkan muncul bukti-bukti yang jelas bahwa dalam berbagai hadis Nabi, terkandung ajaran Islam yang bersifat universal, temporal, atau lokal.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian
Kata ma'ani (معانى) adalah bentuk jamak dari kata ma'na (معنى). Secara bahasa kata ma'ani berarti maksud atau arti. Para ahli ilmu ma'ani mendefinisikannya sebagai pengungkapan melalui ucapan tentang sesuatu yang ada dalam pikiran atau disebut juga sebagai gambaran dari pikiran. Adapun menurut istilah, ilmu ma'anil hadits berarti ilmu yang mempelajari hal ihwal lafazh atau kata bahasa arab yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi.
Sejarah Perkembangan
Pada zaman Nabi dan sahabat, bahkan tabi'in dan tabi'ut tabi'in belum dikenal istilah ilmu ma'anil hadits. Istilah tersebut merupakan istilah baru dalam studi hadis kontemporer. Namun, menurut sejarah, ilmu tersebut telah diaplikasikan pada zaman beliau Shallallaahu 'alayhi wa Sallam, meski mungkin masih sangat sederhana.
Ilmu ma'ani pertama kali di kembangkan oleh Abd al- Qahir al- Jurzani. Objek kajian ilmu ma'ani adalah kalimat-kalimat yang berbahasa arab. Tentu ditemukannya ilmu ini bertujuan untuk mengungkap kemukjijatan al-Qur'an, al-Hadits dan rahasia-rahasia kefasihan kalimat-kalimat bahasa Arab, baik puisi maupun prosa. Disamping itu, objek kajian ilmu ma'ani  hampir sama dengan ilmu nahwu. Kaidah-kaidah yang berlaku dan digunakan dalam ilmu nahwu berlaku dan digunakan pula dalam ilmu ma'ani. Perbedaan antara keduanya terletak pada wilayahnya. Ilmu nahwu lebih bersifat murad (berdiri sendiri) sedangkan ilmu ma'ani lebih bersifat tarkibi (dipengaruhi faktor lain). Hal ini sesuai dengan pernyataan Hasan Tamam, bahwa tugas ilmu nahwu hanya mengutak ngatik kalimah dalam suatu jumlah tidak sampai melangkah pada jumlah yang lain.
Objek Kajian
Objek kajian dari ilmu ma'anil hadits ini adalah hadis Nabi, yang merupakan bukti kebijaksanaan Nabi dalam mengajarkan agama Allah. Hadis yang menjadi kajian ilmu ini adalah seluruh hadis, baik yang tekstual maupun kontekstual, agar tidak terjadi pemaknaan ganda atau pemahaman yang bertentangan.
Pemahaman hadis secara tekstual dilakukan bila hadis yang bersangkutan, setelah dihubungkan segi-segi yang berkaitan dengannya, misal latar belakang kejadiannya, tetap menuntut pemahaman sesuai dengan apa yang tertulis dalam teks hadis yang bersangkutan. Sedangkan, pemahaman dan penerapan hadis yang kontekstual dilakukan bila dari suatu hadis tersebut, ada petunjuk yang kuat yang mengharuskan hadis tersebut dipahami dan diterapkan tidak sebagaimana maknanya yang tersurat, melainkan dengan makna tersirat atau kontekstual (bukan makna sebenarnya).
Arti Penting
Ilmu ma'anil hadits sangat penting dealam konteks pengembangan studi hadis, antara lain:
Untuk memberikan prinsip-prinsip metodologi dalam memahami hadis.
Untuk mengembangkan pemahaman hadis secara kontekstual dan progresif.
Untuk melengkapi kajian ilmu hadits riwayah, sebab kajian hadits riwayah saja tidak cukup.
Sebagai kritik terhadap model pemahaman hadis yang terasa rigid dan kaku.
Indikasi (Qarinah) Hadis
Pemahaman hadis secara tekstual dan kontekstual ditentukan oleh faktor-faktor yang disebut qarinah atau indikasi yang dibawa oleh teks itu sendiri. Hal-hal yang menjadi indikasi tersebut adalah :
Bentuk matan hadits Nabi dan cakupan petunjuknya, berupa :
Jamawi' Al Kalim, yaitu ungkapan yang singkat namun padat makna. Contoh:
الحَرْبُ خُدْعَةٌ. (رواه البخارى و مسلم و غيرهماا عن جابر بن عبدالله)
"Perang adalah siasat." (H.R. Bukhari dan Muslim dan lain-lain, dari Jabir bin 'Abdullah)
Pemahaman terhadap hadis tersebut adalah sejalan dengan bunyi teksnya, yakni bahwa setiap peperangan pastilah memakai siasat. Ketentuan yang demikian itu berlaku secara universal sebab tidak terikat oleh tempat dan waktu tertentu. Perang, secara pasti, memerlukan siasat dan jika tanpa siasat, maka sama halnya menyerah kepada musuh.
Tamsil, yaitu perumpamaan. Contoh:
المُؤمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا (رواه البخاري و مسلم و الترمذى عن أبى موسى الأشعرى)
"Orang yang beriman terhadap orang beriman lainnya ibarat bangunan, bagian satu memperkokoh terhadap bagian yang lainnya." (HR. Bukhari, Muslim, dan Turmudzi, dari Abu Musa Al Asy'ari)
Hadis tersebut mengungkapkan perumpamaan bagi orang-orang beriman layaknya bangunan yang saling menguatkan. Orang-orang beriman tersebut hendaknya saling memperkuat ukhuwah islamiyyah dengan yang lainnya dan bukan untuk saling menjatuhkan sesamanya.
Ramzi, yaitu ungkapan simbolik. Contoh :
المُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ, وَ الكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أمْعَاءٍ. (رواه البخارى و الترمذى و أحمد عن ابن عمر)
"Orang yang beriman itu makan dengan satu usus (perut), sedang orang kafir makan dengan tujuh usus." (H.R. Bukhari, Turmudzi dan Ahmad, dari Ibn 'Umar)
Perbedaan usus dalam matan hadis tersebut menunjukkan perbedaan sikap orang beriman dengan orang kafir dalam menghadapi nikmat Allah, termasuk dalam makan. Orang beriman tidak menjadikan makan sebagai tujuan hidupnya, berbeda dengan orang kafir yang menjadikan makan sebagai tujuan hidupnya. Selain itu, dapat dipahami juga, bahwa orang beriman bersyukur atas nikmat Allah, termasuk dalam hal makan, tidak seperti orang kafir yang mengingkari dan tamak serta tidak puas dengan apa yang dikaruniakan oleh-Nya.
Bahasa percakapan atau dialog, yaitu hadis yang berisi percakapan Nabi dan masyarakat sekitar. Contoh:
قالو : يا رسولَ الله, أيُّ الإسْلَامِ أفْضَلُ؟ قال : مَنْ سَلَمَ المُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (متفق عليه عن أبى موسى الأشعرى)
"Mereka (para sahabat) bertanya: 'Ya Rasulullaah, amalan islam yang manakah yang lebih utama?' Beliau menjawab: '(Yaitu) orang yang kaum muslimin selamat dari (gangguan) mulutnya dan tangannya.'" (Muttafaq 'alayh, dari Abu Musa Al Asy'ari)
Ungkapan analogi atau qiyas, yaitu ungkapan yang didalamnya mempunyai hubungan yang sangat logis. Contoh:
Sahabat bertanya pada Nabi: "Apakah menyalurkan hasrat seksual kami (kepada istri-istri) kami mendapat pahala?" Nabi menjawab:
أ رَأيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أ كَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَالِكَ إذَا وَضَعَهَا فِي الحَلَالِ كَانَ لَهُ أجْرٌ (رواه مسلم عن أبى ذر)
"Bagaimanakah pendapatmu sekiranya hasrat seksual (seseorang) disalurkannya di jalan haram, apakah (dia) menaggung dosa? Maka demikianlah,bila hasrat seksual disalurkan ke jalan yang halal, dia mendapat pahala." (H.R Muslim, dari Abu Dzarr).
Hadis ini menyatakan bahwa jika penyaluran hasrat di jalan haram (zina) merupakan perbuatan dosa, maka jika disalurkan secara halal (hubungan suami istri dalam pernikahan yang sah) adalah merupakan perbuatan yang diberi pahala.
2. Kandungan hadis dihubungkan dengan fungsi Nabi Muhammad, yaitu bahwa Nabi bukan hanya seorang rasul, tetapi juga sebagai kepala negara, panglima perang, hakim, tokoh masyarakat, suami dan pribadi. Berikut contoh hadis Nabi yang dihubungkan dengan fungsi-fungsi Nabi tersebut.
إنْ أشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ المُصَوِّرُوْنَ (رواه البخارى و مسلم و غيرهما عن عبد الله بن مسعود)
"Sesungguhnya orang-orang yang menerima siksaan paling dahsyat di hadirat Allah pada hari kiamat kelak ialah para pelukis." (H.R bukhari, Muslim dan lainnya, dari 'Abdullah bin Mas'ud)
Banyak hadis yang melarang perbuatan melukis makhluk yang bernyawa. Dikatakan bahwa pelukis, pada hari kiamat kelak, dituntut untuk memberikan nyawanya kepada apa yang dilukisnya. Dan dikatakan juga bahwa malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang terdapat lukisan di dalamnya. Hadis yang disampaikan Nabi ini merupakan salah satu bukti dari kapasitas beliau sebagai rasulullah, sebab dalam hadits itu menyatakan mengenai nasib para pelukis di hari kiamat.
3.Petunjuk hadis Nabi yang dihubungkan dengan latar belakang terjadinya, yaitu hadis yang memiliki sebab tertentu berupa sebuah peristiwa secara khusus dan dapat berupa suasana atau keadaan yang bersifat umum yang menjadi latar belakangnya. Hadis ini digolongkan menjadi: (1) Hadis yang tidak mempunyai sebab secara khusus, seperti hadis tentang kewajiban menunaikan zakat fithri; (2) Hadis yang mempunyai sebab khusus, seperti hadis mengenai urusan dunia; dan (3) Hadis yang berkaitan dengan keadaan yang sedang terjadi, seperti hadis yang berbicara mengenai dibelenggunya setan pada bulan Ramadhan.
4.Petunjuk hadis Nabi yang tampak saling bertentangan, yaitu hadis yang sama-sama memiliki kualitas sahih namun kandungannya tampak bertentangan. Untuk menyelesaikan masalah ini, cara yang ditempuh ulama berbeda-beda. Ada yang menempuh satu cara dan ada yang menempuh lebih dari satu cara dengan urutan yang berbeda-beda. Istilah-istilah yang banyak dijumpai dalam hal ini antara lain:
a. al-tarjih, yaitu meneliti dan menentukan petunjuk hadis yang memiliki argumen yang lebih kuat.
b. al-jam'u atau al-taufiq atau al-talfiq, yaitu kedua hadis yang tampak bertentangan dikompromikan, atau sama-sama diamalkan sesuai konteksnya.
c. al-naskh wa al mansukh, yaitu petunjuk hadis yang satu dinyatakan sebagai penghapus, sedang yang lain sebagai yang dihapus.
d. al-tauqif, yaitu menunggu sampai ada petunjuk atau dalil lain yang dapat menjerihkan dan menyelesaikan pertentangan.
Contoh hadis dari indikasi ini adalah hadis tentang larangan dan kebolehan menulis hadis.
F.Contoh Penerapan Ilmu Ma'anil Hadits
وَ عَنْ أبى هريرة رضي الله عنه قال: رسول الله صلى الله عليه وسلم : انْظُرُوا إلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ (متفق عليه)
"Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menceritakan, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa Sallam bersabda, "Pandanglah orang yang ada di bawahmu, jangan kamu pandang orang yang ada di atasmu, karena hal ini akan lebih menyadarkanmu untuk tidak meremehkan nikmat Allah yang ada pada dirimu." (Muttafaq 'alayh).
Hadis ini menjelaskan perintah untuk melihat orang-orang yang nasibnya kurang baik (miskin) daripada kita, dan larangan untuk memandang atau melihat orang-orang yang lebih kaya raya dari kita, karena hal seperti itu dapat memunculkan rasa iri dan menjadi kufur nikmat dengan apa yang Allah berikan pada kita. Hadis ini secara tersirat menuntun kita untuk selalu bersyukur dan tidak meremehkan nikmat-Nya serta membantu orang-orang yang membutuhkan.
BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan:
a. Ilmu ma'anil hadits adalah ilmu yang mempelajari hal ihwal lafazh atau kata bahasa arab yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi.
b. Ilmu ma'anil hadits dikembangkan oleh Abd al- Qahir al- Jurzani.
c. Objek kajiannya adalah hadis yang bersifat tekstual maupun kontekstual.
d. Arti penting dari ilmu ma'anil hadits yaitu: (1) Untuk memberikan prinsip-prinsip metodologi dalam memahami hadis, (2) Untuk mengembangkan pemahaman hadis secara kontekstual dan progresif, (3) Untuk melengkapi kajian ilmu hadits riwayah, sebab kajian hadits riwayah saja tidak cukup, (4) Sebagai kritik terhadap model pemahaman hadis yang terasa rigid dan kaku.
e. Indikasi atau qarinah dari suatu matan adalah: (1) bentuk matan dan cakupan hadis Nabi, (2) peran dan fungsi Nabi, (3) latar belakang historis suatu hadis.
DAFTAR PUSTAKA
Yusuf, Muhammad. Metode dan Aplikasi Pemaknaan Hadis, Yogyakarta: Teras, 2009.
Ismail, Syuhudi. Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma'ani al-Hadits tentang Ajaran yangUniversal, Temporal dan Lokal, Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Thohari, Hamim. Terjemah Bulughul Maram (Abu Hajar Al 'Asqalani), Yogyakarta: Al Birr Press, 2009.
http://komex.wapsite.me/Ilmu%20Maanil%20Hadits diakses tanggal 2 Mei 2013.
http://riungsastra.wordpress.com/2010/10/16/pengertian-ilmu-ma%E2%80%99ani/ diakses tanggal 2 Mei 2013.


Download Ulumul Hadits - Ilmu Ma'anil Hadits.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Ulumul Hadits - Ilmu Ma'anil Hadits. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon