December 01, 2016

Makalah Sejarah Peradaban Islam 3 Kerajaan Besar


Judul: Makalah Sejarah Peradaban Islam 3 Kerajaan Besar
Penulis: Ahmad Hanif Fahrudy


MASA TIGA KERAJAAN BESAR
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen :
Bukori Muslim, S.Sos. I,M. Ag
1951355291465
Disusun Oleh :
Ahmad Hanif Fahrudy 1147040003
Emay Maesaroh1147040032
Hadya Ayu Hajayasti1147040032
Hildan Aulia Rachmansyah1147040034
Jurusan Kimia II A
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga tercurah limpah atas nabi kita Muhammad SAW, yang atas kehadirannya yang telah membawakan cahaya islami.
Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam dengan judul "Masa Tiga Kerajaan Besar" di Fakultas Sains dan Tekhnologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jurusan Kimia.
Terima kasih disampaikan kepada bapak Bukhori Muslim, M.Ag. selaku dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini.
Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat khususnya bagi kami selaku penyusun dan umumnya bagi kita semua. Menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar kami dapat menjadi lebih baik.
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR................................................................................................. I
DAFTAR ISI ............................................................................................................... Ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kerajaan Usmani di Turki ................................................................ 3
2.2 Kerajaan Safawi di Persia ................................................................. 6
2.3 Kerajaan Mughal di India ................................................................. 9
2.4 Kemunduran Tiga Kerajaan Besar (1700-1800 M ) ......................... 11
2.5 Kemajuan Eropa (Barat) ................................................................... 13
BAB III KESIMPULAN 3.1 Kesimpulan ...................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 17

BAB IPENDAHULUAN
Dalam buku Ensiklopedi Islam, Jilid 2 (Jakarta, Ichtar Baru Van Hoeve) dijelaskan bahwa sejarah Islam telah melalui tiga periode, yaitu periode klasik (650-1250), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern(1800-sekarang).Pada periode klasik, Islam mengalami kemajuan dan masa keemasan. Hal ini ditandai dengan sangat luasnya wilayah kekuasaan Islam, adanya integrasi antarwilayah Islam, dan adanya kemajuan di bidang ilmu dan sains.
Pada abad pertengahan, Islam mengalami kemunduran. Hal ini ditandai dengan tidak adanya lagi kekuasaan Islam yang utuh yang meliputi seluruh wilayah Islam, dan terpecahnya Islam menjadi kerajaan-kerajaan yang terpisah. Kerajaan-kerajaan itu antara lain: 
Dinasti Usmani di Turki
b. Dinasti Safawi di Persia
c.  Dinasti Mughol di India
Kerajaan-Kerajaan tersebut merupakan tiga kerajaan terbesar pada masa itu. Dan keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar Islam tersebut. Puncak kemajuan yang dicapai oleh Kerajaan Usmani terjadi pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520-1566 M), puncak kemajuan Kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Abbas I (1588-1628 M), dan puncak kemajuan Kerajaan Mughal pada masa Sultan Akbar (1542-1605 M).
Setelah masa tiga orang raja besar di tiga kerajaan tersebut, kerajaan tersebut mulai mengalami kemunduran. Akan tetapi, proses kemunduran itu berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-beda. Di Kerajaan Mughal, setelah Akbar, untuk beberapa lama pemerintahan masih dipegang oleh raja-raja besar, yaitu Jehengir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M) dan Aurangzeb (1658-1707 M). Ketiga raja Mughal ini masih dapat mempertahankan kemajuan yang dicapai pada masa Akbar. Baru setelah Aurangzeb, Kerajaan Mughal mengalami kemunduran yang agak drastis. Kerajaan ini berakhir pada tahun 1858 M.
Kerajaan Usmani, setelah Sultan Sulaiman al-Qanuni wafat masih tetap kuat, bahkan masih mampu melakukan ekspansi ke beberapa daerah Eropa Timur. Berbeda dengan dua kerajaan besar yang lain, Kerajaan Usmani adalah yang terbesar. Karena itu, meskipun banyak mengalami kemunduran yang cukup drastis di akhir abad ke-17 dan abad ke-18 M, ia tetap dipandang sebagai sebuah Negara besar yang disegani lawan. Kerajaan ini baru berakhir pada abad ke 20-M.
Kemunduran yang paling drastis di alami Kerajaan Safawi. Setelah Abbas, raja-raja Kerajaan Safawi adalah orang-orang yang lemah yang mengakibatkan kerajaan ini dengan cepat mengalami kemunduran. Hanya satu abad setelah ditinggal Abbas, kerajaan ini mengalami kehancuran.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DINASTI USMANI DI TURKI
Dinasti Usmani berasal dari suku bangsa pengembara Qayigh Oghuz yang dipimpin oleh Sulaiman Syah. Dia mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol yang menyerang dunia Islam yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Khawarizmi Syah pada tahun 1219-1220. Sulaiman dan anggota sukunya lari ke arah barat dan meminta perlindungan kepada Jalaludin, pemimpin terakhir Dinasti Khawarizmi Syah di Transoxiana. Jalaluddin menyuruh Sulaiman agar pergi ke arah barat (Asia Kecil), kemudian mereka menetap disana dan pindah ke Syam dalam rangka menghindari serangan Mongol. Dalam usahanya pindah ke Syam itu, pemimpin orang-orang Turki mengalami kecelakaan dan hanyut di sungai Eufrat yang tiba-tiba pasang karena banjir besar pada tahun 1228. Akhirnya mereka terbagi menjadi dua kelompok, yan pertama ingin pulang ke negeri asalnya, dan yang kedua meneruskan perjalanannya ke Asia Kecil. Kelompok kedua berjumlah sekitar 400 keluarga yang dipimpin oleh Ertoghol bin Sulaiman. Mereka menghambakan dirinya pada Sultan Alauddin dari Dinasti Saljuk Rum yang pemerintahannya berpusat di Konya, Anatolia, Asia Kecil. Tatkala dinasti saljuk berperang melawan Romawi Timur (Bizantium), Ertoghol membantunya, sehingga Dinasti Saljuk mengalami kemenangan. Sultan merasa senang dan memberinya wilayah kekuasaan yang berbatasan dengan Bizantium, dan mereka menjadikan Sogud sebagai pusat pemerintahannya (Ali Sodikin, dkk, 2003:152).
Ertoghol yang meninggal pada tahun 1289 meninggalkan seorang putra bernama Usman. Dari nama Usman inilah kemudian muncul Dinasti Usmani. Usman ini pula yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Usmani. Sebagaimana ayahnya, dia abanyak berjasa kepada Sultan Alauddin dengan keberhasilannya menaklukkan benteng-benteng Bizantium. Pada tahun 1300, bangsa Mongol menyerang Dinasti Saljuk, dan Sultan Alauddin terbunuh. Dinasti Saljuk pun terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil. Pada saat itu, Usman menyatakan kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah-daerah yang didudukinya. Sejak itulah Dinasti Usmani dinyatakan berdiri dan penguasa pertamanya adalah Usman bin Ertoghol atau yang dikenal dengan sebutan Usman I (Ali Sodikin, dkk, 2003:151).
Perluasan Wilayah
Setelah Usman mengumumkan dirinya sendiri sebagai Padyisah Al-Usman (Raja Besar Keluarga Usman), dia mulai memperluas wilayahnya dengan cara mengirimkan surat kepada pemimpin daerah sekitarnya yang berisi 3 pilihan, yaitu tunduk dan memeluk agama Islam, membayar jizyah, atau diperangi. Untuk mendukung hal itu, anak Usman, Orkhan yang saat itu menjabat sebagai panglima perang membentuk pasukan tangguh yang dikenal dengan Yeniseri. Pasukan tersebut merupakan tentara utama Dinasti Usmani yang terdiri dari bangsa Georgia dan Armenia yang baru masuk islam. Para pasukan Yeniseri tersebut dididik dengan keras. Mereka diwajibkan belajar ilmu-ilmu dunia dan juga ilmu-ilmu agama. Mereka juga dididik oleh para tentara-tentara yang sudah berpengalaman, sehingga tak diragukan lagi kemampuan fisik mereka jauh diatas tentara-tentara lainnya (Syafiq A. Mughni, 1997: 54).
Meskipun baru didirikan, Dinasti Usmani begitu kuat dan sangat ditakuti. Banyak dari mereka yang tunduk dan memeluk islam, sebagian yang lain mau membayar jizyah, tetapi ada pula yang bersekutu dengan suku Tartar untuk melawannya. Usman pun tak gentar menghadapinya, dan akhirnya berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Usman beserta anaknya, Orkhan, menyerang daerah barat Bizantium hingga selat Bosphorus. Daerah ini adalah bagian bumi Eropa yang pertama kali diduduki Dinasti Usmani (Samsul Munir, 2009:195).
Ekspansi yang lebih besar terjadi pada masa Sultan Murad I. Di masa ini, Dinasti Usmani berhasil menguasai Balkan, Andrianopel (sekarang bernama Edirne, Turki), Macedonia, Sofia (Bulgaria), dan seluruh wilayah Yunani. Melihat kemenangan yang diraih Sultan Murad I, kerajaan-kerajan Kristen di Balkan dan Eropa timur menjadi murka. Mereka lalu menyusun kekuatan yang terdiri atas Hungaria, Bulgaria, Serbia, Transylvania, dan Wallacia (Rumania) untuk menggempur pasukan Usmani. Meskipun Sultan Murad I gugur dalam pertempuran, pihak Usmani tetap meraih kemenangan. Ekspansi berikutnya dilanjutkan oleh putranya, Bayazid I. Pada tahun 1931, pasukan Bayazid I dapat merebut benteng Philadelpia dan Gramania atau Kirman (Iran). Dengan demikian, Dinasti Usmani secara bertahap tumbuh menjadi kerjaaan besar (Ali Sodikin, dkk, 2003:155).
Puncak ekspansi Dinasti Usmani yaitu pada masa Sultan Muhammad II yang dikenal dengan gelar Al-Fatih (sang penakluk). Pada masanya, dilakukan ekspansi secara besar-besaran. Kota penting yang ditaklukkannya yaitu Konstantinopel. Sultan Muhammad Al-Fatih masih berumur 17 Tahun ketika menaklukkan Konstantinopel pada tanggal 28 Mei 1453. Setelah memasuki kota, Sultan Muhammad Al-Fatih mengganti nama kota menjadi Istambul, dan menjadikannya sebagai ibukota Dinasti Usmani. Sultan juga mengubah gereja terbesar dan termegah waktu itu, Hagia Sophia, menjadi masjid (Samsul Munir, 2009:199).
Ada lima faktor yang menyebabkan Dinasti Usmani berhasil melakukan perluasan wilayah-wilayah Islam. (1) Kemampuan orang-orang turki dalam strategi perang yang dikombinasikan dengan cita-cita memperoleh ghanimah (harta rampasan perang). (2) Sifat dan karakter orang-orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya hidupnya yang sederhana, sehingga memudahkan tujuan penyerangan. (3) Semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam. (4) Letak Istambul yang sangat strategis sebagai ibukota kerajaan. Istambul terletak di antara dua benua dan dua lautan, dan pernah menjadi pusat kebudayaan Macedonia, Romawi Timur, maupun Yunani. (5) Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya sedang dalam kekacauan, sehingga memudahkan penaklukannya (Ali Sodikin, dkk, 2003:156)
Sistem Pemerintahan
Bentuk kerajaan Turki Usmani didasrkan kepada sistem feodal yang ditiru langsung dari kerajaan Bizantium. Dalam sistem pemerintahan, sultan adalah penguasa tertinggi dalam bidang agama, politik, pemerintahan, bahkan masalah-masalah perekonomian (Ratu Suntiah, dkk, :139). Raja-raja Dinasti Usmani bergelar Sultan sekaligus Khalifah. Sultan menguasai kekuasaan duniawi, sedangkan Khalifah menguasai bidang agama/spiritual/ukhrawi. Mereka mendapatkan kekuasan secara turun-temurun, akan tetapi tidak harus putra pertamanya yang berhak menjadi penggantinya. Ada kalanya putra kedua atau putra ketiga yang menjadi pengganti. Bahkan pada perkembangan selanjutnya, pergantian kekuasaan diserahkan pada saudara sultan, bukan anaknya (Ali Sodikin, dkk, 2003:157).
Dalam menjalankan pemerintahannya, sultan/khalifah dibantu oleh seorang mufti atau yang lebih dikenal Syaikhul Islam dan Shadrul Alam. Syaikhul Islam mewakili sultan/khalifah dalam melaksanakan wewenang agamanya, sedangkan Shadrul Alam (perdana menteri) mewakili kepala negara dalam menjalankan wewenang dunianya (Ali Sodikin, dkk, 2003:157).
Hasil Peradaban
Meskipun Dinasti Usmani berkuasa cukup lama, yaitu sejak tahun 1299 hingga tahun 1922, tidak berarti bahwa peradabannya maju pesat seperti Dinasti Abbasi. Hal ini dikarenakan politik ekspansinya yang tidak diikuti dengan pembinaan wilayah taklukannya, di samping para sultan setelah penaklukan Konstantinopel sultannya lemah-lemah. Namun demikian, tingkat kemakmuran pemerintahannya lebih baik dibandingkan dengan seluruh bagian Eropa yang dikuasi oleh kaum Kristen. Demikian juga masyarakat Kristen yang berada di bawah kekuasaan Usmani lebih banyak mendapatkan hasil bumi, kemerdekaan pribadi, dan hasil usaha lainnya, dibandingkan dengan teman-teman mereka yang berada pada daerah kekuasaan Kristen (Ali Sodikin, dkk, 2003:157).
Adapun ulama dan karya fenomenal pada masa Dinasti Usmani yaitu Mustafa Ali (ahli sejarah, kitab Kunh Al-Akbar), Evliya Chelebi (ahli ilmu sosial, kitab Seyabat Name), Arifi (sejarawan, kitab Shah-name-I-Al-I Osman). (Jaih Mubarok, :206-207).
Selain meninggalkan buku-buku sebagai kekayaan sejarah, Dinasti Usmani juga meninggalkan sejumlah bangunan yang memperlihatkan keunggulan penguasaan teknologi pada zamannya, seperti Masjid Hagia Sophia, Masjid Agung Sultan Al-Fatih, Masjid Abu Ayyub Al-Anshari, Masjid Bayazid, dan Masjid Sulaiman Al-Qanuni, yang merupakan masjid berarsitektur tinggi dengan menggunakan "Kubah Batu" (ciri gereja Kristen) yang menggambarkan persaingan antara Islam dan Kristen (Jaih Mubarok, :207).
2.2 DINASTI SYAFAWI DI PERSIA
Dinasti safawiyah di persia berdiri sejak tahun ( 1502-1722 M). (Hasan ibrahim hasan. 1989:336). Dinasti safawiyah merupakan kerajaan islam di persia yang cukup besar. Awalnya kerajaan Safawi brasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, yang diambil dari nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan, yakni kerajaan safawi. Shafi Ad-Din merupakan keturunan dari Imam Syiah yang keenam, Musa Al-Kazhim gurunya bernama Syaikh Tajuddin Ibrahim zahidi (1216 – 1301). Shafi ad-Din mendirikan tarekat safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat pada tahun 1301 M. Pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Tarekat safawiyah diambil dari nama pendirinya, safi ad-Din dan nama syafawi terus di pertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Nama itu terus di lestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan (Badri Yatim.2000:138).
Di persia muncul suatu dinasti yang kemudian merupakan suatu kerajaan besar di dunia islam. Dinasti ini berasal dari seorang sufi syekh ishak safiuddin dari ardabil di azerbaijan yang beraliran syi'ah dan mempunyai pengaruh besar di daerah persia (Nasution, op.cit.,:84)
Keadaan politik dinasti syafawi mulai bangkit kembali setelah Abbas 1 naik tahta dari tahun 1587- 1629 yang menata administasi negara dengan cara yang lebih baik (Marshal G.S hodson, t.th.:38). Masa kekuasaan Abbas 1 merupakan puncak kejayaan kerajaan syafawi. Secara politik ia mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang menggangu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah wilayah yang pernah di rebut oleh kerajaan lain pada masa raja raja sebelumnya. Usaha usaha yang di lakukan Abbas 1 berhasil membuat kerajaan safawi menjadi kuat. Setelah itu Abbas 1 mulai memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut kembali wilayah kekuasaannya yang hilang (Badri Yatim.1997:143).
Selama periode safawiyah di persia ini (1502-1722 M) persaingan untuk mendapatkan kekuasaan antara turki dan persia menjadi kenyataan. Peperangan ini berasal dari kebencian Salim 1 yang berasal dari turki dan pengejaran terhadap seluruh umat muslim di syi'ah di daerah kekuasaanya. Fanatisme sultan salim memaksanya untuk membunuh 40.000 orang yang di dakwa telah mengingkari ajaran ajaran sunni ( hasan ibrahim hasan. 1989:336-337).
Kemajuan Dinasti Syafawi
Kemajuan peradaban dinasti safawiyah tidak hanya terbatas dalam bidang politik tetapi kemajuan dalam berbagai bidang:
Bidang keagamaan
Pada masa Abbas,dalam bidang keagamaan yang menanamkan sikap toleransi terhadap politik keagamaan tau lapang dada yang amat besar. Paham syi'ah tidak lagi menjadi paksaan bahkan orang sunni dapat hidup bebas mengerjakan ibadahnya (Hamka. 1981:70).
Bidang arsitektur
Kerajaan safawi telah berhasil menciptakan isfahan, ibukota kerajaan menjadi kota yang sangat indah. Di kota ini berdiri bangunan bangunan besar dengan arsitektur bernilai tinggi dan indah seperti masjid, rumah sakit, sekolah, jembatan raksasa di atas zende rud, dan istana chihil sutun. Dalam kota isfahan terdapat 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum (Marshal G.S hodgson.1981:40).
Bidang ekonomi
Kerajaan syafawi pada massa Abbas 1 ternyata telah memacu perkembangan perekonomian syafawi, terlebih setelah kepulauan hurmuz di kuasai dan pelabuhan gumrun diubah menjadi bandar Abbas. Yang merupakan salah satu jalur dagang laut antara timur dan barat yang biasa di perebutkan oleh belanda, inggris, dan perancis sepenuhnya telah menjadi milik kerajaan syafawi. Di samping sektor perdagangan, kerajaan syafawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah bulan sabit subur( Badri Yatim.1997:144).
Bidang ilmu pengetahuan
Berkembangnya ilmu pengetahuan masa kerajaan syafawi tidak lepas dari suatu doktrin mendasar bahwa kaum syi'ah tidak boleh taqlid dan pintu ijtihad selamanya terbuka. Kaum syi'ah tidak seperti kaum sunni yang mengatakan bahwa ijtihad telah terhenti dan orang mesti taqlid saja. Kaum syi'ah tetap berpendirian bahwasannya mujtahid tidak terputus selamanya (Hamka. 1987:70).
Beberapa ilmuan yang selalu hadir di majelis istana, yaitu: Baha Al-Din Al-Syaerazi seorang filosof dan Muhammad Bagir Ibn Muhammad Damad, seorang filosof ahli sejarah, teolog seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah (Badri Yatim.1997:144).
Bidang kesenian
Kemajuan tampak begitu jelas dengan gaya arsitektur bangunannya, seperti terlihat pada masjid syah yang di bangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat dalam bentuk kerajinan tangan, kerajinan karpet, permadani, pakaian. Seni lukis mulai di rintis sejak zaman Tamasp 1, raja ismail pada tahun 1522 M. Membawa seorang pelukis Timur ke Tabriz, pelukis itu bernama Bizhard (Marshal G.S Hodson, t.t.:40). Pada zaman Abbas 1 berkembanglah kebudayaan, kemajuan, dan keagungan pikiran mengenai seni lukis, pahat, syair (Hamka.1987:70).
2.3 DINASTI MUGHAL DI INDIA (1526-1857 M)
Dinasti Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya Dinasti Syafawi. Jadi, di antara tiga kerajaan besar Islam tersebut kerajaan inilah yang termuda. Dinasti Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak Benua India (Badri Yatim,2008:145).
Ibrahim Lodi (cucu sultan Lodi), sultan Delhi terakhir, memenjarakan sejumlah bangsawan yang menentangnya. Hal ini memicu pertempuran antara Ibrahim Lodi dengan Zahirudin Babur (cucu Timur Lenk) di panipazh (1526 M). Pada tanggal 21 April 1526 M terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipazh. Ibrahim Lodi beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memasuki kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya di sana. Sejak itulah berdiri dinasti Mughal di India, dan Delhi dijadikan ibu kota.
Dinasti ini memiliki sultan-sultan yang besar dan terkenal pada abad ke-17, yaitu Akbar (1556-1606), Jengahir (1605-1627), Syah Jehan (1628-1658), dan Aurangzeb (1659-1707) (Dedi Supriyadi, 2008:261).
Penguasa-penguasa Mughal setelah Aurangzeb tidak berdaya dan tidak mampu mengembalikan supremasi Mughal. Penguasa-penguasa Mughal sesudah Aungzeb antara lain: Bahadur Syah (1707-1712), Azimus Syah (1712), Tihandar Syah (1713), Farukh Syiyar (1713-1719), Muhammad Syah (1719-1748). Pengganti Muhammad Syah adalah Ahmad Syah (1748-1754), diteruskan Alamgir II (1754-1759), Sah Alam (1761-1806). Mulai pada tahun 1761 kerajaan Mughal yang sudah tidak berdaya diserang oleh Ajmad Shah Durrani dari Afghan pada pertempuran Pannipat. Sejak itu pelan tapi pasti Dinasti Mughal hancur dan lenyap dari India (Ali Sodikin, dkk, 2003:219-220)
Kemajuan Kerajaan Mughal
Kemajuan yang dicapai pada masa dinasti Mughal merupakan sumbangan yang berarti dalam mensyiarkan dan membangun peradaban Islam di India.
Kemajuan-kemajuan tersebut antara lain :
Bidang Politik dan Militer
Sistem yang menonjol adalah politik sulh e-kul atau toleransi universal,yaitu pandangan yang menyatakan bahwa derajat semua penduduk adalah sama. Sistem ini sangat tepat karena mayoritas masyarakat India adalah Hindu sedangkan Mughal adalah Islam (Ali Sodikin, dkk, 2003:220). Dalam urusan pemerintahan, pada masa Akbar menyusun pentadbiran secara teratur yang jarang taranya, sehingga Inggris satu setengah abad kemudian setelah menaklukan India, tidak dapat memilih jalan lain, hanya meneruskan administrasi Sultan Akbar (Dedi Supriyadi, 2008:262).
Di bidang militer, pasukan Mughal dikenal sebagai pasukan yang kuat. Akbar Khan menjalankan pemerintahan bersifat militeristik, pemerintahan pusat dipimpin oleh raja; pemerintahan daerah dipimpin oleh kepala komandan (Sipah salat); dan pemerintahan sub-daerah dipimpin oleh komandan (Faudjat) (1). Di samping itu, Akbar pun membentuk Din Ilahi dan juga mendirikan Mansabdhari (lembaga pelayanan umum yang berkewajiban sejumlah pasukan)(Jaih Mubarok, 2008:244).
Bidang Ekonomi
Kontribusi Mughal di bidang ekonomi adalah memajukan pertanian terutama untuk
tanaman padi, kacang, tebu, rempah-rempah, tembakau dan kapas. Di samping pertanian, pemerintahan juga memajukan industri tenun, pertambangan dan perdagangan. Di samping untuk kebutuhan dalam negeri, hasil industri ini banyak diekspor ke luar negeri seperti Eropa, Arabia, dan Asia Tenggara bersaman dengan hasil kerajinan, seperti pakaian tenun dan kain tipis bahn gordyn yang banyak diproduksi di Gujarat dan Bengal. Untuk meningkatkan produksi,Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat (Ali Sodikin, dkk, 2003:220).
Bidang Seni dan Arsitektur
Ciri yang menonjol dari arsitektur Mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Bangunan sejarah yang ditinggalkan periode ini adalah Tajmahal di Aqra, Benteng Merah, Jama Masjid, istana-istana, dan gedung-gedung pemerintahan di Delhi (Ali Sodikin, dkk, 2003:221) .
Sementara dalam bidang sastra yang paling menonjol adalah karya gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun bahasa India. Pada masa Akbar berkembang bahasa urdu, yang merupakan perpaduan dari berbagai bahasa yang ada di India. Penyair India yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayadi seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar yang berjudul Padmavat , sebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebajikan jiwa manusia.
Karya seni yang masih dapat dinikmati sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa Akbar dibangun istana Fatpur Sikri di Sikri, villa dan mesjid-mesjid yang indah. Pada masa Syah Jehan dibangun mesjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra,Mesjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore(Dedi Supriyadi, 2008:263).
Bidang Ilmu Pengetahuan
Di bidang pengetahuan kebahasaan Akbar telah menjadikan tiga bahasa nasional, yaitu bahasa arab sebagai bahasa agama, bahasa Turki sebagai bangsawan dan bahasa Persia sebagai bahasa istana kesusastraan (Dedi Supriyadi, 2008:221). Di bidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan sebuan Fatwa-Alamgri (Ali Sodikin, dkk, 2003:221).
KEMUNDURAN TIGA KERAJAAN BESAR
Kemunduran Dinasti Usmani di Turki
Faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Turki Usmani mengalami kemunduran yaitu: Wilayah kekuasaan yang sangat luas; kerajaan Turki Usmani sering terlibat perang secara terus-menerus sehingga susah untuk menjaga daerah yang telah dikuasai. Kelemahan para penguasa; Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Dinasti Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik kepemimpinannya maupun kepribadiannya, sehingga mudah ditaklukkan bangsa lain. Heterogenitas penduduk; sebagai kerajaan yang sangat besar, tentunya masyarakatnya terdiri dari berbagai agama, aras, etnis yang berbeda sehingga diperlukan pengambilan keputusan yang benar-benar bijaksana. Budaya korupsi; korupsi merupakan hal yang umum terjadi dalam Dinasti Usmani, sehingga mengakibatkan rapuhnya moral pemerintah. Pemberontakan tentara Yeniseri; tentara Yeniseri adalah tentara terkuat, sehingga jika para pasukan Yeniseri memberontak pasti pemerintah kalah. Merosotnya perekonomian; akibat perang yang tiada henti, perekonomian merosot karena penguasa hanya mementingkan perang. Stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi; Dinasti usmani kurang berhasil dalam mengembangkan ilmu dan teknologi, sehingga tidak mampu menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang semakin maju (Samsul Munir, 2009:208-209).
Kemunduran Dinasti Syafawi di Persia
Setelah Abbas 1, dinasti safawi mengalami kemunduran. Sulaiman, pengganti Abbas 1, melakukan penindasan dan pemerasan terhadap ulama sunni dan memaksakan ajaran syi'ah kepada mereka. Penindasan semakin parah terjadi pada zaman sultan husein, pengganti sulaiman. Penduduk afgan (saat itu bagian dari Iran) di paksa untuk memeuk syi'ah dan di tindas. Penindasan ini melahirkan pemberontakan yang di pimpin oleh Mahmud Khan (Amir Kandahar) sehingga berhasil menguasai Herat, Masyhad, dan kemudian merebut isfahan (1772 M). setelah itu, safawi diserang oleh Turki Usmani dan Rusia. Wilayah Armenia dan beberapa wilayah azerbaijan direbut oleh Turki Usmani , sedangkan beberapa wilayah propinsi laut kaspia di jilan, mazandaran dan asteraban direbut oleh Rusia (Ira M.Lapidus,op.cit.,:299).
Setelah sebagian besar wilayah dikuasai oleh Afghan, Turki Usmani dan Rusia, Nadir Syah (dinasti Asfhariah) karena mendapat dukungan dari suku Zand di Iran Barat menundukan dinasti safawiyah. Nadir Syah (bergelar Syah Iran) memadukan Sunni-Syi'ah untuk mendapat dukungan dari Afgan dan Turki Usmani; dan ia mengusulkan agar madzhab fiqih ja'fari (Syi'ah) dijadikan madzhab hukum yang kelima oleh ulama Sunni. Dinasti safawi pimpinan Nadir Syah kemudian di taklukan oleh dinasti Qajar (Ibid:300).
Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal
Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan sparatis Hindu di India Tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam(Badri Yatim,2008:159).
Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintahan pusat memang sudah muncul, tetapi dapat diatasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapka pemikiran puritanisme. Setelah iya wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkan (Badri Yatim,2008:159).
Sementara itu, para pedagang inggris (EIC) untuk pertama kalinya diizinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India yang didukung oleh kekuatan bersenjata menjadi semakin kuat menguasai wilayah pantai.( Ratu Suntiah, 2010:147).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M, yaitu:
Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal sendiri.
Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
Pendekatan Aurangzeb yang berlampau "kasar" dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sebelumnya.
Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
2.5 KEBANGKITAN EROPA
Banagsa-bangsa Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat pada awal kebangkitannya.Dihadapan mereka masih terdapat kekuatan-kekuatan angkatan perang islam yang sulit sikalahkan, terutama Kerajaan Usmani yang berpusat di Turki. Tidak ada jalan lain, mereka harus menembus jalan yang sebelumnya hanya dipandang sebagai dinding yang membatasai gerak mereka.
Mereka melakukan berbagai penelitian tentang rahasia alam,berusaha menaklukan lautan dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan. Setelah Christoper Colombus menemukan Benua Amerika (1492 M) dan Vasco da Gama menemukan jalan ke Timur melalui Cape Town (1498 M), Benua Amerika dan kepulauan Hindia segera jatuh ke bawah kekuasaan Eropa. Dua penemuan itu, sungguh tak terkirakan nilainya, Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan karena tidak lagi tergantung kepada jalur lama yang dikuasai umat islam.
L. Stoddart dalam The New World of Islam, menggambarkan situasi tersebut dengan kata-kata demikian :
"Lalu dengan sekejap mata dinding laut itu berubah menjadi jalan raya, dan Eropa yang terpojok itu menjadi yang dipertuan di laut dan maha hebat dalam sejarah seluruh umat manusia.
Kalau Eropa tadinya menghadapi kegagahan dan ketangguhan Asia dengan putus asa, terhada siapa kemenangan tak mungkin tercapai dengan serangan langsung,sekarang orang Eropa dapat memandangnya enteng.
Lebih-lebih lagi neraca sumber bahan-bahan berubah bagi keuntungan eropa. Daerah-daerah baru terbuka. Mereka dapat memperoleh kekayaan yang tidak terhingga untuk menghidupkan negerinya.Maka tidak lama setelah itu mulailah kemajuan Eropa yang mengatasi Asia. Apa artinya sumber-sumber bagi islam timur yang rauh itu, apabila dibandingkan dengan sumber-sumber dari Amerika dan kepulauan India yang telah jatuh ke tangan Eropa? Demikianlah perdaban Barat mulai hidup dan bersemangat. Dia melebur rantai abad pertengahan yang tadinya membelenggu, menggenggam azimat ilmu pengetahuan dan maju kea rah modern. "
Dalam bidang perekonomian bangsa-bangsa Eropa pun semakin maju karena daerah-daerah baru terbuaka baguinya. Mereka dapat memperoleh kekayaan yang tidak terhingga untuk meningkatkatkan kesejahteraan negerinya. Maka, mulailah kemajuan bangsa barat menandingi kemajuan umat Isalam yang terlah sejak lama memamng berangsur-angsur mengalami kemunduruan. Kemajuan bangsa Eropa itu dipercepat oleh penemuan mesian uap yang kemudian melahirkan revolusi industry di eropa semakin memantakan kemajuan mereka.Teknologi dan militer berkembang dengan pesat. Dengan demikian, Eropa menjadi pengauasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan dari dan ke seluruh dunia tanpa mendapat hambatan berartidari lawan-lawan dan pesaing-pesaing mereka. Bahkan, satu demi satu negeri Islam jatuh kebawah kekuasaanya sebagai negeri taklukan dan jajahan.
Negeri-negeri Islam yang pertama kali jatuh kebawah kekuasaan Eropa adalah negeri-negeri yang jauh dari pusat kekuasaan Kerajaan Usmani, karena kerajaan ini meskipun terus mengalami kemunduran, ia masih disegani dan dipandang masih cukup kuat untuk berhadapan dengan kekutan militer Eropa waktu itu. Negeri-negeri Islam yang pertama dapat dikuasai Barat adalah negeri-negeri Islan di Asia Tenggara dan di Anak Benua India. Sementara negeri-negeri Islam di Timur Tengah yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Usmani, baru diduduki Eropa pada masa-masa berikutnya.
Andai kata Baghdad tidak jatuh ke tanga pasukan Tartar (monngol) pada tahun 1258 M., yang disusul dengan penghancuran pusat-pusat keilmuan di kota ini, dan andaikata bangsa barat tidak menemukan jalur perdagangan laut pada abad ke-15, entah seerti apa hebatnya dunia Islam sekarang . Sayangnya, sejarah tidak bias diajak berandai-berandai. Sejarah adalah fakta dan realitas yang telah terjadin, karena itulah ia disebut sejarah dan jarum jam tak bias diputar mundur.
Secara historis Islam tidak selamanya selalu berada di puncak keemasannya. Bukti nyata sejarah Islam selalu tidak terlepaskan dengan empat fase, yaitu fasse pembentukan, kemajuan, kemunduruan, dan kehancuran. Akan tetapi, menurut amin Abdullah, Islam dipandang dari sudut normativitasnya bmerupakan agama yang mengajak pada kemajuan. Oleh karena itu, silih bergantinya fase-fase Islam, pada akhirnya, secara normative, meskipun hanya ada tataran konseptual, Islam senantiasa menyandang dan mengandung ajaran kemajuan.
Jatuh bangunnya dunia Islam terlihat semenjak diporak-porandakan Baghdad pada abad ke-12 disusul Turki,Syafaawi, dan India abad ke-17-18. Menurut catatan sejarah, sejak menjelang abad ke-18 barat sudah mulai memasuki ujung garis wilayah Islam di Eropa Timur dan di kepulaun Hindia. Selama abad ke-18 dan memasuki awal abad ke-19, satu demi satu wilayah Islam mulai dimasuki dan selanjutnya paruh kedua abad ke-19,satu demi satu negeri Islam dkuasai dan diduduki. Inggris menguasai Mesir dan India, Rusia menguasai wilayah kakasus dan Asia Tengah,Perancis dan Italia menaklukan Afrika Utara, Jerman menguasai turki dan beberapa Negara Eropa lainnya takmau ketinggalan turut pula mengambil bagian tersendiri, seperti Belandan yang menguasai Indonesia, dan Italia yang menguasai Tripoli.
Dengan berakhirnya tiga kerajaan Islam tersebut dan tampilannya kekuatan basar Barat yang menguasai ekonomi dan politik dunia Islam, maka yang ada hanyalah sisa-sisa umat Islam yang berjumlah minoritas, atau adanya imigran dari nrgara-negara Islam yang kjalah perang baik di Eropa Timur dan Barat. Pembahasan makalah ini, hanya menyoroti keberadaaan minoritas muslim di Eropa Barat secara umum (tidak terlalu mendetail),mengingat bahan referensinya terbatas (Dedi Supriyadi, 2008:)
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Tiga kerajaan Islam penting diciptakan pada akhir abad 15 dan awal abad 16: Kerajaan Usmani di Turki, Kerajaan Mughal di India, dan Kerajaan Safawi di Persia. Tiga Kerajaan penting tersebut tampak lebih memusatkan pandangan mereka pada tradisi demokratis Islam, dan membangun imperium absolute. Hampir setiap segi kehidupan umum dijalankan dengan ketepatan sistematis dan birokratis dan berbagai kerajaan mengembangkan sebuah administrasi yang rumit. Ketiga kerajaan besar ini seperti membangkitkan kembali kejayaan Islam setelah runtuhnya Bani Abbasiyah. Namun, kemajuan yang dicapai pada masa tiga kerajaan besar ni berbeda dengan kemajuan yang dicapai pada masa klasik Islam.
Kemajuan pada masa klasik jauh lebih kompleks. Di bidang intelektual, kemajuan di zaman klasik. Dalam bidang ilmu keagamaan, umat Islam sudah mulai bertaklid kepada imam-imam besar yang lahir pada masa klasik Islam. Kalau pun ada mujtahid, maka ijtihad yang dilakukan adalah ijtihad fi al-mazhab, yaitu ijtihad yang masih berada dalam batas-batas mazhab tertentu. Tidak lagi ijtihad mutlak, hasil pemikiran bebas yang mandiri. Filsafat dianggap bid'ah. Kalau pada masa klasik, umat Islam maju dalam bidang politik, peradaban, dan kebudayaan, seperti dalam bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran filsafat, pada masa tiga kerajaan besar kemajuan dalam bidang filsafat — kecuali sedikit berkembang di kerajaan Safawi Persia — dan ilmu pengetahuan umum tidak didapatkan lagi. Kemajuan yang dapat dibanggakan pada masa ini hanya dalam bidang politik, kemiliteran, dan kesenian, terutama arsitektur.
DAFTAR PUSTAKA
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Setia: Bandung
Mubarok, Jaih. 2008. Sejarah Peradaban Islam. CV. PUSTAKA ISLAMIKA: Bandung
Yatim, Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam. PT. RajaGrafindo Persada: Jakarta
Suntiah, Ratu. Sejarah Peradaban Islam. CV. INSAN MANDIRI:
Amir, Samsul Munir. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Amzah: Jakarta
Sodikin, Ali dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta
Syukur, Fatah. 2009. Sejarah Peradaban Islam. PT. Pustaka Rizki Putra: Semarang
Syalabi, Ahmad. 1988. Sejarah dan Kebudayan Islam: Imperium Turki Usmani. Kalam Muli: Jakarta
http://artikel-blogserba.blogspot.com/2011/01/peradaban-islam-masa-tiga-kerajaan.html. (diakses tanggal 04 Februari 2015 pukul 08.00)


Download Makalah Sejarah Peradaban Islam 3 Kerajaan Besar.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah Sejarah Peradaban Islam 3 Kerajaan Besar. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon