November 30, 2016

MAKALAH PERKEMBANGAN SOSIAL dan MORAL


Judul: MAKALAH PERKEMBANGAN SOSIAL dan MORAL
Penulis: Vina Rahmawati


PSIKOLOGI PENDIDIKAN
PERKEMBANGAN SOSIAL DAN MORAL

Disusun Oleh :
Arnika Tiara P(13320006)
Dian Ratna Sari(13320000)
Gebrina Rezki(13320264)
Syifa Luthfiana A(13320275)
Vina Rahmawati(13320273)
PRODI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2014
Perkembangan Teman Sebaya dalam Perkembangan Siswa
Penelitian Koch (Ladd & Asher, 1985) terhadap anak-anak prasekolah menemukan bahwa anak yang disukai oleh teman-teman sekelasnya lebih baik kemampuannya untuk mentoleransi rutinitas dan tugas-tugas sekolah daripada anak yang tidak populer di kalangan teman-temannya. Berdasarkan pengukuran perilaku anak prasekolah terhadap teman sebayanya, Van Alstyne dan Hattwick (Ladd & Asher, 1985) menemukan bahwa kesulitan bergaul dengan teman sebaya pada masa dini memprediksi kesulitan penyesuaian sosialnya di sekolah dasar.
Hartup (1992) mengidentifikasikan empat fungsi hubungan teman sebaya, yang mencakup:
Hubungan teman sebaya sebagai sumber emosi (emotional resources), baik untuk memperoleh rasa senang maupun untuk beradaptasi terhadap stress.
Hubungan teman sebaya sebagai sumber kognitif (cognitive resources) untuk pemecahan masalah dan perolehan pengetahuan.
Hubungan teman sebaya sebagai konteks dimana keterampilan sosial dasar (mislanya keterampilan komunikasi sosial, keterampilan kerjasama dan keterampilan masuk kelompok) diperoleh atau ditingkatkan.
Hubungan teman sebaya sebagai landasan untuk terjalinnya bentuk-bentuk hubungan lainnya (misalnya hubungan dengan saudara kandung) yang lebih harmonis. Hubungan teman sebaya yang berfungsi secara harmonis di kalangan anak-anak prasekolah telah terbukti dapat memperhalus hubungan antara anak-anak itu dengan adiknya.
Interaksi dengan teman di sekolah dan di lingkungan sekitar, cenderung membawa seorang remaja untuk lebih banyak berinteraksi dengan remaja lain yang berusia sama. Teman yang seperti ini dalam konteks sehari-hari sering disebut sebagai teman sebaya atau dalam istilah asingnya adalah peer . Peers sendiri diartikan sebagai "individu yang memiliki usia yang sama atau berada pada tingkat kematangan yang sama" (Santrock, 2008).
Tekanan Teman Sebaya (Peer Pressure)
Interaksi dengan teman sebaya dibutuhkan oleh remaja untuk mengalami perkembangan sosial yang normal. Meskipun interaksi dengan teman sebaya ini penting, akan tetapi interaksi dengan teman sebaya secara langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan dampak negatif bagi remaja, seperti interaksi sosial yang tidak sehat dan perilaku menyimpang, serta kenakalan kelompok remaja. Dampak-dampak negatif tersebut, sebagian besar muncul bukan karena keinginan dari dalam diri remaja sendiri, akan tetapi dari ajakan atautuntutan teman atau kelompok. Hal inilah yang disebut dengan tekanan sebaya atau peer pressure. Peer pressure atau tekanan dari teman sebaya terjadi ketika seseorang atau sekelompok individu mempengaruhi orang lain untuk mengikuti kemauan mereka, biasanya dengan cara memaksa. Tujuannya adalah untuk mengubah sikap, nilai-nilai moral atau perilaku seseorang – biasanya kerap berkaitan dengan agama, obat-obatan, minuman keras, dan seks. Meskipun umumnya dianggap negatif, peer pressure juga dapat memiliki efek positif, misalnya: ketika orang-orang dianjurkan untuk berprestasi secara akademis, berolahraga, atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
Menurut Santrock (2008), peer pressure bisa mendatangkan hal yang positif maupun hal yang negatif, tergantung dari lingkungan pergaulan remaja. Akan tetapi dalam faktanya, peer pressure lebih sering mendatangkan hal negatif bagi para remaja (Boujlaleb,2006), hal ini bisa dilihat dari banyaknya remaja yang berperilaku menyimpang dari pada remaja yang berprestasi.
The Self and Socialization
Lingkungan sekolah merupakan sebuah sarana yang diselenggarakan pendidikan formal bagi anak didik guna memperoleh bekal kelak di kemudian hari setelah dirinya tidak lagi tergantung pada orangtuanya, Disekolah, anak akan terikat di dalam sebuah lingkungan yang serba formal dan sarat dengan segala aturan-aturan mutlak yang formal dan baku yang sudah dilengkapi dengan tuntutan sanksi tertentu. Dilingkungan sekolah inilah seseorang anak mulai dikenalkan dan dibimbing untuk menjalankan norma dan nilai yang berlaku di dalam masyarakat.
Fungsi dan peran sekolah dalam bersosialisasi :
Mengajarkan anak tentang norma dan adat dalam masyarakat yang lebih luas.
Secara tradisional, anak-anak disosialisasikan peran gender konvensional
Sebagai sarana pematangan kepribadian
Sebagai sarana pengembangan potensi demi pemenuhan kebutuhan pribadi dan pengembangan masyarakat.
Menurut Freud, Diri adalah produk sosial, bagaimanapun juga, naluri impulsif alami dalam konflik dengan kendala sosial. Kepribadian dipengaruhi oleh hal lain terutama orang tuanya. Piaget juga menyatakan bahwa perkembangan manusia dapat dicapai melalui tahap perkembangan. Perkembangan dalam kognitif dapat dibagi menjadi 4 tahap. Kunci perkembangan adalah interaksi sosial
Karakteristik-Karakteristik Hubungan Pertemanan
Hubungan interaksi antara teman dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan karakteristik yang ada dalam hubungan pertemanan tersebut. Karakteristik hubungan pertemanan dikelompokkan menjadi 3, yakni persahabatan, geng, dan crowd.
Karakteristik persahabatan :
Merupakan hal yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sosial
Jika gagal menempa persahabatan yang akrab, anak atau remaja akan mengalami kesepian dan penghayatan akan martabat dirinya (self worth) akan menurun
Lebih terbuka mengenai hal-hal yang yang intim dan informasi yang bersifat pribadi kepada kawan-kawannya
Lebih banyak tergantung pada kawan-kawan daripada orang tua untuk memenuhi kebutuhan mereka atas kebersamaan, ketentraman hati dan intimasi
Bergosip mengenai kawan sebaya sering kali mendominasi percakapan (umumnya pada anak perempuan)
Karakteristik geng :
Kelompok yang anggotanya berkisar dari 2 hingga 12 individu (rata-rata beranggotakan 5 hingga 6 individu)
Biasanya memiliki kesamaan gender dan usia
Dapat terbentuk karena anak terlibat dalam aktivitas yang sama
Sering menghabiskan waktu bersama
Saling berbagi minat yang sama
Menikmati kebersamaan mereka
Karakteristik crowd :
Anggota lebih besar dari geng dan kurang personal
Anggota kelompok lebih heterogen, terdiri dari berbagai gender dan usia
Keanggotaan dalam crowd biasanya berdasarkan atas reputasi, mereka biasa meluangkan banyak waktu bersama namun bisa juga tidak
Banyak crowd yang diidentifikasi sesuai dengan aktivitas yang dilakukan oleh remaja
Reputasi yang didasarkan pada crowd sering muncul pertama kali di masa remaja awal dan biasanya berkurang pada masa remaja akhir
Popularitas dan Isolasi Siswa
Popularitas
Popularitas seorang anak ditentukan oleh berbagai kualitas pribadi yang dimilikinya. Hartup (1983) mencatat bahwa anak yang pouler adalah anak yang ramah, suka bergaul, bersahabat, sangat peka secara sosial, dan sangat mudah bekerjasama dengan orang lain. Asher et.al (dalam Seifert dan Huffnung,1994), juga mencatat bahwa anak-anak yang populer adalah anak-anak yang dapat menjalin interaksi sosial dengan mudah, memahami situasi sosial, memiliki keterampilan yang tinggi dalam hubungan antar pribadi dan cenderung bertindak dengan cara-cara yang kooperatif, prososial, serta selaras dengan norma-norma kelompok.
Anak yang tidak populer dapat dibedakan atas 2 tipe, yaitu: anak-anak yang ditolak (Rejected Children), dan anak-anak yang diabaikan (Neglected Children). Anak-anak yang diabaikan adalah anak yang menerima sedikit perhatian dari teman-teman sebaya mereka, tetapi bukan berarti mereka tidak disenangi oleh teman-teman sebayanya. Anak-anak yang ditolak adalah anak-anak yang tidak disukai oleh taman-teman sebaya mereka dan mereka cenderung bersifat mengganggu, egois, dan mempunyai sedikit sifat positif.
Anak-anak  yang ditolak kemungkinan untuk memperlihatkan perilaku agresif, hiperaktif, kurang perhatian atau ketidakdewasaan, sehingga sering bermasalah dalam perilaku dan akademis disekolah (Pu tallaz dan Waserman, 1990), akan tetapi tidak semua anak-anak yang ditolak bersifat agresif.
Penerimaan teman sebaya diartikan sebagai dipilihnya seseorang menjadi teman atau anggota kelompok untuk mengikuti suatu aktivitas dalam kelompok. Penerimaan teman sebaya merupakan 3 indikator keberhasilan anak berperan dalam kelompok sosialnya yang menunjukkan derajat rasa suka anggota kelompok yang lain untuk bermain dengan dirinya. Adanya penerimaan atau penolakan teman sebaya berdasarkan dari karakter yang dimunculkan anak ketika anak dan teman-temannya berinteraksi. Melalui pertemanan dengan berbagai dinamika interaksi yang terjadi, anak mulai memahami adanya persamaan dan perbedaan antara dirinya dan orang lain. Melalui interaksi sosial, anak akan belajar berbagi, bergantian, mengendalikan dan menyelesaikan konflik, serta menjaga dan mempertahankan hubungan (Rubin, Bukowski, & Parker, 1998).
Jadi dapat diintisarikan bahwa pada anak usia dini semakin banyak berinteraksi sosial, maka hubungan timbal balik akan terjadi sehingga secara psikologis kemampuan sosialisasi semakin terasah. Interaksi teman sebaya merupakan pusat sosialisasi pada masa kanak-kanak. Interaksi ini menambah kemahiran kompetensi sosial dan kompetensi yang bersifat komunikasi dalam sebuah sikap yang tidak seperti kontribusi yang diperoleh dari interaksi dengan orang dewasa. Seperti hasil penelitian Putallaz (1983) yang mengatakan bahwa anak yang mencapai status yang tinggi dalam kelompok teman sebaya nampak memiliki kemampuan untuk membaca situasi sosial dan menyesuaikan perilakunya pada saat interaksi berlangsung. Penelitian-penelitian (Coie & Dodge, 1988; Newcomb, Bukowski, & Pattee, 1993) yang mengkaji berbagai status penerimaan teman sebaya banyak yang menggunakan teknik sosiometri, yaitu penilaian seseorang oleh teman-temannya yang seusia. Adapun kategori sosiometri yang biasa dipakai adalah kategori anak yang populer (popular), ditolak (rejected), diabaikan (neglected), kontroversi (controversial) . Untuk lebih rinci dipaparkan pada tabel berikut ini :
No Status Penerimaan Sosial Karakteristik Anak
1. Popular 1. Anak yang disukai oleh sebagian besar teman-temannya dan
sedikit tidak disukai
2. Anak terlihat lebih suka menolong, berinteraksi secara aktif
dengan anak lain, menunjukkan keterampilan memimpin, dan mengajak dalam permainan konstruktif. Nampak kooperatif,
ramah, dan suka bergaul.
2. Ditolak (rejected children) 1. Anak yang tidak disukai oleh sebagian besar teman-temannya
dan hanya sedikit yang menyukainya.
2. Anak menunjukkan agresi tinggi, menarik diri, serta
kemampuan sosial dan kognitif yang rendah
a. Anak yang agresif Perilaku agresif yang tinggi, kontrol diri rendah, serta
menunjukkan perilaku bermasalah atau menganggu
b. Anak yang non agresif Melarikan diri, cemas, dan tidak memiliki keterampilan sosial
3. Diabaikan (neglected children) 1. Anak cenderung menarik diri, sehingga memiliki sedikit teman,
serta sedikit dibutuhkan oleh temannya
2. Anak nampak berinteraksi dengan teman sebaya dengan
frekuensi lebih sedikit daripada anak lain, tidak ada bukti yang
konsisten yang muncul yang menunjukkan bahwa anak yang
diabaikan menunjukkan kecemasan sosial, kecerobohan sosial
yang ekstrem (extreme social wairness), atau sangat menarik
diri dalam pergaulan (Coie & Dodge, 1988). Coie dan Dodge
(1988) juga mencatat bahwa anak yang ditolak tidak hanya
rendah agresinya, tetapi mereka nampak menghindari
menghadapi agresi secara aktif.
4. Kontroversial (controversial
children)
1. Kelompok ini unik karena anak kontroversial
tinggi dalam penerimaan dan penolakan. Karena itu, anak
kontroversial nampak memiliki banyak ciri pada anak-anak
yang popular maupun anak yang ditolak. Anak ini sebagian
teman menyukainya dan sebagian lagi tidak menyukainya.
Coie dan Dodge (1988) melaporkan bahwa anak laki-laki
kontroversial, seperti anak laki-laki yang ditolak, berperilaku
agresif dan mengacaukan, secara sosial menarik diri, mudah
marah dan biasa dengan kekerasan, dan sangat aktif. Pada sisi
lain, mereka melaporkan bahwa anak laki-laki kontroversial
seperti anak laki-laki yang popular bahwa mereka
menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam menolong,
bekerjasama, kepemimpinan dan dalam beberapa hal, dan
sensitivitas sosial.
2. Ditunjukkan anak memiliki tingkat agresivitas, kemampuan
sosial, serta tingkat kognitif yang tinggi
Isolasi Siswa
Menarik diri adalah suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi orang lain. Individu merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak memiliki kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi atau kegagalan. Individu kehilangan kemampuan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain (RSJ, 1996).
Menurut Rawlins & Heacock, isolasi sosial atau menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan.
Kognisi Sosial
Perspective Taking
Perspective taking atau pemindahan perspektif adalah kemampuan individu untuk memahami cara pandang atau pemikiran serta perasaan orang lain. robert selman (dalam Santrock, ) berpendapat bahwa pemindahan perspektif (perspective taking) dimulai sejak masa usia 3 tahun hingga masa remaja. Tahapan diawali dengan adanya pandangan egosentris di masa kanak-kanak awal dan diakhiri dengan adanya pengambilalihan perspektif yang semakin dalam di masa remaja. Rangkaian perspective taking ini terdiri dari lima tahap, yaitu:
Tahap Tahap pengambilalihan cara pandang usia deskripsi
0 Sudut pandang egosentris (3-6)
Anak mulai sadar bahwa ada perbedaan anatara dirinya dan orang lain dari sisi pikiran dan perasaan, tetapi anak belum mampu untuk membedakannya. Anak belum dapat melihat hubungan sebab akibat dalam proses penalaran terhadap tindakan sosial tetapi sudah mampu memeberi label pada perasaan orang lain.
1 Pengambilalihan cara pandang secara sosial-informansional 6-8 Anak menyadari bahwa setiap orang memiliki perspektif sosial yang didasari oleh pemikirannya masing-masing. akan tetapi, anak cenderung berfokus pada satu perspektif daripada menggabungkan beberapa sudut pandang.
2 Pengambilalihan refleksi diri 8-10 Anak sangat menyadari bahwa orang sadar terhadap perspektif orang lain yang dimana kesadaran tersebut mempengaruhi cara pandang antara satu sama lain. Cara yang dilakukan untuk memahami dan menilai keinginan, tujuan dan tindakan orang lain yaitu dengan menempatkan diri pada posisi orang lain.Anak dapat membentuk suatu rangkaian perspektif yang terstruktur tetapi tidak dapat melakukan abstraksi dari tingkat ini untuk mencapai tahapan mutualis simultan.
3 Pengambilalihan perspektif secara mutualis 10-12 Remaja sadar bahwa dirinya maupun orang lain dapat melihat satu sama lain sebagai objek secara bersamaan (mutualis) dan secara simultan. Remaja dapat melihat interaksi dengan perspektif orang ketiga.
4 Tahap pengambilalijan perspektif tentang sistem sosial dan konvensional. 12-15 Remaja menyadari bahwa pemindahan perspektif secara mutual tidak selalu menghasilkan pemahaman yang lengkap. Konvensi sosial dilihat sebagai suatu pernyataan mutlak karena konvensi dimengerti oleh semua orang secara umum tanpa memperdulikan posisi, peran atau pengalaman.
Theory of Mind
Menurut Goldman, theory of mind adalah cabang ilmu kognitif yang menyelidiki bagaimana seseorang mengetahui kondisi mental dan memprediksi perilaku orang lain. Dengan kata lain, TOM ini juga menyelidiki mindreading dan mentalizing atau kemampuan mentalistik. Menurut Upton (2012), teori ini menjelaskan bahwasannya kondisi mental seseorang (pikiran, perasaan, pengetahuan, hasrat) berbeda dengan kondisi mental orang lain. Theory of mind ini berlangsung terutama pada usia 7 tahun hingga memasuki masa remaja. TOM ini mengajarkan individu untuk dapat mengerti dan menempatkan diri pada posisi orang lain, yaitu dengan cara membayangkan dan mengidentifikasi perasaan orang lain ketika dalam situasi tertentu. Maka dari itu, dalam proses perkembangan moral teori ini merupakan salah satu bagian terpenting. Dalam perkembangannya TOM ini dianggap menunjukkan perubahan kualitatif dalam proses berpikir anak-anak. Pada anak usia di bawah 4 tahun anak-anak cenderung belum bisa memahami kondisi mental orang lain. Namun, pada anak usia 4 tahun sudah mampu mengkaitkan pengetahuan dengan kondisi mental orang lain secara koheren.
Perkembangan Moral dan Prososial
3 level dan 6 tahap penalaran moral menurut Kohlberg

Level I: Preconventional Morality
Stage 1: Punishment and Obedience OrientationTahap ini disebut juga moralitas heteronomi. suatu orientasi pada hukuman dan kepatuhan. Penentuan benar atau salah didasarkan pada konsekuensi ragawi suatu tindakan. Penalaran pada tahap ini sangat egosentrik, penalar tidak dapat mempertimbangkan perspektif orang lain.
Stage 2: Individualism, instrumental purpose, and exchange
Tahap kedua disebut tujuan instrumental, individualisme dan pertukaran (kebutuhan dan keinginan). Tahap ini ditandai oleh pemahaman baik atau benar sebagai sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan, baik diri sendiri maupun orang lain. Kebutuhan pribadi dan kebutuhan orang lain merupakan pertimbangan utama penalaran pada tingkat ini.
Level II: Conventional Morality
Stage 3: Mutual interpersonal expectation, relationship, and interpersonal conformity
Tahap harapan, hubungan dan penyesuaian antarpribadi. Mengerjakan sesuatu yang benar pada tahap ini berarti memenuhi harapan orang-orang lain, loyal terhadap kelompok, dan dapat dipercaya dalam kelompok tersebut. Perhatian terhadap kesejahteraan orang lain dianggap hal yang penting. Kesadaran akan perlunya saling menaruh harapan dan saling memberikan persetujuan terhadap perasaan dan perspektif orang lain, serta minat kelompok menjadi perspektif sosial seseorang.
Stage 4: Social system and conscience (law and order)
Tahap keempat adalah sistem sosial dan hati nurani. Mengerjakan sesuatu yang benar pada tahap ini berarti mengerjakan tugas kemasyarakatan dan mendukung aturan sosial yang ada. Tanggung jawab dan komitmen seseorang haruslah menjaga aturan sosial dan menghormati diri sendiri.
Level III: Postconventional Morality or Principled
Stage 5: Social contract or utility and individual right
Tahap ini adalah kontrak sosial dan hak individual. Yang dianggap benar menurut tahap ini adalah yang mendukung hak-hak dan nilai-nilai dasar, serta saling menyetujui kontrak sosial. Orientasi penalaran tahap ini adalah pada upaya memaksimalkan kesejahteraan masyarakat dan menghargai kemauan golongan mayoritas, di samping menjaga hak-hak golongan minoritas. Apabila undang-undang dan aturan yang ada dianggap tidak sesuai, misalnya bertentangan dengan hak-hak kemanusiaan, maka penalar pada tahap kelima ini dapat melakukan kritik dan mengusahakan perubahan dan mempelajari cara mengatasinya. Tahap kelima ini memiliki sifat utilitarianism rational, yakni suatu keyakinan bahwa tugas dan kewajiban harus didasarkan pada tercapainya kebahagiaan bagi sebagian besar manusia.
Stage 6: Universal ethical principles
Tahap keenam adalah prinsip etis universal. Pada tahap ini yang dianggap benar adalah bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip pilihan sendiri yang sesuai bagi semua manusia. Prinsip-prinsip diterima oleh orang yang berada pada tahap ini bukan disebabkan oleh persetujuan sosial, tetapi prinsip-prinsip tersebut berasal dari ide dasar keadilan, yaitu persamaan hak-hak kemanusiaan dan penghargaan terhadap martabat manusia.Penalar pada tahap ini sudah dapat membuat keputusan moral secara otonomi. Perhatian utamanya pada tercapainya keadilan melalui penghargaan terhadap keunikan hak-hak individu.
Selanjutnya, Kohlberg menggunakan dilema moral untuk mengetahui kedudukan seseorang dalam tahap-tahap perkembangan penalaran moral. Dari keputusan seseorang dalam menghadapi dilema tersebut, disertai alasan yang mendasari keputusan, akan dapat ditentukan tahap perkembangan penalaran orang tersebut. Dalam konteks evaluasi moral, mengetahui tahap-tahap perkembangan penalaran moral seseorang tidak sama dengan mengetahui tindakan moral orang tersebut, karena antara pemikiran dan tindakan dapat terjadi tidak seiring sejalan. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi lain yang dapat mengungkap aspek sikap maupun perilaku.
DAFTAR PUSTAKA
Coie, J., Dodge, K. A., & Coppotelli, H. (1982). Dimensions and types of social status: A control in preschoolers. International Journal of Behavioral Development, 26, 167–176
Desmita .2010. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Hetherington E. M, and Parke, R.D. (1996). Child Psychology; A Contemporary Viewpoint
New York : MC Graw Hill. In Blackwell Handbook of Early childhood Development. Edtr. Kathleen McCartney and Deborah Phillips. UK : Blackwell Publishing, LtdPenney Upton. 2012. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Rubin, K.H., Bukowski, W., & Parker, J. (1998). Peer interactions, relationships, and groups. In N. Eisenberg(Ed), Handbook of Child Psychology (5th edition): Social, emotional, and personality development. (pp. 619-700). New York: Wiley
Santrock. J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja. Edisi: 6. Jakarta: Erlangga
Santrock, J. W. 2011. Life-Span Development. Diterjemahkan oleh Benedictine Widyasinta. Jakarta : Erlangga
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195106011979031-DIDI_TARSIDI/Makalah%26Artikel_Tarsidi_PLB/Hubungan_Teman_Sebaya_Kompetensi_Sosial_Anak.pdfhttp://www.academia.edu/1517127/variasi_pengaruh_peer_pressure_terhadap_latar_belakang_status_sosial_ekonomi_remaja


Download MAKALAH PERKEMBANGAN SOSIAL dan MORAL.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca MAKALAH PERKEMBANGAN SOSIAL dan MORAL. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon