November 28, 2016

EPIDEMIOLOGI KESEHATAN LINGKUNGAN I. PENGERTIAN


Judul: EPIDEMIOLOGI KESEHATAN LINGKUNGAN I. PENGERTIAN
Penulis: Juliatin Rahma


EPIDEMIOLOGI KESEHATAN LINGKUNGAN
I. PENGERTIAN
 Epidemiologi, berasal dari kata :
Epi : " Pada ", Demos : " Penduduk ", Logos : " Ilmu "
Pengertian Epidemiologi :
- Ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan penyakit serta berbagai masalah kesehatan di dalam masyarakat termasuk aplikasinya ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (hasil kesepakatan pertemuan internasional ahli epidemiologi di Amerika Serikat, 1991)
- Ilmu yang mempelajari distribusi dan faktor-faktor determinan yang mempengaruhi status kesehatan atau menyebabkan terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan pada kelompok masyarakat tertentu dan penggunaan studi tersebut untuk menganggulangi masalah-masalah kesehatan (Last, J.M., Ed, 1988).
Pengertian Epidemiologi, mencakup :
- Penyakit atau status penyakit, frekuensi, distribusi (orang/populasi, waktu dan tempat), determinan (faktor-faktor yang mempengaruhi), metoda (design)
Berdasarkan pengertian tersebut terdapat tiga komponen penting dalam Epidemiologi :
1. Frekuensi
Merupakan kuantifikasi status kesehatan (kondisi status kesehatan yang terekam dalam data time series) analisa data sekunder, sebagai awal pengamatan pola penyakit di dalam masyarakat (populasi).
2. Distribusi
Terkait dengan pola penyebaran penyakit dan merumuskan hipotesa tentang kemungkinan faktor penyebab  orang, tempat dan waktu.
3. Determinan
Faktor penyebab dari suatu masalah kesehatan baik yang menerangkan frekuensi, penyebaran (distribusi) dan penyebab timbulnya masalah kesehatan.
Pengertian Epidemiologi Kesehatan Lingkungan :
- Ilmu yang menganalisa dan mengukur efek-efek kesehatan dari faktor-faktor lingkungan dan menilai keefektifan strategi-strategi pengawasan (WHO, 1989)
- Ilmu dan seni yang mempelajari dan menilai (mengukur dan analisis) kejadian penyakit atau ganggguan kesehatan dan potensi bahaya faktor penyebab (bahan, kekuatan, kondisi) akibat perubahan keseimbangan lingkungan serta menilai upaya-upaya pengendaliannya (Pentaloka Epidemiologi Lingkungan, Ciloto, 28 Oktober dan 2 November 1991).
II. TUJUAN DAN LEVEL EPIDEMIOLOGI (EPIDKESLING )
1. TUJUAN EPIDEMIOLOGI (EPIDKESLING)
Tujuan Epid (kesling), yaitu :
a. mengumpulkan fakta dan data tentang berbagai masalah kesehatan yang ada dalam masyarakat  EPIDKESLING berkaitan dengan pengaruh (perubahan) kondisi lingkungan.
b. Menjelaskan sifat dan penyebab masalah kesehatan berdasarkan fakta dan data yang diperoleh setelah dilakukan analisa.
c. Menemukan atau merencanakan pemecahan masalah serta mengevaluasi pelaksanaannya
2. LEVEL PENERAPAN EPIDEMIOLOGI (EPIDKESLING)
a. Level Pemahaman  dimulai dari pengamatan yang dilakukan secara ilmiah sampai pada penarikan kesimpulan yang mengarah pada akumulasi pengetahuan kejadian penyakit.
b. Level Intervensi  mengumpulkan informasi empiris yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan kesehatan masyarakat.
III. RUANG LINGKUP EPIDEMIOLOGI (EPIDKESLING)
Ruang lingkup Epidemiologi (Epidkesling)
1. Kondisi Lingkungan  perubahan kualilitas lingkungan berpengaruh terhadap agent (penyebab penyakit), host (manusia).
2. Variabel Epidemiologi  orang, waktu dan tempat
3. Penyakit :
 Penyakit Infeksi/menular  akibat kondisi sanitasi yang buruk.
 Penyakit menahun atau tidak menular  akibat menurunnya (perubahan) kualitas lingkungan yang timbul sebagai dampak negatif dari aktivitas pembangunan misalnya pencemaran yang terjadi pada air, tanah dan udara akibat limbah industri, pertanian, pertambangan/energi, transportasi, domestik dan sebagainya.
4. Ilmu sosial dan perilaku  perilaku manusia (higiene perorangan) dan hubungannya dengan timbulnya kejadian penyakit.
5. Metoda (Design)  sebagai dasar yang digunakan dalam melakukan kajian (analisa) untuk menarik kesimpulan baik level pemahaman maupun level intervensi, misal penggunaan Metode-metode Statistik (kajian Ilmiah) dan penggunaan konsep SIMPUL KESEHATAN LINGKUNGAN.
IV. VARIABEL EPIDEMIOLOGI (EPIDKESLING)
Variabel Epidemiologi dikelompokkan menurut :
 Orang (person)
 Tempat (place)
 Waktu (time)
1. ORANG (PERSON)
Perbedaan Sifat/karakteristik individu secara tidak langsung memberikan perbedaan sifat/keterpaparan, dipengaruhi oleh:
 Faktor Genetik  bersifat tetap, seperti : jenis kelamin, ras, data kelahiran, dsb.
 Faktor biologik  berhubungan dengan kehidupan biologik, seperti : umur, status gizi, kehamilan, dsb.
 Faktor Perilaku  berpengaruh secara individu, seperti: adat istiadat, mobilitas, dsb.
 Faktor Sosial Ekonomi  seperti pekerjaan, status perkawinan, pendidikan, daerah tempat tinggal.
2. TEMPAT (PLACE)
Pengetahuan distribusi geografis suatu penyakit berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan etologi penyakit.
Keterangan tempat dapat bersifat :
 Keadaan geografis, misal: daerah pegunungan, pantai, dataran rendah, dsb.
 Batas administratif (misal: batas negara, propinsi, kabupaten/kota, kecamatan/kelurahan), batas ekologis (batas penyebaran dampak).
Menganalisa hubungan penyakit dengan tempat harus dipikirkan hal-hal sbb :
 Keadaan penduduk setempat dan sifat karakteristiknya.
 Apakah penyakit berhubungan langsung dengan tempat, seperti :
- Angka kesakitan tinggi pada semua golongan umur.
- Penyakit tidak dijumpai/kurang ditempat lain.
- Penduduk yang pindah ke tempat tersebut akan terserang penyakit.
- Penduduk yang keluar dari tempat ybs akan sembuh atau penyakitnya tidak bertambah.
- Adanya gejala penyakit yang sama pada hewan.
 Faktor lingkungan biologis dan sosial ekonomi setempat harus diperhitungkan.
3. WAKTU
Perubahan-perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis, yaitu dengan adanya :
a. faktor penyebab penyakit pada waktu tertentu
b. perubahan komposisi dan jumlah penduduk menurut waktu
c. perubahan komposisi lingkungan menurut waktu (lingk. fisik, biologi dan sosial ekonomi).
d. perubahan kriteria dan alat diagnosa dari waktu ke waktu
e. perubahan pola penyakit karena usaha pencegahan dan penanggulangan serta perubahan lainnya dari waktu ke waktu.
PERUBAHAN PENYAKIT MENURUT WAKTU :
1. Perubahan dalam waktu singkat :
a. Epidemi  jumlah penderita melampaui keadaan normal, umumnya terjadi pada penyakit menular, namun tidak menutup kemungkinan karena akibat bahan kimia/akibat fisik serta kelainan perilaku, misal penyakit menular DBD.
b. Common sources/Point epidemic  timbul wabah mendadak dengan terfokus pada limit waktu sesuai dengan masa inkubasi terpanjang pada penyakit, misal keracunan makanan.
c. Epidemi berkepanjangan  epidemi yang terus menerus berlangsung, terutama penyakit dengan kontak person (umpama AIDS) maupun oleh vektor penyakit, misal malaria.
2. Perubahan secara periodik :
a. Pengaruh musim :
 Hubungan penyakit dengan musim tertentu terutama penyakit menular, juga dijumpai pada penyakit kronik, seperti asmatik.
 Perbedaan waktu erat hubungannya dengan keadaan cuaca yang dapat mempengaruhi sifat penyebab, pejamu serta lingkungan.
 Perubahan tahunan secara epidemiologi karena sifat penyakit.
b. Perubahan periodik yang bersifat siklus :
 Perubahan insidensi penyakit secara reguler antara beberapa bulan tertentu secara teratur.
3. Perubahan secara sekuler :
 Perubahan yang terjadi setelah sekian tahun (5-10 tahun atau lebih) yang menampakkan perubahan keadaan penyakit/kematian yang cukup berarti dalam hubungan interaksi antara pejamu/manusia (H), penyebab (A) dan lingkungan (E).
INTERAKSI MANUSIA DAN LINGKUNGAN
EKOLOGI MANUSIA
 Ilmu yang mempelajari interaksi antara setiap segi kehidupan manusia (fisik, metal, sosial) dengan lingkungan hidupnya (biofisis, psikososial) secara keseluruhan dan bersifat sintesis.
 Studi yang menelaah hubungan timbal balik antara perilaku manusia dengan lingkungannya baik pengaruh aktivitas manusia terhadap lingkungan disekitarnya maupun sebaliknya manusia dengan lingkungan
 merupakan suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, bidang ini merupakan suatu perspektif dalam menelaah hubungan antara perilaku manusia dan lingkungannya.
HUB. EKOLOGI MANUSIA DENGAN KESLING
 Meningkatkan faktor eugenik (menguntungkan) dan mengurangi atau mengendalilan faktor disgenik (merugikan)
PENCEGAHAN PENYAKIT AKIBAT LINGKUNGAN
Komponen lingkungan (Agent/penyebab) pada sumbernya (Emisi) Misal :
 Pengukuran Kadar CO pada knalpot mobil, Cerobong asap pabrik
 Pengukuran Kadar Hg pada air limbah effluent
Agent/penyebab pada lingkungan (ambient)  air tanah, udara, bahan makanan,
 Pengukuran CO di udara
 Pengukuran Hg pada air sungai
 Residu pestisida dalam sayuran/buah-buahan
Agent/penyebab penyakit masuk ke dalam tubah manusia melalui pernafasan, sistem pecernaan, kontak kulit  PEMAPARAN (bio-marker)
 Ada kandungan CO dalam darah,
 Adanya kandungan Hg dalam darah
 Penurunan cholinesterase dalam darah (indikasi kontak dengan pestisida).
Studi gejala penyakit (Efek) yang ditimbulkan akibat pemaparan agent/penyebab penyakit.
 Pengukuran distribusi gejala sakit baik klinis maupun subklinis

SIFAT-SIFAT MASALAH KESEHATAN LINGKUNGAN
Masalah kesehatan lingkungan memiliki sifat sbb :
1. Dimensi Lintas Batas  lintas batas geografis, lintas disiplin/sektor. penanganan masalah kesling harus memperhatikan dimensi ini.
Penanganan :
 Lintas batas (antar Kab./Kota)
 Lintas Sektor (Dinas terkait)
Misal :
 Penanganan penc. Lingk.
 Kasus Flu Burung (bata.
2. Dimensi Variabilitas  Variabel Epid: variabel orang (kelompok/ populasi), variabel waktu dan variabel tempat (geografis).
Dampak perubahan lingk. yang terjadi pada satu kelompok, belum tentu sama dengan kelompok yang lain, misal :
 Kelompok yang terpapar bahan pencemar tertentu dalam dosis dan waktu tertentu.
 Konsentrasi bahan pencemar pada suatu ambien lingk selalu befluaktuasi karena adanya variabel waktu.
Masalah kesehatan lingkungan dipengaruhi oleh :
1. Pertumbuhan dan sebaran penduduk
2. Kebijakan/policy para pengambil keputusan
3. Mentalitas dan prilaku masyarakat
4. Kemampuan alam untuk mengendalikan penc.lingk (Self Purification).
Dalam studi Epidkesling juga harus diperhatikan beberapa hal terhadap kejadian penyakit akibat kondisi lingkungan antara lain :
a. Kelompok risiko tinggi  sekelompok manusia (masyarakat) yang akan mengalami risiko (sakit) terlebih dahulu dibandingkan dengan kelompok lain dalam skala ruang, waktu dan dosis yang sama.
Misal :
 Polisi lalu lintas, penjaga pintu tol, berisiko tinggi terpapar Pb
b. Behavioral Exposure  konsep perkiraan (pengukuran) pemaparan bahan pencemar/agent penyakit dengan memperhatikan faktor perilaku penduduk (sebagai kelompok risiko tinggi).
Misal :
 Masyarakat yang tinggal dibantaran sungai yang tercemar, dan menggunakan air sungai tsb untuk keperluan hidup sehari-hari.
c. Population at Risk  sekelompok penduduk yang mimiliki ancaman yang sama dengan para korban, misal :
 Peserta pesta (memiliki risiko sama dengan korban keracunan makanan dalam pesta tsb)
d. Penyebaran, waktu dan geografis  dg mengetahui hal ini upaya pencegahan dapat dilakukan.
KEJADIAN SAKIT AKIBAT LINGKUNGAN
Komponen lingkungan  Agent (Penyebab Penyakit), merupakan potensi bahaya menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat.
Klasifikasi Bahan Pencemar terhadap Kesehatan
1. Respiratory Pollutant efek terhadap sistem saluran pernafasan.
 Misal : SO2, NH3, Cadmium, Nox, H2S, Cobalt, Asbestos, Mangan, Zink, dsb.
2. Systemic Pollutant  efek terhadap lebih dari satu jaringan tubuh, masuk dalam saluran pencernaan dan disebarkan melalui aliran darah.
 Gangguan pada lambung, sistem syaraf pusat dan saluran air seni
 Pb, Hg, Fluorida, Cd, Organofospat, Chlorinated Hydrocarbon.
3. Host Spesific Polutant  bahan pencemar yang dapat menimbulkan reaksi, misal alergi, karsinogenik, mutagenik
 Misal: Formaldehid, Thyocyanate, Nikel, Asbestos, Selenium, Arsenik, Metil Merkury, Chlorinated Hydrocarbon, dsb.
ARKL (Analisis Risiko Kesesehatan Lingkungan) :
 Merupakan suatu pendekatan untuk mencermati potensi besarnya risiko yang dimulai dengan mendiskripsikan masalah lingkungan yang telah dikenal dan melibatkan penetapan risiko pada kesehatan manusia yang berkaitan dengan masalah lingkungan yang bersangkutan, baik pada saat ini atau di masa lalu (misalnya: lokasi tercemar)
LANGKAH-LANGKAH ARKL
1. Analisa Risiko
2. Pengelolaan Risiko
3. Komunikasi Risiko
1. ANALISA RISIKO
Tahapan dalam Analisa Risiko :
 Tahap I, Identifikasi Bahaya
 Tahap II, Evaluasi Dosis-Respon
 Tahap III, Pengukuran Pemajanan
 Tahap IV, Penetapan Risiko
LANGKAH PERTAMA  IDENTIFIKASI BAHAYA
 Mengenal dampak buruk kesehatan yang disebabkan oleh pemajanan suatu bahan (racun) .
 Memastikan mutu serta kekuatan bukti-bukti yang mendukungnya (daya racun yang ditimbulkan oleh suatu bahan).
LANGKAH KEDUA  EVALUASI DOSIS – RESPON
 Melihat daya racun yang terkandung dalam suatu bahan atau menjelaskan kondisi pemajanan (cara, dosis, frekuensi dan durasi) oleh suatu bahan yang berhubungan dengan timbulnya dampak kesehatan.
LANGKAH KETIGA  PENGUKURAN PEMAJANAN
 Perkiraan besaran, frekuensi dan lamanya pemajanan pada manusia oleh suatu bahan melalui semua jalur (Jalur 1, 2, 3, 4 dan 5) dan menghasilkan perkiraan pemajanan secara numerik.
JALUR PEMAJANAN :
o Jalur 1, Sumber pencemar : asal pencemar, misalnya: pabrik yang membuang limbah ke lingkungan atau timbunan sampah.
o Jalur 2, Media lingkungan dan mekanisme penyebaran : lingkungan dimana pencemar dilepaskan misalnya : air, tanah, udara, dan biota yang menyebarkan pencemar dengan mekanisme tertentu ke titik pemajanan
o Jalur 3, Titik pemajanan : suatu area potensial atau riil dimana terjadi kontak antara manusia dengan media lingkungan tercemar, misal sumur atau lapangan bermain
o Jalur 4, Cara pemajanan : pencemar masuk atau kontak dengan tubuh manusia misalnya: tertelan, pernapasan atau kontak kulit.
o Jalur 5, Penduduk berisiko : orang-orang yang terpajan atau berpotensi terpajan oleh pencemar pada titik pemajanan.
Untuk memudahkan Analisa Pemajanan diperlukan kategorisasi berdasarkan tempat (lokasi) individu dan masyarakat (penduduk) berisiko berdasarkan interaksi dengan lingkungan, antara lain:
 Lingkungan domestik/pemukiman
o Kepadatan nyamuk, sanitasi lingkungan, pencemaran lingkungan (air, tanah, udara) di sekitar lingk.pemukiman.
 Lingkungan kerja
o Petani, nelayan, buruh/karyawan pabrik/industri, tenaga medis di lingkungan kerjanya.
o Kebisingan, panas, bahan berbahaya (fisik, kimia, biologi, radioaktif), dsb di lingkungn kerja ybs.
 Lingkungan tempat-tempat umum.
o Lingkungan rekreasi, sarana olah raga, hiburan (bioskop).
o Bahan pencemaran berbahaya yang terdapat di lingkungan tersebut.
 Lingkungan dalam batas wilayah
o skala administratif, ekologis, kawasan, dsb.
LANGKAH KEEMPAT  PENETAPAN RISIKO
 Mengintegrasikan informasi daya racun dan pemajanan ke dalam "perkiraan batas atas " risiko kesehatan yang terkandung dalam suatu bahan.
- Membandingkan dengan Baku Mutu
- Melakukan uji LD50 atau LC50
2. PENGELOLAAN RISIKO
 Upaya mengendalikan risiko dampak pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan, meliputi :
 Partisipasi masyarakat
 Pengendalian bahaya :
- Pengendalian pada sumber (emisi)
- Pengendalian pemajanan (ambien)
 Pemantauan risiko
3. KOMUNIKASI RISIKO
 Upaya untuk menginformasikan dan menyarankan masyarakat tentang hasil analisis risiko dan dampaknya, mendengar reaksi mereka, dan melibatkan mereka dalam perencanaan pengelolaan risiko.
SUMBER DATA DALAM ANALISA RESIKO KES.LINGK.
1. data Primer  Pengamatan/pengukuran sendiri
2. data Sekunder  dari institusi yang memiliki
 medical record RS, Puskesmas, Sarana Kes lainnya.
 Laporan bulanan berbagai institusi berkaitan dengan kesakitan (angka penyakit) dan kondisi kualitas lingkungan.
 Pusat data, Dinas Kes, BPS dsb.
 Hasil Penelitian oleh yang dilakukan oleh pihak lain.
Instrumen Pengukuran  kuisioner, sangat penting, yang harus diperhatikan :
 Mempelajari gejala-gejala penyakit.
 Penyusunan definisi kasus berdasarkan gejala-gejala penyakit  kategori individu/kelompok masyarakat yang memenuhi gejala tertentu untuk menjaring atau tidaknya kasus.
 Setelah gejala-gejala tersusun dituangkan dalam pertanyaan.
 Uji validasi instrumen  kuisioner yang tersusun di uji apakah benar-benar mengukur gangguan kesehatan yang dimaksud atau belum.
Indikator Pemajanan dapat diukur dengan cara :
1. Pengukuran pada Simpul II (lingkungan ambient).
2. Pengukuran dengan memperhatikan faktor perilaku penduduk atau individu (behavioral exposure).
3. Pengukuran parameter biologis (bio-marker), misal pengukuran Pb dalam darah, Hg dalam rambut
PENGUKURAN EPIDEMIOLOGI
Ada 3 macam cara pengukuran dalam Epidemiologi :
1. RATE (ANGKA)
 perbandingan antara pembilang dan penyebut dinyatakan dalam kurun waktu tertentu.
 Besarnya peristiwa (kejadiaan penyakit) yang terjadi pada suatu populasi penduduk dalam kurun waktu tertentu.
a. Incidence Rate  mengukur perkembangan penduduk tanpa suatu penyakit selama kurun waktu yang khusus.
x K
Jml kasus baru penyakit tertentu dlm kurun waktu tertentu
IR : -----------------------------------------------------------------------------
Jml populasi yang berisiko atau populasi keseluruhan
K = 1.000, 10.000 atau 100.000 (biasa dipakai)
b. Prevalensi Rate  mengukur jumlah orang pada suatu populasi yang menderita penyakit pada waktu tertentu.
x K
Jml keseluruhan kejadian penyakit waktu tertentu
PR : ------------------------------------------------------------------
Jml populasi keseluruhan
K = 1.000, 10.000 atau 100.000 (biasa dipakai)
c. Attack Rate  insidence rate yang dinyatakan dalam persen.
x 100 %
Jml kasus baru penyakit tertentu dlm kurun waktu tertentu
AR : -----------------------------------------------------------------------------
Jml populasi yang berisiko atau populasi keseluruhan
d. Mortality Rate  Frekuensi terjadinya kematian didalam suatu kelompok masyarakat tertentu selama periode waktu tertentu.
 Crude Date Rate (CDR) atau Angka Kematian Kasar  jumlah kematian selama satu tahun per 1000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama.
x 1000
Jml kematian selama 1 tahun
CDR : --------------------------------------------------------------------
Jml penduduk pada pertengahan tahun yang sama
 Case Fatality Rate (CFR)  perbandingan antara jumlah kematian karena penyakit tertentu yangt terjadi selama 1 tahun dengan jumlah penderita penyakit tersebut pada tahun yang sama.
Jml kematian karena penyakit tertentu
CFR : ----------------------------------------------------
Jml penderita penyakit tersebut
 Age Spesific Death Rate (ASDR)  Angka kematian berdasarkan golongan umur atau golongan lainnya (jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, dsb)
Jml kematian pada golongan umur (tertentu)
ASDR : ------------------------------------------------------------------------------ x K
Jml penduduk pertengahan tahun pada gol umur (tententu)
Manfaat ASDR :
1. mengetahui dan menggambarkan derajat kesehatan masyarakat dengan melihat kematian tertinggi pada golongan umur, misal:
 kematian tertinggi pada golongan umur bayi atau balita  menggambarkan kondisi kesehatan masyarakat masih rendah.
 kematian tertinggi pada golongan lansia  menggambarkan kondisi kesehatan masyarakat yang baik.
2. untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat diberbagai wilayah.
3. untuk menghitung rata-rata harapan hidup
2. PROPORSI (PROPOSIONAL DISTRIBUSI):
 perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya merupakan bagian dari penyebut dan dinyatakan dalam prosentase.
 prosentase diantara jumlah keseluruhan kejadian dari suatu seri data yang muncul dalam suatu kategori tertentu dari seri data tersebut.
Jml kejadian pada kategori tertentu
Rumus : --------------------------------------------------------------- x 100 %
Jml keseluruhan kejadian pada semua kategori
3. RATIO:
 nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya tidak merupakan bagian dari penyebut.
 Pernyataan frekuensi relatif dari timbulnya suatu kejadian dibandingkan dengan kejadian lain.
Jml kejadian dengan kategori tertentu
Rumus : ---------------------------------------------------------------------
Jml kejadian dengan kategori tertentu yang berbeda
SURVEILANS EPIDEMIOLOGI (LINGKUNGAN)
Pengertian :
 Pengamatan terus menerus terhadap terjadinya penyebaran penyakit yang berbasis lingkungan atau kondisi (lingkungan) yang dapat memperbesar resiko terjadinya penyakit.
Tujuan :
 mementukan data dasar/besarnya masalah kesehatan.
 memantau atau mengetahui kecenderungan penyakit.
 mengindentifikasi adanya KLB
 membuat rencana tindak
 evaluasi program kesehatan
Manfaat :
 informasi tentang kejadian penyakit terutama yang berkaitan dengan kondisi lingkungan
 informasi tentang pola penyebaran penyakit
 informasi tentang kelompok penduduk risiko tinggi
Pengamatan (Surveilans) dilakukan dengan 2 (dua) cara :
1. Pengamatan Pasif
 Pengumpulan data yang diperoleh dari laporan instansi terkait (kesehatan, pertanian/peternakan, Bappedalda, dsb) yang ada di daerah.
Dari data yang diperoleh diketahui :
 distribusi geografis kesakitan dan kematian akibat penyakit tertentu
 Perubahan-perubahan kondisi lingkungan yang terjadi (penurunan kualitas lingkungan, kematian binatang peliharaan, dsb).
 Kebutuhan tentang penelitian sebagai tindak lanjut untuk memperoleh keterkaitan antara kejadian penyakit (kematian) dengan kondisi lingkungan.
2. Pengamatan Aktif
 Pengumpulan data yang dilakukan secara langsung untuk mempelajari penyakit tertentu dalam waktu singkat dan dilakukan oleh petugas kesehatan secara teratur seminggu sekali atau 2 minggu sekali untuk mencatat ada atau tidaknya kasus baru penyakit tertentu.
Pencatatan pada pengamatan aktif meliputi :
 Variable demografi (umur, jenis kelamin, pekerjaan, social ekonomi)
 Saat waktu timbul gejala
 Pola makan
 Kondisi lingkungan berkaitan dengan ada atau tidaknya kejadian penyakit tertentu.
Sasaran Pengamatan :
1. Individu
dilakukan pada individu yang terinfeksi dan mempunyai potensi untuk menularkan penyakit.
2. Populasi lokal/kelompok lokal
kelompok penduduk yang terbatas pada orang-orang dengan risiko terkena suatu penyakit.
 Kelompok individu yang kontak dengan penderita/karier.
 Pejamu yang rentan, misal: bayi, anak yang beum mendapat imunisasi.
 Kelompok individu yang mempunyai peluang kontak dengan penderita, missal: dokter, perawat, petugas laboratorium.
 Kelompok individu yang berada pada kondisi lingkungan yang berisiko (pekerja pabrik; pemukiman disekitar kawasan industri, bantaran sungai, TPA sampah dsb).
3. Populasi Nasional
Pengamatan dilakukan terhadap semua penduduk atau kelompok penduduk secara nasional.
misal :
 Pengamatan terhadap penyakit polio untuk menilai keberhasilan pelaksanaan PIN vaksinasi polio.
 Pengamatan terhadap penyakit TBC untuk menilai keberhasilan pemberantasan penyakit TBC secara nasional.
4. Populasi Internasional
 Pengamatan terhadap penyakit yang dilakukan oleh berbagai negara secara bersama-sama.
misal :
 Pengamatan terhadap kasus penyakit Flu Burung (sebagai issue global yang saat ini sedang dihadapi)
 Tujuan:
 untuk saling memberi informasi tentang epidemi yang timbul disuatu negara agar negara lain yang tidak terkena dapat melakukan upaya pencegahan.
 Untuk menjamin hal ini dibuat Undang-undang karantina yang berlaku secara internasional.
Langkah-langkah kegiatan Surveilans
1. Menetapkan tujuan surveilans dan menentukan data yang diperlukan.
2. mengumpulkan data secara jelas, tepat dan relevan
a. mengumpulkan dan menelaah ulang data yang diperoleh
b. melakukan penyelidikan kasus dengan menggunakan metodologi secara ilmiah.
3. mengolah data :
a. menemukan criteria guna penggolongan data (waktu, tempat & orang).
b. Menghitung rate, rasio dan proporsi
c. Membuat table, grafik
4. Menganalisa dan menginterpretasi data :
a. mencari golongan risiko tinggi dalam artian tempat, waktu dan orang.
b. Menginterpretasikan data untuk mengetahui persamaan dan perbedaan tingkat penularan penyakit, dengan cara :
 Membandingkan analisa data surveilan saat ini dengan analisa data lalu, analisa seluruh propinsi, analisa secara nasional.
 Menggunakan data yang tersedia dari studi lain pada waktu yang berbeda:
 Hewan sumber penularan penyakit
 Pemanfaatan produk biologis: vaksin, darah dsb.
 Penggunaan bahan-bahan kimia: obat-obatan, pestisida, dsb.
 Menggunakan data dari sumber nasional, propinsi dan lokal yang berkaitan, missal :
 Studi demografi
 Studi lingkungan
 Studi yang berhubungan dengan penyebab penyakit
c. Mengidentifikasi faktor-faktor (penyebab) yang potensial berhubungan dengan penularan penyakit.
d. Memilih faktor-faktor yang paling mungkin bertanggung jawab sebagai penularan penyakit.
5. Merumuskan hipotesa berkenaan dengan faktor penyebab yang mempengaruhi penularan penyakit dengan menggunakan analisa dan intrerpretasi diatas.
6. Menguji hipotesa
a. menentukan data yang diperlukan
b. mendapatkan data yang diperlukan
c. mengolah data
d. menganalisa dan menginterpretasi data
e. menyimpulkan bahwa hipotesa benar atau salah dan bila salah menyusun hipotesa baru.
7. Merekomendasi dan/atau melakukan tindakan pemberantasan pencegahan setelah faktor-faktor utama diketahui.
8. Membuat laporan untuk dipublikasikan.
PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
Pengertian :
 Peristiwa bertambahnya kejadian atau kematian yang bermakna secara epidemiologi pada waktu dan lokasi tertentu.
Untuk mengetahui adanya perubahan perlu diketahui keadaan awal atau adanya informasi awal sebelum adanya perubahan.
Informasi berkaitan dengan perubahan dapat berupa :
 Data penyakit (menurut waktu, tempat dan orang)
 Faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyakit (kondisi lingkungan: fisik, kimia, biologi).
 Kegiatan manusia yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit.
Kegiatan dalam Pengamatan KLB :
1. Pengumpulan, pengolahan, analisa dan pelaporan data yang diperlukan, baik sebagai data dasar maupun sebagai pembanding.
2. Sumber pelaporan adanya KLB dapat berasal dari berbagai sumber, misal: masyarakat umum, aparat pemerintah, industri, dsb.
3. Petugas kesehatan bertanggung jawab dalam pengamatan KLB di suatu wilayah.
4. Sistem pencatatan dan pelaporan yang berlaku dan proses analisa yang memadai.
Penanggulangan KLB
Langkah penting yang perlu diambil antara lain:
1. Konfirmasi diagnosa untuk menentukan sifat dan risiko perluasan KLB.
2. Menentukan apakah peristiwa yang terjadi KLB atau kejadian biasa.
3. Menentukan hubungan KLB dengan waktu, tempat dan orang untuk mendapatkan informasi besarnya masalah serta risiko untuk terjadinya masalah yang lebih besar.
4. Merumuskan hipotesis sementara.
5. Rencana kegiatan penaggulangan termasuk kuisioner dan pengumpulan sampel.
6. Pelaksanaan penyelidikan, baik melalui wawancara, observasi dan pengumpulan serta pemeriksaan sample.
7. Analisa dan interpretasi.
8. Penyusunan laporan secara lengkap (penyelidikan dan penanggulangan).


Download EPIDEMIOLOGI KESEHATAN LINGKUNGAN I. PENGERTIAN.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca EPIDEMIOLOGI KESEHATAN LINGKUNGAN I. PENGERTIAN. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon