October 14, 2016

Makalah Rotifera


Judul: Makalah Rotifera
Penulis: Amelia Zelorha


ROTIFERA 
 
OLEH :
AMELIA RUCITA Z 135080300111032
TITIS FERDILAH 1350803001110
HILMIAH DWI YUNIKASARI 135080300111086
 
TEKNOLOGI HASIL PERIKANANA
FAKULTAS KEGURUAN PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2014
KATA PENGANTAR
 
Puji Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena saya masih dilimpahi kasih sayang-Nya sehingga penyusunan tugas mata kuliah Avertebrata Air dalam kaitannya dengan Rotifera ini dapat diselesaikan.
Melalui penyusunan tugas ini diharapkan kita sebagai mahasiswa yang mengambil mata kuliah Avertebrata Air mempunyai bahan rujukan sebagai bahan acuan dalam perkuliahan dan penyusunan penulisan makalah mengenai Rotifera. Selain itu, penyusunan tugas ini juga semoga dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh semua pihak yang memerlukannya.
Dalam pengerjaan tugas ini saya selaku penyusun telah berusaha sebaik mungkin, namun saya menyadari masih ada kekurangan dan kelemahan, sehingga dengan segala kerendahan hati, saya sangat terbuka untuk menerima saran dan kritik. Saya berharap semoga penyusunan tugas ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya selaku penyusun dan umumnya bagi semua pihak yang telah membaca tugas mengenai Rotifera ini. Selain itu, semoga tugas ini juga dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam membangun bangsa Indonesia.
Malang, 13 September 2014
 
 
Penyusun
 
 
 
 i
DAFTAR ISI
 
Kata Pengantar…………………………………………………………………………………….i
Daftar Isi……………………………………………………………………………………..……ii
Bab I Pendahuluan
Latar Belakang……………………………………………………………………….……1
Rumusan Masalah…………..……………………………………………….…………….2
Tujuan………………………………………………………………………… ………..2
Bab II Pembahasan
Pengertian………………………………………………………………………………………………………..3
Habitat,Morfologi dan Anatomi………………………………………………………….
Fisiologi…………………………………………………………………………….……..
Reproduksi…………………………………………………………………………
Nilai Ekonomis………………………………………………………………………………
Klasifikasi
Bab III Penutup
Kesimpulan………………………………………………………………………………
Saran…………………………………………………………………………………
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………
 
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Laut, seperti halnya daratan, dihuni oleh biota, yakni tumbuh-tumbuhan, hewan dam mikroorganisme hidup. Biota laut menghuni hampir semua bagian laut, mulai dari pantai, permukaan laut sampai dasar laut yang terjeluk sekalipun. Keberadaan biota laut ini sangat menarik perhatian manusia, bukan saja karena kehidupannya yang penuh rahasia, tetapi juga manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan biota laut yang tertamung dalam ilmu pengetahuan alam laut yang dinamakan biologi laut. Biologi laut, yakni ilmu pengetahuan tentang kehidupan biota laut, berkembang begitu cepat untuk mengungkapkan rahasia kehidupan berbagai jenis biota laut yang jumlah jenisnya luar biasa besarnya dan kenekaragaman jenisnya luar biasa tingginya.
Avertebrata air merupakan hewan yang sangat penting untuk dipelajari karena jumlah vertebrata di seluruh dunia hanya 5% di permukaan bumi, keanekaragaman avertebrata air yang sangat beraneka ragam, adanya kaitan antara avertebrata air dengan perikanan, avertebrata air ada yang menguntungkan bagi manusia dan ada yang merugikan. Kaitan avertebrata air dengan perikanan yaitu avertebrata air sebagai pakan ikan, sebagai parasit pada ikan, sebagai bioindikator dalam perikanan, dan sebagai penentu kualitas perairan. Avertebrata air yang menguntungkan bagi manusia yaitu bisa dikonsumsi, dapat dibudidayakan dan sebagainya. Yang merugikan ialah avertebrata air ada yang menyebabkan penyakit contohnya demam keong dan kaki gajah.
Salah satu contoh avertebrata air ialah filum rotifera. Filum rotifera atau rotatoria merupakan metazoa yang sangat kecil. Filum ini pernah dianggap sebagai Infusoria. Sekitar 1200 jenis telah diketahui dan kebanyakan hidup di air tawar, beberapa hidup di air laut dan sedikit yang parasit. Rotifera merupakan filum menarik karena bentuk tubuhnya sangat menyerupai larva trokofor. Larva trokofor adalah salah sau fase dari daur hidup Mollusca dan Annelida, yakni dua filum yang akan diterangkan kemudian. Adanya bentuk-bentuk yang serupa tersebut menunjukkan adanya nenek myang yang sama antara rotifera, Mollusca, dan Annelida. Rotifera mempunyai banyak bulu getar yang membantu untuk bergerak dan menarik makanan ke dalam mulutnya. Ekor atau kakinya bercabang atau menempel pada benda dengan cara mengeluarkan sekresi dari kelenjar semen. Tubuhnya biasanya berbentuk silendrik dan ditutupi oleh kutikel serupa cangkang. Makanannya berupa protozoa dan jasad renik lainnya. Makanan itu ditangkap oleh bulu getar melalui mulut ke dalam kerongkongan yang juga disebut mastaks (mastax) atau perut pengunyah. Di sini makanan dihancurkan dengan rahang berkitin yang selalu bekerja. Gerakan-gerakan dari rahang ini mudah digunakan untuk membedakan rotifer hidup dengan jasad hidup lainnya. Makanannya dicernakan di dalam perut berkelenjar. Makanan yang tak tercernakan diteruskan melalui usus ke dalam kloaka dan keluar lewat anus.

2.Rumusan Maslah
1.Bagaimana Habitat,Morfologi, Fisiologi Rotifera?
2.Bagaimana Reproduksi,Klasifikasi,serta Nilai ekonomis Rotifera?
3. Tujuan
Untuk mengetahui habitat, morfologi dan fisiologi rotifera
Untuk mengetahui reproduksi dan nilai ekonomis serta klasifikasi rotifera
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian rotifera
Rotifera berasal dari kata rota = roda  dan fera = membawa. Kata "rotifer" berasal dari bahasa latin artinya "roda-pembawa", karena korona di sekitar mulut yang bergerak menyerupai roda (meskipun organ tidak benar-benar memutar). pertama kali ditemukan oleh John Harris tahun 1696 yang waktu itu dikenal dengan nama 'bdelloid rotifer' yaitu hewan mirip cacing.Dari 1.700 spesies, kebanyakan hidup di air tawar,hanya 50 spesies di laut,beberapa di hamparan lumut yang basah. Rotifera termasuk metazoan yang paling kecil berukuran antara 40-2.500 mikron,rata-rata 200 mikron. Umumnya hidup bebas, soliter, koloni, atau sessile. Beberapa jenis merupakan endoparasit pada insang crustacea, telur siput, cacing tanah, dan dalam ganggang jenis Vaucheria dan Volvox. Biasanya transparan, beberapa berwarna cerah seperti seperti merah atau coklat disebabkan warna saluran pencernaan.
Dan bentuk lain yang dijelaskan oleh Anton van Leeuwenhoek pada tahun 1703. Kebanyakan rotifera sekitar 0,1-0,5 mm panjang (walaupun ukuran mereka dapat berkisar dari 50 pM menjadi lebih dari 2 mm), dan umum di air tawar lingkungan di seluruh dunia dengan beberapa laut spesies, misalnya, orang-orang dari genus Synchaeta. Beberapa rotifera berenang bebas dan benar-benar planktonik, bergerak lain dengan inchworming sepanjang substrat, dan beberapa sessile, hidup di dalam tabung atau holdfasts gelatin yang melekat pada substrat.
Rotifera adalah filum ukuran sedang,berbentuk bilateral simetris, hewan unsegmented yang hidup terutama di air. Nama filum pertama kali digunakan oleh Cuvier pada tahun 1798, mengacu pada akhir anterior bahwa dalam banyak spesies menyerupai roda berputar karena mengalahkan berurutan silia nya. Rotifera telah ditemukan di setiap benua, menempati beragam habitat, termasuk laut, payau dan air tawar, serta air yang melapisi lumut terestrial dan partikel di tanah basah. Dalam danau rotifera sering mencapai kepadatan penduduk tinggi (> 1000 individu per liter); dengan demikian, sebagai konsumen dari bakteri, alga dan protista mereka secara ekologis penting dalam mentransfer energi ke tingkat trofik yang lebih tinggi.
Rotifera adalah makanan yang baik untuk ikan muda, mereka tumbuh dalam jumlah massal dalam budidaya komersial. Mereka juga berfungsi sebagai model untuk penelitian tentang penuaan, dan sebagai biondikator untuk Ekotoksikologi. Rotifera berguna sebagai Ekotoksikologi karena mereka sering memainkan peran kunci pada dinamika air tawar dan ekosistem laut pesisir.
Habitat
Rotifera adalah hewan air mikroskopis filum Rotifera. Rotifera dapat ditemukan di banyak air tawar lingkungan dan tanah lembab, di mana mereka menghuni film tipis air yang terbentuk di sekitar partikel tanah.Habitat rotifera dapat mencakup lingkungan masih air, seperti dasar danau, serta lingkungan air yang mengalir,seperti sungai atau aliran. Rotifera juga sering ditemukan pada lumut dan lumut tumbuh di batang pohon dan batu,di selokan hujan dan genangan air, di tanah atau serasah daun, pada jamur tumbuh di dekat pohon mati, dalam tangki limbah pabrik pengolahan, dan bahkan pada krustasea air tawar dan larva serangga air.
Morfologi dan Anatomi
Tubuh rotifera dapat dibagi menjadi tiga bagian, anterior yang pendek, badan yang besar dan kaki. Di bagian anterior terdapat corona dan mastax yang merupakan ciri khas filum rotifera. Karena ukuran dan sebagian besar lembut tubuh mereka sangat kecil, rotifera tidak umum disukai untuk fosilisasi. Hanya mereka bagian keras, rahang mereka, mungkin dipertahankan dalam catatan fosil, tetapi ukuran kecil mereka membuat deteksi tantangan serius. Namun, fosil dari spesies Habrotrocha angusticollis telah ditemukan di Pleistosen berusia 6000 tahun.
Corona terdiri atas daerah sekitar mulut yang besilia, dan cilia ini melebar di sepuar tepi anterior hingga seperti bentuk mahkota. Gerakan cilia pada trochal disk tampak seperti roda berputar, asal nama rotifera (rota = roda dan fera = membawa). Mastaxnya terletak antara mulut dan pharynx. Mastax ialah pharynx yang berotot bulat atau lonjong dan bagian dalamnya terdapat trophi, semacam rahang berkhitin. Trophi terdiri atas 7 buah gigi yang saling berhubungan. Mastax berfungsi untuk menangkap dan menggiling makanan, bentuknya beraneka ragam sesuai dengan tipe kebiasaan makan rotifera.
Bentuk badan bulat atau silindris. Pada bagian badan (trunk) terdapat 3 buah tonjolan kecil yaitu sebuah atau sepasang antena dorsal dan 2 buah antena lateral. Pada ujung antena biasanya terdapat bulu-bulu sebagai alat indra.
Sebuah kaki yang langsing terletak di ujung posterior. Kutikula pada kaki acapkali berkerut-kerut sehingga tampak seperti beeruas-ruas, yang dapat memendek dan dimasukkan ke dalam badan. Pada ujung kaki biasanya terdapat satu sampai empat buah jari, di dalam kaki terdapat kelenjar kaki (pedal gland) yang menghasilkan bahan perekat untuk menempel pada substrat. Selain empat buah jari, jenis bdelloidea mempunyai sepasang taji (spur). Pada jenis yang sessile seperti colotheca dan floscularia, kelenjar kaki menghasilkan bahan pembentuk selubung seperti vas bunga. Kaki pada jenis plankton adakalanya mengecil, lenyap atau di bagian ventral.
Tubuh tertutup epidermis yang merupakan lapisan tipis dan sintisial, dengan jumlah nuklei yang selalu tetap. Epidermis menghasilkan kutikula, tipis sampai tebal, tergantung jenisnya, bahkan ada yang mengeras seperti cangkang yang disebut lorica. Lorica adakalanya dihiasi galur-galur, duri yang pendek, atau panjang dan gampang digerakkan, misalnya pada filinia.
Di bawah epidermis terdapat susunan otot melingkar dan membujur, namun tidak terorganisir senaik platyhelminthes. Antara dinding tubuh dan organ dalam terdapat pseudocoelom yang berisi cairan dan sel-sel ameboid bercabang-cabang yang tersusun seperti jala sintial.
Fisiologi
A . Pencernaan
Mulut rotifera terletak di bagian ventral dan biasanya dikelilingi oleh sebagian korona. Daerah sekitar mulut (buccal field) pada beberapa jenis Colothecacea mengalami modifikasi, melebar sedemikian rupa hingga menyerupai corong, dan mulut terletak di dasar corong. Jenis filter feeder memakan partikel organik yang lembut dengan bantuan aliran air yang dihasilkan cilia pada korona. Makanan dari mulut di alirkan ke mastax. Pharynx dihubungkan dengan perut oleh esofagus. Perut berbentuk tabung atau kantong, berhubungan dengan usus yang pendek dan berakhir dengan anus. Jenis karivora memakan protozoa, rotifera yang kecil dan metazoa lain. Mangsa ditangkap dengan cara mencengkram atau dijebak. Mangsa dicekram dengan menggunkan tophi berbentuk seperti penjepit, atau mangsa yang terjebak di dalam corong tidak dapat keluar karena cuping yang bersetae akan melipat ke dalam dan berkerut, hingga mangsa masuk ke mulut.
B. Alat ekskresi
Pada tiap sisi lateral terdapat sebuah protonephridium dengan 2-8 flame bulb. Kedua protonephridia tersebut bersatu pada kantung kemih (bladder), yang bermuara pada bagian ventral kloaka. Isi bladder dikosongkan melalui anus dengan jalan kontraksi, dengan kecepatan satu sampai empat kali per menit. Pembuangan yang demikian cepat membuktikan bahwa fungsi protonephridia adalah sebagai osmoregulator, yaitu membuang kelebihan air di dalam tubuh. Dalam beberapa menit dikeluarkan sejumlah cairan yang setara dengan berat tubuh rotifera tersebut.
C. Susunan saraf
Rotifera memiliki otak kecil, terletak tepat di atas mastax, dari mana sejumlah saraf memperpanjang seluruh tubuh. Jumlah saraf bervariasi antara spesies, meskipun sistem saraf biasanya memiliki tata letak yang sederhana. Dekat dengan otak terletak organ retrocerebral, yang terdiri dari dua kelenjar kedua sisi kantung medial. Mengalir kantung menjadi saluran yang membagi menjadi dua sebelum membuka melalui pori-pori di bagian paling atas kepala. 
Rotifera biasanya memiliki satu atau dua pasang pendek antena dan sampai lima mata. Mata sederhana dalam struktur, kadang-kadang hanya dengan sel fotoreseptor tunggal.Selain itu, bulu korona yang sensitif terhadap sentuhan, dan ada juga sepasang lubang sensorik kecil dibatasi oleh silia pada daerah kepala.
D. Reproduksi
Siklus hidup rotifera mengandung kedua fase aseksual dan seksual. produk reproduksi seksual adalah embrio aktif encysted disebut kista. Pada rotifera dioecious,reproduksi selalu seksual. Individu jantan selalu lebih kecil dari pada betina, biasanya mengalami degenerasi yaitu tidak mempunyai alat pencernaan, hanya memiliki alat reproduksi saja. Partenogenesis merupakan peristiwa yang umum terjadi. Perkawinan pada rotifera biasanya dengan jalan "hipodermic impregnation", dimana sperma masuk melalui dinding tubuh. Tiap nukleus pada ovari menjadi sebuah telur. Kebanyakan spesies mempunyai ovari dengan sepuluh sampai dua puluh nuklei, maka telur yang dihasilkan selama hidupnya tidak lebih dari jumlah tersebut.
Rotifera jantan siap melakukan perkawinan satu jam setelah menetas; kemudian akan mati. Bila tidak menemukan rotifera betina maka rotifera jantan akan mati pada umur 2-7 hari, tergantung pada jenisnya. Pada bdelloidea, dimana tidak pernah ada jantannya, reproduksi selalu dengan cara partenogenesis, yaitu betina menghasilkan telur yang selalu menetas menjadi betina.
Pada kelas monogononta, yang dalam keadaan tertentu ada jantannya, terdapat tiga macam telur. Tipe pertama adalah telur amictic, hasil dari partenogenesis, bercangkang tipis, diploid, tidak dapat dibuahi dengan menetas menjadi betina amictic. Tipe kedua ialah mictic, bercangkang tipis, tetapi haploid, bila tidak dibuahi secara partenogenetik aka menetas menjadi jantan yang haploid. Bila telur mictic dibuahi oleh sperma dari janan yang haploid tersebut akan menjadi telur dorman , bercangkang tebal dan keras, resisten terhadap kekeringan dan lingkungan buruk, dan memerlukan istrahat beberapa bulan sebelum dapat menetas. Dalam lingkungan yang baik, telur dorman menetas menjadi betina amictic dan diploid
Nilai Ekonomis
Rotifera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan tawar di satu pihak memakan serpihan-serpihan organik dan ganggang bersel satu, di lain pihak rotifera merupakan makanan bagi hewan yang lebih besar seperti cacing dan crustacea.
Brachionus merupakan rotifera yang dibudidayakan sebagai makanan alami untuk larva ikan dan udang. Karena berukuran kecil  sekitar 300 mikron, dan berkembang biak dengan cepat, hingga cocok untuk makanan burayak ikan mas yang baru habis kuning telurnya. Di daerah tropis, Brachionus mulai bertelur pada umur 28 jam, dan setelah 24 jam telur menetas. Selama hidupnya yang sebelas hari, seekor Brachionus menghasilkan 20 buir telur. Pada habitat yang tercemar bahan lorganik dan berlumut, biasanya banyak dijumpai Bdelloidea seperti Philodina dan Rotaria
Klaisifikasi
Filum rotifera; simetri bilateral; tubuh biasanya mempunyai jumlah sel yang tetap; bentuk tubuh agak silindris, biasanya terdapat corona bercilia di bagian anterior, saluran pencernaan lengkap dan mempunyai mastax; saraf ganglion dorsal sebagai otak; reproduksi seksual, dioecious, beberapa partenogenesis; kebanyakan berukuran kurang dari 1 mm.
Kelas Seisonacea
Tubuh panjang; corona mengecil; ovari sepasang; jantan berkembang baik; hanya ada satu genus seison, dengan dua spesies laut, hidup komensal pada Nebalia, filum Crustacea
Kelas Bdelloidea
Tubuh silindris dan retraktil; corona seperti dua roda yang berputar; ovari sepasang; kaki dengan dua sampai empat jari atau tidak ada; jantan tidak dikenal; partenogenesis; berenang atau merayap; contoh Philodina, Embata, dan Rotaria
Kelas Monogononta
Ovari sebuah; jantan biasanya ada dan mengalami degenerasi.
Ordo Ploima. Tubuh  bulat sampai lonjong; ata agak pipih; lorica ada atau tidak ada; berenang bebas atau merayap sebagai aufwuch; Keratella, Shyncaeta, dan Brachionus di laut dan di air tawar, Chormogaster di laut hany memakan dinoflagellata.
Ordo Flosculariacea. Corona terdiri atas dua rangkaian cilia yang konsentrik dan di tengahnya terdapat sebuah galur bercilia; biasanya terdapat 1-2 antena; soliter atau koloni; berenang bebas atau sessile; testudinella berenang bebas, Floscularia sessile, Conochilus koloni dan berenang bebas
Ordo Collothecacea. Corona besar sekali; mastax uncinate atau kurang berkembang; acapkali sessile; misalnya Colotheca
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Rotifera termasuk metazoan yang paling kecil berukuran antara 40-2.500 mikron,rata-rata 200 mikron. Umumnya hidup bebas, soliter, koloni, atau sessile. Beberapa jenis merupakan endoparasit pada insang crustacea, telur siput, cacing tanah, dan dalam ganggang jenis Vaucheria dan Volvox.
Tubuh rotifera dapat dibagi menjadi tiga bagian, anterior yang pendek, badan yang besar dan kaki. Di bagian anterior terdapat corona dan mastax yang merupakan ciri khas filum rotifera.
Fisiologi rotifera terdiri dari sistem pencernaan, alat ekskresi, dan susunan saraf
Semua rotifera dioecious. Reproduksi selalu seksual. Individu jantan selalu lebih kecil dari pada betina, biasanya mengalami degenerasi yaitu tidak mempunyai alat pencernaan, hanya memiliki alat reproduksi saja
Rotifera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan tawar.di satu pihak memakan serpihan-serpihan organik dang ganggang bersel satu, di lain pihak rotifera merupakan makanan bagi hewan yang lebih besar
Filum rotifera terdiri atas 3 kelas yaitu seisonacea, bdelloidea dan monogononta.
Saran
Saran yang dapat kami ajukan dalam makalah ini yaitu agar tetap menjaga dan memelihara ekosistem perairan, baik di air laut maupun air tawar karena mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Khususnya untuk filum rotifera karena rotifera memegang peranan penting dalam rantai makanan di perairan baik di air tawar maupun di air laut.
DAFTAR PUSTAKA
Barnes, Robert D.1982. Avertebrata Zoologi. Philadelphia, PA: Holt-Saunders
International. pp. 272-286.
B,M Waggoner and GO Poinar, Jr, 1993. rotifera Fosil habrotrochid:Dominika.Experientia
(Basel)49 (4): page 354-357.
Friedrich.,De Smet.,LA Kutikova, D. Sc,.2000.Filum Rotifera.Rusia: Zoological Institute.
Harmer, Sidney Frederic dan Shipley, Arthur Everett.1896. The Cambridge Natural History . 
The Macmillan perusahaan. p. 197 
http://id.scribd.com/doc/25411240/Rot-if-Erahttp://www.wikipedia.org.id/ensiklopedia/rotifera.htmPechenik, Jan A. 2005. Biologi invertebrata. Boston: McGraw-Hill, Pendidikan Lebih
Tinggi. p. 178
Ricci,Claudia.2006. Rotifera. 1, Biology, Ecology and Systematics.Leiden:Backhuys Publishers
Snell, Terry W., and Colin R. Janssen.1995. "Rotifers in ecotoxicology: a review."
Hydrobiologia.313.(1) page 231-247.
Suwigyo, S., dkk. 2005. Avertebrata Air Jilid 1. Jakarta:Penebar Swadaya.
Thomas Nogrady, Robert L. Wallace, & Terry W. Snell. 1993. Rotifera, Vol. 1: Biologi, Ekologi
dan Sistematika
Wallace,R.L. Smith ,H.A.2013. Rotifer eLS Filum.England: Wiley Online Library.


Download Makalah Rotifera.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah Rotifera. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon