September 03, 2016

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN SEMEN


Judul: ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN SEMEN
Penulis: P. Akuntansi B


1863090000

Tugas Manajemen Keuangan

Analisis Laporan Keuangan Industri Semen
Periode 2010-2012
Diajukan untuk memenuhi nilai mata kuliah Manajemen Keuangan
Disusun oleh :
Afni Nur Oktafiani8105133178
Meity Isanti 8105133183
Mutia Muthmaina8105133189
Syifa Ashimah8105133208

Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta
Jakarta
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat dan karunianya sehingga makalah ini dapat selesai tepat waktu dengan lancar. Makalah ini merupakan hasil telaah pustaka dan analisis laporan keuangan perusahaan semen periode 2010-2012.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian karya tulis ini yaitu:
Allah SWT yang memberikan kesehatan serta kesempatan untuk menyelesaiakan karya tulis ini,
Ibu Ati Sumiati, SPd.MSi selaku dosen mata kuliah Manajemen Keuangan,
Orang tua yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada kami, serta berbagai pihak yang tidak bisa kami sebutkan semua.
Penulis menyadari karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami menerima segala kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhirnya penulis berharap karya tulis ini dapat bermanfaat untuk semua pihak khususnya mahasiswa UniversitasNegeri Jakarta.
Jakarta, 29 Oktober 2014
Tim Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN................................................................................
1.1 Latar Belakang......................................................................................
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan...................................................................................
1.4 Manfaat Penulisan................................................................................
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................
2.1 Landasan Teori
2.2 Deskripsi Perusahaan..............................................................................
2.2.1 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk...........................................
2.2.2 PT Holcim Indonesia Tbk...............................................................
2.2.3 PT Semen Gresik (Persero) Tbk....................................................
2.3 Tabel Rasio Laporan Keuangan............................................................
2.4 Interpretasi Rasio...................................................................................
2.4.1Cross Section....................................................................................
1. Likuiditas Perusahaan (Liquidity)..........................................
2. Rasio Aktifitas (Activity Ratio).............................................
3. Keputusan Pendanaan (Leverage/Financing).........................
4. Pengembalian Atas Ekuitas ( Profitability).............................
2.4.2 Time Series.........................................................................
1. Likuiditas Perusahaan (Liquidity)..........................................
2. Rasio Aktifitas (Activity Ratio).............................................
3. Keputusan Pendanaan (Leverage/Financing).........................
4. Pengembalian Atas Ekuitas ( Profitability).............................
BAB III PENUTUP..........................................................................................
3.1 Simpulan...............................................................................................
3.2 Saran.....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................
LAMPIRAN.....................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kerangka konseptual (Conceptual Framework) menyatakan bahwa laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Untuk pengambilan keputusan ekonomi, para pelaku bisnis membutuhkan informasi mengenai kondisi dan kinerja keuangan perusahaan. Untuk dapat menginterpretasikan informasi akuntansi yang relevan dengan tujuan dan kepentingan pemakainya telah dikembangkan seperangkat teknik analisis yang didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan. Salah satu cara yang dapat diaplikasikan dalam praktek bisnis adalah analisis rasio keuangan.
Analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan melakukan analisa terhadap rasio-rasio keuangan yang menggambarkan hubungan diantara perkiraan-perkiraan laporan keuangan. Analisis rasio berorientasi dengan masa depan yang berarti bahwa dengan analisis rasio dapat digunakan sebagai alat untuk meramalkan (Forcasting) keadaan keuangan serta hasil usaha di masa yang akan datang.
Oleh karena itu analisis rasio keuangan dapat membantu para pelaku bisnis, dan pihak pemakai laporan keuangan lainnya dalam menilai kondisi keuangan perusahaan yang juga bermanfaat untuk memprediksi laba/rugi perusahaan di masa yang akan datang. Bagi para investor rasio keuangan dapat digunakan untuk membuat keputusan apakah akan membeli kepemilikan suatu perusahaan serta menilai kondisi perusahaan saat ini dan untuk mengetahui prospeknya dimasa akan datang. Selain itu rasio keuangan juga dapat digunakan untuk menentukan kemampuan suatu perusahaan dalam membayar hutangnya.
Mengingat pentingnya kegiatan menganalisis laporan keuangan menggunakan analisis rasio, maka perlu ada nya praktek langsung untuk menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan. Ada pun sebagai bahan untuk analisis rasio keuangan, penulis memilih perusahaan semen karena perusahaan semen merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang sudah cukup besar.
Dari alasan ketertarikan terhadap perusahaan di atas, diharapkan nantinya diketahui apakah kinerja perusahaan sudah cukup baik atau kurang baik.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang maka perumusan masalahn sebagai ruang lingkup penulisan akan dibatasi pada hal-hal berikut:
Bagaimana kinerja keuangan dari beberapa industri perusahaan semen di Indonesia dalam periode 2010-2012 per 31 Desember?
Bagaimana likuiditas perusahaan, profitabilitas usaha, keputusan pendanaan, dan tingkat pengembalian atas ekuitas dari beberapa Industri perusahaan semen dalam periode 2010-2012 per 31 Desember?
1.3 Tujuan Penulisan
Beberapa tujuan yang diharapkan dari penulisan ini :
Menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan menggunakan rasio-rasio
Diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembaca makalah
Memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan
Menganalisa berbagai rasio yang ada dan membandingkannya dari tahun ke tahun
1.4 Manfaat Penulisan
1. Sebagai bahan pelajaran bagi mahasiswa.
2. Sebagai wacana awal bagi penyusunan karya tulis selanjutnya.
3. Sebagai literature untuk lebih memahami kegiatan akuntansi, khususnya.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kerangka konseptual (Conceptual Framework) menyatakan bahwa laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Untuk pengambilan keputusan ekonomi, para pelaku bisnis membutuhkan informasi mengenai kondisi dan kinerja keuangan perusahaan. Untuk dapat menginterpretasikan informasi akuntansi yang relevan dengan tujuan dan kepentingan pemakainya telah dikembangkan seperangkat teknik analisis yang didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan. Salah satu cara yang dapat diaplikasikan dalam praktek bisnis adalah analisis rasio keuangan.
Analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan melakukan analisa terhadap rasio-rasio keuangan yang menggambarkan hubungan diantara perkiraan-perkiraan laporan keuangan. Analisis rasio berorientasi dengan masa depan yang berarti bahwa dengan analisis rasio dapat digunakan sebagai alat untuk meramalkan (Forcasting) keadaan keuangan serta hasil usaha di masa yang akan datang.
Oleh karena itu analisis rasio keuangan dapat membantu para pelaku bisnis, dan pihak pemakai laporan keuangan lainnya dalam menilai kondisi keuangan perusahaan yang juga bermanfaat untuk memprediksi laba/rugi perusahaan di masa yang akan datang. Bagi para investor rasio keuangan dapat digunakan untuk membuat keputusan apakah akan membeli kepemilikan suatu perusahaan serta menilai kondisi perusahaan saat ini dan untuk mengetahui prospeknya dimasa akan datang. Selain itu rasio keuangan juga dapat digunakan untuk menentukan kemampuan suatu perusahaan dalam membayar hutangnya.
Mengingat pentingnya kegiatan menganalisis laporan keuangan menggunakan analisis rasio, maka perlu ada nya praktek langsung untuk menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan. Ada pun sebagai bahan untuk analisis rasio keuangan, penulis memilih perusahaan semen karena perusahaan semen merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang sudah cukup besar.
Dari alasan ketertarikan terhadap perusahaan di atas, diharapkan nantinya diketahui apakah kinerja perusahaan sudah cukup baik atau kurang baik.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang maka perumusan masalahn sebagai ruang lingkup penulisan akan dibatasi pada hal-hal berikut:
Bagaimana kinerja keuangan dari beberapa industri perusahaan semen di Indonesia dalam periode 2010-2012 per 31 Desember?
Bagaimana likuiditas perusahaan, profitabilitas usaha, keputusan pendanaan, dan tingkat pengembalian atas ekuitas dari beberapa Industri perusahaan semen dalam periode 2010-2012 per 31 Desember?
1.3 Tujuan Penulisan
Beberapa tujuan yang diharapkan dari penulisan ini :
Menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan menggunakan rasio-rasio
Diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembaca makalah
Memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan
Menganalisa berbagai rasio yang ada dan membandingkannya dari tahun ke tahun
1.4 Manfaat Penulisan
1. Sebagai bahan pelajaran bagi mahasiswa.
2. Sebagai wacana awal bagi penyusunan karya tulis selanjutnya.
3. Sebagai literature untuk lebih memahami kegiatan akuntansi, khususnya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Analisis Laporan Keuangan
Menurut Gibson (2007:165) mengenai pengertin analisis laporan keuangan didefinisikan sebagai berikut :
"financial statement analysis is judgmental process. One of the primary objectives is identification of major changes (turning points) in trends, amounts, relationship and investigation of the reasons underlying those changes. Often a turning point may signal an early warning of a sifnificant shift in the future success or failure of the business"
Sedangkan menurut John J. Wild K.R Subramanyam & Robert F. Helsey (2007:12) yang didefinisikan sebagai berikut :
"financial analysis is the use of financial statement to analyze a company's financial position and performance, and to assess future financial performance"
Berdasarlan pengertian tersebut diatas, analisis laporan keuangan merupakan suatu proses untuk mengidentifikasikan perubahan- perubahan yang ada di tren, jumlah, hubungan serta kemampuan dan posisi finansial suatu perusahaan dan menganalisa hal tersebut untuk acuan dimasa yang akan datang.
2.1.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Menurut Sofyan Safri Harahap (2002:126) mengenai tujuan analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut :
Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang terdapat dari laporan keuangan biasa
Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata dari suatu laporan keuangan atau yang berada dibalik laporan keuangan.
Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasiyang diperoleh dari luar perusahaan.
Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan teori yang terdapat dilapangan seperti untuk prediksi dan peningkatan (rating)
Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan.
Dapat memberikan rating perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis
Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal
Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan, baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan dan sebagainya.
Dapat memprediksi potensi apa saja yang mungkin dialami perusahaan dimasa yang akan datang.
2.1.3 Prosedur Analisis Laporan Keuangan
Sebelum menganalisa laporan keuangan, sebaiknya kita mengetahui prosedur-prosedur analisis laporan keuangan terlebih dahulu. Prosedur-prosedur analisis terebut dijelaskan oleh Dwi Prastowo D (1995:32) sebagai berikut :
Memahami latar belakang keuangan perusahaan
Memahami kondisi-kondisi yang berpengaruh pada perusahaan
Mempelajari dan mereview laporan keuangan
Menganalisis laporan keuangan
2.1.4 Metode dan Tehnik Analisis Laporan Keuangan
Metode dan tehnik digunakan untuk menentukan dan mengukur hubungan antara pos-pos yang ada dalam laporan sehingga dapat diketahui perubahan-perubahan dari masing-masing pos tersebut bila dibandingkan dengan laporan dari beberapa periode suatu perusahaan tertentu. Menurut Jane I . Reimers (2007:623), terdapat tiga cara yakni :
Horizontal Analysis
"Horizontal analysis is a technique for evaluating a financial statement amount over period. The purpose of horizontal analysis is to express the change in financial statement item in percentage rather than in dollars"
Vertical Analysis
"Vertical analysis is similar to horizontal analysisi. But the analysisinvolves item on a single years financial statement.Each item on a financial statement is expressed as a percentage of a selected base amount"
Ratio Analysis
"Ratio analysis uses information in the financial statements to formulate specific values that determine some measure of a company's financial position"
2.1.5 Analisa Rasio Keuangan
2.1.5.1 Pengertian Rasio Keuangan
Berdasarkan pendapat Agnes Sawir (2005, p6), untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi perusahaan, analis keuangan memerlukan beberapa tolak ukur. Tolak ukur yang sering dipakai adalah rasio atau indeks, yang menghubungkan dua data keuangan yang satu dengan yang lainnya.
Menurut pendapat Slamet Munawir (2002, p37), analisa rasio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan rugi-laba secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut. Artinya berdasarkan data-data yang terdapat dalam laporan keuangan baik dari neraca, laporan laba-rugi, maupun kedua-duanya dapat dihitung bermacam-macam jenis rasio yang dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan untuk kelangsungan hidup perusahaan.
2.1.5.2 Kegunaan Rasio-rasio Keuangan
Menurut pendapat Agnes Sawir (2005, p6), analisis rasio keuangan, yang menghubungkan unsur-unsur neraca dan perhitungan laba-rugi satu dengan lainnya, dapat memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan dan penilaian posisinya pada saat ini. Analisis rasio juga memungkinkan manajer keuangan memperkirakan reaksi para kreditor dan investor dan memberikan pandangan ke dalam tentang bagaimana kira-kira dana dapat diperoleh.
2.1.5.3 Penggunaan Analisa Rasio
Menurut pendapat Agnes Sawir (2005, p6), rasio analisis keuangan meliputi dua jenis perbandingan, yaitu:
Perbandingan Internal.
Memperbandingkan rasio sekarang dengan yang lalu untuk perusahaan yang sama. Jika rasio keuangan disajikan dalam bentuk suatu daftar untuk periode beberapa tahun, analis dapat mempelajari komposisi perubahanperubahan dan menetapkan apakah telah terdapat suatu perbaikan atau bahkan sebaliknya di dalam kondisi keuangan dan prestasi perusahaan selama jangka waktu tersebut.
Perbandingan Eksternal.
Perbandingan meliputi perbandingan rasio perusahaan dengan perusahaan lainnya yang sejenis atau dengan rata-rata industri pada satu titik yang sama. Perbandingan tersebut dapat memberikan gambaran relatif tentang kondisi keuangan dan prestasi perusahaan.
Menurut Slamet Munawir (2002, p101), angka-angka rasio keuangan dapat dianalisa dengan membandingkan angka rasio-rasio tersebut dengan:
Standar rasio atau rasio rata-rata dari seluruh industri semacam dimana perusahaan yang data keuangannya sedang dianalisa menjadi anggotanya.
Rasio yang telah ditentukan dalam budget perusahaan yang bersangkutan.
Rasio-rasio yang semacam di waktu-waktu yang lalu (rasio historis) dari perusahaan yang bersangkutan.
Rasio keuangan dari perusahaan-perusahaan lain yang sejenis yang merupakan pesaing perusahaan yang dinilai cukup baik atau berhasil dalam usahanya.
Berdasarkan pendapat Bambang Riyanto (2001, p329), penganalisa keuangan dalam mengadakan rasio keuangan pada dasarnya dapat melakukannya dengan dua macam cara perbandingan, yaitu:
Rasio tahun lalu (rasio historis), membandingkan rasio sekarang dengan rasio-rasio dari waktu-waktu yang lalu dari perusahaan yang sama.
Rasio rata-rata industri, membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan dengan rasio-rasio semacam dari perusahaan lain yang sejenis untuk waktu yang sama.
Dalam penulisan laporan ini, cara perbandingan yang dilakukan adalah perbandingan internal atau rasio tahun lalu.
2.1.5.4 Jenis Analisis Rasio Keuangan
Menurut pendapat Agnes Sawir (2005, p7), rasio-rasio dikelompokkan ke dalam lima kelompok dasar, yaitu: likuiditas, leverage, aktivitas, profitabilitas, dan penilaian. Sejumlah rasio yang tak terbatas banyaknya dapat dihitung, akan tetapi dalam prakteknya cukup digunakan beberapa jenis rasio saja.
Jenis analisis rasio keuangan menurut Agnes Sawir (2005, p8-22) adalah sebagai berikut:
Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio).
Merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang akan jatuh tempo.
Rasio likuiditas yang umum digunakan yaitu:
Rasio Lancar (Current Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Aktiva lancar dengan Utang Lancar. Rasio lancar merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek, karena rasio ini menunjukkan seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo utang.
Aktiva Lancar
Rasio Lancar =
Utang Lancar
Aktiva Lancar
Rasio Lancar =
Utang Lancar

Rasio lancar yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuiditas. Sebaliknya suatu perusahaan yang rasio lancarnya terlalu tinggi juga kurang bagus, karena menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampulabaan perusahaan.
Rasio Cepat (Quick Ratio).
Rasio ini dihitung dengan mengurangkan Persediaan dari Aktiva
Lancar dan kemudian membagi hasilnya dengan Utang Lancar.
Aktiva Lancar - Persediaan
Rasio Cepat =
Utang Lancar
Aktiva Lancar - Persediaan
Rasio Cepat =
Utang Lancar

Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya rendah, sering mengalami fluktuasi harga, dan unsur aktiva lancar ini sering menimbulkan kerugian jika terjadi likuidasi. Jadi rasio cepat lebih baik dalam mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio cepat yang umumnya dianggap baik adalah 1 (satu).
Rasio Manajemen Utang (Solvability Ratio).
Rasio leverage mengukur tingkat solvabilitas suatu perusahaan. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi segala kewajiban finansialnya seandainya perusahaan tersebut pada saat itu dilikuidasi. Dengan demikian solvabilitas berarti kemampuan suatu perusahaan untuk membayar semua utang-utangnya, baik jangka panjang maupun jangka pendek.
Rasio leverage yang umum digunakan adalah:
Rasio Utang (Debt Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Total Utang dengan Total Aktiva. Rasio ini memberikan tolak ukur seberapa besar total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan yang dibiayai melalui penggunaan utang.
Total Utang
Rasio Utang =
Total Aktiva
Total Utang
Rasio Utang =
Total Aktiva

Rasio ini memperlihatkan proporsi antara kewajiban yang dimiliki dan seluruh kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi persentasenya, cenderung semakin besar risiko keuangannya bagi kreditor maupun pemegang saham.
Rasio Laba terhadap Beban Bunga (Times Interest Earned Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Laba Sebelum Pajak dan Beban
Bunga/EBIT (Earning Before Income and Tax) dengan Beban Bunga.
E B I T
Rasio Laba terhadap Beban Bunga =
Beban Bunga
E B I T
Rasio Laba terhadap Beban Bunga =
Beban Bunga

Rasio ini mengukur kemampuan pemenuhan kewajiban bunga tahunan dengan laba operasi (EBIT), sejauh mana laba operasi boleh turun tanpa menyebabkan kegagalan dalam pemenuhan kewajiban membayar bunga pinjaman.
C. Rasio Manajemen Aktiva (Assets Management Ratio).
Merupakan rasio yang mengukur sejauh mana efektivitas manajemen perusahaan dalam mengelola asset-assetnya. Artinya dalam hal ini adalah mengukur kemampuan manajemen perusahaan dalam mengelola persediaan bahan mentah, barang dalam proses, dan barang jadi serta kebijakan manajemen dalam mengelola aktiva lainnya dan kebijakan pemasaran. Rasio manajemen aktiva menganalisis hubungan antara laporan laba-rugi, khususnya penjualan dengan unsur-unsur yang ada pada neraca, khususnya unsur-unsur aktiva. Rasio akitivitas ini diukur dengan istilah perputaran unsur-unsur aktiva yang dihubungkan dengan penjualan.
Rasio-rasio aktivitas yang umum digunakan:
•Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turnover Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Harga Pokok Penjualan dengan Rata-rata Persediaan. Sedangkan untuk menghitung periode rata-rata persediaan dihitung dengan membagi jumlah hari dalam setahunnya, dianggap 360 hari, dengan perputaran persediaan. Satu tahun dapat diasumsikan 360 hari atau 365 hari, kedua angka ini digunakan dalam lingkup keuangan dan perbedaannya tidak akan mempengaruhi
keputusan yang dihasilkan.
Harga Pokok Penjualan
Rasio Perputaran Persediaan =
Rata-rata Persediaan
360 hari
Periode Rata-rata Persediaan =
Perputaran Persediaan
Harga Pokok Penjualan
Rasio Perputaran Persediaan =
Rata-rata Persediaan
360 hari
Periode Rata-rata Persediaan =
Perputaran Persediaan

Perputaran ini menunjukkan berapa kali jumlah persediaan barang dagang diganti atau dijual dalam suatu periode. Apabila perputaran persediaan barang itu cepat, maka tidak ada masalah bagi perusahaan. Sebaliknya, apabila perputaran persediaan barang lambat, hal ini akan mengganggu kelangsungan hidup perusahaan. Karena untuk menyimpan barang tersebut akan memerlukan berbagai macam biaya dan kerugian yang mungkin timbul, misalnya biaya sewa gedung, biaya pemeliharaan, biaya bunga, biaya kebakaran, dan lain-lain.
• Rasio Perputaran Piutang (Account Receivable Turnover Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Penjualan dengan rata-rata Piutang Usaha.

Penjualan
Rasio Perputaran Piutang =
Rata-rata Piutang Usaha
360 hari
Periode Rata-rata Piutang Usaha =
Perputaran Piutang Usaha
Apabila
perusahaan
menunjukkan
perputaran
piutang
semakin
Penjualan
Rasio Perputaran Piutang =
Rata-rata Piutang Usaha
360 hari
Periode Rata-rata Piutang Usaha =
Perputaran Piutang Usaha
Apabila
perusahaan
menunjukkan
perputaran
piutang
semakin
tinggi, maka perusahaan tersebut mempunyai tingkat rasio yang baik.
Oleh karena dana yang diinvestasikan dalam piutang itu rendah. Sebaliknya, kalau rasionya semakin rendah berarti dana yang diinvestasikan dalam piutang semakin tinggi, hal ini disebabkan oleh bagian kredit dan penagihan bekerja tidak efektif, ada perubahan dalam kebijakan pemberian kredit kepada pelanggan.
Dengan menggunakan perputaran piutang dagang dapat pula dihitung waktu rata-rata pengumpulan piutang tersebut, yaitu dengan membagi jumlah hari dalam setahun, dianggap 360 hari, dengan tingkat perputaran piutang tersebut. Semakin besar hari penagihan piutang, semakin besar pula resiko piutang tidak dapat ditagih.
• Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turnover Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Penjualan dengan Rata-rata
Total Aktiva.
Penjualan
Rasio Perputaran Total Aktiva =
Rata-rata Total Aktiva
Penjualan
Rasio Perputaran Total Aktiva =
Rata-rata Total Aktiva

Rasio ini menunjukkan efektivitas penggunaan seluruh harta perusahaan dalam rangka menghasilkan penjualan atau menggambarkan berapa rupiah penjualan bersih yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam bentuk harta perusahaan. Kalau perputarannya lambat, ini menunjukkan bahwa aktiva yang dimiliki terlalu besar dibandingkan dengan kemampuan untuk menjual. D.Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio).
Kemampulabaan (profitabilitas) merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan dan keputusan manajemen. Rasio kemampulabaan akan memberikan jawaban akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan, rasio ini memberi gambaran tentang tingkat efektivitas pengelolaan perusahaan.
Rasio profitabilitas yang umum digunakan:
Rasio Marjin Laba Bersih (Profit Margin on Sales Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Laba Bersih dengan Penjualan.
Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan.
Laba Bersih
Rasio Marjin Laba Bersih =
Penjualan
Laba Bersih
Rasio Marjin Laba Bersih =
Penjualan

Rasio Daya Laba Dasar (Basic Earning Power Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Laba Sebelum Pajak dan Biaya.
Bunga/EBIT (Earning Before Income and Tax) dengan Total Aktiva. Rasio ini menunjukkan kemampuan menghasilkan laba dari aktiva perusahaan, sebelum pengaruh pajak serta bunga. Rasio ini sangat berguna untuk membandingkan perusahaan dengan situasi pajak yang berbeda dan tingkat bunga yang berbeda.
E B I T
Basic Earning Power
=
Total Aktiva
E B I T
Basic Earning Power
=
Total Aktiva

Rasio Pengembalian Atas Total Aktiva atau ROA (Return on Assets Ratio). ROA sering disamakan dengan ROI (Return on Investment).
Rasio ini dihitung dengan membagi Laba Bersih dengan Total Aktiva. Rasio ini menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa diperoleh dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan.
Laba Bersih
ROI =
Total Aktiva
Laba Bersih
ROI =
Total Aktiva

Rasio Pengembalian Atas Ekuitas atau ROE (Return on Equity Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Laba Bersih dengan Ekuitas. Rasio ini memperlihatkan sejauh manakah perusahaan mengelola modal sendiri secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau pemegang saham perusahaan.
Laba Bersih
ROE =
Ekuitas
Laba Bersih
ROE =
Ekuitas

E. Rasio Penilaian Pasar (Valuation Ratio).
Sekumpulan rasio yang menghubungkan harga saham perusahaan dengan laba dan nilai buku per saham.
Rasio penilaian yang umum digunakan:
Rasio Harga terhadap Laba atau PER (Price to Earnings Ratio).
Rasio harga per saham terhadap laba per saham.
Harga Saham
Rasio Harga terhadap Laba =
Laba per Saham
Harga Saham
Rasio Harga terhadap Laba =
Laba per Saham

Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market to Book Ratio).
Rasio harga pasar saham terhadap nilai bukunya.
Harga Pasar
Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku =
Nilai Buku per Saham
Harga Pasar
Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku =
Nilai Buku per Saham

Untuk mengatasi kekurangan dari analisis rasio maka perlu dikombinasikan berbagai rasio agar menjadi suatu model prediksi yang berarti. Analisa Z-skor merupakan suatu model untuk memprediksi kegagalan bisnis perusahaan yang diperoleh dari kombinasi rasio-rasio keuangan yang paling berkontribusi terhadap model prediksi (STIE Supra
2003, p90).
2.2 Deskripsi Perusahaan
2.2.1 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (IDX:INTP ) adalah salah satu produsen semen di Indonesia. Indocement merupakan produsen terbesar kedua di Indonesia. Selain memproduksi semen, Indocement juga memproduksi beton siap-pakai, serta mengelola tambang agregat dan tras. Indocement berdiri sejak 16 Januari 1985. Perusahaan ini merupakan hasil penggabungan enam perusahaan semen yang memiliki delapan pabrik Pabrik pertama Indocement sudah beroperasi sejak 4 Agustus 1975.
Per 31 Desember 2013, Indocement memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 18,6 juta ton semen per tahun.Selain itu, Indocement juga memiliki kapasitas produksi beton siap-pakai sebesar 4,4 Juta meter kubik per tahun dengan 40 batching plant dan 648 truk mixer, serta 2,5 juta ton cadangan agregat. Indocement memiliki 12 buah pabrik, sembilan diantaranya berada di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dua berada di Cirebon, Jawa Barat dan satu di Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Produk utama Indocement adalah semen tipe Ordinary Portland Cement disingkat OPC dan Pozzolan Portland Cement disingkat PPC yang kemudian digantikan oleh Portland Composite Cement disingkat PCC sejak 2005. Indocement juga memproduksi semen jenis lain misalnya Portland Cement Type II dan Type V serta Oil Well Cement. Indocement juga merupakan satu-satunya produsen semen jenis Semen Putih (White Cement) di Indonesia. Indocement pertama kali mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 5 Desember 1989. Sejak tahun 2001, HeidelbergCement Group, yang berbasis di Jerman dan merupakan produsen utama di dunia dengan pabrik di lebih dari 50 negara mengambilalih kepemilikan mayoritas saham di Indocement. Semen yang dipasarkan adalah semen dengan merek "Tiga Roda".
2.2.2 PT Holcim Indonesia Tbk
PT Holcim Indonesia Tbk adalah sebuah perusahaan produsen semen. Perusahaan yang dulunya dikenal dengan nama PT Semen Cibinong Tbk ini didirikan sejak tanggal 1971. Perubahan nama ini terjadi pada tanggal 1 Januari 2006. Perusahaan ini dimiliki oleh Holcim Ltd (Swiss) sebesar 77,33% dan publik sebesar 22,7%. Perusahaan juga memiliki anak perusahaan PT Holcim Beton yang sebelumnya bernama PT Trumix Beton.
Perusahaan memiliki dua pabrik yaitu pabrik Narogong dan pabrik Cilacap dengan kapasitas maksimum 7,9 juta ton per tahun dan kini sedang membangun fasilitas produksi ke-3 di i Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas tahunan 3,4 juta ton yang direncanakan mulai berjalan pada tahun 2013. Perusahaan juga mengoperasikan banyak batching plant beton, dua tambang dan jaringan logistik lengkap yang mencakup pula gudang dan silo. Produknya dijual di 9.000 toko bangunan di seluruh Indonesia.
Perusahaan yang berkantor pusat di l. Gatot Subroto No. 38, Jakarta, Indonesia ini merupakan satu-satunya produsen yang menyediakan produk dan layanan terintegrasi yang meliputi 10 jenis semen, beton dan agregat, bahkan kini sedang mengembangkan usaha waralaba yang unik, yakni Solusi Rumah, yang menawarkan solusi perbaikan dan pembangunan rumah dengan biaya terjangkau dengan dukungan lebih dari 14.700 ahli bangunan binaan Holcim, waralaba yang hingga 2012 telah mencapai 433 gerai, dan staf penjualan via telepon yang jumlahnya terus bertambah.
Perusahaan yang memiliki visi untuk menyediakan solusi berkelanjutan untuk membangun masa depan masyarakat Indonesia ini memiliki misi untuk membangun perusahaan yang memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan dengan menyediakan solusi pembangunan sesuai prinsip berkelanjutan bagi setiap segmen pelanggan tertentu, memperhatikan keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan, dan membina kemampuan sumber daya manusia, berinovasi dan membangun jaringan yang kuat.
2.2.3 PT Semen Gresik (Persero) Tbk
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (dahulu PT Semen Gresik (Persero) Tbk) adalah produsen semen yang terbesar di Indonesia. Pada tanggal 20 Desember 2012, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk resmi berganti nama dari sebelumnya bernama PT Semen Gresik (Persero) Tbk[1]. Diresmikan di Gresik pada tanggal 7 Agustus 1957 oleh Presiden RI pertama dengan kapasitas terpasang 250.000 ton semen per tahun. Pada tanggal 8 Juli 1991 Semen Gresik tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya sehingga menjadikannya BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada masyarakat.
Pada tanggal 20 Desember 2012, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Perseroan, resmi mengganti nama dari PT Semen Gresik (Persero) Tbk, menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Penggantian nama tersebut, sekaligus merupakan langkah awal dari upaya merealisasikan terbentuknya Strategic Holding Group yang ditargetkan dan diyakini mampu mensinergikan seluruh kegiatan operasional. Saat ini kapasitas terpasang Semen Indonesia sebesar 29 juta ton semen per tahun, dan menguasai sekitar 42% pangsa pasar semen domestik. Semen Indonesia memiliki anak perusahaan PT Semen Gresik, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa dan Thang Long Cement.
2.3 Tabel Rasio Laporan Keuangan
1. Liquidity Ratio
ANALISIS TAHUN PT HOLCIM INDONESIA Tbk INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk RATA-RATA INDUSTRI
LIQUIDITY RATIO Current Ratio 2010 1,662 5,554 2,918 3,378
2011 1,466 6,985 2,647 3,699
2012 1,405 6,035 1,696 3,045
Acid Test Ratio 2010 1,293 4,589 2,273 2,718
2011 1,127 6,086 1,952 3,055
2012 0,963 5,427 1,226 2,539
2. Activity Ratio
ANALISIS TAHUN PT HOLCIM INDONESIA Tbk INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk RATA-RATA INDUSTRI
ACTIVITY RATIO Inventories Turnover 2010 4,499 4,307 4,639 4,482
2011 8,191 5,629 4,431 6,084
2012 8,244 6,135 4,508 6,296
Account Receivable Turnover 2010 10,557 8,628 8,356 9,180
2011 11,787 7,277 8,958 9,340
2012 11,141 7,043 7,947 8,711
Average Collection Period 2010 34,575 42,304 43,680 40,186
2011 30,967 50,160 40,747 40,625
2012 32,761 51,821 45,928 43,503
Fixed Asset Turnover 2010 0,755 1,417 1,746 1,306
2011 0,913 1,772 1,363 1,350
2012 0,940 2,115 1,068 1,374
Asset Turnover 2010 0,571 0,726 0,922 0,740
2011 0,687 0,765 0,833 0,762
2012 0,741 0,760 0,737 0,746
3.Leverage Ratio
ANALISIS TAHUN PT HOLCIM INDONESIA Tbk INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk RATA-RATA INDUSTRI
LAVERAGE RATIO Debt Ratio 2010 0,346 1,512 0,220 0,693
2011 0,313 0,133 0,257 0,234
2012 0,308 0,147 0,317 0,257
Debt to Equity Ratio 2010 0,529 1,775 0,282 0,862
2011 0,455 0,154 0,345 0,318
2012 0,446 0,172 0,463 0,360
Times Interest Earned 2010 4,931 304,441 99,169 136,180
2011 18,624 237,020 149,213 134,952
2012 11,946 345,835 35,913 131,231
Profibility
ANALISIS TAHUN PT HOLCIM INDONESIA Tbk INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk RATA-RATA INDUSTRI
PROFITABILITY ROA 2010 0,079 0,210 0,235 0,175
2011 0,097 0,198 0,201 0,166
2012 0,111 0,209 0,185 0,169
ROE 2010 0,121 0,247 0,301 0,223
2011 0,141 0,229 0,271 0,214
2012 0,160 0,245 0,271 0,226
Net Profit Margin 2010 0,139 0,290 0,255 0,228
2011 0,141 0,259 0,242 0,214
2012 0,150 0,275 0,251 0,226
EPS 2010 108,000 876,050 613,000 532,350
2011 139,000 977,100 662,000 592,700
2012 176,000 1293,150 817,000 762,050
2.4 Interpretasi Ratio
2.4.1 Cross Section
1. Likuiditas Perusahaan ( Liquidity)
A. Rasio Lancar

Rasio lancar menunjukkan likuiditas perusahaan yang diukur dengan membandingkan aktiva lancar terhadap hutang lancar (hutang lancar atau hutang jangka pendek). Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri rasio lancar dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. yaitu: pada tahun 2010 sebesar 3.3778, pada tahun 2011 sebesar 3.6992, pada tahun 2012 sebesar 3.0453. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2011, dan terendah pada tahun 2012.
Dilihat dari diagram tersebut, yang memiliki kemampuan terbesar dalam melunasi hutangnya dengan aktiva lancarnya adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dapat dibuktikan dengan angka rasio lancarnya yaitu: pada tahun 2010 sebesar 5,554 ; pada tahun 2011 sebesar 6,985 ; pada tahun 2012 sebesar 6,035. Nilai rasio lancar ini juga melebihi dari rata-rata industri.
Rasio Cepat

Rasio cepat menunjukan liquiditas perusahaan, seperti yang diukur dengan membandingkan aktiva lancar, kecuali persediaan, terhadap kewajiban lancarnya. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri rasio cepat dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 2,7184, pada tahun 2011 sebesar 3,0550, pada tahun 2012 sebesar 2,5386. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2011, dan terendah pada tahun 2012.
Dilihat dari diagram tersebut, yang memiliki kemampuan terbesar dalam melunasi hutangnya dengan aktiva lancarnya tanpa menggunakan persediaan adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dapat dibuktikan dengan angka rasio cepatnya yaitu: pada tahun 2010 sebesar 4,307 ; pada tahun 2011 sebesar 5,629 ; pada tahun 2012 sebesar 6,135. Nilai rasio cepat ini juga melebihi dari rata-rata industri.
2. Rasio Aktifitas ( Activity Ratio)
A. Perputaran Persediaan

Perputaran Persediaan adalah adalah ukuran seberapa sering persediaan barang dagang terjual dalam waktu satu periode. Periode dapat dalam masa tahunan ataupun bulanan. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri perputaran persediaan dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 4,4816, pada tahun 2011 sebesar 6,0835, pada tahun 2012 sebesar 6,2956. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami peningkatan. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2012, dan terendah pada tahun 2010.
Perputaran Piutang Usaha

Perputaran Piutang Usaha adalah Usaha untuk mengukur seberapa sering piutang usaha berubah menjadi kas dalam setahun. Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan yang erat dengan volume penjualan kredit, karena timbulnya piutang disebabkan oleh penjualan barang-barang secara kredit dan hasil dari penjualan secara kredit netto dibagi dengan piutang rata-rata merupakan perputaran piutang. Perputaran Persediaan adalah adalah ukuran seberapa sering persediaan barang dagang terjual dalam waktu satu periode. Periode dapat dalam masa tahunan ataupun bulanan. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri perputaran piutang usaha dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 9,1803, pada tahun 2011 sebesar 9,3403, pada tahun 2012 sebesar 8,7106. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2011, dan terendah pada tahun 2012.
Periode Penagihan Rata-rata

Periode penagihan rata-rata yaitu rata-rata periode tagihan menandakan seberapa cepat perusahaan mampu menagih kredit, yang diukur oleh rata-rata jumlah hari penagihan piutang dagang yaitu 365 hari. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri periode penagihan rata-rata dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 40,1863, pada tahun 2011 sebesar 40,6247, pada tahun 2012 sebesar 43,5033. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami peningkatan. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2012, dan terendah pada tahun 2010.
Perputaran Aktiva Tetap

Rasio Perputaran Aktiva Tetap menunjukkan kemampuan aktiva tetap untuk menghasilkan penjualan, menunjukkan aktiva yang ditunjukkan oleh jumlah hasil penjualan per Rp1 aktiva tetap. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri perputaran aktiva tetap dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 1,3058, pada tahun 2011 sebesar 1,3495, pada tahun 2012 sebesar 1,3742. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami peningkatan. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2012, dan terendah pada tahun 2010.
Perputaran Total Aktiva
lefttop
Perputaran Total Aktiva Tetap merupakan komponen dari tingkat pengembalian pendapatan terhadap operasi investasi. Total Perputaran Aktiva diukur dengan penjualan rupiah per satu rupiah dari aktiva. Rasio ini menunjukkan seberapa efisien perusahaan menggunakan aktivanya untuk menghasilkan penjualan. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri perputaran aktiva dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,7396, pada tahun 2011 sebesar 0,7617, pada tahun 2012 sebesar 0,7459. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2011, dan terendah pada tahun 2010.
3. Keputusan Pendanaan (Leverage)
A. Rasio Hutang

Rasio hutang menunjukkan berapa banyak hutang yang digunakan untuk membiayai aset-aset perusahaan. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri rasio hutang dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,6927, pada tahun 2011 sebesar 0,2342, pada tahun 2012 sebesar 0,2571. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2010, dan terendah pada tahun 2011.
Rasio Hutang terhadap Modal

Tingkat pengembalian atas ekuitas menunjukkan rata-rata perhitungan pengembalian atas investasi pemegang saham yang diukur dengan membandingkan pendapatan bersih terhadap ekuitas saham biasa. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri rasio hutang terhadap modal dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,8619, pada tahun 2011 sebesar 0,3179, pada tahun 2012 sebesar 0,3601. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2010, dan terendah pada tahun 2011.
Rasio Laba Terhadap Beban Bunga


Rasio laba terhadap beban bunga menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menutupi biaya bunga yang diukur dengan membandingkan pendapatan usaha terhadap biaya bunga. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri rasio laba terhadap beban bunga dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 136,18, pada tahun 2011 sebesar 134,95, pada tahun 2012 sebesar 131,23. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami penurunan. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2010, dan terendah pada tahun 2012.
4. Pengembalian Atas Ekuitas ( Profibility )
A. Return On Asset

ROA merupakan suatu pendekatan untuk mengevaluasi profitabilitas dan tingkat pengembalian atas aktiva. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri Return On Assets dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,1748, pada tahun 2011 sebesar 0,1656, pada tahun 2012 sebesar 0,1685. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2010, dan terendah pada tahun 2011.
Return On Equity

ROE merupakan suatu pendekatan untuk mengevaluasi profitabilitas dan tingkat pengembalian ekuitas. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri Return On Equity dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,2230, pada tahun 2011 sebesar 0,2137, pada tahun 2012 sebesar 0,2256. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2012, dan terendah pada tahun 2011.
Margin Laba Bersih

Margin laba bersih mengukur perolehan laba bersih atas investasi pada setiap Rp. 1 penjualan. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri Net Profit Margin dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,2278, pada tahun 2011 sebesar 0,2141, pada tahun 2012 sebesar 0,2255. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2010, dan terendah pada tahun 2011.
Pendapatan Per Saham

Pendapatan per saham menggambarkan jumlah Rp yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri Pendapatan per Saham dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 532,35, pada tahun 2011 sebesar 592,7, pada tahun 2012 sebesar 762,05. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami meningkat. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2012, dan terendah pada tahun 2010.
2.4.2 Time Series
1. Likuiditas
a. Rasio Lancar

Rasio lancar menunjukkan likuiditas perusahaan yang diukur dengan membandingkan aktiva lancar terhadap hutang lancar (hutang lancar atau hutang jangka pendek). Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat rasio lancar PT. Holcim Indonesia dari tahun 2010 hingga 2012 per 31 Desember mengalami penurunan tiap tahunnya. Bisa dilihat di tahun 2010 aktiva lancarnya bernilai Rp 7,3 triliun sedangkan kewajiban lancarnya bernilai Rp 2 triliun dapat dihitung bahwa likuiditas perusahaan mencapai 3 kali.
Pada tahun 2011 terjadi penurunan pada nilai rasio lancar. Rasio lancarnya menurun sebesar 0,24 dari 3 kali menjadi 2,76 kali. penurunanini disebabkan peningkatan yang signifikan dari jumlah aktiva lancar yang bernilai Rp 7 triliun menjadi Rp. 5,3 triliun. Dan sedikit peningkatan nilai dari kewajiban lancar yang berjumlah 1,8 triliun menjadi 1,9 triliun.
Pada tahun 2012 perusahaan PT. Mayora Indah mengalami penurunan rasio lancar. Rasio lancar menurun sebesar 0,32 dari 2,76 kali menjadi 2,44 kali. penurunan rasio ini disebabkan karena meningkatnya jumlah kewajiban lancar yang signifikan dan diikuti dengan sedikit kenaikan aktiva lancarnya. Aktiva lancar meningkat dari Rp 5,3 triliun menjadi Rp 6,4 triliun dan kewajiban lancar meningkat signifikan dari Rp 1,9 triliun menjadi Rp. 2,6 triliun. Dengan penurunan rasio lancar ini tentu saja perusahaan PT Holcim Indonesia ini mempunyai kemampuan yang lebih kecil untuk memenuhi kewajiban jatuh tempo atau kurang liquid dari tahun sebelumnya.
Rasio Cepat

Rasio cepat menunjukan liquiditas perusahaan, seperti yang diukur dengan membandingkan aktiva lancar, kecuali persediaan, terhadap kewajiban lancarnya. Berdasarkan grafik di atas, rasio lancar PT Holcim Indonesia dari tahun 2010 hingga 2012 per 31 Desember mengalami kenaikan dan penurunan tiap tahunnya. Bisa dilihat di tahun 2011 aktiva lancarnya bernilai Rp 4 triliun dan persediaan bernilai Rp 1,3 triliun sedangkan kewajiban lancarnya bernilai Rp.1,8 triliun. Dapat disimpulkan bahwa nilai rasio cepat sebesar 1,49 kali.
Pada tahun 2011 terjadi peningkatan signifikan pada nilai rasio cepat. Rasio cepat meningkat sebesar 0,49 dari 1,49 kali menjadi 1,98 kali. Peningkatan ini disebabkan peningkatan yang cukup signifikan dari jumlah aktiva lancar yang bernilai Rp 4 triliun menjadi 5,3 triliun. Peningkatan rasio cepat ini juga diiringi dengan sedikit kenaikan kewajiban lancar sebesar Rp 1,8 triliun menjadi 1,9 triliun.
Pada tahun 2012 terjadi penurunan rasio cepat. Penurunan rasio cepat sebesar 0,09 dari 1,98 kali menjadi 1,89 kali. Penurunan rasio ini disebabkan meningkatnya jumlah kewajiban lancer dan aktiva lancar yang sangat signifikan, dan diikuti sedikit kenaikan persediaan. Aktiva lancar meningkat dari Rp 5,3 triliun menjadi Rp 6,4 triliun. Kewajiban lancar dari Rp 1,9 triliun menjadi Rp 2,6 triliun dan persediaan tetap 1,4 triliun. Dengan penurunan rasio cepat berarti PT Holcim Indonesia ini mempunyai kemampuan yang lebih kecil (lama) untuk memenuhi kewajiban atau kurang liquid dari tahun sebelumnya.
2. Rasio Aktifitas
a. Perputaran Persediaan

Perputaran Persediaan adalah adalah ukuran seberapa sering persediaan barang dagang terjual dalam waktu satu periode. Periode dapat dalam masa tahunan ataupun bulanan. Pada tahun 2010, perputaran persediaan mancapai titik 5,83 kali/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa dalam setahun PT. Holcim Indonesia melakukan pengisian ulang persediaan sebanyak 5,83 kali/tahun.
Pada tahun 2011, perputaran persediaan PT Holcim Indonesia mengalami penurunan. Dari titik 5,83 kali/tahun menjadi 5,45 kali/tahun. Hal ini disebabkan karena penurunan harga pokok produksi dan persediaan dari tahun sebelumnya. Angka 5,45 kali/tahun menunjukkan bahwa dalam setahun PT. Holcim Indonesia melakukan pengisian ulang persediaan setiap 67 hari. Atau dengan kata lain persediaan yang dimiliki PT. Mayora Indah,Tbk dapat bertahan selama 67 hari. Dan harus dilakukan pengisian ulang persediaan setelahnya.
Pada tahun 2012, perputaran persediaan PT. Holcim Indonesia mengalami peningkatan dari titik 5,45 kali/tahun menjadi 6,25 kali/tahun. Hal ini disebabkan karena peningkatan jumlah harga pokok produksi dan factor-faktor lain yang mendukung. Angka 6,25 kali/tahun menunjukkan bahwa PT. Holcim Indonesia. dapat bertahan selama 58 hari untuk pengisian ulang persediaan.
b. Perputaran Piutang Usaha

Perputaran Piutang Usaha adalah Usaha untuk mengukur seberapa sering piutang usaha berubah menjadi kas dalam setahun. Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan yang erat dengan volume penjualan kredit, karena timbulnya piutang disebabkan oleh penjualan barang-barang secara kredit dan hasil dari penjualan secara kredit netto dibagi dengan piutang rata-rata merupakan perputaran piutang.
Pada tahun 2010, Perputaran Piutang usaha PT Holcim Indonesia adalah 7,30 kali/ tahun. Hal ini berarti bahwa dalam setahun PT Holcim Indonesia mampu merubah piutang menjadi kas sebanyak 7,30 kali/tahun atau setiap 50 hari.
Pada tahun 2011, perputaran piutang usaha PT Holcim Indonesia menurun dari 7,30 kali/tahun menjadi 5,12 kali/tahun. Penurunan ini disebabkan menurunnya jumlah penjualan kredit, hal ini menandakan bahwa penurunan perputaran piutang pada tahun ini menandakan bahwa PT Holcim Indonesia memiliki kemampuan merubah piutang menjadi kas tidak lebih baik dibandingkan pada tahun sebelumnya yaitu setiap 71 hari.
Pada tahun 2012, perputaran piutang usaha PT Holcim Indonesia meningkat dari 5,12 kali/tahun menjadi 5,86 kali/tahun. Penurunan ini disebabkan meningkatnya penjualan kredit, hal ini menyebabkan kemampuan PT Holcim Indonesia dalam merubah piutang usaha menjadi kas menurun atau setiap 62 hari.
c. Average Collection Period

Periode penagihan rata-rata yaitu rata-rata periode tagihan menandakan seberapa cepat perusahaan mampu menagih kredit, yang diukur oleh rata-rata jumlah hari penagihan piutang dagang yaitu 365 hari. Pada tahun 2010 periode penagihan rata-ratanya bernilai 50 hari.
Pada tahun 2011 periode penagihan rata-ratanya meningkat menjadi 71,24 hari. Meningkatnya periode penagihan rata-rata ini disebabkan karena jumlah piutang nya menurun. Hal ini menunjukan bahwa di tahun PT Holcim Indonesia mempunyai waktu yang lebih banyak dari tahun sebelumnya untuk mampu menagih piutangnya.
Pada tahun 2012 menurut perhitungan periode penagihan rata-rata, kini jumlah periode untuk menagih piutangnya lebih pendek dibanding tahun sebelumnya. Bisa dilihat bahwa di tahun ini, periode penagihan rata-ratanya sebesar 62,25 hari . Ini PT Holcim Indonesia,Tbk memiliki piutang lebih kecil dari tahun sebelumnya.
d.Perputaran Aktiva Tetap

Rasio Perputaran Aktiva Tetap menunjukkan kemampuan aktiva tetap untuk menghasilkan penjualan, menunjukkan aktiva yang ditunjukkan oleh jumlah hasil penjualan per Rp1 aktiva tetap.
Pada tahun 2010, PT Holcim Indonesia memiliki total penjualan sebesar Rp 9,453 triliun dengan jumlah aktiva tetap sebesar Rp 2,504 triliun. Sehingga rasio perputaran aktiva tetap pada tahun 2011 adalah 3,77 kali/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa setiap Rp 1 aktiva tetap dapat menghasilkan penjualan sebanyak Rp 3,77 atau dengan kata lain penjualan yang terjadi sebesar 3,77 kali total aktiva tetap.
Pada tahun 2011, rasio perputaran aktiva tetap mengalami penurunan dari 3,77 kali/tahun menjadi 3,52 kali/tahun. Penurunan perputaran aktiva tetap disebabkan adannya penurunan jumlah penjualan kredit. Pada tahun 2013, peningkatan perputaran aktiva tetap dari 3,52 kali/tahun menjadi 3,66 kali/tahun. Sehingga setiap Rp1 aktiva tetap dapat menghasilkan penjualan sebanyak Rp 3,66 atau dengan kata lain penjualan yang terjadi pada tahun 2013 adalah sebanyak 3,66 kali dari total aktiva tetap. Penurunan perputaran aktiva tetap disebabkan karena meningkatnya jumlah penjualan kredit.
e. Perputaran Total Aktiva

Perputaran Total Aktiva Tetap merupakan komponen dari tingkat pengembalian pendapatan terhadap operasi investasi. Total Perputaran Aktiva diukur dengan penjualan rupiah per satu rupiah dari aktiva. Rasio ini menunjukkan seberapa efisien perusahaan menggunakan aktivanya untuk menghasilkan penjualan.
Pada tahun 2010, perputaran total PT Holcim Indonesia adalah sebesar 1,43 kali. Dapat disimpulkan efisiensi perusahaan menggunakan aktiva mencapai 1,43 kali Hal ini menunjukkan bahwa dari setiap satu rupiah aktiva yang dimiliki PT. Mayora Indah,Tbk, dapat dihasilkan 1,43 rupiah penjualan.
Pada tahun 2011, perputaran total aktiva PT Holcim Indonesia dari menurun dari 1,43 kali menjadi 1,27 kali. Hal ini menunjukkan bahwa dari setiap satu rupiah aktiva yang dimiliki PT Holcim Indonesia, dapat dihasilkan 1,27 rupiah penjualan. Secara keseluruhan peningkatan jumlah aktiva yang dibarengi dengan peningkatan total penjualan telah pula meningkatkan perputaran total PT Holcim Indonesia pada tahun 2012. Hal ini menunjukkan bahwa PT. Mayora Indah,Tbk telah lebih efisien mengelola aktivanya untuk meningkatkan penjualan.
Pada tahun 2012, perputaran total aktiva PT Holcim Indonesia menurun dari 1,27 kali menjadi 1,24 kali. Hal ini menunjukkan bahwa dari setiap satu rupiah aktiva yang dimiliki PT Holcim Indonesia, dapat dihasilkan 1,24 rupiah penjualan. Dengan penurunan perputaran total aktiva PT Holcim Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan bahwa kurang baik dalam mengelola aktivanya sehingga tidak efisien untuk bisa sebanding meningkatkan penjualan.
3. Keputusan Pendanaan
a. Rasio Hutang

Rasio hutang menunjukkan berapa banyak hutang yang digunakan untuk membiayai aset-asetperusahaan. Berdasarkan Annual PT Holcim Indonesia periode 2010 - 2012 per 31 Desember. Pada tahun 2010, terlihat bahwa sebanyak Rp 4,1 triliun hutang perusahaan digunakan untuk membiayai total aktiva sebesar Rp 6,5 triliun, atau dapat disimpulkan bahwa, PT Holcim Indonesia membiayai 63% aset perusahaan denganhutang, sedangkan 37% aset dibiayai dari ekuitas pemegang saham.
Pada tahun 2011, terjadi penaikanbaik pada total hutang maupun total aktiva, total hutang dari Rp 4,1 triliun menjadi Rp 5,2 triliun dan total aktiva dari Rp 6,5triliun menjadi Rp 8,3 triliun. Menjadikanpendanaan aktiva PT Holcim Indonesia, mengalami kesamaan tingkat rasio berkisar 63% PT. Mayora Indah Tbk membiayai 63% aset perusahaan denganhutang, sedangkan 37% aset dibiayai dari ekuitas pemegang saham.
Pada tahun 2012, peningkatan baik pada total hutang maupun total aset, namun mengalami penurunan rasio PT Holcim Indonesia,Tbk dari 63% menjadi 59%, dimana sebanyak Rp 5,7 triliun total hutang dari total aset sebanyak Rp 9,7triliun. PT Holcim Indonesia membiayai 59% aset perusahaan denganhutang sedangkan 61% aset dibiayai dari ekuitas pemegang saham
b. Rasio Hutang terhadap Modal

Rasio utang terhadap modal menunjukan perbandingan antara hutang yang digunakan untuk membiayai aset perusahaan dengan total modal sendirinya. Pada tahun 2011, terlihat bahwa sebanyak Rp 4,1 triliuntotal hutang perusahaan dan total ekuitassebesar Rp 2,4 triliun, sehingga mendapatkan jumlah ratio sebesar 172 % atau dapat disimpulkan bahwa PT Holcim Indonesia, menggunakan hutang sebesar 172 % dari modal sendiri yang dimiliki perusahaan .
Pada tahun 2011, terjadi penaikanbaik pada total hutang maupun total ekuitas, total hutang dari Rp 4,1 triliun menjadi Rp 5,2 triliun dan total ekuitas dari Rp 2,4triliun menjadi Rp 3,0 triliun. Menjadikan PT Holcim Indonesia , hampir mengalami kesamaan tingkat rasio berkisar 172% menjadi 171%, artinya dimana PT Holcim Indonesia menggunakan hutang sebesar 171 % dari modal sendiri yang dimiliki perusahaan .
Pada tahun 2012, peningkatan kembali terjadi baik pada total hutang maupun total ekuitas, namun kembali mengalami penurunan rasio PT Holcim Indonesia dari 171% menjadi 147%, dimana sebanyak Rp 5,7 triliun total hutang dari total aset sebanyak Rp3,9triliun. PT Holcim Indonesia Tbkmenggunakan hutang sebesar 147 % dari modal sendiri yang dimiliki perusahaan.
Rasio Laba terhadap Beban Bunga

Rasio laba terhadap beban bunga menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menutupibiaya bunga yang diukur dengan membandingkan pendapatan usaha terhadap biaya bunga. Dimulai dari tahun 2010, PT Holcim Indonesia , mencatat EBIT sebesar Rp 757milyar dengan total beban bunga sebesar Rp 123 milyar. Rasio laba terhadap beban bunga yang didapat adalah6,12 kali. Rasio ini bisa diinterpretasikan sebagai berikut : perusahaan PT Holcim Indonesia ,mempunyai EBIT yang besarnya 6,12 kali beban bunga.
Pada tahun 2011, terlihat perubahan negatif, walaupun baik laba operasi maupun bebanbunga mencatat kenaikan dari Rp 757 milyar menjadi Rp 1,1 triliun pada EBIT dan dari Rp 123 milyar menjadi Rp 223 milyar padabeban bunga yang mengakibatkan rasio laba terhadap beban bunga menurun dari 6,12 kali menjadi 5,18 kali. Rasio tersebut dapat diinterpretasikan bahwa PT Holcim Indonesia, pada tahun 2011 memiliki EBIT sebesar 5,18 kali beban bunga.
Pada tahun 2012, meskipunEBIT naik dari Rp 1,1 triliun menjadi Rp 1,3 triliundan beban bunga juga naik dari Rp 223 milyar menjadi Rp 256 milyar. Walaupun mengalami penaikan dari nominalnya, tingkatrasio laba terhadap beban bunga turun dari 5,18 kali menjadi 5,08 kali. Sehingga banyaknya laba yang dimiliki PT Holcim Indonesia adalah 5,08 kali besar beban bunga pada tahun tersebut.
4. Pengembalian Atas Ekuitas
a. Pengembalian Atas Asset

Tingkat pengembalian atas asset menunjukkan indikator jumlah pendapatan yang dihasilkan oleh perusahaan yang diukur dengan membandingkan laba bersih setelah pajak (Earning After Tax) yang dihasilkan dengan total aktiva.
Pada tahun 2010 PT Holcim Indonesia mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp. 483 miliar dengan total aktiva berjumlah Rp. 6,5 Triliun. Hal ini menghasilkan rasio pengembalian asset sebesar 0,07
Pada tahun 2011 PT Holcim Indonesia mencatat laba bersih setelah pajak dari sebesar Rp. 744 miliar dengan total aktiva Rp. 8,3 Triliun. Terjadi peningkatan antara laba bersih setelah pajak dan total aktiva. Peningkatan ini mempengaruhi rasio pengembalian yang meningkat menjadi 0,09
Pada tahun 2012 PT Holcim Indonesia mencatat laba bersih setelah pajak dari sebesar Rp. 1 Triliun dengan total aktiva sebesar Rp. 9,7 Triliun. Terjadi peningkatan antara laba bersih setelah pajak dan total aktiva. Peningkatan ini mempengaruhi rasio pengembalian yang meningkat menjadi 0,11. Peningkatan rasio pengembalian atas asset ini menyebabkan semakin baik pula tingkat pengembalian atas asset yang di gunakan
b. Pengembalian Atas Modal

Tingkat pengembalian atas ekuitas menunjukkan rata-rata perhitungan pengembalian atas investasi pemegang saham yang diukur dengan membandingkan pendapatan bersih terhadap ekuitas saham biasa.
Pada tahun 2010, PT Holcim Indonesia mencatat laba bersih sebesar Rp 483 milyar dengan besar ekuitas saham biasa Rp 2,4 Triliun. Hal ini menghasilkan rasio pengembalian saham sebesar 19,94 % atau dapat dikatakan bahwa setiap Rp 1 modal sendiri menghasilkan laba bersih sebesar Rp 19,94 yang tersedia bagi pemegang saham.
Pada tahun 2011, tingkat pengembalian ekuitas mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari pengembalian ekuitas sebesar 19,94% menjadi 24,27%. Total ekuitas menunjukan perkembangan dari Rp 2,4 Triliun menjadi Rp 3 Triliun dan diikuti laba bersih yang bertambah dari Rp 483 milyar menjadi Rp 744 milyar. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa pada tahun 2010 setiap Rp 1 modal sendiri menghasilkan laba bersih sebesar Rp 24,27 yang tersedia bagi pemegang saham.
Pada tahun 2012, kembali terjadi perubahan yang positif namun tidak cukup signifikan, tingkat pengembalian ekuitas naik dari 24,27% menjadi 26,87%. Hal ini disebabkan karena kenaikan laba bersih yang diperoleh dari Rp 744 milyar pada tahun 2012 menjadi Rp 1 Triliun dan peningkatan total ekuitas pemegang saham biasa dari Rp 3 Triliun menjadi Rp 3,9 Triliun. Persentase ini menandakan bahwa pada tahun 2013, setiap Rp 1 modal biasa menghasilkan pendapatan bersih sebesar Rp 26,87% yang tersedia bagi pemegang saham.
c.Margin Laba Bersih

Marjin Laba Operasi adalah variabel penting dalam memahami profitabilitas operasi perusahaan. Margin laba bersih menunjukkan pendapatan yang diperoleh perusahaan dengan cara membandingan laba bersih atas investasi pada setiap Rp.1 penjualan. Marjin Laba Operasi menunjukkan keefektifan manajemen dalam mengelola laporan keuangan perusahaan yang diukur dengan membandingkan laba usaha terhadap penjualan.
Pada tahun 2010 Margin laba operasi yang dihasilkan oleh PT Holcim Indonesia menunjukkan nilai sebesar 0,05. Dengan laba operasi berjumlah 483 miliar dan penjualan sejumlah 9,4 Triliun.
Pada tahun 2011 terjadi peningkatan pada margin laba operasi yang dihasilkan oleh PT Mayora Indah sebesar 0,02 dengan nilai 0,05 menjadi 0,07. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan laba bersih sejumlah 744 milyar dan penjualan sebesar 10,5 Triliun pada akhir tahun pembukuan.
Pada tahun 2012 terjadi peningkatan lagi pada margin laba operasi yang dihasilkan oleh PT Mayora Indah sebesar 0,02 dengan nilai margin sebesar 0,07 pada tahun 2012 menjadi 0,09 pada tahun 2013. Hal ini dikarenakan terjadi peningkatan yang seimbang pada laba bersih menjadi 1 Triliun dan peningkatan pada penjualan menjadi 12 Triliun. Dengan meningkatnya NPM maka penghasilan perusahaan semakin besar dan efektifitas manajemen perusahaan semakin baik.
Pendapatan per Saham

Earning per share adalah variable penting yang digunakan para investor untuk menghitung berapa jumlah pendapatan yang akan diterima apabila memiliki per lembar saham pada suatu perusahaan. Yang dihitung dengan cara membagi pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham dengan jumlah saham yang beredar
Pada tahun 2011 perusahan memilik laba per saham sebesar 614 kemudian meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2012 laba per saham PT Holcim Indonesia Tbk sebsar 952 kemudian meningkat lagi pada tahun 2013 sebesar 1165 per saham. Ini menunjukkan tiap tahun nilai laba per saham semakin meningkat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Untuk kinerja dan posisi keuangan berdasarkan perhitungan rasio selama tahun 2010, 2012 dan 2013 pada PT Holcim Indonesia Tbk, adalah sebagai berikut;
Pada Rasio Likuiditas, dilihat dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 secara umum kondisi keuangan PT. Mayora Indah Tbk dalam keadaan baik, yang menandakan bahwa perusahaan dalam hal ini mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Pada Rasio Aktivitas, dilihat dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 secara umum dalam keadaan baik, karena PT. Holcim Indonesia Tbk mampu memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien.
Pada Rasio Manajemen utang, dilihat dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 dapat dikatakan dalam keadaan baik, karena penggunaan utang untuk membiayai kegiatan operasional PT. Holcim Indonesia Tbk serta dalam pelunasan kewajibannya dapat dilakukan dengan baik olehPT Holcim Indonesia Tbk.
Pada Rasio Profitabilitas, dilihat dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 dapat dikatakan dalam keadaan fluktuasi tetapi tidak menurunkan profit perusahaan secara signifikan.
3.2 Saran
Dilihat dari posisi perusahaan keuangan perusahaannya, PT Holcim Indonesia Tbk masih bisa meningkatkan kinerjanya agar posisi perusahaan dapat berada dalam kondisi aman. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain dengan :
Melakukan Manajemen Aset dengan baik, seperti manajemen kas, persediaan dan piutang dagang untuk mendapatkan hasil yang baik sekaligus dapat mengendalikan resiko.
Melakukan pengeluaran untuk pertumbuhan mendatang seperti mengadakan survei dan upaya penelitian untuk pengembangan produk yang dapat selalu disesuaikan dengan selera konsumen.
Menjaga agar tidak ketinggalan dalam penambahan teknologi, seperti mesinmesin untuk produksi.
Melakukan hubungan kerja sama yang baik dengan bank dengan melakukan manajemen utang yang lebih baik.
LAMPIRAN
Perhitungan Rasio
PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk
Data yang digunakan dalam membuat perhitungan rasio adalah sebagai berikut;
KETERANGAN INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA 2010
2010 2011 2012
LIQUIDITY RATIO      
Aktiva Lancar Rp 7.484.807 Rp 10.314.573 Rp 14.597.400
Hutang Lancar Rp 1.347.705 Rp 1.476.597 Rp 2.418.762
Persediaan Rp 1.299.548 Rp 1.470.305 Rp 1.470.305
ACTIVITY RATIO      
Piutang Usaha Rp 1.290.898 Rp 1.908.525 Rp 2.454.818
Penjualan Rp 11.137.805 Rp 13.887.892 Rp 17.290.337
HPP Rp 5.597.042 Rp 7.473.669 Rp 9.020.338
Total Aktiva Rp 15.346.145 Rp 18.151.331 Rp 22.755.160
Aktiva Tetap Bersih Rp 7.861.338 Rp 7.836.758 Rp 8.175.760
LAVERAGE RATIO      
Total Hutang Rp 23.207.893 Rp 2.417.380 Rp 3.336.422
Total Ekuitas Rp 13.077.390 Rp 15.733.951 Rp 19.418.738
Beban Bunga Rp 13.955 Rp 19.864 Rp 18.042
Laba Operasi (EBIT) Rp 4.248.475 Rp 4.708.156 Rp 6.239.550
PROFITABILITY      
Laba Bersih (EAT) Rp 3.224.941 Rp 3.601.516 Rp 4.763.388
2 PT. Holcim Indonesia, Tbk
Data yang digunakan dalam membuat perhitungan rasio adalah sebagai berikut;
KETERANGAN PT HOLCIM INDONESIA Tbk
2010 2011 2012
LIQUIDITY RATIO      
Aktiva Lancar Rp 2.253.237 Rp 2.468.172 Rp 2.186.797
Hutang Lancar Rp 1.355.830 Rp 1.683.799 Rp 1.556.875
Persediaan Rp 499.926 Rp 570.459 Rp 687.087
ACTIVITY RATIO      
Piutang Usaha Rp 564.622 Rp 638.343 Rp 808.791
Penjualan Rp 5.960.589 Rp 7.523.964 Rp 9.011.076
HPP Rp 2.249.357 Rp 4.672.435 Rp 5.664.231
Total Aktiva Rp 10.437.249 Rp 10.950.501 Rp 12.168.517
Aktiva Tetap Bersih Rp 7.893.251 Rp 8.238.252 Rp 9.588.783
LAVERAGE RATIO      
Total Hutang Rp 3.611.246 Rp 3.423.241 Rp 3.750.461
Total Ekuitas Rp 6.822.608 Rp 7.527.260 Rp 8.418.056
Beban Bunga Rp 232.820 Rp 82.328 Rp 156.767
Laba Operasi (EBIT) Rp 1.147.957 Rp 1.533.257 Rp 1.872.712
PROFITABILITY      
Laba Bersih (EAT) Rp 828.422 Rp 1.063.560 Rp 1.350.791
3. PT Semen Gresik (Persero) Tbk
Data yang digunakan untuk menghitung rasio adalah sebagai berikut:
KETERANGAN PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
2010 2011 2012
LIQUIDITY RATIO      
Aktiva Lancar Rp 7.345.867 Rp 7.646.144 Rp 8.231.297
Hutang Lancar Rp 2.517.518 Rp 2.889.137 Rp 4.852.204
Persediaan Rp 1.624.219 Rp 2.006.660 Rp 2.284.905
ACTIVITY RATIO      
Piutang Usaha Rp 1.716.582 Rp 1.828.477 Rp 2.466.060
Penjualan Rp 14.344.188 Rp 16.378.793 Rp 19.598.247
HPP Rp 7.534.079 Rp 8.891.867 Rp 10.300.666
Total Aktiva Rp 15.562.998 Rp 19.661.602 Rp 26.579.083
Aktiva Tetap Bersih Rp 8.217.131 Rp 12.015.457 Rp 18.347.786
LAVERAGE RATIO      
Total Hutang Rp 3.423.246 Rp 5.046.505 Rp 8.414.229
Total Ekuitas Rp 12.139.752 Rp 14.615.096 Rp 18.164.854
Beban Bunga Rp 47.622 Rp 34.112 Rp 175.074
Laba Operasi (EBIT) Rp 4.722.623 Rp 5.089.952 Rp 6.287.454
PROFITABILITY      
Laba Bersih (EAT) Rp 3.656.621 Rp 3.960.604 Rp 4.926.639
Keterangan :
Rasio dihitung dengan menggunakan Microsoft Excel dengan memasukkan rumus sesuai yang tertera di landasan teori sehingga menghasilkan perhitungan rasion seperti yang di bawah ini;
ANALISIS TAHUN PT HOLCIM INDONESIA Tbk INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk RATA-RATA INDUSTRI
LIQUIDITY RATIO Current Ratio 2010 1,662 5,554 2,918 3,378
2011 1,466 6,985 2,647 3,699
2012 1,405 6,035 1,696 3,045
Acid Test Ratio 2010 1,293 4,589 2,273 2,718
2011 1,127 6,086 1,952 3,055
2012 0,963 5,427 1,226 2,539
ACTIVITY RATIO Inventories Turnover 2010 4,499 4,307 4,639 4,482
2011 8,191 5,629 4,431 6,084
2012 8,244 6,135 4,508 6,296
Account Receivable Turnover 2010 10,557 8,628 8,356 9,180
2011 11,787 7,277 8,958 9,340
2012 11,141 7,043 7,947 8,711
Average Collection Period 2010 34,575 42,304 43,680 40,186
2011 30,967 50,160 40,747 40,625
2012 32,761 51,821 45,928 43,503
Fixed Asset Turnover 2010 0,755 1,417 1,746 1,306
2011 0,913 1,772 1,363 1,350
2012 0,940 2,115 1,068 1,374
Asset Turnover 2010 0,571 0,726 0,922 0,740
2011 0,687 0,765 0,833 0,762
2012 0,741 0,760 0,737 0,746
LAVERAGE RATIO Debt Ratio 2010 0,346 1,512 0,220 0,693
2011 0,313 0,133 0,257 0,234
2012 0,308 0,147 0,317 0,257
Debt to Equity Ratio 2010 0,529 1,775 0,282 0,862
2011 0,455 0,154 0,345 0,318
2012 0,446 0,172 0,463 0,360
Times Interest Earned 2010 4,931 304,441 99,169 136,180
2011 18,624 237,020 149,213 134,952
2012 11,946 345,835 35,913 131,231
PROFITABILITY ROA 2010 0,079 0,210 0,235 0,175
2011 0,097 0,198 0,201 0,166
2012 0,111 0,209 0,185 0,169
ROE 2010 0,121 0,247 0,301 0,223
2011 0,141 0,229 0,271 0,214
2012 0,160 0,245 0,271 0,226
Net Profit Margin 2010 0,139 0,290 0,255 0,228
2011 0,141 0,259 0,242 0,214
2012 0,150 0,275 0,251 0,226
EPS 2010 108,000 876,050 613,000 532,350
2011 139,000 977,100 662,000 592,700
2012 176,000 1293,150 817,000 762,050
DAFTAR PUSTAKA


Download ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN SEMEN.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN SEMEN. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon