September 09, 2016

Akuntansi Biaya


Judul: Akuntansi Biaya
Penulis: Rosmayanti Suhendar


Akuntansi Biaya
Akuntansi Biaya sering dipakai pada perusahaan manufaktur, dimana perusahaan itu membeli barang mentah, memprosesnya dan menjualnya. Tidak seperti perusahaan dagang yang hanya membeli barang dan menjualnya lagi.Tujuan Akuntansi Biaya
Penentuan Harga Pokok Produk
Perencanaan dan Pengendalian Biaya
Pengambilan Keputusan Bisnis
Penentuan Harga Pokok Produk
Harga pokok produk merupakan akumulasi dari biaya-biaya yang dibebankan pada produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Dalam penentuan harga pokok produk digunakan untuk perhitungan laba atau rugi perusahaan yang dilaporkan kepada pihak eksternal perusahaan.Informasi mengenai harga pokok produk menjadi dasar bagi manajemen dalam pengambilan keputusan harga jual produk yang bersangkutan. Oleh karena itu, akuntansi biaya dalam hal ini merupakan bagian dari akuntansi manajemen.Perencanaan dan Pengendalian Biaya
Perencanaan biaya berkaitan dengan pengambilan keputusan manajemen mengenai penggunaan sumber-sumber ekonomik pada masa yang akan datang. Akuntansi biaya menyajikan informasi biaya yang mencakup biaya masa lalu dan biaya yang akan datang. Informasi yang dihasilkan akuntansi biaya menjadi dasar bagi manajemen untuk menyusun perencanaan biaya.Pengendalian biaya pada dasarnya merupakan serangkaian kegiatan monitoring dan evaluasi secara terus menerus, serta komparasi antara realisasi dengan anggaran biaya. Akuntansi biaya menyajikan informasi mengenai rencana dan realisasi biaya dengan penekanan pada selisih (penyimpangan) realisasi biaya dari rencana yang telah ditentukan.Pengambilan Keputusan Bisnis
Pengambilan keputusan berkaitan dengan pemilihan berbagai alternative tindakan. Dalam hal ini manajemen memerlukan informasi biaya yang relevan untuk dasar pengambilan keputusan bisnis.Dalam Akuntansi Biaya sering dipakai pada perusahaan manufaktur, dimana perusahaan itu membeli barang mentah, memprosesnya dan menjualnya. Tidak seperti perusahaan dagang yang hanya membeli barang dan menjualnya lagi. Karena di perusahaan manufaktur kita "memproses" berarti dapat disimpulkan bahwa kita mengolah barang mentah menjadi barang jadi.
Untuk menentukan Harga Pokok Produksi  maka diperlukan biaya- biaya yang terlibat dalam memproses barang. Yaitu sebagai berikut :
Biaya Bahan Baku
Biaya yang timbul karena adanya pemakaian bahan baku / bahan mentah dalam proses saat memproduksi barang/ produk.
BTKL ( Biaya Tenaga Kerja Langsung )
Biaya yang timbul karena pemakaian tenaga kerja yang digunakan untuk mengolah/ memproduksi barang. Jadi, gaji untuk membayar tenaga kerja ini disebut Biaya Tenaga Kerja Langsung.BOP (Biaya Overhead Pabrik )
Biaya yang timbul karena pemakaian fasilitas untuk mengolah barang berupa mesin,alat,tempat kerja dan kemudahan lainnya.
Yang termasuk dalam BOP adalah :1. Bahan Penolong
2. BTKTL ( Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung )
3. Beban Listrik pabrik4. Biaya operasional pabrik
selain ketiga komponen diatas, terdapat biaya komersial. Biaya komersial adalah biaya yang timbul diluar dari kegiatan produksi seperti biaya pemasaran dan biaya admin dan umum.
Penentuan Harga Pokok Bahan BakuBerbagai macam metode penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi (materials costing methods) diantaranya adalah : Peramalan ekonomi (economic forecast)
Metode Identifikasi Khusus.
Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku yang ada digudang harus di beri tanda harga pokok per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Setiap pembelian bahan baku yang harga persatuanya berbeda dengan harga per satuan bahan baku yang sudah ada di gudang, dan harus dipisahkan penyimpanannya dan diberi tanda pada harga berapa bahan baku tersebut dibeli. Dalam metode ini, tiap-tiap jenis bahan baku yang ada di gudang jelas identitas harga pokoknya, sehingga setiap pemakaian bahan baku dapat diketahui harga pokok per satuanya secara tepat.
Metode Biaya Standar
Dalam metode ini, bahan baku yang dibeli dicatat dalam kartu persediaan sebesar harga standar (standar prince) yaitu harga taksiran yang mencerminkan harga yang diperkirakan untuk tahun anggaran tertentu. Pada saat pakai, bahan baku diebankan kepada produk pada harga standar tersebut.
Jurnal yang di buat saat pembelian bahan baku :Persediaan Bahan Baku                                                                     XXXX
           Selisih Harga                                                                                       XXXX
Untuk mencatat bahan baku yang  dibeli sebesar harga standar :
Selisih Harga                                                                                     XXXX
           Utang Dagang                                                                                     XXXX
Untuk mencatat harga sesungguhnya bahan baku yang dibeli :Barang Dalam Proses-BBB                                                               XXXX
           Persediaan Bahan Baku                                                                      XXXX
Jurnal pada saat pemakaian ahan baku :BDP-BBB                                                                                        XXXX
         Persediaan Bahan Baku                                                                      XXXX
Metode Rata-Rata Harga Pokok Bahan Baku Pada Akhir Bulan
Dalam metode ini, pada tiap akhir bulan dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di gudang . Harga pokok rata-rata persatuan ini kemudian digunakan untuk menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dalam bulan berikutnya.
Metode Rata-Rata Rergerak / Rata-Rata Tertimbang
Dalam meode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung harga pokok rata-ratanya, dengan cara membagi total harga pokok dengan jumlah satuanya . Setiap kali terjadi pembelian yang harga pokok persatuanya berbeda dengan harga rata-rata pokok persediaan yang ada di gudang, harus dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuan yang baru.Bahan baku yang dipakai dalam proses prouksi dihitung harga pokoknya dengan mengalikan jumlah satuan bahan baku yang dipakai dengan harga pokok rata-rata per satuan bahan baku yang ada di gudang.
Contoh :Persediaan Bahan Baku A pada 1 Januari 20X1 terdiri dari :600 kg   @Rp2.400   = Rp1.440.000
400 kg   @Rp2.500   = Rp1.000.000
Tanggal Kuantitas Kransaksi Harga beli
Kg Per kg Jumlah
6/1 Pemakaian 700 15/1 Pembelian 1.200 Rp2.750 17/1 Pembelian 500 Rp3.000 Rp 3.300.000
21/1 Pemakaian 1.100 1.500.000
Jumlah Pemakaian Rp 4.800.000
Masalah-masalah Khusus yang Berhubungan Dengan Bahan Baku
SISA BAHAN ( SCRAP MATERIALS )
Sisa bahan merupakan bahan baku yang rusak dalam proses produksi, sehingga tidak dapat menjadi bagian produk jadi. Jika sisa bahan tidak mempunyai nilai jual, akibat yang ditimbulkan adalah harga pokok  persatuan produk jadi lebih tinggi.
Jika bahan masih mempunyai nilai jual, masalah yang timbul adalah bagaimana memperlakukan hasil penjualan sisa bahan tersebut. Hasil penjualan sisa bahan dapat diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku pesanan yang menghasilkan sisa bahan tersebut, sebagai pengurangan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi, atau sebagai penghasil di luar usaha.
Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Pengurang Biaya Bahan Baku yang Dipakai Dalam Pesanan Yang Menghasilkan Sisa Bahan Tersebut.Jika sisa bahan terjadi karena karakteristik proses pengolahan pesanan tertentu, maka hasil penjualan sisa bahan dapat diidentifikasikan dengan pesanan tersebut.
Jurnal saat penjualan sisa bahan :Kas / Piutang dagang                                                              XX
            Barang Dlm Proses-Biaya Bahan Baku                                  XX
Hasil penjualan sisa bahan ini juga dicatat dlm kartu hargapokok pesanan yang bersangkutan dalam kolom "biaya bahan baku" sebagai pengurang biaya bahan baku pesanan tersebut
Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Pengurangan Terhadap Biaya Overhead Pabrik yang Sesungguhnya Terjadi.Jika sisa bahan tidak dapat diidentifikasikan dengan pesanan tertentu, dan sisa bahan merupakan hal yang biasa terjadi dalam roses pengerjaan produk, maka hasil penjualannya dapat diperlakukan sebagai pengurangan biaya Overhead pabrik sesungguhnnya.
Jurnal pada saat penjualan sisa bahan baku adalah :Kas/ Piutang Dagang                                                              XX
            Biaya Overhead pabrik sesungguhnnya                                  XX
Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Penghasilan Di Luar Usaha .Hasil penjualan sisa bahan dapat pula diperlakukan sebagai penghasilan di luar usaha dan tidak sebagai pengurang biaya produksi .Jurnal saat penjualan sisa bahan adalah :Kas / Piutang dagang                                                              XX
            Hasil Penjualan Sisa Bahan                                                     XX

Contoh :Bagian Produksi menyerahkan 2.000 kg sisa bahan baku ke Bagian Gudang. Sisa bahan tersebut ditaksir laku dijual Rp5000 per kg . Sampai dg akhir periode akuntansi sisa bahan tersebut telah laku dijual sebanyak 1.250 kg dgn harga jual Rp6000 per kg.Jurnal penyerahan sisa bahan :Persediaan Sisa Bahan    (2000xRp5000)          Rp 10.000.000         Hasil Penjualan                                         Rp 10.000.000
Jurnal penjualan sisa bahan :Kas / Piutang Dagang      (1.250xRp6000 )Rp 7.500.000
         Persd. Sisa bahan                                            Rp 7.500.000
Jurnal Penyesuaian pada akhir periode:
Hasil Penjualan                (750xRp5000)Rp 3.750.000
         Penghasilan yg blm direalisasikan                   Rp 3.750.000
Jurnal penyesuaian karena adanya selisih harga jual : (Rp6000-Rp5000=Rp1000)
Persd. Bahan baku   (1.250xRp1000) Rp 1.250.000
         Hasil penjualan                                    Rp 1.250.000
PRODUK RUSAK (SPOILED GOODS)
Produk rusak merupakan produk yang tidak memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. Produk rusak merupakan produk yang telah menyerap biaya produksi dan secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk baik.
Perlakuan terhadap produk rusak sangat tergantung dari sifat dan penyebab terjadinya produk rusak, yaitu:
Apabila penyebab terjadinya produk rusak adalah hal yang bersifat luar biasa, misalnya sulitnya proses produksi, maka harga pokok produk rusak akan dibebankan sebagai tambahan harga pokok produk yang baik dalam pesanan yang bersangkutan. Apabila produk rusak laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak akan diperlakukan sebagai pengurang biaya produksi pesanan yang bersangkutan.
Contoh :PT Prakarsa Husada memproduksi atas dasar pesanan. Dalam bulan Januari 20X7 perusahaan menerima pesanan pembuatan 1.000 satuan produk A .Untuk memenuhi pesanan tersebut perusahaan memproduksi 1.100 satuan produk A dengan biaya produksi sbb :BBB 75.000 , BTKL 175.000 , BOP dibebankan atas dasar tarif sebesar 150% dari BTKL .
Pada saat pesanan selesai dikerjakan 100 satuan produk rusak, yg secara ekonomis tidak dapat diperbaiki. Produk rusak tersebut diperkirakan laku dijual 350 per satuan.Jurnal untuk mencatat biaya produksi untuk mengolah 1.100 satuan produk A :Barang Dlm Proses-BBBRp 75.000
Barang Dlm Proses-BTKLRp 175.000
Barang Dlm Proses-BOPRp 262.000
Persediaan Bahan Baku              Rp 75.000
Gaji dan Upah                        Rp 175.000
Biaya Overhead yg dibebankan         Rp 262.000Apabila tidak terdapat produk rusak, maka harga pokok per unit adalah :
Rp512.500/1.100 = Rp 466
Dengan adanya produk rusak 100 unit akan mengakibatkan harga pokok perunitnya menjadi lebih besar karena harga pokok produk rusak dibebankan pada produk yang baik.
Harga produk A yang baik :Rp512.500/1000 = Rp 513
Jika produk rusak masih laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak dikurangkan dari biaya produksi yang seluruhnya telah dibebankan kepada produk yang baik. Pembagian nilai Jual produk sebagai pengurang terhadap tiap-tiap rekening Barang Daam Proses tersebut, didasarkan pada perbandingan tiap-tiap elemen biaya tersebut dalam harga pokok rusak disajikan sebagai berikut :Pembagian nilai jual produk rusak adalah sbb :Barang Dlm Proses-BBB           75% x 6.800   =  5.100Barang Dlm Proses-BTKL         75% x 15.900 = 11.925
Barang Dlm Proses-BOP           75% x 23.900 = 17.925 +
                                                   Jumlah               34.950*
*Jumlah sesungguhnya 35.000, selisih 50 karena ada pembulatan dlm perhitungan.
Jurnal untuk mencatat nilai jual produk rusak dan pengurangan biaya produksi pesanan yang bersangkutan :Persediaan Produk Rusak (100x350)     Rp 35.000
               Barang Dlm Proses-BBB                    Rp 5.100
               Barang Dlm Proses-BTKL                  Rp 11.925
               Barang Dlm Proses-BOP                    Rp 17.925
Jurnal pencatatan harga pokok produk jadi adalah sbb :Persediaan Produk jadi              Rp 477.500
               BDP-BBB                               Rp 69.900
               BDP-BTKL                            Rp 163.075
               BDP-BOP                               Rp 244.575
Karena produk rusak masih laku dijual seharga Rp 35.000 maka biaya produksi berkurang menjadi : Rp 477.500 yaitu (Rp 512.500 - Rp 35.000), sehingga harga pokok persatuan produk A yang baik adalah Rp 477,5 atau Rp 478 dari (Rp 477.500 - 1000).
Jika produk rusak merupakan hal yang normal terjadi dalam proses pengolahan produk, maka kerugian yang timbul sebagai akibat terjadinya produk rusak dibebankan kepada produk secara keseluruhan, dengan cara memperhitugkan kerugian tersebut didalam tarif biaya overhead pabrik. Oleh karena itu, anggaran biaya overhead pabrik yang akan digunakan untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik terdiri dari elemen-elemen berikut :
Biaya bahan penolongXXXX
Biaya  kerja tak langsung                                             XXXX
Biaya reparasi dan pemeliharaan                                  XXXX
Biaya asuransi                                                           XXXX
Biaya overhead pabrik lain                                        XXXX
Rugi produk rusak (hasil penjualan-harga pokk produk rusak)XXXX
Biaya Overhead Pabrik yang dianggarkan                   = XXXX
Tarif  BOP = BOP yang dianggarkan / Dasar pembebanan
Contoh :PT Prakarsa Husada memproduksi produk atas dasar pesanan. Karena produk rusak merupakan hal yang biasa terjadi dalam prses pengolahan produk, maka kerugian adanya produk rusak sudah diperhitungkan dalam penentuan tarif BOP pada awal tahun. Tarif BOP adalah 160% dari BTKL.Pada tahun 20X7, perusahaan menerima pesanan produk B seanyak 2.000 unit . Biaya produksi yang dikeluarkan untuk mengerjakan pesanan tersebut adalah:
BBB Rp 100.000 , BTKL Rp 250.000 , BOP Rp 400.000 (160% x Rp 250.000).
Setelah pesanan ini selesai doproduksi, ternyata dari 2.300 unit produk selesai yang dihasilkan terdapat 300 unit produk rusak, yang diperkirakan masih laku dijual Rp 200 per unit .
Jurnal mencatat biaya produksi untuk mengolah pesanan B tersebut adalah :BDP-BBB                                              Rp 100.000
BDP-BTKL                                           Rp 250.000
BDP-BOP                                              Rp 400.000
   Persediaa Bahan Baku                                          Rp 100.000
   Gaji dan Upah                                                 Rp 250.000
   BOP yg dibebankan                                        Rp 400.000
Karena dalam tarif BOP telah diperhitungkan kerugian produk  rusak, maka berarti seluruh produk yang diproduksi  akan dibebani dengan kerugian karena adanya produk rusak tersebut. Oleh karena itu , kerugian yang sesungguhnya timbul dari produk rusak didebitkan dalam rekening BOP sesungguhnya. 
Kerugian karena adanya produk rusak :Harga pokok produk rusak                  300 x Rp 326* = Rp 97.800
Nilai jual produk  rusak                       300 x Rp 200   = Rp 60.000 _
Jadi kerugian produk rusak                                         = Rp37.800
Jurnal pencatatan produk rusak  dan kerugianya adalah :
Persediaan Produk Rusak             Rp 60.000
BOP Sesungguhnya                      Rp 37.800
      BDP-BBB       (300x43)                      Rp 12.900
      BDP-BTKL    (300x109)                    Rp 32.700
      BDP-BOP       (300x174)                    Rp 52.200
Jurnal pencatatan produk jadi yang baik adalah sbb :Persediaan produk  jadi    Rp 652.000
      BDP-BBB                                           Rp 86.000
      BDP-BTKL                                        Rp 218.000
      BDP-BOP                                           Rp 348.000
PRODUK CACAT (DEFECTIVE GOODS)
Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditentukan, tetapi dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomis dapat disemurnakan lagi menjadi produk jadi yang baik.Masalah yang timbul dalam produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya tambahan untuk pengerjaan kembali (rework cost) produk cacat tersebut. Perlakuan terhadap biaya pengerjaan kembali produk cacat adalah mirip dengan produk rusak (spoiled goods).
Jika produk cacat bukan merupakan hal yang bisa terjadi dalam proses produksi, tetapi karena karakteristik pesanan tetentu, maka biaya pengerjaan kembali produk cacat dapat dibebankan sebagai tambahan biaya prouksi pesanan yang  ersangkutan.
Jika produk cacat merupakan hal yang biasa terjadi dalamproses pengerjaan produk, maka biaya pengerjaan kembali dapat dibebankan kepada seluruh produksi dengan cara memperhitungkan biaya pengerjaan kembali tersebut kedalam tarif BOP. Biaya pengerjaan kembali produk cacat yang sesungguhnya terjadi didebitkan dalam rekening BOP Sesungguhnya.Pencatatan Biaya Pengerjaan Kembali Produk Cacat Jika Biaya Tersebut Dibeankan kepada Pesanan Tertentu .Contoh :PT Rimendi menerima pesanan 100 satuan produk X. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk mengolah produk tersebut adalah :BBB Rp 40.000, BTKL Rp 25.000 , BOP 200% dari BTKL .
Setelah pengolahan 100 satuan produk X tersebut selesai, ternyata terdapat 10 satuan produk cacat tersebut terdiri dari biaya  BTKL Rp 5.000 dan BOP pada tarif yang biasa dipakai .
Jurnal pencatatan produksi pesanan tersebut dan biaya pengerjaan kembali produk cacat tersebut adalah sbb :Jurnal pencatatan biaya produksi 100 satuan produk X :BDP-BBB                                     Rp 40.000
BDP-BTKL                                  Rp 25.000
BDP-BOP                                     Rp 50.000
Persediaan Bahan Baku                      Rp 40.000
      Gaji dan Upah                                    Rp 25.000
      BOP yg diebankan                              Rp 50.000
Jurnal pencatatan biaya pengerjaan kembali produk cacat jika biaya tersebut dibebankan sebagai tamahan biaya produksi pesanan yang bersangkutan :BDP-Biaya Tenaga Kerja                         Rp 5.000
BDP-Biaya Overhead pabrik                    Rp 10.000
                  Gaji dan Upah                                                 Rp 5.000
                  BOP yang Dibebankan                                   Rp 10.000
Jurnal pencatatan harga pokok produk selesai :Persediaan Produk Jadi                 Rp 130.000
      BDP-BBB                                           Rp 40.000
      BDP-BTKL                                        Rp 30.000
      BDP-BOP                                           Rp 60.000
Pencatatan Biaya Pengerjaan Kembali Produk Cacat Jika Biaya Tersebut Dibeankan kepada Produksi Secara Keseluruhan.Contoh :Di dalam proses produksi PT Prakarsa selalu terjadi produk cacat, yang secara ekonomis masih dapat diperbaiki dengan cara mengeluarkan biaya pengerjaan kembali. Oleh karena itu, pada waktu menentukan tarif BOP, di dalam anggaran BOP diperhitungkan ditaksiran biaya pengerjaan kembali produk cacat yang akan dikeluarkan selama periode anggaran. Tarif BOP ditentukan sebesar 150% dari BTKL, PT Prakarsa dalam periode anggaran tersebut menerima pesanan pembuatan 500 satuan produk Y. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk mengolah produk tersebut adalah:
BBB Rp 100.000 , BTKL Rp 124.000 . Setelah pengolahan 500 satuan produk Y tersebut selesai, ternyata terdapat 50 satuan produk cacat. Biaya pengerjaan kembali 50 satuan produk  cacat tersebut terdiri dari : BTKL Rp 10.000 , dan BOP pada tarif yang dipakai.
Jurnal pencatatan biaya produksi pesanan tersebut dan biaya pengerjaan kembali produk cacat adalah sbb :Jurnal pencatatan biaya produksi 500 satuan produk :BDP-BBB                                      Rp 100.000
BDP-BTKL                                    Rp 125.000
BDP-BOP                                      Rp 187.000
      Persediaan Bahan Baku                                  Rp 100.000
      Gaji dan Upah                                                Rp 125.000
      BOP yg diebankan                                          Rp 187.000
Jurnal pencatatan biaya pengerjaan kembali produk cacat jika biaya tersebut dibebankan kepada produk secara keseluruhan :BOP Sesungguhnya                        Rp 25.000
      Gaji dan Upah                                     Rp 10.000
      BOP yang Dibebankan                                   Rp 15.000
Jurnal pencatatan harga pokok produk selesai :Persediaan Produk Jadi                 Rp 412.000
      BDP-BBB                                                       Rp 100.000
      BDP-BTKL                                         Rp 125.000
      BDP-BOP                                                       Rp 187.000

Soal : Akuntansi biaya dibuat dengan tujuan untuk penentuan harga pokok produk, selain tujuan tersebut sebutkan tujuan lainnya?
…..
Perencanaan dan Pengendalian Biaya
Penentuan Biaya Bahan Baku
Pengambilan Keputusan Bisnis
Perencanaan dan Pengendalian Bisnis
Penentuan Harga Produk Jadi
Penetapan Strategi Bisnis
Dalam menentukan Harga Pokok Produksi  maka diperlukan biaya- biaya yang terlibat dalam memproses membuat produk / barang, sebutkan biaya – biaya yang terlibat
Biaya Bahan Baku, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Tetap
Biaya Bahan Baku, Biaya Overhead, Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya Bahan Baku, Biaya Tenga Kerja Langsung, Biaya Pemasaran
Biaya Bahan Baku, Biaya Listrik, Biaya Overhead
Biaya Bahan Baku, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Overhead
Biaya Tenaga Kerja, Biaya Tenga Kerja Langsung, Biaya Pemasaran
Biaya Overhead pabrik adalah
Semua biaya yang berasal dari pembuatan barang di pabrik, selain biaya bahan baku dan biaya TKL
Biaya yang timbul karena pemakaian fasilitas untuk mengolah barang di pabrik, seperti pemakaian mesin, dll.
Semua biaya yang timbul untuk memproduksi barang / produk
Biaya yang dihasilkan dari pembuatan suatu produk
Jawaban a dan c benar
Jawaban a dan b salah
Yang termasuk biaya overhead adalah….
Biaya listrik kantor, biaya penggunaan mesin, biaya operasional pabrik
Biaya operasional pabrik, biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung
Biaya administrasi, biaya operasional pabrik, biaya bahan penolong
Biaya pemasaran, biaya administrasi, biaya operasional pabrik
Biaya produksi, biaya pemasaran, biaya operasional pabrik
Biaya listrik pabrik, biaya operassional pabrik, biaya tenaga kerja tidak langsung
Dalam penentuan harga pokok bahan baku, ada beberapa metode yang digunakan. Sebutkan metode yang digunakan untuk penentuan harga pokok bahan baku
Metode LIFO, Metode FIFO, dan Metode Average
Metode Biaya Standar, Metode Identifikasi Khusus
Metode rata-rata tertimbang, Metode rata-rata harga pokok bahan baku pada akhir bulan
Metode rata-rata harga pokok bahan baku awal bulan, metode biaya khusus
Jawaban a dan b benar
Jawaban b dan d benar
Masalah khusus yang biasanya terjadi dan berhubungan dengan bahan baku adalah
Adanya produk tidak laku
Adanya sisa bahan
Adanya produk rusak dan produk cacat
Jawaban a dan b benar
Jawaban b dan c salah
Jawaban a dan c benar
Jika biaya bahan baku adalah Rp. 300.000, biaya tenaga kerja langsung 150% dari biaya bahan baku, dan biaya overhead pabrik ¾ dari biaya tenaga kerja langsung maka berapa total biaya yang dibutuhkan :
Rp 1.070.000
Rp 1.087.500
Rp 1.677.500
(Rp 300.000 + Rp 450.000 + Rp 337.500)
(Rp 300.000 + Rp 450.000 + Rp 320.000)
Jawaban a dan e benar
Dari soal no. 7 diatas diketahui barang yang di produksi adalah 3000 unit, maka biaya yang dibebankan untuk 1 unit adalah
Rp 362,50
Rp 356,67
Rp 559,17
Jawaban a benar
Jawaban b benar
Jawaban c salah
Jika Bagian Produksi menyerahkan 1.000 kg sisa bahan baku ke Bagian Gudang. Sisa bahan tersebut ditaksir laku dijual Rp 5000 per kg . maka ayat jurnal untuk mencatat kegiatan diatas adalah
Persediaan BahanRp 5.000.000 pada Hasil Penyerahan Rp 5.000.000
Persediaan Sisa Bahan Rp. 500.000 pada Hasil Penyerahan Rp 500.000
Persediaan Sisa Bahan Rp. 5.000.000 pada Hasil Penjualan Rp 5.000.000
Hasil Penjualan Rp 5.000.000 pada Persediaan Bahan Rp 5.000.000
Jawaban c benar
Jawaban a benar
Jika produk rusak merupakan hal yang normal terjadi dalam proses pengolahan produk, maka kerugian yang timbul akan dibebankan pada…
Biaya bahan baku saja
Biaya overhead saja
Biaya bahan baku dan biaya overhead
Biaya produk secara keseluruhan
Jawaban c benar
Jawaban d benar
Jika perusahaan X menerima pesanan 10.000 unit produk, dengan biaya satuan Rp 1.000, dengan rincian biaya yang dibutuhkan adalah Rp 4.000.000 untuk bahan baku, 120% untuk biaya overhead, maka berapa biaya tenaga kerja langsung yang dibutuhkan ?
Rp. 3.000.000
Rp. 3.200.000
Rp. 3.400.000
Jawaban a benar dan b benar
Jawaban b benar dan c salah
Jawaban a salah dan b salah
Jika perusahaan XYZ menerima pesana 5.000 unit produk dengan total biaya produksi Rp 10.000.000, dengan biaya bahan baku Rp 4.000.000, biaya TKL Rp. 4.000.000, dan biaya Overhead Rp. 2.000.000, sebutkan jurnal yang dibutuhkan untuk mencatat biaya overhead ?
Biaya overhead Rp 2.000.000 pada biaya overhead Rp 2.000.000
Biaya overhead Rp 2.000.000 pada BOP yang dibebankan Rp 2.000.000
Biaya overhead Rp 2.000.000 pada total biaya Rp 10.000.000
Jawaban a dan b benar
Jawaban a salah dan c benar
Jawaban b benar dan c salah
Jika hasil penjualan sisa bahan diperlakukan sebagai penghasilan diluar usaha secara tunai maka jurnal saat penjualan adalah
Piutang pada hasil penjualan sisa bahan
Kas pada penjualan sisa bahan
Kas pada penjualan produk
Kas pada sisa penjualan
Jawaban a dan b benar
Jawaban b benar dan c salah
Jika pada setelah penjualan sisa bahan terdapat selisih harga jual, maka ayat jurnal penyesuaian yang dibutuhkan adalah
Persediaan bahan baku pada penjualan
Persediaan barang pada penjualan
Kas pada persediaan bahan baku
Jawaban a benar dan b benar
Jawaban a benar dan c salah
Jawaban b benar dan c salah
Apabila penyebab terjadinya produk rusak adalah hal yang bersigat luar biasa, maka harga pokok produksi akan dibebankan sebagai
Biaya persediaan bahan baku untuk awal periode selanjutnya
Tambahan harga pokok produk yang baik dalam pesanan yang bersangkutan
Tambahan biaya untuk biaya satuan yang baru
Jawaban a benar dan b salah
Jawaban b benar dan c salah
Jawaban c benar dan a benar
Ayat jurnal yang digunakan untuk mencatat nilai jual produk rusak dan pengurangan biaya produksi yang bersangkutan adalah
Persediaan produk rusak pada (WIP – BBB, WIP – BTKL, WIP – BOP)
Persediaan barang pada (WIP – BBB, WIP – BTKL, WIP – BOP)
Persediaan produk rusak pada (WIP – BBB, WIP – Biaya pemrosesan, WIP – BOP)
Jawaban a dan b benar
Jawaban b dan c salah
Jawaban a dan b salah
PT. ABC menerima pesanan sebanyak 5.000 unit produk, dengan biaya bahan baku sebesar Rp 10.000.000, biaya tenaga kerja langsung Rp 8.000.000, dan biaya overhead adalah 50% dari biaya bahan baku dan 40% dari biaya tenaga kerja langsung. Dari data diatas berapa biaya overhead yang dibutuhkan untuk membuat produk tersebut
Rp 5.000.000
Rp 3.200.000
Rp 16.200.000
Rp 8.200.000
Jawaban a dan b salah
Jawaban c benar dan d salah
Dari soal no. 17, diketahui bahwa untuk memenuhi pesanan perusahaan memproduksi sebanyak 5.125 unit, maka berapa biaya satuan / harga pokok yang dibebankan untuk per unitnya?
Rp 3.356
Rp 3.625
Rp 3.240
Jawaban a salah dan b salah
Jawaban b salah dan c salah
Jawaban b benar dan c salah
Dari soal no. 17 diketahui pada saat pesanan selesai dikerjakan 125 satuan produk rusak, yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki. Maka berapa harga pokok perunit yang dibebankan
Rp 3.640
Rp 3.600
Rp 3.440
Harga pokok perunit menjadi lebih besar Rp 84 dibanding bila tidak ada yang rusak
Harga pokok perunit bertambah 0.0025% dari biaya pokok perunit sebelumnya
Jawaban d dan e salah
Lanjutan no.19 jika, produk yang rusak masiih laku dijual seharga Rp. 500.000, maka menjadi berpakah biaya produksi untuk memproduksi pesanan tersebut
Rp. 17.200.000
Rp. 16.700.000
Rp. 500.000
Rp 8.700.000
Jawaban c dan d salah
Jawaban b benar dan c benar


Download Akuntansi Biaya.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Akuntansi Biaya. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon