February 08, 2017

Tugas Makalah FILSAFAT ILMU DAN METAFISIKA DALAM PENGEMBANGAN ILMU


Judul: Tugas Makalah FILSAFAT ILMU DAN METAFISIKA DALAM PENGEMBANGAN ILMU
Penulis: Sendi Devi


Tugas Makalah
FILSAFAT ILMU DAN METAFISIKA
DALAM PENGEMBANGAN ILMU

Di Susun Oleh :
I Nyoman Nelson Giri ( 12b 013 036 )
I Putu Kardhianto ( 12b 013 037 )
I Wayan Sudiartha ( 12b 013 038 )
Ida Ayu Wayan Meryawira S.D ( 12b 013 039 )
Ida Royani ( 12B 013 040 )
PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MATARAM
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kata filsafat berasal dari kata 'philosophia' (bahasa Yunani), diartikan dengan 'mencintai kebijaksanaan'. Sedangkan dalam bahasa Inggris kata filsafat disebut dengan istilah 'philosophy', dan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah 'falsafah', yang biasa diterjemahkan dengan 'cinta kearifan'. Sumber dari filsafat adalah manusia, dalam hal ini akal dan kalbu manusia yang sehat yang berusaha keras dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran dan akhirnya memperoleh kebenaran.
Adapun menurut Kattsoff yang menjadi cabang-cabang filsafat adalah logika, metodologi, metafisika, ontologi dan kosmologi, epistemologi, biologi kefilsafatan, psikologi kefilsafatan, antropologi kefilsafatan, sosiologi kefilsafatan, etika, estetika, dan filsafat agama.
Adapun kata ilmu (science) diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu, atau bagian dari pengetahuan. Menurut J.S Badudu (1996-528) ilmu adalah : Pertama, diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara sistematis. Kedua, ilmu diartikan sebagai 'kepandaian' atau 'kesaktian'.
Sedangkan Maufur (2008:30), menjelaskan bahwa ilmu adalah sebagian dari pengetahuan yang memiliki dan memenuhi persyaratan tertentu, yang artinya ilmu tentu saja merupakan pengetahuan, tetapi pengetahuan belum tentu ilmu. Beberapa syarat suatu pengetahuan untuk dapat masuk katagori sebagai ilmu pengetahuan menurut Maufur (2008:32-34) yaitu sistematik, general, rasional, objektif, menggunakan metode tertentu dan dapat dipertanggung jawabkan.
Jujun S. Suriasumantri menjelaskan bahwa filsafat ilmu merupakan suatu pengetahuan atau epistemologi yang mencoba menjelasakan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tak lagi merupakan misteri.
Dalam filsafat ilmu Persons (Ismaun:2004) dalam studinya melakukan pendekatan sebagai berikut :
Pendekatan received view yang secara klasik bertumpu pada aliran positivsme yang berdasar kepada fakta-fakta.
Pendekatan menampilkan diri dari sosok rasionality yang membuat kombinasi antara berpikir empiris dengan berpikir structural dalam matematika.
Pendekatan fenomenologik yang tidak hanya sekedar pengalaman langsung, melainkan pengalaman yang mengimplikasikan pernafsiran dan kalsifikasi.
Pendekatan metafisik, yang bersifat intransenden. Moral berupa sesuatu yang objektif universal.
Pragmatisme, walaupun bukan tetapi menarik disajikan, karena dapat menyatukan antara teori dan praktek.
Dimensi kajian filsafat ilmu antara lain dimensi ontologi, epistemologi,dan akseologi yang mana dalam dimensi ontologi yang menjadi bagian dari objek kajiannya adalah metfisika.
Apa itu metafisika ??? Seringkali ditemukan orang atau berita di televisi yang menyebut kata "metafisika", hal tersebut selalu dikaitkan ke arah yang ghaib (supernatural), ilmu nujum, perbintangan, dan pengobatan jarak jauh yang bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa. Dalam kehidupan sehari-hari secara sadar ataupun tidak manusia selalu membicarakan tentang hal-hal yang berbau metafisika (kepercayaan), hal-hal yang di luar dunia fisik seringkali dikaitkan dengan metafisika. Sebagai contoh sederhana adalah beriman terhadap agama yang dianut, manusia memahami alam semesta diciptakan oleh Tuhan namun seringkali manusia mempertanyakan bagaimana wujud Tuhan?? Apa Tuhan itu ada? selain itu adanya hantu atau jin. Hal ini menunjukkan hubungan antara manusia dan metafisika. Apa sebenarnya metafisika itu? Metafisika merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang mempelajari dan memahami mengenai penyebab segala sesuatu sehingga hal tertentu menjadi ada, dimana di dalamnya menjelaskan studi keberadaan atau realitas. Belajar dasar-dasar metafisika turut mengarahkan manusia untuk berupaya mengerti lebih dalam keberadaannya.
Dengan berpikir matefisis sebagai pengaruh dari belajar dasar-dasar metafisika tersebut dapat meredam hedonisme dan materialisme. Hal ini selaras dengan karakteristik metafisika yang menekankan kepada pengetahuan akal budi, di mana isi dari pengetahuan akal budi itu lebih pasti ketimbang dengan pengetahuan inderawi yang senantiasa dalam perubahan, yang justru metafisika bila dipelajari mendorong orang untuk mempergunakan akal budi dalam proses mencapai realitas rohaniah sebagai realitas mutlak sang pengatur seluruh alam, dan memang realitas mutlak ini dapat digapai oleh akal budi, sehingga memposisikan realitas material tidak penting manakala menghambatnya.
Metafisika pada masa Yunani kuno dikatakan sebagai ilmu mengenai yang ada dalam dirinya sendiri. Dengan metafisika orang ingin memahami realitas dalam dirinya sendiri. Berbicara mengenai yang ada berarti bergaul dengan sesuatu yang sungguh-sungguh riil, sejauh yang ada itu sebagai suatu kondisi semua realitas. Metafisika mempunyai objek kajian yang mengatasi pengalaman indrawi yang bersifat individual. Metafisika bertugas mencari kedudukan yang individual itu dalam konteks keseluruhan. Metafisika mengajak orang untuk tidak terpaku pada pohon ini atau itu atau masalah kesehatan manusia dan lain-lain yang tertentu, tetapi melihat semuanya itu dalam konteks bahwa semua itu ada.
Metafisika pada masa sekarang menjadi bidang filsafat yang memikirkan dan mempelajari hal-hal yang 'mengatasi' atau 'di luar' pembahasan tentang hal-hal yang fisik dan empiris di mana sudut pandang metafisika mengatasi fisika (metaphysica).
Untuk menguraikan lebih jelas dan lengkap tentang metafisika, apa yang pengertian lebih jelas tentang metafisika, bagaimana hubungan antara filsafat ilmu dan metafisika, apa sajakah yang menjadi objek kajian dalam metafisika, bagaimanakah pengaruh tentang kajian metafisika dalam kehidupan dan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, maka kami akan memaparkannya dalam makalah kelompok kami yang berjudul FILSAFAT ILMU DAN METAFISIKA.
Rumusan Masalah
Untuk dapat menjelaskan lebih mendalam menganai filsafat ilmu dan metafisika adapun rumusan masalah yang mejadi kajiannya :
Apakah yang dimaksud dengan metafisika ?
Bagaimanakah hubungan antara filsafat ilmu dan metafisika ?
Apa saja yang menjadi objek kajian dalam metafisika ?
Bagaimanakah pengaruh tentang kajian metafisika dalam kehidupan dan dalam pengembangan ilmu pengetahuan ?
Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
Untuk mengetahui dan menjelasakan pengertian metafisika.
Untuk mengetahui dan menjelaskan hubungan antara filsafat ilmu dan metafisika.
Untuk mengetahui dan menjelaskan objek kajian dalam metafisika.
Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh tentang kajian metafisika dalam kehidupan dan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih kepada para pembacanya mengenai filsafat ilmu dan metafisika, terutama bagi rekan-rekan yang sedang menempuh studi pasca sarjana ilmu hukum di Universitas Mataram.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Metafisika
Metafisika merupakan bagian dari aspek ontologi dalam kajian filsafat. Konsepsi metafisika berasal dari bahansa Inggris : metaphysics, Latin :metaphysica dari Yunani metaphysica (sesudah fisika); dari kata meta (setelah, melebihi) dan physikos (menyangkut alam) atau physis (alam). Metafisika berasal dari kata meta (di balik, tersembunyi) dan fisika (dunia yang tampak). Metafisika adalah bagian dari filsafat ilmu yang memperlajari di balik realitas. Salah satu buku filsafat menyebutkan bahwa metafisika berarti "di balik yang ada". Kedudukan metafisika dalam filsafat ilmu sangat kuat. Metafisika sudah merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Setiap telaah filosofis terdapat unsur metafisik.
Metafisika merupakan bagian falsafah tentang hakikat yang ada di balik fisika (yang nampak). Hakikat tersebut biasanya bersifat abstrak dan di luar jangkauan pengalaman manusia biasa. Matafisika secara prinsip mengandung konsep kajian tentang sesuatu yang bersifat rohani dan tidak dapat diterangkan dengan kaidah penjelasan yang ditemukan dalam ilmu yang lain.
Metafisika merupakan cabang filsafat umum yang bertugas mencari jawaban tentang yang "ada", yaitu filsafat yang memburu hakikat sesuatu yang ada, atau menyelidiki prinsip-prinsip utama. Yang dimaksud dengan "yang ada" atau "being" ialah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Adapun mengenai yang ada itu dibedakan menjadi tiga macam :
Ada dalam objektif atau ada dalam kenyataan, artinya dapat diketahui dengan panca indra manusia;
Ada dalam angan-angan atau ada dalam pikiran; dan
Ada dalam kemungkinan.
Hidup manusia dikelilingi suasana ketiga hal itu, sehingga mewujudkan ada yang sesungguhnya.
Dalam perkembangannya, cabang metafisika yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada, maka penyelidikannya menjadi lebih khusus, sehingga timbul subcabang metafisika yaitu ontology, kosmologi, dan anthropologi. Untuk mendeskripsikan secara lebih jelas posisi dan kedudukan metafisika, dapat dikemukakan bahwa ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia melewati 3 jenis tahapan yaitu :
Abstraksi pertama, yaitu fisika, menggariskan bahwa manusia berpikir ketika mengamati secara indrawi. Dengan berpikir, akal dan budi kita "melepaskan diri" dari pengamatan indrawi tertentu yaitu "materi yang dapat dirasakan". Dari hal-hal yang pertikular dan nyata, ditarik daripadanya hal-hal yang bersifat umum ; itulah proses abstraksi dari cirri-ciri individual. Akal budi manusia, bersama materi yang "abstrak" itu, menghasilkan ilmu pengetahuan yang disebut "fisika" ("physos" = alam)
Abstraksi kedua, yakni matematis. Ini terjadi ketika manusia dapat melepaskan diri dari materi yang kelihatan. Itu terjadi kalau akal budi melepaskan dari materi hanya segi yang dapat dimerngerti. Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis abstraksi dari semua ciri material ini disebut "matesis" ("matematika" – mathesis = pengetahuan, ilmu).
Abstraksi ketiga, teologi atau "filsafat pertama". Dengan meng-"abstrahere" dari semua materi dan berpikir tentang seluruh kenyataan, tentang asal dan tujuannya, tentang asas pembentukannya, bersifat teleology, asas pertama dalam mendapatkan hakikat realitas dan sebagainya. Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu pengatahuan yang disebut teologi atau "filsafat pertama". Akan tetapi kerena pengetahuan ini "datang sesudah" fisika, maka tradisi selanjutnya disebut metafisika.
Sejajar dengan konsep tersebut wilayah filsafat dibagi dalam tiga tingkatan, yakni:
First order criteriologi meliputi metafisika, epistemology, aksiologi, dan logika.
Second order criteriologi meliputi etika, filsafat ilmu, filsafat bahasa, filsafat pikiran.
Third order criteriologi meliputi filsafat hukum, filsafat pendidikan, filsafat sejarah, dan lain-lain.
Metafisika secara tradisional didefinisikan sebagai pengetahuan tentang pengada (being). Di sini metafisika merupakan upaya untuk menjawab problem tentang realitas yang lebih umum, komprehensif, atau lebih fundamental daripada ilmu dengan cara merumuskan fakta yang paling umum dan luas tentang dunia termasuk penyebutan katagori yang paling dasar dan hubungan di antara kategori tersebut.
Metafisika sebagai ilmu mempunyai objeknya tersendiri. Hal ini yang membedakannya dari pendekatan rasional yang lain. Objek telaahan metafisika berbeda dari ilmu alam, matematika, atau ilmu kedokteran. Metafisika berbeda pula dari cabang filsafat lain, seperti filsafat alam, epistemology, etika, dan filsafat ketuhanan.
Nama metafisika yang diberikan pada karya Aristoteles dapat dilihat dari beberapa segi :
Metafisika sebagai etiket bibliografis atas karya Aristoteles,
Metafisika dari segi pedagonis, dalam tanggapan ini, metafisika adalah ilmu yang sulit dan wajar diajarkan sesudah fisika (tentu saja fisika dalam arti yang diberikan oleh Aristoteles)
Metafisika dalam arti filosofis. Pada abad pertengahan, istilah metafisika mempunyai arti filosofis. Metafisika oleh para filsuf Skolastik diberi arti filosofis dengan mengatakan bahwa metafisika ialah ilmu tentang yang ada, karena mencul sesudah dan melebihi yang fisika (physicam et supra physicam). Istilah sesudah yang dimaksudkan di sini ialah bahwa objek metafisika sendiri berada pada abstraksi ketiga. Metafisika sebagai abstraksi datang sesudah fisika dan matematika. Kata melebihi tidak menunjukkan unsur special, ruang. Kata melebihi berarti metafisika melebihi abtraksi yang lain, menempati posisi tertinggi dari semua kegiatan abstraksi, karena menempati jenjang abstraksi paling akhir.
Keberatan terhadap pandangan ini ialah bahwa metafisika sama saja dengan pengetahuan yang bersifat metaempiris, yakni studi mengenai "sesuatu" (ada) yang mengatasi fenomen atau mengatasi realistis fisik yang tampak. Demikianlah sedikit penjelasan dari pengertia metafisika. Metafisika adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari dan memahami mengenai penyebab segala sesuatu sehingga hal tertentu menjadi ada.
Metafisika berasal dari bahasa Yunani ta meta ta physica yang artinya "yang datang setelah fisika". Metafisika yang sering disebut sebagai disiplin filsafat terumit dan memerlukan daya abstraksi sangat tinggi (ibarat seorang mahasiswa untuk mempelajarinya menghabiskan beribu-ribu ton beras), bermetafisika membutuhkan energi intelektual yang sangat besar sehingga membuat tidak semua orang berminat menekuninya. Hubungannya dengan teori kemunikasi, metafisika berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :
Sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan individual dengan realita dalam alam semesta;
Sifat dan fakta bagi tujuan, perilaku, penyebab dan aturan;
Problem pilihan, khususnya bebebasan versus determinase pada prilaku manusia.
Pentingnya metafisika bagi pembahasan filsafat komunikasi, dikutip dari pendapat Suriasumantri (1983) dalam bukunya "filsafat Ilmu" mengatakan bahwa metafisika merupakan suatu hakikat tentang keberadaan zat, hakikat pikiran, dan hakikat kaitan zat dengan pikiran.
Metafisika adalah sebuah kekuatan yang terletak pada kekuatan mental, akal pikiran, hati, jiwa serta semua fisik tubuh manusia, yang mana manusia bisa membangkitkan kinerja semua unsur tubuh mereka, maka mereka memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.
Hubungan antara Filsafat Ilmu dan Metafisika
Kedudukan metafisika dalam dunia filsafat sangat kuat. Pertama, metafisika merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Kedua, telaah filosofis terdapat unsur metafisik merupakan hal yang signifikan dalam kajian filsafat. Ini tentu sejajar dengan signifikannya yang menyebut bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu.
Menurut Kattsoff, metafisika termasuk salah satu dari cabang-cabang filsafat yaitu hal-hal yang terdapat sesudah fisika, hal yang terdapat d balik yang nampak. Metafisika oleh Aristoteles disebut sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang ada, yang dilawankan dengan yang ada sebagai yang digerakkan atau yang ada sebagai yang dijumlahkan. Kita dapat mendefinisikan metafisika sebagai bagian pengetahuan manusia yang berkaitan dengan pertanyaan mengenai hakikat yang ada yang terdalam. Secara singkat, dapat dinyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini menyangkut persoalan kenyataan sebagai kenyataan, dan berasal dari perbedaan yang cepat disadari oleh setiap orang, yakni perbedaan antara yang tampak (apprence) dengan yang nyata (reality).
Dalam filsafat ilmu menurut Persons (Ismaun:2004) dalam studinya melakukan pendekatan salah satunya adalah pendekatan metafisika, yang bersiifat intransenden. Moral berupa sesuatu yang objektif universal.
Dalam dimensi kajian filsafat ilmu dibagi menjadi dimensi ontologi, dimensi epistemologi, dan dimensi aksiologis. Metafisika termasuk dalam objek kajian pada dimensi ontologi. Metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang hal-hal yang sangat mendasar yang berada di luar pengalaman manusia. Metafisika mengkaji segala sesuatu secara komprehensif. Menurut Asmoro Achmadi (2005:14), metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan sesuatu yang bersifat 'keluarbiasaan' (beyond nature), yang berada di luar pengalaman manusia (immediate experience). Menurut Achmadi, metafisika mengkaji sesuatu yang berada di luar hal-hal yang biasa yang berlaku pada umumnya (keluarbiasaan), atau hal-hal yang tidak alami, serta hal-hal yang berada d luar kebiasaan atau di luar pengalaman manusia.
Objek Kajian Metafisika
Metafisika adalah cabang tertua dari filsafat, umurnya sama tuanya dengan filsafat itu sendiri. Kelahirannya diawali oleh suatu ketertarikan untuk mengungkap misteri dibalik realitas ini,sama dengan maksud istilahnya yaitu :meta berarti dibalik,dan fisika yang berarti alam fisik . Yang dalam bahasa arab dimengerti sebagai (apa yang ada dibalik fisik ) .Maka metafisika adalah pengetahuan spekulatif filosofis tentang realitas,dimana pengetahuan spekulatif filosofis itu dimaksudkan sebagai menjangkau sesuatu dibalik yang fisik.
Persoalannya apakah pengetahuan spekulatif filosofis itu merupakan gambaran yang benar dari sesuatu yang ada dibalik yang fisik?. Terhadap pertanyaan ini setidaknya ditemukan 2 pandangan : Pandangan pertama melihat bahwa berbagai peristiwa yang terjadi pada alam nyata ini adalah wujud belaka dari apa yang terjadi dialam yang lebih hakiki yang tempatnya berada jauh disana. Dalam sejarah filsafat Plato disebut sebagai filsuf pertama yang berpandangan demikian. Dalam skema pemikiran Plato ditemukan bahwa ia membagi dunia menjadi 2 yaitu: Dunia intelegible sebagai dunia hakiki, dan dunia sensible sebagai dunia yang nyata yang sifatnya sementara dan tidak hakiki. Pandangan kedua menyatakan bahwa yang dimaksud dengan sesuatu dibalik yang fisik tidak lain merupakan alam pikiran manusia tentang suatu alam yang dianggapnya sebagai alam lain itu. Alam pikiran yang demikian inilah yang disebut Metafisika. Kedua pandangan diatas memang sulit didamaikan dan akan tetap bertahan pada pendiriannya masing-masing. Hanya saja dalam kajian filsafat pandangan yang pertama biasa disebut metafisika in the old fashion (metafisika klasik), sedangkan pandangan yang kedua disebut metafisika in the new fashion yakni metafisika dalam maknanya yang baru.
Namun harus diakui sejak abad 16 kajian metafisika tidak lagi menarik para ilmuan untuk membahasnya, bagi mereka kajian adalah kuno dan merupakan tindakan kemunduran ke abad pertengahan. Pemukul genderang pemikiran ini adalah filsuf August comte dengan teorinya positivisme. Dalam teorinya itu August comte membagi sejarah pemikiran manusia ke dalam 3 tahap : yaitu mitologi, metafisik dan positif. Karenanya filsafat Comte disebut positivisme. Sampai saat ini kematian metafisika telah mencapai angka 500 tahun,sebuah waktu yang tidak bisa dikatakan pendek untuk sebuah ilmu dan baru sekitar 1 dasawarsa terakhir ini kajian metafisika mulai diminati kembali bahkan menunjukkan perkembangan yang cukup signiifikan.Bisa dikatakan bahwa dewasa ini metafisika telah tampil dengan objek kajian yang lebih spesifik ,meski tetap pada sifat dasarnya yaitu hanya melihat apa yang ada dibalik yang fisik.
Metafisika mengandung klasifikasi yang meliputi, pertama Metaphysica Generalis (ontology); ilmu tentang yang ada atau pengada. Metafisika umum membahas mengenai yang ada sebagai yang ada artinya prinsip-prinsip umum yang menata realitas. Metafisika umum untuk seterusnya digunakan istilah ontologi mengakaji realitas sejauh dapat diserap oleh indra. Cabang utama metafisika adalah ontology, studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat dan kemungkinan.
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologism ialah seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan.
Kedua, Metaphysica Specialis atau metafisika khusus yaitu membahas penerapan prinsip-prinsip kedalam bidang-bidang khusus teologi, kosmologi, dan antropologi. Metafisika khusus mengkaji realitas yang tidak dapat diserap oleh indra. Adapun metafisika khusus terdiri atas :
Teologi.
Teologi adalah cabang filsafat yang merupakan bagian dari kajian metafisika. Teologi merupakan pemikiran filosifis tentang persoalan ketuhanan. Hal ini sesuai dengan makna dasarnya yang berasal dari 2 kata, yaitu Theo yang berarti tuhan dan logy yang berarti ilmu .Jadi theology adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang dikaitkan dengan ketuhanan. Maka dalam perjalanannya kajian teologi membahas secara filosofis pokok-pokok agama sebagai hal-hal yang dikaitkan dengan tuhan.
Cosmologi
Cosmologi merupakan bagian dari kajian metefisika, terkait dengan pokok yang dibicarakan cosmologi biasa disebut fisafat alam. Dilihat dari kata dasarnya cosmology bersal dari kata cosmos yang berarti aturan atau keseluruhan yang teratur,sebagai lawan kata dari chaos yang berarti kekacau-balauan. Maka sebenarnya cosmologi adalah pengetahuan filosofis tentang keteraturan alam.
Antropologi
Antropologi merupakan salah satu bagian dari kajian metafisika. Berasal dari kata yunani yaitu Anthropos yang berarti manusia. Antropologi merupakan bagian dari kajian metafisika yang membicarakan soal hakikat manusia. Sepanjang sejarah filsafat persoalan manusia terus menerus dicoba untuk diungkapkan. Telah banyak karya mengenai apa sebenarnya yang disebut manusia itu, semakin digali dan diperdalam persoalan manusia semakin menarik perhatian.Namun masih banyak teka-teki mengenai manusia yang belum bisa terjawab juga bahkan sampai hari ini.
Jadi, Metafisika umum membahas mengenai yang ada sebagai yang ada, artinya prinsip-prinsip umum yang menata realitas. Sedangkan metafisika khusus membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam bidang-bidang khusus : teologi, kosmologi dan antropologi. Pemilahan tersebut didasarkan pada ada dapat tidaknya diserap melalui perangkat indrawi suatu objek filsafat pertama. Metafisika umum mengkaji realitas sejauh dapat diserap melalui indra sedang metafisika khusus (metafisika) mengkaji realitas yang tidak dapat diserap indra, apakah itu realitas ketuhanan (teologi), semesta sebagai keseluruhan (kosmologi) maupun hakekat manusia (antropologi).
Objek metafisika menurut Aristoteles, ada dua, yakni :
Ada sebagai yang ada; ilmu pengetahuan mengkaji yang ada itu dalam bentuk semurni-murninya, bahwa suatu benda itu sungguh-sungguh ada dalam arti kata tidak terkena perubahan, atau dapat diserapnya oleh pancaindra. Metafisika disebut juga ontologi.
Ada sebagai yang Illahi; keberadaan yang mutlak yang tiada bergantung pada yang lain, yakni Tuhan (Illahi berarti yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra). Epistemologi; merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode dan batasan pengetahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin, nature, methods ans limits of human knowledge)
Dengan membincangkan metafisika member pemahaman bahwa filsafat mencakup "segalanya". Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan. Disebut "sebelum" karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut "sesudah" karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentan batas-batas dari kekhususannya. Maka metafisika memiliki ruang lingkup pokok bahasan yang mencakup :
Pertama tentang kajian ikuiri keapa yang ada (exist), atau apa yang betul-betul ada,
Kedua tentang, ilmu pengetahuan tentang realitas, sebagai lawan dari yang tampak (appearance),
Ketiga, studi tentang dunia secara menyeluruh dengan segala teori tentang asas pertama (first principle); prima causa yang wujud di alam (kosmos).
Pengaruh Tentang Kajian Metafisika dalam kehidupan dan dalam pengembangan ilmu pengetahuan
Metafisika dan Pengalaman Hidup
Filsafat termasuk metafisika, merupakan ilmu yang menentang arus, dalam arti cara kerjanya lumayan berbeda dari cara kerja ilmu pengetahuan yang lainnya. Dengan filsafat (metafisika) orang dapat menunjukkan bahwa manusia tidak hanya sekedar makhluk yang bisa makan, menikmati kenakan dunia dan alam semesta. Filsafat bertugas tidak lain menggemakan kenyataan. Dengan berfilsafat, manusia menggemakan lagi nada metafisik kenyataanya yang sudah pudar oleh hingar-bingarnya perjuangan memenuhi kebutuhan fisik belaka. Filsafat terus dan tidak bosan-bosannya menggemakan suara kebenaran dan kebaikan, yang hamper sirna oleh pertarungan kepentingan sesaat manusia dan usaha menipulasi yang sering tidak terkendali.
Sebagai manusia yang dari kodratnya berakal budi kita semua mempunyai kemampuan filosofis. Dengan akalnya, manusia mencari rumusan baru tentang kenyataan fisik dan metafisik. Dalam perumusan sudah tersirat tanda bahwa manusia tidak terikat oleh apa yang kini dipegangnya, karena perumusan merupakan kegiatan abstraksi dari kenyataan. Filsafat dalam kedudukannya sebagai salah satu ilmu, bertugas mengeksplisitkan prinsip hidup yang sedikit banyak masih implisit adanya dalam diri setiap orang. Filsafat ingin mengangkat ke permukaan kebijaksanaan hidup yang lebih sering didominasi oleh keputusan kepentingan tertentu. Metafisika akan menemukan jawaban dari ketidakpastian hidup, yang mungkin ada.
Filsafat (metafisika) tidak pernah berangkat dari dunia awang-awang atau khayalan. Titik tolaknya selalu pengalaman nyata inderawi. Pengalaman itu disistematisasi. Kemudian berdasarkan pengalaman itu, dibangun refleksi yang spesifik. Filsafat mengangkat pengalaman hidup untuk mencari prinsip-prinsip dasar. Dengan demikian diharapkan bahwa kita sampai pada Sang Illahi yang disbut Allah oleh orang yang beragama. Selain itu, dengan mendasari keterbatasan daya piker manusia, metafisika mengajarkan pada kita kebijaksanaan hidup. Hidup perlu ditangkap dalam keseluruhannya, tetapi tidak berarti kita memahami kehidupan itu secara tuntas.
Dari segi bahasa, metafisika bersifat integratif dan indikatif. Dengan metafisika kita berusaha menyatakan semua pengalaman kita dengan mengangkat dasarnya yang paling dalam.
Dunia metafisik kadang-kadang tidak terjangkau oleh nalar orang biasa. Pengalaman metafisik merupakan wilayah batin yang dikongkretkan ide-ide yang lahir dari indrawi manusia, selanjutnya diaktualisasi lewat kata-kata. Kata yang bersifat metafisik, akan mengantarkan manusia berpikir di balik realitas.
Metafisika dalam Pengembangan Ilmu
Manusia mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran yang pertama yang dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal gaib (supranatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.Pemikiran seperti ini disebut pemikiran supernaturalisme.Dari sini lahir tafsiran-tafsiran cabang misalnya animisme.Selain faham diatas, ada juga paham yang disebut paham naturalisme.Paham ini amat bertentangan dengan paham supernaturalisme.Paham naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat dalam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan diketahui.Orang orang yang menganut paham naturalisme ini beranggapan seperti itu karena standar kebenaran yang mereka gunakan hanyalah logika akal semata, sehingga mereka menolak keberadaan hal-hal yang bersifat gaib itu.Dari paham naturalism ini juga muncul paham materialisme yang menganggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi.Salah satu yang menggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi.Salah satu pencetusnya ialah Democritus (460 – 370 SM).Adapun bagi mereka yang mencoba mempelajari mengenai makhluk hidup.Timbul dua tafsiran yang masih saling bertentangan yakni paham mekanistik dan paham vitalistik.Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansif dengan hanya sekedar gejala kimia-fisika semata berbeda halnya dengan telah mengenai akal dan pikiran, dalam hal ini ada dua tafsiran tang juga saling berbeda satu sama lain. Yakni faham monoistik dan dualistic. Sudah merupakan aksioma bahwa proses berfikir manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (objek) yang ditelaahnya. Dari sini aliran monoistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat. Keduanya (pikiran dan zat) hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama. Perndapat ini ditolak oleh kaum yang menganut paham dualistic.Dalam metafisika, penafsiran dualistic membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda secara subtsansif.Aliran ini berpendapat bahwa yang ditangkap oleh fikiran adalah bersifat mental.Maka yang bersifat nyata adalah fikiran, sebab dengan berfikirlah maka sesuatu itu lantas ada.
Metafisika ternyata dapat penentangan dari beberapa ilmuan, antara lain adalah yang menganut paham positivism dari paham positivism logis dengan menyatakan bahwa metafisika tidak bermakna, Alfred, J. Ayer menyatakan bahwa sebagian besar perbincangan yang dilakukan oleh para filosof sejak dahulu sesungguhnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dan juga tidak ada gunanya, problem yang diajukan dalam bidang metafisika adalah problem semu, artinya permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dijawab, berkaitan dengan pendapat ayer tersebut, Katsoff menyatakan bahwa agaknya ayer berupaya untuk menunjukan bahwa naturalism, materialism, dan lainnya merupakan pandangan yang sesat, ayer menunjang argumentasinya dengan membuat criterion of verifiability atau keadaan dapat diverifikasi, penentang lain Luwig Winttgenstien menyatakan bahwa metafisika bersifat the mystically, hal-hal yang tak dapat diungkapkan ke dalam bahasa yang bersifat logis. Wittgenstien menyatakan terdapat tiga perosalaan dalam metafisika :
Subjek, dikatakanya bukan merupakan dunia atau bagian dari dunia, melainkan lebih dapat dikatakan sebagaibatas dari dunia
Kematian,kematinan bukanlah sebuah peristiwa dalam kehidupan, manusia tidak hidup untuk mengalami pengalaman kematian
Tuhan, ia tidak menampakkan diri-Nya di dunia dengan demikian Wittgenstein menyimpulkan, bahwa sesuatu yang tidak dapat diungkapkan secara logis sebaikna didiamkan saja.
Namun pada kenyataanya banyak ilmuan besar, terutama albert Einstein yang merasakan perlunya membuat formula konsepsi metafisika sebagai keonsekuensi dari penemuan ilmiahnya, manfaat metafisika bagi pengembangan ilmu dikatakan oleh Thomas Kuhn terletak pada awal terbetnuknya paradigm ilmiah, yakni ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap faktanya, maka ia mesti dipasok dari luar, antara lain adalah ilmu pengetahuan lain, peristiwa sejarah, pengalaman personal, dan metafisika. misalnya adalah upaya-upaya untuk memecahkan masalah yang tak dapat dipecahkan oleh paradigm keilmuan yang lama dan selama ini dianggap mampu memecahkan masalah dan membutuhkan paradigm baru, pemecahan masalah baru, hal ini hanya dapat dipenuhi dari hasil perenungan metafisika yang dalam banyak hal memang bersifat spekulatif dan intuitif, hingga dengan kedalaman kontemplasi serta imajinasi akan dapat membuka kemungkinan-kemungkinan atau peluang-peluang konsepsi teoritis, asumsi, postulat, tesis dan paradigma baru untuk memecahkan masalah yang ada.
Sumbangan metafisika terhadapilmu pengetahuan tidak dapat disangkal lagi adalah pada fundamental ontologisnya, sumbangan metafisika pada ilmu pengetahuan adalah persinggunggan antara metafisika dan ontology dengan epistimologi. Dalam metafisika yang mempertanyakan apakah hakikat terdalam dari kenyataan yang diantaranya dijawab bahwa hakikat terdalam dari kenyataan adalah materi, maka munculah paham materialism, sedangkan dalam epistimologi yang dimulai dari pertanyaan bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? yang dijawab salah satunya oleh Descartes, bahwa kita memperoleh pengetahuan melalui akal, maka munculah rasionalisme, John Locke yang menjawab pertanyaan tersebut bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman, maka ia telah melahirkan aliran empirisme dan lainya berbagai perdebatan dalam metafisika mengenai realitas, ada tidak dan lainya sebagaimana telah dikemukan di dalamyang telah melahirkan berbagai pandangan yang berbeda satu sama lain secara otomatis juga melahirkan berbagai aliran pemahaman yang lazim dinyatakan sebagai aliran-aliran filsafat awal, ketika pemahaman-pemahaman aliran-aliran filsafat tersebut dipertemukan dengan ranah epistimologi atau dihadapkan pada fenomena dinamika perkembanga illmu pengetahuan.
Metafisika menuntut orisinalitas berpikir yang biasanya muncul melalui kontemplasi atau intuisi berupa kilatan-kilatan mendadak akan sesuatu, hingga menjadikan para metafisikus menyodorkan cara berpikir yang cendertung subjektif dan menciptaan terminology filsafat yang khas. situasi semacam ini dinyatakan oleh Van Peursen sangat diperlukan untuk pengembangan ilmu dalam rangka menerapkan heuristika. berkaitan dengan pembentukan minat intelektual, maka metafisika mengajarkan mengenai cara berpikir yang serius dan mendalam tentang hakikat-hakikat segala sesuatu yang bersifat enigmatik, hingga pada akhirnya melahirkan sikap ingin tahu yang tinggi sebagaimana mestinya dimiliki oleh para intelektual. Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama sebagai kebenaran yang paling akhir.
Beberapa ahli kemudian merumuskan beberapa manfaat filsafat ilmu dan metafisika dalam pengembangan ilmu :
Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah, ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka ia harus dipasok dari luar, antara lain : metafisika, sains yang lain, kejadian personal dan historis. (Kuhn)
Metafisika mengajarkan cara berfikir yang serius, terutama dalam menjawab promlem yang bersifat enigmatif (teka-teki), sehingga melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yang mendalam.(Kennick)
Metafisika mengajarkan sikap open-ended, sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka untuk temuan dan kreativitas baru.(Kuhn)
Perdebatan dalam metafisika melahirkan berbagai aliran, mainstream seperti : Monisme, Dualisme, Pluralisme, sehingga memicu proses ramifikasi, berupa lahirnya percabangan ilmu (Kennick)
Metafisika menuntut orisinalitas berfikir, karena setiap metafisikus menyodorkan cara berfikir yang cenderung subjektif dan menciptakan terminology filsafat yang khas. Situasi semacam ini diperlukan untuk pengembangan ilmu dalamrangka menerapkan heuristika.(Van Peursen)
Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama (First Principle) sebagai kebenaran yang paling akhir. Kepastian ilmiah dalam metode skeptic Descartes hanya dapat diperoleh jika kita menggunakan metode deduksi yang bertitik tolak dari premis yang paling kuat (Cogito ergo sum) Skeptis-Metodis Rene Descartes
Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia memiliki kebebasan untuk merealisasikan dirinya sekaligus bertanggungjawab bagi diri, sesame, dan dunia. Penghayatan atas kebebasan di satu pihak dan tanggungjawab di pihak lain merupakan sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yang sarat dengan nilai (not value-free). (Bakker)
Metafisika mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan pengada yang lain. Aplikasi dalam ilmu berupa komunikasi antar ilmuwan mutlak dibutuhkan, tidak hanya antar ilmuwan sejenis, tetepi juga antar disiplin ilmu, sehingga memperkaya pemahaman atas realitas keilmuwan.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya maka dapat tarik kesimpulan sebagai berikut :
Metafisika adalah merupakan cabang filsafat yang bertugas mencari jawaban tentang yang 'ada' yaitu filsafat yang memburu hakikat sesuatu yang ada atau menyelidiki prinsip-prinsip utama.
Hubungan antara filsafat ilmu dan metafisika adalah bahwa kedudukan metafisika dalam dunia filsafat sangat kuat. Pertama, metafisika merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Kedua, telaah filosofis terdapat unsur metafisik merupakan hal yang signifikan dalam kajian filsafat. Ini tentu sejajar dengan signifikannya yang menyebut bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu.
Yang menjadi objek kajian dalam metafisika adalah metafisika umum membahas mengenai yang ada sebagai yang ada, artinya prinsip-prinsip umum yang menata realitas. Sedangkan metafisika khusus membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam bidang-bidang khusus : teologi, kosmologi dan psikologi. Pemilahan tersebut didasarkan pada ada dapat tidaknya diserap melalui perangkat indrawi suatu objek filsafat pertama. Metafisika umum mengkaji realitas sejauh dapat diserap melalui indra sedang metafisika khusus (metafisika) mengkaji realitas yang tidak dapat diserap indra, apakah itu realitas ketuhanan (teologi), semesta sebagai keseluruhan (kosmologi) maupun kejiawan (psikologi).
Pengaruh tentang kajian metafisika
Dalam kehidupan, dengan kedudukannya sebagai salah satu ilmu , filsafat (metafisika) bertugas mengeksplisitkan prinsip hidup yang sedikit banyak masih implisit adanya dalam diri seseorang. Filsafat ingin mengangkat ke permukaan kebijaksanaan hidup yang lebih sering didominasi oleh kepentingan tertentu. Metafisika akan menemukan jawaban dari ketidakpastian hidup, yang mungkin ada.
Sumbangan metafisika terhadap ilmu pengetahuan tidak dapat disangkal lagi adalah pada fundamental ontologisnya, sumbangan metafisika pada ilmu pengetahuan adalah persinggunggan antara metafisika dan ontology dengan epistimologi. Manfaat filsafat ilmu dan Metafisika bagi Pengembangan Ilmu :
Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigm ilmiah
Metafisiuka mengajarkan cara berfikir yang serius
Metafisika mengajarkan sikap open-ended
Perdebatan dalam metafisika melahirkan berbagai aliran
Metafisika menuntut orisinalitas berfikir
Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama (First Principle) sebagai kebenaran yang paling akhir.
Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia memiliki kebebasan untuk merealisasikan dirinya sekaligus bertanggungjawab bagi diri, sesame, dan dunia.
Metafisika mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan pengada yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Bagus, Lorens. 1991. Metafisika. Jakarta : Gramedia.
Bekker, Anton. 1994. Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Penerbit Kansius
Delfgaauw,B, 1988. Ontologi dan Metafisika dalam Soejono Soemargono (Ed) Berpikir Secara Kefilsafatan Yogyakarta : Nur Cahaya.
Edi Subkhan. 2008. Metafisika dan Ilmu Pengetahuan. Universitas negeri Jakarta.
Endraswara, Suwardi, 2013. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : FBS Universitas Negeri Yogyakarta.
Fakhry, Majid,1987,A History of Islamic Philsopy alih bahasa R. Mulyadi Kartanegara. Sejarah Filsafat Islam. Jakarta : Pustaka Jaya,.
Mustofa, A. 2007. filsafat islam. Bandung : Pustaka Setia.
Siswanto, Joko. 2004. Metafisika Sistematik. Yogyakarta: Penerbit Taman Pustaka Kristen.
Suriasumantri, Jujun. 2008. Filsafat Ilmu sebuah pengantar popular. Jakarta : Sinar Harapan.
Susanto. A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta : PT. Bumi Aksara.


Download Tugas Makalah FILSAFAT ILMU DAN METAFISIKA DALAM PENGEMBANGAN ILMU.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Tugas Makalah FILSAFAT ILMU DAN METAFISIKA DALAM PENGEMBANGAN ILMU. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon