February 07, 2017

MAKALAH RASHDUL KIBLAT


Judul: MAKALAH RASHDUL KIBLAT
Penulis: Ariri Koshitafu


HYPERLINK "http://adf.ly/XOMtD" \t "_blank" MAKALAH RASHDUL KIBLAT
  ATAU ARAH KIBLAT
ssI.                   PENDAHULUAN
Berdasarkan tinjauan astronomis atau ilmu falak, terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat diantaranya adalah menggunakan kompas, theodolit, rasi bintang, matahari dan yang paling mudah adalah saat matahari tepat di atas Ka'bah (Makkah) yang dikenal dengan istilah Istiwa A'zam (Istiwa Utama). Di kalangan masyarakat pesantren di Indonesia istilah yang cukup dikenal adalah "zawal" atau "rashdul qiblat". Istiwa adalah fenomena astronomis saat posisi matahari melintasi meridian langit.Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda masuknya waktu shalat Zuhur. Pada saat tertentu di sebuah daerah dapat terjadi peristiwa yang disebut Istiwa Utama atau 'Istiwa A'zam' yaitu saat posisi matahari berada tepat di titik Zenith (tepat di atas kepala) suatu lokasi dimana peristiwa ini hanya terjadi di daerah antara 23,5˚ Lintang Utara dan 23,5˚ Lintang Selatan.
Istiwa Utama yang terjadi di kota Makkah dapat dimanfaatkan oleh kaum Muslimin di negara-negara sekitar Arab khususnya yang berbeda waktu tidak lebih dari 5 (lima) jam untuk menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik bayangan matahari. Istiwa A'zam di Makkah terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli pada tahun-tahun biasa. Sedangkan untuk tahun-tahun Kabisat dan setahun berikutnya tanggal ini kadang maju 1 hari (27 Mei dan 15 Juli).
Fenomena Istiwa Utama terjadi akibat gerakan semu matahari yang disebut gerak tahunan matahari (musim) sebab selama bumi beredar mengelilingi matahari sumbu bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun terlihat di bumi matahari mengalami pergeseran 23,45˚ LU sampai 23,45˚ LS. Saat nilai azimuth matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa Utama yaitu melintasnya matahari melewati zenith lokasi setempat.
Teknik penentuan arah kiblat saat Rashdul Kiblat sebenarnya sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah. Demikian halnya di Indonesia dan beberapa negara Islam yang lain juga banyak menggunakan teknik ini. Sebab teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebatang tongkat lurus dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa Utama tersebut maka arah bayangan tongkat menunjukkan kiblat. HYPERLINK "file:///E:\\CHOLIEQ\\Kumpulan_Makalah_Makalah\\Makalah%20Rashdul%20Kiblat.docx" \l "_ftn1" \o "" [1]UNDUH DISINIII.                RUMUSAN MASALAH
A.    Menentukan sudut pembantu.
B.     Menentukan sudut waktu matahari.
C.    Menentukan waktu bayangan matahari kearah kiblat.
III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan penentuan rashdul kiblat
Rashdul kiblat semakna dengan jalan ke kiblat. Karena pada waktu itu bayang-bayang benda yang mengenai suatu tempat menunjukan arah kiblat. Yang dimaksud dengan bayang-bayang matahari ke arah kiblat adalah bayangan benda yang berdiri tegak dan di tempat yang datar pada saat tertentu (sesuai hasil perhitungan ) menunjukan (mengarah) arah kiblat. Rashdul kiblat ada dua jenis yaitu rashdul Kiblat Tahunan dan Rashdul kiblat harian. rashdul kiblat tahunan ditetapkan tanggal 27/28 Mei dan tanggal 15/16 Juli pada tiap-tiap tahun sebagai "Yaumur Rashdul kiblat". Sedangkan untuk Rashdul kiblat harian bisa dicari dengan menggunakan perhitungan. HYPERLINK "file:///E:\\CHOLIEQ\\Kumpulan_Makalah_Makalah\\Makalah%20Rashdul%20Kiblat.docx" \l "_ftn2" \o "" [2]Namun demikian pada hari-hari selain tersebut mestinya juga dapat ditentukan jam rusyd al-qiblat, yakni bayang-bayang suatu benda menuju arah kiblat dengan bantuan sinar matahari, konsep inilah yang kemudian dikenal dengan " bayang-bayang kiblat". Perlu diketahuai bahwa jam rushd al-qiblat tiap hari mengalami perubahan karena terpengaruh oleh deklinasi matahari. Metode ini menurut penulis dapat diberi istilah As-Syamsufi Madaril Qiblah.Penentuan arah kiblat ditentukan berdasarkan bayang-bayang sebuah tiang atau tongkat padawaktu tertentu. Alat yang dipergunakan antara lain adalah bencet, miqyas atau tongkat istiwa. Metode ini zenith Ka'bah. Posisi lintang Ka'bah yang lebih kecil dari nilai deklinasi maksimum matahari menyebabkan matahari dapat melewati Ka'bah sehingga hasilnya diakui lebih akurat dibandingkan dengan metode-metode yang lain.
Peristiwa rashdul kiblat menurut Selamet Hambali dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu rashdul kiblat local dan rashdul kiblat global. Rashdul kiblat local dapat diperhitungkan dengan beberapa rumus. Rumus pertama: cotg A = sin LT × Cotg AQ, kemudian dihitung dengan rumus ke dua yaitu Cos B = Tan Dekl × Cotg LT × Cos A = +A. Setelah itu dikonversi sesuai dengan waktu daerahnya masing-masing.
Sedangkan rashdul kiblat global terjadi dalam satu tahun sebanyak dua kali, yaitu pada setiap tanggal 27 mei (tahun kabisat) atau 28 mei (tahun bashitah) pada pukul 11:7 LMT (local Mean Time) dan pukul 12:06 LMT (local Mean Time). Karena pada kedua tanggal dan jam tersebut nilai dklinasi matahari hamper sama dengan lintang Ka'bah tersebut. Dengan demikian, apabila waktu Makkah (LMT) tersebut dikonversi menjadi waktu Indonesia Bagian Barat (WIB), maka harus ditambah dengan 4 jam 21 menit sama dengan 16:18 WIB dan 16:27 WIB. Oleh karena itu, kaum muslimin dapat mengecek arah kiblat  pada setiap tanggal 27 atau 28 Mei jam 16:18 WIB, karena bayangan matahari akan membelakangi arah kiblat, demikian pula setiap tanggal 15 atau 16 Juli jam 16:27 WIB. Dalam beberapa referensi, waktu rashdul  kiblat ini dapat digunakan dalam beberapa hari, berkisar 1 hari sebelum dan 1 hari setelah tanggal tersebut.
Setelah lebih mudah dan dapat dilakukan oleh setiap orang, hasil pengukuran metode ini lebih akurat, dengan syarat penandaan waktu yang tepat. Meskipun demikian, metode tersebut masih memiliki kelemahan. Pertama, dari segi waktu yang sangat terbatas selama empat hari yaitu tanggal 27 dan 28 Mei serta tanggal 15 dann16 Juli. Kedua, dari segi letak geografis Negara kita yang berada di daerah khatulistiwa menyebabkan Negara kita beriklim tropis mempunyai curah hujan yang cukup tinggi. Akibatnya, aplikasi metode tersebut di lapangan tidak dapat dilakukan manakala cuaca mendung atau hujan. Meskipun pada dasarnya ada perhitunganuntuk menentukan jam Rashdul Kiblat harian.
Adapun teknik penentuan arah kiblat menggunakan istiwa utama (Rashdul kiblat global) ini yaitu:
1)      Tentukan lokasi masjid/mushola atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya.
2)      Sediakan tongkat lurus sepanjang 1 sampai 2 meter dan peralatan . lebih baik menggunakan benang berbandul agar tegak benar. Siapkan juga jam/arloji yang sudah di cocokan / dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio /televesi/internet.3)      Cari lokasi dihalaman depan masjid yang mendapatkan sinar matahari serta memiliki permukaan tanah yang datar lalu pasang tongkat dengan tegak.
4)      Tunggu sampai saat istiwa utama terjadi dan berilah tanda menggunakan spidol, benang kasur yang dipakukan, lakban, penggaris atau alat lain yang dapat membuat tanda lurus.
5)      Di Indonesia peristiwa rashdul kiblat global terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menuju ke Timur (membelakangi arah kiblat). Arah sebaliknya yaitu bayangan kearah barat agak serong ke utara merupakan arah kiblat yang tepat.6)      Gunakan tali atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan arah kiblat ke dalam masjid/rumah dengan mensejajarkan arah bayangannya.
7)      Tidak hanya tongkat yang dapat digunakan untuk melihat bayangan. Menara, sisi selatan bangunan masjid, tiang listrik, tiang bendera, benda-benda lain yang tegak, atau dengan tekhnik lain misalnya bandul yang kita gantung menggunakan tali sepanjang beberapa meter maka bayangannya menunjukan arah kiblat.
Namun, kita dapat menghitung jam rashdul kiblat local pada hari dan lokasi manapun yang kita inginkan. HYPERLINK "file:///E:\\CHOLIEQ\\Kumpulan_Makalah_Makalah\\Makalah%20Rashdul%20Kiblat.docx" \l "_ftn3" \o "" [3]B.     Menentukan rumus-rumus Rashdul Kiblat
Adapun rumus-rumus untuk mengetahui kapan bayang-bayang matahari kearah kiblat pada setiap harinya adalah:
1.      Rumus Mencari Sudut Pembantu (U)
Cotan U = tan B ྾ sin ф྾
2.      Rumus Mencari Sudut waktu (t)
Cos (t-U) = tan δm cos U ÷ tan ф྾
3.      Rumus Menentukan Arah Kiblat Dengan Waktu Hakiki (WH)
WH           = PK.12 + t (Jika B= UB/SB)
                  = pk.12 – t (jika B= UT/ST)
4.      Rumus Mengubah Dari Waktu Hakiki (WH) ke waktu daerah (WIB, WITA, WIT)
WD (LMT)= WH – e + (BTd - BT྾) ÷ 15
Keterangan :U               adalah  Sudut pembantu
t-U             ada dua kemungkinan, yaitu positif dan negative. Jika U negative (-), maka t-U tetap positive. Sedangkan jika U positif (+), maka t-U harus diubah menjadi negative.
t                 adalah  sudut waktu matahari saat bayangan benda yang berdiri tegak lurus menunjukan arah kiblat.
δm                   adalah  deklinasi matahari. Untuk mendapatkan hasil yang akurat tentu tidak cukup sekali. Tahap awal menggunakan data pukul 12 WD (pk.12 WIB = pk.05 GMT), tahap kedua diambil sesuai hasil perhitungan data tahap awal dengan mengguanakan interpolasi.
WH           adalah waktu hakiki, orang sering menyebut waktu istiwak, yaitu waktu yang didasarkan kepaa peredaran matahari hakiki dimana pk. 12.00 senantiasa didasarkan saat matahari tepat berada di meridian atas.WD          adalah singkatan dari Waktu Daerah yang juga disebut LMT singkatan dari Local Mean Time, yaitu waktu pertengahan untuk wilayah Indonesia, yang meliputi Waktu Indonesia Barat (WIB) dan Waktu Indonesia Tengah (WITA) dan Waktu Indonesia Timur (WIT).
e                adalah Equation of Time (perata Waktu atau Daqoiq ta'dil al-zaman). Sebagaimana deklinasi matahari, untuk mendapatkan hasil yang akurat tentu tidak cukup sekali. Tahap awal mengguanakan data pukul 12WD (pk. 12 WIB = pk.05 GMT), tahap awal dengan menggunakan interpolasi.
BTd               adalah bujur Daerah, WIB = 105o, WITA = 120o dan WIT = 135o. HYPERLINK "file:///E:\\CHOLIEQ\\Kumpulan_Makalah_Makalah\\Makalah%20Rashdul%20Kiblat.docx" \l "_ftn4" \o "" [4]


Download MAKALAH RASHDUL KIBLAT.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca MAKALAH RASHDUL KIBLAT. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon