February 07, 2017

Makalah Pendidikan Islam


Judul: Makalah Pendidikan Islam
Penulis: Farhan Habib


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengantar
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting, bahkan paling penting dalam mengembangkan peradaban. Seperti halnya dengan perkembangan peradaban Islam, dalam mencapai kejayaan umat islam tidak akan tercapai kecuali dengan pendidikan Islam. Pendidikan Islam tidak akan sempurna jika seluruh generasi umat Islam. Oleh sebab itu di dalam Al-Qur'an telah ditetapkan proses awal pendidikan. Dalam sejarah telah lahir beberapa tokoh pendidikan Islam yang dapat dijadikan rujukan dalam membentuk dan membina kepribadian sehingga tercipta kebudayaan ummah yang kuat dan tangguh.
Pendidikan Islam secara umum adalah upaya sistematis untuk membantu anak didik agar tumbuh berkembang melalui aktualisasi potensi diri berdasarkan kaidah-kaidah moral Al-Quran, ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup (life-skill). Akan tetapi, walaupun telah dilakukan usaha-usaha pembaharuan pendidikan islam, namun dunia pendidikan masih saja dihadapkan pada beberapa problem. Al-Quran dan sunah seharusnya ditempatkan sebagai sumber otentik pengembangan pemikiran teoritis atau pun praktis bagi dasar, tujuan, proses maupun rumusan panduan/petunjuk dalam pendidikan. Namun saat ini umat islam belum optimal dalam pengembangan pendidikan.
Kemandekan dan kejumudan pemahaman terhadap Al-Quran dan Al-Sunah dalam bidang pendidikan mempunyai implikasi yang luas dalam dunia pendidikan yang di kalangan pemeluknya dikenal dengan "Pendidikan Islam". Hingga hari ini, dunia pendidikan dan gerakan-gerakan Islam dalam berbagai ragam konsentrasi dan aliran pemahaman sulit menumbuhkan tradisi intelektual kritis sebagai etika dasar penafsiran terhadap kedua sumber teks utama islam (Al-Quran dan Al-Sunah) tersebut. Namun demikian seharusnya terus dilakukan upata-upaya kreatif inovatif dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, untuk mengetahui bagaimana pemecahan problem-problem pendidikan Islam saat ini, maka usaha-usaha pembaharuan pendidikan Islam lewat pemikiran yang mendalam perlu dilakukan dan menjadi sangat penting.
Menurut Soekarno dan Ahmad Supardi, pendidikan Islam terjadi sejak Nabi Muhammad S.A.W diangkat menjadi Rasul Allah di Mekkah dan beliau sendiri sebagai gurunya. Pendidikan masa kini merupakan proto type yang terus menerus dikembangkan oleh umat Islam untuk kepentingan pendidikan pada zamannya. Pendidikan Islam mulai dilaksanakan Rasulullah setelah mendapat perintah dari Allah agar beliau menyeru kepada Allah, sebagaimana termaktub dalam Al-Quran surat Al-Mudatsir (74) ayat 1-7. Menyeru berarti mengajak, dan mengajak berarti membimbing, membimbing berarti mengarahkan, mengarahkan berarti mendidik.
Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang cerdas, terampil, bermoral dan bertanggung jawab. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi misi dan tujuan pendidikan yang seharusnya mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab terabaikan. Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas juga terabaikan. Akibatnya kondisi masyarakat menunjukkan kecenderungan moral menjadi merosot, krisis spiritual menggerogoti masyarakat dan identitas budaya mulai luntur.
Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmurkan diri, perusahaan dan negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai investasi yang merupakan tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab.
Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular. Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta Akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis.
Mempelajari pendidikan dalam berbagai unsurnya secara sungguh-sungguh menjadi sangat mendesak bagi setiap generasi muda Islam.
B. Pengertian Pendidikan Islam
1. Pengertian Bahasa (Etimologi)
Dalam kamus bahasa Indonesia kata pendidikan merupakan kata jadian yang berasal kata didik yang diberi awalan pe dan akhiran an yang berarti proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia.
Di kalangan tokoh pendidikan Islam ada tiga istilah yang umum digunakan dalam pendidikan Islam, sebelum mempelajari apa itu pendidikan. Yaitu al-Tarbiyah (pengetahuan tentang al-rabb), al-Ta'lim (ilmu teoritik, kreativitas, komitmen tinggi dalam mengembangkan ilmu, serta sikap hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah), al-Ta'dib (integrasi ilmu dan iman yang membuahkan amal).
a. Istilah Tarbiyah
Kata Tarbiyah berasal dari kata dasar "rabba", "yurabbi" menjadi "tarbiyah" yang mengandung arti memelihara, membesarkan dan mendidik. Dalam statusnya sebagai khalifah berarti manusia hidup di alam mendapat kuasa dari Allah untuk mewakili dan sekaligus sebagai pelaksana dari peran dan fungsi Allah di alam. Dengan demikian manusia sebagai bagian dari alam memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang bersama alam lingkungannya. Tetapi sebagai khalifah Allah maka manusia mempunyai tugas untuk mengolah, memelihara dan melestarikan alam dan lingkungan alam.
Dalam bentuk kata kerja, kata ini dapat dijumpai di dalam Al-Qur'an seperti pada Surat Asy-Syu'ara' ayat 18 dan Al-Isra' ayat 24.
Artinya : Berkata (Firaun): Bukankah kami telah mengasuh (mendidikmu) dalam keluarga kami semenjak kamu kecil dan menghabiskan beberapa tahun dari umurmu ? (Q.S. Asy-Syu'ara': 18)
Artinya : ... ya Tuhan kasihanilah keduanya (orang tua) sebagaimana keduanya telah mendidikku semenjak aku kecil (Q.S. Al-Isra': 24)
b. Istilah Al-Ta'lim
Secara Etimologi, Ta'lim berkonotasi pembelajaran, yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Hakikat ilmu pengetahuan bersumber dari Allah SWT. Adapun proses pembelajaran (ta'lim) secara simbolis dinyatakan dalam informasi Al-Qur'an ketika penciptaan Adam A.S. oleh Allah SWT, ia menerima pemahaman tentang konsep ilmu pengetahuan langsung dari penciptanya. Proses pembelajaran ini disajikan dengan menggunakan konsep ta'lim yang sekaligus menjelaskan hubungan antara pengetahuan Adam A.S. dengan tuhannya. (Jalaluddin, 2001:122).
c. Istilah Al-Ta'dib
Menurut Al-Attas, istilah yang paling tepat untuk menunjukkan pendidikan Islam adalah Al-Ta'dib, konsep ini didasarkan pada Hadis Nabi yang artinya :
"Tuhan telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku" (HR. Al-Askary dari Ali r.a).
Al-Ta'dib berarti pengenalan dan pengetahuan secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.
Dari ketiga kata bahasa arab tersebut kita melihat bahwa kata tarbiyah mempunyai pengertian yang lebih luas dan lebih cocok dipakai untuk kata pendidikan dibandingkan dengan kata ta'dib dan ta'lim. Kata ta'lim lebih dititikberatkan kepada pengajaran karena lebih terfokus kepada pengetahuan, kecerdasan dan keterampilan sebagaimana ayat yang telah kita kutip di atas, sedangkan pendidikan lebih luas dari sekadar pengajaran. Sementara itu, kata ta'dib lebih banyak mengacu kepada pendidikan Akhlak dan budi pekerti sebagaimana yang dianut oleh para ahli pendidikan, seperti Prof. Zakiah Daradjat dan Abdur-Rahman An-Nahlawi. Meskipun demikian, Muhammad Naquib Al-Attas yang mengatakan bahwa kata ta'dib lebih cocok dipakai untuk kata pendidikan karena kata ta'dib mencakup wawasan ilmu dan amal yang merupakan esensi pendidikan Islam. Lain lagi dengan Abdul Fattah Jalal yang menyatakan bahwa kata ta'lim lebih luas daripada kedua kata lainnya. Alasannya adalah firman Allah pada ayat 151 dari Surat Al-Baqarah yang berbunyi :
Artinya : Sebagaimana Kami telah mengirim Rasul dari jenis kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kitab dan hikmah serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui. (Q.S. Al-Baqarah: 151)
Dari pengertian lugawi di atas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan merupakan proses mengubah keadaan anak didik dengan berbagai cara untuk mempersiapkan masa depan yang baik baginya.
Abdur Rahman, Al-Bani misalnya menyimpulkan dari ketiga kata bahasa Arab yang sudah kita sebutkan tadi bahwa pendidikan itu memiliki empat unsur, yaitu :
a. Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa (balig)
b. Mengembangkan seluruh potensi
c. Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kesempurnaan
d. Melaksanakannya secara bertahap
Dari pendapat Al-Bani ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan dalam hal ini ialah pendidikan Islam yang meliputi unsur-unsur memelihara dan mengembangkan potensi atau fitrah anak didik secara bertahap sesuai dengan perkembangannya.
2. Pengertian Istilah (Terminologi)
Pendidikan sebagai suatu bahasan ilmiah sangat sulit untuk didefinisikan. Muhammad Al-Naquib Al-Attas mengatakan bahwa konferensi internasional pertama tentang pendidikan muslim (1977) ternyata belum berhasil menyusun suatu definisi pendidikan yang dapat disepakati oleh para ahli pendidikan secara bulat. Berikut ini akan dikemukakan pengertian pendidikan dan pendidikan Islam yang diberikan para ahli.
a. Pengertian Pendidikan
1. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuh dan berkembangnya anak-anak segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak tersebut agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
2. Dalam Ensiklopedi Indonesia dinyatakan bahwa pendidikan adalah proses membimbing manusia dari kebodohan menuju ke kecerahan pengetahuan. Lebih lanjut dikatakan bahwa proses tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dresure atau paksaan, latihan utnuk membentuk kebiasaan dan pendidikan untuk membentuk kata hati.
3. Dalam sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh manusia dewasa untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
4. Marimba, seorang pakar filsafat pendidikan merumuskan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau tuntutan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama.
5. Muhammad Naquib Al-Attas yang menjadikan kata ta'dib sebagai pijakannya menjelaskan bahwa pendidikan itu merupakan pengenalan dan pengakuan yang ditanamkan secara berangsur-angsur ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang keberadaan segala sesuatu sehingga dapat membimbingnya ke arah pengenalan dan pengakunya adanya Tuhan.
6. Berkaitan dengan itu seorang pakar pendidikan Barat, Rupert C. Lodge mengemukakan bahwa pendidikan dapat dilihat dari pengertian luas dan pengertian sempit. Dalam arti yang luas, ia mengatakan bahwa pendidikan itu menyangkut seluruh pengalaman peserta didik, baik pengalamannya dengan pendidik, orang tua, teman sepermainan maupun yang diperolehnya dari alam lingkungan selain manusia, seperti hewan (dalam arti sempit, pendidikan hanya sekadar pengajaran di sekolah).
Selanjutnya berikut ini pendapat beberapa tokoh Muslim tentang pengertian pendidikan Islam :
1. Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain sering kali beliau mengatakan kepribadian utama tersebut dengan istilah kepribadian muslim, yakni kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.
2. Menurut Abdur Rahman An-Nahlawi, pendidikan Islam adalah pengaturan pribadi dan masyarakat sehingga dapat memeluk Islam secara logis dan sesuai secara keseluruhan baik dalam kehidupan individu maupun kolektif.
3. Menurut Burlian Shomad, pendidikan Islam ialah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan sisi pendidikannya untuk mewujudkan tujuan itu adalah ajaran Allah.
4. Menurut Musthafa Al-Ghulayani, pendidikan islam ialah menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak pada masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya kemudian buahnya berwujud keutamaan kebaikan, dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli di atas jelaslah pengertian pendidikan itu dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu pendidikan dalam arti luas dan pendidikan dalam arti sempit.
Pengertian pendidikan dalam arti sempit adalah usaha sadar (usaha yang direncanakan waktu, tempat dan biaya, diprogram, diorganisasikan, diukur dan dievaluasi) yang dilakukan oleh manusia dewasa (pendidik profesional) untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau latihan bagi peserta didik menjadi dewasa untuk berperan dimasa yang akan datang.
Pendidikan dalam arti luas adalah segala proses interaksi yang terjadi antara seseorang dengan lingkungan sekitarnya. Berupa bimbingan, arahan dan latihan untuk menumbuhkan dan mengembangkan segala potensi dalam diri manusia baik secara mental, moral dan fisik untuk menghasilkan manusia dewasa dan bertanggung jawab sebagai makhluk yang berbudi luhur.
Sedangkan pendidikan Islam adalah suatu proses bimbingan pembelajaran dan tuntunan serta pelatihan terhadap manusia (peserta didik) yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya berlandaskan ajaran Islam yang mencakup semua aspek kehidupan yang dibutuhkan agar dapat melaksanakan peran, tugas dan fungsi sebagai hamba yang taat, tunduk dan patuh serta berserah diri kepada Allah serta sebagai khalifah (pemimpin dan wakil tuhan) di bumi untuk mengolah memelihara dan melestarikan bumi.
Hakikat pendidikan Islam adalah segala upaya dan usaha untuk menjadikan manusia dewasa sesuai dengan ajaran Islam. Dan perlu kita ketahui bahwa di dalam "pendidikan" mempunyai pengertian suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang didalammya mengandung beberapa unsur-unsur yang harus diperhatikan, diantaranya adalah :
1.Didalam bimbingan ada pembimbingnya (pendidik) dan yang dibimbing (terdidik/peserta didik).
2.Bimbingan mempunyai arah yang bertitik tolak pada dasar pendidikan dan berakhir pada tujuan pendidikan.
3.Bimbingan berlangsung pada suatu tempat, lingkungan atau lembaga pendidikan tertentu.
4.Bimbingan merupakan proses, maka harus proses ini berlangsung dalam jangka waktu tentu.
5.Di dalam bimbingan harus mempunyai bahan yang aka disampaikan pada anak didik untuk mengembangkan pribadi seperti yang di inginkan.
6.Didalam bimbingan menggunakan metode tertentu.
Dalam proses pendidikan ada beberapa komponen atau unsur utama yang mesti ada, yaitu Pendidik, peserta didik, tujuan pendidikan, materi pendidikan dan cara atau metode pendidikan.
1 )Pendidik
Pada ayat 4 dan 5 surat al-alaq dijelaskan bahwa pendidik pertama adalah Allah SWT. Allah mengajar manusia menulis dengan menggunakan pena. Dia memberikan pengetahuan kepada manusia tentang segala sesuatu yang belum diketahuinya.
2 )Peserta Didik
Peserta didik adalah manusia tanpa menyebutkan batas dan ketentuan lain. Dengan kata lain, semua manusia merupakan peserta didik tanpa batas waktu dan tempat. Ini dapat dilihat pada ayat ke-5 surat Al-Alaq.
3 )Tujuan
Tujuan pendidikan disini ialah agar manusia mempunyai pengetahuan sehingga dapat beribadah dan bersujud serta mendekatkan diri kepadanya. Itu berarti bahwa tujuan pendidikan untuk mendapatkan ridhonya. Masalah ini terlihat dengan jelas dalam ayat 1,5 dan 19 surat Al-Alaq.
4 )Materi
Secara eksplisit materi pendidikan tergambar dalam Surat Al-'Alaq ayat 1 dan 3 (membaca), ayat 4 (menulis), dan ayat 2 (mengenal diri melalui proses penciptaan secara biologis). Di samping itu, secara implisit Surat Al-'Alaq menyatakan bahwa materi pendidikan dalam Islam itu terpadu, tidak terbagi antara ilmu agama dan ilmu umum. Dengan kata lain, tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan yang akan diajarkan karena pada hakikatnya ilmu itu hanya satu, yaitu bersumber dari Allah SWT sebagai pendidik utama. Hal ini dapat disimpulkan dari ayat 1 dan 3. Ayat tersebut menyatakan bahwa Tuhan memerintahkan membaca tanpa menyebutkan objek yang harus dibaca. Jadi, apa saja boleh dibaca untuk mendapatkan informasi.
Jadi, objek ilmu pengetahuan adalah ayat-ayat Allah yang tertulis berupa sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits dan segala ciptaan Allah yang tidak tertulis berupa alam semesta dan seisinya.
5 )Metode
Metode adalah cara yang dipakai oleh pendidik agar bahan, materi yang ditetapkan dalam kurikulum dapat dicapai secara efektif dan efisien. Secara eksplisit metode pendidikan yang tergambar di dalam surat Al-'Alaq adalah sebagai berikut :
a )Pembiasaan dan pengalaman,
b )Mauziah (ayat 19),
c ) Targhib wa tarhib (ayat 8, 15-18), dan
d ) Hiwar khitabi ta'ridi (ayat 9-10).
6 )Alat
Pena merupakan sarana untuk memperoleh dan mewariskan ilmu pengetahuan. Dengan pena, ilmu pengetahuan akan ditulis lalu dibaca oleh generasi sekarang dan yang akan datang sehingga informasi tersebut menjadi berkembang dan dapat dikembangkan oleh generasi selanjutnya (ayat 4).
C. Sumber Pendidikan Islam
Sumber pendidikan Islam adalah ayat tertulis yaitu Al-Qur'an dan Al-Sunnah dan ayat tidak tertulis yaitu alam semesta dan seisinya, serta ijtihad dalam bidang pendidikan berupa pemikiran-pemikiran ulama tentang pendidikan. Al-Qur'an dan Al-Sunnah bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata, namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan. Alam jagat raya bukan hanya dijadikan obyek ilmu pengetahuan, namun juga dapat dijadikan sumber pendidikan karena di dalamnya memuat rahasia kebesaran Tuhan. Pemikiran para ulama juga dapat dijadikan sumber pendidikan Islam, banyak karya ulama-ulama berupa kitab-kitab yang memuat tentang yang dapat dijadikan sumber pendidikan.
Banyak sekali ayat Al-Qur'an yang mengandung implikasi pendidikan. Diantaranya adalah surat Al-Imran : 190-191, Ad-Dukhan : 38-39, Al-Anbiya' : 16-18, dan masih banyak lagi.
D. Tujuan Pendidikan
Samsul Nizar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal fikiran diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Karena itu pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik. Aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiyah dan bahasa baik secara individu maupun kolektif, dan mmendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah SWT, baik secaara pribadi maupun kolektif.
Menurut Ali Asraf yang dikutip Abudin Natta mengatakan bahwa pendidikan seharusnya menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia.
Menurut M. Arifin tujuan pendidikan Islam adalah perwujudan nilai-nilai Islami dalam pribadi manusia pendidikan yang diikhtiarkan oleh pendidik muslim melalui proses terminal pada hasil (produk) yang berkepribadian Islam yang beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan yang sanggup mengembangkan dirinya menjadi hamba Allah yang taat. Lebih lanjut M. Arifin mengemukakan bahwa tujuan akhir pendidikan Islam pada hakikatnya adalah realisasi dari cita-cita ajaran Islam itu sendiri yang membawa misi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir batin, dunia dan akhirat.
Senada dengan hal di atas An-Nahlawi menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan penghambaan kepada Allah dalam kehidupan manusia baik secara pribadi, maupun secara sosial.
Abdurrahman Saleh Abdullah menjelaskan tujuan umum pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah atau sekurang-kurangnya mempersiapkan ke jalan yang mengacu kepada tujuan akhir manusia. Tujuan utama khalifah Allah adalah beriman kepada Allah dan tunduk patuh secara total kepada nya. Dalam surat Al-Dzariyat : 56 Allah berfirman :
Dari beberapa definisi yang dikemukakan beberapa ahli tersebut dapat diketahui bahwa tujuan pendidikan Islam memiliki ciri-ciri sebagaimana yang diungkapkan oleh Abudin Natta sebagai berikut :
1. Mengarahkan anak agar menjadi khalifah Allah di muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas-tugas dan memakmurkan dan mengelola bumi sesuai dengan kehendak-nya.
2. Mengarahkan anak agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan.
3. Mengarahkan anak agar memiliki akhlak mulia, sehingga ia tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya.
4. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya; sehingga ia memiliki ilmu, akhlak dan keterampilan yang semuanya ini dapat digunakan guna mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya.
5. Mengarahkan anak agar dapat tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Adnin Armas menjelaskan bahwa tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah SWT. Dengan pendidikan, diharapkan akan lahir individu-individu yang baik, bermoral, berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan umat manusia secara keseluruhan.
Jadi, tujuan pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka membentuk manusi yang memiliki kompetensi :
1.Kepribadian Islam
Tujuan ini merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim yaitu teguhnya dalam memegan identitas kemuslimannya dalam pergaulan sehari-hari. Identitas itu tampak pada dua aspek yang fundamental, yaitu pola berfikirnya (aqliyah) dan pola sikapnya (nafsiyyah) yang berpijak pada aqidah Islam. Berkaitan dengan pengembangan kepribadian dalam Islam ini, paling tidak terdapat tiga langkah upaya pembentukannya sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW yaitu (1) menanamkan aqidah Islam kepada seorang manusia dengan cara yang sesuai dengan kategori akidah tersebut, yaitu sebagai aqidah aqliyah; aqidah yang keyakinannya muncul dari proses pemikirian yang mendalam. (2) mengajaknya untuk senantiasa konsisten dan istiqamah agar cara berfikir dan mengatur kecenderungan insaninya berada tetap di atas pondasi aqidah yang diyakininnya. (3) mengembangkan kepribadian dengan senantiasa mengajak bersungguh-sungguh dalam mengisi pemikirannya dengan tsaqafah Islamiyah (kebudayaan Islam) dan mengamalkan perbuatan yang selalu berorientasi pada melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT.
2.Menguasai Tsaqafah Islamiyah dengan handal
Islam mendorong setiap muslim untuk menjadi manusia yang berilmu dengan cara mewajibkannya untuk menuntut ilmu. Adapun ilmu berdasarkan takaran kewajibannya menurut Al-Ghazali dibagi dalam dua kategori, yaitu (1) ilmu yang fardlu 'ain, yaitu wajib dipelajari setiap muslim, yaitu ilmu ilmu tsaqafah Islam yang terdiri konsepsi, ide dan hukum hukum Islam (fiqh), bahasa Arab, sirab nabawiyah, ulumul quran, tafidzul quran, ulumul hadits, ushul hadits, ushul fiqh, dll. (2) Ilmu yang dikategorikan fardlu kifayah, biasanya ilmu-ilmu yang mencakup sains dan teknologi, serta ilmu terapan-keterampilan, seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik dll. Berkaitan dengan tsaqafah Islam, terutama bahasa Arab, Rasullulah SAW. Telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan dan urusan penting lainnya, seperti bahasa diplomatik dan interaksi antar negara. Dengan demikian, setiap muslim yang bukan Arab diharuskan untuk mempelajarinya. Berkaitan dengan hal ini karena keterkaitan bahasa Arab dengan bahasa Al-Qur'an dan As-Sunah, serta wacana keilmuan Islam lainnya.
3.Menguasai ilmu-ilmu terapan (Ilmu, pengetahuan dan teknologi/IPTEK)
Menguasai IPTEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifatullah dimuka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains sebagai fardlu kifayah, yaitu kewajiban yang harus dikerjakan oleh sebagian rakyat apabila ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat, seperti kedokteran, kimia, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik dan lain lain. Pada hakekatnya ilmu pengetahuan terdiri atas dua hal, yaitu pengetahuan yang mengembangkan akal manusia, sehingga ia dapat menentukan suatu tindakan tertentu dan pengetahuan mengenai perbuatan itu sendiri. Berkaitan dengan akal, Allah SWT telah memuliakan manusia dengan akalnya. Akal merupakan faktor penentu yang melebihkan manusia dari makhluk lainnya, sehingga kedudukan akal merupakan sesuatu yang berharga. Allah menurunkan Al-Qur'an dan mengutus Rasulnya dengan membawa Islam agar beliau menuntun akal manusia dan membimbingnya ke jalan yang benar. Pada sisi yang lain Islam memicu akal untuk dapat menguasai IPTEK, sebab dorongan dan perintah untuk maju merupakan buah dari keimanan. Dalam kita Fathul Kabir, juz III, misalnya diketahui bahwa Rasulullah SAW pernah mengutus dua orang sahabatnya ke negeri Yaman untuk mempelajari pembuatan senjata muktahir, terutama alat perang yang bernama dabbabah, sejenis tank yang terdiri atas kayu tebal berlapis kulit dan tersusun dari roda-roda. Rasulullah SAW memahami manfaat alat ini bagi peperangan melawan musuh dan menghancurkan benteng lawan.
4.Memiliki Skills/keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna
Perhatian besar Islam pada ilmu teknik dan praktis, serta keterampilan merupakan salah satu dari tujuan pendidikan Islam. Penguasaan keterampilan yang serba material ini merupakan tuntutan yang harus dilakukan umat Islam dalam rangka pelaksanaan amanah Allah SWT. Hal ini diindikasikan dengan terdapatnya banyak nash yang mengisyaratkan kebolehan mempelajari ilmu pengetahuan umum dan keterampilan. Hal ini dihukumi sebagai fardlu kifayah. Penjelasan 3 dan 4 dapat diperhatikan pada pembahasan ilmu dan kedudukan dalam Islam diatas.
Sasaran pendidikan Islam adalah mengintegrasikan iman dan takwa dengan ilmu pengetahuan dalam pribadi manusia untuk mewujudkan kesejahteraan dunia-akhirat.
E. Asas-Asas Pendidikan Islam
Azas pendidikan Islam adalah perkembangan dan pertumbuhan dalam perikehidupan yang seimbang dalam semua seluk beluk kehidupan secara adil, merata, menyeluruh dan integral. Disamping adanya unsur pokok pendidikan, para ahli juga membahas tentang kerangka dasar pendidikan. Dasar atau azas akan memberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Secara lebih luas, dasar pendidikan Islam menurut Sa'id Ismail Ali-sebagaimana dikutip Langgulung-terdiri atas 6 macam, yaitu : Al-Qur'an, Sunnah, qaul al-shahabat, masalih al-mursalah, 'urf, dan pemikiran hasil ijtihad intelektual muslim.
Dari Ayat-ayat dan Al-Sunnah serta alam semesta dan pemikiran para ulama yang dijadikan sumber pendidikan, maka dapat disimpulkan bahwa pola dasar pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
1. Segala fenomena alam adalah ciptaan Tuhan dan tunduk kepada hubungan mekanisme sebagai sunnatullah.
2. Manusia harus dididik agar bisa menghayati segala fenomena alam sehingga bisa menanamkan rasa iman dan takwa.
3. Manusia sebagai makhluk paling mulia dibanding makhluk lain menjadi khalifah.
4. Manusia harus dibekali ilmu agar bisa memberdayakan bumi dengan ilmunya untuk kemaslahatan umum sesuai tuntunan Tuhan.
5. Manusia sebagai makhluk sosial yang cenderung untuk berkumpul, berinteraksi dengan orang lain dan membentuk suatu tali persaudaraan.
6. Manusia sebagai makhluk moralitas yang cenderung untuk memeluk agama.
7. Pendidikan seumur hidup sebagai dasar proses pendidikan sebagai konsep pemikiran yang berorientasi pada keimanan dan akhlak yang terpadu membentuk dan mewarnai pendidikan Islam.
F. Prinsip-Prinsip pendidikan Islam
Berikut ini dikemukakan beberapa prinsip-prinsip pendidikan Islam. Prinsip pendidikan Islam paling tidak mengacu kepada tujuh prinsip :
1.Selalu mengacu kepada Al-Qur'an dan Hadist
Al-Qur'an dan Hadist merupakan sumber utama dalam pendidikan Islam. Akan lebih baik pendidikan Islam ini supaya mempunyai wacana guna mencetak insan kamil, sangat perlu ditambah dengan Istimbath Dan Ijtihad para ulama yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadist. Oleh karena itu pendidik dan peserta diidk harus memahami kandungan Al-Qur'an dan Hadist. Ketika ada pendapat yang bertentangan dengan keudanya, seharusnya pendidikan tidak boleh menerimanya sebagai acuan.
2.Selalu mengarah kepada dunia dan akhirat
Dalam Al-Qur'an dan Hadist tidak ada ayat yang menganjurkan menjauhi kehidupan dunia, karena Al-Qur'an sendiri menuntut kita untuk berzakat dan bersedekah. Bagaimana hal tersebut bisa tercapai kalau kita tidak berharta. Memang hidup didunia hanyalah sementara, semuanya akan musnah tapi perlu diingat, justru dengan kehidupan sekejap itulah kita dianjurkan mengejar kesuksesan dunia, untuk berlomba-lomba didalam menggapai amal shaleh sebagai bekal untuk ke akhirat nanti, bukan menjauh dari dunia seperti layaknya orang-orang yang mengasingkan diri dari kehidupan sosial. Dan mencapai amal shaleh bukanhanya dengan sholat, wiritan, mengikuti pengajian dan lain lain, akan tetapi melakukan sesuatu yang menjadi kewajiban kita dan selalu memberikan manfaat kepada orang lain, niscaya Allah akan mencatat amal shaleh bagi kita. Maka dari itu sangat disayangkan para tarekat yang membenci kehidupan dunia. Sampai-sampai mengatakan "Kenikmatan dunia dianggap bangkai dan barang siapa yang mengejarnya berarti ia anjing." Jadi pendidikan Islam harus menekankan kehidupan yang mengarah kepada dunia dan akhirat.
3.Bersifat Teoritis dan Praktis
Pendidikan Islam tidak cukup hanya menyampaikan teori, karena tujuan materi itu tidak lain untuk dilaksanakan guna mencapai amal yang tinggi disisi Tuhan. Maka dari itu untuk mencapai pengamalan yang sempurna hendaklah para pendidik melaksanakan apa yang diajarkan kepada peserta didik. Dan uswatun hasanah harus menjadi pedoman yang utama di dalam hidupnya. Tidak ada satupun dalam pendidikan yang hanya berorientasi kepada materi saja.
4.Sesuai dengan potensi yang dimiliki manusia
Pendidikan Islam bersifat fleksibel, Pendidikan Islam harus sesuai dengan potensi manusia karena setiap manusia mempunyai potensi yang berbeda-beda. Beberapa potensi manusia diantaranya yaitu potensi melihat, mendengarkan, merasakan, potensi berfikir. Dengan ootensi inilah pendidikan Islam harus memerintahkan kepada manusia untuk selalu berpikir secara mendalam dan kritis, sekaligus dengan menggunakan perasaannya. Sehingga dapat menghasilkan karya-karya yang dapat diambil manfaat oleh umat muslim yang lain. Disamping itu manusia sebagai homo religius (manusia sebagai makhluk beragama), merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan. Pendidikan Islam harus memotivasi umatnya untuk selalu memperkuat imannya.
5.Berorientasi pada hablum minallah wa hamlum minannas
Segala aktivitas dan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan berorientasi pada hubungan sosial dan hubungan kepada Allah SWT. Artinya pendidikan Islam bukan aktivitas kemanusiaan semata, namun juga disebut sebagai aktivitas ketuhanan artinya proses pendidikan dapat menjadi nilai agama.
6.Ikhlas
Prinsip ikhlas dapat terlihat dengan jelas dalam QS. Al-'Alaq ayat 1. Tuhan memerintahkan membaca atas nama Allah. Begitu juga pada ayat ke-19, Allah menyuruh manusia hanya patuh dan sujud kepada-nya tidak kepada yang lain-nya.
7.Pendidikan Seumur Hidup
Tergambar secara implisit dalam QS. Al-'Alaq, yaitu tidak adanya batasan yang konkret tentang kapan seorang harus mulai belajar dan sampai kapan. Tuhan hanya menjelaskan bahwa manusia harus membaca dan belajar. Dengan demikian, manusia perlu belajar sejak dilahirkan sampai ajalnya tiba.

8.Efektivitas Pendidikan
Didalam surat Al-'Alaq, Tuhan menginformasikan asal kejadian manusia dari 'alaq (ayat 2) dan setelah diajari, mereka memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan membuat mereka merasa cukup sehingga menimbulkan sikap angkuh dan sombong (ayat 6-7). Disini terlihat bahwa keberhasilan seseorang, termasuk dalam bidang pendidikan, dapat membuatnya bertindak sewenang-wenang dan angkuh karena merasa dirinya cukup dan tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Walaupun Tuhan telah mendidik manusia, tidak semuanya berhasil menjadi manusia yang baik karena hal itu tergantung pada beberapa faktor , seperti lingkungan dan kemauan untuk menjadi baik.
G. Pendidik
Dalam pengertian yang sederhana, pendidik adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, sedangkan dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditempat-tempat tertentu, tidak mesti dilembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di masjid, di surau/mushala, dirumah dan sebagainya.
Menurut Moh. Fadil Al-Djamil menyebutkan bahwa pendidik yaitu orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik sehingga terangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiiki oleh manusia.
1.Syarat-syarat Pendidik
Menjadi pendidik menurut Prof. Dr. Zakiah Darajad dan kawan kawan, tidak sembarangan, tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan seperti dibawah ini :
a.Takwa kepada Allah SWT
b.Berilmu
c.Sehat Jasmani
d. Berkelakuan baik
e.Sehat Rohani (berakal sehat)
Menurut H. Mubangit, syarat untuk menjadi seorang pendidik yaitu :
1)Bertakwa kepada Allah SWT (taat beragama)
2)Harus Berilmu (ahli dalam bidang ilmu yang ditekuninya)
3)Menguasai ilmu pendidikan (profesional)
4)Kreatif dan inovatif
5)Bertanggung jawab
6)Berakhlak Mulia
7)Demokratis
8)Harus memiliki perasaan panggilan nurani murni
9) Menguasai ilmu jiwa
Sedangkan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pendidik adalah :
1.Integritas pribadi, pribadi yang segala aspeknya berkembang secara harmonis
2.Integritas sosial, yaitu pribadi yang merupakan satuan dengan masyarakat
3.Integritas susila, yaitu pribadi yang telah menyatukan diri dengan norma-norma susial yang dipilihnya.
Adapun menurut Prof. Dr. Moh. Athiyah Al-Abrasyi, seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat tertentu agar ia dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, yaitu :
1)Memiliki sifat Zuhud
2)Seorang guru harus jauh dari dosa besar
3)Ikhlas dalam pekerjaan
4)Bersifat pemaaf, lapang dada
5)Harus mencintai peserta didiknya
6)Memiliki sikap tegas dan terhormat
7)Pendidik suci dan bersih, murah hati
8)Bersahaja, bijaksana dan mengayomi
9)Sabar, telaten
10)Amanah dan Adil
11)Memiliki sikap tegas dan terhormat
H.Tugas dan Tanggung Jawab Pendidik
1.Tugas Pendidik
Tugas-tugas dari seorang pendidik adalah :
a.Membimbing peserta didik, yaitu mengenal anak didik mengenai kebutuhan, kesanggupan, bakal, minat dan sebagainya.
b.Menciptakan situasi untuk pendidikan, yaitu : suatu keadaan dimana tindakan-tindakan pendidik dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan.
c.Seorang pendidik harus memiliki pengetahuan yang diperlukan, seperti pengetahuan keagamaan dan lain sebagainya.
Seperti yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali, bahwa tugas pendidik adalah menyempurnakan, membersihkan, menyempurnakan serta membina hati manusia untuk taqarrub kepada Allah SWT. Dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia tugas pendidik menurut Islam adalah :
a.Menyerahkan kebudayaan Islam kepada anak didik berupa kepandaian, kecapakan dan pengalaman-pengalaman.
b.Membentuk kepribadian muslim yang harmonis, sesuai cita cita Islam
c.Menyiapkan anak menjadi Muslim yang baik sekaligus warga negara yang baik sesuai UU Pendidikan yang merupakan Keputusan MPR No. II Tahun 1983.
d.Sebagai perantara dalam belajar
e.Pendidik adalah sebagai pembimbing, untuk membawa anak didik ke arah kedewasaan, membentuk anak menurut nilai-nilai ajaran Islam.
f.Pendidik sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat
g.Sebagai penegak disiplin, pendidik menjadi teladan dalam segala hal, tata tertib dapat berjalan bila pendidik dapat menjalani lebih dahulu.
h.Pendidik sebagai administrator dan manajer
i.Pendidik sebagai perencana kurikulum
j.Pekerjaan pendidik sebagai suatu profesi pendidik dan pemimpin
k.Pendidik sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak
2.Tanggung Jawab Pendidik
Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik, serta bertanggung jawab untuk membentuk anak didik agar menjadi orang bersusila yang cakap, berguna bagi agama, nusa dan bangsa dimasa yang akan datang.
Didalam surat Al-'Alaq memang tidak dijelaskan secara eksplisit tentang ruang lingkup pendidikan seperti yang telah dikemukakan diatas, tetapi secara implisit dapat dipahami petunjuk-petunjuknya tentang hal ini. Sedangkan tanggung jawab dari seorang pendidik adalah:
1)Tanggung Jawab dalam bidang Pendidikan Akidah Tauhid
Pendidikan Tauhid atau pendidikan akidah dapat terlihat dengan jelas didalam ayat 1,2 dan 19
2)Tanggung Jawab dalam bidang Pendidikan Akhlak
Pendidikan akhlak dapat dipahami dari isyarat Allah tentang perilaku Abu Jahal yang tidak bersahabat dengan Nabi Muhammad SAW. Tingkah lakunya yang sombong, sehingga pada ayat terakhir Tuhan melarang keras untuk patuh dan tunduk kepadanya. Selain itu, Allah juga menggambarkan akhlak yang terpuji, seperti mengajak untuk bertakwa. (ayat 6-13)
3)Tanggung Jawab dalam bidang Pendidikan Akal
Dalam surat Al-'Alaq, Allah mengisyaratkan tentang pendidikan akal. Pada ayat 1-2 Tuhan merangsang manusia untuk berpikir dengan perintah membaca. Kemudian dilanjutkan dengan informasi tentang penciptaan manusia yang berasal dari 'alaq. Bukankah pola susunan kalimat dan muatan materi yang disampaikannya itu merangsang manusia untuk memikirkan secara rasional yang objektif ? Berarti sejak wahyu pertama diturunkan, pendidikan akal ini telah mulai dicanangkan oleh Al-Qur'an.
4)Tanggung Jawab dalam bidang Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani dapat kita lihat dari Isyarat Allah pada ibadah shalat. Didalamnya diajarkan sujud dan dzikir. Meskipun gerak-gerak dalam ibadah tersebut bukan bertujuan untuk senam, jelas hal itu tidak dapat dilepaskan dari pendidikan jasmani, yaitu menggerakkan tubuh untuk menyegarkan jasmani agar dalam beribadah lebih khusu' dan konsentrasi. Oleh karena itu, ayat 10 dan 19 boleh disebut juga memberikan indikasi terhadap pendidikan jasmani.
5)Tanggung Jawab dalam bidang Sosial Kemasyarakatan
Tanggung jawab pendidik bukan saja menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas dikelas, tetapi juga tanggung jawab sosial, artinya seorang pendidik harus memiliki kepedulian sosial. Pendidik ditengah masyarakat disamping menjadi teladan, tetapi juga menjadi agent of change (seorang yang mampu merubah) membimbing dan mengarahkan masyarakat menjadi lebih maju.
6)Tanggung Jawab dalam bidang Keilmuan
Tugas pendidik bukan hanya menguasai dan mengajarkan ilmu yang ditekuninya, namun juga mengembangkan ilmunya. Bahkan ilmu-ilmu yang mendukung dan yang terkait dengan disiplin ilmunya sebaiknya juga dipelajari, baik yang menyangkut strategi, metode dan teknik pengajaran maupun materi pendukung.
3.Dalam Undang-undang Guru dan Dosen ditentukan bahwa seorang :
Pendidik wajib memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi pendidik sebagai agen pembelajaran.
Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana (S1) atau program diploma empat yang sesuai dengan tugasnya sebagai guru untuk guru dan S2 untuk dosen.
Kompetensi profesi pendidik melalui kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.
Manfaat uji kompetensi guru
Pengelompokan guru
Acuan pengembangan kurikulum
Acuan pembinaan guru
Mendorong kegiatan dan hasil belajar
4.Kompetensi
a.Kemampuan dasar (Kepribadian)
Yaitu kepribadian pendidik yang mantap, stabil, dewasa, arif, serta berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia, misalnya :
Beriman dan bertakwa
Berwawasan pancasila
Mandiri dan bertanggungjawab
Berwibawa
Disiplin
Berdedikasi
Bersosialisasi dengan masyarakat
Mencintai peserta didik dan didikannya
b.Kemampuan umum (mengajar)
Yakni mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan serta pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, juga pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Contoh kemampuan yang dimiliki guru yaitu :
Menguasai ilmu pendidikan
Menguasai kurikulum
Menguasai metodologi pembelajaran
Menguasai pengelolaan kelas
Mampu mengevakuasi pelajaran
Mampu mengembangkan dan aktualisasi diri
3.Kemampuan khusus (pengembangan keterampilan)
Yakni kemampuan pendidik dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas serta mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memperoleh kompetensi yang diterapkan. Contoh dari keterampilan khusus yaitu :
Bertanya, memberi penguatan
Mengadakan variasi
Menjelaskan
Membuka dan menutup pelajaran
Mengelola kelas
I. Peserta Didik
Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses pengembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. Mereka membutuhkan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya.
Dasar-dasar kebutuhan anak untuk memperoleh pendidikan, secara kodrati anak membutuhkan dari orang tuanya. Dasar-dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak dalam kehidupannya, dalam hal ini keharusan untuk mendapatkan pendidikan itu dimiliki jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan, antara lain:
Aspek Paedagogis
Dalam aspek ini para pendidik mendorong manusia sebagai makhluk yang memerlukan pendidikan.
Aspek Sosiologi dan Kultural
Yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.
Aspek Tauhid
Yaitu aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang berketuhanan.
J. Metode Pendidikan Islam
Metode suasana gembira (Q.S. Al-Baqarah: 25 dan 185)
Metode lemah lembut (Q.S. Al-Imran: 159)
Metode bermakna (Q.S. Muhammad : 16)
Metode prasyarat atau muqadimah (Q.S. Al-Baqarah :1-2)
Metode komunikasi terbuka (Q.S. Al-A'raf : 179)
Metode memberikan pengetahuan baru (Q.S. Al-Baqarah; 164 dan Al-Fushilat: 153)
Metode uswatun hasanah (Q.S. Al-Ahzab: 21)
Metode praktek atau pengamatan aktif (Q.S. As-Shof: 2-3 dan Al-Baqarah: 25)
Metode bimbingan, penyuluhan dan kasih sayang (Q.S. Al-Anbiya': 107 dan An-Nahl: 25)
Metode cerita (Q.S. Al-A'raf: 176)
Metode perumpamaan (Q.S. Ibrahim: 18)
Metode hukuman dan hadiah (Q.S. Al-Ahzab: 72-73)
K. Penutup
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan peradaban Islam dan mencapai kejayaan umat Islam. Kondisi pendidikan di Indonesia menghadapi berbagai persoalan dan kesenjangan, yaitu persoalan dikotomi pendidikan, kurikulum, sarana dan prasarana, sumber daya, serta manajemen pendidikan Islam. Upaya pembaharuan dan peningkatan pendidikan Islam seharusnya dilakukan secara komprehensif dan menyeluruh secara profesional.
Gambaran masyarakat Islam sekarang adalah masyarakat yang menghadapi beberapa tantangan. Beberapa tantangan yang bekaitan dengan pendidikan dewasa ini antara lain dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu tantangan eksternal dan tantangan internal.
Tantangan Eksternal
Faktor keberhasilan dari tantangan eksternal adalah dominasi politik Islam. Secara praktis Islam pada saat itu adalah penguasa politik besar dunia, faktor lainnya adalah kondisi dan situasi Islam saat itu belum terbebani oleh tradisi agama yang stagnan (semi-mati), hal ini sangat berbeda dengan kondisi dan situasi Islam abad 20 M dan lebih khusus pada akhir abad 21 M.
Tantangan Internal
Beberapa tantangan internal umat Islam yang dapat kita identifikasi di lapangan adalah sebagai berikut;
Pendidikan yang sentralistik: kinerja diatur secara memusat, dari pusat ke pelosok daerah yang sangat terpencil. Kurikulum metode mengajar, materi atau bahan ajar, tenaga pendidikan penilaian, ijazah, otorita pendidikan semuanya diatur dari pusat.
Pendidikan yang tidak demokratis: praktek pendidikan yang ada bukan proses dialogis antara pemerintah dan rakyat, namun praktek pendidikan didasarkan pada kemauan dan kepentingan pemerintah atau negara.
Penyelenggara lembaga-lembaga pendidikan dilaksanakan dibawah otorita kekuasaan, lengkap dengan otorita administrasi berokrasi pemerintah. Tidak berbeda antara menyelenggarakan kantor camat atau kelurahan dengan penyelenggaraan sekolah atau perguruan tinggi.
Orientasi pendidikan masih berorientasi pada kekuasaan dan produk akhir. Padahal masyarakat menuntut pendidikan lebih berorientasi kepada kepentingan peserta didik, mutu, tuntutan pasar, dan metodologi pengembangan pemikiran.
Dikotomi pendidikan :
Dikalanga masyarakat Islam masih ada yang berpendapat bahwa ilmu dan agama harus dipisahkan, karena keduanya adalah suatu yang berbeda, ilmu bersifat rasional objektif sementara agama bersifat irrasional dan subyektif. Sementara pendekatan IPTEK yang dijalani masih bersifat parsial. Padahal tuntutan masyarakat global adalah integrasi dan fungsional. Dalam Islam sendiri kita kenal bahwa iman, ilmu dan amal adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.


Download Makalah Pendidikan Islam.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah Pendidikan Islam. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon