February 08, 2017

Makalah Ilmu Tanah : Struktur Tanah


Judul: Makalah Ilmu Tanah : Struktur Tanah
Penulis: Ha Ndra


STRUKTUR TANAH
Makalah ini diajukan untuk memenuhi
tugas mata kuliah Ilmu Tanah

Nama : Muharram Indrawan
N I M : 35.2014.6.3.0899
Dosen Pengampu : Ir. Herawan Widodo
Lutfi Ditya Cahyanti, S.P., M.P
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR
PONOROGO – INDONESIA
1436 / 2015
KATA PENGANTAR
Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Segala puji bagi Allah Subhaanahu Wa Ta'aala yang telah mencurahkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada kita, khususnya saya sendiri sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Dan tentu tak lupa sholawat dan salam selalu terucap untuk rasul kita nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya yang telah menunjukkan dan menuntun kita menuju agama kebenaran yaitu agama islam.
Tak pernah lupa saya berterima kasih kepada dosen-dosen program studi Agroteknologi khususnya Ustadz Herawan Widodo dan Ustadzah Lutfi Ditya Cahyanti yang penuh kesabaran dan istiqomah mau membimbing kami dalam mata kuliah Ilmu Tanah.
Dan juga kepada semua orang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang mau menjadi teman saya dan memberi saya semangat hingga dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Terima kasih.
Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Ponorogo, 10 November 2015
Muharram Indrawan
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Struktur tanah merupakan kenampakan bentuk atau susunan partikel-partikel primer tanah (pasir,debu, dan liat individual) hingga partikel-partikel sekunder (gabungan partikel-partikel primer) yang disebut ped (gumpalan) yang membentuk agregat (bongkah). Struktur tanah berfungsi memodifikasi pengaruh tekstur terhadap kondisi drainase atau aerasi didalam tanah.
Struktur dapat mulai berkembang dari butiran tunggal atau dari bentuk masif. Apabila berasal dari butir-butir sungai, maka perkembangannya dimulai dari pengikatan partikel-partikel tanah membentuk cluster (gerombol) yang kemudian menjadi ped. Klasifikasi yang dikemukakan dibawah ini adalah klasifikasi tentang struktur tanah (bukan klasifikasi tanah yang cocok untuk usaha pertanian). Klasifikasi struktur tanah sangat berkaitan dengan klasifikasi lapangan yang digunakan bagi penelaahan morfologi tanah. Komponennya meliputi:
Tipe struktur berupa bentuk dan susunan agregat.
Kelas struktur berupa ukuran.
Derajat struktur berupa kemantapan atau kekuatan agregat.
Dan dari struktur tanah ini kita mendapatkan banyak manfaat seperti, dengan tahu struktur tanah di suatu daerah kita bisa memperkirakan tanaman apa yang cocok untuk ditanam di daerah itu. Dari struktur tanah itu juga, kita bisa memperkirakan kandungan zat apa yang mendominasi tanah itu. Dan banyak manfaat lain jika mengetahui struktur tanah suatu daerah dan ilmu tentangnya.
ISI
STRUKTUR TANAH DAN BEBERAPA PENGERTIANNYA
Struktur tanah merupakan kenampakan bentuk atau susunan partikel-partikel primer tanah (pasir,debu, dan liat individual) hingga partikel-partikel sekunder (gabungan partikel-partikel primer) yang disebut ped (gumpalan) yang membentuk agregat (bongkah). Tanah yang partikel-partikelnya belum bergabung terutama yang bertekstur pasir, disebut tanpa struktur atau berstruktur lepas, sedangkan tanah yang berstruktur liat, yang masih terlihat masif (padu tanpa ruang pori, yang lembek jika basah dan keras jika kering) atau apabla dilumat dengan air membentuk pasta disebut juga tanpa struktur.
Struktur tanah berfungsi memodifikasi pengaruh tekstur terhadap kondisi drainase atau aerasi tanah, karena susunan antar ped atau agregat tanah akan menghasilkan ruang yang lebih besar ketimbang susunan antar partikel primer. Oleh karena itu, tanah yang berstruktrur baik akan mempunyai kondisi drainase dan aerasi yang baik pula, sehingga lebih memudahkan sistem perakaran tanaman untuk berpenetrasi dan mengabsorpsi (menyerap) hara dan air, sehingga pertumbuhan dan produksi menjadi lebih baik. Hal ini terbukti dari percobaan pemupukan yang mendapatkan bahwa produksi jagung pada tanah tanpa pupuk tetapi beragregat baik ternyata 2,3 kali lebih besar ketimbang produksi pada tanah beragregat buruk yang diberi pupuk. Penanaman melindungi tanah dari hantaman air hujan, sehingga makin rapat tajuk tanaman akan makin baik baik pengaruhnya terhadap agregat tanah. Lal (1979) mengemukakan bahwa struktur tanah mempunyai peran sebagai regulator yang:
Menyinambungkan arah pipa yang terbentuk dari berbagai ukuran pori-pori yang berinterkoneksi, stabilitas, dan durabilitasnya.
Mengatur retensi dan pergerakan air tanah.
Difusi gas dari dan ke atmosfer.
Mengontrol proliferasi (pertumbuhan) akar dan perkembangannya.
Kemudian secara langsung dan tidak langsung terkait dengan:
Erosi air atau angin.
Penggenangan dan aerasi.
Stres tanaman akibat kekeringan.
Pelindian atau kehilangan hara tanaman.
Temperatur tanah.
Di lapangan, struktur tanah dideskripsikan menurut:
Tipe, indikator bentuk dan susunan ped, yaitu: bulat, lempeng, balok, dan prisma.
Kelas, indikator bentuk struktur yang terbentuk dari ped-ped penyusunnya, menghasilkan 7 tipe struktur tanah.
Gradasi, indikator derajat agregasi atau perkembangan struktur, yang dibagi menjadi:
Tanpa struktur
Lemah
Sedang
Kuat
MEKANISME PEMBENTUKAN STRUKTUR
Struktur dapat mulai berkembang dari butiran tunggal atau dari bentuk masif. Apabila berasal dari butir-butir sungai, maka perkembangannya dimulai dari pengikatan partikel-partikel tanah membentuk cluster (gerombol) yang kemudian menjadi ped. Lima mekanisme utama yang menyatukan partikel-partikel ini meliputi:
Aktivitas penetrasi akar pada saat berkembang.
Pergerakan air yang mengikuti arah perkembangan akar menyebabkan terjadinya pengikisan dan pemecahan tanah yang kemudian memicu pembentukan ped.
Aktivitas keluar-masukya fauna tanah.
Pembasahan dan pengeringan yang merenggang-ciutkan paritkel-partikel.
Pencairan dan pembekuan yang juga merenggang-ciutkan partikel-partikel.
Stabilitas ped yang terbentuk (juga agregat) tergantung pada 2 kondisi, yaitu:
Keutuhan tanah permukaan ped pada saat rehidrasi.
Kekuatan ikatan antarkoloid-partikel didalam ped pada saat basah.
Stabilitas ped ini dapat ditentukan melalui metode penyaringan basah. Dalam metode ini, tanah kering diletakkan dalam saringan kemudian dicelupkan ke dalam air, air segera meresap dan mendesak udara yang terperangkap di ruang pori-pori tanah, ped yang tidak kuat terhadap tekanan ini akan pecah dan rusak, turun lewat lubang-lubang saringan. Ped-ped yang tertinggal merupakan ped yang stabil terhadap air.
Secara Umum terdapat tiga kelompok bahan koloidal (partikel berdiameter <1 micrometer) yang bertindak sebagai agen perekat (cementing agent) partikel-partikel dalam proses pembentukan agregat tanah, yaitu:
Mineral-mineral liat koloidal.
Oksida-oksida besi dan mangan koloidal.
Bahan-bahan organik koloidal, termasuk hasil aktifitas dan perombakan sel-sel mikrobia.
Oleh karena koloid-koloid ini bermuatan negatif, maka molekul-molekul air yang dapat bertindak secara dipolar (bermuatan + dan -) terabsorpsi ke permukaan koloid liat tersebut. Pada saat air menguap, maka lempeng-lempeng liat akan berdekatan dan dibantu oleh agen perekat, maka terjadilah agregasi.
Pada horizon A di Wisconsin USA urutan kepentingan agen-agen pengikat pembentuk ped berdiameter > 0,5 micrometer adalah sebagai berikut:
Secara umum: lendir mikrobial > Fe-oksida > C-organik > liat.
Lempung berdebu Parr: lendir mikrobial > liat > Fe-oksida > C-organik.
Lempung berliat Almena: lendir mikrobial > Fe-oksida.
Lempung berliat Miami: lendir mikrobial > Fe-oksida > C-organik.
Lempung berliat Kewaunee: Fe-oksida > liat > liat mikrobial.
Pentingnya peran lendir (gum) mikrobial sebagai agen pengikat adalah menjamin kelangsungan aktivitas mikrobia dalam proses pembentukan ped (dan agregasi) tersebut. Polimer-polimer organik yang merupakan polisakarida berbobot molekul besar dapat berasal dari lendir ekstraseluler atau dinding-dinding sel-sel mikrobia, membentuk jaringan seperti jala yang efektif dalam menyatuka partikel-partikel tanah. Hidroksi polimer-polimer ini dan atom-atom oksigen permukaan liat membentuk ikatan-ikatan hidrogen sebagai jembatan pengikat, sedangkan terhadap partikel nonkoloidal, polimer-polimer ini bertindak sebagai sebagai lem perekat. Miselia jamur dan aktinomisetes juga efektif sebagai agen pengikat ini. Pada tanah Latosol di daerah tropis, agen pengikat yang terpenting adalah Fe-oksida karena tingginya kadar Fe-oksida pada tanah ini.
PENGGOLONGAN ATAU KLASIFIKASI STRUKTUR TANAH
Klasifikasi yang dikemukakan dibawah ini adalah klasifikasi tentang struktur tanah (bukan klasifikasi tanah yang cocok untuk usaha pertanian). Klasifikasi struktur tanah sangat berkaitan dengan klaisfikasi lapangan yang digunakan bagi penelaahan morfolagi tanah. Komponennya meliputi:
Tipe struktur berupa bentuk dan susunan agregat.
Kelas struktur berupa ukuran.
Derajat struktur berupa kemantapan atau kekuatan agregat.
Tipe dan Kelas Struktur Tanah :
Tentang hal ini kita mengenal beberapa tipe dan ukuran/kelas tanah, antara lain :
Platy atau lempeng, yang dapat dibedakan menjadi kelas-kelas:
Sangat tipis, tebal : kurang dari 1 mm.
Tipis..........., tebal : 1 mm – 2 mm
Sedang........, tebal : 2 mm – 5 mm
Kasar..........., tebal : 5 mm – 10 mm
Sangat tebal........... : lebih dari 10 mm
Tiang prismatik ialah yang ujung ataupun rusuknya persegi, tiang kolumner rusuknya persegi, tetapi ujungnya membulat, dengan kelas-kelas yang sama bagi keduanya:
Sangat halus: < 10 mm.
Halus: 10 mm – 20 mm.
Sedang: 20 mm – 50 mm.
Kasar: 50 mm – 100 mm.
Sangat kasar: > 100 mm.
Gumpal bersudut yang rusuk-rusuknya bersegi tajam, gumpal membulat bersusuk persegi tidak tajam, keduanya berkelas sama:
Sangat halus: < 5 mm.
Halus: 5 mm – 10mm.
Sedang: 10 mm – 20 mm.
Kasar: 20 mm – 50 mm.
Sangat kasar: > 50 mm.
Sferoid atau polyeder kersal relatif kurang/tidak berpori, Sferoid remah lebih berpori, keduanya memiliki kelas yang sama:
Sangat halus: < 2 mm.
Halus: 1 mm – 2 mm.
Sedang: 2 mm – 5 mm.
Kasar: 5 mm – 10 mm.
Sangat kasar: > 10 mm.
Tipe tidak berstruktur yang dapat dibedakan menjadi butir tunggal dan pejal (masif).
Derajat Struktur Tanah
Yang tidak beragregat, yaitu pejal (jika berkoherensi dan butir tunggal), lepas-lepas (jika tidak berkoherensi).
Yang derajat strukturnya lemah, jika tersentuh akan mudah hancur, derajatnya dapat dibedakan lagi menjadi ; sangat lemah dan agak lemah.
Yang derajat strukturnya cukup, dalam hal ini agregatnya sudah jelas terbentuk dan masih dapat dipecah-pecah.
Yang derajat strukturnya kokoh, agregatnya mantap dan jika dipecahkan agak liat (terasa ada ketahanannya), derajatnya dapat dibedakan lagi menjadi : yang sangt kokoh dan yang cukup kokoh.
PENUTUP
KESIMPULAN
Struktur tanah di setiap daerah itu berbeda-beda entah dari tipe, kelas, atau penyusunnya. Bahkan petak sawah yang satu dengan yang lain mempunyai struktur yang sudah berbeda. Dan juga banyak hal yang dapat mempengaruhi berubahnya struktur dari tanah itu.
SARAN
Jika kalian melakukan penelitian terhadap struktur tanah perhatikanlah dengan seksama dan teliti mungkin struktur yang kalian temukan bisa berbeda bahkan belum ada di buku-buku tentang struktur tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Hanafiah, Kemas Ali. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Rajawali press. Jakarta
Campbell, Neil. A, Jane B. Reece. 2012. Biologi Edisi Kedelapan. Erlangga. Jakarta.
Fried, George. H, George J. Hadenemos. 2006. Teori dan Soal-Soal Biologi Edisi Kedua.
Erlangga. Jakarta.


Download Makalah Ilmu Tanah : Struktur Tanah.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah Ilmu Tanah : Struktur Tanah. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon