February 07, 2017

MAKALAH ANALISIS FARMASI Mei 2013 BAB1 3


Judul: MAKALAH ANALISIS FARMASI Mei 2013 BAB1 3
Penulis: Normaidah Normaidah


BAB I
PENDAHULUAN
Tujuan Pembahasan
Untuk memaparkan beberapa metode analisis untuk penetapan kadar antibiotika golongan quinolon dalam plasma dan sediaan farmasi..
Latar Belakang Masalah
Antibiotik golongan quinolon merupakan obat antibiotik yang dapat menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagi ibu hamil karena penggunaan antibiotik ini dapat berpotensi menyebabkan kecacatan. Sebab antibiotik ini bekerja untuk menghambat pembentukan inti sel. Bila dikonsumsi berlebihan pada saat hamil maka akan mampu memicu gangguan pertumbuhan tulang pada janin.
Salah satu efek negarif dari penggunaan obat antibiotik jenis quinolon ini adalah terganggunya pertumbuhan tulang pada bayi dan tentu akan mempengaruhi postur tubuh anak. Risiko lainnya adalah tidak menutupnya tulang belakang atau yang sering disebut spina bifida. Selain pada ibu hamil, bayi dan anak-anak juga tidak disarankan mendapatkan antibiotik ini.
Golongan obat ini diturunkan dari asam nalidiksat (antiseptik saluran kemih). Berbeda dengan asam nalidiksat, quinolon mempunyai daya antibakteri yang lebih kuat dan spektrum antibakteri yang lebih lebar sehingga dapat digunakan untuk infeksi sistemik dan dapat diberikan per oral. Yang termasuk golongan ini antara lain adalah Asam Nalidiksat, Siprofloksasin, Ofloksasin, Moksifloksasin, Levofloksasin, Pefloksasin, Norfloksasin, Sparfloksasin, Lornefloksasin, Flerofloksasin dan Gatifloksasin.
Asam nalidiksat merupakan contoh antibiotika golongan quinolon. Saat ini, antibiotika fluorokuinon merupakan agen antibakteri yang digunakan baik untuk manusia atau hewan, terutama untuk mengobati penyakit infeksi paru, saluran urin dan saluran pencernaan. Beberapa obat seperti enrofloksasin dan sarafloksasin terutama dikembangkan sebagai obat pada hewan. Sementara itu, siprofloksasin, norfloksasin, dan ofloksasin digunakan pada pengobatan manusia. Flumekuin, norfloksasin dan ofloksasin digunakan pada hewan dan manusia. Flumekuin, norfloksasin, dan ofloksasin digunakan pada hewan dan manusia. Antibiotika fluorokuinolin sangat efektif terhadap bakteri gram positif mau pun gram negatif, serta terhadap mikoplasama (Sukul and Spiteller, 2007).
6667528575(Xiao Yang et al,2008, Trace analysis of quinolone and fluoroquinolone antibiotics from wastewaters by liquid chromatography–electrospray tandem mass spectrometry, Journal of Chromatography A, 1214 (2008) 100–108)
Mekanisme Kerja Quinolon pada mikrobia : Obat-obat tersebut dimasukkan dalam kategori terpisah karena mempunyai struktur berbeda dan mekanisme kerja berbeda. Obat-obat ini menghambat DNA girase sehingga menghambat sintesis DNA. DNA girase adalah enzim pada bakteri yang menyebabkan terbukanya dan terbentuknya superheliks pada DNA. Ini merupakan satu-satunya golongan antibakteri yang menghambat replikasi DNA. Pendekatan ini lebih lazim digunakan untuk obat-obatan antivirus dan antikanker (Stringer, 2008).
Efek samping :
Reaksi anafilaktik (karena mempunyai cincin beta-laktam sehingga secara struktural berhubungan dengan penisilin dan sefalosporin)
Kelainan ringan pada fungsi hati.
Iritasi lokal dan bengkak pada tempat suntikan.
Resistensi telah terjadi pada mikroba yang kurang sensitif, Pseudomonas, beberapa strain Enterobacteriaceae, dan Staphylococcus. Metode-metode analisis quinolone : HPLC, Kromatografi, Kolorimetri, dll (Anonim, 2004)
Quinolon, merupakan bakterisida karena menghambat lepasnya untai DNA yang terbuka pada proses superkoil dengan menghambat DNA girase (enzim yang menekan DNA bakteri menjadi superkoil). Untuk memasukkan DNA untai ganda yang panjang kedalam sel bakteri, DNA diatur dalam loop (DNA terrelaksasi) yang kemudian diperpendek oleh proses superkoil. Sel eukariotik tidak mengandung DNA girase. Sifat penting dari Quinolon adalah penetrasinya yang baik ke dalam jaringan dan sel (bandingkan dengan Penisilin), efektivitasnya bila diberikan secara oral, dan toksisitasnya relatif rendah (Neal, 2006).
Asam Nalidiksat adalah quinolon pertama yang ditemukan memiliki aktivitas antibakteri, tapi Asam Nalidiksat tidak mencapai kadar antibakteri sistemik dan sampai saat ini hanya digunakan pada infeksi saluran kemih. Norfloksasin tidak mempunya aktivitas sistemik, terkonsentrasi dalam urin dan merupakan obat lini kedua pada infeksi saluran kemih. Siprofloksasin merupakan agen antibakteri spektrum luas. Diabsorbsi baik secara oral dan dapat secara intravena. Dieliminasi oleh ginjal dan (sebagian besar) dalamm bentuk yang tidak berubah. Siprofloksasin mempunyai substituent 6-fluoro yang sangat memperkuat potensi antibakteri melawan bakteri gram (+) dan terutama bakteri gram (-) (E. coli, P.aeruginosa, Salmonella, Campylobacter). Efek samping jarang terjadi, meliputi mual, muntah, ruam, pusing, dan sakit kepala. Konvulsi bisa terjadi karena quinolon merupakan antagonis asam γ-aminobutirat (GABA) (Neal, 2006). Antibiotika ini berinteraksi dengan DNA gyrase pada bakteri (topoisomerase tipe II) dan mencegah penguraian DNA pada saat proses sintesa. Siprofloksasin termetabolisme pada hati dan diekskresikan melalui ginjal selama 24 jam,
Levofloxacin merupakan antibiotika flluroquinolon yang lebih poten dari ciprofloxacin, selama ini belum ada penetapan kadarnya dalam plasma darah manusia dengan menggunakan SPE kemudian dianalaisis dengan KCKT detektor UV, semantara dari strukturnya yang mengandung kromofor memungkinkan untuk dilakukan analisis dengan detekor UV.
Ofloxacin digunakan secara oral atau IV pada orang dewasa untuk pengobatan ringan sampai sedang infeksi saluran kemih, prostatitis, infeksi saluran pernapasan bawah dan infeksi struktur kulit yang disebabkan oleh bakteri aerobik rentan gram negatif dan positif. Selain itu, obat ini digunakan dalam pengobatan akut, gonore tanpa komplikasi, infeksi gonokokal disebarluaskan, uretritis dan servisitis nongonococcal disebabkan oleh Chlamydia rentan, infeksi campuran uretra dan serviks yang disebabkan oleh C. trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae, dan penyakit radang panggul akut (termasuk infeksi berat) yang disebabkan oleh C. trachomatis dan / atau N. gonorrhoeae. Ofloksasin dengan cepat dan hampir sepenuhnya diserap dari saluran pencernaan setelah pemberian oral. Obat tidak mengalami cukup pertama-pass metabolisme. Kehadiran makanan di saluran pencernaan bisa sedikit menurun tingkat dan / atau tingkat penyerapan ofloksasin, bagaimanapun, efek ini tidak dianggap penting secara klinis. Bioavailabilitas oral ofloksasin adalah 85-100% yang sehat, dewasa puasa, dan konsentrasi serum puncak obat umumnya dicapai dalam 0,5-2 jam. Pada orang dewasa yang sehat dengan fungsi ginjal normal, waktu paruh eliminasi ofloksasin dalam fase distribusi rata-rata 0,5-0,6 jam dan waktu paruh eliminasi di terminal fase rata-rata 4-8 jam. Ofloksasin terjadi sebagai off-putih pucat-kuning, bubuk kristal. Pada suhu kamar, ofloksasin memiliki kelarutan air dari 3,5-4 mg / ml pada pH 7, 60 mg / ml pada pH 2-5 dan 303 mg / ml pada pH 9,8. Para pKas obat adalah 5.74 dan 7,9 (McEvoy, 2005).
Norfloksasin (NFX) adalah asam karboksilat fluoroquinoline. Hal ini efektif terhadap bakteri gram positif dan gram- bakteri negatif melalui penghambatan girase DNA mereka, enzim penting untuk replikasi kromosom bakteri
BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Siprofloksasin
Sebuah metode HPLC yang sederhana dan sensitive. Metode yang dijelaskan untuk analisis kuantitatif siprofloksasin dalam farmasi dan plasma manusia. Metode ini menggunakan kromatografi fase terbalik dengan menggunakan kolom RP-C18 dengan metode isokratik. Fase gerak yang dipakai adalah larutan asam asetat asetonitril-2% (16:84, v / v), umbelliferone sebagai standar internal, dan laju alir sebanyak1,0 mL / menit. UV detektor diatur pada 280 nm. Batas deteksi 0,25 M (S / N = 3, Volume injeksi = 10 uL). Persamaan regresi linier (r> 0,9999) pada rentang antara 0.51 ~ 130 M untuk analisis farmasi pada siprofloksasin dan 0.51 ~ 64,8 M untuk analisis biologis siprofloksasin pada plasma manusia. Ripitabilitas dan presisi antara yang didapat adalah dengan standar deviasi dan kesalahan relatif masing-masing kurang dari 3,39% dan 5,71%. %recovery yang di dapat lebih besar dari 93,8%. Metode ini berhasil diterapkan dalam studi farmakokinetik dengan setiap relawan yang menerima 500 mg tablet siprofloksasin (Chein, 2008).
Ofloksasin
FIA (Flow Injection Analysis)
FIA berdasarkan pada kemiluminisensi turunan fluoroquinolon (ofloksasin, norfloksasin, dan siprofloksasin) telah diusulkan oleh Aly dkk. (2001). Metode ini didasarkan pada kemiluminisensi obat dengan tris (2,2'-biripiridil) ruthenium (II) [Ru(bipy)32+] dan serium (IV) dalam medium asam sulfat. Dibawah kondisi yang optimum, intensitas kemiluminisensi sebanding dengan konsentrasi obat pada kisaran 0,003-7,0 ppm untuk ofloksasin. Larutan induk 1 mg/mL semua fluoroquinolon disiapkan dalam methanol, kecuali siprofloksasin yang disiapkan dalam aquadest.
Prosedur umumnya : sebanyak 0,1 mL larutan ofloksasin diinjeksikan ke aliran [Ru(bipy)32+] yang selanjutnya digabungkan dengan suatu aliran larutan Ce (IV) yang diasamkan (lihat table) dan tinggi puncak yang dihasilkan diukur. Kurva kalibrasi dibuat dengan suatu plot hubungan antara tinggi puncak dengan konsentrasi obat.
Analisis sediaan tablet : sebanyak 10 tablet ditimbang dan diserbuk. Sejumlah serbuk yang setara dengan 10 mg obat dipindahkan kedalam labu takar 100 ml dan diencerkan sampai batas tanda dengan methanol. Larutan disonikasi selama 20 menit dan selanjutnya disaring dan diperlakukan sebagaimana diatas, sebagaimana dalam prosedur umumya.
Prosedur analisis pada sampel urin yang dispiking : sejumlah alikuot larutan obat yang mengandung 200 µg ( untuk ofloksasin mengandung 100 µg) ditambahkan kedalam 1 mL urin dan digojog selama 3 menit, lalu ditambah dengan 1 mL buffer fosfat pH 7. Larutan diekstraksi dengan 3 x 5 mL campuran diklorometan-kloroform (1:1) (untuk ofloksasin, ekstraksi dengan 3 x 10 mL diklorometana-isopropil alkhol (9:1)). Ambil dan saring lapisan organic melalui natrium sulfat anhidrat. Uapkan ekstrak organic ini dibawah aliran gas nitrogen pada suhu kamar. Larutkan residu dalam 10 mL methanol dan lanjutkan sebagaimana dalam prosedur umumnya.
Pada penetapan kadar obat diatas, mekanisme reaksinya melibatkan oksidasi Ru(bipy)32+ dan amina sekunder atau tersier yang terdapat dalam fluoroquinolon dengan Ce (IV). Produk oksidasi amina mengalami deprotonasi membentuk radikal. Radikal ini akan mereduksi Ru(bipy)32+ menjadi keadaan tereksitasi yang selanjutnya akan mengemisikan sinar sebagaimana ditunjukkan dibawah ini :
Ru(bipy)32+ + Ce (IV) Ru(bipy)32+ + Ce (III)
Fluoroquinolon + Ce (IV) Fluoroquinolon++ Ce (III)
Fluoroquinolon+ H+ + Fluoroquinolon
Ru(bipy)32+ + Fluoroquinolon + H2O [Ru(bipy)32+] + fragmen fluoroquinolon + H+
[Ru(bipy)32+]* Ru(bipy)32+ + sinar
KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi)
Shervington dkk. (2005) menggunakan KCKT untuk pemisahan dan kuantifikasi 5 antibiotika quinolon secara bersama-sama, yakni asam nalidiksat, norfloksasin, ofloksasin, siprofloksasin dan lomefloksasin. Pemisahan kromatografi dilakukan dengan kolom Phenomenex ODS C18 (2) (150 mm x 4,6 mm i.d) yang dihubungkan dengan kolom pengaman yang sama (30 mm x 4,6 mm i.d), keduanya dengan tebal lapisan 5 µm. Fase gerak yang digunakan adalah asetonitril 35% dalam akuades yang mengandung tetrabutilamonium asetat 10 mM, natrium dodesil sulfat 10 mM dan asam sitrat 25 mM. pH fase gerak diatur 3,4 dan fase gerak dihantarkan secara isokratik pada kecepatan alir 1 mL/menit. Detektor photo-diode array diatur pada panjang gelombang 235, 254, 275 dan 300 nm. Baru-baru ini, KCKT telah digunakan untuk analisis dimer fluoroquinolon yang potensial sebagai anti bakteri yang aktif terhadap bakteri gram positif (Khan, dkk., 2012).
Moksifloksasin
Moksifloksasin : antibiotika quinolon yang tersedia dalam bentuk tablet dengan moksifloksasin kandungan 400 mg, selain itu tersedia juga dalam bentuk infuse dengan kandungan moksifloksasin 400 mg/250 mL.
Farmakokinetik dari moksifloksasin pada pasien UGD dengan gagal ginjal akut:
Kondisi : Metode analisis dengan menggunakan KCKT detector fluoresensi dan kolom C18 (4,6 x 150 mm; ukuran partikel 5 µm ) dengan panjang gelombang eksitasi 295 nm dan emisi 490 nm. Fase gerak yang digunakan adalah air-metanol-trietilamin-asam ortofosfat (750 : 250 : 4 : 2,5 : v/v/v/v ) dengan laju alir 1,5 mL/menit. Siprofloksasin digunakan sebagai baku dalam. Kurva kalibrasi moksifloksasin pada konsentrasi 0,1-40 µg/mL.
Levofloksasin
Beberapa prosedur dan tenik telah dikembangkan untuk menetapkan kadar dari levofloxacin dalam matrik cairan hayati antara lain dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau HPLC dan Fluorimetri.
Sebuah metode kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) untuk penentuan levofloxacin dalam plasma manusia dan urin telah divalidasi. Sebuah prosedur ekstraksi cair-cair satu langkah yang digunakan untuk mengisolasi levofloxacin dari matriks biologis sebelum analisis kuantitatif. Senyawa dipisahkan pada kolom HPLC C18 fase terbalik Inertsil dan dihitung dengan mengukur absorbansinya pada UV 330 nm. Stereospesifisitas ini dicapai dalam modus pertukaran ligan dengan memasukkan reagen kiral langsung ke fase gerak HPLC (Wong et al., 1997). Selain itu, ekstraksi sampel dapat didasarkan pada ekstraksi cair-padat otomatis dengan sebuah cartridge OASIS. Metode yang digunakan dengan detektor UV pada panjang gelombang 299 nm dan pemisahan dilakukan dengan kolom Supelcosil ABZ. Pengujian telah ditemukan linier selama rentang konsentrasi 0,25-25 mg/mL dalam plasma (Djabarouti et a., 2002). Levofloksasin dan siprofloksasin secara bersamaan ditentukan melalui mikrodialisis dan sampel plasma dengan kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) fase terbalik dan dideteksi fluoresensi. Analit dipisahkan dalam modus isokratik dalam waktu 12 menit. Kurva kalibrasi untuk levofloxacin adalah linier,0156-5 mg/mL dan 0,02-12,5 mg/mL di mikrodialisis dan sampel plasma masing-masing. Batas-batas kuantifikasi untuk levofloxacin dan ciprofloxacin adalah 0,0156 dan 0,1 mg/mL dalam sampel mikrodialisis, dan 0,02 dan 0,1 mg/mL dalam sampel plasma (Neckel et al., 2002).
Di jurnal lainnya, metode kromatografi cair kinerja tinggi dengan deteksi fluoresensi (HPLC-FLD) untuk penentuan levofloxacin dalam plasma manusia dijelaskan dapat dinetralkan dengan buffer fosfat (pH 7,0), sampel (0,1 mL) diekstraksi dengan dichlormethane (1 mL). Setelah voltex-pencampuran dan disentrifugasi pada 3000g selama 6 menit pada 4 ° C, lapisan berair atas disedot menggunakan pompa vakum mikro dan lapisan organik langsung ditransfer ke tabung reaksi yang bersih tanpa dipipet. Pelarut organik diuapkan dan residu dilarutkan dengan fase gerak. Levofloxacin dan terazosin (internal standar, IS) yang chromatographically dipisahkan pada kolom C18 dengan fase gerak yang mengandung buffer fosfat (pH 3,0, 10 mm), asetonitril dan trietilamina (76:24:0.076, v/v/v) pada aliran tingkat 1 mL/menit. Analit dideteksi menggunakan deteksi fluoresensi pada eksitasi dan emisi panjang gelombang 295 dan 440 nm, masing-masing. Daerah linear dari kurva kalibrasi adalah,0521-5,213 mg/mL untuk levofloxacin dengan batas bawah kuantitasi (0,0521 mg/mL). Waktu retensi levofloxacin dan terazosin adalah 2,5 dan 3,1 menit, masing-masing. Dalam-dan antar-lari presisi kurang dari 12 dan 11%, masing-masing. Akurasi berkisar antara -6.3 sampai 4,5%. Pemulihan berkisar 86-89% pada konsentrasi 0,0521, 0,5213 dan 5,213 mg/mL. Kehadiran metode HPLC-FLD sensitif, efisien dan dapat diandalkan (Zhou et al., 2007).
Pengembangan penetapan kadar levofloxacin dalam sediaan farmasi telah dilakukan secara Spektrofotometri UV-Visibel. Dua metode spektrofotometri ekstraktif sederhana dan sensitif telah dijelaskan untuk pemeriksaan levofloxacin (LVFX) baik dalam bentuk murni atau dalam formulasi farmasi. Metode yang dikembangkan melibatkan pembentukan berwarna kloroform diekstrak kompleks pasangan ion (1:1 dan 1:02 obat / zat warna) dari levofloxacin dengan bromophenol biru (BPB) dan Bromocresol hijau (BCG) dalam medium asam berair. Kompleks diekstraksi menunjukkan absorbansi maksimum pada 424 dan 428 nm untuk LVFX-BPB dan LVFX-BCG, masing-masing. Hukum Beer dipatuhi dalam konsentrasi berkisar 1,85-31,5 dan 1,85-25 mg ml-1 dengan BPB dan BCG, masing-masing. Metode telah diterapkan untuk penentuan obat dalam tablet komersial. Hasil analisis statistik telah divalidasi. Eksipien hadir dalam formulasi tidak mengganggu prosedur uji (Ashour et al., 2005).
Dua metode sederhana, cepat, akurat dan ekonomis lainnya adalah spektrofotometri UV dan metode 'Pertama Orde Derivatif' telah dikembangkan untuk penentuan levofloxacin hemihydrate dalam tablet jumlah besar dengan (10% v / v) asetonitril, yang λmax obat itu ditemukan 288 nm. Spektrum yang sama diturunkan dari derivatif menjadi urutan pertama, dengan menggunakan pemeriksaan UV software instrumen (Shimadzu-2450), pada Δλ = 4. Amplitudo palung tercatat sebesar 297 nm. Dalam kedua metode yang diusulkan, levofloxacin hemihydrate berikut linearitas dalam rentang konsentrasi 2-12 mg/mL dengan koefisien korelasi 0,9999. Hasil Uji yang diperoleh sama dengan label klaim. Metode yang divalidasi secara statistik dan studi pemulihan. Standar deviasi relatif ditemukan menjadi kurang dari 2% dengan presisi yang sangat baik dan akurasi (Pate et al., 2009).
Dua metode sederhana berdasarkan pada spektrofotometri tampak digunakan untuk determinasi levofloksasin dalam bahan murni, sediaan tablet dan sampel urin. Keduanya berdasarkan pada pembentukan kompleks biner antara obat-obat ini dengan salah satu zat warna xantan, yakni eosin Y dan merbromin dalam medium buffer berair. Di bawah kondisi optimum, kompleks biner obat dengan eosin Y menunjukkan serapan maksimal di 547 nm, sementara kompleks biner obat dengan merbromin mempunyai panjang gelombang maksimal di 545 nm. Dengan menggunakan eosin Y, kurva kalibrasi linier pada kisaran konsentrasi 2-8 ppm, sementara dengan merbromin, kurva kalibrasi linear pada kisaran 2-15 ppm.
Larutan induk disiapkan dengan melarutkan 20 mg obat dalam sejumlah akuades, atur pH 5,5 – 7, dan buat sampai 100 ml dengan akudes. Zat warna eosin Y dan merbromin dibuat dengan konsentrasi 0,004 M dalam akuades. Larutan KCN 0,5% dibuat dalam akuades. Buffer asetat 0,4 M disiapkan dengan mencampur berbagai volume asam asetat 0,4 M dan natrium asetat0,4 M sampai pH yang dipersyaratkan terpenuhi yakni 2,5 –6.
Prosedur umum yang direkomendasikan untuk metode dengan merbromin: sejumlah alikuot larutan induk levofloksasinyang diambil secara seksama dipindahkan ke dalam serangkaian labu takar 10 mL (dalam kisaran konsentrasi akhir 2-15 µg/mL ) dan ditambah dengan o,8 mL KCN 0,5%. Larutan diencerkan dengan 8 mL akuades dan ditambahkan dengan 0,6 mL larutan merbromin 0,004 M dan dilanjutkan dengan penambahan 1 mL buffer asetat 0,4 M pH 3. Campuran selanjutnya diencerkan sampai 10 mL dengan akuades dan absorbansinya diukur pada panjang gelombang 545 nm terhadap blanko yang dipersiapkan secara bersama-sama.
Prosedur umum yang direkomendasikan untuk metode dengan eosin Y : sejumlah alikuot larutan induk obat yang diambil secara seksama dipindahkan ke labu takar 10 mL (dalam kisaran konsentrasi akhir 2 – 8 µg/mL) dan diencarkan dengan 8 mL akuades. Sebanyak 0,5 mL eosin Y 0,004 M selanjutnya ditambahkan dan campuran dicampur dengan baik sebelum dilakukan penambahan 1 mL buffer asetat 0,4 M pH 3, untuk menghilangkan masing-masing labu. Campuran selanjutnya diencerkan sampai volume dengan akuades dan absorbansinya diukur pada panjang gelombang 547 nm terhadap blanko yang dipersiapkan secara bersama-sama ( El-Brashy dkk., 2004).
Pefloksasin
Penetapan kadar antibiotik pefloxacin (Abaktal) methanesulphonate dalam larutan air dan tablet dapat direaksikan dengan Fe (III) pada pH 1,00-8,00 untuk membentuk kompleks yang larut dalam air dengan serapan maksimum pada 360 nm. Komposisi kompleks, ditentukan secara spektrofotometri dengan penerapan langsung, molar-rasio dan metode Bent-Perancis, adalah pefloxacin: Fe (III) = 01:01 (pH = 2.50, lambda = 360 nm, mu = 0,1 M). Stabilitas relatif konstan, diperoleh dengan metode Sommer dan Asmus adalah 10 (5,02) (pH = 2.50, lambda = 360 nm, mu = 0,1 M). Penyerapan molar kompleks pada 360 nm ditemukan menjadi 4,8 x 10 (3) l mol-1 cm-1. Hukum Beer diikuti untuk konsentrasi pefloxacin dari 2,15-85,88 mikrogram/mL. Batas sensitivitas yang lebih rendah dari metode ini 2,15 mikrogram/mL. Standar deviasi relatif (n = 10) adalah 0,57-1,07% (Jelikić-Stankov et al., 1989).
Norfloksasin
Beberapa metode analisis telah dikembangkan untuk penentuan dalam sediaan farmasi dan cairan biologis. Penentuan NFX farmasi persiapan secara spektrofotometri dan spectrofluorimetri . Beberapa HPLC metode untuk penentuan NFX di cairan biologis. Sebuah metode HPLC telah dilaporkan untuk uji dari NFX urin dan serum dan urin dikembangkan Metode elektroforesis kapiler telah digunakan untuk penentuan NFX di farmasi dan nyata kompleks. Penentuan NFX dalam kapsul, manusia serum dan urin oleh chemiluminescence. Sensitif, direproduksi dan akurat prosedur HPLC dengan deteksi fluoresensi untuk yang NFX tekad dalam tablet dengan cara derivatif dibentuk dengan 4-kloro-7 nitrobenzofurazan. 4-kloro-7- nitrobenzofurazan biasanya bereaksi dengan primer dan sekunder amina.
Metode yang diusulkan sepenuhnya divalidasi untuk linearitas, membatasi deteksi, batas kuantifikasi, akurasi,presisi, spesifisitas dan ketahanan. Itu penting untuk membangun assay dengan LOD dalam ng / ml kisaran rendah. Kali pemisahan pendek dan sensitivitas tinggi adalah utama keuntungan seperti teknik (Yang et al., 1008).
Sparfloksasin
Metode spektrofluorometri yang sederhana dan peka telah digunakan untuk analisis antibiotika quinolon, yakni Norfloksasin (NOR), Siprofloksasin (CIP), dan pefloksasin (PEF). Metode ini didasarkan pada perpindahan energy radiatif dari fluorokinolon ke ion terbium (Tb3+) dengan adanya tri-n-oktilfosfin oksida (TOPO) dalam larutan misel setilpiridinium klorida (CPCI) dalam medium asam lemah (pH 5,5) ( Veiopoulou et al., 1997).
Prosedur spektrofluorometri juga dikembangkan untuk analisis sparfloksasin dan enrofloksasin dalam sediaan farmasi dan cairan biologis. Prosedur ini didasarkan pada fluorosensi intrinsik sparfloksasin dalam asetonotril. Selain itu, untuk meningkatkan intensitas fluorosensi, obat dapat diinteraksikan dengan AlCl3, pH optimum untuk fluorosensi sparfloksasin adalah 8-8,5; sementara untuk enrofloksasin adalah 3,5 (Rizk et al., 2000).
Gatifloksasin
TBA (Titrasi Bebas Air)
Gatifloksasin dapat di analisis dengan menggunakan methode TBA menggunakan matrix/pelarut berupa asam asetat glacial dan menggunakan titran Asam perklorat 0,1 M. Methode menggunakan TBA ini relative lebih mudah, murah, sederhana serta hasilnya baik (baik dalam akurasi, presisi maupun ripitabilitasnya).
Cara pengerjaan : Tablet Gatifloksasin disiapkan, pelarut yang digunakan adalah asam asetat glacial dan dengan indikator Kristal violet dalam asam asetat 0,1%. Bahan dimasukkan kedalam erlenmayer dan kemudian dititrasi dengan asam perklorat 0,1M hingga warnanya berubah.
Untuk perhitungan kadar dari tablet Gatifloksasin dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini :

(Marona et al, 2003)
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
Campuran Levofloksasin, Siprofloksasin, Gatifloksasin, Moksifloksasin, Trovafloksasin dan Sinoksasin juga dapat di analisis dengan menggunakan KCKT. Pemisahan dapat dilakukan dengan menggunakan kolom Adsorbosphere C18. Pemisahan dilakukan pada suhu kamar. Fase gerak yang digunakan adalah Sodium Dodesil Sufat 10mM, Tetrabutilamonium Asetat 10mM, asam Sitrat dengan kandungan asetonitril 43% pada pH 3,5. Deteksi dilakukan dengan flourosense dengan panjang gelombang eksitas-emisi 280-450 nm (untuk siprofloksasin), 293-450 (untuk levofloksasin, gatifloksasin, dan mofifloksasin), serta pada 263-450 nm (untuk sinoksasin) (Liang et al, 2002).
Dalam bentuk tunggal (sediaan tablet) Gatifloksasin dapat pula dianalisis dengan menggunakan KCKT dengan system terbalik, yaitu melarutkan sediaan kedalam campuran air : asetonitril (80 : 20), dan menginjeksikan sebanyak 20µL, menggunakan kolom kromasil C18, flow rate 1 mL/ menit. Deteksi dilakukan pada 296 nm (UV) (Abida et al, 2011).
KLT (Kromatografi Lapis Tipis)
Analisis terhadap Gatifloksasin bersama-sama dengan Ornidazol dapat dilakukan dengan menggunakan system KLTKT dengan menggunakan fase diam Silica gel 60 F254, fase gerak berupa campuran n-butanol : methanol : amoniak (8:1:1,5) dan dideteksi pada UV 302 nm. Sampel dilarutkan dalam methanol dan penotolan pada plat dilakukan dibawah aliran gas nitrogen. Dari prosedur analisis ini didapatkan Gatifloksasin dan Ordinazol terpisah dengan baik, dimana Rf Gatifloksasin berada pada 0,21 dan Ordinasol pada Rf 0,76 (Suhagia dkk, 2006).
Spektrofotometri
Tablet Gatifloksasin dapat di analisis menggunakan Spektrofotometri dengan bantuan agen hidrotropik. Agen hidrotropik adalah bahan-bahan baik dalam bentuk padatan ataupun cairan yang larut dalam air dan digunakan sebagai bahan cosolvensi atau bahan pembantu untuk melarutkan bahan-bahan lain yang sukar larut dalam air. Dalam methode ini digunakan campuran larutan N,N Dimetil urea dan larutan natrium sitrat sebagai agen hidrotropik untuk membantu kelarutan Gatifloksasin dalam air, didapatkan dengan menggunakan agen hidrotropik ini akan menambah kelarutan dari Gatifloksasin sebesar 15 kali lipat. Setelah itu campuran dapat dilihat absorbansinya di spektrofotometer (rentang UV) pada panjang gelombang 288 nm (Shrivastava et al, 2011).
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Antibiotik golongan quinolon yang kami uraikan dalam makalah ini adalah metode penetapan kadar Siprofloksasin, Ofloksasin, Moksifloksasin, Levofloksasin, Pefloksasin, Norfloksasin, Sparfloksasin, dan Gatifloksasin. Metode analisis yang dapat digunakan adalah KCKT, Spektrofotometri UV-Vis, Spektrofluorometri, FIA, TBA, Fluorometri, dan KLT.
Sekiranya makalah ini dapat digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu, terutama tentang antibiotik golongan quinolon serta menambah ilmu dan pengetahuan yang lebih tentang metode-metode analisis yang dapat digunakan untuk menganalisis obat-obat golongan tersebut sehinga dapat digunakan sebagaimana kegunaan dan tujuan dari kegiatan kefarmasian.
DAFTAR PUSTAKA
Abida B. Narasimhan, Srinivas K., and Mohd Imran, 2011, RP-HPLC method development and validation for gatifloxacin from tablet formulation., IJPI's Journal of Analytical Chemistry.,1., 2-7
Ashour Safwan , Al-Khalil Raghad, 2005, Simple extractive colorimetric determination of levofloxacin by acid–dye complexation methods in pharmaceutical preparations, J Il Farmaco,60., 771-775Chein S.S., Wu Chih-Yuan, and Wen Yen-Hsia., 2008, Analysis of Ciprofloxacin by a Simple High-Performance Liquid Chromatography Method., Journal of Chromatographic Science., 46., 1
Djabauroti S., Boeselli E, Allauchiche B, Ba B., Nguyen A.T., Gordien J.B., Bernadou J.M., Saux M.C., and Breilh D., 2004., Determination of Levofloxacin In Plasma, Broncho alveolar Lavage and Bone-Tissues By High-Perpormance Liquid Chromatography with UV Detection Using a Fully Automated Extraction Methode., J of Chrom B., 799., 165-172
Herida R. N. Marona, Cristiani C. G. O. Lopes, Simone G. Cardoso., 2003, Non-aqueous titration of gatifloxacin in pharmaceutical formulations using perchloric acid., J. Pharm., 22., 339-42
Jelikić-Stankov M, Veselinović D, Malesev D, Radović Z, 1989, Spectrophotometric determination of pefloxacin in pharmaceutical preparations, J Pharm Biomed Anal., 12., 1571-1577
Lestari Dwi, 2008, Validasi Metode, Universitas Indonesia Press, Jakarta
Liang H., Kays M.B., and Showinski K.M., 2002, Separation of levofloxacin, ciprofloxacin, gatifloxacin, moxifloxacin, trovafloxacin, and cinoxacin by high-performance liquid chromatography : application to levofloxacin determination in human plasma., Jaounal of Chromatography., 772., 53-63 Rizk M., Belal F., Ibrahim F., Ahmed S., and El-Enany N., 2000, Spectrofluorometric analysis of certain 4-quinolone in pharmaceutical and biological fluids., J Pharmaceutica Acta Helvetiae., 74., 371-377
McEvoy, G.K. 2005. Marryland AHFS Drug Information. The American Society of Health-System Pharmacists Inc. USA : 2653-2656
Neal M.J., 2006, At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta
Neckel U., Joukhadar C., Frossard M., Jäger W., Müller M., Mayer B.X., 2002, Simultaneous determination of levofloxacin and ciprofloxacin in microdialysates and plasma by high-performance liquid chromatography, J of Analytica Chimica Acta., 463., 199-206
Pate RC., Naka Karwand, Shirpur, 2009, Quantitative determination of levofloxacin hemihydrate In bulk and tablets by uv-spectrophotometry and first order derivative methods, J. Pharm. Sci., 22., 301-302
Shrivastava Rounak., Jain Rahul., and Patel Shailesh, 2011, Spectrophotometic analysis of gatifloxacin tablets using mixed hydrotrophy., IJSPR., 2., 2709-2711
Suhagia B.N., Shah S.A., Rathod I.S., Patel H.M., Shah D.R., and Marolia B.P., 2006, Determination of gatifloxacin and ornidazole in tablet dosage forms by using high-performance thin-layer chromatography., J Analitical Science., 22., 743-745
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fak. Kedokteran Univ. Sriwijaya, 2004, Kumpulan Kuliah Farmakologi Ed.2, EGC, Jakarta
Stringer Janet, 2008, Konsep Dasar Farmakologi Panduan untuk Mahasiswa, EGC, Jakarta
Veiopoulou C.J., Ioannou P.C., and Lianidou E.S., 1997, Application of terbium sensitized fluoroscene fot the determination of fluoroquinolone antibiotics pefloxacin, ciprofloxacin and norfloxacin in serum., Journal of Pharmaceutical and Biomedical Analysis., 15., 1893-1844
Wong F.A., Juzwin S.J., Flor S.C., 1997, Rapid stereospecific high-performance liquid chromatographic determination of levofloxacin in human plasma and urine, Journal of Pharmaceutical and Biomedical Analysis, 15., 765-771
Xiao Yang et al,2008, Trace analysis of quinolone and fluoroquinolone antibiotics from wastewaters by liquid chromatography–electrospray tandem mass spectrometry, Journal of Chromatography A., 1214., 100–108
Zhou Zhi-Ling, Yang Min, Yu Xi-Yong, Peng Huai-Yan, Shan Zhi-Xin, Chen, Shu-Zhen Lin Qiu-Xiong, Liu Xiao-Ying, Chen Tie-Feng, Zhou Shu-Feng, 2007, A rapid and simple high-performance liquid chromatography method for the determination of human plasma levofloxacin concentration and its application to bioequivalence studies, J Biomedical Chromatography., 21., 1045-1051


Download MAKALAH ANALISIS FARMASI Mei 2013 BAB1 3.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca MAKALAH ANALISIS FARMASI Mei 2013 BAB1 3. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon