February 07, 2017

Makalah Administrasi Pendidikan - Kebijakan Pendidikan


Judul: Makalah Administrasi Pendidikan - Kebijakan Pendidikan
Penulis: Umi Habibah


BAB IIPEMBAHASAN
Konsep- konsep Dasar Kurikulum
Pengertian kurikulum
Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli, yaitu sebagai berikut:
Ralph Tyler (1049): Semua pelajaran-pelajaran murid yang direncanakan dan dilakukan oleh pihak sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikannya.
J. Wiles & J. Bondi (1989): Kurikulum ialah suatu cita-cita atau seperangkat nilai-nilai, yang digerakkan melalui suatu pengembangan proses kulminasi dalam pengalaman-pengalaman dikelas untuk murid-murid.
J. Galen Saylor dan William M. Alexander menjelaskan bahwa segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah atau diluar sekolah termasuk kurikulum.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah semua kegiatan yang direncanakan dan dilakukan oleh pihak sekolah untuk membimbing mereka disekolah sebagai pengalaman murid untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
Karakteristik kurikulum
Karakteristik-karakteristik kurikulum adalah sebagai berikut:
Curriculum as Subject Matter (Kurikulum merupakan kebenaran yang telah terjadi)
Curriculum as Experience (dalam karakteristik kurikulum ini, guru bertindak sebagai fasilitator untuk mempertinggi pertumbuhan kepribadian anak didik.)
Curriculum as Intention (suatu perencanaan kurikulum yang komprehensif terhadap pengalaman-pengalaman belajar anak didik telah ditentukan lebih awal sebelum mereka memulai kurukulum itu.)
Curriculum as Cultural Reproduction (suatu alat konsensus sejauh mana pengetahuan dan nilai-nilai yang sungguh bernilai untuk disampaikan dari suatu generasi ke generasi selanjutnya.)
Curriculum as Currere (karakteristik ini menekankan pada perspektif pengalaman dan akibat terhadap kurikulum adalah interpretasi terhadap pengalaman hidup.)
Komponen-komponen kurikulum
Berikut ini diuraikan masing-masing komponen dari kurikulum, antara lain:
Komponen Tujuan
Tujuan pendidikan berkaitan dengan perwujudan domain-domain anak didik melalui suatu proses pendidikan, yaitu sebagai berikut:
Tujan pendidikan nasional, yaitu suatu cita-cita yang untuk menciptakan insan yang beriman dan bertakwa disamping mempunyai pengetahuan dan keterampilan.
Tujuan institusional merupakan tindak lanjut dari tujuan pendidikan nasional. Macam-macam tujuan institusional, antara lain: SD/MI, SMP/MTs, SMU/MA, Universitas, dan sebagainya.
Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan yang perlu dicapai oleh anak didik setelah ia menyelesaikan pendidikannya.
Tujuan Instruksional, merupakan tujuan bersifat operasional yakni diharapkan dapat tercapai pada saat proses belajar mengajar yang bersifat langsung dan terjadi setiap hari dibahas.
Komponen Isi dan Struktur Program atau Materi merupakan materi yang diprogramkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Komponen Media atau Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana atau media merupakan alat bantu untuk memudahkan dalam mengaplikasikan isi kurikulum agar lebih mudah dimengerti oleh anak didik dalam proses belajar mengajar.
Komponen Strategi Belajar Mengajar
Komponen Proses Belajar Mengajar
Komponen Evaluasi atau Penilaian
Evaluasi adalah alat untuk melihat sejauh mana keberhasilan dalam pelaksanaan kurikulum. Penilaian atau evaluasi akan menentukan tujuan kurikulum, materi atau bahan, dan proses belajar mengajar.
Proses pengembangan kurikulum
Pedoman kurikulum meliputi :
Latar belakang yang berisi rumusan falsafah dan tujuan lembaga pendidikan, populasi yang menjadi sasaran, rasional bidang studi atau matakuliah, struktur organisasi bahan pelajaran.
Silabus yang berisi mata pelajaran secara lebih terinci yang diberikan yakni ruang lingkup dan urutan pengajiannya.
Disain evaluasi termasuk strategi revisi atau perbaikan kurikulum.
Pedoman instruksional untuk tiap mata pelajaran yang dikembangkan berdasarkan silabus.
Model-model Pengembangan Kurikulum
Istilah model mempunyai banyak pengertian beberapa diantaranya ialah yang dikemukakan oleh William A.Shcrode, D Voich (1974) mengemukakan bahwa " models are a representative of reality intended to explain the behavior of some aspects of it". Dari defenisi ini jelas bahwa model dapat dijadikan sebagai resprentasi dari suatu realitas untuk menerangkan perilaku dari apa yang digambarkan tersebut.
Menurut Good (1972) dan Travers (1973) model adalah abstraksi dunia nyata atau respresentasi peristiwa kompleks atau system, dalam bentuk naratif, matematis, grafis serta lambing-lambang lainnya. Model bukanlah realitas akan tetapi merupakan respresntasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang didapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu kedalam realitas , yang sifatnya lebih praktis.
Sedangkan pengembangan kurikulum merupakan istilah komprehensif di dalamnya mencakup perencanaan, penerapan, dan penilaian. sehingga yang dimaksud dengan model pengembangan kurikulum adalah rancangan, penerapan dan penialaian yang didapat digunakan untuk mengembangkan suatu kurikulum , dimana pengembangan kurikulum dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, daerah maupun sekolah.
Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong sipengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh. Model- model pengembangan kurikulum diantaranya adalah:
Ralph Tayler
Dalam bukunya yang berjudul yang berjudul Basic Principles of curriculum and instruction, Tyler mengatakan bahwa curriculum development needed to be treated logically and systematically. Ia berupaya menjelaskan tentang pentingnya pendapat secara rasional, menganalisis, menginterprestasi kurikulum dan program pengajaran dari suatu lembaga pendidikan.
Adapun maksud kata logically diatas adalah bahwa pengembangan kurikulum tersebut harus sesuai dengan logika yaitu bersifat rasional, sedangkan yang dimaksud dengan systematically adalah bagaimana merancang sesuatu kuikulum sesuai dengan tujuan , misi , suatu pendidikan.Proses pengembangan kurikulum model tyler adalah sebagai berikut:
179069104775
Menentukan Tujuan pendidikan
Dalam penyusunan suatu kurikulum , merumuskan tujuan merupakan langkah utama yang harus dikerjakan, sebab Tujuan pendidikan merupakan arah atau sasaran akhir yang harus dicapai dalam program pendidikan dan pembelajaran.Tayler menjelaskan bahwa sumber perumusan tujuan dapat berasal dari siswa, studi kehidupan masa kini, disiplin ilmu, filosofis, dan psikologi belajar.
Menentukan Pengalaman Belajar
Langkah kedua dalam proses pengembangan kurikulum adalah menentukan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Tayler mengemukakan : The term " learning experience" is not the same as the content with which a course deals nor activities performed by the teacher. The term "Learning Experience" refers to interection between the learner and the external condition in the enviropment to which he can react. Learning takes place through the acive behavior of the student, it is what he does that he learns not what the teacher does.
Pengalaman belajar mennjuk kepada aktivitas siswa didalam proses pembelajaran. Dengan demikian yang harus dipertanyakan dalam pengalaman ini adalah " apa yang telah atau akan dikerjakan siswa " bukan "apa yang akan atau telah diperbuat guru. Untuk itulah guru sebagai pengembang kurikulum mestinya memahami apa minta siswa, serta bagaimana latarbelakangnya. Dengan pemahaman tersebut akan memudahkan bagi guru dalam mendesain lingkungan yang dapat mengaktifkan sisiwa memperoleh pengelaman belajar.
Mengorganisasi Pengalaman Belajar
Langkah ketiga dalam merancang suatu kurikulum adalah mengorganisasikan pengalaman belajar baik dalam bentuk unit mata pelajaran, maupun dalm bentuk program. Ada 2 jenis pengorganisasian pengalaman belajar yaitu pengorganisasian secara vertical dan horizontal. Pengorganisasian secara vertical apabila menghubungkan pengalaman belajar dalam satu kajian yang sama dalam tingkat yang berbeda. Sedangkan pengorganisasian secara horizontal jika kita menghubungkan pengalaman belajar dalam bidang geografi dan sejarah dalam tingkat yang sama.
Evaluasi
Proses evaluasi merupakan langkah yang sangat penting untuk mendapatkan informasi tentang ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Evalasi memegang peranan yang cukup penting, sebab dengan evaluasi dapat ditentukan apakah kurikulum yang digunakan sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah atau belum.Terdapat 2 fungsi evaluasi yaitu pertama digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian tujuan oleh peserta didik (tingkat pencapain tujuan, penguasaan isi kurikulum setiap siswa). Kedua melihat efektivitas proses pembelajaran.
Model Taba
Ada 7 langkah pengembangan kurikulum model taba yaitu sebagai berikut:

Diagnosis Kebutuhan : pengembangan kurikulum dimulai dengan menentukan kebutuhan-kebutuhan siswa melalui diagnosis tentang " gaps", berbagai kekurangan( defeciences) dan perbedaan latar belakang siswa.
Merumuskan tujuan pembelajaran : setelah diagnosis lalu merumuskan tujuan.
Seleksi materiyaitu pemilihan isi kurikulum , pemilihan isi tidak hanya didasarkan pada tujuan yang harus dicapai akan tetapi harus mempertimbangkan segi validitas dan kebermaknaannya untuk siswa.
Organisasi materi yaitu setelah diseleksi selanjutnya isi kuriklum yang telah ditentukan tersebut disusun urutannya sehingga tampak pada tingkat berpa sebaiknya kurikulum itu diberikan
Seleksi pengalaman belajar yaitu menentukan pengalaman-pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa untuk mencapai tujuan kurikulum
Organisasi pengalaman belajar yaitu menentukan bagaimana mengemas pengalaman belajar siswa kedalam bentuk kegiatan
Menentukan cara dan alat untuk mengetahui hasil kegiatan yaitu menseleksi berbagai teknik yang dilakukan untuk menilai prestasi siswa.
Model Beauchamp
Beauchamp mengungkapkan ada 5 langkah proses pengembangan kurikulum yaitu:
Menetapkan wilayah ,arena atau ruang lingkup yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut.
Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum. Ada 4 kategori orang yang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum yaitu: Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan para ahli bidang ilmu luar , para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih, para professional dalam system pendidikan, professional lain dan tokoh- tokoh masyarakat.
Menetapkan Prosedur yang akan ditempuh yaitu hal dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus , memilih isi dna pengalaman belajar serta menetapkan evaluasi.
Implementasi kurikulum
Melaksanakan Evaluasi Kurikulum
Model Wheeler

Menurut wheeler pengembangan kurikulum merupakan sesuatu proses yang memebentuk lingkaran. Proses pengembngan kurikum terjadi secara terus- menerus. Wheeler berpendapat bahwa pengembangan kurikulum terdiri atas tahap. Dimana setiap tahap berlangsung secara sistematis, artinya tidak mungkin menyelesikan tahap kedua , apabila tahap pertama belum terselesaikan. Namun apabila setiap tahap sudah selesai dikerjakan , kita akan kembali pada tahap awal.
428625166370Model Nicholls
Ada lima langkah pengembangan kurikulum menurut nicholls yaitu:
Analisi situasi
Menentukan tujuan khusus
Menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran
Menentukan dan mengorganisasi metode
Evaluasi
226695254000Model Skilbeck
Skilbeck menjelaskan model ini diperuntukkan untuk setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum yang sesuai engan kebutuhan sekolah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Adapun Kesimplan dari Makalah ini adalah:
Objek atau sasaran administrasi pendidikan ialah segala sesuatu yang bertalian dengan kegiatan/ proses administrasi pendidikan, yang dijadikan titik pusat perhatian/pengamatan dengan tujuan meningkatkan kualitas lulusan melalui system pembelajaran yang lebih sempurna untuk menguasai IPTEK.Untuk mecapai tujuan tersebut diperlukan adanya kurikulum.
Model Konsep Kurikulum berupa pengertian kurikulum, karakteristik krikulum, komponen kurikulum dan pedoman penegmbangan krikulum.
Model pengembangan kurikulum adalah rancangan, penerapan dan penialaian yang didapat digunakan untuk mengembangkan suatu kurikulum , dimana pengembangan kurikulum dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, daerah maupun sekolah. Adapun Model- model Pengembangan kurikulum diantaranya ialah Model Ralph tayler, Taba, wheeler, Beauchamp,Nicholls, dan Skillbeck.


Download Makalah Administrasi Pendidikan - Kebijakan Pendidikan.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah Administrasi Pendidikan - Kebijakan Pendidikan. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon