February 09, 2017

Judul PENGARUH PERSEPSI KUALITAS TERHADAP MINAT PEMBELIAN PADA PRODUK SMART PHONE DI KOTA SURAKARTA


Judul: Judul PENGARUH PERSEPSI KUALITAS TERHADAP MINAT PEMBELIAN PADA PRODUK SMART PHONE DI KOTA SURAKARTA
Penulis: Maliki Alimudin


Judul
PENGARUH PERSEPSI KUALITAS TERHADAP MINAT PEMBELIAN PADA PRODUK SMART PHONE DI KOTA SURAKARTA
Latar Belakang Masalah
Perkembangan informasi era digital kian bergeser menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Hampir semua individu menginginkan pemberitaan terbaru mengenai dunia politik, ekonomi, sosial ,budaya, bahkan tentang rekan kerja, rekan bisnis atau sahabat-sahabat lamanya di bangku sekolah. Kebutuhan akan update informasi ini mendorong setiap orang untuk mengadopsi gadget berteknologi tinggi yang mampu menyediakan fitur-fitur unggulan sebagai pintu kemana saja untuk memantau perkembangan bisnis, serta kabar-kabar penting lainnya dengan motif yang bervariasi.
Dampak dari perkembangan teknologi dan informasi yang kian tajam pertumbuhannya, mengakibatkan pergeseran gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat dari penggunaan produk-produk tradisional menjadi produk berteknologi tinggi sebagai jawaban dari rongrongan kebutuhan informasi yang kian menjadi-jadi. Motif konsumsi masyarakat terhadap telepon genggam yang dulu hanya sebagai fasilitator penyampai pesan singkat berformat teks dan audio, kini berameliorasi menjadi fasilitas pendukung bisnis, fotografi, dan presentasi. Selain itu layanan berkirim pesan pun diperluas tak hanya berupa teks dan audio melainkan juga audio dan video dengan jaringan 3G. Variasi kebutuhan yang semakin meninggi tersebut menyebabkan penyerapan pasar smart phone di tanah air kian meningkat.
Bagi sejumlah raksasa vendorsmart phone, Indonesia merupakan pasar potensial untuk mengeruk keuntungan.Sebut saja Nokia dan Ericcson pada awal 2000 kemudian bergeser menjadi Blackberry dan yang terakhir raja smartphone dari Korea Selatan, Samsung.Dilansir teknoflas.com, Selasa (30/7/2013), para analis memprediksi penjualan smartphone di Indonesia dalam waktu dekat akan menembus 12 juta sampai 15 juta unit.
Dikutip dari swa.co.id, berdasarkan hasil riset Ericsson Lab pada 2011 hingga awal 2012 kepada 6.600 responden di seluruh Indonesia, pertumbuhan penggunaan smartphone di perkotaan naik dari 8% pada 2011 menjadi 22% di 2012. Yang mengejutkan, di pedesaan angka penggunanya juga naik dari 5% menjadi 21%.Orang-orang di desa sepertinya tak mau ketinggalan menggunakan smartphone.
Ditengah ketatnya persaingan produk smartphone, para produsen hendaknya memperhitungkan kebutuhan dan motivasi apa saja yang mendasari perilaku konsumen, yang akan memungkinkan para pemasar untuk memahami dan meramalkan perilaku konsumen. Perilaku konsumen merupakan suatu proses yang muncul saat individu memilih, menggunakan dan membuang produk ataupun jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Peranan perilaku konsumen adalah penting, karena produsen akan mempunyai pandangan yang lebih luas dan akan mengetahui peluang baru yang berasal dari belum terpenuhinya kebutuhan konsumen, untuk keperluan tersebut, maka tahap pertama yang harus dipahami oleh para produsen adalah variabel-variabel apa saja yang mempengaruhi perilaku konsumen.
Salah satu variabel penting yang menjadi bahan pertimbangan konsumen smartphoneadalah kualitas produk. Aspek penting dalam kualitas meliputi pertanyaan mengenai "Apakah suatu produk atau jasa tersebut memenuhi atau bahkan melebihi harapan pelanggan?" Konsep kualitas sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa. Para pakar pun berbeda-beda dalam mendefinisikan kualitas, salah satunya adalah menurut Goetsch dan Davis (Diptono dan Diana, 2001) yang mendefinisikan bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubngan dengan produk jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Adanya konsep tentang penilaian suatu kualitas produk lebih didasarkan dari terbentuknya persepsi seseorang terhadap produk tersebut. Sedangkan untuk persepsi terhadap kualitas produk sendiri dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan (Durianto, dkk, 2001). Karena persepsi terhadap kualitas merupakan persepsi dari pelanggan, maka tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting bagi pelanggan karena setiap pelanggan memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa.
Persepsi terhadap kualitas suatu produk perlu dinilai berdasarkan sekumpulan kriteria yang berbeda karena mengingat kepentingan dan keterlibatan konsumen berbeda-beda. Persepsi terhadap kualitas mencerminkan perasaan konsumen yang secara menyeluruh mengenai suatu merk. Dalam konsep perilaku konsumen persepsi terhadap kualitas dari seorang konsumen adalah hal yang sangat penting, produsen berlomba-lomba dengan berbagai cara untuk dapat menghasilkan suatu produk atau jasa yang bagus menurut konsumen (Parji, 1991).
Berkaitan dengan kualitas produk, konsumen seringkali mengasosiasikan kualitas berdasarkan nilai instrinsik dan nilai ekstrinsik yang ada pada produk. Untuk nilai ekstrinsik yang terkait dengan produk smartphoneantara lain desain, bahan, fitur, dan kinerja softwarenya. Hal-hal ini sering kali menjadi bahan pertimbangan khusus bagi pelanggan sebelum melakukan keputusan pembelian. Namun demikian minat membeli yang muncul pada seorang konsumen sering kali bukan hanya didasarkan pada pertimbangan kualitas dari produk atau jasa tersebut, tetapi ada dorongan-dorongan lain yang menimbulkan keputusan dalam pembelian suatu barang atau jasa seperti kebudayaan, kelas sosial, keluarga, pengalaman, kepribadian, sikap, kepercayaan diri, konsep diri dan sebagainya. Keputusan konsumen untuk membeli barang atau jasa, sering juga didasarkan atas pertimbangan yang irrasional, dalam artian karena barang tersebut akan dapat meningkatkan harga dirinya, supaya tidak ketinggalan jaman, dikagumi, dianggap sebagai kelas tertentu, dan sebagainya (Susana, 2002).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang ada dalam pendahuluan di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah :Bagaimana persepsi kualitas dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen?
Apakah dalam melakukan proses pembelian smartphoneperilaku pembelian konsumen akan bergantung pada nilai-nilai yang di anut ?Seberapa besar keterlibatan konsumen ketika hendak mengambil keputusan pembelian smartphone?
Serta, bagaimanakah keterlibatan konsumen ini mempengaruhi konsumen dalam mempersepsikan kualitas produk-produk smartphone?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Apakah ada hubungan antara persepsi terhadap kualitas produk dengan minat membeli produk smartphone.
2. Sumbangan efektif persepsi terhadap kualitas produk dengan minat membeli smartphone pada konsumen.
3. Seberapa besar tingkat minat membeli konsumen.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini menguji persepsi kualitas yang muncul dibenak konsumen dan pengaruh yang ditimbulkannya terhadap sikap dan perilaku pembelian konsumen terhadap produk smartphone, oleh karena itu penelitian ini akan memiliki banyak manfaat yang antara lain sebagai berikut :Bagi ilmu pengetahuan khususnya psikologi konsumen, yaitu untuk dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan berupa data empiris tentang hubungan antara persepsi terhadap kualitas produk dengan minat membeli.
Bagi produsen, membantu perusahaan untuk dapat lebih meningkatkan persepsi di masyarakat tentang kualitas produk mereka secara positif, sehingga diharapkan pembelian akan dilanjutkan dengan minat untuk pembelian ulang.
Bagi konsumen dapat menjadi pertimbangan untuk menetapkan keputusan pembelian apakah akan menggunakan ponsel biasa atau smartphone.
Tinjauan Pustaka
Nilai
Banyak peneliti yang memprediksi bahwa nilai-nilai yang dianut konsumen akan memberikan dampak yang sangat signifikan pada sikap social dan perilaku konsumen. Nilai-nilai tertentu yang dianut oleh seseorang akan mempengaruhi gaya belanja mereka, hal ini akan terkait dengan tingginya pendidikan dan jurusan apa pendidikan orang tersebut, afiliasi partai politik, serta norma-norma agama yang ia anut (Scwartz and Bilsky). Literature-literatur pemasaran menyebutkan bahwa nilai-nilai yang dipegang konsumen akan memiliki pengaruh langsung terhadap pemilihan konsumen terhadap produk yang akan mereka konsumsi, dan nilai ini memberikan dampak tidak langsung terhadap sikap, minat dan perilaku pembelian mereka (pitts dan Woodside, 1984).
Keterlibatan
Keterlibatan menjadi isu penting yang banyak diteliti untuk menilai sikap, perilaku konsumen, persuasi, dan riset tentang periklanan. Keterlibatan pada produk adalah persepsi yang berkaitan dengan kelas produk berdasarkan pada sifat-sifat dasar konsumen, ketertarikan, dan nilai (zaichkowsky, 1985).
Pendekatan yang paling popular digunakan untuk menjelaskan peran keterlibatan adalah The Elaboration Likelihood Model yang dipopulerkan oleh petty et al, teori ini menjelaskan bahwa sikap konsumen berubah dari sentralnya dan sekitarnya. Sikap konsumen bisa berubah karena konsumen tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang produk dan tidak dapat membuat penilaian secara objektif.Keterlibatan pada produk juga memiliki pengaruh terhadap kepuasan, ia menjadi mediator antara mood dengan minat belanja.
Kepuasan
Kotler dan Keller (2000), menyatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Konsumen yang merasa puas adalah konsumen yang menerima nlai tambah yang lebih dari perusahaan. Memuaskan konsumen tidak hanya berarti memberikan tambahan produk atau jasa, pelayanan ataupun system yang digunakan.Kepuasan pelanggan dianggap sebagai gagasan yang sangat penting dan menjadi tujuan utama dalam pemasaran ( Ereveles dan levit, 1992). Kepuasan berperan penting dalam pemasaran karena menjadi predictor dalam menilai perilaku pembelian konsumen. Perilaku pembelian konsumen antara lain pembelian kembali, minat pembelian, pilihan merek, dan perilaku penggantian merek.
Perspsi Kualitas
Pengertian persepsi terhadap kualitas produk
Pada hakekatnya, setiap orang selalu melakukan persepsi terhadap hal-hal di sekitarnya. Hal-hal telah dipelajari sebeluknya atau pengalaman-pengalaman masa lalunya bersama dengan hal-hal dari luar individu yang baru saja dipelajari, ditambah dengan hal-hal lain, seperti sikap, harapan-harapan, fantasi, ingatan dan nilai-nilai yang dimiliki individu akan mempengaruhi persepsinya terhadap suatu obyek persepsi.
Simamora (2002) mengatakan bahwa yang terpenting dari kualitas produk adalah kualitas obyektif dan kualitas menurut persepsi konsumen (persepsi kualitas) yang terpenting adalah persepsi di mata konsumen.Persepsi konsumen terhadap sesuatu hal ini kualitas suatu produk berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh konsumen, karena persepsi kualitas merupakan persepsi dari konsumen maka persepsi kualitas tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi konsumen akan melibatkan apa yang penting bagi konsumen sehingga akan membawa minat membeli yang berbeda pula. Melalui kemampuan mempersepsi obyek stimulus, seseorang memperoleh input berupa pengetahuan tentang kualitas suatu produk. Sehingga konsumen yang dihadapkan pada suatu produk akan merasa yakin dan tertarik terhadap kualitas dari suatu produk dan dapat pula digunakan dalam pengambilan keputusan (Wetley dan Yuki, 1992).
Persepsi terhadap kualitas produk didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan (Durlanto, Sugiarto & Sitinjak, 2001). Karena persepsi terhadap kualitas merupakan persepsi dari pelanggan, maka tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting agar pelanggan karena setiap pelanggan memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi terhadap kualitas produk adalah suatu proses yang terjadi dalam diri individu dalam memilih, menafsirkan, mengorganisasikan, menginterprestasikan, dan memberikan penilaian terhadap kualitas suatu produk apakah produk tersebut memuaskan atau tidak yang didasarkan pada pengalaman dan pengetahuannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap kualitas produk
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi individu terhadap suatu obyek. Faktor-faktor itu menyangkut faktor yang ada dalam diri individu dan faktor yang berhubungan dengan lingkungan individu. Faktor-faktor teknis dan timbul dalam diri individu yang mempengaruhi proses persepsi diantaranya faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuan (Mar'at, 1981). Kriteria-kriteria tersebut juga mempengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas produk yang akan mereka beli. Konsumen dapat mempunyai kesan-kesan tentang diri mereka sendiri maupun produk yang akan mereka beli, sehingga konsumen dapat mempersepsi produk yang akan dibeli dan melakukan keputusan pembelian.
Seseorang yang mendapat rangsangan siap untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Bagaimana orang tersebut melakukannya dipengaruhi oleh persepsi terhadap situasi. Dua orang yang mendapat rangsangan yang sama dalam situasi yang sama mungkin bertindak lain, karena mereka memandang situasi dengan cara yang berbeda.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan individu adalah usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, kelas sosial dan lokasi dimana konsumen berada juga mempengaruhi persepsi konsumen (Walters dan Paul dalam Orbandini, 1996). Faktor-faktor ini menyebabkan seseorang individu memiliki pengalaman yang berbeda dengan individu lainnya, sehingga berpengaruh pula pada caranya mempersepsi stimulus yang diterima. Faktor-faktor lain yang juga ikut mempengaruhi persepsi terhadap kualitas produk adalah harga dan merk.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap kualitas produk adalah harga, merk, pengalaman, suasana hati, usia, pendidikan dan pengetahuannya, pekerjaan, kelas sosial dan lokasi dimana konsumen itu berada.
Aspek untuk mengukur persepsi terhadap kualitas produk
Persepsi terhadap kualitas produk merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk yang berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh konsumen. Karena persepsi kualitas tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi konsumen akan melibatkan apa yang penting bagi konsumen, karena setiap konsumen memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk (Durianto, dkk, 2001).
Sehubungan dengan penelitian ini aspek-aspek untuk mengukur persepsi terhadap kualitas produk berdasarkan teori dari Rakhmat (1988) yang terdiri dari pengetahuan dan pengalaman. Sedangkan obyek yang dipersepsi adalah kualitas produk yang pengukurannya didasarkan pada dimensi kualitas produk dengan mengacu pada pendapat Garvin (Durianto dkk, 2001) yang mengatakan bahwa terdapat tujuh dimensi karakteristik yang digunakan oleh para konsumen dalam mempersepsi kualitas produk. Ketujuh dimensi karakteristik kualitas produktsb adalah :1) Kinerja : melibatkan berbagai karakteristik operasional utama, misalnya karakteristik operasional mobil adalah kecepatan, akselerasi, sistem kemudi serta kenyamanan.
2) Pelayanan : mencerminkan kemampuan memberikan pelayanan pada produk tersebut. Misalnya motor merk tertentu menyediakan bengkel pelayanan kerusakan atau service bergaransi
3) Ketahanan : mencerminkan umur ekonomis dari produk tsbn, atau beberapa lama produk dapat digunakan. Misal motor merk tertentu yang memposisikan dirinyta sebagai mobil tahan lama walau telah berumur di atas 5 tahun tetapi masih berfungsi dengan baik.
4) Keandalan : konsistensi dari kinerja yang dihasilkan suatu produk dari satu pembelian ke pembelian berikutnya.
5) Karakteristik produk : bagian-bagian tambahan dari produk. Bagian-bagian tambahan ini memberi penekanan bahwa perusahaan memahami kebutuhan pelanggarannya yang dinamis sesuai perkembangan, yaitu menyangkut corak, rasa, penampilan, bau dan daya tarik produk.
6) Kesesuaian dengan spesifikasi : merupakan pandangan mengenai kualitas proses manufaktur (tidak ada cacat produk) sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan dan teruji.
7) Hasil : mengarah kepada kualitas yang dirasakan yang melibatkan enam dimensi sebelumnya. Jika perusahaan tidak dapat menghasilkan hasil akhir produk yang baik maka kemungkinan produk tersebut tidak akan mempunyai atribut kualitas lain yang penting.
Martinich (Yamit, 2001) mengemukakan bahwa ada enam dimensi karakteristik yang digunakan oleh para konsumen dalam mempersepsi kualitas suatu produk. Keenam dimensi karakteristik kualitas produk tersebut adalah :1) Performance : karakteristik operasi dasar dari suatu produk.
2) Range and type of features : kemampuan atau keistimewaan yang dimiliki produk.
3) Reliability and durability : kehandalan produk dalam penggunaan secara normal dan berapa lama produk dapat digunakan
4) Maintainability and serviceability : kemudahan untuk pengoperasian produk dan kemudahan pemakaian.
5) Sensory characteristics : penampilan, corak, rasa, daya tarik, bau, selera dan beberapa faktor lainnya yang mungkin terjadi aspek penting dalam kualitas.
6) Ethical profile and image : kualitas adalah bagian terbesar dari kesan pelanggan terhadap produk.
Dari aspek-aspek yang telah diterangkan di atas maka dipilih salah satu aspek yang dipakai, yaitu aspek persepsi terhadap kualitas produk oleh David A. Garvin (Durianto, dkk : 2001) yaitu dimensi persepsi terhadap kualitas produk terdiri dari kinerja, pelayanan, ketahanan, keandalan, karakteristik produk, kesesuaian dengan spesifikasi dan hasil yang didapatkan oleh konsumen.
Hubungan antara Persepsi terhadap Kualitas Produk dengan Minat Membeli
Individu dalam membeli produk selalu menginginkan untuk mendapatkan produk yang baik dan berkualitas. Selama ini persepsi konsumen terhadap kualitas suatu produk masih diwarnai keragu-raguan. Ini disebabkan karena konsumen hanya mendapat sedikit informasi yang obyektif dari produsen atau pemasar. Seseorang yang telah melihat dan mendengar kualitas suatu produk tentu telah mempunyai sikap dan keyakinan terhadap produk. Hal ini tentunya akan mempengaruhi perilaku yang dimilikinya berkaitan dengan stimuli yang diterimanya. Dengan kata lain terdapat rangsangan pada diri individu yang mendorongnya berperilaku sesuai dengan obyek stimuli yang diterimanya.
Persepsi terhadap kualitas suatu produk didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan (Durianto, dkk, 2001). Karena persepsi terhadap kualitas merupakan persepsi dari pelanggan, maka tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting bagi pelanggan karena setiap pelanggan memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa.
Sesuai dengan pendapat Kotler (1999) yang mengatakan bahwa para konsumen tidak asal saja mengambil keputusan pembelian. Pembelian konsumen sangat terpengaruh oleh sifat-sifat budaya, sosial, pribadi dan psikologi. Faktor-faktor psikologi dari sini diantaranya adalah motivasi, belajar, persepsi, kepercayaan dan sikap. Persepsi merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengambilan keputusan.
Minat merupakan sesuatu hal yang penting, karena minat merupakan suatu kondisi yang mendahului sebelum individu mempertimbangkan atau membuat keputusan untuk membeli suatu barang, sehingga minat membeli merupakan sesuatu hal yang harus diperhatikan oleh para produsen atau penjual. Susanto (1997) mengatakan bahwa individu yang mempunyai minat membeli, menunjukkan adanya perhatian dan rasa senang terhadap barang tersebut. Adanya minat individu ini menimbulkan keinginan, sehingga timbul perasaan yang menyakinkan dirinya bahra barang tersebut mempunyai manfaat bagi dirinya dan apa yang menjadi minat indibidu ini dapat diikuti oleh suatu keputusan yang akhirnya menimbulkan realisasi berupa perilaku membeli. Seperti diketahui, persepsi terhadap kualitas produk pada tiap-tiap orang berbeda, sehingga akan membawa minat membeli yang berbeda pula. Persepsi seseorang tentang kualitas suatu produk akan berpengaruh terhadap minat membeli yang terdapat pada individu. Persepsi yang positif tentang kualitas produk akan merangsang timbulnya minat konsumen untuk membeli yang diikuti oleh perilaku pembelian. Konsumen cenderung menilai kualitas suatu produk berdasar faktor-faktor yang mereka asosiasikan dengan produk tersebut. Faktor tersebut dapat bersifat intrinsik yaitu karakteristik produk seperti ukuran, warna, rasa atau aroma dan faktor ekstrinsik seperti harga, citra toko, citra merk dan pesan promosi. Apabila atribut-atribut yang terdapat dalam suatu produk itu sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen, maka ini akan menimbulkan minat membeli (Schiffman and Kanuk dalam Cahyono, 1990).
Produsen sebagai pembuat suatu produk, pastilah memiliki harapan agar produk yang dihasilkannya dapat laku dipasaran. Tetapi bagaimanakah sikap dari konsumen sendiri terhadap barang tersebut, apakah mereka akan memandang barang tersebut sebagai barang yang bagus, menarik, tahan lama ataukah barang tersebut jelek, tidak menarik, mudah rusak dan sebagainya yang diharapkan dari apa yang telah didengar atau dilihat oleh masyarakat itu dapat menimbulkan minat mereka untuk mengetahui lebih lanjut tentang kualitas barang tersebut secara langsung. Sehingga, berangkat dari minat tersebut mereka dapat sekedar mencoba apa yang ditawarkan, yang nantinya menimbulkan keinginan dari diri konsumen untuk ingin memiliki, terutama bila minat membeli menempatkan persepsi terhadap kualitas suatu produk sebagai faktor yang penting dalam membuat keputusan.
Minat Membeli
Pengertian Minat
Minat merupakan salah satu aspek psikologis yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap sikap perilaku dan minat juga merupakan sumber motivasi yang akan mengarahkan seseorang dalam melakukan apa yang mereka lakukan (Hurigck, 1978). Gunarso (1985), mengartikan bahwa minat adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan dengan sikap, individu yang berminat terhadap suatu obyek akan mempunyai kekuatan atau dorongan untuk melakukan seorangkaian tingkah laku untuk mendekati atau mendapatkan objek tersebut.
Woodworth dan Marquis (Sab'atun, 2001) berpendapat, minat merupakan suatu motif yang menyebabkan individu berhubungan secara aktif dengan obyek yang menarik baginya.Oleh karena itu minat dikatakan sebagai suatu dorongan untuk berhubungan dengan lingkungannya, kecenderungan untuk memeriksa, menyelidiki atau mengerjakan suatu aktivitas yang menarik baginya.Apabila individu menaruh minat terhadap sesuatu hal ini disebabkan obyek itu berguna untuk menenuhi kebutuhannya.
Kecenderungan seseorang untuk memberikan perhatian apabila disertai dengan perasaan suka atau sering disebut dengan minat (Rustan, 1988). Minat tersebut apabila sudah terbentuk pada diri seseorang maka cenderung menetap sepanjang obyek minat tersebut efektif baginya, sehingga apabila obyek minat tersebut tidak efektif lagi maka minatnya pun cenderung berubah. Pada dasarnya minat merupakan suatu sikap yang dapat membuat seseorang merasa senang terhadap obyek situasi ataupun ide-ide tertentu yang biasanya diikuti oleh perasaan senang dan kecenderungan untuk mencari obyek yang disenangi tersebut. Minat seeorang baik yang bersifat menetap atau yang bersifat sementara, dan berbagai sistem motivasi yang dominan merupakan faktor penentu internal yang benar-benar mendasar dalam mempengaruhi perhatiannya (Marx dalam Suntara, 1998).
The Liang Gie (1995) menyatakan bahwa minat merupakan landasan bagi konsentrasi dalam belajar, sedangkan Crow & Crow (Gie, 1995) menyatakan bahwa minat adalah dasar bagi tugas hidup untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Seseorang yang mempunyai minat terhadap sesuatu maka akan menampilkan suatu perhatian, perasaan dan sikap positif terhadap sesuatu hal tersebut. Eysenck, dkk (Ratnawati, 1992) mengemukakan bahwa minat merupakan suatu kecenderungan untuk bertingkah laku yang berorientasi pada obyek, kegiatan dan pengalaman tertentu, selanjutnya menjelaskan bahwa intensitas kecenderungan yang dimiliki seseorang berbeda dengan yang lainnya, mungkin lebih besar intensitasnya atau lebih kecil tergantung pada masing-masing orangnya.
Menurut Chaplin (1995) minat merupakan suatu sikap yang kekal, mengikutsertakan perhatian individu dalam memilih obyek yang dirasakan menarik bagi dirinya dan minat juga merupakan suatu keadaan dari motivasi yang mengarahkan tingkah laku pada tujuan tertentu. Sedangkan Witheringan (1985) menyataka bahwa minat merupakan kesadaran individu terhadap suatu obyek tertentu (benda, orang, situasi, masalah) yang mempunyai sangkut paut dengan dirinya. Minat dipandang sebagai reaksi yang sadar, karena itu kesadaran atau info tentang suatu obyek harus ada terlebih dahulu daripada datangnya minat terhadap obyek tersebut, cukup kalau individu merasa bahwa obyek tersebut menimbulkan perbeedaan bagi dirinya.
Dari beberapa uraian di atas, secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa minat merupakan suatu kecenderungan seseorang untuk bertindak dan bertingkah laku terhadap obyek yang menarik perhatian disertai dengan perasaan senang.
Jenis-jenis minat
Sikap seorang konsumen terhadap minat dalam penelitian ini merupakan suatu sikap tindakan yang dilakukan oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan batinnya.Akan tetapi sikap seorang dalam jiwa seorang konsumen, Blum dan Balinsky (Sumarni, 2000) membedakan minat menjadi dua, yaitu :a. Minat subyektif adalah perasaan senang atau tidak senang pada suatu obyek yang berdasar pada pengalaman.
b. Minat obyektif adalah suatu reaksi menerima atau menolak suatu obyek disekitarnya.
Jones (Handayani, 2000) membagi minat menjadi dua, yaitu :a. Minat instrinsik yaitu minat yang berhubungan dengan aktivitas itu sendiri dan merupakan minat yang tampak nyata.
b. Minat ekstrinsik yaitu minat yang disertai dengan perasaan senang yang berhubungan dengan tujuan aktivitas.
Antara kedua minat tersebut seringkali sulit dipisahkan pada minat intrinsik kesenangan itu akan terus berlangsung dan dianjurkan meskipun tujuan sudah tercapai, sedangkan pada minat ekstrinsik kemungkinan bila tujuan tercapai, maka minat akan hilang.
Menurut Syamsudin (Lidyawati, 1998) minat terbagi menjadi dua jenis, yaitu :a. Minat spontan, yaitu minat yang secara spontan timbul dengan sendirinya.
b. Minat dengan sengaja, yaitu minat yang timbul karena sengaja dibangkitkan melalui rangsangan yang sengaja dipergunakan untuk membangkitkannya.
Berdasarkan beberapa teori di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu minat subyektif, minat obyektif, minat instrinsik, minat ekstrinsik, minat spontan dan juga minat dengan sengaja yang pada dasarnya kesemua jenis minat tersebut dapat timbul karena adanya rangsangan.
Pengertian minat membeli
Pemahaman terhadap perilaku konsumen tidak lepas dari minat membeli, karena minat membeli merupakan salah satu tahap yang pada subyek sebelum mengambil keputusan untuk membeli. Poerwadarminto (1991) mendefinisikan membeli adalah memperoleh sesuatu dengan membayar uang atau memperoleh sesuatu dengan pengorbanan, sehingga dengan mengacu pada pendapat di atas, minat membeli dapat diartikan sebagai suatu sikap senang terhadap suatu obyek yang membuat individu berusaha untuk mendapatkan obyek tersebut dengan cara membayarnya dengan uang atau dengan pengorbanan.
Engel dkk (1995) berpendapat bahwa minat membeli sebagai suatu kekuatan pendorong atau sebagai motif yang bersifat instrinsik yang mampu mendorong seseorang untuk menaruh perhatian secara spontan, wajar, mudah, tanpa paksaan dan selektif pada suatu produk untuk kemudian mengambil keputusan membeli.Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesesuaian dengan kepentingan individu yang bersangkutan serta memberi kesenangan, kepuasan pada dirinya.Jadi sangatlah jelas bahwa minat membeli diartikan sebagai suatusikap menyukai yang ditujukan dengan kecenderungan untuk selalu membeli yang disesuaikan dengan kesenangan dan kepentingannya.
Menurut Markin (Suntara, 1998) minat membeli merupakan aktivitas psikis yang timbul karena adanya perasaan (afektif) dan pikiran (kognitif) terhadap suatu barang atau jasa yang diinginkan.Berdasarkan uraian di atas maka pengertian membeli adalah pemusatan perhatian terhadap sesuatu yang disertai dengan perasaan senang terhadap barang tersebut, kemudian minat individu tersebut menimbulkan keinginan sehingga timbul perasaan yang meyakinkan bahwa barang tersebut mempunyai manfaat sehingga individu ingin memiliki barang tersebut dengan cara membayar atau menukar dengan uang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat membeli
Minat membeli adalah suatu tahapan terjadinya keputusan untuk membeli suatu produk. Francesco (Susanto, 1977) menyatakan bahwa individu dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu barang atau jasa ditentukan oleh dua faktor, yaitu :
a. Faktor luar atau faktor lingkungan yang mempengaruhi individu seperti lingkungan kantor, keluarga, lingkungan sekolah dan sebagainya.
b. Faktor dalam diri individu, seperti kepribadiannya sebagai calon konsumen.
Swastha dan Irawan (2001) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi minat membeli berhubungan dengan perasaan dan emosi, bila seseorang merasa senang dan puas dalam membeli barang atau jasa maka hal itu akan memperkuat minat membeli, kegagalan biasanya menghilangkan minat.
Super dan Crites (Lidyawatie, 1998) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat, yaitu :
a. Perbedaan pekerjaan, artinya dengan adanya perbedaan pekerjaan seseorang dapat diperkirakan minat terhadap tingkat pendidikan yang ingin dicapainya, aktivitas yang dilakukan, penggunaan waktu senggangnya, dan lain-lain.
b. Perbedaan sosial ekonomi, artinya seseorang yang mempunyai sosial ekonomi tinggi akan lebih mudah mencapai apa yang diinginkannya daripada yang mempunyai sosial ekonomi rendah.
c. Perbedaan hobi atau kegemaran, artinya bagaimana seseorang menggunakan waktu senggangnya
d. Perbedaan jenis kelamin, artinya minat wanita akan berbeda dengan minat pria, misalnya dalam pembelanjaan.
e. Perbedaan usia, artinya usia anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua akan berbeda minatnya terhadap suatu barang, aktivitas benda dan seseorang.
Swastha (2000) mengatakan bahwa dalam membeli suatu barang, konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor di samping jenis barang, faktor demografi, dan ekonomi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti motif, sikap, keyakinan, minat, kepribadian, angan-angan dan sebagainya. Kotler (1999) mengemukakan bahwa perilaku membeli dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu :
a. Budaya (culture, sub culture dan kelas ekonomi)
b. Sosial (kelompok acuan, keluarga serta peran dan status)
c. Pribadi (usia dan tahapan daur hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri).
d. Psikologis (motivasi, persepsi, belajar, kepercayaan dan sikap)
Schiffman dan Kanuk (Cahyono, 1990) mengatakan bahwa persepsi seesorang tentang kualitas produk akan berpengaruh terhadap minat membeli yang terdapat pada individu. Persepsi yang positif tentang kualitas produk akan merangsang timbulnya minat konsumen untuk membeli yang diikuti oleh perilaku pembelian.
Perilaku membeli timbul karena didahului oleh adanya minat membeli, minat untuk membeli muncul salah satunya disebabkan oleh persepsi yang didapatkan bahwa produk tersebut memiliki kualitas yang baik. Jadi, minat membeli dapat diamati sejak sebelum perilaku membeli timbul dari konsumen.
Berdasarkan uraian di atas maka aspek yang dipilih untuk diukur adalah aspek minat membeli dari Second dan Backman (Sab'atun, 2001) yaitu aspek kognitif, afektif dan konatif pada ketertarikan, keinginan, dan keyakinan dalam pengukuran minat membeli.
Hipotesis
Menurut PPKI (2000: 12) "hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoritis diangggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya". Sehubungan dengan adanya pengaruh persepsi kualitas terhadap minat pembelian barang untuk produk telepon pintar (smartphone) di Kota Surakarta, maka hipotesis yang diajukan adalah :H1 : Keterlibatan konsumen terhadap produk akan berpengaruh positif terhadap persepsi kualitas produk
H2 : Nilai-nilai konsumen akan berpengaruh positif terhadap kepuasan secara keseluruhan dengan produk
H3 : Kepuasan yang menyeluruh dengan produk akan berhubungan positif terhadap minat pembelian produk
H4 : Persepsi kualitas produk berpengaruh positif terhadap minat pembelian
H5 : Persepsi kualitas produk berpengaruh positif terhadap kepuasan yang menyeluruh
Kerangka Pikir
Berdasarkan hipotesis diatas, kerangka pikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :KETERLIBATAN
NILAI
PERSEPSI KUALITAS PRODUK
KEPUASAN SECARA MENYELURUH
PERSEPSI KUALITAS PRODUK

Metode Penelitian
Dalam suatu penelitian, penentuan metode penelitian adalah hal yang sangat penting karena hal ini sangat menentukan benar atau salahnya pengambilan data dan kesimpulan dari hasil suatu penelitian. Dalam hal ini metode merupakan cara yang utama yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan penelitian dengan menggunakan teknik serta alat analisa tertentu, maka langkah-langkah yang harus ditempuh hendaknya harus sesuai dengan masalah yang dikemukakan. Hadi (2000) mengatakan bahwa kesalahan yang dilakukan dalam menentukan metode akan mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan keputusan, sebaliknya semakin tepat metode yang digunakan diharapkan semakin baik pula hasil yang diperoleh.
Populasi, Sampel dan Teknik Pengumpulan Sampel
Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah semua konsumen yang telah membeli ponsel smart phone di kota surakarta
Sampel
Dari populasi diatas akan diambil sampel sebanyak 200 orang yang melakukan pembelian smart phone di Pusat Perbelanjaan Singosaren Kota Surakarta. Sampel yang diteliti adalah mereka yang telah berpenghasilan sendiri dengan rentang umur antara 20-40 tahun. Jenis kelamin dari sampel ini adalah laki-laki dan perempuan.
Teknik pengambilan sampel
Sampel acak secara probabilistik diambil, dengan melakukan wawancara terstruktur menggunakan kuisioner kepada pengunjung pusat perbelanjaan elektronik terbesar di Kota Surakarta, yaitu Singosaren. Mereka yang terpilih sebagai responden adalah pengunjung yang berniat melakukan pembelian smart phone dan mereka yang telah menggunakan smartphone, serta mereka yang saat itu sedang membeli smartphone.
Metode Pengujian
Untuk menguji keterlibatan konsumen dengan produk smartphone digunakan Personal Involvement Inventory (PII) yang dikembangkan oleh Zaichkowsky (1985,1994). Sedangkan untuk mengukur nilai digunakan List of Value (LOV) yang dikembangkan oleh Kahle (1986). LOV digunakan untuk mengukur nilai yang biasanya sering digunakan oleh para peneliti.LOV memiliki Sembilan variable nilai yaitu rasa kepemilikan, ketertarikan, kesenangan hidup, hubungan yang akrab dengan sesame, eksistensi diri, dihormati orang lain, rasa ingin berprestasi, keamanan, dan kehormatan diri.DAFTAR PUSTAKA
Cahyono. 1990. Studi Eksperimental : Pengaruh Pencantuman Merk terhadap Persepsi tentang Kualitas Susu Coklat pada Siswa-Siswi SMA N I Yogyarkata. Skripsi (tidak diterbitkan).
Kahle,Rodoula.2006. The Role of Preceived product Quality and overall Satisfaction on Purchase Intention.Journal of Consumer Studies,207-217
Solopos.2013. Penjualan Smart Phone Samsung Kuasai 80% Pasar Indonesia :01 Agustus : Solo
RANCANGAN PROPOSAL SKRIPSI
PENGARUH PERSEPSI KUALITAS TERHADAP MINAT PEMBELIAN KONSUMEN TELEPON PINTAR
DI KOTA SURAKARTA

OLEH
MALIKI ALIMUDINF1212044
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PEMASARAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013


Download Judul PENGARUH PERSEPSI KUALITAS TERHADAP MINAT PEMBELIAN PADA PRODUK SMART PHONE DI KOTA SURAKARTA.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Judul PENGARUH PERSEPSI KUALITAS TERHADAP MINAT PEMBELIAN PADA PRODUK SMART PHONE DI KOTA SURAKARTA. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon