February 09, 2017

Ilmu Pelayaran dan Tradisi Perdagangan Nusantara


Judul: Ilmu Pelayaran dan Tradisi Perdagangan Nusantara
Penulis: Asep Halimi


Ilmu Pelayaran Dalam Tradisi Perdagangan Laut Masyarakat Nusantara abad ke-15 dan 16 M
Pendahuluan
Masyarakat Asia Tenggara telah mengenal sistem Pelayaran dan perdagangan sejak ribuan tahun yang silam. Ada istilah bahwa nenek moyang masyarakat Nusantara adalah seorang pelaut, istilah ini dapat juga dikatakan benar karena masyarakat Nusantara terutama Indonesia terkenal sebagai bangsa maritime, paling tidak sejak zaman dahulu penduduk di kepulauan Nusantara ini dikenal sebagai pelaut dan juga karena Nusantara terkenal dengan wilayah lautnya yang lebih luas dibandingkan daratannya. Keberanian dan ketangguhan itu mereka buktikan jauh sebelum Colombus menyebrangi samudera atlantik dan menemukan benua Amerika tahun 1492 atau Fasco de Gama pada tahun 1498 yang mulai menjelajahi dunia timur dengan panji-panji Juspatronatus yang dikeluarkan tahta suci pada 4 Mei 1493. Para pelaut Indonesia biasa menggunakan perahu yang tidak bisa dikatakan besar, memakai cadik sebagai penyeimbang,baik yang gandamaupun yang tunggal. Bahkan kapal-kapal bercadik tidak hanya untuk pelayaran antar pulau Indonesia, tetapi untuk pelayaran ke India dan Madagaskar. Dalam pelayaran ke Timur, para pedagang-pelaut Nusantara di jaman bahari bisa mencapai Hawai dan Serlandia Baru yang berjarak lebih dari 2000 mil.Sejak dman Ming (1368-1644) hubungan antar Tionghoa dan Asia tenggara semakin meningkat, sebagaimana yang tecermin dlam sumber Tionghoa. Kalau kalau sebelumnya perdagangan dan pelayaran lebih bnyak di kuasai oleh orang dari luarTiongkok, muali saat ini kapal Cina dan kapal-kapal Asia sendiri menangani pelayaran ke laut Selatan. Sebelum abad ke-16 dan 17 banyak kerajaan-kerajaan Nusantara yang menguasai perdagangan dengan tradisi kelautan yang mapan. Seperti Śrīwijaya dikenal sebagai kerajaan bahari yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari pelayaran dan perdagangan. Sebagian besar para pakar menempatkan lokasi wilayah kerajaan atau kadātuan2 ini di Pulau Sumatera. Dalam hal pelayaran dan perdagangan, tidak lepas kaitannya denganpelabuhan. Pelabuhan menjadi faktor penting dlam perdagangan jalur laut.Seiring dengan merebaknya komoditas perdagangan Nusantara seperti lada pala, jahe, cengkeh, kayu manis, kemenyan dan lain-lain. Membuat tradisi perdagangan semakin meningkat, hingga menjadikan kepulauan Nusantara sebagai pusat perdagangan Internasional. Dalam sejarah perdagangan Nusantara kita mengenal dua jalur perdagangan, yaitu jalur sutra (darat) dan laut. Seiring dengan ancaman keamanan dalam perdagangan jalur darat, terjadi peralihan tadisi perdagangan menuju laut. Sejalan dengan itu, kemudian timbul tradisi perdagangan laut yang pesat di wilayah Nusantara.Sejalan dengan Tradisi perdangan laut di Nusantarayang berkembang pesat pada awal ke-16 dan ke-17 M. pasti ada factor pendorong yang membuat tradisi perdagangan di Nusantara berkembang pesat. Selain dari komoditas dagang dan dan kehadiran bangsa-bangsa Eropa, Asia dan yang lainnya, factor internal menyangkut ilmu-ilmu pelayaran dalam tradisi perdagangan Nusantara merupakan faktor kunci dalam menciptakan tradisi pelayaran dan perniagaan Nusantara. Terlepas dari komodiatas perdangangan Nusantara yang sangan terkenal dan banyaknya para pedagang Asing yang singgah di Nusantara. Dalam makalah ini penulis akan mencoba menjelakan kearipan local Nusantara menyangkut ilmu-ilmu pelayaran dan perniagaan yang dimilikinya. Bagaimana teknologi yang dikembangkan dan bagaimana pola-pola pelayaran dan perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat Nusantara pada abad ke-16 dan 17 M.Pembahasan
Teknologi dan pusat-pusat pelayaran masyarakat Nusantara
Sistem angin untuk pelayaran
Dalam system perdagangan jalur laut kapal-kapal laut sangat bergantung pada angin sebagai faktor penting untuk melakukan aktivitas pelayaran dalam tradisi pedagangan laut di Nusantara. Oleh karena itu, kapal-kapal yang terdahulu masing menggunakan layar dan dayung sebagai alat pembantu pelayaran. Berkenaan dengan itu pengetahuan tentang angin merupakan faktor penting dalam dunia maritim. Secara umum pengetahuan tentang angin dibedakan menjadi dua, yaitu angin darat dan laut. Dalam taraf yang lebih maju lagi adalah kemampuan menggunakan angin musim yang menguasai kepulauan Nusantara.Kondisi alam sebagai daerah katulistiwa seharusnya menempatkan kepulaun kita dalam wilayah kekuasaan angin pasat. Akan tetapi, ada dua faktor yang menyebabkan system angin di Indonesia menyimpang dari daerah tropis lainnya. Pertama, peredaran bumi mengitari matahari yang menyebabkan "daerah angin mati" itu berpindah-pindah dari Lintang Mengkara (Trofic of Cancer) ke lintang Jadayat (Trofic of Capricorn). Maka, pasat tenggara pada masa melewati garis khatulistiwa akan berubah menjadi barat daya, sedangkan apabila pasat timur laut melintasi katulistiwa dalam perjalanannya ke Selatan ia akan berubah menjadi angin barat laut. Kedua, ialah lokasi Nusantara diantara dua kontinen, Asia dan Australia. Iklim panas di salah satu benua ini akan mengakibatkan suatu tekanan rendah yang cukup mempengaruhi daerah angin mati tersebut bergeser lebih jauh ke selatan atau utara menurut musimnya sehinghga mengubah arah angin yang bersangkutan. Dengan begitu, terjadilah angin musim yang berubah arah tujuannya setiap setengah tahun. Pengetahuan tentang perubahan musim ini sudah lama dikenal pelaut Nusantara. Kodisi geografis inilah yang kemudian sangat menguntungkan bagi pelabuhan-pelabuhan di Nusantara, dengan komposisi angin psat yang berubah-ubah karena berbagai faktor membuat para pelaut dan pedagang untuk singgah untuk waktu yang lama sampai pergantian angin musim.
Data yang menarik juga menejelaskan bahwa masyarakat Nusantara sudah memiliki kemampuan navigasi. Ini terbukti dengan di pakainya orang-orang local oleh kapal Eropa sebagai penunjuk jalan. Dalam ekspedisi Magelhaes (1521), d'elcano menculik dua perahu pandu laut setempat untuk mengantarkan kapal-kapalnya dari Filipina ke Tidore. Begitu pun pelayaran Belanda yang I pimpin oleh Cornelis de Houtman juga menggunakan para pelaut local untuk menunjukan jalur pelayaran. Dalam iklim dan geografi Indonesia memungkinkan pelaut-pelaut pribumi, mencari baringan pada pulau-pulau, gunung-gunung dan tanjung-tanjung jika berlayar menyusuri pantai, kemudian pada malam hari mereka menggunakan bintang-bintang di langit untuk menentukan posisi kapal di tengah laut. Konstelasi bintang menjadi pengetahuan yang khas dalam pengetahuan astronomi di nusantara terutama di Indonesia. Fakta yang lain, bahwa para pelaut Nusantara sudah mengenal peta untuk berlayar yang di catat oleh orang Portugis pada abad ke-16.
Jenis kapal dan tempat pembuatannya
Secara dasar, jenis perahu taradisional nusantara dapat digolongkan menjadi tiga cara : ada istilah yang menandai jenis layarnya, ada yang menggambarkan bentuk lambung dan ada yang berasal dari cara tujuan pemakaian perahu. Sebagai contoh perahu tardisional asal Sulawesi yang disebu Baqgoq asal daerah mandar dan barru yang bereferensi pad jenis kapal bentuk lambung, kapal janggolan asal Madura dan pinisiq asal bira yang bertipe layar
Kapal-kapal dan perahu-perahu Nusantara pada zaman yang dibicarakan disisni, yakni sebelum kapal api ditemukan, dapat kita bagi dedalam dua kelompok besar berdasrkan teknik pembuatannya, yaitu kapal Lesung dan kapal papan. Perahu lesung adlah perahu yang dibuat dari satu batang kayu yang dikeruk bagian dalamnya sehingga berbentuk seperti lesung yang memanjang. Walaupun merupakn perahu yang sangat sederhana namun dalam hal pembuatannya harus memiliki keahlian dan pengalaman yang khusus. Kerumitan sedah di mulai ketika memilih kayu yang ccocok, menebang pohonnya, sampai mengeruk isi batangnya, untuk itu para ahli harus memiliki persyaratan yang tinggi.Bagi kapal papan, teknik pembuatannya pun tidak kalah kompleks keran tidak hanya satu batang saja. Menurut sumber naskah Portugis, di Maluku terdapat banyak jenis kapal. Yang terpenting bernama Juanga.berdasarkan namanya dapat diidentifikasi bahwa pembuatan kapal ini berasal dari desa Juanga, Maluku Utara. Ada pula kapal-kapal lain bernama lukafunu, kora-kora, kalulus, dan perahu kecil. Semuanya digerakan dengan dayung dan dipakai untuk mengangkut muatan, ruangnya panjang tetapi tidak dalam.sebuah kapal Juanga bisa membawa 200 pengayuh pada setiap lambung. Kapal lukafumu hampir serupa dengan Juanga. Untuk papal ini di pilih orang-orang yang paling kuat untuk mengayuhnya.
Jalan dan pusat-pusat pelayaran
Pada tahun 1521, Sebastian del Cano berangkat dari Tidore dan tiba kembali di sevila. Perjalanan yang dilakukannya telah membuka jalur laut yang baru, yaitu jalan yang menghubungkan Indonesia (Maluku) dengan Eropa Barat. Dalam perjalanannya del Cano berlayar dari Tidore ke Selatan, sesudah hampir sebentar di Timor, kapalnya dikembalikan kea rah Barat Daya menyebrangi samudera Hindia ke ujung selatan afrika, lalu ke laut atlantik sampai ke muara sungai Guadalquivir di Liberia Selatan. Dengan demikian, untuk pertama kalinya dalam sejarah, rempah-rempah dari Maluku diangkut langsung dari tempat asalnya ke Eropa.
Jalan yang kedua adalah jalan yang tercipta melalui Teluk Aden dan Laut Merah. Kemudian dari kota Suez, jalan perdagangan harus melalui daratan hingga melewati Kairo dan Iskandariah daerah jalan kedua ini berada di dalam kekuasaan raja-raja Mameluk. Tidak hany kapal Arab, India dan Persia saja yang memainkan perannya, kapal-kapal Indonesia juga telah ambil bagian dalam perdagangan tersebut. Buktinya pada jaman Sriwijaya para pedagang kita sudah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai timur Afrika. Mengingat akan pentingnya jalur perdagangan tersebut, orang Portugis pun segera berusaha menguasai jalur ini dan dalam waktu yang singkat ia berhasil menduduki Goa (1510), Malaka (1511), dan Ormuz (1515)
Pada abad ke-16, telah berkembang pula suatu jalur pelayaran baru antara Asia Tenggara dan Amerika, khususnya antara Manila dan Acapulo di pantai barat Meksiko. Pelayaran lintas pasifik ini dipelopori oleh beberapa ekspedisi Spanyol. Pelayaran orang-orang Nusantara sendiri sudah ramai perkembangan pada waktu itu, prlayaran orang Makasar dan Bugis sudah meliputi hampir seluruh perairan Nusantara.Jalan pelayaran dalam negeri dapat di konstruksikan dari posisi kerajaan-kerajaan pribumi dan wilayah ekspansinya. Kerajaan Islam local memainkan peranan yang sangat penting dalam tardisi perdagangan di Nusantara. Pada zaman Tome Pires Banten masih menduduki kedudukan kedua setelah sunda kelapa. Disini para pedagang-pedagang barat dan timur berkumpul, seperti pedagang-pedagang dari Palembang dan Pariaman, dari Lawe dan Tanjungpura (Kalimantan Selatan);berikut pula dari Malaka, Makasar, Jawa Timur dan Madura. Pada tahun 1527, Banten sudah menduduki sunda kelapa sehingga perdagangan di wilayah ini banyak di alihkan ke Banten.Pola pelayaran dan perdagangan
Pemilik modal pelayaran dan perdagangan
Menurut Tome Pires, Raja-raja Pahang, Kampar, dan Indragiri mempunyai kantor dagang di Malaka. Meskipun demikian peran mereka pada umumnya masif. rupanya raja-raja ini sendiri tidak memiliki kapal. Namun, melalui perwakilannya di Malaka mereka memiliki saham dalam kapal dan perahu yang berlayar di Malaka.para raja dan para pembesar yang tidak memiliki kapal menginvestasikan sebagian hartanya dalam perdagangan dan pelayaran. Sedangkan saudagar-saudagar di wilyah pesisir yang lain, seperti Sulatan memiliki hak penuh atas perdagangan yang di jalankan lewat kepemilikan kapal dagangnya masing-masing.
Dari usaha perdagangan ini Sulatan dapat mengumpulkan harta yang besar. Dengan penghasilan berdagang, dari bea cukai yang dipungut dari barang impor yang masuk dan ditambah dengan pajak yang lainnya, maka kekayaan Sultan bertambah dengan semakin ramainya kapal-kapal dan saudagar mengunjungi Bandar. Sultan Alauddin Syah dikatakan memiliki harta yang di taksir sama dengan 140 kuintal emas (8824kg). adapun Mansyur Syah menurut perkiraan Pires, memiliki 120 kwintal emas ditambah dengan sejumlah besar intan berlian dan ratna-ratna mutu manikam.
Dalam pembahasan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pada abad ke-16 dan 17 M para raja-raja Islam berperan aktif dalam Tradisi perdangangan Nusantara. Terlebih lagi kerajaan-kerajaan Islam yang berada di pesisir. Beberapa faktor pendorong yang menunjang membuat perekonomian kerjaan-kerajaan Islam di daerah pesisir lebih baik di bandingkan Negara agraris.
Pelaksanaan pelayaran dan perdagangan
Pada tahun 1527, Banten menduduki Sunda Kelapa, kota pelabuhan terpenting dari kerajaan Pajajaran. Kemenangan Banten terhadap Sunda Kelapa membuat peningkatan dalam segi Ekonomi. Banten berkembang menjadi pelabuhan yang ramai, terutama setelah Malaka di duduki oleh Portugis. Sementara itu dalam hal perdagangan marritim tidak ada diferensiasi tegas antara pelaksana perdagangan dan orang yang melaksanakan pelayaran, sebagaimana juga tidak ada perbedaan antara pemilik kapal, nahkoda, dan pedagang. Besar kecilnya awak kapal tergantung pada besar kecilnya kapal. Berkenaan dengan pelaksana perdagangan ada istilah-istilah yang di gunakan seperti :Saudagar , bisa jadi pemilik kapal dagang atau perwakilan yang diberikan tugas untuk menjual barang dagangan yang dititipkan. Biasanya dijalankan atas dasara bagi-laba.
Awak kapal
Jrurumudi, orang yang bertanggung jawab atas kemudi
Jurubatu (kadang-kadang terdiri atas dua orang), bertanggung jawab atas jangkar dan jangan sampai kapal menabrak karang.
Mualim, bertugas sebagai pemandu laut
Muda-muda, kadet kapal yang berlayar untuk mencari pengalaman
Kiwi, yakni pedagang yang tidak membantu dalam pelayaran, tetapi hanya ikut untuk kepentingan dagang.
Kesimpulan
Pada bad ke-16 dan tujuh belas yang merupakan mas peralihan kerjaan Hindu ke Islam terjadi suatu tarnformasi yang cukup signifikan dalam ilmu-ilmu pelayaran di Nusantara. Perkembangan teknologi dan sitem pelayaran local pun sbenarnya tidak kalah dengan perkembangan ilmu pelarayaran dan perdagangan modern yang di bawa oleh Eropa. Terbukti dengan beberapa literature sejarah yang mengatakan bahwa para pelaut local memiliki pemahaman tentang bagaimana perubahan cuaca dan angin di Nusantara yang di turunkan secara turun-temurun. Oleh karena itu, banyak diantara kapal-kapal dagang Eropa yang mau tidak mau menggunakan jasa para pelaut local yang mengerti sebagai petunjuk arah menuju tujuan pelayaran mereka.Begitupun jenis-jenis kapal yang dikembangkan oleh masyarakat local Nuasntara cukup beragam, perahu lesung dan papan yang berneka ragam bentuknya berdasarkan wilayah-wilayah tertentu. Merupakan suatu khajanah pengetahuan yang patut diperhitungkan. Tradisi pembuatan kapal yang hamper dimiliki oleh setiam masyarakat local di kepulauan martitm menjadi cerminan bahwa teknologi dan perlengkapan ilmu pelayaran semakin berkembang. Berkenaan dengan jalur atau jalan yang dilalui dalam tradisi perdagangan laut peranan masyarakat local pun tidak dapat dikesampingkan, karena pengetahuan alam mereka tentang laut dan arah cuaca dan musim menjadi faktor kunci terbukanya jalur-jalur perdagangan yang ramai di Nusantara.Pola pelayaran yang dilakukan oleh masyarkat maupun kerajaan terbagi menjadi dua, bagi kapal yang berada di daerah agraris mungkin hanya bisa menyalurkan hasil pertaniannya dan menginvestasikan kekayaannya di beberapa tempat yang menjadi pelabuhan perdagangan laut. Bagian kedua adalah mesyarakat dan kerajaan-kerajaan yang berada di pesisir memiliki keuntungan tersendiri dalam hal ekonomi. Mereka menjadi saudagar dan penguasa untuk beberapa waktu yang lama, sehingga menegaskan asumsi kita bahwa kerajaan-kerajaan Silam berbasis maritim baisanya lebih maju secara ekonomi di bandingkan kerajaan berbasis agraris.Daftar pustaka :Lapian, B. Adrian.2008. Pelayaran dan perniagaan Nusantara abad ke-16 dan ke-17. Jakarta :Komunitas bamboo.
Lapian, B. Adrian. 2009. Orang Laut Bajak Laut Raja Laut, sejarah kawasan laut Sulawesi abad XIX, Jakarta: Komunitas Bambu.
Reid, Anthony, Sejarah Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor.
Budi Utomo, Bambang, Belajarlah Dari Datuk Sriwijaya : bangkitlah kembali bangsa bahari. Kumpulan Makalah Seminar & Bedah Buku Satu Abad Kebangkitan Nasional, 27—29 Mei 2008.Horst H. Libner, Perahu-Perahu Tradisional Nusantara, Suatu Tinjauan Sejarah Perkapalan Dan Pelayaran;Proyek Pengembangan Dan Pengkajian Masyarakat Pantai.UNHAS.


Download Ilmu Pelayaran dan Tradisi Perdagangan Nusantara.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Ilmu Pelayaran dan Tradisi Perdagangan Nusantara. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon