February 08, 2017

Filsafat ilmu


Judul: Filsafat ilmu
Penulis: Fajar Nugroho


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan hingga seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan melalui proses bertahap dan evolusi. Oleh karena itu, untuk memahami sejarah perkembangan ilmu pengetahuan harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik. Setiap periode sejarah pekembangan ilmu pengetahuan menampilkan ciri khas tertentu. Kelahiran atau sejarah suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat secara umum mempunyai arti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Dalam hal ini lebih difokuskan terhadap proses dan bukan terhadap produk atau hasil. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti prinsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak (Takwin, 2001:45).
Filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Artinya setiap ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini merupakan proses dari perkembangan filsafat ilmu yang pada akhirnya menghasilkan sebuah kebenaran dari sebuah ilmu pengetahuan baru yang diakui secara ilmiah. Proses perkembangan tersebut berawal dari sebuah sejarah kelahiran filsafat ilmu, di mana manusia sebagai makhluk yang berakal pada dasarnya mempunyai hasrat untuk mempertanyakan sesuatu hal yang sudah ada. Kegiatan berfilsafat pada manusia pada dasarnya berawal dari rasa heran, kesangsian dan kesadaran akan keterbasan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri.
Sejarah kelahiran dan perkembangan filsafat ilmu sangat membantu kita untuk dapat lebih mengenal dan memahami filsafat ilmu itu sendiri, sebab pengetahuan tentang sejarah perkembangan suatu aspek ilmu pengetahuan akan sangat membantu dalam memahami hal tersebut. Filsafat Ilmu menurut Soemargono (1990:1) merupakan penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara memperolehnya telah berkembang seiring perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Di dalam perkembangan-perkembangan tersebut telah banyak mengalami perubahan baik mengenai penemuan tentang sesuatu yang baru maupun mengubah dan menepis suatu teori yang sudah ada (pembaruan).
Kajian tentang sejarah kelahiran dan perkembangan filsafat ilmu ini merupakan sesuatu yang penting, sebab diharapkan dapat mengarahkan kita terhadap penerapkan penyelidikan kefilsafatan dengan kegiatan ilmiah dan dapat mengarahkan metode-metode penyelidikan ilmiah kejuruan kepada penyelenggaraan kegiatan-kegiatan ilmiah. Filsafat ilmu sebagai bagian integral dari filsafat secara keseluruhan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan filsafat itu sendiri secara keseluruhan. Dalam menulis karya sejarah atau perkembangan dari filsafat ilmu, hal yang utama adalah dengan membagi peristiwa sejarah itu sendiri ke dalam suatu fase atau pembabakan. Kemudian dalam penulisannya dilakukan dengan cara periodeisasi atau secara urut didasarkan pada suatu peristiwa besar yang ada dalam sejarah filsafat ilmu. Dalam makalah ini penulis membagi sejarah kelahiran dan perkembangan filsafat ilmu secara pembabakan yang didasarkan pada ciri khas pada setiap fase perkembangan yang terdiri dari; zaman kuno, zaman pertengahan, zaman rennaisance, zaman modern, dan zaman kontemporer.
Dewasa ini manusia dituntut untuk mampu mengembangkan segala ilmu pengetahuannya baik melalui proses kegiatan ilmiah maupun non ilmiah, oleh karena itu filsafat ilmu dalam hal ini sebagai batang tubuh dari segala ilmu pengetahuan mampu untuk menjawab tantangan atau tuntutan sosial yang diemban oleh manusia. Filsafat ilmu sangat penting peranannya terhadap penalaran manusia untuk membangun suatu ilmu. Sebab, dalam filsafat ilmu terdapat kegiatan menyelidiki, menggali, dan menelusuri mendalam, sejauh, dan seluas mungkin semua tentang hakikat ilmu. Dalam hal ini, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan akar dari semua ilmu dan pengetahuan. Dengan kata lain mempelajari filsafat ilmu dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan suatu ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.

Rumusan Masalah
Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam kegiatan penulisan sangat diperlukan untuk memfokuskan kita pada masalah-masalah yang akan diangkat dalam penulisan karya tulis. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan maka rumusan masalah yang diangkat dalam makalah ini adalah:
Bagaimana sejarah kelahiran dan perkembangan filsafat ilmu?
Manfaat apa saja yang diperoleh dalam mempelajari filsafat ilmu?
Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan pembuatan makalah ini adalah:
Untuk mendeskripsikan sejarah kelahiran dan perkembangan filsafat ilmu!
Untuk menjelaskan manfaat apa saja yang diperoleh dalam mempelajari filsafat ilmu!

BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Filsafat Ilmu
Dari segi asal usul kata (etimologi) filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophos yang berarti philos = pecinta atau pencari, dan sophia = hikmat, kebijaksanaan atau pengetahuan. Artinya filsafat merupakan suatu ilmu yang mempelajari seluruh realitas sampai sebab-sebab yang paling dalam (Zahir, 2015:1). Sedangkan filsafat ilmu merupakan paparan dugaan dan kecenderungan yang tidak terlepas dari pemikiran para ilmuwan yang menelitinya. Filsafat ilmu dapat dimaknai sebagai suatu disiplin, konsep, dan teori tentang ilmu yang sudah dianalisis serta diklasifikasikan. Filsafat ilmu adalah perumusan pandangan tentang ilmu berdasarkan penelitian secara ilmiah. Dapat disimpulkan bahwa filsafat ilmu berkaitan dengan kebenaran, fakta, logika, konfirmasi.
Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti: Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral atau profesional? (Suriasumantri, 2003:35).
Jika disimpulkan berbagai macam pertanyaan di atas maka yang pertama adalah persoalan-persoalan yang berkaitan dengan masalah ontologi. Kedua, masuk dalam wilayah kajian epistemologi. Sedangkan yang ketiga adalah problem aksiologi. Ontologi yaitu tentang apa dan sampai di mana yang hendak dicapai ilmu. Ini berarti sejak awal kita sudah ada pegangan dan gejala sosial. Dalam hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi dalam dimensi ruang dan waktu, dan terjangkau oleh pengalaman inderawi. Dengan demikian, meliputi fenomena yang dapat diobservasi, dapat diukur, sehingga datanya dapat diolah, diinterpretasi, diverifikasi, dan ditarik kesimpulan. Dengan lain perkataan, tidak menggarap hal-hal yang gaib seperti soal surga atau neraka yang menjadi garapan ilmu keagamaan.
Ontologi juga sering diidentikkan dengan metafisika, yang juga disebut dengan proto-filsafat atau filsafat yang pertama atau filsafat ketuhanan. Pembahasannya meliputi hakikat sesuatu, keesaan, persekutuan, sebab dan akibat, substansi dan aksiden, yang tetap dan yang berubah, eksistensi dan esensi, keniscayaan dan kerelatifan, kemungkinan dan ketidakmungkinan, realita, malaikat, pahala, surga, neraka dan dosa (Jalaluddin, 2007:126-127).
Kedua epistimologi, yaitu meliputi aspek normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping aspek prosedural, metode dan teknik memperoleh data empiris. Kesemuanya itu lazim disebut metode ilmiah, meliputi langkah-langkah pokok dan urutannya, termasuk proses logika berpikir yang berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir ilmiah yang digunakannya. Telaah ketiga ialah dari segi aksiologi, yang sebagaimana telah disinggung di atas terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh.
Sejarah kelahiran filsafat ilmu menurut Utama (2013:4) berawal dari proses manusia dalam rangka mencari kebenaran, proses sekularisari alam, sarana berfikir ilmiah ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Sedangkan proses dari perkembangan filsafat ilmu hingga kini merupakan kegiatan yang mempunyai kurun waktu yang sangat panjang, oleh karena itu diklasifikasikan berdasarkan pada ciri khas yang terdapat pada setiap fase perkembangan tersebut. Berikut merupakan perkembangan-perkembangan dari filsafat ilmu hingga kini:
Filsafat Ilmu Zaman Kuno (600 SM sampai 500 M)
Filsafat yang dipandang sebagai induk ilmu pengetahuan telah dikenal manusia pada masa Zaman Kuno. Pada zaman Zaman Kuno filsafat dan ilmu merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan. Keduanya termasuk dalam pengertian episteme yang sepadan dengan kata philosophia. Pemikiran tentang episteme ini oleh Aristoteles diartikan sebagai an organized body of rational konwledge with its proper object. Jadi filsafat dan ilmu tergolong sebagai pengetahuan yang rasional. Dalam pemikiran Aritoteles selanjutnya pengetahuan rasional itu dapat dibedakan menjadi tiga bagian yang disebutnya dengan praktike (pengetahuan praktis), poietike (pengetahuan produktif), dan theoretike (pengetahuan teoritis) (Gie, 1997:1-2).
Pemikiran dan pandangan Aritoteles seperti tersebut di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa nampaknya ilmu pengetahuan pada masa itu harus didasarkan pada pengertian dan akibatnya hanya dapat dilaksanakan bagi aspek-aspek realitas yang terjangkau pikiran. Lalu masuk akal saja kalau orang berpendapat bahwa kegiatan ilmiah tidak lain daripada menyusun dan mengaitkan pengertian-pengertian itu secara logis, yang akhirnya menimbulkan kesana bahwa setiap ilmu pengetahuan mengikuti metode yang hampir sama yaitu mencari pengertian tentang prima principia, lalu mengadakan deduksi-deduksi logis (Bertens, 1992:14).
Pemikirannya hal tersebut oleh generasi-generasi selanjutnya memandang bahwa Aristoteles-lah sebagai peletak dasar filsafat ilmu. Selama ribuan tahun sampai dengan akhir abad pertengahan filsafat logika Aristoteles diterima di Eropa sebagai otoritas yang besar. Para pemikir waktu itu mengaggap bahwa pemikiran deduktif (logika formal atau sillogistik) dan wahyu sebagai sumber pengetahuan. Aristoteles adalah peletak dasar "doktrin sillogisme" yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemimiran di Eropa sampai dengan munculnya Era Renaisance. Sillogisme adalah argumentasi dan cara penalaran yang terdiri dari tiga buah pernya-taan, yaitu sebagai premis mayor, premis minor dan konklusi.
Tokoh-tokoh filsafat ilmu pada Zaman Kuno adalah sebagai berikut; Thales (625-545 SM), Anaximandros (611-545 SM), Anaximenes (588-524 SM), Pythagoras (580-500 SM), Xenophanes (570-480 SM), Heracleitos (540-475 SM), Parmenides dan Melissus, Zeno, Empedocles, Leucippus, Democritos (460-370 SM), Socrates (470-399 SM), Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM).

Filsafat Ilmu Zaman Pertengahan (467-1492 M)
Filsafat Abad Pertengahan adalah suatu arah pemikiran yang berbeda sekali dengan arah pemikiran filsafat Zaman Kuno. Filsafat Abad Pertengahan menggambarkan suatu zaman yang baru sekali di tengah-tengah suatu rumpun bangsa yang baru, yaitu bangsa Eropa Barat. Filsafat yang baru ini disebut Skolistik. Sebutan Skolistik mengungkapkan, bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan diusahakan oleh sekolah-sekolah, dan bahwa ilmu itu terkait pada tuntutan pengajaran di sekola-sekolah itu.
Filsafat Barat Abad Pertengahan juga dapat dikatakan sebagai "abad gelap". Pendapat ini disarankan pada pendekatan sejarah gereja, yang memang pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Para ahli pikir yang ada pada saat itu pun tidak memiliki kebebasan berfikir. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, orang yang mengemukakan akan mendapatkan hukuman berat. Pihak gereja melarang diadakannya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama. Karena itu, kajian tentang agama/teologi yang tidak berdasarkan ketentuan gereja akan mendapatkan larangan yang ketat, yang berhak mengadakan penyelidikan terhadap agama hanyalah gereja. Walaupun demikian, ada juga yang melanggar larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian diadakan pengejaran (inkusisi).
Masa Abad Pertengahan ini juga dapat dikatakan sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya mengiringi manusia ke dalam kehidupan sistem kepercayaan yang picik dan fanatik,dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta. Oleh karena itu perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini terhambat. Masa ini penuh dengan dominasi gereja, yang tujuannya untuk membimbing umat ke arah hidup yang saleh. Namun, di sisi lain, dominisi gereja ini tanpa memikirkan martabat dan kebebasan manusia yang mempunyai perasaan, pikiran, keinginan, dan cita-cita untuk menentukan masa depannya sendiri.
Zaman Pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog, sehingga aktivitas ilmiah lebih terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancilla theologia atau abdi agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan bidang ilmu yang terjadi pada masa ini. Periode abad pertengahan mempunyai perbadaan yang mencolok dengan abad sebelumnya, perbedaan itu terutama terletak pada dominasi agama. Agama Kristen menjadi problem kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan Zaman Kuno yang mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal (Achmadi, 2007:134).
Filsafat pada Abad Pertengahan mengalami 2 periode, yaitu:
Periode patriktis terdiri dari 2 tahap:
Permulaan agama kristen
Filsafat Agustinus; yang terkenal pada masa patristik
Periode skolastik terbagi menjadi 3 tahap yakni:
Periode awal, ditandai dengan pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat.
Periode puncak, ditandai oleh keadaan yang dipengaruhi oleh aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat arab dan yahudi.
Periode akhir, ditandai dengan pemikiran kefilsafatan yang berkembang kearah nominalisme.
Tokoh-tokoh yang hidup pada Zaman Pertengahan ini yaitu; Justinus Martin, Klemes Tertullianus, Augustinus, Peter Abaelardus, J.S Eriugena, Anselmus, Albertus Mangunus, Thomas Aquinas, William Ockham, dan Nicolas Cusasus (1401-1464 M).
Filsafat Ilmu Zaman Rennaisance (1400-1600 M)
Rennaisance merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja Katolik Roma, bersamaan dengan berkembangnya Humanisme. Pada masa ini otoritas Aritoteles tersisihkan oleh metode dan pandangan baru terhadap alam yang biasa disebut Copernican Revolution yang dipelopori oleh sekelompok sanitis antara lain Copernicus (1473-1543), Galileo Galilei (1564-1542) dan Issac Newton (1642-1727) yang mengadakan pengamatan ilmiah serta metode-metode eksperimen atas dasar yang kukuh.
Selanjutnya pada Abad XVII pembicaraan tentang filsafat ilmu, ditandai dengan munculnya Roger Bacon (1561-1626). Bacon lahir di ambang masuknya Zaman Modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Bacon menilai bahwa ilmu sempurna tidak boleh mencari untung namun harus bersifat kontemplatif, Ilmu harus mencari untung artinya dipakai untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi, dan bahwa dalam rangka itulah ilmu-ilmu berkembang dan menjadi nyata dalam kehidupan manusia. Pengetahuan manusia hanya berarti jika nampak dalam kekuasaan mansia; human knowledge adalah human power (Achmadi, 2007:147).
Kehadiran Bacon memberi corak baru bagi perkembangan Filsafat Ilmu, khususnya tentang metode ilmiah. Menurut Bacon, jiwa manusia yang berakal mempunyai kemamapuan triganda, yaitu ingatan (memoria), daya khayal (imaginatio) dan akal (ratio). Ketiga aspek tersebut merupakan dasar segala pengetahuan. Ingatan menyangkut apa yang sudah diperiksa dan diselidiki (historia), daya khayal menyangkut keindahan dan akal menyangkut filsafat (philosophia) sebagai hasil kerja akal. Sebagai pelopor perkembangan filsafat ilmu pengetahuan, Roger Bacon juga menguraikan tentang logika. Bacon menyusun logika meliputi empat macam keterampilan (ars) yaitu bidang penemuan (ars inveniendi), bidang perumusan kesimpulan secara tepat (ars iudicandi), bidang mempertahankan apa yang sudah dimengerti (ars retinendi), dan bidang pengajaran (ars tradendi) (Bertens, 1992:45). Tokoh-tokoh yang hidup pada zaman ini yaitu; Roger Bacon (1564-1542), Copernicus (1473-1543),, Johannes Keppler, Galileo Galilei, Fransisco de Victoria (1492-1546)  Thomas Aquino, Niccolo Machiavelli (1469-1527).
Filsafat Ilmu Zaman Modern (1700-1900 M)
Pada zaman modern paham-paham yang muncul dalam garis besarnya adalah rasionalisme, idealisme, dan empirisme. Paham rasionalisme mengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Paham idealisme mengajarkan bahwa hakikat fisik adalah jiwa, spirit. Ide ini merupakan ide Plato yang memberikan jalan untuk mempelajari paham idealisme zaman modern. Paham empirisme dinyatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman.
Pada masa abad modern ini berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandanan kehidupan sehingga corak pemikirannya antroposentris, yaitu pemikiran filsafatnya mendasarkan pada akal fikir dan pengalaman. Rene Descartes (1596-1650) sebagai bapak filsafat modern yang berhasil memadukan antara metode ilmu alam dengan ilmu pasti kedalam pemikiran filsafat.
Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.
Pelopor aliran pemikiran pada zaman modern yaitu: Rene Descartes (1596-1650) yang desebut sebagai bapak filsafat modern, Spinoza (1632-1677), John Locke (1632-1704), J.G Fichte (1762-1814), F.W.J. Scheling (1775-1854), G.W.T. Hegel (1770-1831), Schopenhauer (1788-1860), William James (1842-1910), August Comte (1798-1857), John S. Mill (1806-1873), Herbert Spencer (1820-1903), Julien de Lamettrie (1709-1751), Ludwig Feueurbach (1804-1872), dan Karl Marx (1818-1883).
Filsafat Ilmu Zaman Kontemporer (1900-sekarang)
Perkembangan Filsafat Ilmu di zaman ini ditandai dengan munculnya filosof-filosof yang memberikan warna baru terhadap perkembangan Filsafat Ilmu sampai sekarang. Muncul Karl Raymund Popper (1902-1959) yang kehadirannya menadai babak baru sekaligus merupakan masa transisi menuju suatu zaman yang kemudian di sebut zaman Filsafat Ilmu Pengetahuan Baru. Hal ini disebabkan Pertama, melalui teori falsifikasi-nya, Popper menjadi orang pertama yang mendobrak dan meruntuhkan dominasi aliran positivisme logis dari Lingkaran Wina. Kedua, melalui pendapatnya tentang berguru pada sejarah ilmu-ilmu, Popper mengintroduksikan suatu zaman filsafat ilmu yang baru yang dirintis oleh Thomas Samuel Kuhn (Haryono, 1991:158-161).
Filsafat kontemporer memiliki ciri khas pemikiran filsafat desentralisasi manusia. Dalam bidang bahasa terdapat pokok-pokok masalah, yaitu arti kata-kata dan arti pernyataan-pernyataan. Filsafat kontemporer yang di awali pada awal abad ke-20, ditandai oleh variasi pemikiran filsafat yang sangat beragam dan kaya. Mulai dari analisis bahasa, kebudayaan (postmodernisme), kritik sosial, metodologi (fenomenologi, hermeneutika, strukturalisme), filsafat hidup (Eksistensialisme), filsafat ilmu, sampai filsafat tentang perempuan (Feminisme). Tema-tema filsafat yang banyak dibahas oleh para filsuf dari periode ini antara lain tentang manusia dan bahasa manusia, ilmu pengetahuan, kesetaraan gender, kuasa dan struktur yang mengungkung hidup manusia, dan isu-isu actual yang berkaitan dengan budaya, sosial, politik, ekonomi, teknologi, moral, ilmu pengetahuan, dan hak asasi manusia (Anshar, 2012:1)
Ciri lainnya adalah filsafat dewasa ini ditandai oleh profesionalisasi disiplin filsafat. Maksudnya, para filsuf bukan hanya professional di bidang masing-masing, tetapi juga mereka telah membentuk komunitas-komunitas dan asosiasi-asosiasi professional dibidang-bidang tertentu berdasarkan pada minat dan keahlian mereka masing-masing (Zaenal, 2011:124). Tokoh-tokoh filsafat ilmu yang ada pada zaman ini yaitu, Jean Paul Sartre, Edmund Husserl (1859-1939), Jean Francois Lyotard (1924-1998), Jacques Derrida (1930-2004), dll.
Manfaat Belajar Filsasat Ilmu
Manfaat belajar filsafat ilmu bagi kita akan dijelaskan di bawah berikut ini:
Filsafat memungkinkan orang berfikir secara komprehensif, memberi peran yang wajar kepada konsep, mendasar/radikal, konsisten/runtut, koheren/logis, sistematis, bebas, dan bertanggungjawab.
Filsafat memperluas pandangan melampauidisiplin ilmu tertentu. Filsafat membantu seseorang untuk menempatkan bidang ilmunya dalam perspektif lebih luas dan mendasar.
Filsafat memberikan pendasaran rasional tentang hakekat eksistensi, pengetahuan, nilai-nilai, dan masyarakat. Filsafat juga memberikan pendasaran tentang hakekat ilmu (epistimologi), menjadi orang berfikir lurus (logika), memberikan kritik terhadap ilmu-ilmu, memberikan keterangan tentang dasar dalam realitas, memberikan argumentasi rasional bagi konsep-konsep teologi (teologi metafisik), membahas secara mendalam tentang manusia (antropologi filsafat), memberikan penjelasan mendasar tentang hakikat manusia dan jagad raya (kosmologi), membimbing manusia dalam kegiatannya sebagai manusia (etika), memberikan dasar apresiasi bagi keindahan (estetika), dan mendorong orang untuk mengukur segalanya berdasarkan perspektif sejarah (sejarah filsafat)
Bagi orang yang beragama, filsafat memberikan pendasaran rasional bagi kepercayaannya.
Filsafat merupakan kritik ideologi.
Filsafat dibutuhkan untuk memecahkan masalah-masalah etis yang disebabkan oleh perkembangan pesat ilmu pengetahuan.
Filsafat akan mengajarkan untuk melihat segala sesuatu secara multi dimensi: Ilmu ini akan membantu kita untuk menilai dan memahami segala sesuatu tidak hanya dari permukaannya saja, dan tidak hanya dari sesuatu yang terlihat oleh mata saja, tapi jauh lebih dalam dan lebih luas.
Filsafat mengajarkan kepada kita untuk mengerti tentang diri sendiri dan dunia: Manfaat belajar filsafat akan membantu memahami diri dan sekeliling dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar.
Filsafat mengasah hati dan pikiran untuk lebih kritis terhadap fenomena yang berkembang: Hal ini akan membuat kita tidak begitu saja menerima segala sesuatu tanpa terlebih dahulu mengetahui maksud dari pemberian yang kita terima.
Filsafat dapat mengasah kemampuan kita dalam melakukan penalaran: Penalaran ini akan membedakan argumen, menyampaikan pendapat baik lisan maupun tertulis, melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang lebih luas dan berbeda.
Belajar dari para filsuf lewat karya-karya besar mereka: Kita akan semakin tahu betapa besarnya filsafat dalam mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, karya seni, pemerintahan, serta bidang-bidang yang lain.
Filsafat akan membuka cakrawala berpikir yang baru: Ide-ide yang lebih kreatif dalam memecahkan setiap persoalan, lewat penalaran secara logis, tindakan dan pemikiran yang koheren, juga penilaian argumen dan asumsi secara kritis.
Filsafat membantu kita untuk dapat berpikir dengan lebih rasional: Membangun cara berpikir yang luas dan mendalam, dengan integral dan koheren, serta dengan sistematis, metodis, kritis, analitis, dan logis.
Filsafat akan mengkondisikan akal untuk berpikir secara radikal: Membuat kita berpikir hingga mendasar, sehingga kita akan lebih sadar terhadap keberadaan diri kita.
Filsafat membawa keterlibatan dalam memecahkan berbagai macam persoalan: Persoalan baik yang terjadi pada diri sendiri maupun orang lain, akan membuat kehidupan kita tidak dangkal, namun kaya akan warna.
Memiliki pandangan yang luas: Manfaat belajar filsafat dalam hal ini, akan mengurangi kecenderungan sifat egoisme dan egosentrisme.
Filsafat membantu menjadi diri sendiri: Lewat cara berpikir yang sistematis, holistik dan radikal yang diajarkan tanpa terpengaruh oleh pendapat dan pandangan umum.
Filsafat akan membangun landasan berpiki: Komponen utama baik bagi kehidupan pribadi terutama dalam hal etika, maupun bagi berbagai macam ilmu pengetahuan yang kita pelajari.
Filsafat dengan sifatnya sebagai pembebas: Manfaat belajar filsafat akan mendobrak pola pikir yang terbelenggu tradisi, mistis, dan dogma yang menjadi penjara bagi pikiran manusia.
Filsafat akan membuat kita dapat membedakan persoalan: Terutama berbagai persoalan ilmiah dengan persoalan yang tidak ilmiah.
Filsafat dapat menjadi landasan historis-filosofis: Dalam hal ini, berasal dari berbagai macam kajian disiplin ilmu yang kita tekuni.
Filsafat dapat memberikan nilai dan orientasi pada semua disiplin ilmu: Filsafat memberikan petunjuk lewat penelitian penalaran serta metode pemikiran reflektif, sehingga kita dapat menyelaraskan antara pengalaman, rasio, agama serta logika.
Filsafat dapat dijadikan alat untuk mencari kebenaran: Memberikan pandangan serta pengertian mengenai hidup
Filsafat dapat dijadikan sebagai pedoman: Berguna sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan.
Filsafat mengajarkan kepada kita tentang etika dan moral: Pembelajaran moral dan etika ini, dapat diimplementasikan secara langsung dalam kehidupan.
Filsafat dapat membangun semangat toleransi, menjaga keharmonisan hidup di tengah perbedaan pandangan atau pluralitas.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Daftar Rujukan
Achmadi, Asmoro. 2007. Filsafat Umum. Jakarta: Raja Grafindo Penada
Anshar. 2012. Filsafat Kontemporer. (Online). http://anshar-mtk.blogspot.co.id/2012/10/filsafat-kontemporer.html. Diakses 07.10.2015
Bertens, K. 1992. Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita, Cet. II. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Gie, Liang 1997. Pengantar Filsafat Ilmu, Cet. III. Yogyakarta: Liberty
Haryono, Imam. 1991. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu, Cet. II; Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Jalaluddin, dan Abdullah. 2007. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Soemargono, Soejono. 1989. Pengantar Filsafat, Cet. IV. Yogyakarta: Tiara Wacana
Suriasumantri, Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Total Grafika Indonesia
Takwin, Bagus. 2001. Filsafat Timur. Yogyakarta: Jalasutra
Zahir, Abdul. 2015. Tradisi Pemikiran Ilmiah: Yunani Kuno, Abad Pertengahan, Masa Kekhilafahan, Renaissance dan Aufklaerung, Zaman Modern, dan Zaman Kontemporer. (Online). https://hepimakassar.wordpress.com/tag/dan-zaman-kontemporer/. Diakses 07.08.2015


Download Filsafat ilmu.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Filsafat ilmu. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon