January 16, 2017

Tugas Resume Mata Kuliah Kepemimpinan UAS 2


Judul: Tugas Resume Mata Kuliah Kepemimpinan UAS 2
Penulis: Akun Pak


Nama : Teddi Indra Gunawan
NPM : 1426090119
Mata Kuliah : Kepemimpinan
Tugas Resume Makalah Servant Leadership II
"Servant Leadership" dan "Ethik Leadership": Tantangan
Kepemimpinan dalam Pemerintah Indonesia
Abad ke-21 menuntut perubahan kepemimpinan dan kemampuan aparatur pemerintah mengelola informasi dan produktivitas pegawai berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks). Hal ini merupakan konsekuensi logis dari tuntutan masyarakat terhadap pemerintah yang cenderung meningkat baik secara kuantitas maupun kualitasnya.
Paradigma lama yang menempatkan masyarakat yang melayani aparatur pemerintah harus berubah secara mendasar dan tuntas. Pemimpin di lingkungan pemerintahan sebagai pelaku utama dan panutan bawahan, dan masyarakat harus melakukan perubahan-perubahan.
Berdasarkan hal tersebut, pemikiran mengenai paradigma baru kepemimpinan publik pada hakikatnya beranjak dari pandangan bahwa pemimpin publik dapat memberikan jawaban secara bijak, efisien, dan produktif atas berbagai permasalahan yang dihadapi.
Konsep Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan eberlangsungan organisasi, karena pemimpin berfungsi sebagai pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju tujuan yang akan dicapai. Pentingnya peranan pemimpin dalam organisasi memberikan inspirasi bagi para pakar administrasi/manajemen untuk mengembangkan dan menemukan teori-teori kepemimpinan.
George R. Terry (1960: 495) mendefinisikan kepemimpinan sebagai aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela. Burns (1978), Griffin (1987), R. Bennett (1994), Stuart Crainer (1998), Stephen P. Robbins (2001), Phillip L Hunsaker (2001), dan Richard M. Hotgetts dan Fred Luthans (2003) menyebutkan bahwa inti dari kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi orangorang untuk ikut dalam pencapaian tujuan bersama. Dari pengertian-pengertian yang dikemukakan para pakar atau ahli tersebut, dapat dinyatakan bahwa pemimpin dalam pengertian luas adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk memprakarsai dan mempengaruhi tingkah laku bawahan dengan cara mengatur, mengorganisasikan atau mengontrol usaha/upaya orang lain melalui prestise dan kekuasaan atau posisi. Sedangkan secara sempit, kepemimpinan dapat diartikan upaya seseorang dalam membimbing dengan bantuan kualitas-kualitas persuasinya dan adanya tingkat akseptansi (penerimaan) secara sukarela dari para pengikutnya.
Ciulla dalam Bass (2008: 15) menggambarkan perkembangan teori kepemimpinan dalam memberikan definisi sebagai berikut: Pada tahun 1920, kepemimpinan adalah kehendak pemimpin mendorong mereka yang dipimpin agar taat, memiliki rasa hormat, setia, dan dapat bekerjasama. Kemudian definisi berkembang dan pada tahun 1990, kepemimpinan adalah mempengaruhi pengikut
Teori/Pendekatan Kepemimpinan
Seperti halnya definisi kepemimpinan, teori-teori kepemimpinan pun dapat ditemukan bermacam-macam. Menurut Mark Walker's dalam Goethals dan Sorenson (2006: 55-57) dalam studi kepemimpinan telah berkembang berbagai teori kepemimpinan, diantaranya: teori sifat (traits theory), teori perilaku (behavior theory), dan teori transformasional (transformational theory), dan teori transaksional (transactional theory).
Teori Sifat;
ini berusaha mengidentifikasi sifat-sifat kepribadian yang dimiliki oleh pemimpin yang berhasil dan yang tidak berhasil. Terdapat sifat-sifat tertentu seperti kekuatan fisik, intelegensi, keterampilan, sikap, dan lain-lain yang tidak semua orang lain memilikinya, sehingga mereka yang memiliki ini yang dapat dipertimbangkan untuk menempati kedudukan kepemimpinan.
Robbins (2001: 314-315) mengemukakan ada sembilan sifat yang harus dimiliki pemimpin dan yang dapat membedakannya dari yang bukan pemimpin, yaitu: memiliki ambisi dan kekuatan, hasrat untuk memimpin, jujur dan integritas, kepercayaan diri, intelegensi, dan pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Sementara menurut Davis (1972) (dalam Thoha, 1996: 251-252) merumuskan empat sifat umum yang mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, yaitu: kecerdasan, kedewasaan dan keluasan hubungan sosial, motivasi diri dan dorongan berprestasi, dan sikap-sikap hubungan kemanusiaan.
Teori Prilaku;
Setelah teori sifat tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan, perhatian para ahli mengarahkan studi mereka kepada perilaku pemimpin. Studi ini mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin dalam kegiatannya mempengaruhi bawahannya. Ada berbagai teori perilaku dari hasil studi kepemimpinan ini, antara lain:
Studi Kepemimpinan Universitas Ohio
menggambarkan dua dimensi utama dari perilaku pemimpin yang dikenal sebagai struktur inisiasi (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Struktur inisiasi mengacu pada perilaku pemimpin dalam menggambarkan hubungan antara dirinya sendiri dengan anggota kelompok kerja dan dalam upaya membentuk pola organisasi, saluran komunikasi, metode atau prosedur yang ditetapkan dengan baik. Sedangkan konsiderasi mengacu pada perilaku yang menunjukkan persahabatan, kepercayaan timbal balik, rasa hormat, dan kehangatan dalam hubungan antara pemimpin dengan anggota kelompok kerja.
Studi Kepemimpinan Michigan
Pemimpin yang berorientasi pada pegawai menekankan aspek hubungan pada pekerjaan mereka. Setiap pegawai adalah penting dan menaruh perhatian terhadap setiap orang, dengan menerima individualitas dan kebutuhan pribadi mereka. Sedangkan pemimpin yang berorientasi pada produksi menekankan pada hasil dan aspek-aspek teknis pekerjaan. Pegawai dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi
Grid Manajemen
pemimpin berhubungan dengan dua hal, yakni produksi di satu pihak dan orang-orang di pihak lain. Sebagaimana dikehendaki oleh Blake dan Mouton, manaerial grid ditekankan pada bagaimana pemimpin memikirkan mengenai produksi dan hubungan kerja dengan manusianya. Bukannya ditekankan pada berapa banyak produksi harus dihasilkan, dan berapa banyak ia harus berhubungan dengan bawahannya.
Studi Kepemimpinan Likert
menurut Likert, teori kepemimpinan dua dimensi, yaitu orientasi tugas dan individu. Melalui penelitian yang bertahun-tahun Likert berhasil merancang empat sistem kepemimpinan (Thoha, 1996: 60), yaitu: Sistem (1), pemimpin sangat otokratis; (2) pemimpin otokratis yang baik hati; (3) manajer konsultatif, pemimpin mempunyai sedikit kepercayaan pada bawahan; (4) pemimpin bergaya kelompok partisipatif (partisipative group).
Teori Situasional
Menurut Hersey et. al, 1996: 120-121), bahwa perilaku pemimpin yang efektif bergantung pada situasi atau lingkungan khusus yang mencirikannya. Pemimpin yang efektif mampu mengadaptasi gaya perilaku mereka terhadap kebutuhan pengikut dan situasi.
Teori Transformational
Teori kepemimpinan selanjutnya yang telah menyedot banyak perhatian adalah kepemimpinan transformasional. Menurut Bass (2006: 3), kepemimpinan transformasional merupakan kepemimpinan yang dapat merangsang dan memberikan inspirasi kepada para pengikut dalam mencapai hasil yang luar biasa dan dapat mengembangkan kepemimpinan mereka sendiri. Pemimpin membantu bawahan agar dapat tumbuh dan berkembang untuk menjadi pemimpin dengan memperhatikan kebutuhan dan memberdayakan bawahan berdasarkan tujuan bawahan itu sendiri, pemimpin, kelompok, dan organisasi yang lebih besar.
Kepemimpinan transformasional (Burns, 1978: 20, Bass, 2006: 4), sebagai kemampuan pemimpin mengubah lingkungan, motivasi, pola, dan nilai-nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu mengoptimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Ini berarti bahwa sebuah proses transformasional terjadi dalam hubungan kepemimpinan manakala pemimpin membangun kesadaran bawahan tentang pentingnya nilai kerja, memperluas dan meningkatkan kebutuhan yang melampaui minat pribadi serta mendorong perubahan tersebut ke arah kepentingan bersama termasuk kepentingan organisasi.
Teori Transaksional
Bass (2006: 7-8) mendefinisikan kepemimpinan transaksional merupakan kepemimpinan yang menekankan transaksi antara pemimpin dan bawahan. Pemimpin memotivasi dan mempengaruhi bawahan dengan cara mempertukarkan reward dengan kinerja tertentu. Artinya, dalam sebuah transaksi bawahan dijanjikan untuk diberi reward, bila bawahan mampu menyelesaikan tugasnya sesuai dengan kesepakatan. Oleh karena itu, kepemimpinan transaksional sebagai bentuk hubungan yang mempertukarkan jabatan atau tugas tertentu, proses hubungan pertukaran yang bernilai ekonomis tersebut untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikologis sesuai dengan kontrak yang telah disepakati.
Servant Leadership dan Ethnik Leadership
Istilah kepemimpinan pelayanan (servant leadership) lahir dari gagasan Robert K. Greenleaf pada tahun 1970 melalui essainya yang berjudul "The Servant as Leadership" (Spears and Lawrence, 2002: 18). Sejak itu konsep kepemimpinan pelayanan memiliki pengaruh yang sangat luas terhadap teori-teori dan praktik kepemimpinan modern.
Lebih lanjut Greenleaf menjelaskan bahwa dalam kepemimpinan pelayanan menekankan peningkatan layanan kepada orang lain, pendekatan holistik untuk bekerja membangun rasa kebersamaan, dan berbagi kekuasaan dalam pengambilan keputusan. Ada sepuluh karakteristik kepemimpinan pelayanan, yaitu: (1) Mendengarkan, pemimpin berkomitmen mau mendengarkan keinginan kelompok/bawahan; (2) Empati, pemimpin mau menerima dan mengakui keadaan kelompok/bawahannya; (3) Penyembuhan, pemimpin dapat mengatasi permasalahan, sehingga memiliki kekuatan untuk transformasi dan integrasi; (4) Kesadaran, pemimpin berusaha memahami isu-isu berdasarkan etika dan nilai-nilai; (5) Persuasi, pemimpin berusaha meyakinkan kelompok/bawahannya; (6) Konseptualisasi, pemimpin berusaha untuk mampu melihat suatu masalah dari perspektif konseptualisasi; (7) Peramalan, pemimpin berusaha untuk mampu meramalkan berbagai kemungkinan hasil dari suatu situasi yang sulit; (8) Pelayan, pemimpin berkomitmen untuk melayani semua pihak; (9) Visioner, pemimpin berkomitmen untuk menumbuhkembangkan setiap individu/kelompok/bawahan; dan (10) Pemimpin berkomitmen untuk membangun masyarakat.
Kepemimpinan etis (ethik leadership) dilatarbelakangi oleh adanya pemikiran bahwa esensi dari kepemimpinan adalah pengaruh, sehingga para pemimpin yang berkuasa apakah dapat menjalankan kekuasaan dan kepemimpinannya dengan bijaksana dan baik.
Menurut Yukl (2005: 481-483) banyak pemikiran mengenai kepemimpinan etis, diantaranya: (1) James McGregor Burns telah memformulasikan bahwa peran atau fungsi kepemimpinan utama adalah meningkatkan kesadaran mengenai masalah etis dan membantu orang menyelesaikan nilai-nilai yang berkonflik; dan (2) Ronald Heifetz menyatakan bahwa peran utama pemimpin adalah membantu para pengikut menghadapi konflik dan menemukan cara-cara yang produktif untuk menghadapinya.
Lebih lanjut Yukl menjelaskan bahwa kepemimpinan etis selalu melibatkan konsep integritas pribadi. Integritas pribadi adalah sebuah atribut yang membantu menjelaskan efektivitas kepemimpinan. Kepemimpinan etis menekankan kejujuran dan konsistensi antara nilai dan perilaku pemimpin.
Tantangan Kepemimpinan Pemerntahan Indonesia
Kepemimpinan abad ke-21 (Covey dalam Spears dan Lawrence, 2002: 27-34) adalah pemimpin yang memiliki kredibilitas, integritas, ketekunan, kerendahan hati, semangat kepemimpinan berbasis pelayanan, dan memiliki kontribusi. Kepemimpinan berbasis pelayanan (servant leadership) merupakan katalis perubahan dengan cara membantu para bawahan yang terlibat dalam proses penetapan tujuan, mengarahkan, sangat hormat kepada bawahan, rendah hati, dan merupakan hadiah yang terbesar apabila dapat mengabdikan dirinya bagi kepentingan bawahannya.
Menurut Basuki (tt: 23) terdapat beberapa alasan mengapa pelayanan yang menjadi pertimbangan dalam kepemimpinan publik, yaitu: Pertama, bahwa pelayanan publik selama ini menjadi ranah dimana negara yang diwakili oleh pemerintah berinteraksi dengan lembaga-lembaga non-pemerintah. Maknanya, buruknya praktik governance sebagai akibat kepemimpinan aparatur negara dalam penyelenggaraan pelayanan publik, sangat dirasakan oleh warga dan masyarakat luas. Ini berarti, jika terjadi perubahan yang signifikan pada ranah kepemimpinan yang berbasis pelayanan publik dengan sendirinya dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh warga dan masyarakat luas. Dengan menjadikan pelayanan publik sebagai nilai dan jiwa kepemimpinan aparatur negara, maka diharapkan good governance akan secepatnya terwujud dan toleransi terhadap bad governance akan dapat dihentikan.
Kedua, bahwa salah satu makna penting dari governance yang membedakan dengan government adalah keterlibatan aktor-aktor di luar negara dalam merespon masalah-masalah publik. Governance lebih luas government karena dalam praktik governance melibatkan unsurunsur masyarakat sipil dan mekanisme pasar. Selain itu, mewujudkan nilai-nilai yang selama ini mencirikan praktik good governance seperti efisien, nondiskriminatif, berkeadilan, berdaya tanggap tinggi, dan memiliki akuntabilitas tinggi dengan mudah dikembangkan parameternya di dalam ranah pelayanan publik. Ketiga, pelayanan publik melibatkan kepentingan semua unsur governance. Pemerintah sebagai representasi Negara, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar memiliki kepentingan dan keterlibatan yang tinggi dalam ranah ini. Pelayanan publik memiliki high stake dan menjadi pertaruhan yang penting bagi ketiga unsur governance, karena baik buruknya praktik pelayanan publik sangat berpengaruh terhadap ketiganya.
Dengan memperhatikan berbagai hal di atas, para pimpinan di jajaran aparatur negara memiliki kepentingan untuk melakukan pembaharuan dalam praktik penyelenggaraan pelayanan publik. Nasib mereka, apakah dapat mempertahankan jabatannya atau tidak dipengaruhi kualitas pelayanan publik yang diberikan. Pertimbangan tersebut memperkuat niat membangun paradigma baru kepemimpinanyang berbasis pelayanan. Pelayanan sebagai sebuah konsep dasar paradigma baru kepemimpin, berangkat dari pemikiran bahwa, nilai dasar dari ajaran administrasi publik adalah "memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan siapa yang dilayani".
Pelayanan publik terbagi dalam 2 (dua) kategori, yaitu: pelayanan publik yang bersifat regulatoris dan pelayanan publik yang bersifat tuntutan. Pelayanan publik regulatoris yaitu pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat sebagai konsekuensi atas peraturan yang dibuat. Sedangkan pelayanan publik yang bersifat tuntutan adalah pelayanan publik yang diberikan guna memenuhi kepentingan masyarakat yang sangat mendesak, seperti: sarana transportasi, penerangan umum, sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana kegiatan perekonomian, dan lain-lain.
Dalam pelaksanaan pelayanan publik diharapkan aparatur pemerintah dapat memahami kebutuhan masyarakat dengan cepat dan maksimal. Permasalahanpermasalahan tentang pelayanan publik dapat ditanggapi pemerintah dengan cepat dan berupaya menemukan solusinya, tidak menunda-nunda pekerjaan, mempersulit prosedur pelayanan dan berbelit-belit. Aparatur pemerintah dapat bekerja dengan sungguhsungguh (mengutamakan kepentingan masyarakat) dan tidak menyalahgunakan wewenang (corrupt).
Penyelenggaraan pelayanan publik merupakan salah satu fungsi penting pemerintah. Fungsi tersebut merupakan aktualisasi riil kontrak sosial yang diberikan masyarakat kepada pemerintah dalam konteks Principal-Agent (Rawls, 1971). Pemerintah selanjutnya melakukan pengalokasian sumber daya publik dengan cara menyeimbangkan aspek penerimaan dan pengeluaran untuk memaksimalkan penyediaan kebutuhan pelayanan kolektif.
Pemerintah dalam memberikan pelayanan publik kedepan seharusnya memadukan nilainilai privat dan kepublikan, sehingga terjadi sinergitas dalam penyelenggaraan pelayanan publik oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat. Pelayanan publik yang berkualitas pada dasarnya menempatkan posisi yang seimbang antara pemerintah (provider) dengan masyarakat (customer).
Kesimpulan
Para pimpinan memiliki kepentingan untuk melakukan pembaharuan dalam praktik penyelenggaraan negara dan menghadapi tantangan ke depan. Pertimbangan tersebut memperkuat untuk bersegera membangun paradigma baru kepemimpinan pemerintahan Indonesia.
Kepemimpin pelayanan (servant leadership) dan kepemimpinan etik (ethik leadership) merupakan katalis perubahan dalam mengupayakan organisasi dan mengarahkan bawahan melalui perubahan dalam mencapai produktivitas kerja, dengan dukungan teknologi, pemahaman globalisasi, ekonomi, dan ekspektasi masyarakat


Download Tugas Resume Mata Kuliah Kepemimpinan UAS 2.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Tugas Resume Mata Kuliah Kepemimpinan UAS 2. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon