January 16, 2017

RESUME PANCASILA YANA


Judul: RESUME PANCASILA YANA
Penulis: Apep Cahyana


1.PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia : philo/philos/philen yang artinya cinta/pencinta/mencintai. Jadi filsafat adalah cinta akan kebijakan atau hakekat kebenaran. Berfilsafat artinya berfikir sedalam-dalamnya (merenung) terhadap suatu metodik, sistematis, menyeluruh, dan universal untuk mencari hakikat sesuatu Pengertian Filsafat menurut D. runes : Ilmu yang paling umum yang mengandung usaha untuk mencari kebijakan dan cinta akan kebijakan. Pancasila dapat digolongkan sebagai filsafat dalam arti produk, filsafat sebagai pandangan hidup dan filsafat dalam arti praktis. Hal ini berarti bahwa Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan berbangsa, bernegara bagi warga Negara Indonesia dimanapun mere berada. Sistem Filsafat Yang mendasari tokoh filsafat dalam melahirkan perbedaan-perbedaan mendasar antar ajaran filsafat adalah perbedaan latar belakang tata nilai dan alam kehidupan, cita-cita dan keyakinan. Perbedaan aliran bukan ditentukan oleh tempat dan waktu lahirnya filsafat, melainkan oleh watak isi dan nilai ajarannya. Suatu ajaran filsafat yang bulat mengajarkan tentang sumber dan hakikat realitas, filsafat hidup, dan tata nilai (etika), termasuk teori terjadinya pengetahuan manusia dan logika.
Aliran-aliran Filsafat
AliranMaterialismeMengajarkan bahwa hakekat realistas kesemestaan termasuk makhluk hidup dan manusia ialah materi. Semua realitas itu ditentukan oleh materi (misal benda ekonomi, makanan) dan terikat pada hukum alam yaitu sebab akibat (hukum kausalitas) yang bersifat obyektif.
AliranIdealismeMengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan pengertian manusia, karena manusia mempunya akal budi, kesedaran rohani.
AliranRealismeMengajarkan bahwa kehidupan yang tampak seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, hidup berkembang biak, kemudia tua, akhirnya mati. Aliran ini bertentangan dengan aliran materialisme dan idealisme.
2.Nilai-Nilai Pancasila Berwujud dan Bersifat Filosofis.
Hakikat dan pokok-pokok yang terkandung dalam pancasila adalah :
a)Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, berarti bahwa nilai-ilai yang terkandung dalam pancasila itu dijadikan tuntutan dan pegangan dalam mengatur sikap dan tingkat laku manusia indonesia dalam hubungannya dengan Tuhan, masyarakat dan alam semester
b)Pancasila sebagai dasar negara, berarti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu dijadikan dasar dan pedoman dalam mengatur tata kehidupan sepertidiaturdalamUUD1945.
c)Filsafat pancasila yang abstrak tercermin dalam pembukaan UUD 1945
d)Pancasila yang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan suatu kebulatanyangutuh.
e)kesatuan tafsir sila-sila pancasila harus bersumber dan berdasrkan pembukaan dan batang tubuh UUD 1945
Oleh karena itu secara filosofis, dalam kehidupan bangsa Indonesia diakui bahwa nilai pancasila adalah pandangan hidup. Pancasila dijadikan sebagai pedoman bertingkah laku, dan berbuat dalam segala bdang kehidupan, meliputi bidang ekonomi, politik, sosial budaya dan pertahanan dan keamanan.
3.Wawasan filsafat meliputi 3 bidang yaitu ontologi, epistemologi dan axiologi.
3.1OntologiMenurut Runes adalah teori tentang keberadaan atau eksistensinya. Menurut Aristoteles adalah ilmu yang mempelajari hakikat sesuai atau disamakan artinya dengan metafisika.
Bidang ontologymeliputi :Penyelidikan tentang keberadaan manusia, benda, alam semesta. Artinya ontologi adalah menjangkau adanya tuhan dan alam gaib seperti rohani dan kehidupan sesudah kematian (alam dibalik dunia, alam metafisika).
Jadi ontologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki makna yang ada (eksitensi dan keberadaan) sumber ada, jenis ada, hahkiat ada, termasuk di dalamnya ada alam, manusia, metafisika, dan kesemestaan atau kosomologi.
3.2EpistemologiMenurut Runes adalah bidang atau filsafat yang menyelidiki asal, syarat, susunan, metode dan validitas ilmu pengetahuan. Epistemologi meneliti sumber pengetahuan, proses dan syarat terjadinya pengetahuan, serta batas dan validitas ilmu pengetahuan.
Yang termasuk cabang episteomologi adalah Matematika, logika, dan sematik.
3.3AxiologiMenurut Runes berarti manfaat, pikiran, atau ilmu, teori. Dalam pengertian modern axiologi disamakan dengan teori nilai , yakni sesuai yang diinginkan, disukai atau yang baik dan juga yang menyelediki hakikat nilai, kriteria dan kedudukan metafisika sebagai suatu nilai.
Menurut Brameld, axiologi dapat disimpulkan : a)Tingkah laku moral yang berwujud etikab) ekspresi etika yang berujud estetika atau seni keindahanc) sosio politik
Jadi axiologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki makna nilai, sumber nilai, jenis dan tingkatan nilai dan hakikat nilai.
4.Nilai-Nilai Pancasila Menjadi Dasar Dan Arah Keseimbangan Antara Hak Dan Kewajiban Asasi Manusia.
Nilai-nilai dari sila-sila pancasila terkandung beberapa hubungan manusia yang melahirkan keseimbangan antara hak dan kewajiban yaitu ; Hubungan vertikal. Hubungan manusia dengan Tuhan YME sebagai penjelmaan dari nilai ketuhanan yang maha esa. Dalam hubungan ini manusia mempunyai kewajiban untuk melaksanakan perintahnya dan menjauhi laranganya. Hubungan Horizontal. Hubungan manusia dengan sesamanya baik dalam fungsinya sebagai warga masyarakat, warga bangsa, dan warga negara.Hubungan Alamiah. Hubungan manusia dengan alam sekitar yang meliputi hewan, tumbuhan dan alam dengan segala kekayaannya.
Alasan yang prinsipil pancasila sebagai pandangan hidup dengan fungsinya tersebut di atas adalah :
a)Pancasila mengakui adanya kekuatan gaib yang di luar manusia menjadi pencipta, pengatur serta penguasa alam semesta
b) Mengatur keseimbangan dalam hubungan dan keserasian-keserasian dimana untuk menciptakannya perlu pengendalian diri
c)Dalam mengatur hubungan, peranan dan kedudukan bangsa sangat penting.
d)Kekeluargaan dan gotong royong, kebersamaan serta musyarawah untuk mufakat dijadikan sendi kehidupan
e)Kesejahteraan menjadi tujuan hidp bersama
Isi pemikiran filsafat pancasila sebagai suatu filsafat tentang negara adalah bahwa pancasila memberi jawaban yang mendasar dan menyeluruh atas masalah-masalah asasi :
Masalah pertama : Apa negera itu ? dijawab dengan prinsip kebangsaan indonesia.
Masalah kedua : Bagaimana hubungan antara bangsa dan negara ? dijawab dengan prinsip perikemanusiaan.
Masalah ketiga: siapakah sumber dan pemegang kekuasaan negara ? dijawab dengan prinsip dem
okasi. Masalah keempat : Apa tujuan negara ? dijawab dengan prinsip negara kesejahteraan.
Masalah kelima : bagaimana hubungan antara agama dan negara ? dijawab dengan prinsip Ketuhanan yang maha esa.
5.MAKNA SILA-SILAPANCASILA
Arti dan Makna Sila Ketuhanan yang Maha Esa
Mengandung arti pengakuan adanya kuasa prima (sebab pertama) yaitu Tuhan yang Maha Esa
Menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya.
Tidak memaksa warga negara untuk beragama.
Menjamin berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama.
Bertoleransi dalam beragama, dalam hal ini toleransi ditekankan dalam beribadah menurut agamanya masing-masing.
Negara memberi fasilitator bagi tumbuh kembangnya agama dan iman warga negara dan mediator ketika terjadi konflik agama.
Arti dan Makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan
Menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa.
Mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah.
Arti dan Makna Sila Persatuan Indonesia
Nasionalisme.
Cinta bangsa dan tanah air.
Menggalang persatuan dan kesatuan Indonesia.
Menghilangkan penonjolan kekuatan atau kekuasaan, keturunan dan perbedaan warna kulit.
Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan.
Mengandung arti pengakuan adanya kuasa prima (sebab pertama) yaitu Tuhan yang Maha Esa
Menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya.
Tidak memaksa warga negara untuk beragama.
Menjamin berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama.
Bertoleransi dalam beragama, dalam hal ini toleransi ditekankan dalam beribadah menurut agamanya masing-masing.
Negara memberi fasilitator bagi tumbuh kembangnya agama dan iman warga negara dan mediator ketika terjadi konflik agama.
Arti dan Makna Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Hakikat sila ini adalah demokrasi.
Permusyawaratan, artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru sesudah itu diadakan tindakan bersama.
Dalam melaksanakan keputusan diperlukan kejujuran bersama.
Arti dan Makna Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan meningkat.
Seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagiaan bersama menurut potensi masing-masing.
Melindungi yang lemah agar kelompok warga masyarakat dapat bekerja sesuai dengan bidangnya.
Sikap positif terhadap nilai-nilai pancasila
Nilai-nilai Pancasila telah diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu , mengamalkan Pancasila merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia.
Sikap positif dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila.
Menghormati anggota keluarga
Menghormati orang yang lebih tua
Membiasakan hidup hemat
Tidak membeda-bedakan teman
Membiasakan musyawarah untuk mufakat
Menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing
Membantu orang lain yang kesusahan sesuai dengan kemampuan sendiri.
6. PANCASIL SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA
Pengertian Ideologi
Istilah ideologi berasal dari kata idea yang berarti gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harafiah ideologi berarti ilmu tentang pengertian dasar, ide atau cita-cita. Cita-cita yang dimaksudkan adalah cita-cita yang tetap sifatnya dan harus dapat dicapai sehingga cita-cita itu sekaligus merupakan dasar, pandangan, paham. Ideologi yang semula berarti gagasan, ide, cita-cita itu berkembang menjadi suatu paham mengenai seperangkat nilai atau pemikiran yang oleh seseorang atau sekelompok orang menjadi suatu pegangan hidup.
Beberapa pengertian ideologi:
A.S. Hornby mengatakan bahwa ideologi adalah seperangkat gagasan yang membentuk landasan teori ekonomi dan politik atau yang dipegangi oleh seorang atau sekelompok orang. Soerjono Soekanto menyatakan bahwa secara umum ideologi sebagai kumpulan gagasan, ide, keyakinan, kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut bidang politik, sosial,kebudayaan,danagama. Gunawan Setiardja merumuskan ideologi sebagai seperangkat ide asasi tentang manusia dan seluruh realitasyangdijadikanpedomandancita-citahidup. Frans Magnis Suseno mengatakan bahwa ideologi sebagai suatu sistem pemikiran yang dapat dibedakanmenjadiideologytertutupdanideologyterbuka. Ideologi tertutup, merupakan suatu sistem pemikiran tertutup. Ciri-cirinya: merupakan cita-cita suatu kelompok orang untuk mengubah dan memperbarui masyarakat; atas nama ideologi dibenarkan pengorbanan-pengorbanan yang dibebankan kepada masyarakat; isinya bukan hanya nilai-nilai dan cita-cita tertentu, melainkan terdiri dari tuntutan-tuntutan konkret dan operasional yang keras, yang diajukan dengan mutlak.
Ideologi terbuka, merupakan suatu pemikiran yang terbuka. Ciri-cirinya: bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak dapat dipaksakan dari luar, melainkan digali dan diambil dari moral, budaya masyarakat itu sendiri; dasarnya bukan keyakinan ideologis sekelompok orang, melainkan hasil musyawarah dari konsensus masyarakat tersebut; nilai-nilai itu sifatnya dasar, secara garis besar saja sehingga tidak langsung operasional.
Fungsi utama ideologi dalam masyarakat menurut Ramlan Surbakti (1999) ada dua, yaitu: sebagai tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai secara bersama oleh suatu masyarakat, dan sebagai pemersatu masyarakat dan karenanya sebagai prosedur penyelesaian konflik yang terjadi dalam masyarakat.
RESUME FILSAFAT PANCASILA


Di buat oleh: Yana Yuliana
Semester : 2
Jurusan : Tarbiyah
STAI BHAKTI PERSADA BANDUNG

MATERI PUSAT SUMBER BELAJAR
Di Buat Untuk Pengganti Kehadiran Mata Kuliah:
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA BELAJAR
Oleh Dosen: Rina Nurjanah, S.Pd


Di Buat oleh: Yana Yuliana
Semester : 2
Jurusan : Tarbiyah
STAI BHAKTI PERSADA BANDUNG
ORGANISASI SUMBER BELAJAR
A.PENGERTIAN ORGANISASI SUMBER BELAJAR

Sumber belajar adalah semua sumber yang dapat dipakai oleh peserta belajar, baik secara individual maupun kelompok untuk memudahkan terjadinya proses belajar. Menurut AECT, 1977 mengartikan sumber belajar sebagai semua sumber (data, manusia, dan barang) yang dapat dipakai oleh pelajar sebagai suatu sumber tersendiri atau dalam kombinasi untuk memperlancar belajar meliputi pesan, orang, material, alat, teknik, dan lingkungan. Definisi lain, pengertian sumber belajar pada dasarnya merupakan suatu daya yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan proses belajar mengajar, baik langsung ataupun tidak, baik sebagian atau keseluruhan.
Beragamnya jenis sumber belajar, menuntut adanya pengelolaan dan pengorganisasian terhadap sumber belajar tersebut. Hal ini bertujuan agar sumber belajar mudah untuk diakses dan juga dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu dibentuklah Pusat Sumber Belajar. Timbulnya pusat sumber belajar dimungkinkan pula oleh pertumbuhan berikutnya yang berupa pengakuan akan semakin dibutuhkannya pelayanan dan kegiatan belajar non-tradisional yang membutuhkan ruangan belajar tertentu sesuai dengan kebutuhan, misalnya belajar mandiri dengan modul, simulasi dan permainan, dan sebagainya.
Organisasi sumber belajar merupakan sub unit kerja yang berada di bawah departemen pendidikan yang bertugas membantu terselenggaranya kegiatan pembelajaran dan menyediakan pelayanan media pembelajaran yang diharapkan bisa (mampu) meningkatkan efektivitas dan efesiensi proses belajar mengajar.
B.JENIS-JENIS OSB (ORGANISASI SUMBER BELAJAR)
1. Perpustakaan
Pada hakikatnya perpustakaan perguruan tinggi adalah suatu unit kerja yang merupakan bagian integral dari suatu lembaga induknya, yang bersama-sama dengan unit lainnya tetapi dalam peranan yang berbeda, bertugas membantu perguruan tinggi yang bersangkutan dalam melaksanakan tridharmanya.
2. Laboraturium
W.J.S. Poerwadarminta, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia mengatakan bahwa : Laboratorium adalah tempat untuk mengadakan percobaan (penyelidikan dan sebagainya) segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, dan sebagainya. Sedang laboran adalah orang (ahli ilmu kimia dan sebagainya) yang bekerja di laboratorium. Sedangkan, pengertian dari sekolah sebagai berikut :
Bangunan atau lembaga untuk belajar dan member pelajara. Mmisalnya (menurut tingkatnya ada) dasar, menengah, lanjutan, tinggi. Menurut pelajaran atau tujuannya adalah; dagang, guru, teknik, pertanian, dan sebagainya.
Waktu pertemuan murid-murid diberi pelajaran: Misalnya, mulai pukul setengah delapan pagi.
C)Usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan), pelajaran, dan pengajaran.
Dari pengertian diatas dapatlah disimpulkan bahwa Laboratorium sekolah merupakan suatu tempat atau lembaga tempat peserta didik belajar serta mengadakan percobaab (penyelidikan) dan sebagainya yang berhubungan dengan ilmu fisika, dan lain-lainnya.
Ditinjau dari bidang garapannya, maka laboratorium sekolah dapat dibedakan atas beberapa jenis, yaitu :
1. Laboratorium IPA
2. Laboratorium Biologi
3.Laboratorium Kimia
4. Laboratorium Perpustakaan
5. Laboratorium Bahasa dan lain-lain.
Diatas telah dijelaskan bahwa laboratorium sekolah mempunyai peranan yang sangat penting di dalam memperbaiki dan meningkatkan sistem pengajaran. Oleh karena itu, laboratorium sekolah memerlukan peralatan yang memadai yang dapat menunjang proses belajar.
Dalam proses belajar mengajar diperlukan berbagai peralatan yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini alat peraga/praktik mempunyai peranan yang sangat penting bahkan dapat menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan proses belajar mengajar.
Secara garis besar alat peraga/praktik, ada yang mudah dibuat dan ada yang sukar dibuat. Yang mudah dibuat kita namakan alat peraga sederhana karena dapat dapat menggunakan bahan murah dan mudah didapat dari lingkungan sekitar dan dapat pula dibuat sendiri oleh guru atau bersama-sama dengan peserta didik.
Penggunaan dan pembuatan alat peraga/praktik sederhana dapat merangsang kreativitas para guru atau peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya dalam membuat alat peraga.
Sedangkan alat peraga yang sukar, akan dibuatkan oleh instansi yang memerlukan dan kemudian disebarluaskan ke seluruh sekolah di Indonesia. Alat-alat peraga/praktik seperti SEQIP harus dirawat dan dipelihara sebaik-baiknya. Cara perawatan tiap-tipa alat itu berbeda-beda pula. Pada prinsipnya peralatan laboratorium sekolah dapat dikelompokkan, sebagai berikut :
1. Perabotan laboratorium sekolah, terdiri dari :
Meja praktek
Kursi praktek
Meja guru
Lemari kaca
Kursi guru
Kotak bahan-bahan praktek laboratorium
Perlengkapan lainnya
2. Alat-alat peraga pendidikan, berupa :
Instrumen
Alat-alat dari gelas
Bagan
Model
Bahan kimia
Buku-buku petunjuk, dsb
3. Perkakas laboratorium sekolah, alat-alat yang dapt dimanfaatkan secara tidak langsung, misalnya :
Gergaji kayu
Gergaji besi
Gunting
Kikir
Paku
Palu
Alat pemotong kaca
Kotak pemadam kebakaran, dsb
A.PUSAT SUMBER BELAJAR
Beragamnya jenis sumber belajar, menuntut adanya pengelolaan dan pengorganisasian terhadap sumber belajar tersebut. Hal ini bertujuan agar sumber belajar mudah untuk diakses dan juga dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu dibentuklah Pusat Sumber Belajar. Timbulnya pusat sumber belajar dimungkinkan pula oleh pertumbuhan berikutnya yang berupa pengakuan akan semakin dibutuhkannya pelayanan dan kegiatan belajar non-tradisional yang membutuhkan ruangan belajar tertentu sesuai dengan kebutuhan, misalnya belajar mandiri dengan modul, simulasi dan permainan, dan sebagainya. Menurut Sukorini (Warsito,2008:215) Pusat sumber belajar merupakan tempat di mana berbagai jenis sumber belajar dikembangkan, dikelola dan dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan pembelajaran. Merril dan Drob berpendapat bahwa Pusat sumber belajar merupakan suatu aktivitas yang terorganisasi yang berhubungan dengan kurikulum dan pembelajaran pada suatu satuan pendidikan (Warsito, 2008:215). Dengan demikian, Pusat sumber belajar merupakan sarana untuk mengelola dan mengembangkan sumberbelajar. Pusat sumber belajar sering disebut juga sebagai media center, yang diartikan sebagai lembaga yang memberikan fasilitas pendidikan, pelatihan, dan pengenalan berbagai media pembelajaran.
Pusat sumber belajar dirancang untuk memberikan kemudahan kepada peserta didik baik secara individu maupun kelompok atau guru untuk memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian, kebutuhan akan sumber belajar dalam proses pembelajaran bisa terpenuhi dengan adanya pusat sumber belajar. Pembentukan Pusat sumber belajar juga didasari oleh pentingnya sebuah lingkungan dalam mendukung proses belajar siswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu faktor pendukung siswa dalam belajar adalah kondisi lingkungan yang nyaman. Dengan adanya Pusat sumber belajar, siswa bisa diorientasikan untuk melakukan proses belajar di tempat tersebut. Dengan demikian, pusat sumber belajar yang sudah disetting sedemikian rupa agar memberikan kenyamanan pada penggunanya, dapat membantu siswa dalam proses belajar. Pengembangan sistem pembelajaran menuntut peningkatan efektifitas kegiatan belajar mengajar dengan memberikan penekanan pada aktivitas siswa dimana kegiatan belajar di kelas dan pusat sumber belajar merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terpadu. Ada beberapa contoh yang merupakan pusat sumber belajar, diantaranya yaitu perpustakaan, laboratorium, taman belajar dan yang lainnya.
Tujuan dan Fungsi Pusat Sumber Belajar Pengembangan sistem pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis dan terus menerus, yang akan membantu pengajaran dalam mengembangkan pengalaman-pengalaman belajar yang memungkinkan partisipasi aktif siswa di dalam proses belajar-mengajar. Di sinilah letak hubungan yang penting antara pusat sumber belajar dengan pengembangan sistem pembejaran. Segala sumber dan bahan serta personil yang ada di dalam pusat sumber belajar dimaksudkan untuk membantu efektifitas dan efisiensi interaksi siswa dan pengajar dalam proses pembelajaran. Secara umum, tujuan dari Pusat sumber belajar adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan proses belajar mengajar melalui pengembangan sistem pembelajaran. Hal ini dilaksanakan dengan menyediakan berbagai macam pilihan untuk menunjang kegiatan kelas tradisional dan untuk mendorong penggunaan cara-cara yang baru (non-tradisional), yang paling sesuai untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban-kewajiban institusional yang direncanakan lainnya. Selain itu, secara khusus pusat sumber belajar bertujuan untuk :
a. menyediakan berbagai macam pilihan komunikasi untuk menunjang kegiatan kelas tradisional.
b. Mendorong penggunaan cara-cara belajar baru yang paling cocok untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban institusional lainnya.
c. Memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindak lanjut untuk pengembangan sistem pembelajaran yang ada.
d. Melaksanakan latihan untuk para tenaga pengajar mengenai pengembangan sistem embelajaran dan integrasi teknologi dalam proses pembelajaran.
e. Memajukan usaha penelitian yang perlu tentang penggunaan media pendidikan.
f. Menyebarkan informasi yang akan membantu memajukan penggunaan berbagai macam sumber belajar dengan lebih efektif dan efesien
g. Menyediakan pelayanan produksi bahan ajar
h. Memberikan konsultasi untuk modifikasi dan desai fasilitas sumber belajar.
i. Membantu mengembangkan standar penggunaan sumber-sumber belajar
j. Menyediakan pelayanan pemeliharaan atas berbagai macam peralatan.
k. Membantu dalam pemilihan dan pengadaan bahan-bahan media dan peralatannya.
l. Menyediakan pelayanan evaluasi untuk membantu menentukan efektifitas berbagai cara pengajaran.
Dari uraian tujuan khusus di atas, jelaslah bahwa pusat sumber belajar mempunyai peranan yang cukup menentukan di dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran. Dengan demikian dari awal hendaklah selalu kita sadari bahwa pusat sumber belajar bukan semata-mata suatu tempat ataupun gudang penyimpanan berbagai macam peralatan dan bahan pengajaran. Misi yang pertama dari pusat sumber belajar adalah pengembangan sistem pembelajaran terpadu yang merupakan sarana utama untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan belajar dan mengajar. Segala fungsi dan kegiatan yang dilaksanakan pusat sumber belajar, termasuk pengadaan, pelayanan perpustakaan bahan pengajaran, dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan misi tersebut. Berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus di atas, pusat sumber belajar mempunyai fungsi dan kegiatan sebagai berikut:
1.Fungsi Pengembangan Sistem Intruksional.
Fungsi ini menolong jurusan atau departemen dan staf tenaga pengajar secara individual di dalam membuat rancangan (desain) dan pemilihan options (pilihan) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar dan mengajar, yang meliputi :
Perencanaan kurikulum
Identifikasi pilihan program pembelajaran
Seleksi peralatan dan bahan
Perkiraan biaya
Pelatihan bagi tenaga pengajar
Perencanaan program
Prosedur evaluasi
Revisi program
2. Fungsi Informasi.
Dalam kehidupan sehari-hari orang sering memerlukan informasi, baik untuk keperluan pribadi maupun untuk keperluan usahanya. Ada beberapa macam sumber informasi, seperti pusat komputer (puskom), bahan bacaan, radio, televisi, perorangan, lembaga, dan sebagainya. Jika informasi yang diperlukan hanya sedikit dan yang memerlukannya juga sedikit, maka bahan informasinya dapat disimpan dalam satu file. Jika yang memerlukannnya lebih banyak, maka perlu dibentuk perpustakaan lengkap dengan katalognya. Bahkan jika lebih banyak lagi, harus menggunakan data base computer.
3.Fungsi Pelayanan Media.
Fungsi ini berhubungan dengan pembuatan rencana program media dan pelayanan pendukung yang dibutuhkan oleh staf pengajar dan pelajar, yang meliputi :
Sistem penggunaan media untuk kelompok besar
Sistem penggnaan media untuk kelompok kecil
Fasilitas danprogram belajar sendiri (individual)
Pelayanan perpustakaan media/bahan pengajaran
Pelayanan pemeliharaan dan peminjaman/sirkulasi
Pelayanan pembelian bahan-bahan dan peralatan
4. Fungsi Produksi.
Fungsi ini berhubungan dengan penyediaan materi dan bahan pelajaran yang tidak dapat diperoleh melalui sumber komersial, yang meliputi :
Penyimpanan karya seni asli (original atwork) untuk tujuan pembelajaran
Produksi transparansi untuk OHP
Produksi fotografi (slide, filmstrip, foto, dan lain-lain) untuk presentasi
Pelayanan reproduksi fotografi
Pemrograman, pengeditan, dan reproduksi rekaman
Pemrogaraman, pemeliharaan, dan pengembangan system radio dan televisi di kampus.
5. Fungsi administratif.
Fungsi ini berhubungan dengan cara-cara bagaimana tujuan dan prioritas program dapat tercapai. Fungsi ini berhubungan dengan semua segi program yang dilaksanakan dan akan melibatkan semua staf dan pemakai dengan cara-cara yang sesuai. Hal ini meliputi beberapa kegiatan sebagai berikut :
Supervisi personalia untuk media.
Pengembangan koleksi media untuk program pembelajaran
Pengembangan spesifikasi pendidikan untuk fasilitas baru
Pengembagan sistem peminjaman/sirkulasi
Pemeliharaan kelangsungan pelayanan produksi bahan pembelajaran
Penyediaan pelayanan untuk pemeliharaan bahan, peralatan, dan fasilitas.
Kelima fungsi pusat sumber belajar dengan kegiatan-kegiatan di atas merupakan fungsi dan kegiatan yang ideal. Seberapa jauh kegiatan yang ideal tersebut dapat dilakasanakan oleh pusat sumber belajar, akan sangat bergantung pada tujuan program pembelajaran, fasilitas, peralatan yang dimiliki, staf dan personalia yang ada dalam pusat sumber belajar yang bersangkutan.
Namun demikian dapatlah dipastikan bahwa kelima fungsi diatas akan selalu dijumpai dalam setiap pusat sumber belajar sebagai suatu lembaga yang berusaha untuk memajukan efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran. Yang berbeda hanyalah kegiatan-kegiatan nyata yang berhubungan dengan keempat fungsi di atas, sesuai dengan adanya pembatasan-pembatasan yang terdapat pada masing-masing pusat sumber belajar.
C. BENTUK-BENTUK OSB
Pola organisasi pusat sumber belajar pada umumnya dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu (Mudhoffir, 1986:20):
1. Pola terpisah (independent and centralized)
Pola terpisah adalah pola organisasi sumber belajar yang letaknya terpisah-pisah tidak membentuk satu kesatuan dan tiap bagian bebas mengurus bagian sendiri tanpa terikat oleh peraturan bagian lainnya. Pola terpisah ini termasuk pola klasik. Tiap bagian berdiri sendiri (otonom), dengan demikian tiap bagian bebas mengurus bagiannya sendiri tanpa terikat oleh peraturan dari bagian lainnya. Misalnya bagian audio merupakan bagian yang terpisah dari bagian televisi sekalipun berhubungan sangat erat. Kelebihan lain adalah dapat melayani lebih leluasa dan lebih akrab karena klien (orang yang menggunakan pusat sumber belajar) yang datang khusus ke bagian tersebut tidak sebanyak bila semua bagian berada pada satu tempat yang sama. Kemungkinan juga ruangan khusus bagian tersebut dapat diatur sebaik mungkin sehingga ruangan lebih nyaman. Dengan terpisah-pisahnya bagian-bagian secara fisik maupun administratif maka bagian tersebut dapat ditempatkan mendekati klien yang paling sering membutuhkan. Karena setiap bagian tempatnya terpencar-pencar maka secara keseluruhan memerlukan tambahan tenaga dan pengamanan yang cukup. Selain itu jumlah anggaran yang disediakan secara keseluruhan menjadi lebih banyak.
2. Pola terpusat (centralized)
Pola terpusat adalah pola organisasi sumber belajar yang letaknya memusat atau berada ditengah dan bagian-bagiannya tidak terpisah-pisah. Secara analog pola terpusat ini adalah kebalikan dari pola terpisah. Secara fisik lokasi tidak terpisah. Hubungan kerja makin erat dan saling mendukung. Misalnya suatu produksi program televisi tidak bisa berproduksi sendiri tanpa bantuan dari bagian grafis, fotografi, film, dan audio. Dengan demikian penggunaan dana, sarana, peralatan, dan pelaksanaan administratif lebih efisien.
3. Pola hybrib
Pola ini adalah kombinasi dari pola terpisah dan pola terpusat. Karena kedua pola terdahulu mengandung kelebihan dan kekurangan, maka pola hybrid ini dapat diterapkan sebagai alternatif lain. Kekurangan dari pola terpusat ialah mungkin gedung pusat suatu bangunan yang relatif besar dan berdiri sendiri. Oleh karenanya tidak jarang memerlukan lokasi tersendiri yang kadang-kadang terpisah. Adanya jarak ini menimbulkan kesulitan, terutama dalam melayani klien yang volume permintaannya sangat padat dan membutuhkan pelayanan yang cepat. Kesulitan inilah yang hendak diatasi oleh pola hybrid ini. Pola hybrid membenarkan sistem kerja pola terpusat tetapi tidak seluruhnya.
D. ORIENTASI ORGANISASI SUMBER BELAJAR
1. Prinsip-Prinsip Pengelolaan PSB
Dalam membentuk suatu pusat imformasi sebagai salah satu kegiatan PSB beberapa pertanyaan perlu dijawab terlebih dahulu, antara lain:
Informasi apa yang diperlukan ?
Siapa yang memerlukan ?
Apakah memang sering diperlukan ?
Informasi apa yang sudah tersedia ?
Adakah informasi dalam bentuk cetakan atau dalam bentuk media lainnya?
Prinsip pengelolaannya adalah sebagai berikut : Laporan-laporan yang diterima dikirim ke unit fasilitas yang menggunakan sistem komputer (puskom) dan mengadakan persiapan untuk penerbitannya. Sebagai data dikirim ke unit reproduksi dokumen untuk dibuat microfilm, microfiche atau fotocopy untuk selanjutnya dikirim ke pusat-pusat referensi tiap fakultas dan sebagian lagi di cetak di percetakan Universitas.
2.Prinsip Pengelolaan Pelayanan
Unsur-unsur yang menyebabkan terjadinya pelayanan di PSB antara lain adalah :
a. Koleksi, dibina untuk dilayankan, bukan untuk hiasan atau pajangan, bagaimana pengembangan serta pengaturannya.
b. Fasilitas, bagaimana ragam layanan, sistem, aturan layanan, lokasi penempatan gedung dan lainnya.
c. Pelayan/petugas, sebagai jembatan penghubung dapat berupa seorang ahli, teknisi, ataupun asisten teknisi.
d. Pemakai, perorangan yang memanfaatkan layanan, dapat seorang ahli, pelajar, mahasiswa atau umum.
Ketiadaan salah satu komponen di atas, atau masing-masing berdiri sendiri dtanpa kerja sama yang baik, maka pelayanan tidak dapat tercipta sebgaimana mestinya. Untuk itu diperlukan pelayanan dengan karakteristik berikut :
1) Mudah dimengerti, menggunakan car yang mudah dimengerti oleh pengunjung/pemakai maupun oleh petugas itu sendiri.
2) Efisiensi dan ekonomis, menggunakan bahan pelengkap dengan variasi sedikit mungkin.
B. PRINSIF PENGELOLAAN PENGEMBANGAN
Fungsi PSB sebagai pengembangan bahan instruksional secara umum adalah menolong jurusan, staff pengajar secara individual di dalam membuat rancangan dan pemilihan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar, hal ini meliputi:
a) perencanaan kurikulum
b) identifikasi pilihan program instruksional
c) seleksi peralatan dan bahan
d)perkiraan biaya
e) penataran tentang pengembangan sistem instruksional bagi staf pengajar
f) perencanaan program
g) prosedur evaluasi
h) revisi program
Pengembang instruksional yang bekerja di PSB hendaknya memiliki kompetensi dalam bidang pengelolaan dan telah memperoleh pendidikan dan latihan khusus, memiliki pengalaman yang cukup, pengetahuan yang luas, penampilan yang meyakinkan dan menguasai bidang evaluasi. Apabila dirinci, secara garis besar kompetensi yang harus dimiliki oleh pengembang instruksional antara lain adalah : memilih proyek pengembangan instruksional, menggali analisis kebutuhan, merncanakan, menspesifikasi strategi instruksional, sampai memiliki kemampuan untuk menyebarluaskan pengembangan instruksional.
4. Prinsip Pengelolaan Produksi
Fungsi produksi berkaitan dengan penyediaan materi instruksional yang tidak dapat diperoleh melalui sumber komersial. Hal ini meliputi : 1) penyiapan karya seni asli untuk tujuan instruksional, 2) produksi transparansi, produksi fotografi, 3) pelayanan reproduksi fotografi,
E. ISI ORGANISASI SUMBER BELAJAR
Dalam suatu organisasi PSB (Pusat sumber Belajar) setidaknya berisikan pelayanan-pelayanan sebagai berikut :
1. BilikMedia
Fungsi:
a. Menambah koleksi rekaman video, audio, bahan berbentuk ilmiah, bahan bantu mengajar yang baru untuk membantu proses pengajaran dan pembelajaran.
b. Mengkatalogkan bahan audiovisual dan bahan bantu mengajar untuk memudahkan dan mempercepat pencarian dan mendapatkannya.
c. Menggalakan guru membuat variasi pengajaran dan pembelajaran terutama pengajaran yang menggunakan media elektronik.
2. Perpustakaan
Fungsi
a. Sebagai tempat mencari bahan referensi.
b. Sebagai pusat membaca guna menambah pengetahuan dan kecakapan.
c. Sebagai tempat mendorong, membiasakan siswa belajar secara mandiri.
d. Sarana edukatif, informatif, riset, rekreatif.
3. Pusat Sumber Multimedia
Fungsi
a. Pelajar akan mendapat pendidikan awal terhadap teknologi pembelajaran.
b. Memudahkan pelajar memanfaatkan pembelajaran terkini.
c. Menggalakan para pelajar terbiasa dengan komputer.
d. Menarik minat pelajar dalam menggunakan dan mengoperasikan internet.
e. Menyediakan bahan bacaan yg sesuai dibaca oleh para pelajar mengenai internet dan bahan multimedia yang lain.
f. Menyediakan bahan bercetak terkini tentang dunia pendidikan.
Dalam menjalankan tanggung jawabnya PSB menjalankan lima macam program berdasarkan fungsinya yaitu
Fungsi ini berhubungan dengan desain dan produksi media untuk keperluan pembelajaran.
2. Fungsi Layanan media dan sumber belajar
Fungsi ini berhubungan dengan pemberian layanan kebutuhan media pembelajaran serta penggunaannya.
3. Fungsi layanan latihan
Fungsi ini berhubungan dengan latihan mahasiswa dan pihak lain yang diperlukan dalam rangka memperoleh keterampilan mendesain, mengembangkan dan menggunakan media dan sumber belajar.
4. Fungsi Penelitian dan pengembangan cara-cara baru dalam pembelajaran.
Fungsi ini berhubungan dengan pengembangan cara-cara baru dalam pembelajaran dan penyebarluasan inovasi dalam strategi belajar.
5. Fungsi Administrasi
Fungsi ini berhubungan dengan kegiatan penyusunan dan pengkatalogian, penyimpanan dan pemeliharaan media Sumber belajar.
F. MEDIA PEMBELAJARAN SEBAGAI BAGIAN SUMBER BELAJAR
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti 'tengah', 'perantara'. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach & Ely mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. AECT 1997 memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Disamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator menurut Fleming adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar—siswa dan isi pelajaran. Disamping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pembelajaran yang nelakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai kepada peralatan paling canggih, dapat disebut media. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media pembelajaran (Azhar Arsyad, 2011).
Istilah 'media' juga sering dikaitkan atau dipergantikan dengan kata 'teknologi'. Teknologi tidak lebih dari suatu ilmu yang membahas tentang keterampilan yang diperoleh lewat pengalaman, studi, dan observasi. Bila dihubungkan dengan pendidikan dan pembelajaran, maka teknologi bukan sekedar benda, alat, bahan atau perkakas, tetapi tersimpul pula sikap, perbuatan, organisasi san manajemen yang berhubungan dengan penerapan ilmu. Berikut dikemukakan ciri-ciri umum media pendidikan, yaitu (Azhar Arsyad, 2011):
1. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan pancaindra.
2. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa.
3. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
4. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
5. Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
6. Media pendidikan dapat digunakan secara massak (misalnya: radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya: film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalnya: modul, computer, radio tape/kaset, video recorder).
7. Sikap, perbuatan, organisasi strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.
Media pembelajaran dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar dan kualitas hasil belajar yang dicapai peserta didik. Pendidik juga akan lebih mudah mengatur dan memberi petunjuk kepada peserta didik apa yang harus dilakukannya dari media yang digunakan. Media pembelajaran juga erat kaitannya dengan taraf berfikir seseorang, sebab melalui media pembelajaran hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan dan hal-hal kompleks dapat disederhanakan. Manfaat media pembelajaran dalam proses belajar mengajar antara lain (Nana Sudjana, dkk. 2002):
a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar,
b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik,
c. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalai penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran,
d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.
Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pembelajaran karena akan lebih baik proses dan hasil belajarnya yang menggunakan media daripada yang tidak menggunakan media. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pengajaran untuk mempertinggi kualitas pengajaran, pertama, guru perlu memiliki pemahaman media pengajaran antara lain jenis dan manfaat pengajaran, criteria memilih dan menggunakan media pengajaran, menggunakan media sebagai alat bantu mengajar dan tindak lanjut penggunaan media dalam proses belajar siswa. Kedua, guru terampil membuat media pembelajaran sederhana untuk keperluan pengajaran. Ketiga, pengetahuan dan keterampilan dalam menilai keefektifan penggunaan media dalam proses pengajaran.
Menurut Nana Sudjana, dkk (2002), ada beberapa jenis media pengajaran yang biasa digunakan, antara lain: pertama, Media grafis didefinisikan sebagai media yang mengkombinasikan fakta dan gagasan secara jelas dan kuat melalui suatu kombinasi pengungkapan kata-kata, dan gambar-gambar. Media grafis sering disebut juga media dua dimensi, yaitu media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Media grafis terdiri atas bagan, diagram, grafik, poster, kartun, komik, dan lai-lain. Kedua, media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat, model penampang, model susun, model kerja, mock up, diorama, dan lain-lain. Ketiga, media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP, dan lain-lain. Keempat, media audio yang merupakan media pembelajaran yang bersifat auditif seperti siaran radio, radui tape/kaset, music, rekaman suara, dan lain-lain. Dan kelima, penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran dan sumber belajar.
Ringkasnya, media adalah alat yang menyampaikan atau menghantarkan pesan dari pengirim ke penerima. Dengan kata lain, media merupakan salah satu komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi pembelajaran di lingkungan peserta didik yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar dan sebagai alat bantu mengajar pendidik. Dalam memilih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan juga ketepatannya dengan tujuan pembelajaran, dukungan terhadap isi bahan pembelajaran, kemudahan memperoleh media, keterampilan pendidik dalam menggunakannya, ketersediaan waktu untuk menggunakannya, dan kesesuaian terhadap taraf berpikir peserta didik.

JAWABAN ILMU KALAM
A. Titik Persamaan
Ilmu kalam, filsafat1, dan tasawuf mempunyai kemiripanobjek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan disamping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada.2 Sementara itu objek kajian tasawuf adalahtuhan,yakni upaya-upayapendekatan terhadap-Nya. Jadi, dilihat dari aspek objeknya, ketiga ilmu itu membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.3
Argumentasi filsafat –sebagaiman ilmu kalam- dibangun di atas dasar logika. Oleh karena itu, hasil kajiannya bersifat spekulatif (dugaan yang tak dapat di buktikan secara empiris, riset dan eksperimental).4 Kerelatifan hasil karya logika itu menyebabkan beragamnya kebenran yang dihasilkannya.
Baik ilmu kalam, filsafat, maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam, dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan watakya sendiri pula, berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia (yang belum atau tidak dapat dijangkau oleh ilmu pengetahuan karena berada di luar atau di atas jangkauannya), atau tentang tuhan. Sementara itu, tasawuf –juga dengan metodenya yang tipikal- berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.
1)       William L. Resee mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata yunani philos dan sophia. Philos artinya mencintai (terhadap); dan sophia artinya wisdom (kebijaksanaan). Filsafat juga di artikan dengan sahabat pengetahuan. Selanjutnya ia mengatakan bahwa filsafat pada mulanya digunakan oleh phytagoras yang mengartikan bahwa manusia dapat dikategorikan dalam tiga tipe, 1)manusia yang mencintai kesenangan (those who loved pleasure) 2)manusia yang mencintai pekerjaan (those who loved activity) 3)manusia yang mrncintai kebijaksanaan (those who loved wisdom) Menurutnya wisdom disini adalah the concerned progresstoward salvation in religious terms (suatu upaya serius dalam mewujudkan perdamaian sebagaimana dikatakan dalam istilah-istilah agama). Adapun Socrates menyatakan bahwa peranan filsafat adalah berpegang teguh terhadap ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep (the gaining of conceptual clarity., Lihat William L. Resee, Dictionary of philosophy and religion. Humanities Press, USA, 1980 hlm , 431.
2)       Plato menyatakan bahwa objek filsafat adalah menemukan kenyataan (the discovery of reality) atau kebenaran mutlak (absolute truth). Kedua hal itu bisa dikenal dengan istilah dialektika (dialectic). Aristoteles menyatakan bahwa pada mulanya filsafat merupakan kebijaksanaan, kemudian menjadi upaya menyelidiki sebab atau latar belakang dan prinsip-prinsip dari segala sesuatu (concerned with the investigation of couses and principles of things). Prinsip atau unsur pokok disini adalah upaya mengidentifikasi seluruh ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kemanusiaan (to be indentical with the totality of human knowledge). Aristoteles selanjutnya mengatakan bahwa filsafat yang pertama (first philosophi) dinamakan sebagai theology yang kajia utamanya berkenaan dengan sebab terakhir yang dikenal istilah tuhan (cocerned with ultimate principles and couses, which includs the idea of god).
3)       Lihat Mustofa Abdul Raziq, Tauhid Litarikh Al-Falsafah Al-Islamiyyah, lajnah At-Ta'lif wa At-Tarjamah wa An-Nasr. Kairo. 1959 hlm, 266: Resee, op, cit, hlm, 431 ; Abdul Qodir Mahmud, Al-Falsafah Ash-Shufiyah fi Al-Islam: Massadiruha wa Nadhariatuha wa Makanuha min Ad-Din wa Al-Ilayah, Dar Al-Fikr Multajam Ath-Thab wa An-Nasyr. Beirut, 1966, hlm, 45; Abu Al-Wafa Al-Ghanimi At-Taftazani, Sufi dari zaman ke zaman, terj. Ahmad Rafi Utsmani, Pustka Salman, Bandung, 1985, hlm, 91-92.
4)       Endang Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1990, hlm. 147.
B.Titik Perbedaan
Perbedaan di antara ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang mengutamakan logika –disamping argumentasi-argumentasi naqliah- berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak nilai-nilai apologinya. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadaliah) dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan. Sebagai sebuah dialog keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melaui argumen-argumen rasional. Sebagian ilmuan bahkan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.5
Sementara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode yang digunakannya pun adalah metode rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan (mengembarakan atau mengelanakan) akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mengalam); tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bernama logika.6 Peranan filsafat sebagaimana dikatakan Socrates adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep (the gaining of conceptual clarity).
Berkenaan dengan keragaman kebenaran yang dihasilkan oleh kerja logika maka di dalam filsafat dikenal apa yang disebut kebenaran korespondensi. Dalam pandangan korespondensi, kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan fakta dan data itu sendiri. Dengan bahasa yang sederhana, kebenaran adalah persesuaian antara apa yang ada di dalam rasio dengan kenyataan sebenarnya di alam nyata.7
Di samping kebenaran korespondensi, di dalam filsafat juga dikenal juga kebenaran koherensi. Dalam pandangan koherensi, kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan suatu pertimbangan yang telah diakui kebenarannya secara umum dan permanen. Jadi, kebenaran dianggap tidak benar kalau tidak sesuai dengan kebenaran yang dianggap benar oleh ulama umum.8
Di samping dua macam kebenaran di atas, di dalam filsafat dikenal juga kebenaran pragmatik.9 Dalam pandangan pragmatisme, kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat (utility) dan mungkin dapat dikerjakan (workability) dengan dampak yang memuaskan. Jadi, sesuatu akan dianggap tidak benar kalau tidak tampak manfaatnya secara nyata dan sulit untuk dikerjakan.
Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekan rasa daripada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf bersifat sangat subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseoran. Itulah sebabnya, bahasa tasawuf sering tampak aneh bila dilihat dari aspek rasio. Hal ini karena pengalaman rasa sangat sulit dibahaskan. Pengalaman rasa lebih mudah dirasakan langsung oleh
5)       Lihat Philip Bob CockGove (ed). Webster's third New Internasional Dictionary of The English Language Uni Bridged. G & C Mervian Company Publishers, USA. 1966, hlm. 2371.
6)       Anshari, op.cit., hlm. 173.
7)       Lihat Titus, et. At., Persoalan-persoalan Filsafat, terj., HM. Rosyidin, Bulan Bintang, Jakarta, 1984, hlm. 237
8)       Ibid., hlm. 238
9)       Ibid., hlm. 241.
orang yang ingin memperoleh kebenarannya dan mudah digambarkan dengan bahasa lambang, sehingga sangat interpretable (dapat di interpretasikan bermacam-macam). Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi,atau ilham ,atau inspirasi yang datang dari tuhan. Kebenaran yang dihasilkan ilmu tasawuf dikenal dengan istilah hudhuri,10 yaitu suatu kebenaran yang objeknya datang dari dalam diri subjek sendiri. Itulah sebnya dalam sains dikenal istilah objeknya swa-objek, atau objeknya tidak objektif. Ilmu seperti ini dalam sains dikenal dengan ilmu yang diketahui bersama atau tacit knowledge, dan bukan ilmu proporsional.
Di dalam pertumbuhannya, ilmu kalam (telogi) berkembang menjadi teologi rasional 11 dan teologi tradisional.12 Filsafat berkembang menjadi sains dan filsafat sendiri. Sains berkembang menjadi sains kealaman,sosial dan humaniora; sedangkan filsafat berkembang lagi menjadi filsafat klasik, pertengahan, dan filsafat modern. Tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tasawuf praktis13 dan tasawuf teoritis14.
Dilihat dari aspek aksiologi (manfaatnya), teologi –di antaranya- berperan sebagai ilmu yang mengajak orang yang baru untuk mengenal rasio sebagai upaya mengenal tuhan secara rasional. Adapun filsafat, lebih berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistemnya langsung. Dengan cara ini, orang yang mempunyai rasio sangat prima diharapkan dapatmenggenal tuhan secara meyakinkan melalui rasionya. Adapun tasawuf lebih berperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh apa yang ingin dicarinya.
Sebagian orang memandang bahawa ktiga ilmu itu memiliki jenjang tertentu. Jenjang pertama adalah ilmu kalam, kemudian filsafat dan yang terakhir adalah ilmu taswuf. Oleh sebab itu, merupakan suatu kekeliruan apabila dialektika kefilsafatan atau taswuf teoritis diperkenalkan kepada masyarakat awam karena akan berdampak pada terjadinya rational jumping (lompatan pemikiran).
10)    Lihat Mahdi Ha'iri Yazdi, ilmu hudhuri, terj. Ahsin Muhammad, Mizan., Bandung, 1994, hlm. 54-56.
11)    Teologi rasional memiliki prinsip-prinsip berikut ini:
         Hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan jelas dan tegas disebut dalam Al-Qur'an dan Hadis Nabi, yakni ayat yang qoth'I (ayat yang tidak diinterpretasi lagi kepada arti lain, selain arti harfinya)
         Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan kehendak serta memberikan daya yang kuat pada akal
12)    Teori tradisoinal memiliki prinsip-prinsip berikut ini:
         Terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti zhanni teks yang boleh mengandung arti lain selain dari arti harfiahnya.
         Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehandak dan berbuat.
         Memberika daya yang kecil kepada akal.
13)    Disebut juga dengan tasawuf sunni atau akhlaki, yaitu bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqomat (tingkatan rohaniah) mereka kepada dua sumber tersebut. Lihat Amin Syukur, Rasionalisme dalam Tasawuf, IAIN Wali Songo, Semarang, 1994, hlm. 22.
14)    Disebut jugadengan tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat kompromi, dalam pemakaian term-term filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf. Oleh karena itu, tasawuf yang berbau filsafat ini tidak sepenuhnya dapat dikatakan taswuf, dan juga tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai filsafat. Lihat Ibid.
C. Titik Singgung antara Ilmu Kalam dan Ilmu Taswuf
Ilmu kalam, sebagaimana telah di sebutkan terdahulu, merupakan disiplin ilmu keislaman yang mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah pada perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliah) maupun (naqliyah). Argumentasi rasional yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil Qur'an dan Hadits. Ilmu kalam sering menempatakan dirinya pada kedua pendekatan ini (aqli dan naqli), suataumetode argumentasi yang dialektik. Jika pembicaraan ilmu kalam ini hanya berkisar pada keyakinan-keyakinan yang harus dipegang oleh umat islam, tanpa argumentasi rasional, ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan istilah ilmu tauhid atau ilmu aqo'id.
Pembicaraan materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq (rasa rohaniah). Sebagai contoh, ilmu tauhid menerangkan bahwa Allah bersifat Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), Kalam (Bebicara), Iradah (Berkemauan), Qudrah (Kuasa), Hayat (Hidup), dan sebgainya. Namun, ilmu kalam atau ilmu tauhid tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah mendengar dan melihatnya; bagaimana pula perasaan hati seseorang ketika membaca Al-Qur'an; dan bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari Qudrah (kekuasaan) Allah ?
Pertanyaan ini sulit terjawab apabila hanya melandaskan diri pada ilmu tauhid atau ilmu kalam. Biasanya, yang membicarakan tentang penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu tasawuf. Disiplin inilah yang membahas bagaimana merasakan nilai-nilai akidah dengan memperhatikan bahwa persoalan tadzawwaqu (bagaimana merasakan) tidak saja termasuk dalam lingkup hal yang sunah atau dianjurkan, tetapi justru termasuk hal yang diwajibkan.
As-sunnah memberikan perhatian yang begitu besar terhadap masalah tadzawwaqu. Ini tampak pada Hdis Rosul yang dikutip dari Said Hawwa: "Yang meraskan iman adalah orang yang ridho kepada Allah sebagai Tuhan, ridho kepada islam sebagai agama, dan ridho kepada Muhammad sebagai Rasul 15 Dalam Hadis lain, Rasulullah pun pernah mengungkapkan, "Ada tiga perkara yang mengakibatkan seseorang dapat meraskan lezatnya iman: Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain; Orang yang mencintai hamba karena Allah; dan orang yang takut kembali pada kekufuran, seperti ketakutannya untuk dimasukkan ke dalam api neraka, "
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Adapun pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentaraman, serta upaya menyelamatkan diri dari kemunafikan. Tidaklah cukup bagi seseorang yang hanya mengetahui
STUDI KRITIS TERHADAP ILMU KALAM
 STUDI KRITIS TERRHADAP ILMU KALAM
Secara garis besar, titik kelemahan ilmu kalam yang menjadi sorotan para pengritiknya berputar pada aspek berikut ini.
A. Aspek Epistimologi
Ilmu KalamYang dimaksud epistimologi adalah cara yang di gunakan oleh para pemuka aliran kalam dalam
menyelesaikan persoalan kalam, terutama ketika menafsirkan Al Qur'an.
 Diantara kritik dalam aspek epistimologi ilmu kalam, adalah:
1. Aduan Amal dan Samsu Rizal Panggabean Mereka melihat bahwa penafsiran kalangan Asy'ariyah pada kenyataannya merupakan tanggapan terhadap kebutuhan sejarah, yakni untuk membela sudut pandang golongan Ahlussunnah
.2. Muhammad Husein Adz DzahabiIa melihat bahwa ada kecenderunagn para pemuka aliran kalam untuk mencocok-cocokkan Al-Qur'an dengan pandangan madzhabnya.
 3. Amin Abdullah Ia melihat bahwa dimensi pemikiran teologi atau kalam sebenarnya lebih subtil, tidak clear-cut, lebih kaya nuansa, daripada semata-mata hanya di warnai konspirasi politik.
4. M. Iqbal Berkaitan dengan kritik yang ditujukan kepada epistimologi ilmu kalam, M. Iqbal melihat adanya anomali (penyimpangan) lain yang melekat dalam literature ilmu kalam klasik
.B. Aspek Ontologi
Ilmu Kalam Dalam kata khalifah terkandung makna pergantian generasi sebelumnya, kepemimpinan dan pergantian arah untuk menegakkan hukum-hukum-Nya di bumi.
 – Tugas manusia sebagai khalifah untuk menggantikan generasi sebelumnya yaitu manusia yang di tuntut untuk mengubah dan mengoreksi tradisi dan kebiasaan generasi sebelumnya dan mengganti dengan ajaran Allah. Dalam kepemimpinan, terkandung pula tugas mengurus dan mengelola potensi bumi dan seisinya untuk dijadikan sarana taqwa kepada Allah SWT. Konsep kemimpinan yang diambil dari kata khalifah tidak mesti diartikan bahwa seluruh manusia harus menjadi pemimpin politik. Pada dasarnya semua manusia itulah pemimpin.
 – Maka khalifah sebagai pengganti Allah dan melaksanakn aturan-autran Nya diambil secara implisit dari konsekuensi logis tugas manusia sebagai pemimpin. Artinya, manusia telah diberi mandat oleh Allah untuk memimpin bumi dan langit serta isinya. Tentunya dalam melaksanakan mandatnya itu harus sesusai dengan syariat.
A. Aplikasi Khalifah dalam Bidang Politik 
Dalam hal ini, ada beberapa etika yang harus dijalankan oleh setiap pemimpin politik,diantaranya :
1. Pengenalan diri dan kesiapan menjadi pemimpin
2. Beragama dan bertaqwa kepada Tuhan
3. Berlaku adil
4. Berlaku jujur
5. Amanah
6. Menepati janji
7. Berilmu pengetahuan
8. Memiliki keberanian
9. Dermawan
10. Kasih saying
11. Memiliki kesabaran
12. Menegndallikan diri dan memiliki masa lalu
13. Memiliki kekuatan
14. Memiliki kemampuan manajeria
B. Aplikasi Khilafah Dalam Bidang Hukum
       Aplikasi khilafah dalam bidang hukum berarti pula menegakkan hukum dengan adil, termasuk didalamnya adalah memberi keputusan yang adil. Berikut adalah interpretasi yang dikemukakan Nur Kholis Madjid dalam kaitannya dengan interpretasi surat Al Baqarah ayat 30 :
a. Kisah ini menunjukkan martabat manusia yang sangat tinggi yaitu sebagai khalifah atau wakil Tuhan di bumi
b. Martabat itu bersangkutan dengan konsep bahwa alam dengan segala isinya diciptakan untuk manusia serta menjadi bidang garapan dan tempat pelaksanaa tugasnya.
c. Martabat itu juga berkaitan dengan nilai kemanusiaan universal.
d. Untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah Alah di muka bumi, manusia dilengkapi dengan ilmu pengetahuan.
e. Kelengkapan martabat manusia adalah kebebasan yang mengenal batas.
f. Pelanggaran terhadap batas membuat manusia jatuh, tidak terhormat.
g. Dorongan untuk melanggar batas adalah nafsu serakah yaitu perasaan yang tidak pernah puas dengan anugerah Tuhan.
h. Karena kelengkapan ilmu saja tidak menjamin manusia terhindar dari kejatuhan. Manusia memerlukan petunjuk Allah.
STUDI KRITIS TERRHADAP ILMU KALAM
Secara garis besar, titik kelemahan ilmu kalam yang menjadi sorotan para pengritiknya berputar pada aspek berikut ini.
A. Aspek Estimologi Ilmu Kalam
Yang dimaksud epistimologi adalah cara yang digunakan oleh para pemuka aliran kalam dalam menyelesaikan persoalan kalam, terutama ketika menafsirkan Al Qur'an. Di antara kritik dalam aspek epistimologi ilmu kalam, adalah:
1. Aduan amal dan Samsu Rizal Panggabean
Mereka melihat bahwa penafsiran kalangan Asy'ariyah pada kenyataannya merupakan tanggapan terhadap kebutuhan sejarah, yakni untuk membela sudut pandang golonganAhlussunnah.
2. Muhammad Husein Adz DzahabiIa melihat bahwa ada kecenderunagn para pemuka aliran kalam untuk mencocok-cocokkan Al-Qur'an dengan pandangan madzhabnya.
 3. Amin Abdullah Ia melihat bahwa dimensi pemikiran teologi atau kalam sebenarnya lebih subtil, tidak clear-cut, lebih kaya nuansa, daripada semata-mata hanya diwarnai konspirasi politik.
4. M. Iqbal Berkaitan dengan krtik yang ditujukan kepada epistimologi ilmu kalam, M. Iqbal melihat adanya anomali (penyimpangan) lain yang melekat dalam literature ilmu kalam klasik.
B. Aspek Ontologi Ilmu Kalam
Tantangan kalam / teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan dan sebagainya. Teologi Islam dan kalam yang hidup untuk era sekarang ini berdialog dengan realitas dan perkembangan pemikiran yang berjalan saat ini. Jika ilmu kalam klasik berdialog dengan pemikiran dan bergaul dengan format pemikiran serta epistimologi Yunani (hellenisme), teologi Islam atau modern harus bersentuhan denganpemikiran dan falsafah Barat modern lantaran falsafah Barat kontemporer itulah yang dibentuk dan diilhami oleh arus perbuatan yang diakibatkan oleh perkembangan iptek.
C. Aspek Askiologi Ilmu Kalam
Kritikan yang dialamatkan pada aspek aksiollogi ilmu kalam menyangkut pada kegunaan ilmuitu sendiri dalam menyingkap hakikat kebenaran.
1. M. AbduhBeranggapan bahwa objek penelaahan dan penelitian akal pikiran manusia pada dasarnya adalahsifat-sifat dasar dari segala macam fenomena yang ditemui dalam kehidupannya.
2. Ahmad HanafiIa melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar padaparadigma logica metafisika (dialektika kata-kata) ke arah teologi yang mendasarkan pada
 paradigma "empiris" (dialektika sospol).
 PEMIKIRAN KALAM ULAMA MODERN (ABDUH, AHMAD KHAN, DAN IQBAL)
A. Syekh M. AbduhPemikiran-pemikiran kalam M.Abduh
1. Kedudukan akal dan fungsi wahyu Ada dua pendapat persoalan pokok yang menjadi fokus utama pemikiran Abduh, yaitu :
- Membebaskan akal pikiran dari belenggu-belenggu taqlid yang menghambat perkembangan pengetahuan agama yakni dengan memahami langsung dari sumber pokoknya, Al-Qur'an.
 - Memperbaiki daya bahasa Arab, baik yang digunakan dalam percakapan resmi di kantor-kantor pemerintah maupun dalam tulisan-tulisan di media masa.
2. Kebebasan manusia dan fatalisme Bagi Abduh, disamping mempunyai daya pikir, manusia juga mempumyai kebebasan memilih,yang merupakan sifat dasar alami yang ada dalam diri manusia, namun tidak mempunyai kebebasan absolut.
3. Sifat-sifat Tuhan Harun Nasution melihat bahwa Abduh cenderung kepada pendapat bahwa sifat termasuk esensi Tuhan walaupun tidak secara tegas mengatakannya
.4. Kehendak mutlak Tuhan Tuhan tidak bersifat mutlak.
5. Keadilan Tuhan Sifat ketidak adilan Tuhan tidak dapat diberikan kepada Tuhan karena ketidakadilan tidak sejalan denagn kesempurnaa alam semesta.
6. Antrofomorfisme Tidak mungkin esensi dan sifat-sifat Tuhan mengambil bentuk tubuh atau ruh makhluk di alamini.
7. Melihat Tuhan Kesanggupan melihat Tuhan hanya dianugerahkan kepada orang-orang tertentu di akhirat.
8. Perbuatan TuhanWajib bagi Tuhan untuk berbuat yang terbaik bagi manusia.
B. Sayyid Ahmad KhanPemikiran-pemikiran kalam Sayyid Ahmad Khan
1. Kedudukan AkalAkal bukanlah segalanya dan kekuatan akalpun terbatas
.2. Kebebasan ManusiaManusia bebas untuk menentukan kehendak dan melakukan perbuatan.
3. Sayyid Ahmad Khan menolak adanya taklid percaya adanya hukum alam.
C. Muhammad Iqbal S
Pemikiran-pemikiran kalam M. Iqbal
1. Hakekat TeologiSecara umum ia melihat teologi sebagai ilmu yang berdimensi keimanan, mendasarkan padaesensi tauhid (universal dan inklusivistik). Di dalamnya terdapat jiwa yang bergerak berupa "persamaan, kesetiakawanan, dan kebebasmerdekaan".
 2. Pembuktian Tuhan Dalam membuktikan eksistensi Tuhan, Iqbal menolak argumen kosmologis maupun ontologis. Ia juga menolak argumen teologis yang berusaha membuktikan eksistensi Tuhan yang mengatur ciptaan Nya dari sebelah luar. Walaupun demikian ia menerima landasan teologis yang imanen(tetap ada).
3. Jati Diri ManusiaManusia hidup untuk mengetahui kepribadiannya serta menguatkan dan mengembangkan bakat-bakatnya, bukan sebaliknya, yakni melemahkan pribadinya, seperti yang dilakukan oleh para sufiyang menundukkan jiwa sehingga fana dengan Allah
.4. Surga dan neraka.Surga dan neraka adalah keadaan, bukan tempat. Gambaran-gambaran tentang keduanya di dalam Al Qur'an adalah penampilan-penampilan kenyataan batin secara visual, yaitu sifatnya.
ILMU KALAM MASA KINI ISMAIL FARUQI HASAN HANAFI, RASYIDI, DAN HARUN NASUTIONA. ISMAIL AL-FARUQI
1. Pemikiran Kalam Al-Faruqi
Al-Faruqi menjelaskan hakikat tauqit sebagai berikut:
1. Tauhid sebagai pengalaman agama
2. Tauhid sebagai pandangan dunia
3. Tauhid sebagai inti sari Islam
4. Tauhid sebagai prinsip sejarah
5. Tauhid sebagai prinsip pengetahuan
6. Tauhid sebagai prinsip metafisika
7. Tauhid sebagai prinsip etika
8. Tauhid sebagai prinsip tata sosial
B. HASAN HANAFI
Pemikiran kalam Hasan Hanafi
1. Kritik terhadap teologi tradisional
 a. Teologi tradisional tidak dapat menjadi sebuah pandangan yang benar – benar hidup, dan memberi motivasi tindakan dalam kehidupan konkret umat manusia.
b. Kegagalan para teolog tradisional disebabkan oleh sikap para penyusun teologi yang tidak mengaitkannya dengan kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia.
2. Rekontruksi teologi Tujuan rekontruksi teolgi Hanafi adalah menjadikan teologi menjelma sebagai ilmu tentang pejuang sosial yang menjadikan keimanan-keimanan tradisional memiliki fungsi secara actual sebagai landasan etik dan motivasi manusia.
C. H. M. RASYIDI
1. Pemikiran kalam H. M. Rasyidi.a. Tentang perbedaan ilmu kalam dan teologi Ilmu kalam adalah teologi Islam dan teologi adalahilmu kalam Kristen Kata teologi kemudian mengandung beberapa aspek agama Kristen, yangb. di luar kepercayaan (yang benar), sehingga teologi dalam Kristen tidak sama dengan tauhidatau ilmu kalam.
2. Tema-tema ilmu kalama. Deskripsi aliran-aliran kalam yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi umat Islamsekarang, khususnya di Indonesia.
 b. Menonjolkan perbedaan pendapat antara Asy'ariyah dan Mu'tazilah akan melemahkan iman
para mahasiswa.
3. Hakikat Iman
Iman bukan sekedar menuju bersatunya manusia dengan Tuhan, tetapi dapat dilihat dalam dimensi kontekstual atau hubungan manusia dengan manusia, yaitu hidup dalam masyarakat.
D. HARUN NASUTION
Pemikiran kalam Harun Nasution1. Peranan kalam Akal melambangkan kekuatan manusia, karena akal manusia mempunyai kesanggupan untuk menaklukkan kekuatan makhluk lain sekitarnya. Bertambah tinggi akal manusia, bertambah tinggi pulalah kesanggupannya untuk mengalahkan makhluk lainnya.
2. Hubungan akal dan wahyu
1. Akal mempunyai kedudukan yang tinggi da
lam Al Qur'an. Orang yang beriman tidak perlu
menerima bahwa wahyu sudah mengandung segala-galanya.
2. Akal hanya memberi interpretasi terhadap teks wahyu sesuai dengan kecenderungan dan kesanggupan pemberi interpretasi


Download RESUME PANCASILA YANA.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca RESUME PANCASILA YANA. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon