Januari 17, 2017

Klasifikasi virus DNA

Judul: Klasifikasi virus DNA
Penulis: Putri Amalia


552713-282965RESUME VIROLOGI

KLASIFIKASI VIRUS DNA

84850144351
KELOMPOK 11
PUJI RAHMANIA (12340031)
PUTRI AMALIA (12340032)
RENI KURNIA PUTRI (12340034)

POLTEKKES KEMENKES TANJUNGKARANG
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
T.A 2014/2015

KLASIFIKASI VIRUS DNA
Surfei Virus yang Mengandung DNA
485775261620Parvovirus
Virus yang sangat kecil dengan ukuran partikel sekitar 20 nm. Virus ini mengandung DNA untai-tunggal dan mempunyai simetri kubik, dengan 32 kapsomer. Parvovirus tidak mempunyai selubung. Replikasi hanya terjadi pada sel yang aktif membelah; perakitan kapsid terjadi didalam inti sel yang terinfeksi. Banyak parvovirus bereplikasi secara otonom, tetapi virus satelit yang berikatan dengan adenovirus bersifat cacat, yaitu membutuhkan adanya adenovirus atau herpesvirus sebagai "pembantu". Beberapa infeksi parvovirus terjadi pada manusia.
476250259080Papovavirus
Virus berukuran kecil (45-55 nm), tahan panas. Virus bersifat resisten terhadap eter, mengandung DNA lingkar untai-ganda dan mempunyai simetri kubik dengan 72 kapsomer. Papovavirus manusia yang dikenal adalah virus papiloma (kutil) dan viru yang diisolasi dari jaringan otak penderita leukoensefalopati multifokal progresif (Virus JC) atau dari urin penerima cangkok ginjal yang berfungsi imunnya tertekan (Virus BK). Pada hewan, terdapat papiloma, polioma, dan virus yang bervakuola. Virus-virus ini mempunyai siklus pertumbuhan yang lambat, merangsang sintesis DNA sel, dan bereplikasi di dalam inti. Papovavirus menimbulkan infeksi laten dan kronis pada inang alaminya, dan semua dapat menginduksi tumor pada beberapa spasies hewan.
476250213995 Adenovirus
Virus berukuran menengah (70-90 nm) yang mengandung DNA untai-ganda dan mempunyai simetri kubik dengan 252 kapsomer. Virus ini tidak mempunyai selubung. Sekurang-kurangnya ada 41 jenis yang menginfeksi manusia, terutama pada selaput lendir, dan beberapa jenis dapat menetap pada jaringan limfoid. Beberapa adenovirus menyebabkan penyakit pernapasan akut, faringitis, konjungtivitis, dan gastroenteritis. Beberapa adenovirus manusia dapat menginduksi tumor pada bayi hamster yang baru lahir. Ada banyak serotipe yang menginfeksi hewan.
504825249555 Herpesvirus
Virus berukuran menengah yang mengandung DNA untai-ganda. Nukleokapsid-nya berdiameter 100 nm, mempunyai simetri kubik dan 162 kapsomer. Nuklekapsid dikelilingi oleh selubung yang mengandung lemak (berdiameter 150-200 nm). Infeksi laten dapat berlangsung selama masa hidup inang, biasanya dalam sel ganglia atau limfoblastoid. Herpesvirus manusia antara lain herpes simpleks jenis 1 dan 2 (lesi oral dan genital), virus varisela-zoster (herpes zoster dan cacar air), sitomegalovirus, dan virus Epstein-Barr (mononukleosis infeksiosa dan berkaitan dengan neoplasma pada manusia), dan herpesvirus 6 dan 7 (limfotropik T). Herpesvirus lain terdapat pada banyak hewan.
Poxvirus
42672028575Virus besar yang berbentuk bata atau ovoid (230 x 400 nm) yang mengandung DNA untai-ganda, dengan selubung yang mengandung lemak. Poxvirus mengandung beberapa enzim dalam virionnya, termasuk polimerasi RNA yang bergantung DNA ("DNA-dependent RNA polymerase"), dan seluruhnya bereplikasi di dalam sitoplasma sel. Semua poxvirus cenderungmenyababkan lesi kulit. Sebagian bersifat patogen bagi manusia (cacar, vaksinia, moluskum kontagiosum); lainnya yang patogen bagi hewan juga dapat menginfeksi manusia, misalnya cacar sapi, cacar monyet.
476250261620Hepadnavirus
Virus kecil (42 nm) yang mengandung molekul-molekul DNA lingkar yang sebagian beruntai ganda. Virion juga mengandung polimerase DNA untuk menjadikan molekul-molekul tersebut sepenuhnya beruntai-ganda. Virus mengandung inti nukleokapsid dan selubung yang mengandung lemak. Komponen permukaannya secara khusus dihasilkan secara berlebihan selama replikasi virus, yang terjadi didalam hati. Hepadnavirus menyebabkan hepatitis akut dan kronis; infeksi yang menetap meningkatkan resiko terjadinya kanker hati. Diketahui ada tiga jenis virus yang menginfeksi mamalia (manusia, woodchucks, dan bajing tanah) dan satu jenis yang menginfeksi itik.
PARVOVIRUS
STRUKTUR DAN KOMPOSISI
4445043815Partikel tak berselubung, ikosahedral, berdiameter 18-26 nm. Virion mengandung dua selubung protein yang disandi oleh suatu rangkaian DNA lazim. Protein VPI minor (83 kDa) identik dalam urutan protein VP2 mayor (58 kDa) kecuali bahwa VP1 mengandung tambahan 227 residu. Genom merupakan DNA untai tunggal 5,6 kb yang linear. Suatu virus otonom, H1, mengandung 5176 basa, sementara suatu parvovirus cacat , AAV-2, mengandung 4675 basa. Parvovirus otonom biasanya hanya mengenkapsidasi (melingkungi nukleokapsid virus dalam selubung protein) untaian DNA pelengkap terhadap mRNA virus; virus cacat cenderung mengenkapsidasi untaian DNA dari kedua polaritas menjadi virion yang terpisah dengan frekuensi yang sama.
60325241935KLASIFIKASI
Genus Parvovirus mempu untuk bereplikasi secara otonom dalam sel yang membelah diri dengan cepat. Parvovirus manusia B19 termasuk dalam genus ini, demikian juga virus panlekopenia felinum dan parvovirus kaninum, keduanya merupakan patogen serius dari penyakit hewan. Genus Dependovirus memiliki anggota yang cacat dan bergantung pada virus penolong (biasanya adenovirus) untuk replikasi. "Virus berhubungan adeno" manusia tidak dikaitkan dengan suatu penyakit.
PAPOVAVIRUS
SIFAT UMUM
28130542545Kapsid papovaviride yang tersusun dalam kubus simetris tidak mempunyai selubung. Virion berukuran garis tengah antara 45-55 nm. Virus memperbanyak diri dalam inti sel yang terinfeksi. Famili ini memiliki dua generasi yaitu virus papillo dan virus polyoma. DNA virus yang diekstraksi dari virus-virus papiloma dan polyoma mempunyai daya infektif dan juga mempunyai kemampuan untuk merangsang terjadinya tumor.
INFEKSI PAPOVIRUS
476885305435VIRUS POLYOMA
Virus polyoma tersebar diantara hewan tikus akibat pencemaran dengan tinja dan urin. Virus ini menimbulkan transformasi pada primary hamster embryo cells, baby hamster kipney cells (BHK 21) dan 3T3 cells yang berasal dari tikus. Meskipun demikian virus ini tidak pernah didapatkan dari sel-sel yang mengalami transformasi dengan imunofluorescent antibody technique selalu akan dapat diketahui adanya tumor antigen (T antigen) dalam inti dan transplantation antigen yang terdapat dalam selaput sitoplasma. Virus polyoma akan mengaglutinasi sel darah merah marmot dan spesies lainnya pada suhu 40º C dengan pengikatan reseptor yang peka pada neuraminidase.
SIMIAN VACUOLATING VIRUS (VIRUS SV 40)
47053510160Virus SV 40 yang didapatkan dari hasil biakan pada kultur sel ginjal kera resus dan kera cynomolbus ini menimbulkan perubahan patologik pada sel-sel tersebut. Tetapi pada sel ginjal kera hijau Afrika, virus ini menimbulkan CPE (cythopatic effect), dengan membentuk vakuol terutama dieskitar selaput inti. Virus SV 40 ini memiliki kemampuan untuk merangsang terjadinya tumor pada bayi hamster dan juga mengadakan trasformasi sel-sel yang berasal dari manusia, hamster dan kera.
Kelompok virus polyoma kadang-kadang didapatkan pada penderita yang mengalami transplantasi ginjal atau dari sel glia janin manusia. Meskipun virus polyoma ini tersebar luas pada populasi manusia, tetapi kemampuan untuk menimbvulkan penyakit pada manusia belum jelas benar.
470535307975VIRUS PAPILLOMA
Dalam kelompok virus papilloma ini termasuk rabbit papilloma virus, human virus, human warts virus dan virus papillomatosis pada sapi, anjing, kuda, dan hamster. Rabbit papilloma virus dapat diserap oleh sel darah merah tetapi tidak menimbulkan aglutinasi terhadapnya. Human warts virus dihubungkan dengan terjadinya papillomata genital dan laringeal pada manusia.
ADENOVIRUS
STRUKTUR DAN KOMPOSISI
13335114300Adenovirus berdiameter 70-90 nm dan memperlihatkan simetri ikosahedral. Kapsid terdiri atas 252 kapsomer. Adenovirus tidak mempunyai selubung dan mengandung 13% DNA dan 87% protein. Diperkirakan partikel mempunyai berat molekul 175 x 10⁶. Di antara virus-virus ikosahedral, adenovirus bersifat unik karena memiliki struktur yang disebut "serabut", yang mencuat dari ke 12 puncak, atau dasar pentona . Kapsid lainnya terdiri atas 240 kapsomer heksona. Heksona, pentona, dan "serabut" merupakan antigen-antigen adenovirus yang penting dalam klasifikasi virus dan diagnosis penyakit.
Adenovirus mempunyai DNA (BM 20-30 x 10⁶) linear dan beruntai ganda. Kandungan guanin plus sitosin terendah (48-49%) terdapat pada adenovirus kelompok A (tipe 12, 18, dan 31), yaitu tipe yang bersifat onkogen kuat, dan pada tipe lain dapat berkisar sampai 61%. Kandungan ini digunakan sebagai salah satu kriteria dalam pengelompokan isolat yang berasal dari manusia. DNA virus mengandung suatu protein yang di sandi oleh virus, yang terikat secara kovalen pada masing-masing ujung 5' dari genom linear. DNA dapat di isolasi dalam bentuk yang infeksius. Infektivitas relatif DNA tersebut dapat berkurang paling sedikit 100 kali apabila protein terminal dihilangkan dengan proteolitis. Keseluruhan urutan DNA dari genom adenovirus tipe 2 (=35.000 pasangan basa) telah diketahui.
Karakterisasi molekuler DNA virus dari 41 serotipe adenovirus manusia menunjukkan bahwa adenovirus dapat dibagi menjadi 7 kelompok berdasarkan homologi genom. DNA memadat di dalam inti virion dalam susunan yang menyerupai 12 bola besar yang saling berdesakan. Suatu protein yang di sandikan oleh virus, yaitu polipeptida VII, berperan dalam membentuk struktur inti .
ntigen utama adenovirus, ukuran, dan posisi strukturalnya dalam virion diperlihatkan pada tabel 32-2. Tiga protein struktural, yang diproduksi dalam jumlah besar, merupakan "antigen terlarut" yang disebut "alfa", "beta", dan "gama". Heksona-heksona yang membentuk sebagian besar kapsomer mempunyai kelompok antigen reaktif (alfa). Semua adenovirus manusia memperlihatkan antigenitas heksona serupa. Antigen ini terdapat dalam suspensi virus yang mendapat perlakuan panas atau formalin untuk menonaktifkan infektivitas. Pentona terdapat pada ke 12 puncak segi tiga kapsid dan mempunyai serabut yang mencuat dari puncak tersebut. Dasar pentona membawa aktivitas serupa-toksin yang menyebabkan timbulnya efek sitopatik yang cepat dan pelepasan sel dari permukaan tempat tumbuhnya. Kelompok antigen reaktif lain (beta) diwakili oleh basa pentona. Serabut mempunyai antigen tipe khusus (gama) yang penting dalam menentukan serotipe. Serabut berhubungan dengan aktivitas hemaglutinasi. Karena hemaglutinin bersifat khusus, uji HI biasanya digunakan untuk menentukan tipe isolat.
KLASIFIKASI
Adenovirus ditemukan pada banyak spasies dan dikelompokkan dalam dua genus; adenovirus yang menginfeksi burung (aviadenovirus) dan adenovirus yang menginfeksi mamalia (mastadenovirus). Semua adenovirus mamalia memiliki antigen serupa yang dapat dideteksi dengan fiksasi komplemen. Sedikitnya terdapat 41 tipe antigenik yang telah diisolasi dari manusia dan banyak tipe lain juga berhasil diisolasi dari berbagai hewan.
Adenovirus manusia dibagi dalam enam kelompok (A-F) berdasarkan sifat fisika, kimia, dan biologi. Adenovirus dari suatu kelompok yang mempunyai serabut dengan panjang tertentu, mempunyai homologi DNA yang tinggi (>90%, dibandingkan dengan <20% pada anggota kelompok lain), dan menunjukkan kemampuan yang sama untuk menggumpalkan sel darah merah kera atau tikus. Anggota dari suatu kelompok adenovirus mempunyai kandungan guanin-plus-sitosin pada DNA yang mirip satu sama lain dan mempunyai potensi yang sama untuk menghasilkan tumor pada hewan pengerat yang baru lahir. Yang penting, virus dalam kelompok yang sama cenderung mempunyai penyebaran epidemiologi dan hubungan penyakit yang serupa.
HERPESVIRUS
13335394335
Dalam famili herpesvirus terdapat beberapa patogen manusia yang sangat penting. Herpesvirus memperlihatkan keanekargaman penyakit secara klinik. Beberapa memiliki kisaran sel inang yang sempit. Sifat herpesvirus yang penting adalah kemampuannya menyebabkan infeksi yang bertahan seumur hidup dalam inangnya dan mengalami pengaktifan kembali secara berkala. Seringnya pengaktifan kembali pada pasien yang fungsi imunnya tertekan menyebabkan komplikasi kesehatan yang berbahaya. Anehnya, infeksi yang diaktifkan kembali secara klinik dapat berbeda dari penyakit yang disebabkan oleh infeksi utamanya. Herpesvirus memiliki sejumlah besar gen, yang telah dibuktikan bersifat peka terhadap kemoterapi antivirus.
Terdapat enam herpesvirus yang sering menginfeksi manusia: virus hepes simpleks 1 dan 2, virus variesela-zoster, sitomegalovirus, virus Epstein-Barr, herpesvirus manusia. Terdapat hampir 100 virus dari kelompok herpes yang menginfeksi berbagai macam spesies hewan.
STRUKTUR DAN KOMPOSISI
Herpesvirus adalah virus yang besar. Anggota kelompok yang berbeda memiliki ciri arsitektural yang sama tapi tidak dapat dibedakan dengan mikroskop elektron. Semua herpesvirus mempunyai inti DNA untai-ganda, dalam bentuk toroid, yang dikelilingi oleh lapisan protein yang menunjukkan simetri ikosahedral dan mempunyai 162 kapsomer. Nukleokapsid dikelilingi oleh suatu selubung dihasilkan oleh membran inti dari sel yang terinfeksi dan mengandung glikoprotein virus berbentuk paku dengan panjang kurang lebih 8 nm. Struktur yang tidak berbentuk, kadang-kadang asimetrik di antara kapsid dan selubung membentuk tegument. Bentuk selubung berukuran 120-200 nm; virion "telanjang", 100nm.
Genom DNA untai-ganda (BM 95-105 x 106;120-230 kbp) berbentuk linear. Gambaran yang jelas mengenai DNA herpesvirus adalah penyusunan urutannya. Genom herpesvirus memiliki terminal dan urutan berulang yang intern. Beberapa anggota, misalnya virus herpes simpleks, mengalami penyusunan ulang genom, menghasilkan "isomer" genom yang berbeda. Makna biologik dari penyusunan baru ini tidak diketahui. Dapat terjadi penghilangan secara spontan, dan partikel-partikel virus cacat sering tardapat antara herpesvirus. Komposisi dasar DNA virus bervariasi dari 31% sampai 75% (guanin-plus-sitosin). Ada homologi DNA kecil di antara herpesvirus yang berbeda, kecuali bagi herpes simpleks jenis 1 dan 2, yang memperlihatkan 50% homologi urutan. Perlakuan dengan endonuklease restriksi secara khas menghasilkan pola pemecahan yang berbeda untuk herpesvirus dan bahkan untuk strain yang berbeda pada tiap jenis. "Jejak jari" strain ini memungkinkan jiplakan epidemiologi dari strain tertentu, sementara dahulu, penyebarluasan virus herpes simpleks tidak memungkinkan penyelidikan semacam itu.
Genom herpesvirus cukup besar untuk menyandikan sekurang-kurangnya 100 protein yang berdeda. Karena itu, lebih dari 35 polipeptida terlibat dalam struktur partikel virus tersebut; beberapa diantaranya merupakan bagian dari selubung virus. Beberapa enzim khusus-virus (polimerase DNA, timidin kinase) disintesis dalam sel yang terinfeksi, tetapi tampaknya tidak ada enzim yang masuk ke dalam partikel-partikel virus.
KLASIFIKASI
Sulit dilakukan klasifikasi terhadap banyak anggota famili herpesvirus. Pembagian ke dalam subfamili didasarkan pada sifat-sifat biologik virus. Alfaherpesvirus adalah virus sitolitik yang tumbuh dengan cepat dan cenderung mengakibatkan infeksi laten dalam neuron; virus herpes simpleks dan varisela-zoster adalah anggotanya. Betaherpesvirus tumbuh lambat dan bersifat sitomegalik (pembesaran masif sel yang terinfeksi) dan menjadi laten dalam kelenjar sekretorik dan ginjal; sitomegalovirus, contohnya virus Epstein-Barr, menginfeksi dan menjadi laten dalam sel limfoid. Herpesvirus manusia yang paling baru, disebut herpesvirus 6 manusia, sulit untuk diklasifikasikan. Secara sifat-sifat biologik, virus ini harus diklasifikasikanak herpesvirus sebagai gemaherpesvirus, karena virus ini menginfeksi limfosit. Namun, analisa molekuler dari genomnya memperkirakan bahwa virus tersebut serumpun dengan betaherpesvirus.
Banyak herpesvirus menginfeksi hewan, tercatat yang terbanyak adalah virus B dan herpesvirus saimiri, aotus, dan aletes monyet; herpesvirus marmoset; virus pseudorabies babi; dan virus rinotrakeitis bovin sapi yang menular.
Ada sedikit hubungan antigenik di antara anggota kelompok herpevirus. Hanya virus herpes simpleks tipe 1 dan 2 yang sama-sama mempunyai jumlah antigen biasa yang bermakna. Tidaklah mengherankan, karena kira-kira 50% homologi antara dua genom virus tersebut. Herpesvirus manusia 6 dan 7 memperlihatkan beberapa epitop yang bereaksi silang.
INFEKSI HERPESVIRUS PADA MANUSIA
VIRUS HERPES SIMPLEKS
48514042545Virus herpes simpleks tersebar secara sangat luas pada populasi manusia. Virus ini terlihat pada banyak inang, dapat bereplikasi pada banyak jenis sel dan menginfeksi bermacam-macam hewan. Virus ini tumbuh secara cepat dan sangat sitolitik. Virus herpes simpleks menyebabkan serangkaian penyakit, mulai dari gingivostomatitis sampai keratokonjungtivits, ensefalitis, penyakit kelamin, dan infeksi pada bayi baru lahir. Virus herpes simpleks menimbulkan infeksi laten pada sel-sel saraf; sering terjadi kekambuhan.
Sifat-sifat Virus
Terdapat dua virus herpes simpleks yang berbeda: tipe 1 dan tipe 2 (HSV-1, HSV-2). Genom-genomnya mirip dalam pengaturan dan tampilan susunan substansi yang homolog. Namun, virus-virus ini dapat dibedakan dengan anilisis enzim restriksi DNA virus. Kedua virus saling bereaksi-silang secara serologik, tetapi keunikan protein terlihat pada tiap tipe. Virus-virus ini berbeda dalam cara penularan; HSV-1 menyebar melalui kontak, biasanya melibatkan air liur yang terinfeksi, sedangkan HSV-2 ditularkan secara seksual atau dari infeksi kelamin ibu ke anaknya yang baru lahir. Hal ini memberi gambaran klinik yang berbeda pada infeksi manusia.
Siklus pertumbuhan HSV berlangsung dengan cepat, memakan waktu 8-16 jam sampai selesai. Gen alfa (dini-segera) segera timbul setelah infeksi. Gen-gen ini ditranskripsikan pada keadaan tidak adanya sintesis protein virus dan merupakan permulaan replikasi. Gen beta (dini) timbul kemudian; membutuhkan hasil gen alfa fungsional untuk ekspresinya, yaitu kebanyakan berupa enzim dan protein replikasi. Ekspresi gen beta bertepatan dengan penurunan transkripsi gen alfa dan penghentian sintesis protein sel inang yang irreversibel, dan dikatakan sebagai kematian sel. Hasil-hasil gen gama (lambat) yang kemudian dihasilkan dan mencakup sebagian besar protein struktural virus.
Sedikitnya telah dibuat delapan glikoprotein virus. Satu (gD) adalah pemicu antibodi netralisasi yang paling kuat. Glikoprotein C adalah protein terikat komplemen (C3b), dan gE adalah suatu reseptor protein yang mengikat bagian Fc dari IgG. Glikoprotein G adalah tipe-spesifik dan memudahkan pembedaan antigenik antara HSV-1 (gG-1) dan HSV-2 (gG-2).
Genom HSV besar (BM – 100 juta) dan dapat menyandi sedikitnya 70 polipeptida; fungsi dari kebanyakan proteinnya dalam replikasi atau sifat laten tidak diketahui.
VIRUS VARISELA-ZOSTER
47053588265Varisela (cacar air) adalah penyakit ringan, sangat menular, terutama pada anak-anak, yang ditandai secara klinik dengan suatu erupsi vesikular pada kulit dan selaput lendir. Penyakit dapat berlangsung berat pada orang dewasa dan anak-anak yang fungsi imunnya terganggu.
Zoster (shingles) adalah suatu penyakit sporadik, yang banyak ditemui pada orang dewasa atau orang-orang dengan gangguan imunitas, yang ditandai oleh suatu ruam yang terbatas penyebarannya pada kulit yang diinervasi oleh ganglion sensorik tunggal. Lesinya mirip dengan yang terdapat pada varisela.
Kedua penyakit itu disebabkan oleh virus yang sama. Varisela adalah penyakit akut yang terjadi setelah kontak pertama dengan virus, sementara zoster adalah respon sebagian imun inang terhadap pengaktifan kembali virus varisela yang terdapat dalam bentuk laten pada ganglia sensorik.
Sifat-sifat Virus
Virus varisela-zoster secara morfologik serupa dengan virus herpes simpleks. Virus ini memperbanyak diri dalam biakan jaringan embrionik manusia dan menghasilkan badan inklusi intranuklir yang khas. Perubahan sitopatik lebih fokal dan penyebarannya jauh lebih lambat daripada yang diinduksi oleh HSV. Virus yang menular tetap berkaitan-sel secara kuat, dan serangkaian perkembangan lebih mudah dikerjakan melewati sel-sel yang terinfeksi daripada cairan biakan jaringan. Virus ini belum dikembangkan pada hewan percobaan.
Penyebab cacar air dan zoster adalah virus yang sama. Virus yang diisolasi dari vesikel cacar air atau penderita zoster memperlihatkan tidak adanya perbedaan yang bermakna pada tingkat DNA.
SITOMEGALOVIRUS
4707323919Sitomegalovirus adalah herpesvirus yang terdapat di mana-mana dan merupakan penyebab umum penyakit manusia. Nama untuk penyakit inklusi sitomagelik klasik berasal dari kecenderungan sel-sel yang terinfeksi sitomegalovirus membesar secara masif.
Penyakit inklusi sitomegalik adalah infeksi menyeluruh pada bayi yang disebabkan oleh infeksi dalam rahim atau setelah kelahiran dini dengan sitomegalovirus. Setiap tahun penyakit ini menyebabkan anomali kongenital yang berat pada sekitar 3000-6000 bayi di AS. Sitomegalovirus menimbulkan masalah kesehatan yang penting karena frekuensi infeksi kongenitalnya tinggi. Infeksi yang tak kentara sering terjadi selama masa kanak-kanak dan remaja. Infeksi sitomegalovirus berat sering ditemukan pada orang dewasa yang imunitasnya tertekan.
Sifat-sifat Virus
Sitomegalovirus adalah anggota terbesar dari herpesvirus manusia. Genom DNA nya (BM 150 x 106, 240 kbp) bermakna lebih besar daripada HSV. Hanya beberapa dari banyak protein tersandi oleh virus yang telah dikarakterisasikan. Satu, glikoprotein permukaan sel, bekerja sebagai reseptor Fc yang dapat mengikat secara nonspesifik bagian Fc imunoglobulin. Hal i ni mungkin membantu sel-sel terinfeksi menghindari penghancuran imun melalui pengadaan lapisan pelindung dari imunoglobulin inang yang tidak relevan.
Sebagian besar starin sitomegalovirus yang berbeda secara genetik bersirkulasi dalam populasi manusia. Strain-strain ini cukup berhubungan secara antigenik, namun, karena itu perbedaan strain ini mungkin bukan penentu yang penting pada penyakit manusia.
Sitomegalovirus adalah spesies yang sangat spesifik dan sel spesifik-tipe. Semua usaha untuk menginfeksi hewan dengan sitomegalovirus telah gagal. Terdapat sejumlah sitomegalovirus hewan, semuanya spesies-spesifik.
Sitomegalovirus manusia berkembang biak in vitro hanya dalam firbroblas manusia, meskipun virus sering diisolasi dari sel epitel inang. Virus dapat mengubah sel manusia dan sel hamster dalam biakan, tetapi tidak diketahui apakah virus ini onkopgenik in vivo.
Sitomegalovirus menghasilkan efek sitopatik yang khas. Bentuk inklusi sitoplasma peinuklir sebagai tambahan terhadap inklusi khas intranuklir herpesvirus. Terlihat sel berinti ganda. Kebanyakan sel yang terkena menjadi sangat membesar. Sel sitomegalik terkait-inklusi dapat ditemukan dalam sampel dari individu yang terinfeksi.
Replikasi sitomegalovirus berjalan sangat lambat dalam biakan sel, dengan cara kerja pertumbuhan yang lebih lambat daripada virus HSV atau varisela-zoster. Sangat sedikit virus menjadi bebas sel; infeksi menyebar dari sel ke sel. Hal ini memerlukan waktu beberapa minggu agar seluruh lapisan tunggal terkena. Banyak dihasilkan partikel virus yang rusak.
419735311150VIRUS EPSTEIN-BARR
Virus Epstein-Barr (virus EB) adalah herpesvirus umum yang merupakan virus penyebab infeksi mononukleosis akut dan faktor pengembangan karsinoma nasofaring, limfoma Burkitt, dan gangguan limfoproliferatif lain pada orang-orang dengan defisiensi imun.
Sifat-sifat Virus
Virus EB berbeda dari semua herpesvirus manusia lainnya. Genom DNAnya mengandung kurang lebih 172 kbp dan memiliki kandungan guanin-plus-sitosin sebesar 59%.
Tidak terdapat sistem klasifikasi untuk isolat virus EB. Namun, telah dideteksi banyak strain virus yang berbeda, berdasarkan variasi struktur genom, ekpresi antigen, dan sifat-sifat biologi. Sebagian besar isolat "ditansformasi", tetapi bebrapa tidak dapat membuat limfosit hidup terus.
HERPES VIRUS 6 MANUSIA
Herpesvirus 6 manusia limfotropik-T pertama kali dikenali tahun 1986. Isolasi mula-mula dibuat dari biakan sel mononuklir darah tepi dari pasien dengan gangguan limfoproliferatif.
Sifat-sifat Virus
Ukuran DNA virus sekitar 160-170 kbp dan memliki komposisi utama 43-44% (guanin-plus-sitosin). Rangkaian genetik genom herpesvirus 6 manusia lebih menyerupai sitomegalovirus manusia daripada yang terdapat pada gamaherpesvirus limfotropik.
Sangat sedikit diketahui mengenai protein spesifik-herpesvirus 6 manusia. Namun, herpesvirus 6 manusia tampaknya tidak berhubungan secara antigenik dengan herpesvirus manusia lain yang diketahui, kecuali terdapat beberapa reaktivitas sialng terbatas dengan herpesvirus 7 manusia. Isolat herpesvirus 6 manusia tampak membelah menjadi dua, saling berkaitan erat tetapi berbeda kelompok antigenik.
Virus tumbuh dengan baik di sel mononuklir darah tepi, terutama sel T yang tidak matang. Tipe sel lain juga mendukung replikasi virus, termasuk sel B dan sel glial, fibrobalstoid, dan asal megakariosit. Tidak diketahui sel mana dalam tubuh yang terinfeksi secara laten.
HERPESVIRUS 7 MANUSIA
Herpesvirus 7 manusia limfotropik-T yang paling baru, yang disebut herpesvirus 7 manusia, diisolasi pertama kali tahun 1990 pada sel T teraktivasi dari limfosit darah tepiseseorang yang sehat.
Herpesvirus 7 manusia secara imunologik berbeda dengan herpesvirus 6 manusia, walaupun keduanya memiliki homologi terbatas pada tingkat DNA. Terdapat juga beberapa kemiripan genetik dengan sitomegalovirus.
Herpesvirus 7 manusia tampaknya merupakan virus yang sering ditemukan, dengan kejadian infeksi terbanyak pada anak-anak tetapi terjadi lebih lambat dibandingkan dengan infeksi herpesvirus 6 manusia yang terjadi pada usia masih sangat muda. Hubungan antara herpesvirus 7 manusia dengan penyakit masih perlu ditetapkan.
VIRUS B
Virus herpes B dari monyet Eropa sangat patogenik untuk manusia. Kemampuan penularan virus kepada manusia terbatas, tetapi infeksi yang telah terjadi ini berhubungan dengan angka kematian yang tinggi. Penyakit virus B pada manusia adalah bentuk akut, biasanya mielitis yang merambat naik dan ensefalomielitis yang faal.
Sifat-sifat Virus
Virus B adalah herpesvirus khas yang berasal dari monyet Eropa. Virus B ini bersifat enzootik pada monyet resus, sinomolgus, dan monyet makaka (gunus Macaca). Virus ini sekarang disebut herpesvirus 1 serkopitesin, menggantikan nama lama Herpesimiae. Seperti semua herpesvirus, virus B membentuk infeksi laten pada inang yang terinfeksi.
Ukuran DNA virus sekitar 162 kbp (BM 107 x 106), dengan kandungan tinggi guanin-plus-sitosin (75%). Virus B memiliki beberapa penentu antigenik yang sama dengan virus herpes simpleks. Virus ini relatif stabil pada penyimpanan dengan suhu 4°C atau pembekuan (-70°C).
Virus ini tumbuh dengan baik pada biakan ginjal monyet, ginjal kelinci, dan sel manusia seperti pada embrio anak ayam. Siklus pertumbuhannya pendek; kadar virus ekstraseluler maupun intraseluler mencapai maksimal dalam 24 jam. Efek sitopatik yang diinduksi oleh virus B mirip dengan yang ditimbulkan oleh virus herpes simpleks. Sel menyatu kedalam sel raksasa berinti ganda, dan membentuk inklusi dalam inti.
POXVIRIDAE
17145381000
Poxvirus adalah virus yang terbesar dan paling kompleks. Famili poxvirus meliputi suatu kelompok besar penyebab infeksi yang morfologinya mirip dan memiliki antigen nukleoprotein yang serupa. Dalam kelompok ini termasuk virus variola, penyebab cacar suatu penyakit virus yang paling banyak menyerang manusia sepanjang catatan sejarah sampai terbasmi pada tahun 1977.
Golongan poxvirus merupakan virus binatang yang paling kompleks yang dapat menyerang vertebrata.
SIFAT-SIFAT POXVIRUS
Virion : struktur kompleks oval an bentuk bata, panjang 400nm x diameter 230nm; permukaan luar memperlihatkan lekukan; mempunyai inti dan bahan lateral.
Komposisi : DNA (3%), protein (90%), lemak (5%).
Genom : DNA untai ganda, linear, BM 85-150 juta; mempunyai lengkung terminal; mempunyai kandungan guaninplus-sitosin (30-14%) kecuali parapoxvirus (63%).
Protein : virion mengandung lebih dari 100 polipeptida; pada inti terdapat banyak enzim, termasuk sistem transkripsi.
Selubung : selaput luar virion disintesis oleh virus; beberapa pertikel mendapatkan selubung tambahan dari sel (tidak diperlukan untuk menginfeksi).
Replikasi : "Pabrik" sitoplasma.
Karakter yang menonjol: Virus terbesar dan paling kompleks, sangat resisten terhadap inaktivasi. Cacar merupakan penyakit virus pertama yang dapat dibasmi dari muka bumi.
Anggota poxvirus yang dapat menyerang manusia ialah penyebab:
Variola major (mortalitas hingga 50%)
Variola minor (alastrim) (mortalitas kurang dari 1 %)
Vaccinia
Cacar sapi (cowpox)
Moluskum contagiosum
Paravaccinia (Pseudocowpox, milker's node)
Dematitis pustularis contagiosum (orf)
Komplikasi vaksinasi: ensefalitis pasca-vaksinasi (mortalitas tinggi); vaccinia gangrenosa (mortalitas tinggi); eczema vaccinatum (mortalitas rendah); autoinokulasi dan vaccinia generalisata (tidak letal).
Anggota poxvirus yang menyerang binatang peliharaan yang secara ekonomik menimbulkan kerugian adalah penyebab:
Cacar sapi (cowpox)
Cacar domba (sheeppox)
Cacar babi (swinepox)
Cacar kera (monkeypox)
Cacar unggas (fowlpox)
Stomatitis pustularis bovin
Dermatitis pustularis kontagiosum
STRUKTUR DAN KOMPOSISI
Poxvirus cukup besar untuk dapat dilihat dengan mikroskop cahaya sebagai pertikel yang tidak memiliki apa-apa. Dengan mikroskop elektron, poxvirus terlihat berbentuk seperti bata atau partikel elips berukuran 400 x 230 nm. Poxvirus mempunyai struktur yang kompleks, tidak mempunyai konformasi ikosahedral atau simetri heliks seperti virus lain. Bagian luar partikel mengandung lekukan. Terdapat selaput luar lipoprotein, atau selubung, yang menutupi inti dan dua struktur fungsi tak dikenal yang disebut badan lateral. Pada inti terdapat genom virus yang besar dari DNA untai-ganda linear (BM 85-150 x 106). DNA mengandung urutan berulang terminal yang terbalik (inverted terminal repeats) dengan panjang yang bervariasi, dan untai DNA dihubungkan pada ujung-ujungnya oleh lingkar jepit (hairpin loop). DNA poxvirus kaya akan basa adenin dan timin.
Komposisi kimia poxvirus mirip dengan bakteri. Virus vaksinia sebagian besar terdiri atas protein (90%), lemak (5%), dan DNA (3%). Lebih dari 100 polipeptida struktural telah terdeteksi. Beberapa protein mengalami glikosilasi atau fosforilasi. Lemaknya berupa kolesterol dan fosfolipid.
Virion mengandung berbagai macam enzim, termasuk sistem transkripsi yang dapat mensintesis poliadenilat, tutup (cap), dan mRNA virus yang mengandung metil.
KLASIFIKASI
Poxvirus terbagi atas dua subfamili, berdasarkan rentang inang vertebrata atau inang serangga. Poxvirus vertebrata digolongkan menjadi enam genus, anggota dari genus yang sama memperlihatkan morfologi dan rentang inang yang serupa, disamping adanya beberapa kesamaan antigen.
Kebanyakan poxvirus yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia termasuk genus Orthopoxvirus dan Parapoxvirus, ada juga beberapa genus yang sekarang ini belum digolongkan.
Ortopoxvirus mempunyai rentang inang yang luas, mencakup beberapa vertebrata. Termasuk didalam kelompok ini adalah virus ektromelia (cacar mencit), cacar kelinci, cacar sapi, vcacar monyet, vaksinia, dan variola (cacar). Empat yang terakhir dapat menginfeksi manusia. Dalam hal morfologi, virus vaksinia hanya berbeda sedikit dari virus variola dan cacar sapi. Virus ini merupakan prototipe poxvirus dalam hal struktur dan replikasi. Cacar monyet dapat menginfeksi monyet dan manusia dan secara klinik menyerupai cacar.
Beberapa poxvirus mempunyai rentang inang yang terbatas dan hanya menginfeksi hewan pengerat (fibroma dan miksoma) atau hanya menginfeksi burung. Lainnya terutama menginfeksi biri-biri dan kambing (cacar biri-biri, cacar kambing) atau ternak (misalnya nodus pemerah susu).
Parapoxvirus berbeda secara morfologi. Dibandingkan dengan ortopoxvirus, parapoxvirus merupakan partikel yang agak kecil (260 x 160 nm), dan permukaannya memperlihatkan pola saling silang. Genomnya lebih kecil (BM 85 x 106) dan mempunyai kandungan guanin-plus-sitosin yang lebih tinggi (63%) dibandingkan ortopoxvirus (BM 110-140 x 106; guanin-plus-sitosin 30-40%).
Semua poxvirus vertebrata mempunyai antigen nukleoprotein yang mirip pada inti bagian dalam. Ada reaktivitas-silang serologi di antara virus-virus pada genus yang sama tetapi rektivitas antar genus sangat terbatas. Akibatnya, imunisasi dengan virus vaksinia tidak mampu memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit yang disebabkan oleh parapoxvirus atau poxvirus yang tak bergolongan.
INFEKSI POXVIRUS
PENYAKIT CACAR (variola; smallpox)
4743459525Variola major (suatu penyakit karantina) merupakan penyakit menular yang akut dengan keterlibatan sistemik yang hebat dengan erupsi kulit yang terjadi melalui tingkatan makula, papula, vesikula dan pustula selama masa 5-10 hari. Bentuk variola ringan ialah variola minor atau alastrim. Virus vaniccia merupakan sejenis poxvirus yang dilemahkan (attenuated) dan dipakai sebagai virus hidup untuk vaksinasi.
Melihat tingginya mortalitas variola major dibagi atas:
Variola discreta (mortalitas 5%)
Variola confluens (mortalitas 45%)
Variola pustulosa hemoragik (mortalitas 80%)
Purpura variolosa (mortalitas 100%)
Variola sine eruptione/sine exanthemate (kasus ringan)
INFEKSI CACAR MONYET (Monkeypox)
35369513970Virus cacar monyet adalah salah satu spesies dari Orthopoxvirus. Penyakit ini berupa suatu zoonosis langka yang hanya dideteksi di daerah terpencil di hutan tropis, terutama di Zaire. Penyakit ini mungkin diperoleh melalui kontak langsung dengan hewan liar yang dibunuh untuk dimakan dan diambil kulitnya. Inang sumber utamanya tidak diketahui tetapi mungkin hewan pengerat.
Gejala kliniknya mirip dengan cacar yang lazim dan bentuk modifikasi cacar. "Pembesaran" ruam yang terjadi pada beberapa pasien merupakan masalah diagnostik yang mengamburkannya dengan cacar air. Limpadenopati berat terjadi pada kebanyakan penderita; ciri ini tidak terlihat pada cacar atau cacar air. Komplikasi sering terjadi dan sering pula berbahaya. Komplikasi ini biasanya berupa gangguan paru-paru dan infeksi bakteri sekunder.
INFEKSI CACAR SAPI (Cowpox)
Virus cacar sapi adalah spesies lain dari Orthopoxvirus. Penyakit ternak ini lebih ringan dibanding penyakit cacar pada hewan lain, lesi terbatas pasa puting susu dan ambing. Infeksi pada manusia terjadi melalui kontak langsung selama pemerahan, dan lesi pada pemerah susu biasanya terbatas pada tangan. Lesi lokal berhubungan dengan demam dan limfadenitis.
Virus cacar sapi dapat dibedakan dengan virus vaksinia oleh lesi hemoragik berwarna merah tua yang ditimbulkan oleh virus cacar sapi pada selaput karioalantois embrio ayam.
Sumber alami cacar sapi tampaknya adalah hewan pengerat; baik ternak maupun manusia hanya merupakan inang yang kebetulan tertular.
Cacar sapi tidak lagi bersifat enzootik pada ternak, meskipun kadang-kadang muncul kasus pada sapi dan orang yang berhubungan dengannya. Cacar sapi pada kucing bersifat sporadis, dan penularannya mungkin melalui hewan pengerat liat kecil. Kasus pada manusia (dengan lesi kulit hemoragik, demam, dan lesu) mungkin terjadi tanpa kontak dengan hewan yang diketahui atau mungkin tidak terdiagnosis.
INFEKSI VIRUS ORF
47434541275Virus orf merupakan spesies Parapoxvirus. Virus ini menyebabkan penyakit pada biri-biri dan kambing dan banyak ditemukan di seluruh dunia. Penyakit ini juga disebut dermatitis pustular menular atau lecet mulut (sore mouth).
Virus orf ditularkan pada manusia melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Penyakit ini merupakan penyakit di tempat kerja bagi peternak biri-biri. Infeksi pada manusia biasanya terlihat sebagai lesi tunggal pada jari, tangan, atau lengan bawah tetapi juga dapat muncul pada muka dan leher. Infeksi ini jarang bersifat merata. Penyembuhan memakan waktu beberapa minggu.
MOSLUKUM KONTAGIOSUM
4749053698Moslukum kontagiosun adalah suatu tumor epidermis jinak yang hanya terdapat pada manusia. Virus penyebabnya merupakan anggota dari kelompok poxvirus yang tak digolongkan. Virus ini belum dapat ditularkan pada hewan an belum dapat ditumbuhkan pada biakan jaringan. Virus ini telah dipelajari pada manusia dengan mikroskop elektron. Virus murni berbentuk lonjong atau berbentuk batu-bata dan berukuran 230 x 330 nm; virus ini menyerupai vaksinia. Antibodi pada virus ini tidak bereaksi silang dengan poxvirus lainnya.
Lesi penyakit ini berupa tumor kecil, merah muda, mirip kutil yang terdapat pada muka, lengan, punggung, dan pinggul. Lesi jarang ditemukan pada telapak tangan, telapak kaki, atau selaput lendir. Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dalam bentuk sporadis maupun epidemi dan lebih sering terjadi pada anak-anak dibanding pada orang dewasa. Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dan kontak tidak langsung (misalnya oleh pemotong rambut, pengguna handuk secara bersama-sama, kolam renang).
INFEKSI POXVIRUS TUMOR TANAPOX & MONYET YABA
Tanapox adalah suatu infeksi kulit yang cukup sering terjadi di beberapa bagian Afrika, terutama di Kenya dan Zaire. Virus ini diduga disebarkan dari hewan yang terinfeksi kepada manusia melalui arthropoda yang terkontaminasi. Inang alaminya kemungkinan adalah monyet.
Secara morfologi virus-virus ini mirip dengan ortopoxvirus. Virus hanya tumbuh pada biakan sel monyet dan sel manusia, dengan efek sitopatik. Virus-virus ini tidak dapat tumbuh pada selaput korioalantois telur yang berembrio.
Tanapox diawali dengan masa demam 3-4 hari dan dapat disertai sakit kepala yang berat dan kelesuhan. Biasanya hanya terdapat satu atau dua lesi kulit; tak pernah terjadi pustulasi. Penyembuhan dapat membutuhkan waktu 4-7 minggu.
Poxvirus tumor monyet Yaba menyebabkan histiositoma jinak 5-20 hari setelah pemberian secara subkutan dan intramuskuler pada monyet. Tumor mengecil setelah sekitar 5 minggu. Pemberian virus secara intravena menyebabkan timbulnya histiositoma multiple pada paru-paru, jantung, dan otot rangka. Perubahan neoplastik yang sesungguhnya tidak terjadi. Virus dapat diisolasi dengan mudah dari jaringan tumor, dan iklusi khas ditemukan pada sel tumor. Berbagai jenis spesies monyet dan manusia bersifat rentan terhadap efek proliferatif seluler yang disebabkan virus, tetapi hewan percobaan lainnya bersifat kebal. Meskipun pemelihara hewan dapat terinfeksi, di afrika belum ditemukan infeksi virus Yaba secara alami pada manusia.
HEPADNAVIRUS
208083957HBV (Hepatitis B Virus), penyebaba hepatitis serum, diklasifikasikan sebagai hepadna virus. HBV menimbulkan infeksi kronik, khususnya pada mereka yang terinfeksi ketika bayi; ini adalah faktor utama dalam perkembangan penyakit hati dan karsinoma hepatoseluler pada orang-orang tersebut.
STRUKTUR DAN KOMPOSISI
Mikroskopi elektron serum reaktif HbsAg menampilkan 3 bentuk morfologi. Kebanyakan merupakan partikel membulat dengan diameter 22 nm. Partikel kecil ini dibentuk oleh HbsAg sebagai bentuk tubuler atau filamen, yang memiliki diameter sama tetapi mungkin 200 nm lebih panjang dan merupakan hasil dari produksi berlebihan HbsAg. Yang lebih besar, virion bulat ukuran 42 nm (sebenarnya sebagai partikel Dane) terlihat agak jarang. Permukaan luar, atau selubung, mengandung HbsAg dan mengelilingi inti nukleokapsid dalam yang berukuran 27 dan mengandung HbcAg. Panjang daerah untai tunggal genom DNA seluler yang bermacam-macam menghasilkan partikel yang heterogen secara genetik dengan kisaran berat jenis yang luas.
Genom virus sebagian terdiri dari DNA sirkuler untai ganda dengan berat molekul kurang lebih 2 x 106, panjangnya 3200 bp. Isolat HBV yang berbeda memiliki 90 – 98 % homologi urutan nukleotida yang sama. Panjang DNA seluruhnya dikurangi untai merupakan pelengkap untuk semua HBV mRNAs; untai positif bermacam-macam dan panjangnya antara 50-80% unit.
Terdapat empat kerangka baca terbuka yang menyanding 7 polipeptida. Hal ini mencakup protein stuktural dari permukaan virion dan inti, transaktivaktor traskripsional kecil (X), dan protein polimerase (P) besar yang meliputi polimerase DNA, transkriptase balik dan aktivitas RNAase H. gen S mempunyai 3 krangka kodon awal dan menyandi HbsAg mayor, seperti juga polipeptida yang mengandung tambahan pre S2 atau pre S1 dan urutan pre S2. Gen C mempunyai 2 krangka kodon awal dan menyanding HbcAg ditambah protein Hbe, yang diproses menjadi HbeAg yang larut.
Stabilitas HbsAg tidak selalu sama dengan stabilitas penyebab infeksi. Namun, keduanya stabil pada suhu -20º C selama lebih dari 20 tahun dan tahan terhadap pembekuan serta pencairan berulang-ulang. Virus juga tahan pada pemanasan 37º C selama 60 menit dan tetap hidup setelah dikeringkan dan disimpan pada suhu 25º C selama paling sedikit 1 minggu. HBV (tetapi bukan HbsAg) peka terhadap suhu tinggi (100º C selama 1 menit) atau terhadap masa inkubasi yang lebih lam (60º C selama 10 jam) bergantung pada jumlah virus yang terdapat didalam contoh. HbsAg stabil pada PH 2,4 selam 6 jam, tetapi infektifitas HBV akan menghilang. Natrium Hipoklorit 0,5% (misalnya Klor pemutih 1:10) dapat merusak antigenitas dalam waktu 3 menit pada konsentrasi protein yang redah, tetapi bahan serum yang tidak diencerkan membutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi (5%). HbsAg didalam plasma atau produk darah lainnya tidak dapat dirusak oleh penyinaran ultra ungu,dan infektivitas virus juga tahan terdadap penyinaran tersebut. HBV menyebar secara tidak merata selama vaksionasi etanol Cohn dari plasma. Sebagian besar virus tertahan dalam fraksi I (fibrinogen, faktor VIII) atau III (kompleks protrombin), sedanfgkan HbsAg dipindahkan ke fraksi II (globulin gamma) dan IV (protein plasma).
DAFTAR PUSTAKA
Jawetz, melnick, &Adelberg.1996.Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta:EGC.
Soedarno.1988.Dasar-Dasar Virologi Kedokteran.Jakarta:EGC.
Staf pengajar FKUI.1994.Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta. BINARUPA AKSARA.
www.google.com


Download Klasifikasi virus DNA.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Klasifikasi virus DNA. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat

banner
Previous Post
Next Post

Akademikita adalah sebuah web arsip file atau dokumen tentang infografi, presentasi, dan lain-lain. Semua pengunjung bisa mengirimkan filenya untuk arsip melalui form yang telah disediakan.

0 komentar: