December 01, 2016

Wahyu Al-Quran menurut William Montgomery Watt


Judul: Wahyu Al-Quran menurut William Montgomery Watt
Penulis: Shinta Sodikin


WAHYU AL-QURAN
MENURUT WILLIAM MONTGOMERY WATT
Pendahuluan
Abad-abad belakangan ini, sebagian besar umat Islam tengah selalu menikmati fase "at home" dan taklid buta yakni fase memilih berada di zona aman dalam menjalani kehidupan yang ditandai dengan kejumudan pemikiran, nyaman dengan kondisi terjajahnya, dan memberikan label 'sakral' terhadap pemaknaan penemuan terdahulu. Tentu, fase ini sangat berimplikasi buruk terhadap perkembangan kajian keislaman. Hal ini karena Islam itu adalah agama dinamis yang shalih li kulli zaman wa makan dengan dua pedoman pokoknya yaitu al-Quran dan al-Sunnah. Namun kedinamisan ini akan menjadi aktif manakala terjadi interaksi dialog antara manusia dengan agamanya.
Melihat kondisi umat Islam yang lengah, orang-orang Barat bangkit dari masa kefakumannya. Mereka banyak belajar ke Timur dan mempelajari Islam. Lalu, diantara mereka muncul beberapa tokoh yang mereka mempelajari Islam dengan tujuan untuk mencari kelemahan Islam dan mencercaanya atau yang akrab dikenal dengan orientalis.
Sungguh, sebenarnya jasa para orientalis sangatlah berharga, mereka sanggup membukakan mata umat Islam dari fase buruknya bahwa selama ini mayoritas uamat Islam stagnan dalam pemikirannya sehingga sudah saatnya masyarakat Islam bangkit dengan segala daya upaya untuk meng-counter pendapat mereka dengan teori dan pendekatan yang empiris serta realistis.
Namun ternyata tidak semua orientalis, mempunyai pemikiran sama, dimana mereka mempelajari Islam untuk menyerang Islam dan mencari-cari kesalahan-kesalahan Islam, tetapi justru banyak diantara mereka juga yang membela Islam, seperti William Montgomery Watt, seorang orientalis beraliran Midle Ground yang objektif dan paling simpatik terhadap Islam.
Menarik sekali ketika menelisik pendapat dan pandangan-pandangan Watt dalam Islamic Studies. Diantara pandangan beliau yang unik ialah tentang kenabian Nabi Muhammad dan kewahyuan al-Quran. Hal ini sebagaimana yang beliau tulis dalam karyanya yang berjudul Bell's Introduction to The Qur'an yang merupakan edisi revisi karya Richard Bell.
Pandangan Watt tentang kenabian yaitu Nabi Muhammad harus dipadang sebagai seorang yang tulus serta telah mengemukakan secara jujur pesan-pesan yang diyakininya berasal dari Tuhan. Sedangkan tentang kewahyuan, terdapat beberapa kekhasan dari analisa objektif Watt terhadap Islam, diantaranya Watt mengakui bahwa al-Quran yang diterima oleh Nabi Muhammad itu merupakan firman Allah atas Nabi Muhammad tetapi ia lebih lanjut berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad menerima pengetahuan dari konsepsi Bibel secara umum.
Selain itu, William Montgomery Watt berpendapat bahwa kebenaran kenabian Muhammad didasarkan pada fakta sejarah umat Islam sendiri. Bagi Watt, pesan-pesan wahyu Nabi Muhammad telah mengantarkan komunitas umat Islam berkembang sejak masa kerasulan Nabi Muhammad hingga sekarang, umat Islam menaati ajaran, merasakan kebahagiaan, serta taat dalam keislamannya, meskipun hidup dalam lingkungan yang sulit. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa:
"Hal-hal tersebut menghasilkan konklusi bahwa pandangan tentang realitas yang terkandung dalan al-Quran adalah benar dan bersumber dari Tuhan. Dengan demikian, Nabi Muhammad adalah nabi yang sesungguhnya".
Berdasarkan dari uraian-uraian tersebut, maka kami dalam makalah ini akan membahas tentang Wahyu al-Quran menurut William Montgomery Watt.
Biografi William Montgomery Watt
William Montgomery Watt lahir 14 Maret 1909 di Ceres, Fife, Skotlandia. Ia adalah seorang pakar studi-studi keIslaman dari Britania Raya, salah seorang orientalis, dan sejarawan utama tentang Islam di dunia Barat.
Semasa ia baru berusia 14 bulan, ayahnya yaitu Andrew Watt telah meninggal dunia. Jenjang pendidikannya ditempuh di berbagai tempat dari Skotlandia hingga Jerman. Ia mengawali jenjang pendidikannya di Akademi Larkhall, Scotland dari tahun 1914-1919, lalu melanjutkan ke George Watson College di Edinburgh dan Universitas Edinburgh dari tahun 1927-1930. Kemudian ia ke Balliol College, Universitas Oxford dari tahun 1930-1933, dan Universitas Jena (Friedrich-Schiller-Universitat) di Jerman pada tahun 1933.
Sekembalinya dari Jerman, Watt belajar di Universitas Oxford pada tahun 1938-1939, lalu kembali lagi ke Universitas Edinburgh dari tahun 1940-1943. Tidak lama kemudian, ia bekerja sebagai pemantau beberapa gereja di sekitar London dan Edinburgh. Ia adalah seorang yang bermazhab Episkopal di Gereja Episkopal Skotlandia (the Scottish Episcopal Church). Ia juga seorang pakar Bahasa Arab yang mengajar para uskup atau bishops, yaitu ketua pendeta Kristen aliran Anglikan di Bait al-Maqdis dari tahun 1943-1946.
Dalam hal kerohanian, Watt adalah pendeta pada Gereja Episkopal Skotlandia dan pernah menjadi spesialis bahasa Uskup Yerusalem antara tahun 1943-1946. Ia menjadi anggota gerakan ekumenisme "Iona Community" di Skotlandia pada1960. Selain itu, sebagai pendeta ia turut menjadi anggota Komunitas Iona (Iona Community) yang berupaya menyatukan aliran-aliran Kristen yang berpusat di Skotlandia pada tahun 1960. Ia menjabat sebagai ketua jurusan Bahasa Arab dan Pengkajian Islam di Universitas Edinburgh dari tahun 1947-1979. Pada saat yang sama, ia juga dilantik sebagai dosen tetap di sana pada tahun 1964, dan menjadi visiting professor di beberapa universitas luar negeri, seperti Universitas Toronto 1963 dan 1978, Colege de France di kota Paris pada tahun 1970, Universitas Georgetown di Washington pada tahun 1978-1979. Setelah mempertimbangkan keahliannya di bidang kajian Islam, ia menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Universitas Aberdeen.
Motivasi William Montgomery Watt dalam mengkaji Islam berawal dari sebuah penelitian, ketika ia bertindak sebagai seorang yang ahli dalam Islam dan bukan seorang yang ahli mengenai sejarah peradaban Barat. Itu berarti dalam membahas subyek yang didekatinya ia benar-benar berupaya untuk memahaminya bukan atas dorongan lain. Gagal atau tidaknya upaya untuk memahami Islam tersebut menjadi persoalan lain. Watt sangat bersimpati kepada Islam, dan hal ini terlihat dari buku-buku karyanya yang lebih obyektif dalam mengulas tentang Islam daripada orientalis lain sezamannya.
Setelah pensiun, ia diberikan gelar Profesor Emeritus dalam bidang Bahasa Arab dan Pengajian Islam di Universitas Edinburgh yakni sebuah penghormatan tertinggi bagi ilmuan. Gelar ini diberikan kepada Watt atas keahliannya dalam bidang Islamic Student. Dahulu dia adalah seorang dosen filsafat di Universitas Edinburgh. Beliau adalah peneliti terkenal dan karena itu ia memiliki karya-karya yang berhasil ia ciptakan.
Beliau sebagai ilmuwan yang banyak menulis dan mahir dalam banyak bidang ilmu, Watt menulis banyak karya, di antaranya adalah Free Will and Predestination in Early Islam (tesis, 1947), Muhammad at Mecca (1953), Muhammad at Medina (1956), Muhammad Prophet and Statesman (1961), Muhammad: Seal of the Prophets, Islamic Political Thought (1968), Bell's Introduction to The Qur'an (1970), Muhammad's Mecca (1988), Muslim-Christian Encounters: Perceptions and Misperceptions (1991), The Formative Period of Islamic Thought, Islamic Revelation in The Modern World (1969), Islamic Fondamentalism, Islam and Cristian Today (1992), dan lain-lain.
Watt dikenali sebagai orang bukan Islam yang paling depan dalam menerjemahkan ajaran Islam di Barat. Ia juga adalah salah seorang tokoh sarjana yang cukup berpengaruh di bidang Pengajian Islam, dan sering disebut oleh para sarjana Islam. Watt tertarik dengan Islam berawal dari bertemunya ia dengan mahasiswa dari Lahor yang menganut Ahmadiah Qadian yang sangat argumentatif, melalui inilah ia sadar bahwa dirinya tidak hanya berhadapan secara personal tetapi juga dengan seluruh sistem pemikiran klasik.
Adapun pendekatan W. M. Watt dalam mengulas tentang al-Quran dilakukan dengan pendekatan Historis-Fenomenologis. Hal ini menurutnya dilihat dari kegandaan sumber wahyu al-Quran, yaitu Tuhan dan Nabi Muhammad. Wahyu bersumber dari Allah tetapi diproduksi oleh Muhammad dalam konteks lingkungan dan sosio-religius (Yahudi dan Kristen).
Sebagian wartawan Arab dan beberapa media massa Islam menyebutnya sebagai Orientalis Terakhir (the Last Orientalist). Montgomery Watt meninggal di Edinburgh pada tanggal 24 Oktober 2006, pada usia 97 tahun.
Pandangan W. Montgomery Watt tentang Kenabian
Buku yang berjudul "Bell's Introduction to The Qur'an", sebenarnya merupakan karya Ricard Bell. Namun William Montgomery Watt memandang ada beberapa hal yang harus disempurkan atas karya tersebut. Dalam pengantar buku tersebut, Watt menegaskan bahwa buku tersebut adalah karya Bell. Dalam beberapa alinea, Watt tidak melakukan perubahan tetapi terkadang ia tidak segan-segan untuk mengkritisi pandangan Bell secara terus terang.
Klaim terhadap kenabian Nabi Muhamad SAW menuai berbagai kritikan pedas. Di Eropa abad pertengahan, terdapat konsepsi terinci tentang Nabi Muhamad sebagai nabi palsu, yang hanya berpura-pura telah menerima pesan dari Tuhan. Adapun untuk meluruskan propaganda dari bangsa Eropa dan umat Kristen tersebut hanya bisa dilakukan secara perlahan.
Watt dalam Bell's Introduction to the Qur'an mengungkapkan beberapa sarjana yang telah mengkritik terhadap kenabian Nabi Muhammad SAW, di antaranya:
1. Thomas Carlyle yang menertawakan Nabi Muhammad sebagai seorang penipu yang menjadi pendiri salah satu agama besar dunia.
2. Gustav Weil yang berusaha membuktikan kalau Nabi Muhammad SAW menderita penyakit ayan.
3. Aloys Sprenger yang mengusulkan ejekan tambahan bahwa Nabi Muhammad mengidap penyakit Hysteria.
4. Sir William Muir yang mempertahankan pendapat bahwa Nabi Muhammad sebagai nabi palsu.
5. Theodor Noldeke sembari menegaskan realitas inspirasi kenabian Nabi Muhammad dan menolak bahwa ia menderita penyakit ayan, namun ia memandang Nabi Muhammad sebagai penderita gangguan emosi tak terkendali yang membuatnya yakin bahwa Nabi Muhammad berada dibawah pengaruh Ilahi.
Di samping kritikan-kritikan para orientalis di atas terhadap kenabian Nabi Muhammad, ada pula beberapa orientalis yang menyakini akan kenabian Nabi Muhammad, seperti:
1. Frants Buhl yang menekankan pemaknaan kesejarahan yang bermakna luas dari gerakan keagamaan yang diinagurasi Muhammad.
2. Richard Bell yang berbicara tentang karakter praktis dan faktual dari kegiatan Nabi Muhammad pribadi dan bahkan sebagai seorang nabi.
3. Tor Andrae yang menelaah pengalaman Nabi dari sudut psikologi dan menemukan bahwa pengalaman kenabian tersebut benar-benar sejati dan Nabi Muhammad memiliki pesan kenabian bagi generasinya.
Menurut Watt, dari sekian pandangan di atas, khususnya beberapa kritik yang bersifat negatif, perhatian mereka lebih ditumpukan pada hadis tertentu daripada pada al-Quran sendiri. Sebagaimana yang dikritik adalah hadis tentang cara permulaan turunnya wahyu dalam Shahihain. Dikisahkan dalam hadis bahwa dalam situasi setelah menerima bisikan wahyu, Nabi Muhammad diyakinkan oleh Waraqah bin Naufal, seorang Kristen dan sepupu Khadijah agar melihat pengalaman-pengalaman tersebut seperti pengalaman para nabi di masa lampau. Hadis ini secara keseluruhan mungkin tidak dapat dipercaya tetapi dari al-Quran diperoleh kepastian bahwa sejak awal kaum muslimin telah memandang pengalaman-pengalaman Nabi Muhammad identik dengan sifat-sifat dasar para nabi terdahulu. Kisah semacam ini dalam al-Quran menunjukkan Nabi Muhammad memiliki leluhur spiritual yang terkemuka.
Selain itu, terlalu sedikit perhatian yang diberikan pada fakta bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang sehat jasmani maupun rohani. Hal ini karena meurut Watt, tidak masuk akal jika seorang yang menderita penyakit ayan, hysteria, atau gangguan emosi yang tidak terkendali bisa menjadi pemimpin aktif dalam ekspedisi-ekspedisi militer, atau pemandu yang berpandangan luas dan tenang dari suatu negara-kota dan suatu masyarakat keagamaan yang sedang berkembang.
Dalam masalah-masalah semacam ini prinsip yang seharusnya dipegang oleh sejarawan adalah data al-Quran dan hanya menerima hadis sepanjang selaras hasil kajian terhadap al-Quran. Dengan demikian konsepsi-konsepsi abad pertengahan sudah semestinya dikesampingkan, dan Nabi Muhammad harus dipadang sebagai seorang yang tulus serta telah mengemukakan secara jujur pesan-pesan yang diyakininya berasal dari Tuhan.
Lebih lanjut, William Montgomery Watt beranggapan bahwa pada Nabi Muhammad mempunyai kedalaman dari imajinasi kreatif dan gagasan-gagasan yang dilahirkan sebagian besar adalah benar dan baik. Khususnya terdapat pada satu soal yang nampaknya tidak sehat, gagasan bahwa wahyu atau hasil imajinasi kreatif itu lebih tinggi dari tradisi manusia biasa.
Jadi, menurut William Montgomery Watt, Nabi Muhammad adalah seorang yang imajinasi kreatifnya bekerja dalam tingkat yang paling dalam dan menghasilkan gagasan-gagasan yang relevan pada pertanyaan sentral keberadaan manusia, sehingga agamanya mempunyai himbauan yang tersebar luas, tidak hanya pada abadnya melainkan pada abad-abad sesudahnya. Tidak semua gagasan yang didakwahkannya benar dan tidak, akan tetapi rahmat Tuhan telah memungkinkan memberikan agama yang lebih baik pada jutaan manusia dari yang mereka punyai sebelum "mengakui tak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah".
Pandangan W. Montgomery Watt tentang Wahyu al-Quran
Al-Quran sebagaimana diyakini oleh mayoritas umat Islam merupakan wahyu Allah yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril sebagai kitab suci terakhir untuk dijadikan sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Semua umat muslim percaya bahwa wahyu itu benar-benar berasal dari Allah SWT karena Nabi Muhammad adalah seorang yang ummi yaitu tidak bisa baca tulis sehingga tidak mungkin mampu untuk mengarang al-Quran sendiri. Konsep wahyu tersebut berbeda dengan yang dipahami oleh orientalis, termasuk di dalamnya Watt.
Kata wahyu berasal dari bahasa Arab, ahwa dan wahy, yang telah menjadi istilah-istilah teknis teologi Islam untuk komunikasi pesan Ilahi atau pewahyuan kepada Nabi Muhammad SAW. Secara etimologi, kata wahyu ada beberapa pemaknaan, antara lain sebagai berikut:
Wahyu artinya memberi isyarat atau menunjukkan yaitu suatu isyarat cepat yang dilakukan dengan tangan. Hal ini sehingga wahyu bisa diartikan petunjuk yang diberikan dengan cepat yakni datang secara langsung ke dalam jiwa tanpa didahului jalan pikiran dan tidak bisa diketahui oleh seorang pun. Hal ini sebagaimana firman Allah:

"Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang." (QS. Maryam: 11).
Wahyu berarti membisikkan gagasan yakni menginformasikan sesuatu dengan sembunyi. Sesuai firman Allah berikut:

"Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." (QS. Al-An'am: 112).
Wahyu sebagai doktrin. Hal ini sebagaimana firman Allah:

"Katakanlah: "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: "Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa. Maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)". (QS. Al-Anbiya: 108).
Wahyu memiliki arti perintah. Hal ini seperti dalam firman Allah:

"Dan (ingatlah), ketika aku mewahyukan (memerintahkan) kepada pengikut Isa yang setia: "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku". mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)". (QS. Al-Maidah: 111).
Wahyu juga berarti ilham seperti disebutkan dalam firman Allah SWT:

"Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul." (QS. AL-Qashas: 7).
Selain makna diatas, wahyu berarti percakapan Ilahi dengan salah satu bentuk tertentu. Sebagaimana dalam firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Kami amat menginginkan bahwa Tuhan Kami akan mengampuni kesalahan Kami, karena Kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman. Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena Sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli". (QS. Asy-Syuara': 51-52).
Wahyu berdasarkan bentuk masdarnya, maka wahyu berarti petunjuk Allah yang diberikan kepada seseorang yang dimuliakan-Nya secara cepat dan tersembunyi.
Adapun secara terminologi wahyu terbagi menjadi dua arti. Pertama, dalam arti inzal dan al-ihhau artinya memberi wahyu. Kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi. Menurut istilah al-ihhau adalah pemberitahuan Allah kepada nabi-nabi-Nya tentang hukum, berita, dan cerita dengan cara yang samar tetapi meyakinkan bagi para nabi dan rasul bahwa itu benar-benar berasal dari Allah SWT. Kedua, wahyu dalam artian muhai biht yang diwahyukan, yakni al-Quran dan hadis nabi.
Dalam mendefinisikan wahyu, Watt berpendapat bahwa proses pewahyuan itu dilakukan melalui tiga variasi yaitu di balik tirai, mengirim utusan, atau dengan cara langsung dari tuhan yang memberikan wahyu kepada siapa yang dikehendaki. Pendapat ini didasarkan atas analisa Watt pada ayat berikut:

"Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana." (QS. Asy-Syura: 51).
Menurut W. Montgomery Watt, wahyu itu tidak hanya terbatas diberikan kepada nabi. Jika yang menerima itu adalah nabi maka wahyu tersebut sebagai sesuatu yang harus dilakukan secara praktis bukan dikatakan saja. Hal ini karena wahyu secara etimologi berarti "mengisyaratkan" melalui gharizah atau instink bagi binatang, misalnya Allah mewahyukan kepada lebah untuk mencari rumah. Analisa ini dapat merujuk kepada firman Allah:

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". (QS. An-Nahl: 68).
Jadi, pemahaman Watt tentang proses pewahyuan al-Quran dibagi menjadi dua rumusan.
Pertama, wahyu berarti perintah untuk berbicara dan bukan proses penerimaan wahyu dari Tuhan kepada dirinya.
Kedua, ketika proses bicara itu dilakukan oleh Nabi Muhammad ada isyarat yang disebut bayang-bayang (baik Tuhan atau malaikat) yang berasal dari luar ke dalam diri Nabi dan kemudian diserahkan kepada beliau untuk membahasakannya yaitu dengan memilih kata-kata yang tepat berdasarkan pemikirannya. Alasan Watt bahwa wahyu itu merupakan isyarat luar yang datang karena Nabi Muhammad sering menyendiri sehingga beliau sering mengikuti keputusannya sendiri. Hal ini diperkuat oleh Nabi SAW dengan banyaknya kata yang diucapkannya sehingga Watt juga merasa kebingungan dan susah payah menempatkan ayat-ayat sesuai dengan urutan turunnya wahyu.
Selanjutnya, Watt meragukan dengan perantara pewahyuan al-Quran karena Jibril hanya disebutkan dua kali dalam al-Quran dan keduanya merupakan ayat Madaniyyah. Bahkan tidak terdapat penegasan bahwa Jibril muncul dalam bentuk yang dapat dilihat sehingga pewahyuan itu tidak harus melalui perantara. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:

"Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 97).
Watt berpendapat bahwa proses pewahyuan itu hanyalah sebuah mimpi karena Nabi memperoleh wahyu dalam keadaan mimpi atau penglihatan rohani (dream of vision).
Selain itu, dengan adanya konsep nasikh mansukh mengindikasikan bahwa isyarat Tuhan dalam pengertian wahyu menyebabkan Nabi Muhammad lupa beberapa ayat, dan terhadap teks-teks ayat tertentu terdapat beberapa ungkapan tambahan dari Nabi Muhammad SAW.
Dalam karyanya yang berjudul A Short History, Watt menyatakan bahwa wahyu pertama yaitu Surat al-'Alaq merupakan perintah untuk membaca. Namun menurut Watt, iqra' tidak hanya berarti membaca tetapi juga bercerita.
Watt dalam satu sisi tidak menolak Islam yang fundamental, tetapi disisi lain dia menerapkan pendekatan Historisme yang bertentangan dengan keyakinan Islam. Wahyu hanya dalam bentuk makna, bukan dalam bentuk lafal. Adanya peran Nabi Muhammad dalam subtansi wahyu, menurutnya dimungkinkan terdapat kekeliruan dalam al-Quran seperti tentang penolakan penyaliban Yesus yang menurut Watt diambil Nabi Muhammad dari sekte Kristen Syiria yang keliru. Sebagaimana dalam al-Quran berikut:

"Dan karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa." (QS. An-Nisa: 157).
Watt berkesimpulan bahwa dengan keterlibatan Nabi Muhammad dalam subtansi wahyu, maka bisa terjadi kekeliruan dalam al-Quran bila kekeliruan seperti penolakan Yesus dihilangkan, maka Islam dan Kristen bisa bersatu.
Jadi, Watt mengakui bahwa al-Quran yang diterima oleh Nabi Muhammad itu merupakan firman Allah atas Nabi Muhammad dan ia tidak bisa mengarang firman Allah tersebut. Tetapi analisa Watt tidak berhenti sampai di sini, ia lebih lanjut berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad menerima pengetahuan dari konsepsi Bibel secara umum, dari lingkungan terpelajar Makkah seperti Waraqah bin Naufal, dan bukan dari bacaan atau hubungan orang-orang tertentu karena Nabi Muhammad tidak bisa baca-tulis (ummi) meskipun bisa jadi Injil dibacakan atau diceritakan kepada beliau sehingga Islam termasuk dalam tradisi Yahudi-Kristen, sebab ia muncul dalam lingkungan yang telah dimasuki oleh gagasan Bibel.
Kritik Sarjana Muslim
Dalam mendefinisikan wahyu, Watt berpendapat bahwa proses pewahyuan itu dilakukan melalui tiga variasi yaitu di balik tirai, mengirim utusan, atau dengan cara langsung dari tuhan yang memberikan wahyu kepada siapa yang dikehendaki. Selanjutnya, Watt meragukan dengan perantara pewahyuan al-Quran karena Jibril hanya disebutkan dua kali dalam al-Quran dan keduanya merupakan ayat Madaniyyah. Bahkan tidak terdapat penegasan bahwa Jibril muncul dalam bentuk yang dapat dilihat sehingga pewahyuan itu tidak harus melalui perantara. Selain itu, Watt juga berpendapat bahwa proses pewahyuan itu hanyalah sebuah mimpi karena Nabi memperoleh wahyu dalam keadaan mimpi atau penglihatan rohani.
Menanggapi tiga pendapat Watt tersebut, para sarjana Muslim mengemukakan bahwa variasi dalam penurunan wahyu tidak hanya terbatas dalam tiga variasi. Namun lebih dari itu, variasi dalam cara penurunan wahyu terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu melalui perantara Malaikat Jibril dan langsung tanpa perantara.
Melalui perantara malaikat, dalam variasi ini terdapat tiga proses yang terkenal yakni:
Malaikat Jibril datang menampakkan bantuknya yang asli sebagaimana Allah menciptakannya. Proses penurunan wahyu seperti ini jarang dan sedikit sekali terjadi. Cara ini seperti terjadi ketika Nabi SAW menerima wahu yang pertama, Surat al-'Alaq ayat 1-5.
Malaikat jibril datang menyerupai bentuk seorang laki-laki ataupun sahabat yang terkenal atau seorang 'Arabi, walaupun para sahabat-sahabat Nabi ataupun orang Quraisy tidak mengetahui namun Nabi SAW sendiri mengetahui bahwa orang itu adalah malaikat Jibril. Hal ini seperti terjadi ketika Nabi Muhammad menerima wahyu tentang Iman, Islam, Ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat.
Kedua cara di atas, membuktikan bahwa Malaikat Jibril pernah menampakkan diri baik menampakkan bentuknya yang asli maupun menyerupai bentuk seorang laki-laki, sahabat yang terkenal, atau seorang Arabi sehingga kecurigaan William Montgomery Watt yang menyatakan bahwa tidak terdapat penegasan mengenai Malaikat Jibril muncul dalam bentuk yang dapat dilihat itu dapat terbantahkan.
Malaikat Jibril datang dalam bentuk Malakiyahnya. Dalam proses penurunan wahyu ini, malaikat Jibril tidak dapat terlihat oleh mata tetapi kedatangannya disertai suara seperti gemerincingnya lonceng atau suara lebah. Sebagaimana yang diungkapkan dalam hadis berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
"Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Aisyah Ibu Kaum Mu'minin, bahwa Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada engkau?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat buatku, lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Dan terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku maka aku ikuti apa yang diucapkannya". Aisyah berkata: "Sungguh aku pernah melihat turunnya wahyu kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan keringat." (HR. Bukhari).
Tanpa perantara malaikat (langsung). Cara ini sebagaimana berikut:
Melalui mimpi yang benar, misalnya ketika turun wahyu tentang penyembelihan Nabi Ismail oleh ayahnya yaitu Nabi Ibrahim yang diuraikan dalam Surat al-Shaffat ayat 101-102.
Pendapat Watt memang benar tentang proses pewahyuan itu hanyalah sebuah mimpi karena Nabi memperoleh wahyu dalam keadaan mimpi atau penglihatan rohani. Tetapi, cara ini tidak berarti umum dan spekulatif. Hal ini karena proses pewahyuan itu beragam caranya seperti yang telah dipaparkan sehingga Nabi Muhammad bukanlah seorang ahli tenung atau sang pemuja mimpi seperti yang dikoar-koarkan oleh banyak orientalis dan terbukti mimpi itu bisa dibuktikan kebenarannya serta menjadi kenyataan.
Ilham atau penghujaman ke dalam hati yakni Allah atau malaikat yang ditugasi mengurusi wahyu membisikkan atau menghujamkan sesuatu yang dikehendaki Allah SWT ke dalam hati Nabi-Nya.
Allah berbicara langsung seperti turunnya wahyu di balik tabir. Hal ini terbagi dua bagian, yaitu:
Dalam keadaan terjaga seperti terjadi pada Nabi Muhammad pada malam Isra Mi'raj tentang perintah shalat lima waktu.
Dalam keadaan tidur.
Pengajaran Allah SWT terhadap para nabi melalui malaikat Allah yang bertugas khusus dalam menangani wahyu, yaitu malaikat Jibril.
Adapun tentang pemahaman Watt terhadap proses pewahyuan al-Quran yang dibagi menjadi dua rumusan.
Pertama, wahyu tersebut berarti perintah untuk berbicara dan bukan proses penerimaan wahyu dari Tuhan kepada dirinya.
Kedua, ketika proses bicara itu dilakukan oleh Nabi Muhammad ada isyarat yang disebut bayang-bayang (baik Tuhan atau malaikat) yang berasal dari luar ke dalam diri Nabi Muhammad dan kemudian diserahkan kepada Nabi Muhammad untuk membahasakannya yaitu dengan memilih kata-kata yang tepat berdasarkan pemikirannya. Alasan Watt bahwa wahyu itu merupakan isyarat luar yang datang karena Nabi Muhammad sering menyendiri sehingga beliau sering mengikuti keputusannya sendiri.
Para sarjana muslim mengkritik pendapat dari Watt bahwa proses pewahyuan al-Quran terbagi dalam tiga proses penurunan.
Pertama, eksistensi al-Quran yang tersimpan dan terpelihara dari kebathilan di Lauh al-Mahfudz. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

"Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh." (QS. Al-Buruj: 21-22).
Kedua, penurunan al-Quran dari Lauh al-Mahfudz ke Bait al-Izzah di langit dunia. Proses penurunan al-Quran tersebut sekaligus dan terjadi di bulan Ramadhan pada lailatul qadr. Sesuai firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan". (QS. Al-Qadr: 1).
Ketiga, penurunan al-Quran dari langit dunia kepada Nabi Muhammad SAW yang dibawa oleh Malaikat Jibril secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun. Sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." (QS. Asy-Syu'ara: 192-195).
Jadi, al-Quran berada dalam pemeliharaan Allah dan tidak mungkin dibahasakan oleh Nabi Muhammad karena al-Quran mencakup rahasia alam, cakrawala, jiwa, bahkan sesuatu yang terbetik dalam hati manusia. Tentu, hal ini tidak mungkin dipahami hanya oeh keterbatasan akal dan semua itu dapat terbukti setelah ada kemajuan ilmu seperti sekarang ini. Lantas, bagaimana mungkin rahasia-rahasia tersebut berasal dari Nabi Muhammad sendiri?
Menurut W. Montgomery Watt, wahyu itu tidak hanya terbatas diberikan kepada nabi. Jika yang menerima itu adalah nabi maka wahyu tersebut sebagai sesuatu yang harus dilakukan secara praktis bukan dikatakan saja.
Pendapat Watt mengenai wahyu itu tidak hanya terbatas diberikan kepada nabi, sesuai dengan pendapat mayoritas ulama. Hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Mukjizat
Mukjizat berasal dari bahasa Arabمعجزة yang artinya melemahkan, yaitu membuat sesuatu menjadi tidak mampu. Mukjizat merupakan sesuatu yang luar biasa sehingga manusia tidak mampu mendatangkan hal yang serupa. Menurut istilah, mu'jizat berarti sesuatu yang luar biasa dan terjadi dalam diri nabi atau rasul Allah SWT. Mukjizat bertujuan untuk membuktikan kenabian atau kerasulan seorang nabi atau rasul Allah SWT yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun, untuk melemahkan segala macam usaha dan alasan orang kafir serta menentang Islam menyeru kepada umat agar percaya akan keesaan Allah.
Unsur yang harus ada dalam mukjizat, antara lain:
a.    Kejadian luar biasa
b.    Tampak pada diri seorang nabi
c.    Ada tantangan dari kaum yang menyangsikan kedudukan seorang nabi
d.    Manusia tidak mampu menandingi hal yang luar biasa tersebut.
Lazimnya, nabi atau rasul menampakkan mukjizatnya hanya pada saat-saat yang sangat dibutuhkan, misalnya untuk membela diri atau menjawab tantangan orang- orang kafir. Dalam al-Quran, mukjizat biasanya disebutkan dengan kata-kata ayat atau burhan yang berarti bukti atau keterangan yang jelas. Allah SWT berfirman dalam Surat Asy-Syu'ara': 4

"Jika Kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, Maka Senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya".
Mukjizat yang diberikan oleh Allah antara lain sebagai berikut:
Nabi Ibrahim a.s
Mukjizat Nabi Ibrahim a.s. adalah tidak hangus ketika dibakar oleh Raja Namrud. Jika orang biasa dibakar dalam kobaran api dalam suhu 1700 C, tentu hangus terbakar dalam sekejap. Namun Nabi Ibrahim a.s. tidak terbakar sedikit pun, bahkan api terasa dingin oleh beliau. Allah berfirman:

"Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." (QS. al-Anbiya': 69).
b.  Nabi Muhammad saw.
Mukjizat Nabi Muhammad SAW diantaranya:
1)   Al-Quran sebagai wahyu dari Allah kepada Nabi SAW yang shalih li kulli zaman wa makan merupakan mukjizat terbesar.
2)    Celah-celah jari beliau dapat memancarkan air yang diminum para sahabatnya.
3)   Mi'raj ke Sidratul Muntaha dalam waktu yang singkat.
c.    Nabi Sulaiman a.s.
Kisah kehebatan Nabi Sulaiman a.s. dapat ditemukan dalam Surat Saba' dan Surat An-Nahl. Beliau adalah seorang nabi yang dapat berbicara dengan semua jenis binatang, termasuk dengan bangsa jin. Selain itu, beliau dapat mengendalikan angin. Beliau juga seorang raja bagi manusia dan hewan yang berhasil mengislamkan Ratu Bulqis yang sebelumnya menyembah berhala.
2.    Karamah
Karamah berasal dari bahasa arabكرم berarti kemuliaan, keluhuran, dan anugerah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengistilahkan karamah dengan keramat diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu diluar kemampuan manusia biasa karena ketaqwaanya kepada Tuhan.
Menurut ulama sufi, karamah berarti keadaan luar biasa yang diberikan Allah SWT kepada para wali-Nya. Wali ialah orang yang beriman, bertakwa, dan beramal shaleh kepada Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

"Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar". (Q.S. Yunus: 62-64).
Ulama' sufi meyakini bahwa para wali mempunyai keistimewaan, misalnya kemampuan melihat hal-hal ghaib yang tidak dimiliki oleh manusia umumnya. Allah SWT dapat memberi karamah kepada orang beriman, takwa, dan beramal shaleh menurut kehendaknya. Adapun karomah yang diberikan oleh Allah sebagaimana berikut:
Kejadian yang dialami seorang ahli ilmu pada masa Nabi Sulaiman a.s.
Ketika Nabi Sulaiman a.s. sedang duduk di hadapan para tentaranya yang terdiri atas manusia, hewan, dan jin. Beliau meminta kepada mereka mendatangkan singgasana Ratu Bulqis. Ada seorang yang berilmu berkata kepada Nabi Sulaiman a.s. menurut sebuah keterangan, orang yang berilmu itu bernama Asif. Perkataan orang berilmu tersebut diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya:

"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS. An-Naml: 40).
b.   Kejadian yang dialami Maryam binti Imran
Nabi Zakaria a.s. menemukan makanan setiap hadir di mihrab Maryam binti Imran. Allah berfirman:

"Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." (QS. Ali Imran: 37).
3.   Ma'unah
Ma'unah berarti pertolongan. Ma'unah adalah pertolongan yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang mukmin untuk mengatasi kesulitan yang menurut akal sehat melebihi kemampuannya. Ma'unah terjadi pada orang yang biasa berkat pertolongan Allah. Misalnya, orang yang terjebak dalam kobaran api yang sangat hebat, namun berkat ma'unah atau pertolongan Allah, ia selamat.
4.  Irhas
Irhas adalah kejadian luar biasa atau hal-hal yang istimewa pada diri calon nabi atau Rasul ketika masih kecil. Contohnya adalah Nabi Muhammad SAW selalu dinaungi awan sehingga tidak kepanasan saat melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam. Selain itu juga peristiwa yang terjadi pada diri Nabi Isa a.s. ketika beliau masih bayi dalam buaian ibunya, Maryam. Pada saat masih bayi, Nabi Isa dapat berbicara kepada orang-orang yang melecehkan ibunya. Pembicaraan Nabi Isa a.s. ketika masih bayi itu disebutkan dalam firman Allah:

"Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: "Bagaimana Kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan? Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". (Q.S. Maryam: 29-33).
Selanjutnya, William Montgomery Watt mengungkapkan bahwa wahyu itu hanya dalam bentuk makna, bukan dalam bentuk lafal.
Para sarjana muslim mengkritik argumentasi Watt dengan menyatakan bahwa wahyu itu lafal (bahasa) dan maknanya langsung dari Allah. Hal ini berbeda dengan hadis Nabi SAW yang memang bahasanya itu dari Rasulullah SAW sedangkan maknanya itu dari Allah SWT. Perbedaan antara al-Quran dan hadis yang dirumuskan oleh sarjana muslim yakni:
No. Al-Quran Hadis
1. Bahasa dan maknanya dari Allah Bahasanya dari Rasul dan maknanya dari Allah
2. Tidak boleh diriwayatkan maknanya saja Boleh diriwayatkan maksudnya saja
3. Lafal dan maknanya mukjizat Lafal dan makna hadis bukan mukjizat
4. Membaca al-Quran diberikan pahala dan merupakan ibadah Membaca hadis tidak merupakan ibadah
Berdasarkan tabel konsepsi perbedaan al-Quran dan hadis di atas, dapat dirumuskan bahwa wahyu al-Quran itu bahasa dan maknanya dari Allah sehingga apa yang dimaksudkan oleh Watt tentang wahyu hanya dalam bentuk maknanya saja bukanlah sebagai wahyu al-Quran tetapi merupakan hadis, yang lebih tepatnya Hadis Qudsi. Seperti yang telah diungkapkan oleh Abu al-Baqa dan Atthibbi bahwa Al-Quran adalah lafal dan maknanya dari Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW berupa wahyu yang jelas melalui perantara malaikat Jibril, sedangkan Hadis Qudsi ialah maknanya dikabarkan Allah dalam bentuk ilham atau mimpi lalu Rasul SAW menyampaikan kepada umatnya dengan kalimat buatan beliau sendiri.
Selanjutnya, adanya peran Nabi Muhammad dalam subtansi wahyu, menurutnya dimungkinkan terdapat kekeliruan dalam al-Quran seperti tentang penolakan penyaliban Yesus yang menurut Watt diambil Nabi Muhammad dari sekte Kristen Syiria yang keliru sehingga Watt berkesimpulan bahwa dengan keterlibatan Nabi Muhammad dalam subtansi wahyu, maka bisa terjadi kekeliruan dalam al-Quran bila kekeliruan seperti penolakan Yesus dihilangkan, maka Islam dan Kristen bisa bersatu.
Hal ini kemudian dijelaskan dalam Al-Quran:

"Dan karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa." (QS. Al-Nisa: 157).
Jika hanya mencari kesamaan isi al-Quran dengan kitab-kitab sebelum Islam sudah tentu akan ditemukan keselarasannya dengan mudah. Hal ini karena jika diingat bahwa al-Quran adalah penyempurna kitab-kitab sebelumnya, maka itu adalah wajar. Selain itu, kesamaan itu justru harus dianggap sebagai mukjizat al-Quran karena ternyata dapat merekam ajaran-ajaran yang ada dalam kitab sebelumnya dan terdapat ajaran-ajaran yang tidak terdapat dalam kitab-kitab terdahulu. Hal tersebut menunjukkan pula bahwa ajaran moral yang dibawa oleh al-Quran itu adalah universal dan sesuai dengan fitrah manusia. Argumentasi Watt yang mengungkapkan bahwa Islam adalah agama cangkokan dari Kristen sehingga Islam dan Kristen bisa bersatu. Hal ini jelas tidak logis karena tidak ada titik temu substansi ketauhidan Islam yang lebih menekankan pada monoteisme sedangkan Kristen yang lebih cenderung ajaran politeisme.
Adapun tentang pernyataan Watt bahwa Nabi Muhammad menerima pengetahuan dari konsepsi Bibel secara umum, dari lingkungan terpelajar Makkah seperti Waraqah bin Naufal karena Nabi Muhammad tidak bisa baca-tulis (ummi) meskipun bisa jadi Injil dibacakan atau diceritakan kepada beliau sehingga Islam termasuk dalam tradisi Yahudi-Kristen, sebab ia muncul dalam lingkungan yang telah dimasuki oleh gagasan Bibel.
Selain itu, menurut Watt, dari sekian pandangan tentang beberapa kritik yang bersifat negatif, perhatian orientalis lebih ditumpukan pada hadis tertentu daripada pada al-Quran sendiri. Sebagaimana yang dikritik adalah hadis tentang cara permulaan turunnya wahyu dalam Shahihain. Pemaknaan Watt terhadap hadis ini yang menurutnya menjadi kritik para orientalis sepertinya terjadi miss-perception. Hal ini dapat dilihat dalam redaksi hadis tersebut yaitu:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ
} اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ {
فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى
}يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ {
فَحَمِيَ الْوَحْيُ وَتَتَابَعَ تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ وَأَبُو صَالِحٍ وَتَابَعَهُ هِلَالُ بْنُ رَدَّادٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ وَقَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ بَوَادِرُهُ
"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, Telah menceritakan kepada kami dari Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair dari Aisyah -Ibu Kaum Mu'minin-, bahwasanya dia berkata: "Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua Hiro dan bertahannuts yaitu 'ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang seraya berkata: "Bacalah?" Beliau menjawab: "Aku tidak bisa baca". Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: "Bacalah!" Beliau menjawab: "Aku tidak bisa baca". Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: "Bacalah!". Beliau menjawab: "Aku tidak bisa baca". Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khawailidh seraya berkata: "Selimuti aku, selimuti aku!". Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: "Aku mengkhawatirkan diriku". Maka Khadijah berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim." Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul 'Uzza, putra sepupu Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waroqoh sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: "Wahai putra sepupuku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini". Waroqoh berkata: "Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waroqoh berkata: "Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu". Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah aku akan diusir mereka?" Waroqoh menjawab: "Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti (dimusuhi). Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku". Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatroh (kekosongan) wahyu. Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdullah Al Anshari bertutur tentang kekosongan wahyu, sebagaimana yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ceritakan: "Ketika sedang berjalan aku mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata: "Selimuti aku. Selimuti aku". Maka Allah Ta'ala menurunkan wahyu: (Wahai orang yang berselimut) sampai firman Allah (dan berhala-berhala tinggalkanlah). Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf dan Abu Shalih juga oleh Hilal bin Raddad dari Az Zuhri. Dan Yunus berkata; dan Ma'mar menyepakati bahwa dia mendapatkannya dari Az Zuhri." (HR. Bukhari).
Para sarjana muslim mengulas bahwa anggapan seorang Arab yang bernama Waraqah telah menjadi Nasrani. Waraqah ini adalah kerabat Khadijah dan Nabi yang mempunyai ilmu pengetahuan tentang Ahli al-Kitab darinya. Anggapan seperti ini tidaklah benar dan mereka telah mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.
Berdasarkan keterangan hadis di atas yang menggambarkan kejadian pada saat Rasulullah bertahannus di Gua Hira' dan menerima wahyu yang pertama. Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi mengalami ketakutan yang sangat luar biasa dan bergegas pulang menemui istrinya, Khadijah. Kemudian Rasulullah meminta untuk diselimuti dan beliau menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Khadijah. Mendengar cerita Rasulullah, Khadijah kemudian mengajak Nabi untuk menemui kerabatnya, yang bernama Waraqah. Lalu Waraqah berkata kepada Nabi bahwa itulah dia utusan kebaikan, penjaga wahyu Jibril yang dahulu turun kepada Nabi Musa. Kemudian Nabi berkata kepada Waraqah, "Apakah mereka akan mengeluarkanku?" Waraqah menjawab "Ya, tidak ada seorang pun yang membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali ia dimusuhi. Apabila saya mengalami hari-harimu, saya akan menolongmu dengan sekuat tenaga". Akan tetapi, usia Waraqah telah mendekati kematiannya dan wahyu belum juga turun.
Tidak ada suatu riwayatpun yang mengatakan bahwa Nabi telah mengadakan hubungan atau perjanjian sebelumnya dengan Waraqah. Bahkan Khadijah, istri Nabi yang mengenalkannya dengan Nabi. Rasulullah tidak pernah memperoleh informasi sedikitpun mengenai Ahli-Kitab dan juga tidak mengetahui sedikit pun tentang Waraqah sebelumnya. Waraqah merupakan kerabat Siti Khadijah yang beragama hanif, mampu memahami bahasa Arab dan Ibrani dengan baik, serta memilki pengetahuan tentang kitab-kitab terdahulu sehingga mengetahui informasi tentang kenabian Rasulullah SAW.
Riwayat yang menyatakan kehidupan Waraqah sampai menyaksikan misi Nabi Muhammad dan peperangan antara kaum muslimin dan kaum musyrikin adalah tidak benar dan termasuk riwayat yang syadz. Dengan demikian, tidaklah masuk akal pertemuan tersebut yang dijadikan sebagai sumber bagi informasi yang dibawa oleh kewahyuan Nabi Muhammad.
Jelaslah, bahwa hadis tersebut dalam menggambarkan bagaimana kronologi kenabian dan pewahyuan Nabi Muhammad SAW dan kejadian-kejadian sesudahnya yang telah banyak menuai kritik dari para orientalis. Hadis ini dapat membantah tuduhan orientalis terhadap kenabian dan pewahyuan Nabi Muhammad SAW.
Kelemahan dan Kelebihan
Setiap pandangan orientalis terhadap Islam baik itu berkaitan dengan masalah teks al-Quran, wahyu al-Quran, konsep-konsep al-Quran, maupun lainnya pasti terdapat pandangan yang diterima (terdapat unsur kelebihannya) atau ditolak (terdapat unsur kelemahannya). Demikian juga William Montgomery Watt dalam pandangannya tentang al-Quran mempunyai kelemahan dan juga kelebihan sebagai berikut:
Kelemahan
Adapun kelemahan dari pandangan W. Montgomery Watt ialah sebagai berikut:
W. Montgomery Watt terkesan ambigu dan inkonsisten dengan satu macam pendapat yang dianggapnya valid dalam melihat fenomena kewahyuan. Hal ini karena di satu sisi, ia menganggap bahwa proses kewahyuan itu adalah ekspresi internal Muhammad terhadap rangsangan atau isyarat yang datang dari luar lalu diverbalkan dengan bahasanya sendiri. Namun di sisi lain ia mengatakan bahwa dengan keberadaan Waraqah di kota Makkah mengindikasikan bahwa Muhammad sebetulnya mengembangkan konsepsi-konsepsi yang ada dalam Bible.
Ia menyamakan proses pewahyuan yang bersifat spiritual-transendental dengan ilham. Padahal keduanya ini berbeda. Jika wilayah pewahyuan itu hanya dialami oleh nabi dan rasul guna menyampaikan risalah ketuhanan sedangkan ilham bisa diperoleh oleh setiap manusia sesuai dengan ketulusan dan kebersihan hati. Lebih lanjut, W. M. Watt menyatakan bahwa wahyu itu diperoleh saat Nabi sedang dalam keadaan tidur. Pernyataan tersebut tidak didukung dengan fakta yang valid sebab ketika Nabi Muhammad sedang mencari hakikat kebenaran dengan bertahannus di gua Hira', kemudian tiba-tiba wahyu Allah turun dan terjadi dialektika pewahyuan itu. Nabi Muhammad terguncang jiwanya serta beliau ketakutan. Lalu Nabi SAW pulang dan meminta untuk diselimuti istrinya, Khadijah. Melihat apa yang terjadi pada suaminya, Khadijah lantas mengatakan, "Tidak, demi Alah, Tuhanmu tidak akan merendahkanmu….". Jika terjadi dalam mimpi, maka mustahil mengalami kronologi kejadian yang semacam ini. Hal ini juga dikuatkan oleh Shahihain, hadis dari Aisyah tentang bad'ul wahyi yang telah tersebut di atas.
Masih menurut Watt, ia mengungkapkan bahwa Islam adalah agama cangkokan dari Kristen. Hal ini jelas tidak logis karena tidak ada titik temu substansi ketauhidan Islam yang lebih menekankan pada monoteisme sedangkan Kristen yang lebih cenderung ajaran politeisme.
Kelebihan
Kelebihan dari pandangan W. Montgomery Watt ialah sebagai berikut:
Watt mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang sehat jasmani maupun rohani. Hal ini karena menurutnya, tidak masuk akal jika seorang yang menderita penyakit ayan, hysteria, atau gangguan emosi yang tidak terkendali bisa menjadi pemimpin aktif dalam ekspedisi militer, atau pemandu yang berpandangan luas dan tenang dari suatu negara-kota dan suatu masyarakat keagamaan yang sedang berkembang.
Watt dalam bukunya yang berjudul A Short History, ia mengakui bahwa al-Quran yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW merupakan firman Tuhan atas Nabi Muhammad dan ia tidak bisa untuk mengarang firman Tuhan tersebut sehingga Nabi Muhammad harus dipadang sebagai seorang yang tulus serta telah mengemukakan secara jujur pesan-pesan yang diyakininya berasal dari Tuhan. Namun Watt tetap mempertanyakan bahwa doktrin yang beredar dikalangan umat Islam dengan kebutahurufan Nabi Muhamad SAW menjadi tanda keorisinalitasan al-Quran. Menurutnya, doktrin tersebut lemah karena meskipun Nabi Muhammad tidak bisa membaca, bisa saja Injil dibacakan kepadanya atau diceritakan kepadanya yang diindikasikan oleh Waraqah yakni orang Makkah yang memahami secara mendalam tentang Injil.
Semua yang dinyatakan oleh William Motgomery Watt dapat dijadikan sebagai upaya untuk mengembalikan semangat umat Islam dalam melakukan kajian tentang Islam. Hal ini karena W. Montgomery Watt banyak menelorkan pandangan-pandangan dan kritiknya terhadap wahyu al-Quran sehingga menumbuhkan pandangan-pandangan yang berupaya untuk meng-counter pendapat Watt yang tidak sesuai. Tentunya dengan disertai teori dan pendekatan yang sama yakni bersifat empiris juga realistis bukan mengedepankan emosional semata.
Penutup
Pandangan Watt tentang kenabian yaitu Nabi Muhammad harus dipadang sebagai seorang yang tulus serta telah mengemukakan secara jujur pesan-pesan yang diyakininya berasal dari Tuhan. Sedangkan pemahaman Watt tentang proses pewahyuan al-Quran terbagi menjadi dua. Pertama, wahyu tersebut berarti perintah untuk berbicara dan bukan proses penerimaan wahyu dari Tuhan kepada dirinya. Kedua, ketika proses bicara itu dilakukan oleh Nabi Muhammad ada isyarat yang berasal dari luar ke dalam diri Nabi Muhammad dan kemudian diserahkan kepada Nabi Muhammad untuk membahasakannya. Selanjutnya, Watt meragukan dengan perantara pewahyuan al-Quran karena Jibril hanya disebutkan dua kali dalam al-Quran.
Salah satu yang menarik dari Watt ialah ia mengakui bahwa al-Quran yang diterima oleh Nabi Muhammad itu merupakan firman Allah atas Nabi Muhammad dan ia tidak bisa mengarang firman Allah tersebut. Tetapi analisa Watt berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad menerima pengetahuan dari konsepsi Bibel secara umum, dari lingkungan terpelajar Makkah seperti Waraqah bin Naufal.
Dari berbagai pandangan tersebut, para sarjana muslim melakukan kritik seperti variasi dalam cara penurunan wahyu terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu melalui perantara Malaikat Jibril dan langsung tanpa perantara jadi mereka membantah kecurigaan Watt terhadap perantara Malaikat Jibril. Para sarjana muslim mengkritik pendapat dari Watt tentang dua proses wahyu yang diserahkan kepada Nabi ubtuk membahasakannya padahal proses pewahyuan al-Quran terbagi dalam tiga proses penurunan yaitu al-Quran di Lauh al-Mahfudz, kemudian turun ke Bait al-Izzah, dan selanjutnya diturunkan ke dunia. Selanjtnya tentang pengetahuan dari konsepsi Bible dibantah dengan tidak ada suatu riwayatpun yang mengatakan bahwa Nabi telah mengadakan hubungan atau perjanjian sebelumnya. Bahkan istri Nabi, Siti Khadijah yang mengenalkannya dengan Nabi. Nabi tidak pernah memperoleh informasi sedikitpun mengenai Ahli-Kitab dan Nabi juga tidak mengetahui bahwa Waraqah adalah misionari yang mempropagandakan Nasrani.
Menurut penyusun makalah ini, William Montgomery Watt merupakan seorang yang simpatik terhadap Islam dan obyektif dalam mengungkap tentang Islamic Studies. Oleh sebab itu, W. Montgomery Watt dikategorikan sebagai orientalis dengan aliran Midle Ground, yakni orientalis yang mengakui kebenaran al-Quran namun di beberapa aspeknya juga menolak terhadap al-Quran. Sebagaimana pandangan Watt terhadap kenabian dan kewahyuan al-Quran serta kritik yang ia tawarkan tidak terlalu menyimpang dari mainstream pendapat mayoritas akademisi ilmu-ilmu al-Quran. Hanya saja memang terdapat beberapa pandangannya yang dibutuhkan upaya counterisasi dari para akademisi ilmu al-Quran untuk membantah pandangannya yang kurang tepat dengan teori dan pendekatan yang bersifat empiris dan realistis.
Daftar Pustaka
Al-Azhar. 2012. Aqidah Akhlaq Mts. Gresik: Putra Kembar Jaya.
Al-Wahid, Abd. 1994. Islam and Orientalism. Diterjemahkan oleh Machnun Husein. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Anwar, Abu. 2002. Ulumul Qur'an Sebuah Pengantar. Pekanbaru, Amzah.
Cf. Norman Daniel. 1960. Islam and the West: the Making an Image. Edinburgh: The University Press.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Fazlur Rahman. 1984. Islam. Bandung: Pustaka Salman.
Haris, Munawir, dkk. 2007. Orientalisme al-Qur'an dan Hadis. Yogyakarta: Nawesea Press.
Katsir, Ibnu. 2007. Kisah Para Nabi. Jakarta: Pustaka Azzam.
Manna al-Qaththan. 1975. Mabahits fi Ulum al-Qur'an. Riyadh: Mansyurat al-Ashri al-Hadis.
Mashuri, Sirajuddin Iqbal dan Fudlali. 1993. Pengantar Ilmu Tafsir. Bandung: Angkasa.
Masyhur, Kahar. 1992. Pokok-Pokok Ulumul Qur'an. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Rahman, Taufik. 2001. Studi al-Qur'an al-Karim. Bandung: Cv. Pustaka Setia.
Ridla, Rasyid. 1983. Wahyu Ilahi kepada Muhammad. Diterjemahkan Josep SD. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sari, Muliyana dan Elis Maryanti. 2010-2011. Kritik W. Montgomery Watt atas Pengalaman Kenabian Muhammad dalam Kajian Orientalis terhadap al-Quran dan Hadis. Yogyakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Syuhbah, Syeikh Muhammad bin Muhammad Abu. 1992. al-Madkhal Li Dirasat al-Qur'an al-Karim. Kairo: Maktabah As-Sunnah.
Thahir, Lukman S. 2003. Studi Islam Interdisipliner: Aplikasi Pendekatan Filsafat, Sosiologi dan Sejarah. Yogyakarta: Qirtas.
Watt, W. Montgomery. 1969. Islamic Revolution in the Modern World. Edinburgh: The University Press.
_____________________. 1970. Bell's Introduction to The Qur'an. Edinburgh: The University Press.
_____________________. 1972. Islam dan Peradaban Dunia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
_____________________. 1983. Islam and Cristianity Today: A Contribution to Dialogue. London, Boston: Routledge & Kegan Paul.
_____________________. 1995. Richard Bell's: Pengantar Studi al-Quran. Diterjemahkan oleh Taufik Adnan Amal. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
_____________________. 2002. Islam. Terjemahan dari A Short History. Yogyakarta: Jendela.
Zarkasyi, Hamid Fahmy. April 2011. "Tradisi Orientalisme dan Framework Studi al-Quran". Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam. 7 (1), 13.


Download Wahyu Al-Quran menurut William Montgomery Watt.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Wahyu Al-Quran menurut William Montgomery Watt. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon