December 01, 2016

TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG SEJARAH DAN KISAH DALAM AL-QUR'AN MAKALAH


Judul: TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG SEJARAH DAN KISAH DALAM AL-QUR'AN MAKALAH
Penulis: Nanik Maningrum


TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG SEJARAH DAN KISAH DALAM AL-QUR'AN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir
Mata Kuliah : Tafsir
1590675202565Dosen Pengampu : Nadhifah, M.SI
Disusun :
Nanik Maningrum (113411090)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUANUNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGOSEMARANG2014
Pendahuluan
Latar Belakang
Al-Qur'an membahas mengenai pokok-pokok bahasan yaitu mengenai akhlak, janji dan ancaman, aqidah, ibadah, sejarah dan kisah. Al-Qur'an menganjurkan untuk mempelajari dan memahami sejarah dan kisah pada zaman dahulu serta mampu memperoleh ilmu dan hikmahnya. Dengan sejarah kita dapat melihat dengan jelas peninggalan umat-umat terdahulu, sehingga kita dapat memahami dan menghayati peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman dahulu melalui bacaan atau pelajaran sejarah dan Al-Qur'an juga ikut menjelaskan sejarah-sejarah zaman orang-orang terdahulu.
Allah menurunkan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW melalui Jibril AS sebagai mukjizat yang terbesar. Salah satu isi pokok ajarannya adalah mengenai sejarah dan kisah umat terdahulu. Keterangan tentang sejarah dan kisah umat terdahulu didalam kitab Al-Qur'an tentunya memiliki tujuan. yaitu merupakan sebagai petunjuk/pelajaran bagi umat islam yang selanjutnya agar dapat mengambil hikmah dari peristiwa yang sudah terjadi dimasa lalu. Sehingga dimasa sekarang umat manusia khususnya umat islam tidak terjerumus hal-hal yang tidak baik
Pada makalah ini, pemakalah akan memaparkan secara rinci ayat-ayat tentang sejarah dan kisah.
Rumusan Masalah
Apakah pengertian sejarah dan kisah?
Bagaimana ayat-ayat tentang sejarah dan kisah dalam Al-Qur'an?
Apakah macam-macam kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an?
Pembahasan
Pengertian kisah dan sejarah
Secara Etismologis, Kata sejarah secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah disebut tarikh (تاريخ ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah waktu atau penanggalan. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu atau orang pandai. Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia. Kata lain yang mendekati acuan tersebut adalah Geschichte yang berarti sudah terjadi.
Sejarah (bahasa Yunani: ἱστορία, historia, yang berarti "penyelidikan, pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian") adalah studi tentang masa lalu, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia. Dalam bahasa Indonesia sejarah babad, hikayat, riwayat, atau tambo dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah.
Pengertian Sejarah berdasarkan para ahli:
Moh. Yamin : Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.
Ibnu Khaldun (1332-1406): Sejarah didefinisikan sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu.
R. Moh. Ali :Moh. Ali dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, mempertegas pengertian sejarah sebagai berikut:
Jumlah perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian, atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian, dan atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita
Ayat-ayat tentang sejarah dan kisah dalam Al-Qur'an
a.    Q.S Ali Imron(3): 137

Artinya:"Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)."
Asbabun Nuzul
Sunnah Allah, artinya ketentuan yang berlaku, bahwa yang hak pada akhirnya akan menang dan yang bathil akan kalah. Secara umum ayat ini masih dalam rangka uraian tentang peperangan Uhud (yang dimulai dari ayat 121) mengenai kejadian-kejadian yang penting dan sikap orang-orang kafir terhadap orang-orang mukmin yang berakhir dengan kemenangan orang-orang mukmin, berkat keimanan dan kesabaran dalam menghadapi segala macam bahaya dan rintangan untuk mempertahankan dan menegakkan kebenaran.
Tafsir
Pengertian ayat di atas adalah bahwa kehendak Allah pada makhluk-Nya berjalan sesuai dengan Sunnatullah yang maha bijaksana. Barang siapa berjalan pada sunnah tersebut maka akan berhasil, sekalipun ia seorang mulhid atau watsani. Dan siapa saja menyimpang darinya akan rugi, meskipun ia seorang Nabi atau shiddiq.
Berdasarkan pengertian ini, tidak mengherankan jika kaum Muslimin mengalami kekalahan dalam perang Uhud, dan kaum musyrikin bisa mendekati Nabi SAW., bahkan sempat melukai beliau dan merontokkan giginya, serta menjerumuskannya ke dalam lubang. Yang diakibatkan karena kaum muslimin saat itu berada dalam dua kondisi, yaitu khawatir dan penuh harap.
Munasabah
Adapun hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 135 dan 136, sebelumnya menurut Ibnu Ar Razi ialah: setelah Allah SWT menjanjikan untuk memberikan ampunan dan surga kepada orang yang taat dan orang yang bertaubat, maka pada ayat ini Allah menyebutkan hal-ikhwal ummat yang taat dan yang tidak taat pada abad-abad yang lampau supaya orang-orang mukmin mengambil i'tibar dan pelajaran daripadanya.
Pada ayat 137 ini, Allah menerangkan bahwa sunnahNya (ketentuan yang berlaku) terhadap makhlukNya, semenjak umat-umat dahulu kala sebelum umat Nabi Muhammad SAW, tetap berlaku sampai sekarang. Dan Allah menyuruh kita menyelidiki dan memperhatikan sebab-sebab ditimpakannya azab kepada orang-orang yang mendustakan kebenaran.
Adapun selanjutnya dalam ayat 138 menjelaskan bahwa apa yang tersebut pada 137 adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang bertakwa.
b.   Q.S Yusuf (12):111

Artinya: "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman."
1.    Tafsir
Kata 'ibrah merupakan Akar kata yang terdiri dari ('ain-ba'-ro') mempunyai arti berlalu, melalui, melampaui, menyeberangi dan lain sebagainya. Ungkapan mi'bar adalah tempat di pinggir kaliyang digunakan untuk menyebrangi lkali tersebut. Air mata disebut 'abrah karena ia meleleh dan mengalir dari kelopak mata. Jika dikatakan "abbartur ad-dananir" artinya "aku menimbang-nimbang dinar itu satu demi satu". Dari sini muncul ungkapan 'ibrah atau i'tibar yang sering kali diterjemahkan dengan mengambil pelajaran dai peristiwa masa lalu karena seseorang yang mengambil pelajaran berarti dia akan membandingkan antara peristiwa masa kini denagn peristiwa masa lalu, sebagaimana orang yang akan menyebrangi sungai, dia akan melihat tempat penyeberangan yang kedua. Atau se4bagaimana seseorang yang membandingkan satu dinar dengan dinar yang lain ketika menukar.
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa semua kisah nabi-nabi, terutama Nabi Yusuf AS bersama ayah dan saudara-saudaranya , adalah pelajaran bagi orang-orang yang memiliki akal. Sedangakan orang yang lalai yang tidak menggunakan akal pikirannya untuk memahami kenyataan yang ada, maka kisah nabi tersebut tidak akan bermanfaat baginya.
2.    Munasabah
Munasabah ayat 111 dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 110, bahwa ayat 110 menjelaskan tentang kisah nabi yang mendapat cobaan dari Allah dan pertolongan Allah kepada mereka. Pertolongan Allah akan datang ketika beliau (para Nabi) telah mencapai puncak kesusahan dalam menanggung cobaan tersebut. Sedangakan ayat 111, sebenarnya memiliki keterkaitan dengan seluruh ayat-ayat dalam surat yusuf. Surat yusuf menceritakan tentang kisah nabi Yusuf, dan pada ayat terakhir ini menjelaskan bahwa kisah-kisah nabi Yusuf tersebut memilki banyak kandungan pembelajarn bagi kehidupan selanjutnya, setelah nabi Yusuf.
c.    Q.S Al-Isro' (17): 77

Artinya : "(Yang demilian itu) merupakan ketetapan bagi para rosul Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan tidak akan engkau dapati perubahan atas ketetapan Kami."
Asbabun Nuzul
Diriwayatkan oleh abu Syaikh Ibnu Hayyan al-Ansari dari Sa'id bin Jubair bahwa Nabi Muhammad SAW pada suatu kali mengusap Hajar Aswad dalam tawaf, lalu dilarang oleh orang- orang Quraisy. Mereka berkata: "Kami tidak akan mengizinkan kamu menciumnya sebelum datang kepada tuhan –tuhan kami". Nabi berkata dalam hatinya, "Apakah salahnya jika aku mengunjungi tuhan – tuhan mereka, bila sesudahnya mereka membiarkanku mencium Hajar Aswad. Allah mengetahui motivasiku mencium tuhan – tuhan mereka". Akan tetapi Allah tidak mengizinkan Nabi berbuat demikian, Jilalu kepada beliau diturunkannya ayat ini.
Ibnu Ishak, Ibnu Mardawaih, dan lain – lainnya meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, bahwa Umayyah bin Khalaf, Abu Jahal, dan beberapa orang pemuka suku Quraisy berkata, "Mintalah berkah tuhan – tuhan kami, kami akan beramai – ramai masuk agamamu". Rasulullah SAW sangat kecewa bila kaumnya menjauh darinya, karena beliau menginginkan mereka semua masuk Islam Rasulullah sangat sedih, maka turunlah ayat – ayat ini.
2.      Tafsir
Istilah (سنة الله) sunnatullah, dari segi bahasa terdiri dari kata "sunnah" dan "Allah". Kata سنة sunnah antara lain berarti "kebiasaan". Sunnatullah adalah kebiasaan-kebiasaan Allah dalam memperlakukan masyarakat. Dalam alQur'an kata sunnatullah dan yang semakna dengannya seperti sunnatuna, sunnatul awwalin, terulang sebanyak tiga belas kali. Kesemuannya berbicara dalam konteks kemasyarakatan, sebagai contoh dapat dibaca QS. Al-Anfal (8): 38, al-ahzab (33):38, dan ghafir (40): 85. Perlu diingat bahwa apa yang dinamai hukum-hukum alam pun adalah kebiasaan-kebiasaan yang dialami manusia. Dan dari ikhtisar pukul rata statistik tentang kebiasaan-kebiasaan itu, para pakar merumuskan hukum-hukum alam. Kebiasaan itu dinyatakan Allah sebagai tidak beralih (QS. Al-Isra (17): 77) dan tidak pula berubah (QS. Al-fath:23). Karena sifatnya demikian, ia dapat dinamai juga dengan hukum-hukum kemasyarakatan atau ketetapan-ketetapan Allah terhadap situasi masyarakat. Dahulu para pakar tidak menyadari bahwa ayat ini berbicara tentang salah satu hukum kemasyarakatan sehingga hukum-hukum tersebut belum lagi populer/diketahui. Karena itu, ada yang menganggap bahwa firman-Nya diatas yang menyatakan "Tidak akan tinggal sepeninggalmu" berarti mereka akan mati.
Ayat diatas pada hakikatnya berbicara tentang sunnatullah/ hukum-hukum kemasyarakatan sebagai bunyi lanjutannya "Dan tidak akan engkau dapati perubahan bagi sunnah/ketetapan Kami itu" karena itu kalimat "Sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja", tidak boleh dipahami sebagai kematian orang-orang tetapi kematian sistem/orde masyarakat. Orang-orang yang hidup dalam masyarakat tersebut tetap bertahan hidup, tetapi sistem kemasyarakatan dan pandangan jahiliah yang mereka anut menurut ayat yang ditafsirkan ini sebentar lagi akan runtuh. Dan ini terbukti kebenarannya setelah 10 tahun dari hijrah rasul saw dari Mekah. Ayat ini merupakan salah satu bukti bahwa alQur'an adalah kitab pertama yang menjelaskan hukum-hukum kemasyarakatan dan bahwa disamping ajal perorangan ada juga ajal bagi masyarakat.
3.      Munasabah
Dalam ayat – ayat yang lalu, Allah SWT menjelaskan keingkaran manusia yang tidak mau beriman padahal nikmat Allah begitu besar, baik yang terdapat di alam raya ataupun yang terdapat pada dirinya, padahal fitrah manusia itu beragama tauhid. Hal ini tampak ketika mereka ditimpa malapetaka yang dahsyat, mereka memohon perlindungan hanya kepada Allah. Akan tetapi, setelah terlepas dari malapetaka itu, mereka tidak mau berterima kasih pada Zat yang menolongnya, malah menyembah tuhan-tuhan yang lain yang mereka persekutukan dengan Allah. Dalam ayat-ayat ini, Allah swt mengungkapkan bagaimana keingkaran kaum musyrikin Mekah kepada seruan Rasulullah. Mereka bukan hanya menolak diajak kembali kepada agama tauhid, bahkan memusuhi Nabi Muhammad dan kaum Muslimin serta berusaha mengusir mereka dari bumi Mekah.
d.         Q.S Thaha : 99

Artinya : Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur'an).
1.    Tafsir
Pada ayat ini Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa kisah-kisah yang diberitakan pada ayat-ayat yang lalu seperti kisah Musa AS bersama Firaun dan Samiri itu, demikian pula kisah-kisah nabi sebelunya patut menjadi contoh dan teladan baginya dalam menghadapi kaumnya yang ingkar dan sangat durhaka. Karena memang demikianlah keadaan setiap rasul walaupun telah diturunkan kepadnya kitab-kitab dan mu'jizat-mu'jizat untuk menyatakan kebenaran dakwahnya, namun kaumnya tetap saja ingkar dan berusaha sekuat tenaga menentang seruannya dan tetap memusuhi bahkan ingin membunuhnya untuk melenyapkannya sehingga tidak terdengar lagi suara kebenaran yang disampaikannya.
2.    Munasabah
Pada ayat sebelumnya Allah telah menerangkan kisah Nbi Musa AS. bersama Firaun dan Samiri, dua pemimpin yang kafir dan durhaka, ini merupakan pengalaman pahit yang biasa diderita oleh setiap Rosul dan orang-orang yang berusaha menegakkan kebenaran dan meninggikan agama Allah. Maka pada ayat-ayat ini Allah menerangkan kepada Nabi Muhammad SAW kisah para nabi sebelumnya sebagai peringatan bagi umat manusia dan hiburan yang dapat melenyapkan kesedihan yang bersemi dalam hati Nabi karena sikap kaumnya yang tetap saja ingkar dan tidak mau menerima petunjuk-petunjuk Allah yang telah disampaikannya, ditambah lagi dengan penganiayaan dan cemoohan yang dilontarkan mereka atas dirinya. Jadi apa yang diderita oleh Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah-Nya telah dirasakan pula oleh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum beliau.
e.    Q.S Ar-Rum (30) : 42

Artinya: Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."
1.    Asbabun Nuzul

Katakanlah hai rasul, kepada orang-orang musyrik dari kalangan kaummu itu, lakukanlah perjalanan ke berbagai negeri, lalu lihatlah dan perhatikanlah tempat-tempat tinggal orang-orang yang kafir kepada Allah sebelum kalian, karena mereka rela mendustakan rasul-rasulNya. Bagaimanakah Kami telah membinasakan mereka dengan azab Kami, kemudian Kami jadikan mereka sebagai pelajaran buat orang-orang yang sesudah mereka?
Selanjutnya Allah menjelaskan penyebab yang mengakibatkan mereka dibinasakan oleh azab itu. Dia berfirman:

Azab yang telah menimpa mereka itu sebagai pembalasan yang setimpal dari kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Tuhan mereka, dan kedustaan mereka terhadap rasul-Nya.
2.    Tafsir
Ayat ini merupakan peringatan bagi kaum musyrik Mekkah bahwa nasib mereka sama dengan nasib kaum musyrik sebelum mereka, azab serta kehancuran melanda mereka karena tak beriman kepada Allah. Di sini kaum musyrik disuruh mengadakan riset di atas bumi ini serta melihat ke tempat-tempat kaum yang telah mengingkari dan mendurhakai rasul-rasul-Nya. Karena itu Allah telah menghancurkan mereka dengan azab-Nya. Hal itu hendaknya menjadi pelajaran bagi kaum sesudahnya.
Orang-orang yang dihancurkan oleh Allah itu kebanyakan terdiri atas kaum musyrik dan sesat. Mereka sedikit sekali yang beriman kepada Allah, dan tak mau menerima seruan rasul-rasulNya, seperti kaum Nuh as, kaum Ibrahim as, kaum Ad, Kaum Saleh as, kaum Syu'aib as, kaum Lut as dan lain-lain. Setiap ada siksaan, maka Allah hanya menghancurkan kaum musyrik yang sesat itu, dan melepas kaum yang beriman yang sedikit jumlahnya.
3.    Munasabah
Adapun hubungan ayat ini dengan ayat 41 yaitu Allah menjelaskan bahwa timbulnya kerusakan di dunia sebagai akibat dari perbuatan tangan manusia sendiri. Lalu Allah memberikan petunjuk kepada mereka, bahwa orang-orang sebelum mereka pernah melakukan hal yang sama seperti apa yang telah dilakukan oleh mereka. Akhirnya mereka tertimpa azab dari Allah, sehingga mereka dijadikan pelajaran buat orang-orang sesudahnya.
Sedangkan hubungan antara ayat 42 dan 43, dijelaskan bahwa Allah melarang orang kafir tetap pada kekafirannya, karena akan menimpa atasnya azab yang pedih dariNya, selanjutnya pembahasan itu diiringi dengan perintahNya yang ditujukan kepada rasulNya dan orang-orang yang mengikuti jejaknya, hendaknya mereka tetap teguh di dalam memegang apa yang ada pada mereka. Yaitu tetap beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.
3.Macam-macam kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an
Manna' Kholil Khattan menyebutkan macam-macam kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an:
Pertama, kisah-kisah para Nabi dan segala hal yang menyangkut perjuanganyya. Seperti Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Muhammad SAW.
Kedua, kisah-kisah yang berhubungan dengan masa lalu dan orang-orang yang belum bisa dipastikan kenabianyya. Misalnya: kisah beribu-ribu orang yang pergi dari kampungnya karena takut mati, kisah Talut dan Jalut, dua orang putra Adam, Asbhabul Kahfi, Zulkarnain, dll
Ketiga, kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi ada Nabi Muhammad SAW, seperti perang badar, perang uhud, perang Hunain, perang Ahzab, tentang Isra' dan Mi'raj dll. (Manna' Khalil al Qattan, 1998:436).
Kesimpulan
Secara Etismologis, Kata sejarah secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah disebut tarikh (تاريخ ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah waktu atau penanggalan. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu atau orang pandai. Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia.
Manna' Kholil Khattan menyebutkan macam-macam kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an:
Pertama, kisah-kisah para Nabi dan segala hal yang menyangkut perjuanganyya. Seperti Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Muhammad SAW.
Kedua, kisah-kisah yang berhubungan dengan masa lalu dan orang-orang yang belum bisa dipastikan kenabianyya. Misalnya: kisah beribu-ribu orang yang pergi dari kampungnya karena takut mati, kisah Talut dan Jalut, dua orang putra Adam, Asbhabul Kahfi, Zulkarnain, dll
Ketiga, kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi ada Nabi Muhammad SAW, seperti perang badar, perang uhud, perang Hunain, perang Ahzab, tentang Isra' dan Mi'raj dll. (Manna' Khalil al Qattan, 1998:436)
Penutup
Demikianlah makalah yang dapat penulis sajikan. Semoga makalah ini mendatangkan manfaat bagi pembaca dan juga penulis sendiri. Penulis sangat menyadari, masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan maupun pembahasan. Oleh karena itu, demi perbaikan lebih lanjut, penulis terbuka terhadap kritik dan saran dari pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah, diakses ada tanggal 29-12-2014, pukul 02:07PM
Departemen Agama RI.1990.Al-Qur'an Dan Tafsirnya Jilid II.Yogyakarta: PT.Dana Bhakti Wakaf
Ahmad Musthafa Al-Maraghi.1986.Tafsir Al-Maraghi 4.Semarang: PT.Toha Putra
Dapartemen Agama RI. 2010.Al Qur'an dan tafsirnya (edisi disempurnakan).Jakarta : Lentera Abadi.
Kementerian Agama RI.2010.Al Qur'an dan tafsirnya Jilid V.Jakarta : Lentera Hati.
Departemen Agama RI.1990.Al-Qur'an Dan Tafsirnya Jilid VII.Yogyakarta: PT.Dana Bhakti Wakaf
Kholis,Nur.2008.Pengantar Studi Al-Qur'an dan Al-Hadits Cet.1.Yogyakarta:TERAS


Download TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG SEJARAH DAN KISAH DALAM AL-QUR'AN MAKALAH.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG SEJARAH DAN KISAH DALAM AL-QUR'AN MAKALAH. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon