December 31, 2016

Resume Landasan Pendidikan


Judul: Resume Landasan Pendidikan
Penulis: Fauzan Mukarrom


PENGERTIAN PENDIDIKAN

ditulis oleh: Finfin Triandini (1403159), Hartati (1406492), Hayatun Nufus (1406557), Rima Septiana (1401820), & Rizka Juniarti Pratiwi (1400499).


Pendidikan menurut sistem adalah suatu keseluruhan yang terpadu dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan melaksanakan fungsi-fungsi tertentu dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Menurut pendapat ahli: pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan dalam suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.
Menurut disiplin ilmu : Pendidikan sebagai ilmu yaituperenungan tentang pendidikan, dalam arti luas ilmu pendidikan yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktek pendidikan.
Karakteristik pengertian pendidikan makna luas,sempit, dan luas terbatas menurut Redja Mudyahardjo (2001) gambaranya sebagai berikut :
No. Karakteristik Pengertian Pendidikan Makna Luas Sempit Luas Terbatas
1. Masa Pendidikan Berlangsung seumur hidup Berlangsung dalam setiap batas-batas tertentu
Berlangsung seumur hidup, tetapi pada saat-saat tertentu
2. Lingkungan Pendidikan Berlangsung dalam segala lingkungan hidup
Berlangsung secara khusus
Berlangung dalam sebagian dari lingkungan hidup
3. Bentuk Pendidikan Teretang dari bentuk-bentuk yang misterius atau tak sengaja Isi pendidikan tersusun secara terprogram berbentuk pendidikan formal, nonformal,dan informal.
4. Tujuan Tujuannya pendidikan tidak terbatas.
Tujuan pendidikan terbatas pada pengembangan kemampuan tertentu. Tujuan pendidikan menunjang terhadap pencapaian
tujuan hidup.
Pendidikan merupakan suatu yang ilmiah, karena dalam penemuan dan pengembangannya memerlukan berbagai metode ilmiah. Sebagai suatu metode ilmu pengetahuan, penelitian pendidikan memiliki teori-teori, pendekatan, dan prinsip-prinsip untuk digunakan dalam penemuan ilmu pengetahuan.
Dalam pengertian sempit, pendidikan hanyalah bagi mereka yang menjadi peserta didik (siswa/mahasiswa) dari suatu lembaga pendidikan formal (sekolah/perguruan tinggi). Di dalam Undang- undang No. 2 tahun 1989 pasal 3 dijelaskan fungsi pendidikan nasional di Indonesia adalah "Mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesiadalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional". Fungsi pendidikan nasional adalah berusaha memerangi segala kekurangan, keterbelakangan, dan kebodohan serta memantapkan ketahanan nasional, meningkatkan rasa persatuan dan kesatuanberlandaskan kebudayaan bangsa dan ke Bhineka Tunggal Ika-an.Karena sistem pendidikan merupakan sistem terbuka, maka sistem pendidikan mengambil masukan (input) dari masyarakat dan memberikan hasilnya/luaran (out put) kepada masyarakat. Sistem pendidikan memiliki ketergantungan kepada sistem-sistem lainnya, dan terdapat saling hubungan atau saling pengaruh antar sistem pendidikan dengan sistem-sistem lainnya yang ada di dalam masyarakat.Pendidikan dikatakan berhasil apabila dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, dikatakan berhasil apabila seluruhnya atau setidak nya 85% anak terlibat secara aktif baik fisik mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Disamping menunjukkan kegiatan belajar yang tinggi semangat yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri. Dari segi hasil pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri anak seluruhnya atau setidaknya 85%.LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN

ditulis oleh: Erwin Prinanda, Firda Khoirunisa (1403862), Hana Susilawati (1403360), & Ina Irnawati (1403301).
Definisi Filsafat. Istilah filsafat (philosophy) berasal dari dua suku kata dalam bahasa Yunani Kuno, yaitu philein (cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Jadi secara etimologis filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan (Dagobert D. Runes, 1981). Karakteristik filsafat dapat diidentifikasi enam hal, yaitu objek yang dipelajari filsafat (objek studi), proses berfilsafat (proses studi), tujuan berfilsafat, hasill berfilsafat (hasil studi), penyajian dan sifat kebenarannya.
Cara berpikir seorang filsuf ada empat, yaitu kontemplatif, spekulatif, radikal dan sinoptik. Kontemplatif artinya berpikir untuk mengungkap hakikat dari sesuatu yang dipikirkan. Spekulatif artinya berpikir melampaui fakta yang ada untuk mengungkap apa yang ada di balik yang nampak. Radikal artinya berpikir sampai kepada akar dari sesuatu yang dipertanyakan hingga terungkap hakikat dari apa yang dipertanyakan tersebut. Sinoptik artinya berpikir dengan pola yang bersifat merangkum keseluruhan tentang apa yang sedang dipikirkan atau dipertanyakan, pola berpikir ini merupakan kebalikan dari pola berpikir analitik.
Cabang-cabang filsafat terdiri atas:
1. Metafisika
2. Epistemologi
3. Logika
4. Aksiologi
Aliran-aliran filsafat terdiri atas:
1. Idealisme
2. Realisme
3. Pragmatisme
Landasan filosofis pendidikan adalah seperangkat asumsi yang bersumber dari filsafat yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan.Karena, landasan filosofis pendidikan tidak berisi konsep-konsep tentang pendidikan apa adanya (faktual), melainkan berisi tentang konsep-konsep pendidikan yang seharusnya atau yang dicita-citakan (ideal), yang disarankan oleh filsuf tertentu untuk dijadikan titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan studi pendidikan.
Konsep filsafat umum dari aliran Idealisme, Realisme dan Pragmatisme, meliputi :Metafisika
Manusia
Epistemologi
Aksiologi
Impilikasi terhadap pendidikan dari Idealisme, Realisme, dan Pragmatisme, meliputi :Tujuan Pendidikan
Kurikulum/Isi Pendidikan
Metode Pendidikan
Peranan Pendidik dan Peserta Didik
Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki landasan filosofis pendidikan tersendiri dalam sistem pendidikan nasionalnya, yaitu Pancasila. Nilai-nilai Pancasila untuk dijadikan titik tolak dalam rangka praktek pendidikan maupun studi pendidikan.
Konsep fisafat umum
Metafisika
Hakikat Realitas. Bangsa Indonesia meyakini bahwa alam semesta tidaklah ada dengan sendirinya, melainkan sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Hakikat Manusia. Manusia adalah mahluk Tuhan YME.
Epistemologi
Hakikat Pengetahuan. Segala pengetahuan hakikatnya bersumber dari sumber pertama yaitu Tuhan YME.
Aksiologi
Hakikat Nilai. Sumber pertama segala nilai hakikatnya adalah Tuhan YME.
Implikasi terhadap Pendidikan
Pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Tujuan Pendidikan. Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kurikulum Pendidikan. Disusun sesuai jenjang pendidikan dalam kerangka NKRI.
Metode pendidikan.
Orientasi Pendidikan
LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN
 
ditulis oleh: Eva Laraswati, Yoesrina novia vini syafitri, Gandini wiati, Indra gunawan, & Rini mulyani.
 
 
    landasan psikologis pendidikan Merupakan suatau kajian tentang dasar-dasar psikologis yang dijadikan sebagai lansan dalam proses pendidikan baik itu teori maupun praktek pendidikan dan sangat erat hubungannya dalam masalah pendidikan terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar
  ilmu psikologi dalam proses pendidikan Sangat penting karena dalam kegiatan pendidikan khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum. proses belajar mengajar,sisitem evaluasi dan layanan bimbingan dan konseling merupakan beberapa kegiata utama dalam pendidikan yang didalamnya tidak bisa di lepaskan dalam psikologi. selain itu pendidikan sebagai suatu kegiatan yang melibatkan banyak orang oleh seyogyanya setiap orang dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukan perilakunya secra efektif.
  Pndidik pada dasarnya memiliki dimensi tujuan untuk memperbaiki perilaku (behavior modification, behavior improvement). Manusia dapat di didik karena mansia mempunyai kata hati yaitu kemampuan manusia untuk memebedakan antara nilai baik dan nilai buruk, antara nilai jelek dan nilai indah, antara nilai benar dan tidak benar,nilai adil dan tidak adil, dsb. Berbeda halnya dengan hewan, hewan tidak dapat dididik karena hewan tidak memiliki kata hati yang akan dapat membedakan norma-norma. Namun,hewan dapat di latih untuk di perbaiki tingkah lakunya.
tahap-tahap perkembangan pada anak ?
a.       anak bayi (0-1 tahun)
masa mempertahankan hidup, anak menggunakan insting atau naluri dan bahasa sederhana untuk berkomunikasi seperti kata mama,papa.
b.kanak-kanak (1-5 tahun)
masa bahagia sebagai hak setiap anak dalam suasana kebebasan dan kegembiraan hiup serta fantasi selain itu anak sudah bisa menggunakan bahasa percakapan
c.anak sekolah (6-12 tahun)
masa pengembangan kemampuan intelektual perhatian anak tertuju pada dunia ilmu pengetahuan atau perhatian anak lebih di tujukan pada dunia kenyataan serta anak lebih mudah untuk di ajak bekerja sama dan patuh
d.remaja atau adolensi (12-18 tahun)
masa pubertas,anak tertarik dengan hal-hal kemasyarakatan dan senang berorganisasi,proses pencarian jati diri dan mulai memahami nilai-nilai yang baik dan benar
perbedaan antara :
a.       Teori psikologis kognitif ( kognitivisme)
Teori yang digunakan lebih ke kemampuan kognitifnya. Untuk menjelaskan belajar harus memepertimbangkan proses kognisi ( pengetahuan ) serta perkembangan kognisi seseorang mengalami tahap-tahap perkembangan sesuai dengan pertambahan usia indiidu.disini guru harus lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar
b.      Teori psikologis humanistik
Teori yang digunakan lebih ketingkah laku manusia itu sendiri dan dipengaruhi oleh faktor unternal dan eksternal.disini guru lebih berperan sebagai fasilisator dari pada sebagai pengajar
c.       Teori belajar behavioristik
Teori yang digunakan lebih kedalam perilaku manusia terhadap lingkungan atau kedalam faktor kebiasaan,guru berperan sebagai pengambil inisiatif dan pengendali proses belajar
Hal yang berhubungan dengan upaya pendidikan yaitu :
1. Untuk mencapai suatu tujuan pendidikan, dapat dilakukan dengan membatasi tujuan-tujuan pendidikan yang terbagi menjadi beberapa jenis tujuan, yaitu : tujuan umum, tujuan khusus, tujuan incidental, tujuan sementara, tujuan tidak lengkap, dan tujuan intermedier atau antara.
2. Dihubungkan dengan siapa yang mempergunakan upaya itu, walaupun upaya itu jelas tujuannya, belum tentu seseorang dapat memakainya secara efektif.
3. Dihubungkan dengan cara atau bentuk upaya yang dipergunakan, seperti larangan, perintah, dsb.dapat memberi kontribusi terhadap efektivitas pencapaian tujuan.
4. Bagaimana efeknya terhadap anak. Dalam menerapkan upaya pendidikan, pendidik harus memperhatikan sifat khusus dari kondisi dan situasi khusus anak pada suatu saat secara konkrit.


LANDASAN SOSIOLOGIS DAN ANTROPOLOGIS PENDIDIKAN

ditulis oleh:Fristy Herliyana Nispi (1405371), Gista Erlia Selviani (1404905), Noviana (1401930), & Ratih Puspitasari (1400556).
Interaksi sosial terjadi ketika adanya hubungan-hubungan sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. interaksi tersebut menimbulkan suatu tindakan sosial,di mana tindakan ini bisa terjadi ketika prilaku yang dilakukan individu berorientasi dan mempertimbangkan perilaku orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan konformitas terjadi ketika setiap individu berinteraksi dengan individu lainnya sesuai yang diharapkan kelompok atau masyarakat. Apabila tejadi ketidaksesuaian tindakan-tindakan sosial yang dilakukan individu dengan sistem nilai dan norma atau kebudayaan masyarakat dalam sebuah interaksi sosial maka akan timbullah suatu penyimpangan sosial. Ketika terjadi penyimpangan sosial perlu adanya kontrol sosial yaitu semua cara atau sarana yang digunakan untuk mengendalikan tingkah laku masyarakat agar masyarkat dapat mematuhi nilai nilai dan kaidah yang berlaku.
Kebudayaan tercipta dari adanya individu dan masyarakat karena manusia (individu-individu) hidup bersama dan melakukan interaksi sosial dalam waktu yang cukup lama (masyarakat) sehingga mereka mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan, karena adanya satu kesatuan hidup tersebut mereka menghasilkan suatu kebudayaan sehingga setiap individu didalamnya merasa terikat satu dengan lainnya.

Perbedaan pendidikan Formal Informal dan Nonformal
NO. Faktor Pembeda Formal Informal Nonformal
1. Undang-Undang RI Pasal 1 ayat 11 UU RI No.20 Thn 2003 Pasal 1 ayat 13 UU RI No.20 Thn 2003 Pasal 1 ayat 12 UU RI No.20 Thn 2003
2 Tujuan Jangka panjang dan umum, mempersiapkan hidup Hidup rukun bersama masyarakat Jangka pendek dan spesifik, penunjang keahlian lain
3. Cara menjadi peserta didik Ada persyaratan khusus untuk menjadi peserta didik Tidak ada persyaratan Kadang tidak ada persyaratan khusus.
4 Cara berlangsung Terstruktur dan berjenjang
Secara wajar di lingkungan sehari hari Terstruktur dan berjenjang
5 Waktu Relati panjang/ persiapan/ waktu penuh Berlangsung kapan saja ketika ada interaksi Relatif singkat/berulang/paruh waktu
6 Tempat Di gedung sekolah Di mana saja Di luar gedung
7 Satuan pendidikan Menggunakan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah. Tidak berjenjang dan tidak berkurikulum Kurikulum yang berbasis kompetensi yang membuat keterampilan
8 Penyelenggara pendidikan Penyelenggara pendidikan adalah pemerintah atau swasta Tidak ada lembaga sebagai penyelenggara. Dapat dilakukan oleh pemerintah atau swasta
9 Contoh Pendidikan dasar pendidikan menengah dan pendidikan tinggi Pendidikan orang tua kepada anak Kursus,kelompok belajar, majelis ta'lim
Pendidikan itu bisa berlangsung di mana saja dan kapan saja dengan siapa saja bisa di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. berjenjang atupun tidak berjenjang.
komponen pendidikan yaitu (1) tujuan pendidikan, (2) manusia :guru, peserta didik, kepala sekolah, laboran, pustakawan, tenaga administrasu, petugas kebersihan dsb, (3) kurikulum (4) media pendidikan dan teknologi pendidikan (5) sarana prasarana dan fasilitas (6) pengelola sekolah.
6915156985000
LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN
ditulis oleh: Adinda Kusuma Putri (1400616), Fitriya Febriani (1406059), Indah Pratiwi (1405325), & Kenny Mauddi R. (1405805).
Beberapa jenis pendidikan pada zaman Hindu Budha dapat diklasifikasikan kepada beberapa jenis, diantaranya :a. Pendidikan intelektual
Kegiatan pendidikan ini dikhususkan untuk menguasai kitab – kitab suci, Veda dipelajari oleh kaum Brahmana, dan kitab Tripitaka dipelajari oleh penganut Budha. Pada watu itu hanya golongan Brahmana lah yang berhak mempelajari kitab suci Veda. Pendidikan intelektual juga berkaitan dengan penguasaaan doa dan mantera, yang berkaitan dengan penguasaaan alam semesta, pengabdian kepada Syiwa dan Budha Gutama.
b. Pendidikan kesatriaan
Kegiatan pendidikan ini dilakukan untuk mendidik kaum bangsawan keluarga istana kerajaan, untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan yang berkaitan dengan mengatur pemerintahan (kerajaan), bagaimana mengatur negara, dan bagaimana harus berperang.
c. Pendidikan keterampilan
Pendidikan intelektual dan pendidikan kesatriaan merupakan pendidikan kegiatan yang diprogram dengan tertib, dalam arti pendidikan bagi kaum Brahmana dan bangsawan (keluarga raja) sudah berjalan dengan teratur. Sedangkan pendidikan keterampilan yang diajukan bagi masyarakat/rakyat jelata berlangsung secara informal yang berlangsung dalam keluarga, sesuai dengan keterampilan yang dimiliki orangtuanya. Seorang pemahat akan diwariskan keterampilannya kepada anak – anaknya, begitu pula dengan petani, nelayan dan sebagainya.
Pada zaman Hindu : Pendidikan formal (pendidikan diselenggarakan oleh kerajaan) yang peserta didiknya ialah keturunan para Brahmana dan anak – anak bangsawan dan raja (Kasta Ksatria).
Pada zaman Budha :Pendidikan berkembang pada kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan murid – muridnya banyak berasal dari Indocina, Jepang dan Tiongkok.Pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung sejak agama Islam masuk di Indonesia. Pada mulanya ajaran Islam disebarkan melalui perdagangan khususnya di Jawa. Pada waktu itu pendidikan Islam belum memiliki suatu organisasi yang teratur. Pendidikan Islam di Jawa mulai teratur sejak seorang ulama yang bernama Maulana Malik Ibrahim mengajarkan secara khusus di rumahnya, kemudian mendirikan langgar di Gresik dan beliaulah yang pertama – tama mendirikan pesantren (Mahmud Yunus, 1960). Dalam penyebaran agama dan pendidikan Islam, para ulama (Wali) di Jawa telah banyak menentukan bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan Islam. Para wali tersebut dikenal dengan Wali Songo, yang termasuk wali songo itu adalah : Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Kalijogo, Sunan Maria dan Sunan Gunung Jati. Para wali tersebut dalam mengembangkan ajaran dan pendidikan Islam memperhatikan filsafat hidup dan kebudayaan yang hidup di masyarakat, dan mereka mengisinya dengan ajaran dan pendidikan Islam, sehingga ajaran Islam saat itu sangatlah mudah untuk di terima oleh masyarakat. Pendidikan Islam lebih teratur setelah Raden Patah mendirikan Pesantren di hutan Glagah Arum tahun 1475 yang masih berada di bawah kekuasaan Majapahit. Raden Patah adalah orang yang pertama kali mengorganisir pendidikan Islam dengan mendirikan organisasi Bayangkare Islah pada tahun 1476, dengan tujuan untuk mempergiat usaha pendidikan dan ajaran Islam (Mahmud Yunus, 1960). Raden Patah mengorganisir para wali untuk mengembangkan pendidikan Islam di daerah tertentu, seperti Sunan Giri mengembangkan pendidikan Islam di Surabaya, Madura bahkan ke Makassar dan Ambon. Sunan Gunung Jati bertugas mengembangkan pendidikan dan ajaran Islam di Jawa Barat. Pada saat kerajaan Mataram terutama pada saat Sultan Agung memerintah pada tahun 1615 – 1645 diadakan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. Di tiap kota kabupaten harus didirikan mesjid Gede yang paten. Pada waktu itu telah ada lembaga – lembaga pendidikan yang berupa Pengajian Qur'an, Pengajian Kitab, Pesantren Besar dan Pesantren keahlian/Tarikat.1. Pendidikan diselenggarakan di langgar – langgar, mesjid, surau (Minangkabau) atau di rangkang (Aceh) sedangkan pendidikan mengembangkan ajaran Islam diselenggarakan di Linggar dan Pondok Pesantren.
a. Langgar
Pendidikan disini merupakan pendidikan pendahuluan dalam belajar agama Islam. Yang diajarkan di langgar adalah dasar tentang agama Islam seperti Huruf Arab dalam belajar Qur'an, ibadat (cara – cara salat, berwudhu dan sebagainya), rukun Islam, rukun iman, sifat dua puluh, merupakan lembaga pendidikan dasar dalam mempelajari ajaran Islam. Lamanya belajar di langgar berbeda – beda, tergantung kecepatan individu mempelajari bahan yang diajarkan.
b. Pondok Pesantren
Pondok pesantren merupkan pendidikan lanjutan setelah pendidikan yang dilaksanakan di Langgar. Sistem pesantren ini telah berlangsung sejak zaman Hindu/Budha termasuk di India. Istilah pesantren mungkin berasal dari istilah pecatrikan, tempat murid – murid belajar kepada guru. Perbedaan pesantren Hindu/Budha dengan pesantren Islam hanya dalam materi yang diberikan. Pesantren Hindu/Budha mengajarkan, mengkaji, dan pengembangan ajaran Hindu/Budha, sedangkan pesantren Islam mengajarkan, mengkaji, dan mengembangkan ajaran Islam. Adapun ciri – ciri pesantren ialah :- Berpusat kepada agama
- Guru tidak digaji, sangat dihormati dan memperoleh tempat kedudukan yang tinggi di masyarakat.
- Merupakan suatu lingkungan khusus berupa kampus, dimana guru dan murid tinggal bersama – sama dalam kampus tersebut. Ada pemondokan untuk para santri yang disediakan oleh guru (Kyai).Di pesantren para santri mempelajari kitab – kitab agama Islam, dari mulai kitab – kitab kecil (dasar) sampai kepada kitab – kitab besar. Di pesantren ini dipelajari Ilmu tafsir, fiqih, hadist, ilmu kalam, tasawuf, dan sebagainya. Lama belajar dipesantren tidak sama bagi setiap santri, bergantung kecepatan santri dalam menerima pelajarannya. Sekarang pesantren menjadi salah satu model dari lembaga pendidikan dalam sistem pendidikan nasional.Karena keluarga Belanda membutuhkan pendidikan, baik pendidikan umum maupun pengetahuan khusus, dan sebagai perkumpulan dagang VOC membutuhkan tenaga membantu dari Bumi Putra.Dengan menggunakan metode pendidikan. Metode pendidikan ini dibagi menjadi 2, yaitu :a. Metode sorongan (individual)
Metode membaca Al – Qur'an dimulai dengan pengenalan huruf serta tanda – tandanya untuk langsung membaca surat – surat pendek, apabila sudah lancar dilanjutkan Qur'an sampai tamat. Cara mengajarkan huruf dan tanda bacaan, serta membaca Al-Qur'an dilakukan seorang demi seorang secara individual. Karena murid – murid disuatu pesantren banyak, maka dibutuhkan tenaga pengajar yang banyak. Untuk keperluan itu Kyai mengangkat santrinya yang senior ilmunya dengan gelar guru muda. Guru mengajarkan kitab dengan menterjemahkan artinya ke dalam bahasa ibu/bahasa Jawa dan diterangkan maksudnya.
b. Metode Halaqah/palagan
Metode ini dilakukan secara klasikal, diberikan oleh Kyai kepada guru – guru muda dan santri – santri yang pandai. Para santri duduk melingkari Kyai, kemudian Kyai mengajarkan kitab dengan menterjemahkan dan menjelaskan maksudnya. Para santri mendengarkan dan menulis terjemahan pada buku sendiri dan diadakan juga tanya jawab.
LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN
ditulis oleh: Herto Santoso (1400387), Herin Herlina (1405097), Ifatun Nahdiyah (1405594), & Intan Pratiwi(1406800).


Beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara selaku Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan mengeluarkan "instruksi umum" yang menyerukan kepada para guru supaya membuang jauh-jauh sistem pendidikan kolonial dan mengutamakan patriotisme. Menyertai instruksi umum tersebut, dikeluarkanlah berbagai peraturan dalam kabinet-kabinet selanjutnya untuk mengubah sistem pendidikan dan pengajaran lama dengan sistem pengajaran yang demokratis.Tentang sekolah peralihan bagi pelajar pejuang, maka pada tanggal 10 Maret 1948 Kementrian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan dan Kementrian Pembangunan dan Pemuda mengadakan pengumuman yang berisi tentang akan membuka sekolah-sekolah Peralihan di Yogyakarta, Surabaya, Magelang, Madiun, dan beberapa tempat lainnya jika dipandang perlu dan mungkin.
Dalam pidatonya pada peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 1959, Soekarno menguraikan ideologi demokrasi terpimpin, yang beberapa bulan kemudian dinamakan Manipol yang isinya berintikan USDEK.Manipol/USDEK merupakan akronim dari Manifesto politik / Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia yang oleh Soekarno sebagai haluan daripada negara Republik Indonesia maka harus dijunjung tinggi, dipupuk, dan dijalankan oleh semua bangsa Indonesia bahwa diumpamakan Manifesto Politik-USDEK bagaikan Qur'an dan Hadis-shahih merupakan satu kesatuan maka Pancasila dan Manifesto Politik serta USDEK pun sama merupakan satu kesatuan
Tujuan pendidikan dan pengajaran Indonesia pada tahun 1950-1959 (Demokrasi Liberal) didasarkan pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan pengajaran di Sekolah yang berlaku di Republik Indonesia, melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1954 berlaku untuk seluruh Indonesia, ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Sedangkan Pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas azas-azas yang termaktub dalam Pancasila Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan dan atas kebudayaan kebangsaan Indonesia.Setelah diadakan pengalihan pendidikan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah RIS tahun 1950, oleh mentri pendidikan Dr. Abu Hannifah, disusun sebuah konsep pendidikan yang menitik beratkan pada spesialisasi. Garis besar konsep tersebut mencakup berbagai hal di antaranya adalah pendidikan umum dan pendidikan teknik dilaksanakan dengan perbandingan 3 : 1. Bagi setiap sekolah umum mulai dari bawah ke atas diadakan 1 sekolah teknik. Sebagai lanjutannya adalah sekolah teknik menengah dan sekolah teknik atas yang masing-masing ditempuh dalam 3 tahun. Sistem pendidikan diadakan dengan titik berat desentralisasi, yaitu dari sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama menjadi urutan daerah dan supervisi pusat. Sekolah menengah atas menjadi tanggung jawab pemerintah pusat baik mengenai masalah keuangan maupun mata pelajaran. Sejak 1957 lembaga pendidikan swasta bermunculan, baik meneruskan kegiatan yang telah ada sebelumnya maupun mendirikan sekolah-sekolah baru. Selain bercirikan keagamaan, terdapat pula sekolah-sekolah yang bercirikan kebangsaan dan netral.
Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia pada tahun 1959-1965 atau pada masa Demokrasi Terpimpin diselenggarakan dalam bentuk Sapta Usaha Tama yang diinstruksikan pada tanggal 17 Agustus 1959, Panca Wadhana (lima Pokok Perkembangan) yang ditetapkan pada tanggal 10 Oktober 1960, Panitia Pembantu Pemeliharaan Sekolah dan Perkumpulan Orang Tua Murid dan Guru-guru (POMG) yang diputuskan pada tanggal 6 Desember 1954 , Pendidikan Masyarakat, dan Perguruan tinggi yang ditetapkan pada tanggal 14 Desember 1961.
Dasar Pendidikan pada zaman awal Orde Baru adalah falsafah negara Pancasila. Sedangkan tujuan pendidikan pada zaman awal Orde Baru adalah membentuk manusia Pancasilais sejati berdasarkan ketentuan – ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan Undang – Undang Dasar 1945 dan isi Undang – Undang Dasar 1945.


Download Resume Landasan Pendidikan.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Resume Landasan Pendidikan. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon