December 01, 2016

Republik Maluku Selatan: Sebuah Tinjauan Sejarah


Judul: Republik Maluku Selatan: Sebuah Tinjauan Sejarah
Penulis: M. Fikri Ansori


PERGERAKAN REPUBLIK MALUKU SELATAN TAHUN 1950

Kelompok 7
Allysa Miranda, 1406576345
Fauziah Ambarrini, 1406577726
Nur Saban Alif A., 1406537533
Syahidah Sumayyah R., 1406537590
Makalah Kelompok untuk Tugas BOS
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
KATA PENGANTAR
Ass.Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa, karena rahmat dan perkenan-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah BOS yang bertema Sejarah Indonesia periode sejak proklamasi kemerdekaan hingga berakhirnya Orde Lama (1945-1967) , kami memutuskan untuk mengangkat materi mengenai Pergerakan Republik Maluku Selatan.
Makalah ini disusun ditengah kesibukan kami sebagai mahasiswa baru jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Kami mengerjakan makalah ini disela-sela tugas kuliah dan tugas BOS yang lain.
Penyusun mengucapkan terimakasih kepada kakak-kakak mentor yang telah membibing kami membuat makalah ini. Makalah ini memang jauh dari kata sempurna, namun kami berusaha untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Semoga, makalah ini dapat bermanfaat untuk kedepannya.Wass.Wr.Wb
Depok, September 2014
Penyusun
Kelompok 7

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I    PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Sistematika Penulisan
BAB II   PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Republik Maluku Selatan adalah sebuah gerakan pemisahan diri yang dilakukan oleh rakyat Maluku Selatan pada tahun 1950 yang masih bertahan hingga saat ini. Baru-baru ini Republik Maluku Selatan banyak menerima simpati dari Negara Belanda. Republik Maluku Selatan (RMS) pada awalnya adalah sebuah bentuk ketidakpuasan Mr. Dr. Christian Robert Steven Soumokil terhadap hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) tentang proses kembalinya negara kesatuan Republik Indonesia Serikat (RIS). Pergerakan ini dimaksudkan untuk memisahkan Maluku Selatan dari Negara Indonesia Timur (NIT) dan membentuk negara sendiri karena adanya ketidakpastian dengan status mereka setelah diadakannya KMB. Pada tanggal 20 April 1950 Pupella dari Pemuda Indonesia Maluku (PIM) melayangkan mosi tidak percaya kepada parlemen NIT dan pada tanggal 25 April 1950 kabinet NIT meninggalkan jabatannya. Pada saat yang bersamaan pula RMS diproklamasikan oleh orang-orang bekas prajurit KNIL dan pro-Belanda yang di antaranya adalah Dr. Chr.R.S. Soumokil yang merupakan bekas jaksa agung Negara Indonesia Timur, Ir. J.A. Manusama dan J.H. Manuhutu.
Terjadinya krisis di dalam kabinet NIT membuat Golongan republikein membubarkan NIT dan memasukkan RMS kedalam wilayah kesatuan Republik Indonesia. RMS memiliki tujuan utama, yaitu memulihkan kedaulatan utama mereka sendiri. RMS merupakan suatu negara hukum demokratis dimana penduduknya dapat hidup dengan bebas dan makmur tanpa adanya pertikaian antar suku dan agama. Pemerintah pusat yang pada saat itu berbentuk Republik Indonesia Serikat mencoba menyelesaikan masalah ini dengan jalan damai dan mengirimkan sebuah tim yang diketuai oleh Dr. Josef Leimena dengan mebawa misi perdamaian ke Ambon. Akan tetapi, tim yang terdiri dari para politikus, rohaniawan dan para intelektual yang diutus oleh pemerintah pusat tidak berhasil mencapai kesepakatan yang diinginkan oleh Pemerintah pusat.
Karena usaha kompromi mengalami kebuntuan, akhirnya pemerintah memutuskan menggunakan kekuatan militer. Namun pemerintah tidak langsung menggerakan kekuatan militer melainkan melakukan suatu blokade yang bermaksud menghindari pertumpahan darah. Akan tetapi, dikarenakan gagalnya proses blokade tersebut, pemerintah pusat pun melaksanakan ekspedisi militer untuk menumpas RMS yang disebut sebagai Gerakan Operasi Militer (GOM) III.
1.2 Rumusan Masalah
Apa yang melatarbelakangi terbentuknya Republik Maluku Selatan
Bagaimana pergerakan Republik Maluku Selatan di Indonesia ?Bagaimana akhir pergerakan Republik Maluku Selatan di Indonesia ?1.3 Sistematika Penulisan
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I    PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Sistematika Penulisan
BAB II   PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Pembahasan
Hambatan terakhir yang dihadapi oleh RIS dan berlanjut hingga RI adalah gerakan Republik Maluku Selatan (RMS). Gerakan "RMS" sebenarkan merupakan kelanjutan dari pertentangan antara golongan nasionalis dan golongan federalis-extrim yang telah berkembang sejak tahun 1946 (Malino). Gerakan ini merupakan bagian dari pemberontakan Andi Aziz di Makassar.
Republik Maluku Selatan bukan hanya ingin memisahkan diri dari bagian NIT, tetapi juga mereka ingin melepaskan diri dari RIS. Tokoh pendiri gerakan RMS ini ialah seorang bekas Jaksa Agung NIT, Dr. Christian Robert Steven Soumokil. Ia merupakan tokoh terkemuka di RMS, namun ia tidak pernah aktif dalam masa pergerakan nasional. Ia memang pernah menjadi anggota Kebaktian Rakyat Indonesia Maluku tetapi keanggotaannya hanya non-forma saja. Ia termasuk golongan blandis dimana golongan ini memiliki keuntungan, salah satunya adalah memiliki gaji yang lebih tinggi. Orang yang berasal dari gologan ini biasanya tidak mengerti keadaan rakyat. Anggota KNIL terdiri dari rakyat Maluku, Minahasa, Batak, Jawa, Sunda, Bali, dll. Mereka dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang sukses didalam masyarakat itu sendiri.
Dikarenkan jabatannya sebagai Jaksa agung pada masa NIT, Soumokil dengan mudah bepergian ke berbagai tempat di Indonesia Timur dengan berfasilitaskan pesawat militer. Bibit-bibit pemisahan dengan NIT sudah mulai tampak pada saat kunjungan Soumokil ke Manado pada tanggal 13 April. Sebelum kunjungan Soumokil ke Manado, Ir. Manusama mengundang para penguasa desa dari Pulau Ambon di kantornya. Pada rapat itu, ia menyampaikan pendapatnya tentang penggabungan wilayah Maluku Selatan kedalam wilayah Indonesia lainnya akan membawa bahaya. Melalui para kepala desa itulah, Manusama menyebarkan bahaya bergabungnya Maluku Selatan ke dalam Indonesia.Pada 18 April 1950, Manusama kembali mengadakan rapat umum dengan para kepala desa. Soumokil turut hadir dan mempengaruhi para kepala desa yang hadir dalam rapat tersebut. Setelah rapat umum tersebut, Soumokil mengadakan sebuah rapat rahasia di Tulehu yang hanya dihadiri oleh para pemuka KNIL dan Ir. Manusama. Pada rapat tersebut, Soumokil menganjurkan agar KNIL mulai bergerak untuk kemerdekaan Maluku Selatan. Ia menyarankan agar semua anggota Dewan Maluku Selatan dibunuh kemudian menyatakan Maluku Selatan sebagai negara merdeka, namun anjuran tersebut ditolak oleh sebagian peserta rapat pada saat tersebut. Menurut para peserta rapat tersebut, seharusnya pemerintah Maluku sendirilah yang melaksanakan proklamasi tersebut.
Mulai dilaksanakanannya praktik pengintimidasian masa dan teror membuat pihak pro-Republik mengalami tekanan. Serangkaian pembunuhan terjadi di berbagai tempat. Pelaksanaan teror tersebut mendapat bantuan polisi didukung pula oleh pasukan istimewa KNIL yang merupakan bagian dari Korps Speciale Troepen yang dibentuk oleh Kapten Raymond Westeerling. Mereka penjadi pengikut Soumokil dan melakukan teror terhadap golongan republikein. Mereka menangkap ketua Persatuan Pemuda Indonesia Maluku, Wim Remaru, kemudia membunuhnya.Pada masa sebelum dicanangkanya proklamasi 'RMS', dilancarkan propaganda separatis oleh Gabungan Sembilan Serangkai yang beranggotakan KNIL dan Partai Timur Besar. Menjelang proklamasi tanggal 24 April 1950, Soumokil berhasil menghimpun kekuatan yang ada di lingkungan masyarakat Maluku Selatan.Pada 24 April 1950 diproklamasikan Republik Maluku Selatan oleh Soumokil, sebagai presiden pertama Republik Maluku Selatan. Keberhasilan RMS memproklamasikan kemerdekaan dikarenakan struktur politik di Maluku sangatlah lemah. Pemerintahan dan administrasinya belum kuat dikarenakan terkena dampak dari Perang Dunia Kedua. Para tokoh "blandis" memanfaatkan keadaan ini untuk memerintah rakyat Maluku untuk mengejar kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Sebelum pemerintah pusat di Jakarta turun tangan untuk menyelesaikan pergerakan RMS ini dengan Gerakan Operasi Militer III, Kementrian Pertahanan RIS mempunyai rencana mengatasi pergerakan ini. Cara yang dilakukan akan pertama kali adalah berunding, jika cara ini tidak berhasil, Kementerian Pertahanan RIS akan melakukan blokade atas Pulau Ambon yang terdapat KNIL di dalamnya dengan tujuan memaksakan perundingan. Jika semua cara itu tidak berhasil maka APRIS akan didaratkan. Cara pertama dengan mengirimkan dr. Leimena. Namun, cara damai ini justru ditolak oleh Soumokil. Masyarakat-masyarakat yang berada di dalam dan diluar Maluku berusaha menyelesaikan masalah tersebut, terutama para pemuda. Pada tanggal 1 Mei 1950, organisasi-organisasi berkumpul dan rapat dengan anggota yang hadir: KRIM, Ikatan Pemuda Indonesia Maluku, Pemuda Pattimura dan Wanita Maluku. Mereka menolak jika RMS ini dimerdekakan. Untuk menahan perluasan pengaruh RMS, diadakan Konferensi Maluku di Semarang pada tanggal 12 – 13 Juni 1950. Mereka mengadakan perundingan yang menghasilkan suatu resolusi yang ditujukan pada pemerintahan RIS melalui dr. Leimena, Ir. Putuhena, dr. Rehatta, dan A.M. Pellaupessy. Selain itu, merek juga mengirim utusan untuk menemui kaum pemberontak di Ambon. Resolusi-resolusi itu adalah :
Agar Maluku diberi otonomi yang luas sebagai syarat penyelasain;
Agar kepada rakyat banyak yang tidak bersalah dan yang mengalami kerugian diberikan bantuan sosial oleh pemerintah RIS;
Agar bangsa Indonesia khususnya dan bangsa-bangsa lain pada umumnya mengusahakan agar mereka yang tidak bersalah terhindar dari tindakan-tindakan yang tidak berperikemanusian;
Agar pemerintah belanda segera didesak untuk melucuti kesatuan-kesatuannya;
Agar pemerintahan RIS menyokong kepergian utusan-utusan masyarakat Maluku untuk menemui kaum pemberontakan;
Agar pemerintah mempergunakan tokoh-tokoh Maluku yang berkemampuan dalam bidang-bidang sipil maupun militer;
Agar dalam tindakan-tindakan pemerintah untuk mengatasi pemberontakan dibedakan antara mereka yang memihak pada RMS dan mereka yang tidak.
Dari konfrensi tersebut, tokoh-tokoh pergerakan nasional asal Ambon menyarankan agar masyarakat Maluku mengirim misi perdamaian ke Ambon. Meskipun misi ini berhasil diberangkatkan, namun misi ini tidak dapat dilanjutkan karena blokade yang dilaksanakan oleh APRIS pada 16 Juli 1950.
Setelah segala usaha untuk menyelesaikan persoalan RMS secara damai gagal, maka terpaksa pemerintah RIS menggunakan angkatan bersenjata untuk membebaskan rakyat Maluku dari teror RMS. Pemerintah merasa berat menggerakkan angkatan bersenjata karena menyadari hal tersebut akan memakan korban dari kalangan penduduk, mengingat RMS bermarkas di tengah-tengah penduduk. Ekspedisi militer untuk menyelesaikan pergerakan RMS disebut Gerakan Operasi Militer III (GOM III). Pemerintah menggerakkan pasukannya secara berturut-turut dimulai dari Pulau Buru, Seram Barat, Seram Timur, dan Ambon.Pada tanggal 14 Juli 1950 pagi, pasukan ekspedisi yang terdiri atas 850 orang tentara dibawah pimpinan Kolonel Kawilarang mendarat di Namlea, Pulau Buru.Pasukan tersebut berhasil menguasai Pulau Buru dengan susah payah dan mulai bergerak menuju Seram Barat. Mereka sampai di Seram Barat pada tanggal 19 Juli 1950 dan dengan mudah menguasai Seram Barat pada saat itu juga. Setelah berhasil menguasai Seram Barat, pasukan tersebut mulai bergerak ke bagian lain di Pulau Seram. Dikarenakan RMS memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon, terjadilah pertempuran antara APRIS dan RMS di Piru untuk memperebutkan Pulau Seram. Pada tanggal 28 September 1950, pasukan ekspedisi berhasil mendarat di Pulau Ambon dan berhasil menguasai Pulau Ambon bagian utara. Setelah menaklukan Pulau Ambon bagian utara, APRIS melanjutkan gerakannya untuk membebaskan Pulau Ambon dari RMS.
Pada tanggal 8 November 1950, Kota Ambon berhasil dibebaskan dari RMS.dalam operasi-operasi pembebasan tersebut, gugur tiga perwira yang berjasa dalam perang kemerdekaan, yakni Let. Kol. Ign. Slamet Riyadi, Let. Kol. S. Sudiarto dan Mayor Abdullah.
Pembersihan Gerakan RMS oleh pemerintah mengalami hambatan dikarenakan pasukan APRIS yang dikerahkan Pemerintah belum mendapatkan pelatihan yang cukup, baik mengenai taktik perang, ataupun penggunaan senjata dan kendaraan perang. Karena hal itulah, jalannya operasi pembersihan tidak selancar yang diharapkan dan memakan korban yang relatif banyak.
Setelah jatuhnya RMS, pemerintahan provinsi dipimpin oleh Gubernur J. Latuharhary, sedangkan pipinan militernya dipegang oleh Mayor Pieters dan Letnan Leo Lopulisa. Pimpinan RMS yang berhasil melarikan diri ke Pulau Seram melakukan perlawanan dari pulau tersebut dengan memanfaatkan pola konflik antar-suku untuk mengerahkan tenaga tempur dari kalangan penduduk. Selama beberapa bulan setelh kejadian tersebut, beberapa pemimpin RMS tertahan di Pulau Seram, sedangkan Ir. Manusama meninggalkan Indonesia dan melarikan diri ke Belanda. Sementara itu Soumokil tertangkap oleh Pemerintah Indonesia dan dihukum mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa.Kesimpulan
Kembalinya Indonesi menjadi negara kesatuan mendapat banyak pertentangan dari berbagai pihak, salah satunya dari Republik Maluku Selatan. Republik Maluku Selatan adalah sebuah gerakan pemisahan diri dari RIS di daerah Maluku Selatan. Gerakan yang dipimpin oleh Soumkil ini tidak ingin kembali bergabung dengan Republik Indonesia Serikat dan ingin memerdekakan diri sebagai Negara Independen Gerakan ini diprakarsai oleh Steven Soumokil, mantan jaksa agus Negara Indonesia Timur. RMS melakukan proklamasi kemerdekaannya pada tanggl 24 April 1950. Namun, pergerakan ini tercium oleh pemerintah. Kemudian, pemerintah melakukan pembersihan melalui Gerakan Operasi Militer III (GOM III). Para pemimpin RMS melarikan diri ke Pulau Seram dan Belanda, sedangkan Soumokil ditangkap oleh Pemerintah Indonesia dan dijatuhi hukuman mati.DAFTAR PUSTAKA
Dahana, Ahmad, dkk. 2012. Indonesia dalam Arus Sejarah. Jakarta: PT. Ichtiar Baruvan Hoeve
Leirissa, Richard Z. 1975. Maluku dalam Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta: Lembaga Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia
Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto. 2009. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. (Ed. Ke-3). Jakarta: Balai Pustaka.
Puar, Jusuf A. 1956. Peristiwa Republik Maluku Selatan. Djakarta: Bulan Bintang
Soe Hok Gie. 1965. Kisah Penumpasan RMS: Gerakan Operasi Militer IV. Djakarta: Pusat Sedjarah Angkatan Bersendjata.
http://www.tempo.co/read/news/2010/10/06/078282879/Chris-Soumokil-Proklamator-Republik-Maluku-Selatan, diakses pada 28 September 2014, Pukul 15.37


Download Republik Maluku Selatan: Sebuah Tinjauan Sejarah.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Republik Maluku Selatan: Sebuah Tinjauan Sejarah. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon