December 15, 2016

Makalah KDRT


Judul: Makalah KDRT
Penulis: Alvenolia Adaong



KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)
Untuk memenuhi MID semester mata kuliah PAK

ALVENOLIA VIENDA ADAONG14532006KELAS CSEMESTER 1
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MANADO
2014

Kata Pengantar
Puji dan syukur patut di naikkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas limpahan kasih-Nya saya bisa menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini dibuat untuk membahas tentang tindak kekerasan yang terjadi dalam lingkup keluarga atau yang disebut kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pemahaman tentang apa yang mendasari terjadinya KDRT, dampak, serta penangan bagi korban kiranya dapat di peroleh dalam makalah ini.
Demikian makalah ini dibuat, kiranya dapat bermanfaat bagi kita semua.
Tondano, 03 November 2014
ALVENOLIA VIENDA ADAONG
i
Daftar Isi
Halaman judul
Kata pengantar........................................................................................................... i
Daftar isi.................................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan.....................................................................................................1
A.  Latar belakang..........................................................................................1
B.  Rumusan masalah.....................................................................................2
C.  Tujuan.......................................................................................................2
Bab II Pembahasan.....................................................................................................2
A.  Keluarga Sebagai Ruang Lingkup KDRT............................................................2
B.  Pengertian KDRT.................................................................................................3
C.  Bentuk KDRT……………………………………………..................................5
D. Faktor Terjadinya KDRT......................................................................................6
E.  Dampak KDRT.....................................................................................................8
F. Dasar Hukum Dan Sanksi KDRT..........................................................................9
G. Hak Korban KDRT Serta Peran Berbagai Pihak..................................................13
H. Penanganan Dan Pemulihan korban KDRT.........................................................15
Bab III Penutup......................................................................................................... 17
A. Kesimpulan............................................................................................................17
B. Saran......................................................................................................................18
Daftar pustaka............................................................................................................19
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Setiap keluarga memimpikan dapat membangun keluarga harmoni, bahagia dan saling mencintai, namun pada kenyataannya banyak keluarga yang merasa tidak nyaman, tertekan dan sedih karena terjadi kekerasan dalam keluarga, baik kekerasan yang bersifat fisik, psikologis, seksual, emosional, maupun penelantaran. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, terlebih-lebih di era terbuka dan informasi yang kadangkala budaya kekerasan yang muncul lewat informasi tidak bisa terfilter pengaruh negatifnya terhadap kenyamanan hidup dalam rumah tangga.Adanya kekerasan dalam lingkup keluarga, dpat memberikan dampak yang cukup besar bagi keangsungan hidup korban.
Adapun Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945, beserta perubahannya. Pasal 28G ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 menentukan bahwa "Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi". Pasal 28H ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 menentukan bahwa "Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan". Perkembangan dewasa ini menunjukkan bahwa tindak kekerasan secara fisik, psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga pada kenyataannya terjadi sehingga dibutuhkan perangkat hukum yang memadai untuk menghapus kekerasan dalam rumah tangga.
Meskipun sudah ada UU yang mengatur tindak kekerasan dalam rumah tangga, namun nyatanya masih banyak kasus yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan lagi wawasan yang luas tentang tindak kekerasan tersebut untuk mencegah dan meminimalisir kasus di kemudian hari.
Rumusan Masalah
Apa yang menjadi ruang lingkup KDRT ?
Apa yang di maksud dengan KDRT?
Bagaimana KDRT di pandang dari sudut Agama Kristen?
Bagaimana bentuk KDRT ?
Apa saja faktor penyebab KDRT ?
Apa dampak dari KDRT bagi para korban ?
Bagaimana pencegahan dan penanganan KDRT ?
Apa peran gereja dalam mencegah KDRT ?
Tujuan
Mengetahui dan memahami lebih dalam tentang KDRT
Memahami pandangan Agama Kristen tentang KDRT
Mengetahui bentuk, factor, dan dampak KDRT
Mengetahui peran semua pihak dalam mencegah KDRT
BAB IIPEMBAHASAN
KELUARGA SEBAGAI RUANG LINGKUP KDRT
Keluarga atau rumah tangga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang berperan dan berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga. Keluarga memerlukan organisasi tersendiri dan perlu kepala rumah tangga sebagai tokoh penting yang memimpin keluarga disamping beberapa anggota keluarga lainnya. Anggota keluarga terdiri dari Ayah, ibu, dan anak merupakan sebuah satu kesatuan yang memiliki hubungan yang sangat baik.
Keutuhan dan kerukunan rumah tangga yang bahagia, aman, tenteram, dan damai merupakan dambaan setiap orang dalam rumah tangga. Negara Republik Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dijamin oleh Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945. Dengan demikian, setiap orang dalam lingkup rumah tangga dalam melaksanakan hak dan kewajibannya harus didasari oleh agama. Hal ini perlu terus ditumbuhkembangkan dalam rangka membangun keutuhan rumah tangga. Untuk mewujudkan keutuhan dan kerukunan tersebut, sangat tergantung pada setiap orang dalam lingkup rumah tangga, terutama kadar kualitas perilaku dan pengendalian diri setiap orang dalam lingkup rumah tangga tersebut.
Setiap keluarga memiliki cara untuk menyelesaikan masalahnya masing-masing. Apabila masalah diselesaikan secara baik dan sehat maka setiap anggota keluarga akan mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu menyadari dan mengerti perasaan, kepribadian dan pengendalian emosi tiap anggota keluarga sehingga terwujudlah kebahagiaan dalam keluarga. Penyelesaian konflik secara sehat terjadi bila masing-masing anggota keluarga tidak mengedepankan kepentingan pribadi, mencari akar permasalahan dan membuat solusi yang sama-sama menguntungkan anggota keluarga melalui komunikasi yang baik dan lancar. Disisi lain, apabila konflik diselesaikan secara tidak sehat maka konflik akan semakin sering terjadi dalam keluarga.
Keutuhan dan kerukunan rumah tangga dapat terganggu jika kualitas dan pengendalian diri tidak dapat dikontrol, yang pada akhirnya dapat terjadi kekerasan dalam rumah tangga sehingga timbul ketidakamanan atau ketidakadilan terhadap orang yang berada dalam lingkup rumah tangga tersebut. Untuk mencegah, melindungi korban, dan menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, negara dan masyarakat wajib melaksanakan pencegahan, perlindungan, dan penindakan pelaku sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945. Negara berpandangan bahwa segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga, adalah pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi.
PENGERTIAN KDRT
Secara Umum
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat diartikan sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang pengasuh, orangtua, atau pasangan. KDRT merupakan masalah rumah tangga sehingga merupakan aib apabila permasalahan rumah tangganya diketahui oleh lingkungan sekitar. Kadangkala lingkungan kurang tanggap terhadap kejadian KDRT di sekitarnya dengan alasan KDRT merupakan masalah domestik sehingga apabila ada kejadian KDRT orang lain tidak perlu campur tangan. Padahal dampak KDRT sangat besar baik bagi si korban maupun keluarganya.
KDRT dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, di antaranya: Kekerasan fisik, penggunaan kekuatan fisik; kekerasan seksual, setiap aktivitas seksual yang dipaksakan; kekerasan emosional, tindakan yang mencakup ancaman, kritik dan menjatuhkan yang terjadi terus menerus; dan mengendalikan untuk memperoleh uang dan menggunakannya.
Berdasarkan Undang-Undang
Berdasarkan Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang PKDRT pada pasal 1 butir 1 menyebutkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Demikian juga pada pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa lingkup rumah tangga dalam Undang-Undang ini meliputi (a) Suami, isteri, dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri); (b) Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga (mertua, menantu, ipar dan besan); dan/atau (c) Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut (Pekerja Rumah Tangga).
Menurut Firman Tuhan
Kekerasan bukanlah gaya hidup dan cara menyelesaikan masalah dalam keluarga yang berdasakan Firman Tuhan. Setiap bentuk dan ekspresi yang sekalipun bertujuan baik, bila dilakukan dengan jalan kekerasan adalah melawan kehendak Tuhan. "Tuhan menguji orang benar dan orang fasik, dan la membenci orang yang mencintai kekerasan" (Mazmur 11:5).Rumah tangga merupakan tempat pembelajaran dalam membangun relasi hubungan interpersonal. Paulus menyampaikan dua dasar kehidupan orang Kristen, yaitu mereka menjadi manusia baru (Efesus 4:17-32), dan mereka hidup sebagai anak-anak terang (Efesus 5:1-21). Semakin baik kualitas relasi di antara suami dengan istri, semakin menunjukkan kualitas hubungan dalam rumah tangga tersebut. Hubungan relasi di antara suami dan istri inilah yang dikatakan Paulus kepada jemaat Efesus; "Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami ada¬lah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat" (Efesus 5:22-23).Paulus menegaskan bahwa kehidupan se¬bagai manusia baru adalah kehidupan di dalam terang Kristus (Efesus 5:8). Hidup sebagai anak terang dikuasai oleh Roh dan pikiran Kristus menjadikan seseorang mampu menaklukan diri di bawah kehendak Kristus. Paulus menjelaskan bentuk hubungan perkawinan menggunakan pola hierarki. Hal ini karena latar belakang budaya Yahudi, di mana budaya patriarki masih sangat mempengaruhi pemikirannya "Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus" (Efesus 5:21).Paulus menekankan soal ketaatan yang mengandung unsur rasa hormat bagi posisi yang dituakan dalam Efesus 6:1-9. Sebuah ketaatan dan rasa hormat yang bersumber dari ketulusan. Setiap anggota keluarga perlu mengembangkan sikap ketaatan dan kasih yang menjadi cara berelasi antara suami dan istri. Menurut Paulus hal ini tidak mungkin terjadi sikap arogan: semena-mena, melecehkan, meremehkan, dan tidak menjadi teladan dalam hubungan rumah tangga.
BENTUK KDRT
Lau dan Kosberg, (1984) melalui studinya menegaskan bahwa ada empat tipe kekerasan, di antaranya
Pertama, kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat (Pasal 6). Adapun kekerasan fisik dapat diwujudkan dengan perilaku di antaranya: menampar, menggigit, memutar tangan, menikam, mencekek, membakar, menendang, mengancam dengan suatu benda atau senjata, dan membunuh. Perilaku ini sungguh membuat korban kdrt menjadi trauma dalam hidupnya, sehingga mereka tidak merasa nyaman dan aman.
Kedua, kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang (pasal 7). Adapun tindakan kekerasan psikis dapat ditunjukkan dengan perilaku yang mengintimidasi dan menyiksa, memberikan ancaman kekerasan, mengurung di rumah, penjagaan yang berlebihan, ancaman untuk melepaskan penjagaan anaknya, pemisahan, mencaci maki, dan penghinaan secara terus menerus.
Ketiga, kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Kekerasan seksual meliputi (pasal 8): (a) Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut; (b) Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
Keempat, penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Selain itu, penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut (pasal 9). Penelantaran rumah tangga dapat dikatakan dengan kekerasan ekonomik yang dapat diindikasikan dengan perilaku di antaranya seperti : penolakan untuk memperoleh keuangan, penolakan untuk memberikan bantuan yang bersifat finansial, penolakan terhadap pemberian makan dan kebutuhan dasar, dan mengontrol pemerolehan layanan kesehatan, pekerjaan, dan sebagainya.
FAKTOR TERJADINYA KDRT
Menurut Pakar Bidang Penelaah Kekerasan
Zastrow & Browker (1984) menyatakan bahwa ada tiga teori utama yang mampu menjelaskan terjadinya kekerasan, yaitu teori biologis, teori frustasi- agresi, dan teori kontrol.
Pertama, teori biologis menjelaskan bahwa manusia, seperti juga hewan, memiliki suatu instink agressif yang sudah dibawa sejak lahir.
Sigmund Freud menteorikan bahwa manusia mempunyai suatu keinginan akan kematian yang mengarahkan manusia-manusia itu untuk menikmati tindakan melukai dan membunuh orang lain dan dirinya sendiri.
Robert Ardery yang menyarankan bahwa manusia memiliki instink untuk menaklukkan dan mengontrol wilayah, yang sering mengarahkan pada perilaku konflik antar pribadi yang penuh kekerasan.
Konrad Lorenz menegaskan bahwa agresi dan kekerasan adalah sangat berguna untuk survive. Manusia dan hewan yang agresif lebih cocok untuk membuat keturunan dan survive, sementara itu manusia atau hewan yang kurang sagresif memungkinkan untuk mati satu demi satu
Kedua, teori frustasi-agresi menyatakan bahwa kekerasan sebagai suatu cara untuk mengurangi ketegangan yang dihasilkan situasi frustasi. Teori ini berasal dari suatu pendapat yang masuk akal bahwa sesorang yang frustasi sering menjadi terlibat dalam tindakan agresif. Orang frustasi sering menyerang sumber frustasinya atau memindahkan frustasinya ke orang lain. Diakui bahwa sebagian besar tindakan agresif dan kekerasan nampak tidka berkaitan dengan frustasi. Misalnya, seorang pembunuh yang pofesional tidak harus menjadi frustasi untuk melakukan penyerangan. Teori ini menjelaskan bahwa orang-orang yang hubungannya dengan orang lain tidak memuaskan dan tidak tepat adalah mudah untuk terpaksa berbuat kekerasan ketika usaha-usahnya untuk berhubungan dengan orang lain menghadapi situasi frusstasi. Teori ini berpegang bahwa orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan orang lain yang sangat berarti cenderung lebih mampu dengan baik mengontrol dan mengendalikan perilakunya yang impulsif. Travis Hirschi memberikan dukungan kepada teori ini melalu temuannya bahwa remaja putera yang memiliki sejarah prilaku agresif secara fisik cenderung tidak memiliki hubungan yang dekat dengan orang lain.
Secara Umum
Dalam lingkup keluarga, KDRT umumnya terjadi karena :
Kurang komunikasi, Ketidakharmonisan.
Alasan Ekonomi.
Ketidakmampuan mengendalikan emosi.
Ketidakmampuan mencari solusi masalah rumah tangga apapun.
Kondisi mabuk karena minuman keras dan narkoba.
Latar  budaya  patriarki  dan  ideologi  gender  yang  berpengaruh.
DAMPAK KDRT
Dampak KDRT Terhadap Perempuan
Mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, trauma berkepanjangan.
Dampak KDRT terhadap Anak
Adapun dampak KDRT secara rinci akan dibahas berdasarkan tahapan perkembangannya sebagai berikut:
1. Dampak terhadap Anak berusia bayi
Bayi yang menjadi korban KDRT akan mengalami ketidaknormalan dalam pertumbuhan dan perkembangannya yang sering kali diwujudkan dalam problem emosinya, bahkan sangat terkait dengan persoalan kelancaran dalam berkomunikasi.
2. Dampak terhadap anak kecil
Dampak KDRT terhadap anak usia muda (anak kecil) sering digambarkan dengan problem perilaku, seperti seringnya sakit, memiliki rasa malu yang serius, memiliki self-esteem yang rendah, dan memiliki masalah selama dalam pengasuhan, terutama masalah sosial, misalnya : memukul, menggigit, dan suka mendebat.
3. Dampak terhadap Anak usia pra sekolah
KDRT berdampak terhadap kompetensi perkembangan sosial-kognitif anak usia prasekolah.
4.Dampak terhadap Anak usia SD
kelompok anak-anak yang secara historis mengalami kekerasan dalam rumah tangganya cenderung mengalami problem perilaku pada tinggi batas ambang sampai tingkat berat, memiliki kecakapan adaptif di bawah rata-rata, memiliki kemampuan membaca di bawah usia kronologisnya, dan memiliki kecemasan pada tingkat menengah sampai dengan tingkattinggi.
5.DampakTerhadapRemajakekerasan yang ada dalam rumah tangga, tidak sepenuhnya kekerasan itu berdampak kepada semua anak remaja, tergantung ketahanan mental dan kekuatan pribadi anak remaja tersebut. Dari banyak penelitian menunjukkan bahwa konflik antar kedua orangtua yang disaksikan oleh anak-anaknya yang sudah remaja cenderung berdampak yang sangat berarti, terutama anak remaja pria cenderung lebih agresif, sebaliknya anak remaja wanita cenderung lebih dipresif.

F. DASAR HUKUM DAN SANKSI KDRT
Berikut ini adalah "Dasar Hukum" untuk KDRT :
1. Nasional
-Undang - undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 27
-Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.b c. Undang-undang (UU) Nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan segala bentuk Deskriminasi Terhadap Wanita (Lembaran Negara Th. 1984 No. 29, Tambahan Lembaran Negara 3277)
- UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM (Lembaran Negara Th 1999 No 165, Tambahan Lembaran Negara No. 3886)
- UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak f. UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga g. UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah h. UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi
dan Korban i. UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan j. Peraturan Pemerintah N o . 4 tahun 2 0 0 6 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga
- Peraturan Pemerintah No . 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kota
- Keputusan Presiden RI No. 65 tahun 2005 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
-Pedoman Pengendalian Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
- Instruksi Pres iden R I N o . 9 tahun 2000 tentang Pengarus utama Gender dalam Pembangunan Nasional
- Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan N o . 1 tahun 2007 tentang Forum Koordinasi Penyel enggaraan Kerjasama Pencegahan dan Penanganan KDRT
- Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 1 tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan
-Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak N o . 6 Tahun 2011 tentang Pencegahan dan pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah.
2. Internasional
a. Convention on the Elimination of All Forms of Discriminations Against Women (CEDAW) yang diratifikasi dengan Undang Undang No. 7 tahun 1984
b. Komite PBB tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan tahun 1989 (Rekomendasi Umum 12 Bidang ke-8)
c. Rekomendasi Umum No. 19 Sidang II tahun 1992 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskrimina i terhadap Perempuan
d. Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia tahun 1993, yang dirapatkan oleh Sidang Umum PBB dengan Resolusi No. 45/155, Desember 1990
e. Resolusi Mejelis Umum PBBNP 48/104 Th. 1993 yang mengutuk setiap bentuk kekerasan terhadap perempuan baik dalam keluarga maupun masyarakat atau oleh Negara.
Sanksi Pidana Bagi Pelaku KDRT
Sanksi pidana dalam pelanggaran UU No.23 tahun 2004 tentang PKDRT diatur dalam Bab VIII mulai dari pasal 44 s/d pasal 53. Khusus untuk kekerasan KDRT di bidang seksual, berlaku pidana minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara atau 20 tahun penjara atau denda antara 12 juta s/d 300 juta rupiah atau antara 25 juta sampai dengan 500 juta rupiah. (vide pasal 47 dan 48 UU PKDRT).
Selain pidana pokok yang diatur dalam KUHP, UU PKDRT dalam Pasal 50 juga mengatur pidana tambahan berupa: pembatasan gerak pelaku baik yang bertujuan untuk menjauhkan pelaku dari korban dalam jarak dan waktu tertentu, maupun pembatasan hak-hak tertentu dari pelaku; penetapan pelaku mengikuti program konseling di bawah pengawasan lembaga tertentu.
Pasal 1 angka 1 UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga–"UU KDRT").
UU KDRT juga telah memberikan larangan bagi setiap orang untuk melakukan kekerasan baik kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual maupun penelantaran rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya (lihat Pasal 5 UU KDRT). Kekerasan fisik yang dimaksud pasal tersebut adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat (lihat Pasal 6 UU KDRT) sehingga termasukpula perbuatan menampar, menendang dan menyulut dengan rokok adalah dilarang.
Pasal 26 ayat (1) UU KDRT menentukan bahwa yang dapat melaporkan secara langsung adanya KDRT kepada polisi adalah korban. Sebaliknya, keluarga atau pihak lain tidak dapat melaporkan secara langsung adanya dugaan KDRT kecuali telah mendapat kuasa dari korban (lihat Pasal 26 ayat [2] UU KDRT).
Meski demikian, pihak keluarga masih dapat melakukan tindakan lain untuk mencegah berlanjutnya kekerasan terhadap korban. Kewajiban masyarakat untuk turut serta dalam pencegahan KDRT ini diatur dalamPasal 15 UU KDRT yang berbunyi sebagai berikut:
"Setiap orang yang mendengar, melihat, atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk:
a.     mencegah berlangsungnya tindak pidana;
b.     memberikan perlindungan kepada korban;
c.      memberikan pertolongan darurat; dan
d.     membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan."
 
Dengan demikian, berdasarkan ketentuan di atas, yang dapat Anda lakukan sebagai kakak adalah sebagaimana disebutkan dalam poin a s.d. poin d di atas. UU KDRT menyebutkan bahwa permohonan (poin d) dapat disampaikan dalam bentuk lisan atau tulisan. Ditegaskan pula dalam hal permohonan perintah perlindungan diajukan oleh keluarga, teman korban, kepolisian, relawan pendamping, atau pembimbing rohani, maka korban harus memberikan persetujuannya. Namun, dalam keadaan tertentu, permohonan dapat diajukan tanpa persetujuan korban (lihat Pasal 30 ayat [1], ayat [3], dan ayat [4] UU KDRT). Yang dimaksud dengan "keadaan tertentu" dalam ketentuan tersebut, misalnya: pingsan, koma, dan sangat terancam jiwanya.
Selain itu, korban KDRT dilindungi haknya oleh UU KDRT yaitu untuk mendapatkan (Pasal 10 UU KDRT):
a. perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan;
b. pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis;
c.   penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban;
d. pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
e. pelayanan bimbingan rohani.
 
Ancaman pidana terhadap kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga ini adalah pidana penjara pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp15 juta (lihat Pasal 44 ayat [1] UU KDRT). Dan khusus bagi KDRT yang dilakukan oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, ancaman pidananya adalah pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp5 juta (lihat Pasal 44 ayat [4] UU KDRT).
HAK KORBAN KDRT SERTA PERAN BERBAGAI PIHAK
Hak-Hak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Ps 10)
perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial , atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan
pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis
penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban;
pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
pelayanan bimbingan rohani.
Untuk menjaga hak-hak korban KDRT dan untuk segala bentuk pencegahan serta penanggulangan KDRT, maka di perlukan campur tangan dari berbagai pihak
Kewajiban Pemerintah
Pemerintah (cq. Menteri Pemberdayaan Perempuan) bertanggung jawab dalam upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga (Ps 11). Oleh karenanya, sebagai pelaksanaan tanggung jawab tersebut, pemerintah (Ps 12):
merumuskan KEBIJAKAN PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA;
menyelenggarakan KOMUNIKASI, INFORMASI dan EDUKASI tentang kekerasan dalam rumah tangga;
menyelenggarakan ADVOKASI dan SOSIALISASI tentang kekerasan dalam rumah tangga;
menyelenggarakan PENDIDIKAN dan PELATIHAN SENSITIF JENDER dan ISU KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA serta menetapkan STANDAR dan AKREDITASI pelayanan yang sensitif gender. Selanjutnya menurut Pasal 13, untuk penyelenggaraan pelayanan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga, pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing dapat melakukan upaya.
Kewajiban Masyarakat (Ps 15)
Sesuai batas kemampuannya, setiap orang yang MENDENGAR, MELIHAT, atau MENGETAHUI terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya- upaya untuk:
mencegah berlangsungnya tindak pidana
memberikan perlindungan kepada korban
memberikan pertolongan darurat; dan
membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan
Peran Gereja
Menyatakan dengan jelas kepada jemaat maupun publik bahwa kekerasan bertentangan dengan kasih yang diajarkan oleh agama.
Membentuk  tim  advokasi  gereja  guna  menangani  masalah  KDRT.
Membentuk  komunitas  anti  kekerasan di lingkungan gereja.
Sosialisasi melalui penelaah Alkitab guna memahami tentang kasih Allah.
PENANGANAN DAN PEMULIHAN KORBAN KDRT
Penanganan Korban KDRT
Pada hakekatnya secara psikologis dan pedagogis ada dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk menangani KDRT, yaitu pendekatan kuratif dan preventif.
Pendekatan kuratif
Menyelenggarakan pendidikan orangtua untuk dapat menerapkan cara mendidik dan memperlakukan anak-anaknya secara humanis.
b. Memberikan keterampilan tertentu kepada anggota keluarga untuk secepatnya melaporkan ke pihak lain yang diyakini sanggup memberikan pertolongan, jika sewaktu-waktu terjadi KDRT.
c. Mendidik anggota keluarga untuk menjaga diri dari perbuatan yang mengundang terjadinya KDRT.
d. Membangun kesadaran kepada semua anggota keluarga untuk takut kepada akibat yang ditimbulkan dari KDRT.
e. Membekali calon suami istri atau orangtua baru untuk menjamin kehidupan yang harmoni, damai, dan saling pengertian, sehingga dapat terhindar dari perilaku KDRT.
f. Melakukan filter terhadap media massa, baik cetak maupun elektronik, yang menampilkan informasi kekerasan.
g. Mendidik, mengasuh, dan memperlakukan anak sesuai dengan jenis kelamin, kondisi, dan potensinya.
h. Menunjukkan rasa empati dan rasa peduli terhadap siapapun yang terkena KDRT, tanpa sedikitpun melemparkan kesalahan terhadap korban KDRT.
i. Mendorong dan menfasilitasi pengembangan masyarakat untuk lebih peduli dan responsif terhadap kasus-kasus KDRT yang ada di lingkungannya.
Pendekatan Preventif
Memberikan sanksi secara edukatif kepada pelaku KDRT sesuai dengan jenis dan tingkat berat atau ringannya pelanggaran yang dilakukan, sehingga tidak hanya berarti bagi pelaku KDRT saja, tetapi juga bagi korban dan anggota masyarakat lainnya.
Memberikan incentive bagi setiap orang yang berjasa dalam mengurangi, mengeliminir, dan menghilangkan salah satu bentuk KDRT secara berarti, sehingga terjadi proses kehidupan yang tenang dan membahagiakan.
Menentukan pilihan model penanganan KDRT sesuai dengan kondisi korban KDRT dan nilai-nilai yang ditetapkan dalam keluarga, sehingga penyelesaiannya memiliki efektivitas yang tinggi.
Membawa korban KDRT ke dokter atau konselor untuk segera mendapatkan penanganan sejak dini, sehingga tidak terjadi luka dan trauma psikis sampai serius.
Menyelesaikan kasus-kasus KDRT yang dilandasi dengan kasih sayang dan keselamatan korban untuk masa depannya, sehingga tidak menimbulkan rasa dendam bagi pelakunya.
Mendorong pelaku KDRT untuk sesegera mungkin melakukan pertaubatan diri kepada Allah swt, akan kekeliruan dan kesalahan dalam berbuat kekerasan dalam rumah tangga, sehingga dapat menjamin rasa aman bagi semua anggota keluarga.
Pemerintah perlu terus bertindak cepat dan tegas terhadap setiap praktek KDRT dengan mengacu pada UU tentang PKDRT, sehingga tidak berdampak jelek bagi kehidupan masyarakat. Pilihan tindakan preventif dan kuratif yang tepat sangat tergantung pada kondisi riil KDRT, kemampuan dan kesanggupan anggota keluarga untuk keluar dari praketk KDRT, kepedulian masyarakat sekitarnya, serta ketegasan pemerintah menindak praktek KDRT yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Pemulihan Korban
Untuk kepentingan pemulihan, korban dapat memperoleh pelayanan dari:
Tenaga Kesehatan; Tenaga kesehatan wajib memeriksa korban sesuai dengan standar profesi, dan dalam hal korban memerlukan perawatan, tenaga kesehatan wajib memulihkan dan merehabilitasi kesehatan korban.
Pekerja Sosial;
Relawan Pendamping; dan/atau
Pembimbing Rohani. Pekerja Sosial, Relawan Pendamping, dan/ atau Pembimbing Rohani wajib memberikan pelayanan kepada korban dalam bentuk pemberian konseling untuk menguatkan dan/atau memberikan rasa aman bagi korban.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Setiap keluarga pada awalnya selalu mendambakan kehidupan rumah tangga yang aman, nyaman, dan membahagiakan. Secara fitrah perbedaan individual dan lingkungan sosial budaya berpotensi untuk menimbulkan konflik. Bila konflik sekecil apapun tidak segera dapat diatasi, sangatlah mungkin berkembang menjadi KDRT. Kejadian KDRT dapat terwujud dalam bentuk yang ringan sampai berat, bahkan dapat menimbulkan korban kematian, sesuatu yang seharusnya dihindari. Untuk dapat menyikapi KDRT secara efektif, perlu sekali setiap anggota keluarga memiliki kemampuan dan keterampilan mengatasi KDRT, sehingga tidak menimbulkan pengorbanan yang fatal. Tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan bagi anggota keluarga yang sudah memiliki usia kematangan tertentu dan memiliki keberanian untuk bersikap dan bertindak. Sebaliknya jika anggota keluarga tidak memiliki daya dan kemampuan untuk menghadapi KDRT, secara proaktif masyarakat, para ahli, dan pemerintah perlu mengambil inisiatif untuk ikut serta dalam penanganan korban KDRT, sehingga dapat segera menyelamatkan dan menghindarkan anggota keluarga dari kejadian yang tidak diinginkan. Dan Agama Kristen sebagai pedoman umat percaya memiliki peran untuk mencegah terjadinya KDRT melalui pengajaran tentang kasih
Saran
Dari simpulan yang disebutkan di atas, penulis dapat memberikan beberapa saran antara lain:
1. Dalam sebuah rumah tangga kedua belah pihak harus sama-sama menjaga agar tidak terjadi konflik yang bisa menimbulkan kekerasan.
2. Sebelum kita melihat kesalahan orang lain, marilah kita berkaca pada diri kita sendiri.
3. Maka antara suami dan istri harus memiliki keimanan yang kuat dan akhlaq yang baik, adanya komunikasi yang baik antara suami dan istri, serta memiliki rasa saling percaya, pengertian, dan saling menghargai.
4. pemerintah dan masyarakat lebih berupaya menyadarkan dan membuka mata serta hati untuk tidak berdiam diri bila ada kasus KDRT lebih ditingkatkan pengawasannya.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab.2009.Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru. Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia
Kodir Faqihuddin Abdul. 2008. Referensi bagi Hakim Peradilan Agama tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga. Jakarta : Komnas Perempuan
Umar Farok Peri. 2008. Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jakarta : Literacy & Publication Solutions
Utomo Brief. 2009. Kekerasan Terhadap Perempuan. Jakarta : PT Indo.Indd
Wahab Rochmat. 2006. Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Bandung: UIN
Yoga Aditama. 2012. Pedoman Pengendalian Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Jakarta : Erlangga
http://irmadevita.com/2012/ayo-tolak-kekerasan-dalam-rumah-tangga/Diakses pada minggu, 02 november 2014 pukul 19.17 WITA
http://midwifejaniezt.blogspot.com/2012/12/makalah-kdrt.htmlDiakses pada minggu, 02 november 2014 pukul 19.24 WITA
http://pembaharuankeluarga.wordpress.com/2009/01/08/kdrt-menurut-firman-tuhan/Diakses pada minggu, 02 november 2014 pukul 21.12
http://pureofdream.blogspot.com/2013/05/contoh-makalah-kdrt.htmlDiakses pada minggu, 02 november 2014 pukul 19.38 WITA
http://shecyndi.blogspot.com/2012/03/contoh-makalah-kdrt.htmlDiakses pada minggu, 02 november 2014 pukul 20.12 WITA
http://www.kantorhukum-lhs.com/artikel-hukum/n?id=Kekerasan-Dalam-Rumah-Tangga-KDRTDiakses pada minggu, 02 november 2014 pukul 20.38 WITA
http://www.slideshare.net/astryanisyarifahtrya/makalah-kdrtDiakses pada minggu, 02 november 2014 pukul 20.43 WITA


Download Makalah KDRT.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah KDRT. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon