December 06, 2016

MAKALAH GANGGUAN DISOSIATIF


Judul: MAKALAH GANGGUAN DISOSIATIF
Penulis: Kiki W


GANGGUAN DISOSIATIF
2076450370205
Disusun oleh :
Novera Christina R 12.40.0019
Hana Gamareitha 12.40.0037
Jeffri Yulianto 12.40.0038
Gracia Adarrini O P 12.40.0046
Kinanti Widyaningsih 12.40.0053
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
2014

GANGGUAN DISOSIATIF
Gangguan disosiatif itu artinya sebuah kelompok gangguan yang ditandai oleh suatu kekacauan atau disosiasi dari fungsi identitas, ingatan, atau kesadaran. Gangguan identitas disosiatif biasanya disebut sebagai kepribadian ganda.
Gejala-gejala disosiatif : a) gangguan-gangguan yang tidak diminta dalam hal kesadaran diri dan perilaku, diikuti dengan hilangnya kontinuitas dalam pengalaman subjektif (gejala "positif" disosiatif : pemecahan identitas, depersonalisasi, dan derealisasi) b) ketidakmampuan untuk mengolah informasi atau mengontrol fungsi mental yang seharusnya secara normal mampu untuk dikontrol (gejala "negatif" disosiatif : amnesia). Gangguan disosiatif dapat terjadi akibat trauma. Gejala-gejala yang terjadi, termasuk hal yang memalukan dan membingungkan dalam gejala atau hasrat untuk menyembunyikan gejala-gejala tersebut, diakibatkan karena trauma. (DSM V)
Gejala utama disosiatif adalah adanya kehilangan (sebagian atau seluruh) dari integrasi normal di bawah kendali kesadaran antara :
Ingatan masa lalu
Kesadaran identitas dan pengindraan segera (awareness of identity and immediate sensation) dan,
Kontrol terhadap gerakan tubuh (PPDGJ)
Jenis-jenis Gangguan Disosiatif
Gangguan Identitas Disosiatif
Suatu gangguan disosiatif dimana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda atau kepribadian pengganti (alter). Terdapat beberapa variasi dari kepribadian ganda, seperti kepribadian tuan rumah atau utama mungkin tidak sadar akan identitas lainnya, sementara kepribadian lainnya sadar akan keberadaan si tuan rumah (Dorahy, 2001) ada juga kepribadian yang berbeda benar-benar tidak sadar satu sama lain. Terkadang dau kepribadian bersaing untuk mendapatkan kontrol terhadap orang tersebut ada juga satu kepribadian dominan atau inti da nada beberapa kepribadian sub ordinat.
Orang dengan kepribadian ganda seringkali sangat imajinatif pada masa kecilnya karena terbiasa dengan permainan "make-believe" (pura-pura atau bermain peran) mereka mungkin sudah mengadopsi identitas pengganti, terutama bila mereka belajar bagaimana menampilkan peran kepribadian ganda da nada sumber eksternal yang membenarkan.
Dalam kasus kepribadain ganda masih terdapat kontroversi, karena selama tahun 1920-1970 dilaporkan hanya sedikit kasus di seluruh dunia tentang kepribadian ganda. Sejumlah ahli percaya bahwa gangguan tersebut terlalu cepat didiagnosis pada orang-orang yang sangat mudah tersugesti yang bisa saja hanya mengikuti sugesti bahwa mereka mungkin memiliki gangguan tersebut (APA, 2000). Sejumlah pakar terkenal, seperti Alm. Psikolog Nicholas Spanos dan para psikolog lainnya telah menentang keberadaan gangguan identitas disosiatif. Bagi Spanos, kepribadian ganda bukanlah suatu gangguan tersendiri, namun suatu bentuk bermain peran dimana individu pertama-tama mulai menganggap diri mereka memiliki self ganda dan kemudian mulai bertindak dengan cara yang konsisten dengan konsepsi mereka mengenai gangguan tersebut. Pada akhirnya permainan peran mereka tertanam sangat dalam sehingga menjadi kenyataan bagi mereka.
Kepribadian ganda berbeda dengan skizofrenia. Dalam kepribadian ganda kepribadiannya seperti terbagi kedalam dua atau lebih kepribadian namun masing-masing biasanya menunjukkan fungsi yang lebih terintegrasi pada tingkat kognitif, afektif dan perilaku. Sedangkan skizofrenia adalah kelainan mental yang ditandai oleh gangguan proses berpikir dan respon emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi pendengaran, paranoid atau waham yang ganjil, atau cara berbicara dan berpikir yang kacau, dan disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan
Berdasarkan DSM V :
Kriteria Diagnostik : 300.14 (F 44.81)
Disruption of identity characterized by two or more distinct personality states, which
may be described in some cultures as an experience of possession. The disruption in
identity involves marked discontinuity in sense of self and sense of agency, accompanied by related alterations in affect, behavior, consciousness, memory, perception, cognition, and/or sensory-motor functioning. These signs and symptoms may be observed by others or reported by the individual.
B. Recurrent gaps in the recall of everyday events, important personal information, and/
or traumatic events that are inconsistent with ordinary forgetting.
C. The symptoms cause clinically significant distress or impairment in social, occupational, or other important areas of functioning.
D. The disturbance is not a normal part of a broadly accepted cultural or religious practice.
Note: In children, the symptoms are not better explained by imaginary playmates or
other fantasy play.
E. The symptoms are not attributable to the physiological effects of a substance (e.g.,
blackouts or chaotic behavior during alcohol intoxication) or another medical condition. (e.g., complex partial seizures).
Identitas disosiatif merupakan kemunculan dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Kejelasan atau ketidakjelasan dari kepribadian ini bagaimanapun bervariasi dari fungsi motivasi psikologis, level stress sekarang, budaya, konflik internal dan dinamic, serta naik turunnya emosi. Penekanan periode-periode dari gangguan identitas mungkin terjadi ketika tekanan psikososial parah dan/atau berkepanjangan. Dalam beberapa kasus "possession-form" dari gangguan identitas disosiatif, dan dalam proporsi kasus "non-possession-form" yang kecil, perwujudan dari identitas alter akan sangat jelas. Kebanyakan individu dengan gangguan identitas disosiatif "non-possession-form", tidak sejara jelas menunjukkan ketidaksinambungan identitas diri dalam periode waktu yang lama; hanya sedikit bagian menujukkan pada perhatian klinis dengan identitas alternatif yang terobservasi. Ketika kepribadian alternatif tidak secara langsung terobservasi, gangguan tersebut dapat diidentifikasi oleh dua bagian dari gejala : 1) perubahan/alter yang tiba-tiba atau diskontinuitas dari dalam diri (Kriteria A) dan 2) amnesia disosiatif yang berulang (Kriteria B).
Gejala-gejala dari kriteria A berhubungan dengan diskontinuitas pengalaman yang dapat berpengaruh pada berbagai aspek fungsi individu. Individu dengan gangguan identitas disosiatif dapat menunjukkan perasaan yang tiba-tiba menjadi pengamat yang didepersonalisasi dari perkataan dan tindakan mereka, dimana mereka merasa tidak berdaya untuk menghentikannya (sense of self). Beberapa individu juga menunjukkan persepsi suara (cth : suara anak; tangisan ; dan suara roh). Pada beberapa kasus, suara-suara tersebut terasa banyak, membingungkan, pikiran bebas mengalir melalui individu yang tidak terkontrol. Emosi yang kuat, impuls, dan perkataan atau tindakan lain tiba-tiba muncul tanpa rasa kepemilikan diri atau tanpa kontrol. Emosi-emosi dan impuls ini seringkali ditunjukkan sebagai ego yang tidak kuat dan membingungkan. Sikap, penampilan dan kesukaan pribadi (makanan, aktivitas, pakaian) dapat berubah secara tiba-tiba dan berubah lagi. Individu juga merasa tubuhnya berbeda (seperti tubuh anak-anak, jenis kelampin berbeda, besar dan berotot). Perubahan dalam perasan diri sendiri dan kehilangan agen personal dapat diikuti rasa bahwa sikap, emosi, dan perilaku – dalam satu tubuh – bukan milik sendiri dan bukan dalam kontrol diri. Walaupun kebanyakan gejala Kriteria A bersifat subjektif, kebanyakan dari diskontinuitas yang tiba-tiba dalam berbicara, pengaruh, dan perilaku dapat diamati oleh keluarga, teman, dan terapis. Serangan non-epilepsi dan gejala konversi lainnya menonjol dalam beberapa penjelasan dari identitas disosiatif, khususnya dalam setting non-Barat.
Individu yang memiliki gangguan identitas disosiatif berbeda dalam kesadaran diri dan sikap terhadap amnesia. Hal ini umum pada individu tersebut untuk memperkecil gejala amnesia mereka. Beberapa perilaku amnesia dapat menjadi nyata pada lainnya – seperti ketika orang-orang tidak mengingat kembali sesuatu yang mereka sadari dalam berbuat atau berkata, ketika mereka tidak bisa mengingat nama mereka, atau ketika mereka tidak mengenal pasangan, anak, atau teman dekatnya.
Identitas "possession-form" dalam identitas disosiatif nyata sebagai perilaku yang muncul seperti ada "spirit", kekuatan supernatural, atau ada orang lain di luar yang mengontrol. Contohnya, perilaku individu dapat memunculkan bahwa identitas mereka telah digantikan dengan "hantu" dari perempuan yang bunuh diri dalam komunitas mereka beberapa tahun yang lalu, berbicara dan berperilaku seakan-akan perempuan itu masih hidup. Atau, individu diambil alih oleh iblis, sebagai tuntutan dari individu untuk mendapatkan hukuman atas perilaku yang telah dia lakukan di masa lalu. Bagaimanapun, bagian utama dari keadaan kepemilikan di dunia ini normal, biasanya bagian dari spiritual dan tidak termasuk dalam gangguan identitas disosiatif. Identitas yang meningkat selama gangguan disosiatif disorder "possession-form" muncul berulang tidak diinginkan dan terpaksa yang menyebabkan distress atau kerusakan klinis yang signifikasn (Kriteria C) dan tidak dapat diterima oleh budaya atau agama secara luas (Kriteria D).

Perkembangan dan rangkaiannya :
Identitas disosiatif dihubungkan dengan pengalaman yang berlimpah, peristiwa traumatik, dan pelecehan yang terjadi di masa kanak-kanak. Keseluruhan gangguan dapat terjadi pertama kali secara nyata hampir di seluruh umur (masa kanak-kanak awal sampai lansia). Disosiatif di masa anak berhubungan dengan permasalahan memori, konsentrasi, kelekatan, dan permainan traumatik. Bagaimanapun, anak-anak biasanya tidak menunjukkan perubahan identitas; malahan, mereka awalnya menunjukkan overlap dan campuran dari keadaan mental (Fenomena kriteria A) dengan gejala yang berhubungan dengan diskontinuitas dari pengalaman. Perubahan identitas secara tiba-tiba pada saat remaja dapat muncul hanya menjadi keadaan kacau atau tingkat awal dari gangguan mental lainnya. Individu yang lebih tua dapat memunculkan hal yang muncul pada gangguan mood, obsesif kompilsif, paranoid, gangguan mood psikotik, bahkan gangguan kognitif yang disebabkan karena amnesia disosiatif. Dalam beberapa kasus, pengaruh gangguan dan memori dapat meningkat, memaksakan kesadaran diri dengan mempercepat umur. Perubahan nyata dalam identitas dapat ditekan dengan 1) penghilangan dari situasi trauma 2) kanak-kanak dari individu tersebut mencapai umur dimana individu tersebut mengalami pelecehan atau peristiwa traumatik 3) pengalaman traumatik selanjutnya, biasanya tidak penting 4) kematian dari, atau onset dari penyakit fatal, pelaku pelecehan seksual
Faktor resiko dan prognosis :
Lingkungan. Hubungan fisik interpersonal dan pelecehan seksual dikaitkan dengan meningkatnya resiko dari gangguan identitas disosiatif. Pelecehan seksual dan pengabaian adalah penyebab 90% penderita identitas disosiatif di United Stats, Canada dan Eropa di antara penderita. Bentuk-bentuk lain adalah pengalaman traumatik, termasuk prosedur operasi dan penanganan medis anak, perang, prostitusi anak, dan terorisme.
Lainnya. Pelecehan yang sedang terjadi, pengulangan trauma di kehidupan-selanjutnya, berkaitan dengan gangguan mental, penyakit medis yang parah, dan penundaan dalam beberapa treatmen dengan prognosis yang lemah.
Perbedaan diagnosis dengan :
Gangguan disosiatif spesifik lainnya. Ciri gangguan identitas disosiatif adalah terbaginya identitas dengan berulangnya gangguan dari fungsi kesadaran dan pendirian. Sedangkan gangguan disosiatif spesifik lainnya tidak termasuk dalam kriteria A dan tidak diikuti amnesia berulang.
Major depressive disorder. Depresi yang ditemukan dalam gangguan identitas disosiatif memiliki segi sendiri: mood depresi dan fluktuasi kognisi dalam beberapa identitas, tapi yang lain tidak.
Gangguan bipolar. Dalam gangguan bipolar, pergantian mood yang secara cepat terjadi dalam waktu menit/jam dalam diri individu tanpa perbedaan identitas. Dalam identitas disosiatif, penaikan atau penurunan mood ditunjukkan dengan identitas yang jelas berbeda. Jadi, mood lain akan mendominasi dalam jangka waktu yang relatif lama (hari) atau menit.
PTSD dan identitas disosiatif. Untuk membedakan individu dengan gangguan PTSD saja atau PTSD dan identitas disosiatif cukup sulit. Beberapa individu dengan PTSD menunjukkan gejala disosiatif yang juga dapat terjadi di identitas disosiatif : 1) amnesia pada aspek traumatik, 2) dissosiative flashbacks, 3) gejala pengacauan dan penghindaran, perubahan negatif dalam kognisi dan mood, dan berlebihan dalam peristiwa traumatik. Sebaliknya, individu dengan identitas disosiatif menunjukkan gejala yang bukan menunjukkan PTSD : 1) amnesia yang terjadi hampir setiap hari (peristiwa non-traumatic) 2) dissosiative flashbacks yang diikuti amnesia dari konten flashbacks 3) gangguan yang kacau (tidak berhubungan dengan kerjadian traumatik) dalam pendirian 4) perubahan identitas diri yang tidak terduga.
Gangguan psikotik (schizphrenia). Gangguan identitas disosiatif seringkali dibingungkan dengan gangguan psikotik karena munculnya suara-suara tertentu (halusinasi psikotik). Individu dengan gangguan identitas disosiatif dapat menunjukkan penglihatan, taktil, rasa, penciuman, halusinasi somatik yang biasanya berhubungan dengan posttraumatic dan faktor disosiatif, seperti bagian dari masa lalu. Individu merasakan gejala ini karena perubahan identitas yang dimilikinya, bukan karena delusi saja dan sering menjelaskan gejala tersebut dengan sendirinya ("aku merasa seperti orang lain ingin menangis dengan mataku"). Identitas yang kacau dan kerusakan akut yang mengganggu pikiran, serta amnesia yang terjadi dalam beberapa episde pada identitas disosiatif dapat membedakan dengan gangguan psikotik.
Gangguan obat-obatan. Gangguan identitas disosiatif tidak disebabkan karena penggunaan obat.
Gangguan kepribadian. Individu yang memiliki gangguan identitas disosiatif terlihat seperti memiliki gangguan kepribadian. Bagaimanapun, gangguan identitas disosiatif tidak memiliki identitas yang menetap pada dirinya. Orang yang memiliki gangguan kepribadian tidak akan mengalami perubahan identitas, namun memiliki gangguan kepribadian yang lebih menetap.
Malingering. Individu yang mempunyai gangguan malingering biasanya membuat secara terbatas, berdasarkan stereotip tertentu, berpura-pura lupa, dan berhubungan dengan peristiwa yang terlihat kasat mata. Contohnya, mereka biasanya menunjukkan semua "identitas yang baik" dan "identitas yang buruk" dalam diri. Mereka juga serasa "enjoy" untuk berpura-pura memiliki gangguan tersebut. Orang yang memiliki gangguan identitas disosiatif akan bersikap malu dengan gejala-gejalanya dan menyangkal gejala tersebut. Maka, harus ada observasi secara beruntut, mengumpulkan sejarah dari individu, dan assesment psikologi.
Berdasarkan PPDGJ :
Lihat F 44.81
Amnesia disosiatif
Amnesia disosiatif dipercaya sebagai tipe yang paling umum dari gangguan disosiatif (Maldonado, Butler, dan Speigel, 1998). Amnesia diambil dari kata Yunani a-, berarti "tanpa" dan mnasthai, berarti "untuk mengingat". Dalam amnesia disosiatif sebelumnya disebut sebagai amnesia psikogenik, orang menjadi tidak mampu menyebutkan kembali informasi pribadi yang penting, biasanya melibatkan pengalaman yang traumatis atau penuh tekanan, dalam bentuk yang tidak dapat dianggap sebagai lupa biasa. Kehilangan ingatan ini juga tidak disebabkan oleh penyebab organis tertentu, seperti kerusakan pada otak atau kondisi medis tertentu, bukan pula efek langsung dari obat-obatan atau alkohol. Ingatan yang hilang dalam amnesia disosiatif dapat kembali, meski gangguan ini dapat berlangsung selama beberapa hari, minggu atau bahkan tahun. Mengingat kembali dalam amnesia disosiatif dapat terjadi secara bertahap tapi sering muncul secara tiba-tiba atau spontan.
Berdasarkan DSM V :
Kriteria Diagnostik : 300.12 (F 44.0)
An inability to recall important autobiographical information, usually of a traumatic or stressful nature, that is inconsistent with ordinary forgetting.
Note: Dissociative amnesia most often consists of localized or selective amnesia for specific event or events; or generalized amnesia for identity and life history.
B.The symptoms cause clinically significant distress or impairment in social, occupational, or other important areas of functioning.
C.The disturbance is not attributable to the physiological effects of a substance (e.g., alcohol or other drug of abuse, a medication) or a neurological or other medical condition (e.g., partial complex seizures, transient global amnesia, sequelae of a closed head injury/traumatic brain injury, other neurological condition).
D. The disturbance is not better explained by dissociative identity disorder, posttraumatic
stress disorder, acute stress disorder, somatic symptom disorder, or major or mild neurocognitive disorder.
Coding note: The code for dissociative amnesia without dissociative fugue is 300.12
(F44.0). The code for dissociative amnesia with dissociative fugue is 300.13 (F44.1).
Specify if ;
300.13 (F44.1)
With dissociative fugue: Apparently purposeful travel or bewildered wandering that is associated with amnesia for identity or for other important autobiographical information.

Definisi karakteristik dari amnesia disosiatif adalah ketidakmampuan untuk mengingat kembal informasi autobiografi penting yang 1) seharusnya dengan sukses dikeluarkan dari memori 2) biasanya selalu siap untuk diingat (mudah untuk diingat) (Kriteria A). Amnesia disosiatif dibedakan dari amnesia permanen yang disebabkan oleh kerusakan neurologis atau keracunan yang mencegah tempat penyimpanan memori atau mengingat kembali informasi yang selalu berpotensi untuk mudah dikembalikan karena memori tersebut sudah tersimpan secara sukses.
Amnesia terlokalisasi, kegagalan untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa dalam periode waktu terbatas, adalah bentuk umum dari amnesia disosiatif. Amnesia terlokalisasi dapat menjadi lebih luas dari amnesia satu peristiwa trauma (pelecehan seksual selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dan pertempuran hebat)
Dalam amnesia selektif, individu dapat mengingat beberapa, namun tidak semua, peristiwa-peristiwa dalam periode waktu terbatas. Jadi, individu dapat mengingat bagian dari peristiwa traumatik, tetapi tidak pada bagian lain. Beberapa individu melaporkan, dirinya menderita baik amnesia terlokalisasi dan amnesia selektif.
Amnesia menyeluruh, penghilangan memori keseluruhan dari sejarah kehidupan seseorang, dan hal tersebut jarang. Individu dengan amnesia keseluruhan dapat melupakan identitas pribadi. Beberapa kehilangan pengetahuan sebelumnya tentang dunia (pengetahuan semantik) dan tidak dapat melakukan keahlian-keahlian yang telah dipelajari (pengetahuan prosedural). Amnesia menyeluruh mempunyai onset akut; membingungkan, disorientasi, dan pengeluyuran yang tidak bertujuan dari individu dengan amnesia menyeluruh biasanya membawa mereka pada perhatian polisi atau pelayan psikiater darurat. Amnesia menyeluruh dapat menjadi lebih umum di antara veteran perang, korban kekerasan seksual dan individu yang memiliki pengalaman stress emosional yang ekstrim atau konflik.
Individu dengan amnesias disosiatif seringkali tidak menyadari (atau hanya sebagian sadar) permasalahan memori mereka. Kebanyakan, terkhusus mereka yang mengalami amnesia terlokalisasi, meminimalisir kepentingan dari kehilangan memori mereka dan dapat menjadi tidak nyaman ketika diarahkan untuk mengingat memori tersebut. Dalam amnesia tersistematis, individu kehilangan memori untuk kategori informasi yang spesifik (semua ingatan tentang keluarga, orang penting, pelecehan seksual masa kecil). Dalam amnesia berkesinambungan, individu melupakan tiap peristiwa yang terjadi.
Perkembangan dan rangkaian :
Onset dari amnesia menyeluruh biasanya terjadi tiba-tiba. Hanya sedikit yang mengetahui tentang onset dari amnesia terlokalisasi dan selektif karena jarang terlihat, bahkan pada individu tersebut. Walaupun pengalaman yang berlebihan dan intoleran mengawali amnesia terlokalisasi, onset tersebut dapat tertunda beberapa jam, hari, atau lebih lama lagi.
Individu dapat menujukkan banyak episode dari amnesia disosiatif. Episode tunggal dapat mempengaruhi episode-episode selanjutnya. Di antara episode-episode amnesia, individu dapat atau tidak dapat muncul secara jelas. Durasi dari peristiwa yang dilupakan mempunyai rentang waktu dari menit sampai dekade. Beberapa episode amnesia disosiatif berubah dengan cepat (ketika orang tersebut disingkirkan dari pertempuran atau situasi stress lainnya, dimana episode lainnya berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Beberapa individu dapat secara bergantian mengingat kembali memori disosiatif beberapa tahun kemudian. Kapasitas disosiatif dapat berkurang dengan umur, tapi tidak selalu.
Amnesia disosiatif telah diamati pada anak, remaja, dan dewasa. Anak mungkin menjadi yang paling sulit untuk dievaluas karena mereka sering mengalami kesulitan untuk mengerti pertanyaan mengenai amnesia dan pewawancara mengalami kesulitan untuk memformulasikan pertanyaan tentang memori dan amnesia. Dalam observasi amnesia disosiatif, sering sulit membedakan antara kecemasan, perilaku berlawanan, dan gangguan belajar. Maka, dibutuhkan informasi dari sumber yang berbeda (guru, terapis, rekan kerja) untuk mendiagnosis amnesia pada remaja.
Faktor resiko dan prognosis :
Lingkungan. Kejadian traumatik yang sekali terjadi atau berulang merupakan penyebab utama. Amnesia disosiatif dapat terjadi pada 1) pengalaman anak yang merugikan dalam jumlah banyak, fisik/pelecehan seksual 2) kekerasan interpersonal, dan 3) meningkatnya kekerasan, frekuensi, dan kekerasan dari trauma.
Genetik dan physiological. Tidak ada faktor genetik.
Lainnya. Penghilangan dari keadaan traumatik yang mendasari amnesia disosiatif dapat membawa kembali memori secara cepat. Kehilangan memori dari individu yang mengalami fugue disosiatif yang sedikit sukar. Onset dari PTSD dapat menurun dalam jenis terlokalisasi, selektif, atau amnesia tersistematis. Kembalinya memori, bagaimanapun, dapat dialami sebagai bentuk flashbacks.
Perbedaan amnesia disosiatif dari :
Gangguan identitas disosiatif. Individu dengan amnesia disosiatif, baik terlokalisasi, selektif dan tersistematis biasanya relatif stabil. Sedangkan gangguan identitas disosiatif mengalami amnesia yang berfluktuasi termasuk amnesia pada peristiwa sehari-hari, terkadang dapat melakukan keahlian tertentu dan terkadang tidak, celah utama untuk mengingat kembali sejarah dan secara singkat amnesiat dalam interaksi interpersonal.
Posstraumatic stress disorder. Beberapa individu dengan PTSD tidak dapat mengingat kembali bagian atau sebagian besar peristiwa trauma spesifik. Ketika amnesia memperluas waktu terjadinya trauma, maka diagnosis komorbiditas untuk amesia disosiatif dibenarkan.
Gangguan disosiatif amnesia cukup sulit dibedakan ketika seseorang yang memiliki gangguan tersebut menggunakan alkohol atau substansi lainnya. Maka, harus deteliti berapa lama individu minum minuman alkohol yang dapat menyebabkan substance-induced neurocognitive disorder yang diikuti rusaknya fungsi kognitif. Pada amnesia disosiatif, tidak terbukti dari ketetapan rusaknya fungsi intelektual.
Posttraumatic amnesia karena kerusakan otak (TBI). Amnesia dapat terjadi dalam konteks kerusakan otak traumatik, ketika ada serangan ke kepala atau gerakan atau pergantian di otak. Selain itu, penderita biasanya kehilangan kesadaran, disorientasi, dan bingung. Perbedaan terhadap amnesia disosiatif adalah kesulitan dalam daerah atensi, fungsi eksekutif, belajar, dan memori, melambatnya pemrosesan informasi dan gangguan dalam kognisi sosial.
Stupor katatonik. Mutism dalam stupor katatonik dapat menunjukkan amnesia disosiatif, namun tidak menghadirkan kegagalan untuk mengingat kembali.
Malingering. Amnesia pura-pura secara umum terjadi dalam individu : 1) akut, penuh hiasan dalam amnesia disosiatif 2) mengalami masalah finansial, seksual, atau umum 3) berharap untuk lari dari keadaan stressful. Kebanyakan individu yang berpura-pura mengakui secara spontan atau ketika ditekan.
Berdasarkan PPDGJ (F 44.0)
Ciri utamanya adalah hilangnya daya ingat biasanya mengenai kejadian penting yang baru terjadi (selective), yang bukan disebabkan oleh gangguan mental organik dan terlalu luas untuk dijelaskan atas dasar keluoaan yang umum terjadi atau atas dasar kelelahan.
Fugue disosiatif
Fugue berasal dari bahasa latin fugere, yang berarti melarikan diri, fugue sama dengan amnesia "dalam pelarian". Dalam fugue disosiatif memori yang hilang lebih luas dari pada amnesia dissosiative, individu tidak hanya kehilangan seluruh ingatanya (misalnya nama, keluarga atau pekerjaanya), mereka secara mendadak meninggalkan rumah dan pekerjaanya serta memiliki identitas yang baru (parsial atau total) (APA, 1994). Namun mereka mampu membentuk hubungan sosial yang baik dengan lingkungan yang baru. Fugue, seperti amnesia, relatif jarang dan diyakini mempengaruhi sekitar 2 orang di 1.000 di antara populasi umum (APA, 1994).
Gangguan ini muncul sesudah individu mengalami stress atau konflik yang berat,misalnya pertengkaran rumah tangga, mengalami penolakan, kesulitan dalam pekerjaan dan keuangan, perang atau bencana alam.
Perilaku seseorang pasien dengan fugue disosiatif adalah lebih bertujuan dan terintegrasi dengan amnesianya dibandingkan pasien dengan amnesia disosiatif. Pasien dengan fugue disosiatif telah berjalan jalan secara fisik dari rumah dan situasi kerjanya dan tidak dapat mengingat aspek penting identitas mereka sebelumnya (nama,keluarga, pekerjaan). Pasien tersebut seringkali, tetapi tidak selalu, mengambil identitas dan pekerjaan yang sepenuhnya baru, walaupun identitas baru biasanya kurang lengkap dibandingkan kepribadian ganda yang terlihat pada gangguan identitas disosiatif.
Penyebab dissociative fugue serupa kepada dissociative amnesia. Dissociative fugue sering disalaharti sebagai malingering, karena kedua kondisi bisa terjadi dibawah keadaan bahwa seseorang mungkin tidak bisa memahami keinginan untuk menghindar. Kebanyakan fugue tampak melambangkan pemenuhan keinginan yang disembunyikan (misal, lari dari tekanan yang berlebihan, seperti perceraian atau kegagalan keuangan). Fugues lainnya berhubungan dengan perasaan ditolak atau dipisahkan atau mereka bisa melindungi orang tersebut dari bunuh diri atau impul pembunuhan. Ketika dissociative fugue berulang labih dari beberapa waktu, orang tersebut biasanya memiliki gangguan identitas dissociative yang mendasari. Fugue bisa berlangsung dari hitungan jam sampai mingguan, atau kadangkala bahkan lebih lama.
Berdasarkan PPDGJ (F 44.1)
Ciri-ciri amnesia disosiatif . Melakukan perjalanan tertentu melampaui hal yang umum dilakukannya sehari-hari. Kemampuan mengurus diri yang dasar tetap ada seperti makan, mandi, dsb dan melakukan interaksi sosial sederhana dengan orang-orang yang belum dikenalnya misalnya membeli bensin, menanyakan arah, dan memesan makanan.
Gangguan Depersonalisasi
Ada tiga macam gangguan depersonalisasi
Depersonalisasi (depersonalization) mencangkup kehilangan atau perubahan temporer dalam perasaan yang biasa mengenai realitas diri sendiri. Dalam suatu tahap depersonalisasi, orang merasa terpish dari dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Mereka mungkin merasa seperti sedang bermimpi atau bertingkah laku seperti robot (Guralnik, Schmeidler, & Simeon, 2000; Maldonado, Butler, & Speigel, 1998).
Derealisasi (Derealization) suatu perasaan tidak nyata mengenai dunia luar yang mencakup perubahan yang aneh dalam persepsi mengenai lingkungan sekitar, atau dalam perasaan mengenai periode waktu juga dapat muncul. Orang dan objek dapat berubah ukuran atau bentuk dan dapat pula mengeluarkan suara yang berbeda. Semua perasaan ini dapat diasosiasikan dengan kecemasan, termasuk pusing dan ketakutan akan menjadi gila, atau dengan depresi.
Gangguan depersonalisasi didiagnosis hanya bila pengalaman seperti itu persisten atau berulangkali terjadi dan menimbulkan distress yang jelas.
Menurut DSM V
Kriteria Diagnostik : 300.6 (F 48.1)
A. The presence of persistent or recurrent experiences of depersonalization, derealization,
or both:
1. Depersonalization: Experiences of unreality, detachment, or being an outside observer with respect to one's thoughts, feelings, sensations, body, or actions (e.g.,
perceptual alterations, distorted sense of time, unreal or absent self, emotional and/
or physical numbing).
2. Derealization: Experiences of unreality or detachment with respect to surroundings
(e.g., individuals or objects are experienced as unreal, dreamlike, foggy, lifeless,
or visually distorted).
B.During the depersonalization or derealization experiences, reality testing remains intact.
C.The symptoms cause clinically significant distress or impairment in social, occupational, or other important areas of functioning.
D. The disturbance is not attributable to the physiological effects of a substance (e.g., a
drug of abuse, medication) or another medical condition (e.g., seizures).
E.The disturbance is not better explained by another mental disorder, such as schizophrenia, panic disorder, major depressive disorder, acute stress disorder, posttraumatic stress disorder, or another dissociative disorder.
Hal utama/penting dari gangguan depersonalisasi/derealisasi adalah episode menetap atau berulang dari depersonalisasi/derealisasi, atau keduanya. Episode dari depersonalisasi dikaraktersitikan dari perasaan yang tidak nyata atau tidak familiar dari keseluruhan diri seseorang atau dari aspek-aspek diri (Kriteria A1). Individu tersebut dapat merasa terpisah dari dirinya ("saya bukan siapa-siapa", "saya tidak mempunyai diri saya"). Dia juga merasa terpisah secara subjektif dari aspek diri, termasuk perasaan (" saya tahu saya mempunyai perasaan, tapi saya tidak merasakannya"), pikiran ("pikiran saya tidak terasa seperti milik saya", keseluruhan tubuh/bagian tubuh, atau sensasi (sentuhan, lapar, libido). Ada juga pengurangan rasa memiliki dari agen diri (terasa seperti robot, kurang dalam kontrol perkataan atau gerakan). Pengalaman depersonalisasi terkadang menjadi satu dalam pemisahan diri, dengan satu bagian mengamati dan bagian lain berpartisipasi ("out-of-body experience" adalah bentuk paling ekstrim). Kesatuan gejala dari "depersonalisasi" terdiri dari beberapa faktor gejala: pengalaman diri menyimpang dari biasanya (diri yang tidak nyata dan perubahan persepsi); emosi atau merasa mati rasa secara fisik; dan distorsi diri yang temporal dengan mengingat kembali penyimpangan diri.
Episode derealisasi dikarakteristikan oleh perasaan tidak nyata atau memisahkan dari atau tidak familiar dengan, dunia (individu, benda mati, dan sekitarnya) (Kriterian A2). Individu tersebut dapat merasa bahwa dia dalam kabut, mimpi, atau gelembung, atau pengalaman buatan, tidak berwarna, atau tidak hidup. Derealisasi secara umum diikuti dengan distorsi visual subjektif, seperti kekaburan, merasa lingkungan sekitar makin sempit/makin luas, dua-dimensi/rata, melebih-lebihkan tiga dimensi, atau perubahan jarak/ukuran dari objek. Distorsi auditori dapat terjadi, dimana suara mengecil atau mengeras. Kriteria C memerlukan kehadiran dari distress signifikan secara klinis atau kerusakan sosial, pekerjaan, atau area penting dari fungsi. Kriteria D dan E mendiskripsikan diagnosis tersendiri.
Perkembangan dan rangkaiannya :
Seseorang memiliki onset gangguan depersonalisasi/derealisasi rata-rata pada umur 16 tahun, walaupun gangguan ini dapat muncul di awal atau tengah masa kanak-kanak. Kurang dari 20% onset muncul setelah umur 20 thaun dan 5% setelah umur 25 tahun. Jarak dari onset dapat terjadi tiba-tiba dan ekstrim sampai bertahap. Durasi dari depersonalisasi/derealisasi berbeda jauh, dari beberapa jam dan hari sampai minggu, bulan, atau bertahun-tahun. Gangguan di usia lebih dari 40 tahun sangat jarang, maka dalam beberapa kasus individu harus diperiksa lebih detail lagi berdasarkan kondisi medis.
Rangkaian terjadinya gangguan ini sering menetap. Sepertiga dari kasus mempunyai ciri-ciri tersendiri dalam episodenya, sepertiga lainnya memiliki gejala berkesinambungan dari awal, dan sepertiga lainnya episodik berinisial (gejala awal tertentu) yang kemudian menjadi berkesinambungan. Faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi gangguan ini berbeda tiap individunya. Gangguan ini dapat semakin buruk karena tekanan stress, bertambah buruknya mood/gejala cemas.
Faktor risiko dan prognosis :
Tempramental. Individu dengan gangguan depersonalisasi/derealisasi memiliki karakteristik bertempramen bahaya-menghindari, ketidakdewasaan pertahanan diri, dan hilangnya hubungan/hubungan berlebihan dari skema. Ketidakdewasaan pertahanan diri seperti idealisasi/devaluasi, proyeksi dan actiong out saat menyangkal kenyataan dan kurang dapat beradaptasi. Hilangnya hubungan skema dapat menyerang kerusakan dan menahan emosi dan menggolongkan tema-tema pelecehan, pengabaian, dan perusakan. Hubungan skema yang berlebihan menyebabkan perusakan autonomi dengan tema-tema kebebasan, sifat mudah terkena penyerangan (vulnerability), dan tidak berkompetensi.
Lingkungan. Ada hubungan yang jelas antara gangguan dan trauma interpersonal masa kanak-kanak dalam beberapa porsi individu, walaupun hubungan ini tidak seumum dan seekstrim asal mula dari trauma seperti dalam gangguan disosiatif lainnya, yaitu gangguan identitas disosiatif. Dalam beberapa bagian, emosi pelecehan dan emosi pengabaian telah secara kuat dan konsisten dihubungkan dengan gangguan ini. Stressor lain dapat termasuk pelecehan fisik; melihat kekerasan; tumbuh dalam kelainan yang serius, sakit mental; atau kematian yang tidak terprediksi/bunuh diri dari anggota keluarga. Pelecehan seksual tidak terlalu umum menjadi dasar penyebab, tetapi dapat ditemui. Hal yang mempercepat terjadinya gangguan ini adalah stress yang berlebihan (hubungan interpersonal, finansial, pekerjaan), depresi, kecemasan (serangan panik), dan narkotika. Gejala-gejala dapat secara spesifik terstimulasi dari halusinogens, ketamine, MDMA, ekstasi, dan salvia. Penggunaan marijuana dapat mempercepat onset baru dari serangan panik dan gejala depersonalisasi/derealisasi secara sekaligus.
Perbedaan dengan gangguan :
Gangguan kecemasan penyakit. Pembedaan terhadap gangguan tersebut adalah gangguan depersonalisasi ditunjukkan pada kehadirian kumpulan tipikal gejala depersonalisasi dan ketidakhadiran dari gejala gangguan kecemasan penyakit.
Gangguan depresi mayor. Depresionalisasi menunjukkan perasaan bukan dirinya, serasa ingin mati, dan berada di dalam mimpi tidak umum dalam hal episode depresi mayor.
Gangguan Obsesif-kompulsif. Gejala gangguan obsesif-kompulsif tidak berkatitan dengan depersonalisasi/derealisasi walaupun beberapa gejala depersonalisasi memunculkan perilaku obsesif dalam pengalaman subyektif.
Gangguan kecemasan. Gangguan depersonalisasi/derealisasi tidak boleh ditetapkan ketika gejala terjadi pada saat serangan panik, kecemasan sosial, atau phobia spesifik. Komponen depersonalisasi/derealisasi sangat mennjol, jelas-jelas melebihi durasi dan intensitas serangan panik. Depersonalisas/derealisasi berlanjut setelah gangguan panik telah berhasil ditreatmen.
Gangguan psikotik. Pengadaan test kenyataan yang utuh secara spesifik dari gejala depersonalisasi/derealisasi penting untuk membedakan gangguan tersebut dari schizophrenia.
Berdasarkan PPDGJ :
Ciri utamanya adalah perasaan dan/atau pengalaman terlepas dari dirinya, jauh, bukan darinya (depersonalisasi). Objek, orang, dan/atau lingkungan menjadi seperti tidak sesungguhnya. Individu memahami bahwa hal tersebut merupakan perubahan spontan dan subjektif , dan bukan disebabkan oleh kekuatan luar. Penginderaan tidak terganggu.
Gangguan Disosiatif Lainnya
Berdasarkan PPDGJ
Stupor Disosiatif ( F 44.2)
Stupor, sangat berkurangnya atau hilangnya gerakan-gerakan volunter dan respon normal terhadap rangsangan luar seperti misalnya cahaya, suara, dan perabaan (sedangkan kesadaran tidak hilang). Tidak ditemukan adanya gangguan fisik ataupun gangguan jiwa lain yang dapat menjelaskan keadaan stupor tersebut.
Gangguan Trans dan Kesurupan ( F 44.3)
Gangguan ini menunjukan adanya kehilangan sementara aspek penghayatan akan identitas diri dan kesadaran akan lingkungannya. Dalam beberapa kejadian, individu tersebut berperilaku seakan-akan dikuasai oleh kepribadian lain, kekuatan gaib, malaikat atau "kekuatan lain" . hanya gangguan trans yang "involunter" (diluar kemampuan individu) dan bukan merupakan aktivitas yang biasa dan bukan merupakan kegiatan keagamaan ataupun budaya, yang boleh dimasukan dalam pengertian ini. Tidak ada penyebab organik misalya epilepsi, cidera kepala, dan lain-lain, dan bukan bagian gangguan jiwa tertentu.
Gangguan Motorik Disosiatif ( F 44.4)
Bentuk yang umum dari gangguan ini adalah ketidakmampuan menggerakan seluruh atau sebagian dari anggota gerak (tangan atau kaki). Gejala tersebut seringkali menggambarkan konsep dari penderita mengenai gangguan fisik yang berbeda dengan prinsip fisiologik dan anatomik.
Konvulsi Disosiatif ( F 44.5)
Konvulsi disosiatif (pseudo seizures) dapat sangat mirip dengan kejang, epileptik dalam hal gerakan gerakannya, akann tetapi sangat jarang disertai lidah tergigit, luka serius karena jatuh saat serangan dan mengompol juga tidak dijumpai kehilangan kesadaran atau hal tersebut diganti dengan keadaan seperti stupor atau trans.
Anestesia dan Kehilangan sensorik disosiatif ( F 44.6)
Gejala anestesia pada kulit seringkali mempunyai batas-batas yang tegas (menggambarkan pemikiran pasien mengenai kondisi tubuhnya dan bukan menggambarkan kondisi klinis sebenarnya). Dapat pula terjadi perbedaan antara hilangnya perasaan pada berbagai jenis modalitas penginderaan yang tidak mungkin desebabkan oleh kerusakan neurologis, misalnya hilangnya perasaan dapat disertai dengan keluhan parestesia. Kehilangan penglihatan jarang bersifat total, leih banyak berupa gangguan ketajaman penglihatan, kekaburan atau "tunnel vision". Meskipun ada gangguan penglihatan, mobilitas penderita dan kemampuan motoriknya masih baik. Tuli disosiatif dan anosmia jauh lebih jarang terjadi dibandingkan dengan hilang rasa dan penglihatan.
Gangguan Disosiatif (konversi) Campuran
Merupakan campuran dari gangguan-gangguan di atas.
Gangguan Disosiatif (konversi) Lainnya
Dalam gangguan disosiatif ini terdapat
Sindrom ganzer (ciri khas appro ximate answer disertai beberapa gejala disosiatif lainnya.
Gangguan kepribadian multiple
Gangguan disosiatif (konversi) sementara masa kanak dan remaja
Gangguan disosiatif (konversi) lainnya YDT, (termasuk psychogenic confusion, twilight state)
Gangguan disosiatif (konversi) YTT
Sindrom Disosiatif yang terkait dengan Budaya
Disetiap negara memiliki sebutan yang berbeda untuk gangguan disosiatif. Misalnya, amok adalah sebuah sindrom terkait budaya yang terdapat di Asia Tenggara. Sindrom ini menggambarkan suatu tahap trancelike, dimana seseorang tiba-tiba menjadi sangat kacau secara emosional dan menyerang orang lain. Orang yang "mengamuk" mengaku tidak ingat episode tersebut dan mengingat telah berakting seperti robot.
Pandangan-pandangan Teoritis
Gangguan disosiatif adalah fenomena yang sangat mengagumkan dan menarik namun membingungkan. Meski gangguan-gangguan ini tetap misterius dalam beberapa hal, petunjuk-petunjuk yang memberikan pemahaman akan asal-muasalnya tetap bermunculan.
Pandangan Psikodinamika
Amnesia disosiatif dapat menjadi suatu fungsi adaptif dengan cara memutus atau mendisosiasi alam sadar seseorang dari kesadaran akan pengalaman traumatis atau sumber-sumber lain dari nyeri maupun konflik psikologis (Dorahy, 2001). Bagi teoritikus psikodinamika, gangguan disosiatif melibatkan penggunaan represi secara besar-besaran, yang menghasilkan "terpisahnya" impuls yang tidak dapat diterima dan ingatan yang menyakitkan dari kesadaran seseorang. Dalam amnesia dan fugue disosiatif, ego melindungi dirinya sendiri dari kebanjiran kecemasan dengan mengeluarkan ingatan-ingatan yang mengganggu atau dengan mendisosiasi impuls menakutkan yang bersifat seksual atau agresif. Pada kepribadian ganda, orang mungkin mengekspresikan impuls-impuls yang tidak dapat diterima melalui pengembangan kepribadian pengganti. Pada depersonalisasi orang berada di luar dirinya sendiri, aman dengan cara menjauh dari pertarungan emosional di dalam dirinya.
Pandangan Kognitif dan Belajar
Teoritikus belajar dan kognitif memandang disosiasi sebagai suatu respon yang dipelajari yang meliputi proses tidak berpikir tentang tindakan atau pikiran yang mengganggu dalam rangka menghindari rasa bersalah dan malu yang ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman itu. Kebiasaan tidak berpikir tentang masalah-masalah tersebut secara negatif dikuatkan dengan adanya perasaan terbebas dari kecemasan, atau dengan memindahkan perasaan bersalah atau malu. Sejumlah teoretikus sosial kognitif, percaya bahwa gangguan identitas disosiatif adalah suatu bentuk bermain peran yang dikuasai melalui observasi yang melibatkan proses pembelajaran dan reinforcement. Ini tidak dengan berpura-pura atau malingering, orang dapat secara jujur mengorganisasikan pola perilaku mereka menurut peran tertentu yang telah mereka amati. Mereka juga dapat menjadi sangat mendalami permainan peran mereka hingga 'lupa' bahwa mereka sedang menampilkan sebuah peran.
Disfungsi Otak
Beberapa bukti terakhir menunjukkan perbedaan dalam aktivitas metabolisme otak antara orang dengan gangguan depersonalisasi dan subjek yang sehat. Ada penemuan yang menekankan pada kemungkinan adanya disfungsi di bagian otak yang terlibat dalam persepsi tubuh, dapat membantu menjelaskan perasaan terpisah dari tubuh yang diasosiasikan dengan depersonalisasi
Model Diatesis-Stres
Walaupun banyak bukti trauma masa kanak-kanak dalam kasus gangguan identitas disosiatif, hanya sedikit anak yang mengalami penyiksaan yang mengembangkan kepribadian ganda. Trait-trait kepribadian tertentu, seperti kecenderungan berfantasi, tingkat kemudahan tinggi untuk dihipnotis dan keterbukaan pada kondisi kesadaran alter, dapat menjadi predisposisi bagi individu untuk mengembangkan pengalaman disosiatif bila dihadapkan dengan stress yang ekstrim, seperti penyiksaan yang traumatis. Walaupun demikian, trait-trait tersebut belum tentu mengakibatkan seseorang mengalami gangguan disosiatif. Orang yang memiliki kecenderungan rendah untuk berfantasi atau kemudahan dihipnotis kemungkinan mengalami semacam karakteristik pikiran-pikiran cemas dan intrusif yang merupakan gangguan stress pasca trauma (PTSD) pada periode setelah stress yang traumatis dan bukan gangguan disosiatif.
Penanganan Gangguan Disosiatif
Identitas Disosiatif
Psikoanalisis berusaha membantu orang yang menderita gangguan identitas disosiatif untuk mengungkapkan dan belajar mengatasi trauma-trauma masa kecil. Mereka sering merekomendasikan membangun kontak langsung dengan kepribadian-kepribadian alter. Setiap dan semua kepribadian dapat diminta untuk berbicara tentang memori dan mimpi-mimpi ereka sebisa mereka. Setiap dan semua kepribadian dapat diyakinkan bahwa terapis akan membantu mereka untuk memahami kecemasan mereka untuk "membangkitkan" pengalaman traumatis mereka secara aman dan menjadikan pengalaman-pengalaman tersebut disadari. Menurut Wilbur, kecemasan yang dialami saat sesi akan menyebabkan perpindahan kepribadian. Bila terapi berhasil, self akan mampu bergerak melalui ingatan traumatis dan tidak lagi perlu melarikan diri ke dalam self pengganti untuk menghindari kecemasan yang diasosiasikan dengan trauma, sehingga terjadi integrasi kepribadian.
Amnesia dan fugue disosiatif : Berfokus pada penanganan kecemasan atau depresinya.
Penanganan Fugue Disosiatif
Psikoterapi adalah penanganan primer terhadap gangguan disosiatif ini. Bentuk terapinya berupa terapi bicara, konseling atau terapi psikososial, meliputi berbicara tentang gangguan yang diderita oleh pasien jiwa. Terapinya akan membantu anda mengerti penyebab dari kondisi yang dialami. Psikoterapi untuk gangguan disosiasi sering mengikutsertakan teknik seperti hipnotis yang membantu kita mengingat trauma yang menimbulkan gejala disosiatif.
Penanganan gangguan disosiatif yang lain meliputi :
Terapi kesenian kreatif. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa tipe terapi ini menggunakan proses kreatif untuk membantu pasien yang sulit mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Seni kreatif dapat membantu meningkatkan kesadaran diri. Terapi seni kreatif meliputi kesenian, tari, drama dan puisi.
Terapi kognitif. Terapi kognitif ini bisa membantu untuk mengidentifikasikan kelakuan yang negative dan tidak sehat dan menggantikannya dengan yang positif dan sehat, dan semua tergantung dari ide dalam pikiran untuk mendeterminasikan apa yang menjadi perilaku pemeriksa.
Terapi obat. Terapi ini sangat baik untuk dijadikan penangan awal, walaupun tidak ada obat yang spesifik dalam menangani gangguan disosiatif ini. Biasanya pasien diberikan resep berupa anti-depresan dan obat anti-cemas untuk membantu mengontrol gejala mental pada gangguan disosiatif ini.
Ahli terapi biasanya merekomendasikan menggunakan hypnosis yang biasanya berupa hypnoterapi atau hipnotis sugesti sebagai bagian dari penanganan pada gangguan disosiatif.Hypnosis menciptakan keadaan relaksasi yang dalam dan tenang dalam pikiran. Saat terhipnotis, pasien dapat berkonsentrasi lebih intensif dan spesifik. Karena pasien lebih terbuka terhadap sugesti saat pasien terhipnotis. Ada beberapa konsentrasi yang menyatakan bahwa bisa saja ahli hipnotis akan menanamkan memori yang salah dalam mensugesti.Selain itu, kita juga bisa melakukan pencegahan. Anak- anak yang secara fisik, emosional dan seksual mengalami gangguan, sangat beresiko tinggi mengalami gangguan mental yang dalam hal ini adalah gangguan disosiatif. Jika terjadi hal yang demikian, maka bersegeralah mengobati secara sugesti, agar penangan tidak berupa obat anti depresan ataupun obat anti stress, karena diketahui bahwa jika menanamkan sugesti yang baik terhadap usia belia, maka nantinya akan didapatkan hasil yang maksimal, dengan penangan yang minimal.
Penanganan Amnesia Disosiatif
Gangguan disosiatif merupakan produk akhir dari pengalaman traumatis yang kuat pada masa kanak-kanak, khususnya mencakup penyiksaan atau bentuk lain dari kesalahan penanganan emosi. Walaupun demikian, sebagai tambahan pengalaman kekerasan pasa masa kanak-kanak, beberapa jenis peristiwa traumatis juga dapat menghasilkan pengalaman disosiatif, bebrapa yang bersifat sementara dan beberapa lainnya berakhir dalam jangka waktu yang lama.
Treatment untuk gangguan disosiatif ada bermacam-macam, sebagian besar karena kondisinya juga bervariasi. Tujuan utama dalam memberika treatment terhadap orang dengan symptom-simptom disosiatif adalah dengan membawa kestabilan dan integrasi dalam hidup mereka. Hal yang penting dalam treatment mereka adalah membangun sebuah lingkungan yang aman, jauh dari stressor yang mengancam yang mungkin dapat membangkitkan disosiasi. Pada keamanan dalam konteks treatment, klinisi akan mengenalkan teknik yang menenangkan, beberapa bersifat psikoterapeutik dan yang lain bersifat psikofarmakologis. Beberapa klinisi akan menambah obat dan intervensi, juga dapat membantu meningkatkan kondisi tenang. Obat yang paling umum digunakan adalah sodium pentobarbital dan sodium amobarbital yang memfasilitasi proses wawancara, khususnya pada klien yang mengalami amnesia disosiatif dan fugue disosiatif. Jika amnesianya telah hilang, maka klinisi akan membanti klien menemukan kejadian apa dan factor-faktor apa yang menyebabkan amnesia.
Gangguan disosiatif menyajikan kesempatan unik menghargai kompleksitas pikiran manusia dan variasi cara yang tak biasa ketika beberapa orang merespons pengalaman-pengalaman hidup yang penuh tekanan. Penting untuk mengingat bahwa gangguan amnesia dan fugue sangat jarang terjadi dan sulit untuk diterapi, meskipun penjelasan yang saat ini ada bergantung pada perspektif psikologis.
Penanganan Depersonalisasi
Karena gangguan disosiatif tampaknya dipicu sebagai respon terhadap trauma atau pelecehan, Pengobatan untuk individu dengan gangguan tersebut adalah psikoterapi stress, meskipun kombinasi perawatan psychopharmacological dan psikososial sering digunakan. Banyak gejala gangguan disosiatif terjadi dengan gangguan lain, seperti kecemasan dan depresi, dan dapat dihilangkan dengan mengatasi penyebab dari kecemasan dan depresi. Sedangkan obat yang sama digunakan untuk kecemasan dan depresi (misalnya, anti ansietas obat atau antidepresan) sering diresepkan untuk orang dalam pengobatan untuk gangguan disosiatif, gejala kecemasan dan depresi juga bisa mendapatkan keuntungan dari psikoterapi. Pengobatan gangguan depersonalisasi dapat meliputi, antara lain:
1.  Konseling psikologis
Konseling psikologis akan membantu pasien memahami mengapa terjadi depersonalisasi dan melatih pasien untuk berhenti khawatir mengenai gejala yang terjadi. Gangguan depersonalisasi juga dapat membaik ketika konseling membantu dengan kondisi psikologis lain, seperti depresi.
2.  Obat-obatanMeskipun tidak ada obat khusus yang telah disetujui untuk mengobati gangguan depersonalisasi. Namun, sejumlah obat yang umumnya digunakan untuk mengobati depresi dan kecemasan juga dapat membantu kondisi gangguan depersonalisasi. Beberapa contoh yang telah ditunjukkan untuk meredakan gejala tersebut termasuk:
a)    Fluoxetine (Prozac) : 
Fluoxetine adalah salah satu obat diandalkan untuk pengobatan depresi. mekanisme aksi dari Fluoxetine adalah dengan meningkatkan tingkat serotonin dalam otak. bahwa Pasien dengan Depresi memiliki tingkat serotonin dalam otak mereka. Fluoxetine memudahkan gejala depresi dengan memperlakukan ketidakseimbangan serotonin dalam otak.
b)    Clomipramine (Anafranil)
c)    Clonazepam (Klonopin)
KASUS
Dalam kondisi bingung, Norma mendatangi pusat krisis kesehatan mental, air mata mengalir diwajahnya. "saya tidak tahu dimana saya tinggal atau siapakah saya! Dapatkah seseorang membantu saya?" Tim krisis membantu mencari tasnya, namun tidak menemukan apapun, hanya sebuah foto gadis kecil berambut pirang. Norma tertidur dan menjadi kehabisan tenaga, ia tidur disebuah tempat tidur yang dapat membuatnya tenang. Tim krisis memanggil polisi lokal untuk mencari apakah terdapat laporan orang hilang. Gadis kecil difoto tersebut adalah putri Norma. Ia ditabrak sebuah mobil ditempat parkir yang penuh pada sebuah pusat belanja. Walaupun mendapat luka dengan kaki yang patah , gadis tersebut dapat beristirahat dengan nyaman disebuah ruang perawatan di rumah sakit. Ibunya menghilang. Norma muncul dan berkeliling selama beberapa jam. Ia meninggalkan dompet dan kartu identitas lainnya pada pekerja sosial rumah sakit di kamar darurat. Saat Norma bangun, ia dapat mengingat siapa dirinya dan lingkungan kecelakaan, tapi ia tidak dapat mengingat apa yang telah terjadi
Analisis
Aksis I : Amnesia disosiatif (F 44.0)
Aksis II: Z03.2 Tidak ada diagnosis
Aksis III: Tidak ada
Aksis IV: Psikososial dan lingkungan sekitar
Aksis V: 80-71
DAFTAR PUSTAKA
_______. https://psikologiabnormal.wikispaces.com/Dissociative+Fugue_______. https://psikologiabnormal.wikispaces.com/Amnesia+Dissociative_______. https://psikologiabnormal.wikispaces.com/Depersonalization+DisorderDSM V
Maslim, Rusdi. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ-III). Jakarta : PT Nuh Jaya
Nevid, Jeffry S, Spencer A.Rathus, Beverly Greene. 2005. Psikologi Abnormal. Edisi ke-5.
Vol 1. Diterjemahkan oleh : Tim Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta : Erlangga.


Download MAKALAH GANGGUAN DISOSIATIF.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca MAKALAH GANGGUAN DISOSIATIF. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon