December 05, 2016

MAKALAH FILSAFAT


Judul: MAKALAH FILSAFAT
Penulis: Fitria Arvada


1310005559435TINJAUAN FILOSOFIS METODE DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Filsafat Pendidikan Islam
Dosen:Dr.Toto Suharto, M, Ag
Disusun oleh:
1.Fitria Kusuma Wardani (26.10.3.1.069)
2.Fransiska Herlinawati (26.10.3.1.071)
3.Ika Ambarini (26.10.3.1.082)
4.Luh Ayu Nur.R (26.08.3.1.087)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN BAHASA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam pelaksanaannya, pendidikan islam memerlukan metode yang tepat untuK mengantarkan proses pendidikan menuju tujuan yang telah dicitakan. Bagaimanapun, baik dan sempurnanya sebuah kurikulum pendidikan Islam, tidak akan berarti apa-apa jika tidak memiliki metode atau cara yang tepet untuk mentransformasikannya kepada peserta didik. Ketidaktepatan dalam penerapan metode secara praktis akan menghambat proses belajar mengajar, yang pada gilirannya berakibat pada terbuangnya waktu dan tenaga secara percuma. Oleh karena itu, metode merupakan persoalan esensial pendidikan Islam, karena tujuan pendidikan dapat tercapai secara tepat guna manakala jalan yang ditempuh menuju cita-cita itu betul-betul tepat. (Toto Suharto; 2008: 137-138)
Selain melalui metode yang tepat, proses kependidikan Islam akan berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan jika di dalamnya di perhatikan pula lingkungan Tarbiyah Islamiyahnya. Dapat kita pahami bersama bahwa lingkungan Tarbiyah Islamiyah atau lingkungan pendidikan Islam itu adalah suatu lingkungan yang di dalamnya terdapat ciri-ciri keislaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan islam dengan baik. Berikut ini akan kami coba untuk mendiskusikannya secara lebih mendalam.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Metode Pendidikan Islam
Dari segi bahasa, metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan bodos. Meta berarti "melalui" dan bodos berarti "jalan" atau "cara".(Abuddin Nata;1997: 91) Dengan demikian metode dapat berarti juga sebagai cara atau jalan yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan. Dalam Bahasa Arab, metode diungkapkan dengan istilah tharîqah atau uslûb, yang menurut Al-Jurjani berarti "sesuatu yang memungkinkan untuk sampai dengan benar kepada tujuan yang diharapkan". Dari pengertian inilah Noeng Muhadjir mensyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan yang baik, perlu ditempuh dengan cara atau jalan yang baik pula.(Toto suharto; 2005: 138)
Selanjutnya jika kata metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran, yaitu pribadi Islami. Selain itu metode dapat pula membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran islam sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Inilah pengertian-pengertian metode yang dapat dipahami dari berbagai pendapat yang dibuat para ahli. Namun kami mengambil makna dari metode pendidikan islam yaitu sebuah cara yang ditempuh untuk menanamkan pengetahuan agama islam kepada diri seseorang dengan cara memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran islam sesuai dengan perkembangan zaman.
Asas-asas Metode Pendidikan Islam
Asas-asas metode pendidikan Islam pada prinsipnya tidak banyak berbeda dengan asas-asas tujuan dan kurikulum pendidikan Islam. Konsep ini menggambarkan bahwa seluruh komponen yang terkait dalam proses pendidikan Islam adalah merupakan kesatuan yang membentuk suatu sistem.
Secara umum asas-asas metode pendidikan Islam itu menurut al-Syaibany, adalah:
Asas Agama, yaitu prinsip-prinsip, asas-asas, dan fakta-fakta umum yang diambil dari sumber asasi ajaran Islam, yakni Al-Qur'an dan Sunnah.
Asas Biologi, yaitu dasar yang mempertimbangkan kebutuhan jasmani dan tingkat perkembangan usia peserta didik.
Asas Psikologis, yaitu peinsip yang lahir diatas pertimabangan kekuatan psikologis, seperti motivasi, kebutuhan, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan, bakat, dan kecakapan akal atau kapasitas intelektual.
Asas Sosial, yaitu asas yang bersumber dari kehidupan sosial manusia seperti tradisi, kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan dan tutnutan kehidupan yang senantiasa maju dan berkembang.
Sementara dari sudut pelaksanaannya, asas-asas metode pendidikan Islam dapat diformulasikan kepada antara lain:
Asas Motivasi, yaitu usaha pendidik untuk membangkitkan perhatian peserta didik ke arah bahan pelajaran yang sedanng disajikan.
Asas Aktivitas, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk ambil bagian secara aktif dan kreatif dalam seluruh kegiatan pendidikan yang dilaksanakan.
Asas Apersepsi, yaitu mengupayakan respon-respon tertentu dari peserta didik sehingga mereka memperoleh perubahan pada tingkah laku, perbendaharaan konsep, dan kekayaan akan informasi.
Asas Peragaan, yaitu memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan mewujudkan bahn yang diajarkan secara nyata baik dalam bentuk aslinya maupun tiruan.
Asas Ulangan, yaitu usaha untuk mengetahui taraf kemajuan atau keberhasilan belajar peserta didik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap.
Asas Korelasi, yaitu menghubungkan suatu bahan pelajaran dengan pelajaran lainnya, sehingga membentuk mata rantai yang erat.
Asas Konsentrasi, yaitu memfokuskan pada suatu pokok masalah tertentu dari keseluruhan bahan pelajaran untuk melaksanakan tujuan pendidikan serta memperhatikan peserta didik dalam segala aspeknya.
Asas Individualitas, yaitu memperhatikan perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
Asas Sosialisasi, yaitu menciptakan situasi sosial yang membangkitkan semangat kerja sama antara peserta didik dengan pendidik atau sesama peserta didik dan masyarakat, dalam menerima pelajaran agar lebih berdaya guna.
Asas Evaluasi, yaitu memperhatikan hasil dari penilaian terhadap kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai umpan balik pendidik dalam memperbaiaki cara mengajar.
Macam-macam Metode Pendidikan Islam
Berikut adalah beberapa metode pendidikan yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam, antara lain:
Metode Teladan
Dalam Al-Qur'an, kata teladan diproyeksikan dengan kata uswah yang kemudian diberi sifat dibelakangnya seperti sifat hasanah yang berarti baik. Sehingga terdapat ungkapan uswatun hasanah yang artinya teladan yang baik. Seperti yang telah tercantum di dalam Al-Qur'an surat al-Ahzab ayat 21 bahwa di dalam diri Nabi Muhammad itu terdapat teladan yang baik. Muhammad Quthb, mengisyaratkan bahwa di dalam diri Nabi Muhammad, Alloh menyusun suatu bentuk sempurna metodologi Islam, suatu bentuk yang hidup dan abadi sepanjang sejarah masih berlangsung. Metode ini dianggap penting karena aspek agama yang terpenting adalah akhlak yang termasuk dalam kawasan afektif yang terwujud dalam bentuk tingkah laku (behavioral). Untuk mempertegas keteladanan Rasululloh SAW. itu, Al-Qur'an lebih lanjut menjelaskan akhlak Nabi Muhammad yang disajikan secara tersebar dalam berbagi ayat di dalam Al-Qur'an. Pada Q.S. al-Ahzab ayat 45-46 dijelaskan bahwa diantara tugas yang dilakukan Nabi Muhammad SAW adalah menjdi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, penyeru kepada agama Alloh dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi. Tugas ini sebagaimana dijelaskan dalam sejarah dapat dilaksanakan dengan baik dan penuh kesuksesan di mana pengaruhnya hingga sekarang masih terus terasa bahkan semakin berkembang. Contoh yang diperlihatkan Nabi Muhammad dalam bidang tugasnya itu juga menjadi teladan bagi umatnya di masa mendatang dan sekarang.
Metode Kisah-kisah
Kisah atau cerita sebagai suatu metode pendidikan ternyata mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan. Ia menggunakan berbagai jenis cerita, cerita sejarah faktual yang menampilkan suatu contoh kehidupan manusia bisa seperti pelaku yang ditampilkan oleh contoh tersebut, cerita drama yang melukiskan fakta yang sebenarnya tetapi bisa diterapkan kapan dan di saat apapun.
Sebagai contoh, di Al-Qur'an telah diceritakan tentang kelemahan manusia, yaitu ketika Adam dan Hawa berhasil digoda oleh syaithan, hingga keduanya diturunkan ke dunia. Namun, keduanya juga segera bertaubat, insyaf memohon ampun kepada Tuhan. Pelajaran yang terkandung di dalamnya ialah bahwa manusia mempunyai kesanggupan, kelebihan sekaligus kelemahan. Untuk itu seharusnya menusia hidup berhati-hati, waspada terhadap bujuk rayu syaithan, hidup berpedoman kepada petunjuk Tuhan.
Demikianlah salah satu contoh atau kisah yang diangkat di dalam Al-qur'an dan dapat digunakan sebagai salah satu cara menyampaikan ajaran yang terkandung di balik cerita itu, yaitu aspek keimanan dan akhlak yang mengacu kepada timbulnya kesadaran moral, hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Inilah contoh tentang kisah sebagai suatu metode pendidikan yang ditampilkan oleh Al-Qur'an.
Metode Nasihat
Al-Qur'an al-Karim juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide yang dikehendakinya,. Inilah yang kemudian dikenal dengan nasihat. Tetapi nasihat yang disampaikannya ini selalu disertai dengan panutan atau teladan dari si pemberi atau penyampai nasihat itu. Ini menunjukkan bahwa antara satu metode yakni nasihat dengan metode lain yang dalam hal ini keteladanan bersifat saling melengkapi.
Sebagai contoh dapat kita lihat nasihat yang terkandung dalam al-Qur'an surat al-Isra ayat 22-38 yang isinya antara lain agar jangan menyekutukan Alloh (syirik), agar berbuat baik kepada ibu bapak dengan mendoakan dan lainnya, membantu sanak saudara, orang-orang miskin, ibnu sabil, tidak boros , tidak kikir, tidak membunuh tanpa sebab yang dibolehkan agama, tidak memakan harta anak yatim, menepati janji, menyempurnakan timbangan dan takaran, tidak menjadi saksi palsu, dan tidak sombong.
Melihat isi nasihat tersebut, nampak bahwa di dalam Al-Qur'an terdapat pengulangan materi nasihat. Ayat di atas pengulangan nasihat terjadi pada larangan menyekutukan Alloh, perintah berbuat baik kepada ibu, dan tidak sombong. Pengulangan ini terjadi bisa dipahami , bahwa masalah yang dinasihatkan itu begitu penting sesuai dengan konteks soalnya. Lagi pula ketiga uneur obyek yang dinasihatkan itu tampak berlaku secara umum pada manusia. Sedangkan obyek nasihat yang lainnya yakni yang berkaitan dengan profesi yang bersangkutan. Nasihat agar menyempurnakan timbangan misalnya, hanya ditujukan kepada orang yang profesinya sebagai pedagang, dan nasihat tidak kikir lebih ditujukan kepada orang yang berkecukupan atau memiliki kelebihan harta tapi belum mau membantu sesamanya yang kekurangan. (Abuddin Nata;1997: 100)
Metode Pembiasaan
Cara lain yang digunakan oleh Al-Qur'an dalam memberikan materi pendidikan adalah melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap. Dalam hal ini termasuk merubah kebiasaan-kebiasaan yang negatif. Kebiasaan ditempatkan oleh manusia sebagai suatu yang istimewa. Ia menghemat banyak sekali kekurangan manusia, karena sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat dan spontan, agar kekuatan itu dapat dipergunakan untuk kegiatan dalam berbagai bidang pekerjaan, berproduksi, dan kreativitas lainnya. Bila pembawaan yang merupakan kebiasaan tersebut tidak diberikan oleh Tuhan kepada manusia, tentu mereka sebagaimana diketahui akan menghabiskan hidup mereka hanya untuk belajar berjalan, berbicara, dan sejenisnya.
Al-Qur'an menjadikan kebiasaan itu sebagai salah satu teknik atau metode pendidikan. Lalu ia mengubah seluruh sifat-sifat baik manjadi kebiasaan, sehingga jiwa dapat menunaikan kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak tenaga, dan tanpa menemukan banyak kesulitan. Selain itu Al-Qur'an juga menciptakan agar tidak terjadi kerutinan yang kaku dalam bertindak, dengan cara terus menerus mengingatkan tujuan yang ingin dicapai dengan kebiasaan itu, dan dengan menjalin hubungan yang hidup antara manusia dengan Alloh dalam suatu hubungan yang dapat mengalirkan berkas cahaya ke dalam hati sehingga tidak gelap gulita. Dengan kata lain bahwa pembiasaan yang pada akhirnya melahirkan kebiasaan ditempuh pula oleh Al-Qur'an dalam rangka memantapkan pelaksanaan materi-materi ajarannya. Hal ini dapat ditempuh pula dalam melaksanakan pendidikan islam.
Metode Hukum dan Ganjaran
Islam menggunakan seluruh teknik pendidikan, tidak membiarkan satu jendela pun yang tidak diamasuki untuk sampai ke dalam jiwa. Islam menggunakan contoh teladan dan nasihat serta kisah dan pembiasaan tetapi di samping itu juga menempuh cara menakut-nakuti dan mengancam dengan berbagai tingkatannya, dari ancaman sampai pada pelaksanaan ancaman ini. Contoh ayat tentang hukuman misalnya pada Q.S al-Maidah ayat 38 yang artinya laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah olehmu kedua tangannya, sebagai pembalasan atas apa yang mereka kerjakan.
Ayat di atas selain mengakui keberadaan hukuman dalam rangka perbaikan ummat manusia, juga menunjukkan bahwa hukuman itu tidak diberlakukan kepada semua manusia, melainkan khusus kepada manusia-manusia yang melakukan pelanggaran saja. Manusia yang seperti itu biasanya sudah sulit diperbaiki hanya dengan nasihat atau keteladanan, melainkan harus lebih herat lagi, yaitu dengan hukuman.
Apabila hukuman diberikan kepada mereka yang melakukan pelanggaran, maka kepada orang-orang yang beriman disertai dengan amal dan akhlak akan diberikan ganjaran. Selanjutnya mengenai ayat tentang ganjaran apat kita lihat dalam Q.S Hud ayat 11 yang artinya dan bahwa Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang sabar (terhadap bancana), dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besat. Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa masalah pahala diakui keberadaannya dalam rangka pembinaan umat. Dalam prakteknya, pahala atau ganjaran ini dapat mengambil bentuk hadiah, cinderamata, bonus dan sebagainya yang diberikan kepada orang-orang yang menunjukkan prestasi yang tinggi dalam bidang kebaikan.
Metode Ceramah (Khutbah)
Ceramah atau khutbah termasuk cara yang paling banyak digunakan dalam menyampaikan atau mengajak orang lain mengikuti ajaran yang telah ditentukan. Khutbah ini dilakukan dengan cara yang disesuaikan dengan tingkat kesanggupan peserta didik yang dijadikan sasaran. Di dalam Al-Qur'an telah ditunjukkan dengan jelas bahwa menyampaikan suatu ajaran dengan lisan telah diakui keberadaannya, bahkan telah dipraktekkan oleh Rasululloh SAW dalam mengajak umat manusia ke jalan Alloh.
Pada masa sekarang ini, ceramah banyak digunakan termasuk dalam dunia pengajaran, karena metode ini termasuk yang paling mudah, murah, dan tidak banyak memerlukan peralatan. Daya tarik ceramah oleh kalangan ustadz bisa berbeda-beda, tergantung kepada siapa pembicaranya, bagaimana pribadi si pembicara itu, dan bagaimana bobot pembicaraannya itu, apa prestasi yang telah dihasilkannya. Semua ini akan menjadi catatan yang mendasari daya tarik ceramah yang disampaikan. Ini mengingatkan atau memberi petunjuk bahwa jika seorang guru akan mempergunakan metode ceramah, dan ceramahnya itu ingin diperhatikan orang bahkan ceramahnya itu dijadikan pegangan hidup, maka si penceramah atau guru itu harus mempunyai kualitas-kualitas sebagaimana disebutkan di atas.
Metode Diskusi
Metode diskusi juga diperhatikan oleh Al-Qur'an dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap seluruh masalah. Perintah Alloh dalam hal ini, agar kita mengajak ke jalan yang benar dengan hikmah dan mengajak diskusi dengan cara yang paling baik. Diskusi itu harus didasarkan pada cara-cara yang baik. Cara yang baik ini perlu dirumuskan lebih lanjut, sehingga timbullah etika berdiskusi, misalnya tidak memonopoli pembicaraan, saling menghargai pendapat orang lain, kedewasaan pikiran dan emosi, berpandangan luas, dan seterusnya.
Fungsi Metode
Secara umum, fungsi metode dapat dikatakan sebagai pemberi jalan atau cara sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional kependidikan. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu. Dari dua pendekatan ini dapat kita ambil intinya bahwa metode berfungsi mengantarkan suatu tujuan kepada obyek sasaran dengan cara yang sesuai dengan perkembangan obyek sasaran tersebut.
Pada umumnya terdapat suatu prinsip yang digunakan dalam memfungsikan metode, yaitu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi sehingga pelajaran atau materi didikan itu dapat dengan mudah diberikan. Banyaknya metode pendidikan yang kita jumpai sekarang ini adalah lebih merupakan usaha mempermudah atau mencari jalan yang paling sesuai dengan perkembangan jiwa anak dalam menerima pelajaran.
Pengertian Lingkungan Pendidikan Islam
Lingkungan pendidikan merupakan hal yang juga turut mempengaruhi proses pendidikan dalam mencapai tujuan yang optimal. Artinya, bagaimanapun baiknya potensi yang ada dalam diri peserta didik, namun jika tidak didukung oleh suatu lingkungan pendidikan yang baik, maka potensi tersebut akan sulit dikembangkan secara maksimal. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang memadukan antara teori pembawaan (fitrah) peserta didik dengan lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan dalam arti lembaga pendidikan.
Dalam berbagai kajian sumber bacaan kependidikan, jarang dijumpai pendapat para ahli tentang pengertian lingkungan pendidikan. Kajian lingkungan pendidikan ini biasanya terintegrasi secara implisit dengan pembahasan mengenai macam-macam lingkungan pendidikan. Namun demikian, dapat dipahami bahwa lingkungan pendidikan islam itu adalah suatu lingkungan yang di dalamnya terdapat ciri-ciri keislaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan islam dengan baik.
Fungsi Lingkungan Pendidikan Islam
Lingkungan pendidikan islam mempunyai fungsi antara lain menunjang terjadinya proses kegiatan belajar mengajar secara aman, tertib dan berkelanjutan. Untuk ini Al-Qur'an memberi isyarat tentang pentingnya menciptakan suasana saling menolong, saling menasehati, dan seterusnta agar kegiatan yang dijalankan manusia dapat berjalan baik. Sebelum berdiri madrasah-madrasah, kaum muslim terdahulu belajar di kuthab dimana diajarkan bagaimana cara membaca dan menulis huruf Al-Qur'an, dan kemudian diajarkan ilmu agama dan ilmu Al-Qur'an.
Dengan memperhatikan uraian di atas dapat diidentifikasikan bahwa lingkungan atau tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan islam itu terdiri dari rumah, masjid, kuthab, dan madrasah. Pada perkembangan selanjutnya institusi lembaga pendidikan ini disederhanakan menjadi sekolah pendidikan dan pendidikan luar sekolah. UU No.2 tahun 1989 tentang Sisdiknas mengatakan sebagai berikut :
Suatu pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan disekolah atau di luar sekolah
Satuan pendidikan yang disebut sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan
Satuan pendidikan luar sekolah meliputi keluarga, kelompok belajar, dan satuan pendidikan yang sejenis.
Selanjutnya, bagaimana padangan Al-quran terhadap keberadaan lembaga pendidikan tersebut serta fungsinya.pembahasan selanjutnya akan dimulai dengan membicarakan pendidikan luar sekolah dan dilanjutkan dengan satuan pendidikan disekolah.
SATUAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
Diantara satuan pendidikan luar sekolah adalah keluarga yang berlangsung dirumah. Untuk itu perlu dibahas mengenai apa yang dmaksud dengan keluarga dan rumah itu. Secara literal keluarga adalah merupakan unit sosial terkecil yang terdiri dari orang yang berada dalam seisi rumah yang sekurang kurangnya terdiri dari suami dan istri. Sedangkan dalam arti normatif, keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang terikat oleh suatu ikatan perkawinan, lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai suatu gabungan yang khas dan betsama sama memperteguh gabungan itu untuk kebahagiaan, kesejahteraan, dan ketentraman semua anggota yang ada dalam keluarga tersebut.
LINGKUNGAN PENDIDIKAN SEKOLAH
Sekolah sebagai tempat belajar sudah tidak dipersoalkan lagi keberadaanya. Secara historis keberadaan sekolah ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari keberadaan masjid, yaitu karena adanya diantara mata pelajaran-mata pelajaran yang untuk mempelajarinya dperlukansoal jawab, perdebatan, dan pertukaran pikiran.Cara mengajarkan suatu pelajaran yang semacam ini tidak serasi dengan ketenangan dan rasa keagungan yang harus ada pada pengunjung pengunjung masjid. Selain itu menurut Von Kremer sebagaimana dikutip oleh syalabi mengatakan bahwa ada sekumpulan manusia yang mempergunakan bagian terbesar dari waktunya untuk mengajar. Dan umtuk nafkah hidupnya sehari hari mereka mengajarkan perusahaan perusahaan yang ringan ringan disamping mengajar itu. Akan tetapi, mereka tidak berhasil untuk mencapai taraf penghidupan yang selaras, karena itu perlu didirikan sekolah sekolah, karena sekolah sekolah itulah yang akan menjamin bagi mereka penghasilan yang mencukupi keperluan hidup mereka sehari hari.
LINGKUNGAN MASYARAKAT
Manusia adalah mahluk yang diciptakan Allah SWT. Yang keberadaan hidupnya tidak dapat menyendiri. Manusia membutuhkan masyarakat didalam pertumbuhan dan perkembangan kemajuanya yang dapat meninggikan kualitas hidupnya. Semua ini membutuhkan masyarakat, dan mwreka harus hidup di masyarakat Ibnu sina pernah mengatakan: "Manusia berbeda dengan mahluk lainya disebabkan manusia tidak dapatmemperbaiki hidupnya jika ia hidup menyendiri tanpa ada orang lain yang menolong memenuhi kebutuhan hidupnya."
Kebutuhan manusia yang diperlukan dari masyarakat tidak hanya yang menyangkut bidang material melainkan juga bidang spiritual, termasuk ilmu pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, dan sebagainya. Dengan demikian, dapat ditarik suatu pemahaman baha dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan manusia memerlukan adanya lingkungan masyarakat. Dari sebab inilah para ahli pendidikan umumnya memasukan lingkungan masyarakat sebagai lingkungan pendidikan.
KESIMPULAN
Secara umum asas-asas metode pendidikan Islam itu menurut al-Syaibany, adalah Asas Agama, Asas Biologi, Asas Psikologis, Asas Sosial.
Sementara dari sudut pelaksanaannya,asas-asas metode pendidikan Islam dapat diformulasikan kepada antara lain: Asas Motivasi, Asas Aktivitas, Asas Apersepsi, Asas Peragaan, Asas Ulangan, Asas Korelasi, Asas Konsentrasi, Asas Individualitas, Asas Sosialisasi, Asas Evaluasi.
Metode yang digunakan dalam menyampaikan materi pendidikan Islam adalah metode teladan, metode kisah-kisah, metode nasehat, metode pembiasaan, metode hokum dan ganjaran, metode ceramah, dan metode diskusi.

DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam 1, Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997
Departemen, Agama, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995


Download MAKALAH FILSAFAT.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca MAKALAH FILSAFAT. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon