December 12, 2016

Makalah Filsafat Senin, 21 Mei 2012 PARADIGMA ETIKA DALAM PERSPEKTIF SOCRATES BAB I PENDAHULUAN


Judul: Makalah Filsafat Senin, 21 Mei 2012 PARADIGMA ETIKA DALAM PERSPEKTIF SOCRATES BAB I PENDAHULUAN
Penulis: Apip Rohman


Makalah Filsafat
Senin, 21 Mei 2012
PARADIGMA ETIKA DALAM PERSPEKTIF SOCRATES
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Di dalam permasalahan filsafat dapat diketahui bahwa pelaku filsafat adalah akal dan hati. Pertentangan atau kerja sama antara akal dan hati itulah pada dasarnya isi sejarah filsafat. Memang pusat kendali kehidupan manusia terletak di tiga tempat, yaitu indera, akal, dan hati. Namun akal dan hati itulah yang paling menentukan.
Dalam sejarah filsafat kelihatan akal pernah menang, pernah kalah; hati pernah berjaya, juga pernah kalah; pernah juga kedua-duanya sama-sama menang. Di antara keduanya, dalam sejarah telah terjadi pergumulan berebut dominasi dalam mengendalikan kehidupan manusia.[1]
Yang dimaksud akal disini ialah akal yang logis yang bertempat di kepala, sedangkan hati ialah rasa yang kira-kira bertempat di dalam dada. Akal itulah yang menghasilkan pengetahuan logis yang disebut filsafat, sedangkan hati pada dasarnya menghasilkan pengetahuan supralogis yang disebut pengetahuan mistik; iman termasuk di sini.
Adapun buah pemikiran dari filsafat itu sendiri diantaranya adalah hal yang menyangkut tentang permasalahan etika. Karena itulah etika menjadi salah satu cabang dari filsafat yang di dalamnya menyangkut tentang masalah seputar moralitas (norma-norma) dan teori tentang masalah moral lainnya.
Masalah etika itu sendiri merupakan cabang filsafat yang mencari hakikat nilai-nilai baik dan jahat yang berkaitan dengan perbuatan dan tindakan seseorang yang dilakukan dengan penuh kesadaran berdasarkan pertimbangan pemikirannya. Persoalan etika itu pula merupakan persoalan yang berhubungan dengan eksistensi manusia dalam segala aspeknya, baik individu maupun masyarakat, baik hubungannya dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia dan dirinya.[2]
Oleh karena etika merupakan salah satu cabang dari kajian filsafat, maka sangatlah perlu untuk mengupas tuntas tentang permasalahan etika yang bersandarkan pada ruang lingkup filsafat. Sehingga dapat diketahuilah tentang pandangan para pemikir atau para ahli filsafat terutama dari pandangan Socrates tentang etika. Karena Socrates merupakan salah satu filosof yang arah pandangannya berbicara tentang etika.
Selain itu pula, perlu sekali untuk diketahui tentang siapa itu Socrates dan riwayat hidupnya serta jalan pemikirannya. Karena sangat perlu untuk mengetahui bagaimana seorang filosof itu berfikir sebelum kita mempelajari apa buah pikirannya. Apalagi Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Malahan jika ditilik benar-benar, Socrates secara langsung tidak mengajarkan filosofi, melainkan ia hidup dengan berfilosofi.
Oleh karena Socrates tidak menuliskan filosofinya, maka sulit sekali untuk mengetahui dengan sahih apa sebenarnya ajarannya. Dan ajaran-ajarannya itu hanya dikenal dari catatan-catatan murid-muridnya, terutama Xenephon dan Plato. Dengan demikian, maka menjadi penting untuk mempelajari ajaran Socrates yang mana tidak langsung dituliskan secara langsung oleh Socrates sendiri, tetapi melalui murid-muridnya.
Namun, yang lebih menarik dari Socrates yaitu pernyataannya yang menyatakan bahwa ia tidak pernah mengaku mempunyai kearifan dan kebijaksanaan, ia hanya mengaku sebagai penggemar kearifan atau amatir kebijaksanaan, bukan professional dan mengambil untuk kebendaan dari apa yang ia gemari seperti kaum sofis pada zamannya.
Dan perlu juga untuk diketahui bersama mengenai paradigma etika tersebut dalam perspektif Socrates. Yang mana Socrates mengatakan bahwa budi ialah tahu, itulah intisari dari etika Socrates yang menjadi latar belakang permasalahan yang akan diangkat dalam pembahasan makalah ini.
B.Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan etika ?
2.      Bagaimana pandangan Socrates tentang etika ?
C.Tujuan Penulisan
Ada pun tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya ialah untuk mengetahui tentang definisi mengenai etika dari berbagai sumber dan ahli yang berbeda, serta untuk mendapatkan gambaran mengenai etika tersebut dalam perspektif Socrates.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1Pengertian Etika
Dari segi etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat.[3] Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, etika diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral).[4] Dari pengertian pengetahuan kebahasaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia.
Adapun arti etika dari segi terminologi (istilah) yaitu sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para ahli dengan ungkapan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing. Ahmad Amin misalnya mengartikan etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.[5]
Menurut Soegarda poerbakawatja etika adalah filsafat nilai, pengetahuan tentang nilai-nilai, ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia semuanya, terutama mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya bentuk perbuatan.[6]
Berikutnya dalam Encyclopedia Britanica, etika dinyatakan sebagai filsafat moral, yaitu studi yang sistematik mengenai sifat dasar dari konsep-konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya.
Selanjutnya Frankena, sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Charris Zubair mengatakan bahwa etika adalah sebagai cabang filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran filsafat tentang moralitas, problem moral, dan pertimbangan moral.[7]
Dari beberapa definisi etika tersebut di atas dapat segera diketahui bahwa etika berhubungan dengan empat hal sebagai berikut. Pertama, dilihat dari segi obyek pembahasannya, etika berusaha membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Kedua, dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat. Sebagai hasil pemikiran maka etika tidak bersifat mutlak, absolut dan tidak pula universal. Ia terbatas, dapat berubah, memiliki kekurangan, kelebihan, dan sebagainya. Selain itu etika juga memanfaatkan berbagai ilmu yang membahas perilaku manusia seperti ilmu antropologi, psikologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi dan sebagainya. Hal ini dimungkinkan, karena berbagai ilmu yang disebutkan itu sama-sama memiliki obyek pembahasan yang sama dengan etika, yaitu perbuatan manusia. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya. Dengan demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh manusia. Peranan etika dalam hal ini tampak sebagai wasit atau hakim, dan bukan sebagai pemain. Ia merupakan konsep atau pemikiran mengenai nilai-nilai untuk digunakan dalam menentukan posisi atau status perbuatan yang dilakukan manusia. Etika lebih mengacu kepada pengkajian sistem nilai-nilai yang ada. Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.[8]
Dengan ciri-cirinya yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang dikemukakan para filosof barat mengenai perbuatan yang baik atau buruk dapat dikelompokkan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasil berfikir. Dengan demikian etika sifatnya humanistis dan anthropocentris, yakni berdasar pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.
2.2Filsafat Etika
Imanuel Kant, terkenal dengan filsafat kritisnya yang lebih banyak berbicara tentang filsafat moral dan etika. Dia merupakan tokoh penting karena dia bisa disebut sebagai pemersatu antara filsafat Rasionalisme dan Empirisme. Tapi ternyata usahanya untuk menyatukan keduanya terpecah kembali sehingga sekarang kita kenal filsafat positivisme, logis dan idealisme. Dan dalam Grundlegung zur Metaphysik der Sitten, filsafat Yunani bisa dibagi menjadi 3 bagian yaitu logika, fisika, dan etika. Logika bersifat a priori tapi fisika dan etika memiliki unsur-unsur a priori dan empiris. Ilmu fisika apriori empiris ini disebut ilmu alam (Naturlehre) sedangakan ilmu etika apriori empiris disebut ilmu kesusilaan (Sittenlehre) dan Metafisika kesusilaan (Metaphysik der Sitten).
Filsafat etika adalah salah satu cabang ilmu filsafat yang membahas masalah seputar moralitas (norma-norma), prinsip-prinsip moral, dan teori-teori moral. Misalnya teori hati nurani, teori rasa moral, teori keputusan moral, teori tentang kebaikan mutlak dan teori tentang kebaikan relatif, teori tentang kejahatan, teori kriteria moral, teori tentang asal mula manusia harus bermoral, dan lain-lain.
Ada beberapa teori tentang nilai etika (baik dan buruk). Pertama, teori nilai dari islam. Dalam islam, nilai etika direntang menjadi lima kategori, yaitu baik sekali, baik, netral, buruk, buruk sekali (wajib, sunah, mubah, makruh, haram). Nilai dalam islam ditentukan oleh Tuhan. Kedua, teori baik dan buruk dari hedonisme mengajarkan bahwa sesuatu dianggap baik bila mengandung hedone (kenikmatan, kepuasan) bagi manusia. Teori ini telah ada sejak zaman Yunani kuno. Ketiga, teori dari vitalisme, baik-buruk ditentukan oleh ada atau tidak adanya kekuatan hidup yang dikandung oleh objek yang dinilai. Manusia yang kuat, ulet, cerdas, itulah manusia yang baik. Manusia yang mengandung daya hidup yang besar, itulah manusia yang baik. Keempat, teori dari utilitarianisme menyatakan bahwa yang baik ialah yang berguna (utility = kegunaan). Utilitarianisme terbagi menjadi dua, yaitu utilitarianisme pribadi dan utilitarianisme sosial. Bagi Bentham, utilitarianisme merupakan perkembangan hedonisme. Baginya, etika harus memperhitungkan jumlah kenikmatan dikurangi jumlah penderitaan tentang hasil perbuatan, itulah yang menentukan nilai perbuatan itu. Menanggung derita dalam melakukan kebaikan adalah tidak baik. Jadi, harus diperhitungkan terlebih dahulu, banyak mana antara kenikmatan dan penderitaan yang terdapat dalam perbuatan itu. Yang kelima yaitu teori dari pragmatisme, yaitu suatu aliran yang segolongan darah dengan utilitarianisme. Prinsip yang diajarkan oleh aliran ini ialah yang baik adalah yang berguna secara praktis dalam kehidupan. Tokoh utamanya ialah Charles P. Peirce, William James, John Dewey, dan Scott Schiller. Peirce adalah yang mula-mula mengumumkan pragmatisme dan dikembangkan oleh James. Bagi James, ukuran kebenaran suatu teori ialah kegunaan praktis teori itu, bukan dilihat secara teoritis. Bagi Pierce, untuk mengerti suatu pikiran cukuplah kita memastikan tindakan apa yang dapat dihasilkan oleh ide itu.[9]
2.3Aliran-Aliran Etika
Dari uraian di atas tersebut, dapatlah diketahui mengenai beberapa aliran dalam etika beserta pandangannya. Yang mana aliran-aliran penting dalam etika tersebut diantaranya ialah:
1.      Aliran Etika Naturalisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural (fitrah) kejadian manusia sendiri.
2.      Aliran Etika hedonisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa perbuatan susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan hedoni (kenikmatan dan kelezatan).
3.      Aliran Etika utilitarisme, yaitu aliran yang menilai baik dan buruknya manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi manusia (utility = manfaat)
4.      Aliran Etika idealisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi haruslah didasarkan atas perinsip kerohanian (idea) yang lebih tinggi.
5.      Aliran Etika vitalisme, yaitu aliran yang nilai dari baik-buruknya perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidaka adanya daya hidup (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.
6.      Aliran Etika tiologis, yaitu aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran baik-buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak sesuainya dengan perintah tuhan (Theos=Tuhan).[10]
2.4Riwayat Socrates
Socrates Lahir di Athena pada tahun 470 SM dan meninggal pada tahun 399 SM. Bapaknya adalah tukang pembuat patung, sedangkan ibunya seorang bidan pada permulaannya, socrates mau menuruti jejak bapaknya menjadi tukang pembuat patung pula, tetapi ia berganti haluan. Dari membentuk batu jadi patung, ia mmembentuk watak manusia. Masa hidupnya hampir sejalan dengan perkembangan sofisme di Athena. Pada hari tuanya, socrates melihat kota tumpah darahnya mulai mundur, setelah mencapai puncak kebesaran yang gilang gemilang.
Socrates terkenal sebagai orang yang berbudi baik, jujur, dan adil. Cara penyampaian kepada para pemuda mengunakan metode tanya jawab. Oleh sebab itu, ia memperoleh banyak simpati dari para pemuda di negerinya. Namun, ia juga kurang disenangi oleh orang banyak dengan menuduhnya sebagai orang yang merusak moral para pemuda negerinya. Selain itu, ia juga di tuduh menolak dewa-dewa atau tuhan-tuhan yang telah di akui negara.[11]
Socrates juga dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athenaberdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut, dia datangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu dan dia ajak diskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.
Peran Socrates dalam mendobrak pengetahuan semua itu meniru pekerjaan ibunya sebagai seorang bidan dalam upaya menolong kelahiran bayi, akan tetapi ia berperan sebagai bidan pengetahuan. Tekhnik dalam upaya menolong kelahiran (bayi), pengetahuan itu di sebut majayutike (kebidanan) yaitu dengan cara mengamat-amati hal-hal yang konkret dan beragam coraknya tetapi pada jenis yang sama. Kemudian unsur-unsur yang berbeda di hilangkan sehingga tinggallah unsur yang sama dan bersifat umum, itulah pengetahuan sejati atau pengertian sejati sangat penting dalam mencapai keutamaan moral. Barang siapa yang mempunyai pengertian sejati berarti memiliki kebajikan (arete) atau keutamaan moral berarti pula memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia.
Seperti halnya kaum sofis, Socrates mengarahkan perhatiannya kepada manusia sebagai objek pemikiran filsafatnya. Berbeda dengan kaum Sofis, yang setiap mengajarkan pengetahuan selalu memungut bayaran, tetapi Socrates tidak memungut bayaran kepada murid-muridnya. Maka, ia kemudian oleh kaum Sofis sendiri dituduh memberikan ajaran barunya, merusak moral para pemuda, dan menentang kepercayaan negara. Kemudian ia ditangkap dan akhirnya dihukum mati dengan minum racun pada umur 70 tahun yaitu pada tahun 399 SM. Pembelaan Socrates atas tuduhan tersebut telah ditulis oleh Plato dalam karangannya, yaitu Apologia.[12]

2.5Jalan Pemikiran Socrates
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates harus bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagaian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya kita peroleh dari tulian murid-muridnya terutama Plato.
Bartens, di dalam sejarah filsafat Yunani menjelaskan bahwa ajaran Socrates itu dutujukan untuk menentang ajaran relativisme sofis. Ia ingin menegakkan sains dan agama. Kalau dipandang sepintas lalu, Socrates tidaklah banyak berbeda dengan orang-orang sofis. Sama dengan orang sofis, Socrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari pengalaman sehari-hari. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat penting antara orang sofis dan Socrates. Socrates tidak meminta biaya untuk orang-orang yang belajar kepadanya.
Menurut pendapat Socrates ada kebenaran obyektif, yang tidak bergantung pada saya atau pada kita. Ini memang pusat permasalahan yang dihadapi oleh Socrates. Untuk membuktikan adanya kebenaran obyektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan tidak salah, misalnya ia bertanya kepada negarawan, hakim, tukang, pedagang, dan sebagainya. Menurut Xenophon, ia bertanya tentang salah dan tidak salah, adil dan tidak adil, berani dan pengecut dan lain-lain.
Socrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban-jawaban lebih lanjut dan menarik kensekuensi-konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban-jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, lalu hipotesis kedua ini diselidiki dengan jawaban-jawaban lain, dan begitulah seterusnya. Sering terjadi percakapan itu berakhir dengan aporia ( kebingungan ). Akan tetapi, tidak jarang dialog itu menghasilkan suatu definisi yang dianggap berguna. Metode yang biasa digunakan Socrates biasanya disebut dialektika yang berarti bercakap-cakap atau berdialog. Metode Socrates dinamakan diaelektika karena dialog mempunyai peranan penting didalamnya.[13]
Menurut filsafat Socrates pula, bahwa segala sesuatu kejadian yang terjadi di alam adalah karena adanya " akal yang mengatur " yang tidak lalai dan tidak tidur. Akal yang mengatur itu adalah Tuhan yang pemurah. Dia bukan benda, hanya wujud yang rohani semata-mata. Pendapat Socrates tentang Tuhan lebih dekat kepada akidah tauhid. Dia menasehatkan supaya orang menjaga perintah-perintah agama, jangan menyembah berhala dan mempersekutukan Tuhan.
2.6.Pandangan Etika Socrates
Menurut Socrates, bahwasanya pengertian dari etika atau intisari dari etika yaitu budi yang berarti tahu. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Sebagai contoh, apabila seseorang telah mengetahui tentang kebenaran adanya kenikmatan surga dan siksa neraka, maka sudah pastilah ia akan mengikuti jalan ajaran Tuhannya untuk memperoleh kenikmatan tersebut. Dan hanya orang-orang yang tidak mempercayai adanya kenikmatan surga dan siksa nerakalah yang enggan untuk melaksanakan aturan dari Tuhannya yang dapat membawanya kepada kenikmatan surga tersebut. Akan tetapi ia malahan melakukan tindakan yang dilarang oleh Tuhannya dan meniggalkan perintah dari Tuhannya.
Sedangkan paham etika Socrates selanjutnya yaitu kelanjutan daripada metode-metodenya. Selanjutnya, siapa yang mengetahui hukum mestilah bertindak sesuai dengan pengetahuannya itu. Tak mungkin ada pertentangan antara keyakinan dan perbuatan. Oleh karena budi berdasar atas pengetahuan, maka budi itu dapat dipelajari.
Dari ucapan itu nyatalah bahwa ajaran etika Socrates intelektuil sifatnya. Selain dari itu juga rasionil. Apabila budi adalah tahu, maka tak ada orang yang sengaja, atas maunya sendiri, berbuat jahat. Kedua-duanya, budi dan tahu bersangkut-paut. Apabila budi adalah tahu, berdasarkan timbangan yang benar, maka "jahat" hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau penglihatan yang benar. Orang yang kesasar adalah korban daripada kekhilafannya sendiri. Kesasar bukanlah perbuatan yang disengaja. Tidak ada orang yang khilaf atas maunya sendiri.
Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Seperti dengan segala barang yang ada itu ada tujuannya, begitu juga hidup manusia. Apa misalnya tujuan meja? Kekuatannya, kebaikannya. Begitu juga dengan manusia. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya.
Dari pandangan etika yang rasionil itu Socrates sampai kepada sikap hidup, yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya, menderita kezaliman lebih baik dari berbuat zalim. Sikap itu diperlihatkannya dengan kata dan perbuatannya, dalam pembelaannya di muka hakim. Socrates adalah orang yang percaya kepada Tuhan. Alam ini teratur susunannya menurut wujud yang tertentu. Hal itu katanya adalah tanda perbuatan Tuhan. Kepada Tuhan dipercayakannya segala-galanya yang tak dapat diduga oleh otak manusia. Jiwa manusia itu dipandangannya bagian daripada Tuhan yang menyusun alam. Sering pula dikemukakannya, bahwa Tuhan itu dirasai sebagai suara dari dalam, yang menjadi bimbingan baginya dalam segala perbuatannya. Itulah yang disebutnya daimonion. Bukan dia saja yang begitu katanya. Semua orang dapat mendengar suara daimonion itu dari dalam jiwanya, apabila ia mau.
Juga dalam segi pandangan Socrates yang berisi keagamaan, terdapat pengaruh paham rasionalisme. Semuanya itu menunjukan kebulatan ajarannya, yang menjadikan ia seorang filosof yang terutama seluruh masa.[14]

BAB III
PENUTUP
3.1Kesimpulan
Filsafat etika merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang membahas masalah seputar moralitas (norma-norma), prinsip-prinsip moral, dan teori-teori moral. Misalnya teori hati nurani, teori rasa moral, teori keputusan moral, teori tentang kebaikan mutlak dan teori tentang kebaikan relatif, teori tentang kejahatan, teori kriteria moral, teori tentang asal mula manusia harus bermoral, dan lain-lain.
Adapun filsafat etika ini memiliki aliran-aliran yang diantaranya yaitu aliran etika naturalisme, aliran etika hedonisme, aliran etika utilitarisme, aliran etika idealisme, aliran etika vitalisme, dan aliran etika teologis. Dimana aliran-aliran tersebut memiliki pandangan yang berbeda dalam menanggapi masalah etika tersebut.
Selanjutnya Socrates mengungkapkan bahwasanya intisari dari etika itu adalah budi, yang berarti tahu. Ajaran etika yang diberikan oleh Socrates itu sifatnya intelektual dan rasional. Karena cara penyampaian yang disampaikan oleh Socrates berdasarkan pada hal-hal yang masuk akal pada umumnya dan dalam upaya penegakan sains dengan cara yang berdialog. Sebagai contoh ungkapan Socrates yang mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik, hal itu sebagaimana dengan segala barang yang ada itu pasti ada tujuannya, begitu juga dengan hidup manusia. Contohnya saja tujuan dari meja, yaitu berupa kekuatan dan kebaikan yang dihasilkan oleh meja tersebut. Begitu juga dengan manusia, yang mana keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya.
Sebagaimana para sofis, disini Socrates memulai filsafatnya dengan bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret. Perbedaannya terletak pada penolakan Socrates terhadap relatifisme yang pada umumnya dianut para sofis. Menurut Socrates tidak benar bahwa yang baik itu baik bagi warga negara Athena dan lain lagi bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai nilai yang sama bagi semua manusia, dan harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Pendirinya yang terkenal adalah pandangannya yang menyatakan bahwa keutamaan (arete) adalah pengetahuan, pandangan ini kadang-kadang disebut intelektualisme etis. Dengan demikian, Socrates telah menciptakan suatu etika yang berlaku bagi semua manusia.
3.2Saran
Perkataan adalah senjata, dan tindakan adalah keuntungan/kemenangan, dan hakikat manusia senantiasa belajar dari alam dan kembali ke alam untuk belajar. Kebenaran akan datang ketika kesalahan itu ada (sebab dan akibat).
Proses berfikir dengan manusia yang lain itu selalu berada di garis yang sama, dan ketika pincang maka timbullah yang dinamakan pertengkaran. Dan ketika kita belajar filsafat, tidak cukup hanya dengan makalah ini saja, dan tidak cukup hanya mempelajarinya sehari dan semalam saja, melainkan dengan berdiskusi/dialektika berorganisasi. Insan yang baik adalah insan yang berguna dalam kehidupan untuk makhluk ciptaan Tuhan. Maka keharusan bagi kita sebagai makhluk yang berfikir adalah belajar berorganisasi dan berjuang.


Diposkan oleh MoelyanaH di 03.43
IDEALISME PLATO
Des 12Posted by awanadec99Idelisme Plato
Plato yang dahulunya merupakan murid dari Socrates, seorang ahli filsafat yang cukup terkenal di kalangan para filsuf mendasarkan pada keyakinan metafisik bahwa ada eksistensi dari "yang ada" (idea)  yang tidak berubah, tetap, dan bersifat umum-universal. Maka realitas ini bukannya menjadi melainkan yang ada (idea). Dengan berdasar pada kenyataan yang tidak berubah seperti itu, Plato menentang relativisme kaum sophis dan menolak persepsi indera. Dari sesuatu "yang ada" tadi kemudian lahirlah aliran filsafat yang disebut Plato sebagai paham Idealisme. Idealisme adalah sistem filsafat yang menekankan pentingnya keunggulan pikiran (mind), roh (soul) atau jiwa (spirit) dari pada hal-hal yang bersifat kebendaan atau material.
Pandangan-pandangan umum yang disepakati oleh para filsuf idealisme, yaitu:
Jiwa (soul) manusia adalah unsur yang paling penting dalam hidup.
Hakikat akhir alam semesta pada dasarnya adalah non material.
Aliran ini berpendapat bahwa kenyataan yang sesungguhnya bersifat spiritual atau ideasional dan beranggapan bahwa pengetahuan yang didapat melalui pancaindera belum mencapai kebenarannya. Kebenaran yang secara tetap sebenarnya secara tidak disadari telah hadir dalam pikiran mereka. Anggapan tersebut berakibat bahwa setiap manusia mempunyai jiwa yang hadir lebih dahulu sebelum kelahiran raganya yang hidup dalam dunia spiritual dari bentuk sempurna (ide-ide). Dunia hanya merupakan tiruan belaka, sifatnya maya (bayangan), yang menyimpang dari kenyataan sebenarnya. Seringkali orang tertipu oleh kesaksian indera yang dimilikinya. Sedangkan pengetahuan yang didapat dari akal budi justru dianggap sebagai pengetahuan sejati yang benar. Jadi, dunia pengalaman (alat indera) disebut sebagai dunia semu atau dunia bayang-bayang, sedangkan dunia idea (akal budi) disebut sebagai dunia asli, dunia yang sesungguhnya. Oleh karenanya aliran ini disebut aliran idealisme karena pengetahuan semata-mata hanya bersumber dari akal budi manusia.
Plato percaya bahwa ada dua dunia di alam yang kita huni ini. Pertama, dunia spiritual atau dunia mental yang bersifat abadi, permanen, berurutan, teratur, dan universal. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang murni dan asli, kemudian kemutlakan dan kesejatian kedudukannya lebih tinggi dari yang nampak, karena idea merupakan wujud yang hakiki. Kedua, dunia penampakan yaitu dunia pengalaman melalui penglihatan, sentuhan, bau, rasa, dan suara yang sifatnya berubah, tidak sempurna, dan tidak teratur. Apa yang dialami kita selaku makhluk hidup dalam lingkungan ini seperti ada yang datang dan pergi, ada yang hidup dan ada yang mati demikian seterusnya. Pembagian ini berdasar pada hakekat dualitas manusia, yaitu Jiwa dan Raga. Keberadaan idea tidak nampak dalam wujud lahiriah tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea sebab posisinya tidak menetap sedangkan yang sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya idea digambarkan dengan dunia yang tidak terbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea.
Epistemologi Idealisme
Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas tentang hakikat pengetahuan. Suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan pondasi, alat, tolok ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia. Sedangkan Idealisme adalah suatu konsep yang diyakini oleh seseorang, yang mengatakan bahwa segala sesuatunya harus berjalan dengan ideal. Ideal di sini subjektif dipandang dari sisi orang yang bersangkutan.
Pada dasarnya, manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa: (1) Hakikat itu ada dan nyata; (2) Kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu; (3) Hakikat itu bisa dicapai, diketahui, dan dipahami; (4) Manusia bisa memiliki ilmu, pengetahuan, dan makrifat atas hakikat itu. Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya, dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia.
Menurut filsuf idealisme, proses mengetahui terjadi dalam pikiran, manusia memperoleh pengetahuan melalui berfikir dan intuisi (gerak hati). Pengetahuan diperoleh dengan cara mengingat kembali (semua pengetahuan adalah sesuatu yang diingat kembali) ide-ide laten yang telah dibentuk dan telah hadir dalam pikiran. Dengan ingatannya, pikiran manusia dapat menemukan ide-ide dari Pikiran Makrokosmos dalam pikiran masing-masing orang. Karena logika yang menjadi dasar metafisik dan dasar epistemologi kaum idealis adalah bahwa ada hubungan "yang keseluruhan" dengan "yang bagian". Kebenaran hadir di dalam dan bersama Makrokosmos atau "yang mutlak" dalam sebuah tatanan atau pola yang logis, sistematik dan terhubung. Masing-masing proposisi dihubungkan kepada sesuatu yang lebih besar dan lebih komprehensif proposisinya. Ketika "yang keseluruhan" memasukkan "yang bagian", maka bagian-bagian itu harus konsisten dengan keseluruhan.
Jadi dapat kita simpulkan, bahwa epistemologi dan idealisme memang berhubungan. Saling keterkaitan epistemologi dan idealisme dapat disimpulkan bahwa epistemologi idealisme adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan pondasi, alat, tolok ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia yang berjalan dengan ideal.
Implikasi Idealisme terhadap Pendidikan
Menurut para filsuf idealisme, pendidikan bertujuan untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi (self) siswa. Mengingat bakat manusia berbeda-beda maka pendidikan yang diberikan kepada setiap orang harus sesuai dengan bakatnya masing-masing. Sebagai proses intelektual yang tinggi, belajar adalah memanggil kembali dan bekerja dengan ide-ide. Oleh karena kenyataan itu bersifat mental, pendidikan juga berkaitan dengan konsep atau ide-ide. Orang-orang yang terdidik adalah mereka yang secara sistematik sampai pada kesadaran sebagai bagian dari keseluruhan semesta.
Kaum idealis mendukung kurikulum berdasarkan bidang studi yang di dalamnya berbagai ide atau konsep tersusun dan berhubungan satu sama lain. Di sisi lain idealisme Plato banyak memberikan pengaruh dan sumbangan ke dalam dunia pendidikan. Di mana Plato mendasari bahwa pendidikan itu kaitannya sangat perlu, baik bagi dirinya selaku individu maupun warga negara, dan ditambahkannya bahwa pelaksanaan pendidikan harus mengenyam pendidikan, demikian halnya bahwa setiap peserta didik harus diberikan kebebasan untuk mengikuti ilmu yang ada sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing dengan menurut jenjang usianya. Pendidikan itu sendiri akan memberikan dampak dan perubahan bagi kehidupan pribadinya dan pada gilirannya akan bisa mengabdi pada bangsa dan negaranya untuk masa depan bangsanya.
Bagi Plato, pendidikan itu adalah suatu bangsa dengan tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan negara dan perorangan. Menurut Plato di dalam negara idealnya pendidikan memperoleh tempat yang paling utama dan mendapat perhatian yang paling khusus bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah tugas dan panggilan yang sangat mulia yang diselenggarakan oleh negara. Pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tindakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan kebenaran. Dengan pendidikan orang-orang akan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Dengan pendidikan pula, orang-orang akan mengenal apa yang baik dan apa yang tidak baik, dan juga akan menyadari apa patut dan apa yang tidak patut, dan yang paling dominan dari semua itu adalah bahwa pendidikan mereka akan lahir kembali (they shall be born again).
Dengan demikian jelaslah pula bahwa peranan pendidikan yang paling utama bagi manusia adalah membebaskan dan memperbaharui. Pembebasan dan pembaharuan itu akan membentuk manusia utuh, yakni manusia yang berhasil menggapai segala keutamaan dan moralitas jiwa mengantarkannya ke idea yang tinggi yaitu kebajikan, kebaikan, dan keadilan.
Makalah Realisme aristoteles
BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangPaham nominalis berpendapat bahwa objek persepsi indrawi dan pengertian sebenarnya dalam kenyataan tidak ada. Objek persepsi itu hanya nama saja, tetapi tidak sungguh-sungguh ada. Kaum idealis berpendapat bahwa objek itu hanya ada dalam budi. Orang materialis berpendirian bahwa yang ada hanyalah benda materi. Diluar benda materi tidak ada kenyataan lain. Berdampingan dengan nominalisme, idealisme, dan materialism adalah realism.Sebagai aliran filsafat, realism berpendirian bahwa yang ada ditangkap pancaindra dan yang konsepnya ada dalam budi itu memang nyata ada. Batu yang tersandung dijalan yang baru dialami memang ada. Bunga mawar yang bau harumnya merangsang hidung sungguh-sungguh nyata ada bertengger pada ranting pohonya di ranting bunga.Untuk lebih jelasnya, kami selaku kelompok III akan menyusun sebuah makalah yang membahas tentang realism aristoteles, namun karena keterbatasan kami, kami tidak mampu membahas apa sih realism menurut aristoteles, namun kami hanya mambahas Aristoteles dan realism secara terpisah.
B. Rumusan MasalahAdapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :1. Siapa Aristoteles ?2. Apakah yang dimaksud dengan realism ?3. Apa pengaruh pemikiran Aristoteles ?
C. Tujuan PenulisanAdapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :1. Agar kita mengetahui siapa aristoteles..2. Agar kita mengetahui arti realism.3. Agar kita mengetahui pengaruh pemikiran Aristoteles. BAB IPEMBAHASANA. AristotelesAristoteles adalah teman dan murid Plato. Ia dilahirkan di Trasia (Balkan). Keluarganya adalah orang-orang yang tertarik pada ilmu kedokteran. Ia banyak mempelajari filsafat, matematika, astronomi, retorika dan ilmu-ilmu yang lainnya.Dengan kecerdasan yang luar biasa hampir-hampir ia menguasai ilmu yang berkembang pada masanya. Tatkala ia berumur 18 tahun, ia dikirim ke Athena ke akademia Plato. di kota itu dia belajar pada Plato. kecenderungan berfikir saintifik nampak dari pandangan filsafat-filsafatnya yang sistematis dan banyak menggunakan metode empiris. Maka jika dibandingkan dengan Plato yang pandangan filsafatnya Aristoteles orentasinya pada hal-hal yang kongkrit (empiris). Ia dikenal lebih luas kerena pernah menjadi tutor (guru) Alexander. Seorang diplomat ulung dan jenderal terkenal. Di Athena ia mendirikam sekolah yang bernama lyceum . dari sekolah itu banyak menghasilkan penelitian yang tidak hanya dapat menjelaskan prinsip-prinsip sains, Tetapi juga politik, retolika dan lain sebagainya.Namun lama kelamaan posisi Aristoteles di Athena tadak aman, karena ia orang asing Lebih dari itu ia di isukan sabagai penyebar pengaruh yang bersifat subversif dan dituduh Athies. Kemudian ia akhirnya meninggalkan Athena dan pindah ke chalcis dan meninggal di sana pada tahun 322 SM..Hasil karyanya banyak sekali. Akan tetapi sulit menyusun karyanya itu secara sistematis. Berbeda-beda cara orang membagi-bagikannya. Ada yang membaginya atas 8 bagian, yang mengenai; Logika, filsafat alam, psikologi, biologi, metafisika, etika, politik dan ekonomi, dan akhirnya retorika dan peotika. Ada juga orang yang menguraikan perkembangan pemikiran Aristoteles sebagai meliputi 3 tahap yaitu :a. Tahap di akademi, ketika ia masih setia pada gurunya, Plato, termasuk ajaran plato tentang idea;b. Tahap ia si Assos, ketika ia berbalik daripada plato, mengritik ajaran plato tentang idea-idea serta menentukan filsafatnya sendiri;c. Tahap ketika ia di sekolahnya di Athena, waktu ia berbalik dari berspekulasi ke penyelidikan empiris, mengindahkan yang konkrit dan yang individual. Asal pembagian ini tidak diterapkan secara konsekuen , kami kira dapat dipakai juga.Di dalam dunia filsafat, aristoteles dikenal sebagai bapak logika. Logikanya disebut tradisional karena nantinya berkembang apa yang disebut logika modern. Logika Aristoteles itu sering juga disebut logika formal .Bila orang-orang sofis banyak yang menganggap manusia tidak akan mampu memperoleh kebenaran, Aristoteles dalam Metaphysics menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran. Salah satu teori metafisika Aristoteles yang penting ialah pendapatnya yang menyatakan bahwa matter dan form itu bersatu. Matter memberikan substansi sesuatu, form memberikan pembungkusnya. Seyiap obyek terdiri atas matter dan form. Jadi, ia telah mengatasi dualisme Plato yang memisahkan matter dan form, bagi Plato matter dan form berada sendiri –sendiri. Ia juga berpendapat bahwa matter itu potensial dan form itu aktualitas.Pada Aristoteles kita menyaksikan bahwa pemikiran filsafat lebih maju, dasar-dasar sains diletakkan. Tuhan dicapai dengan akal, tetapi ia percaya pada tuhan. Jasanya dalam menolong plato dan Sokrates memerangi orang sofi s ialah karena bukunya yang menjelaskan palsunya logika yang digunakan oleh tokoh-tokoh sofisme.Namun, ada substansi yang murni form, tanpa potentiality, jadi tanpa matter, yaitu Tuhan.Aristoteles percaya kepada adanya tuhan. Bukti adanya Tuhan menurutnya adalah tuhan sebagai penyebab gerak (a fist cause of motion) .Tuhan menurut Aristoteles berhubungan dengan dirinya sendiri. Ia tidak berhubungan dengan (tidak memperdulikan) alam ini. Ia bukan pesona. Ia tidak memperhatikan do'a dan keinginan manusia. Dalam mencintai tuhan, kita tidak usah mengharap mencintai kita. Ai adalah kesempurnaan tertinggi, dan kita mencontoh kesana untuk perbuatan dan pikiran pikiran kita.Pandangan filsafat tentang etika adalah bahwa etika adalah sarana untuk mencapai kebahagiaan dan merupakan sebagai barang yang tertinggi dalam kehidupan. etika dapat mendidik manusia supaya memiliki sikapnyang pantas dalam segala perbuatan. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kebaikan terletak di tengah-tengah antara dua ujung yang paling jauh. Contohnya pemberani adalah sifat yang baik terletak diantara pengecut dan nekat, dermawan terletak diantara kikir dan pemboros, rendah hati terletak diantara berjiwa budi dan sombong dan alin sebagainya. Orang harus pandai menguasai diri supaya tidak terombang-ambing oleh hawa nafsu.B. RealismeIstilah realisme berasal dari kata latin realis yang berarti 'sungguh-sungguh, nyata benar'. Sepanjang sejarah panjang bervariasi, realisme telah memiliki tema umum, yang disebut prinsip atau tesis kemerdekaan. Tema ini menyatakan bahwa realitas, pengetahuan dan nilai yang ada secara independen dari pikiran manusia. Ini berarti bahwa realisme menolak pandangan idealis bahwa ide-ide hanya nyata.Barang ada bahkan meskipun tidak ada pikiran untuk melihat mereka (ingat pertanyaan klasik tentang pohon tumbang di hutan). Untuk realis, hal ini tentu sebuah realitas independen, namun, realis juga menganggap ide untuk menjadi bagian dari tesis.Realisme Aristoteles didasarkan pada prinsip bahwa ide-ide (atau bentuk) bisa ada tanpa masalah, tapi tidak peduli bisa eksis tanpa bentuk. Aristoteles menyatakan bahwa setiap bagian materi memiliki sifat universal dan khusus. Sebagai contoh, semua orang berbeda dalam sifat-sifat mereka. Kita semua memiliki berbagai bentuk dan ukuran dan tidak ada dua yang sama. Kami melakukan semua berbagi sesuatu yang universal yang disebut "kemanusiaan."Kualitas universal ini tentunya nyata karena itu ada secara mandiri dan terlepas dari satu orang. Aristoteles menyebut kualitas bentuk universal (gagasan atau esensi), yang merupakan aspek nonmaterial dari setiap objek materi tunggal yang berhubungan dengan semua benda lain dari grup tersebut.Meskipun bentuk adalah nonmateri, kita menyadari itu dengan memeriksa benda-benda materi yang ada yang independen dari kita. Aristoteles percaya bahwa kita harus mempelajari dan memahami realitas segala sesuatu. Dia setuju dengan Plato pada posisi ini. Mereka berbeda tentang metode bagaimana untuk tiba pada formulir. Aristoteles percaya seseorang bisa membentuk dengan mempelajari hal-hal material dan Plato percaya itu bisa dicapai melalui penalaran, seperti dialektika.Pada prinsipnya kedua, Aristoteles mengira bahwa bentuk-bentuk hal, sifat universal dari benda-benda, tetap konstan dan tidak pernah berubah, tetapi bahwa komponen tertentu melakukan perubahan. Individu manusia perubahan melalui pertumbuhan dan kemudian mati, tetapi kemanusiaan akan tetap karena bentuk universal adalah konstan.Aristoteles dan Plato sepakat bentuk yang konstan dan materi selalu berubah, tetapi Aristoteles percaya bahwa bentuk itu dalam hal tertentu dan bahkan kekuatan materi yang memotivasi. Dia berpikir bahwa setiap objek memiliki "jiwa" kecil atau tujuan dalam hidup. Misalnya, tujuan anak kucing adalah menjadi kucing dewasa. Tujuan dari seorang anak akan menjadi remaja dan akhirnya manusia dewasa.Aristoteles tidak hanya seorang filosof, tapi juga ilmuwan. Dia percaya ada hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan di mana studi satu membantu kita dalam studi yang lain. Kita dapat mempertimbangkan apa sifat fisik make-up kucing (struktur internal dan eksternal, warna), namun; pertanyaan-pertanyaan ilmiah secara alami akan membawa kita untuk mengajukan pertanyaan filosofis yang lebih mendalam tentang asal-usul kucing, makna dan tujuan. Proses ini akan membawa kita untuk menemukan esensi atau bentuk.Dia pikir pertanyaan paling penting yang bisa kita bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan tujuan-tujuan mereka. Tidak seperti semua binatang lainnya, binatang manusia dapat berpikir secara abstrak dan Aristoteles percaya penggunaan kemampuan ini unik adalah tujuan kemanusiaan. Ketika kita tidak menggunakan kecerdasan kita, kita pergi melawan tujuan yang sebenarnya kita dalam hidup.Pada prinsipnya ketiga, Aristoteles percaya bahwa desain dan ketertiban hadir di alam semesta dan dengan demikian, segala sesuatu terjadi secara teratur.Seperti disebutkan, nasib anak kucing adalah menjadi kucing, seorang anak menjadi manusia dewasa. Proses ini tidak bisa diubah dan konstan seperti bentuk universal mereka. Dengan demikian, kita dapat memahami alam semesta dengan mempelajari tujuannya. Namun demikian, Aristoteles mengatakan bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk berpikir. Jika kita menolak untuk berpikir atau berpikir buruk, maka kita bertentangan desain kami dan penciptaan dan menderita konsekuensi dari ide-ide yang salah, kesehatan yang buruk dan ketidakbahagiaan.Aristoteles percaya bahwa orang yang mengikuti tujuan sebenarnya memimpin hidup rasional moderasi dan menghindari ekstrem. Dia percaya dalam dua ekstrim: ekstrim yang terlalu sedikit dan terlalu banyak. Jika seseorang minum terlalu banyak alkohol, satu akan menjadi seorang pecandu alkohol dan menderita penyakit tersebut. Namun, orang yang berpikir seperti moderat menghindari penghancuran diri. Aristoteles menyebut jalan moderat menghindari ekstrem, Golden Mean.Prinsip keempat ini digambarkan oleh gagasan tentang jiwa sebagai suatu entitas akan tetap seimbang. Ia percaya ada tiga aspek jiwa yang disebut vegetatif, animative dan rasional. Vegetatif merupakan melakukan terlalu sedikit atau tidak aktif. Animative berarti ekstrim lain terlalu banyak seperti dalam kemarahan dan permusuhan. Namun, ketika seseorang menggunakan alasan untuk menjaga dua aspek lain dalam harmoni, mereka mengikuti jalan yang benar untuk desain dan tujuan.Keadaan ideal ada ketika semua tiga aspek, vegetatif (kuningan), perak (hewan) dan emas (rasional) dalam keseimbangan dan harmoni. Aristoteles percaya bahwa pendidikan yang baik akan membantu mencapai Golden Mean dan karenanya, mempromosikan harmoni dan keseimbangan jiwa dan tubuh.Aristoteles percaya bahwa keseimbangan dan ketertiban sangat penting untuk tubuh dan pikiran dan juga alam semesta. Mengenai manusia, ia tidak melihat tubuh dan pikiran dalam oposisi sebagai Plato itu, namun ia memandang tubuh sebagai sarana data yang datang kepada kita melalui persepsi akal. Data dari persepsi rasa diorganisir oleh pikiran penalaran. prinsip-prinsip universal dicapai oleh pikiran dari pemeriksaan khusus oleh persepsi rasa dan mengatur hasil dalam penjelasan rasional. Dengan demikian, tubuh dan pikiran beroperasi bersama-sama secara seimbang dengan konsistensi internal mereka.Tidak seperti Plato yang percaya hanya dalam ide, Aristoteles tidak masalah yang terpisah dari bentuk atau universal sedang. Ini adalah prinsip kelima. Dia melihat mereka sebagai dua aspek fundamental dari hal yang sama. Semua materi mempunyai bentuk dan dalam beberapa tahap aktualisasi. tak berbentuk materi tidak ada. Ia mencoba untuk menyatukan dunia materi dengan dunia bentuk. Contoh dari hal ini adalah pandangannya tentang aktualitas dan potensialitas.Aktualitas adalah bahwa yang lengkap atau sempurna yang akan terbentuk. Potensi mengacu pada kemampuan yang diaktualisasikan atau mendapatkan kesempurnaan dan bentuk. Ini persatuan bentuk dan materi yang memberikan realitas yang konkrit untuk hal-hal serikat ini kemudian diilustrasikan oleh konsep Aristoteles tentang Empat Penyebab:1. Bahan Penyebab: masalah dari mana sesuatu dibuat2. Formal Penyebab: desain yang membentuk objek material3. The Efisien Penyebab: agen yang menghasilkan objek4. Sebab Final: arah menuju yang objek yang cenderungPenyebab ini dapat dikaitkan dengan apa bangunan. Salah satu kebutuhan bahan untuk membangun, desain atau cetak biru, pembangun dan akhirnya hasilnya.Prinsip keenam adalah keyakinan Aristoteles bahwa materi selalu dalam proses dan bergerak untuk mengakhiri beberapa. Ini mirip dengan pandangan evolusi modern dan gagasan tentang alam semesta terbuka. Namun, perbedaan antara mereka ada orang melihat gerakan menuju ke tujuan akhir. Alam semesta terbuka-berakhir ke suatu titik tertentu. Dia percaya dalam Realitas Ultimate untuk menjadi kekuatan dan pencipta yang mengontrol proses materi. entitas ini adalah akhir akhir melampaui semua materi dan bentuk. Dalam hal ini, filsafat Aristoteles adalah sebagai esoteris sebagai Plato. Dia melihat ini Realita Ultimate sebagai penjelasan logis untuk urutan alam semesta dan prinsip sebagai penyelenggara dan operator.Untuk mencari struktur realitas independen, Aristoteles bekerja pada proses logis. Dia menggunakan dialektika untuk mensintesis menentang gagasan tentang kebenaran. Dia juga mencoba untuk memperbaikinya. Metode logis ia kembangkan adalah silogisme, yang merupakan metode untuk menguji kebenaran laporan. Perhatikan contoh berikut: Semua musik yang baik, klasik adalah sebuah bentuk musik, oleh karena itu, musik klasik yang baik.silogisme ini terdiri dari premis mayor, premis minor dan kesimpulan. Aristoteles menciptakannya untuk membantu kita berpikir lebih akurat dengan memesan pernyataan tentang realitas dalam bentuk logis dan sistematis.Metode ini deduktif yang berarti mencapai kebenaran dari generalisasi dimulai dengan premis utama. Satu masalah dengan metode ini adalah jika salah satu dari tempat salah, kesimpulan mungkin salah. Kemungkinan premis umum yang belum terbukti lebih besar daripada memulai dengan fakta yang spesifik. silogisme tersebut bertentangan dengan desakan bahwa kami dapat lebih memahami bentuk (umum prinsip) dengan mempelajari obyek material tertentu.Prinsip terakhir adalah kepercayaan yang baik utama, yaitu kebahagiaan. Hal ini tergantung pada jiwa yang berbudi luhur dan tertata dengan baik. Untuk mencapai hal ini, kita harus mengembangkan kebiasaan kebajikan yang dibentuk melalui pendidikan yang layak. Seperti disebutkan, moderasi melalui Golden Mean adalah kuncinya. Hal ini akan mengakibatkan membantu negara dalam menghasilkan warga negara yang baik dengan pembangunan sosial yang tepat.Dalam Politik, Aristoteles menyebutkan bahwa ada hubungan timbal balik antara orang yang benar benar berpendidikan dan warga berpendidikan.Pengaruh Aristoteles telah sangat penting bagi Eropa dan Amerika. Beberapa pendekatan untuk berpikir termasuk mempelajari alam secara sistematis, menggunakan proses logis, mencapai kebenaran umum melalui studi khusus, mengatur hal-hal yang menjadi hirarki dan menekankan aspek rasional dari sifat manusia.Realisme Agama mulai dengan Thomas Aquinas (1225-1274) ketika ia pertama kali bertemu karya Aristoteles saat belajar di Naples, Italia. Ini mulai menyukai seumur hidup mencoba untuk bergabung filsafat Aristoteles dengan konsep Kristen.Karena itu, realisme realisme berpandangan bahwa obyek persepsi indriawi dan pengertian sungguh-sungguh ada, terlepas dari indra dan budi yang mengkapnya kerena obyek itu memang dapat diselidiki, dianalisis, dipelajari lewat ilmu, dan ditumukan hakikatnya lewat filsafat.Realisme berpendapat bahwa dalam melaksanakan prinsip-prinsip dan mengejar cita-cita etis orang perlu bersikap realistis. Artinya, dalam dalam melaksanakan prinsip dan cita-cita etis itu orang perlu memperhitungkansemua faktor ; situasi, kondisi, keadaan, ideologi, politik, ekonomi,sosial, budaya, dan orang-orang yang terlibat.dengan memperhitungkan semua faktor itu, akan ditemukan bahwa tidak semua faktor mendukung pelaksanaan prinsip dan cita-cita etis.Ada situasi yang tak membantu. Ada kondisi yang terpenuhi. Ada kepentingan ideology-politis-ekonomis-sosial-budaya yang melawan. Ada orang-orang yang karena kepentingan diri, dan ambisi untuk menguasai dan mengendalikan orang lain, melawan pelaksanaan prinsip serta pencapaian cita-cita etis. Dalam situasi seperti itu, reasisme berusaha melaksanakan prinsip etis dan mengejar cita-cita etis sedapat mungkin. Akan tetapi, karena dalam pelaksanaan prinsip etis dan pengejaran cita-cita etis itu sudah dipertimbangkan segala factor, hasilnya dalam perbuatan etis konkret diharapkan dapat maksimal.Realism mengakui fakta, prinsip, dan cita-cita etis, menghormati dan sedapat mungkin berusaha melaksanakan dan mewujudkan. Akan tetapi, penerapan prinsip dan usaha mencapai cita-cita itu disesuaikan dengan keadaan nyata, tidak terlalu utopis dan idealis sehingga sehingga prinsip eis sama sekali tidak dapat diterapkan dan cita-cita etis tidak dapat dicapai. Sikap kaum realis ini berlawanan dengan sikap kaum fanatic dan berbeda dengan sikap kaum pragmatis. Kaum fanatic mau menerapkan prinsip etis dalam keadaan apapun; jika perlu, penghalang dan penentangnya ditundukkan serta dilenyapkan. Adapun kaum pragmatis hanya mengakui prinsip dan cita-cita yang dapat diterapkan dan dicapai.C. Pengaruh PemikirannyaPengaruh Aristoteles terhadap cara berpikir Barat di belakang hari sungguh mendalam. Di zaman dulu dan zaman pertengahan, hasil karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis, Ibrani, Jerman dan Inggris. Kami-kami Yunani yang muncul kemudian, begitu pula filosof-filosof Byzantium mempelajari karyanya dan menaruh kekaguman yang sangat. Perlu juga dicatat, buahpikirannya banyak membawa pengaruh pada filosof Islam dan berabad- abad lamanya tulisan-tulisannya mendominir cara berpikir Barat. Ibnu Rusyd (Averroes), mungkin filosof Arab yang paling terkemuka, mencoba merumuskan suatu perpaduan antara Teologi Islam dengan rasionalisme Aristoteles. Maimomides, pemikir paling terkemuka Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan Yudaisme. Tetapi, hasil kerja paling gemilang dari perbuatan macam itu adalah Summa Theologia-nya cendikiawan Nasrani St. Thomas Aquinas. Di luar daftarini masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah yang terpengaruh demikian dalamnya oleh pikiran Aristoteles.Kekaguman orang kepada Aristoteles menjadi begitu melonjak di akhir abad tengah ketika keadaan sudah mengarah pada penyembahan berhala. Dalam keadaan itu tulisan-tulisan Aristoteles lebih merupakan semacam bungkus intelek yang jitu tempat mempertanyakan problem lebih lanjut daripada semacam lampu penerang jalan. Aristoteles yang gemar meneliti dan memikirkan ihwal dirinya tak salah lagi kurang sepakat dengan sanjungan membabi buta dari generasi berikutnya terhadap tulisan-tulisannya.Beberapa ide Aristoteles kelihatan reaksioner diukur dengan kacamata sekarang. Misalnya, dia mendukung perbudakan karena dianggapnya sejalan dengan garis hukum alam. Dia percaya kerendahan martabatwanita ketimbang laki-laki. Kedua ide ini–tentu saja-– mencerminkanpandangan yang berlaku pada zaman itu. Tetapi, tak kurang pula banyaknya buah pikiran Aristoteles yang mencengangkan modernnya, misalnya kalimatnya, "Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dankejahatan," dan kalimat "Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalamseni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya." (Tentu saja, waktu itu belum ada sekolah seperti yang kita kenal sekarang).Di abad-abad belakangan, pengaruh dan reputasi Aristoteles telah merosot bukan alang kepalang. Namun, ada yang berpikir bahwa pengaruhnya sudah begitu menyerap dan berlangsung begitu lama sehingga saya menyesal tidak bisa menempatkannya lebih tinggi dari tingkat urutan seperti sekarang ini. Tingkat urutannya sekarang ini terutama akibat amat pentingnya ketiga belas orang yang mendahuluinya dalam urutan.Filsafat Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut, kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni.Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis. Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisa kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam.Berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Pemikiran lainnya adalah tentang gerak dimana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya maka harus ada penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan. Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).Hal lain dalam kerangka berpikir yang menjadi sumbangan penting Aristoteles adalah silogisme yang dapat digunakan dalam menarik kesimpulan yang baru yang tepat dari dua kebenaran yang telah ada. Misalkan ada dua pernyataan (premis). Setiap manusia pasti akan mati (premis mayor).• Sokrates adalah manusa (premis minor)• maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Sokrates pasti akan matiKarena luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti Fisika, Astronomi, Biologi, Psikologi, Metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori retorika dan puisi.Di bidang seni, Aristoteles memuat pandangannya tentang keindahan dalam buku Poetike. Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pengetahuan dibangun atas dasar pengamatan dan penglihatan. Menurut Aristoteles keindahan menyangkut keseimbangan ukuran yakni ukuran material. Menurut Aristoteles sebuah karya seni adalah sebuah perwujudan artistik yang merupakan hasil chatarsis disertai dengan estetika. Chatarsis adalah pengungkapan kumpulan perasaan yang dicurahkan ke luar. Kumpulan perasaan itu disertai dorongan normatif. Dorongan normatif yang dimaksud adalah dorongan yang akhirnya memberi wujud khusus pada perasaan tersebut. Wujud itu ditiru dari apa yang ada di dalam kenyataan. .aristoteles juga mendefinisikan pengertian sejarah yaitu Sejarah merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk kronologi.BAB IIIPENUTUP
A. KesimpulanAristoteles adalah teman dan murid Plato. Ia dilahirkan di Trasia (Balkan). Keluarganya adalah orang-orang yang tertarik pada ilmu kedokteran. Ia banyak mempelajari filsafat, matematika, astronomi, retorika dan ilmu-ilmu yang lainnya.Diantara penulis-penulis islam yang mengagumi Aristoteles ialah Ibnu Rusyid. Ulasannya terhadap Aristoteles telah merupakan suatu karya standar (pegangan) untuk Eropa abad pertengahan. Tidak ada pemisahan yang dibuat antara karya asli Aristoteles dengan pengulas- Plato. Yang terakhir dipelajari dan kadang-kadang diutamakan.Pada garis besarnya, pikiran-pikiran Aristoteles diperbaiki menurut ajaran-ajaran islam. Pikiran -pikirannya yang bersifat analitis dan panteistis bukan saja ternyata tidak dapat diterima oleh teolog-teolog islam, melainkan juga ditolak dan dikritik oleh mereka.Istilah realisme berasal dari kata latin realis yang berarti 'sungguh-sungguh, nyata benar'. Karena itu, realisme realisme berpandangan bahwa obyek persepsi indriawi dan pengertian sungguh-sungguh ada, terlepas dari indra dan budi yang mengkapnya kerena obyek itu memang dapat diselidiki, dianalisis, dipelajari lewat ilmu, dan ditumukan hakikatnya lewat filsafat.Realisme berpendapat bahwa dalam melaksanakan prinsip-prinsip dan mengejar cita-cita etis orang perlu bersikap realistis. Artinya, dalam dalam melaksanakan prinsip dan cita-cita etis itu orang perlu memperhitungkansemua faktor ; situasi, kondisi, keadaan, ideologi, politik, ekonomi,sosial, budaya, dan orang-orang yang terlibat.dengan memperhitungkan semua faktor itu, akan ditemukan bahwa tidak semua faktor mendukung pelaksanaan prinsip dan cita-cita etis.
B. SaranDi akhir makalah ini, Kami mengharapkan sekali kritik dan saran dari teman-teman maupun Bapak Andriloro. selaku dosen mata kuliah Filsafat Umum agar dalam penukisan makalah selanjutnya dapat lebih baik.Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan bapak Andriloro atas saran dan kritiknya.
DAFTAR PUSTAKA
1997, Isme-Isme: dari A Sampai Z, Yogyakarta, KanisiusSadali Ahmad, Dr. H., Filsafat umum, Yogyakarta, KanisiusHadiwijoyo Harun, 1995, Sari sejarah Filsafat barat, Yogyakarta: KanisiusOzmon dan Craver, Filosofis Yayasan Pendidikan, halaman 53Tafsir, Ahmad, 1990, Filsafat Umum, Bandung: PT. Remaja Rasdakaryahttp:id.wikipedia.org/wiki/Aristoteles#cite_note-fuad-1


Download Makalah Filsafat Senin, 21 Mei 2012 PARADIGMA ETIKA DALAM PERSPEKTIF SOCRATES BAB I PENDAHULUAN.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah Filsafat Senin, 21 Mei 2012 PARADIGMA ETIKA DALAM PERSPEKTIF SOCRATES BAB I PENDAHULUAN. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon