December 13, 2016

makalah budidaya kroto


Judul: makalah budidaya kroto
Penulis: Ariyo Murti Raharjo


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mungkin semua orang tidak pernah menyangka bahwa kroto adalah telur "semut api". Semut jenis ini terkenal akan gigitannya yang memang seperti terkena api, panas dan membakar. Walau habitatnya banyak dipohon yang berdaun lebar, semut jenis ini juga banyak ditemui disekitar rumah kita. Tipe semut penghasil kroto ini adalah pemakan segala, mereka hidup dalam koloni-koloni tertentu yang sangat terorganisir dengan baik, jika kita mencoba mengusik salah satu semut saja maka semut tentara yang lain segera datang menyerbu kita. Semut rangrang memang terkenal dengan krotonya yang sekarang jadi bahan rebutan oleh pecinta burung, akhir-akhir ini harganya terus naik, untuk 1kg nya saja telur emas ini dihargai sekitar Rp120.000, (harga penjual pakan burung) bahkan bisa lebih tergantung dari kualitasnya. Tapi sayangnya populasi di alam kian berkurang, ini disebabkan karena perburuan besar-besaran oleh sejumlah orang demi sesuap nasi..Selain itu karena permintaan kroto yang terus bertambah tapi tak sebanding dengan jumlah kroto yang semakin langka, dan ini merupakan peluang yg cukup bagus.Rumusan Masalah
Semakin banyaknya permintaan atas produk "kroto" khususnya untuk penggunaan pakan burung dan memancing ikan, pengelolaan budidaya kroto perlu dijalankan sedemikian rupa untuk menjaga kualitas dan jumlah produksi kroto.Tujuan
Adapun tujuan dari pemilihan budidaya produk kroto ini adalah untuk menjaga jumlah kebutuhan kroto pada masyarakat dan menjaga kelestarian dari populasi semut angrang yang semakin sedikit jumlahnya.
BAB II
PEMBAHASAN
KROTO, LARVA dan PUPA SEMUT
'Kroto' adalah nama yang diberikan oleh orang Jawa untuk campuran larva dan pupa semut penganyam Asia (terutama Oecophylla smaragdina). Campuran ini terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena larva semut populer sebagai umpan ikan, dan juga sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung-burung pedendang. Para penggemar burung memberi kroto yang kaya protein dan vitamin untuk burung peliharaannya demi kepuasan mereka mendengarkan kicauan burung yang merdu atau waktu mereka menyiapkan burung-burungnya untuk mengikuti lomba burung pedendang.Semut penganyam dapat ditemukan mulai dari India sampai Australia dan di seluruh kepulauan Indonesia, kisaran habitatnya* luas, termasuk kawasan pesisir, hutan-hutan sekunder* dan perkebunan. Semut ini terkenal sebagai pemangsa yang agresif dan membuat sarang di pepohonan. Semut-semut ini bisa menyerbu hampir semua jenis pohon, tetapi cenderung lebih menyukai pohon buah-buahan, seperti nangka atau mangga. Koloni tertentu mungkin membuat sarang di sebuah pohon atau bahkan beberapa pohon. Ratu semut terdapat di salah satu sarang yang paling tinggi, telur-telurnya tersebar di beberapa tempat koloni lain yang berdekatan. Bentuk sarang semut penganyam paling rumit di antara sarang-sarang semut lainnya, karena spesies Oecophylla menggunakan kelenjar sutera yang sudah berkembang dengan baik di dalam larvanya untuk menganyam dan merekatkan sarang yang terbuat dari dedaunan segar – itulah asal namanya – semut penganyam.
MEMANEN SARANG SEMUT CARA TRADISIONAL
Kroto dipanen dan dijual sepanjang tahun di pulau Jawa dan Sumatera. Kegiatan memanen kroto dilakukan sendirian, mulai dari identifikasi pohon-pohon inang*. Selama musim kering, sumber sarang kurang melimpah tetapi selama musim hujan, larva yang lebih kecil 'seperti beras' lebih banyak, kualitasnya lebih baik dan harganya juga lebih mahal. Karena selama tahun-tahun belakangan ini permintaan dan persaingan untuk memperoleh kroto meningkat, beberapa kawasan dipanen secara berlebihan dan akibatnya larva yang bisa didapatkan oleh para pengumpul juga lebih sedikit. Untuk memenuhi keranjang mereka, giliran untuk memanen pohon inang/induk menjadi jauh lebih pendek, yang akhirnya mempengaruhi kemampuan populasi semut untuk pulih kembali. Pada tingkat pengumpulan sarang yang tidak terlalu intensif, semut umumnya membangun kembali sarangnya dengan cepat.Sarang-sarang yang terlalu kecil, terlalu tinggi atau sulit dijangkau mungkin dibiarkan saja. Namun, para pengumpul sarang hafal dengan lokasi-lokasi tersebut untuk mencari sarang dikemudian hari, dengan menunggu beberapa minggu semut-semut ini akan pindah ke tempat-tempat yang mudah dijangkau atau membangun sarang-sarang baru.
1162050-114300
Karena semut sangat aktif selama siang hari, pengumpulannya cenderung berlangsung pagi-pagi sekali, dan seorang pengumpul mungkin memanen larva dari 6-8 pohon dalam kawasan seluas 1 hektar. Sebuah sarang besar dari dedaunan hidup mungkin mengandung 30-60 gram larva dan selama musim panen (Juli-Agustus), para pengumpul bisa memanen larva hingga 2 kg per orang.Menjual kroto ke pasar
Pernahkah anda duduk di samping seorang penumpang bis yang memegang sebungkus larva yang sedang menggeliat?
Karena kroto hanya bisa disimpan hidup selama dua hari, para pedagang sering mengirimkan kotak-kotak larva ke kota setiap hari. Karena permintaan yang terus meningkat dan kebutuhan ekonomi, seorang pedagang lokal mungkin menjual 10-30 kg larva per hari ke pasar. Mereka juga menjual kroto yang dikeringkan oleh para pengumpul. Kroto kering ini bisa disimpan selama enam bulan, tetapi harga jualnya hanya setengah harga larva hidup.1076325391795
Batang bambu yang panjangnya lebih dari 5 m digunakan untuk menusuk dan membongkar sebuah sarang, dan larva yang ada di dalamnya kemudian digoyang-goyang supaya jatuh ke dalam kantong berbentuk kerucut yang tergantung di ujung batang bambu. Pengumpul melakukan pekerjaan ini di beberapa pohon inang dengan hati-hati sekali, supaya tidak disengat semut.Karena larva hidup cepat sekali membusuk, keharusan untuk segera menjualnya menjadi hambatan paling besar dalam pemasaran kroto. Selama musim panen, para pengumpul mendapat bayaran US$ 1,20-1,40 per kg dari pedagang, yang kemudian menjualnya ke pengecer dengan harga US$ 1,60-1,70 per kg. Keuntungan yang mereka peroleh hanya sedikit setelah dikurangi biaya transportasi. Pasar-pasar burung di Jakarta menjual sekitar 100 kg kroto setiap hari dengan harga US$ 3,50-5,00 per kg; para pengecerlah yang memperoleh keuntungan paling besar dalam perdagangan kroto. Untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik, para pengumpul sering menjual hasil panen harian mereka langsung ke pengecer kecil, yang sering mau membayar lebih mahal untuk kroto hidup.3390900318135001143001943100
3162300153035Di rumah-rumah pedagang lokal, yang membeli sebagian besar larva yang dipanen, para pengumpul memisahkan semut-semut yang masih ada dan remah-remah larva, kemudian mengemas kroto seberat 1 kg ke dalam sebuah kotak bambu.00Di rumah-rumah pedagang lokal, yang membeli sebagian besar larva yang dipanen, para pengumpul memisahkan semut-semut yang masih ada dan remah-remah larva, kemudian mengemas kroto seberat 1 kg ke dalam sebuah kotak bambu.11430057785Sekitar 60% dari larva yang dikumpulkan mungkin akan hilang selama transportasi dari lapangan ke rumah atau selama pemilahan. Kroto hidup tidak banyak memerlukan pengolahan, kecuali pembersihan dan pemilahan ukuran saja.00Sekitar 60% dari larva yang dikumpulkan mungkin akan hilang selama transportasi dari lapangan ke rumah atau selama pemilahan. Kroto hidup tidak banyak memerlukan pengolahan, kecuali pembersihan dan pemilahan ukuran saja.
Menurut hukum Islam, kroto mungkin dianggap sumber daya yang menjijikkan, sebaiknya tidak dikonsumsi oleh manusia atau binatang, dan uang hasil penjualannya dianggap sebagai 'uang haram'. Namun, bagi banyak pengumpul, kroto merupakan sumber penghasilan penting dan dianggap sebagai salah satu cara bagi masyarakat miskin untuk memperoleh penghasilan dari sumber daya alam yang gratis. Para pengumpul menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (membeli makanan, pakaian, buku sekolah, dll.) atau menabungnya untuk masa-masa sulit. Para petani juga sering mengumpulkan kroto, sebagai cara untuk memperoleh penghasilan tambahan di antara dua musim panen padi.
USULAN QUALITY CONTROL In MARKETING
Untuk menjaga kualitas dan jumlah produksi dari produk kroto, saya sebagai produsen produk kroto mencoba menerapkan quality control didalam operasional produksi produk kroto. Dengan menggunakan analisa Diagram tulang ikan yang diperkenalkan oleh Kaoru Ishikawa, saya mencoba menjabarkan permasalahan yang menghambat produksi kroto selama ini.114300088265Karyawan
00Karyawan
293370088265Tempat produksi
00Tempat produksi

463867587312500463867574930000619125654050005810251311275002762251092200Bergantung pada alam
00Bergantung pada alam
657225425450Dilakukan sendiri
00Dilakukan sendiri
158115019685016573509017000011144251473200Modal
00Modal
31527751311275028003501101725Terlalu Jauh
00Terlalu Jauh
26193751473200Transportasi
00Transportasi
372427587312500316230055880002857500330200Di pohon
00Di pohon
3648075196850485774873125

Dengan melihat beberapa permasalahan yang ada pada bagan diatas, saya mencoba mengusulkan beberapa langkah quality control untuk menjaga kualitas dari produksi produk kroto, yakni dengan beberapa langkah berikut ini.
Memindahkan Sarang Ke Toples
Dengan memindahkan sarang angrang ke toples, langkah ini akan membuat kemudahan pada saat melakukan pengawasan. Dibanding dengan tetap meletakkan sarang semut di pohon dimana bila ada gangguan cuaca seperti hujan, sarang semut dapat hancur akibat hembusan hujan
Tempatkan pada Satu Ruangan
-4762566167000Penempatan dalam satu ruangan ini akan juga mudah dalam melakukan pengawasan. Selain dapat terlindung dari cuaca seperti hujan, langkah ini dapat menambah jumlah produksi karena kroto terlindung dari bahaya yang mungkin menganggu proses dalam pembuatan sarang.
Transport
Dengan dibuatkan sebuah tempat, langkah ini akan mengurangi jarak yang ditempuh bila ingin memanen sarang semut. Tidak perlu lagi jalan berkilo kilo kedalam hutan untuk mencari sebuah pohon yang meiliki sarang semut untuk dipanen. Cukup datang ke tempat yang telah kita buat sebagai sarang semut tersebut.Kualitas
Kualitas produk kroto yang dihasilkan dapat dipantau 24jam. Pemberian pakan menjadi mudah dan dapat menambah jumlah produksi dari yang sebelumnya yang hanya mencari sarang semut di pohon pohon. Penjagaan kualitas dilakukan dengan mengatur jumlah kecukupan pakan. Kecukupan pakan ini akan memengaruhi kualitas dan jumlah kroto yang akan dihasilkan oleh semut angrang. Sebaiknya jangan terlalu banyak memberi pakan, karena dapat menyebabkan kandang semut menjadi kotor. Hal ini dapat membuat semut mati lebih cepat akibat tempat yang kotor karena pemberian pakan yang berlebih.Distribusi
Distribusi produk dapat dilakukan dengan mudah karena pelanggan dapat menjangkau tempat produksi karena tempat produksi telah diketahui secara luas oleh masyarakat. Selain itu, distribusi bisa dilakukan dengan memasok produk kepada tengkulak-tengkulak pada wilayah yang jauh. Hal ini dapat dilakukan karena produk kroto telah dimasukkan kedalam toples dimana hal ini memudahkan dalam pendistribusian produk.-9525017843500BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pelaksanaan quality control pada produk kroto ini dapat dilakukan dengan penyesuaian beberapa hal. Pembuatan tempat untuk penempatan toples toples sarang semut dapat menambah jangkauan pengawasan produk kroto. Pembuatan tempat ini juga dapat membantu mengurangi jarak transportasi yang ditempuh dan memudahkan untuk pendistribusian produk.


Download makalah budidaya kroto.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca makalah budidaya kroto. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon