November 30, 2016

Teori Masuknya Islam


Judul: Teori Masuknya Islam
Penulis: Mardiana Hasanah


TUGAS MATA KULIAH
SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

MAKALAH
TEORI MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA
disusun oleh
Mardiana Nur Hasanah
13410123 / PAI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
FAULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
Jl. Marsda Adisucipto, Yogyakarta, 55281
Telp. (0274) 513056, Email. ftk@uin-suka.ac.id2013
PEMBAHASAN
Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia menjadi negara yang mudah dikenal oleh bangsa-bangsa lain, khususunya oleh bangsa-bangsa yang sejak dulu senang melakukan pengembaraan, pelayaran, dan perdagangan. Misalnya bangsa-bangsa di Timur Tengah dan Timur Jauh.
Penyebaran agama Islam di Nusantara pada umumnya berlangsung melalui dua proses. Pertama, penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang Asing Asia seperti Arab, India, dan Cina yang telah beragama Islam bertempat tinggal di suatu wilayah Indonesia secara permanen, melakukan perkawinan campuran dan mengikuti gaya hidup lokal. Kedua proses ini mungkin sering terjadi scara bersamaan.
Suatu hal yang harus dibedakan adalah kedatangan orang Islam dengan permulaan penyiaran Islam. Kedatangan seseorang pada suatu tempat bukan berarti awal dari penyebaran agama yang dianutnya. Sebagai contoh, kedatangan orang-orang Yahudi ke Indonesia tidak identik dengan tersebarnya agama Yahudi di tanah air, sehingga sampai sekarang orang menganggap agama Yahudi belum masuk ke Indonesia.
Mengenai proses masuk dan berkembangnya agama Islam ke Indonesia, para sarjana dan peneliti sepakat bahwa islamisasi itu berjalan secara damai, meskipun ada juga penggunaan kekuatan oleh penguasa muslim Indonesia untuk menislamkan rakyat atau masyarakatnya. Secara umum mereka menerima Islam tanpa meninggalkan kepercayaan dan praktek keagamaannya yang lama. Hal ini sering dilakukan oleh juru dakwah di Jawa yang terkenal adalah walisanga, mereka mengajarkan Islam dalam bentuk kompromi dengan kepercayaan-kepercayaan setempat. Di samping itu, mereka juga menggunakan jimat, pesona ilmu kesaktian, dan keahlian supernatural lainnya unuk mengajak mereka meeluk agama Islam.
Mengenai asal, tokoh pembawa, waktu, dan tempat islamisasi pertama kali di Indonesia masih merupakan masalah yang kontroversional. Hal ini disebabkan kurangnya data yang dapat digunakan untuk merekonstruki sejarah yang valid, juga adanya perbedaan tentang apa yang dimaksud dengan "Islam". Sebagian sarjana dan peneliti memberikan penngertian Islam dengan kriteria formal yang sangat sederhana seperti pengucapan kalimat syahadat atau pemakaian nama Islam. Sebagian yang lain mendefinisikan Islam secara sosiologis, yakni masyarakat itu dikatakan telah Islam jika prinsip-prinsip Islam telah berfungsi secara aktual dalam lembaga sosial, budaya, dan politik. Jadi mereka menganggap bacaan kalimat syahadat tidak dapat dijadkan bukti adanya penetrasi Islam dalam suatu masyarakat. Minimal sampai sekarang ada dua pendapat tentang masuknya Islam ke Indonesia, yaitu pendapat lama dan pendapat baru (meminjam istilah Ibrahim Bukhari).
Pendapat Lama
Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 yang identik dengan berdirinya kerajaan Islam pertama yaitu Samudera Pasai. Pendapat lama mengaitkan kedatangan Islam pertama dengan berita lawatan Marcopolo ke Indonesia dan batu nisan Sultan Malik-Saleh, yang menerangkan bahwa beliau (sulan) meninggal pada tahun 1297. Sejarawan dan sarjana yang sepakat dengan pendapat lama, antara lain: Prof. Dr. N.J. Krom dalam bukunya De Hindoe Javaanche Tijd dan H.J. Van den Berg dalam bukunya Asia dan Dunia, yang menceritakan keadaan di Sumatera bagian Utara pada tahun 1300 ketika Islam pertama kali masuk ke Indonesia dari riwayat perjalanan Marcopolo. Semua buku terbitan lama juga mengatakan Islam pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-13.
Pendapat Baru
Pendapat baru mengatakan Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Dengan alasan sebagai berikut :
H. Agus Salim
Perdagangan Arab Islam dengan Tiongkok telah ramai sejak abad ke-7. Bahkan pada abad ke-9 tidak ada kapal bangsa asing lain yang melayari lautan selain bangsa Islam. Setiap kali berlayar mereka singgah di Sumatera dan Jawa. Hal ini dikuatkan oleh peta pelayaran orang-orang Islam, adapun jalur pelayaran yang sering dilalui pelayar Arab ialah menyusuri pantai Semenanjung India sampai ke Kulon (Qulon) di Pesisir Malabar, mauk ke lautan besar di sebelah Timur Ceylon ke pulau-pulau di Nikobar selama 15 hari pelayaran. Dari kepulauan Nikobar menuju ujung Utara pulau Sumatera (tanah Aceh) kemudian melalui selat Malaka menuju Kedah, lalu ke Selatan samapi di Palembang dan menyeberang ke pulau Jawa, lalu balik ke Utara, setelah berlayar 15 hari sampai ke Kamboja, dari Kamboja kembali menyusuri pantai melalui Cochin-china sampai ke pesisir Tiongkok. Diperkirakan perjalanan sampai ke Tiongkok memakan waktu 2 bulan. Sekembalinya dari Tiongkok, mereka senggah di Aceh sambil menunggu musim angin balik tiba. Begitulah pelayaran orang-orang Arab Islam menurut perkiraan H. Agus Salim.
Zainal Arifin Abbas
Pada tahun 684 M seorang pemimin Arab Islam datang ke Tiongkok. Beliau telah mempunyai pengikut di pantai Sumatera Utara. Di samping itu, Arab Islam telah mempunyai hubungan perdagangan yang luas sekali dengan negeri-negeri Timur. Bahkan, pada abad ke-7 M; Sultan Taitsung Raja Tiongkok telah masuk Islam. Dan merekan selalu singgah di Sumatera Utara sebagai pintu gerbang masuk dari Ceylon ke Tiongkok atau Malaya.
Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)
Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 M buktinya ialah dipegangnya perairan kita terutama Selat Malaka oleh orang-orang Arab Islam sejak lama. Adanya berita dari Sir Thomas Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam bahwa di pantai Barat pulau Sematera telah didapati satu kelompok orang Arab, pada tahun 684 M. Juga telah ditemukannya alamanak Tiongkok yang menyebutkan bahwa tahun 674 M telah ditemukan sekelompok masyarakat Arab di Sumatera Barat.
Pendapat baru di atas menunjukkan suau kesepakatan bahwa masuknya agama Islam pertama ke Indonesia identik dengan masuknya orang Islam ke Indonesia. Terlepas dari berbagai argumentasi yang mewakili pendapat lama dan baru, tampaknya kejelasan titik terang sejarah masuknya Islam ke Indonesia pertama kali semakin mendekati nilai kebenaran ilmiah sebuah sejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya literatur dan bukti tertulis dalam benuk Alamanak Tiongkok yang dikemukakan Hamka maupun literatur Tiongkok yang diajukan Zainal Arifin Abbas. Bukti-bukti yang tertulis di kitab Arab tentang peta-peta pekayaran pedagang Arab pada masa lalu yang diajukan H. Agus Salim, juga dapat membanu untuk memperjelas kebenaran sejarah masuknya Islam pertama ke Indonesia.
Setidak-tidaknya ada empat teori tentan islamisasi awal di Indonesia, yaitu Islam bersumber dari Anak Benua India (teori India), teori Arab, teori Persia, dan teori Cina.
Teori India
Teori ini dikemukakan oleh Pijnappel, Snouck Hurgronje, Mouquette, dan Fatimi. Dalam teori ini dijelaskan bahwa Islam pertama kali datang ke Indonesia berasal dari Anak Benua India sekitar abad ke-13.
Pijnappel mengajukan bukti adanya persamaan mazhab Syafi'i antara di Anak Benua India dengan Indonesia. Orang Arab yang bermazhab Syafi;i bermigrasi dan menetap di Gujarat dan Malabar kemudian membawa Islam ke Nusantara. Jadi ia berpendapat bahwa islamisasi di Nusantara dilakukan oleh orang Arab, tetapi bukan datang langsung dari Arab, melainkan dari India, terutama dari Gujarat dan Malabar.
Snouck Hurgronje menyatakan bahwa Islam Nusantara bukan berasal dari Arab, karena sedikitnya fakta yang menyebutkan peranan bangsa Arab dalam penyebaran agama Islam ke Nusantara. Ia berpendapat bahwa Islam Nusantara berasal dari India, karena sudah lama terjalin hubungan perdagangan dan adanya inskripsi tertua tentang Islam yang terdapat di Sumatra mengindikasikan adanya hubungan antara Sumatra dengan Gujarat.
Snouck Hurgronje menyebutkan bahwa Sumatra Utara, merupakan tepat penting bagi rekonstruksi perkembangan Islam di kepulauan itu. Sebagaimana dalam catatan Ibn Battuta, Snouck menyebutkan adanya tiga batu nisan muslim dari paruh abad ke-15 M yang ditemukan di distrik Pasai. Ketiga batu nisan itu mempunyai persamaan dengan batu nisan Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang meninggal pada tahun 1419 M.
Moquette berpendapat ada persamaan antara gaya batu nisan yang ada di Pasai, Sumatra Utara, khususnya yang bertanggal 27 September 1428 M dan di Gresik, yakni makam Maulana Malik Ibrahim (1419 M) dengan batu nisan yang ada di Cambay, Gujarat. Batu nisan itu berasal dari abad ke-15 dan sesudahnya. Jadi ada hubungan antara Indonesia dengan Gujarat pada periode tertentu. Mengenai batu nisan yang ditemukan di Pasai dipandang Mouquette bentuknya berbeda dengan yang berasal dari Cambay, meskipun batu nisan itu dari India dan diletakkan di makam itu beberapa waktu setelah menunggalnya raja itu.
Pendapat Mouquette dibantah oleh Fatimi dengan argumentasi bahwa batu nisan yang ada di makam Malik al-Shalih di Samudra Pasai ada persamaan dengan yang ada di Beghal (Bangladesh), sedangkan batu nisan Malik al-Shalih coraknya sangan berbeda dengan batu nisan yang ada di Gujarat dan prototipe Indonesianya. Fatimi mengatakna bahwa sebagian besar orang terkemuka di Pasai adalah orang Benggali atau keturunannya. Ia berpendapat bahwa Islam yang ada di Semenanjung lebih mirip dengan Islam di Phanrang dan elemen-elemen prasasti Trengganu juga lebih mirip dengan prasasti yang ada di Leran. Meskipun demikian pendapat Moquette banyak didukung oleh peneliti-peneliti lain, seperti : Kern, Winstedt, Bousquet, Vlekke, Gonda, Schrieke, dan Hall.
Teori Arab
Teori ini dikemukakakn oleh Sir Thomas Arnold, Crawfurd, Niemann, dan de Holader. Arnold berpendapat bahwa selain dari Coromandel dan Malabar Islam Nusantara juga berasal dari Arab. Bukti yang ia ajukan ialah adanya kesamaan mazhab antara di Coromandel dan Malabar dengan mazhab mayoritas umat Islam di Nusantara, yaitu mazhab Syafi'i. Mazhab ini dibawa oleh pedangang yang juga menyebarkan agama Islam yang mempunyai peran penting dalam perdagangan antara India dan Nusantara. Arnold juga berpendapat bahwa pedagang Arab membawa Islam saat mereka menguasai perdagangan Barat-Timur sejak awal abad ke-7 M dan ke-8 M. Sebuah sumber Cina menyebutkan menjelang perempat ketiga abad ke-7 M ada seorang Arab yang menjadi pemimin pemukiman Arab muslim di pesisir barat Sumatra. Mereka melakukan perkawinan campur dengan penduduk setempat, sehingga muncullah komunitas muslim.
Crawfurd mengatakan Islam dikenalkan langsung dari Arab, meskipun demikian dia juga menegaskan bahwa hubungan bangsa Melayu-Indonesia dengan kaum muslim dari pesisir Timur India juga merupakan faktor penting. Niemann dan Hollader mengaakn Islam datang dari Handramaut karena adanya persamaan mazhab.
Sejumlah ahli Indonesia sepakat dengan teori ini. Mereka memberi alasan bahwa mazhab Syafi'i di Mekah mendapat pengaruh yang luad di Indonesia. Mereka juga berpendapat padaa tahun 674 M telah terdapat perkampungan Arab Islam di pantai barat Sumatra. Hamka yang setuju dengan beberapa pendapat ini mengemukakan beberapa pendapat :
Raja-raja Pasai menggunakan gelar Al-Malik dan bukan gelar Sah atau Khan seperti tradisi gelar di Iran (Persia) dan India. Al- Malik adalah gelar keturunan raja-raja Mesir setelahh Salahuddin.
Pada abad ke-13 sezaman dengan Ibn Battutah talah ada dua ulama dari Jawa yang mengajarkan Tasawuf di Mekah dengan gelar Al-Jawi.
Mazhab Syafi'i adalah mazhab pertama di Indonesia. Mazhab inilah yang dianut rakyat umum di Mekah dan dianut masyarakat Mesir sesudah Sultan Slahuddin.
Malabar atau Muktabar bukan sumber asal kedatangan agama Islam ke Indonesia, tetapi hanya semata-mata negeri tempat singgah di Malabar itu pun adalah orang-orang Arab, bukan orang-orang India Islam. Malabar atau Muktabar artinya pantai yang digunakan untuk menyeberang.
Mengenai teori Arab ini sejalan dengan apa yang tercantum dalam histografi tradisional :
Hikayat Raja-raja Pasai, disebutkan Syaikh Ismail datang dariMekah melalui Malabar menuju Pasai. Dia mengislamkan Raja Pasai, Merah Silu, yang kemudian bergelar Malik al-Shalih
Sejarah Melayu, Parameswara dan penguasa Malaka diislamkan oleh Sayyid Abd al-Aziz, seorang Arab yang berasal dari Jeddah. Setelah menganut islam, Parameswara bergelar Sultan Muhammad Syah.
Hikayat Merong Mahawangsa menjelaskan bahwa penguasa Kedah, Phra Ong Mahawangsa, para menteri dan rakyatnya diislamkan oleh Syaikh Abd Allah Yamani yang datang dari Mekah.Phra Ong Mahawangsa bergelar Muzaffar Syah setelah menganut Islam.
Histografi Aceh menjelaskan bahwa leluhur para sultan dari Kesultanan Aceh adalah seorang keturunan Arab yang bernama Syaikh Jamal al-'Alam yang diutus oleh sultan Usmaniyah untuk mengislamkan rakyat Aceh.
Menurut Azyumardi Azra ada empat hal yang disampaikan oleh histografi tradisional berkaitan dengan islamisasi Nusantara. Pertama, Islam Nusantara berasal dari Arab. Kedua, Islam dibawa oleh juru dakwah yang profesional. Ketiga, yang pertama kali masuk Islam adalah berasal dari kalangan penguasa. Keempat, sebagian besar juru dakwah datang ke Nusantara pada abad ke-12 M dan ke-13 M. Tetapi baru abad ke-12 M sampai abad ke-16 M pengaruh Islam di Nusantara tampak jelas dan kuat.
Teori Persia
Teori ini dikemukakan oleh P.A. hoesein Djajadiningrat. Dalam teori ini dinyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 m di Sumatra yang berpusat di Samudra Pasai. Bukti yang dikemukakan antara lain :
Adanya peringatai 10 Muharram atau Asyura yang merupakan tradisi yang berkembang dalam masyarakat Syiah untuk memperingati hari kematian Husain di Karbelara.
Adanya persamaan antara ajaran al-Hallaj, tokoh sufi Iran dengan ajaran Syeikh Siti Jenar.
Persamaan sistem mengeja Huruf Arab bagi pengajian al-Qur'an tingkat awal.
Bahasa Iran
Jabar – Zabar
Jer – Ze-er
P'es – Py'es Bahasa Arab
Fathah
Kasrah
Dhammah
Adanya persamaan batu nisan yang ada di makam Malik al-Shalih (1297 M) di Pasai dengan makam Malik Ibrahim (1419 M) di Gresik yang dipesan dari Gujarat. Dalam hal ini Hoesein Djajadinigrat berpendapat bahwa Gujarat merupakan daerah yang mendapat pengaruh dari Persia yang menganut faham Syiah dan dari sinilah Syiah dibawa ke Indonesia.
Meskipun demikian teori Persia ini juga memandang adanya pengaruh mazhab Syafi'i di Indonesia berasal dari Malabar yang merupakan mazhab paling utama di daerah itu. Teori ini juga sesuai pendapat Mueas, bahwa pada abad ke-5 M pada masa raja-raja Sasanid banyak orang Persia yang berada di Aceh, dan sebenarnya kata "Pasai" itu berasal dari kata "Persia". Dia juga mengemukakan alasannya bahwa ketika Ibn Battutah datang ke Aceh, terdapat dua ulama yang berasal dari Persia, yaitu Tadjuddin al-Syirazi dan Sayyid Syarif al-Ashbahani.
Argumen tentang Pasai yang berasal dari Persia terlalu lemah diterima karena kata Pasai lebih dekat pada Pase dari bahasa Aceh yang artinya pasir. Sesuai dengan daerah Pasai yang tanahnya bercampur pasir. Gelar Sayid bukanlah pengaruh Syiah, karena orang Islam Indonesia bermazhab Sunni memberi gelar kehormatan Sayid bagi Ahlu Bait atau keluarga Nabi SAW. Meskipun demikian, argumen tentang masuknya Islam pertama dari Persia tidak dapat diabaikan begitu saja karena sampai sekarang ejaan huruf Persi yang ditemukan di Aceh belum digugurkan oleh teori lain. Begitu juga dengan nama kedua ulama Persia yang disebut oleh Mueas berdasarkan perjalanan Ibn Battutah.
Teori Cina
Teori ini menyatakan bahwa Islam datang ke Nusantara bukan dari Timur Tengah/ Arab maupun Gujarat/ India, tetapi dari Cina. Pada abad ke-9 M banyak orang muslim Cina di Kanton wilayah Cina selatan lain yang mengungsi ke Jawa, sebagian ke Kedah dan Sumatra, karena pada masa Huan Chou terjadi penumpasan penduduk Kanton dan wilayah Cina selatan lainnya yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Mereka berusaha mengadakan revolusi politik terhadap keraton Cina pada abad ke-9 M. Pada abad berikutnya, peranan orang Cina semakin tampak dengan adanya bukti- bukti artefak, yakni adanya unsur-unsur Cina dalam arsitektur masjid Jawa Kuno, seperti tampak pada atap masjid Banten, mustaka yang berbentuk ola dunia yang menyerupai stupa dengan dikelilingi empat ular hanpir selalu ada di masjid kuno di Jawa sebelum arsitektur Timut Tengah memasuki wilayah ini, motif hiasan di Masjid Sendang Duwur Paciran Lamongan, dan lain-lain. Di samping adanya pengungsi Cina ke Jawa pada abad ke-9 M, pada abad ke-8-11 M sudah ada pemukiman Arab Muslim di Cina dan di Campa.
Cina mempunyai peranan yang besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Arsitektur masjid Demak dan juga berdasarkan beberapa catatan sejarah beberapa sultan dan sunan yang berperan dalam penyiaran agama Islam di Indonesia adalah keturunan Cina, misalnya Raden Patah yang mempunyai nama Cina Jin Bun.
Nurcholis Majdid mengemukakan bukti bahwa Islam tidak berasal dari Arab adalah adanya kata-kata dari bahasa Arab tidak murni menurut lafal aslinya, tetapi justru sesuai dengan lafal bahasa kedua yang lebih dulu meminjamnya sebelum bahasa-bahasa Nusantara. Misalnya shalat-un ~ salah ~ salat dan zakat-un ~ zakah ~ zakat. Dengan demikian kata itu tidak langsung dipinjam dari bahasa Arab melainkan dari bangsa-bangsa muslim kawasan pengaruh budaya muslim Persi. Sedangkan kaitannya dengan mazhab, muslim Cina bermazhab Suni Syafi'i, yakni mazhab yang secara umum dianut bangsan muslim sepanjang jalur sutra (silk road).
Sekitar abad ke-15-16 M telah terjadi hubungan baik antara Cina dan Jawa. Masyarakat Cina di Jawa yang berasal dari Katon Zhangzhou (Chang-chou), Quanzhou (Chuan-chou) dan kawasan Cina Selatan lain menetap di pelabuhan pesisir sebelah timur terutama Tuban, Gresik, dan Surabaya, memeluk agama Islam dan taat beribadah. Keberadaan Cina Muslim tidak semata-mata dibuktikan adanya kesaksian para pengembara Asing, sumber-sumber Cina, teks lokal Jawa maupun tradisi lokal, tetapi juga peninggalan kepurbakalaan Islam di Jawa antara lain : ukiran padas masjid kuno di Mantingan Jepara, menara Masjid di Pecinan Banten, konstruksi pintu makan Sunan Giri, arsitektur keraton Cirebon, konstruksi Masjid Demak terutama soko tatal penyangga masjid dan lambang kura-kura, dan sebagainya. Di samping itu ada dua masjid yang merupakan peninggalan Cina muslim, yaitu Masjid Kali Angke dan Masjid Kebun Jeruk di Jakarta.
Proses islamisasi tidak mempunyai awal yang pasti, juga tidak berakhir. Islamisasi merupakan proses berkesinambungan yang selain mempengaruhi masa kini, juga masa yang akan datang.
Islam telah dipengaruhi oleh lingkungannya, tempat Islam berpijak dan berkembang. Di samping itu, Islam juga menjadi tradisi tersendiri yang tertanam dalam konteks sosio-ekonomi dan politik.
DAFTAR PUSTAKA
Yusuk, Mundzirin, dkk. 2006. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia.Yogyakarta : Pustaka.
Mustafa, A., dkk. 1998. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung : CV. Pustaka Setia


Download Teori Masuknya Islam.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Teori Masuknya Islam. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon