November 28, 2016

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan :SMA Negeri Pelajaran :Sejarah Kelas :X I Sub Materi Pokok :Pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke-20 Alokasi Waktu :3 X 40 Menit


Judul: RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan :SMA Negeri Pelajaran :Sejarah Kelas :X I Sub Materi Pokok :Pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke-20 Alokasi Waktu :3 X 40 Menit
Penulis: Ayuk Indrayani


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan :SMA Negeri
Pelajaran :Sejarah
Kelas:X I
Sub Materi Pokok :Pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke-20
Alokasi Waktu :3 X 40 Menit

Kompetensi Inti
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnyaMenghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
B. Kompetensi Dasar
Menghayati nilai-nilai peradaban dunia yang menghargai perbedaan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Menghayati sikap jujur, rasa ingin tahu, tanggung jawab, peduli, santun, cinta damai dalam mempelajari peristiwa sejarah sebagai cerminan bangsa pergaulan dunia.
Menganalisis dampak politik, budaya, sosial-ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan Barat dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini.
Menalar dampak politik, budaya, sosial-ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan Barat dalam kehidupan bangsa Indonesia dan menyajikan dalam bentuk berita.
Indikator
Kognitif
Menganalisis kepentingan-kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia pada abad ke 20
Menganalisis kebijakan politik etis di Indonesia
Mengidentifikasi ciri umum pendidikan Belanda
Menganalisis sekolah-sekolah sebagai implementasi politik etis
Menganalisis tingkat pendidikan untuk masyarakat pribumi Indonesia abad ke- 20.
Afektif
Menunjukkan sikap saling menghargai pendapat, jujur, disiplin, kerjasama, partisipasi, dan tanggung jawab dalam mempelajari peristiwa sejarah sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
Psikomotor
Membuat makalah tentang perkembangan pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke- 20.
Keterampilan Sosial
Melakukan komunikasi meliputi mengajukan pertanyaan, berpendapat, dan tanya jawab.
Tujuan Pembelajaran
Kognitif
Diberikan penjelasan secara singkat tentang kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia, siswa mampu menganalis kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia abad ke-20 dengan benar.
Diberikan foto Van Deveenter serta video tentang kebijakan politik etis, siswa dapat menganalisis kebijakan politik etis yang diterapkan di Indonesia dengan benar.
Menginspirasi siswa dengan menujukkan gambar-gambar sekolah rendah kelas I dan kelas II, di akhir kegiatan belajar mengajar siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri pendidikan yang dibangun oleh Belanda di Indonesia pada abad ke- 20 dengan benar.
Diberikan gambar perkembangan sekolah di Indonesia sebagai implementasi kebijakan politik etis. Siswa dapat menganalisis sekolah-sekolah sebagai implementasi dari politik etis dengan benar.
Diberikan gambar siswa Technische Hoogeschool dan Rehctskundige Hoogeschool serta hasil pendidikan di Indonesia, siswa dapat menganalisis dampak pendidikan di Indonesia abad ke- 20 masa penjajahan Belanda.
Afektif
Terlibat dalam KBM yang berpusat pada siswa, siswa dapat menunjukkan sikap saling menghargai pendapat, berbagi tugas, partisipasi, bekerja sama, memberi dukungan minimal dengan rubrik assesmen untuk sikap kooperatif atau afektif.
Psikomotor
Diberikan foto Van Deveenter serta video tentang politik etis, siswa dapat membuat laporan berupa makalah tentang kebijakan politik etis dan dampaknya dalam bidang pendidikan di Indonesia.
Keterampilan Sosial
Terlibat dalam KBM yang berpusat pada siswa, siswa dapat melakukan komunikasi meliputi persentasi, bertanya, bekerjasama, dan berpendapat minimal dinilai dengan rubrik assesmen diskusi, persentasi, bertanya jawab.
Materi Pembelajaran:
Pengaruh penjajahan Barat dalam bidang politik, sosial-budaya, ekonomi, dan pendidikan di Indonesia
Kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia abad 20
Kebijakan politik etis
Ciri umum pendidikan Belanda
Implementasi kebijakan politik etis
Tingkat pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke- 20
Model Pembelajaran:
Model: Model Pembelajaran Kooperatif dan Aktif
Metode : Diskusi dan permainan "Group Investigation"
Pendekatan : Scientific
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan: 10 menit
Guru mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk proses belajar mengajar; kerapian dan kebersihan ruang kelas, presensi (absensi, kebersihan, kelas, menyiapkan media dan alat serta buku yang diperlukan)
Guru menyampaikan topik tenang sejarah sebagai ilmu
Guru memberikan motivasi dan bersyukur telah dilahirkan kedunia sebagai manusia
Guru menyampaikan inti tujuan pembelajaran meliputi kognitif, afektif dan psikomotor
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Inti: 30 menit
Mengamati :
Siswa mengamati dan membaca materi ajar yang telah diberikan oleh guru
Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad 20
Guru memberikan gambar terkait dengan materi yang akan diananlisis oleh setiap siswa.
Menanya :
Setelah mendengarkan penjelasan guru, guru memberikan bahan diskusi untuk didiskusikan siswa dalam kelompok kecil
Guru membagi siswa dalam 5 kelompok, tiap kelompok berisi 10 orang.
Guru menjelaskan kepada siswa bahwa mereka dibagi menjadi 5 kelompok secara heterogen supaya terjadi kemerataan dalam mengksplorasi kemampuan siswa, adapun topik yang akan dibahas sebagai berikut:
Menganalisis, dan mendiskusikan kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia abad 20.
Menganalisis, mengidentifikasi, dan mendiskusikan penyelenggaraan pendidikan Belanda di Indonesia pada abad 19 dan 20.
Menganalisis, dan mendiskusikan mengenai apa yang melatarbelakangi pemerintah Belanda menerapkan kebijakan politik etis
Menganalisis dan mendiskusikan apa yang melatarbelakangi Ki Hajar Dewantara mendirikan Sekolah Taman Siswa pada abad 20.
Menganalisis dan mendiskusikan pengaruh perkembangan pendidikan Belanda di Indonesia sampai saat ini.
Dalam melakukan kegiatan diskusi tersebut, siswa diberikan waktu ± 35 menit.
Mengeksplorasi :
Siswa diharapkan mencari informasi dari berbagai sumber. Di perbolehkan mencari data selain dari buku, misal dari internet yaitu artikel pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad 20. Artikel tersebut harus yang berbentuk PDF karena bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Guru membimbing siswa untuk berdiskusi memecahkan masalah dengan soal yang sudah diberikan secara bekerja sama dan saling bertukar pendapat.
Mengasosiasikan :
Guru menyuruh setiap kelompok harus mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, dan kelompok yang belum maju harus mengajukan pertanyaan
Guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk bertanya dan berpendapat, dan jika siswa tersebut sudah tidak bertanya lagi maka siswa lain untuk bertanya dan mengungkapkan pendapatnya.
Setelah mendapatkan data yang baik dan sesuai dengan materi yang diperoleh dari buku maupun internet, maka antar anggota kelompok harus menganalisis atas kebenaran sumber yang diperoleh.
Mengkomunikasikan :
Guru memberitahukan jika kelompok pertama sudah selesai melakukan persentasi maka kelompok selanjutnya juga harus mempersentasikan dengan materi yang berbeda.
Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan berpendapat, dan jika yang sudah bertanya maka tidak boleh bertanya lagi karena memberikan kesempatan bagi siswa lain untuk bertanya.
Diakhir persentasi, guru memberikan evaluasi terhadap pemahaman siswa terhadap materi yang sudah dipelajari serta keaktifannya dalam berpartisipasi.
Guru dan siswa bersama-sama membuat rangkuman sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan.
Hasil analisis kemudian dilaporkan dalam bentuk makalah, dikerjakan sebaik mungkin dan dikumpulkan pada guru. Jika waktu tidak memungkinkan maka makalah tersebut bisa dikumpulkan minggu depan. Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tida
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Penutup : 10 menit
Guru memberikan refleksi tentang materi yang telah dipelajari, dan menanyakan kepada siswa apakah pelajaran hari ini sudah dimengarti oleh semua siswa
Guru menberikan uji kompetensi berupa soal pilihan ganda, soal esai, dan soal analisis kepada siswa untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan
Guru bersama dengan siswa menarik manfaat mempelajari sejarah pada hari ini Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Terlaksana/tidak
Kisi-kisi makalah:
Format kertas
Kertas Makalah A4, Sampul Makalah (Buffalo warna biru)
Font "Times New Roman"
Ukuran Huruf "12"
Spasi "1,5"
Margin atas 4 cm, kiri 4 cm, bawah 3 cm, kanan 3 cm
Lembar Judul atau Jilid
Judul Makalah
Penyusunan Makalah (Nama dan Nomor Induk Siswa)
Nama Sekolah
Tahun Pembuatan
Lembar Pengesahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Ruang Lingkup Masalah
Maksud dan Tujuan Penulisan
Pembahasan
Penutup
Kesimpulan
Saran
Daftar Pustaka
Evaluasi
Sebagai Uji Kompetensi guru mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan materi yang baru saja disajikan.
Indikator:
Siswa mampu menganalisis kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia abad 20
Menganalisis kebijakan politik etis
Mengidentifikasi ciri-ciri umum pendidikan Belanda di Indonesia
Menganalisis sekolah-sekolah sebagai implementasi politik etis
Menganalisis tingkat pendidikan untuk masyarakat pribumi Indonesia abad ke-20.
Pilihan Ganda
Siapakah penasehat Belanda yang menganjurkan agar anak-anak aristokrasi Indonesia mendapat pendidikan dilingkungan barat....
Snouck Hurgronye
Van Hoevel
Thoerbecke
Fransen van de putte
Disebut apakah penyediaan pendidikan bagi pendidikan pribumi (Indonesia) yang mengalami perkembangan pada masa penjajahan Belanda abad 20 ....
Gradualisme
Prinsip konkordinasi
Dualisme
Kontrol sentral
Dalam buku pelajaran bahasa Belanda untuk siswa ELS , karangan dari R.A.H. Thierbach yang isinya mengajarkan bahasa Belanda sebagai bahasa asing. Metode apa yang digunaka.....
Melihat
Berpikir
Menyatakan
A,B, dan C benar semua
Penyebaran sekolah pada abad 20 terjadi ketidakseimbangan, apakah penyebab dari ketidakseimbangan sekolah tersebut....
Adanya Sekolah Misi
Adanya Sekolah Zending
A,B benar
Sekolah partikeler
Margono Djojohadikusumo merupakan siswa dari ELS di Banyumas pada tahun
1900-1907
1890-1908
1900-1904
1900-1909
Esai
Sekolah Guru pertama milik pemerintah jajahan didirikan pertama kali di Surakarta pada April 1852. Apa yang melatarbelakangi pemerintah Belanda mendirikan Sekolah Guru di Surakarta dan apakah ada kontroversi dalam pendirian sekolah tersebut, berikan analisisnya!
307975209550 Dies Natalis ke-1 Technische Hoogeschool te Bandung dilakukan pada 2 Juli 1921 di Barakgebouw A. Bagaimana pengaruh perkembangan pendidikan Belanda di Indonesia sampai saat ini?
Soal analisis!!
Menganalisis, dan mendiskusikan kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia abad 20.
Menganalisis, mengidentifikasi, dan mendiskusikan penyelenggaraan pendidikan Belanda di Indonesia pada abad 19 dan 20.
Menganalisis, dan mendiskusikan mengenai apa yang melatarbelakangi pemerintah Belanda menerapkan kebijakan politik etis
Menganalisis dan mendiskusikan apa yang melatarbelakangi Ki Hajar Dewantara mendirikan Sekolah Taman Siswa pada abad 20.
Menganalisis dan mendiskusikan pengaruh perkembangan pendidikan Belanda di Indonesia sampai saat ini.
Jawaban!!
Pilihan Ganda
B
C
D
C
A
Jawaban Esai
Terpilihnya Surakarta sebagai tempat Sekolah Guru Jawa karena menurut J.C. Baud, Surakarta merupakan pusat bahasa paling murni. Walaupun begitu banyak pemerintah jajahan di Batavia sulit menerimanya karena pemerintah khawatir bahwa calon-calon intelektual Jawa akan dipengaruhi agar memusuhi pemerintah oleh pangeran-pangeran dari daerah bekas pergolakannya Perang Diponegoro. Hanya dengan jaminan para ahli bahasa Jawa di Surakarta (seperti C.F. Winter Sr. dan J.A. Wilkens) pemerintah akhirnya menerima rencana Baud, selain itu juga berkat adanya Institut bahasa Jawa dikota itu. Bebrapa orang Jawa yang ahli bahasa Jawa masih tetap aktif mengembangkan bahasa tersebut, seperti Raden Panji Puspowilogo dan Raden Ngabehi Reksodipuro.
Setelah sekolah dasar, sekolah menengah maka perguruan tinggi juga dibentuk. Perguruan tinggi pertama kali adalah Sekolah Tinggi Teknik (Technishe Hogeschool) di Bandung tahun 1920. Pendirian Technishe Hogeschool dipaksakan oleh kebutuhan akan petugas yang berpendidikan tinggi, kekurangan ahli ini disebabkan karena putusnya hubungan dengan Nederland (Belanda) selama Perang Dunia I sehingga pemerintah dan industri mengalami kesukaran yang berat dan tidak dapat berfungsi dengan lancar. Maka disadari Indonesia harus mempunyai lembaga pendidikan tinggi sendiri dan dengan demikian pula meningkatkan kehidupan intelektul di Indonesia. Kurikulum yang digunakan di Technishe Hogeschool meliputi matematika, mekanika, geodesi, kimia, teknik kimia, teknik mesin, teknik elektro, ilmu alam, arsitektur, teknik pertambangan. Lulusan dari Technishe Hogeschool akan menjadi insinyur Teknik, sehingga pengaruh yang diberikan dari sekolah tersebut sampai saat ini adalah penduduk Indonesia mempunyai keahlian dalam bidang penelitian bahan bangunan, adanya arsitektur yang handal (seperti di Jakarta yang sekarang banyak gedung yang menjulang tinggi yang sebelumnya sudah digambar oleh para arstektur), ahli dalam pembuatan maupun perbaikan alat-alat mesin yang canggih, dan lain-lain. Dengan demikian lulusan Technishe Hogeschool sekarang ini memberikan kemajuan Indonesia sampai saat ini.
PEDOMAN PENSEKORAN
No. Jawaban Skor
1. Menyatakan pendapat pribadi disertai dengan argumentasi yang jelas dan memberikan bukti serta sumber yang jelas. 20
Menyatakan pendapat pribadi disertai dengan analisis fenomena masalah yang terjadi. 20
Menunjukkan sikap tanggung jawab. 10
2. Menganalisis latar belakang didirikan Technishe Hogeschool 10
Menganalisis kurikulum yang digunakan Technishe Hogeschool 5
Menganalisis tujuan dari Technishe Hogeschool 10
Menghubungkan dari perkembangan Technishe Hogeschool untuk masa sekrang/modern 25
Jumlah 100
Jawaban diskusi analisis
Menganalisis, dan mendiskusikan kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia abad 20.
Pada tahun 1842 Markus, menteri jajahan, memberikan perintah agar Gubernur Jendral berusaha dengan segenap tenaga agar memperbesar keuntungan bagi negerinya. Walaupuan setiap Gubernur Jendaral pada penobatannya berjanji dengan hidmat bahwa ia akan memajukan kesejahteraan Indonesia dengan segenap usaha prinsip yang masih dipertahankan pada tahun 1854 ialah bahwa Indonesia sebagai tanah jajahan Belanda harus terus memberikan keuntungan kepada negeri Belanda sebagai tujuan pendidikan itu. Tahun 1826 lapangan pendidikan dan pengajaran terganganggu oleh adanya usaha-usaha penghematan karena adanya kesulitan financial yang berat yang dihadapi orang Belanda sebagai akibat perang Diponegoro (1825-1830) yang mahal dan menelan banyak korban seerta peperangan antara Belanda dan Belgia (1830-1839). Kesulitan keuangan ini menyebabkan raja Belanda untuk meninggalkan prinsip-prinsip liberal dan menerima rencana yang dianjurkan Van den Bosch, untuk memanfaatkan pekerjaan budak menjadi dasar eksploitasi colonial.
Terbongkarnya penyalahgunaan system tanam paksa merupakan faktor dalam perubahan pandangan. Dalam Peraturan pemerintah tahun 1854, menginstruksikan bahwa Gubernur Jendral harus mendirikan sekolah dalam tiap kabupaten bagi pendidikan anak pribumi. Selanjutnya, Peraturan tahun 1863 yang mewajibkan Gubernur Jendral untuk mengusahakan agar penduduk bumi putera pada umumnya bisa menikmati pendidikan. Pada tahun 1870, sistem tanam paksa dihapuskan dan digantikan dengan Undang-Undang Agraria 1870. Pada tahun itu di Indonesia timbul masa baru dengan adanya undang-undang Agraria dari De Waal, yang memberi kebebasan pada pengusaha-pengusaha pertanian partikelir. Ketika usaha-usaha perekonomian makin maju, maka masyarakat lebih banyak lagi membutuhkan pegawai. Sekolah-sekolah yang ada dianggap belum cukup memenuhi kebutuhan. Itulah sebabnya maka usaha mencetak calon-calon pegawai makin dipergiat lagi.
Menganalisis, mengidentifikasi, dan mendiskusikan penyelenggaraan pendidikan Belanda di Indonesia pada abad 19 dan 20.
Periode Penyelenggara
Pendidikan
Arah dan Sifat Kebijakan Pendidikan
Hindia Belanda Abad ke-19 Pemerintah dan swasta, peran NZG berakhir tahun 1870 Pendidikan diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta Belanda;·     NZG menyerahkan sekolahnya kepada Pemerintah Hindia Belanda;
Pengaruh Kristen dalam pendidikan berkurang;
Prioritas masih untuk orang Eropa dan Indo-Eropa mengikuti sistem dan kurikulum di Belanda;
Pendidikan elitis bagi Bumiputera dan Melayu untuk mendukung pemerintah colonial;
Sekolah guru, kejuruan, dan pamong praja mulai didirikan.
Politik Etis, Abad ke-20 Pemerintah Hindia Belanda Pendidikan berubah dari elitis ke populis;·     Banyak sekolah didirikan;
Jumlah siswa meningkat tajam;
Akses ke sekolah lanjutan diperluas;
Anggaran untuk pendidikan Bumiputera disediakan secara khusus.
Perbandingan sekolah yang didirikan Belanda di Indonesia abad 19 dan 20, ibarat malam dan siang. Karena pendidikan yang diselenggarakan pada abad 19 tidak memberikan kemajuan terhadap kehidupan penduduk Indonesia, selain itu kalangan pemerintah Belanda mengubah kebijakan pendidikan dari elitis menjadi lebih populis adalah karena dua sebab. Pertama, untuk kepentingan penjajah sebagai pegawai pemerintah. Kedua, semakin kuatnya tekanan dari kalangan intelektual Belanda seperti van Deventer yang telah berhasil membuat pemerintah Belanda untuk memperhatikan nasib rakyat jajahannya, dengan program migrasi, irigasi, dan edukasinya. Dalam bidang edukasi, perkembangan Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat karena didiberikan juga oleh penduduk Indonesia sehingga nantinya akan memberikan nasionalisme bangsa Indonesia.
Menganalisis, dan mendiskusikan mengenai apa yang melatarbelakangi pemerintah Belanda menerapkan kebijakan politik etis
Keuntungan yang diperoleh bangsa Belanda dari hasil mengeruk kekayaan alam bangsa Indonesia digunakan untuk membangun bangsa Belanda hingga bisa mencapai kemakmuran dalam segala hal. Sebaliknya bangsa Indonesia yang mengalami kesengsaraan, kemiskinan, dan kemlaratan yang amat sangat. Bangsa Indonesia terjebak dalam kemlaratan, kebodohan, dan keterbelakangan karena tidak pendidikan yang layak. Kesengsaraan rakyat pribumi banyak diketahui oleh orang-orang Belanda yang moderat (orang yang memperhatikan pihak lain), seperti tokoh tulisan C. TH. Van Deventer tahun 1899 tentang Een Eereschuld (Hutang Kehormatan) dalam majalah De Gids. Dalam tulisannya tersebut, Van Deventer menghimbau kepada pemerintah Belanda untuk membuat perhitungan keuangan bagi tanah jajahan yang berkekurangan sebagai ganti rugi akan laba yang sudah dikeruk dari Indonesia melalui sistem tanam paksa. Sehubungan dengan tekanan-tekanan itu maka pada tahun 1901, Ratu Wilhemina menyampaikan pidato didepan parlemen Belanda yang berisi tentang kewajiban moral bangsa Belanda terhadap kemajuan penduduk pribumi. Sejak itu dimulailah era politik etis yang kebijakannya meliputi bidang pendidikan, pengairan, dan perpindahan penduduk. Dampak politik etis dalam bidang pendidikan mengalami kemajuan yang sangat pesat, dimana banyak didirikan sekolah-sekolah baik sekolah untuk orang-orang Belanda, Cina, maupun Indonesia serta adanya sekolah menengah (MULO, HBS, AMS), sekolah Perguruan Tinggi (Sekolah Teknik Tinggi, Sekolah Tinggi Hukum, dan Sekolah Kedokteran), akan tetapi didirikannya sekolah tersebut untuk mencetak pegawai pemerintahan.
Menganalisis dan mendiskusikan apa yang melatarbelakangi Ki Hajar Dewantara mendirikan Sekolah Taman Siswa pada abad 20.
Taman Siswa berdiri pada 3 Juli 1922, pendirinya adalah Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang biasa dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Awal pendirian Taman Siswa diawali dengan ketidakpuasan dengan pola pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, karena jarang sekali negara kolonial yang memberikan fasilitas pendidikan yang baik kepada negara jajahannya. Seperti yang dikatakan oleh ahli sosiolog Amerika "pengajaran merupakan dinamit bagi sistem kasta yang dipertahankan dengan keras di dalam daerah jajahan". Oleh sebab itu maka didirikanlah Taman Siswa, berdirinya Taman Siswa merupakan tantangan terhadap politik pengajaran kolonial dengan mendirikan pranata tandingan. Taman Siswa adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai cita-citanya. Bagi Taman Siswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batinnya. Merdeka lahiriah artinya tidak dijajah secara fisik, ekonomi, politik, dsb, sedangkan merdeka secara batiniah adalah mampu mengendalikan keadaan. Dengan proses berdirinya Taman Siswa Ki Hajar Dewantara telah mengesampingkan pendapat revolusioner pada masa itu, tetapi dengan seperti itu secara langsung usaha Ki Hajar merupakan lawan dari politik pengajaran kolonial. Lain dari pada itu kebangkitan bangsa-bangsa yang dijajah dan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial umumnya disebut dengan istilah nasionalisme atau paham kebangsaan menuju kemerdekaan. Taman Siswa mencita-citakan terciptanya pendidikan nasional, yaitu pendidikan yang beralas kebudayaan sendiri. Dalam pelaksanaanya pendidikan Taman Siswa akan mengikuti garis kebudayaan nasional dan berusaha mendidik angkatan muda di dalam jiwa kebangsaan.
Menganalisis dan mendiskusikan pengaruh perkembangan pendidikan Belanda di Indonesia sampai saat ini.
Setelah sekolah dasar, sekolah menengah maka perguruan tinggi juga dibentuk. Perguruan tinggi kedua adalah Sekolah Hukum Tinggi (Rehctskundige Hoogeschool) di Batavia tahun 1924. Sekolah RHS ini menerima siswa lulusan dari Rechtsschool dengan tujuan mendidik orang-orang Indonesia agar dapat menjadi hakim terdidik bagi golongan Bumiputra dengan lama belajarnya 4 tahun. Bidang pelajaran yang diberikan untuk pendidikan sarjana hukum di RHS Batavia adalah Pengantar ilmu hukum, Hukum tata negara di Hindia Belanda, Hukum perdata dan hukum acara perdata di Hindia Belanda, Hukum pidana dan hukum acara pidana di Hindia Belanda, Hukum adat, Hukum Islam dan lembaganya, Hukum dagang di Hindia Belanda, Sosiologi, Ekonomi studi pembangunan, Etnologi di Hindia Belanda, Bahasa Melayu, Bahasa Jawa, Bahasa Latin, Filsafat hukum, Prinsip hukum perdata Romawi, Hukum perdata internasional, Hukum antar golongan, Kriminologi, Psikologi, Kedokteran forensik, Hukum internasional, Hukum kolonial negara lain, Sejarah Hindia Belanda, dan Statistika. Rencana masa studi untuk RHS selama empat tahun, dibagi menjadi dua periode utama. Periode pertama ditutup dengan candidaats-examen, yang kedua adalah doctoraal-examen. Candidaats-examen dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama diujikan pada akhir tahun pertama (C1), yang kedua pada akhir tahun kedua (C2). Doctoraal-examen juga dilakukan dalam dua bagian, bagian pertama diujikan pada akhir tahun ketiga (D1), yang dibagi menjadi empat arah: (1) Hukum privat/perdata; (2) Hukum pidana; (3) Hukum tata negara; (4) Sosiologis dan ekonomi. Mereka yang berhasil lulus doctoraal-examen (D2) memperoleh status meester in de rechten. Mereka yang berstatus meester in de rechten serta memenuhi persyaratan untuk menempuh promosi ke doktor dalam ilmu hukum di universitas di Belanda, dapat menempuh promosi untuk meraih gelar Doktor Ilmu Hukum. Jadi, dengan adanya Sekolah Hukum Tinggi di Indonesia saat ini memberikan pengaruh yang besar, dimana pada zaman modern seperti saat ini banyak para ahli hukum yang bekerja di pengadilan, maupun perusahaan-perusahaan yang nantinya ada yang menjadi hakim, jaksa penuntut umum, kuasa hukum.
Sumber pembelajaran
Buku Paket siswa Sejarah SMA kelas XI Program IPS
Buku Siswa tentang pendidikan Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke- 20.
Internet berupa PDF tentang: http://pikokola.files.wordpress.com/2008/11/pendidikan-masa-kolonial-dan-sekarang.pdfhttp://haedarakib.files.wordpress.com/2012/01/sejarah-pendidikan-di-indonesia.pdfhttp://centerformunawareducation.files.wordpress.com/2013/06/pendidikan-di-zaman-penjajahan-belanda.pdfMedia Pembelajaran:
Powerpoint tentang pendidikan Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke- 20.
Foto-foto pendidikan di Indonesia abad pada masa penjajahan Belanda abad ke- 20
Video singkat mengenai politik etis, bisa dilihat pada : http://www.youtube.com/watch?v=qKmJcWers44
Rubrik Assesmen /Penilaian

Guru Mapel (Sutikn
Rubrik assesmen untuk Makalah
Sifat tugas: kelompok
Nama:
Tugas:
No Aspek
Penilaian Indikator Bobot Skor Nilai
1 Pemahaman Tingkat pemahaman siswa terhadap tugas yang dikerjakan 15 2 Argumentasi Alasan yg diberikan siswa dlm menjelas kan persoalan dalam tugas yg dikerjakan 25 3 Kejelasan a. tersusun dgn baik
b. tertulis dgn baik
c. mudah dipahami 5
5
5 4 Informasi a. akurat
b. memadai
c. penting 15
15
15 Jumlah 100 Petunjuk:
Skor= 0,1,2,3,4,5
NA= (bobot x skor): 5
Keterangan:
= Sangat Kurang
= Kurang
=Cukup
=Baik
=Sangat Baik
Rubrik assesmen untuk sikap kooperatif/afektif
Sifat tugas: individual
Nama:
Tugas ke:
No Ketrampilan kooperatif Bobot Skor Nilai
1 Menghargai pendapat orang lain 15 2 Jujur dalam mengerjakan tugas 20 3 Berpartisipasi dalam bertanya 20 4 Mendengarkan secara aktif 20 5 Bekerja sama dalam berdiskusi 10 6 Disiplin untuk tepat waktu 15 Jumlah 100 Petunjuk:
Skor= 0,1,2,3,4,5
NA= (bobot x skor): 5
Keterangan:
: Tidak tampak
: Kurang Tampak
: Tampak
: Baik
: Sangat Baik
Rubrik assesmen untuk diskusi
Sifat tugas : Kelompok
Nama:
Tugas ke:
No Aspek Indikator Bobot Skor Nilai
1. Argumentasi Pendapat dari siswa dalam berdiskusi 20
2. Kerjasama dan kreatifitas dalam berdiskusi. Sangat baik
Baik
Kurang baik 20
10
15 3. Informasi yang diperoleh Akurat
Kurang akurat
Tidak akurat 20
10
5 Jumlah 100 Petunjuk:
Skor= 0,1,2,3,4,5
NA= (bobot x skor): 5
Keterangan:
: Tidak tampak
: Kurang Tampak
: Tampak
: Baik
: Sangat Baik
Rubrik assesmen untuk persentasi
Sifat tugas: Kelompok
Nama:
Tugas ke:
No Komponen Bobot Skor Nilai
1. Penguasaan Materi
Kemampuan konseptualisasi
Kemampuan menjelaskan
Kemampuan beragumentasi 15
15
15 2. Penyajian
Sistematika penyajian
Visualisasi 15
15 3. Komunikasi Verbal
Penggunaan bahasa
Inotasi dan tempo 10
10 Jumlah 100 Petunjuk:
Skor= 0,1,2,3,4,5
NA= (bobot x skor): 5
Keterangan:
: Tidak tampak
: Kurang Tampak
: Tampak
: Baik
: Sangat Baik
Rubrik assasmen untuk tanya jawab (Group Investigation)
Sifat tugas : individu
Nama : .............
Tugas ke : .............
No Nama Penilaian Siswa Penilaian Guru
Pertanyaan Jawaban Pertanyaan Jawaban
1.
2.
3. dan seterusnya Kriteria Indikator Jawaban Indikator pertanyaan
80-100 Jawaban relevan, faktual, konseptual.
Disampaikan secara logis. Pertanyaan struktural
Pertanyaan prosedural
60-79 Jawaban relevan, faktual, dan konseptual.
Tidak disampaikan secara logis. Pertanyaan deklaratif
<59 Jawaban tidak relevan Pertanyaan tidak relevan
Daftar Pustaka
Permendikbud Nomor 69. 2013. Kerangka Dasar dan Strutur Kurikulum SMK-MAK
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Jogyakarta: Pustaka Pelajar
Surabaya, 2 Desember 2013
Mengetahui
Dosen PembimbingGuru Mapel Sejarah
Dra. Sri Mastuti, M. HumYayuk Indrayani
handout

"Pendidikan Pemerintahan Belanda abad 20"
Kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia abad 20
Kebijakan Politik Etis
Ciri Umum Pendidikan Belanda
Sekolah-Sekolah sebagai Implementasi Politik Etis
Tingkat Pendidikan untuk Masyarakat Pribumi Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda abad ke- 20
1). Sekolah Dasar (Lager Onderwijs)
a. Sekolah Kelas Satu:
Europase Lagere School (ELS)
Hollands Chinese School (HCS)
Hollads Inlandse School (HIS)
b.Sekolah Kelas Dua:
Sekolah Desa (Volksschool)
Sekolah Lanjutan (Vervolgschool)
Sekolah Peralihan (Schakelschool)
2). Sekolah Menengah
MULO (Meer Uit gebreid lager school)
AMS (Algemene Middelbare School)
HBS (Hoobere Burger School)
3). Sekolah Kejuruan
Sekolah Pertukangan (Ambachtschool)
Sekolah Teknis (Technish Onderwijs)
Pendidikan Dagang (Handels Onderwijs)
Pendidikan Pertanian (Landbouw Onderwijs)
Pendidikan Kejuruan Kewanitaan (Meijes Vakonderwijs)
Pendidikan Keguruan (Kweekschool)
4). Perguruan Tinggi
Sekolah Tinggi Teknis (Technische Hoogeschool)
Sekolah Hakim Tinggi (Rehctskundige Hoogeschool)
Pendidikan Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoogeschool)
Pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke- 20
BUKU SISWA
187198017780

Kompetensi Dasar:
Menghayati nilai-nilai peradaban dunia yang menghargai perbedaan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Menghayati sikap jujur, rasa ingin tahu, tanggung jawab, peduli, santun, cinta damai dalam mempelajari peristiwa sejarah sebagai cerminan bangsa pergaulan dunia.
Menganalisis dampak politik, budaya, sosial-ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan Barat dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini.
Menalar dampak politik, budaya, sosial-ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan Barat dalam kehidupan bangsa Indonesia dan menyajikan dalam bentuk berita.

Kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia abad 20
Setelah ambruknya VOC tahun 1816 pemerintah Belanda menggantikan kedudukan VOC. Statua Hindia Belanda tahun 1801 dengan terang-terangan menyatakan bahwa tanah jajahan harus memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya kepada perdagangan dan kepada kekayaan negeri Belanda. Pada tahun 1842 Markus, menteri jajahan, memberikan perintah agar Gubernur Jendral berusaha dengan segenap tenaga agar memperbesar keuntungan bagi negerinya. Walaupuan setiap Gubernur Jendaral pada penobatannya berjanji dengan hidmat bahwa ia akan memajukan kesejahteraan Indonesia dengan segenap usaha prinsip yang masih dipertahankan pada tahun 1854 ialah bahwa Indonesia sebagai tanah jajahan Belanda harus terus memberikan keuntungan kepada negeri Belanda sebagai tujuan pendidikan itu.
Tahun 1826 lapangan pendidikan dan pengajaran terganganggu oleh adanya usaha-usaha penghematan. Sekolah-sekolah yang ada hanya bagi anak-anak Indonesia yang memeluk agama Nasrani. Alasannya adalah karena adanya kesulitan financial yang berat yang dihadapi orang Belanda sebagai akibat perang Diponegoro (1825-1830) yang mahal dan menelan banyak korban seerta peperangan antara Belanda dan Belgia (1830-1839). Kesulitan keuangan ini menyebabkan raja Belanda untuk meninggalkan prinsip-prinsip liberal dan menerima rencana yang dianjurkan Van den Bosch, untuk memanfaatkan pekerjaan budak menjadi dasar eksploitasi colonial. Raja Belanda membawa ide penggunaan kerja paksa(rodi) sebagai cara yang ampuh untuk memperoleh cara usaha maksimal, yang kemudian terkenal dengan cultuur stelsel atau tanam paksa yang memaksa penduduk untuk menghasilkan tanaman yang diperlukan dipasaran Eropa.
Maka untuk memperbaiki stesel pembangunan ekonomi bagi belanda, Van den Bosch menyatakan agar memperbanyak tenaga-tenaga ahli. Setelah tahun 1848 dikeluarkan peraturan-peraturan yang menunjukan perintah lambat laun menerima tanggung jawab yang lebih besar atas pendidikan anak-anak Indonesia sebagai hasil perdebatan diparlemen Belanda dan mencerminkan sikap Liberal yang lebih menguntungkan tehadap rakyat Indonesia. Terbongkarnya penyalahgunaan system tanam paksa merupakan faktor dalam perubahan pandangan. Dalam Peraturan pemerintah tahun 1854, menginstruksikan bahwa Gubernur Jendral harus mendirikan sekolah dalam tiap kabupaten bagi pendidikan anak pribumi. Selanjutnya, Peraturan tahun 1863 yang mewajibkan Gubernur Jendral untuk mengusahakan agar penduduk bumi putera pada umumnya bisa menikmati pendidikan. Pada tahun 1870, sistem tanam paksa dihapuskan dan digantikan dengan Undang-Undang Agraria 1870. Pada tahun itu di Indonesia timbul masa baru dengan adanya undang-undang Agraria dari De Waal, yang memberi kebebasan pada pengusaha-pengusaha pertanian partikelir. Ketika usaha-usaha perekonomian makin maju, maka masyarakat lebih banyak lagi membutuhkan pegawai. Sekolah-sekolah yang ada dianggap belum cukup memenuhi kebutuhan. Itulah sebabnya maka usaha mencetak calon-calon pegawai makin dipergiat lagi.
Jadi, Belanda mendirikan sekolah pada abad 20 di Indonesia hanya untuk memperoleh tenaga kerja terdidik yang murah yaitu untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi kepentingan administrasi pemerintah dan perusahaan-perusahaan (kapitalis) baik milik pemerintah maupun swasta. Tenaga-tenaga kerja yang dibutuhkan itu baik tenaga kerja terdiidik rendahan, menengah, maupun atas.

Kebijakan Politik Etis
Kehidupan penduduk pribumi di Indonesia pada abad ke-19 sangat menyedihkan, karena hidup mereka berada dibawah garis kehidupan yang normal yaitu dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Kondisi seperti ini memicu berbagai kritik terhadap kebijakan kolonial yang sedang berlangsung, kritik yang tajam dari berbagai pihak seperti kaum humanis, kaum industralis, dan kaum ekspotir Belanda. Sikap menyalahkan dan menentang terhadap politik kolonial sebelumnya antara lain nampak pada tulisan C. TH. Van Deventer tahun 1899 tentang Een Eereschuld (Hutang Kehormatan) dalam majalah De Gids. Dalam tulisannya tersebut, Van Deventer menghimbau kepada pemerintah Belanda untuk membuat perhitungan keuangan bagi tanah jajahan yang berkekurangan sebagai ganti rugi akan laba yang sudah dikeruk dari Indonesia melalui sistem tanam paksa.
Dengan dorongan "hutang budi" yang dilancarkan oleh C. TH. Van Deventer, orang-orang mulai menyadari tentang politik eksploitasi lama yang pada pokonya pedoman kebijakan pemerintah hanya mengutamakan kepentingan negeri induk dari pada koloninya. Selain C. TH. Van Deventer yang mempelopori untuk menyerang pemerintah terhadap soal-soal kebijaksanaan kolonial adalah H.H. Van Kol melalui Staten General yang isinya adalah tidak terdapat perbedaan di kalangan semua partai politik, semua ingin memajukan kesejahteraan spiritual dan material penduduk pribumi.
Sehubungan dengan tekanan-tekanan itu maka pada tahun 1901, Ratu Wilhemina menyampaikan pidato didepan parlemen Belanda yang berisi tentang kewajiban moral bangsa Belanda terhadap kemajuan penduduk pribumi. Sejak itu dimulailah era politik etis yang kebijakannya meliputi bidang pendidikan, pengairan, dan perpindahan penduduk. Menurut I.J. Brugsman politik etis merupakan politik asosiasi karena tujuannya adalah untuk memberi kemajuan orang pribumi dengan budaya Eropa Barat tanpa menjadikannya sebagai orang Eropa, membawa pengetahuan dan metode peradaban yang telah banyak dinikmati oleh bangsa Eropa Barat. Selanjutnya dikatakan politik etis terutama menekankan pendidikan untuk lapisan atas masyarakat pribumi dengan maksud secara berlahan-lahan mendudukkan orang-orang pribumi pada jabatan yang sampai saat itu diduduki oleh orang-orang Belanda.
Politik etis menyajikan slogan yang indah untuk menutupi metode-metode eksploitasi model raksasa. Perorangan mungin bersikap etis terhadap bangsa Indonesia akan tetapi perusahaan akan tidak didasarkan atas motif etis melainkan motif ekonomis, karena kepentingan mereka untuk menjaga upah kerja serendah agar menjamin keuntungan yang maksimal bagi perusahaan-perusahaan Belanda.
Ciri Umum Pendidikan Belanda
Pendidikan kolonial erat hubungannya dengan politik mereka pada umumnya, yaitu suatu politik yang didominasi oleh golongan yang berkuasa dan tidak didorong oleh nilai-nilai etis dengan maksud untuk membina kematangan politik dan kemerdekaan tanah jajahannya.
Pada permulaan abad ke-20, pendidikan merupakan sesuatu yang berharga sebagai kunci menjadi pegawai pemerintah. Maka banyak desakan dari rakyat untuk melanjutkan sekolah semakin kuat sehingga pemerintah tidak dapat lagi mengundur-undurkan perkembangan sistem pendidikan yang memungkinkan anak Indonesia mencapai perkembangan yang setingginya. Dengan begitu pemerintah Belanda banyak mendirikan sekolah-sekolah, akan tetapi yang banyak melanjutkan pelajaran adalah rakyat Belanda sedangkan rakyat Indonesia hanya sedikit. Pendidikan di Indonesia yang didirikan pemerintah Belanda menekankan perbedaan yang tajam antara pendidikan Belanda dan pendidikan pribumi. Dimana sistem pendidikan terdiri terbagi dalam katagori yang jelas yaitu Sekolah Belanda dan Sekolah Pribumi. Sekolah berorientasi barat diselenggarakan dalam bahasa Belanda, sedangkan untuk sekolah untuk pribumi dalam bahasa daerah.
Pemerintah memainkan peranan penting dalam segala masalah pendidikan, tak ada perubahan sekecil apa pun tanpa sepertujuan Gubernur Jenderal (Direktur Pendidikan). Dalam melaksanakan tugasnya yang luas, Gubernur Jenderal dibantu oleh sekertariat umum yang mengurus segala korespondensi dengan kepala-kepala departemen, selain itu Gubernur Jenderal juga dibantu oleh Departemen pendidikan. Sebelum mengambil keputusan Gubernur Jenderal miminta keterangan yang diperlukan dari direktur departemen, misalnya Direktur Pendidikan akan meminta keterangan terperinci dari para inspektur untuk memperoleh gambaran yang teliti dan nyata tentang suatu masalah. Setelah itu informasi tersebut akan dikirimkan kepada Gubernur Jendral beserta dan saran-sarannya.
Sekolah pertama yang didirikan di Indonesia oleh pemerintah Belanda untuk menjadi pegawai di pemerintahan. Kedudukan sebagai pegawai pemerintah sangat dihargai pada zaman kolonial yang birokratis, dimana pegawai pemerintah adalah pendukung otoritas kekuasaan pemerintah Belanda. Satu-satunya jalan keluar orang Indonesia agar mendapatkan pekerjaan di Pemerintahan Belanda maka orang Indonesia harus sekolah, karena sekolah pada waktu itu dipandang sebagai persiapan untuk menjadi pegawai. Untuk mempermudah perpindahan murid-murid dari Indonesia ke Belanda maka pendidikan di Indonesia disamakan dengan pendidikan dinegeri Belanda dengan tujuan agar sekolah-sekolah mencapai mutu yang sama dalam segala hal dengan yang ada di negeri Belanda. Sekolah-sekolah Belanda di Indonesia berhasil dalam mencapai standar seperti di negeri Belanda.
Ciri khas sekolah yang didirikan oleh pemerintah Belanda adalah bahwa masing-masing sekolah berdiri sendiri tanpa hubungan organisasi antara yang satu dengan yang lainnya dan tidak ada jalan untuk melanjutkannya. Baru sekitar tahun 1910, Gubernur Jendral Idenburg mengirim surat kepada Menteri Jajahan tentang rencananya untuk menyatukan sekolah yang dulunya lepas-lepas menjadi suatu kesatuan yang bulat.
Sekolah-Sekolah sebagai Implementasi Politik Etis
Sejak dilaksanakan politik etis, memberikan pengaruh yang sangat besar dalam bidang pendidikan yaitu dengan diperbanyaknya sekolah rendah, sekolah berorientasi barat untuk orang Cina dan Indonesia juga didirikan. Pendidikan juga berkembang secara vertikal dengan didirikannya ELS, MULO dan AMS yang lebih terbuka bagi anak-anak Indonesia daripada HBS dan menjadi pintu masuk ke Universitas. Selama periode inilah akhirnya sistem pendidikan mencapai kelengkapannya.
Akan tetapi, pengadaan berbagai jenis sekolah agaknya bukan semata-mata untuk kepentingan kemajuan rakyat pribumi melainkan yang utama ialah untuk kepentingan Belanda saja. Para pengusaha Belanda menyadari bahwa daya beli di Hindia-Belanda harus diperkuat, artinya bahwa hidup orang-orang pribumi yang sangat sukar dan sengsara itu harus diperbaiki. Mereka mendesak supaya pemerintah Belanda segera mengadakan berbagai aturan yang dapat memperbaiki kehidupan rakyat pribumi Indonesia. Dengan adanya masyarakat terdidik maka daya beli di Indonesia akan kuat, akan tetapi kesejahteraan rakyat Indonesia tak kunjung tiba. Pendidikan yang baik hanya terbatas pada golongan atas, sedangkan untuk rakyat Indonesia pendidikan dijaga agar tetap rendah dan sederhana. Hampir-hampir tidak ada jalan untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi agar mendapatkan kedudukan yang lebih baik.
Pendidikan yang berorientasi barat hanya terbatas untuk golongan kecil, walaupun demikian golongan kecil menjadikan golongan elite intelektual baru yang dapat memberikan nasionalisme Indonesia yang anti barat. Jadi, pendidikan yang seyogyanya mendekatkan bangsa Belanda dan Indonesia dalam kenyatannya menjauhkan mereka.
Tingkat Pendidikan untuk Masyarakat Pribumi Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda abad ke- 20
Sekolah Dasar (Lager Onderwijs)
Sekolah Dasar pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu Sekolah Kelas Satu yang menggunakan bahasa pengantar Belanda dan Sekolah Kelas Dua yang menggunakan bahasa daerah (bahasa Melayu).
Sekolah Kelas Satu
Sekolah Kelas Satu merupakan sekolah untuk golongan atas yang meliputi anak-anak orang Belanda, golongan timur asing khususnya China, dan sekolah untuk golongan bumiputera (bangasan dan pemimpin adat, ulama) sehingga dapat dikatakan Sekolah Kelas Satu adalah sekolah terbaik yang tersedia bagi anak-anak Indonesia hanya terdapat dikota-kota penting Jawa. Adapun Sekolah Kelas Satu meliputi;
Europase Lagere School (ELS)
Gambar samping ELS
-59563046355Europa Lagere School merupakan sekolah untuk anak-anak keturunan Belanda dengan tujuan menjadikan anak warga negara yang baik. Sekolah ini berdiri pada tahun 1833, dengan meminta bayaran pada sekolah sebesar ƭ 6,- perbulan. Bagi mereka yang tidak mampu harus memasuki ELS bukan pertama, ELS pertama menyajikan pendidikan yang lebih tinggi mutunya tidak menerima anak-anak Indonesia sekalipun anak ningrat tinggi.
Kurikulum yang diberikan di ELS terdiri atas mata pelajaran membaca, menulis, berhitung, bahasa Belanda, sejarah, ilmu bumi, dan pelajaran lainnya. Menurut peraturan kurikulum dapat diperluas dengan mata pelajaran yang lebih tinggi seperti ilmu alam, dasar-dasar bahasa Prancis, bahasa Inggris, dan bahasa Jerman., sejarah umum atau sejarah Dunia, matematika, pertanian, menggambar tangan, pendidikan jasmani, pekerjaan tangan, dan menjahit bagi anak wanita. Bahasa Perancis pada tahun 1868, dimasukkan ke ELS sebagai mata pelajaran penting karena merupakan syarat untuk masuk HBS. Murid-murid ELS dapat menempuh dua macam ujian yaitu pegawai rendah (Klein Ambtenaars examen) setelah kelas 6 dan ujian masuk HBS (Hogere Burgerschool, sekolah menengah, setaraf dengan SMP dan SMA sekarang) setelah lulus kelas 7.
Menurut laporan inspeksi 1891 dan selanjutnya, gedung ELS selalu dalam kondisi baik. Perabot, buku, dan alat pengajaran lainnya selalu lengkap, ini menunjukkan bahwa sekolah untuk anak-anak Belanda merupakan sekolah yang paling baik dan lengkap. Sejak tahun 1905, setiap ELS mempunyai perpustakaan yang senantiasa diperluas karena untuk tiap murid kelas 3-7 disediakan ƭ 0,40,- setahun untuk perpustakaan sekolah, sedangkan untuk instalasi pertama diberikan sebanyak ƭ 40,- dengan rata-rata sekitar 3.600 buku persekolah.
Berbagai usaha dijalankan untuk memperoleh guru yang berkualitas tinggi dengan mendatangkan dari negeri Belanda dan melatihnya di Indonesia atau menyuruh pemuda ke Nederland untuk pendidikan guru. Menurut peraturan suatu sekolah dapat dibuka bila jumlah murid mencapai 20 orang di Jawa dan 15 orang di luar Jawa. Pada mulanya tiap ELS mempunyai 3 kelas yakni kelas rendah, menengah dan atas. Bila jumlah murid kurang dari 30 orang maka seorang kepala sekolah yang menanganinya, untuk murid yang berjumlah 30-60 orang maka yang menanganinya kepala sekolah dan seorang guru, dan untuk siswa yang berjumlah 70-119 maka yang menanganinya adalah seorang kepala sekolah dan dua orang guru.
Inspeksi merupakan aspek penting dalam sistem pendidikan Belanda yang sudah diatur dalam peraturan sekolah tahun 1818. Tugas inspeksi ini mengunjungi tiap sekolah dalam seminggu sekali dengan tujuan untuk memeriksa apakah kurikulum resmi resmi diikuti dengan cermat, dimana mereka melihat materi yang diberikan guru dan memberikan saran-saran perbaikan dengan cara yang tenang dan bijaksana.
Dalam hal penerimaan siswa, ELS menerima semua murid yang berasal dari orang Eropa dan bahkan jika salah satu orang tuanya orang Barat maka anaknya yang sebenarnya tidak sah orang Barat, mereka masih diberi kesempatan untuk masuk ke ELS. Selain itu, orang Afrika dan anak-anak dari serdadu dari Manado, Ternate, Ambon, dan Tidore asal beragama kristen maka diperbolehkan masuk.
Hollands Chinese School (HCS)
Pada tahun 1900, di Indonesia berdiri perkumpulan Cina yaitu Tung Hoa Hwee Kuan (THHK) yang pada awalnya mendirikan gedung pertemuan untuk menyebarkan kebiasaan dan moral Cina menurut ajaran Kong Fu Tse. Perhatian mereka tertuju kepada pendidikan dengan mendirikan sekolah. Pada mulanya bahasa Belanda termasuk dalam kurikulum, akan tetapi ternyata orang Belanda tidak terlalu suka menggunakan bahasanya terhadap bukan Belanda. Begitu sulitnya untuk memasuki ELS maka orang Cina meminta orang Belanda untuk menjadi gurunya dengan memberikan gaji yang tinggi, akan tetapi permintaan mereka ditolak. Akibat dari tolakan tersebut, orang Cina meminta bantuan dari Kaisar Cina supaya guru Belanda diganti dengan guru orang Inggris dan bahasa Belanda dihapuskan dalam kurikulumnnya. Dengan senang hati orang Inggris bersedia menyebarluaskan bahasa mereka, sehingga semakin lama maka semakin banyak pula orang Cina mengirimkan anaknya ke Rafles Institute di Singapura. Sebagai konsekuensi, kebangkitan nasional itu bahasa Cina menjadi pusat pendidikan. Orang Cina memandang rendah terhadap bahasa dan kebudayaan Belanda bahkan dirasakan timbulnya suasana anti Belanda. Keadaan itu menyadarkan pemerintah Belanda bahwa mereka harus meninggalkan politik non-intervansi dalam pendidikan anak Cina, lalu pemerintah Belanda memutuskan untuk membuka Hollands Chinese School (HCS) pada tahun 1908. Tujuan didirikan sekolah tersebut agar bahasa Belanda dapat dimengalahkan dorongan mempelajari bahasa dan kebudayaan Cina.
Kurikulum yang digunakan HCS sama dengan ELS supaya memberikan pendidikan Belanda yang murni kepada anak-anak Cina. Kebanyakan HCS mempunyai kelas persiapan untuk anak-anak berusia 5 tahun agar lebih mudah mengikuti pelajaran di kelas satu. Pemerintah Belanda tidak mau membiayai sekolah tersebut walapun mereka membayar pajak dengan baik. Orang Cina tidak mau menggunakan bahasa Melayu karena mereka menganggap bahasa Melayu dipandang sebagai bahasa pasar dan digunakan oleh pembantu. Orang Cina hanya menginginkan kebudayaan barat dan banyak diantara mereka yang menggunakan bahasa Belanda dalam rumah tangga dan pergaulannya sehari-hari.
Guru yang mengajar orang Cina adalah lulusan dari HCK (Hollands Chinese Kweekschool) yang berdiri tahun 1917 di Meester Cornelis, Batavia. Dimana calon guru diambil dari siswa lulusan HCS dan ELS serta dari MULO. Uang sekolahan, perumahan di asrama dan buku-buku dibebaskan dari bayaran, untuk pelajar wanita disediakan asrama khusus. Selain itu, setiap siswa diberi uang saku sebanyak ƭ 20,- perbulan.
Inspeksi yang ditempatkan di HCS sama dengan ELS karena mempunyai kurikulum yang sama. Dua orang Cina yang berpendidikan baik ditunjuk sebagai anggota komisi sekolah Belanda. Penerimaan siswanya dibuka kepada siapa saja yang menginginkan pendidikan barat, kebanyakan HCS dimasukin oleh orang-orang Cina-Indo yang lahir di Indonesia. Hal ini mudah dipahami karena mereka tidak memahami bahasa Cina dan karena itu tidak tertarik pada sekolah Cina nasional.
Adapun syarat untuk masuk HCS bagi anak Cina lebih mudah, yaitu maksimal berumur 7 tahun dan bahasa Belanda tidak diberlakukan secara ketat. Kesempatan belajar bagi anak Cina pada tahun 1908, lebih baik dari pada untuk anak Indonesia karena setiap tahunnya adanya peningkatan-peningkatan jumlah muridnya yaitu tahun 1908 dengan 4 sekolah dan siswanya 821, tahun 1915 dengan 29 sekolah dan siswanya 5.323, dan pada tahun 1920 dengan 34 sekolah dan siswanya 7.785. Secara proporsional mereka lebih banyak memasuki universitas daripada orang Indonesia.

Hollands Inlandse School (HIS)
Didirikan sekolah HIS karena adanya keinginan yang kian menguat dikalangan orang-orang Indonesia untuk memperoleh pendidikan khususnya pendidikan barat. Keinginan itu adalah konsekuensi yang wajar dari perubahan kondisi sosial politik di Timur jauh. Hingga akhinya,tak dapat dibendung lagi pendirian HIS setelah HCS berdiri. Pemerintah Belanda menemukan ide untuk menggambungkan HIS pada MULO, karena ada keterkaitan antara pendidikan pribumi dengan pendidikan barat. Oleh karena itu, kurikulumnya harus diperluas dengan sejumlah mata pelajaran seperti sejarah dan geografi. Dengan demikian Sekolah Kelas Satu sesungguhnya telah menjadi HIS dan nama Hollands Inlandse School yang secara resmi didirikan pada tahun 1914.
Kurikulum yang digunakan di HIS tercantum dalam statua 1914 No. 764 meliputi semua mata pelajaran ELS bukan kelas satu, dengan perbedaan bahwa diajarkan membaca dan menulis bahasa daerah dalam aksara latin dan bahasa Melayu dalam tulisan Arab dan Latin. Pada tahun 1915, kurikulumnya tidak meliputi sejarah, bernyanyi, dan pendidikan jasmani karena sejarah dianggap sensitif dari segi politik sedangkan untuk bernyanyi dan pendidikan jasmani belum ada guru yang kompeten. Membaca dikelas satu bertujuan untuk menguasai keterampilan membaca, Ilmu Bumi diberikan sejak kelas 3 dan untuk bahasa yang diberikan adalah bahasa daerah, Melayu, dan Belanda.
Agar lulus dalam HIS maka ada ujian pegawai rendah (Klein Ambtenaars examen), dan apabila dalam ujian tersebut lulus maka siswanya dapat diterima di STOVIA (School tot opleiding van Indische Artsen) atau disebut juga denga "Dokter Jawa" dan MULO. Selain itu mereka dapat memasuki Sekolah Guru, Sekolah Normal, Sekolah Teknik, Sekolah Tukang, Sekolah Pertanian, Sekolah Menteri Ukur.
Adapun guru yang mengajar di HIS adalah guru lulusan HKS (Hogere Kweekschool) yang pertama kali dibuka di Purworejo pada tahun 1914. Siswa yang bisa masuk di HKS adalah siswa yang terbaik dari lulusan Kweekschool. Guru-guru HKS sebagia besar adalah golongan rendah, sedangkan yang dari golongan priayi hanya sedikit. Jadi, HKS adalah sekolah untuk elit intelektual bukan golongan elit sosial.
Sebagai konsekuensi peralihan Sekolah Kelas Satu menjadi HIS maka sekolah ini termasuk pengawasan inspektorat sekolah Belanda. HIS dapat menerima siswanya dari bumiputera golongan atas seperti golongan bangsawan, dan pegawai negeri.
2). Sekolah Kelas Dua
Sekolah Kelas Dua merupakan sekolah untuk pribumi biasa dengan kurikulum yang diajarkan hanya meliputi pelajaran membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah ini berdiri tahun 1892 dengan lama belajarnya selama 7 tahun dan bahasa pengantarnya adalah bahasa daerah. Ada kemungkinan perluasan kurikulum jika ada persetujuan inspekstur dengan ketentuan bahasa Belanda tidak boleh diajarkan. Menggambar mulai diajarkan pada tahun 1892, serta bernyanyi diajarkan pada kelas 3 pada saat itu juga. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 1912 dihapus.
Buku yang digunakan oleh Sekolah Kelas Dua adalah "Emboen" merupakan buku bacaan karangan G.F.Lavell dan M.Taib yang berisi pendidikan moral seperti cinta akan binatang, kehematan, hormat terhadap orang lain, hukuman, pelanggaran, hadiah dan lain-lain. Selain itu buku yang diberikan adalah "Taman Sari" merupakan buku karangan dari J.Kats yang berisi tentang kelakuan baik dan buruk, serta sifat-sifat manusia. Buku yang diberikan pemerintah Belanda tersebut tidak mengandung bahan nasional dan tidak mengembangkan rasa rasional.
Tempat yang digunakan oleh Sekolah Kelas Dua untuk belajar adalah berbagai macam gedung seperti gereja, sekolah yang didirikan oleh penduduk, dan rumah sewaan. Biaya alat pelajaran untuk setiap sekolah tidak melebihi ƭ 200,- pertahun atau kurang dari ƭ 1,50,- untuk setiap murid pertahun. Guru yang mengajar di Sekolah Kelas Dua adalah guru yang kurang kompeten. Para inspekturnya yang datang ke sekolah ini jarang ditemui karena hanya satu tahun atau dua tahun sekali. Adapun sekolah yang termasuk sekolah dengan bahasa daerah adalah:
-371475266065Sekolah Desa (Volksschool)
Pada tahun 1907 didirikan sekolah baru yaitu Sekolah Desa. Sekolah ini menggunakan kurikulum meliputi membaca dan menulis, berhitung dengan lama belajar 3 tahun yaitu yang dimulai dari kelas I, kelas II, dan kelas III. Karena Sekolah Desa merupakan sekolah sederhana dan murah, maka Van Heutz tidak perlu mencari guru yang kompeten dan menganggap juru tulis desa sudah memadai. Guru yang mengajar sekolah ini adalah guru lulusan Sekolah Kelas Dua dengan gaji yang diberikan sebesar 15,- yang diperoleh dari pemerintah dan sebagian lagi dari uang sekolah murid serta bunga dari lumbung desa. Guru tersebut dibebaskan dari kerja rodi.
Sekolah Desa didirikan berdasarkan prinsip membantu diri sendiri dengan gotong royong, dalam praktiknya ternyata bantuan pemerintah sangat diperlukan untuk mengatasi kesulitan pertama yaitu untuk mendapatkan bahan yang tidak dapat diperoleh dari lingkungan seperti semen, paku, dan lain-lain. Pemerintah menyediakan maksimum ƭ50,- untuk pembangunan gedung sekolah dan ƭ25,- untuk perabot serta kayu dapat diperoleh dari hutan pemerintah. Dalam kelas tersebut terdapat kayu panjang yang diisi oleh 4 siswa, buku pelajaran diberikan pemerintah akan tetapi buku dan alat tulis harus beli sendiri, lemari, papan tulis, dan peta.
Pada tahun 1911 diangkat seorang inspektur yang bertanggung jawab atas semua Sekolah Desa diseluruh Hindia Belanda dibawah naungan Departemen Dalam Negeri, akan tetapi dalam segala hal harus diberi informasi kepada Direktur Departemen Pengajaran dan Agama. Dalam melaksanakan tugasnya inspektur itu dibantu oleh 3 asisten inspektur, dan disamping itu penilik kepala serta penilik orang Indonesia dengan diberi gaji ƭ 10,- perbulan. Mereka bertugas untuk mengunjungi setiap sekolah minimal sekali setahun untuk mengetahui akan keadaan sekolah .
Keadaan murid pun setiap tahunnya terus bertambah dengan cepat, yaitu di tahun 1907 jumlah muridnya 70.000, tahun 1910 jumlah muridnya 300.000, dan tahun 1914 jumlah siswanya 40.000 pertahun. Jumlah siswa yang terputus sekolahnya juga sangat tinggi khususnya dikelas rendah, hal itu disebabkan karena tidak teraturnya menghadiri pelajaran, sakit atau meninggal, serta adanya siswa yang pindah ke desa lain.
Sekolah Lanjutan (Vervolgschool)
Sekolah ini didirikan pada tahun 1914 dengan lama belajar 2 tahun. Sekolah ini merupakan lanjutan dari Sekolah Desa (Volksschool) maka bagi siswa yang berminat bisa meneruskan ke Sekolah Lanjutan atau Vervolgschool (Sekolah Ongko Loro) sampai tamat kelas 5. Kesulitan keuangan pemerintah (1922-1923) mempercepat perpaduan itu dengan Volksschool sebagai subrastruktur Vervolgschool dengan mengadakan kurikulum di Sekolah Desa.
Sekolah Peralihan (Schakelschool)
Bagi orang desa yang berpikiran maju dan ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah Belanda, setamat dari kelas 3 ini bisa meneruskan ke Schakel School. Schakel School adalah Sekolah Rakyat untuk persamaan dengan murid yang berasal dari Tweede Inlandsche School dan masa pendidikan adalah selama 5 tahun, sehingga lulusannya dipersamakam dengan lulusan HIS. Sedangkan bagi yang tidak berminat bisa mengakhiri dengan tamat kelas 3,(dan memang banyak yang demikian), diberikan ijasah yang ditanda tangani oleh Kepala Sekolah dan disyahkan oleh Bupati.
Sekolah Menengah
Meer Uitgebreit Lager Onderwijs (MULO)
MULO merupakan sekolah pertama yang tidak mengikuti pola pendidikan di Belanda, namun tetap merupakan pendidikan yang berorientasi barat dan tidak mencari penyesuaian dengan keadaan Indonesia. MULO adalah sekolah lanjutan bagi anak ELS, HCS, dan HIS yang berdiri tahun 1914.
Sekolah ini menggunakan kurikulum meliputi membaca, bahasa Belanda, menulis (okasional), berhitung, Sejarah (Jajahan dan Dunia), Geografi, Ilmu Alam, bahasa Perancis, bahasa Inggris, bahasa Jerman, dan menggambar. Pada tahun 1919 juga diberikan tambahan yaitu bahasa Melayu sebagai tambahan. Fungsi MULO yang penting ialah memberikan dasar yang lebih baik bagi pendidikan kejuruan dan bagi lanjutan pelajaran. Namun, dari pihak tertentu timbul keberatan untuk memberikan status sekolah lanjutan kepada MULO. Hubungan antara MULO dan HBS tak kunjung tercapai, akan tetapi sebagai penggantinya adalah AMS.
Guru yang mengajarkan di MULO harus mempunyai kompetensi tinggi karena pelajaran di MULO melebihi apa yang diajarkan di sekolah rendah. Mereka harus memiliki ijasah HA (Hoofdacte) atau akta kepala sekolah serta ijasah pelajaran tertentu. Pemerintah menggalakkan kursus-kursus dan menyediakan macam-macam ujian untuk memperoleh diploma, kursus tersebut ditempuh selama 2 tahun. Setelah MULO berkembang menjad subtruktur AMS maka setiap mata pelajaran diberikan oleh seorang guru khusus. Guru MULO mendapat tambahan gaji sehingga kedudukannya terhormat, kecuali guru bahasa Melayu atau daerah. Bagi guru Indonesia tidak mungkin untuk mencapai gelar HA, kecuali bila ia belajar di Nederland dan karena itu kesempatan mengajar di MULO merupakan monopoli guru-guru Belanda. Inspeksi di MULO adalah inspeksi pendidikan rendah, karena pada dasarnya MULO adalah sekolah rendah.
Dalam melakukan penerimaan siswa di MULO dilihat dari 3 macam, yaitu kebangsaan, sex, dan status sosial orang tua. Adapun Penerimaan siswa menurut kebangsaan di MULO pada tahun1914 adalah mengambil siswa lulusan dari sekolah rendah bahasa Belanda yaitu ELS, HCS, dan HIS. Dari ketiga macam lulusan sekolah rendah tersebut yang menjadi sumber utama adalah HIS. Menurut sex, karena adat istiadat belum diterimanya ide tentang wanita sebagai pegawai kantor, pertimbangan finansial yang mendahulukan anak pria. Perkawinan gadis pada usia muda dapat dipandang sebagai alasan maka jumlah murid wanita lebih kecil dari murid pria Indonesia. Sedangkan untuk orang Belanda tidak ditemui keberatan-keberatan serupa itu, bahkan di MULO anak wanita Belanda senantiasa melebihi jumlah anak pria karena mereka lebih menyukai MULO yang lebih singkat dari pada HBS. Pada tahun 1920 jumlah anak wanita belanda 57%, Indonesia 17,2%, dan Cina 14,2% dibanding dengan jumlah murid pria.
Menurut status sosial orang tua siswa, pada dasarnya sekolah berbahasa Belanda untuk golongan elit namun dalam praktiknya juga dimasuki oleh anak-anak dari golongan rendah. MULO memberikan kesempatan melanjutkan pelajaran, membuka kesempatan untuk memperolah kedudukan yang baik yang sediakala ditempati oleh kaum ningrat. Orang tua siswa yang dari golongan rendah rela mengirimkan anaknya ke MULO yang relatif sangat mahal dengan pengorbanan yang luar biasa dengan harapan mendapatkan kedudukan yang lebih baik dimasa depan anaknya. Jadi, MULO merupakan alat penting dalam mobilitas sosial. Kesempatan belajar di MULO untuk anak Indonesia dilakukan melalui seleksi yang ketat, dibandingkan dengan anak Belanda yang lebih mudah untuk memasuki MULO dan HBS sehingga prestasi untuk Indonesia lebih baik daripada yang lainnya. Mereka yang berhasil menamatkan MULO ke Sekolah Kejuruan, HBS, maupun AMS.
Hogere Burgersschool (HBS)
Sejak tahun 1839 telah dipikirkan tentang perlunya sekolah menengah di Indonesia sehingga anak-anak tidak perlu pergi ke Nederland. Pada tahun 1848, tokoh di Indonesia mengadakan rapat di Batavia untuk mengajukan permohonan kepada raja Belanda agar didirikan sekolah menengah. Hingga pada akhirnya raja Belanda menyetujui pendirian sekolah menengah dan memperkenankan namanya diberikan kepada sekolah itu yang menjelma menjadi Gymnasium koning Willem III, yang mendapat dukungan dari semua pembesar Indonesia tepatnya tahun 1860. Tujuan dari sekolah ini ialah mempersiapkan siswa untuk universitas dan jabatan yang tidak memerlukan diploma universiter. Gymnasium ini terbagi menjadi dalam dua bagian, yaitu (1) Seksi A, dengan lama studi 6 tahun untuk mereka yang ingin melanjutkan pelajaran di universitas dan menyajikan program klasik.
-692150-1761490(2) Seksi B, lama studi 4 tahun yang memberi persiapan untuk akademi militer, perdagangan, dan industri di Delft.
Seksi A yang memberikan pendidikan klasik tidak baik perkembangannya. Siswa sejak mulanya 5 orang dan setelah pada tahun 1866, siswa terakhir meninggalkannya maka sekolah itu ditutup secara resmi pada tahun 1868. Sedangkan untuk Seksi B, terjadi Gymnasium direorganisasi yaitu perubahan sekolah menjadi bentuk baru yakni HBS (Hogere Burgerschool) tepatnya tahun 1867 dan untuk pertama kalinya dianjurkan oleh menteri liberal Thorbecke pada tahun 1863.
HBS adalah sekolah lanjutan kelanjutan dari ELS yang disediakan untuk golongan eropa, bangsawan golongan bumi putra, atau tokoh-tokoh terkemuka. Dalam menempuh Sekolah di HBS lama belajarnya adalah 5 tahun untuk mempersiapkan pegawai tinggi yang sejak 1842 merupakan wewenang Akademi di Delf, dan untuk menjadi pegawai tinggi maka seseorang diwajibkan untuk memiliki Ijasah Pegawai Tinggi yang berlangsung sampai 1913. HBS di Indonesia pertama kali didirikan di Jakarta (1867), Surabaya (1875), Semarang (1877).
Kurikulum HBS di Indonesia tidak berbeda dengan yang dinegeri Belanda, dan tidak banyak mengalami perubahan karena dirasa sudah sesuai. Kurikulum tersebut terdiri atas 19 mata pelajaran yaitu meliputi berhitung dan Aljabar, Matematika, Mekanika, Fisika, Kimia, Botani, Biologi, Kosmografi, Undang-undang Negara, Ekonomi, Tata buku, Sejarah, Geografi, Bahasa Belanda, Bahasa Perancis, Bahasa jerman, Bahasa Inggris, Menggambar Tangan, dan Menggambar Garis. Siswa HBS harus menguasai Matemati, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Bahasa karena pada akhir sekolah akan diberikan ujian meliputi semua bahan yang telah diajarkan selama 5 tahun. Sedangkan untuk Bahasa Klasik, Latin dan Grik (Yunani) tidak diberikan, sehingga menimbulkan masalah karena beberapa fakultas seperti hukum, teologi, kesusasteraan, dan kedokteran mempersyaratkan penguasaannya. Dengan tidak diberikannya bahasa tersebut, maka siswa harus belajar sendiri dan menempuh ujian negara dalam bahasa klasik jika ingin memasuki fakultas itu.
Guru yang mengajar di HBS harus mereka yang memiliki ijasah Ph.D (Doktor) atau diploma MO. Diploma MO-B adalah ijasah tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang guru, yang dapat disamakan dengan gelar Doktor. Namun karena sulitnya memperoleh guru dengan kualifikasi demikian maka dipekerjakan juga guru yang berijasah rendah. Mereka yang berijasah Ir, perwira AD dan AL, pemegang diploma MO-A (wewenang mengajar pada tiga tahun pertama di HBS) bahkan yang berijasah HA (Hoofdacte) untuk sementara dapat dipekerjakan pada HBS, khususnya pada kelas rendah. Dalam HBS tidak terdapat inspeksi, urusan dan pengawasan HBS diserahkan kepada Badan Pengawas yang beranggotakan tokoh-tokoh pemerintah tertinggi seperti presiden Dewan Hindia Belanda dan pembesar-pembesar lainnya. Hal ini menunukkan betapa besarnya perhatian pemerintah akan sekolah ini yang tentunya menambah prestise HBS.
Dalam penerimaan siswa, HBS melakukan melalui seks dan kebangsaan. Berdasarkan seks, hampir setengah abad HBS tidak menerima siswa wanita, akan tetapi banyak yang menentang koedukasi sehingga pada tahun 1882 dibuka HBS untuk wanita di Jakarta akan tetapi siswi yang ingin masuk dari luar Jakarta sulit karena orang tuanya keberatan anak gadisnya pergi ke Jakarta meninggalkan rumah orang tuanya. Sedangkan di Semarang (1879) anak perempuan bisa masuk HBS sebagai murid, akan tetapi banyak pro dan kontra karena ditakutkan murid perempuan menimbulkan berbagai masalah bahwa anak-anak pria pada usia itu secara moral dan sosial belum dapat bergaul gadis-gadis. Hingga pada akhirnya pada tahun 1891, murid perempuan diterima dan ternyata kehadiran siswa gadis tersebut memperbaiki suasana sekolah. Dalam hal akademis siswa gadis tidak kurang daripada anak laki-laki, dan mengalami peningkatan pada tahun 1919 yaitu 1/3 dari jumlah murid laki-laki.
Sedangkan penerimaan murid dari kebangsaan yaitu sewaktu Gymnasium Koning Willem III yang didirikan pada tahun 1860 siswanya hanya orang Belanda, akan tetapi setelah 14 tahun kemudian anak Indonesia pertama diterima (1874) dan anak Cina pertama pada tahun (1877). Jumlah anak Indonesia di HBS pada tahun 1900 hanya 2%, tahun 1915 hanya 6,1% dari 915 murid. Faktor yang menyebabkan kecilnya jumlah itu antara lain sulitnya anak Indonesia memasuki ELS kelas satu untuk mempelajari bahasa Perancis, tingginya uang sekolah (ƭ 15,-), tidak adanya hubungan antara HIS dengan HBS serta terbukanya kesempatan memasuki MULO. Pada tahun 1910, jumlah anak Cina melampaui jumlah anak Indonesia dan memegang posisi dalam dekade-dekade berikutnya.
Persentasi putus sekolah di HBS termasuk tinggi, 50% mencapai tingkat IV, 25% berhasil lulus dengan memperoleh ijasah. Anak Indonesia menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding dengan siswa bangsa lain, walaupun sebenarnya sekolah itu untuk anak-anak Belanda. terputusnya siswa di HBS disebabkan karena faktor banyaknya jumlah mata pelajaran, tingginya syarat akademis, dan intelektual yang dituntut dari murid baik dalam bidang bahasa, matematika, ilmu pengetahuan serta beratnya ujian yang harus ditempuh.

Algemene Middelbare School (AMS)
Dengan diresmikannya HIS dan MULO maka timbul ide untuk mendirikan sekolah menengah khusus bagi anak-anak Indonesia yang berbeda namun ekuivalen dengan HBS. Ada beberapa alasan mendirikan untuk pendirian sekolah menengah menjadi diharuskan yaitu lulusan MULO yang dihalangi memperoleh pendidikan yang sama dengan HBS akan segera meminta agar diberi kesempatan untuk memasuki perguruan tinggi. Suatu permintaan yang wajar dan perlu dipenuhi yang ditinjau dari segi politik pendidikan.
Dirasakan bahwa anak Indonesia untuk memasuki universitas melalui ELS – HBS dengan persyaratan bahasa Perancis sangat sulit, sehingga anak Indonesia yang paling pandai pun dihalangi untuk meneruskan pelajarannya karena ditakutkan nanti siswa Indonesia akan berusaha mencari pendidikan tinggi di negara lain. Pada umumnya semua tokoh-tokoh pemerintahan di Indonesia dan di Nederlands, termasuk tokoh Budi Utomo mendukung pembukaan sekolah ini dan untuk itu didirikan suatu komisi penasihat tentang sekolah menengah. Komisi ini berpendapat bahwa sekolah ini akan terbuka bagi semua bangsa , menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, tidak memasukkan bahasa Perancis dalam program dan memasukkan dalam sejumlah mata pelajaran menurut kebudayaan Indonesia, setidak-tidaknya bahasa dan sastra suatu bahasa Indonesia.
Sekolah menengah ini merupakan superstruktur MULO yang terbagi dalam dua bagian yaitu Bagian A yang mengutamakan sastra dan sejarah, dan Bagian B yang mengutamakan matematika dan fisika. Untuk mencegah perkembangan berat sebelah maka Bagian A diberikan matematika dan fisika, dan Bagian B diberikan sastra dan sejarah.
Bagian A dibagi pula dalam A I untuk studi klasik Timur dan bagian A II untuk studi klasik Barat. Bagian A I lebih lebih sesuai dengan kondisi Indonesia, sedangkan A II antara lain mengajarkan bahasa Latin dan Yunani yang sebenarnya tidak sesuai dengan Indonesia. Namun dalam kenyataan bahasa Latin diperlukan untuk lanjutan studi diberbagai fakultas, bagian A I lebih agak sulit bagi siswa yang hidup diluar kebudayaan hindu-Jawa yang merupakan pokok pelajaran dalam bagian itu. Setelah 1903 bahasa Yunani dihapuskan sebagai syarat perguruan tinggi dan karena itu juga tidak dimasukkan dalam program sekolah ini.
Nama yang diberikan kepada sekolah menengah ini adalah Algemene Middelbare School (AMS). AMS B pertama mengutamakan matematika dan fisika yang secara resmi dibuka di Jakarta (1919), AMS AII mengutamakan klasik Barat dibuka di Bandung (1920), dan untuk AMS A I mengutamakan klasik Timur yang dibuka di Solo (1926) karena pusat kebudayaan Jawa. Ijasah AMS disamakan dengan HBS untuk memasuki perguruan tinggi atau menduduki jabatan tertentu.
Adapun kurikulum AMS terdiri atas (1) mata pelajaran umum yang diharuskan bagi semua siswa yakni bahasa Melayu, bahasa Belanda, bahasa Inggris, sejarah, geografi, undang-undang negara, matematika, botani, zoologi, dan pendidikan jasmani. Setiap bagian AMS mempunyai mata pelajaran khusus sesuai dengan hakikat bagian itu. AMS bagian AI klasik Timur meliputi bahasa Jawa, arkeologi, etnologi Indonesia, fisika, kimia, menggambar tangan, dan bahasa Jerman. Sedangkan bahasa Perancis dijadikan elektif. AMS bagian AII klasik Barat meliputi mata pelajaran yang sama seperti bagian klasik Timur kecuali bahasa Latin sebagai pengganti bahasa Jawa, arkeologi serta tata buku.
AMS bagian B memusatkan studi pada matematika dan fisika, kimia, matematika, kosmografi, gambar garis, dan bahasa Jerman. Sedangkan bahasa Perancis dijadikan elektif. AMS bagian B memusatkan studi matematika 6 tahun agar tamat, jika dibandingkan 5 tahun di HBS. Akan tetapi biasanya lamanya 7 tahun karena MULO bagi kebanyakan memerlukan 4 tahun termasuk kelas persiapannya. AMS B dianggap sama dengan HBS dan membuka kesempatan yang sama seperti HBS. AMS AII membuka kesempatan melanjutkan pelajaran ke fakultas hukum, fakultas teologi dan filologi dengan tambahan bahasa Yunani. Ijasah AMS AI membuka pintu ke fakultas sastra dan fakultas hukum dengan tambahan bahasa Latin. Diferensi AMS menjadi 3 bagian tidak memungkinkan siswa untuk berpindah jurusan, dan harus mengikutinya sampai lulus. Kesulitan yang dihadapi di AMS adalah lulusan AMS harus berorientasi pada pendidikan di Nederland dan tidak dapat disesuaikan dengan keadaan di Indonesia.
Pada tahun 1919 AMS pertama dibuka dengan mayoritas siswa Indonesia, yaitu 22 anak Indonesia, 15 anak Belanda, dan 5 anak Cina. Walaupun orang Indonesia mayoritas, tetapi dalam bagian klasik Barat murid Belanda melebihi murid Indonesia. Jumlah siswa yang keluar dari AMS lebih rendah daripada sekolah lain, angkatan pertama yang masuk yang masuk pertama pada tahun 1919 sebanyak 74,4% mencapai kelas tertinggi dan 71,4% berhasil lulus pada ujian akhir. Seleksi yang ketat diantara murid Indonesia menjadi penyebab hasil yang baik.
Guru-guru AMS harus memenuhi syarat yag sama dengan HBS dengan harapan menghasilkan akademis yang sama dengan kedua lembaga pendidikan itu. HBS tetap lembaga elite dengan uang sekolah minimal ƭ15,-, sedangkan uang sekolah AMS ƭ7,50-. Penerimaan siswa di AMS didasarkan atas angka ujian akhir MULO. Angka cukup untuk bahas Belanda dijadikan syarat penerimaan dibagian klasik Barat, sedangkan untuk AMS B harus diperoleh angka cukup untuk matematika dan fisika.
Supervisi AMS dan MULO diserahkan kepad inspekstur khusus untuk sekolah menengah. Untuk menjamin peralihan yang lancar antara MULO dan AMS, direktur MULO diberi kesempatan untuk menghadiri pelajaran dikelas I AMS sedangkan direktur AMS diizinkan untuk menghadiri pelajaran dikelas tertinggi MULO.
Pendidikan Kejuruan
Selain sekolah rendah bahasa pengantar Beladan dan daerah, MULO, HBS, dan AMS. Pada tahun 1904, dibawah pemimpinan guberbur jendral J.B. van Heutzs (pahlawan Belanda dalam perang Aceh) memberikan pendirian pendidikan praktis (pendidikan kejuruan) karena didesak dari soal yang dikesankan dalam surat-surat menteri jajahan sehingga kalangan Bumiputra pun dapat merasakannya. Adapun Pendidikan Kejuruan yang didirikan oleh Gubernur Jendral J.B. van Heutzs meliputi;
Pada tahun 1906, J.E. Jesper sebagai pengganti Mr.J.G.Pott (pengganti Abendanon) diberi tugas untuk memimpin penelitian Sekolah Kejuruan Teknik. Ketika laporan Japer sudah selesai, ada kekhawatiran dari Snouck Hurgronce yaitu jika dikalangan Bumiputra belum ada keperluan akan tenaga teknik terdidik, dan Bumiputra nantinya akan dididik di Sekolah Teknik maka penyalurannya hanya terbatas pada perusahaan Eropa yang terpusat di Surabaya, dan laporan tersebut juga menegaskan bahwa lambat laun akan mendorong tumbuhnya wirausaha dikalangan Bumiputra. Sehingga perlu didirikan Sekolah Teknik, Sekolah Pertukangan yang didirikan pemerintah Belanda ada dua, yaitu sekolah tukang dengan pengantar bahasa Daerah dan sekolah Tukang dengan pengantar bahasa Belanda. Adapun sekolah Tukang pengantar bahasa Daerah yaitu semacam balai latihan (Amachts leergang) yaitu sekolah yang didirikan pada tahun 1906, sekolah ini menerima siswa lulusan Sekolah Dasar Kelas Dua untuk dididik menjadi tukang-tukang dengan lama belajar tiga tahun. Sehingga Sekolah Tukang ini harus disesuaikan dengan keadaan Sekolah Kelas Dua. Sedangkan Sekolah Tukang pengantar bahasa Belanda (Ambachtsschool) adalah sekolah yang menerima lulusan ELS, HIS, HCS dengan tujuan untuk mendidik dan mencetak siswa menjadi mandor jurusanya antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu dan piñata batu dengan lama belajar sekolah ini adalah tiga tahun.
Sekolah teknik (Technish Onderwijs) adalah kelanjutan dari Ambachtsschool dengan pengantar bahasa Belanda yang lamanya sekolah 3 tahun. Sekolah tersebut bertujuan untuk mendidik tenaga-tenaga Indonesia untuk menjadi pengawas, semacam tenaga teknik menengah dibawah insinyur.
Pendidikan Hukum (Rechtsschool) adalah sekolah untuk mendidik orang-orang Indonesia agar dapat menjadi hakim Landraat yang merupakan pengadilan sehari-hari bagi golongan pribumi, akan tetapi pada dasarnya demi kepentingan Belanda sendiri yang memerlukan terpeliharanya ketertiban dan keamanan diwilayah jajahannya untuk melancarkan penanaman modal dan mengembangkan industri. Masa studi Rechtsschool adalah 6 tahun yang terbagi dalam dua bagian, yaitu bagian "Persiapan" (voorbereidende afdeeling) selama 3 tahun, dan bagian "Keahlian Hukum" (rechtskundige afdeeling) untuk masa 3 tahun berikutnya. Yang dapat diterima menjadi murid Rechtschool adalah lulusan HIS (Sekolah Dasar pada masa kolonial) yang harus masuk bagian "Persiapan" terlebih dahulu. Bagi lulusan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO - Sekolah Menengah Pertama pada masa kolonial), dan Sekolah Menengah Pamong Praja atau MOSVIA dapat langsung diterima pada bagian "Keahlian Hukum". Pada bagian "Persiapan" diberikan mata pelajaran: Bahasa Belanda, Bahasa Perancis, Sejarah Umum, Matematika, dan Pengetahuan Alam (seperti pelajaran pada tingkat MULO/SMP). Pada bagian "Keahlian Hukum" diberikan mata pelajaran: Pengantar Ilmu Hukum, Tata Negara Belanda, Tata Negara Hindia Belanda, Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Dagang, Hukum Rakyat atau Volksrecht, Hukum Adat, Hukum Acara, Bahasa Melayu, dan Bahasa Belanda. Sekolah Hukum pertama berdiri di Betawi tahun 1924.
Pendidikan Dagang (Handels Onderwijs), bertujuan untuk menjadikan pegawai yang nantinya akan memenuhi kebutuhan perusahaan Eropa yang berkembang dengan pesat.
Pendidikan pertanian (landbouw Onderwijs), didirikan pada tahun 1903 yang menerima lulusan sekolah dasar dengan pengantar bahasa belanda. Ketika tahun 1911 mulai didirikan sekolah pertanian (cultuurschool) yang terdiri atas dua jurusan yaitu pertanian dan kehutanan. Lama belajaranya sekitar 3-4 tahun dan bertujuan untuk menghasilkan pengawas-pengawas pertanian dan kehutanan. Pada tahun 1911 didirikan pula sekolah pertanian menengah atas (Middelbare Landbouwschool) yang menerima lulusan MULO atau HBS yang lamanya belajar 3 tahun.
Pendidikan kejuruan kewanitaan (Meisjes Vakonderwijs). Pendidikan ini merupakan kejuruan wanita yang termuda. Setelah itu juga didirikan sekolah yang sejenis oleh swasta dan dinamakan Sekolah Rumah Tangga (Huishoudschool) dengan lama belajarnya tiga tahun.
Pendidikan keguruan (Kweekschool). Lembaga keguruan ini adalah lembaga yang tertua dan sudah ada sejak permulaan abad ke-19. Sekolah guru negeri yang pertama didirikan pada April 1852 di Surakarta yaitu untuk mencetak calon guru-guru Sekolah Dasar di Jawa. Kendati diperlakukan kaidah "pendidikan Jawa oleh orang Jawa", kepala Sekolah Guru ini adalah orang Belanda yang khusus belajar bahasa Jawa dan Melayu di Delf. Kepala sekolah pertama yang terpilih adalah Dr. W. Palmer van den Broek, selain itu murid calon guru harus terpisah dari masyarakat. Mereka harus tinggal di asrama dibawah pengawan pembantu yang merupakan orang Belanda juga yaitu F.W. Winter yang baru berusia 18 tahun. Mereka yang baru diterima sebagai murid relatif mudah dibentuk karena berusia 14-17 tahun dan berasal dari keluarga baik-baik.
Empat tahun kemudian tepatnya tahun 1856, pemerintah daerah untuk pantai barat juga mendirikan Sekolah Guru di Fort de Kock (Bukit Tinggi). Polanya menirukan Sekolah Guru di Surakarta, Cuma lebih kecil, perbedaannya terdapat pada kepala sekolahnya bukan ahli bahasa, juga bukan ahli pendidikan tetapi residen setempat. Alasannya sebagai pejabat yang mengenal betul keadaan daerah itu dialah yang paling tepat mengepalai Sekolah Guru. Tidak lama kemudian, residen mengundurkan diri dan digantikan oleh guru Bumiputra yang lebih tak mengerti soal pendidikan. Akibatnya, Sekolah Guru Fort de Kock dinyatakan oleh Inspektur Pendidikan Bumiputra sebagai bukan Sekolah Guru melainkan Sekolah Dasar. Pada tahun 1862, dibuka Sekolah Guru lain di Tanobato (Tapanuli) oleh Willem Iskandar atas restu pemerintahan setempat. Berbeda sekolah guru di Bukit Tinggi, mutu Sekolah Guru di Tanobato ini jauh lebih tinggi, dikarenakan Willem Iskandar (putra asli Batak) adalah lulusan Sekolah Guru di Belanda. Dalam pemeriksaannya kemudian, Inspektur Pendidikan Bumiputra memuji sekolah itu.
Dalam perkembangannya, Sekolah Guru di Surakarta dinilai tidak dapat menandingi mutu Sekolah Guru di Tanowangko, penyebabnya adalah penekanan yang berlebihan atas pengetahuan bahasa sehingga pengetahuan pedagogi terlupakan. Selain itu Van den Broek adalah ahli bahasa yang sama sekali tidak pernah menerima ilmu pendidikan. Baik pemerintah maupun kaum Liberal tidak puas dengan keadaan itu sehingga mereka melakukan perbaikan dalam bidang penataan. Sejak awal, pendidikan Bumiputra ditempatkan dibawah pengawasan pemerintah daerah dan penguasa Bumiputra. Inilah sebabnya pengawan Bumiputra terpusat dianggap akan memperbaiki keadaan. Pada tahun 1864, Mr.J.A. van der Chijs sebagai pejabat tinggi di Sektorat Negara diangkat menjadi Inspektur Pendidikan Bumiputra, dengan penuh semangat ia berusaha memperbaiki keadaan itu.
Pada 1866, berdasarkan hasil pemeriksaan pejabat baru tersebut atas Sekolah Guru di Surakarta, murid-murid yang berbahasa Sunda dipisahkan dan didirikan sekolah lain di Bandung. Dan pada tahun 1876, murid-murid yang berbahasa Madura dipindah juga ke Sekolah Guru Probolinggo. Dengan demikian, beban pelajaran bahasa banyak berkurang dan digantikan dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan mengajar. Ketika tahun 1883, Sekolah Guru terdapat penyederhanaan kurikulum, pengurangan masa belajar dari delapan tahun menjadi lima tahun serta terdapat pembedaan kategori Sekolah Guru. Adapun abad ke-20 terdapat tiga macam pendidikan guru, yaitu:
Normaalschool,sekolah guru dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima tahun yaitu Sekolah Kelas Dua yang berbahasa pengantar bahasa dearah. Guru dari lulusan Normaalschool hanya dapat menjadi guru sekolah rendah biasa.
Kweekschool, sekolah guru empat tahun yang menerima lulusan berbahasa pengantar belanda yaitu ELS . Guru dari lulusan ini dapat diterima mengajar pada sekolah yang lebih tinggi khususnya pada MULO.
Hollandschool Indlandschool kweekschool, sekolah guru 6 tahun berbahasa pengantar Belada dan bertujuan menghasilkan guru HIS-HCS.
Perguruan Tinggi
Setelah sekolah rendah (Sekolah Kelas I (ELS, HCS, HIS) dan Sekolah Kelas II (Volkschool, Vervolgschool, dan Schakelschool), menengah (MULO, HBS, dan AMS) didirikan di Indonesia maka untuk melanjutkan dari lulusan AMS ini, pemerintah Belanda mendirikan Perguruan Tinggi meliputi Sekolah Tinggi Teknik, Sekolah Tinggi Hukum, dan Sekolah Tinggi Kedokteran.
Awalnya terjadi adalah ketika adanya kesulitan yang menimpa para lulusan sekolah menengah di Indonesia untuk melanjutkan ke Delf sebagai akibat dari berkobarnya Perang Dunia Pertama (1914-1918). Sambil menanti kesempatan yang lebih baik, mereka melaksanakan kursus-kursus yang sama dengan mata kuliah tahun pertama di perguruan tinggi. Kursus-kursus itu dilaksanakan dibawah suatu lembaga yang mereka sebut Lembaga Kerajaan untuk Para Insinyur (Koninklijke Instituut van Ingenieurs). Diilhami oleh semangat mereka ini, para mahasiswa Indonesia yang ada di Nederland membentuk Lembaga Kerajaan untuk Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (Koninklijke Instituut voor Hooger Technish Onderwijs in Nederlandsh-Indie) pada 1918.
Lembaga tersebut berusaha mengumpulkan uang untuk membangun Sekolah Tinggi Teknik di Indonesia berstatus swasta, lembaga ini berhasil membangun Sekolah Tinggi di Bandung pada 3 Juli 1920 yang disebut dengan Technische Hoogeschool te Bandung. Adapun kedetailannya dari Sekolah Tinggi Teknik, Hukum, dan Kedokteran adalah sebagai berikut;
Upacara Pembukaan Technische Hoogeschool te Bandoeng pada hari Sabtu, 3 Juli 1920 di Barakgebouw B
-664845265430(Technische Hoogeschool)
Sekolah Tinggi Teknik pertama di Indonesia adalah Technishe Hoogeschool te Bandung. Technishe Hoogeschool te Bandung atau biasa disingkat menjadi TH te Bandung adalah Perguruan Tinggi Teknik pertama sekaligus Lembaga Pendidikan Tinggi pertama di Indonesia yang dibuka sejak 3 Juli 1920 berkedudukan di Kota Bandung atas prakarsa badan swasta Koninklijk Instituut voor Hooger Technis Onderwijs in Nederlandsch-Indie.
Awal mula berdirinya yaitu dimulai pada tahun 1917 di Amsterdam Belanda, pembicaraan telah dimulai ke arah persiapan pendirian technische hoogeschool (sekolah tinggi teknik) di antara para pemuka bank, perdagangan, dan perusahaan. Dalam tahun 1918 satu delegasi dari Indonesia datang ke Belanda, diantaranya adalah Karel Albert Rudolf Bosscha yaitu seorang pengusaha perkebunan di Malabar, Pangalengan, selatan Kota Bandung. Delegasi ini menyokong berdirinya Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië - KIHTONI (Institut Kerajaan bagi Pendidikan Teknik Tinggi di Hindia Belanda) di Belanda (30 Mei 1917) yang merupakan suatu badan yang menyiapkan pendirian Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool). KIHTONI merupakan gabungan pemuka pengusaha swasta, wakil dari Ministerie van Kolonien (Kementerian Urusan Daerah Jajahan), dan wakil dari Koninklijk Instituut van Ingenieurs (semacam Persatuan Insinyur Belanda).
Dengan adanya orang yang berpengaruh maka dalam waktu singkat terkumpul uang sebanyak tiga juta gulden, suatu jumlah yang dianggap cukup untuk mendirikan program studi Weg- en Waterbouwkunde (Bangunan jalan dan bangunan air) yaitu sebesar ƒ 3.000.000,- di tahun 1919. Pengurus umum kemudian membentuk Raad van Beheer (Dewan Pengurus) untuk memimpin pelaksanaan selanjutnya dengan bantuan Technisch Onderwijs Comissie. Ketua Raad van Beheer semula adalah Dr. C. J. K. van Aalst, kemudian digantikan oleh Jan Willem IJzerman (dalam ejaan sebelumnya dituliskan "Yzerman", namun pada referensi berikutnya dituliskan "IJzerman"), sementara Dr. C. J. K. van Aalst menjadi Ketua Kehormatan. J. W. IJzerman dipercaya berhubung pengalamannya dalam perkereta-apian di Jawa dan Sumatera, dan pengetahuan kemasyarakatan Indonesia, termasuk sejarah kuno tentang Jawa dan Sumatera.
Nama organisasi Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië mengandung maksud bahwa semula yang akan didirikan adalah sebuah perguruan teknik pada tingkat di antara MTS di Belanda dan perguruan tinggi (Hogere technische school (HTS) dan bukan Technische Hoogeschool (THS); 'politeknik' dan bukan 'sekolah tinggi teknik'). Oleh karena itu, Prof. Ir. Jan Klopper, guru besar TH Delft, telah ditugasi menyusun program pendidikan/kurikulum sesuai maksud KIHTONI. Program tersebut memuat rencana memusat di mana setelah tiga tahun studi, lulusannya dapat bekerja sebagai middelbaar technicus (teknisi menengah), dan bagi yang pintar dapat meneruskan studi untuk keinsinyuran. Namun berbagai kalangan di Indonesia tidak menghendaki program "setengah-setengah" tersebut, tetapi menghendaki perguruan tinggi penuh - technische hoogeschool dan bukan "sekedar" setingkat hogere technische school atau politeknik.
Technisch Onderwijs Comissie yang diketuai Ir. Rudolf Adriaan van Sandick dan diperbantukan pada KIHTONI telah merencanakan program studi keinsinyuran untuk insinyur sipil dan insinyur kimia. Sebagai sumber mahasiswa diambil lulusan HBS-B yang telah ada di Indonesia, dan dari sekolah menengah/persiapan perguruan tinggi (VHO AMS-B) yang sedang direncanakan dan dibuka tahun 1919 di Yogyakarta. Program ini pada prinsipnya disetujui, namun dengan catatan bahwa akan dipotong setengahnya, sehubungan dengan biaya pendirian yang sangat besar untuk insinyur teknik kimia, maka pada awal pendidikan insinyur kimia ditiadakan, dan telah ditetapkan untuk hanya mempersiapkan pendidikan untuk insinyur teknik sipil. Program studi secara prinsip meniru kurikulum TH Delft dengan modifikasi antara lain:
Kurikulum TH Bandung dirancang untuk studi selama 4 tahun, berbeda dengan TH Delft yaitu 5 tahun, dengan pertimbangan satu tahun pelajaran di Delft hanya memuat 25 minggu sementara di Bandung 40 minggu (4 x 40 = 160 > 5 x 25 = 125) – Sumber lain menyatakan satu tahun pelajaran di Delft memuat 28 minggu sementara di Bandung 35 minggu (4 x 35 = 140 ≡ 5 x 28 = 140). Masa ujian diambil 2 minggu, dan jumlah hari libur 10 minggu. Percepatan masa studi dari 5 tahun menjadi 4 tahun ini berkaitan dengan kebutuhan yang mendesak akan tenaga insinyur sebagaimana telah dibahas sebelumnya.
Tidak ada vrije studie (studi bebas) di tingkat satu, dalam arti misalnya adanya keharusan kuliah (para mahasiswa diharuskan menandatangani daftar hadir).
Sebabnya mungkin diadakan 'tentamen' dalam tahun kuliah sebelum ujian akhir tahun.
Dosen menyediakan diktat yang agak lengkap (untuk mengantisipasi keterbatasan dalam mendapatkan text book di tanah jajahan).
Matematika dikonsentrasikan di tingkat satu, dan langsung ditujukan pada kegunaannya dalam bidang teknik.
Sementara itu di Indonesia Ir. Henri MacLaine Pont telah merencanakan bangunan yang bergaya Minangkabau (Minangkabau stijl), sedangkan kota tempat lokasi kampus belum ditetapkan. Kalangan di Belanda memikirkan pilihan antara Solo/Yogya atau Batavia/Bandung. Technisch Onderwijs Comissie mengusulkan di Jakarta, tetapi Burgemeester (Walikota) Bandung, Bertus Coops dengan tegas mengajukan bahwa kotanya bersedia menerima TH itu, sekaligus menunjukkan lokasi kampusnya di dalam Kota Bandung.
Ketua Raad van Beheer J. W. IJzerman bersama Prof. Ir. Jan Klopper datang ke Indonesia pada tanggal 19 April 1919. Bersama dengan para pemuka di Indonesia, mereka mengadakan konferensi dengan Gouverneur Generaal Jonkheer Mr. Johan Paul van Limburg Stirum di istana tanggal 1 Mei 1919. Gubernur Jenderal menerima pendirian sekolah tinggi teknik itu di Bandung dengan harapan bahwa perguruan tinggi itu dapat dibuka dalam tahun 1920.
Dalam sidang Dewan Kota Bandung tanggal 3 Mei 1919 anggota dewan Eerdmans telah menekankan apa artinya penetapan tempat kedudukan tersebut bagi kota ini. Beliau menyebutnya sebagai suatu anugerah tertinggi dan membandingkannya dengan kehormatan kerajaan dari sesepuh Belanda yang diterima kota Leiden pada tahun 1579 untuk mendirikan suatu perguruan tinggi. TH Bandung akan ditetapkan sebagai bijzondere school (sekolah luar biasa) yang akan menerima subsidi dari Pemerintah sebesar setengah biaya eksploitasi. Segala biaya pembangunan dan perlengkapan akan ditanggung Institut (kemudian ditetapkan dalam Ordonnantie 11 April 1921, Staatsblad No.218). Lulusan TH Bandung dalam penempatan di kantor pemerintah akan diakui sama dengan lulusan TH Delft.
Pada tanggal 6 Januari 1920, korps guru besar TH Bandung yang akan memulai tahun akademiknya pada bulan Juli telah lengkap, mereka adalah Ir. Van Alphen de Veer untuk Pengetahuan tentang Penelitian Bahan Bangunan, Dr. Willem Boomstra untuk Matematika, Dr. Jacob Clay untuk Fisika, Ir. Jan Klopper untuk Mekanika Terapan, dan Richard Leonard Arnold Schoemaker (adik kandung Charles Prosper Wolff Schoemaker). Ir. Van Alphen de Veer dan Schoemaker sementara waktu tinggal di Belanda. Dr. Boomstra dan Dr. Clay akan segera datang.
Selama bulan Januari 1920, Prof. Ir. Klopper berkunjung ke empat HBS di Bandung, Batavia, Surabaya, dan Semarang untuk memberikan penyuluhan kepada orang tua atau wali murid dan para siswa itu sendiri untuk menjaring calon mahasiswa baru TH Bandung yang akan dibuka pada Juli 1920. Tim tersebut juga siap dan bersedia untuk memberikan informasi secara tertulis
Pada 3 Juli 1920, tepatnya sabtu jam 09.00 berlangsung Upacara Pembukaan Technische Hoogeschool te Bandoeng yang diadakan di gedung utama timur/Barakgebouw B yang belum sepenuhnya selesai, dihadiri para undangan antara lain para tokoh Hindia Belanda, anggota Raad van Indië, para Direktur Departemen, direktur Javasche Bank, anggota Volksraad, anggota Dewan Daerah Karesidenan Priangan (Resident der Preanger Regentschappen), Dewan Kota Bandung, dan berbagai pejabat pemerintah dan tokoh lainnya. Hadir juga Sultan Yogyakarta, Susuhunan Solo, kepala Keraton Paku Alaman, dan kepala Keraton Mangkunegaran. Dan pada saat dibukanya Sekolah Tinggi Teknik dinyatakan semua aktivitas diliburkan baik semua sekolah dan bank.
Ir. R. A. van Sandick (sebagai wakil Raad Beheer) menyampaikan bahwa peristiwa ini merupakan saat bersejarah yang penuh makna dalam perkembangan Hindia Belanda, yaitu dengan berdirinya instansi pertama untuk pendidikan tinggi di wilayah kepulauan yang luas ini.
Secara prinsip, tujuan pendiriannya adalah bahwa insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng akan setara dengan insinyur dari sekolah tinggi teknik terbaik di dunia barat, namun bukan berarti bahwa kurikulumnya merupakan salinan buta dari kurikulum TH Delft. Karena setiap pendidikan insinyur pada dasarnya harus memperhatikan kondisi dari negara di mana insinyur tersebut diharapkan akan bekerja. Dan ilmu rekayasa di daerah pegunungan yang berkontur ini, air harus bisa dimanfaatkan untuk pengairan sawah, yang tentunya berbeda dengan di Belanda yang rendah dan datar di mana air, yang merupakan musuh bebuyutan dari penduduk harus dibuang keluar dari dalam tanggul.
Rel kereta api antara Krawang dan Padalarang mempunyai tuntutan yang sangat berbeda dengan di Belanda yang relatif datar, dan sebuah dinas untuk urusan tenaga air dan listrik tidak akan pernah muncul dalam pemerintah Belanda. Akan tetapi ilmu rekayasa di Hindia Belanda berakar dari ilmu barat, dan taraf pengetahuan yang diterapkan di sekolah tinggi yang didirikan ini tidak boleh lebih rendah dari yang ada di tempat lainnya. Kaum muda bangsa apapun akan diterima di Technische Hoogeschool. Jumlah orang pribumi lulusan HBS 5 tahun tidak banyak dibanding dengan siswa bangsa lain, karena tidak ada kesempatan untuk pendidikan akademis lanjutan di Hindia Belanda. Demikian juga hasil dari pendidikan lanjutan melalui pengiriman ke Belanda sampai sekarang sangat sedikit. Setelah didirikannya Technische Hoogeschool diharapkan orang pribumi yang berbakat, dalam jumlah yang lebih besar dari sekarang, akan menyiapkan diri untuk studi lanjutan.
Pendaftaran untuk mahasiswa angkatan pertama ini telah diadakan pada hari Jumat, 2 Juli 1920 jam 08.00-10.00. Uang kuliah bagi mahasiswa reguler untuk satu tahun ƒ 200. Setelah dibuka secara resmi pada hari Sabtu (3 Juli 1920), maka pada hari Senin (5 Juli 1920) dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-1 dengan 22 mahasiswa yang kemudian bertambah menjadi 28 mahasiswa reguler yang terdiri dari 22 orang Eropa (di antaranya 2 wanita), 2 orang pribumi, dan 4 orang Tionghoa. Selain itu terdapat 5 mahasiswa luar biasa (pendengar) terdiri dari 3 orang untuk kuliah Matematika dan 2 orang untuk kuliah Fisika. Sebagai perbandingan, pada TA 1920-1921 TH Delft menerima 312 mahasiswa baru, sementara TA sebelumnya menerima 406 mahasiswa baru. Dua mahasiswa pribumi tersebut, R. Katamso berasal dari Solo, sementara R. Soeria Nata Legawa berasal dari Garut.
Kegiatan belajar yang sudah dimulai pada 5 Juli 1920, dengan demikian maka sudah terbentuklah staf pengajarnya yang meliputi Prof.Ir. Jan Klopper (Rector Manigsificus), Prof.Dr. Jacob Clay (Sekertaris), Prof.Dr. Willem Boomstra (guru besar matematika), Prof.Ir.Richard Leonard Arnold Schoemaker (guru besar arsitektur), Prof.Ir.W.H.A. van Alphen de Veer (guru besar luar biasa pengetahuan dan penelitian bahan bangunan). Adapun kurikulum yang diberikan adalah matematika dan mekanika, ilmu ukur tanah dan perataan, teknik sipil, ilmu alam, teknik mesin, teknik elektro, teknik kimia, arsitektur, teknik pertambangan dengan lama belajarnya lima tahun.
Sekolah Hukum Tinggi (Rehctskundige Hoogeschool)
Setelah THS di Bandung buka, maka selanjutnya dibuka perguruan tinggi Hakim yaitu Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta) biasa disingkat menjadi RH te Batavia (RHS) yang dibuka sejak 28 Oktober 1924 di Batavia. Sekolah RHS ini menerima siswa lulusan dari Rechtsschool dengan tujuan mendidik orang-orang Indonesia agar dapat menjadi hakim terdidik bagi golongan Bumiputra dengan lama belajarnya 4 tahun.
Pembukaan RHS (Selasa, 28 Oktober 1924) maka kedua sekolah tinggi tersebut diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang pendidikan/perguruan tinggi di Hindia Belanda yang selanjutnya disebut Hooger Onderwijs Wet 1924 Ordonnantie 9 Oktober 1924 No.1 (Stb. No. 457/1924) yang di antaranya mengatur:
Sebuah sekolah tinggi tidak mencakup lebih dari satu fakultas; sebuah fakultas dapat dibagi menjadi beberapa bagian yang masing-masing mewakili suatu disiplin tertentu; beberapa sekolah tinggi dapat disatukan menjadi sebuah universitas.
Warga negara secara otomatis diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi di:
Fakultas Teknik
Fakultas Hukum
Bidang pelajaran yang diberikan untuk pendidikan sarjana hukum di RHS Batavia adalah Pengantar ilmu hukum, Hukum tata negara di Hindia Belanda, Hukum perdata dan hukum acara perdata di Hindia Belanda, Hukum pidana dan hukum acara pidana di Hindia Belanda, Hukum adat, Hukum Islam dan lembaganya, Hukum dagang di Hindia Belanda, Sosiologi, Ekonomi studi pembangunan, Etnologi di Hindia Belanda, Bahasa Melayu, Bahasa Jawa, Bahasa Latin, Filsafat hukum, Prinsip hukum perdata Romawi, Hukum perdata internasional, Hukum antar golongan, Kriminologi, Psikologi, Kedokteran forensik, Hukum internasional, Hukum kolonial negara lain, Sejarah Hindia Belanda, dan Statistika.
Rencana masa studi untuk RHS selama empat tahun, dibagi menjadi dua periode utama. Periode pertama ditutup dengan candidaats-examen, yang kedua adalah doctoraal-examen. Candidaats-examen dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama diujikan pada akhir tahun pertama (C1), yang kedua pada akhir tahun kedua (C2). Doctoraal-examen juga dilakukan dalam dua bagian, bagian pertama diujikan pada akhir tahun ketiga (D1), yang dibagi menjadi empat arah: (1) Hukum privat/perdata; (2) Hukum pidana; (3) Hukum tata negara; (4) Sosiologis dan ekonomi. Mereka yang berhasil lulus doctoraal-examen (D2) memperoleh status meester in de rechten.
Mereka yang berstatus meester in de rechten serta memenuhi persyaratan untuk menempuh promosi ke doktor dalam ilmu hukum di universitas di Belanda, dapat menempuh promosi untuk meraih gelar Doktor Ilmu Hukum.
Staf pengajar/dosen diangkat oleh Gubernur Jenderal dan dibagi atas guru besar tetap/biasa (gewoon hoogleraar), guru besar luar biasa/tidak tetap (buitengewoon hoogleraar), lektor tetap (gewoon lector), lektor luar biasa/tidak tetap (buitengewoon lector). Guru besar yang berhenti dengan hormat tetap memegang gelar hoogleraar, peraturan ini tidak berlaku bagi guru besar luar biasa. Perlu diperhatikan bahwa sebutan "profesor" tidak ditulis dalam Hooger Onderwijs Ordonnantie maupun Reglement.[2]:23
Dengan dikeluarkannya UU tersebut pada tahun 1924, semakin kuatlah dasar pijakan bagi Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta RHS. Tiga tahun ke depan, tepatnya tahun 1927, bertambah lagi sekolah tinggi di negeri ini, yaitu Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta GHS. Berdasarkan Besluit tanggal 21 Oktober 1924 ditunjuk sebagai Dewan Kurator RHS, meliputi;
Presiden Kurator yaitu Mr. K. F. Creutzberg - anggota Raad van Indië;
Anggota Kurator yaitu:
Mr. L. J. A. Trip - Presiden Javasche Bank;
Raden Adipati Aria Achmad Djajadiningrat - Bupati Batavia;
Mr. G. A. Hoeffelman - Ketua Hooggerechthof (Mahkamah Agung);
H. H. Kan - anggota Volksraad;
Mr. A. H. van Ophuyzen - candidaat-notaris di Batavia;
J. R. Schenck de Jong - Residen Batavia.
Susunan guru besar tetap (gewoon hoogleraar) adalah Mr. A. H. M. J. van Kan (Hukum perdata dan hukum acara perdata di Hindia Belanda), Mr. J. H. J. Schepper (Hukum pidana dan hukum acara pidana di Hindia Belanda, Kriminologi, dan Filsafat hukum), R. A. Dr. Hoesein Djajadiningrat (Hukum Islam dan pranata sosial, dan Bahasa Melayu), Mr. Dr. R. D. Kollewijn (Pengantar ilmu hukum, Hukum dagang di Hindia Belanda, Hukum perdata internasional, dan Hukum antar golongan), Dr. D. A. Logeman (Hukum tata negara dan Hukum administrasi negara di Hindia Belanda), Dr. B. J. O. Schrieke (Sosiologi dan Etnologi di Hindia Belanda). Sedangkan guru besar luar biasa (buitengewoon hoogleraar) meliputi Mr. Dr. F. M. baron van Asbeck (Hukum internasional, dan Hukum kolonial negara lain), Dr. J. H. Boeke (Ekonomi studi pembangunan), Mr. B. ter Haar (Hukum adat). Susunan lektor luar biasa (buitengewone lector) RHS meliputi Dr. E. Bessem (Bahasa Latin), J. Cats (Bahasa Jawa).
Pendidikan Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hogeschool)
Perguruan Tinggi setelah Sekolah Tinggi Teknik di Bandung, Sekolah Hukum Tinggi, maka sekolah tinggi lanjutnya adalah Sekolah Tinggi Kedokteran. Sekolah Tinggi Kedokteran pertama di Indonesia yaitu School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) merupakan sekolah untuk pendidikan dokter pribumi di Batavia pada zaman kolonial Hindia-Belanda.
Pendirian STOVIA ini dikarenakan adanya kekhawatiran akan kurangnya tenaga juru kesehatan untuk menghadapi berjangkitnya berbagai macam penyakit berbahaya di wilayah-wilayah jajahannya, sehingga membuat pemerintah kolonial menetapkan perlunya diselenggarakan suatu kursus juru kesehatan di Hindia Belanda. Pada 2 Januari 1849, dikeluarkanlah Surat Keputusan Gubernemen no. 22 mengenai hal tersebut, dengan menetapkan tempat pendidikannya di Rumah Sakit Militer (di kawasan Weltevreden, Batavia).
Pada tahun 5 Juni 1853, kegiatan kursus juru kesehatan ditingkatkan kualitasnya melalui Surat Keputusan Gubernemen no. 10 menjadi Sekolah Dokter Djawa, dengan masa pendidikan enam tahun setelah masa persiapan tiga tahun. Lulusannya berhak bergelar "Dokter Djawa", akan tetapi sebagian besar pekerjaannya adalah sebagai mantri cacar.
Selanjutnya Sekolah Dokter Djawa yang terus menerus mengalami perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Pada tahun 1889 namanya diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen (Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi), lalu pada tahun 1898 diubah lagi menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Sekolah Dokter Pribumi). Akhirnya pada tahun 1913, diubahlah kata Inlandsche (pribumi) menjadi Indische (Hindia) karena sekolah ini merupakan sekolah pertama yang mengumpulkan murid-murid dari seluruh penjuru tanah air baik kalangan atas, kalangan tengah, dan kalangan bawah yaitu termasuk penduduk keturunan "Timur Asing" dan Eropa, sedangkan sebelumnya hanya untuk penduduk pribumi. Selain itu STOVIA di Jakarta mendapatkan teman dengan didirikannya NIAS (Nederlandsch Indesche Artsen School). Pendidikan dapat diperoleh oleh siapa saja yang lulus ujian dan masuk dengan biaya sendiri. Nama STOVIA tetap digunakan hingga tanggal 9 Agustus 1927, yaitu saat pendidikan dokter resmi ditetapkan menjadi pendidikan tinggi, dengan nama Geneeskundige Hoogeschool (atau Sekolah Tinggi Kedokteran). Sembilan tahun kemudian STOVIA dihapuskan dan tinggallah NIAS yang tetap menjalankan tugas sebagai sekolah kedokteran setengah akademis.
Mahasiswa STOVIA, selain nantinya bisa menjadi dokter cacar tetapi mahasiswa STOVIA ini akan membentuk organisasi kebangsaan. Yaitu dengan dimulainya ketika majalah Retnodhoemilah yang dengan bahasa Melayu, yang dipimpin oleh Wahidin Soedirohoesodo tahun 1901. Melalui majalah atau surat kabar Retnodhoemilah, Wahidin memperkenalkan pikiran, cita-cita, dan programnya kepada masyarakat luas. Salah satu pikiran pokok Wahidin adalah kemunduran Jawa sejak abad ke-16 yaitu ketika Islam mengakhiri peradaban Hindhu-Budha, sementara masyarakat Cina dan Arab jauh lebih maju. Kini kemajuan jawa akan dicapai dengan ilmu pengetahuan Barat lewat pendidikan, tetapi tanpa melupakan warisan peradaban Jawa. Pada dasarnya Wahidin yakin bahwa pendidikan modern bersama dengan pengalaman budaya Jawa akan dapat membantu masyarakat mengatasi masalah kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya Wahidin selalu setia memberitakan dan mengomentari dengan penuh simpati munculnya upaya masyarakat bentuk organisasi untuk menambah ilmu pengetahuan.
Kebetulan pemikiran dan usul Wahidin muncul bersamaan dengan rencana pemerintah untuk memajukan pendidikan. Sejak 1900, Mr. J.H.Abendanon sangat bersemangat melaksanakan rencana itu dalam kedudukannya sebagai Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Indutri. Oleh karena itu, cita-cita dan progam Wahidin kurang mendapat sambutan. Lalu ia memutuskan untuk berlangsung menemui para pemuka masyarakat Jawa dan meminta mereka terlibat khususnya menyumbangkan dana beasiswa, untuk melaksanakan gagasan ini ia melepaskan pekerjaannya sebagai pemimpin redaksi Retnodhoemilah. Akan tetapi, upaya Wahidin untuk mengumpulkan dana tersebut kurang berhasil. Walaupun demikian, cita-citanya yang luhur itu serta usahanya yang gigih tersebut membangkitkan jiwa beberapa siswa Sekolah Dokter Bumiputra (STOVIA) di Batavia. Mereka menyebut usahanya tersebut sangat baik dan berdasarkan keutamaan budi, mereka juga mengusulkan agar dibentuk organisasi yang bertujuan lebih luas. Organisasi ini seyogyanya tidak hanya membantu pendidikan, tetapi juga menyadarkan penduduk Jawa akan keutamaannya.
Akhirnya usul dari siswa-siswa STOVIA itulah yang menang ketika beradaban dengan keengganan dan ketakutan para pejabat Bumiputra terhadap cita-cita Wahidin. Pada hari minggu, 20 Mei 1908 tepatnya jam 09.00 pagi, para siswa STOVIA berhasil mengumpulkan rekan-rekan mereka dari seluruh Jawa di aula STOVIA, Weltevreden di Batavia untuk membentuk organisasi yang akan memperjuangkan cita-cita Wahidin. Rekan-rekan siswa STOVIA ini berusia antara 19-20 tahun, mereka adalah siswa dari tujuh sekolah menengah di Jawa yaitu Cultuurschool (Bogor), OSVIA (Magelang dan Probolinggo), Normaalschool (Yogyakarta, Bandung, Probolinggo), dan HBS (Surabaya). Hari itu organisasi yang mereka bentuk secara resmi adalah Boedi Oetomo (BO) dengan Soetomo sebagai ketua, Goenawan dan Soewarno sebagai sekertaris. Dengan segera organisai organisasi baru itu menuntut pengorbanan dari Soetomo, teman-temannya, dan para siswa lain di STOVIA karena pengorbanan ini bisa mengancam tugas mereka sebagai pelajar sehingga para siswa mulai ragu. Soetomo dan para teman-temannya menyadari bahwa BO dapat berfungsi hanya jika dipimpin oleh mereka yang sudah berpenghasilan dan berpengalaman. Kesadaran itu membuat Soetomo dan teman-temannya berjuang sekuat tenaga mengadakan kongres BO dan secara resmi menjadikannya organisasi bagi seluruh masyarakat Jawa (Algemeen Javaansche Bond). Ia dan rekan-rekannya tidak hanya berkorban tenaga dan waktu, tetapi juga uangnnya. Dimana mereka sampai menjual arloji mereka sendiri dan barang berharga lainnya demi kongres, selain itu mereka juga memperluas keanggotaan BO.
Sejak dimulainya Perguruan Tinggi sampai dengan tahun ajaran 1929/1930, jumlah mahasiswa Eropa lebih banyak daripada jumlah mahasiswa pribumi. Mula-mula dibuka (1920-1921), jumlah keseluruhan mahasiswa Indonesia tidak lebih dari 2 orang, golongan Cina sebanyak 4 orang, sedang dari golongan Eropa adalah 22 orang. Tetapi setelah itu, tahun berikutnya jumlah mahasiswa Indonesia semakin meningkat. Perbandingan ini akan mencolok lagi jika diperhatikan pula angka tamatan perguruan tinggi. Pertama kali orang Indonesia menamatkan pelajaran di sekolah tinggi pada 1925, dimana jumlah mahasiswa Indonesia yang lulus adalah 4 orang, Eropa sebanyak 9 orang, dan orang Cina adalah 3 orang. Kecilnya angka kelulusan ini disebabkan karena pada waktu itu jumlah penduduk Indonesia kira-kira 70 juta jiwa, sedangkan jumlah siswa yang menduduki sekolah rendah "Bumiputra" telah mendekati angka 2 juta.
Disamping kesempatan belajar di dalam negeri, sebenarnya sejak awal abab 20 telah pula mulai pintu terbuka bagi anak untuk belajar di luar negeri terutama di negeri Belanda. Pada tahun 1900 ada lima orang yang belajar di Belanda, dan secara perlahan-lahan jumlah ini makin lama makin naik. Bangsawan terkemuka dan kaya mulai mengirimkan anak-anaknya ke negeri Belanda yang betul-betul dirasakan penuh harapan. Karena yang dapat dibiayai oleh pemerintah ini sangat sedikit jumlahnya, hanya yang betul-betul mampu yang sanggup mengirim anaknya ke Eropa. Oleh karena itu, banyak diantara mahasiswa yang dianggap sebagai "warga negara" Indonesia yang berasal dari golongan Cina yang mempunyai kehidupan ekonomi yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Simbolon, T. Parakitri. 2006. Menjadi Indonesia. Jakarta: KOMPAS
Djoened Poesponegoro, Marwati dan Nugroho Notosusanto. 2009. Sejarah Nasional Indonesia: " Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda". Jakarta: Balai Pustaka.
Suparwoto.2013.Handout "Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Indonesia". Surabaya: Unesa University Press
Nasution, S. 1995. Sejarah Pendidikan Nasional. Jakarta: Bumi Aksara.
Wikipedia (online, diakses pada 15 Desember 2013) mengambil rujukan dari:
Sakri, A. (1979a). Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan lustrum keempat 2 Maret 1979, Jilid 1: Selintas perkembangan ITB. Bandung: Penerbit ITB.
Goenarso (1995). Riwayat perguruan tinggi teknik di Indonesia, periode 1920-1942. Bandung: Penerbit ITB.
Somadikarta, S. (1999). Tahun emas Universitas Indonesia, Jilid 1: Dari Balai ke Universitas. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
 De ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi September 1936, Tahun ke-3 No. 9 dan 7
Verlenging van den studietijd" dalam Harian "De Sumatra post" edisi 23 Januari 1939, Tahun ke-41 No.19.
Nortier, J. J. (1987). "De afdeling Operatiën van het Algemeen Hoofdkwartier KNIL in 1941/42".
Brugmans, H. (ed). (1923). Officieel gedenkboek ter gelegenheid van het vijf en twintig jarig regeeringsjubileum van Hare Mejesteit Koningin Wilhelmina Helena Pauline Maria. Amsterdam: Van Holkema & Warendorf.
Reksodiputro, M. (2004). Reformasi dan reorientasi pendidikan tinggi hukum di Indonesia. Jakarta: Tim Peneliti Komisi Hukum Nasional.
"Sejarah Singkat FKUI", Situs Resmi FKUI, diakses Mei 2007
Antara lain penduduk keturunan Tionghoa, Arab, dan India
Kisi-kisi Rubrik Assesmen
(Pendidikan di Indonesia masa Penjajahan Belanda abad 20)
Indikator Tujuan Pembelajaran Rubrik Assesmen dan LKS Kunci LKS
Produk :
Menganalisis kepentingan-kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia abad ke-20.
Menganalisis kebijakan politik etis
Mengidentifikasi ciri umum pendidikan Belanda
Menganalisis sekolah-sekolah sebagai implementasi politik etis.
Menganalisis tingkat pendidikan untuk masyarakat pribumi Indonesia abad ke- 20.
Produk
Diberikan penjelasan secara singkat tentang kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia, siswa mampu menganalis kepentingan Belanda mendirikan sekolah di Indonesia abad ke-20 dengan benar.
Diberikan foto Van Deveenter serta video tentang kebijakan politik etis, siswa dapat menganalisis kebijakan politik etis yang diterapkan di Indonesia dengan benar.
Mengispirasi siswa dengan menujukkan gambar-gambar sekolah rendah kelas I dan kelas II, di akhir kegiatan belajar mengajar siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri pendidikan yang dibangun oleh Belanda di Indonesia pada abad ke- 20 dengan benar.
Diberikan gambar perkembangan sekolah di Indonesia sebagai implementasi kebijakan politik etis. Siswa dapat menganalisis sekolah-sekolah sebagai implementasi dari politik etis dengan benar.
Diberikan gambar siswa Technische Hoogeschool dan Rehctskundige Hoogeschool serta hasil pendidikan di Indonesia, siswa dapat menganalisis dampak pendidikan di Indonesia abad ke- 20 masa penjajahan Belanda.
Rubrik pilihan ganda dan esai, serta afektif
Rubrik pilihan ganda dan esai, serta afektif
Rubrik pilihan ganda dan esai, serta afektif
Rubrik pilihan ganda dan esai, serta afektif
Rubrik pilihan ganda dan esai, serta afektif
Kunci LKS "pilihan ganda dan esai"
Kunci LKS "pilihan ganda dan esai"
Kunci LKS "pilihan ganda dan esai"
Kunci LKS "pilihan ganda dan esai"
Kunci LKS "pilihan ganda dan esai"
Afektif:
Menunjukkan sikap saling menghargai pendapat, jujur, disiplin, kerjasama, partisipasi, dan tanggung jawab dalam mempelajari peristiwa sejarah sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
Afektif:
Terlibat dalam KBM yang berpusat pada siswa, siswa dapat menunjukkan sikap saling menghargai pendapat, berbagi tugas, partisipasi, bekerja sama, memberi dukungan minimal dengan rubrik assesmen untuk sikap kooperatif atau afektif.
Rubrik assesmen b
Psikomotor:
Membuat makalah tentang perkembangan pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke- 20.
Psikomotor:
Diberikan foto Van Deveenter serta video tentang politik etis, siswa dapat membuat laporan berupa makalah tentang kebijakan politik etis dan dampaknya dalam bidang pendidikan di Indonesia.
Rubrik assesmen a. Keterampilan Sosial
Melakukan komunikasi meliputi mengajukan pertanyaan, berpendapat, dan tanya jawab.
Keterampilan Sosial
Terlibat dalam KBM yang berpusat pada siswa, siswa dapat melakukan komunikasi meliputi persentasi, bertanya, bekerjasama, dan berpendapat minimal dinilai dengan rubrik assesmen diskusi, persentasi, bertanya jawab.
Rubrik assesmen c, e. Daftar Pustaka
Mastuti,dkk.2013. Perencanaan Pembelajaran Sejarah (PPS).Surabaya:UNESA
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Jogyakarta: Pustaka Pelajar.


Download RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan :SMA Negeri Pelajaran :Sejarah Kelas :X I Sub Materi Pokok :Pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke-20 Alokasi Waktu :3 X 40 Menit.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan :SMA Negeri Pelajaran :Sejarah Kelas :X I Sub Materi Pokok :Pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda abad ke-20 Alokasi Waktu :3 X 40 Menit. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon