November 30, 2016

Peran Wanita Karir


Judul: Peran Wanita Karir
Penulis: Wiwit Tri Rahayu


SOSIOLOGI
PERAN WANITA DALAM SEKTOR PUBLIK DAN PERMASALAHANNYA

WANITA KARIR

Disusun oleh :
WIWIT TRI RAHAYU
(071311233082)No. Absen : 88
MAHASISWA DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS AIRLANGGA
Kata Pengantar
Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga makalah mata kuliah Sosiologi ini dapat diselesaikan tepat waktu tanpa adanya kendala-kendala yang berarti. Makalah ini berisi kajian tentang peran aktif wanita dalam sektor publik beserta permasalahannya. Makalah ini mengambil tema WANITA KARIR. Mencakup berbagai hal yang berpengaruh di dalamnya, antara lain latar belakang dan tujuan penulisan, pengertian mengenai gender, pengaruh gender bagi wanita, peran wanita, alasan wanita memilih berkarir, beban karir pada wanita, hambatan wanita dalam berkarir, beserta teori-teori yang berlaku dalam permasalahan tersebut.
Terima kasih saya ucapkan kepada seluruh pihak yang telah sedikit banyak membantu dalam proses pembuatan makalah ini, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bantuan tersebut sangat membantu penyelesaian makalah ini. Semoga Tuhan yan Maha Esa membalas segala kebaikan pihak-pihak tersebut dan meridhoi atas selesainya makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini berguna dan bermanfaat serta dapat membantu proses belajar bagi siapa saja yang menggunakannya dengan baik dan benar. Amin.
Surabaya, 15 Desember 2013
Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar .......................................................................................2
Daftar Isi ................................................................................................3
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang .......................................................................4
Rumusan Masalah ..................................................................5
Tujuan Penulisan ...................................................................5
BAB II : PEMBAHASAN
Pengertian Gender .................................................................6
Pengaruh Gender bagi Wanita ...............................................6
Alasan Wanita Memilih Berkarir ...........................................7
Alasan Ekonomi .........................................................8
Alasan Sosial ..............................................................8
Alasan Budaya ...........................................................8
Tuntutan Lain-Lain ....................................................8
Hambatan Wanita untuk Berkarir ..........................................9
Beban Wanita dalam Berkarir ................................................9
Teori-Teori .............................................................................10
BAB III : PENUTUP
Kesimpulan .............................................................................11
Saran .......................................................................................11
Daftar Pustaka .........................................................................................12
BAB IPENDAHULUAN
I.1Latar Belakang
Pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia dinilai masih perlu mendapatkan prioritas utama oleh pemerintah Indonesia. Pembangunan tersebut tidak hanya terpacu pada pria saja atau wanita saja. Namun kenyataan yang ada menunjukkan bahwa wanita masih cenderung dipandang sebelah mata dalam hal seperti ini. Pandangan masyarakat umum tentang peran wanita masih sangat sempit. Mereka cenderung memandang wanita hanya sebagai ibu rumah tangga. Anggapan tersebut mungkin ada benarnya, namun wanita juga mampu berperan ganda sebagaimana pria pada umumnya. Wanita juga memiliki kekuatan untuk bekerja dan berprofesi.
Pada era seperti ini, wanita bukan lagi mereka yang dikurung di rumah dan hanya diperbolehkan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan rumah saja. Wanita telah diberikan kebebasan yang sama sebagaimana dengan pria. Wanita memiliki kesempatan belajar yang sama dengan pria, begitu juga dalam hal pekerjaan. Tidak sedikit wanita yang mampu mengerjakan pekerjaan pria pada umumnya, seperti mencangkul, menjadi tukang becak, dan banyak hal lainnya. Peran wanita tersebut bukan tanpa alasan. Banyak alasan yang mungkin menjadi dorongan tersendiri bagi wanita untuk memanfaatkan emansipasi yang telah didapatkannya.
Wanita bukan berarti harus lepas dari tanggung jawab asalnya sebaga seorang ibu dan istri. Kesempatan yang dimiliki wanita tersebut menuntutnya untut berperan ganda dalam hidupnya. Hal ini membuktikan bahwa bukan tidak mungkin bagi wanita untuk menjadi dan memiliki profesi tertentu. Meskipun banyak kendala yang nantinya akan dijumpai dalam peran gandanya tersebut. Secara tidak langsung wanita harus menyadari bahwa dirinya memiliki kesempata yang sama dengan pria, yang mungkin kesempatan tersebut dianggap terlalu sulit bagi wanita.
Di sisi lain, wanita harus tetap mempertimbangkan keputusannya untuk memilih peran ganda secara baik dan matang. Wanita harus memperhatikan beban-beban, hambatan, serta tanggung jawab yang harus ditanggung jika ia memilih peran ganda tersebut. Namun, segala hambatan tersebut bukan menjadi alasan bagi wanita untuk tidak berkarir atau berprofesi. Wanita dengan kesadarannya harus tetap menjunjung tinggi emansipasinya melalui berbagai cara, antara lain melalui perannya dalam sektor publik.
Makalah ini dibuat dengan memandang kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya peran wanita serta maraknya pandangan sebelah mata tentang wanita. Anggapan yang rendah akan seorang wanita sudah tidak seharusnya muncul dalam masyarakat sekarang ini. Wanita memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan pria. Wanita juga memiliki kemampuan untuk berperan ganda, yaitu sebagai ibu rumah tangga serta berkarir sebagaimana yang ia inginkan, meskipun beban dan hambatan yang dijumpai akan lebih banyak dibandingkan dengan pria.
I.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah yang akan di bahas adalah :
Apa pengertian dari gender ?
Apa pengaruh gender bagi wanita ?
Apa faktor-faktor yang menjadi alasan wanita untuk berkarir ?
Apa yang menjadi hambatan bagi wanita untuk berkarir ?
Apa yang menjadi beban bagi wanita karir ?
Apa teori-teori yang berhubungan dengan wanita karir ?
I.3Tujuan Penulisan
Dengan rumusan masalah yang telah diutarakan di atas, tujuan penulis dalam pembuatan makalah tentang penyimpangan sosial ini adalah agar pembaca dapat :
Mengetahui dan memahami pengertian gender
Mengetahui pengaruh gender bagi wanita
Mengetahui faktor-faktor yang menjadi alasan bai wanita untuk berkarir
Mengetahui hambatan-hambatan bagi wanita untuk berkarir
Mengetahui beban-beban bagi wanita karir
Mempelajari teori-teori yang berhubungan dengan wanita karir
BAB IIPEMBAHASAN
II. 1.Pengertian Gender
Kata gender berasal dari bahasa Inggris, yang dalam kamus tidak dibedakan secara jelas antara gender dan sex. Namun pada dasarnya, gender dan seks memiliki perbedaan yang signifikan. Echols dan Shadily (1983: 265) menyebutkan bahwa gender berarti jenis kelamin. Menurut Women's Studies Encyclopedia, gender adalah suatu konsep kultural, yang berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara pria dan wanita yang berkembang dalam masyarakat. Gender adalah perbedaan yang akan terlihat antara pria dan wanita ditinjau dari nilai dan tingkah laku. Gender digunakan untuk membedakan pria dan wanita secara sosial. Gender ada untuk menilai dan membedakan manusia bukan dari segi fisik, melainkan peran dan fungsinya dalam masyarakat sosial. Selain itu, gender juga bersifat relatif dan kontekstual. Gender bersifat relatif ditinjau dari segi budaya dan masyarakat mana yang memandang gender tersebut. Berikut perbedaan antara gender dan seks :
SEKS GENDER
Biologis Kultur, Adat Istiadat
Pemberian Tuhan (kodrat) Bentukan setelah lahir
Diajarkan melalui sosialisasi internalisasi
Kodrat (alami) Konstruksi sosial
Tidak dapat diubah Dapat diubah (dinamis)
Peran seks :
Pria : Produksi
Wanita : Reproduksi (haid, hamil, melahirkan, menyusui, dll) Peran gender :
Memasak, mencuci, merawat anak dan orangtua, mendidik anak, bekerja, memiliki profesi, dll.

II. 2.Pengaruh Gender bagi Wanita
Adanya perbedaan gender antara pria dan wanita tersebut akhirnya melahirkan berbagai ketimpangan dan ketidakadilan antara kaum pria dan kaum wanita. Kaum pria seringkali merasa dan dianggap lebih hebat dan kuat dalam banyak bidang dibanding dengan kaum wanita. Anggapan tersebut erat kaitannya dengan fisik dan tampilan yang dimiliki oleh pria dan wanita. Di sisi lain, wanita lebih cenderung dianggap lemah dan menjadi bahan atau korban kekerasan dan berbagai pelecehan oleh kaum pria. Perbedaan gender itu pula yang melahirkan perbedaan kesempatan kerja antara pria dan wanita. Gender telah melahirkan berbagai anggapan yang menilai bahwa memperkerjakan pria akan lebih menguntungkan daripada memperkerjakan seorang wanita. Hal ini secara jelas akan cenderung merugikan wanita.
Gender memiliki peran penting dalam perolehan kesempatan dalam sektor publik. Wanita yang memiliki beban kerja di rumah menjadi sulit untuk ikut serta dalam sektor publik. Pekerjaan rumah tangga yang biasa dikerjakan oleh wanita dianggap remeh dan rendah, sehingga wanita dianggap hanya bisa mengerjakan pekerjaan yang rendah saja. Sedangkan pekerjaan pria dianggap lebih berat dan menantang, dianggap pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh wanita, sehingga pria dianggap bisa melakukan hal yang ebih dibandingkan dengan wanita.
Moore dan Sinclair (1995) mengidentifikasikan ada dua segregasi jenis kelamin pada angkatan kerja, yaitu segregasi vertikal dan segregasi horizontal. Segregasi vertikal mengacu pada terkonsentrasinya pekerja wanita pada jenjang yang rendah pada suatu organisasi atau pekerjaan, seperti pengasuh anak, pramusaji, tenaga kebersihan, guru taman kanak-kanak, dll. Segregasi vertikal ini seolah menggambarkan adanya tangga-tangga yang membedakan tingkat pekerjaan wanita dan pria. Sedangkan segregasi horizontal menggambarkan pada kenyataan bahwa pekerjaan wanita berbeda dengan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh kaum pria. Segregasi horizontal memberi kesan seakan jenis pekerjaan tertentu relatif tertutup bagi kaum wanita.
Anggapan tersebut membuat peluang kerja bagi wanita sangat terbatas. Masyarakat cenderung mengabaikan kemampuan lebih yang dimiliki oleh wanita dan lebih mempercayakan peluang kerja kepada kaum pria. Masyarakat masih belum bisa benar-benar memberikan posisi yang sama antara pria dan wanita. Adat peran para wanita untuk menjadi ibu rumah tangga membuat wanita seolah tidak pantas untuk bekerja. Pandangan-pandangan mengenai gender tersebut jelas mempersempit peluang kerja wanita dalam sektor publik.
II. 3.Alasan Wanita Memilih Berkarir
Ada banyak hal yang menjadi faktor pendorong mengapa wanita ingin berkarir. Wanita memiliki peran sebagai ibu rumah tangga yang merupakan peran mutlak yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Bahkan secara tidak langsung setiap wanita pasti akan menjadi ibu rumah tangga dan memiliki jiwa keibuan. Secara umum, ada dua faktor yang mendorong wanita untuk berkarir, yaitu faktor keinginan dan tuntutan. Berikut penjelasan lebih mengenai faktor-faktor lain, yaitu ekonomi, sosial, dan buadaya.
II. 3. a. Alasan Ekonomi
Faktor ekonomi merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang mendorong wanita untuk berkarir. Kebutuhan keluarga yang tidak dapat dicukupi oleh seorang suami akan secara langsung dan tidak langsung menuntut seorang wanita yang menjadi istri untuk ikut bekerja mencari penghidupan untuk keluarganya. Selain itu, wanita yang merasa memiliki terlalu banyak kebutuhan tambahan akan sangat tertarik untuk meniti karir agar kebutuhannya dapat terpenuhi dengan mudah. Wanita merasa mampu dan perlu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus sepenuhnya bergantung kepada orangtua ataupun suami. Alasan tersebut mendorong wanita untuk turut serta terjun ke dunia karir di samping kehidupan rumah tangganya.
II. 3. b. Alasan Sosial
Alasan atau faktor sosial yang mendorong wanita untuk berkarir umumnya adalah keinginan untuk ikut serta dalam lingkungan yang aktif. Kebiasaan wanita untuk selalu ingin berada di lingkungan kalangannya akan mampu membuatnya mengikuti apa yang dilakukan oleh kalangannya. Jika seorang wanita bergaul dengan para wanita karir, tidak menutup kemungkinan wanita terseut akan ikut menuai karir juga. Wanita juga ingin memiliki status sosial yang tinggi, yang salah satu pencapaiannya adalah dengan berkarir. Wanita yang aktif dalam kehidupannya akan merasa kurang jika ia tidak melakukan karir dan memiliki profesi tertentu. Selain itu, karir dan profesi akan menambah lingkungan sosial bagi wanita yang aktif bersosialisasi
II. 3. c. Alasan Budaya
Budaya atau adat yang ada di masyarakat tidak semuanya menuntut para pria untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Ada budaya yang justru menuntut para wanita untuk bekerja memenuhi kebutuhan keluarga. Adat dan budaya yang seperti ini secara tidak langsung menuntut dan memaksa wanita untuk bekerja dan berkarir menjadi tulang punggung keluarganya. Wanita karir yang seperti inilah yang menuai pekerjaannya mungkin dengan agak sedikit terpaksa. Budaya yang ada membuat wanita secara terpaksa harus berperan ganda menjadi ibu rumah tangga serta mencari nafkah bagi keluarga.
II. 3. d. Tuntutan Lain-Lain
Tuntutan-tuntutan lain yang membuat wanita berkarir dan berprofesi antara lain adalah paksaan dari pihak-pihak tertentu. Ada kalanya seorang wanita dituntut untuk meneruskan suatu karir yang tidak ia inginkan sama sekali hanya untuk menjaga kelangsungan suatu tujuan. Hal ini jelas merupakan paksaan secara tidak langsung bagi para wanita.
II. 4. Hambatan Wanita untuk Berkarir
Ada cukup banyak hambatan bagi wanita untuk berkarir dan menuai karirnya dalam sektor publik. Hambatan-hambatan tersebut adakalanya dari dalam diri wanita itu sendiri atau bahkan dari luar hingga pihak-pihak lain yang bersangkutan. Wanita cenderung memiliki lebih banyak hambatan dan tantangan dalam berkarir dibanding dengan pria. Hambatan tersebut antara lain adalah karena masih rendahnya peluang yang dimiliki oleh wanita untuk bekerja dan berusaha, terutama dalam sektor formal. Berbagai sektor masih cenderung bersifat patriarki, dimana kaum pria lebih mendominasi dibandingkan kaum wanita. Sedangkan sektor yang bersift matriarki, yaitu didominasi oleh wanita, masih sedikit berkembang. Kurangnya dan rendahnya akses yang dimiliki perempuan dalam hal sumber daya ekonomi, seperti teknologi, informasi, pasar, kredit, dan modal kerja juga sangat menghambat wanita untuk menuai karir. Wanita yang sudah berkeluarga pastilah memiliki akses yang terbatas dan tergantung dengan keputusan seorang suami.
Hambatan selanjutnya adalah adanya pembagian kerja yang kurang adil antara pria dan wanita. Wanita yang telah terlibat dalam pekerjaan produksi masih tetap dianggap menanggung beban reproduksi di dalam rumah tangga secara keseluruhan. Dalam hal ini perlu adanya kesadaran suami untuk turut membantu istri dalam hal-hal rumah tangga jika keduanya saling terlibat dalam sektor produksi. Posisi wanita yang terbilang masih dianggap rendah di mata sosial dan politik juga sedikit mempersulit gerak wanita untuk terus maju. Juga masih hidupnya anggapan-anggapan bahwa hasil pekerjaan wanita hanyalah sebagai penghasilan tambahan meskipun penghasilan yang diperoleh mungkin lebih besar.
II. 5. Beban Wanita dalam Berkarir
Dalam berkarir, wanita juga memiliki banyak beban yang masih harus ditanggung dalam ranah kehidupannya. Beban yang dimiliki oleh wanita karir adalah sesuatu yang berkaitan dengan tanggung jawab atas pilihannya untuk berkarir. Wanita karir memiliki arti bahwa dia adalah wanita dengan peran ganda. Ia memiliki dua tanggung jawab yang harus sama-sama diprioritaskan. Wanita karir masih tetap memiliki tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga dan mengurus segala keperluan keluarga yang ada. Ia masih tetap harus bertanggung jawab atas suami dan anaknya jika memang sudah berkeluarga. Wanita karir juga harus tetap menjaga keharmonisan keluarga dan memberikan waktu untuk keluarga. Beban di ranah keluarga adalah bagaimana seorang wanita mampu menjalankan sebagai wanita "sejati" dengan baik bagi keluarganya.
Sedangkan dalam karirnya, beban yang diterima sedikit lebih kompleks. Dalam karirnya, wanita akan menemui lebih banyak konflik dan strata sosial. Hal-hal tersebut akan menimbulkan banyak permasalahan pula yang akhirnya menjadi beban tersendiri bagi wanita karir. Wanita, dimanapun keberadaannya haruslah siap dengan berbagai macam godaan, dari yang kecil hingga yang sangat berbahaya. Oleh karena itu wanita harus mampu menjaga dirinya dengan baik. Karena semakin ia terjun ke dunia karir, maka akan seakin banyak pula permasalahan yang dihadapi. Beban yang menjadi masalah besar adalah jika seorang wanita tersebut terlalu lupa diri dengan karirnya hingga ia merasa hebat dan menjadi berani terhadap suaminya. Bagaimanapun juga karir dan keluarga harus sama-sama diperjuangkan.
II. 6. Teori-Teori
Teori Fungsionalisme
Teori ini tidak secara langsung membahas tentang wanita, namun penjelasannya yang berpendapat bahwa masyarakat adalah suatu sistem yang terdiri atas bagian dan saling berkaitan dan masing-masing ingin mencapai keseimbangan dan keharmonisan. Teori ini menjelaskan tentang berbedanya peran antara pria dan wanita, yang mana perbedaan tersebut yang nantinya akan menciptakan pembagian peran sehingga terjadi kesinambungan antara pria dan wanita dalam membentuk keharmonisan.
Teori Konflik
Teori ini berasumsi bahwa masyarakat tunduk terhadap perubahan yang ada. Setiap masyarakat terintegrasi pada status yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut kemudian menimbulkan konflik atas ketidakpuasan terhadap suatu hal. Terjadi pada wanita atau ibu rumah tangga yang merasa ingin mempunyai profesi tertentu namun terhambat oleh tuntutan keluarga atau sebagainya. Hal ini jelas menimbulkan konflik terhadap diri wanita itu sendiri juga terhadap keluarganya.
Teori Feminisme
Teori ini adalah pernyataan tentang pemberontakan kaum wanita terhadap kaum pria sebagai upaya perlawanan atas pranata sosial yang telah ada. Teori ini merupakan teori tentang usaha wanita untuk mengingkari kodrat. Contohnya adalah ketidakpuasan wanita sebagai seorang ibu rumah tangga yang memiliki pekerjaan wajib mengurus anak, mencuci, mengepel, menyapu dan lainnya. Ketidakpuasan ini melahirkan protes sebagai bentuk perlawanan atas kewajibannya.
Teori Pertukaran
Pokok pikiran teori pertukaran adalah keinginan manusia untuk selalu berusaha mencari dan memperoleh keuntungan dalam transaksi sosialnya dengan orang lain. Wanita juga pasti menginginkan keuntungan yang besar untuk kehidupannya, dengan begitu ia akan berusaha untuk menuai karir meskipun ia telah menjadi ibu rumah tangga. Keuntungan tersebut bukan berarti hanya keuntungan material saja, namun bisa juga berupa popularitas dan lain-lain.
BAB IIIPENUTUP
III. 1.Kesimpulan
Dari wacana di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam kehidupannya wanit tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, namun ia masih tetap bisa berkarir sebagaimana yang ia inginkan. Ada banyak sekali faktor yang mendorong wanita hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi wanita karir, ada faktor internal maupn eksternal. Ada juga fktor-faktor ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya. Wanita yang berkarir tidak boleh lepas tanggung jawab terhadap keluarga yang sudah dimilikinya. Perannya dalam sektor publik cukup penting, namun perannya dalam keluarga juga tidak kalah penting.
Telah dijelaskan pula berbagai macam hambatan yang menjadi kendala bagi wanita untuk berkarir, sehingga membuat wanita berpikir ulang untuk menuai karirnya. Beban-beban yang ada juga menjadi pertimbangan penting bgi wanita sebelum ia memutuskan untuk berkarir. Sedangkan teori yang ada membantu merasionalkan hubungan permasalahan ini dengan aspek-aspek sosiologi yang ada. Teori tersebut membantu kita meninjau permasalahan ini dari segi sosiologi.
III. 2.Saran
Penulis ingin menyarankan kepada semua pihak untuk turut serta membantu wanita dalam perannya di sektor publik. Dengan adanya makalah ini, penulis berharap kendala-kendala yang menghambat karir wanita dapat sedikit demi sedikit dihilangkan. Penulis juga berharap para wanita mampu menyadari kemampuannya untuk berkarir disamping kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Menjadi seorang istri ataupun ibu bukanlah alasan untuk berhenti berkarir. Penulis juga berharap besar bagi para suami untuk turut menjunjung tinggi emansipasi wanita dengan memberikan ijin dan kepercayaan kepada istrinya untuk bekerja. Namun, jangan sampai wanita lalai akan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.
Daftar Pustaka

Narwoko, J. Dwi & Suyanto, Bagong. 2011. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana.
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.


Download Peran Wanita Karir.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Peran Wanita Karir. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon