November 08, 2016

Paper Komunikasi Antar Budaya


Judul: Paper Komunikasi Antar Budaya
Penulis: Janica Lewinsky


MAKALAH
MEMAHAMI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA DALAM MODEL KOMUNIKASI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi

Disusun oleh:Janica (004139377029456)
Program Studi Digital Communication
Universitas Surya
Jl. Boulevard Gading serpong O/1 Summarecon Tangerang 2013-2014

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ilmu komunikasi merupakan hal yang kompleks untuk dipelajari. Melihat latar belakang ilmu komunikasi yang bersifat dinamis, maka muncullah berbagai model komunikasi yang dibuat oleh para ahli komunikasi sebagai rujukan para peneliti untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu komunikasi. Masing-masing model memiliki kekhasan yang dipengaruhi oleh latar belakang pembuat model, baik latar belakang keilmuan, paradigma yang digunakan, dan kondisi teknologi pada zamannya.
Pada umumnya tidak ada model yang paling sempurna (final decision), karena selalu diuji dengan penemuan model terbaru seiring dengan perkembangan zaman. Bahkan ketika model sudah diterima secara luas, ada saja nuansa baru yang muncul dari bentuk komunikasi yang telah dimodelkan, sehingga dikembangkan lagi suatu model baru untuk mengakomodasikan nuansa baru tersebut.
Begitu seterusnya, hal ini juga berlaku untuk pembuatan model komunikasi dalam konteks antar budaya. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar, berpikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam bentuk-bentuk kebiasaan maupun kegiatan yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan adaptasi diri yang memainkan peran penting dalam kehidupan manusia.
Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman-keslahpahaman akibat perbedaan budaya adalah dengan mengerti atau paling tidak mengetahui bahasa dan perilaku budaya orang lain, mengetahui prinsip-prinsip komunikasi lintas budaya dan mempraktikannya dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kebutuhan untuk mempelajari komunikasi lintas budaya ini semaikn terasakan karena semakin terbukanya pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda, disamping kondisi bangsa Indonesia yang sangat majemuk dengan berbagai ras, suku bangsa, agama, latar belakang daerah (kota atau desa), latar belakang pendidikan, dan sebagainya.
Tubbs, Stewart L. and Sylvia Moss dalam bukunya "Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi" (1996:237) menyatakan bahwa, "Budaya yang dimiliki seseorang sangat menentukan bagaimana cara kita berkomunikasi, artinya cara seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain apakah dengan orang yang sama budaya maupun dengan orang yang berbeda budaya, karakter budaya yang sudah tertanam sejak kecil sulit untuk dihilangkan, karena budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi." Dengan demikian konstruksi budaya yang dimiliki oleh seseorang itu, diperoleh sejak masih bayi sampai ke liang lahat, dan ini sangat mempengaruhi cara berpikir, berperilaku orang yang bersangkutan dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya. Bahkan benturan persepsi antar budaya sering kita alami sehari-hari, dan bilamana akibatnya fatal kita cenderung menganggap orang yang berbeda budaya tersebut salah, aneh tidak mengerti maksud kita. Hal ini terjadi karena, kita cenderung memandang perilaku orang lain dalam konteks latar belakang kita sendiri dan karena bersifat subyektif.
Budaya dan komunikasi merupakan hal yang tak dapat dipisahkan, oleh karena seluruh perbendaharaan perilaku dan komunikasi kita sangat bergantung pada budaya tempat kita dibesarkan. Oleh karena itu, membahas mengenai model komunikasi antar budaya merupakan hal yang menarik untuk dikaji.Rumusan Masalah
Bagaimana model komunikasi menurut Gudykunst dan Kim?
Bagaimana perspektif Gudykunst dan Kim dalam memahami komunikasi antarbudaya?
Apakah kelebihan dan kekurangan model komunikasi Gudykunst dan Kim?
Metode penulisan
Metode dalam penulisan makalah ini ialah melalui literatur (kajian pustaka).Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah pengantar ilmu komunikasi dan untuk meningkatkan wawasan penulis khususnya, serta pembaca mengenai bagaimana model komunikasi merefleksikan suatu fenomena komunikasi antar budaya, serta memahami perbedaan budaya yang mempengaruhi praktek komunikasi sehingga kelak kita dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang yang berbeda budaya.
BAB II
LANDASAN TEORI
Konsep Dasar Model
Model adalah representasi simbolik dari suatu objek, konsep, proses, sistem, atau gagasan yang seringkali berupa penyederhanaan atau idealisasi. Model dapat berbentuk gambar-gambar grafis, verbal, atau matematikal. . Dalam ilmu komunikasi, biasanya model-model komunikasi dirancang dengan menggunakan serangkaian blok, segi empat, lingkaran, panah, garis, spiral, dan lain-lain. Model menguji suatu temuan dalam dunia nyata, walaupun tidak pernah final karena selalu diuji dengan penemuan model terbaru. Maka, yang dimaksud model komunikasi adalah gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen lainnya. Melalui model-model komunikasi dapat terlihat faktor-faktor yang terlibat dalam proses komunikasi. Akan tetapi, model tidak berisikan penjelasan mengenai hubungan dan interaksi antara faktor - faktor atau unsur - unsur yang menjadi bagian dari model, dimana penjelasannya didapatkan pada teori.
Perbedaan teori dan model menurut Littlejohn dan Hawes (1983) adalah teori merupakan penjelasan (explanation), sedangkan model hanya merupakan representasi. Menurut Littlejohn, dalam pengertian luas model menunjuk pada setiap representasi simbolis dari suatu benda, proses atau gagasan ide. Biasanya model di pandang sebagai analogi dari beberapa fenomena. Dengan demikian model dapat berbentuk gambar-gambar grafis, verbal atau matematika. Dengan demikian model dapat diartikan sebagai representasi dari suatu peristiwa komunikasi. Melalui model-model komunikasi dapat terlihat faktor-faktor yang terlibat dalm proseskomunikasi. Akan tetapi, model tidak berisikan penjelasan mengenai hubungan dan interaksi antara faktor - faktor atau unsur - unsur yang menjadi bagian dari model, dimana penjelasannya didapatkan pada teori.
Model dapat berfungsi sebagai basis bagi teori yang lebih kompleks, alat untuk menjelaskan teori dan menyarankan cara-cara untuk memperbaiki konsep, maupun sebagai alat yang dikombinasikan dengan kata-kata, angka, simbol, dan gambar untuk melukiskan model suatu objek, teori, atau proses.
Model sangat berguna dalam membantu kita untuk memahami komunikasi pada umumnya. Beberapa manfaat model, yaitu:
Menyediakan representasi visual dari sebuah proses sehingga kita dapat lebih cepat memahaminya (fungsi deskriptif).
Meringkas penelitian di suatu area, terutama jika model adalah berhubungan dengan "teori" atau didasarkan pada penelitian aktual.
Membantu untuk memahami di mana atau bagaimana gangguan komunikasi telah terjadi (fungsi pemecahan masalah) . Dalam hal ini, model dapat membantu kita menganalisa komunikasi kita dan membuatnya menjadi lebih baik.
Konsep Dasar Komunikasi
Istilah "komunikasi" atau dalam bahasa Inggris yaitu "communication", berasal dari bahasa latin "communis" yang berarti sama, communico, communication, atau communicare yang berarti membuat sama "to make common" (Dedy Mulyana, 2005 : 41). Definisi dari segi bahasa ini menyatakan bahwa suatu komunikasi yang efektif hanya dapat tercapai apabila terjadi kesamaan makna antara komunikator dengan komunikan.
Dalam definisi tersebut, jelas bahwa orang yang menyampaikan dan orang yang menerima pesan diharapkan mempunyai persepsi yang sama tentang apa yang disampaikan, atau dengan kata lain maksudnya adalah "sama makna". Jadi apabila ada dua orang yang sedang terlibat dalam percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Percakapan kedua orang tersebut dapat dikatakan komunikatif, apabila keduanya selain mengerti bahasa yang dipergunakan juga mengerti makna dari bahasa yang dipercakapkan.
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal. Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.
Dengan berkomunikasi, kita berusaha untuk mendefinisikan sesuatu, termasuk isltilah 'komunikasi' itu sendiri. Hingga kini terdapat ratusan definisi komunikasi yang telah dikemukakan oleh para ahli.
Beberapa definisi komunikasi menurut para ahli, di antaranya :Bernard Berelson dan Gary A. Steiner, "Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya. Dengan menggunakan symbol-simbol, kata-kata, gambar, dll."
Carl I. Hovland, "Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan)."
Everett M. Rogers, "Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada penerima dengan niat untuk mengubah tingkah laku mereka."
Raymond S. Ross, "Komunikasi (intensional) adalah suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan symbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator."
Haorld Lasswell, "Cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, yaitu Who Says? What? In Which Channel? To Whom? With What Effect?"
Konsep Dasar Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu "buddhayah", yang merupakan bentuk jamak dari "buddhi" (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut "culture", yang berasal dari kata Latin "colere", yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok yang diwariskan secara turun-temurun oleh generasi-generasinya. Budaya terbentuk berbagai unsur yang kompleks, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Maka, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosio ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Seperti kita ketahui bahwa budaya mempengaruhi cara seseorang berkomunikasi. Budaya bertanggung jawab atas seluruh aspek komunikasi yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok, baik secara verbal maupun nonverbal.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Tidak banyak orang menyadari bahwa bentuk-bentuk interaksi antarbudaya sesungguhnya secara langsung atau tidak melibatkan sebuah komunikasi. Pentingnya komunikasi antarbudaya mengharuskan semua orang untuk mengenal panorama dasar-dasar komunikasi antarbudaya itu. Komunikasi itu muncul, karena adanya kontak, interaksi dan hubungan antar individu atau kelompok yang berbeda kebudayaannya. Jadi, sebenarnya tidak ada kebudayaan tanpa komunikasi, dan tidak ada komunikasi tanpa pengaruh budaya. Di sinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi antarbudaya itu.
Konsep Dasar Komunkasi Antarbudaya
Pada dasarnya, antara komunikasi dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pusat perhatian komunikasi dan kebudayaan itu terletak pada variasi langkah dan cara serta metode manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial, bagaimana menjajaki makna, model tindakan dan bagaimana makna serta model‐model itu diartikulasi sebuah kelompok sosial yang melibatkan interaksi antar manusia. Dari penjelasan tersebut, berikut beberapa pendapat ahli tentang definisi komunikasi antarbudaya, yaitu :McLuhan menyatakan bahwa dunia saat ini telah menjadi "Global Village" yang mana kita mengetahui orang dan peristiwa yang terjadi di negara lain hampir sama seperti layaknya seorang warga negara dalam sebuah desa kecil yang menjadi tetangga negara-negara lainnya. Perubahan sosial adalah hal lain yang berpengaruh dalam komunikasi antar budaya yaitu dengan makin banyaknya perayaan-perayaaan budaya sebuah etnis dalam sebuah negara. Perbedaan budaya dalam sebuah negara menciptakan keanekaragaman pengalaman, nilai, dan cara memandang dunia. Keanekaragaman tersebut menciptakan pola-pola komunikasi yang sama di antara anggota-anggota yang memiliki latar belakang sama dan mempengaruhi komunikasi di antara anggota-anggota daerah dan etnis yang berbeda. Perusahaan-perusahaan yang memiliki cabangnya di luar negeri, tentunya merupakan syarat mutlak bagi para karyawannya untuk memiliki bekal pengetahuan yang cukup mengenai situasi dan kondisi budaya yang akan dihadapinya (intercultural competence), salah-salah jika mereka gagal berkomunikasi dengan budaya yang dihadapinya, perusahaan hanya akan bertahan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.
Gudykunst and Kim mengkonsepkan fenomena komunikasi antar budaya sebagai "...sebuah transaksional, proses simbolik yang mencakup pertalian antar individu dari latar belakang budaya yang berbeda." Kata kuncinya adalah proses. Komunikasi antar budaya seharusnya dapat dipandang dan dianalisis sebagai sebuah proses yang kompleks, bukan sekedar sebuah pertemuan.
Damen mendefinisikan komunikasi antar budaya sebagai "Tindakan-tindakan komunikasi yang dilakukan oleh individu-individu yang diidentifikasikan dengan kelompok-kelompok yang menampilkan variasi antar kelompok dalam bentuk pertukaran sosial dan budaya". Pertukaran bentuk, ekspresi individu, adalah variabel-variabel utama dalam tujuan, tata krama, cara, dan arti-arti yang mana proses komunikatif memberikan efek.
Lustig and Koester's menyatakan, komunikasi antar budaya adalah sebuah "Proses simbolik yang mana orang dari dari budaya-budaya yang berbeda menciptakan pertukaran arti-arti". Hal tersebut terjadi ketika perbedaan-perbedaan budaya yang besar dan penting menciptakan interpretasi dan harapan-harapan yang tidak sama mengenai bagaimana berkomunikasi secara baik.
Jandt mengatakan komunikasi antar budaya tidak hanya komunkasi antar individu tapi juga di antara "Kelompok-kelompok dengan identifikasi budaya yang tersebar". Ringkasnya, komunikasi antar budaya menjelaskan interaksi antar individu dan kelompok-kelompok yang memiliki persepsi yang berbeda dalam perilaku komunikasi dan perbedaan dalam interpretasi.
Dari beberapa pendapat ahli tentang definisi komunikasi antarbudaya, maka kita dapat menyimpulkan bahwa definisi komunikasi antarbudaya, ialah :Pertama, komunikasi antar budaya adalah komunikasi antara orang‐orang yang berbeda kebudayaannya, misalnya antar suku bangsa, antar etnik, ras dan kelas sosial.
Kedua, komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi antara produsen pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda.
Ketiga, komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi atau kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.
2.4.1 Pentingnya Komunikasi Antar Budaya
Menurut Gudykunst dan Kim sekarang ini komunikasi antar budaya semakin penting dan semakin vital di banding masa-masa sebelum ini. Beberapa faktor yang menyebabkan pentingnya komunikasi antarbudaya, yaitu:
Mobilitas
Mobilitas masyarakat di seluruh dunia sedang mencapai puncaknya. Perjalanan dari satu negara ke negara lain dan dari satu benua ke benua lain banyak dilakukan. Saat ini orang seringkali mengunjungi budaya-budaya lain untuk mengenal daerah baru dan orang-orang yang berbeda serta untuk menggali peluang-peluang ekonomis.
Saling kebergantungan ekonomi
Masa kini, kebanyakan negara secara ekonomis bergantung pada negara lain. Kehidupan ekonomi suatu bangsa akan bergantung pada kemampuan bangsanya untuk berkomunikasi secara efektif dengan kultur-kultur yang berbeda dari bangsa lain yang lebih maju.
Teknologi komunikasi
Meningkat pesatnya teknologi komunikasi telah membawa kultur luar yang ada kalanya asing masuk ke rumah kita. Berita-berita dari luar negeri merupakan hal yang lumrah kita saksikan melalui televisi. Kini kita juga dapat terhubung langsung ke setiap pelosok dunia melaui media internet. Teknologi telah membuat komunikasi antarbudaya mudah, praktis dan tak terhindarkan.Pola imigrasi
Di hampir setiap kota besar di dunia, kita dapat menjumpai orang-orang dari bangsa lain. Kita bergaul, bekerja, atau bersekolah dengan orang-orang yang sangat berbeda dari kita.
Kesejahteraan politik
Sekarang ini kesejahteraan politik kita sangat bergantung pada kesejahteraan negara lain. Komunikasi dan saling pengertian antarbudaya menjadi hal penting untuk mempertahankan hubungan bilateral.2.4.2 Tujuan dan Alasan Mempelajari Komunikasi Antar Budaya
Ada beberapa tujuan dan manfaat yang kita peroleh setelah mempelajari komunikasi antar budaya, yaitu:
Memahami perbedaan budaya yang mempengaruhi praktik komunikasi
antar orang yang berbeda budaya.
Mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang muncul dalam komunikasi.
Membantu mengatasi masalah komunikasi yang disebabkan oleh perbedaan budaya.
Meningkatan ketrampilan verbal dan non verbal dalam komunikasi.
Menjadikan kita mampu berkomunikasi secara efektif.
Adapun beberapa alasan mengapa kita perlu mempelajari komunikasi antar budaya, antara lain:
Membuka diri memperluas pergaulan;
Meningkatkan kesadaran diri;
Mengenal Etika/etis;
Mendorong perdamaian dan meredam konflik antarbudaya;
Demografis;
Kegiatan ekonomi;
Menghadapi teknologi komunikasi; dan
Menghadapi era globalisasi.
Biografi Singkat Gudykunst & Kim
William B. Gudykunst
Young Yun Kim


Dr. Young Yun Kim adalah seorang Profesor di Departemen Komunikasi, di Universitas Oklahoma, Norman. Dia menyelesaikan gelar komunikasi Ph.D dari Northwestern University di Evanston, Illinois. Prof. Kim mengajar sarjana dan pascasarjana serta tesis untuk doktor di bidang antarbudaya / komunikasi antaretnis / antarras. Prof. Kim telah menerbitkan lebih dari 100 bab buku dan artikel referensi dalam jurnal akademik. Sebagai penulis atau editor, ia telah menghasilkan 11 buku antarbudaya termasuk Becoming Intercultural (Sage, 2001) dan Communicating with Strangers (4th ed., McGraw-Hill, 2003, dengan W. Gudykunst). Dia adalah anggota dari Asosiasi Komunikasi Internasional dan Presiden-Elect dari Akademi Internasional untuk Penelitian Antarbudaya.William B. Gudykunst (Ph.D., Minnesota, 1977) adalah Profesor Speech Communication di College of Communications, California State University, Fullerton. Dia sangat terkenal dalam disiplin dan merupakan salah satu penulis yang paling produktif di bidang komunikasi antar budaya dan teori komunikasi manusia. Gudykunst telah menulis dan menyunting sejumlah karya untuk Sage Publication, termasuk Handbook of Intercultural and International Communication, dan Bridging Differences: Effective Intergroup Communication, serta teks Building Bridges: Interpersonal Skills for a Changing World dan Communicating with Strangers: An Approach to Intercultural Communication. Ia meninggal pada tanggal 20 Januari di South Coast Medical Center setelah menderita stroke pada usia 57 tahun.

BAB III
ANALISA
Model Komunikasi Menurut William B. Gudykunst & Young Yun Kim
Dalam ilmu komunikasi sebenarnya terdapat ratusan model komunikasi. Penyusun tidak mungkin membahas model-model tersebut satu persatu. Setiap model mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing berdasarkan konsep penggunaannya dalam kehidupan nyata.
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun memilih Model Komunikasi William B. Gudykunst & Young Yun Kim sebagai Model Komunikasi yang relevan dengan konteks Komunikasi Antar Budaya dikarenakan di dalam model tersebut dapat merefleksikan suatu proses dan fenomena komunikasi antar budaya secara rinci dan kompleks.
Model komunikasi menurut William B. Gudykunst dan Young Yun Kim merupakan model komunikasi antarbudaya, yakni komunikasi antara orang-orang yang berasal dari budaya berlainan, atau komunikasi dengan orang asing. Model ini mengasumsikan dua orang yang sejajar dalam berkomunikasi, masing-masing dari mereka sebagai pengirim sekaligus penerima atau keduanya sebagai penyandi (encoding) dan penyandi balik (decoding). Karena hal itulah, kita dapat melihat bahwa pesan dari seseorang merupakan umpan balik untuk yang lainnya. Pesan/umpan balik diantara mereka diwakilkan oleh sebuah garis dari sandi seseorang kepada sandi balik dari yang lainnya. Dua garis itu menunjukkan bahwa setiap orang dari kita itu berkomunikasi. Kita menyandi dan menyandi balik pesan dalam satu waktu. Dengan kata lain, komunikasi bukanlah hal yang statis, kita tidak akan menyandi sebuah pesan dan melakukan apapun sampai kita mendapat umpan balik.
Perspektif Gudykunst & Kim Dalam Memahami Komunikasi Antarbudaya
Model komunikasi menurut William B. Gudykunst dan Young Yun Kim merupakan model komunikasi antarbudaya, yakni komunikasi antara orang-orang yang berasal dari budaya berlainan, atau komunikasi dengan orang asing (stranger).

Menurut gambaran Model Komunikasi Gudykunst dan Kim, kedudukan sender/decoder dengan receiver/decoder adalah sama. Pribadi A dan Pribadi B dapat berperan sebagai pengirim sekaligus penerima. Masing-masing pribadi dapat melakukan penyandian pesan sekaligus penyandian balik pesan. Pesan dari pribadi A dapat juga menjadi umpan balik bagi pribadi B, begitu pula sebaliknya.
Menurut Gudykunst dan Kim, penyandian dan penyandian balik terhadap pesan merupakan suatu proses interaktif yang dipengaruhi oleh filter‐filter konseptual yang dikategorikan menjadi faktor‐faktor kultur, sosiokultur dan psikokultur yang nampak pada lingkaran dengan garis putus‐putus. Garis putus‐putus itu sendiri menggambarkan bahwa ketiga faktor ini saling berhubungan dan mempengaruhi. Selain itu, kedua individu yang terlibat juga terletak dalam suatu kotak dengan garis putus‐putus yang berarti mewakili pengaruh lingkaran. Hal ini sekali lagi menggambarkan bahwa lingkaran tersebut bukanlah suatu sistem tertutup. Pengaruh kultur dalam model ini meliputi penjelasan mengenai kemiripan dan perbedaan budaya, misalnya pandangan dunia, bahasa, sikap kita terhadap manusia (individualisme atau kolektivisme) yang akan mempengaruhi perilaku komunikasi kita.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Komunikasi (Filter-Filter Konseptual)
Dalam penyampaian pesan, ada factor-faktor yang mempengaruhi receiver untuk menanggapi pesan itu. Faktor-faktor tesebut berupa filter-filter konseptual yang terdiri dari:
Faktor Budaya
Meliputi faktor-faktor yang menjelaskan kemiripan dan perbedaan budaya. (Agama, budaya, sikap, bahasa).
Contoh: Ketika kita harus memilih mau peduli dengan individu atau dengan kelompok.
Faktor Sosiobudaya
Pengaruh yang menyangkut proses penataan social (keanggotaan, kelompok, konsep diri, ekspektasi diri). Pengaruh sosiokultur akan nampak pada proses penataan sosial yang berkembang berdasarkan interaksi dengan orang lain ketika pola‐pola perilaku menjadi konsisten dengan berjalannya waktu. Ada empat faktor utama dalam sosiobudaya, antara lain: keanggotaan kita dalam kelompok sosial, konsep diri kita, ekspektasi peran kita, dan definisi kita mengenai hubungan antar pribadi.
Contoh: Jika kita menjadi ketua dalam suatu organisasi, tentunya konsep diri dan ekspektasi diri kita sangat tinggi.
Faktor Psikobudaya
Dimensi psikokultur mencakup proses penataan pribadi. Penataan pribadi ini adalah proses yang memberi stabilitas pada proses psikologis. Faktor‐faktor dalam psikobudaya adalah stereotip dan sikap terhadap kelompok lain. Kedua faktor ini akan menciptakan pengharapan mengenai bagaimana orang lain akan berperilaku, dan pada akhirnya akan mempengaruhi cara kita menafsirkan stimulus yang datang dan prediksi kita tentang perilaku orang lain.
Contoh: Etnosentrisme (menafsirkan perilaku orang lain dengan pemikiran diri sendiri dan ingin orang lain berlaku sama seperti kita).
Faktor Lingkungan
Lingkungan akan mempengaruhi kita dalam melakukan penyandian dan penyandian balik suatu pesan. Yang dimaksudkan dengan lingkungan ialah mencakup iklim, lokasi geografis, lingkungan fisik, dan persepsi kita atas suatu lingkungan.Contoh: Seorang Amerika Utara dan seorang warga Kolombia yang memiliki cara pandang berbeda tentang ruang keluarga.. (Bagi orang Amerika ruang keluarga adalah tempat berkumpul dan bercanda (informal), bagi orang Kolombia, ruang keluarga adalah tempat formal).
Menurut Gudykunst dan Kim, penyandian pesan dan penyandian-balik pesan merupakan proses interaktif yang dipengaruhi oleh filter-filter konspetual yang dikategorikan menjadi faktor-faktor budaya, sosiobudaya, psikobudaya dan faktor lingkungan. Lingkaran paling dalam, yang mengandung interaksi antara penyandian pesan paling dalam, yang mengandung interaksi antara penyandian pesan dan penyandian pesan balik pesan, dikelilingi tiga lingkaran lainnya yang merepresentasikan pengaruh budaya, sosiobudaya, dan psikobudaya. Ketiga lingkaran dengan garis putus-putus mencerminkan hubungan faktor-faktor yang tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi. Lingkungan merupakan salah satu unsur yang melengkapi model Gudykunst dan Kim. Lingkungan mempengaruhi kita dalam menyandi dan menyandi balik pesan. Garis putus-putus yang melambangkan lingkungan merupakan pembuktian bahwa lingkungan tersebut bukanlah daerah tertutup atau terisolasi.
Kelebihan dan Kekurangan Model Komunikasi Gudykunst dan Kim
                         Kelebihan  Kekurangan
Menambah pengetahuan antar budaya Sering muncul kesalahpahaman
Memperbesar toleransi antar budaya Dapat memicu terjadinya konflik
Memperluas pergaulan Tidak ada media
Model Komunikasi Gudykunst dan Kim telah menjawab bagaimana pengaruh budaya sangat besar dalam komunikasi antar manusia. Namun, model komunikasi ini seringkali menimbulkan kesalahpahaman dan konflik akibat perbedaan latar belakang budaya, serta tidak dijelaskannya media yang digunakan dalam proses komunikasi antarbudaya.
Tidak ada model yang benar atau salah. Setiap model hanya dapat diukur berdasarkan kemanfaatannya ketika dihadapkan dengan dunia nyata, khususnya ketika digunakan untuk menjaring data dalam penelitian. Selain itu, model yang dirancang, unsur-unsur model dan hubungan antara berbagai unsur tersebut, bergantung pada perspektif yang digunakan oleh si pembuat model. Pandangan dari suatu perspektif akan menampilkan dimensi – dimensi tertentu, sementara pengamatan dari sudut pandang berbeda akan menyoroti aspek – aspek komunikasi yang berbeda pula.
Mengkaji komunikasi antarbudaya memiliki banyak manfaat yang dapat kita peroleh, terlebih dalam tata cara kita berkomunikasi dan menyikapi perilaku seseorang atau kelompok yang berbeda budaya dengan kita. Oleh karena itu, wawasan ini menjadi penting dalam proses interaksi kita dengan sesama manusia.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Komunikasi adalah sebuah proses pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi didalam diri seseorang atau diantara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu. Sedangkan budaya sebagai seperangkat nilai, kepercayaan, norma, dan adat istiadat, serta aturan yang melekat dalam kehidupan masyarakat yang temurun dari generasi ke generasi. Maka komunikasi antarbudaya merupakan suatu interaksi secara berkesinambungan antar orang-orang dari kebudayaan yang berbeda guna mencapai motif tertentu.
Jadi, jelas dengan mempelajari komunikasi antar budaya berarti kita mempelajari kebiasaan-kebiasaan setiap etnis, adat, agama, geografis dan kelas sosial di masyarakat kita. Dengan pemahaman tersebut kita mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan tersebut dengan komunikasi antar budaya, guna menyelesaikan konflik melalui dialog yang baik antara lain dengan identifikasi perspektif budaya.
Model Komunikasi Gudykunst dan Kim membuat kita dapat mengenal dan mengetahui budaya lain secara lebih mendalam. Dengan model ini juga, kita dapat mempelajari dan mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi kita dalam berkomunikasi, yakni budaya, sosiobudaya, psikobudaya dan faktor lingkungan. Dengan kata lain, tak dapat dipungkiri bahwa cara kita berkomunikasi tidak lepas dari pengaruh budaya.
4.2 Saran
Menurut Deddy Mulyana dalam bukunya Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar (2003:34) menyatakan bahwa untuk menghindari kesalahpahaman dalam melakukan komunikasi dengan orang yang berbeda budaya, kita harus menjadi komunikator yang efektif, karena hubungan dalam konteks apapun harus dilakukan lewat komunikasi. Menurut Mulyana, bahwa untuk mencapai komunikasi yang efektif, khususnya dengan orang yang berbeda budaya yang harus kita lakukan adalah:
Kita harus selalu menunda penilaian kita atas pandangan dan perilaku orang lain, karena penilaian kita tersebut seringkali bersifat subyektif, dalam pengertian berdasarkan persepsi kita sendiri yang dipengaruhi oleh budaya kita atau dengan kata lain, jangan biarkan stereotip menjebak dan menyesatkan kita ketika kita berkomunikasi dengan orang lain;
Kita harus berempati dengan mitra komunikasi kita, berusaha menempatkan diri kita pada posisinya. Gunakan sapaan yang layak sesuai dengan budayanya;
Kita dituntut untuk selalu tertarik kepada orang lain sebagai individu yang unik, bukan sebagai anggota dari suatu kategori rasial, suku, agama atau sosial tertentu;
Kita harus menguasai setidaknya bahasa verbal dan nonverbal dan sistem nilai yang mereka anut.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.
Nasrullah, Rulli. Komunikasi Antarbudaya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012.
Sihabuddin, Ahmad. Komunikasi Antarbudaya, Satu Perspektif Multidimensi. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Liliweri, Alo. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Mulyana, Deddy. Mengapa Kita Mempelajari Komunikasi: Sebuah Pengantar, Dalam: Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996.
Sage. Biografi William B. Gudykunst. Diambil dari
http://www.sagepub.com/authorDetails.nav?contribId=528100; Internet.

The University of Oklahoma. Biografi Young Yun Kim. Diambil dari
http://cas.ou.edu/young-Kim; Internet.Ohoiwutun. Sosiolinguistik, Memahami Bahasa Dalam Konteks Masyarakat dan Kebudayaan. Jakarta: Visipro, 1997.
Somavar, Larry and Porter, Richard E. Communication Between Cultures. Belmont: C.A. Wadsworth, 1991.
Tubbs, Stewart L. and Sylvia Moss. Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996.
Devito, Joseph A. Komunikasi Antarmanusia. Kuliah Dasar. Jakarta: Professional Books, 1997.
Schramm, Wilbur. Perihal Membangun Jembatan, Dalam: Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Editor: Deddy Mulyana dan Jalalluddin Rakhmat. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.
Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007.
Ruben, Brent D. & Lea P Stewart. Communication and Human Behavior. United States: Allyn and Bacon, 2006.
West, Richard & Lynn H. Turner. Introducing Communication Theory. Third Edition. Singapore: The McGrow Hill companies, 2007.
Wiryanto, Dr. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jilid I. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2004.
Kroeber, A. L. and C. Kluckhohn. Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions. Cambridge: Peabody Museum, 1952.
Fred E. Jandt. Intercultural Communication, An Introduction. London: Sage Publication, 1998.
Purwasito, Andrik. Komunikasi Multikultural. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003.
Hisnu, Tantya. Keragaman Sosial Budaya Masyarakat. Diambil dari
http://www.crayonpedia.org/mw/KERAGAMAN_SOSIAL_DAN_BUDAYA.html/; Internet.


Download Paper Komunikasi Antar Budaya.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Paper Komunikasi Antar Budaya. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon