November 29, 2016

Makalah Sosiologi


Judul: Makalah Sosiologi
Penulis: Retno Purwaningtias


KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami panjatkan puja dan puji syukur atas rahmat dan ridho ALLAH SWT. karena tanpa rahmat dan ridhoNYA, kami tidak dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan selesai tepat waktu. Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Sudarso selaku dosen Sosiologi yang telah memberikan tugas penulisan masakalh ini sebagai latihan menulis tulisan ilmiah disamping untuk menambahkan/memperbaiki nilai Sosiologi yang mungkin masih belum mencapai nilai minimal.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman kami yang selalu setia membantu kami dalam hal mengumpulkan data-data dalam pembuatan makalah ini, serta terima kasih juga kepada rekan penugasan makalah kami ini yang telah menjadi narasumber untuk kelancaran pembuatan makalah sebagai sumber data dan kokritisasi masalah yang sedang dibahas.
            Dalam makalah ini kami memberi judul "Pola Pikir Tradisional Masyarakat Kelabaan Guluk-Guluk Sumenep, Madura". Mungkin dalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan yang belum kami ketahui. Maka dari itu kami mohon kritik dan saran dari teman-teman maupun dosen Demi tercapainya makalah yang sempurna.
Surabaya, 28 Desember 2012
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar …………………………………………………………………….. 1
Daftar Isi ……………………………………………………………………...…… 2
BAB I
Latar Belakang ……………………………………………………...……………... 3
Realitas Social di Masyarakat ……………………………………………... 3
Dampak Sosial di Masyarakat …………………………………….……….. 3
SubstansiRumusan Permasalahan ……………………………………….………… 4
Objek Pengamatan ………………………………………………………….…...… 5
1,4 Tujuan Intruksional ………………………………………………………….…….. 5
Tujuan Pembuatan Makalah ………………………………………….……. 5
Manfaat Pembuatan Makalah ………………………………………….…... 5
BAB II
Isi/Sistematika …………………………………………………………………….... 5
Memahami Masyarakat Kelabaan Guluk-Guluk, Sumenep-Madura …………...6
Perkembangan Pengetahuan, Teknologi dan Perubahan Pola Pikir Masyarakat…8
Keterhubungan Antar Isi Judul ……………………………………………….. 10
Para Agen Perubahan Sebagai Solusi ………………………………………… 11
BAB III
Kesimpulan ……………………………………………………………………….. 13
Metode Pendekatan Yang Digunakan …………………………………………….. 14
Daftar Pustaka …………………………………………………………………….. 15
BAB I
Latar Belakang
Realitas Sosial di Masyarakat :
Adanya beberapa pondok pesantren yang tidak memperbolehkan penggunaan teknologi seperti internet di lingkungan sekolah
Contoh : salah satu pondok pesantren di daerah Kelabaan Guluk-Guluk, Sumenep "Al Is'af" memberikan peraturan untuk mengharamkan warnet dan jaringan internet
Adanya pembedaan gender, menganggap kaum wanita lebih rendah, ruang lingkup atau geraknya dipersempit
Contoh : jika terlihat wanita yang sedang berjalan sendirian di pinggir jalan atau jika terlihat anak perempuan yang memegang handphone, mereka dianggap atau dicap "perempuan/anak nakal". Sehingga anak perempuan di sana lebih cenderung diajurkan untuk berdiam diri dirumah, atau bahkan para orang tua mereka memilih untuk menikahkan anak perempuannya di usia dini agar mencegah anak perempuannya dicap "perempuan nakal"
Menganggap pendidikan tidak terlalu penting di dalam masyarakatnya, baik bagi laki-laki, lebih khususnya perempuan, sehingga banyak mayarakat yang memberikan pandangan "miring" atau sebelah mata pada orang yang mengenyam pendidikan tinggi
Contoh : bila ada anak yang sekolah dan mengenyam pendidikan keluar daerahnya pasti terisolasi dalam pergaulannya, bahkan lebih ekstrimnya keluarga mereka tercoreng dalam masyarakat dikarenakan ada salah satu anggota keluarganya yang berpendidikan tinggi
Dampak Sosial di Masyarakat:
Para siswa yang menempuh pendidikan di pondok pesantren tersebut secara otomatis tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi yang ada saat ini, sehingga mereka akan menjadi anak yang tertinggal diantara teman-teman nya yang berasal dari luar daerahnya jika mereka melanjutkan pendidikan ke kota atau ke luar daerah mereka (akan terjadi Culture Shock)
Para anak perempuan yang tinggal di daerah tersebut akan hidup tertekan karena selalu dibatasi ruang geraknya, pendewasaan yang belum matang karena adanya fenomena menikah muda
Budaya pemikiran tradisional dan berpikiran sempit akan semakin berkembang karena tidak adanya para intelektual yang mampu membawakan nilai-nilai pada masyarakatnya untuk bisa berpikir jauh kedepan, peradaban masyarakat akan semakin tertinggal dan akan menjadi masyarakat yang terbelakang jika ini terus berlanjut
Substansi/Rumusan Permasalahan
"Budaya berpikir tradisional dan sempit yang menganggap semua aktifitas pendorong kemajuan bernilai buruk/negatif"
Dari kesekian realitas dan dampak social yang ada, sebenarnya jika kita menarik inti dari permasalahan yang ada, penulis menyimpulkan bahwa pemikiran yang tradisional dan serba megeneralisasikan setiap aktifitas modern yang menyebabkan masalah yang ada menjadi jauh lebih kompleks. Jika kita mampu meluruskan pandangan masyarakat tentang hal ini dan mampu membawakan nilai-nilai rasionalisme agar tidak menjadi masyarakat yang tertinggal.
kemunngkinan bisa untuk merubah mindset masyarakat Madura, terutama yang tinggal di pedalaman untuk bisa berpikir lebih rasional dan berpandangan jauh kedepan. Sehingga tiap anak perempuan yang jalan sendirian di pinggir jalan, anak perempuan yang menggnakan handphone tidak bisa di samakan dengan anak yang "nakal", walaupun sebenarnya realitas yang tampak memang ada beberapa yang demikian. Namun bukan berarti kita bisa menyamakan semua anak yang berperilaku seperti itu sama dengan anak yang tidak benar.
Objek Pengamatan
Objek Material: Masyarakat Kelabaan Guluk-Guluk, Sumenep-Madura
Objek Formal: Pola/cara berpikir

Tujuan Intruksional
Tujuan pembuatan makalah:
Mengetahui kecenderungan pola pikir masyarakat Kelabaan Guluk-Guluk Sumenep
Memahami factor-faktor yang mempengaruhi ketertinggalan masayarakat Kelabaan Guluk-Guluk Sumenep
Memcoba memberikan alternative solusi untuk masalah yang sedang terjadi saat ini
Sebagai tugas untuk memperbaiki/menambah nilai Sosiologi apabila tidak mancapai nilai minimal
Manfaat pembuatan makalah
Memahami permasalah yang sedang terjadi di dalam masyarakat Kelabaan Guluk-Guluk Sumenep
Mampu mengaitkan variable satu dengan variable yang lainnya sehingga dapat menarik substansi masalah dengan tepat
Mampu memberikan solusi yang tepat dan substansif terhadap masalah yang ada
BAB II
Isi/Pembahasan
Di Zaman modern seperti sekarag ini, pastinya secara otomatis aktifitas kehidupan manusia didukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang serba canggih. Implikasi dari kondisi tersebut ialah semakin rasional nya pemikiran dan cara pandang masyarakat dalam menghadapi permasalahan yang ada. Namun, lain halnya dengan kondisi serta budaya/culture masyararakat di daerah Kelabaan Guluk-Guluk Sumenep. Bisa di prediksi sebagian besar masyarakatnya masih melestarikan pola pikir yang sempit dan tradisional.
Penulis tertarik mengangkat permasalahan ini karena melihat dampak dari realitas yang ada, penulis merasa prihatin terhadap kondisi masyarakat yang notabene pola berpikir yang dikembangkan sangatlah tradisional. Dengan adanya rasa keprihatinan tersebut, penulis ingin turut serta dalam memberikan alternative solusi yang bisa menyelesaikan permasalah yang ada. Sehingga harapannya, dengan solusi yang penulis tawarkan mampu membuat masyarakat sadar akan ketertinggalan yang mereka hadapi dan ada kemauan untuk mencoba membuka diri/berpikir terbuka terhadap perkembangan dan menjadikan arus globalisasi sebagai tantangan untuk tetap bisa bertahan dengan nilai-nilai yang mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
2.1Memahami Masyarakat Kelabaan Guluk-Guluk, Sumenep- Madura
Konsep masyarakat yang dikemukakan oleh Karl Marx tampaknya lebih mewakili kondisi masyarakat di Kelabaan Guluk-Guluk Sumenep. Teori Marx mengatakan bahwa masyarakat adalah "suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi atau perkembangan….". Dapat kita analisa bahwa konstruksi atau gambaran teori masyarakat yang dikemukakan oleh Marx adalah masyarakat yang tidak rasional. Marx berpendapat seperti itu dalam teorinya karena memang pada saat itu kondisi masyarakatnya sedang mengalami penderitaan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi, sehingga tak dapat berkembang.
Kondisi masyarakat Madura khususnya masyarakat kelabaan guluk guluk sumenep memang sesuai dengan apa yang telah di kemukakan oleh karl marx, masyarakatnya sampai saat ini bisa di bilang tradisional dan primitive, terutama dalam hal-hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Seakan-akan mereka menolak terhadap globalisasi yang pada saat ini sedang berkembang pesat dan pemuda disana cendrung memilih untuk menganggur, merantau dan sebagainya. Mereka menganggap pendidikan tidak terlalau penting. Bagi masyarakat Madura, pendidikan sekolah menengah sudah cukup, bahkan sudah di anggap pendidikan tinggi, jadi tidak harus menempuh pada jenjang pendidikan yang continue dan sebagainya.
Masyarakat didaerah sana mengangap orang yang sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi sedikit banyak moralnya dianggap tidak baik, apalagi pendidikanya terletak di luar kota, sehingga pemuda disana bukanlah pemuda yang menjadi harapan bangsa, melainkan mereka justru tidak mengenal akan pentingnya pendidikan untuk masa depan dan menimbulkan karakter pribadi yang kurang baik dan tidak bisa mengendalikan emosi. Sehingga yang ada pemikiranya menoton tidak berkembang. Ironisnya lagi, yang membuat para masyarakat untuk mengantisipaasi terhadap perkembangan yang ada yaitu menikahkan anak perempuanya pada usia dini yang notabene tidak ada unsur kemauan si anak. Budaya ini sudah mendarah daging dan sangat sulit sekali untuk di rubah.
Menurut mereka, dengan cara menikahkan anak perempuannya, sebagian para orang tua merasa tidak punya beban untuk mengawasi anaknya dan merasa aman. Bahkan juga termasuk masyarakat yang menganut pernikahan siri, lagi-lagi alasan mereka demikian karena berhubungan dengan masalah kenakalan remaja agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan orang tuanya. Padahal anak mereka juga mempunyai keinginan yang besar untuk berkembang dan maju, cuma mereka itu di doktrin dengan kata "tidak mungkin berhasil", akhirnya rata-rata pemudanya berfikiran sempit untuk melangkah kedepan. Untuk itu perlu satu atau dua di antara dari mereka yang menjadi pelopor sebagai ajang sosialisasi untuk kesadaran masyarakat disana.
Akan tetapi, meskipun masyarakatnya tradisional dan mendekati kepada masyarakat yang primitive, mereka memiliki karakter yang positif, seperti :
Masyarakatnya sangatlah religius,
Ramah terhadap masyarakat yang lain
Tidak mempunyai sifat menyendiri(individu)
Gotong royong (guyub),
Tingkat simpati dan empatinya tinggi
Memiliki solidaritasnya yang tinggi
Melihat karakter yang demikian, karakter yang paling kental dan membuat mereka cenderung berpikir tradisional adalah tingkat kereligiusannya. Kondisi masyarakat disana sangat percaya sekali pada hal-hal yang berhubungan dengan "agama" saja. Bisa dibilang mengabaikan terhadap ilmu umum dan ilmu pasti. Apalagi yang berhubungan dengan dunia politik, mereka sangat buta akan hal ini dan apabila terjadi pelaksanaan pemilihan wakil rakyat, kebanyakan dari mereka yang memilih golput saja.Walaupun ikut partisipasi dalam pemilihan, mayoritas mereka pasti akan memilih calon-calon yang memiliki background atau latar belakang religious, karena memang disana yang di hormati dan disegani adalah para ulama dan kyai-kyai.
Masyarakat ini yang tak pernah berpikir secara rasional selalu bertindak tanpa pikir panjang dan berpikir jauh kedepan. Jadi apabila terjadi kesenjangan ataupun konflik, cara menyelesaikanya bukanlah menggunakan akal sehat, malah yang terjadi sebaliknya dengan menggunakan keangkuhan mereka, yaitu mengandalkan emosi dan otot.

2.2Perkembangan Pengetahuan, Teknologi dan Perubahan Pola Pikir Masyarakat
Sejak kita mengenal peradaban kuno, hingga sampai pada peradaban modern saat ini, perkembangan kehidupan masyarakat yang ada didalamnya ikut mengalami transformasi yang luar biasa. Jadi mau atau tidak mau, perkembangan peradaban manusia akan merubah setiap sendi-sendi kehidupan yang ada. Namun perubahan yang paling dasar dalam masyarakat—dan kadang menjadi masalah—adalah pola berpikir yang digunakan. Setiap masyarakat selalu mengalami perubahan peningkatan dalam rangka memperoleh efektivitas dan efisiensi kerja serta mutu kehidupan yang lebih baik. Perubahan itu berupa perubahan yang berangsur-angsur serta proses meninggalkan pola pikir yang tradisional. Hal ini merupakan sebuah implikasi dari semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat.
Modernisasi merupakan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang sekarang ini. Tingkat teknologi dalam membangun modernisasi betul-betul dirasakan dan dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, dari kota metropolitan sampai ke desa-desa terpencil. Tapi setiap perubahan yang ada di masyarakat, tidak semua masyarakat merespon dengan baik. Terutama perubahan yang berhubungan dengan modernitas dan globalisasi. Ada yang menerima perubahan dan perkembangan, ada yang menolak, namun juga ada yang menerima atau menolak dengan setengah hati, bisa dibilang cari aman. Sebagian masyarakat menganggap bahwa perubahan merupakan penghambat dalam mengembangkan dan melestarikan budaya. Terutama mereka yang berasal dari desa mengklaim bahwa arus perubahan modern selalu membawa nila-nilai negative yang bisa melunturkan nilai-nilai budaya yang telah ada sebelumnya.
Di zaman modern seperti sekarang ini, masyarakat dituntut untuk tetap bisa mengikuti setiap perkembangannya, karena bila tidak mereka yang tak mau atau tak mampu mengikuti perkembangan tersebut akan menjadi masyarakat yang tertinggal dalam hal pengetahuan, tak mampu berkompetisi dan tak bisa meninggalkan pola berpikir yang tradisional dan masih percaya dengan hal-hal yang bersifat takhayul (irrasional)
Pengetahuan dan teknologi yang berkembang saat ini memang tak bisa kita hindari. Perkembangan pengetahuan dan teknologi masa kini di mulai dengan ditemukannya computer yang menjadikan kegiatan serta aktivitas kita menjadi berubah seutuhnya. Setelah kemunculan computer, kita masih dihadapkan dengan ponsel atau telepon seluler yang memudahkan komunikasi antar individu tanpa terhalang oleh jarak dan waktu. Perkembangan pengetahuan dan teknologi masa kini mencapai puncaknya ketika kita dihadapkan oleh penemuan internet di tengah-tengah kehidupan kita.
Banyak yang menerima, bahkan juga tak sedikit yang menolak tentang perkembangan saat ini yang bisa dibilang cukup melesat. Bayangkan saja hanya dalam waktu satu decade saja kita telah mendapati kehidupan yang berubah total akibat pengaplikasian penemuan-penemuan baru. Seperti kita tak usah lagi mengirim surat pada teman atau saudara kita yang nan jauh disana, karena telah tergantikan semenjak adanya handphone, sehingga kita cukup berkirim pesan atau yang lebih dikenal dengan SMS.
Negara Indonesia sekarang ini sudah mencapai tahap pemikiran yang sangat modern, Indonesia sendiri sudah mampu menciptakan alat-alat teknologi yang praktis dan efisien seperti layaknya yang ada di kehidupan sehari – hari seperti Televisi, telepon genggam, komputer, laptop, dan lainnya, sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang digunakan pun memiliki kajian – kajian penting dalam proses kemajuan dan perkembangan teknologi yang membuat Indonesia lebih modern. Karena sumber daya inilah pihak Indonesia bekerja sama dengan Negara lain dan saling melengkapi kebutuhan antara satu dengan Negara lainnya. Sehingga menciptakan kemajuan yang ada pada Indonesia dari sisi modernisasi maupun teknologinya. Indonesia sedang berada dalam masa-masa transisi dan penyesuaian di mana modernisasi dan globalisasi kian kuat masuk secara bertahap ke dalam Indonesia. Bukan hanya itu modernisasi juga sangat terpengaruh dengan majunya teknologi – teknologi yang ada pada Negara Indonesia sendiri.
2.3Kerhubungan Antar Isi Judul
Pada judul pertama yang membahas tentang kondisi yang lebih detail mengenai masyarakat Kelabaan beserta dengan karakternya, sedikit kuramg kita telah memiliki gambaran budaya yang telah lama berkembang disana. Tentang pola pikir masyarakatnya, cara mengambil tindakannya, cara pandang terhadap sesuatu, bahkan sampai pada kebiasaan dalam pemilihan wakil rakyatnya. Kita dapat melihat masyarakat ini cenderung pasif. Sangat sulit sekali untuk merubah mindset mereka, walaupun ada peluang untuk bisa dirubah.
Tapi secara normative dan normalnya, harusnya bila ada perubahan atau perkembangan di dalam suatu masyarakat, masyarakat yang menghadapi perubahan dan perkembangan tersebut mampu untuk mengikuti arus perubahan tersebut, karena dengan melihat di zaman modern yang seperti saat ini, yang jauh lebih maju dalam segala bidang, bila kita tak mampu beradaptasi, otomatis kita dengan sendirinya akan tersingkir di kehidupan social. Tapi hal ini malah tak berlaku di masyarakat kelabaan Sumenep, Madura.
Kita juga tidak bisa menyalahkan masyarakat tersebut, kita tidak bisa menyalahkan kondisi ataupun karakter mereka sebagai masyarakat Madura yang seperti itu. Karena memang itu adalah budaya yang turun temurun dan sangat mendarah daging. Nilai-nilai yang ada sudah terinternalisasi dalam masyarakat. Bahkan bisa di bilang hampir semua masyarakat disana memiliki cara berpikir yang sama, yaitu tradisional. Mungkin karena hal ini yang membuat mereka mampu bertahan disana. Mereka semua menyepakati nilai-nilai yang telah ada sejak dulu
Bila kita meneropong kondisi perkembangan secara umum di Negara kita Indonesia, dengan segala macam kecanggihan yang ada, tampaknya Madura agak terasing. Madura seperti sebuah Negara yang berdiri sendiri, suara mereka dianggap remeh, bahkan direndahkan di peradaban Negara kita. Bila tak ada penggerak/pelopor perubahan dalam masyarakat tersebut, mustahil masyarakat Madura mampu menyetarakan dengan kondisi masyarakat yang ada di perkotaan, yaitu masyarakat yang modern, masyarakat yang berpola pikir yang rasional dan selalu mengikuti perkembangan dan perubahan yang lebih maju.
2.4Para Agen Perubahan Sebagai Solusi
Berbicara masalah solusi, bisa jadi banyak alternativenya. Tapi kalau solusi yang substansi dengan permasalahan dan berpeluang dapat menyelesaikan masalah, mungkin agak sulit. Pada judul pembahasan kali ini kita akan menganalisa solusi seperti apa yang linier dengan permasalahan yang ada. Pastinya apabila linier adalah solusi yang berpeluang menyelesaikan masalah.
Setelah panjang lebar kita membahas beberapa hal yang berkaitan dengan masalah dalam makalah ini, ada baiknya kita kembali pada substansi masalah yang ada agar pembahasannya tidak melebar dan kita juga mampu memberikan solusi yang tepat.
Dalam makalah ini, yang menjadi substansi permasalahan adalah ketradisionalan pola pikir masyarakat yang menjadi objek pengamatan kita. lalu pertanyaannya, bagaimana cara kita untuk mengatasi masalah tersebut dengan melihat dampak-dampak yang akan terjadi jika ini akan terus berlanjut?? Sebelum berlanjut ke tawaran solusi, kita harus mampu memetakan karakteristik masyarakat yang akan kita rubah. Karena bila kita ingin merubah sesuatu tanpa mengenal objek yang akan kita rubah terleih dahulu, pasti tidak mungkin bisa memberikan solusi yang tepat. Misalnya penulis analogikan, ada seorang psikolog yang ingin membantu menyelesaikan masalah pasiennya. Disini si pasien dan si psikolog belum pernah berkenalan sebelumnya, dan belum memahami secara utuh permasalahan yang sedang dihadapi si pasien tersebut, tentu saja ketika psikolog itu menawarkan solusi pada si pasien, pasien tersebut merasa pemecahan masalah yang diberikan tak mampu menyelesaikan masalahnya, bisa jadi si pasien menolak solusi yang diberikan lantaran solusi dari si psikolog merusak atau tidak sesuai dengan kepribadian pasien tersebut.
Disini penulis menganalisa solusi yang ditawarkan melalui pemetaan karakter masyarakat yang menjadi objek pengamatan. Pada pembahasan sebelumnya, kita telah membicarakan hal ini, dimana karakter yang sangat kental adalah latar belakang kereligiusan, dalam hal ini mereka yang memiliki figure seperti ini akan dihormati dan disegani, bahkan kata-katanya akan di dengar. Sayangnnya, figure yang seperti ini di Madura juga berpikiran yang tradisional, bisa jadi lebih parah. Untuk itu, bila ingin merubah pola pikir masyarakatnya, harus ada para pemuda pemudi yang sadar akan masalah ini dan ingin menggerakkan masyarakatnya untuk bisa berubah kearah yang lebih maju. Panulis kira pemuda pemudi ini kalau bisa berasal dari tempat yang sama, karena melihat masyarakat yang sangat guyub, tentunya lebih mengutamakan orang-orang yang berasal dari kelompok sendiri.
Dengan melihat kondisi yang mayoritas bahkan hampir semua nya tradisional, tidak mungkin bila ingin merubah pola pikir masyarakat tanpa memiliki jabatan yang berpengaruh disana, apalagi kalau sendiri, pasti tak akan bisa. Oleh karena itu para agen perubahan harus memiliki organisasi yang mendukung. Disini kita berbicara system social, kita akan merubah system yang telah mendarah daging, dan pastinya bila kita ingin diterima oleh masyarakat tersebut, kita juga harus mampu menyesuaikan dengan nilai-nilai yamg sedang berkembang agar masyarakat percaya pada nilai-nilai yang kita bawakan.
Penulis akan memberikan sajian praktis dari deskripsi solusi yang kita bahas untuk memudahkan ilustrasi :
Rahma adalah seorang anak perempuan yang dilahirkan dan merupakan keturunan darah Madura. Ia hidup bertahun-tahun dilingkungan yang sangat tradisional. Ayah, ibu dan kakak-kakaknya juga demikian. Namun Rahma sama sekali tidak sepakat dengan budaya yang berkembang, seperti nikah muda, merendahkan pendidikan, mengharamkan jaringan internet dan pemikiran tradisional lainnya. Rahma selalu menentang keluarganya, ia bersi keras untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi di kota.
Di masa kuliah, Rahma tak membuang kesempatan untuk terus mengembangkan diri. Ia bercita-cita ingin merubah tanah kelahirannya agar lebih maju dan mampu mengikuti perkembangan zaman serta meninggalkan pola berpikir yang tradisional menjadi masyarakat yang rasional
Rahma mengikuti sebuah organisasi yang bisa mendukung cita-citanya itu. Setelah lulus dari kuliah, ia ingin kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdi disana. Dengan bekal pengetahuan yang telah ia dapatkan selama kuliah, ia berhasil duduk di jabatan pemerintahan Madura. Disana ia berusaha untuk mengajak diskusi para rekan kerjanya untuk membawa Madura menjadi maju. Saat itu Rahma berhasil menjadi figure dalam masyarakatnya yang membuat ia bisa maju menjadi ketua DPR, sedikit demi sedikit Rahma mulai merubah system-sistem yang ada dalam masyarakatnya. Dimulai system pendidikan yang menjadi akar permasalahan, sampai pada system keagamaan. Dengan demikian, lambat laun Rahma mampu merubah pola pikir masyarakat Madura menuju masyarakat yang rasional dan berpandangan jauh kedepan.
Ini memang tak mudah, namun ini adalah solusi yang sesuai dengan konteks masyarakat Kelabaan Madura. Belum lagi mencari pemuda pemudi yang sadar dan mau untuk menggerakkan perubahan masyarakat tersebut, jumlahnya bisa dihitung dengan tangan. Namun penulis yakin, pasti akan ada pemuda pemudi yang sadar akan masalah ini dan ingin menjadi agen penggerak perubahan masyarakatnya.
BAB III
Kesimpulan
Masyarakat kelabaan Guluk-guluk Sumenap adalah masyarakat yang sangat tradisional pola pikirnya. Ini sudah mendarah daging karena hampir seluruh masyarakatnya seperti itu. Sangat sulit dirubah bila kita tidak lari pada system social dan menjadi orang yang berpengaruh disana.
Pemetaan karakteristik masyarakat disini sangat dibutuhkan untuk membantu proses perubahan yang kita inginkan. Dengan melihat kondisi masyarakat yang seperti apa, nilai-nilai yang berkembang seperti apa, peran stategi politik kita disini sangatlah dibutuhkan untuk bisa merubah system tradisional yang tela berkembang sebelumnya.
Metode Pendekatan Yang Digunakan
Latar Belakang
Latar belakang dalam tulisan ini berisi realitas dan dampak social serta substansi permasalahan, menggunakan 2 metode pendekatan, yaitu logika, indrawi (mencoba merenungi realitas di masyarakat, dapat merasakan nya sendiri melalui narasumber teman yang mengetahuai secara konkrit kondisi masyarakat disana)
Objek Pengamatan
Untuk mencari objek pengamatan, digunakan pendekatan logika, karena penulis memahami permasalahan yang diangkat
Tujuan Intruksional
Menggunakan pendekatan logika. Dari tujuan telah menggambarkan isi dari materi, apa saja yang akan di bahas oleh penulis sehingga tahu batasan-batasan pembahasan nya. Jadi tidak mungkin mencari referensi, karena yang paham akan isi tulisan adalah penulis sendiri, sehingga yang mengerti tujuan juga penulis nya sendiri.
Isi/sistematika
Menggunakan 3 pendekatan. Ketiga nya berkaitan dan membutuhkan. Pendekatan indrawi di gunakan untuk melihat di lapangan seperti apa, sehingga dapat merenung dan merasakan. Pendekatan logika di gunakan ketika di dalam isi sudah sangat jelas sekali masalah nya. Sedangkan pendekatan referensi di gunakan ketika membutuhkan definisi-definisi istilah, data, seperti pada pembahasan di perkembangan teknologi dan pengetahuan serta perubahan pola pikir masyarakat. Penulis membutuhkan data-data melalui referensi internet dan buku-buku terkait. Data situs dan referensi buku terlampir di daftar pustaka.
Kesimpulan
Menggunakan meode pendekatan logika, karena sudah sangat jelas sekali tentang masalah dan solusi yang telah di analisa panjang lebar pada pembahan awal-awal.
DAFTAR PUSTAKA
Sony, Keraf A. 2001. ILMU PENGETAHUAN Sebagai Tinjauan
Filosofis.Yogyakarta. Kannisius
Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2011. Sosiologi Teks Pengantar
dan Terapan. Jakarta. Kencana Prenada Media Group
http://id.wikipedia.org/wiki/Modernisasi
http://www.artidefinisi.com/2012/06/ciri-ciri-masyarakat-modern-pengertian.htmlhttp://indra2.wordpress.com/2008/05/14/masyarakat-yang-rasional-apa-masalahnyahttp://portal.paseban.com/article/9084/teknologi-masa-kini


Download Makalah Sosiologi.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah Sosiologi. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon