November 30, 2016

Makalah sejarah perkembangan dakwah rasulullah


Judul: Makalah sejarah perkembangan dakwah rasulullah
Penulis: Suhadi Danuarta


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah- NYA sehingga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, hanya dengan keridhoan-NYA makalah dengan judul "Sejarah perkemangan dakwa NABI" ini dapat terselesaikan.
Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-qur'an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Tanpa bantuan dari berbagai pihak, makalah ini tidak akan terwujud dan masih jauh dari sempurna, kami menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini. Maka dari itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sehingga akan menumbuhkan rasa syukur kami kepada rahmat Allah SWT dan dalam hal perbaikan makalah ini ke depannya.
Akhirnya kami berharap, semoga makalah ini dapat memberikan sumbangsih positif dan manfaat bagi yang membutuhkan.
DAFTAR ISI
KataPengantar
Pendahuluan.
Latar Belakang...........................................................................................
Rumusan Masalah.....................................................................................
Tujuan ........................................................................................................
Pembahasan........................................................................................................................
Penegrtian dakwah....................................................................................
Dalil-dalil alqur'an tentang keutamaan dakwah...................................
2.1 Hukum dan ketentuan berdakwah dijalan allah
2.2 Metode berdakwah di jalan allah
2.3 Tujuan dari dakwah
2.4 Akhalak seorang DA'I
Strategi dakwah NABI Peeiode Mekkah dan Madinah
3.1 Strategi Dakwah Rasulullah (Sembunyi dan Terang-Terangan)
3.2 stategi dakwah Rasululullah SAW. Periode Madinah
Penutup..............................................................................................................................
Kesimpulan................................................................................................
Saran..........................................................................................................
Daftar Pustaka.................................................................................................................
PENDAHULUAN
Islam merupakan agama yang besar, dan dibesarkan oleh orang nomor satu dunia yaitu Nabi Besar Muhammad SAW. Beliau telah mendedikasikan seluruh hidupnya demi kejayaan dan penyebaran agama Islam. Beliau adalah sosok mulia yang menghabiskan hari-harinya dengan berdakwah menyampaikan risalah Tuhan. Beliau tidak pernah lelah dan menyerah menghadapi hinaan, caci maki serta perlawanan dari musuh-musuh Islam.
Beliau adalah pribadi sempurna yang telah memberikan cahaaya kepada seluruh umat manusia. Beliau adalah panutan sepanjang zaman, dan ajaran serta pengabdian beliau selalu menjadi prioritas utama bagi umat Islam yang benar-benar talah mengislamkan dirinya, hatinya dan jiwanya. Sosok agung beliau yang telah meninggalkan kita sekian abad yang lalu, menambah cinta dan rindu kita kepadanya. Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepadanya, pada keluarga dan sahabat-sahabat beliau yang selalu setia dalam perjuangan menegakkan Agama Islam, dan untuk seluruh pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.
            Rasulullah telah mengajarkan kepada seluruh umat Islam tentang betapa beratnya menegakkan kalimah tauhid, dan Rasulullah selalu optimis terhadap janji Allah bahwa agama yang benar adalah Islam, dan kebenaran itu yang membuat Rasulullah memiki kekuatan yang luar biasa. Keyakinan akan Kebenaran Hakiki yang membuat beliau mampu merobohkan tembok-tembok kemusyrikan, dan keyakinan itulah yang membawa Islam kepada kejayaan.
RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian dari dakwa ?
Bagaimana hukum dakwah menurut al qur'an ?
Apa keutamaan dari berdakwah ?
Apa metode seoarang pendakwah ?
Bagaimana sifat sifat dari seorang pendakwa
Tujuan
SEJARAH PERKEMBANGAN DAKWAH NABI
Pengertian dakwah
1.1 Pengertian dakwah menurut bahasa
Pengertian dakwah menurut bahasa; dakwah berasal dari bahasa Arab yakni دعا– يدعوا – دعوة (da'a - yad'u - da'watan). Kata dakwah tersebut merupakan ism masdar dari kata da'a yang dalam Ensiklopedia Islam diartikan sebagai "ajakan kepada Islam. Kata da'a dalam al-Quran, terulang sebanyak 5 kali, sedangkan kata yad'u terulang sebanyak 8 kali dan kata dakwah terulang sebanyak 4 kali.
Kata da'a pertama kali dipakai dalam al-Quran dengan arti mengadu (meminta pertolongan kepada Allah) yang pelakunya adalah Nabi Nuh as. Lalu kata ini berarti memohon pertolongann kepada Tuhan yang pelakunya adalah manusia (dalam arti umum). Setelah itu, kata da'a berarti menyeru kepada Allah yang pelakunya adalah kaum Muslimin.
Kemudian kata yad'u, pertama kali dipakai dalam al-Quran dengan arti mengajak ke neraka yang pelakunya adalah syaitan. Lalu kata itu berarti mengajak ke surga yang pelakunya adalah Allah, bahkan dalam ayat lain ditemukan bahwa kata yad'u dipakai bersama untuk mengajak ke neraka yang pelakunya orang-orang musyrik.
Sedangkan kata dakwah atau da'watan sendiri, pertama kali digunakan dalam al-Quran dengan arti seruan yang dilakukan oleh para Rasul Allah itu tidak berkenan kepada obyeknya. Namun kemudian kata itu berarti panggilan yang juga disertai bentuk fi'il (da'akum) dan kali ini panggilan akan terwujud karena Tuhan yang memanggil. Lalu kata itu berarti permohonan yang digunakan dalam bentuk doa kepada Tuhan dan Dia menjanjikan akan mengabulkannya.
1.2. Pengertian dakwah menurt istilah
Didin Hafidhuddin menyatakan pengertian dakwah, yakni; pesan yang datang dari luar, sehingga langkah pendekatan lebih diwarnai dengan interventif. Ceramah dalam arti sempit, sehingga orientasi dakwah sering pada hal-hal yang bersifat rohani saja. Menyampaikan dan hasil akhirnya terserah kepada Allah, akan menafikan perencanaan, pelaksanan dan evaluasi dari kegiatan dakwah.
Berdasarkan pandangan tersebut, maka pengertian dakwah menurut istilah adalah menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu, dengan proses yang berkesinambungan dan ditangani oleh para pengembang dakwah. Hal ini dikarenakan Islam adalah dakwah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah.
Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu dakwah" dan Ilmu Islam" atau ad-dakwah al-Islamiyah.Dalil dalil al-qur'an tentang dakwah
2.1 Hukum dan Keutamaan Berdakwah di Jalan Allah
Hukum berdakwah di jalan Allah adalah wajib sesuai kemampuan masing-masing. Dalil-dalil yang menunjukan akan hal tersebut sangat banyak. Diantaranya firman Allah,
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar .merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali 'Imran: 104)
Para ulama juga menjelaskan bahwa berdakwah di jalan Allah adalah fardhu kifayah.Sehingga jika di suatu tempat atau suatu masa tidak ada yang berdakwah dijalan Allah, maka semua yang tinggal di masa dan waktu tersebut mendapat dosa.Tentang keutamaan berdakwah juga telah banyak disebut dalam ayat-ayat al Qur'an dan hadist-hadist Rasulullah , diantaranya Allah berfirman,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fushilat: 33)
Ayat yang mulia ini menjelaskan keutamaan orang-orang yang berdakwah di jalan Allah(baca: para da'i)  dan pujian atas mereka yang mana tidak ada seorang pun yang lebih baik perkataannya dari pada mereka.
Rasulullah bersabda,
من دل على خير فله مثل أجر فاعله
Barangsiapa menujukkan atas kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.[2]
Rasulullah juga bersabda,
فوالله ! لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من أن يكون لك حمر النعم
Demi Allah! Seandainya Allah menunjuki seseorang karenamu lebih baik bagimu daripada kamu mendapat onta merah.[3]
Dua hadist di atas sudah cukup menunjukan betapa besar keutamaan berdakwah di jalan Allah. Bahwasanya berdakwah di jalan Allah didalamnya terdapat kebaikan yang sangat banyak, dan seorang da'i akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mendapatkan hidayah melaluinya.
2.2 Metode Berdakwah di Jalan Allah
Di dalam firmanNya, Allah telah menjelaskan tentang tatacara berdakwah di jalanNya ,ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. an Nahl: 125)
Dalam ayat yang mulia tersebut Allah menjelaskan bagaimana seyogyanya dakwah itu dilakukan dengan cara yang benar. Yang pertama dengan hikmah, yaitu dengan dalil-dali yang jelas yang membedakan yang hak dan yang batil. Oleh karena itu sebagian ahli tafsir menafsirkan hikmah dengan al Qur'an dan sebagian yang lain menafsirkannya dengan dalil-dalil dari al Quran dan Sunnah. Hendaknya seorang da'I hendaknya berdakwah dengan hikmah dan memulai dengannya.Jika mad'u atau orang yang didakwahi adalah orang yang meremehkan syariat dan memiliki penyimpangan-penyimpangan maka hendaknya didakwahi dengan nasehat yang baik (mau'idhah hasanah) yaitu dengan ayat-ayat dan hadist yang berisi peringatan, acaman dan janji dari Allah. Dan seandainya di dalam diri mad'u ada kerancuan berfikir (syubhat) sehingga menolak kebenaran dan bersikukuh dalam kesalahan maka tidak mengapa kita mendebatnya (jidal) dengan cara yang baik sehingga tersingkaplah syubhat tersebut dan kembali kepada kebenaran.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. (QS. at Tahriim: 9)
2.3Tujuan dari Dakwah
Dakwah memiliki tujuan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya hidayah, dari kebatilan menuju kebenaran, dari kebodohan menuju cahaya ilmu, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari kesyirikan menuju tauhid. Ini semua adalah tujuan yang mulia dari dakwah, sebagaimana Allah berfirman,
اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). (QS. al Baqarah : 257)
2.4 Akhlak Seorang Da'i
Agar dakwah yang disampaikan dapat diterima oleh manusia hendaknya seorang da'i memperhatikan sifat dan akhlak yang ia miliki. Allah dan RasulNya telah menjelaskan sifat-sifat yang hendaknya dimiliki oleh seorang da'I, diantaranya :1. Ikhlas
Hendaknya seorang da'i mengikhlaskan dakwahnya karena Allah semata bukan karena riya', atau mengharap pujian manusia atau yang lainnya.Selain itu hendaknya juga diniatkan untuk mengharap wajah Allah semata.2. Berbekal Bashirah(ilmu)
Berilmu, ini juga tidak kalah pentingnya yang harus dimiliki seorang da'i. Dua hal ini adalah syarat utama yang harus dimiliki seorang da'I sebagaimana firmanNya,
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. (QS. Yusuf: 108)
3. Hati-hati dan Lemah-Lembut dalam Berdakwah
Tidak diragukan lagi lemah –lembut adalah salah satu faktor diterimanya dakwah.Sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam. Allah berfirman,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali 'Imran: 159)
4. Mengamalkan Apa yang DidakwahkanHendaknya seorang da'i mengamalkan apa yang ia dakwahkan dan menjadi teladan didalamnya. Jangan sampai ia sibuk mendakwahi manusia sedang ia lalai terhadap dirinya sendiri. Allah berfirman,
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?STRATEGI DAKWAH RASULULLUAH SAW. PERIODE MEKAH DAN MADINAH.
3.1 Strategi Dakwah Rasulullah (Sembunyi dan Terang-Terangan)
Ibnul Jawzy mengatakan:Rasulullah berdakwah di Mekah secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun lamanya,lalu Allah menurunkan wahyu-Nya:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ
"Terang-teranganlah (dalam menyampaikan)perintah Allah kepadamu".(al-Hajar:94)
Maka setelah turun ayat ini beliau mulai berdakwah secara terang terangan,lalu firman Allah turun lagi memerintahkan beliau untuk memulai dakwah terang-terangan ini kepada keluarga dekat beliau:
وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْأَقْرَبِيْنَ
"Dan berilah peringatan kepada keluarga terdekatmu"(as-Syu'ara':214)
Beliaupun keluar dan menaiki gunung shafa lalu berseru:pagi yang baik....merekapun berkata:siapa orang yang berseru ini?
sebagian mereka mengatakan:itu adalah suara Muhammad,maka tidak lama kemudian penduduk Mekahpun berkumpul di hadapan beliau,lalu beliau mengatakan:wahai Bani Abdul Muttalib...wahai Bani Abdi Manaf.....seandainya saya mengabari kalian bahwasanya ada seekor kuda akan keluar dari lereng gunung ini,apakah kalian mempercayaiku?,mereka menjawab:kami tidak pernah mendengar engaku pernah berbohong walau sekali,beliau lalu berkata:maka ketahuilah bahwasanya aku ini adalah pemberi peringatan dari jatuhnya kalian kedalam azab yang pedih,lalu paman beliau yang bernama Abu Lahab berkata:celaka engkau wahai Muhamma,untuk inikah engkau mengumpulkan kami? lalu Abu Lahabpun segera pergi,kemudian tidak lama setelah itu turunlah firman Allah:
تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَتَبَّ
"Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh celaka"(al-Masad:1)
Setelah Nabi hijrah ke Madinah, kota tersebut dijadikan pusat jamaah kaum muslimin, dan selanjutnya menjadi ibukota Negara islam yang segera didirikan oleh Nabi, dengan dirubah namanya Madinah, yang semula bernama Yastrib.
3.2 Adapun stategi dakwah Rasululullah SAW. Periode Madinah, yaitu :
a. Pembinaan Masjid
Masjid merupakan institusi dakwah pertama yang dibina oleh Rasulullah SAW. setianya baginda di Madinah. Ia menjadi nadi pergerakan Islam yang menghubungkan manusia dengan Penciptanya serta manusia sesama manusia. Masjid menjadi lambang akidah umat Islam atas keyakinan tauhid mereka kepada Allah SWT. Pembinaan masjid dimulakan dengan membersihkan persekitaran kawasan yang dikenali sebagai 'mirbad' dan meratakannya sebelum menggali lubang untuk diletakkan batu-batu sebagai asas binaan. Malah, Rasulullah SAW. sendiri yang
meletakkan batu-batu tersebut. Batu-batu itu kemudiannya disemen dengan tanah liat sehingga menjadi binaan konkrit.
Masjid pertama ini dibina dalam keadaan kekurangan tetapi penuh dengan jiwa ketaqwaan kaum muslimin di kalangan muhajirin dan ansar. Mesjid pertama yang dibangun rasulullah SAW. adalah mesjid Quba'. Tanggla 16 Agustus Rasul dan para sahabat yang berjumlah lebih kurang seratus orang menuju Madinah pada hari jumat. Ditengah jalan pada suatu tempat yang bernama perkampungan lembah Bani Salim, Rasul mendapat perintah untuk mendirikan shlat jumat, sebagai suatu isyarat sudah waktunya memproklamirkan berdirinya Daulah Islamiyah. Di dalamnya, dibina sebuah mimbar untuk Rasulullah SAW. menyampaikan khutbah dan wahyu daripada Allah. Terdapat ruang muamalah yang dipanggil 'sirda'untuk pergerakan kaum muslimin melakukan aktivitas kemasyarakatan. Pembinaan masjid ini mengukuhkan dakwah baginda untuk menyebarkan risalah wahyu kepada kaum muslimin serta menjadi pusat perbincangan di kalangan Rasulullah SAW. dan para sahabat tentang masalah ummah.
b. Mengukuhkan Persaudaraan
Rasulullah SAW mempersadarakan kaum Muhajirin dan Ansar. Jalinan ini diasaskan kepada kesatuan cinta kepada Allah serta pegangan akidah tauhid yang sama. Persaudaraan ini membuktikan kekuatan kaum muslimin melalui pengorbanan yang besar sesama mereka tanpa membeda – bedakan pangkat, bangsa dan harta. Selain itu, ia turut memadamkan api persengketaan di kalangan suku kaum Aus dan Khajraz. Sebagai contoh, Abu bakar dipersaudarakan dengan Harisah bin Zaid, Jafar bin Abi Thalib dipersaudarakan dengan Mu'az bin Jabal, dan Umar bin Khattab dipersaudarakan dengan Itbah bin Malik. Begitu seterusnya sehingga tiap – tipa orang dari kaum Ansar dipersaudarakan dengan kaum Muhajirin.
c.Pembentukan Piagam Madinah
Madinah sebagai sebuah Negara yang menghimpunkan masyarakat Islam dan Yahudi daripada pelbagai bangsa memerlukan kepada satu perlembagaan khusus yang menjaga kepentingan semua pihak. Rasulullah SAW. telah menyediakan sebuah piagam yang dikenali sebagai Piagam Madinah untuk membentuk sebuah masyarakat di bawah naungan Islam.
Piagam ini mengandungi 32 pasal yang menyentuh segenap aspek kehidupan termasuk akidah, akhlak, kebajikan, undang-undang, kemasyarakatan, ekonomi dan lain-lain. Di dalamnya juga terkandung aspek khusus yang mesti dipatuhi oleh kaum Muslimin seperti tidak mensyirikkan Allah, tolong-menolong sesama mukmin, bertaqwa dan lain-lain. Selain itu, bagi kaum bukan Islam, mereka mesti berkelakuan baik kepada kaum islam di Madinah.
Piagam ini harus dipatuhi oleh semua penduduk Madinah Islam atau bukan Islam. Strategi ini telah menjadikan Madinah sebagai model Negara Islam yang adil, membangun serta disegani oleh musuh-musuh Islam.
Strategi ketentaraan
Peperangan merupakan strategi dakwah Rasulullah di Madinah untuk melebarkan perjuangan Islam ke seluruh pelosok dunia. Strategi ketenteraan Rasulullah s.a.w digeruni oleh pihak lawan khususnya pihak musyrikin di Mekah dan Negara-negara lain. Antara tindakan strategik baginda menghadapi peperangan ialah persiapan sebelum berlakunya peperangan seperti pengitipan dan maklumat musuh. Ini berlaku dalam perang Badar, Rasulullah SAW. telah mengutuskan pasukan berani mati seperti Ali bin Abi Talib, Saad Ibnu Waqqash dan Zubair Ibn Awwam untuk bersiap-sedia menghadapi perang.
Rasulullah SAW. turut membacakan ayat-ayat al-Quran untuk menggerunkan hati musuh serta menguatkan jiwa kaum Muslimin. Antara firman Allah Taala bermaksud:
"Dan ingatlah ketika Allah menjajikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan yang kamu hadapi adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayatNya dan memusnahkan orang-orang kafir." (Surah al-Anfal: 7)
Rasulullah SAW. turut mengambil pandangan dari para sahabat dalam menyusun strategi peperangan. Dalam perang Khandak, Rasulullah SAW. setuju dengan pandangan Salman al-Farisi yang berketurunan Parsi berkenaan pembinaan benteng. Strategi ini membantu pasukan tentera Islam berjaya dalam semua peperangan dengan pihak musuh.
Hubungan Luar
Hubungan luar merupakan orientasi penting bagai melebarkan sayap dakwah. Ini terbukti melalui tindakan Rasulullah SAW. menghantar para dutanya ke negara-negara luar untuk menjalin hubungan baik berteraskan dakwah tauhid kepada Allah. Negara-negara itu termasuk Mesir, Iraq, Parsi dan Cina. Sejarah turut merekamkan bahwa Saad Ibn Waqqas pernah berdakwah ke negeri Cina sekitar tahun 600 hijrah. Sejak itu, Islam bertebaran di negeri Cina hingga saat ini. para sahabat yang pernah menjadi duta Rasulullah ialah Dukyah Kalibi kepada kaisar Rom, Abdullah bin Huzaifah kepada kaisar Hurmuz, Raja Parsi, Jaafar bin Abu Talib kepada Raja Habsyah.
Strategi hubungan luar ini diteruskan pada pemerintahan khalifah Islam selepas kewafatan Rasulullah SAW. Sebagai contoh, pasukan Salehuddin al-Ayubi di bawah pemerintahan Bani Uthmaniah telah berjaya menawan kota suci umat Islam di Baitul Maqdis. Penjajahan ke Negara-negara luar merupakan strategi dakwah paling berkesan di seluruh dunia.
Memelihara dan Mempetahankan Masyarakat Islam
Rasulullah SAW membuat perjanjian persahabatan perdamaian dengan kaum Yahudi yang berdiam di kota Madinah dan sekitarnya. Tindakan ini belum pernah dilakukan oleh nabi dan rasul sebelumnya. Isi perjanjiannya sebagai berikut :
a) Kebebasan beragama bagi semua golongan dan masing-masing golongan mempunyai wewenang penuh terhadap anggits golongannya.
b) Semua lapisan, baik muslim maupun Yahudi harus tolong menolong dan saling mebantu untuk melawan siapa saja yang memerangi mereka. Semua wajib mempertahankan kota bila ada serangan dari luar
c) Kota Madinah adalah ota suci yang wajib dihormati oleh mereka yang terikat dengan perjanjian itu. Apabila terjadi perselisihan antara muslim dan Yahudi, maka urusan itu diserahkan kepada Allah SWT dan rasul(Al Qur'an dan sunah).
d) Mengakui dan mentaati kesatuan pimpinan untuk kota Madinah yang disetujui dipegang oleh Nabi Muhammad SAW.
Musuh- musuh Islam dari dulu sampai sekarang menuduh bahwa islam berkembang di bawah sinarnya mata pedang. Ini adalah tuduhan bohong, tidak berdasarkan kenyataan, karena perkembangan islam adalah berlandaskan "ajaran islam" itu sendiri, karena prinsip- prinsip dari masyarakat islam, yang bersendikan "Ukhuwah Islamiyah, Mussawah Tammah dan Syura Muthlaqah".
DAFTAR PUSTAKA
http://blogschoolpedia.blogspot.com/2011/06/substansi-dan-strategi-dakwah.htmlSelesai ditulis di Riyadh, 24 Rabi'ul Awwal 1432 H (27 Februari 2011)
Abu Zakariya Sutrisno
Artikel: www.thaybah.or.id / www.ukhuwahislamiah.comNote:
[1].  Lihat Majmu' Fatawa wa Maqoolaat Mutanawwi'ah oleh Samahatul Imam Ibnu Bazz rahimahullah (Juz 1 hal.324-348)
[2].  Diriwayatkan imam Muslim dalam Shahihnya
[3].  Muttafaqun 'alaihi
[4].  Muttafaqun 'alaihi
http://id.wikipedia.org/wiki/Dakwahhttp://www.referensimakalah.com/2012/09/pengertian-dakwah-menurut-bahasa-dan-istilah.html


Download Makalah sejarah perkembangan dakwah rasulullah.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah sejarah perkembangan dakwah rasulullah. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon