November 08, 2016

MAKALAH MIKROBIOLOGI VIRUS DBD, INFLUENZA, DAN POLIO


Judul: MAKALAH MIKROBIOLOGI VIRUS DBD, INFLUENZA, DAN POLIO
Penulis: Yuliana A


MAKALAH MIKROBIOLOGI
VIRUS PENYEBAB PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE, INFLUENZA, DAN POLIO
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi Dosen Pengampu Ibu Tri Wahyuni Sukesi, S.Si., MPH.
162918943732
DISUSUN OLEH:
YULIANA
1300029113
KELAS B
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2014
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL1
DAFTAR ISI2
BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH3
RUMUSAN MASALAH4
TUJUAN PENULISAN5
METODE PENULISAN5
BAB II PEMBAHASAN
DEFINISI DBD6
PENYEBAB DENGUE7
DEFINISI INFLUENZA10
ETIOLOGI INFLUENZA11
DEFINISI POLIO13
PENYEBAB POLIO13
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN16
DAFTAR PUSTAKA17
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Indonesia merupakan salah satu negara yang beriklim tropis. iklim tropis ini hanya memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan juga musim kemarau. Penyakit tropis merupakan penyakit yang ditemukan didaerah tropis, hal ini karena Serangga seperti nyamuk dan lalat yang pembawa penyakit yang paling umum, atau vector aktif pada daerah beriklim tropis. Serangga ini dapat membawa parasit, bakteri atau virus yang menular kepada manusia dan hewan. Salah satu yang menyerang manusiaadalah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau disebut juga Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali daerah-daerah yang memiliki ketinggian lebih dari seribu meter dari permukaan air laut.
Hampir setiap tahunnya di Indonesia ada saja orang yang terjangkit penyakit DBD. Hal ini membuktikan bahwa sebagian masyarakat masih kurang sadar terhadap kebersihan lingkungan serta lambatnya pemerintah dalam mengantisipasi dan merespon terhadap merebaknya kasus DBD ini. Masyarakat seringkali salah dalam mendiagnosis penyakit DBD ini dengan penyakit lain seperti flu atau typhus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bersifat asistomatik atau tidak jelas gejalanya. Pasien DBD biasanya atau seringkali menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus DBD dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau typhus. Oleh karena itu, permasalahan DBD masih belum mencapai titik terang hingga sekarang.
Tidak hanya DBD, penyakit tropis lainnya yang kini masih melanda Indonesia yaitu influenza dan polio. Influenza atau biasa disebut "flu", merupakan penyakit tertua dan paling sering didapat pada manusia. Influenza juga merupakan salah satu penyakit yang mematikan. Penyakit influenza pertama kali diperkenalkan oleh Hipocrates pada 412 sebelum Masehi. Pandemi pertama yang terdokumentasi dengan baik muncul pada 1580, dimana muncul dari Asia dan meyebar ke Eropa melalui Africa. Sampai saat ini telah terdokumentasi sebanyak 31 kemungkinan terjadinya pandemi influenza dan empat di antaranya terjadi pada abad ini yakni pada 1918 (Spanish flu) yang menyebabkan 50-100 juta kematian oleh virus influenza A subtipe H1N1, 1957 (Asia flu) yang meyebabkan 1-1,5 juta kematian oleh virus influeza A subtipe H2N2, dan 1968 (Hongkong flu) yang menyebabkan 1 juta kematian oleh virus ifluenza A subtipe H3N2.
Penyakit tersebut hingga saat ini masih mempengaruhi sebagian besar populasi manusia setiap tahun. Virus influenza mudah bermutasi dengan cepat, bahkan seringkali memproduksi strain baru di mana manusia tidak mempunyai imunitas terhadapnya. Ketika keadaan ini terjadi, mortalitas influenza berkembang sangat cepat.  Di Amerika Serikat epidemi influenza yang biasanya muncul setiap tahun pada musim dingin atau salju menyebabkan rata-rata hampir 20.000 kematian. Sedangkan di Indonesia atau di negara-negara tropis pada umumnya kejadian  wabah influenza dapat terjadi sepanjang tahun dan puncaknya akan terjadi pada bulan Juli.
WHO menyatakan bahwa awal tahun 2006 ini merupakan saat terdekat terjadinya pandemi flu sejak pandemi terakhir tahun 1968. Data yang ada menunjukkan bahwa wabah avian influenza hanya kurang satu syarat lagi untuk menjadi "calon" pandemi, yaitu belum ditemukan bukti penularan antarmanusia di masyarakat. Pengalaman masa lalu, pandemi tahun 1918, misalnya, menunjukkan bahwa korban manusia dapat sampai puluhan juta orang.
Diseluruh dunia hingga April 2007 terdapat 172 kasus flu burung yang terkonfirmasi. Seperti dapat terlihat dari laporan WHO kasus terbanyak di Vietnam (93 kasus) dan Indonesia menduduki peringkat ke-2 dengan 81 kasus namun jumlah kematian di Indonesia yang tertinggi, yaitu 63 dari 81 kasus.
Sedangkan polio dapat mengakibatkan kelumpuhan hingga kematian, bahkan dalam hitungan jam. Virus terbawa dalam kotoran manusia. Penyakit menular ini pada umumnya menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Maka tidak salah jika dikatakan, Polio merupakan ancaman bagi seluruh anak-anak di muka bumi ini. Pada tahun 1988, dunia mencanangkan program pemberantasan polio sedunia, yang lebih dikenal dengan Program Pemberantasan Polio Global. Upaya kesehatan ini telah efektif menyelamatkan 5 juta anak dari kelumpuhan akibat Polio. Pada tahun 2004, hanya terdapat 1266 kasus polio diseluruh dunia, dengan lebih dari 90% terjadi di enam negara.
Berdasarkan uraian masalah di atas, hal inilah yang ingin penulis analisa tentang virus penyebab penyakit DBD, influenza, dan polio. Mengapa Indonesia begitu banyak penyakit seperti di atas yang menyerang Indonesia.
RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
Apa yang dimaksud dengan Demam Berdarah Dengue (DBD)?
Apa penyebab terjadinya penyakit DBD/
Apa yang dimaksud dengan influenza?
Apa penyebab penyakit influenza?
Apa yang dimaksud dengan polio?
Apa penyebab penyakit polio?
TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui definisi penyakit DBD
Untuk mengetahui penyebab terjadinya penyakit DBD
Untuk mengetahui definisi penyakit influenza
Untuk mengetahui penyebab penyakit influenza
Untuk mengetahui definisi penyakit polio
Untuk mengetahui penyebab penyakit polio
METODE PENULISAN
Metode penulisan dalam penulisan makalah ini adalah dengan mengumpulkan data dari berbagai referensi, baik dari buku maupun internet.
BAB II
PEMBAHASAN
DEFINISI DEMAM BERDARAH DENGUE
Penyakit demam berdarah dengue atau yang disingkat sebagai DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bibit penyakit yang sangat kecil yang disebut virus. Sekalipun dengan mikroskop, bibit penyakit ini tetap tidak dapat dilihat. Virus ini termasuk ke dalam kelompok virus yang ditularkan oleh serangga bersegmen yang menggigit, misalnya nyamuk. Pada penyakit demam berdarah, virus ini disebut virus dengue. Sejenis nyamuk yang disebut Aedes Aegypti, dianggap biang keladi penular penyakit ini dan dinamakan vector (Makplus, 2013).
Selama nyamuk Aedes Aegypti tidak terkontaminasi virus dengue maka gigitan nyamuk demam berdarah tersebut tidak berbahaya. Jika nyamuk tersebut menghisap darah penderita demam berdarah maka nyamuk menjadi berbahaya karena bisa menular virus dengue yang mematikan. Untuk itu perlu pengendalian nyamuk jenis Aedes Aegypti agar virus dengue tidak menular dari orang yang satu ke orang yang lain (Makplus, 2013).
Penyakit Demam Berdarah Dengue dapat menyerang semua golongan umur. Sampai saat ini penyakit Demam Berdarah Dengue lebih banyak menyerang anak-anak tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi penderita Demam Berdarah Dengue pada orang dewasa (Makplus, 2013).
Indonesia termsuk daerah endemik untuk penyakit Demam Berdarah Dengue. Serangan wabah umumnya muncul sekali dalam 4-5 tahun. Faktor lingkungan memainkan peranan bagi terjadi wabah. Lingkungan dimna terdapat banyak air tergenang dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang merupakan tempat ideal bagi penyakit tersebut (Makplus, 2013).
Penyakit DBD sering salah didiagonosis dengan penyakit lain seperi flu atau tipes. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bias bersifat asimtomaik atau tidak jelas gejaanya. Data di bagian anak RSCM menunjukan pasien DBD sering menemukan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bias bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersama dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipes. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnisi DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai (Makplus, 2013).
PENYEBAB DEMEM BERDARAH DENGUE
Demam Berdarah Dengu merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypyi maupun Aedes albopictus.Yang paling berperan dalam penularan penyakit ini adalah Aedes agypti karena hidup di dalam dan disekirat rumah, sedangkan Aedes albopctus hidup di kebun-kebun sehinggal lebih jarang kontak pada manusia. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hamper di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 rendah sehingga tidak memungkinkan bagi nyamuk untuk hidup dan berkembangbiak (Nuryadin, 2013).
Penyebab penyakit adalah virus Dengue. Virus ini termasuk kelompok arthopoda. Borne Viruses (Arboviroses). Sampai saat ini dikenal ada 4 serotype virus yaiu ; 
Dengue 1 diisolasi oleh sabin pada tahun 1944 
Dengue 2 diisolasi oleh sabin pada tahun 1944 
Dengue 3 diisolasi oleh sather 
Dengue 4 diisolasi oleh sather 
Keempat type virus tersebut telah ditemukan diberbagai daerah di Indonesia dan yang terbanyak adalah type 2 dan type 3. Penelitian di Indonesia menunjukan Dengue type 3 merupakan serotype virus yang dominan menyebabkan kasus yang berat (Makplus, 2013).
NYAMUK PENULAR DEMAM BERDARAH DENGUE 
Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lainnya. Nyamuk ini mempunyai dasar hitam bintik-bintik putih pada bagian badan, kaki, dan sayapnya. Nyamuk Aedes aegypti jantan mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya. Sedangkan yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini menyukai darah manusia dari pada binatang. Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang hari. Aktivitas menggigit biasanya pagi (pukul 9.00-10.00) sampai petang hari (pukul 16.00-17.00). Aedes aegypti mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali untuk memenuhi lambangnya dengan darah. Dengan demikin nyamuk ini sangat infektif sebagai penular penyakit. Setelah mengisap darah, nyamuk ini hingga (beristirahat) di dalam atau di luar rumah. Tempat hingga yang disenangi adalah benda-benda yang tergantung dan biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab. Disini nyamuk menunggu proses pematangan telurnya. Selanjutnya nyamuk betina akan meletakan telurnya didinding tempat perkembangbiakan, sedikit di atas permukaan air. Pada umumya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu 2 hari setelah terendam air. Jentik kemudian menjadi kepompong dan akhirnya menjadi nyamuk dewas (Nuryadin, 2013).
MEKANISME PENULARAN DBD
Penyakit Demam Berdarah Dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini mendapat virus Dengue sewaktu menggigit mengisap darah orang yang sakit Demam Berdarah Dengue atau tidak sakit tetapi didalam daerahnya terdapat virus dengue. Seseorang didalam daerahnya mengandung virus dengue merupan sumber sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderitaan tersebut digigitnyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut tersirap masuk kedalam kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes Aegypti yang telah mengisap virus dengue itu menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini akan terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk/mengigit, sebelum ngisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan darinyamuk ke orang lain (Nuryadin, 2013).
TEMPAT POTENSI BAGI PENULARAN DEMAM BERDARAH DENGUE 
Penularan Demam Berdarah Dengue dapat terjadi disemu tempat yang terdapat nyamuk penularan. Adapun tempat yang potensial untuk terjadinya penularan DBD adalah
Wilayah yang banyak kasus DBD (Endemis). 
Tempat-tempat umum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang dating dari berbaga wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar tempat-tempat umun antara lain :  sekolah, rumah sakit/puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya, tempat umum lainnya seperti : hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat ibadah dan lain-lain. 
Pemukiman baru di pinggir kota
Karena di lokasi ini, penduduk umumnya berasal dari berbgai wilayah dimana kemungkinan di antaranya terdapat penderita atau carier (Nuryadin, 2013).
CARA PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE 
Penyakit Demam Berdarah Dengue dapat dicegah dengan memberantas jentik-jentik nyamuk demam berdarah (aedes aegypti) dengan cara PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Upaya ini merupakan cara yang paling mudah, murah, ampuh, terbaik dan dapat dilakukan oleh masyarakat cara berikut : 
Membersihkan atau mengurus tempat penyimpanan air seperti : bak mandi, drum, vas bunga, tempat minum burung, perangkat semut, dan lain-lain sekurang-kurangnya satu minggu sekali.
Tutuplah tempat penampungan air dengan rapat, supaya nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di tempat itu.
Kuburlah atau buang pada tempatnya barang-barang bekas seperti : kaleng bekas, bahan bekas, botol-botol pecah dan barang lainnya yang dapat menampung air hujan agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Tutuplah lubang-lubang pada pagar yang terbuat ari bambu dengan tanah atau adukan semen.
Lipatlah kain atau pakaian yang bergelantungan dalam kamar agar nyamuk tidak hinggap di situ.
Untuk tempat-tempat yang tidak mungkin atau sulit untuk di bersihkan dan di kuras, taburkanlah bubuk ABATE ke dalam genangan air tersebut fungsinya untung membunuh jentik-jentik nyamuk.
Selain 6 cara di atas, cara memberantas nyamuk aedes aegypti dapat juga di lakukan dengan cara-cara sebagai berikut : 
Penyemprotan menggunakan zat kimia.
Pengasapan dengan insektisida.
Memutus daur hidup nyamuk dengan menggunakan ovitrap dan memelihara ikan cupang atau ikan pemakan jentik untuk memberantas jentik-jentik nyamuk dapat menggunakan serbuk ABATE, dengan komposisi 1 gram serbuk ABATE untuk 10 liter air.
Cara yang paling efektif dalam menjegah penyakit Demam Berdarah Dengue adalah dengan mengkobinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan "3 M PLUS" yaitu menutup, menguras, menibun, selain itu jga melakukan beberapa plus lainnya yang sesuai dengan kondisi setempat (Nuryadin, 2013).
DEFINISI INFLUENZA
Influenza yang dikenal sebagai flu adalah penyakit pernapasan yang sangat menular dan disebabkan oleh virus influenza tipe A, B dan bisa juga C. Influenza merupakan suatu penyakit infeksi akut saluran pernapasan terutama ditandai oleh demam, menggigil, sakit otot, sakit kepala dan sering disertai pilek, sakit tenggorok dan batuk non produktif. Influenza adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang burung dan mamalia yang disebabkan oleh virus RNA famili orthomyxoviridae (Mappa, 2010).
EPIDEMIOLOGI INFLUENZA
Influenza merupakan penyakit yang dapat menjalar dengan cepat di lingkungan masyarakat. Walaupun ringan penyakit ini tetap berbahaya untuk mereka yang berusia sangat muda dan orang dewasa dengan fungsi kardiopulmoner yang terbatas. Juga pasien yang berusia lanjut dengan penyakit ginjal kronik atau ganggugan metabolik endokrin dapat meninggal akibat penyakit yang dikenal tidak berbahaya ini. Serangan penyakit ini tercatat paling tinggi pada musim dingin di negara beriklim dingin dan pada waktu musim hujan di negara tropik.  Pada saat ini sudah diketahui bahwa pada umumnya dunia dilanda pandemi oleh influenza 2-3 tahun sekali. Jumlah kematian pada pandemi ini dapat mencapai puluhan ribu orang dan jauh lebih tinggi dari pada angka-angka pada keadaan non-epidemik (Mappa, 2010).
Risiko komplikasi, kesakitan, dan kematian influenza lebih tinggi pada individu di atas 65 tahun, anak-anak usia muda, dan individu dengan penyakit-penyakit tertentu. Pada anak-anak usia 0-4 tahun, yang berisiko tinggi komplikasi angka morbiditasnya adalah 500/100.000 dan yang tidak berisiko tinggi adalah 100/100.000 populasi. Pada epidemi influenza 1969-1970 hingga 1994-1995, diperkirakan jumlah penderita influenza yang masuk rumah sakit 16.000 sampai 220.000/epidemik.  Kematian influenza dapat terjadi karena pneumonia dan juga eksaserbasi kardiopulmoner serta penyakit kronis lainnya. Penelitian di Amerika dari 19 musim influenza diperkirakan kematian yang berkaitan influenza kurang lebih 30 hingga lebih dari 150 kematian / 100.000 penderita dengan usia > 65 tahun. Lebih dari 90% kematian yang disebabkan oleh pneumonia dan influenza terjadi pada penderita usia lanjut (Mappa, 2010).
Di Indonesia telah ditemukan kasus flu burung pada manusia, dengan demikian Indonesia merupakan negara ke lima di Asia setelah Hongkong, Thailand, Vietnam dan Kamboja yang terkena flu burung pada manusia.  Hingga 5 Agustus 2005, WHO melaporkan 112 kasus A (H5N1) pada manusia yang terbukti secara pemeriksaan mikrobiologi berupa biakan atau PCR. Kasus terbanyak dari Vietnam, disusul Thailand, Kamboja dan terakhir Indonesia.  Hingga Agustus 2005, sudah jutaan ternak mati akibat avian influenza. Sudah terjadi ribuan kontak antar petugas peternak dengan unggas yang terkena wabah. Ternyata kasus avian influenza pada manusia yang terkonfirmasi hanya sedikit diatas seratus. Dengan demikian walau terbukti adanya penularan dari unggas ke manusia, proses ini tidak terjadi dengan mudah. Terlebih lagi penularan antar manusia, kemungkinan terjadinya lebih kecil lagi (Mappa, 2010).
ETIOLOGI INFLUENZA
Pada saat ini dikenal 3 tipe virus influenza yakni A, B dan C. Ketiga tipe ini dapat dibedakan dengan complement fixasion test. Tipe A merupakan virus penyebab influenza yang bersifat epidemik. Tipe B biasanya hanya menyebabkan penyakit yang lebih ringan dari tipe A dan kadang-kadang saja sampai mengakibatkan epidemi. Tipe C adalah tipe yang diragukan patogenitasnya untuk manusia, mungkin hanya menyebabkan gangguan ringan saja. Virus penyebab influenza merupakan suatu orthomixovirus golongan RNA dan berdasarkan namanya sudah jelas bahwa virus ini mempunyai afinitas untuk myxoatau musin (Mappa, 2010).
Virus influenza A dibedakan menjadi banyak subtipe berdasarkan tanda berupa tonjolan protein pada permukaan sel virus. Ada 2 protein petanda virus influenza A yaitu protein hemaglutinin dilambangkan dengan H dan protein neuraminidase dilambangkan dengan N. Ada 15 macam protein H, H1 hingga H15, sedangkan N terdiri dari sembilan macam, N1 hingga N9. Kombinasi dari kedua protein ini bisa menghasilkan banyak sekali varian subtipe dari virus influenza tipe A (Mappa, 2010).
Semua subtipe dari virus influenza A ini dapat menginfeksi unggas yang merupakan pejamu alaminya, sehingga virus influenza tipe A disebut juga sebagai avian influenza atau flu burung. Sebagian virus influenza A juga menyerang manusia, anjing, kuda dan babi. Variasi virus ini sering dinamai dengan hewan yang terserang, seperti flu burung, flu manusia, flu babi, flu kuda dan flu anjing. Subtipe yang lazim dijumpai pada manusia adalah dari kelompok H1, H2, H3 serta N1, N2 dan disebut human influenza (Mappa, 2010).
Sekarang ini dihebohkan dengan penyakit flu burung atau avian influenza dimana penyebabnya adalah virun influenza tipe A subtipe H5N1. Virus avian influenza ini digolongkan dalam Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) (Mappa, 2010).
SIFAT VIRUS INFLUENZA
Virus influenza mempunyai sifat dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220C dan lebih dari 30 hari pada suhu 00C. Mati pada pemanasan 600C selama 30 menit atau 560C selama 3 jam dan pemanasan 800C selama 1 jam. Virus akan mati dengan deterjen, disinfektan misalnya formalin, cairan yang mengandung iodin dan alkohol 70% (Mappa, 2010).
Struktur antigenik virus influenza meliputi antara lain 3 bagian utama berupa: antigen S (atau soluble antigen), hemaglutinin dan neuramidase. Antigen S merupakan suatu inti partikel virus yang terdiri atas ribonukleoprotein. Antigen ini spesifik untuk masing-masing tipe. Hemaglutinin menonjol keluar dari selubung virus dan memegang peran pada imunitas terhadap virus. Neuramidase juga menonjol keluar dari selubung virus dan hanya memegang peran yang minim 8 pada imunitas. Selubung inti virus berlapis matriks protein sebelah dalam dan membran lemak disebelah luarnya (Mappa, 2010).
Salah satu ciri penting dari virus influenza adalah kemampuannya untuk mengubah antigen permukaannya (H dan N) baik secara cepat atau mendadak maupun lambat. Peristiwa terjadinya perubahan besar dari struktur antigen permukaan yang terjadi secara singkat disebut antigenic shift (Mappa, 2010).
GAMBARAN KLINIS
Pada umumnya pasien yang terkena influenza mengeluh demam, sakit kepala, sakit otot, batuk, pilek dan kadang-kadang sakit pada waktu menelan dan suara serak. Gejala-gejala ini dapat didahului oleh perasaan malas dan rasa dingin. Pada pemeriksaan fisik tidak dapat ditemukan tanda-tanda karakteristik kecuali hiperemia ringan sampai berat pada selaput lendir tenggorok.  Gejala-gejala akut ini dapat berlangsung untuk beberapa hari dan hilang dengan spontan. Setelah periode sakit ini, dapat dialami rasa capek dan cepat lelah untuk beberapa waktu. Badan dapat mengatasi infeksi virus influenza melalui mekanisme produksi zat anti dan pelepasan interferon. Setelah sembuh akan terdapat resistensi terhadap infeksi oleh virus yang homolog.  Pada pasien usia lanjut harus dipastikan apakah influenza juga menyerang paru-paru. Pada keadaan tersebut, pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan bunyi napas yang abnormal. Penyakit umumnya akan membaik dengan sendirinya tapi kemudian pasien acapkali mengeluh lagi mengenai demam dan sakit dada. Permeriksaan radiologis dapat menunjukkan infiltrat di paru-paru (Mappa, 2010).
PENCEGAHAN INFLUENZA
Paling pokok dalam menghadapi influenza adalah pencegahan. Infeksi dengan virus influenza akan memberikan kekebalan terhadap infeksi virus yang homolog. Karena sering terjadi perubahan akibat mutasi gen, antigen pada virus influenza akan berubah, sehingga seseorang masih mungkin diserang berulang kali dengan jalur (strain) virus influenza yang telah mengalami perubahan ini. Kekebalan yang diperoleh melalui vaksinasi sekitar 70%. Vaksin influenza mengandung virus subtipe A dan B saja karena subtipe C tidak berbahaya. Diberikan 0,5 ml subkutan atau intramuskuler. Vaksin ini dapat mencegah tejadinya mixing dengan virus yang sangat pathogen H5N1 yang dikenal sebagai penyakit avian influenza atau flu burung. Nasal spray flu vaccine (live attenuated influenza vaccine) dapat juga digunakan untuk pencegahan flu pada usia 5-50 tahun dan tidak sedang hamil. Vaksinasi perlu diberikan 3-4 minggu sebelum terserang influenza. Karena terjadi perubahan-perubahan pada virus maka pada permulaan wabah influenza biasanya hanya tersedia vaksin dalam jumlah terbatas dan vaksinasi dianjurkan hanya untuk beberapa golongan masyarakan tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi dengan kemungkinan komplikasi yang fatal (Mappa,2010).
DEFINISI POLIO
Kata Polio sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu πολιομυελίτις, atau bentuknya yang lebih mutakhir πολιομυελίτιδα, dari πολιός "abu-abu" dan μυελός "bercak". Virus Polio termasuk genus enteroviorus, famili Picornavirus. Bentuknya adalah ikosahedral tanpa sampul dengan genome RNA single stranded messenger molecule. Single RNA ini membentuk hampir 30 persen dari virion dan sisanya terdiri dari 4 protein besar (VP1-4) dan satu protein kecil (Vpg). Polio adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit peradaban. Polio menular melalui kontak antarmanusia. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses (Meilan, 2013).
PENYEBAB POLIO
Poliomyelitis atau Polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem sarafpusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (Meilan, 2013).
Jenis – Jenis PolioPenyakit Polio terbagi atas tiga jenis yaitu :
Polio non-paralisis
Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh.
Polio paralisis spinal
Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki.
Polio bulbar
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung syaraf motorik yang mengatur pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai syaraf yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan;pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher (Meilan,2013).
Tingkat kematian karena polio bulbar berkisar 25-75% tergantung usia penderita. Hingga saat ini, mereka yang bertahan hidup dari polio jenis ini harus hidup dengan paru-paru besi atau alat bantu pernapasan. Polio bulbar dan spinal sering menyerang bersamaan dan merupakan sub kelas dari polio paralisis. Polio paralisis tidak bersifat permanen. Penderita yang sembuh dapat memiliki fungsi tubuh yang mendekati normal (Meilan, 2013).
GEJALA KLINIS PENYAKIT POLIO
Stadium akut sejak ada gejala klinis hingga dua minggu ditandai dengan suhu tubuh meningkat, jarang terjadi lebih dari 10 hari, kadang disertai sakit kepala dan muntah. Kelumpuhan terjadi dalam seminggu permulaan sakit. Kelumpuhan itu terjadi akibat kerusakan sel-sel motor neuron di medula spinalis (tulang belakang) oleh invasi virus (Meilan, 2013).
Kelumpuhan tersebut bersifat asimetris sehingga menimbulkan deformitas (gangguan bentuk tubuh) yang cenderung menetap atau bahkan menjadi lebih berat. Sebagian besar kelumpuhan terjadi pada tungkai (78,6%), sedangkan 41,4% akan mengenai lengan. Kelumpuhan itu berjalan bertahap dan memakan waktu dua hari hingga dua bulan. Stadium subakut (dua minggu hingga dua bulan) ditandai dengan menghilangnya demam dalam waktu 24 jam atau kadang suhu tidak terlau tinggi. Kadang, itu disertai kekakuan otot dan nyeri otot ringan. Kelumpuhan anggota gerak yang layuh dan biasanya salah satu sisi. Stadium konvalescent (dua bulan hingga dua tahun) ditandai dengan pulihnya kekuatan otot lemah. Sekitar 50%-70% fungsi otot pulih dalam waktu 6-9 bulan setelah fase akut. Kemudian setelah usia dua tahun, diperkirakan tidak terjadi lagi perbaikan kekuatan otot. Stadium kronik atau dua tahun lebih sejak gejala awal penyakit biasanya menunjukkan kekuatan otot yang mencapai tingkat menetap dan kelumpuhan otot permanen (Meilan, 2013).
MEKANISME PENYEBARAN  PENYAKIT POLIO
Virus ditularkan  dari oral-faring (mulut dan tenggorokan) atau tinja penderita infeksi. Penularan terutama terjadi langsung dari manusia ke manusia melalui fekal-oral (dari tinja ke mulut) atau yang agak jarang melalui oral-oral (dari mulut ke mulut). Fekal-oral berarti minuman atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita masuk ke mulut manusia sehat lainnya. Sementara itu, oral-oral adalah penyebaran dari air liur penderita yang masuk ke mulut manusia sehat lainnya. Virus polio sangat tahan terhadap alkohol dan lisol, namun peka terhadap formaldehide dan larutan chlor. Suhu tinggi cepat mematikan virus, tetapi pada keadaan beku dapat bertahan bertahun-tahun (Meilan, 2013).
Ketahanan virus di tanah dan air sangat bergantung pada kelembapan suhu dan mikroba lainnya. Virus itu dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan hingga berkilo-kilometer dari sumber penularan. Meski penularan terutama akibat tercemarnya lingkungan oleh virus polio dari penderita yang infeksius, virus itu hidup di lingkungan terbatas. Salah satu inang atau mahluk hidup perantara yang dapat dibuktikan hingga saat ini adalah manusia (Meilan, 2013).
PENCEGAHAN PENYAKIT POLIO
Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis.  Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian (Meilan, 2013).
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan dalam paper di atas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyebab penyakit DBD di Indonesia adalah virus dengue dengan tipe Den 1, Den 2, Den 3, dan Den 4. Perlunya kewaspadaan yang tinggi terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue terutama pada waktu musim penghujan. Cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M PLUS.
Influenza merupakan suatu penyakit infeksi akut saluran pernapasan yang sangat menular dapat menyerag burung dan mamalia. Influenza disebabkan oleh virus influenza tipe A, B dan C yang merupakan suatu orthomixovirus golongan RNA. Virus influenza tipe A mempunyai banyak subtipe, diantaranya H5N1 yang menyebabkan flu burung dan termasuk HPAI. Penularan virus influenza melalui droplet dan lokalisasinya di traktus respiratorius. Gejala klinis influenza adalah demam, sefalgia, mialgia, batuk, pilek dan disfagia. Komplikasi influenza dapat terjadi pneumonia influenza primer dan pneumonia bakterial sekunder. Influenza dapat diobati secara simtomatik, dan dengan antiviral dapat memperpendek angka sakit. Pencegahan dengan vaksin bagi golongan yang memerlukan imunoprofilaksis. 
Poliomyelitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus Polio ini ditularkan  dari oral-faring (mulut dan tenggorokan) atau tinja penderita infeksi. Penularan terutama terjadi langsung dari manusia ke manusia melalui fekal-oral (dari tinja ke mulut) atau yang agak jarang melalui oral-oral (dari mulut ke mulut). Penyakit Polio tersebut dapat dicegah dengan cara imunisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Firady, Rama, 2011, "Makalah Penyakit Demam Berdarah Dengue", http://firady.blogspot.com/2011/05/makalah-penyakit-demam-berdarah-dengue.html, diunduh pada tanggal 21 Mei 2014 di Yogyakarta
Makplus, 2013, "Makalah Demam Berdarah Dengue Latar", http://ogah-baca.blogspot.com/2013/12/makalah-demam-berdarah-dengue-latar.html, diunduh pada tanggal 21 Mei 2014 di Yogyakarta
Mappa, Nurhayati Amir Mahmud, 2010, "Makalah Influenza", http://nurhayatimappa4.blogspot.com/2012/11/makalah-influenza.html, diunduh pada tanggal 21 Mei 2014 di Yogyakarta
Meilan, Giani, 2013, "Imunisasi Polio dan Penyakit yang Dapat Disebabkan Oleh Virus Polio", http://gianimeilan.blogspot.com/2013/06/imunisasi-polio-dan-penyakit-yang-dapat.html, diunduh pada tanggal 21 Mei 2014 di Yogyakarta
Nuryadin, Adin, 2013, "Makalah Demam Berdarah Dengue Latar 14", http://adinnagrak.blogspot.com/2013/11/makalah-demam-berdarah-dengue-latar_14.html, diunduh pada tanggal 21 Mei 2014 di Yogyakarta


Download MAKALAH MIKROBIOLOGI VIRUS DBD, INFLUENZA, DAN POLIO.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca MAKALAH MIKROBIOLOGI VIRUS DBD, INFLUENZA, DAN POLIO. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon