November 04, 2016

ISU-ISU PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA DI BALI


Judul: ISU-ISU PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA DI BALI
Penulis: Jaya Pramono


ISU-ISU PEMBANGUNAN
DESTINASI PARIWISATA DI BALI
Oleh
Jaya Pramono
ABSTRAK
Tulisan ini membicarakan isu-isu pembangunan kepariwisataan di Bali dari sisi aktivitas pengembangan pariwisata. Secara umum melimpahnya isu-isu pembangunan kepariwisataan membuat masalah yang ada bagai benang kusut yang sulit dilihat darimana untuk memulai menguraikan permasalahan tersebut, sejalan dengan pengembangan pariwisata di Bali isu-isu pembangunan juga berkembang. Isu-isu yang dominan secara strategis yang berdampak pada pembangunan kepariwisataan di Bali adalah isu Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan dan RTRW, Pembangunan Villa Tanpa Izin, Travell Advisory, Bencana Alam, Perubahan Iklim Global, Penyakit yang meliputi: Rabies, SARS, Flu Burung, Flu Babi dan Bakteri (disentri). Mengingat semakin kompleksnya isu-isu yang ada maka ide perlunya di bentuk Crisis Center menjadi penting. Pembentukan crisis center untuk Pariwisata perlu sebagai respon cepat pemerintah pada permasalahan muncul dengan seketika tanpa direncanakan. Kita sadar bahwa kegiatan pariwisata sengat rentan dengan banyak isu yang sumbernya berada di luar pariwisata.
Key Word: Isu-Isu Pembangunan Kepariwisataan, Bali, Crisis Center.
Pengantar
Bali sebagai destinasi pariwisata di Indonesia sudah sangat berkembang. Dinas Pariwisata Daerah Bali mencatat pada Tabel 1.1., sejak tahun 2007 sampai dengan 2010, terlihat adanya pertumbuhan positif dari jumlah kunjungan wisatawan mancanagara yang langsung datang ke Bali. Dari tahun 2008 sampai 2010 pertumbuhan kedatangan wisatawan secara langsung tersebut mencapai 18,26%, 13,26%, dan 11,80% berturut-turut. Tingginya pertumbuhan kunjungan wisatawan secara langsung ini membuktikan bahwa pengembangan pariwisata di Bali masih diperhitungkan sebagai destinasi Pariwisata.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10.Tahun 2009 tentang Kepariwisataan pada bab IV, pasal 6 dan & mengatakan bahwa pembangunan kepariwisataan dilakukan berdasarkan sebelas asas yang pelaksanaannya diwujudkan melalui rencana pembangunan kepariwisataan dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata, dan Pembangunan kepariwisataan meliputi industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran, dan kelembagaan kepariwisataan.
Tabel 1.1.
Kunjungan Langsung Wisatawan Mancanegara Ke Bali
Berdasarkan Area Tahun 2007 – 2010
No Area 2007 2008 +/- 2009 +/- 2010 +/-
1 Asia Pacific 973.305 1.126.028 15,69% 1.289.403 14,51% 1.451.965 12,61%
2 Asean 168.103 205.694 22,36% 224.941 9,36% 294.421 30,89%
3 Africa 9.988 11.441 14,55% 11.324 (1,02%) 12.973 14,56%
4 America 83.717 99.848 19,27% 109.728 9,90% 113.094 3,07%
5 Europe 427.686 523.223 22,34% 590.047 12,77% 613.774 4,02%
6 Jumlah Total 1.664.854 1.968.892 18,26% 2.229.945 13,26% 2.493.058 11,80%
Sumber: Disparda Bali.
Sesuai dengan konsteks pembangunan pariwisata tersebut tergambar jelas luasnya area yang tercakup dalam isu-isu pembangunan pariwisata, karenanya tulisan ini hanya berfokus pada isu-isu yang memiliki dampak yang signifikan bagi pengembangan destinasi pariwisata di Bali.
ISU-ISU PENGEMBANGAN DESTINASI DI BALI
Melimpahnya isu pengembangan destinasi di Bali yang saling melekat satu dengan yang lainnya bagai bebang kusut membuat sulitnya upaya menguraikan masalah itu satu dengan yang lainnya. Melalui konsep keariwisataan sesuai dengan UU No 10 tahun 2009 tetang kepariwisataan yang intinya megatakan bahwa kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah, bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan pengusaha, maka tergambar jelas bahwa isu-isu pembangunan pariwisata di Bali sebagai sebuah destinasi adalah ada dalam tataran aktivitas, tidak lagi dalam tataran konseptual. Bardasarkan ini maka isu-isu yang niainya strategis bagi pengembangan pariwisata Bali yang akan dimunculkan sebagai wacana.
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan dan RTRW
Pembangunan kepariwisataan idealnya dikembangkan sesuai dengan rencana pembangunan kepariwisataan Nasional, khususnya pada pasal 8 yang mengatakan bahwa pembangunan kepariwisataan dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan kepariwisataan yang terdiri atas rencana induk pembangunan kepariwisataan nasional, rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi, dan rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota, dan merupakan bagian integral dari rencana pembangunan jangka panjang nasional. Pada Pasal 9 dikatakan bahwa rencana induk pembangunan kepariwisataan nasional diatur dengan Peraturan Pemerintah. Rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi diatur dengan Peraturan Daerah provinsi. Rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota diatur dengan Peraturan Daerah kabupaten dan kota. Penyusunan rencana induk pembangunan kepariwisataan dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan.
Penyusunan rencana induk pembangunan kepariwisataan di Bali berkaitan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi Bali manjadi isu utama. Munculnya isu ini dan menjadi perhatian publik dimulai dengan adanya Undang-Undang No. 26/2007 tentang penataan ruang dan Inpres No.1/2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010 yang diantaranya mendorong agar RTRW Provinsi, Kabupaten, dan Kota diselesaikan akhir tahun 2010.
Pemerintah telah membentuk strategi proses untuk penyelesaian RTRW tersebut melalui beberapa tahap diantaranya, 1). Membentuk tim khusus untuk memfasilitasi proses penyelesaian revisi RTRW Kabupaten/Kota, 2). Melakukan pemetaan progres dan permasalahan/kendala yang dihadapi dalam penyusunan RTRW Kabupaten/Kota, 3). Melakukan pembinaan teknis dan pembekalan kepada aparat Pemerintah Daerah (Pemda) terkait ketentuan substansi dan prosedur evaluasi, 4). Menyusun jadwal pembahasan di tingkat Badan Koordinasi Perencanaan Ruang Nasional dan memberikan fasilitasi untuk proses persetujuan substansi, serta 5). Melakukan klinik tata ruang dan pendampingan terhadap daerah yang membutuhkan dukungan teknis. (http://www.penataanruang.net)
Pemberitaan melalui beberapa media ternama di Bali untuk Perda Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali menjadi perbincangan hangat, dibeberapa media muncul pemberitaan sebagai berikut, Radar Bali, tanggal 12 Juli 2009 memberiakan "Pemkab Karangasem Lawan Bhisama", tanggal 11 Maret 2011 "Ganyang para Bupati", dan tanggal 12 Maret 2011, "Seminar RTRW Ricuh. Wakil bupati Karangasem saling Tantang dengan Sulinggih". Sementara Bali Post tanggal 25 Juli 2009 memberitakan, "Bupati se-Bali Sepakat Hadang Perda RTRW Bali", tanggal 11 February 2011 "Bupati Badung Tolak Terapkan RTRW, dan tanggal 13 February 2011, "Perda RTRW Bali tak mungkin Direvisi. (Windia, 2011)
Sorotan utama dalam masalah ini adalah ketika para Bupati se-Bali meminta penjelasan kepada Gubernur Bali terkait implementasi radius kesucian pura sejauh 5 kilometer dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Bali. Radius kesucian pura dalam RTRWP Bali menimbulkan salah persepsi karena tidak disertai dengan penjelasan. Salah persepsi ini terjadi karena timbul asumsi bahwa tidak boleh ada bangunan apa pun di dalam radius 5 kilometer, termasuk pemukiman penduduk. Hal ini bertentangan dengan penjelasan dari DPRD Bali yang mengatakan bahwa hanya bangunan hotel dan tempat hiburan yang dilarang dibangun sepanjang radius kawasan suci. Perbedaan penafsiran ini menyebabkan diusulkannya uji publik terhadap RTRWP ini.
Pembangunan Villa Tanpa Izin
Perkembangan pariwisata di Bali memasuki babak baru. Meningkatnya kesadaran wisatawan akan hak kebebasan individualnya menyebabkan meningkatnya perasaan penghargaan akan personalizednya dan privatisasinya, membuat menjamurnya pembangunan villa dan atau hotel sejenis. Peluang ini sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat di Bali, sayangnnya terlambatnya pengelolaan dari Pemerintah Daerah membuat peluang ini diindikasikan lebih banyak di manfaatkan oleh warga negara asing.
Menurut Sumadra(2008), Warga negara asing justru melakukan praktek-praktek penguasaan tanah melalui cara penyeludupan hukum, yakni dengan cara memindahkan hak melalui sewa maupun dalam bentuk pemilikan hak atas tanah yang menggunakan kedok atas nama WNI, yang peruntukan tanah model ini adalah berujung pada pembangunan hotel atau villa. Pembangunan vila tanpa ini ini telah menimbulkan kecemburuan sosial, merusak lingkungan persawahan, sempadan pantai, sempadan jurang, dan kawasan suci.
Travell Advisory
Travel Advisories biasanya ditetapkan oleh negara yang merasa destinasi Bali sudah tidak aman lagi untuk di kunjungi. Penyebabnya sangat beragam tetapi diantaranya adalah hal-hal yang dikategorikan ancaman dan resiko yang meliputi hal-hal yang berkait dengan masalah politis, sosial (tindak kriminal dan kejahatan), terkait terorisme, lingkungan (bencana alam), industri (bahaya kimia atau nuklir), kesehatan (epidemis dan status penyakit menular darurat lainnya), dan sistem transportasi (UNWTO).
Petunjuk penetapan travell advisories bagi sebuah negara diatur oleh UNWTO berdasarkan Resolusi A/RES/508(XVI). Resolusi tersebut menetapkan hal-hal berikut terkait dengan penyusunan travell Advisories. 1). Dalam mempersiapkan Travel Advisories, perlu ditetapkan sumber-sumber informasi (informasi yang terkumpul) relevan, lengkap, dan tepat, baik itu dari pemerintah atau non-pemerintah. 2). Travel Advisories harus akurat, relevan, dan benar, selain harus menghindari bahasa-bahasa yang tidak jelas dan mengandung arti sepihak serta bernuansa politis. 3). Informasi yang dipakai dalam Travel Advisories harus dipublikasikan pada website yang terpusat, mudah diakses, dan dikenal luas, sehingga pemerintah-pemerintah di seluruh dunia yang terlibat dapat berkoordinasi dalam penayangan informasi yang ada. Travel Advisories harus diperbaharui secara rutin, bila harus dalam jenjang waktu paling lama 3 bulan. 4). Wisatawan dihimbau untuk selalu meninjau semua sumber informasi, baik dari pemerintah atau non-pemerintah, sebelum melakukan perjalanan. 5). Pengumuman publik tentang Ancaman dan Resiko Perjalanan yang tertuang dalam Travel Advisories harus sejauh mungkin bersifat spesifik tentang lokasi geografis suatu ancaman/ resiko perjalanan, dan memuat peta penunjang serta jarak yang jelas. 6). Travel Advisories harus spesifik dalam karakteristik ancaman/resiko perjalanan, dan harus dirancang melalui proses yang komprehensif dan matang.
Kewaspadaan dan pengendalian digunakan dalam mengevaluasi ancaman dan bahasa yang dipakai. Ancaman dan resiko disampaikan sejauh mungkin melalui cara yang akurat dan konsisten dalam menggambarkan karekteristik, skala, kemungkinan, atau kepastian suatu kejadian. Pengumuman publik tentang ancaman dan resiko perjalanan dalam Travel Advisories harus dalam peninjauan yang teratur dan dalam setiap kasus harus mencantumkan tanggal pengumumannya, sementara negara-negara yang terkena Travell Advisories wajib menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu tentang segala perubahan keadaan melalui jalur-jalur komunikasi yang ada. (Koumelis, 2006)
Bencana Alam
Isu-isu Bencana Alam bagi pembangunan pariwisata Bali isu yang hangat. Sektor pariwisata mendapat tantangan dengan adanya gempa bumi dan tsunami yang melanda provinsi Nangroe Aceh Darussalaam dan Sumatra Utara di akhir tahun 2004, kekuatan alam terbukti sebagai sesuatu yang tidak dapat dikendalikan, baik kekuatan, lokasi, ataupun waktunya, termasuk isu bahwa Bali termasuk dalam lempeng benua yang aktif bergerak. Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat sempat menggeliat, menunjukkan aktivitasnya pada pertengahan April 2005. Meningkatnya aktivitas Gunung Merapi di awal 2006, ditandai dengan turunnya lava pijar dan awan panas. Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006, di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan beberapa kabupaten lain di sekitarnya, menimbulkan ribuan korban meninggal dunia, beberapa hotel dan sebagian bangunan di Bandara Internasional Adi Sutjipto mengalami kerusakan, Candi Plaosan, Prambanan dan beberapa candi di kompleks Candi Prambanan mengalami kerusakan akibat gempa. Gempa dengan kekuatan 6,8 pada skala Richter di pantai Jawa Barat bagian selatan dan Jawa Tengah bagian selatan yang kemudian disusul oleh dua gempa lainnya, masing-masing berkekuatan 5,5 dan 6,1 pada skala Richter, yang disertai gelombang tsunami di Pantai Pangandaran, sehingga merusak bangunan-bangunan yang berada di dekat pantai pada tanggal 18 Juli 2006, dan korban yang meninggal dunia ratusan orang.
Proses pemulihan citra kepariwistaan bagi Bali sebagai destinasi yang aman menjadi prioritas. Pemulihan citra ini diawali dengan suksesnya penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Jakarta dan Bandung pada tanggal 20-23 April 2005, Konferensi yang dihadiri para pemimpin negara-negara di dunia ini berjalan dengan lancar. Hal ini menjadi penting sekaligus sebagai referensi keamanan masyarakat internasional di Indonesia, termasuk di Bali. 
Rapat Koordinasi Terbatas di Istana Tampak Siring, Bali, tanggal 26-27 Februari 2005, menghasilkan rekomendasi bidang pariwisata yang terkait dengan pemulihan pariwisata dari bencana melalui Pemantapan citra pariwisata nasional untuk program dan kegiatan promosi. "Indonesia, The Ultimate in Diversity" sebagai branding pariwisata untuk mancanegara di negara-negara pasar utama, potensial, dan pasar baru, dan "Kenali Negerimu Cintai Negerimu" sebagai branding pariwisata nusantara disosialisasikan melalui berbagai event yang digelar oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan Penataan infrastruktur kepariwisataan pasca tsunami, serta bom Kuta dan Jimbaran. Pemantapan kebijakan kepariwisataan seperti Visa on Arrival yang dibuka untuk 36 negara serta peluncuran kampanye pariwisata di Jepang, China, dan Australia. 
Perubahan Iklim Global
Masalah dampak perubahan iklim global terhadap pariwisata menjadi isu utama dalam sidang tahunan UN-WTO di Cartagenas de Indias, Colombia tahun 2007. Perubahan iklim global dapat mengubah kondisi destinasi dan pola perjalanan wisata wisatawan, tetapi  di sisi lain akibat kegiatan industri pariwisata dunia yang tumbuh dengan cepat telah menjadi salah satu penyebab  adanya perubahaan iklim global saat ini. 
Seringkali orang salah menginterpretasikan perubahan iklim sama dengan pemanasan global, padahal keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Perubahan iklim merupakan perubahan variabel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun atau yang biasa disebut dengan inter centenial . Sedangkan pemanasan global merupakan peningkatan temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Adapun dampak nyata dari pemanasan global adalah terjadinya perubahan iklim yang ekstrim (Kartiwa, 2007).
Faktor-faktor alam seperti fenomena bertambahnya aerosol akibat letusan gunung berapi, siklon yang dapat terjadi didalam suatu tahun (inter annual), El-Nino dan La-Nina yang bisa terjadi di dalam sepuluh tahun (inter decadal) tidak masuk dalam kriteria peruabahan iklim global. Pada dasarnya perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan bahan fosil dan alih guna lahan. Aktivitas manusia secara langsung maupun tidak langsung dapat menyebabkan perubahan serius pada komposisi atmosfir secara global. Hal ini disebabkan karena beberapa aktivitas manusia dapat menyebabkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca secara signifikan di atmosfer. Dengan naiknya temperatur rata-rata bumi atau yang biasa disebut dengan pemanasan global dapat menyebabkan perubahan variabel iklim suhu udara dan curah hujan. Menurut Sulistyaningsih (2011) jenis-jenis gas yang digolongkan sebagai gas rumah kaca adalah: (1). Karbondioksida (CO2), jumlahnya mencapai 80%. Gas ini berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batu bara, gas alam, dan penebangan hutan juga turut andil dalam menyumbang gas CO2, karena pada saat pohon ditebang, pohon yang berfungsi sebagai penyerap karbon akan melepaskan CO2. (2). Metan (CH4). Gas ini berasal dari areal persawahan, pelapukan kayu, timbunan sampah proses industri, dan eksploitasi bahan bakar banyak menyumbangkan jenis gas ini. (3). Nitrous Oksida (N2O). Gas ini berasal dari kegiatan pemupukan oleh para petani, transportasi, dan proses industri. (4). Hidroflourkarbon (HFCs). Jenis ini berasal dari sistem pendingin, foam, pelarut, dan pemadam kebakaran. (5). Perflourokarbon (PFCs) berasal dari proses-proses industri (6). Sulfurheksa Flourida (SF6) dihasilkan dari proses industri.
Pada prinsipnya proses terjadinya perubahan iklim diawali dengan masuknya radiasi matahari yang kemudian terjebak di dalam atmosfir karena adanya gas rumah kaca (efek rumah kaca). Gas rumah kaca tersebut akan meneruskan radiasi gelombang panjang yang bersifat panas, sehingga suhu dipermukaan bumi akan naik dan menjadi semakin panas dimana laju peningkatan panasnya berbanding lurus dengan laju perubahan konsentrasi gas rumah kaca. dengan laju perubahan konsentrasi gas rumah kaca.
Sekjen Depbudpar Sapta Nirwandar mengatakan, masalah perubahan iklim global menjadi isu utama dunia, di mana fenomena alam ini mempunyai keterkaitan terhadap pariwisata. Perubahan iklim global dapat mengubah kondisi destinasi dan pola perjalanan wisata para wisatawan dunia, tetapi  di sisi lain akibat kegiatan industri pariwisata dunia yang tumbuh dengan cepat telah menjadi salah satu penyebab  adanya perubahaan iklim global saat ini. Pembangunan pariwisata Bali dengan aktivitas dan mobilitas yang tinggi dalam berwisata, konsumsi sumber daya alam, dan sampah yang dihasilkan pariwisata Bali yang intensif-karbon, berkontribusi besar dalam pelepasan emisi karbon ke atmosfir.( www. budpar.go.id)
2.6. Penyakit
2.6.1. Rabies
Penyakit Rabies di Bali telah mengundang perhatian serius di Bali. Perkembangan penyakit ini juga selalu dipantau oleh media asing, khususnya media pada Negara yang menjadi pasar potensial pariwisata Bali. Upaya yang dilakukan pemerintah daerah dan kabupaten akan berdampak pada pertumbuhan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali, walaupun belum ada wisatawan mancanegara yang meninggal, wisatawan melalui konsulat jenderal masing-masing, masih mengeluhkan isu rabies di Bali dan isu ini masuk dalam urutan keluhan teratas warga asing. Konsulat jenderal yang mengeluh, antara lain, Jepang, Australia, dan Amerika Serikat.(www.kompas.com)
Tabel 2.1. Kegiatan Eliminiasi, Vaksinasi dan Kejadian Gigitan Anjing dalam mengantisipasi penyakit rabies di Bali.
Kabupaten/Kota Eliminasi Vaksinasi Digigit
Kota Denpasar 5.438 57.781 2.515
Kabupaten Badung 11.504 66.267 1.325
Kabupaten Karangasem 23.996 33.285 5.069
Kabupaten Bangli 10.366 28.664 1.872
Kabupaten Gianyar 6.263 73.392 2.943
Kabupaten Buleleng 6.718 31.412 3.393
Kabupaten Tabanan 29.669 49.598 2.781
Kabupaten Jembrana 3.990 14.496 155
Kabupaten Klungkung 4.258 5.066 461
Jumlah Kejadian 96.764 302.180 17.999
Sumber: DepKes Prov. Bali. 2011.
Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan Pemda Bali bersama dengan Kabupaten dan Kota se-Bali dalam menghadapi penyakit Rabies di Bali meliputi; 1). Dikeluarkannya Peraturan Gubernur No. 88 Tahun 2008 tentang Penutupan Sementara Keluar Masuknya Anjing, Kucing dan Kera dari dan ke Provinsi Bali, 2). Dibentuknya Tim Koordinasi dan Tim Teknis Penanganan Rabies, dan 3). Membangun Konter-konter Informasi Rabies pada Kantor Dinas Peternakan Proovinsi Bali, Puspem Mangupraja Mandala yang dilengkapi dengan tim Tim Supervisi, Tim Sosialisasi, Tim Vaksinasi, dan Tim Eliminasi.
Data mengenai kejadian rabies yang terjadi di bali sampai dengan tahun 2010 adalah seperti pada tabel 2.1. Melalui tabel 2.1. tersebut terlihat bahwa eliminasi anjing dalam kegiatan mengantisipasi rabies terbanyak dilakukan di kabupaten Tabanan, sejumlah 29.669 ekor anjing dan jumlah orang terbanyak tergigit anjing adala di kabupaten Buleleng dengan kejadian sebanyak 3.393 gigitan.
Berbagai cara penyebaran informasi mengenai penanganan Rabies di Bali sudah disebar keberbagai media diluar negeri ke Hongkong dan Australia, melalui perusahaan penerbangan Garuda. Selain itu melalui web site dan melalui konsul negara-negara sahabat. Masih ada ketakutan sejumlah wisatawan asing datang ke Bali, karena merebaknya Rabies di Bali. Ada beberapa negara yang berinisiatif memproteksi warganya melalui kegiatan injeksi anti rabies sebelum warganya ke Bali, seperti Australia. Semoga kegiatan proaktif ini mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Manca Negara ke Bali. Semoga?
2.6.2. SARS
Di bulan Mei tahun 2003, masyarakat dunia diancaman oleh penyakit baru yang dikenal sebagai SARS (Severe Acute Respiratory Sindrome). Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) penyakit ini pertama kali ditemukan pada tanggal 26 Februari 2003 di Hanoi, Vietnam dengan gejala dan tanda-tanda klinis antara lain panas tinggi (lebih dari 38oC), batuk, sesak nafas disertai nyeri2 otot, nafsu makan menurun, lemas dan adanya bercak-bercak kemerahan dikulit. Kasus ini diperberat dengan timbulnya radang paru akut (pneumonia) dan Sindrom gagal nafas akut (Respiratory Distress Syndrome) yang akan berakhir dengan kematian. Sindrom Pernafasan Akut Berat atau Severe Acute Respiratory Syndrome atau SARS (Shahab, 2003). Penyakit ini menyebar ke 31 wilayah di dunia, dan membunuh ratusan orang. Pertimbangan WHO menyatakan SARS sebagai ancaman global adalah SARS merupakan penyakit baru yang belum dikenal penyebabnya, SARS menyebar secara cepat melalui alat angkut antar negara dan SARS terutama menyerang tenaga kesehatan di rumah sakit. Dampak langsung dari wabah penyakit SARS, dikeluarkannya travell warning oleh pemerintah berbagai negara untuk berkunjung ke negara-negara tertentu yang terjangkit SARS. Hal ini menyebabkan menurunnya jumlah wisatawan dan perjalanan bisnis antar negara yang berdampak pada menurunnya pendapatan berbagai perusahaan penerbangan, bisnis perhotelan, ekspor-impor barang, dan sebagainya.
Jelas masalah wabah penyakit SARS ini secara langsung termasuk ke dalam elemen health security, yang menunjukkan bahwa state security pada akhirnya mau tidak mau harus mengakomodasikan isu-isu human security yang seringkali masih dipandang sebagai low-level issues. Roland Paris (International Security 26:2, 2001). Sejauh ini, berbagai upaya yang cukup penting sudah diambil oleh pemerintah, dengan mendorong berbagai pakar kesehatan di dunia untuk bekerja sama menemukan penyebab SARS dan memahami cara penularan SARS. Atas kerjasama para pakar dari 13 laboratorium di dunia maka tanggal 16 April 2003 dipastikan bahwa penyebab SARS adalah Virus Corona atau Coronavirus. Kerjasama di tingkat regional dan internasional dalam rangka menghadapi ancaman wabah penyakit SARS, dlakukan pada 29 April 2003. Kepala-kepala negara dari negara-negara ASEAN ditambah Cina melakukan pertemuan tingkat tinggi di Bangkok untuk membahas berbagai upaya yang perlu diambil untuk menanggulangi berbagai dampak negatif dari wabah SARS. Selain itu pada 17-18 Juni 2003, badan kesehatan dunia WHO juga akan mengadakan WHO Global Scientific Meeting di Jenewa untuk mengulas tentang temuan-temuan akademis yang berkaitan dengan SARS dan mendiskusikan strategi kontrol global untuk menghadapinya.
2.8.3. Flu Burung
Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia. Nama lain dari penyakit ini antara lain avian influenza. Ketua Hubungan Luar Negeri PHRI menyatakan munculnya kasus flu burung berdampak pada pariwisata, sejak Juli 2005 terdapat 95 kasus flu burung di Indonesia dengan jumlah korban 75 orang meninggal dunia.(Tempointeraktif) Lebih tegas lagi Kuo, at all, 2007 menyatakan bahwa berdasarkan hasil empiris, efek destruktif dari Flu Burung pada permintaan pariwisata Clobal dan Asia benar-benar jelas. Singkatnya, ada efek negatif yang signifikan timbul dari infeksi Flu Burung.  Hal ini dihasilkan dari pwnwlitian yang menggunakan data panel prosedur. Model panel baik statis dan dinamis yang diadopsi untuk memperkirakan dampak dari penyakit menular ini pada pariwisata global dan Asia. Hasil empiris dari model panel statis dan dinamis yang konsisten dan menunjukkan bahwa jumlah wabah unggas yang terkena dampak signifikan terhadap pariwisata Global dan pada permintaan pariwisata Internasional di negara-negara Asia. Secara khusus, sebagai pengalaman SARS menunjukkan, perjalanan dan pariwisata akan menurun tajam (perjalanan internasional ke Asia turun sekitar 60% selama wabah SARS).
Sampai dengan tahun 1960-an, flu burung adalah penyakit yang tidak menular ke manusia. Tetapi saat ini penyakit ini telah mengalami evolusi yang luar biasa. Penyakit ini bisa menular kepada manusia, dan yang tertular ratusan meninggal. Perubahan keseimbangan ekosistem telah menyebabkan ketidakseimbangan ekologi mikroba. Instabilitas ekologi mikroba inilah yang menjadikan virus dan kuman penyakit yang selama ini "diam" tiba-tiba berubah ganas. Salah satunya adalah virus flu burung dengan berbagai variannya (HxNy).( Alikodra, 2007)
Flu burung pertama kali muncul dari daratan Cina pada akhir tahun 1990-an. Saat itu, Cina sengaja menyembunyikan wabah flu burung yang menyebar di sana. Flu burung dan SARS merupakan penyakit yang menular lewat pernafasan. Berdasarkan penelitian, penyebab kedua penyakit tersebut adalah polusi udara dan penebangan hutan yang sewenang-wenang, yang berdampak pada tumbuh subur dan berkembang-biaknya microba secara tak terkendali. Perkembangbiakan ini terjadi karena suplai oksigen yang semakin berkuang. Oksigen bila terkena sinar ultraviolet dari matahari akan berubah menjadi ozon (O3) dan O nascend yang adalah pembunuh mikroba dan virus yang amat efektif. Bila oksigen itu berkurang, pembunuh mikroba dan virus pun berkurang. Dampaknya, mikroba dan virus akan makin berkembang.
Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas, dengan tindakan: 1). Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata renang). 2). Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja harus ditatalaksana dengan baik (ditanam/dibakar) agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang disekitarnya. 3). Alat-alat yang dipergunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan. 4). Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan. 5). Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak pada suhu 80C selama 1 menit, sedangkan telur unggas perlu dipanaskan pada suhu 64C selama 5 menit. 6). Melaksanakan kebersihan lingkungan. 7). Melakukan kebersihan diri.
Pemerintah Indonesia (RI) dan Singapura menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk melaksanakan proyek percontohan (pilot project) pengendalian flu burung di Tangerang, Banten. Nota kesepahaman itu ditanda-tangani oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia dan Menteri Kesehatan Singapura, di Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jakarta. Kerjasama ini adalah tindak lanjut dari pertemuan pemimpin APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) di Bussan, Korea Selatan, November 2005.
Asumsi sederhana yang melatarbelakanginya adalah bahwa masalah kesehatan di Indonesia bisa dengan cepat menjadi masalah di Singapura, dan sebaliknya, karena Singapura dengan Indonesia berdekatan secara geografis, selain itu ternyata flu burung lebih berbahaya daripada SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Proyek percontohan ini memiliki fokus pada strategi pengawasan pada manusia dan unggas, dan perawatan pasien yang terinfeksi.
2.6.4. Flu Babi
Wabah flu babi (swine flu) sudah masuk ke Indonesia, dua dari tiga kasus positif H1N1 terjadi di Bali. Waktu itu pelaku pariwisata Bali meminta media massa tak membesar-besarkan kasus flu babi di Bali, karena belum diketahui dampaknya seperti apa bagi Bali. Walaupun Wabah flu babi (swine flu) belum berpengaruh signifikan bagi pariwisata, flu babi sangat mengkhawatirkan bagi pelaku industri pariwisata, karena kasus flu bali merupakan pukulan kedua bagi pariwisata Bali, setelah krisis global.( Saraswati, 2009)
Di Meksiko, sektor jasa makanan mengalami kerugian US$ 4.500.000per hari dan harga daging babi turun 30%. Klub sepak bola mencatat kerugian langsung dari hampir US$ 1 juta per permainan karena larangan pemerintah untuk melakukan pertandingan. Meksiko Grande Prix untuk tahun 2009 dibatalkan, memaksa negara kehilangan jutaan dolar pendapatan yang tak terhitung. Di negara-negara yang terkena di Amerika Selatan, perkiraan kerugian ekonomi berkisar dari 0,5% menjadi 1,5% dari PDB. Misalnya, Altura Manajemen, sebuah perusahaan konsultan kesehatan swasta,  telah memproyeksikan skenario terburuk bagi Chili 100.000 infeksi pada tahun 2009, 2% dari yang akan memerlukan rawat inap.  Jika skenario seperti itu direalisasikan, biaya keseluruhan untuk bisnis dan pemerintah Chile akan mencapai US $ 13.7 juta.( Polycom. 2009).
Industri pariwisata Amerika Serikat merasakan dampak yang signifikan akibat Virus flu Babi, karena kedekatannya dengan Meksiko. Saat ini tingkat kematian untuk orang dengan H1N1 adalah sekitar 1% dari mereka yang terinfeksi. (Tarlow.2009). Virus ini menyebabkan wisatawan internasional melalui tur operator di Meksiko membatalkan perjalanannya ke Amerika Serikat selama minggu-minggu awal epidemi sampai dengan 75%. Bahkan pasar pariwisata domestiknya yang terkena dampak, wisatawan asal negara-negara bagian utara membatalkan rencana mereka untuk liburan musim panas ke negara-negara bagian selatan, pembatalan ini menyebabkan industri penerbangan domestik turun hingga  90% pendapatannya (Myfundi. 2009). Pada bulan Agustus 2009, perusahaan perjalanan Thomas Cook melaporkan wabah flu babi menyebabkan perusahaannya membayar biaya bisnis sekitar US$ 20.600.000.( Polycom. 2009).
Dampak flu babi juga dirasakan di Inggris khususnya pada hotel dan industri pariwisata. Penyakit ini sempat membuat saham perusahaan InterContinental Hotel Group (IHG)  jatuh lebih dari 5% akibat kekhawatiran bahwa wabah akan memukul dunia pariwisata di bursa saham hotel. ( Gemma. 2009)
2.6.5. Bakteri (disentri)
Isu disentri menjadi perhatian dalam pembangunan pariwisata di bali karena beberapa kasus disentri diberitakan di media cetak Taiwan, turis Taiwan yang baru kembali dari Bali terserang bakteri Shigellosis Dysenteriae.  Bakteri Shigellosis Dysenteriae didapat wisatawan karena mengkonsumsi makanan yang tidak terjaga kebersihannya selama di Bali. Pemberitaan media massa Taiwan soal penyakit disentri (Shingellosis Dysenteriae) ini mendapat perhatian semua stake holder Pariwisata dalam menjaga kebersihan/higenitas akomodasi dan restaurant yang ada di Bali, karena hal itu sangat sensitif bagi masyarakat Taiwan.
Tindakan ini berhasil mengembalikan kepercayaan turis Taiwan terhadap destinasi Bali, hal itu terlihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara asal Taiwan pada tiga bulan pertama (Januari-Maret) 2007 naik hingga 15,4% mencapai 32.267 orang, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yakni sebanyak 27.967 orang.
Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri Pariwisata banyak memeberikan konstribusi bagi pembangunan Bali. Tetapi ternyata dalam proses pembangunan tersebut banyak terdapat isu-isu pembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan dengan baik oleh semua komponen pengelola pariwisata di Bali. Mulai dari masalah Tata ruang Daerah, Pembangunan Villa tak berizin, Kebijakan Travell Advesories, Bencana Alam, Perubahan Iklim, Penyakit dan lain sebagainya.
Komprehensipnya permasalahan ini memunculkan ide perlunya di bentuk Crisis Center. Pembentukan crisis center karena kebanyakan permasalahan pebangunan di Bali muncul dengan seketika tanpa direncanakan, karena kita sadar bahwa kegiatan pariwisata sengat rentan dengan banyak isu yang sumbernya berada di luar pariwisata.
Crisis ceter sangat dibutuhkan oleh sektor pariwisata baik dalam keadaan normal ataupun ketika mucul krisis dengan menggunakan standar prosedur tahapan komunikasi yang sudah baku, pada keadaan normal crisis center akan berperan untuk menyampaikan informasi terkini mengenai keadaan Indonesia ke berbagai belahan dunia. Sedangkan peranan crisis center ketika muncul krisis adalah sebagai pusat informasi, karena pada crisis center ada standar prosedur tahapan komunikasi yang dapat diinformasikan, mulai dari saat muncul tanda-tanda kejadian, sampai dengan pasca-penanggulangan bencana. (Glaesser, 2007)

DAFTAR PUSTAKA
Alexandra, Lina A. 2003. SARS dan human security. Koran Tempo - 08 May 2003. http://www.csis.or.id/Publications-OpinionsDetail.php?id=32
ALIKODRA, Hadi S. 2007. Flu Burung dan Deforestasi. Fakultas Kehutanan IPB Bogor.  Sumber: Pikiran Rakyat. http://www.budpar.go.id/page.php?id=1642&ic=511 
Glaesser, Dirk. 2007. Risk and Crisis Management. Inter-regional & Inter-sectoral Networking for Tourism Marketing and Communications. Workshop on Marketing and Communication Strategy (Marcom). United Nation-World Tourism Organization (UNWTO)
Kartiwa, B. 2007. Amerika penyumbang utama pemanasan global. http://www.gaulislam. com/dr-ir-budi-kartiwa-cesa.html. [6 Mei 2009]
Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Dampak Perubahan Iklim Global Terhadap Pariwisata Akan Menjadi Sorotan RI pada Sidang WTO di Kolombia. http://www. budpar.go.id/page.php?ic=511&id=3275
Koumelis, Theodore. 2006. Travell Advisory. International Travel Daily News.com 
Kuo, H.-I, C.-L. Chang, B.-W. Huang, C.-C. Chen and M. McAleer.2007. Avian Flu and International Tourism Demand: A Panel Data Analysis. Department of Applied Economics, National Chung Hsing University, Taichung, Taiwan
Muliartha. 2011. HYPERLINK "http://www.greenradio.fm/news/latest/4742-bupati-bali-pertanyakan-radius-kesucian-pura-" Bupati Bali Pertanyakan Radius Kesucian Pura. www.greenradio.fm/news/ latest/4742-bupati-bali-pertanyakan-radius-kesucian-pura-37k 
Myfundi. 2009. Impacts of swine flu (H1N1/09 virus). Http://www.myfundi.co.za/e/impacts _of_ swine_flu_ (H1N1/09_virus). Diunduh tanggal 10/07/2011.
Polycom. 2009. A Swine Flu Vaccine for Business. Ensuring Operational Continuity Amid a Global Pandemic. http://www.polycom.com/global/documents/whitepapers/swine _flu_business_white-paper.pdf. Diunduh tanggal 10/07/2011.
Pusat Komunikasi Publik.2009.Strategi Percepatan Penyelesaian RTRW. http://binamarga.grobogan.go.id/berita-artikel/2-strategi-percepatan-penyelesaian-rtrw.html. Di unduh tanggal 05/07/2011.
Saraswati, Wima. 2009. Flu Babi Bahayakan Pariwisata Bali. http://nasional.vivanews.com/ news/read/69670-flu_babi_bahayakan_pariwisata_bali. Diunduh tanggal 10/07/2011. 
Shahab, Alwi. 2003. Ancaman Global: Sindrom Pernafasan Akut Berat atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews &kode=915 &tbl=artikel
Sharkey, Gemma. 2009. Swine flu impact on UK tourism low for now. Http://www.caterer search.com/Articles/2009/04/27/327351/Swine-flu-impact-on-UK-tourism-low-for-now.htm. Diunduh tanggal 10/07/2011.
Sulistyaningsih, Lulut D. 2011. Perubahan Iklim dan Taman Nasional. Taman Nasional Bali Barat. http://www.tnbalibarat.com/?p=166
Sumadra. 2008. Analisis Model Kerjasama Pemanfaatan Tanah Anatara Warga Negara Asing dangan Pendududk Lokal (Studi Kasus di desa Lalanglingggah, Kecamatan Selemadeg Barat Kabupaten Tabanan Provinsi Bali). Institute Pertanian Bogor.
Sumber: http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=214
Tarlow, Peter. 2009. How the Next Pandemic May Impact the Worlds Tourism Industry. Medical: Pandemic Threat: Tourism Industr y Nightmare? www.tourism-review.com /fm985/m1.pdf
Windia, Wayan P. 2011. Menyikapi RTRW Bali dengan "Gerakan Bengong Sejenak". www.cybertokoh.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1857


Download ISU-ISU PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA DI BALI.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca ISU-ISU PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA DI BALI. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon