November 28, 2016

dinamika pemikiran NU


Judul: dinamika pemikiran NU
Penulis: ALv IEn


BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang masalah
Tidak dapat dipungkiri bahwa NU merupakan salah satu organisasi masyarakat terbesar yang ada di Indonesia dan mungkin bahkan di Dunia. Namun, dari yang penulis ketahui bahwa saat ini banyak dari kalangan Nahdliyun (kaum yang menganut paham NU), terutama dari kalangan remaja dan mungkin juga dari kalangan orang dewasa yang hanya mengikuti apa yang telah menjadi kebiasaan dan tradisi yang ada pada masyarakat terdahulu tanpa mengetahui bagaimana sejarah berdirinya NU dan bagaimana dinamika pergeseran model pemikiran yang terjadi selama masa dimana mulai berdirinya hingga saat ini karena tidak menutup kemungkinan pemikiran seorang pendiri dan peletak dasar pemikiran sebuah organisasi tidak sepenuhnya sama dan dilanjutkan oleh generasi selanjutnya utuh sesuai pemahaman dari para Muassis nya.
Hal ini sangat ironis bahwa sudah selayaknya, ibarat kita akan membeli sesuatu maka akan kita banyak bertanya-tanya mengenai produk tersebut. Ibarat ingin meminta bantuan seseorang maka sudah seharusnya kita telusuri rekam jejak serta riwayat dari orang tersebut supaya jika terjadi apa-apa di kemudian hari kita tidak menyesali apa yang telah kita putuskan, yakini dan jalani.
Apalagi saat ini, karena banyak dari kaum Nahdliyun yang belum mengerti asas-asas dasar dari ideologi ke-NU an itu sendiri, banyak dari kalangan Nahdliyun yang salah memahami dan melakukan hal yang sebenarnya tidak ada dalam ajaran NU sendiri. Semisal ada seseorang yang melakukan suatu amalan NU tetapi ketika ditanya apa dasarnya dan tidak mengetahuinya hingga pada akhirnya orang tersebut tidak melakukan amalan itu lagi.
Berdasarkan hal tersebut di atas kiranya perlu penulis membahas hal-hal tersebut di makalah yang berjudul "Dinamika Pemikiran NU", mulai dari awal berdirinya dan corak pemikiran dari setiap generasi serta tidak lupa menyisipkan sedikit dasar-dasar yang digunakan dalam amalan yang sering dilakukan di kalangan NU.
Rumusan Masalah
Bagaimana awal terbentuknya NU ?Bagaimana model pemikiran NU mulai dari generasi ke generasi?
Tujuan pembahasan
Supaya kita mengetahui bagaimana awal terbentuknya NU
Supaya kita mengetahui bagaimana pemikiran NU dari generasi ke generasi.
BAB II
PEMBAHASAN
Awal Terbentuknya NU
Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama atau kebangkitan cendikiawan Islam) disingkat NU adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kemunculan Nahdlatul Ulama yang paling mendasar adalah untuk melindungi paham dan praktik keagamaan mereka. Perbincangan mengenai awal berdirinya NU selalu tidak dapat dilepaskan dari dua tokoh sentral, yaitu K.H. Wahab Chasbullah dan K.H. Hasyim Asy'arie. K.H. Wahab Chasbullah tokoh muda yang kalangan tradisionalis yang pertama mendorong untuk terbentuknya organisasi bagi kalangan islam tradisionalis untuk menampung aspirasi mereka dalam konteks Hindia Belanda saat itu. K.H. Hasyim Asy'arie memiliki andil yang juga besar dengan memberikan restu terhadap pembentukan organisasi bagi kalangan tradisionalis, restu kyai paling berpengaruh di Jawa ini sangat menentukan perjalanan NU pada masa perkembangannya.
Kemunculan organisasi NU didorong oleh adanya tindakan provokasi yang dilakukan oleh kelompok Islam modernis terhadap paham dan praktik keagamaan kalangan islam tradisionalis pada tahun 1920an. Selain itu juga karena ancaman ekspansi perdagangan modernis terhadap basis ekonomi kiai dan pesantren di pedesaan. Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan Membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 Didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" (kebangkitan pemikiran), Sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan Keagamaan kaum santri. Didirikan Kemudian dan situ Nalidlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat ini dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Namun, dari sepengetahuan penulis dalam perjalanan perkembangannya, kalangan pesantren mulai merasa tidak sejalan dengan pemikiran kalangan ulama yang lain dimana dalam organisasi yang mereka jalankan dimasuki oleh paham-paham wahabi dari Arab Saudi yang berpendapat akan menghancurkan peninggalan sejarah islam maupun pra-islam. Dengan sikapnya yang berbeda itu kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al-Islam di Yogyakarta pada tahun 1925. Akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan dalam delegasi sebagai Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Sumber lain menyebutkan bahwa KH. Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah dan sesepuh NU lainnya berjalan keluar membuat delegasi sendiri yang dinamakan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.
Setelah berkoordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar. Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah wal Jamaah. Kedua kitab tersebut, kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU, yang dijadikan dasar dan rujukan sebagai warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan po1itik.
Pemikiran NU Dari Generasi Ke Generasi
Kemunculan Nahdhatul Ulama yang paling mendasar adalah untuk melindungi paham dan praktik keagamaan mereka. Kandungan intelektual Islam Tradisionalis berkisar pada paham akidah Asy'ariyah, madhab fiqh Syafi'I, akhlak tasawuf al- Ghazali dan pengarang kitab-kitab sejenis. Sebagaimana telah disampaikan oleh Kiai Hasyim Asy'ari yang telah memberikan sebuah karakter khususnya terhadap paham ahlusunnah wal jamaah, paham yang dianut NU. Kalangan Muslim di Jawa berpegang teguh pada paham ahlusunnah wal jamaah. Dalam fiqih mereka bermadhab Imam Syafi'i. dalam akidah bermadhab kepada Imam Abul Hasan al Asy'ari. Sementara dalam Tasawuf bermadhab kepada imam al Ghazali dan Imam abul hasan as syadzili.
NU sebagai salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia ikut bertanggung jawab untuk memberikan kontribusinya dalam membangun cita-cita keadaban bangsa. Hal ini tidak lain karena kontribusi NU tidak hanya di alamatkan kepada jamaah NU, tetapi lebih besar dari itu bagaimana NU bisa berkontribusi kepada bangsa. Itu sebabnya NU telah lama merumuskan jalan keadaban yang dapat dikontribusikan kepada bangsa. Pertama, NU telah merumuskan konsep mabadi' khoiro ummat (prinsip dasar umat terbaik) yang didasarkan pada orientasi moral untuk perubahan social ekonomi masyarakat. Pengukuhan moralitas sebagai landasan dalam kehidupan social dan ekonomi masyarakat bertumpu pada As Shidq (kejujuran) dan al amanah (tanggung jawab) sehingga tata laku masyarakat dilandasi oleh moralitas yang agung, bukan nafsu serakah menumpuk kekayaan dan kepentingan ego pribadi. Kedua, NU sejak semula memberikan kontribusinya dalam wawasan keagamaan moderat dan ikut mendorong pembentukan ide kebangsaan. Dalam ranah keagamaan, NU berhasil merumuskan gagasan dasar tentang tawassuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan) dan I'tidal (keadilan). Inilah yang menjadi sikap dasar NU dalam merespons isu-isu keagamaan di tanah air. Ketiga, dalam kaitan ini, fondasi besar sudah diletakkan oleh NU ketika mempelopori penerimaan Pancasila sebagai asas bernegara dan bermasyarakat yang mesti diterima oleh umat Islam. Konsepsi ini diperkuat dengan kesetiaan NU terhadap ide-ide kebangsaan yang menjadi titik tolak dalam mendesain Negara Indonesia.
Sebagaimana keterangan sebelumnya bahwa sebenarnya di awal-awal keberadaannya, NU merupakan sebuah organisasi kemasyarakatan tradisional untuk melindungi paham dan praktik keagamaan mereka terutama dalam bidang pendidikan, social dan ekonomi. Menurut K.H. Achmad Siddiq, sejak didirikannya (1344 H/1926 M) sampai berakhirnya zaman penjajahan Belanda (1361 H/1942 M) NU sebagai organisasi keagamaan yang bergerak membina umat menurut wawasan keagamaannya yang memang sesuai dengan wawasan keagamaan mayoritas kaum muslimin Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu NU mulai masuk dalam dunia politik terutama setelah menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti Pemilu 1955.
Era Orde Lama, NU mempertegas wujudnya dalam ranah kepemerintahan dan kebijakan-kebijakan yang bersifat konstruktif. Seperti penggagasan berdirinya Masjid Istiqlal oleh KH A. Wahid Hasyim, selaku Menteri Agama saat itu, dan disetujui oleh Soekarno. Penggagasan pendirian IAIN oleh KH Wahib Wahab. Realisasi penerjemahan Al-Qur'an kedalam bahasa Indonesia pada masa Depag dipimpin oleh menteri dari NU, Prof KH Syaifuddin Zuhri. Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur'an diprakarsai oleh Menag dari NU, KH. M. Dahlan. Tegas kiprah NU pada saat itu tidak bisa dianggap remeh. Ketika rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, NU lebih berkiprah pada pengembangan masyarakat tingkat bawah (grass root) untuk menciptakan civil society. Juga pada rezim inilah terlahir konsensus untuk kembali pada khittah 1926 melalui muktamar NU ke-27 di Sukorejo Situbondo, tahun 1984. Inti dari Khittah adalah keinginan untuk kembali pada semangat perjuangan awal, menjadi ormas sosial keagamaan. Keputusan penting lainnya adalah NU secara formal menerima Pancasila sebagai asas tunggal atau landasan dasar NU.
Adalah realitas dalam NU bahwa basis social dan program-program kegiatan mereka berada di wilayah pedesaan. Keterbatasan berbagai informasi yang dimiliki di basis-basis komunitas NU dalam kondisi tradisi keagamaan yang diajarkan sebagai doktrin, termasuk dalam kaitan dengan upaya melanggengkan status quo kekuasaan (pengaruh para kyai, maka pola pikir, tradisi dan program-program yang dikembangkannya pun semakin menunjukkan wataknya yang eksklusif dan defensive. Watak eksklusif NU ditunjukkan dengan dan atau sebagai konsekuensi dari keberadaanya atau pendiriannya yang tertutup dari pengaruh-pengaruh luar karena menganggap bahwa apa yang dipahami sebagai ajaran yang terus menerus direproduksi merupakan suatu kebenaran yang harus dipertahankan
Perkembangan global yang dipengaruhi secara kuat oleh berbagai usaha pembangunan dan perubahan berparadigma modernisasi dalam segala aspeknya (social, budaya, politik, ekonomi dan teknologi), telah menjadikan semua pihak harus berupaya mengantisipasinya dengan mempersiapkan diri beradaptasi. Sebab kalau tidak mampu beradaptasi atau mengikuti kehendak perubahan dari arus modernisasi, maka niscaya akan tertinggal atau tidak berdaya. Kenyataan seperti itu, oleh kelompok progesif NU yang moderat dan transformis, dilihat sebagai suatu tantangan dimana NU baik sebagai jamaah (massa) maupun jamiyah (organisasi) harus melakukan upaya agar tidak tertinggal. Dalam konteks ini agaknya orang-orang NU yang terlebih dahulu sadar dengan kondisi intern-nya dikaitkan dengan perkembangan masyarakat di luarnya dengan pesat, dimana hanya orang-orang yang bisa beradaptasi dengan perkembangan itulah yang bisa survive, sementara orang NU sendiri akan mengalamai kesulitan, yang dengan sendirinya berarti akan ditinggalkan dan termarjinalkan. Pernyataan ini diperkuat dalam referensi lain disebutkan bahwa modernisasi dan pola pandang di tubuh NU seyogyanya menuntut perubahan dalam cara mengelola organisasi besar ini.
Di era saat ini, sebagaimana dijelaskan di awal bahwa saat ini NU berkomitmen untuk kembali ke Khittah 1926 ternyata dalam kenyataannya masih belum menjadi tindakan dan sikap organisasi. Alih-alih ingin menegakkan khittah, ternyata NU kian akrab dengan politik, bahkan elitnya tak malu memperdagangkan NU untuk kepentingan politik praktis. Sebagaimana yang kita ketahui dengan adanya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang merupakan wajah NU di ranah politik. Kiprah PKB negative atau positif) tentu berimplikasi pada citra NU.
Menurut greg Fealy, tujuan politik NU saat menjadi parpol adalah 1) penyaluran dana pemerintah terhadap NU, 2) mendapat peluang bisnis dan 3) menduduki jabatan birokrasi. Dengan tiga tujuan politik seperti itu tampaknya justru menyebabkan NU terjerembab dalam kubangan politik materialistis, lalai pada politik kerakyatan.
Terlepas dari itu semua, Yahya C. Staquf, katib syuriah PBNU mengatakan bahwa Hari ini entah masih ada berapa yang ingat bahwa Nahdlatul Ulama bukan organisasi biasa. NU tidak seperti perkumpulan pedagang atau petani, tidak pula semacam karang taruna. NU terlebih dahulu dan pada dasarnya adalah Jam'iyah Diiniyah (perkumpulan keagamaan) sebelum Ijtima'iyah (kemasyarakatan). Seharusnya tidak boleh ada sejumput pun urusan dalam NU yang tidak membawa roh agama dan mengikuti panduan agama.
Drs. K.H. Ghazali Said, MA, salah seorang tokoh muda NU dan juga dosen UIN Sunan Ampel Surabaya berpendapat bahwa perkembangan pemikiran merupakan perjalanan yang alami, bisa saja kita hitung sejak tahun 1984 ketika Muktamar di Situbondo. Tetapi sebelumnya sudah ada  produk  kurikulum pesantren, dari basis pesantren yang murni oleh pemikiran-pemikiran ulama salaf lalu diadopsi dengan pemikiran baru atau  pemikiran yang modern, hanya waktu itu belum kelihatan kekurangannya. Sekarang ini NU dalam pola pemikiran berpegang teguh pada pemikiran ulama-ulama. bersamaan itu juga muncul didalam NU juga tumbuh sekularisai yang kuat dan fundamentalis dalam internal NU juga. Hanya ini tidak dapat tempat sekarang.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama atau kebangkitan cendikiawan Islam) disingkat NU adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Awal terbentuknya merupakan hasil dari ketidak sesuaian pemikiran dengan berbagai organisasi pada saat itu. Namun kemunculan Nahdlatul Ulama yang paling mendasar adalah untuk melindungi paham dan praktik keagamaan mereka. Perbincangan mengenai awal berdirinya NU selalu tidak dapat dilepaskan dari dua tokoh sentral, yaitu K.H. Wahab Chasbullah dan K.H. Hasyim Asy'arie
Di awal berdirinya NU merupakan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi juga untuk melindungi paham dan praktik keagamaan mereka. Namun dalam perjalanannya, NU mulai masuk dalam politik praktis dan hal yang mulai menyimpang dari tujuan awla didirikannya NU hingga pada akhirnya dalam muktamar NU ke 27 tahun 1984 di Situbondo diputuskan bahwa NU akan kembali ke Khittah 1926. Tetapi pada kenyataannya terdapat beberapa warga NU yang masih tetap bermain di politik praktis hingga akhirnya memunculkan beberapa partai politik berbasis NU semisal PKB, PPP dan PKNU hingga pada puncaknya Gus Dur sebagai pimpinan NU menjabat sebagai presiden RI dan munculnya perebutan kekuasaan setelahnya yang tentunya sudah jelas tidak sesuai khittah 1926. Wallahu a'alam
Saran
Dengan keterbatasan pengetahuan dan pemahaman penulis, semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi kepada kita semua. Dan penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat berbagai kekurangan dan mungkin saja kesalahan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sekalian.DAFTAR PUSTAKA
Hasyim, Syafiq. Tiga jenis politik NU. Dikutip dari buku Nahdlatul Ulama; dinamika ideology dan politik kenegaraan. Jakarta: kompas media nusantara,2010,
http://illsionst.blogspot.com/2011/06/sejarah-dan-perkembangan-nu.html. Di akses tanggal 09 Desember 2014
http://nu.or.id Perkembangan Pemikiran NU Kontemporer. Diakses tanggal 99 Desember 2014
Ida, Laode . NU MUDA; kaum progresif dan sekularisme baru. Jakarta: Erlangga. 2010.
Mawardi, Kholid . Madhab Sosial Keagamaan NU. Purwokerto: STAIN Purwokerto Press, 2006.
Misrawi, Zuhairi. Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Jakarta: Kompas Media Nusantara. 2010.
Sa'adillah, Rangga. Peluang dan Tantangan NU. Resensi buku "NU untuk siapa? Pikiran-pikiran reflektif untuk muktamar NU ke-32". www.nu.or.id di akses tanggal 09 Desember 2014
Siddiq, K.H. Achmad . Khittah Nahdliyah. Surabaya: Khalista. 2005.
Sobary, Muhammad . NU dan keindonesiaan. Jakarta: gramedia Pustaka utama, 2010,
Staquf, Yahya C, . Kiai dan Jabatan. Jawa Pos, Sabtu 20 Desember 2014.
Tim NU. NU; Dinamika ideologi dan Politik kenegaraan. Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2010.


Download dinamika pemikiran NU.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca dinamika pemikiran NU. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon