October 21, 2016

tokoh Pendidikan Islam di Indonesia


Judul: tokoh Pendidikan Islam di Indonesia
Penulis: Yani Handayani


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Suksesnya pendidikan di Indonesia tentunya tidak lepas dari peran para ulama, mereka adalah para pahlawan bagi keberhasilan negeri ini. Sekian banyak ulama' yang ada di Indonesia baik yang dikenal maupun yang tidak tentunya banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita ambil.
Seiring berjalannya waktu, para ulama' yang telah berjasa di Indonesia banyak yang terlupakan, bahkan ajaran dan peran sertanya banyak yang diabaikan. Oleh karena itu, kita sebagai agent of change tak sepatutnya melupakan jasa-jasa mereka. Bahkan kita harus lebih giat lagi dalam meneruskan visi dan misi mereka. Mereka adalah para pahlawan yang dapat membantu kita mendapat keridhoan Allah.
Maka dari itu, dalam makalah kali ini kita akan mencoba untuk sedikit menguraikan biografi dan juga pemikiran-pemikiran mereka dalam pendidikan Islam di Indonesia, yang semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
Mengetahui biografi atau riwayat hidup dari tokoh-tokoh pendidikan Islam di Indonesia.
Mengetahui pemikiran-pemikiran tokoh pendidikan Islam di Indonesia tentang system pendidikan yang ada di Indonesia.
Untuk memenuhi tugass mata kuliah MK-PAI.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
Siapa saja tokoh-tokoh pendidikan Islam di Indonesia dan bagaiman riwayat hidup mereka?
Apa dan bagaimana pemikiran-pemikiran mereka di bidang pendidikan?

BAB II
PEMBAHASAN
Riwayat Tokoh Pendidikan Islam Di Indonesia
Kyai H. Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta tahun 1868. Ia berangkat dari keluarga diktatis dan terkenal alim dalam ilmu agama. Ayahnya bernama KH. Abu Bakarbin Kyai Sulaiman, seorang imam dan khatib masjid besar kraton Yogyakarta. Sementara ibunya bernama Aminah, putri KH. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di kraton Yogyakarta.ketika kecil ayahnya memberi nama si anak dengan nama Muhammad Darwis.
Beliau lulus pendidikan dasar di madrasah dalam bidang nahwu, fiqih dan tafsir di Yogyakarta. Selanjutnya, beliau pergi ke makkah pada tahun 1890 untuk menuntut ilmu di sana selama satu tahun. Salah satu gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib. Sekitar tahun 1903, beliau kembali ke makkah dan menetap di sana selama dua tahun. Sepulang dari makkah beliau berganti nama Haji Ahmad Dahlan. Kemudian beliau menikah dengan siti Waalidah putri Kyai Penghulu Haji Fadhil.
Pada tahun 1909 Ahmad Dahlan pernah menjadi anggota Budi Utomo, selain itu juga beliau pernah masuk Jami'at Al-Khair dan Sarekat Islam, dakwah yang dilakukan Ahmad Dahlan pun semakin meluas dan dengan dukungan berbagai pihak Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 mendirikan Muhammadiyah. Setelah sebelas tahun mendirikan Muhammadiyah, pada tanggal 23 Februari 1923, Ahmad Dahlan wafat di Kauman, Yogyakarta, tempat dimana ia pernah dilahirkan.
Kyai H. Hasyim Asy'ari
K.H Hasyim Asy'ari lahir pada tanggal 14 Februari 1871 M di Jombang, Jawa Timur. Beliau adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara,. Ayahnya bernama K.H Asy'ari pendiri Pesantern Keras, sedangkan kakeknya, K.H. Usman adalah pengasuh Pesantren Tambak Beras, yang terletak di Barat Kota Jombang, yang didirikan oleh kakeknya K.H. Sihah.
Pada tahun 1926, K.H. Hasyim Asy'ari bersama K.H Abdul Wahab Hasbullah dan beberapa ulama lain dari Jawa Timur, mendirikan Jamilah Nahdatul Ulama (NU). Dengan jabatannya sebagai ketua dari NU, pada masa penjajahan, belaiu pernah mengeluarkan fatwa untuk wajib berjihad guna mempertahankan keutuhan Republik Indonesia.
K.H. Hasyim Asy'ari pernah menjabat sebagi Ketua Umum MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia) dan Ketua Dewan Syuro Masyumi selain sebagi Ketua Umum NU. K.H. Hasyim Asy'ari sangat berperan dalam memperjuangakn nilai-nilai keadilan dan kemerdekaan, juga berperan dalam kemajuan di bidang pendidikan, dengan Pesantren yang didirikannya yaitu Pesantren Tebuireng, Jombang. Dan ketika usia kemerdekaan kita belum genap dua tahun, K.H. Hasyim Asy'ari dipangggil oleh-Nya pada tanggal 25 Juli 1947.
H.O.S Tjokroaminoto
Raden Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, 16 Agustus 1883. Pendidikan dasarnya ditempuh di Madiun, di sekolah Belanda. Sedangkan pendidikan lanjutan ia tempuh di OSVIA yang merupakan pendidikan untuk pegawai pribumi di Magelang, Jawa Tengah.
Pada tahun 1912 Tjokroaminoto bergabung dengan Serikat Dagang Islam (SDI). Di tangan Tjokroaminoto SDI mengubah namanya menjadi Serikat Islam (SI), pada 10 September 1912, yang selanjutnya pada tahun 1931 melebarkan haluan menjadi partai dengan nama PSII.
Tjokroaminoto juga berkiprah dan mendorong terbentuknya organisasi keilmuan seperti Indonesische Studie Club (ISC), dan Jong Islamietan Band (JIB), yang merupakan himpunan mahasiswa Islam. Tjokroaminoto wafat pada 17 Desember 1934, dan menjadi awal dari perpecahan di tubuh PSII.
Mahmud Yunus
Mahmud Yunus dilahirkan dari pasangan Yunus B. Incek dan Hafsah binti Imam Sami'un, lahir di Batusangkar, Sumatra Barat pada tanggal 10 Pebruari 1899.
Pada tahun 1924 Mahmud Yunus belajar di Al-Azhar Kairo, mempelajari bahasa Arab dan ilmu agama. Merasa belum cukup, ia melanjutkan ke Dar al-'Um, Universitas Kairo, Mesir untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum. Setelah menyelesaikan studinya, ia kembali di Indonesia dan mendirikan lembaga pendidikan Jami'ah Islamiyah di Sunnggayang dan Normal Islam School di Padang, tahun 1931. Mahmud Yunus adalah peletak pengajaran bahasa Arab dengan praktek langsung. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Imam Zarkasyi pengurus Pesantren Modern Gontor. Mahmud Yunus wafat pada tanggal 16 Januari 1982 di Jakarta.
Beliau termasuk tokoh pendidikan Islam indonesia yang gigih memperjuangkan masuknya pendidikan agama ke sekolah umum dan ikut berusaha memperjuangkan berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN).
Buya HAMKA
Nama lengkapnya adalah Haji Abdul malik Karim Amrullah, lahir di Maninjau, Sumatra Barat. Pada hari Senin, 16 Februari 1908. Putra dari Haji Abdul Karim Amrullah. HAMKA pernah dipenjara, dan selama dalam penjara ia menyusun sebuah karya yang monumental Tafsir Al-Azhar 30 juz.
Sosok HAMKA multiperan, selain sebagai seorang sastrawan, pujangga, ia juga seorang pemikir. Hamka juga banyak menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya lain seperti novel dan cerpen. Pada tahun 1928, Hamka menulis buku romannya yang pertama dalam bahasa Minang dengan judul Si Sabariah. Kemudian, ia juga menulis buku-buku lain, baik yang berbentuk roman, sejarah, biografi dan otobiografi, sosial kemasyarakatan, pemikiran dan pendidikan, teologi, tasawuf, tafsir, dan fiqih. Karya ilmiah terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar. Di antara novel-novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli juga menjadi perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura. Beberapa penghargaan dan anugerah juga ia terima, baik peringkat nasional maupun internasional. Pada tahun 1959, Hamka mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, Kairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian pada 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Nasional Malaysia pada bidang kesusasteraan, serta gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo.
Ketika Majelis Ulama Indonesia didirikan pada tanggal 27 Juli 1975, Hamka menjadi Ketua Umum yang pertama, samapai pada tahun 1981 ia mengundurkan diri dari MUi, dan setelah Sembilan pecan mengundurkan diri ia wafat tepatnya pada hari Jum'at 24 Juli 1981, dengan seluruh karya dan jassa-jassanya.
Imam Zarkasyi
Beliau lahir di Gontor , Ponorogo Jawa Timur pada tanggal 21 Maret 1910, dari pasangan Kyai Santoso Anom Besari dan Nyai Sudarmi. Ia adalah salah satu tokoh di pesantren modern Gontor. Pendidikannya ditempuh di Sekolah Desa selam tiga tahun, dilanjutkan ke sekolah Ongko Loro dan sore harinya ia ikut pesantren di Joresan dan Josari tak jauh dari Gontor.
Ia juga pernah menempuh pendidikan di Normal Islam School di bawah asuhan Mahmud Yunus, yang selanjutnya ia meneruskan untuk mengurus Pesantren Gontor bersama saudaranya, dia mempraktikan pengajaran bahasa Arab dan Inggris dengan metode baru yang didapatnya di normal Islamic School. Ada semboyan yang terkenal dari Imam Zarkasyi, al-kalimah wahidah fi alf jumlatin khairun min alf kalimah fi jumlatin wahidah (kemampuan menggunakan satu kalimat dalam seribu susunan kalimat lebih baik daripada penguasaan seribu kata secara hafalan dalam satu kalimat saja).
Ada kata-kata menarik dari Imam Zarkasyi tentang pondok Pesantren Gontor, "Bahwa Gontor tidak mencetak para santrinya agar menjadi pegawai, tapi menjadikan mereka majikan untuk dirinya sendiri."
Pada 30 Maret 1985, Imam Zarkasyi wafat dengan meninggalkan Pondok Pesantren yang dapat kita ssaksikan sampai sekarang ini.
K.H. A. Wahid Hasyim
Wahid Hasyim yang akrab di sapa dengan Gus Wahid lahir pada hari jumat legi, tanggal 5 Rabiul Awal 1333 H bertepatan dengan 1 juni 1914 di Desa Tebuireng, Jombang Jawa Timur. Oleh ayahnya Hadratus Syeh K.H. Hasyim Asy'ari beliau diberi nama Muhammad Asy'ari, terambil dari nama neneknya. Karena di anggap nama tersebut tidak cocok dan berat maka namanya di ganti Abdul Wahid, pengambilan dari nama seorang datuknya. Namun ibunya kerap kali memanggil dengan nama Mudin. Sedangkan para santri dan masyarakat sekitar sering memanggil dengan sebutan Gus Wahid, sebuah panggilan yang kerap ditujukan untuk menyebut putra seorang Kyai di Jawa.
Di dukung oleh tingkat kecerdasannya yang tinggi serta tingkat hafalannya yang kuat, dalam belajar Gus Wahid tidak mengalami kesulitan. Mengenai hal ini Saifuddin Zuhri menuturkan: " Aku mendengar bahwa K.H. A. Wahid Hasyim dan Muhammad Ilyas ketika masih sama-sama jadi santri di Tebuireng dahulu, bukan hanya hafal seluruh bait-bait Alfiyah yang 1000 dengan arti maknanya, tetapi juga mahir menghafalnya dari belakang ke muka. Padahal dari muka ke belakang saja bukan main sulitnya."
Bukti lagi kecerdasan dan kecemerlangan pikiran K.H. A. Wahid Hasyim dikisahkan oleh Ahmad Syahri sebagai berikut: "Kyai Wahid mudah menghafal nama tamu-tamunya, apalagi para pemimpin NU di daerah-lazim disebut konsul-sebelum ada sebutan pengurus wilayah dan cabang. Kecerdasannya juga terlihat dari cara beliau belajar bahasa Asing. Serta menangkap alur bicara lawan diskusinya, sehingga bisa menanggapi dengan tajam."
Pendidikan Menurut Tokoh Pendidikan Islam di Indonesia
Pendidikan Menurut Kyai H. Ahmad Dahlan
Menurut KH. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Upaya mengaktualisasikan gagasan tersebut maka konsep pendidikan KH. Ahmad Dahlan ini meliputi :
Tujuan Pendidikan
Menurut KH. Ahmad Dahlan, pendidikan islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Tujuan pendidikan tersebut merupakan pembaharuan dari tujuan pendidikan yang saling bertentangan pada saat itu yaitu pendidikan pesantren dan pendidikan sekolah model Belanda. Di satu sisi pendidikan pesantren hanya bertujuan utnuk menciptakan individu yang salih dan mengalami ilmu agama. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan sekuler yang didalamnya tidak diajarkan agma sama sekali. Akibat dialisme pendidikan tersebut lahirlah dua kutub intelegensia : lulusan pesantren yang menguasai agama tetapi tidak menguasai ilmu umum dan sekolah Belanda yang menguasai ilmu umum tetapi tidak menguasai ilmu agama.
Melihat ketimpangan tersebut KH. Ahamd Dahlan berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spritual serta dunia dan akhirat. Bagi KH. Ahmad Dahlan kedua hal tersebut (agama-umum, material-spritual dan dunia-akhirat) merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Inilah yang menjadi alasan mengapa KH. Ahmad Dahlan mengajarkan pelajaran agama dan ilmu umum sekaligus di Madrasah Muhammadiyah.
Materi pendidikan
Berangkat dari tujuan pendidikan tersebut KH. Ahmad Dahlan berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan hendaknya meliputi:
Pendidikan moral, akhalq yaitu sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang baik berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Pendidikan individu, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran individu yang utuh yang berkesinambungan antara perkembangan mental dan gagasan, antara keyakinan dan intelek serta antara dunia dengan akhirat.
Pendidikan kemasyarakatan yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat.
Model Mengajar
Di dalam menyampaikan pelajaran agama KH. Ahma dahlan tidak menggunakan pendekatan yang tekstual tetapi konekstual. Karena pelajaran agama tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami secara kognitif, tetapi harus diamalkan sesuai situasi dan kondisi.
Cara belajar-mengajar di pesantren menggunakan sistem Weton dan Sorogal, madrasah Muhammadiyah menggunakan sistem masihal seperti sekolah Belanda.
Bahan pelajaran di pesantren mengambil kitab-kitab agama. Sedangkan di madrasah Muhammadiyah bahan pelajarannya diambil dari buku-buku umum.
Hubungan guru-murid. Di pesantren hubungan guru-murid biasanya terkesan otoriter karena para kiai memiliki otoritas ilmu yang dianggap sakral. Sedangkan madrasah Muhammadiyah mulai mengembangkan hubungan guru-murid yang akrab.
Jadi dapat disimpulkan, bahwa ide-ide pendidikan menurut Ahmad Dahlan yaitu:
Pembaruan di bidang lembaga pendidikan, yang semula sistem pesantren menjadi sistem sekolah.
Beliau memasukkan pelajaran umum ke sekolah-sekolah agama atau madrasah.
Perubahan pada metode pengajaran sosrogan menjadi metode yang bervariasi
Dengan organisasi Muhammadiyah beliau berhasil mengembangkan lembaga pendidikan yang lebih bervariasi dan manajemen yang modern.
Pendidikan Menurut Kyai H. Hasyim Asy'ari
Diantara karya K.H. Hasyim Asy'ari yang sangat monumental yaitu kitab adab al-alim wa al- muta'alim fima yahtaj ilah al-muta'allim fi ahuwal ta'allum wa ma yataqaff al-muta'allim fi maqamat ta'limih yang dicetak pertama kali pada tahun 1451 H. Kitab tersebut terdiri dari 8 bab, yaitu keutamaan ilmu serta keutamaan mengajar, etika yang harus diperhatikan dalam belajar mengajar, etika seorang murid terhadap guru, etika murid terhadap pelajaran, etika yang harus dipedomani oleh guru, etika guru ketika akan mengajar, etika guru terhadap murid-muridnya dan etika terhadap buku. Dari 8 bab dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:
Signifikansi pendidikan
Berkaitan dengan pendidikan , di dalam kitab tersebut beliau banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu. Dan dalam pembahasan bab pertama dilengkapi dengan berbagai hadits Nabi dan pendapat berbagai ulama'. Diantara isinya yaitu tentang tujuan ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya, mkasudnya agar ilmu yang dimiliki menghasilkan manfaat sebagai bekal di kehidupan akhherat, syariat mewajibkan menuntut ilmu dan memperoleh pahala yang besar, ilmu merupakan sifat yang menjadikan jelas identitas pemiliknya.,bertauhid itu harus mempunyai iman. Maka barang siapa beriman maka ia harus bertauhid. Keimanan mewajibkan adanya syariat, sehingga orang yang tidak menjalankan syariat maka berarti ia tidak beriman dan bertauhid. Sementara orang yang bersyariat harus beradab. Dengan demikian beradab berarti ia juga bertauhid, beriman dan bersyariat.
Dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu pertama bagai murid hendaknya berniat suci, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi, jangan melecehkan dan menyepelekannya. Kedua, bagi guru dalam mengajarkan ilmunya meleuruskan niat, tidak mengharapkan materi semata-mata. Dalam penjelasannya tidak ada definisi khusus tentang belajar. Tetapi yang menjadi titik tekan pengertian belajar adalah ibadah mencari ridha Allah yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Belajar harus diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilia islam, bukan hannya sekedar menghilangkan kebodohan.
Tugas dan tanggung jawab murid
Etika yang harus diperhatikan dalam belajar
Etika dalam belajar yaitu membersihkan hati dari keduniawian, membersihkan niat, tidak menunda-nunda kesempatan belajar. Sabar dan qana'ah,pandai mengatur waktu,menyederhanakan makan dan minum, bersikap hati-hati (wara'), menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan kemalasan dan kebodohan, menyedikitkan waktu tidur, meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah.
Etika seorang murid terhadap guru
Etika seorang murid terhadap guru yaitu memperhatikan dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru, memilih guru yang wara' dan profesional, mengikuti jejak-jejak guru, memuliakan guru, memperhatikan hak guru, bersabar terhadap kekerasan guru, berkunjung ke rumah guru, duduk dengan rapi dan sopan ketika berhadapan dengan guru, berbicara dengan sopan dan lemah lembut, mendengarkan fatwanya, jangn sekali-kali menyela-nyela ketika guru sedang menjelaskan, menggunakan anggota yang kanan ketika menyerahkan sesuatu kepadanya.
Etika murid terhadap pelajaran
Etika murid terhadap pelajaran yaitu memperhatikan ilmu yang fardhu 'ain, mempelajari ilmu-ilmu yang mendukung ilmu fardhu 'ain, berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf ulama', mendiskusikan dan menyetorkan hasilnya kepada orang yang dipercaya, menganlisa dan menyimak ilmu, mempunyai cita-cita tinggi, bergaul dengan orang yang ilmu lebih tinggi, ucapkan salam ketika sampai di majlis ta'lim, hendaklah bertanya jika belum paham,, jangan mendahukui antrian, selalu membawa catatan, pelajari pelajaran yang telah diberikan, sealalu semanagat dalam belajar.
Tugas dan tanggung jawab guru
Etika seorang guru
Etika yang harus dimiliki seorang guru antara lain : selalu mendekatkan diri kepada Allah, takut kepada Allah, bersikap tenang, wara', khusu', mengadukan persoalan kepada Allah, tidak menggunakan untuk meraih keduniawian semata, zuhud, menghindari hal-hal yang rendah, menghindari tempat-tempat yang kotor dan tempat ma'siyat, mengamalkan sunnah Nabi, bersikap ramah, ceria, suka menebarkan salam, semangat menambah ilmu pengetahuan, tidak sombong, membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas.
Etika guru dalam mengajar
Etika guru ketika mengajar yaitu mensucikan diri dari hadts dan kotoran, berpakaian rapi, sopan dan berbau wangi, berniat ibadah, menyampaikan perintah allah, selalu membaca untuk menambah ilmu pengetahuan, mengucapkan salam ketika masuk kelas, berdo'a dahulu sebelum memulai pelajaran, berpenampilan yang kalem, menjauhkan diri dari banyak bergurau dan tertawa, jangan mengajar ketikakondisi marah, lapar, dan mengantuk, mengambil tempat duduk yang strategis, mendahukukan materi yang penting, menciptakan ketenangan dalam belajar, dan memberikan kesempatan bertanya jika ada yang belum jelas atau belum paham.
Etika terhadap buku, alat pelajaran dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Etika terhadap pelajaran yaitu berusaha memiliki buku yang diajarkan, merelakan dan mengizinkan apabila ada teman yang pinjam, meletakkan buku pelajaran di tempat yang terhormat, memeriksa dahulu ketika membeli atau meminjam buku, , bila menyalin buku pelajaran syari'ah hendaknya bersuci dahulu dan mengawalinya dengan basmalah.
Pendidikan Menurut H.O.S Tjokroaminoto
Begitu nampak dalam perjalanan hidupnya bahwa Islam dipeluknya sebagai pedoman utama dalam berucap dan bertindak. Hal inipun diajarkannya pada anak dan pengikutnya bahwa hanya Islamlah yang dapat membawa kebahagiaan umat dan umat untuk menjadi seorang muslim yang seutuhnya maka harus dididik secara islami. Tempo (2011:28) menjelaskan bahwa pada tahun 1930-an banyak berdiri sekolah Tjokroaminoto yang dibangun cabang-cabang PSII di semua wilayah. Silabus dan kurikulumnya didasari oleh buku Tjokro yakni Moeslim Nationaal Onderwijs. Sekolah ini mengajarkan soal arti kemerdekaan, budi pekerti, ilmu umum, dan ilmu keislaman. Menurutnya asas-asas Islam sejalan dengan sosialisme dan demokrasi maka kaum muslimin harus dididik menjadi muslim sejati untuk mencapai cita-cita kemerdekaan umat.
Setidaknya terdapat 5 pemikiran utama Tjokroaminoto dalam mendidik umatnya yang semuanya berlandaskan pada nafas islami. Tjokroaminoto bukan hanya mengajarkan gagasannya secara lisan tetapi juga memperlihatkannya dalam kehidupannya (perilakunya). Inilah yang membuat anak kandung serta anak kosnya begitu kagum padanya. Sesuatu yang paling sulit dilakukan adalah menyamakan antara ucapan dan perilaku, memang manusia tiada yang sempurna tetapi Tjokroaminoto berusaha untuk mencapainya.
Gagasan pertamanya adalah menanamkan benih kemerdekaan dan benih demokrasi yang telah menjadi tanda kebesaran dan tanda perbedaan Umat Islam besar pada zaman dahulu. Tjokroaminoto memberikan pelajaran baik pada anaknya dan anak kosnya tentang arti kemerdekaan dan demokrasi yakni membela kebenaran dan berpihak pada rakyat serta hanya takut pada Allah SWT. Suatu ketika pernah anaknya yang baru lulus sekolah memberikan ijazah kelulusannya pada sang ayah tetapi bukan bangga atau senang, Tjokroaminoto kemudian dengan tegas malah merobeknya berkali-kali dan menegaskan pada anaknya bahwa lebih baik untuk menjadi abdi rakyat dengan membangun cabang SI. Anak kos Tjokroaminotopun pernah merasakan arti demokrasi yakni ketika Tjokroaminoto sedang berdiskusi dengan teman-temannya, mereka sering berbeda pendapat dalam memutuskan sesuatu sehingga kemudian diambil jalan tengahnya. Para anak kosnya ini biasanya hanya duduk mendengarkan dan mengamati saja. Tjokroaminoto memahami pentingnya rapat umum dan keberanian bicara buat menggalang massa. Di meja makan rumah Gang Peneleh, ilmu pergerakan modern ditularkan pada Alimin, Moeso, Sukarno, dan Kartosoewirjo.
Buah pikirannya yang kedua dengan menanamkan benih keberanian yang luhur, benih keikhlasan hati, kesetiaan dan kecintaan kepada yang benar (haq), yang telah menjadi tiap tabiat masyarakat Islam pada zaman dahulu. Tempo (2011:56) dengan gamblang memberi penjelasan bahwa Tjokroaminoto pernah akan dibunuh mertuanya dan rela menanggalkan pekerjaan serta gelar ningratnya karena ia merasa mertuanya ini begitu menghamba pada penjajah dan pikirannya sangat kolot. Nasib bangsa begitu buruk hal ini tidak kurang diakibatkan karena peran penjajah yang menyedot ribuan gulden setiap tahunnya. Maka tak salah jika kemudian sebutan mesiah dari tanah jawa atau Heru-Tjokro disematkan padanya.
Hasil gagasannya yang ketiga dan keempat ialah menanamkan benih peri kebatinan yang halus, keutamaan budi pekerti dan kebaikan perangai, dan kehidupan yang saleh, yang dulu telah menyebabkan orang Arab penduduk laut pasir itu menjadi bangsa tuan yang halus adat lembaganya dan menjadi penanam dan penyebar keadaban dan kesopanan. Tjokroaminoto dengan segala tulisannya menggambarkan bagaimana seseorang harus berperilaku setidaknya setiap muslim harus menjadi muslim yang seutuhnya yang merasuk hingga rasa dan jiwanya. Hal ini tergambar jelasn pada silabus dan kurikulum yang terjabarkan pada sekolah Tjokroaminoto di setiap cabang SI.
Gagasannya yang terakhir ialah menanamkan rasa kecintaan terhadap tanah tumpah darah dengan jalan mempelajari kultur dan adat istiadat bangsa sendiri. Tjokroaminoto seringkali dalam satu atau dua minggu sekali mengadakan latihan wayang orang bertempat tempat seni Panti Harsoyo bersama anak-anaknya & anak-anak pondokannya (Soebagijo, 1985:11). Tjokro gemar bermain gamelan dan menari dan Istrinya suka bermain piano, hal ini menular pada anaknya. Salah seorang anaknya Harsono bukan hanya meneladani kegemaran orang tuanya tersebut tetapi meneladani semangat patriotisme, cinta tanah air, dan sifat kesederhanaan, dan gemar membantu sesamanya. Harsono menyaksikan dengan mata kepala sendiri, meskipun orang tuanya menempati gedung yang luas namun sebagian dari ruangannya disediakan untuk menampung anak muda pelajar sedangkan kehidupan sendiri sehari-hari selalu tidak pernah berlebih-lebihan, serba apa adanya (Soebagijo, 1985:12). Harsono sering diajak dalam perjalanan ke desa-desa untuk menghadiri pertemuan-pertemuan Sarekat Islam. Awalnya Harsono tidak mengerti apa yang dilakukan ayahnya tetapi lama kelamaan ia mengerti apa yang dilakukan ayahnya tersebut dan secara otomatis tidak terasa timbul pula rasa kesadaran dalam batinnya; kesadaran cinta tanah air, kesadaran sebagai seorang muslim, kesadaran mengabdikan diri pada negara dan bangsa. Kesadaran untuk berkorban pada agama yang diyakini. Kesan terdalam Harsono pada ayahnya ketika ayahnya dalam memberikan nasihat pada anak-anaknya tidak menggunakan kata-kata tetapi lebih diutamakan pada contoh serta perbuatan yang baik.
Selain itu bagi Tjokroaminoto pendidikan Islam dilakukan pertama kali dengan mengaji untuk mendalami agama islam, bukan hanya sekedar membaca disertai ilmu tajwidnya tetapi juga memaknai setiap ayat dalam kehidupan sehari-hari. Tjokroaminoto juga seringkali mengawasi kemajuan putera-puterinya dalam mengaji dan menunggu mereka hingga selesai mengaji (Soebagijo, 1985:6).  
Pendidikan Menurut Mahmud Yunus
Usaha yang dilakukan Mahmud Yunus di bidang pendidikan setelah kembali ke indonesia yaitu memperbaruai madrasah yang pernah dipimpinnya di sungayang yang bernama al-Jami'ah al-Islamiyah, dengan mendirikan sekolah yang kurikulumnya memadukan ilmu agama dan ilmu umum yaitu Normal Islam.
Madrasah ini yang pertama kali memiliki Laboratorium ilmu fisika dan kimia di Sumatra Barat. Pembaruan di diutamakan pada metode mengajar bahasa arab. Mahmud Yunus memilki komitmen dan perhatian yang besar terhadap upaya membangun, meningkatkan dan mengembangkan pendidikan agama islam, Diantara gagasan dan pemikirannya adalah :
Dari segi tujuan pendidikan islam, hendaknya lulusan pendidikan islam mutunya lebih baik dan mampu bersaing dengan lulusan sekolah yang sudah maju.
Dari segi kurikulum,beliau menawarkan pengajaran bahasa arab yang integrated antara satu cabang dengan cabang lainnya dalam ilmu bahasa arab.
Dalam bidang kelembagaan, perlu mengubah sistem yang bercorak individual kepada sistem pengajaran klasikal.
Dari segi metode pengajaran, hendaknya cara mengajarkan agama sesuai dengan tingkat usia dan jenjang pendidikan dengan menggunakan metode yang bervariasi.
Pendidikan Menurut Buya HAMKA
Pemikiran Hamka tentang pendidikan secara garis besar terbagi menjadi 5 bagian, yaitu :
Urgensi Pendidikan
Hakekat pendidikan menurut Hamka terbagi menjadi 2 bagian, yaitu : pertama, pendidikan jasmani, yaitu pendidikan untuk pertumbuhan dan kesempurnaan jasmani serta kekuatan jiwa dan akal. Kedua, pendidikan ruhani, yaitu pendidikan untuk kesempurnaan fitrah manusia dalam ilmu pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan kepada agama. Kedua unsur jasmani dan ruhani tersebut memiliki kecenderungan untuk berkembang, dan untuk menumbuh kembangkan keduanya adalah melalui pendidikan karena pendidikan merupakan sarana yang paling tepat dalam menentukan perkembangan secara optimal kedua unsur tersebut.
Pengertian dan Tujuan Pendidikan
Hamka membedakan makna antara pendidikan dan pengajaran. Menurutnya pendidikan adalah serangkaian upaya yang dilakukan pendidik untuk membantu mendidik watak, budi, akhlak dan kepribadian peserta didik. Sementara pengajaran adalah upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan. Perbedaan kedua pengertian tersebut sebetulnya hanya pada maknanya saja, namun secara esensi ia tidak membedakannya. Kedua kata tersebut memuat makna yang integral dan saling melengkapi dalam rangka mencapai tujuan yang sama. Sebab, setiap proses pendidikan, di dalamnya terdapat proses pengajaran. Tujuan dan misi pendidikan akan tercapai melalui proses pengajaran. Demikian pula sebaliknya, proses pengajaran tidak akan banyak berarti apabila tidak dibarengi dengan proses pendidikan.
Adapun tujuan pendidikan menurut Hamka memiliki dua dimensi; bahagia di dunia dan di akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut manusia harus menjalankan tugasnya dengan baik yaitu beribadah. Oleh karena itu segala proses pendidikan pada akhirnya bertujuan agar dapat menuju dan menjadikan anak didik sebagai abdi Allah yang baik.
Materi Pendidikan
Materi pendidikan dalam pandangan Hamka pada dasarnya berkisar antara ilmu,amal dan akhlak, serta keadilan. Ketiga ilmu tersebut sangat mendasari dalam proses pendidikan.
Ilmu (menurut Hamka) ada dua macam, yaitu ilmu yang bersumber dari wahyu yang mutlak kebenarannya dan ilmu yang bersumber dari akal manusia yang relatif kebenarannya. Ilmu harus didasari dengan iman, sebab apabila orang yang berilmu tanpa didasari iman maka ilmunya dapat membahayakan dirinya dan orang lain.
Amal dan akhlak (dalam pandangan Hamka), ternyata bahwa ilmu tidaklah cukup hanya dibarengi dengan iman, namun harus pula dibarengi dengan amal, kerja atau usaha. Baginya, ilmu yang tidak diikuti dengan amal perbuatan tidak berguna bagi kehidupan. Ilmu yang baik akan membekas ke luar diri individu dan orang lain. Ilmu pengetahiuan harus diamalkan dan agama Islam adalah agama ilmu sekaligus amal.
Keadilan (dalam pandangan Hamka) berarti tegak di tengah, Dan secara lebih lengkap Hamka menjelaskan keadilan sebagai pertahanan yang memikat hati dan menyebabkan orang takluk dan patuh dengan segala kerendahan hati. Dalam konsep keadilan ini harus terkandung unsur persamaan, kemerdekaan dan kepemilikan.
Prinsip Pendidikan
Pendidikan menurut Hamka harus memiliki prinsip tauhid. Pendidikan dengan tauhid sebagai prinsip utama akan memberi nilai tambah bagi manusia dan menumbuhkan kepercayaan pada dirinya serta mempunyai pegangan hidup yang benar.
Kurikulum Pendidikan
Dalam nuatan kurikulum pendidikan, menurut Hamka, harus mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan menjadi dasar bagi kemajuan dan kejayaan hidup manusia.
Jadi dari pemikiran Buya HAMKA di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa: Hakekat pendidikan bagi Hamka bertujuan untuk membentuk kepribadian manusia yang luhur. Pendidikan dan penagajaran sangatlah berbeda secara makna. Pendidikan mengarah kepada pengembangan values (nilai-nilai) sedangkan pengajaran hanya pada aspek transfer of knowledge. Untuk dapat mewujudkan itu semua diperlukan wahana yakni dengan diwujudkan lewat pendidikan berasrama.
Pendidikan Menurut Imam Zarkasyi
Menurut Imam Zarkasyi pendidikan di Indonesia, harus mengalami pembaruan dan perbaikan di beberapa bidang, yaitu:
Pembaruan metode dan sistem pendidikan
Pembaharuan metode dan sistem pendidikan pesantren di gontor yaitu menerapkan sistem klasikal dalam bentuk penjenjangan dalam jangka waktu yang ditetapkan, memperkenalkan kegiatan di luar jam pelajaran seperti olahraga, kesenian, keterampilan, pidato dalam tiga bahasa (indonesia, arab, inggris), pramuka dan organisasi pelajar, perpaduan sistem sekolah dengan sistem asrama (pesantren) tetap dipertahankan, menganjurkan agar para santri memiliki kitab yang dipakai di pesantren tradisional,dan menerapkan disiplin yang ketat.
Kurikulum pesantren
Kurikulum yang diterapkan Imam Zarkasyi di pondok pesantren modern Gontor yaitu 100% umum dan 100% agama. Disamping pelajaran tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqh, beliau juga mengajarkan pengetahuan umum seperti, ilmu alam, ilmu hayat, ilmu bumi, ilmu pendidikan, ilmu pasti, ilmu sejarah, ilmu jiwa dan lain-lain. Mata pelajaran yang ditekankan dan harus menjadi karakteristik lembaga pendidikannya yaitu pelajaran bahasa arab dan bahasa inggris.
Pembaharuan Struktur dan sistem manajemen pesantren
Untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran islam imam Zarkasyi dan dua saudaranya mewakafkan pondok pesantren gontor kepada badan wakaf pondok modern gontor.dengan ditandatangani piagam penhyerahan wakaf, maka pondok modern gontor tidak lagi menjadi milik pribadi, tetapi menjadi milik umat islam dan semua umat islam bertanggung jawab atasnya.
Pembaharuan Pola pikir santri dan kebebasan pesantren
Setiap santri ditanamkan jiwa agar berdikari dan bebas. Sikap ini tidak saja belajar dan berlatih mengurusnya sendiri dan menentukan jalan hidupnya di masyarakat, tetapi juga pondok modern gontor harus tetap independen dan tidak bergantung kepada pihak lain. Hal ini diperkuat dengan semboyan gontor di atas dan untuk semua golongan. Kemandirin pondok pesantren gontor terlihat adanya kebebasan mennetukan jalan hidupnya kelak. Imam zarkasyi sering mengatakan gontor tidak mencetak pegawai tetapi mencetak majikan untuk dirinya sendiri.
Pendidikan Menurut K.H. Wahid Hasyim
Pendidikan menurut K.H Wahid Hasyim, meliputi beberapa hal, yaitu:
Prinsip-prinsip pendidikan
Pemikiran pendidikan Islam Wahid Hasyim dapat di cermati pada beberapa karya beliau yang di muat di media yang setidaknya terdapat 7 judul, seperti Abdullah Oebayd sebagai pendidik. Dalam buku ini K.H.A. Wahid Hasyim membeberkan beberapa prinsip dalam pendidikan yaitu :
Percaya kepada diri sendiri atau prinsip kemandirian.
Kesabaran.
Pendidikan adalah proses bukan serta merta.
Keberanian.
Prinsip tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
Orientasi Pendidikan Islam
Sebagai seorang santri pendidik agama, fokus utama pemikiran Wahid Hasyim adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam. Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut Wahid Hasyim, dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren. Dari sini dapat dipahami, bahwa kualitas manusia muslim sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas jasmani, rohani dan akal. Kesehatan jasmani dibuktikan dengan tiadanya gangguan fisik ketika berkreatifitas. Sedangkan kesehatan rohani dibuktikan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Disamping sehat jasmani dan rohani, manusia muslim harus memiliki kualitas nalar (akal) yang senantiasa diasah sedemikian rupa sehingga mampu memberikan solusi yang tepat, adil dan sesuai dengan ajaran Islam. 
Mendudukkan para santri dalam posisi yang sejajar, atau bahkan bila mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia muda. Ia tidak ingin melihat santri berkedudukan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah secara langsung membina pondok pesantren asuhannya ayahnya.
Pertama-tama ia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya. Ternyata uji coba tersebut dinilai berhasil. Karena itu ia kenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di dunia pesantren. Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga metode pengajarannya.
Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, ia membuat perencanaan yang matang. Ia tidak ingin gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk itu, ia mengadakan langkah-langkah sebagai berikut:
Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya
Menggambarkan cara mencapai tujuan itu
Memberikan keyakinan dan cara, bahwa dengan sungguh-sungguh tujuan dapat dicapai.
Menurut beliau, tujuan pendidikan adalah untuk menggiatkan santri yang berahlakul karimah, takwa kepada Allah dan memiliki ketrampilan untuk hidup. Artinya dengan ilmu yang dimiliki ia mampu hidup layak di tengah masyarakat, mandiri, tidak jadi beban bagi orang lain. Santri yang tidak mempunyai ketrampilan hidup ia akan menghadapi berbagai problematika yang akan mempersempit perjalanan hidupnya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan Wahid Hasyim bersifat Teosentris ( Ketuhanan ) sekaligus Antroposentris ( kemanusiaan ). Artinya bahwa pendidikan itu harus memenuhi antara kebutuhan duniawi dan ukhrowi, moralitas dan ahlak, dengan titik tekan pada kemampuan kognisi ( iman ), afeksi ( ilmu ) dan psikomotor ( amal, ahlak yang mulia ).
Materi Pendidikan Islam
Materi yang di rancang oleh Wahid Hasyim dalam pendidikan terbagi menjadi tiga : Pertama, ilmu-ilmu agama Islam seperti fiqih, tafsir, hadist dan ilmu agama lainnya. Kedua, ilmu non agama seperti ilmu jiwa, matematika, dan Ketiga, kemampuan bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Belanda dan Bahasa Indonesia.
Metode Pendidikan
Adapun metode pendidikan yang dianut oleh K.H.A. Wahid Hasyim yaitu banyak mencontoh model pengajaran ayahnya Hasyim Asy'ari berupa penanaman kepercayaan diri yang tinggi terhadap muridnya. Ini sebagai bukti bahwa pola pemikiran Wahid Hasyim dengan ayahnya yaitu Hasyim Asy'ari banyak sekali persamaannya, atau dengan kata lain bahwa sistem dan tehnik yang diterapkan Wahid Hasyim merupakan kelanjutan dari sistem dan tehnik Hasyim Asy'ari. Adapun contohnya seperti :
Tanggung jawab murid
Tidak menunda-nunda kesempatan dalam belajar atau tidak malas.
Berhati-hati, menghindari hal-hal yang kurang bermanfaat.
Memuliakan dan memperhatikan hak guru , mengikuti jejak guru.
Duduk dengan rapi bila berhadapan dengan guru.
Berbicara dengan sopan dan santun dengan guru.
Bila terdapat sesuatu yang kurang bisa dipahami hendaknya bertanya.
Pelajari pelajaran yang telah diberikan oleh guru secara istiqomah.
Pancangkan cita-cita yang tinggi.
Tanamkan rasa antusias dalam belajar.
Tanggung jawab guru
Bersikap tenang dan selalu berhati-hati dalam bertindak.
Mengamalkan sunnah Nabi.
Tidak menggunakan ilmunya untuk meraih gemerlap dunia.
Berahlakul karimah dan selalu menabur salam.
Menghindarkan diri dari tempat-tempat yang kotor dan maksiat.
Memberi nasehat dan menegur dengan baik jika ada anak yang bandel.
Mendahulukan materi-materi yang penting dan sesuai dengan profesi yang dimiliki.

BAB III
PENUTUP
Suksesnya pendidikan di Indonesia tentunya tidak lepas dari peran para ulama, mereka adalah para pahlawan bagi keberhasilan negeri ini. Sekian banyak ulama' yang ada di Indonesia baik yang dikenal maupun yang tidak tentunya banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita ambil. Para tokoh pendidikan Islam di Indonesia khususnya para ulama sangat memiliki peran yang besar bagi pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan moral atau akhlak.
Bahwa setiap tokoh pendidikan Islam di Indonesia hampir memiliki tujuan yang sama dengan metode, kurikulum, teknik masing-masing, dan segala macam pembaruan yang mereka lakukan, intinya mereka mengharapkan pendidikan Indonesia yang lebih baik berbanding lurus dengan akhlak dan moral yang juga baik, dengan akidah dan keimanan mereka pada Allah SWT.
Maka dari itu, meskipun beberapa diantara para tokoh pendidikan Islam di negeri ini telah tiada, tapi justru disitulah kita hadir untuk meneruskan perjuangan mereka, dan menjadi pejuang untuk mencerdaskan anak bangsa, bukan hanya cerdas intelektualnya saja, tapi dengan dibarengi kecerdassan spiritual dan emotional mereka. Dan semoga semua harapan mereka dan harapan kita semua dapat kita wujudkan bersama. Amiin.[]

DAFTAR PUSTAKA
Hamka, Irfan. 2013. Ayah…Kisah Buya HAMKA. Jakarta: Republika Penerbit.
Hamsyah WS, Amir. 1968. Pembaruan Pendidikan dan Pengajaran. UP. Ken Mutia.
Mohammad, Herry, Dkk. 2006. Tokoh-Tokoh Islam Yang berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani.
Nata, Abuddin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Logos.
------------------ . 2003. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
------------------ . 2005. Tokoh-tokoh Pembaharu Pendidikan Islam Indonesia. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam : Pendidikan historis.teoritis. Jakarta: Ciputat Pers.
Qomar, Mujamil. 2007. Manajemen Pendidikan Islam. Malang : Erlangga.
Ruchman Basori, Pesantren Modern Indonesia. Jakarta : PT Inceis. Cet-2.


Download tokoh Pendidikan Islam di Indonesia.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca tokoh Pendidikan Islam di Indonesia. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon