October 12, 2016

Makalah Seni Kerajinan


Judul: Makalah Seni Kerajinan
Penulis: Alina Rizki


Seni Kerajinan Nusantara
(NTB)
Oleh :
Tsulatul Fitri (31)
Baiq Annisa Y (04)
Sumia Intan R (29)
Diaz Aulia Syafitri (05)
Dwi Agustinah A. R (08)
MAN 2 MODEL MATARAM
2014/2015
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur kita panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan makalah yang berjudul "PERADABAN DAN HASIL BUDAYA DUNIA SERTA PENGARUHNYA TERHADAP INDONESIA". Penulisan makalah ini semata mata hanya untuk mengetahui secara detail tentang "peradaban dan hasil budaya dunia serta pengaruhnya terhaap dunia". Dalam Penyelesaian makalah ini penyusun banyak mengalami kesulitan terutama disebabkan akan kurangnya pengetahuan. Namun atas kerja sama dari kami,alhamdulillah makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Oleh karna itu kelompok kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang positif agar makalah ini menjadi lebih baik dan bisa berguna bagi kita semua
Wassalamualaikm wr.wb
i
DAFTAR ISI
Kata Pengantari
Daftar Isiii
BAB I PENDAHULUAN
1
Tujuan2
Rumusan Masalah3
BAB II PEMBAHASAN
Sejarah Kerajinan Gerabah Banyumulek4
Perkembangan5
Fungsi6
Alat dan Bahan7
Teknik pembuatan8
BAB III PENUTUP
Kesimpulan9
Saran10
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan yang universal dapat ditemukan pada semua kebudayaan di dunia, baik dalam masyarakat pedesaan maupun dalam masyarakta perkotaan yang besar dan kompleks (Koentjaraningrat 1994:2). Gerabah salah satu bagian dari hasil budaya manusia, dalam sistem sosial budaya masyarakat tradisional memiliki keterkaitan yang erat dengan berbagai aktivitas ataupun upacara tradisional. Sudarso Sp (2002) dalam makalahnya " Merevitalisasi Seni Kriya Tradisi Menuju Aspirasi dan Kebutuhan Masyarakat Masa Kini" menyebutkan barang-barang pecah belah (earthenware), cobek, tempayan dan celengan (kitty) tempat menyimpan uang logam, merupakan seni rakyat, yang berkembang di desa-desa (dulu) di lingkar istana atau pusatpusat kesenian yang bisa menopang timbulnya budaya agung atau budaya adiluhung. Merupakan ciri umum bahwa masyarakat tradisional yang kolompok etnisnya masih relatif kecil mempunyai hubungan sosial kemasyarakatan yang erat. Hal ini dapat dilihat dari latar belakangnya, bahwa ikatan-ikatan tersebut terjadi karena kesamaan keturunan darah, tempat tinggal serta mata pencaharian. Eratnya hubungan baik antara keluarga dan masyarakat, hampir setiap kegiatan sosial budaya dilakukan secara bersama-sama. Demikian pula dalam
1
pembuatan gerabah yang di dalamnya terkandung unsur seni terapan dipelajari bukan hanya sebagai seni tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang, melainkan juga sebagai upaya untuk memahami keberadaan gerabah dalam tata kehidupan budaya masyarakat di daerah tersebut. Kerajinan gerabah, anyam-anyaman dari bambu, ukiran kayu dalam bentuk maupun motifnya sederhana merupakan seni komunitas pedesaan yang masih akrab, homogen dan masih berfungsi untuk mengikat solidaritas komunitas (Umar Kayam dalam Sudarso, 2002:2). Gerabah atau tembikar merupakan peninggalan budaya tradisional yang tergolong sangat tua. Yardani Yumarta (1981: 9) menyebutkan gerabah mulai dikenal manusia sejak zaman neoliticum ketika manusia purba mulai hidup menetap, bercocok tanam dan mengenal api. Beberapa pendapat atau teori yang menyatakan mengenai kemampuan dalam membuat gerabah, seperti Nelson dalam Subroto (1991) menyatakan manusia pada zaman prasejarah menyimpan bahan makanan dengan keranjang. Supaya tidak bocor keranjang tersebut dilapisi dengan tanah liat. Sebagai faktor kebutuhan manusia akan gerabah timbul pada awalnya manusia berada pada tingkat kehidupan yang paling sederhana food gathering stage dan food producing stage. Karena tingkat kehidupan sudah mulai menetap dan bercocok tanam manusia memerlukan suatu wadah (Haryanto, 2002: 2). Sajalan dengan itu Sartono Kartodirdjo (1997) menyebutkan, sebagai ganti alat-alat berupa keranjang dibutuhkan barang yang lebih
2
kuat berupa gerabah untuk menyimpan makanan, alat pemujaan nenek moyang atau upacara keagamaan. Ditemukannya teknik pembuatan gerabah tidak lepas dari perkembangan (pyrotechnology) yakni teknologi api (Haryono, 2002: 2). Perkembangan pembuatan gerabah selanjutnya menunjukkan bahwa bahan gerabah dapat dipergunakan untuk membuat benda-benda sesuai dengan kebutuhan manusia. Kebutuhan dalam hal ini berhubungan dengan kepercayaan dibuatlah patungpatung kecil sebagai sarana pemujaan disamping disimpan sebagai bekal kubur. Penampilan yang kasar dibentuk dengan tangan, serta dibubuhi hiasan sederhana sebagai ciri dan sifat-sifat zamannya. Di Indonesia sebelum zaman Hindu sudah ada peninggalan tembikar yang dipergunakan untuk menyimpan mayat, di Irian, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Di samping itu, sisa-sisa gerabah dari masa bercocok tanam telah diketemukan pula di Kedenglembu, Banyuwangi (Jawa Timur), Klapadua, Bogor, dan Serpong (Jawa Barat), Kalumpang, Minanga Sipakka (Sulawesi). Pembuatan gerabah tersebut tampaknya menggunakan teknik yang masih sangat sederhana, teknik tatap batu dan tangan (Adhyatman,1987: 4). Daerah lain yang menjadi sentra gerabah, misalnya Galogandang Sumatera Barat, Pleret Jawa Tengah, Singkawang Kalimantan, Kasongan Yogyakarta, Dinoyo, Pudong, Kalumpang dan Pejaten Bali. Demikian pula di Pulau Lombok industri gerabah yang masih berkembang sampai saat ini adalah Penujak Lombok Timur, Bagek Lombok Tengah dan
3
Banyumulek Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat. Kerajinan gerabah khususnya yang tumbuh dan berkembang di Banyumulek Lombok Barat memiliki nilai spesifik, baik bentuk, proses desain, dekorasi yang diterapkan serta penyelesaian (finishing) sudah memanfaatkan teknik semi tradisional (modern). Masyarakat pengrajin dalam berkarya dan berkreativitas menyempurnakan teknik produksi serta memvariasikan desain secara berkesinambungan serta fungsinya lebih mengikuti selera konsumen yang berkembang saat ini. Gustami (2002) dalam "Seni Kriya Akar Seni Rupa Indonesia" menyebutkan yang menarik perhatian cabang seni kerajinan (gerabah) dimasing-masing daerah memiliki gaya tersendiri yang dapat melengkapi pesona, daya pikat dan keunggulan komperatif bila dibandingkan dengan cabang seni lainnya. Hal ini cukup menarik untuk diteliti, mengingat pertumbuhan dan keberadaan gerabah itu sendiri bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial budaya masyarakat sehari-hari. Kerajinan gerabah tradisional Banyumulek masih mempergunakan teknik pembakaran terbuka (tungku ladang) dengan bahan bakar ranting kayu, sabut kelapa dan jerami. Astuti (1997) menyebutkan tungku ladang adalah tungku terbuka, karena disusun dengan gerabah mentahnya sendiri pada areal terbuka. Walaupun demikian teknik produksinya sudah berkembang dengan teknologi semi tradisional seperti dalam pengolahan tanah, pembentukan dengan alat putar, cetak tekan maupun dekorasi dengan teknik
4
tempel, toreh dan ukir. Gerabah salah satu produk budaya, tumbuh dan berkembang karena didukung oleh faktor kebutuhan, bahan, teknologi, dana, serta daya kreasi masyarakat pengrajin Subroto (1991:187). Dalam hal ini daya kreasi, faktor bahan dan kebutuhan sangat menentukan tumbuh kembangnya gerabah Banyumulek. Demikian pula dengan keaneka ragaman bentuk gerabah Banyumulek yang dikenal dewasa ini tidak luput dari daya kreasi pengrajin. Seperti produk seni rupa yang lain, faktor bahan merupakan prasyarat utama dalam menunjang proses kreasi dan produksi yang berkualitas untuk mencapai tujuan maksimal. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahan-bahan gerabahpun turut berkembang mengikuti sesuai dengan kebutuhan, fungsi dan bentuknya yang semakin mengkhusus. Di samping itu kerajinan gerabah Banyumulek menampakkan suatu nilai ritual ekonomis yang dalam. Hal ini tampak pada produksinya yang masih diilhami oleh karya-karya gerabah penunjang kehidupan sehari-hari dalam upacara maupun kegiatan rumah tangga. Melalui ketrampilan para pengrajin dalam mengembangkan dan menciptakan bentuk-bentuk baru seperti vas bunga, asbak, tempat lilin, guci air, gentong maupun bentuk lampu taman dengan memadukan unsur-unsur tradisional sebagai ciri khas daerah sangat menentukan pertumbuhan kerajinan gerabah di daerah ini. Demikian pula peranan disainer dalam usaha mengembangkan dan menciptakan ciri khas daerah sangat menentukan, melalui ketrampilan merekalah perwujudan
5
gerabah dengan sentuhan nilai modern akan menjadi lebih menarik dan beridentitas. Banyumulek dipilih sebagai obyek penelitian karena daerah ini memiliki kelebihan baik dalam bidang produksi dan proses disain. Proses yang berhubungan dengan penghayatan mengandung muatan sebagai pengalaman batin dan merasa memiliki. Dengan demikian kebudayaan (kerajinan gerabah ) yang dipandang dan disikapi sebagai proses tumbuh, karena di dalamnya terdapat proses belajar terus menerus ( Bandem, 2000:134). Kondisi bahan (tanah liat) dengan kandungan plastisitas cukup tinggi cocok untuk pembakaran suhu rendah antara 900 C – 1200 C dengan peresapan air kira-kira 10% dari basah sampai kering (Aleksander, 2001).Topik ini dipilih didasari pula atas keinginan untuk memperoleh pengetahuan sedalam-dalamnya mengenai gerabah serta hubungannya dengan paradigma budaya (bentuk, fungsi dan makna) dalam kehidupan masyarakat Banyumulek di Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat. Selanjutnya penelitian ini dapat disebarluaskan pada masyarakat khususnya pengrajin gerabah untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang proses pembuatan gerabah Banyumulek yang berestetika, sehingga kecintaan akan budaya tradisi makin dipahami.
6
Tujuan
Mengetahui sejarah anyaman bambu
Mengetahui proses pembuatan anyaman bambu
Mengetahui perkembangan anyaman bambu
Mengetahu jenis bambu yang digunakan untuk menganyam
Mengetahui alasan bambu digunakan dalam menganyam
Mengetahui teknik teknik menganyam
Mengetahui contoh contoh anyaman bambu
Rumusan Masalah
Bagaimanakah bentuk gerabah Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat?
Apa fungsi gerabah bagi masyarakat Banyumulek?
Apa makna gerabah dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Banyumulek?
7
BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah
pembuatannya bermula dari cerita rakyat (legenda) tentang kisah Dewi Anjani. Dahulu, penguasa Gunung Rinjani ini mengutus seekor burung pembawa pesan (Manuk Bere), untuk menolong dan mengajarkan cara sepasang suami istri yang kebingungan memasak beras hasil panen pertama mereka. Melalui Manuk Bere itu juga mereka diajarkan bagaimana cara membuat periuk dari tanah gunung/tanah liat. Karena itulah, masyarakat Sasak percaya bahwa sejak saat itu keterampilan membuat gerabah berkembang dan diwarisi sampai sekarang.
Perkembangan 
Awalnya, pengrajin membuat gerabah cuma untuk keperluan rumah tangga atau perabot dapursesuai asal muasalnya dalam legenda Dewi Anjani tadi. Tapi seiring dengan perkembangan danpergeseran zaman, desain, fungsi dan nilai komersil gerabah pun turut bergeser. Nah beebers,dewasa ini hampir 80% sampai 90% hasil kerajinan gerabah berfungsi sebagai dekorasi atau barangseni ketimbang barang fungsional.Kawasan Banyumulek_dalam bahasa sasak berarti jernih, memang dikenal sebagai wilayah dengankwalitas tanah lempung nomor satu di Pulau Lombok. Jadi nggak aneh jika pengrajin gerabahbanyak muncul di desa ini dan akhirnya ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai sentra
8
industrigerabah unggulan NTB.
Ragam Produk Gerabah Banyumulek 
 Terdapat beraneka ragam produk kerajinan gerabah Banyumulek, antara lain; Selao (gentong),Dumang (anglo), Kekete atau Sigon (wajan), Kemek (periuk), ceret, tong sampah, guci, asbak rokokdan masih banyak lagi. Ada juga gerabah yang terbuat dari kulit telur, pasir putih dan kulit kayu.
Keunikan dan Keunggulan Gerabah Banyumulek 
 • Yang menarik dari gerabah
Banyumulek itu cara pembuatannya yang masih tetap mempertahankanteknik pembakaran tradisional, yaitu dengan menggunakan jerami dan kayu bakar.
• Gerabah Banyumulek biasanya dihiasi anyaman yang terbuat dari kayu sejenis rotan (ketak), ada
 juga yang dihiasi dengan pasir putih yang ditempel berbentuk motif tertentu. Hiasannya jugacenderung bermotif tanaman.
• Ada model gerabah Banyumulek yang punya keunikan tersendiri dan nggak ada di sentra industri
kerajinan gerabah lain, namanya Kendi Maling. Sekilas bentuknya mirip kendi pada umunya, tapikalau diamati lebih jeli, kendi maling ini punya lubang tempat mengisi air di bagian bawahnya.Singkatnya kalu kendi ini dibalik dalam posisi berdiri, air yang ada didalamnya nggak bakalantumpah lho. Unik kan?!
• Gerabah Banyumulek Lombok juga sudah dilengkapi dengan sertifikat non toxic. Jadi, kalau

beebers memakai gerabah Banyumulek sebagai tempat menyajikan makanan, dijamin aman deh.
• Di dalam negeri, gerabah Banyumulek Lombok bersaing dengan gerabah Pleret (Purwaka
rta/JawaBarat) dan gerabah Kasongan (Yogyakarta). Di luar negeri, saingan gerabah Banyumulek adalahgerabah Thailand. Tapi nggak masalah kok, soalnya gerabah Banyumulek Lombok punya daya saingyang baik karena bahan bakunya memiliki kandungan pasir kuarsa yang cukup tinggi dan kaolinyang bagus.
Pasar Gerabah Banyumulek 
 Kalau di dalam negeri, hasil kerajinan gerabah Banyumulek sebagian besar dipasarkan ke bali.Sedangkan di luar negeri, saat ini gerabah Banyumulek dan Lombok secara umum telah menembuspasar dunia dengan 28 negara tujuan ekspor. Beberapa di antaranya adalah Amerika, Belanda, Italia,New Zealand, Spanyol, Norway, Denmark, Malaysia dll. Bahkan pada tahun 2002 lalu, nilai eksporgerabah Banyumulek Lombok sempat tercatat sampai sekitar 1,116 juta dollar Amerika.
Lokasi
Untuk yang tertarik untuk membeli atau sekedar melihat-lihat produk dan proses pembuatannya,beebers bisa datang langsung ke Desa Banyumulek yang berada di Kacamatan Kediri KabupatenLombok Barat. Yaaa sekitar 14 km lah dari Kota Mataram. Dan nggak perlu biaya karena nggak adatiket untuk masuk ke sana.
Selain Banyumulek 
10
 Nggak cuma di Banyumulek, di Lombok, beberapa desa lain yang juga menghasilkan gerabahdengan kualitas ekspor ada di Desa Penujak Lombok Tengah dan Desa Masbagik Lombok Timur.Nyangka nggak kalau dewasa ini, kerajinan gerabah udah jadi harapan hidup lebih dari 10.000 pengerajin yang berasal dari ketiga desa tersebut.
Fungsi
Berdasarkan fungsinya, gerabah dapat digolongan menjadi :
a.    Fungsional : gerabah yang dapat memberikan manfaat secara langsung kepada penggunanya. Bentuk gerabah fungsional antara lain : pot bunga, tempat payung, tempayan, kendi, asbak, tempat lilin dan peralatan dapur;
b.    Non Fungsional : gerabah dengan golongan ini lebih diutamakan sebagai barang-barang hiasan ruang, seperti guci.
Alat dan Bahan
1. Bahan     Membuat benda pakai dan benda hias yang disebut gerabah/keramik membutuhkan bahan tanah liat.     Tanah liat yang baik memiliki persyaratan teknis, yaitu :a) Bebas dari kotoranb) Butiran tanah halusc) Liat atau plastis, dand) Daya susut tanah tidak lebih dari 10%
11
 Untuk membuat tanah liat dapat dilakukan cara sebagai berikut :a) Bersihkan dulu tanah tersebut .b) Setelah bersih, masukkan ke dalam bak pengolahan tanah liat dan dicampur dengan pasir halus dan air untuk direndam.c) Setelah dicampur air dan pasir, tanah harus disaring.     Tanah telah diolah tadi masih terlalu lembek.Jadi, letakkan pada permukaan yang bersih dan mudah kena angin, agar air yang berlebih menguap dan didapat tanah yang liat/plastis. Tanah yang seperti ini siap dibentuk.   2.Alat
     Macam-macam alat untuk membentuk tanah liat, yaitu;a) Kayu bulat/penggiling berguna untuk membuat lempengan.


12
b) Meja putar berguna untuk membuat keramik bentuk lingkaran atau silinder.

c) Tali pemotong berguna untuk memotong tanah liat atau mengambil keramik yang masih basah dari meja putar.d) Cetakan biasanya terbuat dari gips. bentuknya persis seperti model yang akan kita buat.


13
e) Butsir berguna untuk membantu pembentukan tanah liat.

f) Pisau pahat berguna untuk membuat dekorasi pada keramik.

g) Sudip berguna untuk membuat hiasan saat tembikar masih basah.

14
h) Tungku pembakaran berguna untuk membakar keramik yang sudah kering atau keramik berglasir.

Teknik Pembuatan       Bahan dasar yang digunakan untuk membuat gerabah adalah tanah liat.Sebelum dibuat gerabah, tanah liat tersebut diproses terlebih dahulu dalam beberapa tahapan. Selain itu, ada juga bahan tambahan lain, yaitu kaolin. Tanah liat yang sudah siap kemudian dibentuk dengan tangan langsung atau menggunakan alat putar.Bentuk gerabah yang akan dibuat disesuaikan dengan fungsi benda tersebut saat digunakan. Ada gerabah yang digunakan untuk alat memasak seperti periuk dan belanga, ada yang digunakan untuk menyimpan air atau beras seperti tempayan, ada yang digunakan untuk menyimpan air minum seperti kendi, dan ada yang digunakan untuk hiasan seperti guci dan vas bunga.Peralatan yang digunakan untuk membuat gerabah, antara lain pisau cukil yang terbuat dari kayu/bambu, sundip yang
15
terbuat dari kawat, butsir dengan tangkai kayu, tali pemotong, meja putaran (subang pelarik), kayu salab atau kayu rol penggilas, dan pisau.Dalam membuat benda yang terbuat dari bahan tanah liat diperlukan teknikteknik tertentu agar dalam prosesnya mudah dan efektif. Adapun teknik-teknik yang biasanya digunakan oleh pembuat gerabah atau keramik antara lain teknik lempeng, teknik pijat, teknik pilin, teknik putar, teknik cetak tekan, dan tekniktuang.1. Teknik Lempeng (Slabing)    Teknik lempeng (slabing) merupakan teknik yang digunakan untuk membuat benda gerabah berbentuk kubistis dengan permukaan rata. Teknik ini diawali dengan pembuatan lempengan tanah liat dengan menggunakan rol kayu penggilas. Setelah menjadi lempengan dengan ketebalan yang sama, kamu dapat memotong dengan pisau atau kawat sesuai dengan ukuran yang kamu inginkan. Selanjutnya, kamudapat membuat menjadi bentuk kubus atau persegi. Kemudian, tahap akhir diberi hiasan dengan cara ditoreh pada saat tanah setengah kering.2. Teknik Pijat (Pinching)    Teknik pijat (pinching) merupakan teknik membuat keramik dengan cara memijat tanah liat langsung menggunakan tangan. Tujuan dari penggunaan teknik ini
16
adalah agar tanah liat lebih padatdan tidak mudah mengelupas sehingga hasilnya akan tahan lama. Proses pijat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.a. Ambil segumpal tanah liat plastis.b. Tanah liat tersebut diulet-ulet dan dipijitpijit dengan ibu jari sambil dibentuk sesuai dengan bentuk benda yang kamu inginkan.c. Haluskan menggunakan kuas atau kain halus.
3. Teknik Pilin (Coiling)    Teknik pilin (coiling) adalah cara membentuk tanah liat dengan bentuk dasar tanah liat yang dipilin atau dibentuk seperti tali. Cara melakukan teknik ini adalah segumpal tanah liat dibentuk pilinan dengan kedua telapak tangan. Ukuran tiap pilinan disesuaikan dengan ukuran yang kamu inginkan. Panjangnya pilinan jugadisesuaikan dengan kebutuhan. Kemudian, pilinan tanah liat tersebut kamu susun secaramelingkar sehingga menjadi bentuk yang kamu inginkan. Jangan lupa tiap susunan ditekan dan tambahkan air supaya menempel.
4. Teknik Putar (Throwing)    Untuk membuat gerabah dengan teknik putar (throwing), kamu memerlukan alat bantu berupa subang pelarik atau alat putar elektrik. Cara melakukan teknik ini
17
adalah dengan mengambil segumpal tanah liatyang plastis dan lumat. Setelah itu, taruhlah tanah liat di atas meja putar tepat di tengahtengahnya.Lalu, tekan tanah liat dengan kedua tangan sambil diputar. Bentuk tanah liat sesuai dengan bentuk yang diinginkan.Teknik putar umumnya menghasilkan benda berbentuk bulat atau silindris.5. Teknik Cetak Tekan (Press)    Teknik cetak tekan dilakukan dengan menekan tanah liat yang bentuknya disesuaikan dengan cetakan. Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan hasil dengan waktu yang cepat.6. Teknik Cor atau Tuang    Teknik cor atau tuang digunakan untuk membuat gerabah dengan menggunakan acuan alat cetak. Tanah liat yang digunakan untuk teknik ini adalah tanah liat cair. Cetakan ini biasanya terbuat dari gips. Bahan gips digunakan karena gips dapat menyerap air lebih cepat sehingga tanah liat menjadi cepat kering.
18
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi, dari makalah ini kita dapat mengetahui tentang sejarah dan perkembangan-perkembangan pada kerajinan gerabah yang ada di desa Banyumulek. Kita juga bisa mengetahui berbagai jenis-jenis gerabah yang terdapat di desa Banyumulek.
Oleh karena itu kita perlu mempelajari tentang kerajinan-kerajinan yang ada di pulau Lombok, khususnya di desa Banyumulek yang sering di kenal dengan desa gerabah
Saran
1. Sebaiknya masyarakat lebih menghargai alat-alat tradisional dalam negeri terutama gerabah, agar produk gerabah tetap dilestarikan dan dikenal oleh masyarakat luas.2. Seharusnya para perajin gerabah lebih mengembangkan dan meningkatkan kualitas produknya sehingga produk-produk dalam negeri dapat digunakan sebagaimana kita menggunakan produk yang modern.3. Pemerintah seharusnya memberi tempat yang layak pada para perajin, agar produk-produk mereka tetap bertahan di zaman modern ini
19
LAMPIRAN


Download Makalah Seni Kerajinan.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah Seni Kerajinan. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon