October 25, 2016

Makalah Qur'an Tafsir


Judul: Makalah Qur'an Tafsir
Penulis: Yusuf Ardy


TAFSIR, TA'WIL DAN TARJAMAH
MAKALAH
Dipresentasikan di Jurusan Agroteknologi Semester 3
Diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah Al-Qur'an dan Ilmu Tafsir
yang dibina oleh Deden Suparman, MA.
Disusun Oleh :Kelompok 8
Yulia Purwita Sari NIM 1209706037
Yusuf Ardi NIM 1209706039

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
1431 H/2010 M

KATA PENGANTAR

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa' Ta'ala yang telah melimpahkan segenap rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyesaikan karya tulis ini. Shalawat beserta salam tak lupa semoga senantiasa terlimpah curahkan ke junjungan umat kita, Baginda Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam. Adanya makalah berjudul "Tafsir, Ta'wil dan Tarjamah" ini semoga dapat dijadikan suatu motivasi dalam menuangkan kreatifitas dalam bentuk karya sastra.
Tiada gading yang tak retak. Penyusun menyadari bahwa penulisan karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penyusun membutuhkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif dan korektif sebagai bahan evaluasi ke depannya.
Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi pembaca sekalian.Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Bandung , Oktober 2010

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
BAB II PEMBAHASAN 2
Pengertian Tafsir, Ta'wil dan Tarjamah 2
Pengertian Tafsir 2
Pengertian Ta'wil
Pengertian Terjemah
Perbedaan Tafsir, Ta'wil dan Terjemah
Perbedaan Tafsir dengan Ta'wil
Perbedaan Tafsir dengan Terjemah
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Al-Qur'an menurut bahasa adalah bacaan atau yang dibaca. Sedangkan menurut ahli agama ('uruf Syara) adalah "Nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang ditulis dalam mushaf".Ulumul Qur'an berasal dari bahasa Arab, yaitu dari asal kata Ulum dan Al-Qur'an. Ulum merupakan bentuk jamak dari ilmu. Jadi secara bahasa, ulumul Qur'an berarti ilmu yang pembahasannya berkaitan dengan Al-Qur'an.Ruang lingkup pembahasan Ulumul Qur'an menurut M. Hasbi Ash-Shiddieqy ada 6 hal pokok diantaranya :Persoalan turunnya Al-Qur'an (nuzul Al-Qur'an)
Persoalan Sanad (rangkaian para periwayat)
Persoalan Qiraat (cara pembacaan Al-Qur'an)
Persoalan kata-kata Al-Qur'an
Persoalan makna-makna Al-Qur'an yang berkaitan dengan hukum.
Persoalan makna-makna Al-Qur'an yang berpautan dengan kata-kata Al-Qur'an.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Tafsir, Ta'wil dan Tarjamah
Pengertian Tafsir
Tafsir menurut bahasa mengikuti wazan "Taf'il", berasal dari akar kata Al-fasr yang berarti menjelaskan menyingkap dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata kerjanya mengikuti wazan "DARABA-YADRIBU"dan "NASARA-YANSURU. Dikatakan: fasara (asy-syai'a) yafsiru" dan "yafsuru fasran".
Sebagian ulama berpendapat ,kata tafsir adalah kata kerja yang terbalik, berasal dari "safara" yang juga berarti menyingkap (al-khasif).
Tafsir menurut istilah adalah ilmu yng membahas tentang cara pengucapan lafaz-lafaz al-qur'an, tentang petunjuk-petunjuk, hukum-hukumnya baik ketika tersusun, dan makna – makna yang di mungkinkan baginya ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya.
Kemudian, ABU HAYYAN menjelaskan dengan terperinci yaitu: Kata-kata ilmu adalah kata jenis yang meliputi segala macam ilmu yang membahas cara mengucapkan lafaz - lafaz Al-Qur'an, mengacu kepada ilmu diralat. Petunjuk – petunjuknya adalah pengertian yang ditunjuk pada lafaz-lafaz itu.
Kata –kata " hukum nya baik ketika berdiri sendiri atau ketika tersusun. Meliputi: ilmu Saraf, ilmu I'raf, ilmu Bayan, dan ilmu budi. Kata-kata "makna yang dimungkinkan baginya ketika tersusun" meliputi kata hakiki majazi. Sebab terkadang menurut lahirnya menghendaki suatu makan tapi untuk membawanya terdapat penghalang sehingga tarkib itu mesti dibawa ke makna hukum lahir ( majas ).
Dan kata-kata yang melengkapinya mencakup pengetahuan tentang nash, sebuah nuzul, kisah-kisah yang terdapat menjelaskan sesuatu yang kurang jelas dalam Al-Quran dan lainnya.
Menurut Azarkasyh tafsir adalah ilmu untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad, menjelaskan maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmahnya.
Macam-Macam Tafsir berdasarkan Sumbernya.
Berdasarkan sumber penafsirannya, tafsir terbagi kepada dua bagian, tafsir Bil-Ma'tsur dan tafsir Bir-Ra'yi namun sebagian ulama ada yang menyebutkannya tiga bagian :Tafsir Bil-Ma'tsur adalah tafsir yang menggunakan Al-Qur'an atau As-Sunnah sebagai sumber penafsirannya.
Tafsir Bir-Ra'yi adalah tafsir yang menggunakan rasio/ akal sebagai sumber penafsirannya
Macam-Macam Tafsir Berdasarkan Metodenya.
Metode Tahlili
Yaitu metode panafsiran aya-ayat Al-Qur'an secara analitis dengan memaparkan segala aspek yang terkandung didalam ayat yang ditafsirkannya. Sesuai dengan bidang keahlian mufassir tersebut. Uraiannya, antara lain
menyangkut kosa kata, keserasian redaksi dan keindahan bahasanya, dan keterkaitan makna ayat yang sedang ditafsirkan dengan ayat yang sebelum dan sesudahnya dan sebab-sebab turunya ayat.
Penafsiran dengan metode ini dilakukan secara berurutan dan berkesenambungan terhadap ayat demi ayat dan surat demi surat, sesuai dengan urutannya yang terdapat dalam mushaf usmani yang ada sekarang mulai dari awal surat Al-Fatihah sampai dengan akhir surat An-Nas.
Metode Ijmaly ( Metode Global )
Yaitu penafsiran Al-Qur'an secara singkat dan Global, tanpa uraian panjang lebar, tapi mencangkup makna yang dikehendaki dalam ayat, dalam hal ini mufasssir hanya menjelaskan arti dalam maksud ayat dengan uraian singkat yang dapat menjelaskan artinya sebatas makna yang terkait langsung, tanpa menyinggung hal-hal tidak terkait secara langsung dengan ayat.
Metode Muqoran ( Metode Komfarasi / Perbandingan )
Tafsir dengan metode muqoron adalah menafsirkan Al-Qur'an dengan cara mengambil sejumlah ayat-ayat Al-Qur'an, kemudian mengemukan pendapat para ulama tafsir dan membandingkan kecenderungan para ulama tersebut, kemkudian mengambil kesimpulan dari hasil perbandingannya.
Pengertian Ta'wil
Ta'wil berasal dari kata " Aul " yang berarti kembali ke asal. Ta'wil kalam ada dua macam. Pertama Ta'wil kalam dengan pengertian suatu makna yang mutakalim (pembicaraan) mengembalikan perkataannya (kalamnya dikembalikan). Kalam ada dua yaitu insak dan ikbar salah satu contoh insak adalah Amr (kalimat perintah). Makna Ta'wilul Amr ialah esensi perbuatan yang diperintah misalnya Allah berfirman: Maka bertasbilah dengan memuji tuhanmu dan mohonlah ampun kepadanya. (Sesungguhnya dia Maha Penerima Taubat). An-Nasr 110 : 3.
Sedang ta'wil ikbar adalah esensi dari apa yang diberitakan itu sendiri yang benar-benar terjadi misalnya firman Allah.
Dan sungguh kami telah mendatangkan kitab (Quran) kepada mereka yang kami telah menjelaskan atas dasar pengetahuan kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Tiadalah mereka menunggu kecuali ta'wilnya pada hari ta'wilnya itu datang, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu " sungguh telah datang rasul-rasul tuhan kami membawa yang hak maka adalah bagi kami pemberi safaat yang akan memberikan safaat bagi kami/dapatkah kami kembalikan ( kedunia ) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan ( Al-A'raf 7 : 52-53 ).
Kedua Takwilul kalam dalam arti menafsirkan dan menjelaskan maknanya jadi yang dimaksud kata ta'wil di sini adalah tafsir. Ta'wil dalam tradisi muta'ahirin adalah:memalingkan makna lafaz yang kuat (rajah) kepada makna yang lemah (merjuh) karma ada dalil yang menyertainya. Di antara para ulama ada yang membedakan antara makna tafsir dan ta'wil yaitu Zarkasi : Ibn faris menjelaskan: makna-makna ungkapan yang menggambarkan sesuatu itu kembali kepada 3 kata: makna, tafsir, ta'wil.
"Tafsir menurut bahasa mengacu kepada arti "menampakkan & menyingkap ". Kata tafsir ini mengacu juga kepada arti menyingkap. Dengan demikian tafsir berarti menyingkap apa yang dimaksud lafaz dan melepaskan apa yang tertahan dari pemahaman.
"Ta'wil menurt bahasa berasal dari "aul". Dengan demikian ta'wil seakan-akan memalingkan ayat kepada makna-makna yang dapat diterimanya. Kata ta'wil dibentuk dengan pola "TAF'IL"adalah untuk menunjukkan arti banyak.
Pengertian Terjemah
Terjemah berasal dari bahasa Arab yang berrti memindahkan makna lafal kedalam bahasa lain. Menurut pengertian istilah 'urfi': Terjemah ialah memindahkan pembicaraan dari satu bahasa kedalam bahasa lain dengan kata lain terjemah ialah memindahkan makna kata bahasa pertama kepada kedua.
Pembagian terjemah
Terjemah Harfiyah, yaitu yang kata perkatanya sangat terikat dengan kosa kata yang ada dalam bahasa pertama, sehingga seakan-akan hanya menggantikan makna kata-kata itu pada urutan dan tempatnya masing-masing secara sama
Terjemah Tafsiriyah, yaitu terjemah yang mengungkapkan makna kedalam bahasa kedua kata perkatanya tidak terikat dengan kosa kata yang ada dalam bahasa pertama. Terjemah ini dinamakan terjemah tafsiriyah karena dalam mengungkapakan makna yang dimaksud hampir menyerupai tafsir.
Syarat-syarat terjemah
Ada empat yang harus diperhatikan dalam menterjemah, yaitu:
Benar-benar mengetahui dan menghayati kedudukan dan aspek-aspek bahasa yaitu bahasa pertama dan kedua
Mengetahui tentang pola kalimat dan cirri-ciri khas kedua bahasa
Terpenuhinya semua makna dan maksud yang ada pada bahasa pertama dengan mantap
Bahasa terjemah seharusnya benar-benar murni, artinya bahawa terjemahan harus benar-benar memindah makna bahasa pertama ke bahasa lain.
Perbedaan Tafsir, Ta'wil dan Tarjamah
Perbedaan Tafsir Dan Ta'wil
• Tafsir adalah menafsirkan perkataan dan menjelaskan maknanya. Maka "ta'wil "dan "tafsir" adalah 2 kata yang berdekatan atau sama maknanya.• Ta'wil adalah esensi yang dimaksud dari suatu perkataan, maka ta'wil dari talab (tuntunan) adalah esensi perbuatan yang dituntut itu sendiri dan ta'wil dari khobar adalah esensi sesuatu yang diberitakan.
Dari 2 di atas tafsir dan ta'wil punya perbedaan cukup jauh. Kalau tafsir adalah saran dan penjelasan bagi suatu perkataan yang berada dalam suatu pikiran dengan cara memahaminya dengan suatu ungkapan yang menunjukkannya. Sedangkan ta'wil adalah esensi susuatu yang berada dalam realita (bukan dalam pikiran).• Tafsir adalah apa yang telah jelas di dalam kitabullah atau tertentu (pasti) dalam sunnah yang sahih karena maknannya sudah jelas. Ta'wil adalah apa yang disimpulkan ulama. Karena ulama mengatakan tafsir adalah apa yang berhubungan dengan riwayat, sedangakn ta'wil adalah apa yang berhubungan dengan dirayah.
• Tafsir lebih banyak digunakan (untuk menerangkan) lafaz-lafaz dan mufrodat (kosakata) ta'wil lebih banyak dipakai dalam (menjelaskan) makna dan susunan kalimat.
Tafsir dan Ta'wil Al-Qur'an mempunyai obyek pembahasan satu yaitu Al-Qur'an yang merupakan kitab mukjizat dan kitab hidayah. Para ulama dalam mentadabburi al-Qur'an sebagai ma'dubatan suguhan dari Allah swt, mendapatkan kata tafsir sebanyak satu kali dalam Al-Qur'an, yakni pada ayat 33 surat Al-Furqân
و لا يأتونك بمثل إلا جئناك بالحق و أحسن تفسيراً
Sedang kata ta'wil tersebut sebanyak 17 kali. Hal ini mengantarkan kita kepada pemahaman bahwa ta'wil mempunyai andil lebih dalam segi bahasa, begitupun dalam pengertian nash, atau boleh jadi kata ta'wil telah menjadi wacana umum sebelum kelahiran Islam seperti yang terdapat dalam kisah Nabi Yusuf, hal mana dari rakyat jelata hingga sang raja menggunakan kata ta'wil.
Sekilas dalam pembahasan terminologi tafsir dan ta'wil di atas para ulama terkesan kurang tegas dalam membedakan antara keduanya. Hal ini juga diakui oleh al-Dzahabi mengutip statemen yang dilontarkan Ibn Habib al-Nîsâbûrî " Bermunculan pada zaman kita mufassir yang ketika ditanya tentang perbedaan antara tafsir dan ta'wil,  mereka tidak bisa menunjukkan ". Kemudian dalam menerangkan kedudukan tafsir dan ta'wil, Al-Dzahabi kemudian menyimpulkan bahwa tafsir pijakannya adalah riwayat, sedang ta'wil dirayah, hal ini karena makna tafsir adalah penyingkapan dan penjelasan.Tafsir merupakan penjelasan dari apa yang dimaksudkan oleh Allah tidak akan diperoleh secara pasti kecuali dari Rasululllah atau dari para sahabat yang merasakan dan menyaksikan turunnya Al-Qur'an, hidup bersama Rosulullah dan menjadikannya panutan dalam segala sendi kehidupan.Sedang ta'wil merupakan kerja tarjih yang bersandar kepada ijtihad, tarjih akan sulit dilakukan dan mungkin mustahil tanpa ada penelusuran kosa-kata arab, keterkaitan ayat sebelum dan sesudahnya,  khos dan 'Am, mujmal dan muqoyyad dan lainnya. Dalam hal ini ta'wil merupakan perpanjangan dari ilmu tafsir, tafsir berfungsi menyiapkan perangkat-perangkat ta'wilSecara ringkas perbedaan antara keduanya, bahwasanya tafsir itu umum mencakup dari yang naqlî maupun yang 'aqlî. Sedangkan ta'wîl khusus pada yang bersifat 'aqlî, karena ta'wîl disitu lebih ditekankan pada ijtihad dan pemikiran. Jadi semua ta'wîl adalah tafsir, namun tidak semua tafsir merupakan ta'wîl.
Sekilas Masalah Musykil Ta'wil dalam ayat 7 Surat Ali Imrân
… Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : Kami beriman kepada ayat-ayat mutasabihat, semua itu dari sisi Rab kami.
Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur'an itu sebagian muhkamat dan sebagian lagi mutasabihat. Orang-orang yang memiliki keyakinan teguh dan mendalam pengetahuannya serta mengerti tentang Allah, akan kokoh pendiriannya sekokoh gunung, tidak tergoyahkan oleh keraguan dan nafsu angkara, mereka mengembalikan yang mutasabihat kepada yang muhkamat , sehingga seluruh ayat menjadi muhkamat. Mereka berkata "semua berasal dari Tuhan kami" maka jika berasal dari Allah swt., tentu tidak ada sesuatu yang berlawanan, dan  jika ada ayat yang serupa atau mutasabih pada suatu tempat, maka tentunya sudah dijelaskan dengan ayat  yang muhkam di tempat lain. Sungguh indah ayat yang dijelaskan dengan ayat lainnyaDalam ayat di atas, Ta'wil mempunyai pengertian pergerakan pemikiran menuju tujuan. Hal ini dapat di mengerti jika dihubungkan dengan ibtigha'a Al Fitnah usaha mencari-cari penyakit. Dalam ayat ini sebenarnya juga tersirat bahwa bagi orang-orang yang bersih hati dan tujuannya maka tentu yang di cari adalah kebenaran.Kitab-kitab klasik yang berjilid-jilid menunjukkan kepada argumen-argumen pembenaran merambah penafsiran ayat-ayat mutasyabihat, misalnya ayat tentang cahaya yang terdapat dalam surat al-Nur sudah sering ditafsirkan, sebagaimana al-Ghazali dengan Misykat al-Anwar. Dan usaha yang cukup mencolok ini dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabih, tidak pernah ditentang atas dasar tidak konsisten dengan Q.S. 3:5 Peselisihan pendapat telah timbul dikalangan umat islam masa awal apakah ungkaapan-ungkapan yang digunakan Al-qur'an dalam menyebut sifat-sifat Tuhan harus diterima secara harfiyah atau harus ditafsirkaan secara metaforis. Al-qur'an menyebutkan "Tuhan Melihat, mendengar, duduk, tersenyum, berdiri, mempunyai tangan, kaki, telinga, mata dan sebagainya" dalam perang Badar, Tuhan melemparkan segenggam pasir kepada musuh. Pada adab ke dua hijrah, satu mu'tazilah telah muncul sebagai madzhab dan berhujjah bahwa memahami ayat-ayat seperti itu secara harfiah akan membawa  Tuhan hampir ke level manusia, dan oleh karenanya ayat-ayat tersebut harus dipahami secara metaforis. Madzhab ini mendapat perlawanan keras dari madzhab yang lain, yang menolak melakukan penjelasan terhadap ayat-ayat tersebut diatas.
Namun, madzhab yang terakhir ini tetap menegaskan bahwa seorang mukmin, sementara menerima ayat-ayat itu dan tidak boleh bertanya bagaimana "bila kaif" atau dalam cara bagaimana sifat-sifat Tuhan yang ala manusia itu harus ditanggapi. Dalam semua kontraversi ini, rujukan kepada larangan yang terkangdung dalam Ali Imrân 5 hampir tidak pernah dilakukan Jadi perdebatan tentang masalah ini pun tak kunjung selesai dan terwariskan kepada kita sekarang 
Perbedaan Tafsir dengan Terjemah
Tafsir dengan terjemah, baik terjemah harfiyah maupun tafsiriyah tidak sama. Antar keduanya ada perbedaan-perbedaan antara lain:
Pada terjemah terjadi perpindahan bahasa dengan kata tidak ada lagi bahasa pertama yang melekat pada bahasa terjemah, tidak demikian halnya dengan tafsir. Tafsir selalu ada keterkaitan pada bahasa asalnya.
Pada terjemah tidak boleh melakukan istidhrad yaitu penguraian yang meluas yang melebihi dari sekedar pemindahan bahasa, sedangkan tafsir boleh.
Pada terjemah dituntut terpenuhinya semua makna dan maksud yang ada pada bahasa yang diterjemahkan, tidak halnya demikian dengan tafsir.
Pada terjemah harus diakui bahwa si penerjemah sudah melakukan terjemahan, sejauh ia telah berhasil memindahkan makna bahasa pertama kebahasa terjemah,sedangkan tafsir tidak.

BAB III
KESIMPULAN
Tafsir berarti keterangan atau uraian. Menurut beberapa ulama tafsir dapat diartikan sebagai suatu usaha tanggapan, penalaran dan ijtihad manusia untuk menyingkap nilai-nilai samawi yang terdapat dalam Al-Qur'an.Takwil berarti menerangkan, menjelaskan. Menurut arti bahasa sama dengan arti tafsir. Ringkasnya, takwil menurut istilah adalah suatu usaha untuk memahami lafadz-lafadz (ayat-ayat) Al-Qur'an melalui pendekatan pemahaman arti yang dikandung oleh lafadz itu.Terjemah menurut bahasa berarti salinan dari suatu bahasa ke bahasa lain.
Perbedaan tafsir dan takwil di satu pihak dan terjemah di pihak lain adalah tasir dan takwil berupaya menjelaskan makna setiap kata di dalam Al-Qur'an sedangkan terjemah hanya mengalihkan bahasa Al-Qur'an yang berasal dari bahasa Arab ke bahasa non Arab.
Adapun perbedaan tafsir dan takwil sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut :TAFSIR TAKWIL
Ar-Raghif Al-Ashfahani : Lebih umum dan lebih banyak digunakan untuk lafadz dan kosakata dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah dan kitab lainnya.
Menerangkan makna lafadz yang tak menerima selain dari satu arti.
Al Maturidi : Menetapkan apa-apa yang dikkehendaki ayat dan menetapkan seperti yang dikehendaki Allah.
Abu Thalib Ats-Tsa'labi : Menerangkan makna lafadz, baik berupa hakikat atau majaz. Ar-Raghif Al-Ashfahani : Lebih banyak digunakan makna dan kalimat dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah saja.
Menetapkan makna yang dikehendaki suatu lafadz yang dapat menerima banyak makna karena didukung oleh dalil.
Menyeleksi salah satu makna yang mungkin diterima oleh suatu ayat tanpa menyakinkan bahwa itulah yang dikehendaki Allah.
Abu Thalib Ats-Tsa'labi : menafsirkan batin lafadz.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur'an Karim
Rosihon Anwar, M.Ag, Drs, 2000, Ulumul Qur'an, Bandung, CV.Pustaka Setia.
Hasbi Ash Shiddieqy, M, 1954, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Qur'an/Tafsir, Jakarta, Penerbit Bulan Bintang.http://sarjoni.wordpress.com/
http://hanny.blogdetik.com/
http://www.abdurrozaq.com/index.php


Download Makalah Qur'an Tafsir.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah Qur'an Tafsir. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon