October 05, 2016

Makalah Analisis Kesalahan Berbahasa


Judul: Makalah Analisis Kesalahan Berbahasa
Penulis: Rika Afriani


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang sesuai dengan faktor-faktor penentu berkomunikasi dan benar dalam penerapan aturan kebahasaannya. Apabila penggunaan bahasa, secara lisan maupun tertulis menyimpang dari faktor-faktor penentu berkomunikasi dan kaidah bahasa, maka terjadilah kesalahan berbahasa.
Kesalahan berbahasa disebabkan oleh faktor pemahaman, kemampuan atau kompetensi. Apabila pelajar belum memahami sistem linguistik bahasa yang sedang dipelajari, dia sering membuat kesalahan tatkala menggunakan bahasa tersebut. Kesalahan ini selalu berulang dan terjadi secara sistematis dan konsisten. Hal ini berlaku umum, artinya terjadi pada beberapa pelajar. Kesalahan berbahasa dapat diperbaiki oleh guru melalui pengajaran remedial, latihan, dan praktik berbahasa. Ada beberapa pengklasifikasian dalam kesalahan berbahasa. Pada makalah ini, akan dibahas beberapa klasifikasi kesalahan berbahasa yang dilakukan para penutur bahasa.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, rumusan masalah dalam makalah ini adalah "Apa sajakah kesalahan berbahasa yang sering dilakukan para penutur bahasa?".
Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan pada makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami bentuk-bentuk kesalahan berbahasa yang sering dilakukan oleh para penutur bahasa.
BAB II
PEMBAHASAN
Kesalahan Berbahasa
Kesalahan merupakan sisi yang mempunyai cacat pada ujaran atau tulisan sang pelajar. Kesalahan tersebut merupakan bagian-bagian konversasi atau yang menyimpang dari norma baku atau norma terpilih dari performasi bahasa orang dewasa.
Kesalahan berbahasa adalah pengguanan bahasa yang menyimpang dari kaidah bahasa yang berlaku dalam bahasa itu. Penyimpangan kaidah bahasa dapat disebabkan oleh menerapkan kaidah bahasa dan keliru dalam menerapkan kaidah bahasa. Dalam pengajaran bahasa, dikenal dua istilah kesalahan (error) dan kekeliruan (mistake).
Menelaah kesalahan para pelajar, khususnya kesalahan berbahasa, mengandung dua maksud utama, yaitu:
(1).Untuk memperoleh data yang dapat dipergunakan untuk membuat atau menarik kesimpulan-kesimpulan mengenai hakikat proses belajar berbahasa.
(2).Untuk memberikan indikasi atau petunjuk kepada para guru dan para pengembang kurikulum tentang bagian mana dalam bahasa sasaran yang paling sukar diproduksi oleh para pelajar secara baik dan benar, serta tipe kesalahan mana yang paling mentukarkan atau mengurangi kemampuan pelajar untuk berkomunikasi secara efektif.
Klasifikasi Kesalahan Berbahasa
Menurut Tarigan (1988: 87), kesalahan berbahasa erat kaitannya dengan pengajaran bahasa, baik pengajaran bahasa pertama maupun pengajaran kedua. Kesalahan berbahasa tersebut mengganggu pencapaian tujuan pengajaran bahasa. Kesalahan berbahasa harus dikurangi bahkan dapat dihapuskan. Kesalahan-kesalahan tersebut sering timbul dan banyak
terjadi pada penulisan-penulisan ilmiah. Ada empat pengklasifikasian atau taksonomi kesalahan berbahasa yang dikemukakan Tarigan (1988), antara lain:
(1) taksonomi kategori linguistik;
(2) taksonomi siasat permukaan;
(3) taksonomi komparatif; dan
(4) taksonomi efek komunikatif.
Pada makalah ini, hanya akan dijelaskan tentang taksonomi komparatif dan efek komunikatif.
(1). Taksonomi Komparatif
Klasifikasi kesalahan-kesalahan dalam taksonomi komparatif didasarkan pada perbandingan-perbandingan antara struktur kesalahan-kesalahan B2 dan tipe-tipe kontruksi tertentu lainnya. Sebagai contoh jika kita menggunakan taksonomi komparatif untuk mengklasifikasikan kesalahan-kesalahan pelajar Indonesia yang belajar Bahasa Inggris, maka kita dapat membandingkan struktur kesalahan pelajar yang memeroleh bahasa Inggris sebagai B1. Contoh lainnya bila seseorang dari suku tertentu (jawa) yang belajar Bahasa Indonesia sebagai bahasa sasarannya.
Dalam kepustakaan riset, kesalahan-kesalahan B2 sudah sangat sering dibandingkam dengan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh anak-anak yang belajar bahasa sasaran sebagai B1 mereka dan mengekuivalensikan frase-frase atau kalimat-kalimat dalam bahasa ibu mereka. Dengan demikian, klasifikasi kesalahan-kesalahan dalam taksonomi komparatif (atau comparative taxonomy) didasarkan pada perbandingan-perbandingan antara struktur kesalahan-kesalahan B2 dan tipe-tipe konstruksi tertentu lainnya (Tarigan, 1988:158).
Berdasarkan perbandingan tersebut maka dalam taksonomi komparatif dapat dibedakan menjadi:
(a) Kesalahan perkembangan (development errors) adalah kesalahan-kesalahan yang sama dengan yang dibuat oleh anak-anak yang belajar bahasa sasaran sebagai B1 mereka.
Contoh:
Dalam Bahasa Inggris
Salah Benar
I like do it. I like to do it
Jim doesn't likes it. Jim doesn't like it.
I not craying. I am not craying.
Adapun kesalahan pada contoh satu (1) adalah tidak adanya kata pemisah diantara dua kata kerja, yaitu like dan do yang seharusnya dipisahkan oleh kata to. Pada contoh dua (2) kesalahan terjadi karena kesalahan grammar atau tata bahasanya, yaitu apabila sebuah kalimat itu negatif (ditandai oleh kata doesn't), maka kata kerja setelahnya (like) tidak boleh ditambahkan oleh akhiran s atau es dan pada contoh tiga (tiga) kesalahan yang terjadi adalah tidak terteranya to be (am)atau kata bantu pada kalimat berpola present continous tense.
Dalam Bahasa Indonesia
SalahBenar
Saya suka nonton bola.Saya suka menonton bola.
Presiden resmikan pabrik baru.Presiden meresmikan pabrik baru.
Bapak ada rumah.Bapak ada di rumah.
Pada contoh satu (1) dan dua (2) kesalahan terjadi karena kata nonton dan resmikan, kehilangan awalan me-, sedangkan pada contoh tiga (3) kesalahan yang terjadi adalah akibat hilangnya atau tidak adanya partikel di- sebelum kata rumah.
(b) Kesalahan antarbahasa (interlingual errors)
Kesalahan antarbahasa adalah kesalahan-kesalahan yang semata-mata mengacu pada kesalahan B2 yang mencerminkan struktur bahasa asli atau bahasa ibu, tanpa menghiraukan proses-proses internal atau kondis-kondisi eksternal yang menimbulkannya. Kesalahan antarbahasa merupakan kesalahan yang sama dalam struktur bagi kalimat atau frasa yang berekuivalen secara semantik dalam bahasa ibu sang pelajar. Kesalahan antarbahasa (interlingual) disebut juga kesalahan interferensi, yakni: kesalahan yang bersumber (akibat) dari pengaruh bahasa pertama (B1) terhadap bahasa kedua (B2).
Contoh:
SalahBenar
Dia datang Bandung dari.1. Dia datang dari Bandung.
Makanan itu telah dimakan oleh saya.2. Makanan itu telah saya makan.
Tak apalah, it doesn't matter.3. Tak apalah, itu bukan masalah.
Te‛nang, bu.4. Tenang, bu.
Pada contoh satu (1) di atas adalah ucapan dari seorang anak Karo yang belajar Bahasa Indonesia untuk mencerminkan susunan atau urutan kata frasa proposisi dalam bahasa Karo (Bandung dari berarti 'dari Bandung). Pada contoh dua (2) kesalahan terjadi karena tuturan yang digunakan dipengaruhi oleh bahasa Sunda karena kalimat Sundanya adalah "makanan teh atos kuabdi". Bila tuturan tersebut dituturkan kedalam Bahasa Indonesia, maka seharusnya "makanan itu telah saya makan". Hal itu didasarkan pada struktur Bahasa Indonesia. Pada contoh tiga (tiga) kesalahan terjadi karena adanya penggunaan unsur bahasa lain (Bahasa Inggris) ke'dalam Bahasa Indonesia yaitu pada frase " It doesn't matter" yang memiliki padanan kata "itu bukan masalah" dalam Bahasa Indonesia dan pada contoh empat (4) merupakan contoh tuturan yang diujarkan oleh penutur Batak. Huruf "e" pada kata tenang seharusnya dilafalkan lemah, bukan keras.
(c) Kesalahan taksa (atau ambiguous errors)
Kesalahan taksa adalah kesalahan yang dapat diklasifikasikan sebagi kesalahan perkembangan ataupun kesalahan antarbahasa. Contoh: Konstruksi yang mencerminkan
bahasa asli sang pelajar (misalnya Medan) yang belajar bahasa Indonesia sebagai B1 mereka.
Menulis saya (Saya menulis)
Tidur dia (Dia tidur)
Pergi kami (Kami pergi).
Yang berdiri di depan kakak ibu. (Yang berdiri di depan kakak / ibu)
Kalimat ini jika pengucapannya tidak dibatasi oleh jeda akan dapat ditafsirkan yang berdiri di depan itu kakak dari ibu (paman/bibi) atau bisa juga ditafsirkan yang berdiri di depan kakak itu adalah ibu.
(d) Kesalahan Lain (other errors)
Menurut Dulay dan Burt (1974), dalam membuat analisis komparatif kesalahan anak-anak, menyebutnya sebagai kesalahan unik (Unique errors) yang mengacu pada keunikannya bagi para pelajar B2. Kesalahan unik adalah kesalahan bahasa yang tidak dapat dideskripsikan berdasarkan tataran kesalahan interlingual dan intralingual. Kesalahan ini tidak dapat dilacak dari B1 maupun B2. Misalnya: anak kecil yang mulai belajar berbicara dalam suatu bahasa, tidak sedikit tuturan (kata frase atau kalimat) yang tidak dapat dijelaskan dari B1 maupun B2.
Contoh:
Salah Benar
She hungry 1. She is hungry.
They breakfast2. They have breakfast.
Gak papa gin.3. Tidak apa-apa
Kesalahan unik pada contoh satu (1) dan dua (2) adalah dihilangkannya auxiliary sebelum kata hungry dan breakfast. Sedangkan pada contoh tiga (3) keunikan kesalahannya adalah pada ragam bahasa yang digunakan. Pada kalimat tidak apa-apa dituturkan menjadi gak papa gin.
(2) Taksonomi Efek Komunikatif
Jika taksonomi komparatif memusatkan perhatian pada aspek-aspek kesalahan itu sendiri, maka taksonomi efek komunikatif memandang serta menghadapi kesalahan-kesalahan dari perspektif efeknya terhadap penyimak atau pembaca.
Berdasarkan terganggu atau tidaknya komunikasi karena kesalahan-kesalahan yang ada, maka dapatlah dibedakan dua jenis kesalahan, yaitu :
(a). Kesalahan Global atau Global Errors
Kesalahan Global adalah kesalahan yang mempengaruhi keseluruhan organisasi kalimat sehingga benar-benar menggangu komunikasi. Karena luasnya cakupan sintatik kesalahan-kesalahan serupa itu, maka Burt dan Kiparsky menyebut kategori ini kesalahan "global". Menurt Burt dan Kiparsky, kesalahan gobal mencakup:
Salah menyusun unsur pokok.
Misalnya:
Bahasa Indonesia banyak orang disenangi.
Yang seharusnya:
Bahasa Indonesia disenangi banyak orang.
(2) Salah menempatkan atau tidak memakai kata sambung.
Misalnya:
Tidak beli beras tadi, apa makan kita sekarang.
Yang seharusnya:
Kalu kita tidak membeli beras tadi, makan apa kita sekarang
(3) Hilangnya ciri kalimat pasif.
Misalnya:
Rencana penelitian itu diperiksa pada pimpinan.
Yang seharusnya:
Rencana penelitian itu diperiksa oleh pimpinan.
(b) Kesalahan Lokal (local errors)
Kesalahan lokal adalah kesalahan yang mempengaruhi sebuah unsur dalam kalimat yang biasanya tidak mengganggu komunikasi secara signifikan. Kesalahan-kesalahan ini hanya terbatas pada suatu bagian kalimat saja, maka Burt dan Kiparsky menyebutnya kesalahan "lokal".
Dalam bahasa Indonesia, contoh kesalahan lokal itu antara lain sebagai berikut.
Penyelesaikan tugas itu diselesaikannya dengan penuh semangat.
Jumlah mahasiswa Unesa berjumlah sepuluh ribu.
Penyerahan hadiah diserahkan oleh Bapak Lurah.
Yang seharusnya:
Tugas itu dislesaikannya dengan penuh semangat.
Mahasiswa Unesa berjumlah sepuluh ribu.
Hadiah diserahkan oleh Bapak Lurah.
(Tarigan, 1988: 164-166)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesalahan berbahasa adalah penggunaan bahasa yang menyimpang dari kaidah bahasa yang berlaku dalam bahasa itu. Adapun pengklasifikasian atau taksonomi kesalahan berbahasa yang dikemukakan Tarigan terdiri atas taksonomi kategori linguistik, siasat permukaan, komparatif, dan efek komunikatif. Taksonomi kategori linguistik mengklasifikasikan kesalahan-kesalahan berbahasa berdasarkan komponen linguistik atau unsur linguistik tertentu yang dipengaruhi oleh kesalahan. Dalam taksonomi komparatif dan siasat permukaan memusatkan perhatian pada aspek-aspek kesalahan itu sendiri, sedangkan taksonomi efek komunikatif memandang serta menghadapi kesalahan-kesalahan dari perspektif efeknya terhadap penyimak atau pembaca.
Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan peneliti atau guru bahasa yang meliputi kegiatan mengumpulkan sampel kesalahan mengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel, menjelaskan kesalahan tersebut, mengklasifikasikan kesalahan itu dan mengevaluasi taraf kesalahan, serta melakukan perbaikan. Dengan analisis bahasa, guru atau peneliti dapat melakukan perbaikan demi kualitas berbahasa yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, E. Zaenal dan Farid Hadi. 1991. 1001 Kesalahan Berbahasa. Jakarta:CV Akademika Pressindo.
Badudu, J.S. 1985. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
Tarigan, Henri Guntur. 1992. Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henri Guntur. (1988). Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa.
http://prince-mienu.blogspot.com/2010/01/ambiguitas-dalam-berbahasa.html


Download Makalah Analisis Kesalahan Berbahasa.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Makalah Analisis Kesalahan Berbahasa. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon