October 19, 2016

Kebijakan Moneter


Judul: Kebijakan Moneter
Penulis: Helmi Susanti


MAKALAH
EKONOMI MAKRO ISLAM
"KEBIJAKAN MONETER DALAM EKONOMI ISLAM"
(Disusun sebagai tugas Mata Kuliah Ekonomi Makro Islam dan akan dipresentasikan pada tanggal 19 November2014)
Dosen Pengampu
Dr. Anton Bawono, S.E., M.Si.

Disusun Oleh
Helmi Susanti(213-13-153)
Hanna Hidayah(213-13-158)
Istriyani (213-13-178)
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARI'AH S1
JURUSAN SYARI'AH DAN EKONOMI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2014
Kata Pengantar
Bismillahirrohmanirrohim,
Allah Akbar, Maha Besar Allah yang telah banyak memberikan kemudahan dan ilmu kepada penulis. Alhamdulillah, karena bimbingan, perlindungan, dan pengajaran dari Allah SWT. sehingga dapat menghantarkan penulis pada penyelesaian penulisan makalah yang sedang ditangan pembaca saat ini.
Sesungguhnya dalam penulisan ini, penulis banyak menghadapi kendala yang membuat sedikit bingung. Terutama mengenai kebijakan moneter dalam ekonomi Islam. Dimana perbandingan yang cukup spesifik antara ekonomi konvensional dan ekonomi Islam. Namun setelah merujuk ke beberapa referensi sedikit menambah wawasan penulis dalam penyelesaian makalah ini. Sampailah kepada penulisan akhir, dan dengan sedikit banyak usaha yang dikeluarkan dapat menghantarkan penulis pada penyelesaian makalah ini. Namun tentu penyelesaian tulisan ini tak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak. Sebagai tanda penghargaan, penulis mengucapkan terima kasih secara khusus yang ditujukan kepada:
Ayah dan Bunda yang telah memberikan segala fasilitas berupa materi yang tidak akan pernah penulis mampu untuk menggantinya.
Dosen pengampu mata kuliah, dan segenap teman-teman seperjuangan yang telah banyak memberikan sumbangsih. Serta kepada semua pihak yang belum mampu penulis sebutkan satu per satu.
Kritik dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Karena mengingat makalah ini masih sangat jauh dari panggang apai. Namun, semoga makalah ini dapat menambah khazanah pengetahuan dan menimbulkan keberkahan bagi pembaca sekalian.
Wallahu A'lamu Bi al Shawab
Billahitaufiq wal Hidayah.
14 November 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
BAB IPENDAHULUAN
Latar Belakang........................................................................... 1
Rumusan Masalah...................................................................... 2
Tujuan......................................................................................... 2
BAB IIPEMBAHASAN
Kebijakan Moneter Secara Umum (Konvensional)
Pengertian Kebijakan Moneter…………...................... 3
Tujuan Kebijakan Moneter…………………………… 3
Instrumen Kebijakan Moneter....................................... 4
Kebijakan Moneter Secara Islam
Pengertian Kebijakan Moneter Secara Islam................ 5
Perbedaan Kebijakan Moneter Konvensional dengan Kebijakan Moneter Secara Islam.................................. 5
Instrumen Kebijakan Moneter Syari'ah........................ 6
Dampak Kebijakan Moneter……………………………... 9
BAB IIIPENUTUP
Kesimpulan...................................................................... 11
Saran................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam permasalahan ekonomi makro banyak sekali yang harus di hadapi oleh suatu Negara khususnya Indinesia.Permasalahan tersebut seperti, pengangguran, kemiskinan, isnfansi dan lain sebagainya. Tidak bisa dipungkiri bahwa peranan uang dirasakan sangat penting bagi kehidupan ekonomi manusia. Uang berfungsi tidak hanya sebagai alat pembayaran, tetapi juga media penyimpan kekayaan dan untuk dasar perhitungan berbagai transaksi ekonomi dan keuangan.Sejalan dengan itu, perkembangan jumlah uang yang beredar mempunyai keterkaitan dan pengaruh langsung pada perkembangan berbagai aktivitas perekonomian.Keterkaitan itu tercermin pada hubungan yang terjadi antara jumlah uang yang beredar dengan perkembangan variable-variabel ekonomi utama, yaitu tingkat produksi (output) dan harga.
Peningkatan jumlah uang yang beredar yang berlebihan dapat mendorong peningkatan harga melebihi tingkat yang diharapkan sehingga dalam jangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila peningkatan jumlah uang yang beredar sangat rendah, maka kelesuan ekonomu akan terjadi. Apabila hal ini terus menerus berlangsung, kemakmuran masyarakat secara keseluruhan pada gilirannya akan mengalami penurunan. Kegiatan pengendalian jumlah uang yang beredar tersebut lazimnya disebut dengan kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral.Namun, sejauh ini kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral adalah bersifat konvensional yang jauh dari sistem yang syar'i.Dalam makalah ini akan mencoba mengupas mengenai kebijakan moneter islam. Dimana kebijakan moneter islam ini tentunya akan mengacu pada hukum dan syarat-syarat islam dalam mengatasi berbagai masalah uang yang beredar di masyarakat.
Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas ialah;
Apa bedanya kebijakan moneter konvensional dan syariah?
Apa saja yang dilakukan bank sentral syariah untuk melaksanakan kebijakan moneter Islam?
Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini ialah untuk mengetagui seperti apa kebijakan moneter sejara islam dalam menstabilkan uang yang beredar di masyarakan, agar pembaca lebih paham dengan hal tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
Kebijakan Moneter Konvensional
Pengertian Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh bank sentral untuk menstabilkan jumlah uang yang beredar pada masyarakat dan kredit yang pada akhirnya akan sangat mempengaruhi pada kegiatan masyarakat.
Tujuan Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter bertujuan untuk menstabilkan perekonomian yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang.Kalau kestabilan ekonomi terganggu, maka kebijaksanaan moneter dapat dipakai untuk memulihkannya.Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
Kebijakan moneter ekspansif (Monetary expansive policy)
Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar.Kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat (permintaan masyarakat) pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi. Kebijakan ini disebut juga kebijakan moneter longgar (easy money policy)
Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary contractive policy)
Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar.Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi.Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy).Instrumen Kebijakan Moneter
Adapun instrument yang dipakai adalah sebagai berikut:
Kebijakan Kuantitatif
Kebijakan kuantitatif adalah kebijakan yang bersifat umum yang dilakukan oleh Bank Sentral.kebijakan tersebut meliputi:
Operasi Pasar Terbuka (Open Market)
Meliputi tindakan menjual dan membeli surat-surat berharga oleh bank sentral.tindakan ini akan berpengaruh: pertama, menaikkan cadangan bank-bank umum yang tersangkut dalam bertransaksi. Sebab dalam pembelian surat berharga misalnya, bank sentral akan menambah cadangan bank umum yang menjual surat berharga tersebut, yang ada pada bank sentral. akibat tambahnya cadangan, maka bank umum dappat menambah jumlah uang yang beredar (melalui proses penciptaan kredit). Kedua, tindakan pembelian/penjualan surat berharga akan mempengaruhi harga (dan dengan demikian juga tingkat bunga) surat berharga. Akibatnya, tingkat bunga umum juga akan terpengasuh.
Perubahan Tingkat Suku Bunga (Diskonto)
Tindakan untuk mengubah-ubah tingkat bunga yang harus dibayar oleh bank umum dalam hal meminjam dana dari bank sentral. Dengan menaikkan diskonto, maka ongkos meminjam dana dari bank sentral akan naik sehingga akan mengurangi keinginan bank umum untuk meminjam. Akibatnya, jumlah uang yang beredar dapat ditekan/dikurangi.Cadangan Minimum (reserves requirments)
Seperti yang telah dijelaskan di depan (dalam proses penciptaan kredit) bahwa perubahan cadangan minimum dapat mempengaruhi jumlah uang yang beredar. Apabila ketentuan cadangan minimum diturunkan, jumlah uang beredar cenderung naik, dan sebaliknya kalau dinaikkan jumlah uang akan cenderung turun.
Kebijakan Kulitatif
Margin Requirement
Digunakan untuk membatasi penggunaan kredit untuk tujuan-tujuan pembelian surat berharga (yang biasanya bersifat spekulatif). Caranya, dengan menetapkan jumlah minimum kas down payment untuk transaksi surat berharga. Misalnya, ditentukan margin requirement 80% artinya apabila seseorang hendak membeli surat berharga, maka 80% harus dibayar dengan kas dan baru sisanya (20%) boleh dipinjam dari bank.
Moral Suasion
Dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap lembaga moneter dan individu yang bergerak di bidang moneter dengan pidato-pidato Gubernur Bank Sentral, atau publikasi-publikasi, agar bersikap seperti yangdikehendaki oleh penguasa moneter.
Kebijakan Moneter Islam
Pengertian Kebijakan Moneter Islam
Pengertian kebijakan moneter dalam islam tidak jauh berbeda dengan konvensional yaitu dimana kebijakan moneter adalah suatu kebijakan yang dipakai guna untuk menjaga stabilitas dari mata uang (baik secara internal maupun eksternal) dan stabilitas jumlah uang yang beredar sehingga pertumbuhan ekonomi yang merata yang diharapkan dapat tercapai. Stabilitas dalam nilai uang tidak terlepas dari tujuan ketulusan dan keterbukaan dalam berhubungan dengan manusia.
Perbedaan Kebijakan Moneter Konvensional dan kebijakan Moneter Islam
No Syariah Konvensional
1 Sector perbankan syariah menerapkan sistem pembagian keuntungan dan kerugian (profit and loss sharing) Sector perbankan konvensional menerapkan sistem bunga
2 Sector moneter memiliki ketergantungan pada sector riil Sector riil memiliki ketergantungan pada sector moneter
3 Manajemen moneter Islam menggunakan metode penghapusan suku bunga dan adanya kewajiban pembayaran pajak atas biaya produktif yang menganggur Manajemen moneter konvensional menggunakan paradigma uang pasif dan uang aktif
Konsep Uang Beredar dalam Ketiga Mazhab Ekonomi Islam
Mazhab Iqtishaduna
Pandangan utama dari mazhab ini adalah jumlah uang yang beredar merupakan elastis sempurna, dimana pemerintah sebagai pemegang otoritas moneter tidak mampu untuk memengaruhi jumlah uang yang beredar. Pendapat ini didasarkan pada asumsi yang merefleksikan gambaran ekonomi pada masa Rasulullah Saw.

Pada grafik tersebut dapat kita lihat bahwa penawaran uang (Ms) adalah elastis sempurna, dimana penawaran uang ditentukan oleh perdagangan ekspor impor barang dengan Roma dan Persia, sedangkan tidak adanya institusi yang melakukan pencetakan uang mengakibatkan tidak ada bank sentral yang mencetak dan mengendalikan uang beredar (dinar dan dirham). Seperti yang telah dijelaskan bahwa karena tidak adanya bea masuk perdagangan dan nilai value uang sama dengan instrinsiknya telah menjadikan uang beredar bersifat elastis, banyak sedikitnya uang beredar yang ada tidak akan memengaruhi tangguh bayar.
Dalam pasar barang pada e2 tingkat pendapatan adalah Y2 dengan harga P2. Ketika ada tambahan ekspor barang (tambahan impor uang), maka agregat demand dalam negeri akan naik. Peningkatan agregat demand ini dipicu adanya peningkatan pendapatan dalam negeri. Kenaikan agregat demand ini dapat digambarkan dari pergerakan kurva AD2 ke AD3, sehingga keseimbangan di pasar barang yang baru adalah titik e3, dimana harga akan meningkat dari P2 ke P3.
Dalam pasar uang dengan adanya kenaikan jumlah pendapatan mengakibatkan permintaan terhadap uang meningkat. Sehingga titik keseimbangan di pasar uang akan bergeser dari e2 ke e3, dimana jumlah uang beredar bertambah dari M2 ke M3. Pergeseran M2 ke M3 ini dapat kita lihat dari adanya surplus ekspor barang yang berdampak pada peningkatan capital inflow.
Mazhab Mainstream
Penawaran uang diasumsikan secara penuh dipengaruhi oleh kebijakan central bank, sehingga secara grafik akan terlihat bahwa Ms bersifat perfect inelastis.

Pada tingkat biaya u1 tingkat keseimbangan akan berada pada E1. Apabila pada tingkat biaya u1 ada kecenderungan permintaan uang melebihi kurva penawaran barang (MD2), maka pemerintah akan berusaha mengalihkan penyimpanan uang kas yang ada di tangan masyarakat untuk ditransaksikan di pasa, baik untuk konsumsi maupun investasi dengan cara meningkatkan biaya menjadi u2. Sehingga, hal ini akan mendorong kurva permintaan bergeser ke atas (MD2) karena adanya peningkatan velositas uang dan pendapatan. Kenaikan u2 akan menyebabkan pergerakan disepanjang kurva Md2, sehingga mencapai keseimbangan baru di titik E2.
Maka, kebijakan yang ditempuh bukanlah dengan cara mencetak uang, tetapi memengaruhi permintaan uang itu sendiri yaitu dengan pengenaan biaya terhadap asset atau uang yang dianggurkan.
Mazhab Alternatif
Grafik di bawah ini dapat memperjelas bagaimana keseimbangan dalam sistem keuangan Islam dicapai dengan memasukkan variabel expected rate of profit:

Pergerakan kurva permintaan untuk sistem keuangan mudharabah ini dipengaruhi oleh tinggi rendahnya ekspektasi terhadap tingkat keuntungan. M1 adalah banyaknya uang yang ditawarkan untuk memenuhi transaksi mudharabah ketika P1=P2. M1 adalah jumlah uang yang disediakan lebih sedikit dari kebutuhan, yaitu ketika P1=P2, sekarang katakanlah ada perubahan teknologi dalam project mudharabah dimana P1>P2 maka akan menarik dana di luar project mudharabah ini, sehingga kapasitas stock uang akan bertambah menjadi M2. Titik equilibrium akan bergeser E1 ke E2. Pergeseran titik keseimbangan ini merupakan hasil dari proses integrative-interactive-evolutionary pengetahuan yang akan berdampak terhadap hubungan π dengan M. Pergeseran E1 ke E2 merupakan fungsi dari nilai ∅ dimana ∅ adalah objektivitas pengetahuan masyarakat terhadap perubahan teknologi (A.Karim,edisi 2, 2013: 198-206)
Instrumen kebijakan Moneter Islam
Kiranya dapat disarankan mekanik bagi kebijakan moneter yang tidak hanya membantu pengaturan penawaran uang sesuai dengan permintaan riil tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan untuk menutup defisit "asli" pemerintah dan sekaligus mencapai tujuan-tujuan lain masyarakat Islam. Mekanik tersebut harus mencakup enam elemen yaitu:
Target Pertumbuhan M dan Mo
Setiap tahun Bank Sentral harus menentukan pertumbuhan peredaran uang (M) sesuai dengan sasaran ekonomi nasional.Pertumbuhan M terkait erat dengan pertumbuhan Mo (high powered money:uang dalam sirkulasi dan deposito pada bank sentral). Bank sentral harus mengawasi secara ketat pertumbuhan Mo yang dialokasikan untuk pemerintah, bank komersial dan lembaga keuangan sesuai proporsi yang ditentukan berdasarkan kondisi ekonomi, dan sasaran dalam perekonomian Islam.Mo yang disediakan untuk bank-bank komersial terutama dalam bentuk mudharabah harus dipergunakan oleh bank sentral sebagai instrument kualitatif dan kuantitatif untuk mengendalikan kredit.Public Share of Demand Deposit (Uang giral)
Dalam jumlah tertentu demand deposit bank-bank komersial (maksimum 25%) harus diserahkan kepada pemerintah untuk membiayai proyek-proyek sosial yang menguntungkan.Statutory Reserve Requirement
Bank-bank komersil diharuskan memiliki cadangan wajib dalam jumlah tertentu di Bank Sentral. Statutory reserve requirements membantu memberikan jaminan atas deposit dan sekaligus membantu penyediaan likuiditas yang memadai bagi bank. Sebaliknya, Bank Sentral harus mengganti biaya yang dikeluarkan untuk memobilisasi dana yang dikeluarkan oleh bank-bank komersial ini.
Credit Ceilings (Pembatasan Kredit).
Kebijakan menetapkan batas kredit yang boleh dilakukan oleh bank-bank komersil untuk memberikan jaminan bahwa penciptaan kredit sesuai dengan target moneter dan menciptakan kompetisi yang sehat antar bank komersial.
Alokasi Kredit BerdasarkanNilai
Realisasi kredit harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat .Alokasi kredit mengarah pada optimisasi produksi dan distribusi barang dan jasa yang diperlukan oleh sebagian besar masyarakat.Keuntungan yang diperoleh dari pemberian kredit juga diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat.Untuk itu perlu adanya jaminan kredit yang disepakati oleh pemerintah dan bank-bank komerisal untuk mengurangi risiko dan biaya yang harus ditanggung bank.Teknik Lain
Teknik kualitatif dan kuantitatif diatas harus dilengkapi dengan senjata-senjata lain untuk merealisasikan sasaran yang diperlukan termasuk diantranya moral suasion atau himbauan moral.Dampak Kebijakan Moneter
Anggaplah pemerintah menjalankan atau menerapkan suatu kebijakan moneter ekspansif (expansionary monetary policy), yaitu melalui peningkatan jumlah uang beredar (money supply atau Ms) di dalam perekonomian. Dengan adanya ekspansi moneter tersebut, akan menyebabkan tingkat bunga (i) turun, dan yang pada gilirannya mendorong investasi (I) naik, dan naiknya investasi selanjutnya menyebabkan permintaan agregat (AD) juga mengalami kenaikan. Dalam kerangka model IS-LM, naiknya permintaan agregat (AD) yang disebabkan oleh kenaikan di dalam jumlah uang beredar tadi, akan mendorong kurva LM bergeser ke kanan. Sebagai akibatnya, tingkat bunga (i) akan turun, namun pendapatan (Y) sebaliknya mengalami kenaikan. Dalam kerangka model AS-AD, adanya kenaikan jumlah uang beredar (Ms) yang menyebabkan kurva AD bergeser ke kanan, (dengan kurva AS yang tertentu), telah menyebabkan baik tingkat pendapatan (Y) maupun tingkat harga (P) di dalam perekonomian juga mengalami kenaikan. 
Dengan adanya kenaikan jumlah uang beredar (Ms) dari dari Ms0 menjadi Ms1, telah menyebabkan kurva LM bergeser ke kanan dari LM0 (Ms0) menjadi LM1 (Ms1).    Dengan kurva IS yang tertentu, maka kenaikan di dalam jumlah uang beredar yang menyebabkan kurva LM bergeser ke kanan itu telah mendorong tingkat bunga (1) turun dari l0 menjadi 11, dan pendapatan (Y) akan naik dari Y0 ke Y. 
Pada gambar 9.3.b. tampak bahwa dengan adanya kenaikan di dalam jumlah uang beredar, telah menyebabkan kurva permintaan agregat (AD) bergeser dari AD0 (Ms0) keADl, (Msl), yang selanjutnya mengakibatkan tingkat harga (P) naik dari P0 ke P1,    dan pendapatan (Y) juga naik dari Y0 ke Y1.
Sebaliknya, apabila sekarang pemerintah menjalankan suatu kebijakan moneter kontraktif (contractionary monetary policy) yaitu dengan mengurangi jumlah uang beredar (Ms) di dalam perekonomian, dalam kerangka model AS-AD akan menyebabkan kurva AD bergeser ke kiri. Dengan kurva AS yang tertentu, bergesernya kurva AD ke kiri akan menyebabkan tingkat harga dan pendapatan turun (lihat gambar 9.4a dan 9.4b)

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tidak adanya intrumen-intrumen tradisional untuk membuat kebijakan moneter.Oleh karena itu tidak perlu harus menimbulkan kesulitan-kesulitan serius dalam mengatur kebijakan moneter. Ini untuk mengatakan bahwa dalam sistem ilslam sebagaimana dalam sistem lainnya bekerja sama antara bank sentral dan pemerintah jelas sangat penting kecuali kalau pemerintah bertekat untuk menjadikan stabilitas harga sebagai suatu tujuan kebijakan yang tidak bisa ditawar-tawar. Dan atas dasar itu pula dibuat anggaran belanja maka suatu kebijakan moneter yang efektif kiranya menjadi tidak mungkin.Sekali high power money diatur dari pusat, berbagai penyesuaian karena berubahnya kondisi ekonomi terpaksa harus dilakukan oleh bank sentral sendiri.Suatu kebijakan moneter syari'ah tentunya sangat diperlukan guna mengurangi atau menghilangkan sistem konvensional yang jauh dari syariat agama islam. Bahkan dapat dikatakan kebijakan moneter konvensional itu kharam karena tidak terlepas dari sistem bunga.Saran
Terkait dengan kajian diatas, penulis berharap pemerintah dapat memperhatikan kembali kebijakan moneter yang telah terlaksanakan itu agar secara perlahan dapat beralih kepada sistem kebijakan moneter yang syari'ah.Agar nantinya dapat tercapai perekonomian yang bersih dan diridhai Allah SWT.DAFTAR PUSTAKA
Raharjo Mugi. 2009. Ekonomi Moneter. Surakarta: UNS Press.
Nopirin. 2009. Ekonomi Moneter Buku 1. Yogyakarta: BPEE-Yogyakarta.
Capra M.Umer.1997. Al Quran Menuju Sistem Moneter yang Adil.Yogyakarta:
PT. DANA BHAKTI PRIMA YAS.http://isa7695.wordpress.com/2009/12/17/kebijakan-moneter-konvensional-vs-syariah/Pertanyaan:
Oka (213-11-149)
Bagaimana harga naik pendapatan naik berdasarkan kurva kebijakan moneter ekspansif?Harga naik dikarenakan bergesernya kurva permintaan agregat(AD) ke kanan yang menyebabkan permintaan meningkat dan permintaan meningkat tersebut mendorong penjual untuk menaikkan harga. Dengan begitu, konsumen pun akan menyesuaikan penghasilannya sehingga tingkat pendapatan pun menjadi naik.
Ilmi (213-13-175)
Cara mencegah inflasi dan menjaga kestabilan nilai mata uang?Jawab:
Inflasi tidak dapat dicegah namun dapat diminimalisir dengan solusi sebagai berikut menurut Dr. Husain Syahhatah:
Reformasi terhadap sistem moneter yang ada sekarang dan menghubungkan antara kuantitas uang dengan kuantitas produksi.
Mengarahkan belanja dan melarang terlalu berlebihan, mubazir, dan belanja yang tidak bermanfaat.
Larangan menyimpan atau menimbun harta dan mendorong untuk menginvestasikannya.
Meningkatkan produksi dengan memberikan dorongan terhadap unsur manusia secara moral dan material (Hasan, 2005: 287).
Menjaga kestabilan nilai mata uang:
Untuk dapat mencapai tujuan dalam menjaga kestabilan nilai mata uang, bank sentral diberikan beberapa kewenangan dalam melakukan tugasnya. Tugas pertama adalah merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar atau suku bunga dalam perekonomian agar dapat mendukung pencapaian tujuan kestabilan nilai uang tersebut dan sekaligus mampu mendorong pertumbuhan perekonomian nasional. Tugas kedua adalah mengatur dan melaksanakan sistem pembayaran, yang mencakup sekumpulan kesepakatan, aturan, standar, dan prosedur yang digunakan dalam mengatur peredaran uang antar pihak dalam melakukan kegiatan ekonomi dan keuangan dengan menggunakan instrumen pembayaran yang sah. Tugas ketiga adalah mengatur dan mengawasi perbankan. Peran penting perbankan terutama dalam memobilisasi dana masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit maupun bentuk pembiayaan lainnya untuk dunia usaha.
Toha (213-13-050)
Bagaimana cara menghapus suku bunga?
Jawab:
Dengan mengubah mekanisme keuangan yang semula menganut sistem konvensional diganti dengan manajemen moneter Islam, langkahnya antara lain: pertama, dengan mendorong pemilik modal untuk berinvestasi pada sekoltor riil.
Kedua, adanya mekanisme bagi hasil sehingga akan memberi kesempatan secara bersama-sama untuk menggerakkan roda perekonomian.
Ketiga, dunia usaha relatif stabil, profit share ratio tidak sefluktuatif suku bunga, sehingga tercipta kepastian berusaha.
Keempat, menerapkan sistem profit and loss sharing. Dimana untung dinikmati bersama dan rugi ditanggung bersama (Zuhri,1996:162).


Download Kebijakan Moneter.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Kebijakan Moneter. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon