October 06, 2016

Filsafat truth


Judul: Filsafat truth
Penulis: Wendy's Wendy's


PENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANG
Apakah kriteria kebenaran? Apakah kriteria bahwa suatupernyataan adalah benar?; Suatu pernyataan adalah benar jika sesuaidengan fakta; A criterion of truth is "correspondence with reality."; Iniadalah teori korespondensi. Menurut teori ini, "suatu pernyataan adalahbenar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan ituberkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju olehpernyataan tersebut" (Jujun, 1984: 57). Dalam proses pembuktian secaraempiris (pengumpulan fakta-fakta) untuk mendukung kebenaran suatupernyataanApakah kriteria kebenaran?: Suatu pernyataan adalah benar jikaberhubungan secara logis dengan pernyataan yang lain; Ini adalah teorikoherensi. Menurut teori ini, "suatu pernyataan dianggap benar bilapernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataansebelumnya yang dianggap benar" (Jujun, 1984: 55). Termasuk ke dalamteori ini adalah kebenaran matematika (mathematical truth) dan logikadeduktif (Scruton, 1996: 239)
1.2. RUMUSAN MASALAH
Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang, maka penulismengambil rumusan masalah sebagai berikut :1. Apa yang dimaksud teori tentang kebenaran2. Dari mana asal dan gagasan positivisme logis3. Apa yang dimaksud dengan positivisme didalam ilmu pengetahuan
1.3. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui teori tentang kebenaran2. Mengetahui dan memahami apa itu asal dan gagasan positivisme logis3. Memahami tentang positivisme di dalam ilmu pengetahuan
1.4. METODE PENGUMPULAN DATA
Dalam penyusunan makalah ini, perlu sekali pengumpulan dataserta sejumlah informasi aktual yang sesuai dengan permasalahan yangakan dibahas. Sehubungan dengan masalah tersebut dalam penyusunanmakalah ini, penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data,yang pertama dengan membaca buku sumber, kedua browsing di Internet, ketiga dengan membaca media cetak dan terakhir denganpengetahuan yang penulis miliki.
1.5. SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah ini disusun dengan urutan sebagai berikut :Bab I Pendahuluan
Pada bagian ini dijelaskan tentang latar belakang, rumusanmasalah, tujuan penulisan, metode pengumpulan data, dan sistematikapenulisan.Bab II Tinjauan Pustaka
Pada bagian ini dikemukakan teori-teori yang berkaitan denganpengertian kebenaran serta pengertian positivisme.Bab III Pembahasan
Pada bab ini ditemukan pembahasan yang terdiri dari teori tentangkebenaran, asal dan gagasan positivisme logis, serta positivisme di dalamilmu pengetahuan.
Bab IV Penutup
Bab terakhir ini memuat kesimpulan.Daftar Pustaka
Pada bagian ini berisi referensi-referensi dari berbagai media yangpenulis gunakan untuk pembuatan makalah ini
BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1. PENGERTIAN KEBENARAN
Apakah kriteria kebenaran? Apakah kriteria bahwa suatupernyataan adalah benar?; Suatu pernyataan adalah benar jika sesuaidengan fakta; A criterion of truth is "correspondence with reality."; Iniadalah teori korespondensi. Menurut teori ini, "suatu pernyataan adalahbenar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan ituberkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju olehpernyataan tersebut" (Jujun, 1984: 57). Dalam proses pembuktian secaraempiris (pengumpulan fakta-fakta) untuk mendukung kebenaran suatupernyataanKebenaran (Truth)1. Pernyataan yang benar.Apakah makna "benar" dalam kalimat di atas?2. Contoh pernyataan (statement):Dian belajar filsafat; Buku di atas meja;Ali adalah orang Islam.3. Tanya-jawab.Apakah kamu orang Banjar?; Benar, Saya orang Banjar; Benar bahwaSaya orang Banjar.Bahwa Saya orang Banjar adalah benar.4. Apakah pernyataan yang benar?Jika suatu keadaan memang terjadi, dan kita menyatakannya demikian,maka pernyataan kita adalah benar. Contoh:Pernyataan "Saya orang Banjar" adalah benar jika Saya memang orangBanjar.Pernyataan "Buku di atas meja" adalah benar jika buku memang di atasmeja.5. Apakah pernyataan yang benar?: Pernyataan yang benar adalahpernyataan yang mengungkapkan fakta.Contoh: Rumput adalah hijau; Pernyataan adalah bahasa, sedangkan
fakta adalah keadaan di dunia (di luar bahasa)6. Pertanyaan "Apakah suatu pernyataan adalah benar?" adalah berbedadengan pertanyaan "Bagaimana kita mengetahui bahwa suatupernyataan adalah benar?"Contoh: Cara kita mencari kebenaran "70 + 30 = 100" adalah berbedaDengan cara kita mencari kebenaran bahwa "Buku di atas meja","Semua harimau adalah karnivora" , "Semua mahasiswi IAIN memakai jilbab."Contoh:1. Kebenaran matematika
1 + 11 = 12; 2 + 10 = 12; 3 + 9 = 12; 4 + 8 = 12; 5 + 7 = 12; 6 + 6 = 12
2. Logika deduktif Semua Mahasiswa IAIN beragama IslamJohanes adalah mahasiswa IAINJohanes adalah beragama IslamContoh lain: Semua manusia akan mati. Dian adalah manusia. Jadi,Dian akan mati. (Ada tiga pernyataan: dua pertama adalah premis,satu terkahir adalah kesimpulan)Apakah kriteria kebenaran?: Suatu pernyataan adalah benar jikaberhubungan secara logis dengan pernyataan yang lain; Ini adalah teorikoherensi. Menurut teori ini, "suatu pernyataan dianggap benar bilapernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataansebelumnya yang dianggap benar" (Jujun, 1984: 55). Termasuk ke dalamteori ini adalah kebenaran matematika (mathematical truth) dan logikadeduktif (Scruton, 1996: 239)
2.2. PENGERTIAN POSITIVISME
Teori Positivisme Logikal Positivisme adalah suatu aliran filsafatyang mengalami banyak perubahan mendasar dalam perjalanansejarahnya. Istilah Positivisme pertama kali digunakan oleh Francis Bikenseorang filosof berkebangsaan Inggeris. Ia berkeyakinan bahwa tanpaadanya pra asumsi, komprehensi-komprehensi pikiran dan apriori akaltidak boleh menarik kesimpulan dengan logika murni maka dari itu harus
melakukan observasi atas hukum alam. Istilah ini kemudian jugadigunakan oleh Agust Comte dan dipatok secara mutlak sebagai tahapanpaling akhir sesudah tahapan-tahapan agama dan filsafat. Agust Comteberkeyakinan bahwa makrifat-makrifat manusia melewati tiga tahapansejarah: pertama, tahapan agama dan ketuhanan, pada tahapan ini untukmenjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi hanya berpegang kepadakehendak Tuhan atau Tuhan-Tuhan; tahapan kedua, adalah tahapanfilsafat, yang menjelaskan fenomena-fenomena dengan pemahaman-pemahaman metafisika seperti kausalitas, substansi dan aksiden, esensidan eksistensi; dan adapun Positivisme sebagai tahapan ketiga,menafikan semua bentuk tafsir agama dan tinjauan filsafat serta hanyamengedepankan metode empiris dalam menyingkap fenomena-fenomena.Pada tahun 1930 M, istilah Positivisme berubah lewat kelompok lingkaranWina menjadi Positivisme Logikal, dengan tujuan menghidupkan kembaliprinsip tradisi empiris abad ke 19. Lingkaran Wina menerimapengelompokan proposisi yang dilakukan Hume dengan analitis dansintetis, dan berasaskan ini kebenaran proposisi-proposisi empirisdikategorikan bermakna apabila ditegaskan dengan penyaksian daneksperimen, dan proposisi-proposisi metafisika yang tidak dapatdieksprimenkan maka dikategorikan sebagai tidak bermakna dan tidakmemiliki kebenaran. Kesimpulan pandangan ini adalah agama dan filsafat(proposisi-proposisi agama dan filsafat) ambiguitas dan tidak bermakna,karena menurut kaum positivisme syarat suatu proposisi memiliki maknaadalah harus bersifat analitis, yakni predikat diperoleh dari dzat subyekkemudian dipredikasikan atas subyek itu sendiri dan kebenarannya lahir dari proposisi itu sendiri serta pengingkarannya menyebabkan kontradiksi,atau mesti bersifat empiris, yakni melalui proses observasi danpembuktian Dengan demikian, sebagaimana ungkapan Kornop ? salahseorang anggota dari Lingkaran Wina ? dalam suatu risalah berjudul"Menolak metafisika dengan analisis logikal teologi", kalimat-kalimat yangmengungkapkan perasaan(affective), seperti: alangkah indahnya cuaca!Atau pertanyaan, seperti: Di manakah letak kota Qum? Atau kalimat-kalimat perintah, metafisika dan agama, karena kalimat-kalimat danproposisi-proposisi tersebut tidak melewati proses observasi daneksprimen maka serupa dengan proposisi-proposisi yang tidak benar (bohong) Kaum Positivisme, seiring dengan perjalanan waktu, mengubahpandangannya yang ekstrim dan perlahan-lahan tidak menegaskankemestian pembuktian dan eksperimen dalam menguji kebenaran suatuproposisi dan bahkan eksprimen tidak lagi dijadikan tolok ukur kebenaranproposisi. Mereka menyadari bahwa jika tolok ukur kebenaran (memilikimakna) proposisi-proposisi adalah melewati proses pembuktian daneksperimen, maka sangat banyak proposisi-proposisi empiris yang tidakakan bermakna (tidak benar), karena tidak dapat dibuktikan secara yakin(100%). Mazhab filsafat ini dalam bagian lain mengakui bahwa manusiatidak mampu menyingkap hakikat realitas ? dalam bentuk pembuktian,penegasan, dan bahkan pembatalan ? tetapi hanya sebatas pemuasan
akal. name="_ednref18">[18] Kesimpulan dari semua pandangan kaumPositivisme adalah bahwa proposisi-proposisi agama yang karena tidakmelewati observasi dan eksprimen maka tidak dikategorikan sebagaimakrifat dan pengetahuan yang bermakna (baca: proposisi agama tidakbenar) dan bahasa agama karena tidak dapat dibuktikan kebenarannyasecara eksprimen, maka tidak menjadi makna yang dapat diperhitungkan.
BAB III KEBENARAN ILMU MENURUT PANDANGAN POSITIVISME
3.1. TEORI TENTENG KEBENARAN
Teori Tentang Kebenaran Beberapa teori telah dilahirkan untukmencoba mendekati arti dari kebenaran yang dimaksud. Beberapa teoriitu adalah:A.Teori Korespondensi :"Kebenaran/keadaan benar itu berupa kesesuaian antara arti yangdimaksud oleh sebuah pendapat dengan apa yang sungguh merupakanhalnya/faktanya" (L. O. Kattsoff)Jadi berdasarkan teori korespondensi ini, kebenaran/keadaanbenar itu dapat dinilai dengan membandingkan antara preposisi denganfakta atau kenyataan yang berhubungan dengan preposisi tersebut. Biladiantara keduanya terdapat kesesuaian (korespondence), maka preposisitersebut dapat dikatakan memenuhi standar kebenaran/keadaan benar.B. Teori Konsistensi :"Kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgement)dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta dan realitas, tetapi atas hubunganantara putusan-putusan itu sendiri " (A.C. awing, The FundamentalQuestion of Philosophy).Teori konsistensi melepaskan hubungan antara putusan denganfakta dan realitas, tetapi mencari kaitan antara satu putusan denganputusan yang lainnya, yang telah ada lebih dulu dan diakui kebenarannya.Kebenaran menurut teori konsistensi bukan dibuktikan denganfakta/realitas, tetapi dengan membandingkannya dengan putusan yangtelah ada sebelumnya dan dianggap benar. Bila sebuah putusanmengatakan bahwa Mahatma adalah ayah Rajiv, dan putusan keduamengatakan bahwa Rajiv memiliki anak bernama Sonia, maka sebuahputusan baru yang mengatakan Sonia adalah cucu Mahatma dapatdikatakan benar, dan putusan tersebut adalah sebuah kebenaran.C. Teori Pragmatis :"Suatu preposisi adalah benar sepanjang preposisi tersebut berlaku(works), atau memuaskan (satisfied); berlaku dan memuaskannya itudiuraikan dengan berbagai ragam oleh para penganut teori tersebut
" (Charles S. Baylin).Menurut teori pragmatis, "kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalamkehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jikapernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyaikegunaan praktis bagi kehidupan manusia" (Jujun, 1984: 58-9). Dalampendidikan, misalnya di IAIN, prinsip kepraktisan (practicality) telahmempengaruhi jumlah mahasiswa pada masing-masing fakultas. Tarbiyahlebih disukai, karena pasar kerjanya lebih luas daripada fakultas lainnya.Mengenai kebenaran tentang "Adanya Tuhan" atau menjawab pertanyaan"Does God exist ?", para penganut paham pragmatis tidakmempersoalkan apakah Tuhan memang ada baik dalam ralitas atau idea(whether really or ideally). Yang menjadi perhatian mereka adalah maknapraktis atau dalam ungkapan William James " ….they have a definitemeaning for our ptactice. We act as if there were a God" (James, 1982:51-55). Teori pragmatis meninggalkan semua fakta, realitas maupunputusan/hukum yang telah ada. Satu-satunya yang dijadikan acuan bagikaum pragmatis ini untuk menyebut sesuatu sebagai kebenaran ialah jikasesuatu itu bermanfaat atau memuaskan.Sedangkan teori kebenaran menurut pandangan positiveme,Positivisme Logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirismerasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasaldari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapatbahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafatharus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakahsebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti samasekali.Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minatkuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agamadan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmupengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan faktayang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori pahamrealisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.Kebenaran menurut pandangan positivisme menyatakan bahwasebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jikapernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi daripendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikansecara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalahkeindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalambidang metafisika.Di dalam filsafat, positivisme sangatlah dekat dengan empirisme,yakni paham yang berpendapat bahwa sumber utama pengetahuanmanusia adalah pengalaman inderawi. Artinya, manusia tidak bisamengetahui sesuatu apapun, jika ia tidak mengalaminya terlebih dahulusecara inderawi. Yang menjadi ciri khas dari positivisme adalah, peranpenting metodologi di dalam mencapai pengetahuan. dilihat dari Di dalam " (Charles S. Baylin).Menurut teori pragmatis, "kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalamkehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jikapernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyaikegunaan praktis bagi kehidupan manusia" (Jujun, 1984: 58-9). Dalampendidikan, misalnya di IAIN, prinsip kepraktisan (practicality) telahmempengaruhi jumlah mahasiswa pada masing-masing fakultas. Tarbiyahlebih disukai, karena pasar kerjanya lebih luas daripada fakultas lainnya.Mengenai kebenaran tentang "Adanya Tuhan" atau menjawab pertanyaan"Does God exist ?", para penganut paham pragmatis tidakmempersoalkan apakah Tuhan memang ada baik dalam ralitas atau idea(whether really or ideally). Yang menjadi perhatian mereka adalah maknapraktis atau dalam ungkapan William James " ….they have a definitemeaning for our ptactice. We act as if there were a God" (James, 1982:51-55). Teori pragmatis meninggalkan semua fakta, realitas maupunputusan/hukum yang telah ada. Satu-satunya yang dijadikan acuan bagikaum pragmatis ini untuk menyebut sesuatu sebagai kebenaran ialah jikasesuatu itu bermanfaat atau memuaskan.Sedangkan teori kebenaran menurut pandangan positiveme,Positivisme Logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirismerasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasaldari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapatbahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafatharus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakahsebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti samasekali.Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minatkuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agamadan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmupengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan faktayang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori pahamrealisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.Kebenaran menurut pandangan positivisme menyatakan bahwasebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jikapernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi daripendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikansecara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalahkeindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalambidang metafisika.Di dalam filsafat, positivisme sangatlah dekat dengan empirisme,yakni paham yang berpendapat bahwa sumber utama pengetahuanmanusia adalah pengalaman inderawi. Artinya, manusia tidak bisamengetahui sesuatu apapun, jika ia tidak mengalaminya terlebih dahulusecara inderawi. Yang menjadi ciri khas dari positivisme adalah, peranpenting metodologi di dalam mencapai pengetahuan. dilihat dari Di dalam
kebenaran tentang alam dan Tuhan. Dari proses tersebut lahirlahpengetahuan, teknologi, kepercayaan (atau mungkin agama ??)Lalu apakah kebenaran itu ? atau apakah atau keadaan yangbagaimanakah yang dapat disebut benar ?Sulit untuk mengatakan apakah ketiga teori tentang kebenarantersebut diatas adalah bertentangan atau saling melengkapi. Namun yangpasti, seharusnya kebenaran tidaklah menjadi klaim salah satu golongansaja. Sebagaimana Harold H. Titus mengatakan "The way of knowledgemay be many rather then one ". Proses berfikir tidak boleh berhenti padasatu hal yang kelihatannya sudah pantas untuk diyakini, karena ketikakeyakinan akan suatu obyek mulai tumbuh, maka seiring dengan ituproses berfikir tentang obyek tersebutpun akan berhenti. Keyakinanadalah penjara kebebasan berfikir, dan tulisan inipun dibuat agar pembacaterus berfikir.Marxis, dalam sebuah penjelasannya mengungkapkan "apabilasensasi kita, persepsi kita, konsep dan teori kita bersesuaian denganrealitas obyektif, apabila itu semua mencerminkannya dengan cermat,maka kita katakan semua itu benar; pernyataan, putusan dan teori yangbenar kita sebut kebenaran".
3.1.1. AGAMA
Apakah agama dapat dikatakan sebuah kebenaran ? Ataukahagama adalah suatu bentuk terakhir yang bisa diwujudkan manusia ataskegagalannya mendefinisikan sesuatu?Golongan atheis menuduhkan pernyataan yang kedua bagi agama-agama. Sementara disisi lain, kebenaran agamapun masih menjadi klaimdan rebutan masing-masing pemeluknya. Masih sering terdengar ungkapan kesombongan dari pemeluk suatu agama bahwa agamanyaadalah yang terbaik dan paling benar, yang ia sendiri lupa bahwaseharusnya kebenaran tersebut hanyalah menjadi milik Tuhan yang iapuja. Bahkan ada kesengajaan secara sistemik mengajarkan kepadapemeluknya tentang perbedaan agama-agama. Ada yang disebut agamalangit (samawi) dan ada agama bumi. Agama samawi adalah agama yangdiwahyukan oleh Tuhan (tentu saja dengan penjelasan lebih lanjut bahwasatu-satunya agama samawi adalah agama yang mereka anut).Sedangkan agama bumi adalah agama yang dilahirkan oleh cita-karsaatau kebudayaan manusia.....dan menjadi sangat memprihatinkan ketikafaham tersebut akhirnya menghegemoni pemeluknya sampaimenghilangkan sisi logika yang seharusnya menjadi ciri khas setiapmanusia. Inilah yang penulis maksud diatas, keyakianan adalah penjarakebebasan fikiran sebagai sesuatu hal yang berbahaya.Bila kemudian kita mencoba menoleh pada berbagai teori kebenarandiatas, hal manakah yang bisa disebut kebenaran ? Sulit mencari  
korespondensi antara pernyataan dalam ayat-ayat suci dengan fakta danrealitas, sebab akan selalu saja ada hal yang sulit dijelaskan dengan faktatetapi harus diyakini, meskipun tidak selamanya demikian. Itulah salahsatu prinsip theologi yang tak bisa dihindarkan. Sementara ketika kitamencoba menerapkan teori kebenaran konsistensi, menjadi sangat sulitkarena putusan sebelumnya akan selalu dapat diragukan/dibantah,sehingga tidak dapat menjadi acuan yang cukup untuk membuahkanputusan-putusan baru. Putusan-putusan sebelumnya juga berupa konseptheologi.Mungkin yang paling menarik adalah teori pragmatis. Kelihatannyadengan teori yang cukup radikal ini (berani membuang fakta, realitas danputusan sebelumnya) kita dapat menemukan sesuatu yang sedikitmemuaskan (satisfies); "Suatu preposisi adalah benar sepanjangpreposisi tersebut berlaku (works), atau memuaskan (satisfied); berlakudan memuaskannya itu diuraikan dengan berbagai ragam oleh parapenganut teori tersebut " Pertanyaannya sekarang, apakah kita merasaagama yang kita anut berguna atau memuaskan buat kita? (tentu sajapenilaian ini menjadi sangat subjektif). Bila jawabannya ya, maka agamatersebut adalah sebuah kebenaran, namun sebaliknya jika jawabannyatidak, maka agama yang kita anut bukanlah kebenaran. Nah ....!Kedengarannya sebuah pernyataan yang terlalu prematur danmengada-ada. Namun sekali lagi, tulisan ini hanya dibuat dengan asumsibahwa yang membacanya pastilah manusia, yang menurut uraianberbagai ahli dibagian awal tulisan ini disebut sebagai mahluk yang selaluberfikir, bertanya dan berusaha untuk mencari kebenaran. Termasukmencari makna benar dari kebenaran itu sendiri. Apakah kita sudahmenyadari hakikat diri kita sendiri, kerendah-hatian ataupun kesombongankita ? Maka teruslah berfikir, tanpa harus menghilangkan keyakinan-keyakinan yang sudah ada. Hanya berfikir jernih terhadap sesuatu yangtelah diyakini bukanlah sesuatu yang tabu apalagi dosa. Semoga kitamasih menjadi manusia yang tak segan untuk berfikir dan bertanya.Manusia hanya berhak berteori dan berusaha mencari, tapi sesungguhnyaapakah, dimanakah dan milik siapakah kebenaran tersebut?Mazhab Positivisme mendapatkan kritikan dan sanggahan yangberat dari pendukung-pendukungnya sendiri, seperti Wittgenstein danPoper, dibawah ini akan diungkapkan sebagian dari kritikan-kritikanmereka: Teori evolusi dan tiga tahapan dari Agust Comte sama sekali tidakmemiliki bukti sejarah yang otentik dan argumen keilmuan yang akurat,landasan ketidakbenaran teori tersebut adalah karena menghubungkantahapan-tahapan sejarah dari sistem masyarakat Eropa pada zaman itudan kemudian menggeneralisasikan pada seluruh tahapan sejarah dunia.Di samping itu, dalam filsafat ilmu kontemporer para ilmuwan telahmembahas dan mengkaji tentang kebutuhan ilmu terhadap filsafat danpengaruh metafisika terhadap teori-teori ilmu.Demikian pula asas Positivisme tentang tolok ukur kebenaranproposisi yang menetapkan bahwa proposisi hanya memiliki makna (kebenaran) apabila dapat dieksperimenkan dan diobservasi. Danproposisi-proposisi yang non-empiris dikatakan tidak bermaknasebenarnya tidak berangkat dari asas analisis dan tautologi (kebenarantampak dari dirinya sendiri) dan juga bukan berdasarkan sintetis yangdapat dibuktikan dengan penyaksian dan eksperimen. Kaum Positivismememandang bahwa seluruh proposisi-proposisi metafisika tidakbermakna; padahal sebagian dari proposisi tersebut bersifat analitik,seperti: setiap akibat membutuhkan sebab; sedangkan menurut merekaproposisi-proposisi analitik adalah bermakna. Menurut mazhab ini, secaraprinsipil proposisi-proposisi agama tidak sampai pada tahapan yang benar dan bohong, oleh karena itu, penegasian benar dan bohong daripendukung mazhab ini yang dinisbahkan terhadap proposisi-proposisiagama adalah tidak bermakna. Kritikan kita yang paling mendasar terhadap Positivisme adalah menyangkut masalah-masalah yang prinsipildan berasas. Di samping kita mengakui kebenaran metode empiris jugamemandang sah metode logikal dan rasional dalam meraih makrifat. Kitamemandang benar semua metode logikal, rasional, syuhudi, naqli (tekssuci) dan sejarah. Setelah kami menampilkan dua bentuk pendekatan danteori terhadap bahasa agama yang terdapat dalam teologi dan filsafatKristen dan Barat, untuk tidak larut dalam pembahasan yangberkepanjangan, maka kami cukupkan pengenalan terhadapnya denganmenggunakan dua pendekatan dan teori tersebut. Kendatipun padahakikatnya pembahasan bahasa agama yang ada pada teologi dan filsafatKristen dan Barat ini adalah jauh lebih luas serta sangat kompleks (masihterdapat berbagai aliran dan pandangan, seperti teori analitik bahasa, teorisimbolik, teori permainan bahasa (language game) dan?), bahkan bolehdikatakan bahwa hingga sekarang ini, pembahasan tersebut belum tuntasdan masih belum ditemukan pemecahannya yang akurat yang bebas dariberbagai kelemahan dan kritikan. Adapun dalam teologi dan filsafat Islammeskipun pembahasan ini tidak begitu luas dan tidak terdapat berbagaialiran dan pandangan, akan tetapi berkat kemurnian dan keorisinalanajaran Islam (kitab suci al-Qur'an) serta ilham dan petunjuk yangdidapatkan oleh para teolog dan filosof Islam dari kitab suci tersebutsehingga menyebabkan pandangan dan pemikiran mereka dalammasalah ini mengarah pada kesatuan dan keselarasan universal(misalnya mereka berpandangan bahwa proposisi-proposisi agamaadalah bermakna), walaupun masih terdapat perbedaan secara partikular,misalnya perdebatan tentang sifat-sifat Tuhan dan sifat-sifat makhluk-Nyaapakah bersifat homonim atau univokal.Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lainMoritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper,meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salahsatu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini
3.2. ASAL DAN GAGASAN POSITIVISME LOGIS
Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minatkuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agamadan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmupengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan faktayang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori pahamrealisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.Salah satu teori Positivisme Logis yang paling dikenal antara lainteori tentang makna yang dapat dibuktikan, yang menyatakan bahwasebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jikapernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi daripendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikansecara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalahkeindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalambidang metafisika.
3.2.1. KRITIK
Para pengkritik Positivisme Logis berpendapat bahwa landasandasar yang digunakan oleh Positivisme Logis sendiri tidak dinyatakandalam bentuk yang konsisten. Misalnya, prinsip tentang teori tentangmakna yang dapat dibuktikan seperti yang dinyatakan di atas itu sendiritidak dapat dibuktikan secara empiris. Masalah lain yang muncul adalahdalam hal pembuktian teori. Masalah yang dinyatakan dalam bentukeksistensi positif (misalnya: ada burung berwarna hitam) atau dalambentuk universal negatif (misalnya: tidak semua burung berwarna hitam)mungkin akan mudah dibuktikan kebenarannya, namun masalah yangdinyatakan sebaliknya, yaitu dalam bentuk eksistensi negatif (misalnya:tidak ada burung yang berwarna hitam) atau universal positif (misalnya:semua burung berwarna hitam) akan sulit atau bahkan tidak mungkindibuktikan.Karl Popper, salah satu kritikus Positivisme Logis yang terkenal,menulis buku berjudul Logik der Forschung (Logika Penemuan Ilmiah)pada tahun 1934. Di buku ini dia menyajikan alternatif dari teori syaratpembuktian makna, yaitu dengan membuat pernyataan ilmiah dalambentuk yang dapat dipersangkalkan (falsifiability). Pertama, topik yangdibahas Popper bukanlah tentang membedakan antara pernyataan yangbermakna dan yang tidak, namun untuk membedakan antara pernyataanyang ilmiah dari pernyataan yang bersifat metafisik. Menurutnya,pernyataan metafisik tidaklah harus tidak bermakna apa-apa, dan sebuahpernyataan yang bersifat metafisik pada satu masa, karena pada saattersebut belum ditemukan metode penyangkalannya, belum tentu akanselamanya bersifat metafisik. Sebagai contoh, psikoanalisis pada jamanitu tidak memiliki metode penyangkalannya, sehingga tidak dapatdigolongkan sebagai ilmiah, namun jika suatu saat nanti berkembang
menjadi sesuatu yang dapat dibuktikan melalui penyangkalan, maka akandapat digolongkan sebagai ilmiah.
3.3. POSITIVISME DI DALAM ILMU PENGETAHUAN
Buku Mikhael Dua ini tampaknya lebih mau menanggapi isupertama, yakni suatu refleksi terhadap logika internal ilmu pengetahuan.Oleh karena itu, seluruh buku ini bisa dilihat sebagai pembongkaraninternal analitis terhadap paradigma posivitisme yang, terutama diIndonesia, tampaknya masih melekat di dalam asumsi dasar para ilmuwankita.Apa itu positivisme? Di dalam filsafat, positivisme sangatlah dekatdengan empirisme, yakni paham yang berpendapat bahwa sumber utamapengetahuan manusia adalah pengalaman inderawi. Artinya, manusiatidak bisa mengetahui sesuatu apapun, jika ia tidak mengalaminya terlebihdahulu secara inderawi.Yang menjadi ciri khas dari positivisme adalah, peran pentingmetodologi di dalam mencapai pengetahuan. Di dalam positivisme, validtidaknya suatu pengetahuan dilihat dari validitas metodenya.Dengan demikian, pengetahuan manusia, dan juga mungkinkebenaran itu sendiri, diganti posisinya oleh metodologi yang berbasiskandata yang juga diklaim obyektif murni dan universal. Dan, satu-satunyametodologi yang diakui oleh para pemikir positivisme adalah metode ilmu-ilmu alam yang mengklaim mampu mencapai obyektifitas murni danbersifat universal. Metode-metode lain di luar metode ilmu-ilmu alam inipun dianggap tidak memadai.
3.3.1. KRITIK TERHADAP POSITIVISME
Yang juga dikritik oleh Mikhael Dua adalah suatu aliran filsafat yangdisebut sebagai positivisme logis, atau juga disebut sebagai positivismemodern, yakni suatu aliran pemikiran yang berpendapat bahwa "tugasutama filsafat adalah berpikir secara positivistis dan memandang tugasnyauntuk membangun suatu analisis logis atas pernyataan-pernyataan ilmupengetahuan empiris" (hal. 31).Di dalam seluruh pemaparannya, Mikhael Dua tampak selalu'bertegangan' dengan paradigma positivisme ini, baik secara jelas maupunsecara implisit. Dengan menggunakan berbagai teori di dalam filsafat ilmupengetahuan yang telah dikembangkan para pemikir, seperti Karl Popper dengan teori falsifikasinya (hal. 51-80), Hempel (hal. 83-105), ThomasKuhn (hal. 109-137), dan beberapa pemikir lainnya, Mikhael Dua tampakmenabuh genderang perang terhadap positivisme!Lalu, apa implikasi dari refleksi ini bagi kehidupan manusia secarakeseluruhan? Setidaknya, ada dua. Yang pertama, kritik terhadappositivisme logis maupun positivisme klasik hendak menyelamatkan manusia dari reduksi pengetahuan tentang dunianya ke dalam data-dataempiris dan analisis-analisis logis semata, sekaligus memberi ruang untukpengetahuan yang secara dialektis mampu mencakup keseluruhan (hal.226).Yang kedua, refleksi yang dilakukan Mikhael Dua ini juga dapatmembantu kita untuk menempatkan kembali ilmu pengetahuan di dalamtotalitas kehidupan manusia yang pada hakekatnya bersifat dialektis."Tidak ada sebuah teori", demikian tulisnya, "yang berdiri sendiri tanpadilihat dalam kerangka dialektis tersebut… dengan teori-teori yang lain."(hal. 240)Bagaimanapun, ilmu pengetahuan adalah bagian dari totalitaskehidupan manusia, dan oleh karenanya juga tidak luput dari cacat-cacatyang pada akhirnya bisa menghancurkan manusia itu sendiri. Refleksimetodologis terhadap ilmu pengetahuan sangatlah perlu, sehingga kitabisa secara kritis menanggapi berbagai isu –isu yang tentang ilmupengetahuan yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat, mulai darivaliditas suatu teori ilmiah, sampai dampak ilmu pengetahuan bagitotalitas kehidupan manusia
manusia dari reduksi pengetahuan tentang dunianya ke dalam data-dataempiris dan analisis-analisis logis semata, sekaligus memberi ruang untukpengetahuan yang secara dialektis mampu mencakup keseluruhan (hal.226).Yang kedua, refleksi yang dilakukan Mikhael Dua ini juga dapatmembantu kita untuk menempatkan kembali ilmu pengetahuan di dalamtotalitas kehidupan manusia yang pada hakekatnya bersifat dialektis."Tidak ada sebuah teori", demikian tulisnya, "yang berdiri sendiri tanpadilihat dalam kerangka dialektis tersebut… dengan teori-teori yang lain."(hal. 240)Bagaimanapun, ilmu pengetahuan adalah bagian dari totalitaskehidupan manusia, dan oleh karenanya juga tidak luput dari cacat-cacatyang pada akhirnya bisa menghancurkan manusia itu sendiri. Refleksimetodologis terhadap ilmu pengetahuan sangatlah perlu, sehingga kitabisa secara kritis menanggapi berbagai isu –isu yang tentang ilmupengetahuan yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat, mulai darivaliditas suatu teori ilmiah, sampai dampak ilmu pengetahuan bagitotalitas kehidupan manusia
DAFTAR PUSTAKA
Suriasumantri, Junjun S. 2003.
 Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer 
, Jakarta:Pustaka Sinar Harapan http//www.wikipedia.com 2008 http//www.google.co.id 2008


Download Filsafat truth.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Filsafat truth. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon