September 02, 2016

Tugas Akuntansi Pasar modal


Judul: Tugas Akuntansi Pasar modal
Penulis: B. Kasthalisti


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan (pada saat jatuh tempo) kepada pihak pembeli obligasi tersebut.
Investasi pada obligasi akan memberikan keuntungan tertentu bagi pemegangnya yang dapat berupa pendapatan bunga tetap (coupon) serta peningkatan harga ke depan (capital gain). Bunga atau coupon merupakan pendapatan yang diperoleh pemegang obligasi yang periode pembayarannya dapat berbeda–beda, ada yang tiga bulan sekali, enam bulan sekali, atau sekali dalam setahun.
Emiten dapat berupa sebuah perusahaan/corporat, Badan usaha milik negara, pemerintah (pusat/daerah) serta pemerintah asing. Sedangkan investor dapat berupa perusahaan asuransi, dana pensiun, investment company, perusahaan/corporat lain, serta perorangan/individu. Sebagai informasi tambahan, obligasi pemerintah yang telah banyak beredar seperti: Surat Utang Negara (SUN), Obligasi Ritel Indonesia (ORI).
Penerbitan obligasi merupakan suatu cara untuk memotong biaya intermediasi keuangan. Sebagai illustrasi, apabila tingkat bunga deposito 9% dan perusahaan meminjam dari bank, perusahaan mungkin harus membayar bunga 15%per tahun. Apabila perusahaan dapat menerbitkan obligasi dengan coupon rate sebesar 11% dan terjual pada harga nominal, maka perusahaan dapat menghemat biaya dana (cost fo funds) sebesar 4% dikurangi biaya emisi dan administrasi lainnya. Bagi masyarakat/investor juga memperoleh manfaat karena memperoleh keuntungan sebesar 11% per tahun yang lebih tinggi dari tingkat deposito perbankan dengan resiko yang relatif sama antara perbankan dan emiten (Husnan, 2005).
Pertimbangan yang mendasari perusahaan–perusahaaan publik atau institusi pemerintah menerbitkan obligasi sebagai alternative pembiayaan jangka menengah dan panjang (ekspansi usaha, pembelian mesin baru, investasi baru atau membiayai project- project infrastuktur pembangunan) adalah karena tingkat bunga obligasi lebih rendah daripada tingkat bunga pinjaman bank. Pada sisi investor juga diuntungkan karena dapat memberikan tingkat return yang lebih tinggi dari deposito.
Brigham (1996) mengatakan bahwa terdapat beberapa keuntungan bagi perusahaan dalam menggunakan hutang jangka panjang/obligasi yaitu: biaya modal setelah pajak menjadi lebih rendah, coupon yang dibayarkan merupakan pengurang pajak perusahaan (tax deductable), dengan financial leverage dimungkinkan laba per lembar saham akan meningkat , kontrol terhadap perusahaan oleh para pemegang saham tidak mengalami perubahan.
Adanya kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia saat ini yang ingin menerapkan API (Arsitektur Perbankan Indonesia) yang visinya: menciptakan system perbankan yang sehat, kuat dan efisient guna memulihkan citra perbankan baik di dalam negeri maupun dunia internasional. Dengan adanya program perbaikan di sektor keuangan ini menjadikan bunga deposito dan kredit menjadi rendah yang selanjutnya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada saat yang sama bunga deposito yang rendah dan pengenaan pajak atas bunga deposito sebesar 15% merupakan stimulus bagi emiten yang membutuhkan dana untuk menerbitkan obligasi sebagai alternatif diversifikasi pembiayaan selain emisi saham dan utang. Diijinkannya pemodal asing untuk membeli saham dan obligasi yang terdaftar di BEJ/BES akan menambah supply dana jangka panjang. Karena bagaimanapun juga perkembangan pasar modal (saham, obligasi) hanya dapat terjadi dengan baik jika supply dana (investor) dan demand dana (emiten) akan dana jangka panjang tersedia dengan baik.
Besar kecilnya perubahan harga obligasi selain ditentukan oleh faktor faktor tersebut diatas juga dipengaruhi oleh karakteristik yang melekat pada obligasi itu sendiri seperti coupon rate, bond rating dan maturity-nya. S.Husnan (2005) mengatakan bahwa obligasi dengan coupon rate yang besar mengalami perubahan harga yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang bercoupon rate rendah. Lebih lanjut dikatakan bahwa obligasi dengan maturity/duration yang lebih lama akan mengalami perubahan harga yang lebih besar dibandingkan dengan obligasi dengan maturity/duration yang lebih pendek. Sebelum ditawarkan suatu obligasi biasanya dibuat peringkatnya oleh suatu lembaga pemeringkat sebagai pernyataan informatif mengenai credibilitas emiten, credit risk, probabilitas defaultnya yaitu kemampuan membayar bunga kupon dan nilai prinsipal tetap waktu. Peringkat suatu obligasi tidak hanya mengindikasikan kemampuan sebuah emiten untuk membayar bunga dan nilai principal tepat waktu tetapi juga merupakan suatu gambaran akan kinerja/prospek emiten. Emiten obligasi berperingkat tinggi tidak perlu menawarkan coupon rate yang tinggi karena kredibilitas yang mereka miliki merupakan bagian dari penjualan mereka. Tetapi para emiten berperingkat rendah harus menawarkan bunga tinggi agar obligasinya diminati investor. Jadi secara umum dapat dikatakan semakin tinggi peringkat suatu obligasi, coupon ratenya cenderung semakin rendah dan sebaliknya (Dana dan Investasi ,1997).
Pembahasan mengenai faktor faktor yang mempengaruhi perubahan harga suatu obligasi akan dibahas lebih lanjut dalam penelitian ini . Agar lingkup bahasan tidak meluas dan karena keterbatasan waktu yang diberikan , kami membatasi penelitian ini sebatas pada beberapa faktor terkait pada pengaruh perubahan harga suatu obligasi yaitu tingkat inflasi, tingkat suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi.
1.2.Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dan pembatasan penelitian terhadap faktor faktor yang mempengaruhi harga suatu obligasi, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah tingkat inflasi berpengaruh terhadap perubahan harga obligasi ?
2. Apakah tingkat suku bunga berpengaruh terhadap perubahan harga obligasi ?
3. Apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap perubahan harga obligasi ?
4. Apakah kenaikan harga BBM berpengaruh terhadap perubahan harga obligasi ?
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1Pengertian dan Definisi Obligasi.
2.1.1Pengertian Obligasi
Banyak jenis securitas yang diperdagangkan di pasar modal tetapi yang paling umum adalah saham dan obligasi . Obligasi merupakan surat tanda hutang jangka panjang yang diterbitkan oleh pemerintah, BUMN maupun korporasi. Dengan membeli obligasi, pemilik berhak mendapatkan coupon yang dibayarkan setiap periode tertentu dan menerima pembayaran nilai nominalnya pada saat obligasi tersebut jatuh tempo. Selama berjalannya waktu, harga obligasi bisa naik atau bisa pula turun. Jadi meskipun penghasilan dalam bentuk bunga bersifat tetap tetapi kalau pemodal ingin menjual obligasi tersebut sebelum jatuh tempo, ada kemungkinan dia akan menerima harga yang lebih tinggi(lebih rendah) dengan harga pada saat pembeliannya. Hal inilah yang disebut dengan keuntungan(kerugian) yang diperoleh dari selisih harga atau capital gain/(loss). Karena pemegang obligasi merupakan kreditur, maka mereka tidak akan mendapatkan tambahan pendapatan jika laba perusahaan meningkat.Oleh karena itu investasi pada obligasi sering juga disebut investasi FIS (fixed income securities). Sedangkan kalau pemodal membeli saham berarti mereka membeli prospek atau turut memiliki perusahaan sesuai dengan porsi sahamnya. Kalau kondisi ekonomi secara keseluruhan membaik(memburuk) dan prospek perusahaan membaik(memburuk) maka harga saham akan naik(turun) sehingga akan memperoleh keuntungan(kerugian) dari selisih harga atau capital capital gain/(loss). Setiap tahun perusahaan yang go public selalu mengadakan RUPS untuk menjelaskan kepada investor mengenai kinerja dan prospek perusahaan. Salah satu agenda yang biasa yang dibicarakan adalah memutuskan besarnya deviden pay-out ratio yang akan menentukan besarnya deviden per lembar saham yang akan dibayarkan kepada investor. Deviden per lembar saham bisa lebih besar, lebih kecil dari tahun sebelumnya atau tidak membagikan deviden sama sekali. Sekali lagi hal ini tergantung pada kinerja dan prospek perusahaan, rencana mangement, perbaikan modal kerja/struktur hutang, serta adanya kesempatan investasi lainnya. Dipandang dari segi kepastian, deviden dan capital gain/loss yang diperoleh dari saham lebih beresiko karena sifat saham itu sendiri yang berupa sertifikat kepemilikan dimana pemilik saham ikut menaggung resiko jika kinerja perusahaan menurun dan memperoleh return yang lebih besar jika kinerjanya membaik.
2.1.2Definisi Obligasi
Obligasi adalah surat pengakuan hutang suatu perusahaan yang akan dibayar pada waktu jatuh tempo sebesar nilai nominalnya. Penghasilan yang diperoleh dari obligasi berupa tingkat bunga yang akan dibayarkan oleh perusahaan penerbit obligasi tersebut pada saat jatuh tempo.
Obligasi perusahaan merupakan sekuritas yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang menjanjikan kepada pemegangnya pembayaran sejumlah uang tetap pada suatu tanggal jatuh tempo di masa mendatang disertai dengan pembayaran bunga secara periodik.
Menurut Sapto Rahardjo, obligasi merupakan surat utang jangka menengah atau panjang yang diterbitkan oleh pihak penerbit (perusahaan atau pemerintah) dengan memberi imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut
2.2Karakteristik Umum Obligasi.
Tandelilin.(2001) mengatakan secara umum karakteristik yang melekat pada obligasi dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut :
Nilai intrinsik.
Nilai teoristis dari suatu obligasi. Nilai intrinsik ini akan berubah seiring dengan berjalannnya waktu, besarnya coupon rate, dan nilai nominalnya.\
Nilai intrinsik = f (coupon rate, nilai nominal, waktu).
Kupon yaitu besarnya pendapatan bunga tetap secara periodik yang diperoleh oleh pemilik obligasi selama umur obligasi. Nilai par yaitu harga pokok obligasi yang ditentukan emiten pada saat obligasi tersebut ditawarkan kepada investor (harga nominal). Maturity yaitu suatu rentang waktu sejak emisi sampai pelunasan nilai nominalnya.
Tipe penerbitannya
Ada tidaknya jaminan(colateral) dan urutan klaim yang berbeda-beda. Emiten dapat menerbitkan obligasi dengan jaminan asset riil dan asset financial tertentu yang dimilikinya atau tanpa jaminan jika emiten tersebut sudah memiliki kredibilitas yang baik Emiten juga dapat menerbitkan obligasi dengan urutan klaim yang berbeda-beda. Obligasi senior yaitu obligasi yang memberikan hak prioritas pertama atas klaim asset perusahaan ketika terjadi permasalahan likuiditas. Obligasi subordinat/junior yang memberikan hak kepada pemiliknya setelah klaim obligasi senior terpenuhi.
Call provision
Hak emiten untuk melunasi obligasi sebelum jatuh tempo.Fenomena ini biasanya terjadi jika ada penurunan tingkat suku bunga (r < coupon rate) yang menyebabkan harga obligasi naik melebihi harga nominalnya. Sebagai insentif untuk pemiliknya, call price ditentukan sebesar nilai nominal + call premium. Biasanya terdapat pada obligasi konversi dan obligasi yang disertai dengan warran.
Bond Indenture
Document legal yang berisi hak-hak bond holder dan emiten yang biasanya berisi maturity, besarnya coupon/bunga danjadwal pembayarannya.
2.3Jenis-Jenis Obligasi.
Menurut Tandelilin (2001) dalam prakteknya terdapat berbagai jenis obligasi yang diperdagangkan di pasar yang masing-masing memiliki karakter tersendiri seperti berikut:
Fixed rate bond.
Obligasi yang menawarkan bunga tetap selama jangka waktu obligasi tersebut (biasanya 5-10 tahun). Bunga yang dibayarkan mungkin setiap semester atau setiap tahun.
Floating rates bond.
Jenis kedua obligasi yang menawarkan suku bunga mengambang, biasanya dikombinasikan dengan suku bunga tetap (fixed rates) dimana coupon rate ditawarkan sebesar suku bunga deposito perbankan ditambah dengan prosentase tertentu.
Zero coupon bond/discount bond.
Obligasi dengan tingkat bunga nol/ tidak memberikan pembayaran bunga. Obligasi jenis ini biasanya dijual dengan diskon(dibawah harga nominalnya) pada awal periode kemudian dilunasi penuh sesuai dengan nilai nominalnya pada akhir periode.
Convertible bond.
Obligasi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk mengkonversikannya dengan sejumlah saham pada harga yang telah ditetapkan (exercise price) sehingga pemegangnya memperoleh capital gain karena obligasi ini memberikan coupon rate yang lebih rendah dari obligasi biasa.Hampir sama dengan warran bond.
Callable dan Putable bond.
Callable bond adalah obligasi yang memberikan hak kepada emitennya untuk melunasi obligasi tersebut sebelum jatuh tempo pada harga call (lebih tinggi dari harga par yang telah ditetapkan. Biasanya dilakukan jika terjadi penurunan suku bunga yang menyebabkan kenaikan harga obligasi. Sedangkan putable bond adalah obligasi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menjualnya/ menerima pelunasan sesuai nilai par sebelum jatuh tempo.Biasanya dilakukan jika terjadi kenaikan suku bunga yang menyebabkan penurunan harga obligasi.
Mortgage bond/ Secured bonds.
Obligasi yang diterbitkan oleh emiten dengan jaminan suatu asset riil ataupun /financial asset lainnya yang bisa berupa tanah dan bangunan,equipments (permesinan, mobil/peralatan lainnya) serta surat-surat berharga lainnya. Jika terjadi gagal bayar dimana emiten gagal melakukan kewajibannya atas coupon dan nilai pokok (default risk), pemegang obligasi berhak mengambil alih asset tersebut.
Junk bonds.
Obligasi yang memberikan coupon rate yang tinggi tetapi memiliki resiko gagal bayar yang juga tinggi.Biasanya diterbitkan oleh emiten berperingkat Bb– kebawah atau oleh emiten yang ingin membiayai suatu rencana merger/akuisisi. Masih banyak jenis-jenis obligasi lainnya dengan nama berbeda tetapi memiliki makna yang hampir sama seperti diatas.
2.4Perhitungan Harga Obligasi
n 1 1Vb = PMT  + FV t = 1 (1 + kb) t (1 + kb) nVb = PMT ( PVIFA i,n) + FVn (PVIF i,n)Vb = Nilai ObligasiPMT = Pembayaran anuitasFV = Nilai masa depanKb = Tingkat pengembalian/suku bunga
BAB III
PEMBAHASAN
Mengenai faktor – faktor yang dapat mempengaruhi perubahan harga obligasi. Menurut Ir. Edward S Siahaan dalam tesisnya pada tahun 2007 yang berjudul Analisis Faktor-Faktor Yang mempengaruhi perubahan harga obligasi, harga obligasi yang diperdagangkan biasanya dinyatakan dalam persentase dari nilai nominalnya (tanpa menuliskan %). Jika harga penutupan suatu obligasi 107 berarti obligasi tersebut diperdagangkan pada 107% dari nilai nominalnya. Harga pasar obligasi selalu berfluktuasi karna aktifitas jual beli dari investor serta dipengaruhi oleh perubahan besaran variable ekonomi makro seperti tingkat inflasi, tingkat suku bunga, pertumbuhan ekonomi, nilai tukar Rp/$ dan lain-lain.
Inflasi
Inflasi berarti kenaikan harga barang secara umum. Lembaga yang menghitung besar kecilnya tingkat inflasi di Indonesia adalah BPS (Biro Pusat Statistik). Pada saat tingkat inflasi terlalu tinggi, Bank Indonesia akan menaikkan BI Rate. Secara teoritis, kenaikan BI rate akan menyebabkan bunga pinjaman bank menjadi meningkat. Akibatnya kegiatan produksi akan berkurang karena semakin mahal dan terjadi permintaan terhadap barang. Karena permintaan semakin kecil, maka harga barang akan turun. Hal yang sebaliknya berlaku ketika inflasi terlalu rendah dan suku bunga diturunkan. Biaya produksi akan semakin murah menyebabkan kegiatan produk semakin bertambah. Kenaikan produksi akan memicu kenaikan permintaan barang dan pada akhirnya menyebabkan harga barang menjadi naik (terjadi inflasi).
Dalam kaitannya dengan investasi, pada saat suku bunga dinaikkan, orang akan memilih alternatif deposito yang memberikan bunga lebih tinggi. Akibatnya instrumen saham dan obligasi dijual sehingga menyebabkan harga saham, obligasi dan reksa dana turun. Sebaliknya pada saat suku bunga diturunkan, investor akan mencari alternatif yang memberikan hasil investasi lebih tinggi dibandingkan deposito yaitu saham dan obligasi. Akibatnya terjadi permintaan yang besar pada saham dan obligasi yang menyebabkan harga saham, obligasi dan reksa dana naik. Perlu diketahui bahwa BI rate bukan satu-satunya alat bagi Bank Indonesia dalam mengendalikan tingkat inflasi. Selain itu, pertimbangan besar kecilnya BI rate juga bukan hanya didasarkan pada tingkat inflasi semata. Ada faktor-faktor lain yang menentukan seperti: Kestabilan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Tingkat BI rate yang tinggi akan menyebabkan dana asing mengalir ke Indonesia dan sebaliknya tingkat BI rate yang rendah akan menyebabkan dana asing keluar dari Indonesia. Selisih dengan suku bunga AS antara tingkat suku bunga di Indonesia dengan tingkat suku bunga (Fed Fund Rate) di Amerika. Semakin besar selisihnya, maka semakin menarik pula negara Indonesia menjadi negara tujuan investasi. Dengan kata lain, apabila pemerintah AS menaikkan tingkat suku bunga sementara suku bunga Indonesia masih tetap, maka hal tersebut akan mengurangi daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi.
Faktor tidak tetap adalah faktor yang dapat mempengaruhi keputusan Bank Indonesia dalam penetapan BI rate namun sifatnya tidak permanen dan berubah sewaktu-waktu. Contoh, lonjakan harga minyak yang signifikan, kondisi ekonomi global, atau yang sekarang sedang menjadi perhatian seperti perkembangan hutang Eropa, Perkembangan China dan kondisi US, dan faktor2 lainnya yang bisa muncul sewaktu-waktu. Faktor inilah yang paling tricky, selain tidak jelas apa hubungannya terhadap keputusan BI Rate, efeknya juga bisa langsung ke harga saham, obligasi dan reksa dana. Terkadang logika dan hubungan antara kejadian tersebut dengan Indonesia hampir tidak ada, namun seolah-olah hal tersebut menjadi faktor utama yang menggerakan harga di pasar. Umumnya faktor ini yang menjadi perhatian investor dan analisa dalam meramalkan pergerakan harga dalam jangka waktu dekat. Jadi memang faktor ini bukan satu-satunya hal yang menyebabkan naik turunnya harga instrumen investasi namun dalam pandangan kami merupakan faktor penting yang menjadi penggerak harga instrumen investasi.
Tingkat suku bunga.
Tingkat suku bunga tinggi mek merupakan salah satu kendala yang dianggap sebagai faktor yang memberika dampak yang kurang menguntungkan terhadap pengembangan pasar obligasi. Untuk mengatasi masalah ini perlu upaya untuk menciptakan iklim yang kondusif guna merangsang pertumbuhan pasar modal pada umumnya, dan obligasi pada khususnya.
Besarnya tingkat suku bunga dipakai oleh pembeli obligasi sebagai benchmark dasar tingkat return yang diharapkan dan pada sisi emiten sebagai besarnya biaya modal. Tingkat suku bunga pasar dalam hal ini dapat berupa SBI rate atau suku bunga pasar pada umumnya. Perubahan tingkat suku bunga akan diproxy dari perubahan SBI rate karena setiap ada issu/ rencana perubahan pada SBI rate sudah langsung direspon oleh perubahan harga securitas (semi strong dan strong efficiency capital market) walaupun suku bunga pasar relatif tetap. Selama umur obligasi besarnya interest rate dapat berubah sesuai kondisi perekonomian secara keseluruhan. Dari sisi emiten jika suku bunga turun, beban biaya modal akan berkurang sehingga perusahaan akan melakukan ekspansi / investasi baru (dengan emisi obligasi baru atau credit baru) sehingga terjadi ekspektasi kenaikan pendapatan perusahaan. Ekspektasi yang positif ini menyebabkan nilai perusahaan naik sehingga terjadi peningkatan harga securitas (saham dan obligasi). Sebaliknya jika suku bunga naik, beban biaya modal dan operational cost akan naik sehingga pendapatan operasional (EBIT) emiten akan turun. Para analis yang bekerja di pasar modal akan mengetahui informasi ini dari laporan keuangan yang diserahkan secara berkala per triwulan sesuai dengan persyaratan Bapepam. Informasi ini selanjutnya akan tersebar dan tercermin pada pada penurunan harga securitas (saham dan obligasi). Dari sisi bond holder pada saat tingkat suku bunga mengalami kenaikan sementara besarnya coupon rate tetap (fixed income bond), maka return riil dari investor relatif lebih kecil dibandingkan dengan suku bunga pasar. Hal ini akan menyebabkan terjadi aksi jual obligasi sehingga harga obligasi turun .Sebaliknya pada saat suku bunga turun, besarnya coupon rate tetap, return riil dari investor akan lebih besar/ naik sehingga terjadi aksi beli obligasi yang menyebabkan harga obligasi naik. Sebagai illustrasi, krisis moneter yang terjadi pada semester dua tahun 1998 banyak obligasi yang hanya ditawar dengan harga sebesar (20-40%) dari nilai nominalnya yang disebabkan tingginya tingkat suku bunga yang berlaku serta kemungkinan default yang cukup besar dari berbagai perusahaan sebagai akibat krisis moneter yang terjadi (Husnan, 2005).
3.1.3Tingkat Pertumbuhan ekonomi
Kondisi perekonomian negara yang ditentukan oleh indikator seperti GDP (Gross Domestic Product) dan Cadangan Devisa. Kedua indikator tersebut bisa diibaratkan sebagai penghasilan dan tabungan bagi suatu negara. Idealnya suatu negara yang sehat memiliki penghasilan yang terus bertambah (pertumbuhan GDP positif), hutang yang tidak terlalu banyak (rasio hutang terhadap GDP yang kecil), dan punya simpanan untuk kondisi ketidakpastian di masa mendatang (cadangan devisa yang banyak). Hal di atas akan menjadi pertimbangan positif saat penilaian terhadap peringkat surat hutang Indonesia dilakukan.
Faktor tidak tetap adalah faktor yang dapat mempengaruhi keputusan Bank Indonesia dalam penetapan BI rate namun sifatnya tidak permanen dan berubah sewaktu-waktu. Contoh, lonjakan harga minyak yang signifikan, kondisi ekonomi global, atau yang sekarang sedang menjadi perhatian seperti perkembangan hutang Eropa, Perkembangan China dan kondisi US, dan faktor2 lainnya yang bisa muncul sewaktu-waktu. Faktor inilah yang paling tricky, selain tidak jelas apa hubungannya terhadap keputusan BI Rate, efeknya juga bisa langsung ke harga saham, obligasi dan reksa dana. Terkadang logika dan hubungan antara kejadian tersebut dengan Indonesia hampir tidak ada, namun seolah-olah hal tersebut menjadi faktor utama yang menggerakan harga di pasar. Umumnya faktor ini yang menjadi perhatian investor dan analisa dalam meramalkan pergerakan harga dalam jangka waktu dekat.
Berdasarkan bagan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa data makro ekonomi yang menjadi pertimbangan utama dalam berinvestasi adalah BI Rate dan Inflasi. Dalam proses perjalanannya, penetapan besar kecilnya BI rate juga akan mendapat pengaruh-pengaruh baik dari faktor eksternal maupun internal. Hal yang harus dipahami oleh investor adalah bahwa Kenaikan BI rate dan Inflasi akan berdampak negatif bagi investasi dan sebaliknya penurunan BI rate dan inflasi akan berdampak positif terhadap investasi.
Meski demikian, efek Inflasi dan BI Rate terhadap inflasi menurut penelitian kami lebih memiliki pengaruh ketika bergerak sedang naik atau sedang turun. Jika kondisinya flat, kondisi cenderung lebih sulit untuk dianalisis karena perhatian investor terpaku pada faktor-faktor tidak tetap (seperti yang dijelaskan di atas) yang berubah setiap hari. Meski demikan, dalam prakteknya sangat mungkin sekali investor dalam jangka pendek akan menemui kondisi investasi yang bertolak belakang dengan kondisi BI rate dan Inflasi. Jadi memang faktor ini bukan satu-satunya hal yang menyebabkan naik turunnya harga instrumen investasi namun dalam pandangan kami merupakan faktor penting yang menjadi penggerak harga instrumen investasi.
Perubahan nilai kurs Rp/$
Perubahan nilai kurs Rp/$ (apresiasi/depresiasi) berarti peningkatan /penurunan nilai tukar Rp/$ yang terjadi menurut mekanisme pasar (supply demand). Apresiasi/depresiasi dapat terjadi karena terdapat supply/demand Rp/$ dalam jumlah yang lebih besar dari periode yang sebelumnya. Apresiasi/depresiasi Rp/$dalam besaran tertentu akan menyebabkan otoritas moneter (Bank Indonesia) menyesuaikan (menurunkan/menaikkan) besarnya BI rate yang biasanya akan diikuti oleh perbankan pada umumnya. Turun/naiknya suku bunga akan menyebakan harga securitas (saham dan obligasi) mengalami kenaikan (penurunan).
Kenaikan Harga BBM
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


Download Tugas Akuntansi Pasar modal.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Tugas Akuntansi Pasar modal. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon