September 06, 2016

TEORI AKUNTANSI


Judul: TEORI AKUNTANSI
Penulis: D. Dewi Prima Diatri


TUGAS AKHIR
MAKALAH TEORI AKUNTANSI
1695450323215
Disusun oleh :
Destia Dewi Prima Diatri
F0310020
AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2013
Daftar Pustaka
RINGKASAN …. ………………………………………………………….2
POKOK BAHASAN
BAB 1Pengertian Teori Akuntansi ………………………………..3
BAB 2 Penalaran …………………………………………………...7
BAB 3Perekayasaan Pelaporan Keuangan ………………………...9
BAB 4 Rerangka Konseptual - Suatu Model ……………………...12
BAB 5 Konsep Dasar ………………………………………………14
BAB 6 Aset ………………………………………………………...16
BAB 7Kewajiban …………………………………………………..17
BAB 8 Pendapatan …………………………………………………19
BAB 9Biaya ………………………………………………………..21
BAB 10 Laba ……………………………………………………….24
BAB 11 Ekuitas …………………………………………………….26
BAB 12 Pengungkapan dan Sarana Interpretif …………………….29
BAB 13 Akuntansi Untuk Perubahan Harga ……………………….30
DAFTAR PUSTAKA ….………………………………………………….. 33
KUTIPAN TUGAS ………………………………………………………...33
SURAT PENGANTAR …………………………………………………….33
RINGKASAN
Pemaparan teori akuntansi didasarkan atas orientasi perkembangan akuntansi positif dan akuntansi normatif. Teori akuntansi positif dijelaskan secara lebih terpirinci dalam William Scott, sedangkan akuntansi normatif dapat dipelajari dalam Suwardjono. Jika dikaitkan dengan pendefinisian akuntansi sebagai seni, sains atau teknologi. Teori akuntansi positif berkaitan erat dengan pendefinisian akuntansi sebagai sains. Jadi akuntansi sebagai sains dimaknai atas dasar pengamatan empiris, sehingga menjelaskan fenomena seperti apa adanya dan bebas nilai. Akuntansi positif lebih menekankan pada mendapatkan kebenaran tentang suatu fenomena dengan menerapkan metode ilmiah, tanpa menggunakan pertimbangan nilai.
Perkembangan akuntansi normatif lebih menekankan atas pernyataan atau penalaran yang dilandasi oleh pertimbangan nilai. Seperti teori akuntansi positif, jika akuntansi normatif dihubungkan dengan pendefinisian akuntansi, maka akuntansi sebagai teknologi mempunyai karakteristik yang paling sesuai dengan konsep teori akuntansi normatif. Oleh karena akuntansi dipandang sebagai teknologi, maka dalam prosesnya membutuhkan suatu penalaran logis yang dapat menjelaskan dan memberikan alasan tentang perlakuan suatu praktek akuntansi tertentu. Proses penalaran logis diwujudkan dalam bentuk perekayasaan pelapoan keuangan. Perekayasaan pelaporan keuangan tersebut menghasilkan suatu rerangka konseptual. Sedangkan, fungsi dari rerangka konseptual adalah untuk mengevaluasi, membenarkan atau mempengaruhi praktek akuntansi sekarang maupun masa akan datang. Dan juga konsep dasar berfungsi untuk melandasi penalaran pada tingkat perekayasaan akuntansi. Konsep dasar sangat bermanfaat dalam penyusunan standar, baik prinsip, metode maupun teknik. Selain itu, perekayasaan akuntansi menghasilkan elemen-elemen yang diwujudkan dalam statemen keuangan, merepresentasikan realitas kegiatan badan usaha, sehingga orang tidak perlu datang langsung, cukup hanya memperoleh gambaran yang jelas mengenai realita operasi perusahaan secara keuangan. Secara umum tujuan ekonomi dan sosial negara dijabarkan dalam pelaporan keuangan dengan maksud agar tujuan akuntansi secara tidak langsung juga akan membantu tercapainya tujuan negara.
Dalam perkembangannya, teori akuntansi mengalami permasalah akibat perubahan harga. Perubahan harga umunya terjadi karena perbedaan jumlah rupiah yang dapat digunakan untuk memperoleh barang yang sama dalam jangka waktu yang berbeda. Rerangka akuntansi pokok dilandasi oleh asumsi bahwa daya beli uang stabil, dan manfaat ekonomik barang tidak berubah. Akuntansi perubahan harga merupakan bagian dari pelaporan keuangan untuk mencapai tujuan penyajian informasi keuangan. Jika konsep pemrosesan data dapat dipisahkan dari proses pelaporan data, maka akuntansi perubahan harga tidak perlu mengganti rerangka akuntansi pokok.
BAB 1
PENGERTIAN TEORI AKUNTANSI
Pengertian dari teori akuntansi memiliki berbagai sudut pandang, teori akuntansi dapat dikategorikan sebagai seni, sains maupun teknologi. Pengertian teori akuntansi sangat bergantung pada pendefinisian akuntansi sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tujuan kejelasan dalam tatanan taksonomi dari teori akuntansi dimaksudakan supaya rerangka teori akuntansi dapat dikenali dengan jelas, baik isi maupun lingkupnya.Maka dari itu, berdasarkan taksonomi terpilih diharapkan mampu membantu dalam mengenali dan menjelaskan apa sebenarnya yang menjadi dasar dalam karakteristik akuntansi.
Ilmua sosial : mempelajari gejala sosial/ manusia
Akuntansi
Sains
Teknologi
Penjelasan ilmiah dengan metode ilmiah induktif atau empiris
Teori atau penjelasan ilmiah sebagai generalisasi
Rerangka konseptual sebagai justifikasi dan kebijakan
Pertimbangan logis dengan pertimbanagn nilai
Perekayasaan sikasi atau suatu sistem pelaporan
Taksonomi
Pengertian akuntansi
Pengertian teori akuntansi
Hasil
Gambar 1.1 Akuntansi dan Teori akuntansi : Sains atau Teknologi (Diambil dari Suwardjono hal 11)
Secara taksonomi akuntansi dibedakan sebagai sains dan teknologi. Pengertian akuntansi jika dilihat dari sudut pandang sains, tentu berbeda jika dipandang sebagai teknologi, oleh karena perbedaan tersebut maka dasar teori akuntansi pun akan berbeda pula. Jika dasar teori akuntansi berbeda, maka karakteristik yang melandasi pengetahuan akuntansi pun juga tidak sama. Sehingga, hasil yang berupa pertimbangan logis ataupun penjelasan ilmiah yang melandasi teori akuntansi akan mempunyai implikasi yang tidak sama, jika digunakan sebagai dasar dalam tujuan sosial dan ekonomik. Selain itu, implikasi dari pemilihan akuntansi berdasarkan taksonomi tersebut akan berpengaruh terhadap arah studi dan praktik akuntansi di masa mendatang.
Akuntansi Sebagai Seni, Sains dan Teknologi
Dalam Suwardjono, jika akuntansi dipandang sebagai seni maka yang dimaksud adalah cara menerapkannya bukan sifatnya sebagai seperangkat pengetahuan (Suwardjono,2006,12). Berdasarkan pengertian-pengertian dari beberapa ahli, akuntansi lebih dari sekedar seni karena pada dasarnya pengertian seni lebih relevan pada kemampuan manusia dalam mebuat sesuatu yang unik, yang lebih menonjolkan kemampuan spesifik dalam menghasilkan sesuatu (things) agar lebih bernilai. Jika akuntansi dipandang sebagai sains, akuntansi harus memenuhi kriteria dari definisi sains terlebih dahulu,
"sains adalah salah satu cabang dari pengetahuan (seperangkat pengetahuan) yang bertujuan untuk mendapatkan kebenaran atau validitas penjelasan tentang suatu fenomena dengan menerapkan metode ilmiah".(Suwardjono, 2006, 14)
Berdasarkan pengertian diatas, sains lebih berorientasi terhadap bebas nilai dan sains tidak menghasilkan kebijakan (kebermanfaatan) melainkan sebuah kebenaran. Jika diterapakan dalam sudut pandang akuntansi, maka dalam prakteknya akuntansi akan lebih mengarah terhadap pembahasan mengenai mengapa perlakuan akuntansi seperti itu, bukan bagaimana cara menciptakan perlakuan akuntansi yang lebih baik.
Secara umum pertimbangan pokok yang mendasari akuntansi adalah kebermanfaatan, maka dari itu akuntansi tidak dapat bebas nilai, karena selalu terpengaruh oleh faktor lingkungan. Sedangkan pertimbangan pokok yang mendasari akuntansi sebagai sains adalah penerapan metode ilmiah dan bebas nilai. Maka dari itu, jika akuntansi dikategorikan dalam sains kurang tepat, karena tidak memprioritaskan dalam menghasilkan kebijakan dalam mencapai tujuan sosial ekonomik, namun lebih menekankan pada mendapatkan kebenaran tentang suatu fenomena dengan menerapkan metode ilmiah.
Pengklasifikasian akuntansi sebagai teknologi didukung oleh beberapa ahli. Menurut Gaffikin dalam Suwardjono, menyatakan bahwa akuntansi merupakan rekayasa informasi yang dimanfaatkan dalam rangka mencapai kemakmuran ekonomik, oleh karenanya akuntansi berfungsi sebagai teknologi. Pengertian akuntansi sebagai teknologi sejalan dengan pengertian teknologi yaitu
"seperangkat pengetahun untuk menghasilkan sesuatu (goods) yang bermanfaat dan pengertian teknologi tidak terbatas pada teknologi fisis (hard technology) tetapi juga teknologi lunak (soft technology). (Suwarjono, 2006, 15)
Perekayasaan Pelaporan Keuangan dan Penalaran Logis
Berdasarkan berbagai definisi sebelumnya, maka pengertian teori akuntansi yang paling sesuai adalah teori akuntansi sebagai teknologi. Karena akuntansi sebagai teknologi, maka dalam prosesnya membutuhkan suatu penalaran logis yang dapat menjelaskan dan memberikan alasan tentang perlakuan suatu praktek akuntansi tertentu, baik yang sudah berjalan atau memberi landasan konseptual dalam penetuan standar atau praktik yang baru. Maka proses penalaran logis tersebut dinamakan dengan perekayasaan. Konsep ini relevan dengan pengertian teori akuntansi menurut Patton dan Littleton dalam Suwarjono (2006:22), menyatakan bahwa tujuan dari teori akuntansi adalah menyediakan gagasan yang fundamental yang menjadi dasar dalam proses perekayasaan pelaporan keuangan.
Masa datang
Penalaran Logis Melalui proses Perekayasaan
Rerangka konseptual
Praktek Akuntansi
Praktek Akuntansi
berjalan
Gambar 1.2 Hubungan Penalaran Logis dan Pratik Akuntansi (diambil dari Suwardjono hal 24)
Pada gambar diatas dijelaskan bahwa teori akuntansi merupakan proses penalaran logis. Proses penalaran logis diwujudkan dalam bentuk perekayasaan pelapoan keuangan. Perekayasaan pelaporan keuangan tersebut menghasilkan suatu rerangka konseptual. Sedangkan, fungsi dari rerangka konseptual adalah untuk mengevaluasi, membenarkan atau mempengaruhi praktek akuntansi sekarang maupun masa akan datang.
Aspek Sasaran Teori
Sasaran akuntansi bila dipandang dari sudut pandang sains dan teknologi menghasilkan teori akuntansi positif dan teori akuntansi normatif. Klasifikasi ini merupakan konsekuenasi logis dari pendefinisian akuntansi sebagai sains dan teknologi. Teori akuntansi positif berisi pernyataan tentang suatu kejadian atas dasar pengamatan empiris, sedangkan teori akuntansi normatif berisi tentang pernyataan atau penalaran yang dilandasi oleh pertimbangan nilai. untuk menilai apa yang sebaiknya dilakukan atau diputuskan untuk tujuan sosial dan ekonomik. Bila dikaitkan dengan dikotomo sains-teknologi, maka teori akuntansi positif erat kaitannya dengan akuntansi sebagai sains, sedangkan teori akuntansi normatif lebih erat kaitannya dengan akuntansi sebagai teknologi.
Aspek Tataran Semiotika
Aspek ini merupakan kajian dalam penyediaan dan penyampain informasi bisnis kepada penggguna atau user yang berkepentingan. Tujuannya adalah tidak terjadi miss communications antara komunikan dan komunikator, sehingga tidak ada perbedaan antara informasi yang diterima dengan informasi yang dimaksud. Teori penyimbolan ini membahas 3 tataran penting yaitu aspek sintaktika, semantika, dan pragmatika.
Sintaktika menelaah hubungan logis antara tanda dan simbol bahasa.
Semantika menelaah mengenai isi dari hubungan yang disimbolkan atau menelaah makna yang yang terkandung dalam penyimbolan.
Pragmatika menelaah efek dari komunikasi tersebut sehingga dapat diketahui apakah mempengaruhi perilaku penerima.
Aspek Pendekatan Penalaran
Menurut Suwardjono (2006:34), penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan atau (belief) terhadap suatu pernyataan atau penjelasan. Penalaran mempunyai peranan penting dalam rangka menerima atau menolak suatu kebenaran teori. Olek karena itu, dibutuhkan suatu proses penyimpulan yang menghasilkan pernyataan atau penjelasan yang bersifat deduktif maupun induktif.
Penalaran deduktif adalah proses penyimpulan yang berawal dari satu pernyataan umum yang disepakati ke pernyataan khusus sebagai simpulan (konklusi). Sedangkan penalaran induktif adalah penalaran yang berawal dari satu pernyataan khusus dan berakhir dengan pernyataan umum, yang merupakan generalisasi dari keadaan umum tersebut.
BAB 2
PENALARAN
Penalaran erat kaitannya dengan proses perekayasaan, penalaran yang memadai diperlukan dalam perekayasaan teori akuntansi yang disebut penalaran logis. Penalaran logis dituangkan dalam bentuk perekayasaan pelaporan keuangan, dan pada akhirnya perekayasaan menghasilkan suatu rerangka konseptual.
Penalaran dalam bab ini, hanya menitikberatkan pada pembahasan mengenai struktur dan proses penalaran. Penalaran memiliki beberapa struktur, yaitu :
Asersi
merupakan pernyataan bahwa sesuatu adalah benar atau penegasan tentang suatu realitas.
Keyakinan
Merupakan kebersediaan untuk menerima kebenaran suatu pernyataan.
Argumen
Proses penurunan simpulan atau konklusi atas dasar beberapa asersi yang berkaiatan secara logis.
Asersi sebagai elemen argumen
Argumen
Masukan
Keluaran
Keyakinan bahwa asersi konklusi benar
Asersi
Asersi
Asersi
Asersi
Asersi
Asersi
Asersi konklusi
inferensi
inferensi
inferensi
Gambar 2.1 Proses dan Struktur Penalaran


(Diambil dari Suwardjono hal 43)
Proses dan struktur penalaran pada umumnya adalah suatu rangkaian penalaran logis dalam menentukan apakah suatu pernyataan tersebut benar untuk dianut. Struktur penalaran menggambarkan hubungan ketiga konsep tersebut dalam menghasilkan daya dukung atau bukti rasional terhadap keyakinan tentang suatu pernyataan. Proses penalaran terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap masukan, proses dan keluaran. Proses penalaran diantaranya, sbb :
Pada tahap masukan, asersi merupakan elemen pembentuk argumen dan sebagai keyakinan yang dihasilkan oleh penalaran
Pada tahap proses, argumen berisi keterkaitan yang dapat mendukung keyakinan. Argumen merupakan pembentuk, pemeliharan dan bahkan pengubah suatu keyakinan.
Pada tahap keluaran, keyakinan merupakan objek atau sasaran penalaran, karena keyakinan menentukan sikap seseorang terhadap suatu masalah yang menjadi topik bahasan.
Asersi dapat dinyatakan secara secara verbal atau struktural, sedangkan keyakinan mengandung beberapa sifat penting diantaranya adalah (keadabenaran, bukan pendapat, bertingkat, mengandung bias, memuat nilai, berkekuatan, verikal dan bertempa). Disisi lain, argumen bertujuan untuk mengevaluasi dan mengubah keyakinan orang. Orang lain dapat terkecoh oleh argumen yang diakibatkan oleh stratagem dan akibat salah nalar.
Strategem adalah cara untuk meyakinkan orang akan suatu pernyataan, konklusi dengan mengajukan argument yang valid. Penggunaan stratagem biasanya digunakan semata-mata untuk memenangkan posisi dan bukan untuk mencari solusi yang terbaik.
Sedangkan, salah nalar adalah kesalahan konklusi akibat tidak diterapkannya kaidah-kaidah penalaran yang valid.
BAB 3
PEREKAYASAAN PELAPORAN KEUANGAN
Perekayasaan pelaporan keuangan bab ini meneruskan penjelasan dari bab sebelumnya, yang menyatakan bahwa akuntansi merupakan disiplin ilmu teknologi. Sehingga salah satu hasil dari penalaran logisnya berupa perekayasaan pelaporan keuangan, yang menghasilkan suatu rerangka konseptual. Rerangka konseptual tersebut harus memuat konsep pemikiran yang dapat dijadikan dasar dalam penetapan PABU (Prinsip Akuntansi Berterima Umum) terutama yang membahas mengenai standar akuntansi.
Gambar 3.1 Proses Perekayasaan Pelaporan Keuangan (diambil dari Suwardjono hal 103)
Tujuan Ekonomik dan Sosial Negara
Tujuan Pelaporan Keuangan
Proses Pertimbangan
Rerangka Konseptual
Media Pelaporan
Informasi Akuntansi


Berdasarkan bagan proses perekayasaan pelaporan keuangan diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut :
Tujuan ekonomi dan sosial negara dijabarkan dalam pelaporan keuangan dengan maksud agar tujuan akuntansi secara tidak langsung juga akan membantu tercapainya tujuan negara.
Proses pertimbangan mencakup konsep dasar yang diperlukan untuk menjamin agar tujuan pelaporan keuangan tercapai. Tujuan mendasar proses pertimbangan tersebut adalah untuk memudahkan pengguna informasi keuangan mengetahui kegiatan operasional perusahaan melalui berbagai simbol dalam bentuk stataemen keuangan, tanpa harus menyaksikan secara langsung sistem operasional perusahaan.
Setelah melakukan proses pertimbanagn logis melalui perekayasaan, maka dituangkan dalam bentuk rerangka konseptual atau dokumen resmi hasil perekayasaan. Hal ini sejalan dengan apa yang ditegaskan FASB dalam Suwardjono, FASB banyak memanfaatkan rerangka konseptual karena memberikan landasan umum dan penalaran dasar untuk mempertimbangkan keunggulan dan kelemahan berbagai alternatif pengembangan standar akuntansi (Suwardjono, 2006,114).
Media pelaporan hasil proses perekayasaan akuntansi adalah statemen keuangan dan pelaporan keuangan.
Informasi akuntansi dapat bermanfaat oleh pengguna tanpa harus menyaksikan secara langsung operasi fisis perusahaan.
Pedoman dalam penyusunan rerangka konseptual dapat ditentukan secara resmi oleh badan yang berwenang atau pedoman yang baik dan yang telah dipraktekkan. Gabungan dari kedua pedoman tersebut membentuk rerangka pedoman operasional atau PABU. Alasan kriteria penyajian statemen keuangan adalah PABU bukan standar akuntansi keuangan adalah :
Tidak semua ketentuan perlakuan akuntansi telah dituangkan dalam bentuk standar akuntansi.
Dikhawatirkan kewajaran hanya ersifat formal bukan bersifat subtantif.
Ukuran kewajaran meruapakn suatu rerangka pedoman yang cukup komprehensif meliputi aspek teknis dan konseptual.
Dalam rerangka konseptual terdapat berbagai definisi yang hampir sama, diantaranya prinsip akuantansi, standar akuntansi dan PABU, agar lebih jelas memahami hubungan ketiganya, maka terdapat dalam bagan dibawah ini .
Gambar 3.2 Hubungan Prinsip Akuntansi, Standar Akuntansi, dan PABU
(diambil dari Suwardjono hal 123)
Prinsip Akuntansi
Standar Akuntansi
Praktek yang tiak diatur dalam standar akuntansi
Praktek Sehat
Prinsip Akuntansi berterima umum (PABU)

Dari bagan hubungan antara prinsip akuntansi, standar akuntansi dan PABU diatas, dapat disimpulkan bahwa PABU tidak sama dengan standar akuntansi. Hal tesebut dapat dibedakan berdasarkan pengertian dari masing-masing pengertian pedoman tersebut.
Prinsip Akuntansi adalah serangkaian konsep dan asumsi yang masih berbentuk gagasan akademik yang belum dipraktekan, namun memiliki potensi yang besar bila diterapkan.
Standar Akuntansi ditetapkan sebagai rerangka konseptual oleh badan penyusun standar.
PABU adalah suatu rerangka pedoman yang terdiri atas standar akuntansi dan sumber lain yang didukung berlakunya secara teoris maupun praktis.
Jadi PABU merupakan gabungan dari definisi prinsip akuntansi dan standar akuntansi.
BAB 4
RERANGKA KONSEPTUAL
Sebagai hasil suatu perekayasaan adalah model rerangka konseptual. Model rerangka konseptual yang digunakan sebagai aspek pembelajaran dan pendidikan adalah yang dikembangkan oleh FASB dan diwujudkan dalam SFAC.
Gambar 4.1 Rerangka konseptual versi FASB (diambil dari Suwarjono hal 116)
Tujuan Pelaporan Keuangan (SFAC No 1 dan SFAC No 4)
Kriteria Kualitas Informasi (SFAC No 2)
Pengukuran dan Pengakuan (SFAC No 5 dan SFAC No 7)
Elemen statemen Keuangan (SFAC No 6)
Memenuhi kriteria pengakuan
Media pelaporan keuangan lainnya
Informasi lain-lain
Catatan statemen keuangan
Informasi pelengkap
Statemen keuangan

Berdasarkan gambar diatas, tujuan pelaporan keuangan merupakan proses yang paling menentukan dalam perekayasaan akuntansi. Tujuan pelaporan keuangan menentukan konsep dan prinsip yang relevan dalam penyusunan statemen laporan keuangan. Selaian itu tujuan pelaporan keuangan diharapkan mampu memberikan informasi kepada para pemakai dengan berbagai kepentingan, serta mencapai tujuan ekonomik sosial negara. Sehingga, dengan adanya informasi tersebut dapat mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pihak yang berkepentingan.
Informasi tentunya akan dipakai bila terdapat kebermanfaatan keputusan bagi si pemakai. FASB telah merumuskan kualitas mengenai kriteria informasi yang terdiri dari dua unsur utama yaitu keberpautan (relevance) keterandalan (reliability). Kualitas informasi akan jauh lebih bernialai lagi apabila terdapat unsur-unsur (1) keterpahaman, (2)keberpautan, (3) nilai prediktif, (4) nilai balikan, (5) ketepatwaktuan, (6) keterandalan, (7) ketepatan penyimbolan, (8) keterujian, (9) kenetralan, (10) keterbandingan, dan (11) materialitas.
Elemen statemen keuangan merupakan bahan pembentuk informasi yang dikandung dalam statemen keuangan. Penyajian elemen statemen keuangan tidak cukup hanya memenuhi definisi tetapi harus memenuhi kriteria pengakuan dan pengukuran. Terdapat sepuluh elemen pelaporan keuangan yang didefinisikan dalam rerangka konseptual yaitu aset, kewajiban, ekuitas, investasi, distribusi ke pemilik, laba komprehensif, pendapatan, biaya, untung dan rugi.
Pelaporan keuangan dan statemen keuangan meruapakan dua definisi yang memiliki tujuan yang sama, namun memiliki komponen yang berbeda. Pelaporan keuangan (financial reporting) adalah penyampaian informasi yang wajib dan suka rela. Wajib disini mempunyai implikasi bahwa pelaporan harus mengandung statemen keuangan (financial statement) yaitu media utama pelaporan keuangan serta suka rela mencakup segala informasi yang yang diberikan oleh manajer agar bermanfaat bagi pemakai pelaporan keuangan.
Elemen dalam statemen keuangan tersebut kemudian akan menjadi lingkup pengukuran dan pengakuan. Atribut pengukuran yang harus dilekatkan pada suatu elemen untuk merepresenatsikan secara tepat yang ingin diungkapakan dalam pelaporan keuangan misalnya penggunaan kos historis, kos sekarang, nilai pasar sekarang, nilai terealisasi, nilai diskunan. Sedangkan pengakuan berarti bahwa pencatatan resmi (penjurnala) suatu entitas (jumlah rupiah) hasil pengukuran dalam sautu sistem akuntansi, sehingga jumlah rupiah tersebut dapat mempengaruhi statemen keuangan. FASB menetapkan empat criteria pengakuan meliputi definis, keterukuran, keberpautan dan keterandalan.
BAB 5
KONSEP DASAR
Konsep dasar berfungsi untuk melandasi penalaran pada tingkat perekayasaan akuntansi, konsep dasar sangat bermanfaat dalam penyusunan standar, baik prinsip, metode maupun teknik. Beberapa pakar telah mengemukakan beberapa konsep dasar, salah satunya konsep dasar yang dijadikan pembahasan adalah konsep dasar yang diuraikan oleh Paton dan Littleton. Konsep dasar ini mampu menunjukkan konsep yang saling berkaitan secara logis sehingga membentuk satu kesatuan. Konsep dasar yang diuralan oleh P&L meliputi kesatuan usaha (The business entity), kontinuitas usaha (Continuity of Activity), penghargaan sepakatan (Measured Consideration), kos melekat (Costs Attach), upaya dan capaian hasil (Effort and Accomplishment), bukti terverifikasi dan objektif (Verifiable, objective evidence) dan asumsi (Assumtions).
Kesatuan usaha dianggap sebagai badan atau orang yang berdiri sendiri dan bertindak atas namanya sendiri serta terpisah dari pemilik. Fungsi manajemen terpisah dengan fungsi pemilik, sehingga diperlukan pertanggungjawaban dalam bentuk statemen keuangan.
Akuntansi menganut konsep penalaran normal bahwa tujuan pendirian perusahaan untuk berdiri terus (Continuity of Activity), bukan untuk dibubarkan atau dilikuidasi. Dengan adanya konsep ini maka perusahaan akan berusaha untuk bertahan hidup, berkembang dan maju sehingga dapat menghasilkan laba dalam jangka panjang. Untuk menilai laba tersebut, akuntansi tidak harus membubarkan atau melikuidasi, namun dapat diukur secara periodek dengan tingkat hasil invetasi atau daya melaba. Penggalan pendapat dan biaya pada suatu perioda ditungkan dalam laporan laba rugi dan laba rugi komprehensif, tingkat laba disini dapat dinilai sebagai daya melaba. Sedangkan untuk menunjukkan sisa potensi jasa, data ditunjukkan melalui neraca yang direpresentasikan nilai kos yang melekat padanya.
Penghargaan sepakatan (Measured Consideration), konsep ini menyatakan bahwa jumlah rupiah yang terlibat dalam tiap transaksi, merupakan bahan dasar yang paling objektif dalam mengukur sumber ekonomik yang masuk dan keluar. Bahan dasar ini kemudian dijadikan bahan kuantitatif dalam penyusunan berbagai laporan manajerial dan laporan keuangan.
Kos melekat (Costs attach) merepresentasikan kegiatan produksi kesatuan usaha untuk merunut kos yang sesungguhnya terjadi. Setiap objek yang terlibat dalam transaksi harus dinyatakan dalam kos, akuntansi menggabungkan berbagai macam kos yang melekat pada tiap komponen tanpa memerhatikan nilai ekonomik baru yang melekat pada barang yang dihasilkan. Kos merepresentasikan realitas ekonomi suatu kesatuan usaha.
Upaya dan hasil (Effort and accomplishment) merepresentasikan bahwa ketika kesatuan usaha melakukan produksi yang diwujudkan dengan terhimpunnya kos, maka dapat dikatakan sebagai upaya untuk memperoleh hasil yaitu pendapatan.
Bukti terverifikasi dan objektif (Verifiable, objective evidence) berimplikasi bahwa pelaporan keuangan akan bermanfaat dan andal, apabila data didukung dengan bukti yang objektif dan dapat diuji kebenarannya. Bukti transaksi dapat timbul ketika kesatuan usaha melakukan pertukaran dengan pihak eksternal, dalam bentuk kesepakatan jumlah rupiah.
Asumsi (Assumtions) menurut Suwardjono, dapat dijelaskan dari kelima daftar konsep dasar P&L. Jadi konsep dasar P&L tersebut bukanlah konsep dasar melainkan asumsi yang didasari atas asumsi tertentu dengan segala keterbatasaanya.
Konservatisme merupakan konsep dasar yang menjadi landasan penentuan perlakuan akuntansi dalam kondisi ketidakpastian. Secara umum akuntansi akan segera mengakui rugi, tetapi menunda pengakuan pendapatan.
BAB 6
ASET
Elemen-elemen dalam statemen keuangan yang ditentukan dalam perekayasaan, merepresentasikan realitas kegiatan badan usaha, sehingga orang tidak perlu datang langsung, cukup hanya memperoleh gambaran yang jelas mengenai realitas secara keuangan. Salah satu elemen statemen keuangan adalah aset yang merepresentasikan potensi jasa fisis mauapun non fisis yang dimiliki kesatuan usaha untuk menyediakan barang dan jasa. Pengertian aset menurut FASB dalam rerangka konseptualnya,
"Aset adalah manfaat ekonomik masa depan yang cukup pasti yang diperoleh atau dikuasai atau dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu." (Suwardjono hal 252)
Terdapat tiga kata kunci dalam definisi aset tersebut yakni aset harus mencakupi manfaat ekonomik, dikuasai oleh entitas dan akibat transaksi atau kejadian masa lalu.Manfaat ekonomik mengisyaratkan bahwa manfaat aset tersebut dapat terukur dan dapat mendatangkan pendapatan atau aliran kas di masa akan datang. Dikuasai oleh entitas mempunyai implikasi bahwa aset cukup dikuasai tidak harus dimiliki, karena penguasaan aset lebih penting dalam konsep pemilikan aset. Akibat kejadian masa lalu mempunyai makna bahwa traksaksi atau kejadian itu dapat menimbulkan (menambah) bahkan mengurangi aset. Sedangkan, karakteristik pendukung aset meliputi melibatkan kos, berwujud, tertukarkan, terpisahkan dan berkekuatan hukum.
Pengukuran aset mengisyaratkan penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu objek aset pada saat terjadi dan dijadikan data dasar untuk mengikuti aliran fisis suatu objek. Dalam mengikuti aliran fisis suatu objek, kos aset mengalami tiga tahap perlakuan akuntansi diantaranya pemerolehan (acquisition), pengolahan (processing), dan penjualan (sales).
Pemerolehan aset dapat diukur secara objektif dengan harga sepakatan, dan menjamin bahwa kos merupakan nilai wajar saat transaksi. Pengeluaran selama periode pemerolehan masuk dalam kos aset. Karena kos merepresenatsikan manfaat ekonomik, jika kos diperlakukan sebagai aset, kos itu disebut kos belum habis atau tak terhabiskan (unexpired cost) atau masih dapat menghasilkan pendapatan. Sedangkan, jika kos dimanfaatkan untuk mendatangkan pendapatan, maka bagian dari kos aset yang merepresentasikan manfaat yang telah dihabiskan disebut dengan kos terhabiskan (expired cost) dan menjadi pengukur biaya.
Penghargaan sepakatan atau kos menjadi bahan olah akuntansi karena merefleksikan satuan uang yang andal dalam menilai aset tersebut secara wajar. Pemerolahan aset dapat terjadi dari transaksi atau kejadian yang melibatkan kas atau non kas. Jumlah rupiah dari kos barang atau jasa yang diperoleh secara tunai disebut jumlah setara tunai. Selain itu jika jumlah rupiah dari kost barang atau jasa selain tunai, terdapat beberapa cara tertentu dalam dasar pengukuran kosnya.
Penilaian aset bermaksud untuk menentukan berapa jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada tiap pos aset dan menggunakan basis penilaian yang sesuai. Terdapat dua dasar penilaian aset untuk tujuan pelaporan, untuk mencapai kerandalan penilaian atas dasar nilai pertukaran yaitu arah aliran aset dan waktu. Maka dari itu, terdapat enam basis pengukuran yang digunakan yaitu: kos historis, kos pengganti, kos harapan, harga jual masa lalu, harga jual sekarang, dan nilai terealisasi harapan.
Kaidah pengakuan FASB terdiri dari definisi, keterukuran, keberpautan, dan keterandalan. Masalah akuntansi yang menyangkut pengakuan berkaitan dengan jumlah rupiah dikapitalisasi (capitalized) atau dibiayakan (expensed). Ketika kaidah pengakuan tidak terpenuhi, maka kos diperlakukan menjadi beban pendapatan sebagai biaya atau rugi. Masalah yang termasuk dalam penangguhan pembebanan, misalnya kos yang termasuk dalam transaksi sewaguna, bunga selama konstruksi aset tetap, riset dan pengembangan, eksplorasi minyak dan gas bumi, dan penjabaran valuta asing.
BAB 7
KEWAJIBAN
Kewajiban merupakan elemen neraca, yang merepresentasikan sumber dana dari aset badan usaha berupa potensi jasa fisis maupun non fisis yang memampukannya untuk menyediakan barang dan jasa. Terdapat tiga karakteristik utama kewajiban yaitu: pengorbanan manfaat ekonomik masa depan, keharusan sekarang untuk mentransfer aset, dan timbul akibat transaksi masa lalu. Pengorbanan manfaat ekonomik berarti suatu objek mempunyai kewajiban untuk mengorbankan manfaat yang cukup pasti di masa datang. Keharusan sekarang melekat pada tanggal pelaporan, jadi ketika perusahaan harus mengorbankan manfaat ekonomik, maka harus dilakukan sekarang. Keharusan sekarang dapat menimbulkan kewajiban bersifat kontraktual, konstruktif, demi keadilan dan keharusan bergantung. keharusan kontraktual yaitu keharusan yang timbul akibat peraturan hukum yang menyatakan kewajiban secara eksplisit atau implisit dan mengikat. Selain itu menimbulkan keharusan konstruktif yaitu kewajiban yang timbil akibat kebijaka kesatuan usaha dalam rangka etika bisnis bukan kewajiban yuridis. Keharusan demi keadilan adalah keharusan yang timbul karena panggilan moran bukan karena etika bisnis dan hukum. keharusan bergantung yaitu keharusan yang pemenuhan di masa datang masih belum jelas, terkait dengan syarat-syarat di masa datang. Selain tiga karakteristik utama kewajiban terdapat beberapa karakteristik pendukung diantaranya adalah keharusan membayar kas, identitas terbayar jelas, dan berkekuatan hukum.
Pada saat pengakuan, pengukuran dan penilaian kewajiban digunakan aset sebagai bayangan cermin. Jika aset diukur atas dasar penghargaan sepakatan begitu juga dengan kewajiban. Ketika aset direpresentasikan mengalami tiga tahap perlakuan, kewajiban juga mengalami tiga tahap perlakuan, diantaranya adalah penanggungan (pengakuan terjadinya), penelusuran dan pelunasan.
Pengakuan kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat transaksi yang telah terjadi. Kriteria pengakuan untuk memenuhi karakteristik elemen statemen keuangan tidak berbeda dengan kriteria pengakuan aset yaitu adanya definisi, keberpautan, keterandalan dan keterukuran dipenuhi. Saat untuk menandai bahwa kriteria umum terpenuhi adalah terlaksanakannya kaidah pengakuan meliputi ketersediaan dasar hukum, keterterapan konsep dasar konservatisme, ketertentuan substansi ekonomik transaksi dan keterukuran nilai kewajiban.
Pengukuran yang paling objektif untuk menentukan kos kewajiban pada saat terjadinya adalah penghargaan sepakatan dalam transaksi tersebut dan bukan jumlah rupiah pengorbanan ekonomik masa datang. Penghargaan sepakatan suatu kewajiban merefleksi nilai setara tunai atau nilai sekarang kewajiban yaitu jumlah rupiah pengorbanan sumber ekonomik seandainya kewajiban dilunasi pada saat terjadinya. Dengan demikian basis pencatatan kewajiban adalah nilai sekarang tunai buka nilai nominal utang. Dalam pengukuran diskun dan premium obligasi, utang obligasi diukur dan diakui atas dasar jumlah rupiah yang diterima dalam penerbitan obligasi. Jadi idak terdapat untung maupun rugi dalam transaksi tersebut, jumlah rupiah sebagai diskun atau premium merupakan harga sepakatan atau harga efektif obligasi.
Penilaian kewajiban mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang pada setiap saat antara terjadinya kewajiban sampai dilunasinya kewajiban atau biasa disebut dengan nilai pelunasan. Terdapat berbagai dasar atau atribut penilaian kewajiban, yaitu harga pasar, nilai pelunasan neto dan nilai diskunan aliran kas. Nilai pelunasan sekarang pada umunya bergantung pada nilai pasar obligasi. Amortisasi diskun dan premium merupakan proses dalam rangka penelusuran kewajiban untuk menentukan nilai pelunasan sekarang. Bila kewajiban dilunasi sebelum jatuh tempo, maka akan terjadi selisih antara nilai buku dengan nilai pasar pada saat penebusan maupun penarikan. Bila penarikan dilakukan dengan pendanaan kembali, maka terdapat tiga perlakuan terhadap selisih tersebut yaitu kewajiban diamortisasi selama sisa umur semua utang yang dilunasi, dilunasi selama umur utang baru dan diakui sebagai laba atau rugi penarikan.
Penyajian kewajiban dalam neraca berdasarkan urutan jatuh temponya, ini berarti jika kewajiban jangka pendek disajikan lebih dulu dibandingkan kewajiban jangka panjang. Tujuannya adalah memudahkan pembaca untuk mengevaluasi likuiditas perusahaan.
BAB 8
PENDAPATAN
Pembahasan dalam konsep pendapatan adalah masalah definisi dan pengakuan. Masalah definisi pendapatan akan dibedakan dan dipisahkan dengan masalah pengakuan pendapatan, karena objek yang masuk dalam definisi pendapatan tidak dengan sendirinya dapat diakui sebagai pendapatan dan terfleksi dalam statemen keuangan. Prosedur pengakuan merupakan prosedur teknis yang diwujudkan dalam bentuk kebijakan perusahaan.
Dari berbagai definisi yang dikemukan oleh beberapa pakar, maka dapat disimpulkan karakteristik dasar yang membentuk definisi pendapatan yaitu adanya kenaikan aset dan operasi utama berlanjut. Terdapat perbedaan pendefinisian antara pendapatan dan untung, dalam Suwardjno disebutkan bahwa FASB membatasi pengertian pendapatan hanya untuk kenaikan aset yang berkaitan dengan operasi utama atau sentral. Transaksi yang membedakan pendapatan dengan untung adalah peripheral (incidental), adanya transfer non timbale balik, penahanan aset dan faktor lingkungan. Pembedaan tersebut hanya dimaksudkan untuk kepentingan penyajian pendapatan atas dasar sumbernya, daripada membedakan secara tegas karakteristik pendapatan dan untung.
Pengakuan pendapatan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem akuntansi, sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statemen keuangan. Secara konseptual pendapatan hanya dapat diakui jika memenuhi kualitas keterukuran dan keterandalan. Keterukuran diukur dengan jumlah penghargaan sepakatan produk, ketika telah benar-benar selesai diproduksi dan benar-benar terjual. Keterandalan berkaitan dengan masalah apakah jumlah penghargaan sepakatn roduk tersebut objektifdan dapat diuji kebenarannya. Untuk itu perlu adanya kriteria kualitas informasi yang menjadi pengakuan pendapatan yaitu pembentukan pendapatan dan realisasi pendapatan. Pembentukan pendapatan adalah pendapatan dianggap sudah terbentuk seiring dengan berjalannya operasi perusahaan, walaupun belum terjadi penjualan. Proses operasi perusahaan meliputi kegiatan produksi, penjualan dan pengumpulan piutang. Realisasi pendapatan terjadi pada saat terjadi kepepakatan dengan pembeli untuk membayar produk, baik produk yang telah selesai atau yang belum selesai sama sekali.
Terdapat dua kriteria pengakuan pendapatan yang harus dipenuhi yaitu terrealisasi atau cukup pasti terrealisasi dan terbentuk. Pendapatan dikatakan terrealisasi atau cukup pasti terrealisasi apabila produk telah terjual atau ditukarkan dengan kas atau klaim atas kas. Pendapatan dapat dikatakan telah terbentuk, apabila perusahaan telah melakukan secara substansial kegiatan untuk dapat memperoleh manfaat atau nilai yang melekat pada pendapatan.
Berkaitan dengan pendapatan sebagai fungsi kegiatan produksi terdapat masalah yang berkaitan dengan akresi, apresi, potongan tunai dan penghematan kos. Akresi adalah pertambahan nilai akibat pertumbuhan fisis atau proses alamiah lainnya. Secara defisional akresi merupakan pendapatan karena merefleksikan kenaikan aset dan berkaitan dengan operasi utama perusahaan. Tetapi jumlah kenaikan tersebut tidak dapat diakui sebagai pendapatan karena criteria realisasi belum dapat terpenuhi. Apresi adalah selisih nilai pasar wajar aset perusahaan dengan kos. Apresi kurang memenuhi pengertian pendapatan karena tidak berkaitan langsung dengan operasi perusahaan tetapi lebih berkaitan dengan kondisi pasar. Selain itu apresi tidak dapat diakui sebagai pendapatan bukan merupakan transaksi dan pengukurannya bersifat sangat subjektif. Potongan tunai dan keringanan dalam pembian barang atau jasa bukan merupakan pendapatan, melainkan pengurang kos dan penghematan kos aset yang diperoleh. Penghematan kos yang terjadi akibat pembelian bukan merupakan laba walaupun mempunyai pengaruh terhadap laba neto yang akhirnya terealisasi.
Prosedur pengakuan pendapatan biasanya terdapat dalam buku pedoman akuntansi, untuk menentukan kegiatan internal yang dapat dijadikan tanda atau pemicu pengakuan pendapatan. Terdapat beebrapa kaidah pengakuan pendapatan diantarnya adalah pendapatan diakui pada saat kontrak penjualan, selama proses produksi secara bertahap, pada saat produksi selesai, pada saat penjualan, dan pada saat kas terkumpul.
Penyajian pendapatan dalam statemen laba rugi, istilah operasi harus diinterpretasikan secara luas, sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa pos operasi utama merupakan pos luar biasa. Sehingga penyajian laba rugi sebagai pos operasi dan non operasi dapat memberi kesan yang keliru tentang operasi utama, jadi jika pos non operasi tidak bersifat luar biasa.
BAB 9
BIAYA
Kos telah dibahas di bab 6 yaitu sebagai kuantifikasi besar kecilnya potensi jasa (aset). Berdasarkan konsep kontinuitas usaha, kos diperlukan mula-mula sebagai aset dan baru diperlakukan sebagai beban atau biaya. Dengan konsep kontinuitas usaha serta upaya dan hasil, masalah dalam pembebanan adalah pemecahan aliran kos yang telah diakui sebagai aset menjadi bagian yang merupakan biaya perioda berjalan dalam rangka penentuan laba periodik dan bagian yang baru akan menjadi biaya pada perioda berikutnya. Teknisnya dalam menunjukkan pemecahan adalah dalam statemen laba rugi dan neraca. Statemen laba rugi menyajikan bagian kos yang dibebankan pada periode berjalan, sedangkan neraca melaporkan kos yang masih akan dibebankan pada perioda berikutnya.
Terdapat beberapa definisi yang menjelaskan makna biaya oleh beberapa ahli, terdapat dua karakteristik utama yang melekat pada makna biaya, yaitu adanya aliran keluar atau penurunan aset dan akibat kegiatan yang membentuk operasi utama yang menerus. Biaya dapat timbul akibat adanya transaksi yang dapat mengurangi aset atau adanya aliran keluar aset. Tidak semua penurunan atau konsumsi aset membentuk biaya. Agar menjadi biaya, konsumsi tersebut harus berkaitan dengan kegiatan utama atau sentral kesatuan usaha. Seperti halnya dengan untung, perlu dibedakan antara biaya dengan rugi. Rugi dibedakan dengan biaya karena timbul dari sumber yang secara tidak langsung berkaitan dengan operasi utama perusahaan. Rugi berasal dari transaksi berupa kegiatan peripheral, transfer non timbale balik, penahanan aset dan faktor lingkungan.
Berdasarkan SFAC No.5, tidak terdapat perbedaan kriteria pengakuan biaya dan rugi, kriteria pengakuannya dibedakan menjadi dua dan harus dipenuhi yaitu konsumsi manfaat dan lenyapnya atau berkurangnya manfaat akan datang. Dalam pengakuan biaya tersebut, biaya akan diakui apabila manfaat ekonomik dikonsumsi dalam rangka penyerahan barang atau jasa untuk mendatangkan pendapatan dan biaya diakui bila aset yang telah diakui sebelumnya telah berkurang atau lenyap manfaat ekonomiknya.
Pada dasarnya biaya diukur dengan kos yang sebelumnya melekat pada aset. Biaya dapat dipandang sebagai bagian kos yang telah terhabiskan dalam rangka menciptakan pendapatan. Bagian kos yang terhabiskan tersebut dapat dihubungkan dengan pendapatan atas dasar hubungan sebab akibat, alokasi rasional atau pengakuan segera.
Dalam proses dan konsep penandingan, laba akan mempunyai makna jika laba dapat merepresentasikan hubungan tertentu antara pendapatan dan biaya. Untuk memahaminya diperlukan proses penandingan dan konsep penandingan. Proses penandingan adalah proses penentuan laba dengan cara mengukur pendapatan sautu periode, kemudian baru menentukan biaya yang berkaitan dengan pendapatan tersebut. Konsep penandingan akan menghasilkan dasar penandingan antara pendapatan dan biaya. Penandingan yang tepat akan menghasilkan hubungan yang masuk akal antara pendapatan dan biaya, misalnya adanya korelasi positif diantara keduanya, jika pendapatan besar maka biayanya juga akan besar.
Pengakuan biaya menggunakan kaidah pengakuan APB, sebagai prinsip biaya pervasive atau luas. Kriterian pengakuannya ada tiga yaitu (1) mengasosiasi sebab akibat, (2) alokasi sistematik dan rasional, dan (3) pengakuan segera. Asosiasi sebab dan akibat diilustrasikan saat penyerahan produk yang dapat menimbulkan pendapatan, sehingga kos yang melekat pada produk merefleksikan biaya atau yang disebut dengan penandingan langsung. Alokasi sistematik dan rasional berhungan dalam masalah yang cukup rumit untuk melekatkan semua kegiatan ke produk. Terdapat berbagai masalah yang berhubungan dengan alokasi sistematik diantaranya adalah penangguhan, kos bergabung, sarana pemerataan laba dan pendekatan alokasi sebagai alternatif. Pembebanan arbitrer berkaitan dengan tidak adanya alasan penundaan pembebanan kos dengan dasar alokasi rasional maupun sebab akibat, maka kos tersebut akan dibabkan pada perida terjadinya. Kejadian ini berarti bahwa kos ditandingkan dengan pendapatan secara arbitrer.
Dalam penandingan tidak semua kos dapat dialokasikan secara sistematis dan rasional dengan jelas, pada umumnya penakaran berbasis perioda menjadikan alokasi lebih sesuai, atau suatu kos dapat diakui segera secara arbitrer sebagai rugi. Terdapat beberapa masalah penandingan pos-pos tertentu, diantaranya adalah sediaan, fasilitas fisis, tanah, sember alam dan aset tidak berwujud.
Ketika menentukan kos yang melekat atas setiap unit fisik yang terjual dapat menggunakan metode asosiasi. Metode asosiasi merupakan asumsi aliran kos dalam mengikuti aliran fisis barang. Terdapat beberapa metode asosiasi diantaranya nadalah identifikasi khusus, MPKP, rata-rata berbobot, sediaan normal dan MTKP.
Depresisi merupakan penyerapan kos aset secara rasiona dan sistematis, yang dianggap telah menghasilkan pendapatan. Terdapat berbagai metode depresiasi bertujuan untuk memudahkan manajer untuk menentukan pola manfaat yang paling sesuai dengan kondisi perusahaannya. Depresiasi bukan merupakan penurunan nilai aset, melainkan bagian kos yang merepresentasikan biaya dalam rangka mendatangkan pendapatan dalam suatu perioda.
BAB 10
LABA
Laba merupakan elemen yang sering menjadi pusat perhatian bagi para pemakai laporan keuangan, karena laba diharapkan mampu merepresentasikan kinerja perusahaan secara keseluruhan dibandingkan elemen laporan keuangan yang lainnya. Oleh karena itu, dalam teori akuntansi ini laba dijelaskan dalam tiga pendekatan melalui pendekatan semantik, sintaktik dan pragmatik. Secara umum konsep laba dalam tataran semantik adalah makna atau elemen apa yang harus dilekatkan pada perekayasaan pelaporan keuangan sehingga dapat bermanfaat. Sedangkan elemen laba dalam tataran sintaktik adalah cara pengakuan dan pengungkapan pada perekayasaan laporan keuangan. Selain itu dalam tataran pragmatik adalah seberapa besar perekayasaan laporan keuangan tersebut bermanfaat dalam pengambilan keputusan oleh pengguna laporan keuangan.
Gambar 10.1 Klasifikasi laba dalam tataran semantik
Konfirmasi kinerja
Konfirmasi harapan investor
Estimasi Ekonomik
Konsep laba dalam tataran semantik



(Diambil dari Suwardjono hal 45-460)
Konsep laba dalam tataran semantik berkaitan dengan elemen apa yang harus dilekatkan sehingga perekayasaan laporan tersebut bermanfaat. Laba dalam konfirmasi kinerja tidak lepas hubungannya dengan investasi.Dalam akuntansi, laba diinterpreatsikan sebagai pengukur efisiensi oleh investor dalam bentuk pengembalian atas investasi. Pengembalian atas investasi dapat diukur dengan menggunakan ROI, ROA dan ROL.
Peran kedua adalah laba sebagai sarana untuk mengkorfirmasi harapan investor karena apabila terjadi pengumana laba, diharapkan pasar atau investor akan berekasi terhadap pengumuman laba tersebut. Apalagi jika pasarnya belum efisien, informasi kandungan laba sangat berperan dalam mempengaruhi keputusan investasi.
Laba berperan sebagai estimasi ekonomik berkaitan dengan laba ekonomik yang dilandasi konsep likuidasi yang menilai aset sebgaia sediaan akhir. Karena aset dinilai sebagai sediaan akhir maka harus diukur dengan nilai sekarang bukan nilai historis, sehingga laba dipandang sebagai perubahan nilai dalam suatu perioda.
Gambar 10.2
Klasifikasi laba dalam tataran sintaktik (diambil dari Suwardjono hal 468-482)
Laba dalam tataran sintaktik
Pendekatan transaksi
Pendekatan kegiatan
Pendekatan pemertahanan kapital

Konsep laba dalam tataran sintaktik dengan menggunakan pendekatan transaksi artinya laba diukur dan diakui pada saat terjadinya transaksi, sedangkan menggunakan pendekatan kegiatan artinya laba dianggap timbul bersamaan dengan berlangsungnya kegiatan sebagai hasil suatu transaksi pada saat tertentu. Jika laba diukur dengan menggunakan pendekatan pemertahanan kapital artinya laba merupakan konsekuensi (perbedaan) dari pengukuran kapital pada waktu yang berbeda.
Gambar 10.3
Dasar pengukuran dan penilaian kapital
Pengukuran dan penilaian kapital
Jenis kapital
Skala Pengukuran
Atribut pengukuran
Kapital Finansial
Kapital Fisis
Skala Nominal
Skala daya beli
Kos historis
Kos sekarang


Jenis kapital dibedakan menjadi dua, yaitu kapital finansial dan kapital fisis. Kapital finansial adalah kapital yang dikuasi oleh pemegang saham atau pemegang obligasi, dimana klaim finansial pada akhir periode melebihi klaim finansial pada awal periode. Sedangkan kapital fisis berkaitan dengan kemampuan entitas menghasilkan barang dan jasa. Dengan konsep ini laba atau pengembalian atas kapital fisis akan timbul apabila kapasitas produksi fisis pada akhir periode melebihi kapasitas produksi fisis pada awal periode, dinyatakan dalam rupiah dan diukur atas dasar kos sekarang.
Kapital harus dinyatakan dalam satuan uang atau moneter, maka dari itu dalam mengukur kapital dapat menggunakan skala nominal maupun skala daya beli. Skala nominal adalah satuan rupiah yang terjadi tanpa memerhatikan perubahan daya beli dengan berjalannya waktu akibat peruabahan kondisi ekonomik (Suwardjono, 473). Skala daya beli merupakan skala rupiah daya beli atas dasar indeks harga tertentu. Skala daya beli merupakan alternatif untuk mengatasi skala rupiah nominal.
Dasar penilaian penentuan laba dapat menggunakan kos historis, kos sekarang dan mempertahankan kapital. Dasar kos historis merupakan jumlah rupiah sepakatan yang tercatat dalam sistem pembukuan dan dasar yang digunakan adalah skala rupiah nominal. Dasar kos sekarang merupakan jumlah rupiah sepakatan yang menggambarkan dengan tepat nilai aset yang bersangkutan dan dilakukan atas dasar skala rupiah nominal. Biasanya dasar kos sekarang diakibatkan tidak hanya perubahan waktu, namun juga karena perubahan harga spesifik, akibat perubahan selera, teknologi dan fungsi. Pengukuran laba dengan mempertahankan kapital, ditentukan oleh tiga faktor diatas yaitu jenis, skala dan dasar penilaian. Berbagai pendekatan kapital dan implikasinya terhadap penentuan laba antara lain kapitalisasi aliran kas harapan, penilaian pasar, setara kas sekarang, harga masukan historis, harga asukan sekarang dan pemertahanan daya beli konstan.
BAB 11
EKUITAS
Pada bab ini dalam Suwardjono menyebutkan bahwa teori tentang ekuitas pemegang saham berfokus pada bagaimana informasi ekuitas pemegang saham beserta perubahannya disajikan dalam statemen laporan keuangan. Pada pembahasannya ekuitas didefinisikan secara sintaktik, ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi aktiva perusahaan ( IAI : 2002). Tujuan penyajian ekuitas pemegang saham adalah untuk menyediakan informasi kepada yang berkepentingan tentang efisiensi dan kepengurusan manajemen. Pada gambar dibawah ini disajikan komponen pemegang saham yang merupakan pokok inti pembahsan pada bab ini, ekuitas pemegang saham dibedakan menjadi dua inti yaitu modal setoran dan laba ditahan. Sedangkan modal setoran dibedakan menjadi dua yaitu modal yuridis dan modal setoran lain.
Perbedaan antara modal setoran dan laba ditahan adalah modal setoran merupakan dana dasar yang harus tetap dipertahankan untuk menunjukkan perlindungan bagi pihak lain. Sedangkan, laba ditahan merupakan salah satu komponen untuk menunjukkan daya melaba, dan jumlahnya harus dipisahkan dengan modal setoran, walaupun jumlah akhirnya ditotal untuk membentuk ekuitas pemegang saham.
Gambar 11.1 Komponen Ekuitas Pemegang Saham
Ekuitas Pemegang Saham
Modal Setoran
Laba ditahan
Lain-lain
Modal Yuridis
Modal setoran lain
Penerbitan saham baru
Kapitalisasi laba ditahan
Dividen saham
Konversi obligasi atau saham istimewa
Stock subscriptions
Premium modal saham
Penjualan saham treasuri
Penyerapan defisit
Deklarasi dividen likuidasi
Restrukturisasi kapital
Revaluasi aset
Laba rugi
Dividen
Rekapitalisasi
defisit
koreksi
perubahan akuntansi


Pada penjelasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai perbedaan antara modal setoran dan laba ditahan, selanjutnya dijelaskan mengenai komponen pembentuk diantara keduanya tersebut. Modal setoran dibedakan menjadi dua yaitu modal yuridis dan modal setoran lain. Dalam Suwardjono disebutkan bahwa, modal yuridis timbul karena ketentuan hukum yang mengharuskan sejumlah rupiah dipertahankan dalam rangka perlindungan terhadap pihak lain. Tujuan penyajian modal yuridis adalah untuk member informasi kepada para pemegang ekuitas lainnya tentang batas perlindungan investasinya.
Sedangkan tujuan utama modal setoran lain, dalam Suwardjono telah disebutkan bahwa untuk membedakan secara tegas perubahan akibat transaksi operasi dan perubahan akibat transaksi modal. Pembedaan ini bertujuan untuk mencegah memperlakukan akibat kenaikan transaksi modal sebagai laba. Berbagai sumber yang dapat mengubah modal setoran yaitu pemesanan saham, obligasi terkonversi, saham istimewa, dividen saham, hak beli saham dan saham treasuri.
Berbagai sumber perubahan modal setoran diatas umunya menyebabkan kenaikan modal setoran, sedangkan transaksi yang dapat mengurangi modal setoran adalah penarikan kembali saham (saham treasuri). Beberapa masalah dapat timbul akibat adanya modal treasuri, misalnya penentuan jumlah rupiah yang dianggap sebagai pengurang modal setoran dan laba ditahan serta bagaimana pengungkapannya terhadap modal yuridis, bila saham treasuri dijual kembali. Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut, diantaranya :
Konsep Satu Transaksital
Konsep ini disebut dengan metode kos karena jumlah rupiah total yang dibayarkan, diangap seakan-akan merupakan kos pembelian saham treasuri. Apabila saham treasuri tidak segera dijual maka kos pembelian tersebut tidak dapat dianggap sebagai aset, tetapi akan diklasifikasikan sebagai pengurang ekuitas pemegang saham secara keseluruhan.
Konsep Dua Transaksi
Dalam Suwardjono telah disebutkan bahwa pemerolehan kembali saham sebagai saham treasuri dianggap sebagai likuidasi ekuitas pemegang saha, sedangkan penjualan kembali saham dianggap sebagai penerbitan saham baru.
Dalam segi teknis tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara dua pendekatan tersebut, namun perbedaannya sebenarnya terletak pada tujuan pemerolehan kembali saham tersebut. Jika tujuannya adalah menjual kembali saham treasuri tersebut kepada karyawan atau pihak khusus lainnya, maka konsep satu transaksi akan lebih relevan. Namun jika tujuannya adalah untuk membeli saham para pemegang saham yang tidak setuju dengan kebijakan perusahaan, maka pendekatan dua transaksi akan lebih mengena. Faktor utama yang mempengaruhi besarnya laba ditahan yaitu laba rugi periodik dan pembagian deviden. Tetapi, terdapat faktor khusus lain yang dapat mempengaruhi besarnya laba ditahan yaitu :
Penyusaian periode lalu
Koreksi kesalahan dalam laporan keuangan sebelumnya
Pengaruh perubahan akuntansi
Kuasai-reorganisasi
BAB 12
PENGUNGKAPAN DAN SARANA INTERPRETIF
Pengertian pengungkapan dalam arti sempit menurut Suwardjono, "Pengungakapan berarti penyampaian informasi relevan selain melalui statemen keuangan." Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menentukan luasnya pengungkapan tujuan pengungkapan, manfaat pengungkapan dan biaya yang harus ditanggung dalam penyusunannya. Faktor regulasi juga menjadi bagian penting dari pengungkapan, jika perusahaan memperoleh dananya dari publik atau pasar modal.
Metode pengungkapan yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan telah diatur dalam standar akuntansi atau peraturan lain yang mengatur pengungkapan tersebut. Informasi yang dapat disajikan dalam pengungkapan statemen keuangan diantaranya adalah catatan kaki, penjelasan dalam kurung, istilah teknis, lampiran, komunikasi manajemen dan catatan dalam laporan auditor.
Pengungkapan yang sampai sekarang masih menjadi pembahasan teoritis adalah pengungkapan perubahan nilai dan kedudukannya dalam pelaporan keuangan. Dalam Suwardjono telah dijelaskan bahwa, pengungkapan perubahan nilai dapat dilakukan dengan memisahkan dan tetap menyajikan secara terpisah hasil perubahan penilaian aset berdasarkan kos historis dengan penilaian berdasarkan selain kos historis, hal tersebut dimasudkan agar kualitas keterandalan dan keberpautan masih teteap terjaga antar informasi tersebut.
Menuru Patton dan Littleton juga menyatakan bahwa pengungkapan sarana interpretif dalam pelaporan keuangan sah-sah saja, jika rerangka akuntansi pokok atas dasar kos tetap dipertahankan.
BAB 13
AKUNTANSI UNTUK PERUBAHAN HARGA

Perubahan harga umunya terjadi karena perbedaan jumlah rupiah yang dapat digunakan untuk memperoleh barang yang sama dalam jangka waktu yang berbeda. Rerangka akuntansi pokok dilandasi oleh asumsi bahwa daya beli uang stabil, dan manfaat ekonomik barang tidak berubah. Jadi, apabila terjadi perubahan harga yang cukup mencolok akuntansi mengalami permasalahan dalam penilaian, unit pengukur dan pemertahanan kapital.
Masalah penilaian dalam disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya adalah kebijakan, persepsi, dan selera masyarakat akan suatu produk. Masalah akuntansinya adalah kos tercatat atas suatu aset tidak menggambarkan nilai aset tersebut. Oleh karena itu, model akuntansi yang sesuai adalah akuntansi sekarang dengan dasar penilaian kos sekarang. Unit pengukur secara umum diakibatkan oleh menurunnya daya beli uang dari tahun ke tahun akibat inflasi. Masalah akuntansinya adalah angka penjumlahan dalam akuntansi kurang bermakna, karena merupakan penjumlahan unit pengukur yang berbeda. Akuntansi untuk mengatasi pengaruh tersebut, secara umum disebut akuntansi daya beli konstan.
Konsep menentukan laba dengan pemertahanan kapital, terdapat tiga hal yang harus dipertimbangkan yaitu penilaian, skala pengukuran dan jenis kapital. Masalah penilaian dalam perubahan harga berkaitan dengan dasar penilaian kapital. Masalah unit pengukur dalam perubahan harga berkaitan dengan skala pengukuran. Sedangkan masalah perubahan harga berkaitan dengan jenis kapital yang harus dipertahankan yaitu finansial atau fisis.
Dalam rangka akuntansi perubahan harga, secara umum perubahan harga adalah perbedaan jumlah rupiah untuk memperoleh barang dan jasa yang sama pada waktu yang berbeda. Berdasarkan karakteristik perubahan harga, ada tiga jenis perubahan harga yaitu (perubahan harga umum), (2) perubahan harga spesifik dan (3) perubahan harga relatif. Perubahan harga umum adalah perubahan yang terjadi karena inflasi atau daya beli. Perubahan harga tetap terjadi walaupun manfaat atau daya tukar barang sama. Perubahan harga spesifik terjadi karena terjadi perubahan persepsi manfaat barang atau perubahan teknologi. Perubahan harga tetap terjadi walaupun tidak terjadi perubahan daya beli. Perubahan harga relatif terjadi karena terjadi perubahan secara umum dan spesifik.
Pos moneter dan non moneter berkaitan erat dengan implikasi perubahan harga .pembagian pos-pos neraca menjadi moneter dan non moneter didasarkan pada potensi jasa yang melekat pada pos bersangkutan, yaitu potensi jasa berupa aliran kas atau berupa aliran potensi jasa fisis (non kas).
Dalam mengatasi perubahan harga akibat daya beli, maka digunakan akuntansi daya beli konstan. Dengan daya beli sebagai basis pengukuran diharapkan perusahaan mampu mempertahankan sumber ekonomik untuk membeli barang dan jasa, dalam suatu kondisi perekonomian tertentu. Dalam mengatasi masalah penilaian diatasi dengan akuntansi kos sekarang dan berbagai variannya. Masalah unit pengukur diatasi dengan akuntansi daya beli konstan dengan berbagai variasinya dan akuntansi hibrida mengatasi dua jenis masalah tersebut. Secara khusus, berbagai model akuntansi ditawarkan untuk mengatasi masalah perubahan harga . tiap model merupakan hasil interaksi antar tiga faktor penentu laba dalam konsteks perubahan harga, yaitu dasar penilaian, definisi kapital dan skala pengukuran.
Berkaitan dengan dasar pengukuran
Jika kos sekarang digunakan sebagai dasar pengukuran, maka :
Laba akana terbagi menjadi dua ; laba akibat operasi dan laba akibat menahan kapital fisis.
Untung atau rugi yang belum terealisasi akibat penahanan aset, dimasukkan dalam statemen laba rugi.
Konsep ini bertentangan dengan akuntansi kos historis, yang mendasari diri pada realisasi untuk mengakui pendapatan.
Jika harga jual sekarang diguanakan sebagai dasar pengukuran, maka :
Laba dapat dipandang sebagai aliran dana bersih yang masuk, akibat perubahan harga pasar.
Laba bukan jumlah rupiah yang timbul karena kegiatan menghasilkan laba.
Berkaitan dengan kapital
Sebagai kapital fisis
Perubahan dalam kos sekarang karenan penahanan aset fisis dipisahkan dari laba dan dianggap sebagai penyesuai kapital fisis, sehingga tidak menjadi komponen penentu laba.
Sebagai kapital finansial
Kegiatan untung rugi penahanan merupakan komponen penentu laba sehingga masuk dalam statemen laba rugi pelengkap.
Berkaitan dengan skala
Menggunakan daya beli konstan sebagai unit pengukur laba
Untung rugi daya beli dapat ditentukan atau dikeluarkan dari laba atas dasar kos historis atau kos sekarang.
Untung rugi daya beli timbul karena perusahaan menahan aktiva moneter bersih selama periode tertentu.
Jika untung rugi daya beli dikeluarkan dari laba, hasilnya angka laba yang menggambarkan laba real.
Dari berbagai usulan akuntansi akibat perubahan harga diatas, diharapkan mampu mengatasi kelemahan akuntansi berbasis kos historis, sehingga masih dapat diadopsi akuntansi pokok tanpa harus mengganti struktur akuntansinya. Akuntansi perubahan harga merupakan bagian dari pelaporan keuangan untuk mencapai tujuan penyajian informasi keuangan. Jika konsep pemrosesan data dapat dipisahkan dari proses pelaporan data, maka akuntansi perubahan harga tidak perlu mengganti rerangka akuntansi pokok. P&L menyatakan bahwa akuntansi perubahan harga akan berkurang makna dan manfaatnya, tanpa disertai dengan informasi atas dasar kos historis.
DAFTAR PUSTAKA
Suwardjono. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta : BPFE , 2006.


Download TEORI AKUNTANSI.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca TEORI AKUNTANSI. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon