September 02, 2016

DAMPAK PENYELENGGARAAN DAN PERLAKUAN AKUNTANSI TERHADAP PERSEPSI PENGUSAHA KECIL ATAS SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


Judul: DAMPAK PENYELENGGARAAN DAN PERLAKUAN AKUNTANSI TERHADAP PERSEPSI PENGUSAHA KECIL ATAS SISTEM INFORMASI AKUNTANSI
Penulis: Faidul Adzim


DAMPAK PENYELENGGARAAN DAN PERLAKUAN AKUNTANSI TERHADAP PERSEPSI PENGUSAHA KECIL ATAS
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Banyak hal yang medasari pertumbuhan perekonomian indonesia saat ini dimana pemerintah sudah sepenuhnya medorong pergerakan dalam dunia usaha kecil dan menengah yang diperuntukkan bagi para pengusaha (entrepreneurship) diberbagai sektor maupun bidang yang juga mulai mendapat perhatian khusus dari komunitas akuntansi intenasional seperti International Accounting Standard Boards (IASB) dan American Institute of Certified Public Accountant (AICPA). Pada Juni 2004, IASB mengeluarkan suatu discussion paper tentang standar akuntansi untuk usaha kecil dan menengah. Sementara AICPA juga memberikan perhatian bagi usaha-usaha kecil dalam hal dampak penetapan suatu standar akuntansi bagi usaha kecil. AICPA mempunyai program-program untuk membantu masyarakat untuk berperilaku akuntan dalam menyediakan jasa yang berkualitas tinggi bagi klien yang memiliki dan mengembangkan usahanya.
Usaha kecil di negara maju ternyata memiliki peranan yang sangat besar. Di Amerika Serikat saja yang terkenal dengan usaha-usaha industri besarnya ternyata 44,3% dari total gaji di sektor swasta dihasilkan oleh usaha kecil juga berperan mempekerjakan separuh dari seluruh tenaga kerja di sektor swasta, dan selama satu dekade terakhir, negara adidaya tersebut mampu menciptakan 60% hingga 80% lapangan kerja baru.
Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Menurut data Biro Pusat Statistik dan Kementrian Koperasi dan UKM 2005, jumlah UKM di Indonesia terbukti telah menyerap 79,6 juta tenaga kerja atau 88% dari seluruh tenaga kerja, mempunyai andil terhadap 19,94% nilai ekspor dan 55,67% produk Domestik Bruto.
Setahun kemudian data menunjukkan bahwa berdasarkan skala usaha, sebagian besar perusahaan/usaha merupakan Usaha Mikro (UM) dan Usaha Kecil (UK), dengan persentase masing-masing 83,43% dan 15,84%. Sedangkan perusahaan/usaha yang merupakan Usaha Menengah dan Besar (UMB) hanya 166,4 ribu atau tidak lebih dari 1% terhadap seluruh perusahaan/usaha.
Khusus di Kota Makassar, perkembangan usaha kecil juga sangat pesat. Ini ditandai dengan banyaknya usaha-usaha kecil yang berdiri di kota ini. Sensus ekonomi pada tahun 2006, total usaha industri kecil berjumlah 8.481 unit dengan jumlah tenaga kerja yang tersebar sejumlah 13.876 orang.
Hal lain yang perlu diketahui dari usaha kecil, bahwasanya mereka ternyata lebih tahan terhadap krisis dan mampu survive di bandingkan dengan usaha industri besar. Ini dikarenakan usaha kecil memiliki karakteristik seperti, tidak memiliki utang luar negeri, tidak banyak utang pada perbankan karena mereka dianggap unbankable, menggunakan input lokal, dan berorientasi ekspor.
Berikut ini data lengkap BPS 2006 mengenai jumlah unit dan tenaga kerja usaha industri kecil yang ada di Kota Makassar dengan perincian per kecamatan.
Tabel 1.1
JUMLAH PERUSAHAAN DAN TENAGA KERJA INDUSTRI KECIL DAN KERAJINAN RUMAH TANGGA MENURUT KECAMATAN DI KOTA MAKASSAR 2006
Number of Manufactures, Employments by small Industry and Domestic Industry by Subdistrict in Makassar 2006
Kecamatan
Subdistrict Perusahaan
Manufactured Tenaga Kerja
Employment
Mariso
Mamajang
Tamalate
Rappocini
Makassar
Ujung Pandang
Wajo
Bontoala
Ujung Tanah
Tallo
Panakukang
Manggala
Biringkanayya
Tamalanrea
MAKASSAR 186
217 537
472
463
84
257
213
258
782
488
331
386
167
4841 513
518
1640
1416
1384
336
714
636
536
2139
1459
932
1016
637
13876
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Makassar , Sensus Ekonomi 2006
Kondisi di atas menunjukkan betapa pentingnya usaha kecil maupun menengah bagi perekonomian sebuah negara, tak terkecuali Indonesia. Namun hal tersebut belum selaras dengan persepsi pengusaha kecil yang belum menganggap usaha mereka menyumbangkan sumbangsih yang lebih dominan dari pada industri besar dan perkembangan perekonomian, sehingga untuk urusan pengadaan laporan keuangan sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan bagi perekonomian masih rendah partisipasinya. Padahal laporan keuangan yang merupakan merupakan produk informasi akuntansi sangat penting dalam keberlangsungan sebuah usaha.
Informasi itu bisa dijadikan sebagai alat perencanaan maupun juga alat pengendalian atau yang dikenal controlling, yang mana kita tahu keduanya sangat penting dalam fungsi manajemen dan juga dapat dijadikan bahan untuk pengambilan keputusan dalam sebuah usaha.
Informasi akuntansi juga tidak hanya untuk para pengusaha kecil, tapi juga pihak-pihak eksternal dari para pengusaha kecil, seperi kreditur, ataupun pihak perbankan yang dalam hal ini pemberi modal bagi usaha kecil. Misalnya menurut Bank Indonesia pemberian KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan tingkat pemberian kredit mencapai Rp 500.000.000. dengan jumlah yang lumayan besar dan juga berhubungan langsung dengan pihak perbankan, maka perlunya ada informasi akuntansi dari pihak pengusaha kecil sebagai alat penyampaian hasil usahanya nanti sehingga pihak perbankan juga dapat menggunakannya dalam pengambilan keputusan pemberian KUR tersebut. Fungsi dari informasi akuntansi disamping dapat dijadikan alat pengambilan keputusan, bagi pihak eksternal hal ini juga dapat untuk mengukur peningkatan atau penurunan kinerja bagi para pengusaha kecil, misalnya dalam hal ini dengan melihat informasi laba yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut, hal ini penting sebab mereka meminjamkan dananya dengan pertimbangan sebagai alat investasi.
Fungsi informasi akuntansi bagi usaha kecil juga bermanfaat disektor fiskal. Misalnya dengan adanya informasi akuntansi, dapat diketahui berapa pajak penghasilan dari setiap pengusaha ataupun berapa pajak yang harus dikeluarkan dalam menjalankan usaha tersebut.
Melihat kenyataan bahwa peranan usaha kecil dalam pembangunan perekonomian suatu negara sangat penting, disamping itu kebutuhan akan informasi akuntansi juga penting untuk dipenuhi, maka penulis mencoba mengetahui implikasi dari keduanya dan kemudian mengambil judul "Pengaruh Penyelenggaraan dan Penggunaan Informasi Akuntansi terhadap Persepsi Pengusaha Kecil atas Informasi Akuntansi di Kecamatan Manggala".
Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka perumusan masalah yang dapat diajukan yaitu : apakah penyelenggaraan dan penggunaan informasi akuntansi berpengaruh terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi ?
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penyelenggaraan dan penggunaan informasi akuntansi terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini di harapkan bermanfaat bagi :
Dunia Usaha Kecil. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan dan pemberdayaan usaha kecil, dengan menunjukkan titik strategis dan mendorong penggunaan informasi akuntansi bagi usaha kecil.
Dunia Penelitian dan Bidang Akuntansi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan konsep-konsep baru dalam bidang akuntansi khususnya bagi usaha kecil.
Sistematika Penulisan
I : Pendahuluan, menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
II : Tinjauan Pustaka dan Pengembangan Hipotesis, memuat tentang teori yang relevan.
III : Metode Penelitian, terdiri dari populasi dan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, analisis data dan pembahasan.
IV: Gambaran umun Kecamatan Manggala, luas wilayah, penduduk
V: Pembahasan, deskriptif sampel penelitian, uji kualitas data
VI: Penutup, berisi kesimpulan, keterbatasan penelitian dan saran-saran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Landasan Teori
Penelitian Terdahulu tentang Persepsi Pengusaha atas Informasi Akuntansi
Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan temuan bahwa pengusaha kecil cenderung enggan melakukan pencatatan akuntansi dengan baik. Hal ini dilatar belakangi oleh persepsi pengusaha kecil tersebut terhadap informasi akuntansi.
Hasil penelitian Pinasti, M (2007:5) menunjukkan bahwa para pedagang kecil di pasar tradisional kabupaten Banyumas tidak menyelenggarakan dan tidak menggunakan informasi akuntansi dalam pengelolaan usahanya. Keputusan-keputusan dalam pengelolaan usaha lebih banyak didasarkan pada informasi-informasi non-akuntansi dan pengamatan sepintas atas situasi pasar. Secara umum, bagi para pedagang kecil tersebut, informasi akuntansi tidak penting. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh para pengusaha kecil tersebut antara lain: mereka merasa terlalu direpotkan dengan penyelenggaraan catatan akuntansi tersebut, para pengusaha kecil ini berpikir bahwa yang penting mereka mendapatkan laba tanpa direpoti dengan penyelenggaraan akuntansi, karena mereka belum merasakan manfaatnya.
Hasil penelitian Hariyanto dalam Pinasti, M (2007:5) mengenai kebutuhan infomasi akuntansi bagi usaha perdagangan eceran di Kotatip Purwokerto menunjukkan hal yang senada. Penelitian-penelitian sebelumnya terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi menunjukkan hasil bahwa pengusaha kecil cenderung tidak melakukan pencatatan akuntansi dengan baik. Ini disebabkan oleh persepsi pengusaha kecil terhadap informasi akuntansi. Mereka enggan melakukannya dikarenakan pandangan mereka yang merasa hal tersebut tidak penting.
Idrus dalam Pinasti, M (2007:5) menyatakan bahwa pengusaha kecil memandang akuntansi merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dijangkau. Bagi mereka, suatu proses akuntansi tidak terlalu penting untuk diterapkan. Hal terpenting bagi mereka adalah cara menghasilkan laba sebanyak mungkin dari usaha yang dijalankan tanpa direpoti dengan masalah pembukuan/akuntansi.
Sementara itu dalam berbagai penelitiannya, Marbun dalam Pinasti, M (2007:5) mengemukakan bahwa salah satu kelemahan usaha kecil di Indonesia adalah pada umumnya mereka tidak menguasai dan mempraktekkan sistem keuangan yang memadai. Pada umumnya pengusaha kecil tidak atau belum memiliki dan mengelola catatan akuntansi secara ketat dan berdisiplin dengan pembukuan yang teratur, baik dalam bentuk harian, mingguan, bulanan dan seterusnya. Salah satu alasan tidak adanya catatan yang memadai ini adalah kebutuhan akan pengadaan catatan akuntansi dianggap hanya membuang waktu dan biaya.
Selain beberapa penelitian di atas, terdapat juga beberapa penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penggunaan informasi akuntansi. Misalnya, Holmes dan Nicholls dalam Fitriyah, H (2006:25) melakukan penelitian tentang penggunaan informasi akuntansi. Penelitian yang dilakukan di Australia pada 928 perusahaan ini menganalisis tingkat penyiapan dan dan penggunaan informasi akuntansi oleh pemilik atau manajer perusahaan kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan pimpinan atau manajer perusahaan yang rendah menyebabkan banyak perusahaan menggunakan jasa Akuntan Publik dalam penyediaan informasi akuntansi. Skala usaha dan pengalaman usaha juga berpengaruh positif terhadap tingkat penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi. Mereka juga menyatakan bahwa tingkat informasi akuntansi yang disediakan tergantung pada skala usaha, yang diukur dengan jumlah pendapatan atau hasil penjualan dan jumlah karyawan. Apabila skala usaha meningkat, maka proporsi perusahaan dalam penyediaan dan penggunaan informasi akuntansi, anggaran dan informasi tambahan juga meningkat.
Suhairi, Yahya dan Harun dalam Fitriyah, H (2006:25) juga meneliti hubungan pengetahuan akuntansi dan kepribadian wirausaha terhadap penggunaan informasi akuntansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan akuntansi seorang wirausaha berdampak positif terhadap penggunaan informasi akuntansi.
Dari hasil beberapa penelitian yang telah diuraikan di atas bisa disimpulkan bahwa para pengusaha kecil pada umumnya belum merasa membutuhkan informasi akuntansi dalam keberlangsungan usaha mereka. Padahal menurut Megginson dalam Pinasti, M (2007:2), "Informasi akuntansi mempunyai peranan penting untuk mencapai keberhasilan usaha, termasuk bagi usaha kecil". Informasi akuntansi dapat menjadi dasar yang andal bagi pengambilan keputusan-keputusan dalam pengelolaan usaha kecil, antara lain keputusan pengembangan pasar, penetapan harga, dan lain-lain, dalam hubungan usaha kecil dengan pemerintah dan kreditur (bank), penyediaan informasi akuntansi juga diperlukan.
Informasi Akuntansi
Defenisi Informasi Akuntansi
Menurut Romery dan Paul (2006:11), defenisi informasi adalah data yang telah diatur dan diproses untuk memberikan arti. Romery dan Paul juga memaparkan bahwa informasi dapat dikatakan berkualitas apabila telah memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :
Relevan, informasi dikatakan relevan jika mengurangi ketidakpastian, memperbaiki kemampuan pengambil keputusan untuk membuat prediksi, mengkonfirmasi atau memperbaiki ekspektasi mereka sebelumnya.
Andal, informasi dikatakan andal jika bebas dari kesalahan atau penyimpangan dan secara akurat mewakili kejadian atau aktivitas di organisasi.
Lengkap, informasi dikatakan lengkap jika tidak menghilangkan aspek-aspek penting dari kejadian yang merupakan dasar masalah yang diukurnya.
Tepat waktu, informasi dikatakan tepat waktu jika diberikan pada saat yang tepat untuk memungkinkan pengambilan keputusan menggunakannya.
Dapat dipahami, informasi dikatakan dapat dipahami jika disajikan dalam bentuk yang dapat dipakai dan jelas.
Dapat diverifikasi (kompeten), informasi dikatakan dapat diverifikasi jika dua orang dengan pengetahuan yang baik, bekerja secara independen dan masing-masing akan menghasilkan informasi yang sama.
Sementara defenisi akuntansi yang lain adalah :
"Accounting as the process identifiying, measuring, and communicating economic information to permit informed judgement and decision by users of the information"
Defenisi akuntansi menurut AICPA :
"Accounting is the art of recording, classifiying, and summarizing in a significant manner and interms of money, transaction and events which are in part at least, of a financial character, and interpreting the results thereof "
FASB mendefenisikan akuntansi secara umum adalah :
"Accounting is the body knowledge anf functions concered with systematic originating, recording, classifying, processing, summerizing, analyzing, interpreting and supplying of dependable and significant information covering, transaction, and event which are, in part at least, of financial character, required for the management and operatian of an entieyand for report that have to be submitted there on to meet fiduciary and other responsibilities".
Adapun pengertian lain bahwa akuntansi adalah pengidentifikasian, pengukuran, dan pengkomunikasian informasi keuangan tentang entitas ekonomi kepada pemakai yang berkepentingan.
Kegunaan Informasi Akuntansi
Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi pada usaha kecil dan menengah antara lain pengetahuan akuntansi, skala usaha, jenis usaha dan pengalaman usaha. Mereka juga mengklasifikasikan informasi akuntansi dalam tiga jenis berbeda menurut manfaat dan kegunaanya bagi para pemakai, yaitu :
Statutory accounting information, merupakan informasi yang harus disiapakan sesuai dengan peraturan yang ada.
Budgetary accounting information, yaitu informasi akuntansi yang disajikan dalam bentuk anggaran yang berguna bagi pihak internal dalam perencanaan, penilaian dan pengambilan keputusan.
Additional accounting information, yaitu informasi akuntansi lain yang disisakan perusahaan guna meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan manajer.
Dalam situs Wikipedia.com, menerangkan bahwa sebuah SIA (Sistem Informasi Akuntansi) menambah nilai dengan cara:
Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu sehingga dapat melakukan aktivitas utama pada value chain secara efektif dan efisien.
Meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya produk dan jasa yang dihasilkan
Meningkatkan efisiensi
Meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan
Meningkatkan sharing knowledge
Menambah efisiensi kerja pada bagian keuangan
Adapun salah satu ciri khas yang membuat informasi dalam keuangan berguna bagi penggunanya adalah karakteristik kualitatif, yaitu :
Dapat dipahami (Understandability), kualitas informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh penggunanya. Untuk maksud ini, pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi serta kemauan untuk mempelajari informasi tersebut dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, kepentingan agar laporan keuangan dapat dipahami tetapi tidak sesuai informasi yang relevan harus diabaikan dengan pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dipahami oleh penggguna tertentu.
Relevan (Relevance), agar bermanfaat, informasi harus relevan dengan kebutuhan pengguna untuk proses pengambilan keputusan. Informasai memiliki kualitas relevan jika dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan cara membantu mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini, masa depan dan menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.
Materialistis (Materiality), informasi dipandang material jika kelalaian untuk mencantumkan atas kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan. Materialistis tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi tertentu dari kelalaian dalam mencantumkan (omission) dan kesalahan dalam mencatat (misstatement). Namun demikian, tidak tepat membuat atau membiarkan kesalahan untuk menyimpang secara tidak material dari SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik) agar mencapai penyajian tertentu dari posisi keuangan, kimerja keuangan atau arus kas suatu entitas.
Keandalan (Reliability), agar bermanfaat yang disajikan dalam laporan keuangan harus handal. Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari kesalahan material dan bias, dan penyajian secara jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. Laporan keuangan tidak bebas dari bias (melalui pemilihan atau penyajian informasi) jika dimaksudkan untuk mempengaruhi pembuatan suatu keputusan atau kebijakan untuk tujuan mencapai suatu hasil tertentu.
Substansi mengungguli bentuk (Subtance over form), transaksi, peristiwa dan kondisi lain dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realita ekonomi dan bukan hanya untu hukumnya. Hal ini untuk maningkatkan keandalan laporan keuangan.
Pertimbangan Sehat (Prudence) , ketidakpastian yang tidak dapat diabaikan meliputi berbagai peristiwa dan keadaan yang dipahami berdasarkan pengungkapan sifat dan penjelasan peristiwa dan keadaan tersebut melalui penggunaan pertimbangan sehat dalam menyusun laporan keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian dalam melakukan pertimbangan yang dilakukan pada kondisi ketidakpastian, sehingga aset penghasilan tidak disajikan lebih tinggi dan kewajiban atau beban tidak disajikan lebih rendah. Namun demikian, penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan pembentukan aset atau penghasilan yang lebih rendah atau beban yang lebih tinggi. Singkatnya, pertimbangan sehat tidak mengijinkan bias.
Kelengkapan (completeness), agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan kurang mencukupi ditinjau dari segi pencatatan kewajiban atau relevansi.
Dapat dibandingkan (Comparability), pengguna harus dapat membandingkan laporan keuangan entitas antar periode untuk mengidentifikasi kecenderunagan posisi dan kinerja keuangan. Pengguna juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antar entitas untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif. Oleh karena itu pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten untuk suatu entitas, antar periode untuk entitas tersebut dan untuk entitas yang berbeda. Sebagai tambahan, pengguna laporan keuangan, perubahan kebijakan akuntansi dan pengaruh dampak perubahan tersebut.
Tepat Waktu (Timeliness), agar relevan, informasi dalam laporan keuangan harus dapat mempengaruhi keputusan ekonomi para penggunanya. Tepat waktu meliputi penyediaan informasi laporan keuangan dalam janngka waktu pengambilan keputusan. Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilanngan relevansinya. Manajemen mungkin perlu menyeimbangkan secara relatif antara pelaporan tepat waktu dan penyediaan informasi yang andal.
Keseimbangan antara biaya dan manfaat (balance between benefit and cost), manfaat informasi seharusnya melebihi biaya penyediannya. Namun demikian, evaluasi biaya dan manfaat merupakan proses pertimbangan yang substansial. Biaya tersebut juga perlu ditanggung oleh pengguna yang menikmati manfaat. Dalam evaluasi manfaat dan biaya, entitas harus memahami bahwa manfaat yng dinikmati oleh pengguna eksternal
Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAKETAP)
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) melalui Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) telah merancang suatu standar pelaporan keuangan bagi UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang kemudian dinamakan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada tahun 2009.
SAK ETAP dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik adalah entitas yang:
Tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan
Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
Suatu entitas dikatakan memiliki akuntabilitas publik signifikan jika :
1. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal, atau
2. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pedegang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi.
Dari pernyataan diatas, jelas mengandung makna bahwa entitas kecil dan menengah yang dimaksud oleh SAK ETAP adala entitas kecil menengah non-listed atau entitas yang tidak masuk dalam bursa saham. Artinya ada dua standar akuntansi yang berbeda yang dijadikan acuan dalam penyusunan dan pelaporan keuangan. Ini berarti akan ada juga standar pengukuran dan pengungkapan yang berbeda dari masing-masing standar akuntansi tersebut. Di satu sisi ada SAK ETAP yang kusus ditujukan untuk entitas kecil menengah yang non-listed, di sisi lain ada SAK umum, dalam hal ini PSAK yang ditujukan untuk entitas lainnya, termasuk entitas kecil menengah jika entitas tersebut termasuk listed company.
Tujuan dari laporan keuangan SAK ETAP itu sendiri adalah menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja dan laporan arus kas, suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi informasi tertentu. Dalam memenuhi tujuannya, laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship) atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Pengertian Persepsi
Pengertian persepsi dinyatakan oleh Kreitner dan Kinicki dalam Pinasti, M (2007:6) sebagai berikut:
"Perception is a cognitive process that enables us to interpret and understand our surroundings."
Persepsi itu bagaimana orang-orang melihat atau menginterpretasikan peristiwa, objek serta manusia. Persepsi dipengaruhi faktor dalam situasi yaitu : waktu, keadaan/tempat kerja dan keadaan sosial. Faktor lain yang mempengaruhi persepsi adalah : sikap, motif. Kepentingan, pengalaman dan pengharapan. Faktor lain yang juga mempengaruhi persepsi adalah hal baru, gerakan, bunyi, ukuran, latar belakang dan kedekatan.
Empat tahap pemrosesan informasi dalam pembentukan persepsi Kreitner dan Kinicki, dalam Pinasti M (2007:6) adalah:
1. Tahap perhatian selektif (selective attention), yang merupakan proses timbulnya kesadaran akan sesuatu atau seseorang.
2. Tahap interpretasi dan penyederhanaan (encoding and simplification), yaitu proses interpretasi atau translasi informasi menjadi representasi mental.
3. Tahap penyimpanan dan pengulangan (storage and retention), yaitu tahap penyimpanan informasi dalam memori jangka panjang.
4. Tahap penarikan informasi dan pemberian respon (retrieval and response), yang dilakukan pada saat seseorang membuat pertimbangan dan mengambil keputusan.
Khusus pada tahap encoding and simplification memungkinkan dihasilkannya interpretasi dan evaluasi yang berbeda atas seseorang atau suatu kejadian yang sama. Menurut Kreitner dan Kinicki, perbedaan interpretasi ini dapat disebabkan oleh:
1. Perbedaan informasi dalam pandangan yang digunakan untuk interpretasi,
2. Pengaruh mood dan emosi,
3. Menerapkan kategori kognitif terkini, serta
4. Perbedaan individual.
Uraian di atas mengenai pengertian dari persepsi pada umumnya menggambarkan bahwa stimulus yang diterima akan kemudian ditafsirkan, diolah, dan diinterpretasikan sehingga nantinya akan memngaruhi persepsi dari stimulus yang diberikan tadi. Dalam penelitian ini, stimulus yang diberikan adalah penyelenggaraan dan penggunaan informasi akuntansi. Disini akan diuraikan apakah stimulus yang diberikan yakni berupa penyelenggaraan dan penggunaan informasi akuntansi dapat mempengaruhi persepsi para pengusaha kecil terhadap informasi akuntansi tersebut.
Usaha Kecil
1. Defenisi Usaha Kecil
Ada beberapa defenisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. Defenisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. 9 tahun 1995 tentang usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp 1 milyar dan memiliki kekayaan bersih, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, paling banyak Rp 200 juta.
Adapun Usaha Mikro sebagaimana dimaksud menurut Keputusan Menteri Keuangan No.40/KMK.06/2003 tanggal 29 Januari 2003, yaitu usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per tahun. Usaha Mikro dapat mengajukan kredit kepada bank paling banyak Rp.50.000.000,-.
Menurut departemen koperasi dan UKM, usaha kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan, rumah tangga, ataupun suatu badan bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa untuk diperniagakan secara komersial dan omzet penjualan kurang dari satu milyar rupiah.
Menurut SAK UMKM dalam pernyataan standar akuntansi untuk UMKM bab 1 tentang ruang lingkup paragraph 1 dijelaskan bahwa usaha kecil adalah etitas yang :
a. Tdak memiliki tanggung jawab akuntabilitas tehadap publik
b. Menerbitkan laporan keuangan bertujuan umum untuk pennguna eksternal.
Ciri-ciri dan Contoh Usaha Kecil
Menurut Mulyadi (2009:38), usaha kecil memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan usaha kecil itu antara lain, mengembangkan kreatifitas usaha baru, melakukan inovasi, ketergangantungan usaha besar terhadap usaha kecil, dan daya tahan usaha kecilpasca krisis. Sementara kelemahannya yaitu, lemahnya keterampilan manajemen, tinnginya tingkat kegagalan oleh karena kurangnya kompetensi dalam dunia usaha, dan keterbatasan sumber daya.
Menurut Deddy Edward Tanjung (2008) ciri-ciri usaha kecil antara lain adalah :
Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang berubah,
Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-pindah,
Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana,
keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga, sudah membuat neraca usaha,
Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP,
Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwira usaha,
Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal,
Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik seperti business planning.
Usaha kecil memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan usaha kecil itu antara lain, mengembangkan kreatifitas usaha baru, melakukan inovasi, ketergantungan usaha besar terhadap usaha kecil,dan daya tahan usaha kecil pasca krisis. Sementara kelemahannya yaitu, lemahnya keterampilan manajemen, titngginya tingkat kegagalan oleh karena kurangnya kompetensi dalam dunia usaha, dan keterbatasan sumber daya.
Contoh usaha kecil adalah :
Usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang memiliki tenaga kerja
Pedagang dipasar grosir (agen) dan pedagang pengumpul lainnya
Pengrajin industri makanan dan minuman, industri kayu dan rotan, industri alat-alat rumah tangga, industri pakaian jadi dan industri kerajinan tangan
Peternakan ayam, itik, dan perikanan
Koperasi berskala kecil.
E. Kerangka Pikir dan Hipotesis Penelitian
Kerangka Pikir
Persepsi Pengusaha Kecil


Penyelenggaraan Informasi Akuntansi
Penggunaan Informasi Akuntansi


Analisis


Hasil Penelitian

Gambar 2.1
Hasil penelitian dan temuan sebelumnya tentang persepsi pengusaha kecil terhadap penyelenggaraan dan penggunaan informasi akuntansi menunjukkan bahwa pengusaha kecil mempunyai persepsi "negatif" atas nilai informasi akuntansi. Persepsi tersebut berbarengan dengan ketiadaan penyelenggaraan dan penggunaan Informasi akuntansi oleh pengusaha kecil tersebut. Oleh karena itu, dapat diduga bahwa persepsi "negatif" tersebut didasari oleh yang bukan berasal dari pengalaman pengusaha kecil dalam menyelenggarakan dan menggunakan informasi akuntansi. Dengan kata lain, pengalaman penyelenngaraan dan penggunaan informasi akuntansi dapat mengubah persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian adalah anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah yang dikaji. Dalam hipotesis ini peneliti menganggap hipotesisnya benar yang kemudian akan dibuktikan secara empiris melalui pengujian hipotesis dengan mempergunakan data yang diperoleh selama penelitian.
Berdasarkan pernyataan diatas yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian yaitu :
Ha : Diduga penyelenggaraan informasi akuntansi berpengaruh terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Hb : Diduga penggunaan informasi akuntansi berpengaruh terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di Kota Makassar, Kecamatan Manggala yakni menguji pengaruh penyelenggaraan dan penggunaan informasi akuntansi terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Adapun waktu yang dibutuhkan dalam penelitian ini, yakni pada bulan Mei dan Juni. Dimana penyusun akan mengumpulkan data-data serta informasi yang dinilai cukup untuk pengolahan data selanjutnya.
B. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah bagian terpenting dalam suatu penelitian. Hal ini dikarenakan adanya ketersediaan data yang benar dan akurat akan menentukan dalam proses pengolahan maupun analisa selanjutnya.
Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dulu dilakukan dulu uji kualitas data yang terdiri dari uji validitas dan uji realibilitas.
Uji validitas
Uji validitas data ditujukan untuk mengukur seberapa nyata suatu pengujian/instrumen mengukur apa yang seharusnya diukur (Argita 2007:32) . pengukuran dinyatakan valid jika mengukur tujuannya dengan nyata dan benar. Pengujian validitas data dalam penelitian ini dilakukan secara statistik yaitu dengan menghitung korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor total dengan menggunakan metode corrected item – total correlation.
Uji realibilitas
Uji realibilitas data dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengukur mengukur dengan stabil dan konsisten (Indriantoro,2002:28).
Pengujian realibilitas dilakukan dengan menggunakan cronbach alpha. Koefisien cronbach alpha yang lebih dari 60 menunjukkan keandalan (realibilitas) instrumen. Selain itu, cronbach alpha yang semakin mendekati 1 menunjukkan konsistensi reliabilitas internalnya.
Dalam penelitian ini penulis tidak memerlukan pengujian asumsi klasik yang seperti diketahui pada umumnya terdiri atas uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji linearitas. Hal ini didasari bahwa uji asumsi klasik tidak perlu dilakukan untuk analisis regresi linear yang bertujuan untuk menghitung nilai pada variabel tertentu (http//www.konsultanstatistik.com/2009/03/uji-asumsi-klasik.html). Dalam penelitian ini variabel tersebut adalah persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi perhitungan variabel tersebut diharapkan dilakukan dengan persamaan regresi, tetapi tidak perlu diuji asumsi klasik.
C. Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber. Teknik pengumpulannya diuraikan sebagai berikut :
Data primer diperoleh dengan cara :
Observasi, yaitu dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian, selama periode waktu tertentu.
Wawancara, yakni tanya jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau informasi akan suatu masalah. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data.
Metode survei, yaitu dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden yang terpilih sebagai sampel dalam penelitian. Kuessiomer berisi daftar pertanyaan yang ditujukan kepada responden untuk didiisi. Dengan demikian, penelitian akan memperoleh data atau fakta yang bersifat teoritis yang memiliki hubungan dengan permasalahan yang akan dibahas.
Data-data sekunder yang menunjang penelitian ini diperoleh dari :
Akses internet, akses internet digunakan untuk mencari data-data pendukung dari berbagai buku, ebook, maupun jurnal-jurnal yang tersedia dalam internet.
Studi yang relevan, studi yang relevan ini yang digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian.
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu. Sementara sampel adalah bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang juga memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yanng dianggap bisa mewakili populasi.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengusaha kecil yang ada di Kecamatan Manggala. Dari populasi tersebut diambil beberapa untuk dipilih menjadi sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling dan snow ball sampling. Melalui kedua teknik ini, pemilihan sampel dilakukan berdasarkan tujuan dari penelitian dan pertimbangan-pertimbangan tertentu serta jumlah respondenyang tidak menentu sampai informasi yang dibutuhkan dinilai telah cukup.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam penelitian. Dalam penyusunan sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu daftar dari semua unsur sampling dalam populasi sampling, dengan syarat:
a.    Harus meliputi seluruh unsur sampel
b.    Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali
c.    Harus up to date
d.    Batas-batasnya harus jelas
e.    Harus dapat dilacak dilapangan
Adapun pertimbangan-pertimbangan itu adalah,
Sampel yang dipilih merupakan pengusaha-pengusaha kecil yang usaha utama mereka adalah usaha kecil tersebut,
Sampel yang dipilih merupakan sampel yang pada saat ini telah melakukan pencatatan akuntansi yang mana proses pelaksanaan tersebut dulunya tidak dilakukan.
Adapun yang menjadi sampel penelitian ini adalah pengusaha kecil di Kecamatan Manggala.
E. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode regresi berganda. Metode ini digunakan untuk mengetahui pengaruh penyelenggaraan (X1) dan penggunaan (X2) terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi (Y).
Adapun persamaan umum dari analisis regresi linear berganda yaitu :
Y = a + bX1+ bX2
Dimana,
Y = Persepsia = Konstanta, titik potong
X1 = Penyelenggaraanb = Variabel Bebas
X2 = Penggunaan
F. Defenisi Operasional
Defenisi operasional yang dikemukakan dalam proposal ini yakni Informasi Akuntansi sebagai informasi kuantitatif tentang entitas ekonomi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi dalam menentukan pilihan-pilihan diantara alternatif-alternatif yang ada.
Informasi akuntansi pada dasarnya bersifat keuangan dan terutama digunakan untuk tujuan pengambilan keputusan, pengawasan dan implementasi keputusan-keputusan perusahaan. Agar data keuangan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan, maka data tersebut harus disusun dalam bentuk yang sesuai.



BAB IV
GAMBARAN UMUM KECAMATAN MANGGALA
A. Letak Geografis dan Batas Wilayah
Kecamatan Manggala merupakan salah satu dari 14 Kecamatan di Kota Makassar yang berbatasan dengan sebelah utara dengan Kecamatan Tamalanrea, di sebelah timur dengan Kabupaten Maros, di sebelah selatan dengan Kabupaten Gowa dan sebelah barat Kecamatan Panakkukang.
Kecamatan manggala merupakan daerah bukan pantai dengan topografi ketinggian wilayah sampai dengan 46 meter dari permukaan laut.
Menurut jaraknya letak masing-masing kelurahan ke Ibukota Kecamatan berkisar 1 km sampai dengan jarak 5-10 km.
B. Luas Wilayah
Kecamatan Manggala terdiri dari 6 kelurahan dengan luas wilayah 24,14 km2 dari luas wilayah tersebut, Kelurahan Tamangapa memiliki wilayah terluas yaitu 7, 62 km2, terluas kedua adalah Kelurahan Manggala dengan luas wilayah 4,44 km2, sedangkan yang paling kecil luas wilayahnya adalah keluraha borong dan Kelurahan Batua dengan luas masing-masing 1,92 km2.
C. Penduduk
Menurut hasil proyeksi penduduk pada tahun 2011 di Kecamatan Manggala. Jumlah penduduknya sekitar 118.191 jiwa. Angka proyeksi ini diperoleh dengan menghitung pertumbuhan penduduk berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan setiap 10 tahun sekali. Berdasarkan jenis kelamin tampak bahwa jumlah penduduk laki-laki 59.008 jiwa dan perempuan 59.183 jiwa.
D. UMKM di Kecamatan Manggala
Laju pertumbuhan ekonomi Kota Makassar berada di peringkat paling tinggi di Indonesia. Bahkan, pada 2008 lalu, pertumbuhan ekonomi Kota Makassar mencapai angka 10,83 persen. Pesatnya pertumbuhan ekonomi saat ini, tak lepas dari peran kecamatan-kecamatan yang ada di Kota Makassar, tak terkecuali di Kecamatan Manggala.
Pada saat ini kecamatan manggala mengalami perkembangan yang cukup signifikan, tidak hanya dalam bidang kesehatan dan pendidikan, Kecamatan Manggala pula mampu memperbaiki kondisi perekonomiannya. Seperti banyaknya toko-toko maupun warung/kios yang mendorong perputaran ekonomi di kecamatan ini.
Sektor usaha perdagangan merupakan unit usaha yang paling banyak dipilih oleh warga di Kecamatan Manggala sebagai usaha alternatif, mengingat pengelolaannya yang cukup mudah. Karena itulah, sektor ini yang paling mendominasi dan sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir dan terus mengalami peningkatan drastis setiap tahun.
BAB V
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
A. Deskriptif Sampel Penelitian
Pengumpulan data untuk keperluan analisis dari penelitian ini dilakukan dengan pendistribusian kuesioner kepada para pengusaha kecil di kecamatan Manggala. Adapun pendistribusian serta pengumpulan kuesioner tersebut dilakukan oleh penulis pada minggu ke-2 hingga minggu ke-4 bulan Mei. Jumlah kuesioner yang didistribusikan dan berhasil dan dikumpulkan yaitu 30 kuesioner.
Responden dalam penelitian ini adalah para pengusaha kecil yang tersebar di beberapa kelurahan yang ada di Kecamatan Manggala. Jenis usaha dari para pengusaha tersebut yang penulis jadikan sampel, yakni berupa usaha dagang dan usaha jasa.
Tabel 5.1 Ikhtisar Distribusi dan pengembalian Kuisioner
No Keterangan Jumlah Kuisioner Persentase
1 Distribusi kuesioner 42 100%
2 Kuesioner tidak kembali 0 0%
3 Kuesioner kembali 42 100%
4 Kuesioner bisa diolah 42 100%
N sample = 42
Responden Rate = (42/42) x 100 % = 100 %
B. Uji Kualitas Data
B.1 Uji Validitas
Sesudah mengumpulkan kuesioner dari responden, selanjutnya dilakukan uji validitas terhadap data yang diperoleh. Ini dilakukan untuk mengetahui ketepatan suatu instrumen dalam mengukur apa yang ingin diukur. Penelitian ini menggunakan corrected item- total correlation yakni dengan mengitung korelasi masing-masing skor item dengan skor total, dimana skor total adalah akumulasi dari keseluruhan item. Item-item pertanyaan dalam kuesioner yang berkolerasi signifikan dengan skor total enunjukkan item tersebut mampu mendukung pengungkapan yang ingin diungkap dalam penelitian ini.
Adapun uji validitas ini menggunakan alat analisis yakni program Statistical Product and Service Solution 16 (SPSS 16) dan hasil uji validitas data dlam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5.2 dan 5.3.
Tabel 5.2 Hasil Uji Validitas (Bagian 1)
No Item Corrected Item-Total Correlation r tabel Keterangan
1 Py1 0,424 0,304 Valid
2 Py2 0,614 0,304 Valid
3 Py3 0,554 0,304 Valid
4 Py4 0,749 0,304 Valid
5 Py5 0,517 0,304 Valid
6 Py6 0,473 0,304 Valid
7 Pg7 0,593 0,304 Valid
8 Pg8 0,361 0,304 Valid
9 Pg9 0,554 0,304 Valid
10 Pg10 0,489 0,304 Valid
11 Pg11 0,431 0,304 Valid
12 Pg12 0,415 0,304 Valid
13 PP13 0,305 0,304 Valid
14 PP14 0,548 0,304 Valid
15 PP15 0,431 0,304 Valid
16 PP16 0,400 0,304 Valid
Tabel 5.3. Hasil Uji Validitas (Bagian II)
No Item Corrected Item-Total Correlation r tabel Keterangan
1 Py1 0,543 0,304 Valid
2 Py2 0,391 0,304 Valid
3 Py3 0,438 0,304 Valid
4 Py4 0,598 0,304 Valid
5 Py5 0,319 0,304 Valid
6 Py6 0,080 0,304 Valid
7 Pg7 0,774 0,304 Valid
8 Pg8 0,842 0,304 Valid
9 Pg9 0,781 0,304 Valid
10 Pg10 0,862 0,304 Valid
11 Pg11 0,792 0,304 Valid
12 Pg12 0,785 0,304 Valid
13 PP13 0,521 0,304 Valid
14 PP14 0,384 0,304 Valid
15 PP15 0,342 0,304 Valid
16 PP16 0,361 0,304 Valid
Berdasarkan pada kedua tabel uji validitas diatas, dapat dilihat bahwa pada uji validitas bagian I semua item valid. Hal ini dikarenakan nilai r tabel. Sementara itu pada uji validitas bagian II, terdapat satu item tidak valid (item Py6), ini dikarenakan r hitungnya lebih rendah daripada r tabel. Nilai r tabel yakni 0,304 diperoleh dari jumlah responden sebanyak 30 orang dengan uji 2 sisi pada taraf signifikan 0,05.
Khusus untuk uji validitas bagian II diperlukan lagi adanya uji validitas lanjutan. Hal ini dikarenakan adanya satu item yang tidak valid sehingga nanti pada uji validitas lanjutan item tersebut dieleminasi dan kemudian kembali melihat kevalidan item-item lain setelah item yang tidak valid tadi dieliminasi.
Tabel 5.4 Hasil uji Validitas Lanjutan (Bagian II)
No Item Corrected Item-Total Correlation r tabel Keterangan
1 Py1 0,543 0,304 Valid
2 Py2 0,391 0,304 Valid
3 Py3 0,438 0,304 Valid
4 Py4 0,598 0,304 Valid
5 Py5 0,319 0,304 Valid
6 Py6 0,080 0,304 Valid
7 Pg7 0,774 0,304 Valid
8 Pg8 0,842 0,304 Valid
9 Pg9 0,781 0,304 Valid
10 Pg10 0,862 0,304 Valid
11 Pg11 0,792 0,304 Valid
12 Pg12 0,785 0,304 Valid
13 PP13 0,521 0,304 Valid
14 PP14 0,384 0,304 Valid
15 PP15 0,342 0,304 Valid
16 PP16 0,361 0,304 Valid
Berdasarkan pada tabel diatas, maka uji validitas untuk bagian II telah diketahui bahwa seluruh item yang telah digunakan telah valid. Ini ditunjukkan dengan nilai r hitungnya yang lebih besar dibanding nilai r tabelnya.
B.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengukur mengukur dengan stabil dan konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Adapun hasil dan uji reliabilitasnini dengan menggunakan Alpha Cronbach yang mana jika koefisien keandalan reliabilitasnya 0,6 atau lebih, makadapat dikatakan instrumen yang digunakan reliabel. Hasil uji reliabilitas dan dijelaskan pada tabel 5.5 dan tabel 5.6.
Tabel 5.5 Hasil Uji Reliabilitas (Bagian I)
No Item Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha Keterangan
1 Py1 0,543 0,60 Reliabel
2 Py2 0,391 0,60 Reliabel
3 Py3 0,438 0,60 Reliabel
4 Py4 0,598 0,60 Reliabel
5 Py5 0,319 0,60 Reliabel
6 Py6 0,080 0,60 Reliabel
7 Pg7 0,774 0,60 Reliabel
8 Pg8 0,842 0,60 Reliabel
9 Pg9 0,781 0,60 Reliabel
10 Pg10 0,862 0,60 Reliabel
11 Pg11 0,792 0,60 Reliabel
12 Pg12 0,785 0,60 Reliabel
13 PP13 0,521 0,60 Reliabel
14 PP14 0,384 0,60 Reliabel
15 PP15 0,342 0,60 Reliabel
16 PP16 0,361 0,60 Reliabel
Tabel 5.6 Hasil Uji Reliabilitas (Bagian II)
No Item Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha Keterangan
1 Py1 0,543 0,60 Reliabel
2 Py2 0,391 0,60 Reliabel
3 Py3 0,438 0,60 Reliabel
4 Py4 0,598 0,60 Reliabel
5 Py5 0,319 0,60 Reliabel
6 Py6 0,080 0,60 Reliabel
7 Pg7 0,774 0,60 Reliabel
8 Pg8 0,842 0,60 Reliabel
9 Pg9 0,781 0,60 Reliabel
10 Pg10 0,862 0,60 Reliabel
11 Pg11 0,792 0,60 Reliabel
12 Pg12 0,785 0,60 Kurang Reliabel
13 PP13 0,521 0,60 Kurang Reliabel
14 PP14 0,384 0,60 Kurang Reliabel
15 PP15 0,342 0,60 Kurang Reliabel
16 PP16 0,361 0,60 Kurang Reliabel

Menurut Sekaran dalam Dwi Priyatno (2008:26), reliabilitas kurang dari 0,6 itu kurang baik, sedangkan lebih 0,6 atau 0,7 dapat diterima dan di atas 0,8 adalah baik. Untuk itu, berdasarkan dari data di atas, dapat dilihat bahwa ada 3 item pada bagian I kurang reliabel, dan pada bagian II ada 4 item yang kurang reliabel. Ini dikarenakan nilai alphanya lebih rendah dari 0,6. Adapun selebihnya dapat dikatakan reliabel.
C. Analisis Data
1. Statistik Deskriptif
Untuk mengetahui persepsi pengusaha kecil terhadap informasi akuntansi dapat digunakan analisis statistik deskriptif. Adapun dalam penelitian ini yang menjadi variabel untuk mengetahui persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi adalah penyelenggaraan informasi akuntansi dan penggunaan informasi akuntansi.
Perlu diketahui bahwa perubahan persepsi kemungkinan terjadi karena adanya stimulus yang dalam hal ini informasi akuntansi. Untuk itu dalam analisis deskriptif ini akan dibagi kedlam 2 bagian, yaitu bagian pertama dimana persepsi pengusaha kecil pada saat belum menyelenggarakan dan menggunakan informasi akuntansi, dan kemudian bagian kedua yakni persepsi pengusaha kecil pada saat telah menyelenggarakan dan menggunakan informasi akuntansi.
1. Bagian Pertama
a. Penyelenggaraan Informasi Akuntansi (X1)
Meskipun responden belum menyelenggarakan informasi akuntansi, namun pengenalan serta pemahamannya mengenai bagaimana informasi akuntansi itu diselenggarakan sudah ada. Adapun untuk mengetahui pengaruh penyelenggaraan informasi akuntansi terhadap persepsi responden ats informasi akuntansi tersebut dengan menggunakan pernyataan skala likert 5 poin. Jumlah pernyataannya yakni sebanyak 6 item. Adapun distribusi frekuensi atas jawaban responden untuk variabel ini dijelaskan pada tabel 5.7.
Tabel 5.7
Frekuensi Variabel X1 (Bagian I)
Skala Frekuensi Persentase
1 = sangat tidak setuju
2 = tidak setuju
3 = tidak ada pendapat
4 = setuju
5 = sangat setuju 18
79
103
38
14 7,14 %
31,35 %
40,87 %
15,08%
5,56 %
Total 252 100 %
Rata-rata = 2,81
Standar deviasi = 0,92
Semakin tinggi skor yang diperoleh terhadap instrumen ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan informasi akuntansi mampu mempengaruhi persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi. Adapun dalam tahap ini jawaban dari responden diambil atas persepsi responden saat belum menyelenggarakan informasi akuntansi. Persepsi responden pada tahap ini didasarkan atas pengetahuan yang mereka pahami terhadap proses penyelenggaraan informasi akuntansi.
Hasil pengujian statistik deskriptif untuk variabel ini menunjukkan bahwa rata-ratanya (mean) sebesar 2,81 dengan standar devisiasi 0,92. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata responden menjawab "tidak ada pendapat atau pada skala 3 atas pertanyaan yang diberkan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pemahaman penyelenggaraan informasi akuntansi oleh pengusaha kecil belum mempengaruhi persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi. Hal ini mungkin dikarenakan belum adanya proses penyelenggaraan informasi tersebut yang dijalankan oleh para pengusaha kecil sehingga terkesan memberikan jawaban tanpa pendapat, meskipun pemahamannya mengenai bagaimana proses penyelenggaraan informasi akuntansi itu dilakukan mereka sudah paham. Adapun pengaruhnya setelah dilaksanakan proses tersebut akan dijekaskan selanjutnya di bab ini yakni pada bagian 2.
b. Penggunaan informasi akuntansi (X2)
Meskipun responden pada tahap ini belum menggunakan informasi akuntansi, namun pemahamannya mengenai kegunaan dari informasi akuntansi sudah ada. Oleh karena itu jawaban responden berdasarkan persepsi tersebut dan diukur dengan 6 item pertanyaan pada skala likert 1-5. Adapun distribusi frekuensi atas jawaban responden dijelaskan pada tabel 5.8.
Tabel 5.8
Frekuensi Variabel X2 (Bagian I)
Skala Frekuensi Persentase
1 = sangat tidak setuju
2 = tidak setuju
3 = tidak ada pendapat
4 = setuju
5 = sangat setuju 33
90
99
25
5 13,10 %
35,71 %
39,29 %
9,92 %
1,98 %
Total 252 100 %
Rata-rata = 2,52
Standar deviasi = 0,90
Semakin tinggi skor yang diproleh terhadap instrumen ini menunjukkan bahwa penggunaan informasi akuntansi mampu mempengaruhi persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi. Adapun dalam tahap ini jawaban dari responden diambil atas persepsi responden saat belum menggunakan informasi akuntansi. Persepsi responden pada tahap ini didasarkan atas pengetahuan yang mereka pahami terhadap dampak dari penggunaan informasi akuntansi.
Hasil pengujian statistik deskriptif untuk variabel ini menunjukkan bahwa rata-ratanya (mean) sebesar 2,52 dengan standar deviasi 0,90. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata responden menjawab "tidak ada pendapat" atau pada skala 3 atas pertanyaan yang diberikan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pengetahuan responden akan menggunakan informasi akuntansi belum mempengaruhi persepsi mereka atas informasi akuntansi. Hal ini dikarenakan penggunaan akan informasi akuntansi tersebut belum mereka lakukan, walaupun manfaat atau dampak dari penggunaan informasi akuntansi mereka sudah tahu. Adapun pengaruhnya setelah adanya penggunaan informasi akuntansi akan dijelaskan selanjutnya juga pada bab ini dibagian 2.
c. Persepsi Pengusaha Kecil (Y)
Persepsi responden diukur dengan menggunakan 4 item pertanyaan dengan skala likert 1-5. Semakin tinggi skor yang diproleh pada instrumen ini, menunjukkan bahwa persepsi awal responden sangat "positif" atas informasi akuntansi. Adapun distribusi frekuensi atas jawaban responden dijelaskan pada tabel 5.9.
Tabel 5.9
Frekuensi Variabel Y (Bagian I)
Skala Frekuensi Persentase
1 = sangat tidak setuju
2 = tidak setuju
3 = tidak ada pendapat
4 = setuju
5 = sangat setuju 15
48
68
26
11 8,93 %
28,57 %
40,48 %
15,48 %
6,54 %
Total 168 100 %
Rata-rata = 2,82
Standar deviasi = 0,97
Hasil pengujian ststistik deskriptif untuk variabel ini menunjukkan bahwa rata-ratanya (mean) sebesar 2,82 dengan standar deviasi 0,97. Hal ini memperlihatkan bahwa rata-rata responden menjawab "tidak ada pendapat" atau pada skala 3 atas pertanyaan yang diberikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persepsi awal pada pengusaha kecil "negatif" terhadap informasi akuntansi.
2. Bagian 2
a. Penyelenggaraan Informasi Akuntansi (X1)
Selanjutnya pada bagian 2 ini, persepsi responden diukur atas jawaban pada saat telah menyelenggarakan informasi akuntansi. Untuk mengetahui pengaruh penyelenggaran informasi akuntansi terhadap persepsi responden atas informasi akuntansi, digunakan pertanyaan dengan skala likert dan jumlah pertanyaan sama pada sesi/tahap 1 yaitu 6 item pertanyaan. Namun digugurkan 1 item dikarenakan tidak valid setelah diuji validitasnya, sehingga tersisa 5 item.
Berikut ini tabel 5.10 menjelaskan distribusi frekuensi atas jawaban responden terhadap pengaruh variabel ini persepsi respoden.
Tabel 5.10
Frekuensi Variabel X1 (Bagian II)
Skala Frekuensi Persentase
1 = sangat tidak setuju
2 = tidak setuju
3 = tidak ada pendapat
4 = setuju
5 = sangat setuju 0
12
38
112
48 0 %
5,71 %
18,10 %
53,33 %
22,86 %
Total 210 100 %
Rata-rata = 3,93
Standar deviasi = 0,72
Semakin tinggi skor yang diperoleh dari instrumen ini menujukkan bahwa penyelenggaraan informasi akuntansi mampu mempengaruhi persepi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Hasil pengujian statistik deskriptif untuk variabel ini menunjukkan bahwa rata-ratanya (mean) sebesar 3,93 dengan standar deviasi 0.72. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata responden menjawab "setuju" atau pada skala 4 atas pertanyaan yang diberikan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan informasi akuntansi oleh pengusaha kecil mampu mempengaruhi persepsi responden dalam hal ini pengsaha kecil atas informasi akuntansi.Ini terlihat jika kita membandingkan hasil pengujian statistik deskriptif variabel ini pada bagian 1 dengan bagian 2,yang mana pada bagian 1 penyelenggaraan informasi akuntansi belum mempengaruhi persepsi responden dikarenakan belum adanya proses penyelenggaraan dilakukan dan kemudian pada bagian 2 ketika proses penyelenggaraan telah dilakukan,ternyata penyelenggaraan informasi akuntansi tersebut mempengaruhi persepsi responden atas informasi akuntansi.Hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan pendapat responden pada bagian 1 dengan bagian 2.
b. Penggunaan Informasi Akuntansi (X2)
Pada sesi ini, persepsi responden diukur atas jawaban pada saat telahmenggunakan informasi akuntansi. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan informasi akuntansi terhadap persepsi responden atas informasi akuntansi,digunakan pertanyaan dengan skala likert dan jumlah pertanyaan sama pada sesi/tahap 1 yaitu 6 item pertanyaan.
Berikut ini tabel 5.11 menjelaskan distribusi frekuensi atas jawaban responden terhadap pengaruh variabel ini terhadap persepsi responden atas informasi akuntansi.
Tabel 5.11
Frekuensi Variabel X2 (Bagian II)
Skala Frekuensi Persentase
1 = sangat tidak setuju
2 = tidak setuju
3 = tidak ada pendapat
4 = setuju
5 = sangat setuju 0
36
69
116
31 0 %
14,29 %
27,38 %
46,03 %
12,30 %
Total 252 100 %
Rata-rata = 3,56
Standar deviasi = 0,87
Semakin tinggi skor yang diperoleh dari instrumen ini menunjukkan bahwa penggunaan informasi akuntansi mampu mempengaruhi persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi tersebut. Hasil pengujian statistik deskriptif untuk variabel menunjukkan bahwa rata-ratanya (mean) sebesar 3,56 dengan standar deviasi 0,87. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata responden menjawab "setuju" atau pada skala 4 atas pertanyaan yang diberikan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan informasi akuntansi oleh pengusaha kecil mampu mempengaruhi persepsi responden dalam hal ini pengusaha kecil atas informasi akuntansi. Ini terlihat jika kita membandingkan hasil pengujian statistik deskriptif variabel ini pada bagian 1 dengan bagian 2, yang mana pada bagian 1 penggunaan informasi akuntansi belum mempengaruhi persepsi responden dikarenakan belum adanya informasi akuntansi yang dapat digunakan dan kemudian pada bagian 2 ketika penggunaan tersebut telah dilakukan,ternyata hal itu mampu mempengaruhi persepsi responden atas informasi akuntansi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan pendapat responden dari hasil pengujian statistik deskriptif pada bagian 1 dengan bagian 2.
c. Persepsi Pengusaha Kecil (Y)
Persepsi responden pada bagian ini sama dengan bagian I diukur juga dengan menggunakan 4 item pertanyaan dengan skala likert 1-5. Semakin tinggi skor yang diperoleh pada instrumen ini, menunjukkan bahwa persepsi awal responden sangat "positif" atas informasi akuntansi. Adapun distribusi frekuensi atas jawaban responden pada variabel ini dijelaskan pada tabel 5.12.
Tabel 5.12
Frekuensi Variabel Y (Bagian II)
Skala Frekuensi Persentase
1 = sangat tidak setuju
2 = tidak setuju
3 = tidak ada pendapat
4 = setuju
5 = sangat setuju 0
15
26
90
37 0 %
8,93 %
15,48 %
53,57 %
22,02 %
Total 168 100 %
Rata-rata = 3,89
Standar deviasi = 0,78
Hasil pengujian statistik deskriptif untuk variabel ini menunjukkan bahwa rata-ratanya (mean) sebesar 3,89 dengan standar devisiasi 0,78. Hal ini memperlihatkan bahwa rata-rata responden menjawab "setuju" atau pada skala 4 atas pertanyaan yang diberikan. Dengan demikian depat disimpulkan bahwa persepsi akhir para pengusaha kecil "positif" terhadap informasi akuntansi.
2. Uji Hipotesis
Untuk menguji kebenaran hipotesis dalam penelitian ini maka digunakan analisis regresi berganda. Adapun untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial maka digunakan uji t sedangkan untuk mengujinya secara stimulan maka digunakan uji F.
2.1 Analisis Regresi Berganda
Berdasarkan perhitungan analisis regresi berganda, dapat dijelaskan bahwa penyelenggaraan (X1) dan penggunaan informasi akuntansi (X2) berpengaruh terhadap Persepsi Pengusaha Kecil (Y) atas informasi akuntansi.
Tabel 5.13 Hasil Analisis Determinasi Bag.I
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .817a .667 .650 .43824
a. Predictors: (Constant), PgMean, PyMean
b. Dependent Variable: Ppmean
Analisis determinasi untuk bagian I menunjukkan bahwa diperoleh angka R2 (R Square) sebesar 0,667 atau 66,7. Hal ini menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) sebesar 66,7%. Dengan kata lain juga bahwa variasi variabel independen yang digunakan dalam penelitian mampu menjelaskan sebesar 66,7% variabel dependen, sedangkan sisanya sebesar 33,35% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model penelitian ini. Sementara itu hasil analisis determinasi untuk bagian II sebagai berikut :
Tabel 5.14 Hasil Analisis Determinasi Bag.II
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .856a .733 .719 .31504
a. Predictors: (Constant), PgMean, PyMean
b. Dependent Variable: Ppmean
Analisis determinasi untuk bagian II menunjukkan bahwa diperoleh angka R2 (R Square) sebesar 0,733 atau 73,3 %. Hal ini menunjukan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel dependen (Y) sebesar 73,3 %. Dengan kata lain juga bahwa variasi variabel independen yang digunakan dalam penelitian mampu menjelaskan sebesar 73,3% variabel dependen, sedangkan sisanya sebesar 26,7 % dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model penelitian ini.
Jika dibandingkan hasil analisis determinasi umtuk bagian I dan bagian II, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terjadi kenaikan nilai persentase dari kedua variabel independen tadi dalam menjelaskan variabel dependennya. Hal ini sama artinya bahwa penyelenggaraan dan penggunaan informasi akuntansi mampu merubah persepsi awal pengusaha kecil atas informasi akuntansi karena adanya pengaruh tadi. Walaupun tingkat kenaikannya tidak signifikan.
Selanjutnya adalah hasil dari analisis regresi berganda untuk bagian I dan bagian II.
Tabel 5.15 Hasil Regresi Bagian I
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta 1 (Constant) .225 .277 .922 .362
PyMean .770 .111 .724 6.912 .000
PgMean .192 .120 .167 1.598 .118
a. Dependent Variable: Ppmean Hasil analisis berganda yang diperoleh dari hasil perhitungan melalui SPSS 16.0 dapat dilihat dalam tabel 5.15. dari tabel tersebut dapat kita lihat bahwa nilai konstanta sebesar 0,255, nilai X1 (Py) sebesar 0,770 dan nilai X2 (Pg) sebesar 0,192 sehingga diperoleh persamaan untuk analisis regresi bagian I yakni :
Y = 0,255 + 0,770 X1 + 0,192 X2
Dari persamaan diatas dapat dilihat bahwa variabel-variabel yang diteliti bernilai positif, berarti bila terjadi perubahan pada variabel-variabel tersebut akan menyebabkan perubahan yang searah dengan variabel Y (PP).
Tabel 5.16 Hasil Regresi Bagian II
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta 1 (Constant) .189 .360 .922 .362
PyMean .864 .101 .735 6.912 .000
PgMean .199 .060 .284 1.598 .118
a. Dependent Variable: Ppmean Hasil analisis berganda yang diperoleh dari hasil perhitungan melalui SPSS 16.0 dapat dilihat dalam tabel 5.13. Dari tabel tersebut dapat kita lihat bahwa nilai konstanta sebesat 0,189, nilai X1 (Py) sebesar 0,864 dan nilai X2 (Pg) sebesar 0,199 sehingga diperoleh persamaan untuk analisis regresi bagian I yakni :
Y = 0,189 + 0,864 X1 + 0,199 X2
Dari persamaan diatas dapat dilihat bahwa variabel-variabel yang diteliti bernilai positif, berarti bila terjadi perubahan pada variabel-vatiabel tersebut akan menyebabkan perubahan yang searah dengan variabel Y (PP).
Setelah melihat penjelasan dari kedua bagian dari hasil analisis regresi maka dapat diperoleh bahwa terjadi kenaikan nilai variabel independen dari bagian I ke bagian II. Ini dapat disimpulkan bahwa adanya peningkatan atas pengaruh yang diberikan oleh variabel independen kepada variabel dependennya.
2.2 Uji Parsial (uji T)
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variable independen secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Nilai t hitung dalam model regresi dengan nilai alpha 5%, dapat dilihat tabel berikut :
Tabel 5.17 Hasil Regresi Uji Parsial Bagian I
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta 1 (Constant) .255 .277 .922 .362
PyMean .770 .111 .724 6.912 .000
PgMean .192 .120 .167 1.598 .118
a. Dependent Variable: Ppmean Dasar pengambilan keputusan dari uji parsial bagian 1 ini dengan membandingkan t hitung dan t tabel pada taraf signifikansi 5%. Ho diterima jika -t tabel £ t hitung £ t tabel dan Ho ditolak jika –t hitung <-t tabel atau t hitung > t tabel.
Sesuai dengan dasar pengambilan tersebut, maka pengujian hepotesis dapat dijelaskan sebagai berikut :
Ha : Penyelenggaraan informasi akuntansi berpengaruh terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh bahwa nilai t hitung 6,912 lebih besar dari t tabel sebesar 1,685. Sesuai dengan penganbilan keputusan , maka Ho ditolak sehingga otomatis Ha diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara penyelenggaraan informasi akuntansi dengan persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Hb : Penggunaan informasi akuntansi berpengaruh terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai t hitung 1,598 lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 1,685. Sesuai dengan dasar pengambilan keputusan maka Ho diterima sehingga otomatis Hb ditolak. Jadi, penggunaan informasi akuntansi tidak berpengaruh terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Tabel 5.18 Hasil Regresi Uji Parsial Bagian II
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta 1 (Constant) .189 .360 .524 .603
PyMean .864 .101 .735 8.548 .000
PgMean .199 .060 .284 3.304 .002
a. Dependent Variable: Ppmean Dasar pengambilan keputusan dari uji parsial bagian II ini sama dengan uji parsial bagian I yakni dengan membandingkan t hitung dan t tabel pada taraf signifikansi 5%. Ho diterima jika –t tabel £ t hitung £ t tabel dan Ho ditolak jika –t hitung <-t tabel atau t hitung>t tabel.
Sesuai dengan dasar pengambilan tersebut,maka pengujian hipotesis dapat dijelaskan sebagai berikut :
Ha : Penyelenggaraan informasi akuntansi berpengaruh terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh bahwa nilai t hitung sebesar 8,548 lebih besar dari t tabel sebesar 1,685. Sesuai dengan dasar pengambilan keputusan, maka Ho ditolah sehingga otomatis Ha diterima. Jadi dapat disimpulkan ada pengaruh signifikan antara penyelenggaraan informasi akuntansi dengan persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Hb : Penggunaan informasi akuntansi berpengaruh terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai t hitung 3,304 lebih besar dari t tabel sebesar 1,685. Sesuai dengan dasar pengambilan keputusan maka Ho ditolak sehingga otomatis Hb diterima. Jadi, penggunaan informasi akuntansi berpengaruh signifikan terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Melihat perbandingan dari hasil uji T antara bagian I dan bagian II, dapat dijelaskan bahwa terjadi perubahan pada variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependennya. Ini terlihat dengan meningkatnya nilai t hitung dari uji t bagian I ke uji T bagian II sebesar 1,706.
2.3 Uji F
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara stimulan mempengaruhi variabel dependennya. Sama halnya dengan uji t, uji F juga dibagi 2 bagian sesuai dengan model penelitian. Adapun hasil uji F dijelaskan pada tabel berikut ini :
Tabel 5.19 Hasil Uji F Bagian I
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 15.010 2 7.05 39.077 .000a
Residual 7.490 39 .199 Total 22.500 41 a. Predictors: (Constant), Pgmean, PyMean b. Dependent Variable: PPMean Dasar pengambilan keputusan untuk uji F ini adalah dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel pada taraf signifikansi 0,05. Ho diterima bila F hitung £ F tabel, dan Ho ditolak bila F hitung > F tabel.
Sesuai dengan dasar tersebut untuk hasil pengujian stimulan, maka dapat dijelaskan bahwa hasil uji regresi menunjukkan nilai F hitung sebesar 39,077 lebih besar dari F tabel sebesar 3,238 atau dengan kata lain F hitung > F tabel. Jadi dapat disimpulkan bahwa secara stimulan variabel-variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Berikut adalah tabel hasil uji F untuk bagian II, yaitu :
Tabel 5.19 Hasil Uji F Bagian II
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 10.629 2 5.315 53.546 .000a
Residual 3.871 39 .099 Total 14.500 41 a. Predictors: (Constant), Pgmean, PyMean b. Dependent Variable: PPMean Dasar pengambilan keputusan untuk uji F bagian II ini sama dengan bagian I yakni membandingkan nilai F hitung dengan F tabel pada taraf signifikansi 0,05. Ho diterima bila F hitung £ F tabel, dan Ho ditolak bila F hitung > F tabel.
Sesuai dengan dasar tersebut untuk hasil pengujian stimulan, maka dapat dijelaskan bahwa hasil uji regresi pada bagian II menunjukkan nilai F hitung sebesar 53,546 lebih besar dari F tabel sebesar 3,238 atau dengan kata lain F hitung>F tabel. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada bagian II secara stimulan variabel-variabel independen juga berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi.
Dengan membandingkan uji F antara bagian I dengan bagian II, maka bisa dijelaskan bahwa terjadi kenaikan nilai F hitung dari bagian I ke bagian II sebesar 14,469. Dengan kata lain adanya peningkatan pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependennya.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penyelenggaraan dan penggunaan informasi akuntansi dapat mempengaruhi persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi. Adapun sampel dari penelitan ini adalah pengusaha-pengusaha kecil di Kecamatan Manggala.
Berdasarkan hasil dari analisis data yang dilakukan oleh penulis, terlihat adanya peningkatan koefisien baik dalam uji regresi, uji t, maupun uji F kedua variabel independen terhadap variabel dependennya dari pengujian bagian pertama yakni pada saat responden belum menyelenggarakan dan menggunakan informasi akuntansi ke pengujian bagian kedua dimana responden telah menyelenggarakan dan menggunakannya. Oleh karena itu, kesimpulan yang dapat ditarik adalah terjadi perubahan "positif" pada persepsi pengusaha kecil atas informasi akuntansi dikarennakan pengaruh penyelenggaraan dan penggunaan informasi akuntansi tersebut oleh mereka.
B. Keterbatasan Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penulis menemui beberapa keterbatasan dalam penelitian. Keterbatasan itu salah satunya adalah kriteria responden yang penulis tetapkan dalam mendukung penelitian ini masih jarang ditemui, walaupun penulis mampu mengumpulkan sampel penelitian ini lebih dari cukup untuk mendukung penelitian ini.
Selain itu, masih kurangnya literatur-literatur mengenai penelitian yang berhubungan dengan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) khususnya industri kecil, sehingga penulis merasa kesulitan dalam membangun landasan teori yang tepat untuk mendukung penelitian ini.
C. Saran
Sebagaimana yang kita ketahui dan juga telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya, bahwa peranan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) bagi perkembangan perekonomian suatu negara sangatlah penting. Namun hal ini ternyata masih banyak masyarakat kita belum mengetahuinya. Masyarakat kebanyakan melihat indikator kemajuan perekonomian negara hanya lewat sisi industri-industri besar. Hal ini juga tak terkecuali dalam dunia penelitian khususnya bagi temen-teman mahasiswa yang lebih condong memilih perusahaan-perusahaan besar sebagai objek penelitiannya.
Adapun saran penulis pada kesempatan ini bahwa penelitian-penelitian yang berhubungan langsung dengan UMKM khususnya usaha kecil perlu ditingkatkan. Ini diharapkan mampu memicu perkembangan usaha-usaha kecil sebab dengan demikian para pelaku usaha kecil merasa telah diperhatikan setidaknya dalam lingkup akademis. Selain itu, pada penelitian selanjutnya yang berkenaan seperti ini juga diharapkan bisa lebih memperkenelkan standar akuntansi yang relevan bagi mereka.
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Kerangka Pikir 24
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1. Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Kecil dan Kerajinan Rumah Tangga Menurut Kecamatan di Kota Makassar3


Download DAMPAK PENYELENGGARAAN DAN PERLAKUAN AKUNTANSI TERHADAP PERSEPSI PENGUSAHA KECIL ATAS SISTEM INFORMASI AKUNTANSI.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca DAMPAK PENYELENGGARAAN DAN PERLAKUAN AKUNTANSI TERHADAP PERSEPSI PENGUSAHA KECIL ATAS SISTEM INFORMASI AKUNTANSI. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon