September 07, 2016

AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR#1


Judul: AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR#1
Penulis: Saablesskadit April


Tentangku...
Senin, 18 November 2013
AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR
AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR#1
Karakteristik Perusahaan Manufaktur
Perusahaan manufaktur (manufacturing firm) adalah perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi barang jadi kemudian menjual barang jadi tersebut. Kegiatan khusus dalam perusahaan manufaktur adalah pengolahan bahan baku menjadi barang jadi. Kegiatan ini sering disebut proses produksi. Kegiatan produksi, apabila digambarkan akan nampak seperti di bawah ini:
Bidang akuntansi yang menangani masalah produksi disebut akuntansi biaya (cost accounting). Tujuannya, menetapkan beban pokok produksi barang jadi. Bab ini akan membahas sesuai ruang lingkup yang telah disebutkan, yakni penetapan beban pokok produksi. Titik berat pembahasan masih diletakkan pada pengenalan terhadap proses akuntansi dan laporan khusus untuk perusahaan manufaktur.
Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur
Dibandingkan dengan perusahaan dagang, masalah khusus dalam akuntansi perusahaan manufaktur adalah persediaan, biaya pabrikasi (manufacturing costs), biaya produksi dan beban pokok produksi.
Persediaan (Inventory)
Berdasarkan perusahaan dagang, dalam perusahaan manufaktur biasanya terdiri dari tiga macam, yakni:
1. Persediaan bahan baku (raw materials inventory)
2. Persediaan barang dalam proses (work in process inventory)
3. Persediaan barang jadi (finished goods inventory)
Persediaan bahan baku melaporkan harga pokok bahan baku yang ada pada tanggal neraca. Bahan baku adalah barang-barang yang digunakan dalam proses produksi. Persediaan dalam proses terdiri dari biaya bahan baku dan biaya-biaya manufaktur lain yang telah terjadi untuk memproduksi barang yang belum selesai. Untuk menyelesaikannya masih diperlukan tambahan biaya. Persediaan barang jadi terdiri dari total biaya pabrik untuk barang-barang yang telah selesai diproduksi, tetapi belum dijual. Sebuah perusahaan manufaktur dengan demikian harus menyediakan tiga perkiraan untuk persediaan.
Biaya Manufaktur (Manufacturing Cost)
Biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan manufaktur selama suatu periode disebut biaya manufaktur (manufacturing cost), atau lebih dikenal dengan biaya pabrik. Biaya ini digunakan untuk menyelesaikan barang yang masih sebagian selesai di awal periode, barang-barang yang dimasukkan dalam proses produksi periode itu dan barang-barang yang baru dapat diselesaikan sebagian di akhir periode. Pada dasarnya biaya pabrik dapat dikelompokkan menjadi:
a. Biaya bahan baku (raw materials cost) yaitu biaya untuk bahan-bahan yang dapat dengan mudah dan langsung diidentifikasikan dengan barang jadi. Contoh bahan baku adalah kayu bagi perusahaan mebel atau tembakau bagi perusahaan rokok.
b. Biaya tenaga kerja lansung (direct labor cost) adalah biaya untuk tenga kerja yang menangani secara langsung proses produksi atau yang dapat diidentifikasikan langsung dengan barang jadi. Contoh buruh langsung adalah tukang kayu dalam perusahaan mebel atau pelinting rokok dalam perusahaan rokok (Sigaret Kretek Tangan = SKT).
c. Biaya overhead pabrik (overhead cost) adalah biaya-biaya pabrik selain bahan baku dan tenga kerja langsung. Biaya ini tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan.
Contoh biaya overhead pabrik adalah:
(1) bahan pembantu (kadangkadang disebut: bahan tidak langsung (indirect materials) misalnya perlengkapan pabrik (mur, baut dan pelitur dalam perusahaan mebel);
(2) tenga kerja tidak langsung (indirect labor) yaitu tenaga kerja yang pekerjaannya tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan, misalnya gaji mandor;
(3) pemeliharaan dan perbaikan (maintenance and repair);
(4) listrik, air telepon dan lainlain.
Ketiga jenis biaya manufaktur ini dapat dihubungkan dan dilihat keterkaitannya dengan memperhatikan bagan yang diilustrasikan di bawah ini.
Biaya Produksi (Production Cost) dan Biaya Periode (Period Cost)
Biaya produksi (production cost) adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan barang dalam proses awal ditambah biaya pabrikasi (manufacturing cost), kemudian dikurangi dengan persediaan barang dalam proses akhir. Biaya pabrikasi adalah semua biaya yang berhubungan dengan proses produksi. Tiga komponen biaya yang terdapat dalam biaya produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead. Biaya overhead adalah semua biaya pabrikasi (semua biaya yang terkait dengan proses produksi) yang bersifat tidak langsung, termasuk biaya-biaya yang dibebankan pada persediaan dalam proses pada akhir periode. Biaya overhead ini  seringkali tidak dapat diatribusikan/dilekatkan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan secara spesifik. Karena biaya ini biasanya dinikmati bersama selama proses produksi berlangsung. Dalam situasi tertentu dapat pula disebut sebagai biaya bersama (common cost). Biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung sering pula disebut sebagai biaya utama (prime cost), yaitu biaya yang merupakan komponen utama dari produk yang dibuat dan dapat dengan mudah diatribusikan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan atau dibuat. Biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead sering pula disebut sebagai biaya konversi (conversion cost), yaitu biaya yang dikeluarkan atau terjadi sehingga bahan baku dapat diubah menjadi produk jadi.
Kelompok biaya lain selain biaya produksi adalah biaya periode (period cost), yaitu biaya nonpabrikasi yang dikeluarkan atau terjadi selama periode berjalan dalam rangka operasional perusahaan. Biaya ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni beban penjualan atau pemasaran dan beban-beban administratif. Klasifikasi biaya yang berbeda-beda ini dilakukan agar dapat mengukur kinerja atau prestasi masing-masing bagian secara lebih fair. Kata lainnya adalah, alokasi yang tepat akan dapat meningkatkan pertanggungjawaban masingmasing bagian. Sehingga sebuah beban, bisa jadi teralokasikan ke dalam pos-pos yang berbeda walaupun jenisnya sama. Beban depresiasi komputer, misalnya, bisa jadi merupakan kelompok biaya overhead, jika komputer tersebut berada di atau dipergunakan untuk kegiatan oleh departemen produksi. Mungkin juga merupakan beban pemasaran/penjualan jika komputer tersebut dimanfaatkan oleh bagian tersebut. Atau boleh jadi pula beban depresiasi komputer tersebut merupakan kelompok beban adminstratif jika komputernya digunakan oleh bagian kantor atau administrasi. Oleh karena itulah kita harus dapat mengklasifikasikan setiap beban ke dalam kelompok biaya yang tepat karena berdasarkan laporan tersebut kinerja suatu bagian/seseorang akan diukur. 
Beban pokok produksi (Cost of Goods Manufactured)
Biaya barang yang telah diselesaikan selama suatu periode disebut beban pokok produksi barang selesai (cost of goods manufactured) atau disingkat dengan beban pokok produksi. Harga pokok ini terdiri dari biaya pabrik ditambah persediaan dalam proses awal periode dikurangi persediaan dalam proses akhir periode. Beban pokok produksi selama suatu periode dilaporkan dalam laporan harga produksi (cost of goods manufactured statement). Laporan ini merupakan bagian dari beban pokok penjualan (cost of goods sold).
Akuntansi Perusahaan Manufaktur
Seperti telah dijelaskan, siklus akuntansi meliputi tahap pencatatan dan tahap pengikhtisaran yang terdiri dari:
Tahap pencatatan
1. Pembuatan atau penerimaan bukti transaksi
2. Pencatatan dalam jurnal
3. Pemindahanbukuan ( posting ) ke buku besar
Tahap pengikhtisaran
4. Pembuatan neraca saldo
5. Pembuatan neraca lajur dan jurnal penyelesaian
6. Penyusunan laporan keuangan
7. Pembuatan jurnal penutup
8. Pembuatan neraca saldo penutup
9. Pembuatan jurnal balik
Bab ini tidak akan membahas tahap demi tahap siklus tersebut.
Pembahasan perusahaan manufaktur di sini lebih pada menguraikan tahap-tahap tersebut secara garis besar saja. Penekanan diberikan pada proses akuntansi untuk masing-masing akun/rekening/perkiraan perusahaan manufaktur (ketiga istilah ini dipakai seluruhnya, secara bergantian, sepanjang pembahasan dalam buku ini untuk menunjukkan bahwa ketiganya merupakan istilah yang lazim dipakai sehari-hari dalam praktik pada DU/DI). Namun demikian, tetap diharapkan bahwa pemaparan berikut ini telah mencakup semua pemahaman minimal yang diperlukan untuk dapat menjalankan proses akuntansi pada sebuah perusahaan manufaktur.
Bahan Baku (Raw Materials)
Pembelian bahan baku, seperti halnya perusahaan dagang, dicatat dalam buku pembelian (untuk pembelian kredit) dan buku pengeluaran kas (untuk pembelian tunai). Pembayaran hutang yang bersangkutan dicatat dalam buku pengeluaran kas. Di buku besar, pembelian bahan baku dicatat dalam rekening pembelian dan rekening-rekening lain yang berhubungan, misalnya potongan pembelian serta pembelian retur dan pengurangan harga. Pengeluaran bahan baku dari gudang untuk produksi tidak dicatat.
Jadi, seperti dalam perusahaan dagang, perkiraan persediaan bahan baku hanya digunakan untuk menampung ayat jurnal penyesuaian pada akhir periode. Jurnal penyesuaian dibuat untuk nilai persediaan yang ada di awal dan akhir periode. Sementara itu, nilai persediaan ditentukan dengan mengadakan penghitungan fisik. Jurnal penyesuaian untuk persediaan (awal dan akhir) dilakukan terhadap rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.
Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)
Pembayaran gaji kepada tenaga kerja langsung dicatat dalam buku pengeluaran kas. Dalam buku perlu disediakan perkiraan tersendiri untuk biaya buruh langsung. Pada akhir periode dibuatkan jurnal penyesuaian untuk upah yang masih belum saatnya dibayar. Pembebanan biaya buruh langsung dilakukan dengan mambuat jurnal penutup ke rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.
Biaya Overhead Pabrik (Overhead)
Biaya ini terdiri dari berbagai jenis, misalnya: bahan pembantu, tenga keja tidak langsung, gaji, listrik, telepon, perlengkapan pabrik, pemeliharaan dan perbaikan, asuransi, penyusutan bangunan pabrik, penyusutan mesin-mesin pabrik, penyusutan kendaraan pabrik, penyusutan peralatan pabrik dan lain-lain. Untuk tiap-tiap jenis biaya dapat dibuatkan rekening tersendiri di buku besar. Atau, kalau ingin lebih sederhana, dalam buku besar hanya disediakan satu rekening saja yaitu biaya overhead pabrik sebagai rekening induk (sesungguhnya). Rincian biaya overhead pabrik ke dalam tiap-tiap jenis biaya dicatat dalam buku tambahan. Pembelian biaya overhead pabrik, misalnya pembelian bahan pembantu, dicatat dalam buku pembelian. Pembayarannya, dicatat dalam buku pengeluaran kas. Pembebanan biaya overhead pabrik ke dalam produksi dilakukan dengan membuat jurnal penutup atas rekening yang bersangkutan. Rekening lawanya adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.
Persediaan dalam Proses ( Work in Process Inventory )
Proses produksi adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus. Sementara itu, akuntansi harus melaporkan informasi keuangan secara berkala. Akibatnya, pada saat laporan keuangan harus dibuat, terdapat kemungkinan adanya sebagian barang yang belum selesai diproses. Walaupun demikian, biaya yang telah terjadi untuk barang itu, tetap harus dilaporkan. Inilah yang dicantumkan sebagai persediaan dalam proses. Untuk memperoleh beban pokok produksi barang yang telah selesai, biaya pabrik ditambah dengan nilai persediaan dalam proses di awal periode dan dikurangi dengan nilai persediaan dalam proses di akhir periode.
Pesediaan dalam proses, baik di awal maupun akhir periode diperoleh dengan jalan melakukan penghitungan phisik. Untuk sementara, jangan diperhatikan dahulu bagaimana menghitung nilai persediaan dalam proses. Yang perlu diketahui adalah bahwa nila ini terdiri dari biaya bahan baku, buruh langsung dan biaya pabrikase yang telah terjadi sampai dengan saat dilaporkan. Untuk mencatat nilai persediaan dalam proses, dibuatkan rekening yang diberi nama: "Persediaan dalam Proses". Pada akhir periode dibuat jurnal penyesuaian untuk menghilangkan persediaan dalam proses awal dan membebankannya ke proses produksi. Sementara itu, jurnal penyesuaian lain untuk menimbulkan persediaan dalam proses yang ada pada akhir periode. Rekening lawan yang digunakan dalam jurnal penyesuaian tersebut adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.
Di bawah ini (pada halaman berikut) diberikan ilustrasi tentang alur pembebanan biaya ke dalam proses produksi hingga pengakuan beban pokok penjualan. Alur ini digambarkan dalam bentuk hubungan di antara buku besar perkiraan-perkiraan yang terkait dengan proses produksi dalam sebuah perusahaan manufaktur. Kita dapat melihat di situ, apa saja perkiraan yang terkait dan harus dibuatkan jurnalnya selama proses produksi berlangsung, dan kapan masing-masing perkiraan tersebut harus didebitkan atau dikreditkan. Tentu saja, ilustrasi tersebut menggambarkan pencatatan yang harus dibuat ketika perusahaan menerapkan metode perpetual untuk persediaannya.
AKUNTANSI
UNTUK PERUSAHAAN PENGOLAHAN / MANUFAKTUR#2
 
 Perusahaan pengolahan / manufaktur: perusahaan yang mengolah bahan mentah (bahan baku) menjadi barang jadi.
 Klasifikasi persediaan pada perusahaan pengolahan :
Persediaan Bahan Baku
Persediaan Barang Dalam Proses
Persediaan Barang Jadi
Laporan Keuangan
Laporan Keuangan perusahaan manufaktur hampir sama dengan laporan keuangan perusahaan dagang. Perbedaannya terletak pada bagian Aktiva Lancar di Neraca dan Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba.
Neraca
Perbandingan Neraca Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:
Perusahaan Dagang
Neraca sebagian
31 Desember 2010 Perusahaan Manufaktur
Neraca sebagian
31 Desember 2010
Aktiva Lancar: Aktiva Lancar: Kas Rp 1.000 Kas Rp 1.200
Piutang (bersih) 13.000 Piutang (bersih) 4.000
Persediaan Barang Dagangan 9.000 Persediaan: Sewa Dibayar di Muka 2.900 Barang Jadi Rp 15.000 25.900 Barang Dalam Proses 18.000 Bahan Baku 9.000 42.000
Sewa Dibayar di Muka 1.600
48.800
Laporan Rugi-Laba
Perbandingan bagian Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba antara Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:
Perusahaan Dagang
Laporan Rugi-Laba sebagian
Periode Tahun 2010
Harga Pokok Penjualan: Persediaan Barang Dagangan 1 Januari ………… Rp 10.000
(+) Pembelian Bersih …………………..…………… 99.250
Barang Tersedia Untuk Dijual ……………………… Rp 109.250
(-) Persediaan Barang Dagangan 31 Desember … 9.000
Harga Pokok Penjualan ……………………………. Rp 100.250
Perusahaan Manufaktur
Laporan Rugi-Laba sebagian
Periode Tahun 2010
Harga Pokok Penjualan: Persediaan Barang Jadi 1 Januari …………………. Rp 12.000
(+) Harga Pokok Produksi (lihat skedul) …………… 688.000
Barang Tersedia Untuk Dijual ………………………. Rp 700.000
(-) Persediaan Barang Jadi 31 Desember …………. 15.000
Harga Pokok Penjualan Rp 685.000
Komponen yang berbeda digambarkan secara skematis sbb:
Perusahaan Dagang:
Persediaan Barang + Pembelian - Persediaan Barang = Harga Pokok
Dagangan (Awal) Bersih Dagangan (Akhir) Penjualan
Perusahaan Manufaktur:
 
Persediaan Barang + Harga Pokok - Persediaan Barang = Harga Pokok
Jadi (Awal) Produksi Jadi (Akhir) Penjualan
Pada perusahaan manufaktur diperlukan banyak rekening untuk menentukan harga pokok produksi, tetapi dalam Laporan Rugi-Laba hanya disajikan totalnya saja, sedangkan rinciannya disajikan dalam Skedul Harga Pokok Produksi.
Contoh Skedul Harga Pokok Produksi (merupakan lampiran Laporan Rugi-Laba di atas):
Skedul Harga Pokok Produksi
Tahun 2010
Persediaan Barang Dalam Proses 1 Januari ………………….. Rp 10.000
Ditambah: Bahan Baku: Persediaan 1 Januari ……………….. Rp 5.000 Ditambah: Pembelian ………………. 100.000 Tersedia Dipakai …………..………... 105.000105 Dikurangi : Persediaan 31 Desember 9.000 Bahan Baku Dipakai ……………………………….. Rp 96.000 Biaya Tenaga Kerja Langsung …………………….…. 200.000 Biaya Overhead Pabrik: Tenaga Kerja Tidak Langsung ..…… Rp 50.000 Listrik dan Air ………………………… 140.000 Bahan Habis Pakai Pabrik …………. 30.000 Penyusutan Gedung Pabrik ………... 120.000 Penyusutan Mesin …………………... 60.000 Total Biaya Overhead Pabrik ……………………… 400.000 Total Biaya Produksi tahun ini …………………………………… 696.000
Total Biaya Barang Dalam Proses ………………………………… 706.000
Dikurangi: Persediaan Barang Dalam Proses 31 Desember …………….. 18.000
Harga Pokok Produksi ……………………………………………… 688.000
HARGA POKOK PRODUKSI
Biaya produksi atau Harga Pokok Produksi (Cost of Goods Manufactured) merupakan kumpulan dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan mengolah bahan baku sampai menjadi barang jadi.
Biaya-biaya tersebut terdiri dari:
Biaya Bahan Baku (disingkat BBB)
Biaya Tenaga Kerja Langsung ( disingkat BTKL)
Biaya Overhead Pabrik (disingkat BOP)
Biaya Bahan Baku
  Biaya Bahan Baku adalah harga perolehan (harga pokok) seluruh substansi / materi pokok yang terdapat pada barang jadi.
  Bahan baku merupakan bagian Barang jadi yang dapat ditelusur keberadaannya.
  Bahan baku pada sebuah pabrik dapat berasal dari Barang jadi pabrik yang lain.
Biaya Tenaga Kerja Langsung
  Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang memiliki kinerja langsung terhadap proses pengolahan barang, baik menggunakan kemampuan fisiknya maupun dengan bantuan mesin.
  Tenaga kerja langsung memperoleh kontraprestasi yang dikategorikan sebagai Biaya tenaga kerja langsung. Jadi, Biaya Tenaga Kerja Langsung adalah semua kontraprestasi yang diberikan kepada tenaga kerja langsung.
Biaya Overhead Pabrik
  Biaya Overhead Pabrik adalah biaya-biaya yang timbul dalam proses pengolahan, yang tidak dapat digolongkan dalam biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
  Biaya-biaya yang termasuk dalam biaya overhead pabrik, a.l.:
Biaya tenaga kerja tidak langsung, seperti Upah pengawas, mandor, mekanik, bagian reparasi, dll
Biaya bahan penolong, yaitu macam-macam bahan yang digunakan dalam proses pengolahan, tetapi kuantitasnya sangat kecil dan tidak dapat ditelusur keberadaannya pada barang jadi.
Biaya penyusutan gedung pabrik, Biaya penyusutan mesin, dll
SIKLUS AKUNTANSI
  Siklus akuntansi perusahaan manufaktur sama dengan siklus akuntansi perusahaan dagang.
  Akuntansi perusahaan manufaktur dengan sistem fisik:
Rekening Persediaan Bahan Baku hanya digunakan untuk mencatat nilai bahan baku yang masih tersisa, baik di awal maupun akhir periode.
Transaksi pembelian Bahan baku tidak dicatat ke rekening Persediaan Bahan Baku, tetapi dicatat ke rekening Pembelian Bahan Baku, seperti terlihat pada jurnal berikut:
Mei 17 Pembelian Bahan Baku
Kas / Utang Dagang Rp 100.000 Rp 100.000
 Rekening Persediaan Barang Dalam Proses hanya digunakan untuk mencatat nilai barang yang masih dalam proses, baik di awal maupun akhir periode.
Rekening Persediaan Barang Jadi hanya digunakan untuk mencatat nilai barang jadi pada awal dan akhir periode.
  Jurnal penyesuaian untuk perusahaan manufaktur sama dengan jurnal penyesuaian untuk perusahaan dagang.
  Neraca Lajur untuk perusahaan manufaktur pada prinsipnya sama dengan neraca lajur untuk perusahaan dagang, tetapi ditambahkan kolom untuk skedul harga pokok produksi.
  Contoh Neraca Lajur Sebagian:
Perusahaan Manufaktur
Neraca Lajur sebagian
Periode tahun 2010
Nama Rekening NSSD Harga Pokok Poduksi Laporan Rugi-Laba Neraca
Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit
Persediaan Barang Jadi 12.000 12.000 15.000 15.000 Persed. Barang Dlm. Proses 10.000 10.000 18.000 18.000 Persediaan Bahan Baku 5.000 5.000 9.000 9.000 Pembelian Bahan Baku 100.000 100.000 Biaya Tenaga Kerja Lgsg. 200.000 200.000 Biaya Tenaga Kerja Tak Lgsg. 50.000 50.000 Biaya Listrik dan Air 140.000 140.000 Biaya Bahan Habis Pakai 30.000 30.000 Biaya Penyst. Gedung Pabrik 120.000 120.000 Biaya Penyst. Mesin 60.000 60.000 Biaya Pemasaran 40.000 40.000 Penjualan 1.500.000 1.500.000 ………. ……….. 715.000 27.000 Harga Pokok Produksi 688.000 715.000 715.000 JURNAL PENUTUP
Jurnal penutup untuk perusahaan manufaktur berbeda dengan perusahaan dagang. Dalam perusahaan manufaktur, rekening Harga Pokok Produksi digunakan untuk menutup semua rekening yang akan dilaporkan di Skedul Harga Pokok Produksi. Saldo rekening ini kemudian ditransfer ke rekening Ikhtisar Rugi-Laba.
Contoh:
Des. 31
Harga Pokok Produksi
Persediaan Barang Dalam Proses
Persediaan Bahan Baku
Pembelian Bahan Baku
Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung
Biaya Listrik dan Air
Biaya Bahan Habis Pakai
Biaya Penyusutan Gedung Pabrik
Biaya Penyusutan Mesin
(untuk menutup rekening-rekening Persediaan Bahan Baku awal, Barang Dalam Proses awal, dan rekening-rekening Biaya produksi) Rp 715.000 Rp 10.000
5.000
100.000
200.000
50.000
140.000
30.000
120.000
60.000
31 Persediaan Barang Dalam Proses
Persediaan Bahan Baku
Harga Pokok Produksi
(untuk mencatat persediaan akhir barang dalam proses dan bahan baku) Rp 18.000
9.000 Rp 27.000
31 Persediaan Barang Jadi
Penjualan
Ikhtisar Rugi-Laba
(untuk mencatat persediaan akhir barang jadi dan menutup rekening penjualan) Rp 15.000
1.500.000 Rp 1.515.000
31 Ikhtisar Rugi-Laba
Persediaan Barang Jadi
Harga Pokok Produksi
(untuk menutup rekening persediaan awal barang jadi dan harga pokok produksi) Rp 700.000 Rp 12.000
688.000
31 Ikhtisar Rugi-Laba
Biaya Pemasaran
(untuk menutup biaya pemasaran) Rp 40.000 Rp 40.000
Contoh Soal Dasar Akuntansi Perusahaan Manufaktur
Kasus 1.
Persediaan barang dalam proses awal Rp. 40.000,Persediaan bahan baku awal Rp. 60.000 sedangkan bahan baku tersedia dipakai sebanyak Rp. 810.000 jumlah pemakaian bahan baku Rp. 785.000, BTKL Rp. 500.000
Biaya TKTL Rp. 220.000, bahan penolong Rp. 50.000, BOP lain2 Rp. 50.000,biaya asuransi mesin Rp. 12.000,biaya sewa gedung pabrik Rp. 160.000 dan biaya depresiasi mesin pabrik Rp, 50.000 sedangkan persediaan barang dalam proses akhir periode Rp. 30.000
Hitunglah besarnya Harga Pokok Produksinya.
Jawab:
Persediaan Barang Dalam Proses Awal Rp. 40.000
Pemakaian Bahan baku:
Persediaan bahan baku awalRp. 60.000
Pembelian bahan bakuRp. 750.000+
Bahan baku tersedia dipakaiRp. 810.000
Persediaan baham baku akhirRp. 25.000-
Pemakaian bahan bakuRp. 785.000
Biaya TKLRp. 500.000
BOP
BTKTLRp. 220.000
Biaya Bahan PenolongRp. 50.000
BOP lainnyaRp. 50.000
Biaya Asuransi MesinRp. 12.000
Biaya sewa gedung pabrikRp. 160.000
Biaya penyusutan Mesin pabrikRp. 50.000+
Rp 542.000+
Biaya Produksi Rp.1.827.000+
Barang Siap DigunakanRp.1.867.000
Persediaan Barang Dalam Proses Akhir Rp. 30.000-
Harga Pokok Produksi Rp.1.837.000
==========
Kasus 2.
PT BSI memiliki Persediaan bahan baku awal tahun atau 1 Januari 2010 Rp. 1.000.000,Pembelian bahan baku selama tahun 2010 Rp. 10.000.000 sedangkan persediaan akhir bahan baku per 31 desember 2010 Rp. 500.000
Pertanyaan:
a.   Hitunglah pemakaian bahan baku selama tahun 2010
b.   Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi yang berhubungan dengan bahan baku.
Jawab:
a.   Biaya pemakaian bahan baku
Persediaan bahan baku 1 Januari 2010Rp. 1.000.000
Pembelian selama 2010Rp. 10.000.000+
Bahan baku siap untuk dipakaiRp. 11.000.000
Persediaan bahan baku per 31 desember 2010Rp. 500.000-
Biaya Pemakaian bahan baku tahun 2010Rp. 10.500.000
b.   Jurnal pembelian bahan baku
PembelianRp. 10.000.000
Kas/utangRp. 10.000.000
Jurnal pemindahan pembelian bahan baku ke persediaan bahan baku pada akhir periode (AJP)
Persediaan bahan bakuRp. 10.000.000
PembelianRp. 10.000.000
Jurnal pemakaian bahan baku (AJP)
Persediaan barang DPRp. 10.500.000
Persediaan bahan bakuRp. 10.500.000
Kasus 3.
PT. BSI mengeluarkan biaya TKL selama 2010 sebesar Rp. 5.000.000
Buatlah jurnal pencatatan yang berhubungan dengan BTKL
Jawab:
Pada saat membayar BTKL
Biaya gaji/upahRp. 5.000.000
KasRp. 5.000.000
Pada saat akhir periode melalui AJP dipindahkan persediaan BDP
Persediaan BDPRp. 5.000.000
Biaya gaji/upahRp. 5.000.000
Kasus 4.
PT.BSI membayar perskot asuransi mesin pabrik Rp. 40.000 untuk masa 2 tahun,BTKTL Rp. 500.000 yang belum dibayar per 31 desember 2010 Rp. 50.000,Biaya bahan penolong Rp. 100.000, biaya sewa gedung Rp. 400.000 80% dibebankan pabrik yang 20% dibebankan biaya kantor, BOP lainnya Rp. 25.000, Biaya penyusutan mesin pabrik 10% dari harga perolehan Rp. 1.000.000
Buatlah pencatatan yang dilakukan PT BSI berhubungan dengan BOP
Jawab:
Pada Saat pembayaran
a.   Porskot asuransiRp.40.000
KasRp. 40.000
b.   BTKTLRp.500.000
KasRp. 500.000

c.   Biaya sewa gedungRp. 400.000
KasRp. 400.000
d.   BOP lain2Rp. 25.000
KasRp. 25.000
e.   Jurnal AJP pembebanan kemasing2 jenis biaya
1.   Asuransi ½ x Rp. 40.000 = Rp. 20.000
Biaya Asuransi mesin pabrikRp. 20.000
Porskot asuransi mesin pabrikRp. 20.000

2.   Biaya TK yang belum dibayar Rp. 50.000
BTKTLRp. 50.000
Hutang BTKTLRp. 50.000
3.   Pembebanan Biaya BP Rp. 100.000
Biaya BPRp. 100.000
Persediaan BPRp. 100.000
4.   Biaya sewa gedung pabrik 80% x Rp. 400.000 = Rp. 320.000
Biaya sewa gedung kantorRp. 80.000
Biaya sewa gedung pabrikRp. 320.000
Biaya sewa gedungRp. 400.000
5.   Biaya penyusutan mesin 10% x Rp. 1.000.000 = Rp. 100.000
Biaya penyusutan mesin pabrikRp. 100.000
Akumulasi penyusutan mesin pabrikRp. 100.000
6.   BOPRp. 1.115.000
Biaya BPRp. 100.000
BTKTLRp. 550.000
Biaya asuransi mesin pabrikRp. 20.000
BOP lain-lainRp. 25.000
Biaya penyusutan mesin pabrikRp. 100.000
Biaya sewa gedung pabrikRp. 320.000
7.   Persediaan barang dalam prosesRp. 1.115.000
BOPRp. 1.115.000
Kasus 5.
Dari data kasus diatas jika persediaan awal barang dalam proses Rp. 80.000 dan persediaan akhir barang dalam proses Rp. 60.000 hitunglah Harga Pokok Produksinya
Jawab
Persediaan awal barang dalam prosesRp. 80.000
Biaya barang dalam prosesRp 16.615.000 +
Rp.16.695.000
Persediaan akhir barang dalam prosesRp. 60.000 -
Harga Pokok ProduksiRp.16.635.000
============
Kasus 6.
Pada data PT. BSI diatas jika ditambahkan jumlah persediaan awal barang jadi per 1 januari 2010 Rp. 200.000 dan persediaan akhir 31 Desember 2010 untuk barang jadi Rp. 100.000.
Hitunglah Harga Pokok Penjualannya
Jawab:
Persediaan awal barang jadi 1 januari 2010 Rp. 20.000
Harga Pokok ProduksiRp.16.635.000+
Rp.16.655.000
Persediaan akhir barang jadi 31 desember 2010Rp. 100.000 -
Harga Pokok PenjualanRp.16.555.000
===========
SOAL KASUS UNTU NERACA LAJUR PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Data Keuangan untuk Neraca Saldo per 31 desember 2010 PT. BSI adalah sebaga berkut:
Kas Rp. 100.000
Persediaan bahan bakuRp. 120.000
Persediaan barang dalam prosesRp. 80.000
Persediaan barag jadiRp. 200.000
Porskot asuransiRp. 48.000
Mesin pabrikRp. 1.000.000
Perabot kantorRp. 200.000
Pembelian bahan baku Rp. 1.500.000
Biaya BTKLRp. 1.000.000
BTKTLRp. 400.000
Pemakaian Bahan penolongRp. 100.000
Biaya sewa gedungRp. 400.000
BOP lain2Rp. 100.000
Biaya administrasi kantorRp. 200.000
Akumulasi penyusutan mesin pabrikRp. 100.000
Akumulasi penyusutan perabot kantorRp. 40.000
Modal sahamRp. 1.000.000
Laba ditahanRp. 308.000
PenjualanRp. 4.000.000
JumlahRp. 5.448.000 Rp. 5.448.000
=========== =============
Data Untuk AJP adalah sebagai berikut:
1.   Porskot asuransi untuk mesin pabrik selama dua tahun . asuransi sampai dengan 31 desember 2011 dan dibayar per 1 januari 2010
2.   Biaya tenaga kerja tidak langsung yang belum dibayarkan sebanyak Rp. 40.000
3.   Sewa gedung untuk beban pabrik sebanyak 80% dan beban kantor 20%
4.   Mesin pabrik disusutkan 10% pertahun dan perabot 5% .masing2 harga perlehan dianggap tidak memiliki nilai residu
5.   Persediaan bahan baku 31desember 2010 senilai Rp. 50.000,persediaan barang dalam proses Rp. 60.000 dan persediaan barang jadi Rp. 100.000
Dari data diatas buatlah Work Sheet atau neraca lajur, harga pokok produksi,harga pokok penjualan,rugi laba ,neraca dan laporan laba ditahan per 31 Desember 2010.
Jawab:
Ayat Jurnal Penyesuaian:
1.   Biaya Asuransi mesin pabrikRp. 24.000
Porskot/uangmuka asuransiRp. 24.000
2.   Biaya TKTLRp. 40.000
Hutang BTKTLRp. 40.000
3.   Biaya sewa gedung pabrikRp. 320.000
Biaya sewa gedung kantorRp. 80.000
Biaya sewa gedngRp. 400.000
4.   Biaya penyusutan mesin pabrikRp. 100.000
Ak.Penyusutan mesin pabrikRp. 100.000
5.   Biaya penyusutan perabot kantorRp. 10.000
Ak. Penyusutan perabot kantorRp. 10.000
6.   Persediaan bahan baku Rp. 1.500.000
Pembelian bahan baku Rp.1.500.000
7.   Biaya Overhead PabrikRp. 1.084.000
BTKTLRp. 440.000
Biaya Bahan penolongRp. 100.000
BOP lain2Rp. 100.000
Biaya Asuransi mesin pabrikRp. 24.000
Biaya sewa gedungRp. 320.000
Biaya Penyusutan Mesin PabrikRp. 100.000
8.   Persediaan barang dalam prosesRp. 1.570.000
Persediaan bahan bakuRp. 1.570.000
9.   Persediaan Barang Dalam ProsesRp. 1.000.000
BTKLRp. 1.000.000
10. Persediaan Barang Dalam ProsesRp. 1.084.000
BOPRp. 1.084.000
11. Persediaan Barang JadiRp. 3.674.000
Persediaan Barang Dalam ProsesRp. 3.674.000
12. HPPRp. 3.774.000
Persediaan Barang JadiRp. 3.774.000
PT.BSI
Neraca Lajur ( Work Sheet )
Periode tahun 2010
Nama Rekening NERACA SALDO AJP NSSD RUGI LABA
Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit
Kas 100000 100000 Persd Bahan Baku 120000 1500000(6) 1570000 (8) 50000 Persd Barang Dalam Proses 80000 1570000(8)
1000000(9)
1084000(10) 3674000(11) 60000 Persediaan Barang Jadi 200000 3674000(11) 3774000(12) 100000 Porskot Asuransi. 48000 24000(1) 24000 Mesin Pabrik 1000000 1000000 Ak. Peny Mesin Pabrik 100000 100000(4) 200000 Perabot Kantor 200000 200000 Ak Peny. Perabot Kantor 40000 10000(5) 50000 Modal Saham 1000000 1000000 Laba Ditahan 308000 308000 Penjualan 4000000 4000000 4000000
Pembelian Bahan Baku 1500000 1500000(6) BTKL 1000000 1000000(9) BTKTL 400000 440000(7) Biaya Bahan Penolong 100000 100000(7) Biaya Sewa Gedung 400000 400000(3) BOP lain2 100000 100000(7) Biaya adm kantor 200000 200000 200000 Total 5448000 5448000 Biaya Asuransi mesin pabrik 24000(1) 24000(7) TKTL Terhutang 40000(2) 40000 Biaya Sewa Gedung pabrik 320000(3) 320000(7) Biaya sewa gedung kantor 80000(3) 80000 80000 Biaya Peny mesin Pabrik 100000(4) 100000(7) Biaya Peny Perabot kantor 10000(5) 10000 10000 BOP 1084000(7) 1084000(10) HPP 3774000(12) 3774000 3774000 14.260000 14260000 5598000 5598000 4064000 4000000
64000
4064000 4064000
Nama Rekening RUGI LABA NERACA
Debit Kredit Debit Kredit
Kas 100000 Persd Bahan Baku 50000 Persd Barang Dalam Proses 60000 Persediaan Barang Jadi 100000 Porskot Asuransi. 24000 Mesin Pabrik 1000000 Ak. Peny Mesin Pabrik 200000
Perabot Kantor 200000 Ak Peny. Perabot Kantor 50000
Modal Saham 1000000
Laba Ditahan 308000
Penjualan 40000000 Pembelian Bahan Baku BTKL BTKTL Biaya Bahan Penolong Biaya Sewa Gedung BOP lain2 Biaya adm kantor 200.000 Total Biaya Asuransi mesin pabrik TKTL Terhutang 40000
Biaya Sewa Gedung pabrik Biaya sewa gedung kantor 80.000 Biaya Peny mesin Pabrik Biaya Peny Perabot kantor 10.000 BOP HPP 3.774.000 4.064.000 4.000.000 1.534.000 1.598.000
64.000 64.000 4.064.000 4.064.000 1.598.000 1.598.000
PT. BSI
Laporan Harga Pokok Produksi
Periode 31 Desember 2010
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Persediaan Barang Dalam Proses AwalRp. 80.000
Pemakaian Bahan baku:
Persediaan bahan baku awalRp . 120.000
Pembelian bahan bakuRp. 1.500.000+
Bahan baku tersedia dipakaiRp. 1.620.000
Persediaan bahan baku akhirRp. 50.000-
Pemakaian bahan bakuRp. 1,570.000
Biaya TKLRp. 1.000.000
BOP:
BTKTLRp. 440.000
Biaya Bahan PenolongRp. 100.000
BOP lainnyaRp. 100.000
Biaya Asuransi MesinRp. 24.000
Biaya sewa gedung pabrikRp. 320.000
Biaya penyusutan Mesin pabrikRp. 100.000+
Rp 1.084.000+
Biaya Produksi Rp. 3.734.000
Persediaan barang dalam proses akhirRp. 60.000-
Harga Pokok ProduksiRp. 3.674.000


PT.BSI
Laporan Perhitungan Rugi Laba
Periode 31 Desember 2010
-----------------------------------------------------------------------------------------------
PenjualanRp. 4.000.000
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan Barang jadi awalRp. 200.000
Harga Pokok ProduksiRp. 3.674.000+
Rp. 3.874.000
Persediaan Barang jadi akhirRp. 100.000-
Harga Pokok PenjualanRp. 3.774.000-
Laba KotorRp. 226.000
Biaya Operasional:
Biaya Administrasi KantorRp. 200.000
Biaya Sewa Gedung KantorRp. 80.000
Biaya Penyusutan Perabot kantorRp. 10.000+
Rp. 290.000-
Rugi OperasionalRp. 64.000
===========
PT.BSI
Neraca
Per 31 Desember 2010
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Aktva Lancar:
KasRp. 100.000
Persediaan:
Persediaan Bahan BakuRp. 50.000
Persediaan BDPRp. 60.000
Persediaan Barang JadiRp. 100.000+
Rp. 210.000
Porsekot asurasiRp. 24.000+
Jumlah Aktiva LancarRp. 334.000
Aktiva Tetap:
Mesin PabrikRp. 1.000.000
Ak. Peny Mesin pabrikRp. 200.000-
Rp. 800.000
Perabot KantorRp. 200.000
Ak. Peny Perabot kantorRp. 50.000-
Rp. 150.000+
Jumlah aktiva TetapRp950.000+
Jumlah Akiva Rp1.284.000
==========
Hutang lancar:
Hutang Biaya TKTLRp. 40.000
Modal:
Modal SahamRp. 1.000.000
Laba DitahanRp. 244.000+
Jumlah Modal Rp. 1.244.000+
Jumlah Pasiva Rp. 1.284.000
============
PT.BSI
Laporan Laba Ditahan
Per 31 Desember 2010
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Laba Ditahan 1 Januari 2010Rp. 308.000
Rugi Tahun BerjalanRp. 64.000-
Laba Ditahan 31 Desember 2010Rp. 244.000
==============
PT.Nisa Mandiri perusahaan yang bergerak dibidang keramik pada tanggal 31 Desember 2010 memiliki data Neraca Saldo sebagai berikut:
PT.Nisa Mandiri
Neraca Saldo
31 Desember 2010
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kas Rp. 50.000
Persediaan bahan bakuRp. 60.000
Persediaan barang dalam prosesRp. 40.000
Persediaan barag jadiRp. 100.000
Porskot asuransiRp. 24.000
Mesin pabrikRp. 500.000
Perabot kantorRp. 100.000
Pembelian bahan baku Rp. 750.000
Biaya BTKLRp. 500.000
BTKTLRp. 200.000
Pemakaian Bahan penolongRp. 50.000
Biaya sewa gedungRp. 200.000
BOP lain2Rp. 50.000
Biaya administrasi kantorRp. 100.000
Akumulasi penyusutan mesin pabrikRp. 50.000
Akumulasi penyusutan perabot kantorRp. 20.000
Modal sahamRp. 500.000
Laba ditahanRp. 154.000
Penjualan__ Rp. 2.000.000+
JumlahRp. 2.724.000 Rp. 2.724.000
=========== ============
Data Untuk AJP adalah sebagai berikut:
1.   Porskot asuransi untuk mesin pabrik selama dua tahun . asuransi
sampai dengan 31 desember 2011 dan dibayar per 1 januari 2010
2.   BTKTL yang belum dibayarkan sebanyak Rp. 30.000
3.   Sewa gedung untuk beban pabrik sebanyak 70% dan beban kantor
30%
4.   Mesin pabrik disusutkan 15% pertahun dan perabot 10 % .masing2
harga perlehan dianggap tidak memiliki nilai residu
5.   Persediaan bahan baku per 31desember 2010 senilai Rp30.000,
persediaan barang dalam proses Rp. 40.000 dan persediaan barang jadi Rp. 75.000
Dari data diatas buatlah Work Sheet atau neraca lajur, harga pokok produksi,harga pokok penjualan, rugi laba, neraca dan laporan laba ditahan per 31 Desember 2010.
Diposkan oleh Heri Wahyudi Rachman, SE. di 23.36
1 komentar:

Azka Bazia5 Desember 2014 12.16★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★╔══╗═════╔╗═════╚╗╔╬═╦═╦═╣╠╦╦╦╦╗═║║║╩╣║║╬║═╣║║║║═╚╝╚═╩╩╬╗╠╩╬╗╠═╝═══════╚═╝═╚═╝══★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★info DEWASA klik; RAHASIA SEX TAHAN LAMASex Shop On LineCall Center Hp : 0821 3495 8895( SMS ) 24JAM : 0856 0795 4414Pin BlackBerry: 2AC 44 BCAwww.agenobat69.com/Rahasia Dewasa***** PEMBESAR PENIS PERMANEN *****- VIMAX PILLS ASLI - OBAT PEMBESAR PENIS VigRx Plus - VigRX Plus - Lintah Oil - Vacum Big Long Venis - Celana Vakoou ~~~ MENJUAL BERBAGAI MACAM OBAT ~~~- Obat Kuat Viagra Asli- Obat kuat cialis 80mg - Maximum Powerfull - Obat Kuat V6 Tian - Obat kuat OLES stud cream - Procomil Spray Asli ### OBAT PERANGSANG WANITA ###- Potenzol Perangsang Cair - Sex Drops Asli - Perangsang Serbuk - Perangsang Oles ++++ ALAT BANTU SEX PRIA ++++===== ALAT BANTU SEX WANITA =====RAHASIA WANITABalasMuat yang lain... HYPERLINK "http://heriwahyudirachman.blogspot.com/2013/11/bab-i-mempersiapkan-pendirian-usaha-a.html" \o "Posting Lama" Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Mengenai Saya

Heri Wahyudi Rachman, SE. Saat ini diberikan amanah sebagai Dosen Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Biaya di AMIK Wira Nusantara Rangkasbitung, Wali Kelas XII Akuntansi dan Staf Pengajar Bidang Studi Akuntansi Biaya dan Kewirausahaan di SMK PGRI Rangkasbitung
Lihat profil lengkapku
Arsip Blog
▼  2013 (4)
▼  November (2)
AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTURBAB IMEMPERSIAPKAN PENDIRIAN USAHA A.      Perenca...►  September (2)
►  2011 (15)
►  2010 (1)
Pengikut Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.


Download AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR#1.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR#1. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon