September 05, 2016

AKUNTANSI SOSIAL EKONOMI


Judul: AKUNTANSI SOSIAL EKONOMI
Penulis: Victoria Purba


PAPER TEORI AKUNTANSI
AKUNTANSI SOSIAL EKONOMI

Oleh:
NAMA:VICTORIA AGUSTINA PURBA
NIM:10401376
PRODI : AKUNTANSI
JENJANG:STRATA SATU (S1)
DOSEN:YANSEN SIAHAAN, SE, Ak, MSAc


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)
SULTAN AGUNG
PEMATANGSIANTAR
2013
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan paper Teori Akuntansi yang berjudul "Akuntansi Sosial Ekonomi" ini dengan baik. Penyajian paper Teori Akuntansi ini merupakan hasil dari pembelajaran yang telah penulis jalani dalam perkuliahan.
Penulis menyadari paper Teori Akuntansi ini masih jauh dari sempurna, karena itu penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari pembaca yang telah sudi meluangkan waktu untuk membaca paper Teori Akuntansi penulis.
Semoga paper Teori Akuntansi ini bisa bermanfaat bagi semua.
Pematangsiantar, 13 Januari 2014
P e n u l i s,
Victoria Agustina Purba
Nim : 10401376DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTARi
DAFTAR ISIii
BAB I PENDAHULUANa. Latar Belakang..........................1
b. Rumusan Masalah 3
c. Tujuan dan Manfaat Paper3

BAB II PEMBAHASAN
a. Timbulnya SEA5
b. Defenisi SEA5
c. Pendorong Munculnya SEA7
d. Konsep SEA9
e. Perusahaan dan Keterlibatan Perusahaan11
f. Pro–Kontra Tanggung jawab Sosial Perusahaan16
g. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Indonesia21
h. Pelaporan27
BAB III PENUTUP
Kesimpulan31
DAFTAR PUSTAKA33
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Selama ini perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat . ia bisa memberikan kesempatan kerja, menyediakan barang yang dibutuhkan masyarakatuntuk dikonsumsi, ia membayar pajak, memberikan sumbangan, dan lain-lain. Karenanya perusahaan mendapat legitimasi bergerak leluasa melaksanakan kegiatannya. Namun, lama kelamaan karena memang perusahaan ini dikenal juga sebagai "binatang ekonomi" yang mencari keuntungan sebesar-besarnya, akhirnya semakin disadari bahwa dampak yang dilakukannya terhadap masyarakat cukup besar dan semakin lama semakin besar yang sukar dikendalikan seperti polusi, keracunan, kebisingan, diskriminasi, pemaksaan, kesewenang-wenangan, produksi makanan haram, bahkan mengatur kebijakan publik untuk menguntungkan perusahaan, merusak moral birokrat, pejabat, sogok menyogok, dan sebagainya. Bahkan gempa bumi, banjir, tsunami dinilai disebabkan oleh kegiatan manusia khususnya korporasi yang mengeksploitasi bumi secara besar-besaran hanya untuk mengejar target ROI, ROA, dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dampak luar ini disebut externalities (social cost).
Karena besarnya dampak externalities terhadap kehidupan masyarakat, masyarakat pun menginginkan agar dampak ini dikontrol sehingga dampak negatif, external diseconomy atau social cost yang ditimbulkannya tidak semakin besar. Dari sini berkembanglah ilmu akuntansi yang selama ini dikenal hanya memberikan informasi tentang kegiatan perusahaan dengan pihak kedua. Dengan adanya tuntutan ini, akuntansi bukan hanya merangkum informasi tentang hubungan perusahaan dengan pihak kedua (partner bisnisnya), tetapi juga dengan lingkungannya (pihak ketiga).Hubungan perusahaan dengan lingkungannya bersifat non-reciprocal, artinya transaksi itu tidak menimbulkan prestasi timbal-balik dari pihak yang berhubungan. Ilmu akuntansi yang mencatat mengukur, melaporkan externalities ini disebut dengan Socio Economic Accounting (SEA). Istilah lain bisa juga dipakai, misalnya Environmental Accounting, Social Responsibility Accounting, dan lain sebagainya.
Dalam akuntansi konvensional yang menjadi fokus perhatiannya adalah pencatatan dan pengukuran terhadap kegiatan atau dampak yang timbul akibat hubungan antara perusahaan dengan pelanggan atau lembaga lainnya (Reciprocal Transaction). Sedangkan Socio Economic Accounting menyoroti aspek sosial atau dampak (externalities) dari kegiatan pemerintah dan perusahaan.
Ilmu Socio Economic Accounting (SEA) ini merupakan bidang ilmu akuntansi yang berfungsi dan mencoba mengidentifikasi, mengukur, menilai, melaporkan aspek-aspek social benefit dan social cost yang ditimbulkan oleh lembaga. Pengukuran ini pada akhirnya akan diupayakan sebagai informasi yang dijadikan dasar dalam proses pengambilan keputusan untuk meningkatkan peran lembaga, baik perusahaan atau yang lain untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan secara keseluruhan.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka permasalahan yang akan dibahas dapat diidentifikasi sebagai berikut :
Apakah defenisi Akuntansi Sosial Ekonomi itu?
Apakah faktor pendorong munculnya Akuntansi Sosial Ekonomi?
Bagaimana konsep Akuntansi Sosial Ekonomi?
Bagaimana keterlibatan perusahaan dalam Sosial Ekonomi?
Bagaimana tanggung jawab sosial perusahaan di Indonesia?
Bagaimana pelaporan Akuntansi Sosial Ekonomi?
TUJUAN DAN MANFAAT PAPER
a. Tujuan Paper
Adapun tujuan berdasarkan identifikasi masalah diatas dapat diungkapakan sebagai berikut :
Untuk mengetahui mengenai arti Akuntansi Sosial Ekonomi
Untuk mengetahui faktor pendorong munculnya Akuntansi Sosial Ekonomi
Untuk mengetahui konsep Akuntansi Sosial Ekonomi
Untuk mengetahui keterlibatan perusahaan dalam Sosial Ekonomi
Untuk mengetahui tanggung jawab sosial perusahaan di Indonesia
Untuk mengetahui tentang pelaporan Akuntansi Sosial Ekonomi
b. Manfaat Paper
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari paper ini antara lain :
1. Bagi penulis, untuk memenuhi salah satu syarat untuk tugas mata kuliah teori Akuntansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ( STIE ) Sultan Agung Kota Pematangsiantar.
2. Bagi pembaca, sebagai bahan masukan bagi pembaca yang berniat membahas tentang Akuntansi Sosial Ekonomi agar dapat mengambil keputusan-keputusan yang tepat di masa yang akan datang.
BAB II
PEMBAHASAN
Timbulnya SEA
Kemajuan industri setelah perang dunia II dan munculnya negara sebagai aktor dalam peningkatan kualitas hidup menimbulkan berbagai macam isu yang justru dapat juga merusak kualitas hidup. Hal ini menjadi sorotan para ahli dan para pengambil keputusan. Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam menilai penyakit sosial ini adalah ketiadaan media pengukur arithmetic of quality. Hal ini tergambar dari pernyataan A.W.Clausen, bekas direktur World Bank sebagai berikut.
"Saya sampaikan bahwa salah satu alasan yang paling kuat atas ketiadaan respon , kita terhadap isu penyakit sosial itu dan penyebab kebingungan kita terhadap penyelesaiannya adalah ketiadaan ukuran kualitas (Belkaoi, SEA, hlm. 3)".
Ukuran itu penting sehingga setiap unit pemerintah maupun perusahaan mengetahui berapa jauh efek kegiatan lembaganya memengaruhi kualitas hidup manusia, apakah berdampak positif atau negatif. Berapa kontribusi perusahaan untuk meningkatkan pendidikan pegawainya ataupun masyarakat? Berapa jauh pengaruh polusi, pengerusakan lingkungan yang ditimbulkannya? Hal-hal inilah mestinya yang diukur oleh SEA sebagai salah satu ukuran kualitas.
Defenisi SEA
SEA masih merupakan fenomena baru dalam ilmu akuntansi, dan sering ditafsirkan sama dengan Social Accounting yang dihubungkan dengan National Income Accounting . Para ahli juga telah banyak memberikan defenisi dan dalam tulisan ini saya akan kutip defenisi dari Ahmed Belkaoui, dalam bukunya tentang Socio Economic Accounting. Beliau menyatakan sebagai berikut:
"SEA timbul dari penerapan akuntansi dalam ilmu sosial, ini menyangkut peraturan, pengukuran analisis, dan pengungkapan pengaruh ekonomi dan sosial dari kegiatan pemerintah dan pengusaha. Hal ini termasuk kegiatan yang bersifat mikro dan makro. Pada tingkat makro bertujuan untuk mengukur dan mengungkapkan kegiatan ekonomi dan sosial negara mencakup social accounting dan reporting peranan akuntansi dalam pembangunan ekonomi. Pada tingkat mikro bertujuan untuk mengukur dan melaporkan pengaruh kegiatan perusahaan terhadap lingkungannya, mencakup financial dan managerial social accounting, social auditing".
Ada juga yang menyebutkan Socio Economic Accounting sebagai Social Responsibility. SEA ini tidak sama dengan Social Accounting yang pengertiannya adalah pengukuran mengenai bagaimana efesiensi suatu sistem ekonomi berfungsi dan memberikan data periodik yang menyangkut indikaksi posisi suatu negara menyangkut ukuran externalities itu. Social Accounting ini sering juga disebut National Income Accounting atau Macro Socio Economic Accounting.
Dalam kaitannya dengan sistem ekonomi, SEA sangat diperlukan dalam suatu sistem ekonomi yang bercirikan sintese, dari sistem ekonomi antara Social Economy dan Institusional Economy.Social Economy mempunyai komitmen yang dalam terhadap kesejahteraan manusia dan keadilan, sedangkan institusionalis mempunyai komitmen yang besar terhadap pragmatisme dalam menganalisis sosial ekonomi masyarakat. Negara kita adalah negara yang memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya,karen itu SEA ini penting diterapkan bahkan harus diharuskan untuk diterapkan oleh semua perusahaan dan lembaga di negara kita.
Pendorong Munculnya SEA
Literatur dalam ilmu sosial, ilmu sosiologi, dan khususnya kegiatan-kegiatan sosial merupakan saksi dan penyebab yang mendorong timbulnya SEA. Seperti perubahan sikap para ahli dan pengambil keputusan terhadap peranan bisnis dan unit pemerintahan dalam kaitannya dengan efek sosial yang ditimbulkannya. Adanya kecenderungan beralihnya perhatian pada kesejahteraan individu ke arah kesejahteraan sosial. Kecenderungan yang bergerak dari kegiatan mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa melihat efek sampingnya kearah mencari laba yang berwawasan lingkungan. Timbulnya Kementrian atau departemen (unit) pemerintahan yang mengurus lingkungan hidup, juga sejalan dengan kemunculan SEA. Kecenderungan ini semua dapat kita lihat dari beberapa paradigma berikut ini:
Kecenderungan terhadap kesejahteraan Sosial
Sejarah menunjukkan bahwa kelangsungan hidup manusia, kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya hanya dapat lahir dari sikap kerja sama antarunit-unit masyarakat itu sendiri. Negara tidak bisa hidup sendiri tanpa partisipasi rakyat nya perusahaan juga tidak akan maju tanpa dukungan langganannya maupun lingkungan sosialnya. Kenyataannya ini semakin disadari dan semakin dibutuhkan pertanggungjawabannya. Untuk mengetahui gambaran yang jelas tentang keterkaitan saling pengaruh memengaruhi antara negara dan rakyatnya, antara perusahaan dan masyarakatnya, SEA ini sangat berperan.
Kecendrungan terhadap kesadaran lingkungan
Dalam literatur paradigma ini dikenal dengan the human exceptionalism paradigm menuju the new environment paradigm. Paradigma yang pertama menganggap bahwa manusia adalah makhluk unik di bumi ini yang memiliki kebudayaan sendiri yang tidak dapat dibatasi oleh kepentingan makhluk lain. Sebaliknya, paradigma yang terakhir menganggap bahwa manusia adalah makhluk diantara bermacam-macam makhluk yang mendiami bumi yang saling mempunyai keterkaitan dan sebab-akibat, dan dibatasi oleh sifat keterbatasan dunia itu sendiri, baik sosial, ekonomi, atau politik. Kesadaran akan kebenaran environment paradigm merupakan salah satu pendorong munculnya SEA.
Perspektif Ekosistem
Orientasi yang terlalu diarahkan kepada pembangunan ekonomi, efisiensi, profit maximization menimbulkan krisis ekosistem. Gejala ini menaruh perhatian para ahli sehingga muncul kelompok-kelompok yang menamakan dirinya penyelamat lingkungan seperti Greenpeace, lembaga konsumen, dan lain-lain.
Ekonomi vs Sosialisasi
Ekonomisasi mengarahkan perhatian hanya kepada kepuasan individual sebagai unit yang selalu mempertimbangkan cost dan benefit tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat. Sebaliknya sosialisasi memfokuskan perhatiannya terhadap kepentingan sosial dan selalu mempertimbangkan efek sosial yang ditimbulkan oleh kegiatannya.
Konsep SEA
Konsep pengukuran, penilaian dalam SEA ini masih dalam proses pembahasan para ahli. Dan FSAB sendiri pun belum mengambil sikap yang tegas dalam persoalan ini. Namun SEA, khususnya tentang polusi telah mewajibkan perusahaan untuk menyajikan pengungkapan. Dipihak lain AAA, AICPA telah membentuk komite dan telah mengeluarkan laporan yang lumayan lengkap tentang SEA. Di USA kantor akuntan Ernst & Ernst telah melakukan penelitian sejak 1971 tentang keterlibatan sosial perusahan yang diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan. Beberapa hal yang diungkapkan adalah sebagai berikut :
Lingkungan :
Polusi
Pencegahan kerusakan lingkungan, konservasi sumber – sumber alam, dan lain-lain.
Energi :
Konservasi energi
Penghematan , dan lain-lain
Praktik Usaha yang Fair :
Merekrut pegawai dari minoritas dan peningkatan kemampuannya
Penggunaan tenaga wanita sebagai pegawai
Pembukaan unit usaha di luar negeri, dan lain-lain
Sumber Tenaga Manusia :
Kesehatan dan keamanan pegawai
Training, dan lain-lain
Keterlibatan terhadap masyarakat :
Kegiatan masyarakat sekitar
Pendidikan
Seni, dan lain-lain
Produksi :
Keamanan produksi
Mengurangi polusi
Keracunan, dan lain-lain
Selain itu, variabel lain yang menyinggung konsep SEA antara lain yaitu keterlibatan dengan kegiatan pemerintah, kejujuran terhadap konsumen, meningkatkan informasi mengenai perusaqhaan dan produk, peningkatan pendidikan masyarakat, menghargai hak asasi, pembangunan prasarana kota/desa, pembangunan tampat rekreasi, peningkatan perhatian terhadap kebudayaan dan seni, dan lain-lain.
Hal ini semua dapat kita manfaatkan untuk mengukur keterlibatan perusahaan dalam kegiatan masyarakat dan tentu dapat ditambah lagi sesuai keadaan kita di negara masing-masing.
Perusahaan dan Keterlibatan Perusahaan
Ada beberapa model dan kecenderungan tentang keterlibatan perusahaan dalam kegiatan sosial. Sepanjang penelitian kepustakaan, ada 3 pandangan atau model yang menggambarkan tentang keterlibatan perusahaan dalam kegiata sosial. Ketiga model itu adalah sebnagai berikut :
Model Klasik
Pendapat ini, yang berkembang pada abad ke-19, bertitik-tolak pada konsep persaingan sempurna, dimana perilaku ekonomi terpisah dan berbeda dengan bentuk dan jenis perilaku yang lain. Tujuan perusahaan hanya untuk mencari untung yang sebesar-besarnya. Kriteria keberhasilan perusahaan diukur oleh daya guna dan pertumbuhan. Menurut pendapat ini, usaha yang dilakukan pemerintah semata-mata hanya untuk memenuhi permintaan pasar dan mencari untung yang akan dipersembahkan kepada pemilik modal. Seorang fundamentalis di bidang ini, Milton Friedman menyatakan bahwa ada satu dan hanya satu tanggungjawab perusahaan, yaitu menggunakan kekayaan yang dimilikinya untuk meningkatkan laba sepanjang sesuai aturan main yang berlaku dalam suatu sistem persaingan bebas tanpa penipuan dan kecurangan ( Milton Friedman, Capitalism and Freedom, 1962 ).
Jelasnya perusahaan menurut pendapat ini, tidak perlu memikirkan efek sosial yang ditimbbulkan perusahaannya dan tidak perlu memikirkan usaha untuk memperbaiki penyakit sosial. Itu bukan urusan bisnis, tetapi urusan pemerintah.
Model Manajemen
Pendapat ini timbul sekitar 1930, setelah muncul tantangan baru dari perusahaan yang mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan keadaan yang sebelumnya yang diwarnai oleh pemikiran model klasik. Menurut pendapat ini, perusahaan dianggap sebagai lembaga permanen yang dianggap hidup dan punya tujuan tesendiri. Manager sebagai orangyang dipercayai oleh pemilik modal menjalankan perusahaan untuk kepentingan bukan saja pemilik modal, tetapi juga mereka yang terlibat langsung dengan hidup matinya perusahaan seperti karyawan, langgana, supplier, dan pihak lain yang ada kaitannya dengan perusahaan yang semata-mata tidak didasarkan atas adanya hubungan kontrak perjanjian (Frank X. Suttin et. Al. 1956). Dengan demikian, manager sebagai tim yang bertangguangjawab atas kelangsungan hidup perusahaan terpaksa memilih kebijakan yang harus mempertimbangkan tanggungjawab sosial perusahaan mengingat ketergantungannya dengan pihak lain ( masyarakat ) yang juga punya andil dalam pencapaian tujuan perusahaan yang tidak hanya memikirkan setoran buat pemilik modal.
Model Lingkungan Sosial
Model ini menekankan bahwa perusahaan meyakini bahwa kekuasaan ekonomi dan politik yang dimilikinya mempunyai hubungan dengan kepentingan ( bersumber) dari lingkungan sosial dan bukan hanya semata dari pasar sesuai dengan teori atau model klasik. Konsekuensinya perusahaan harus berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan penyakit sosial yang berada di lingkungannya seperti sistem pendidikan yang tidak bermutu, pengangguran, polusi, perumahan kumuh, transportasi yang tidak teratur, keamanan, dan lain-lain. Kalau model klasik mempunyai tujuan utama untuk mensejahterakan pemilik modal dan model manajemen mensejahterakan manajemen, dalam model ini perusahaan harus memperluas tujuan yang harus dicapainya yaitu yang menyangkut kesejahteraan sosial secara umum (Ahmed Belkaoui, 1980). Dengan demikian, dalam memilih proyek yang akan dibangun, disamping memperhatikan persentasi laba juga harus memperhatikan keuntungannya dan kerugian yang mungkin akan diderita oleh masyarakat.
Kearah Eksistensi Etika dan Tanggung jawab Sosial Perusahaan
Ahmed Belkaoui dengan cara sistematis mengelompokkan batasan ini dalam lima kategori yang seirama dengan ketiga model yang sebelumnya (Ahmed Belkaoi, SEA, 1984). Berikut ini disajikan secara berturut-turut:
Pertama : tanggung jawab perusahaaan hanya terbatas pada usaha mencari laba yang maksimal. Jika perusahaan dapat menguntungkan laba yang sebesar-besarnya tanpa memperhatikan efek sosialnya, berarti perusahaan sudah memenuhi panggilan tugasnya sebagai badan usaha. Menurut kategori ini, apabila perusahaan diwajibkan untuk memperhatikan lingkungan sosial masyarakatnya, maka akan merusak sendi-sendi ekonimi persaingan bebas. Keadaan ini sama dengan model klasik.
Kedua : disamping tujuan mencari untung, perusahaan juga harus memperhatikan pihak-pihak tertentu dengan siapa ia mempunyai kepentingan. Hal ini di contohkan dengan perbaikan kesejahteraaan karyawan, manajemen, menjalin hubungan baik dengan kelompok masyarakat tertentu, dan lain-lain.
Ketiga : perusahaan melepaskan diri dari tujuan hanya mencari laba dengan memperluas tanggung jawab manajemen. Sebagai penduduk yang baik maka perusahaan mestinya juga bertindak seperti penduduk yang memperhatikan etika sosial.
Keempat : dalam kelompok ini, tanggung jawab sosial perusahaan mencakupi hal yang besifat ekonomi dan non ekonomi. Dalam kategori ini dikenal tiga pusat lingkaran yaitu lingkaran dalam yang mencakup tangggung jawab dasar dalam melaksanakan fungsinya dengan efisien, lingkaran tengah yang mencakup tanggung jawab untuk melaksanakan fungsi ekonomisnya dengan penuh kesadaran akan perubahan nilai dan prioritas yang berlaku dalam masyarakat, dan lingkungan luar yang mencakup tanggung jawab yang baru muncul dan masih berkembang, dimana perusahaan harus secara luas terlibat secara aktif untuk memperbaiki lingkungan sosial ( Jacobi, Corporate Power and Social Responsibility, 1973 ).
Kelima : tanggung jawab sosial diperluas melewati batas tanggung jawab dan mencakup keterlibatan total terhadap tugas-tugas sosial. Prakash Sethi merumuskan bentuk ini dalam tiga dimensi yaitu Social Obligation yang merupakan tanggung jawab perusahaan terhadap permintaaan pasar sesuai dengan ketentuan hukum, Social Responsibility yang menggerakkan perusahaan sehingga segala tindakannya sesuai dengan norma nilai dan harapan masyarakat yang berlaku, dan Social Responsiveness yang merupakan respon perusahaan untuk menjawab isu yang akan muncul dimasa yang akan datang (S. Prakash Sethi, Academy of Management Review, 1979).
Keenam : kategori keenam ini merupakan variasi semua pengertian yang diliputi oleh literatur tentang bentuk dan batasan tanggung jawab sosial perusahaan diatas.
Bradshaw mengemukakan ada tiga bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yaitu sebagai berikut :
Corporate Philanthropy, disini tanggung jawab perusahaan itu berada sebatas kedermawanan atau kerelaan belum sampai pada tanggung jawabnya. Bentuk tanggung jawab ini bisa merupakan kegiatan amal, sumbangan, atau kegiatan lain yang mungkin saja tidak langsung berhubungan dengan kegiatan perusahaan.
Corporate Responsibility, disini kegiatan pertanggung jawaban itu sudah merupakan bagian tanggung jawab perusahaan bisa karena ketentuan UU atau bagian dari kemauan atau kesediaan perusahaan.
Coorporate Policy, disini tanggung jawab perusahaan itu sudah merupakan bagian dari kebijakannya.
Pro – Kontra Tanggung jawab Sosial Perusahaan
Persoalan apakah perusahaan perlu mempunyai tanggung jawab sosial atau tidak, masih terus merupakan perdebatan ilmiah. Masing-masing mengemukakan pendapat dan dukungannya dan mengklaim bahwa idenyalah yang benar. Berikut ini adalah alasan para pendukung agar perusahaan memiliki etika dan tanggung jawab sosial.
Keterlibatan sosial merupakan respon terhadap keinginan dan harapan masyarakat terhadap peranan perusahaan. Dalam jangka panjang, hal ini sangat menguntungkan perusahaan.
Keterlibatan sosial mungkin akan mempengaruhi perbaikan lingkungan, masyarakat, yang mungkin akan menurunkan biaya produksi.
Meningkatkan nama baik perusahaan, akan menimbulkan simpati langganan, simpati karyawan, investor, dan lain-lain.
Menghindari campur tangan pemerintah dalam melindungi masyarakat. Campur tangan pemerintah cenderung membatasi peran perusahaan. Sehingga jika perusahaan memiliki tanggung jawab sosial mungkin dapat menghindari pembatasan kegiatan perusahaan.
Dapat menunjukkan respon positif perusahaan terhadap norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat sehingga mendapat simpati masyarakat.
Sesuai dengan keinginan para pemegang saham, dalam hal ini publik.
Mengurangi tensi kebencian masyarakat kepada perusahaan yang kadang-kadang suatu kegiatan yang dibenci masyarakt tidak dapat dihindari.
Membantu kepentingan nasional, seperti konservasi alam, pemeliharaan barang seni budaya, peningkatan pendidikan rakyat, lapangan kerja, dan lain-lain.
Dipihak lain, alasan para penantang yang tidak menyetujui konsep tanggung jawab sosial perusahaan ini adalah sebagai berikut :
Mengalihkan perhatian perusahaan dari tujuan utamanya dalam mencari laba. Ini akan menimbulkan pemborosan.
Memungkinkan keterlibatan perusahaan terhadap permainan perusahaan atau politik secara berlebihan yang sebenarnya bukan lapangannya.
Dapat menimbulkan bisnis yang monolitik bukan yang bersifat pluralistik
Keterlibatan sosial memerlukan dana dan tenaga yang cukup besar yang tidak dapat dipenuhi oleh dana perusahaan yang terbatas, yang dapat menimbulkan kebangkrutan atau menurunkan tingkat pertumbuhan perusahaan.
Keterlibatan pada kegiatan sosial yang demikian kompleks memerlukan tenaga dan para ahli yang belum tentu dimiliki oleh perusahaan (Ahmed Belkaoui, SEA 1984).
Bentuk Keterlibatan Sosial
Bentuk keterlibatan apa yang harus dilakukan perusahaan sebagai suatu keterlibatan sosial? Kantor akuntansi Ernst & Ernst (1971), K. Davis dan R.L. Blomstrom (1971), dan committe for Economic Development (1971) mengemukakan bahwa bentuk keterlibatan tersebut adalah meliputi kegiatan sebagai berikut:
Lingkungan Hidup
Pengawasan terhadap efek polusi
Perbaikan pengrusakan alam, konservasi alam
Keindahan lingkungan
Pengurangan suara bising
Penggunaan tanah
Pengelolaan sampah dan air limbah
Riset dan pengembangan lingkungan
Kerja sama dengan pemerintah dan universitas
Pembangunan lokasi rekreasi
Dan lain-lain
Energi
Konservasi energi yang dilakukan perusahaan
Penghematan energi dalam proses produksi
Dan lain-lain
Sumber Daya Manusia dan Pendidikan
Keamanan dan kesehatan karyawan
Pendidikan karyawan
Kebutuhan keluarga dan rekreasi karyawan
Menambah dan memperluas hak-hak karyawan
Usaha untuk mendorong partisipasi
Perbaikan kesejahteraan dan manfaat pensiun
Beasiswa kepada keluarga karyawan atau masyarakat
Bantuan pada sekolah atau pendirian sekolah
Membantu pendidikan tinggi dan riset dan pengembangan
Pengangkatan pegawai dari kelompok miskin, minoritas
Peningkatan karier karyawan
Dan lain-lain
Praktik Bisnis yang Jujur
Memperhatikan hak- hak karyawan
Memberi kesempatan pada peranan wanita
Jujur dalam iklan dan bisnis
Pemberian kredit ringan kepada masyarakat
Servis yang memuaskan
Produk yang sehat bagi kesehatan
Jaminan kepuasan langganan
Selalu mengontrol kualitas dan keamanan produk
Menandatangani fakta integritas
Menjauhi melakukan sogok terhadap pejabat
Dan lain-lain
Membantu Masyarakat Lingkungan
Memanfaatkan tenaga ahli perusahaan dalam mengatasi masalah sosial di lingkungannya
Tidak campur tangan dalam struktur masyarakat
Membangun klinik kesehatan
Membantu sekolah
Pembangunan rumah ibadah
 Perbaikan desa/kota
Sumbangan untuk kegiatan sosial masyarakat
Perbaikan perumahan desa
Bantuan dana, sosial, gempa bumi, banjir, tsunami
Perbaikan sarana pengangkutan umum dan sarana pasar
Dan lain-lain
Kegiatan Seni dan Kebudayaan
Membantu lembaga seni dan budaya
Sponsor kegiatan seni dan budaya
Penggunaan seni dan budaya dalam iklan
Merekrut  tenaga yang berbakat seni olahraga
Dan lain-lain
Hubungan dengan Pemegang Saham
Sifat kejujuran, keterbukaan direksi pada semua persero
Peningkatan pengungkapan informasi dalam laporan keuangan
Pengungkapan keterlibatan perusahaan dalam kegiatan social
Dan lain-lain
Hubungan dengan Pemerintah
Mentaati peraturan pemerintah
Membatasi kegiatan lobbying dan sogok-menyogok
Mengontrol kegiatan politik perusahaan
Membantu lembaga pemerintah sesuai dengan kemampuan perusahaan, membantu secara umum usaha peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat
Membantu proyek dan kebijaksanaan pemerintah
Meningkatkan produktivitas sektor informal
Pengembangan dan inovasi manajemen
Menghindari praktik KKN
Dan lain-lain
Pelaksanaaan Socio Economic Accounting ini akan semakin cepat oleh beberapa tekanan atau faktor antara lain:
Adanya Peraturan Pemerintah atau UU yang diberlakukan
Ditetapkannya standar akuntansi yang mengharuskan pengungkapan tanggung jawab sosial
Adanya tekanan dari pressure group misalnya Greenpeace, Trade Union, PBB, dan lain sebagainya
Kesadaran perusahaan
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Indonesia
Tanggung jawab sosial dan etika perusahaan di Indonesia sebenarnya tak perlu diragukan. Hal ini terbukti dari keterlibatan perusahaan, baik langsung maupun melalui jalur pemerintah atau badan-badan sosial dalam mengatasi penyakit sosial dan memperbaiki/membantu sarana dan kegiatan sosial, seperti mensponsori kegiatan olah raga, pembersihan polusi dan air limbah, membantu korban bencana alam, mendirikan sarana pendidikan, kesehatan, dll.
Namun, kita tidak dapat menutup mata terhadap ulah sebagian perusahaan yang merugikan kepentingan sosial, seperti : pengerusakan hutan, lingkungan, iklan palsu, jaminan palsu, kualitas produk yang tidak benar, kekurangan informasi tentang produk, penipuan-penipuan  lain, kebisingan, keracunan, dan produk yang merusak kesehatan. Kadang kiata malu melihat situasi kita yang didaulat sebagai sistem yang terbaik ternyata kurang memperhatikan etika dan tanggung jawab sosial sebagaimana yang dijaga dan dimiliki oleh sistem kapitalis bahkan sosialis sekalipun.
Drucker mengakatakan bahwa tidak ada suatu lembaga yang hidup sendiri dan mati sendiri. Setiap orang/lembaga adalah unsur yang tidak terpisah dari masyarakat dan hidup demi kepentingan masyarakat. Perusahaan tidak terkecuali. Perusahaan yang bebas tidak dapat disebut sebagai baik untuk perusahaan, ia hanya dapat dikatakan baik jika baik untuk masyarakat (Peter F. Drucker, Management: Task, Responsibilities, 1973), dan Belkaoui mengatakan bahwa perusahaan adalah penduduk dan harus menjadi penduduk yang baik (Ahmed Belkaoui, SEA, 1984).
Secara formal, pemerintah telah mengeluarkan peraturan dan pernyataan yang melindungi kepentingan sosial, baik bagi pendirian atau pembangunan perusahaan maupun proyek baru. Dengan demikian, jelaslah bahwa kita menganut konsep dimana perusahaan memiliki tanggung jawab penuh, kendatipun pembatasannya belum begitu jelas. Socio Economic Accounting berusaha mengidentifikasi, mencatat, mengikhtisarkan, melaporkan dan menganalisis efek keterlibatan perusahaan ini, baik untung (benefit) dan kerugian (cost) yang dialami masyarakat. Informasi ini sangat penting bagi perusahaan maupun bagi pihak luar, seperti pemerintah dan sosial dalam pengambilan keputusan yang tepat.
Pengukuran dalam Socio Economic Accounting
Masalah pengukuran ini merupakan hal yang sangat rumit dalam Socio Economic Accounting ini. Dalam akuntansi konvensional jelas bahwa setiap transaksi  baru dapat dicatat jika sudah mempengaruhi posisi keuangan perusahaan. Dalam SEA kita harus mengukur dampak positif (social benefit) dan dampak negative (social cost) yang ditimbulkan oleh kegiatan perusahaan. Biasanya dampak positif dan negative ini belum dapat dihitung karena memang transaksinya bersifat uncomplete cycles, non-resiprocal dan belum mempengaruhi posisi keuangan perusahaan.
Biasanya tidak semua dampak negatif positif itu dapat dihitung dan belum ada pembahasan lengkap dalam literatur tentang pengukuran untuk semua jenis externalities ini. Dalam mengukur kerugian ini semua sumber dan objek kerugian dihitung. Kerugian ini bisa kerugian finansial atau kerugian umum (amenity loss). Kerugian keuangan misalnya kerugian produksi akibat kerusakan lingkungan. Kerugian amenity misalnya penderitaan jiwa yang dialami masyarakat, individu, dan keluarga.
Salah satu akibat dari polusi udara adalah rusaknya kesehatan manusia yang antara lain menyebabkan kematian premature. Kematian premature ini disebabkan oleh berbagai hal dan memerlukan biaya pengobatan, pencegahan dan sebagainya. Biaya inilah yang dihitung sebagai komponen social cost. Dari sisi lain Midwest Research Institute (MRI) (Belkaoui,1985 hlm.197) melaksanakan studi tentang kaitan polusi udara dengan bahan, lingkungan, dan makhluk hidup yang terkena polusi.
Kerugian ekonomis dari bahan yang menjadi polusi ditaksir dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = P x N x F x R
Keterangan :
Q: Kerugian akibat Polusi
P           : Produksi dalam dolar
N          : Umur ekonomis dari suatu bahan yang dinilai berdasarkan penggunaannya
F           : Faktor rata-rata tertimbang sebagai presentase bahan yang menimbulkan polusi udara
R       : Faktor tenaga kerja yang menggambarkan nilai bahan yang dipakai dan nilai yang masih ada.
Kerugian yang terjadi  kepada tanah akibat polusi tadi dihitung dengan rumus :
L = Q x V
Keterangan :
L : Kerusakan lahan
Q      : Nilai bahan yang menyebabkan polusi sebagai mana rumus di atas.
V      : Nilai Interaksi tanah pertahun
Disinilah rumitnya menghitung dampak ekonomisnya itu, karena semua dampak itu harus dinilai dan sampai saat ini para ahli masih terus melakukan studi bagaimana menaksir kerugian itu. Para aktivis lingkungan ternyata telah banyak membantu dalam melakukan penaksiran ini.
Namun demikian  sebagai informasi yang akan dilaporkan dalam Socio Economic reporting dibuat berbagai metode pengukuran misalnya:
1. Menggunakan penilaian dengan menghitung " Opportunity Cost Approach". Misalnya dalam menghitung social cost dari pembuangan, maka dihitung berapa kerugian manusia dalam hidupnya, berapa berkurang kekayaanya, berapa kerusakan wilayah rekreasi, dan lain sebagainya akibat pembuangan limbah. Total kerugian itulah yang menjadi social cost perusahaan (Belkaoui, 1985 p. 195).
2.      Menggunakan daftar kuesioner, survei, lelang, dimana mereka yang merasa dirugikan ditanyai berapa besar jumlah kerugian yang ditimbulkanya atau berapa biaya yang harus dibayar kepada mereka sebagai kompensasi kerugian yang dideritanya.
3.      Menggunakan hubungan antara kerugian massal dengan permintaan untuk barang perorangan dalam menghitung jumlah kerugian masyarakat.
4.      Menggunakan rekreasi pasar dalam menentukan harga.
Sebagai pedoman, berikut ini kita lihat bagaimana mengukur keuntungan suatu kawasan rekreasi. Calawsen dan Knetsch (Belkaoui, 1985, hlm. 199) misalnya memberikan metode pengukuran untuk menaksir keuntungan dari suatu kawasan rekreasi sebagai berikut :
Metode Harga Maksimum (Maximum price method)
Disini ditaksir seluruh jumlah yang dibayar oleh pengunjung daerah rekreasi tersebut.
Metode Pengeluaran Kotor (Gross Expenditure Method)
Disini ditaksir keseluruhan jumlah yang dibelanjakan oleh pengunjung selama rekreasi.
Harga Pasar Ikan (Market Value Of Fish Method)
Disini ditaksir harga pasar dari semua ikan yang ditangkap pengunjung selama rekreasi.
Metode Harga Pokok (Cost Method)
Disini disamakan keuntungan yang diperoleh dari suatu kawasan rekreasi dengan harga pokok pembangunannya.
Metode Harga Pasar (Market Value Method)
Disini digunakan penaksiran nilai berdasarkan harga pasar atau harga yang dibebankan di daerah rekreasi lainnya.
Metode Interview Langsung (Direct Interview Method)
Disini ditanya secara langsung para pengunjung, berapa mereka bersedia membayar karena mengunjungi daerah rekreasi itu.
Di pihak lain, Estes (1976) mengusulkan berbagai teknik pengukuran sebagai berikut:
Penilaian pengganti (Surrogate Valuation)
Teknik Survei
Biaya perbaikan dan pencegahan
Penilaian (Appraisal) oleh tim independen
Putusan pengadilan
Analisis
Biaya pengeluaran
Pelaporan
Untuk melaporkan aspek sosial ekonomi yang diakibatkan perusahaan, ada beberapa teknik pelaporan SEA menurut Diller (1970), yaitu:
Pengungkapan dalam surat kepada pemegang saham baik dalam laporan tahunan atau bentuk laporan lainnya.
Pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan.
Dibuat dalam perkiraan tambahan misalnya melalui adanya perkiraan (akun) penyisihan kerusakan lokasi, biaya pemeliharaan lingkungan, dan sebagainya.
Pelaporan dalam SEA berarti memuat informasi yang menyangkut dampak positif atau negative yang ditimbulkan oleh perusahaan. Berikut ini sekedar contoh Pelaporan SEA sebagai berikut:
PT Ezly Bazliyah
Socio Economic Operating Report
Per 31 desember 1993
(Dalam Ribuan)
Kaitan dengan masyarakat
Perbaikan :
1.Pelatihan orang cacat                                                   Rp. 20.000
2.Sumbangan pada Lembaga Pendidikan                      Rp.   8.000
3.Biaya Ekstra karena merekrut minoritas                     Rp. 10.000
4. Biaya penitipan bayi                                                   Rp. 22.000
                                                        Total perbaikan          Rp. 60.000
Kerusakan :
Penundaan pemasangan alat pengaman                       Rp. 28.000  _
Perbaikan ( bersih ) untuk masyarakat ( 1 )                Rp. 38.000
II.Kaitan Dengan Lingkungan
A.Perbaikan :
1.    Reklamasi lahan dan pembuatan taman                   Rp140.000
2.    Biaya pemasangan control polusi                                Rp.     8.000
3.    Biaya pematian racun limbah                                        Rp.   18.000
Total perbaikan                                  Rp. 166.000
B.    Kerusakan :
1.By yg akan dikeluarkan untuk reklamasi pertambangan Rp.160.000
2.    Taksiran biaya pemasangan penetralan racun air         Rp. 200.000
Total kerusakan                                Rp.360.000 _
C.     Deficit ( II )                                                                ( Rp.194.000 )
III.Kaitan Dengan Produk
A.    Perbaikan :
1.Gaji eksekutif Komisi Pengamatan Produk    Rp. 50.000
2.Biaya pengganti cat beracun                                        Rp. 18.000
Total perbaikan                                              Rp. 68.000
B.     Kerusakan :
1.    Pemasangan alat pengaman produksi                          Rp. 44.000  _
C.     Net perbaikan ( III )                                                     Rp. 24.000
Total socio economic deficit 1993 ( I + II + III )       ( Rp.138.000 )
Saldo kumulatif net perbaikan 1.01.93                        Rp.498.000
Saldo kumulatif net perbaikan 31.12.1993                  Rp.360.000
Di samping mereka yang mendukung penerapan akuntansi Sosio Economic Accounting atau akuntansi pertanggung jawaban sosial ini, ada juga yang mengkritiknya. Adapun kritiknya adalah sebagai berikut :
Informasi pertanggung jawaban sosial itu hanya menambah biaya saja dan tidak dibutuhkan oleh pemegang saham atau investor lainnya.
Ukuran dampak sosial perusahaan dalam satuan moneter secara teknis tidak dapat dilakukan karena sangat kompleks dan merupakan estimasi saja.
Faktor-faktor diluar perusahaan bukan merupakan tanggung jawab perusahaan dan ia tidak dapat mengendalikannya.
Belum ada kesepakatan umum tentang konsep, tujuan, pengukuran maupun pelaporannya.
Informasi tentang APS ini akan dapat mengalihkan perhatian pada indikator bisnis intinya sehingga dapat menyulitkan para pengambil keputusan.
Hal ini mengaburkan posisi perusahaan dan pemerintah dalam melaksanakan tugas masing-masing yang saling berbeda. Jadi jangan dibedakan tugas pemerintahan kepada perusahaan.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
SEA masih merupakan fenomena baru dalam ilmu akuntansi, dan sering ditafsirkan sama dengan Social Accounting yang dihubungkan dengan National Income Accounting .
Ilmu Social Economic Accounting ( SEA ) ini merupakan  bidang ilmu akuntansi yang berfungsi  dan mencoba mengindentifikasi, mengukur, menilai, melaporkan aspek-aspek social benefit dan social cost yang ditimbulkan oleh lembaga. Pengukuran ini pada akhirnya akan diupayakan sebagai informasi yang dijadikan dasar dalam proses pengambilan keputusan untuk meningkatkan peran lembaga baik perusahaan atau yang lain untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan secara keseluruhan.
SEA timbul dari penerapan akuntansi dalam ilmu sosial, ini menyangkut peraturan, pengukuran analisis, dan pengungkapan pengaruh ekonomi dan sosial dari kegiatan pemerintah dan pengusaha. Hal ini termasuk kegiatan yang bersifat mikro dan makro. Pada tingkat makro bertujuan untuk mengukur dan mengungkapkan kegiatan ekonomi dan sosial negara mencakup social accounting dan reporting peranan akuntansi dalam pembangunan ekonomi. Pada tingkat mikro bertujuan untuk mengukur dan melaporkan pengaruh kegiatan perusahaan terhadap lingkungannya, mencakup financial dan managerial social accounting, social auditing.
Pelaporan dalam SEA berarti memuat informasi yang menyangkut dampak positif atau negative yang ditimbulkan oleh perusahaan.
Dalam SEA kita harus mengukur dampak positif yang ditimbulkan oleh kegiatan perusahaan yaitu berupa social benefit dan dampak negative yang ditimbulkan oleh kegiatan perusahaan yaitu berupa social cost.
DAFTAR PUSTAKA
Belkaoui Ahmed, 1985, Accounting Theory, 2nd Edition, Harcourt Brace Jovanovich Publishing Co.
Friedman, Milton, 1962, Capitalism and Freedom.
Harahap, Sofyan Syafri, 2011, Teori Akuntansi Ed. Rev, Cet. 11.
Jacoby, Neil H, 1970, The Multy National Coorporation, The Center Magazine 3 May.


Download AKUNTANSI SOSIAL EKONOMI.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca AKUNTANSI SOSIAL EKONOMI. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon