September 09, 2016

Aktivitas Logistik di Rumah Sakit


Judul: Aktivitas Logistik di Rumah Sakit
Penulis: N. Wardhani


Aktivitas Logistik di Rumah Sakit:"Studi Kasus di Rumah Sakit Singapura"

Oleh:
BAGIAN MANAJEMEN RUMAH SAKIT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan hati penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah dengan judul "Aktivitas Logistik di RS : Studi Kasus RS di Singapura" ini.
Dalam penyusunan makalah yang didasarkan pada jurnal "Logistics in hospitals: a case study of some Singapore hospitals" ini, masih banyak kekurangan baik itu dari segi penulisan, isi dan lain sebagainya, maka penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang konstruktif guna perbaikan dalam pembuatan makalah untuk hari yang akan datang.
Sebagai pengantar kata, dengan iringan serta harapan semoga tulisan sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca. Dengan demikian, penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan.
Makassar, Agustus 2013

Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG 1
RUMUSAN MASALAH 3
TUJUAN 3
BAB II PEMBAHASAN 4
PROFIL RUMAH SAKIT
Ukuran Rumah Sakit 4
Aset yang Ditangani oleh Divisi Logistik 5
MANAJEMEN PERSEDIAAN
Pengisian Kembali Stok (Replenishment) 5
Pergudangan (Warehousing) 6
Kebijakan Persediaan 6
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
Penggunaan TIK dalam Menangani Fungsi Logistik 7
Faktor Motivasi dan Penghambat Penggunaan TIK 8
KEMITRAAN DAN OUTSOURCING
Kemitraan Antar Rumah Sakit 8
Kemitraan Antara Rumah Sakit dan Penyedia 9
Outsourcing 10
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN 11
SARAN 11
DAFTAR PUSTAKA 13
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Logistik dan inovasi rantai pasokan (supply chain) telah menjadi topik penting dalam agenda penelitian maupun praktek manajemen logistik tingkat internasional selama dua dekade terakhir. Hal ini dikarenakan logistik diakui sebagai faktor penting untuk keunggulan kompetitif dan dapat menjadi faktor penentu dalam keberhasilan suatu perusahaan atau industri.
Sebagaimana dalam setiap proses industri, logistik di rumah sakit memiliki dua rantai utama, yaitu rantai internal dan rantai eksternal. Kepuasan pelanggan dapat diukur sesuai dengan kinerja proses untukmenangani kebutuhan pelanggan internal dan tidak mengesampingkan rantai eksternalnya. Perbaikan dalam rantai pasokan di rumah sakit dapat memberikan dampak positif seperti ruang operasi yang lebih baik, manajemen farmasi dan manajemen persediaan yang lebih baik, hubungan vendor ditingkatkan, pasien lebih puas dan alur kerja yang lebih efektif bagi karyawan rumah sakit (Shong-Iee Ivan Su, Britta Gammelgaard, Su-Lan Yang, 2011).
Penyedia layanan kesehatan percaya bahwa, tidak seperti manajer dalam industri manufaktur, mereka tidak mampu untuk memprediksi jumlah pasien dan permintaan untuk item tertentu, sehingga mereka tidak dapat mengontrol atau memproyeksikan kegiatan penjadwalan pemesanan dan kegiatan lainnya (Jarrett, 2006).
Aktivitas logistik pada manajemen rantai pasokan rumah sakit-rumah sakit suatu negara akan berbeda tergantung dari sistem sosial dan ekonomi yang dimiliki oleh negara tersebut. Sistem sosial dan ekonomi yang berbeda akan memberikan dampak yang berbeda pula bagi sistem kesehatan tiap-tiap negara, sehingga praktek logistik antar satu negara dengan negara yang lain menjadi berbeda.
Salah satu permasalahan yang dihadapi rumah sakit-rumah sakit di Indonesia saat ini adalah sekitar lima persen atau 10 juta lebih penduduk Indonesia setiap tahunnya memilih berobat ke luar negeri. Orang kaya yang ketika merasakan sakit langsung berobat ke luar negeri karena tidak percaya pengobatan di dalam negeri. Padahal sudah banyak rumah sakit Indonesia yang bertaraf internasional. Kebanyakan ke Singapura dan Malaysia. Mereka menginginkan pelayanan terbaik dan akurasi dari penyakit yang dideritanya. Sementara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprediksi gelombang pasien asal Indonesia yang berobat ke luar negeri telah "menerbangkan" devisa senilai Rp 100 triliun. (Sumber : Republika Online, Rabu, 27 Juli 2011). Beberapa alasan masyarakat lebih memilih rumah sakit di Singapura atau Malaysia merujuk ke satu hal, yakni sistem pelayanan kesehatan di negara tersebut sudah jauh lebih baik dan tepat sasaran daripada di Indonesia. Sehingga, mempelajari aktivitas logistik rumah sakit-rumah sakit di negara tersebut dapat menjadi suatu pedoman atau referensi bagi pengembangan sistem manajemen dan pelayanan rumah sakit di Indonesia.
Di Singapura, terdapat 29 rumah sakit (13 publik dan 16 swasta) dan 18 poliklinik. Rumah sakit memiliki lebih dari 11.800 tempat tidur dan lebih dari 70 persen berada di rumah sakit umum. Dari sekitar 414.400 rawat inap, 76 persen adalah di rumah sakit umum. Data juga menunjukkan bahwa sekitar 70 persen dari rumah sakit menyediakan perawatan akut kebutuhan pasien.
Rumah sakit – rumah sakit ini, dalam melayani pasiennya, sangat sensitif terhadap waktu dan tekanan. Sehingga harus didukung penuh oleh bagian logistik untuk menjamin ketersediaan peralatan dan perlengkapan dengan tepat jumlah, tepat mutu, tepat biaya, dan tepat waktu agar dapat meningkatkan profitabilitas dan efisiensi biaya operasional.
Aktivitas logistik melibatkan perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan pengelolaan aliran barang dalam rantai pasokan untuk mendukung fungsi pengadaan, distribusi, manajemen persediaan, kemasan dan manufaktur. Sejalan dengan hal ini, Aptel dan Purjalali (2001) menyatakan bahwa aktivitas logistik di rumah sakit melibatkan pembelian, penerimaan, persediaan manajemen, sistem informasi manajemen, jasa makanan, transportasi dan layanan perawatan di rumah sakit.
Aptel dan Purjalali (2001) juga menyebutkan bahwa lebih dari 30 persen dari total biaya rumah sakit diinvestasikan dalam kegiatan logistik, namun setengah dari biaya ini dapat dihilangkan melalui manajemen logistik. Sehingga, penting untuk memeriksa fungsi bagian manajemen logistik ini untuk meningkatkan pelayanan dan mengurangi biaya operasional.
Review di atas menunjukkan bahwa aktivitas logistik adalah kegiatan penting di rumah sakit dan pengurangan biaya yang signifikan dapat dicapai melalui manajemen logistik yang baik. Oleh karena itu, kita perlu mengidentifikasi parameter logistik yang berbeda yang menjadi ciri aktivitas logistik di Singapura. Sehingga sistem yang lebih baik dapat dirancang untuk membuat manajemen rumah sakit yang lebih efektif dalam memberikan layanan perawatan pasien .
RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dari tulisan ini yaitu "Bagaimana parameter logistik yang menjadi ciri aktivitas logistik di rumah sakit Singapura?"
TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu untuk mengetahui parameter logistik yang menjadi ciri aktivitas logistik rumah sakit di Singapura.
BAB II
PEMBAHASAN
Untuk memahami aktivitas logistik rumah sakit di Singapura, makalah ini ditulis berdasarkan riset yang dilakukan oleh Zhi Xiong (Thomas) Pan dan Shaligram Pokharel yang didokumentasikan dalam jurnal yang berjudul: "Logistics in hospitals: a case study of some Singapore hospitals".
Secara garis besar, identifikasi parameter logistik yang menjadi ciri aktivitas logistik di rumah sakit Singapura dapat ditinjau dari 4 aspek, yaitu aspek profil rumah sakit, aspek manajemen persediaan, aspek teknologi informasi dan komunikasi, serta aspek kemitraan dan outsourcing. Berikut merupakan gambaran kerangka berpikir penelitian yang dilakukan di rumah sakit-rumah sakit Singapura tersebut.
41275118745
PROFIL RUMAH SAKIT
Parameter yang digunakan untuk aspek ini adalah ukuran rumah sakit dan aset rumah sakit yang ditangani oleh divisi logistik.
Ukuran Rumah Sakit
Ukuran rumah sakit dinilai dari jumlah tempat tidur yang dimiliki oleh rumah sakit tersebut. Dari 29 rumah sakit yang diteliti, 10 rumah sakit diantaranya memiliki tempat tidur kurang dari 100 buah, 12 rumah sakit diantaranya memiliki tempat tidur 101-500 buah, dan 7 diantaranya memiliki tempat tidur lebih dari 500 buah.
Aset yang ditangani oleh Divisi Logistik
Tiga item aset rumah sakit yang paling umum ditangani oleh divisi logistik adalah peralatan medis, alat tulis, dan peralatan kantor. Di antara rumah sakit yang disurvei, enam rumah sakit melaporkan bahwa pasokan barang ke ruang operasi, radiologi, lingkungan dan laboratorium juga menjadi tanggung jawab divisi logistik.
Hal ini terlihat bahwa beberapa rumah sakit membutuhkan Divisi Logistik untuk menangani layanan seperti telekomunikasi, fasilitas, pemeliharaan dan rekayasa jasa. Mulai dari proses pembelian, penerimaan, penggunaan distribusi internal, manajemen pemasokan, manajemen persediaan.
MANAJEMEN PERSEDIAAN
Parameter yang diidentifikasi dalam aspek ini, yaitu metode pengisian kembali stok, pergudangan, dan kebijakan persediaan.
Pengisian Kembali Stok (Replenishment)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode terbaik yang dapat digunakan dalam manajemen persediaan untuk memasok aset rumah sakit berupa peralatan medis, perangkat lunak, dan obat-obatan adalah periodic reviews and replenishment, yakni mereview stok barang secara periodik dan melakukan pengisian atau pemesanan kembali untuk stok barang-barang yang telah kosong. Namun, tidak semua rumah sakit di Singapura mempraktekkan metode ini. Beberapa rumah sakit masih memesan berdasarkan permintaan dari masing-masing departemen dan beberapa lebih memilih memasok barang secara periodik, terlepas dari stok barang tersebut masih ada atau telah habis.
Sedangkan untuk alat tulis dan peralatan non medis akan disupply ketika ada permintaan dari tiap unit di rumah sakit. Kebanyakan rumah sakit memasok obat-obatan setiap minggu. Namun, ada dua rumah sakit yang memasok setiap hari agar biaya pergudangan dapat diminimalisir.
Pergudangan (Warehousing)
Penelitian menunjukkan bahwa setidaknya rumah sakit memiliki satu buah gudang pusat. Namun, tujuh rumah sakit dilaporkan memiliki lebih dari satu gudang utama. Hal ini menunjukkan bahwa rumah sakit telah menerapkan sistem SAP untuk memantau tingkat stok antaraarea penyimpanan individu dan gudang pusat. Selain itu, tujuh rumah sakit tidak berbagi gudang pusat umum untuk farmasi dan non-farmasi, dengan alasan keduanya perlu dikelola oleh departemen yang berbeda.
Kebijakan Persediaan
Data menunjukkan bahwa sebagian besar rumah sakit mempertahankan tingkat stok untuk jangka waktu dua minggu. Oleh karena itu, setiap pengiriman disiapkan dengan jumlah stok untuk memenuhi permintaan selama dua minggu. Hal ini dapat disebabkan oleh alasan, seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa obat umumnya dianggap sebagai barang bergerak cepat dan dengan demikian cukup sering diisi ulang. Sehingga, rumah sakit tidak perlu menyediakan stok untuk jumlah yang lebih besar. Untuk item non medis, seperti alat tulis, sebagian besar rumah sakit menjaga pasokan untuk dua minggu.
Aptel dan Pourjalali (2001) memberikan tiga model dasar untuk distribusi pasokan, yaitu pengiriman ke departemen medis melalui gudang pusat, pengiriman semi langsung melalui gudang departemen medis, pengiriman langsung melalui pengisian harian melalui pengiriman langsung fasilitas kecil.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa rumah sakit di Singapura menggunakan empat metode distribusi dasar, yaitu: pengiriman langsung ke departemen medis untuk langsung digunakan, pengiriman langsung ke penyimpanan departemen medis untuk digunakan nanti, pengiriman langsung ke gudang pusat yang kemudian dikirim ke departemen kesehatan untuk digunakan, serta pengiriman langsung ke gudang pusat yang kemudian dikirim ke penyimpanan departemen.
Untuk barang-barang medis, sebagian besar rumah sakit tidak melakukan pengiriman langsung ke departemen medis. Kebanyakan rumah sakit menerima pengiriman di gudang pusat untuk dibagikan kepada departemen medis atau toko-toko. Untuk barang-barang non- medis, alat tulis yang diterima oleh kebanyakan rumah sakit di gudang pusat. Peralatan kantor yang baik diterima di gudang pusat atau langsung dikirim ke departemen kesehatan. Dikarenakan peralatan kantor bukanlah barang bergerak cepat, maka pengiriman langsung akan mengurangi biaya untuk penyimpanan dan penanganan.
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
Parameter yang digunakan untuk aspek ini adalah penggunaan TIK serta faktor yang memotivasi dan menghambat penggunaan TIK.
Penggunaan TIK dalam Menangani Fungsi Logistik
Manajemen aset adalah bagian terpenting dari aktivitas logistik di rumah sakit. Salah satu cara mengelola aset dan barang-barang logistik rumah sakit adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Buyurgan, Nebil at al, 2009).
TIK memainkan peran yang besar dalam meningkatkan efisiensi logistik di industri. Studi yang dilakukan menunjukkan kecenderungan peningkatan penggunaan TIK dalam fungsi logistik di Singapura. Data menunjukkan bahwa semua rumah sakit menggunakan komputer dan internet, extranet dan intranet untuk membantu pengelolaan fungsi logistik rumah sakit tersebut.
Bar coding dapat digunakan untuk melacak pengiriman internal barang, pengiriman menggunakan kendaraan otomatis serta juga personal digital assistant (PDA) untuk merekam dan mengirimkan data logistik terkait dapat digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat penggunaan TIK di rumah sakit Singapura sudah sangat baik. Penggunaan TIK ini difokuskan pada manajemen akuntansi keuangan, e-commerce, manajemen persediaan dan distribusi internal.
Faktor Motivasi dan Penghambat Penggunaan TIK
Beberapa faktor motivasi atau pendorong penggunaan TIK di rumah sakit Singapura, yaitu meningkatkan efisiensi, mengurangi kesalahan entri data, penurunan biaya operasional, dan penurunan biaya tenaga kerja, meningkatkan tingkat layanan pelanggan, mengurangi waktu pemrosesan order, memfasilitasi pembayaran tepat waktu, dan penurunan biaya persediaan.
Sedangkan faktor penghambat penggunaan TIK adalah ketika suatu sistem TIK tidak lagi sesuai dengan kebutuhan fungsi logistik rumah sakit, maka sistemnya harus diganti. Yang menjadi permasalahan adalah biaya yang dikeluarkan untuk memodifikasi atau mengganti TIK tersebut akan sangat tinggi dan butuh waktu yang lama untuk penerapannya. Selain itu, manajer divisi logistik biasanya tidak terlalu mempedulikan apakah sistem TIK yang dipakai cocok dengan sistem rumah sakit atau apakah sistem tersebut telah using dan harus segera diperbaharui. Hambatan lainnya, yaitu kesulitan dalam membenarkan start-up dan sejumlah besar biaya yang terus-menerus dikeluarkan, keterbatasan sumberdaya TIK, integrasi dengan sistem warisan, ketidakcocokan dengan pelanggan atau pemasok, Cepat usangnya teknologi, serta terlalu banyak standar industri yang harus diikuti.
KEMITRAAN DAN OUTSOURCING
Parameter yang digunakan dalam aspek ini adalah kemitraan antar rumah sakit, kemitraan antara rumah sakit dan penyedia, serta outsourcing dalam aktivias logistik rumah sakit.
Kemitraan Antar Rumah Sakit
Seperti disebutkan sebelumnya, strategi kemitraan antar rumah sakit serta antara rumah sakit dan pemasok dapat meningkatkan pelayanan. Masyarakat rumah sakit di Singapura terdiri dari dua kelompok, yakni National Healthcare Group dan Sing Health Group. Rumah sakit swasta yang independen atau tergabung dalam Pacific Healthcare, Parkway Group Healthcare, Raffles Medical Group and Thomson Medical Group. Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa ada tingkat kemitraan pun sudah terbentuk antar rumah sakit yang tergabung dalam sebuah cluster yang sama. Dengan publikasi data biaya kesehatan di rumah sakit yang berbeda untuk kondisi medis yang berbeda oleh Departemen Kesehatansetempat, rumah sakit ini berada di bawah tekanan untuk mengimplementasikan tindakan pemotongan biaya sebanyak mungkin. Oleh karena itu, rumah sakit mungkin mencari mitra atau aliansi atauoutsourcing bagi aktivitas logistik agartetap kompetitif.
Jarrett (2006) menyebutkan bahwa sebagai ganti langkah-langkah regulasi (yang dapat menciptakan distorsi pasar dan akses perubahan pola), pendekatan alternatif yang memungkinkan persaingan harga yang lebih besar di antara penyedia layanan dapat membantu dalam mengurangi biaya layanan kesehatan. Dalam hal ini, upaya pemerintah Singapura untuk mempublikasikan biaya layanan kesehatan melalui portal websitenya dapat dipuji. Kompetisi harga dapat membantu industri kesehatan mengadopsi metode akuntansi biaya yang sama dan meningkatkan praktek manajemen pasokan seperti yang terjadi di sektor manufaktur. Di rumah sakit publik, masing-masing cluster kesehatan memiliki Kantor Grup Pengadaan sendiri untuk mengurus logistik mereka secara keseluruhan dan hal-hal pengadaan lainnya.
Kemitraan Antara Rumah Sakit dan Penyedia
Studi menunjukkan bahwa kebanyakan rumah sakit merekrut dua sampai tiga pemasok untuk memasok item. Dikarenakan jenis produk dapat bervariasi dalam kategori (misalnya, berbagai jenis peralatan medis), akan sangat mungkin ada kebutuhan untuk merekrut lebih dari satu pemasok untuk satu kategori. Dengan sejumlah pemasok, transaksi elektronik juga dapat mengefisienkan proses.
Semua manajer logistik di rumah sakit Singapura mengatakan bahwa pemasok mereka (medis dan non-medis) sebagian besar datang dari distributor lokal. Praktek ini dapat mengurangi lead time atau waktu tunggu dan menjamin ketersediaan pasokan pada pemberitahuan singkat, sehingga mereka mungkin bisa memenuhi pesanan dalam waktusingkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lead time maksimum untuk order penyediaan obat adalah tiga hari dan untuk barang-barang non-medis adalah tujuh hari.
Outsourcing
Rumah sakit juga meng-outsourcing beberapa bidang, seperti kebersihan, keamanan, kantin, makanan serta laundry, dalam rangka untuk memotong biaya dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Studi ini menunjukkan bahwa outsourcing beberapa aktivitas logistik adalah hal yang lazim di rumah sakit Singapura.
Empat rumah sakit melakukan outsourcing untuk perbaikan dan pemeliharaan layanan; tiga rumah sakit melaporkan outsourcing layanan sistem informasi; dan dua rumah sakit melaporkan outsourcing linen dan jasa pergudangan. Hanya satu rumah sakit yang melakukan outsourcing jasa kontraktor layanan makanan, karena rumah sakit lain khawatir akan jumlah pasokan dan kualitas yang diberikan pihak yang di-outsourcing.
Penghematan yang diperoleh dari outsourcing dapat diperoleh dengan menggunakan proses perubahan internal lainnya, seperti pengenalan teknologi baru, perubahan struktur dan promosi fleksibilitas kerja. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dengan input teknologi tingkat tinggi untuk menjalankan berbagai fungsi, rumah sakit di Singapura menggunakan outsourcing sebagai pilihan strategis mereka untuk meningkatkan pelayanan daripada penempaan aliansi dengan vendor. Karena kebutuhan untuk fokus pada kompetensi inti dan mengurangi biaya, pada masa yang akan datang rumah sakit mungkin akan malakukan outsourcing untuk jasa logistik ke layanan penyedia .
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sebagai upaya untuk menyediakan layanan yang efisien, fungsi aktivitas logistik di rumah sakit menjadi penting. Penelitian yang dilakukan oleh Zhi Xiong (Thomas) Pan dan Shaligram Pokharel ini dapat memberikan kontribusi dalam memahami parameter logistik yang menjadi ciri aktivitas logistik rumah sakit di Singapura. Dengan peningkatan kompetisi biaya, rumah sakit harus melihat beberapa fungsi yang harus dihilangkan (seperti kertas kerja), outsourcing atau pengefisienan di berbagai sektor.
Risiko kemitraan antar rumah sakit bisa menjadi kebijakan strategis lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas biaya rumah sakit.Selain itu, Rumah Sakit di Singapura umumnya memasok barang ke gudang untuk keperluan dua minggu. Ketika kapasitas pemasok lokal meningkat dalam hal memahami kebutuhan khusus rumah sakit, aliansi berdasarkan kepercayaan, efisiensi dan efektivitas dapat dibentuk dengan pemasok untuk mengurangi tingkat stok ke level pasokan tiap satu minggu. Sehingga, dapat mengurangi biaya logistik.
Selain itu, studi ini menemukan bahwa outsourcing sedang dipraktekkan di rumah sakit Singapura dan outsourcing belum tentu menurunkan biaya produk dan layanan di rumah sakit. Meskipun studi ini tidak dapat membangun penghematan biaya karena penggunaan TIK, ditemukan bahwasemua rumah sakit telah menggunakan TIK dalam aktivitas logistiknya. Hal ini bisa disebabkan oleh kebutuhan untuk catatan yang efektif serta menjaga manajemen pelayanan di rumah sakit.
SARAN
Studi ini memberikan arahan umum untuk formalisasi parameter logistikdi rumah sakit Singapura. Oleh karena itu, hasilnya harus digunakan dengan hati-hati karena perubahan bisa saja dilakukan dalam kegiatan logistik rumah sakit tersebut setelah selesainya penelitian ini. Logistik yang dijadikan sebagai fokus utama penelitian memberikan patokan untuk rumah sakit lain, khususnya rumah sakit di Indonesia, sehingga efisiensi keseluruhan fungsi logistik dapat ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA
Aptel, O. and Pourjalali, H. (2001), "Improving activities and decreasing costs of logistics in hospitals: a comparison of US and French hospitals", The International Journal of Accounting, Vol. 36, pp. 65-90.
Buyurgan, Nebil et al (2009), "Portable Equipment Management in Hospitals", Industrial Engineering Research Conference.
Jarrett, P.G. (2006), "An analysis of international health care logistics: the benefits and implications of implementing just-in-time systems in the health care industry", Leadership in Health Services, Vol. 19 No. 1, pp. i-x.
Krishnan, R. (2005), "The Effect of Changes in Regulation and Competition on Firms' Demand for Accounting Information", The Accounting Review, 80 (1), pp. 269-287.
Shong-Iee Ivan Su, Britta Gammelgaard, Su-Lan Yang, (2011), "Logistics innovation process revisited: insights from a hospital case study", International Journal of Physical Distribution & Logistics Management, Vol. 41 Iss: 6 pp. 577 - 600


Download Aktivitas Logistik di Rumah Sakit.docx

Download Now



Terimakasih telah membaca Aktivitas Logistik di Rumah Sakit. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin anda cari.
Semoga bermanfaat


Tinggalkan Komentar
EmoticonEmoticon